4 April 2019

Novel Digital Espresso!



Espresso adalah judul karya terbaru saya. Novel dalam format digital yang bisa teman-teman nikmati di layar handphone. Bab pertama sudah terbit hari Selasa 3 April 2018 dan bab baru akan terbit setiap Selasa pukul 19.00 WIB.

Baca Espresso di aplikasi Storial.co (unduh di Google Play). Lima bab pertama dapat teman-teman baca dengan gratis. Bab keenam hingga tamat perlu membayar menggunakan Koin Storial, yang dapat teman-teman beli dengan pulsa operator.

Untuk pertanyaan seputar teknis (cara mendaftarkan akun di Storial.co, membaca, membeli koin, dan lain-lainnya) silakan kontak Tim Storial.co di Twitter & Instagram: [at]StorialCo.

Selamat membaca Espresso!

10 Juli 2018

Skenario Film Jadi Novel



Novel terbaru saya sudah terbit. Asal Kau Bahagia ditulis dari skenario film berjudul sama. Filmnya akan tayang akhir tahun 2018. Baca novelnya sebelum nonton filmnya.

Novelnya sudah bisa dibeli di Gramedia dan toko-toko buku online.

12 Mei 2018

Semasa Bersama Maesy & Teddy di Yogyakarta





Foto: Dokumentasi pribadi



Sejak awal, saya mengenal mereka sebagai pasangan.

Bahkan hingga hari ini setelah saya cukup sering bertemu dan berbincang dengan masing-masing dari mereka, saya tidak bisa memisahkan keberadaan mereka di kepala saya sebagai manusia yang sepasang. Dalam kepala saya, Maesy dan Teddy adalah The Dusty Sneakers dan mungkin akan selalu demikian. Mereka pasangan yang mengasuh sebuah toko buku independen di satu titik bagian selatan Jakarta, Post. Mereka adalah pasangan yang mencintai buku. Setelah mereka menerbitkan Semasa, kini mereka juga adalah pasangan penulis.

Minggu, 22 April 2018, saya bertemu mereka di Yogyakarta, kota yang telah saya tinggali selama 11 tahun terakhir. Sebelumnya saya pernah bertemu Teddy di Yogyakarta, tanpa Maesy (yang pertama saya tanyakan ketika bersalaman dengannya adalah “Maesy lagi di mana?”). Saat itu kami menghadiri acara pernikahan seorang teman yang juga bergiat di dunia buku. Maesy, saya baru kali pertama bertemu dengannya di Yogyakarta.

Hari itu kami membuat janji temu untuk ngopi sambil mengobrol santai di sebuah kedai kopi kecil di tengah-tengah Yogyakarta. Saya sudah tiba di lokasi sekira dua jam sebelumnya karena secara kebetulan ada janji dengan orang lain di tempat yang sama. Tak lama setelah urusan saya beres, Maesy dan Teddy muncul di kedai. Kami saling menyapa. Saya mempersilakan keduanya duduk. Senyum tak lepas dari wajah mereka yang tampak begitu ceria. Ketika percakapan mulai bergulir, Maesy mengaku bahwa mereka belum sempat mandi dan sedang kurang tidur.

Beberapa hari sebelum kami bertemu, seorang teman lain menghubungi saya. Irwan Bajang mengabari bahwa Maesy dan Teddy akan ke Yogyakarta untuk acara buku mereka yang terbaru, Semasa. Bajang mengajak saya untuk membahas buku tersebut. Saya tak berpikir dua kali, langsung saya iyakan. Pertama karena saya memang rindu ingin bertemu pasangan itu. Kedua karena saya senang mengetahui pasangan favorit saya di dunia buku menerbitkan karya fiksi pertama mereka.

Siang itu ketika kami bersua di kedai kopi, Maesy mengenakan kaus lengan pendek hitam polos dan rok sebetis berwarna dasar hitam dan motif polkadot. Teddy datang dengan kaus lengan pendek marun polos dan chino krem. Mereka selalu tampil santai. Jikapun ada yang sedikit berbeda siang itu adalah warna highlight abu-abu pada rambut Maesy. Ketika Maesy bilang mereka tak sempat mandi karena belum dapat check-in di penginapan di Yogyakarta, saya menggeleng karena berpikir mereka rapi dan baik-baik saja, sama sekali tak terlihat seperti belum mandi.

Hal pertama yang membuat saya gembira ketika bertemu mereka hari itu adalah minuman yang mereka pesan. Maesy memesan segelas es kopi susu, sementara Teddy secangkir kopi seduh manual. Kalau tak salah, Teddy memesan kopi Ethiopia. “Kopinya enak,” komentar Maesy. Saya bilang kedai kopi tempat kami bertemu itu memang serius melakukan kurasi terhadap biji kopi yang mereka seduh. Sama seriusnya seperti ketika Maesy dan Teddy menyeleksi buku-buku di Post.

Saya berniat mewawancarai mereka di kedai kopi tersebut, tetapi kami keasyikan mengobrol tentang hal-hal lain. Terlebih ketika kami kedatangan dua tamu baru, Eka dan Tami, pasangan pegiat buku lainnya. Saya dan Teddy sempat menghadiri resepsi pernikahan mereka di Yogyakarta. Novel perdana Maesy dan Teddy, Semasa, diterbitkan Penerbit Oak yang diasuh Eka.

Saat Eka dan Tami tiba di kedai, hari telah cukup sore, sementara acara diskusi buku Semasa dimulai pukul 16.00 WIB di kedai kopi lain. Kami berpindah tempat. Saya memutuskan untuk mewawancarai Maesy dan Teddy seusai acara.






Dari mana datangnya ide untuk menulis Semasa?

Maesy: Kami bukan jenis penulis yang ingin menulis karya yang sama terus-menerus. Setelah buku pertama terbit kami enggak pengin menulis tentang kisah perjalanan lagi. Jadi kami memang pengin menulis karya fiksi karena belum pernah. Kami tertarik bentuk novela karena menurut kami belum banyak dieksplorasi di sini.

