29 Juni 2016

Review Jatuh Cinta




“Karakter-karakter yang misterius, dialog-dialog yang menggelitik, solilokui dan narasi yang sarat refleksi. Bernard menggambarkan buruknya negeri ini dengan kalimat-kalimat yang rapi dan tersirat.” (Revius Webzine)

“Cerita-ceritanya menembus batas nalar, namun pijakannya tetap membumi. Bernard lihai menciptakan imaji bertaji dan mengontrol indera pembaca dengan kemampuannya bertutur dalam cerita.” (Buruan.co)

“Kisah-kisah cinta Bernard Batubara memukau saya. Ia berkisah tentang malaikat lugu yang jatuh cinta kepada manusia hingga lelaki yang jatuh cinta kepada pembakar perpustakaan kota. Caranya menggambarkan percintaan sepasang kekasih kadangkala memberi ruang kepada kita untuk membayangkan adegan yang lebih panjang lagi, seperti yang tersedia dalam kalimat: “Mereka bercampur dalam kegelapan seperti malam-malam sebelumnya”. Dalam kisah-kisah cintanya ini pula ikut terungkap situasi sosial dan masalah kemanusiaan di dunia kontemporer kita.” (Linda Christanty)

“Saya menemukan proses pendewasaan dalam cerpen-cerpen Bara kali ini; tema yang gelap dan satir. Cinta yang ia ungkap bukan lagi hanya sebatas manis dan perih, tetapi juga sisi gelap. Apakah lebih bagus atau tidak? Saya rasa bergantung pada selera pembaca. Sebagian akan kehilangan ciri Bara yang pernah mereka kenal, tetapi mungkin sebagian yang lain akan menyambut baik proses pendewasaannya ini. ” (Dewi ‘Dee’ Lestari)


Baca review atas buku terbaru saya Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri di sini:


Kalau kamu menemukan review atas buku ini atau kamu menulis reviewmu sendiri, jangan ragu untuk beri tahu saya. Saya akan baca dan pajang review kamu di halaman ini.

25 Maret 2015

In Praise of the Stepmother, Mario Vargas Llosa




Kali pertama saya membaca buku dari pengarang Amerika Latin adalah novela berjudul Memories of My Melancholy Whore, Gabriel García Márquez. Saya menyukai novela itu, yang bercerita tentang laki-laki yang ingin bercinta dengan gadis belia sebagai usaha untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-90. Setelah itu, saya membaca Pedro Páramo, juga novela, karangan Juan Rulfo. Saya sangat, sangat menyukainya. Semenjak itu, saya mulai memberikan perhatian khusus pada karya-karya pengarang Amerika Latin. Termasuk Mario Vargas Llosa, yang sebetulnya sudah saya simpan bukunya sejak dua tahun lalu, namun baru sempat saya baca tahun ini.

Sebagai penggemar kesusastraan Jepang (sebetulnya saya baru membaca Yasunari Kawabata, Ryu Murakami, Haruki Murakami, dan Natsume Sōseki) ada setidaknya satu hal yang tertangkap oleh saya dari karya-karya pengarang Amerika Latin, yang saya merasa tertarik untuk membandingkannya dengan karya-karya pengarang Jepang, yakni tentang bagaimana mereka menggubah tema (atau subtema) seksualitas. Ada semacam karakteristik yang khas yang muncul di novel-novel pengarang Amerika Latin dan Jepang saat mereka menggambarkan adegan-adegan percintaan, dan elemen-elemen lain di dalamnya.

Saya menyinggung perihal seksualitas karena di dalam novela In Praise of the Stepmother, hal itulah yang menjadi plot utama. Atau setidaknya, bungkus yang dipakai Llosa untuk menyampaikan hal-hal lain, seperti interpretasinya terhadap sejarah, mitologi, dan religiusitas.

Dõna Lucrecia, si ibu tiri, memiliki affair terlarang dengan anak tirinya sendiri, Alfonso, atau seperti panggilan sayang Dõna Lucrecia kepadanya, Fonchito. Hubungan terlarang ini berjalan di belakang sang suami, Don Rigoberto, laki-laki pencinta kebersihan dan ritual (lewat adegan-adegan yang digambarkan Llosa, saya menduga ia juga mengidap semacam obsessive compulsive disorder). Affair si anak dan ibu tirinya akhirnya terbongkar, dan di keluarga kecil bahagia itu, terjadilah tragedi.

