22 November 2014

ilustrasi di buku terbaru




Di buku terbaru saya (yang akan terbit bulan depan, semoga) Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri, akan ada beberapa ilustrasi. Ilustrasi-ilustrasi tersebut melengkapi setiap cerita. Total ada 15 cerita, sehingga akan ada 15 ilustrasi. Yang saya pajang ini adalah salah satunya.

Sang ilustrator adalah IBG Wiraga (Hege). Saya menyukai gaya ilustrasinya yang sederhana namun detail, dreamy, dan terkadang surreal. Saya sudah pernah kerjasama dengan Hege untuk buku puisi saya, Angsa-Angsa Ketapang, edisi revisi. Saya pikir saya ingin ilustrasi-ilustrasi dia hadir kembali di buku terbaru saya. Maka saya pun menghubunginya, dan dia menyanggupi. Editor dan penerbit pun sepakat untuk menggunakan ilustrasi-ilustrasi Hege. Kalau ingin lihat karya Hege yang lain, mampirlah ke blognya: http://ibgwiraga.com

Apa kamu suka ilustrasi ini? :)

17 November 2014

film: surat untuk ruth





Adalah editor saya untuk buku Surat untuk Ruth, Siska Yuanita, yang memperkenalkan saya dengan Ve Handojo, orang yang kemudian menyampaikan kepada saya bahwa kantor tempat ia bekerja berminat untuk mengadaptasi novel saya ke layar lebar.

Saya tahu nama Ve Handojo lewat Twitter, belum pernah bertemu langsung. Setelah mencari-cari, saya baru tahu bahwa ia adalah salah satu penulis skenario dalam film omnibus Rectoverso Dee Lestari, dan saya menyukai film itu. Saya pun berkomunikasi via surel dengan Mbak Siska dan Mas Ve. Kami berkenalan dan bersepakat untuk bertemu di Jogja, membicarakan lebih jauh tentang rencana tersebut.

Lewat pertemuan itu, saya mengetahui dua hal: Pertama, kantor tempat Mas Ve bekerja adalah Screenplay Productions. Kedua, Mas Ve memiliki visi yang menarik terhadap film Surat untuk Ruth.

Pertemuan pertama kami di Jogja lebih banyak membahas ide-ide kreatif dan visi dari masing-masing pihak, bagaimana Mas Ve mewakili production house memandang film Surat untuk Ruth, dan bagaimana saya memandangnya dari kacamata penulis. Ternyata, Mas Ve memiliki pandangan yang bagi saya cukup menarik. Saya menyukai bagaimana ia menginginkan wujud film ini nantinya, dan pandangannya kurang lebih mirip dengan keinginan saya. Hal itulah yang membuat saya-setelah tiga kali pertemuan (yang kedua saya main langsung ke kantor Mas Ve, yang terakhir kami bertemu lagi di Jogja)-akhirnya setuju untuk menjual hak adaptasi film Surat untuk Ruth ke Screenplay Productions.


Pertanyaan-Pertanyaan

Pertanyaan satu: Apa peran saya dalam proses pembuatan film Surat untuk Ruth? Saya tidak menulis skenario, tidak pula menjadi aktor dalam filmnya. Saya akan menulis sinopsis hingga treatment (semacam kerangka atau outline pada novel), untuk kemudian diteruskan menjadi skenario utuh oleh Mas Ve. Ini sekaligus menjawab siapa penulis skenario film Surat untuk Ruth.

Pertanyaan dua: Siapa sutradara film Surat untuk Ruth dan siapa saja aktor dan aktris yang akan terlibat? Saya belum tahu. Tahap menentukan sutradara dan cast sepertinya baru bisa dilakukan setelah skenario selesai. Meski demikian, saya akan sangat senang kalau teman-teman pembaca punya usul atau bayangan, kira-kira siapa aktor dan aktris yang cocok memerankan tokoh-tokoh di Surat untuk Ruth (silakan sampaikan lewat kolom komentar di bawah tulisan ini). :D

Pertanyaan tiga: Kapan film Surat untuk Ruth tayang? Saya belum tahu. Saat ini kami baru akan mulai tahap pertama, yakni menulis sinopsis cerita. Jika semua berjalan lancar, mungkin Surat untuk Ruth akan tayang akhir tahun 2015, atau tahun 2016. Ya, ya, saya juga berharap filmnya segera jadi. He, he, he.