Sebagai pembaca, kami lebih banyak menikmati karya-karya yang eksperimental, yang bermain bentuk dan penuh kejadian yang fantastis. Ketika menulis, justru kami pengin bikin cerita yang sangat sehari-hari dan sederhana.

Teddy: Suatu hari kami baca esei foto tentang dua anak kecil yang bersaudara. Di esai itu mereka tampak sangat akrab. Itu memunculkan pertanyaan, “Setelah mereka besar apakah akan tetap akrab ya?” Setelah itu kami mengobrol dan saling tanya tentang masa kecil kami. Kejadian yang biasa saja sebetulnya, seperti kami selalu mengobrolkan buku-buku yang kami baca.

Waktu itu kami memang sudah punya keinginan menulis novela dengan gagasan yang bentuknya slice of life. Ide tentang keluarga yang para anggotanya dekat kemudian jadi berjarak, yang kami peroleh dari obrolan usai membaca esei foto tersebut, terasa menarik untuk ditulis. Kami menggarap gagasan tersebut karena ia mampu menjadi cerita yang sederhana dan meaningful tanpa perlu didukung dengan, misalnya, plot yang fantastis.


Kenapa ingin menulis cerita yang sederhana?

Teddy: Permasalahan di dalam keluarga sering tampak sederhana di mata orang luar, tapi sebetulnya tidak sederhana di diri orang-orang yang mengalaminya. Perasaan-perasaan itu yang ingin kami munculkan.

Selain itu, tidak ada alasan yang lebih mendasar dari yang tadi sudah dikatakan oleh Maesy. Kami banyak membaca cerita-cerita yang fantastis dan justru karena itu kami pengin menulis cerita yang sederhana.

Maesy: Buat kami membaca adalah kebutuhan. Ketika menulis kami bertanya-tanya, bisa enggak ya kami menulis sesuatu yang berbeda dari yang kami baca? Aku sendiri ingin tidak mengikuti penulis tertentu yang aku suka.


Kenapa seperti itu?

Maesy: Menulis itu susah. Ketika kami menyisihkan energi untuk menulis sesuatu, kami ingin menulis dengan cara kami sendiri. Lagi-lagi karena kami banyak membaca novel Amerika Latin dan Indonesia yang bermain dengan bentuk, kami ingin tahu apakah kami bisa menulis sesuatu yang sederhana, yang sehari-hari. Apakah orang-orang bisa menangkap apa yang coba kami sampaikan meskipun di dalamnya tidak terdapat konflik sentral dan lebih banyak hal-hal yang sifatnya subtil.

Bagi kami, itu lebih menantang.

Teddy: Kami ingin invest waktu yang kami punya untuk menuliskan sesuatu yang dekat dengan kami. Keluarga adalah tema yang cukup dekat. Cerita yang kami tulis tentang keluarga memang perlu diceritakan seperti kami menuliskannya.

Maesy: Kami deg-degan, sebetulnya, karena kami tahu pilihan cara bercerita yang kami ambil bisa jadi membuat orang merasa Semasa terlalu pucat dan bahkan membosankan.

Teddy: Pada cerita-cerita dengan plot yang seru, pembaca akan tetap dapat menikmati ceritanya walaupun tidak begitu merasa terhubung. Tapi ketika plot yang semacam itu tidak hadir, pembaca harus dapat merasa terhubung dengan apa yang cerita tersebut coba sampaikan untuk bisa menikmatinya. Beban terbesar kami di Semasa adalah membangun keterhubungan pembaca dengan kisah yang kami tulis.


Ini kali pertama kalian menulis tentang keluarga?

Maesy: Keluarga adalah hal yang sangat personal bagi kami, jadi kalau bukan lewat medium fiksi sepertinya enggak akan pernah kami tulis. Aku sendiri enggak akan bisa menulis karya nonfiksi tentang keluarga, seperti memoar atau semacamnya. Kalau lewat fiksi, kita bisa menuangkan apa yang kita pikirkan tentang keluarga tanpa harus menuliskan kisah tentang keluarga kita sendiri.

Teddy: Semasa bukan cerita tentang apa yang keluarga kami alami.

Maesy: Iya, Semasa bukan kisah yang otobiografis.

Teddy: Tapi refleksi tokoh-tokohnya merupakan hal-hal yang memang kami pikirkan. Misal seperti yang tadi Maesy cerita, tentang orang yang melakukan hal-hal besar dan dihargai publik, serta hubungannya dengan persoalan keluarga yang tidak glamor. Jika ada yang tanya apakah ada diri kami di dalam tokoh-tokoh Semasa, mungkin lebih terletak pada reaksi-reaksi mereka terhadap apa yang mereka alami.


Semasa adalah novel duet. Bagaimana secara teknis cara kalian mengeksekusinya?

Teddy: Tadinya kami ingin pakai dua narator, dariku (Coro) dan dari Maesy (Sachi), tapi kemudian kami putuskan untuk menggunakan satu narator saja. Untuk menjaga konsistensi suara narator, diputuskan bahwa penulis akhirnya aku. Banyak bagian Semasa yang ditulis oleh Maesy terlebih dahulu, lalu ditulis ulang olehku agar sesuai dengan sudut pandang Coro.

Maesy: Kami menulis dengan lambat, tidak bergantian menulis setiap bab.

Teddy: Mainnya di paragraf atau adegan. Seperti adegan tokoh-tokohnya berkemas barang di rumah yang baru saja dijual, itu Maesy yang tulis. Setelah itu baru aku tulis ulang.