Membaca plot utama, dan gambaran adegan-adegan yang ditulis Llosa, agaknya In Praise of the Stepmother bisa kita masukkan ke dalam genre yang belakangan ini sepertinya kembali populer: erotika. Genre erotika tiba-tiba saja kembali dibicarakan setelah kemunculan novel laris sedunia berjudul Fifty Shades of Grey (saya sendiri belum membacanya). Adegan-adegan seks di novela Mario Vargas Llosa ini digambarkan dengan apa adanya, tanpa sensor, bahkan di beberapa bagian terasa berapi-api, seperti penggambaran adegan seks oleh pengarang-pengarang Amerika Latin lain yang pernah saya baca.

Yang membuatnya menarik untuk diperbandingkan dengan novel-novel dari para pengarang Jepang adalah, bagaimana seksualitas hadir dengan tone atau nuansa yang sama sekali berbeda. Di novel-novel Yasunari Kabawata, misalnya, adegan-adegan percintaan dideskripsikan dengan sangat lembut, perlahan, subtil, dan sesekali dikombinasikan dengan deskripsi suasana alam, bagaikan membaca haiku-haiku Jepang. Di novel-novel Haruki Murakami, seksualitas muncul sebagai sesuatu yang nyaris tidak berarti. Maksudnya, bukan sesuatu yang mesti dilakukan dengan pikiran-pikiran gugup atau aneh, namun merupakan hal yang wajar dan mengalir begitu saja. Seorang gadis di dalam novel Haruki Murakami bisa berkata dengan santainya kepada cowok di sebelahnya, “Kamu lagi capek ya? Sini, aku bantu melepaskan rasa tegangmu. Aku bisa kasih kamu handjob.

Sementara itu, di novel-novel dari pengarang Amerika Latin, termasuk In Praise of the Stepmother, adegan-adegan percintaan muncul dengan bergelora, berhasrat, berapi-api, layaknya adegan-adegan intim di serial telenovela. Saya tidak tahu persis dan pastinya hanya menduga-duga, namun barangkali begitulah cara orang-orang Jepang dan Amerika Latin memandang seks. Yang satu lembut, perlahan, sekaligus seringkali absurd dan aneh, yang satunya lagi berapi-api seolah tak ada waktu lain untuk berhubungan badan.

Tentu saja bukan hanya perkara seksualitas yang ditulis Mario Vargas Llosa di dalam novelanya ini (saya membaca versi terjemahan Bahasa Inggris oleh Helen Lane, terbitan Picador). Llosa menggunakan seksualitas untuk mengantarkan pandangan-pandangan dan interpretasinya terhadap hal-hal yang berputar di antara sejarah, mitologi, dan religiusitas. Lewat bab-bab yang menunjukkan aktivitas ritual Don Rigoberto (mandi, membersihkan telinga, buang hajat) Llosa juga berbicara tentang ketidaksempurnaan dan ‘lubang-lubang’ pada diri manusia serta bagaimana memandang ‘lubang-lubang itu sebagai cara untuk mencapai kebahagiaan.

Selain membandingkan elemen seksualitas pada novela Llosa ini dengan novel-novel dari pengarang Jepang, saat membaca In Praise of the Stepmother saya juga mau tidak mau teringat My Name Is Red karangan penulis Turki, Orhan Pamuk. Pamuk menggunakan banyak sudut pandang dalam My Name Is Red untuk menuturkan ceritanya, selain bertutur dari tokoh-tokoh utama dan sampingan yang kesemuanya adalah manusia, Pamuk juga memasukkan bab-bab yang tokoh utamanya adalah benda-benda mati (sekeping koin, warna merah, anjing dan kuda yang berupa lukisan). Llosa melakukan hal serupa. Selain menuturkan cerita dari sudut pandang Dõna Lucrecia dan Don Rigoberto, Llosa juga menggunakan tokoh-tokoh abstrak yang sebetulnya berada di luar cerita (Raja Candaules, Dewi Venus, Monster, Cinta) namun memiliki porsi untuk memberi lapisan pemahaman lain atas apa yang sedang berusaha disampaikan oleh Llosa lewat konflik gelap keluarga kecil Don Rigoberto.