Pertanyaan empat: Apakah judul filmnya tetap sama dengan novel? Alhamdulillah, Mas Ve sudah bilang bahwa salah satu bagian dari novel Surat untuk Ruth yang akan dipertahankan di filmnya adalah judul. Bahkan, judul itulah yang pada awalnya menarik minatnya untuk mengadaptasi novel tersebut ke layar lebar. Lalu, bagaimana dengan bagian-bagian lainnya, apakah ada yang diubah? Mari kita bersepakat bahwa tidak mungkin memindahkan seratus persen isi novel ke film (jika pun bisa, apa gunanya?). Membuat karya baru artinya memberikan sesuatu yang baru, sesuatu yang lebih. Jika ada hal-hal yang bisa diubah, maka perubahan itu akan dilakukan. Tentu saja bagian-bagian penting, adegan-adegan kunci di dalam novel, akan tetap dipertahankan. Yang jelas, perubahan atau segala hal yang dilakukan terhadap versi film dari Surat untuk Ruth nanti dilakukan hanya untuk satu tujuan: memuaskan para penonton, juga pembacanya.


Saya berharap teman-teman berkenan untuk berdoa bersama saya, agar proses adaptasi Surat untuk Ruth berjalan lancar. Kita semua ingin segera menonton filmnya, namun kita juga tidak ingin filmnya menjadi abal-abal. Maka dari itu, kami tidak akan melakukan proses ini secara terburu-buru, melainkan berhati-hati dan dengan keseriusan yang baik.

Saya akan terus mengabarkan lewat blog ini jika ada berita terbaru mengenai proses pengadaptasian Surat untuk Ruth. Jika teman-teman ingin mengetahui kabar yang lebih cepat, teman-teman bisa follow Twitter resmi film Surat untuk Ruth di: @SuratuntukRuth dan Instagram di: @suratuntukruth.

Saran, masukan, usul apapun mengenai film Surat untuk Ruth, silakan sampaikan ke saya lewat Twitter (@benzbara_) ataupun di kolom komentar post ini. Dengan senang hati akan saya kumpulkan dan sampaikan ke PH. Jadi, jangan ragu. :D


Terima kasih!




Bara

11 November 2014

[ manuskrip ] ariyani



Hasrat saya menulis novel tidak mencegah apalagi mengurangi kesukaan saya terhadap cerita pendek. Di sela-sela membaca novel, saya masih suka membaca cerita-cerita pendek. Sesekali saya menulis cerita pendek, terutama untuk menangani kilatan-kilatan ide yang banyak namun tidak bisa segera saya jadikan novel.

Sembari menunggu kabar tentang manuskrip novel terbaru saya dari editor, saya mengumpulkan beberapa cerita pendek yang pernah saya tulis dari tahun 2010-2013. Dengan agak nekat (karena saya tahu kumpulan cerita pendek lebih sulit lolos seleksi ketimbang novel) saya kirimkan kumpulan itu ke editor saya. Saya tidak berharap banyak. Kalaupun naskah tersebut tidak bisa diterbitkan, tidak masalah. Setidaknya, rasa penasaran saya sudah tersampaikan.

Di luar dugaan, editor saya memberi kabar baik. Penerbit tertarik dengan manuskrip kumpulan cerita yang saya kirim, dan ingin menerbitkannya. Tentu saja dengan beberapa catatan. Di antaranya adalah menyingkirkan beberapa cerita yang kurang kuat, dan menambah beberapa cerita baru.

Merespons catatan tersebut, saya menulis tiga cerita baru. Total cerita dalam manuskrip versi akhir yang saya kirim ke editor adalah 16 cerita. Karena cerita-cerita pendek tersebut berasal dari rentang waktu yang cukup panjang (empat tahun), maka mungkin nanti teman-teman pembaca akan melihat perubahan gaya menulis dan tema dari cerita satu ke cerita lain.

Meski gambar di atas menampilkan judul sementara yang panjang, saya beri nama manuskrip ini: Ariyani. Diambil dari nama tokoh di salah satu dari tiga cerita yang baru saya tulis khusus untuk melengkapi buku ini. Judul panjang di gambar di atas itu juga cerita baru, teman-teman akan menemukannya pula di dalam buku ini nanti.