Maesy: Soalnya Teddy ini, kan, bahasa Indonesianya sangat spesifik. Sintaksnya Teddy itu particular, dia akan menuliskan kalimat dengan cara yang tidak seperti orang lain ketika menggunakan bahasa Indonesia. Sedangkan aku lebih banyak menulis dalam bahasa Inggris. Caraku berpikir dan membentuk kalimat berbeda sekali dengan cara Teddy. Maka solusinya Teddy harus melihat apa yang aku tulis, lalu dia bahasakan sendiri, supaya narator Semasa enggak punya kepribadian ganda.


Bagian mana di Semasa yang butuh waktu pengerjaan paling lama?

Maesy: Menemukan gagasan untuk meneruskan bab pertama. Jarak dari penulisan bab pertama ke bab kedua itu lama banget karena kami belum menemukan konflik.

Teddy: Bagian penutup Semasa juga sangat lama ketemunya. Resolusi di cerita Semasa itu, kan, jenisnya off-screen. Coro dan Sachi dari kejauhan melihat Bapak dan Bibi Sari lagi bicara untuk menyelesaikan masalah yang ada.

Maesy: Kami sengaja pakai resolusi yang off-screen karena biasanya cerita bertema keluarga yang dituturkan dari sudut pandang anak muda diselesaikan oleh anak muda tersebut, sebagai hero cerita. Tapi kami ingin perlihatkan bahwa orang tua di dalam keluarga juga dapat menyelesaikan masalah mereka sendiri. Apalagi karakter Bapak dan Bibi Sari yang sangat rasional dan mencintai satu sama lain.

Teddy: Iya, dan karena itu mereka bisa menyelesaikan masalah mereka sendiri. Itu yang bikin kami berdiskusi gimana caranya menyampaikan ini ke pembaca. Ketemulah solusi membuat penyelesain konflik yang off-screen.


Kenapa rumah peristirahatan di Semasa diberi nama Pandanwangi?

Teddy: Enggak ada alasan khusus. Termasuk juga nama tokoh-tokoh di Semasa, Coro dan Sachi. Nama Paman Giofridis pun muncul begitu saja.

Maesy: Kami enggak begitu mikir soal nama. Yang lebih kami pikirin adalah, mereka ini siapa. Sebenarnya bisa aja, sih, kami ngarang. Misalnya Coro artinya kecoa, jadi cerita kami ini sebetulnya rada Kafkaesque (ketawa), tapi ya buat apa kami bohong.


Seberapa banyak bagian kehidupan keluarga kalian hadir dalam Semasa?

Maesy: Seperti yang Coro dan Sachi alami, waktu kecil keluargaku punya rumah peristirahatan di daerah Puncak, Bogor. Tapi keluargaku beda banget dengan keluarga Coro dan Sachi. Mereka keluarga kecil, sementara aku anggota keluarganya banyak banget. Lebih dari 20 orang.

Teddy: Bagian kuis di mobil. Waktu kecil, kalau aku mulai capek dalam perjalanan di mobil sama kakekku, dia kasih tebak-tebakan: mobil berikutnya yang di depan kami platnya berangka ganjil atau genap.

Maesy: Bagian Sachi yang kurang tangkas dan sering muntah di mobil itu kayaknya aku (ketawa). Sampai di situ aja, sih. Lainnya enggak.

Teddy: Bagian dari kehidupan kami yang lebih banyak muncul di Semasa menjadi refleksi kejadian-kejadian yang dialami tokoh-tokohnya. Misalnya pada saat Coro dan Sachi di minimarket melihat ada pasangan bertengkar, Sachi mengajak Coro keluar melihat kalau-kalau terjadi pemukulan di antara mereka.

Adegan itu sebetulnya refleksi permasalahan-permasalahan yang muncul di keluarga, yang hadir lewat pertanyaan seperti: Sampai mana, sih, kita sudah berusaha untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukan? Kapan tepatnya kita memutuskan bahwa kita sudah melakukan sesuatu dengan cukup? Apakah kita harus bertindak lebih jauh, karena kalau tidak nanti kita akan merasa bersalah?

Saat ayahku meninggal, pertanyaan yang muncul di kepalaku adalah apakah aku sudah mengobrol cukup dengan dia sehingga dia punya closure yang baik. Apakah dia pergi dengan kondisi sudah membicarakan semua yang harus dia bicarakan denganku. Aku selalu berusaha mengobrol dengan ayahku karena kami memang dekat, tapi the question of whether it’s enough or not selalu ada.

Maesy: Kalau aku berbeda. Bukan cuma persoalan whether it’s enough or not, tapi perkara what should we do? Kalau ada masalah di keluarga, is it something people need to resolve on their own? Is that a role for me to step in? Should I or should I not?


Setelah menulis Semasa apakah kalian sudah mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut?

Maesy: Enggak.

Teddy: Menurutku kita enggak akan pernah tahu, tapi kalau aku, aku sudah memutuskan untuk berdamai dengan pertanyaan-pertanyaan itu.


Siapa penulis yang muncul di kepala kalian saat menulis Semasa?

Teddy: Kalau ada yang bilang Semasa bertempo lambat seperti karya-karya penulis Jepang, mungkin karena pada waktu itu aku juga lagi baca Hiromi Kawakami.

Maesy: (Ke Teddy) Tapi kamu baca Hiromi Kawakami itu dari berapa ratus buku lain yang juga kamu baca di periode penulisan Semasa. Kalaupun memang ada pengaruhnya mungkin secara enggak sadar.





Gaya narasi di Semasa, apakah sesuatu yang kalian bentuk atau hadir dengan sendirinya?

Maesy: Waktu menulis Semasa kami enggak mikirin gaya narasi. Kami lebih sibuk mengolah karakter, apa yang terjadi dengan mereka dan apa yang pengin mereka lakukan. Ini kali pertama kami menulis fiksi dan kami merasa harus terlebih dahulu mengerti universe ceritanya. Jadi kami lebih banyak menghabiskan waktu di sana.