Manuskrip Ariyani masih mengambil tema besar: cinta. Sayangnya, mungkin teman-teman tidak akan menemukan cerita cinta dengan akhir bahagia di sini. Entah kenapa saya mengalami kesulitan untuk menulis cerita pendek tema cinta dengan ending yang bahagia. Tapi, semoga kelak saat membacanya teman-teman tetap terhibur dan puas.

Saat ini, Ariyani sudah dipegang oleh editor, dan sedang dibaca ulang. Proses revisi rencananya akan berlangsung bulan ini, karena Ariyani direncanakan untuk segera terbit. Semoga saja semuanya berlangsung lancar. Termasuk manuskrip novel Sarif & Nur yang sekarang juga masih proses editing oleh editor. Total ada 2 manuskrip saya-novel dan kumpulan cerita pendek-yang sedang diproses di penerbit.

Saya harap teman-teman mau ikut berdoa, agar kedua manuskrip tersebut, Sarif & Nur dan Ariyani, dapat segera lahir dengan baik, dan menemui teman-teman pembaca setia semuanya.



Bara

10 November 2014

To Rise Again at a Decent Hour, Joshua Ferris




Saya tertarik membeli dan membaca novel ini karena; pertama, ia adalah satu dari kalau tidak salah enam nominasi penghargaan Man Booker Prize 2014 (kalah dari The Narrow Road to the Deep North milik Richard Flanagan); kedua, karena judul dan sampulnya menarik; ketiga, karena penulisnya membuka cerita dengan berceloteh soal mulut. The mouth is a weird place, katanya. Not quite inside and not quite out, not skin and not organ, but something in between: dark, wet, admitting access to an interior most people would rather not contemplate-where cancer starts, where the heart is broken, where the soul might just fail to turn up.

Joshua Ferris membuka novelnya dengan bertutur mengenai mulut dan mencoba berfilosofi dengannya, meskipun saya tidak begitu menangkap apa poin filosofinya itu, selain untuk memberikan petunjuk bahwa tokoh utama dalam novel adalah seseorang yang memiliki hubungan dekat kepada mulut. Usut punya usut, ternyata tokoh utama novel ini adalah seorang dokter gigi bernama Paul C. O’Rourke yang memiliki klinik kesehatan gigi di Park Avenue, Manhattan. Paul bekerja di sebuah klinik gigi yang tidak besar bersama tiga orang karyawan (salah satu dari mereka adalah pacarnya), dan pada suatu hari mengalami sebuah masalah yang mengganggu kehidupannya.

Awalnya, saya tertarik dengan cara bertutur Joshua Ferris, karena ia berbicara dengan ringkas, tanpa deskripsi gestur atau latar yang berlebih, dan nada jutek yang menghibur. Namun, lama-kelamaan, saya mulai jengkel. Jika di awal tadi saya bilang bahwa mulut adalah hal yang membuat saya tertarik untuk membaca novel ini, maka mulut pula lah yang membuat saya ingin cepat-cepat menyelesaikan (bukan dalam arti yang baik) dan meninggalkan novel ini selama-lamanya.

Masalahnya adalah, Paul C. O’Rourke tak bisa mengerem mulutnya, ia terlalu gemar menggerutu.

Saya percaya bahwa karakter dalam novel harus simpatik. Simpatik bukan berarti baik. Karakter antagonis, tokoh yang suka menyiksa atau membunuh, bahkan mafia sekalipun dapat menjadi simpatik. Simpatik artinya mendapatkan pengertian atau ‘belas kasih’ dari pembaca. Bagi penulis, menciptakan karakter yang simpatik artinya membangun karakter yang manusiawi, artinya memunculkan kehidupan masa lalu, alasan-alasan dan motivasi yang membuat tokoh tersebut melakukan apa yang ia lakukan di masa sekarang, yang membentuk cara tokoh memandang kehidupan.

Paul C. O’Rourke dalam To Rise Again at a Decent Hour adalah dokter gigi yang gemar menggerutu, tanpa sebab yang benar-benar jelas. Ia terus dan terus menggerutu tentang banyak hal. Salah satunya adalah pekerjaannya sendiri, yang tidak memberinya waktu untuk beristirahat dan menikmati hal-hal lain (well, kau seorang dokter, apa yang kau harapkan, Paul?). Hal berikutnya yang ia gerutukan setiap hari adalah ketergantungan karyawan-karyawannya terhadap Internet dan social media. Paul menggerutu tentang Facebook, E-mail, website, bahkan emoticon. Joshua Ferris menggambarkan karakter Paul sebagai manusia yang tidak begitu menyukai perkembangan teknologi, terpisah dari euphoria dunia maya, dan memilih untuk melakukan hal-hal dengan cara manual, cara lama. Namun, Ferris tampak tak tertarik atau tak punya waktu untuk memberikan fondasi kuat, mengapa Paul menjadi seperti itu, mengapa ia tampak membenci Internet dan social media. Satu-satunya kepingan masa lalu Paul yang ditampilkan Ferris hanyalah informasi tentang ayahnya yang meninggal (bunuh diri?) dan… itu saja. Sama sekali tidak menjelaskan mengapa Paul menjadi Paul yang sekarang.