Teddy: Kalau di nonfiksi, peristiwa apapun yang kami tulis memang sudah kejadian. Kami tidak perlu, misalnya, membuatnya masuk akal. Tapi kalau di fiksi, ketika karakter-karakternya bertindak, harus ada alasan. Kami sibuk menggarap bagian-bagian tersebut. Kami juga lebih banyak fokus mengolah bunyi kalimat, memastikan kalimat-kalimatnya sudah tepat menyampaikan apa yang pengin kami sampaikan. Soal gaya, enggak terlalu kami pikirin.


Mana yang lebih bikin repot, fiksi atau nonfiksi?

Maesy: Fiksi. Jauh lebih bikin repot.

Teddy: Fiksi lebih susah.


Kenapa?

Maesy: Itu tadi, bikin semestanya. Kami sudah sering nulis blog, jadi ketika mau bikin memoar, misalnya, tinggal memutuskan how much do we want to reveal, how do we say the story. Kalau fiksi, boro-boro mau mikirin itu, pertama-tama harus mikirin dulu ini karakter-karakternya siapa, kenapa mereka begini dan begitu.

Teddy: Maesy, misalnya, waktu bikin tulisan nonfiksi tentang refleksi being Chinese in Jakarta, itu enggak harus dijelaskan terlalu merinci mengenai karakternya. Kalau di fiksi perlu diolah lagi.

Maesy: Tapi justru jadi menyenangkan karena kami mencoba sesuatu yang baru.

Teddy: Kalau nanti kami nulis fiksi lagi, mungkin bakal lebih plot-driven.

Maesy: (Ke Teddy) Mungkin akan menarik kalau kita nulis sesuatu yang kayak 69-nya Ryu Murakami. Karena ceritanya fun dengan tokoh-tokoh yang impulsif. These people (tokoh-tokoh di Semasa) are anything but impulsive. Mereka semua banyak mikir.


Sumber: Zinc

Kenapa menulis Semasa berdua? Kenapa enggak masing-masing dari kalian bikin novela?

Teddy:
Kami sudah punya dunia masing-masing dalam pekerjaan sehari-hari, jadi dalam hal yang kreatif kami suka mengerjakan sesuatu bersama-sama. Mengelola Post dan menulis, misalnya.

Maesy: Kami kalau berkolaborasi memang saling melengkapi banget. Pas menulis, misalnya, aku yang bikin struktur atau outline. Teddy yang mulai menuliskannya karena dia bisa lebih mengalir walau sering kehilangan arah. Jadi aku yang bantu mengarahkannya, tapi dari segi keluwesan atau memulai sesuatu, itu Teddy yang lebih bisa.


Apakah kolaborasi semacam itu juga terjadi di luar fiksi, maksudnya saat bekerja?

Teddy: Kami enggak terhubung kalau soal pekerjaan sehari-hari.

Maesy: Thank God (ketawa).

Teddy: Kalau pas menulis Semasa, aku lebih banyak yang setting the tone, bikin pembukaan babnya. Maesy bikin penutupnya.

Maesy: Menulis itu, kan, kegiatan yang sangat solitary. Aku merasa kalau menulis berdua Teddy jauh lebih menyenangkan. Karena kalau enggak, rasanya jadi terisolir banget. Kalau Teddy nulis sendiri terus nagging aku tiap tiga paragraf, aku enggak mau (ketawa).

Teddy: Iya. Aku tuh… agak clingy memang (ketawa).


Siapa yang bikin judul Semasa?

Teddy: Maesy.

Maesy: Menurutku cerita sesederhana ini cocok diberi judul dengan satu kata aja, dan aku suka Semasa karena sebagai kata ia lumayan simetris. Semasa bisa berarti macam-macam, apakah masa yang dimaksud itu masa sekarang atau masa lalu. Itu menggambarkan isi bukunya yang memang bergerak di dua alam waktu secara paralel.

Teddy: Waktu Maesy muncul dengan judul Semasa, aku merasakan ada sentuhan dreamy di dalamnya. Aku langsung suka.


Novela favorit kalian?

Maesy: Down the Rabbit Hole, Juan Pablo Villalobos.

Teddy: The Old Man and the Sea, Ernest Hemingway.

Maesy: (Ke saya) Kalau kamu?

Dengarlah Nyanyian Angin, Haruki Murakami.




Foto: Dokumentasi pribadi

19 April 2018

The Gene, Siddhartha Mukherjee




Gen, kata Siddhartha Mukherjee dalam bukunya, The Gene, adalah salah satu gagasan yang mengguncang tatanan dan paling berbahaya sepanjang sejarah dunia sains. Kesimpulannya bukan tanpa alasan. Tiga penemuan gagasan fundamental di dunia sains yang bermunculan sepanjang abad ke-20: atom, bit, dan gen, lahir sebagai konsep ilmiah yang abstrak, tetapi berkembang menjadi invasi tersendiri ke dalam diskursus manusia dan mengubah struktur sosial, politik, bahkan bahasa.

Kita sering mendengar dan mengucapkan kata "individu" tetapi mungkin jarang memikirkan apa yang dimaksud dengan kata tersebut. Individu berarti sesuatu yang tidak bisa dibagi lagi: indivisible. Pertanyaannya adalah pada tataran apa diri kita tidak bisa dibagi lagi? Jika seseorang cukup gila menetak lehermu sampai putusmu maka tubuhmu akan terbagi dua. Jadi hal apa yang terdapat di dalam diri kita yang tidak dapat dibagi menjadi lebih kecil?

Jawabannya adalah gen. Gen adalah unit informasi terkecil makhluk hidup yang tidak dapat dibagi lagi. Tersusun atas rantai basa nitrogen dengan komposisi huruf yang terkenal: A, C, G, T (atau U), gen menyimpan seluruh informasi yang diterjemahkan menjadi rangkaian protein, yang kemudian menyusun segala hal di tubuh kita: mekanisme biokimia, sistem organ, dan ciri fisik. Jika seluruh benda di dunia ini tersusun dari partikel atom, maka tubuh kita terdiri atas gen.

Siddhartha Mukherjee, onkolog asal India-Amerika menulis buku yang sangat bagus tentang gen. The Gene bukan hanya buku yang menjelaskan secara komperehensif apa itu gen, tetapi memaparkan secara kronologis sejarah penemuan termasuk kisah-kisah ilmuwan yang mempelajarinya. The Gene tidak hanya menyajikan sejarah dan masa kini gen tetapi juga spekulasi menarik tetang masa depan gen, yang tentu saja akan mempengaruhi masa depan kita.

Seperti tagline yang tercantum di sampul, an intimate history, The Gene betul-betul buku sejarah yang terasa intim. Semua hal yang disampaikan Siddhartha Mukherjee mengenai gen tidak terkesan seperti materi kuliah yang berjarak dan sulit dipahami. Ketika ia menceritakan ilmuwan-ilmuwan yang bekerja di dunia Biologi dan mempelajari gen, ia juga menyisipkan sepenggal kisah hidup mereka. Sosok-sosok yang terlibat langsung maupun tidak di dunia genetika dihidupkan dalam adegan-adegan yang membuat kita merasa seperti sedang menonton film Hollywood.

Bagian pembuka The Gene bahkan dimulai dengan kisah pribadi penulisnya. Dokter Mukherjee menulis prolog tentang bagaimana ia dan ayahnya menghampiri Moni, sepupu Dokter Mukherjee, yang dirawat di rumah sakit jiwa. Jagu dan Rajesh, anggota keluarga mereka yang lain, juga mengidap kelainan jiwa. Dalam suatu wawancara di Youtube, Siddhartha Mukherjee mengaku bahwa riwayat anggota keluarganya itu menjadi salah satu alasan yang mendorong ia untuk mempelajari dunia medis.

Di samping cakupan informasi yang luas, merentang dari periode Charles Darwin dengan teori evolusi hingga ilmuwan-ilmuwan Biologi modern yang membahas nasib umat manusia pasca-genom, yang paling istimewa dari buku The Gene adalah bagaimana ia dituturkan. Elemen-elemen yang biasanya ditemukan di karya fiksi: penokohan, alur, deskripsi, bahkan dialog, menjadi kunci Siddhartha Mukherjee menyajikan ilmu genetika dalam bentuknya yang paling intim.

Menemukan kutipan dari Albert Camus, Haruki Murakami, dan George Orwell, tidak begitu sulit menebak kalau Siddhartha Mukherjee adalah dokter ahli kanker yang juga pencinta karya sastra. Ia menulis buku ilmiah dengan insting seorang novelis. Ia menyusun informasi dari seluruh aspek dunia genetika dalam kurva dramaturgi yang membuat kita mengantisipasi kejadian, menahan napas, dan merasa sedih saat tiba di bagian yang menggugah. Perhatikan penggalan paragraf The Gene ini ketika Siddhartha Mukherjee sedang berada di sebuah konferensi ilmiah yang membahas tentang genom:

...The bell chimed, and the geneticists returned to the auditorium to contemplate the future's future. Erika's mother wheeled her out of the conference center. I waved to her, but she did not notice me. As I entered the building, I saw her crossing the parking lot in her wheelchair, her scarf billowing in the wind behind her, like an epilogue.

Ada banyak hal yang diceritakan tentang gen di buku The Gene, tapi mungkin yang paling menarik adalah pertanyaan tentang masa depan manusia pasca-genom. Saat ini hampir seluruh genom manusia telah dapat dibaca. Teknologi untuk membaca genom memungkinkan kita melakukan banyak hal terhadapnya, termasuk mengubahnya. Apa yang terjadi ketika komputer memahami instruksi yang ditulis untuk menciptakan dirinya?

Apa yang akan kita lakukan ketika kita dapat mengubah kode pembentuk diri kita? Apakah kita akan mengubahnya demi menjadi lebih sehat, lebih baik... lebih sempurna? Apa yang terjadi ketika manusia bisa mengubah bahan penyusun dasar dirinya? Apa manusia yang gennya telah dimodifikasi masih dapat menyebut dirinya manusia? Tatanan masyarakat macam apa yang bisa lahir dari kelompok manusia yang telah mengubah dirinya menjadi sesuatu yang bisa kita namai, katakanlah, pasca-manusia?

Yang paling menarik adalah bahwa pertanyaan-pertanyaan barusan bukan premis untuk sebuah novel fiksi ilmiah. Ilmu tentang genom adalah sesuatu yang nyata. Pembacaan genom telah rampung dilakukan. Modifikasi manusia pada tataran genetik sudah berjalan. Masa depan yang belum terbayangkan telah hadir begitu dekat dan intim, seintim sejarah genetika yang disajikan apik dalam buku The Gene.


18 April 2018

Genom, Kisah Spesies Manusia dalam 23 Bab





Jika unit terkecil materi adalah atom, maka unit terkecil penyusun makhluk hidup adalah gen. Apa itu gen? Ada pengertian teknis dan sederhana. Secara teknis gen adalah penggalan nukleotida yang menyusun kromosom dan menerjemahkan dirinya sendiri ke rantai protein yang menjalankan fungsi biokimia di tubuh kita. Sederhananya, gen adalah unit pewarisan sifat, yang diturunkan dari orangtua ke anak. Gen menentukan ciri fisik, fisiologi, bahkan takdir kita sebagai manusia.

Gen merupakan senyawa kimia dalam bentuk rangkaian amat panjang dari empat basa nitrogen: adenin, sitosin, guanin, dan timin. Disingkat A, C, G, T. Huruf-huruf tersebut tersusun menjadi apa yang kita kenal dengan sebutan DNA. Dalam menjalankan fungsinya untuk membentuk protein, DNA mengandalkan sepupunya, RNA.