Hal menyebalkan lainnya dari novel ini adalah, masih seperti sebelumnya, Paul terlalu gemar menggerutu. Joshua Ferris, lewat Paul, terus-menerus menjelaskan satu objek dalam paragraf panjang, kadang teramat panjang, dengan informasi-informasi sekunder yang berekor, seolah-olah Ferris tak yakin pembaca memiliki kecerdasan yang cukup untuk mengerti apa yang ia maksudkan. Penjelasan panjang-lebar Ferris betul-betul tidak efektif dan membuat saya melakukan skimming hampir separuh novel. Ketika membaca tulisan yang memiliki penjelasan sekunder terlalu panjang untuk satu hal, kau dapat melakukan skimming dan takkan ketinggalan satu informasi penting pun, karena penjelasan tetek bengek tersebut tidak menggerakkan plot. Apalagi kalau dituturkan dengan cara yang tidak menghibur.

Saking sebalnya dengan Paul atau Ferris yang terlalu gemar menggerutu, saya sampai heran kenapa novel ini bisa masuk nominasi Man Booker Prize. Tapi biarlah, bukan itu poin catatan saya kali ini. Saya mencoba untuk tetap positif selama membaca, bahkan saya mencoba untuk mencari-cari kira-kira apa yang membuat novel ini masuk nominasi Man Booker Prize. Mungkin karena isu yang diangkat. Paul C. O’Rourke, dokter yang gemar menggerutu, suatu hari bertemu dengan seorang pasien aneh yang berpamitan dan tiba-tiba mengucapkan satu hal aneh kepada Paul. Ulm. Semenjak itu, Paul mengalami hal-hal janggal. Tiba-tiba, saat seorang karyawannya meramban di Internet, ia menemukan website klinik kesehatan gigi mereka. Padahal Paul tidak pernah membuat website untuk kantornya. Website misterius itu diiringi peristiwa-peristiwa misterius lain, yang diakhiri dengan keterkejutan Paul saat mengetahui bahwa dirinya adalah keturunan, atau bagian dari sebuah bangsa yang terasing dan terlupakan sejak ribuan tahun lalu, sebuah bangsa dan kepercayaan yang lebih tinggi dari Yahudi dan bangsa-bangsa lain.

Saya membaca novel ini bersamaan dengan novel adaptasi dari film Deat Poets Society, dan merasakan kontras yang cukup kentara. Di Dead Poets Society, seluruh tokoh, baik para murid, guru, maupun orangtua murid yang tampak keras dengan anak-anaknya, semuanya memiliki alasan dan motivasi yang jelas mengapa mereka menjadi mereka yang sekarang, mengapa mereka melakukan hal-hal yang mereka lakukan. Tokoh-tokoh dalam To Rise Again at a Decent Hour tidak memiliki itu, alih-alih, mereka malah (hampir seluruh tokoh, bahkan sampai ke tokoh sampingan) semuanya tampak menyebalkan dengan ‘tidak bersimpati’ satu sama lain, membuat saya melihat klinik kesehatan gigi Paul C. O’Rourke seperti sebuah tempat kumpulan orang-orang yang menyebalkan.


Setidaknya, dari membaca novel ini, saya dapat memperingati diri sendiri untuk tidak menciptakan tokoh yang gemar menggerutu tanpa alasan jelas, menghindar dari memberi penjelasan dan deskripsi yang kelewat panjang-lebar sampai meledek tingkat kecerdasan pembaca, dan terus belajar menulis lagi. Novel ini mengingatkan saya kembali bahwa kita tidak hanya bisa belajar dari buku-buku bagus, tapi juga dari buku-buku yang kurang bagus, untuk tidak mengulangi kesalahannya dan tidak menjadikannya inspirasi. ***