DNA singkatan dari deoxyribonucleic acid (asam deoksiribonukleat). Dinamai demikian karena ia terdiri atas molekul yang disebut asam nukleat, yang terdiri atas gula (deoksiribosa), basa nitrogen, dan fosfat. Sepupunya, RNA, singkatan dari ribonucleic acid (asam ribonukleat) punya struktur kimia yang mirip, hanya berbeda di gula dan basa nitrogen. Jika DNA terdiri atas huruf-huruf A, C, G, T, maka RNA: A, C, G, U, dengan U untuk urasil.

Meski enggak kelihatan dari luar, tubuh kita terbentuk dari huruf-huruf tersebut: A, C, G, T. Lebih tepatnya serangkaian amat panjang dari huruf-huruf tersebut. Ada kira-kira 3 juta huruf. Menurut Matt Ridley dalam bukunya, Genom, kalau rangkaian huruf gen manusia dicetak, tebalnya 5.000 kali buku Genom (400 halaman versi bahasa Indonesia; 340 versi bahasa Inggris). Betewe, yang dimaksud "genom" adalah seperangkat lengkap gen.

Buku Genom: Kisah Spesies Manusia dalam 23 Bab yang ditulis seorang jurnalis Inggris bernama Matt Ridley menjelaskan gen manusia dalam bahasa sangat sederhana. Seperti buku sains popular lain, Genom memang dikemas untuk pembaca awam, jadi saya sangat terbantu dengan penjelasan Ridley. Bagian pendahuluan buku memberi pemaparan efektif tentang genom yang akan membantu kita memahami bab isi.

Untuk menjelaskan gen, Ridley menggunakan perumpamaan buku. Jika genom (seperangkat lengkap gen) adalah sebuah buku, maka bab-babnya disebut kromosom. Setiap bab mengandung beberapa ribu cerita, disebut gen. Setiap cerita tersusun atas paragraf-paragraf, disebut ekson, yang diselang-selingi iklan, disebut intron. Tiap paragraf terbentuk dari kata-kata, disebut kodon. Tiap kata ditulis menggunakan huruf-huruf yang disebut basa.

Saya sendiri belajar memahami gen dengan membayangkannya dari hirarki terluar organisme kemudian melakukan zoom in hingga ke bagian terdalam: kita punya tubuh, yang terdiri atas organ-organ, yang terdiri atas jaringan-jaringan, yang terdiri atas sel-sel. Sel memiliki inti sel yang disebut nukleus, yang di dalamnya terdapat kromosom-kromosom, yang di dalamnya lagi terdapat gen, yang terdiri atas huruf-huruf basa: A, C, G, dan T.

Begitu krusialnya rangkaian huruf tersebut sehingga sedikit perubahan saja bisa membuat seseorang menderita penyakit genetik (kita lebih mengenal penyakit genetik dengan istilah penyakit keturunan) seperti down syndrome, hemofilia, atau kanker rahim. Perubahan itu disebut mutasi. Mutasi di bagian tertentu memunculkan "gen untuk hemofilia" atau "gen untuk down syndrome", tetapi pada situasi berbeda, gen yang sama menjalankan fungsinya secara normal dan tidak memunculkan penyakit apapun.

Meski demikian Matt Ridley berkali-kali mengingatkan dalam Genom bahwa gen tidak hadir untuk membawa penyakit. Kecenderungan orang-orang mengaitkan gen dengan penyakit membuat asumsi bahwa gen semata-mata muncul untuk mendatangkan penyakit. Asumsi yang tidak sepenuhnya tidak berdasar, karena seperti Ridley katakan sendiri, "dari satu sisi genom adalah sebuah rekaman tertulis tentang penyakit-penyakit masa lalu".

Matt Ridley menceritakan cukup banyak hal melalui 23 bab buku Genom. Jumlah bab tersebut disengaja, merujuk pada jumlah kromosom manusia. Pada setiap bab Ridley memilih gen yang terdapat di kromosom terkait untuk menceritakan sesuatu yang tematik. Misalnya bab "Kromosom 17" yang membahas tentang maut. Di kromosom 17 (kromosom diurutkan berdasarkan ukuran) terdapat gen bernama TPS3, yang diketahui berfungsi untuk menekan tumor. Mutasi pada gen ini paling menentukan dalam perannya sebagai penyebab kanker mematikan.

Genom adalah bacaan yang cocok bagi yang pengin mengenal serba-serbi seputar genom manusia. Disusun secara tematik dan dituturkan lewat bahasa yang mudah dicerna, Genom memberi kita pemahaman yang menyenangkan tentang hubungan gen dengan hidup bahkan matinya manusia.

Bagi yang skeptis sama kualitas buku terjemahan bahasa Indonesia, jangan khawatir, Genom diterjemahkan dengan baik. Saya enggak mengalami kesulitan memahami tuturan Matt Ridley. Seperti sempat saya sebut, bagian pendahuluan buku ini yang memberi perumpamaan tentang gen, sangat membantu saya buat mengikuti cerita-cerita di bab selanjutnya yang lebih spesifik.

Jika pengetahuan menyeluruh tentang genom merupakan tangga panjang menuju ruangan besar berisi hal-hal esoterik, Genom-nya Matt Ridley adalah anak tangga pertama yang ramah pengunjung.

17 April 2018

The Selfish Gene, Richard Dawkins



Mungkin di usia seperempat abad, saya mulai bertanya-tanya, apa artinya hidup? Hidup yang saya maksud kehidupan biologis seluruh makhluk hidup khususnya manusia. Saya tidak bisa berhenti memikirkan buat apa manusia ada. Manusia lahir, menua, kemudian mati. Beberapa yang cukup beruntung sempat memiliki keturunan sebelum mencapai ajal. Silsilah berlanjut.

Tapi mau ke mana? Di mana ujung siklus yang membosankan dan begitu tertebak ini? Buat apa siklus ini ada? Apa tujuannya? Atau kita kembali ke pertanyaan yang mungkin mendahului semua itu: gimana bisa ada kehidupan?

Jawabannya mungkin akan kurang memuaskan bagi yang bersikeras hidup punya makna mendalam dan tujuan agung. Maaf, tapi semua ini terjadi semata-mata karena kebetulan. Kehidupan tercipta karena suatu kebetulan dan, ini yang lebih bikin zonk, enggak punya tujuan. Iya, kehidupan ini kebetulan aja dan enggak ada tujuannya. Saya, kamu, mereka, ada karena kebetulan. Buat apa manusia ada di dunia? Enggak tahu. Enggak ada tujuan.

Bagi beberapa orang, arti kehidupan mungkin datang melalui peristiwa emosional, perjalanan batin, atau kejadian besar yang mengguncang hidupnya. Buat saya, arti kehidupan itu datang dari sebuah buku berjudul The Selfish Gene yang ditulis Richard Dawkins.

Dalam bukunya, Dawkins menjelaskan bagaimana kehidupan berlangsung dari sudut pandang gen, yang ujungnya menuju kesimpulan di paragraf sebelum ini. Makhluk hidup (tentu termasuk manusia) menurut The Selfish Gene tak lebih dari kendaraan yang ditumpangi gen-gennya untuk terus mereplikasi diri. Lebih spesifik lagi, kendaraan bagi keberlangsungan eksistensi gen egois.

Premis The Selfish Gene dirumuskan berdasarkan karya bertema serupa dari seorang ilmuwan biologi evolusioner Amerika bernama George C. Williams (mungkin enggak banyak yang kenal) sekaligus sebagai bentuk kritik atas teori evolusi Charles Darwin (yang ini lebih familier ya). Karena teori evolusi Darwin lebih populer mari kita bahas buku Dawkins sebagai respons atas pemikiran Darwin.

Karya Darwin yang judul panjangnya On the Origin of Species by Means of Natural Selection or the Preservation of Favoured Races in the Struggle for Life, yang lebih dikenal dengan versi pendeknya, On the Origin of Species, itu sebetulnya ngebahas banyak hal, tapi yang paling terkenal adalah bagian soal seleksi alam. Frasa Darwin, "survival of the fittest", jadi garis besarnya. Cuma makhluk yang mampu beradaptasi dengan perubahan di lingkungannya yang dapat bertahan hidup.

Seleksi alam, menurut Darwin, terjadi pada tataran individu. Dawkins berpikiran lain. Menurut Dawkins, seleksi alam berlangsung pada level yang lebih fundamental, yakni gen, unit terkecil pewarisan sifat yang menyusun, mengatur, dan memperbaiki fungsi biologis makhluk hidup. Pertempuran itu, "survival of the fittest" tidak terjadi di luar melainkan di dalam, di balik untai kromosom, berlangsung abadi meniti double-helix DNA & RNA di tubuh kita.

The Selfish Gene diterbitkan kali pertama tahun 1976, satu dekade setelah buku George C. Williams, Adaptation and Natural Selection, seabad lebih setelah On the Origin of Species. Dawkins meletakkan The Selfish Gene di posisi yang berseberangan dengan teori seleksi alam berdasarkan organisme individu dan kelompok. Buku setebal 357 halaman ini memuat penjabaran lengkap Dawkins tentang kehidupan dari sudut pandang gen.

Richard Dawkins membuka The Selfish Gene dengan pertanyaan dalam judul bab "Why Are People?" Kehidupan yang cerdas dimulai ketika manusia menemukan alasan keberadaannya (jawab: kebetulan). Dawkins melanjutkan ceritanya dengan memaparkan asal mula terjadi gen dan kemampuan utama yang dimiliki gen yakni mereplikasi diri.

Gen yang baik, menurut Dawkins, adalah gen yang egois, yakni gen yang melakukan apapun demi keberlangsungan dirinya sendiri. Seterusnya adalah cerita yang sangat menarik dan rinci tentang apa yang disebut agresi gen, pertarungan antar gender, dan masa depan gen. Dawkins memperlihatkan strategi bertahan hidup yang di dalamnya termasuk manipulasi atawa tipu-tipu, carmuk alias cari muka ke makhluk lain, dan melakukan pengorbanan yang sekilas tampak sebagai tindakan altruisme tapi sebetulnya semata-mata demi kepentingan egois gen.

Ada banyak banget hal menarik di buku The Selfish Gene. Kalau saya tulis satu-satu bakal terlalu panjang dan membosankan terutama bagi yang enggak begitu tertarik sama Biologi. Bab yang menurut saya dengan mudah menarik perhatian orang-orang adalah bagian "Battle of the Sexes" karena sangat sejalan sama situasi kehidupan nyata.

Dawkins memaparkan hal mendasar yang menentukan kejantanan dan kebetinaan makhluk hidup. Perbedaan ukuran sel telur dan sel sperma yang terjadi secara kebetulan (semula keduanya berukuran sama hingga tak bisa dibedakan) membuat hewan jantan dan betina punya strategi masing-masing yang unik demi keberlangsungan hidup mereka, termasuk memiliki kecenderungan berselingkuh (jantan) dan memanipulasi para jantan (betina).

Bagi yang kurang paham atau lupa apa itu gen, jangan khawatir. Meski enggak membahas struktur gen secara merinci, penjelasan Dawkins tentang asal-usul gen dan proses terjadinya evolusi akan sangat membantu memahami keseluruhan isi The Selfish Gene. Bahasa Dawkins pun enak dan ia kerap mengelaborasi pernyataan-pernyataannya jadi kita gak bakalan kehilangan jejak tentang apa yang sedang ia sampaikan. Tentu ada jargon dari lingkungan Biologi dan teori-teori ilmuwan lain yang dirujuk sepanjang penjelasan mengenai gen egois, tapi tanpa membaca lebih jauh teori-teori tersebut kita tetap bisa paham apa yang dimaksud Dawkins.

Sepanjang hidup yang sebetulnya enggak bertujuan ini, kita bisa membaca banyak buku, tapi sebetulnya enggak banyak yang betul-betul membekas dan mengubah cara pandang kita. Buat saya The Selfish Gene adalah satu dari sedikit buku yang mengubah pandangan saya secara permanen terhadap kehidupan. Saya enggak bisa lagi balik ke fase sebelum membaca buku ini. The Selfish Gene meninggalkan bekas abadi di pikiran saya, seabadi sang replikator, sang gen egois. ***

10 April 2018

Banyak Jalan Menuju Bacaan Favorit Berikutnya








Pertanyaan lain dari pembaca yang pernah masuk ke kanal-kanal media sosial saya: bagaimana cara saya menemukan bacaan saya selama ini?

Ada satu fase dalam hidup saya ketika saya merasa tertinggal sebagai pembaca. Saya melihat teman-teman penulis yang sebaya membaca buku-buku bagus lebih banyak, salah satunya saya kira karena mereka membaca lebih awal. Sementara saya mulai belakangan. Mungkin karena tidak ada yang memberitahu saya buku apa yang harus dibaca dan di mana mencari buku-buku tersebut.

Saya percaya ada banyak jalan menuju bacaan favorit berikutnya, termasuk jalan-jalan berikut yang saya alami selama ini:


1. Rekomendasi Personal

Bacaan saya sejauh ini sebagian saya dapatkan dari rekomendasi orang-orang yang saya kenal. Beberapa di antaranya teman penulis. Suatu hari dalam perbincangan singkat dengan novelis, saya mendapat ide untuk membaca buku-buku peraih Nobel Kesusastraan. Penulis lain yang saya sukai karyanya membuat blog berisi jurnal tentang buku-buku yang ia baca. Sesekali di kesempatan lain, secara langsung saya mendapat rekomendasi bacaan dari teman yang cukup dekat yang juga penulis.


2. Penghargaan Buku

Saya juga mengumpulkan bacaan dari buku-buku yang memenangi penghargaan (paling sering Pulitzer Prize dan Man Booker Prize). Kadang-kadang enggak mesti yang juara, yang sekadar masuk nominasi pun saya catat karena ada kemungkinan lebih bagus dari yang menang. Jalan lain: saya mencatat buku-buku yang disebut di halaman-halaman buku yang sedang saya baca, yang menjadi rujukan penulisnya (saya menemukan Raymond Carver dan Dostoyevsky dari novel-novel Haruki Murakami).


3. Media

Sekali waktu saya juga menengok daftar buku rekomendasi di media mainstream, semacam 100 Notable Books oleh New York Times atau The Best 100 Nonfiction Books oleh The Guardian. Tentu saya tidak mencatat semuanya, hanya beberapa yang kutipan atau ulasan singkatnya menarik perhatian saya. Di lain waktu saya tidak mencari buku, melainkan penulis yang menulis buku dengan tema terkait buku yang sedang saya baca. Misal ketika saya membaca Sejarah Tuhan Karen Armstrong, saya menemukan Richard Dawkins yang menulis The God Delusion dan Reza Aslan yang menulis God. Dalam hal ini, Internet sangat membantu.


4. Film

Kadang-kadang, saya mendapatkan rekomendasi bacaan dari film yang saya tonton. Film-film bagus biasanya menampilkan adegan aktor atau aktris yang sedang membaca buku. Meski seringnya cuma jadi pajangan, tapi kemunculan buku di adegan-adegan film bisa memberi ide bacaan berikutnya. Saya pernah membaca ulang The Old Man and the Sea Ernest Hemingway setelah melihat Denzel Washington membaca buku tersebut di sebuah kafe, dalam film The Equalizer. Saya membeli buku The Orchid Thief Susan Orlean usai menonton Adaptation, Spike Jonze.


5. Medsos

Twitter, Facebook, dan Instagram juga punya andil cukup penting bagi pencarian saya atas bacaan baru. Suatu hari saya membaca percakapan dua orang teman penulis di Twitter dan dari sana saya menemukan penulis favorit saya, Etgar Keret. Ketika sering mengoceh soal Etgar Keret, seorang admin toko buku daring memberitahu saya penulis asal Yahdu lainnya: Benny Barbash, novelnya berjudul menarik, My First Sony. Saat mencari buku-buku kajian Islam, saya bertanya via Instagram Story dan mendapatkan banyak rekomendasi buku, salah satunya yang kemudian jadi favorit saya, Islam: Pemikiran dan Peradaban oleh Fazlur Rahman.


Omong-omong soal rekomendasi, sebetulnya saya cukup sulit menerima saran bacaan dari orang lain, terutama yang belum saya percayai selera bacaannya. Saya harus mengakui ini karena cukup sering merasa bersalah ketika ada teman atau kenalan yang menyarankan saya untuk baca buku ini dan itu tapi enggak pernah saya anggap serius, padahal mereka memberi rekomendasi dengan sangat antusias. Masalahnya, saya sudah punya daftar bacaan. Semacam daftar pekerjaan rumah yang saya rancang. Saya hanya akan menginterupsi daftar tersebut jika saya sendiri yang menemukan bacaan baru di luar daftar, atau seseorang yang saya percayai bacaannya memberi saya rekomendasi.

Hal-hal bagus datang dari berbagai arah. Jika kita membuka mata dan tahu apa yang ingin kita cari, niscaya bakal ketemu. Apalagi ada Internet, rasanya enggak ada alasan untuk enggak menemukan bacaan bagus. Terus, katanya kalau kita memikirkan sesuatu terus-menerus, kita akan terus-terusan melihat hal tersebut di berbagai tempat yang kita datangi. Jadi teruslah pikirkan buku di kepalamu, niscaya buku-buku bagus, bacaan favoritmu berikutnya, akan muncul ke manapun arah matamu memandang.