Lewat tokoh-tokoh abstrak tersebut, Llosa menggunakan alusi-alusi untuk menyampaikan gagasan-gagasannya akan makna cinta, berahi, dan romantisme. Hubungan terlarang antara Dõna Lucrecia si ibu tiri dan anak tirinya, Alfonso (serta barangkali juga si pembantu, Justiniana) dituturkan dengan sangat artistik oleh Llosa lewat rangkaian kata-kata yang tidak bisa tidak dibaca lebih dari dua atau tiga kali agar benar-benar dapat menangkap inti dari artinya.

Seperti juga yang dilakukan oleh Juan Rulfo dan Gabriel García Márquez sang maestro realisme magis, teks Mario Vargas Llosa adalah sesuatu yang indah, sekaligus rumit dan berlabirin. Meski jarak perjalanannya pendek, mau tidak mau kita menerima tawaran Llosa untuk berbelok ke cabang-cabang jalan yang lain terlebih dahulu, agar dapat meresapi apa yang sebetulnya memang hanya dapat dimengerti lewat perjalanan bercabang itu.

Dan, bukankah seperti semua hal di dunia ini juga,  bahwa untuk memahami sesuatu yang kadangkala terasa mudah, kita harus menempuh perjalanan pikiran yang sangat panjang untuk sampai ke tujuan. Pun, kita mesti melakukannya dengan tulus, dan seringkali harus mengosongkan pengetahuan yang sudah dimiliki, agar bisa masuk ke dalam sebuah arena, tempat jawaban atas seluruh pertanyaan bersembunyi: sebuah labirin.

At first, you will not see me or hear me, but you must be patient and keep looking. With perseverance and without preconceptions, freely and with desire, look. With your imagination unleashed and your penis ready and willing-preferably erect-look. One enters there as the novice nun enters the cloister, without petty calculations, giving everything, demanding nothing, and in one’s soul the certainty that it is forever. Only on that condition, very gradually, the surface of dark purples and violets will begin to move, to become iridescent, to take on meaning and reveal itself to be what it in truth is, a labyrinth of love (pg. 117). ***

23 Maret 2015

After the Quake, Haruki Murakami




Ini buku keempatbelas dari Haruki Murakami yang saya baca, sekaligus kumpulan cerita keduanya yang saya baca setelah Blind Willow, Sleeping Woman. Saya tidak berharap banyak akan menemukan hal baru dari tulisan-tulisannya. Saya membaca kumpulan cerpennya ini hanya karena saya ingin menghabiskan tumpukan buku-bukunya yang belum saya baca, dan karena dua minggu terakhir saya sedang fokus membaca buku-buku kumpulan cerita pendek. After the Quake saya baca bersamaan dengan In Praise of the Stepmother, Mario Vargas Llosa, juga dua kumpulan cerita pendek dari pengarang Indonesia (di catatan berikutnya saya akan menulis tentang buku-buku tersebut).

Hal lain yang membuat saya ingin membaca After the Quake adalah, karena katanya kumpulan cerita Murakami ini ditulis sebagai respons si penulis atas peristiwa gempa Kobe. Saya tidak pernah mendengar tentang gempa Kobe sebelumnya. Baru saat hendak membaca buku ini. Namun, keterangan tersebut-Murakami menulis cerita pendek sebagai respons atas gempa Kobe-cukup membuat saya tertarik untuk membaca. Karena kita tahu, Murakami jarang sekali menulis cerita yang memuat, hm, katakanlah, ‘peristiwa sosial’.

Kebanyakan cerita-cerita Murakami adalah cerita-cerita yang sureal, penuh elemen fantasi, dan absurd. Kau bisa tiba-tiba saja melihat ribuan ekor ikan sarden berjatuhan dari langit, atau seorang laki-laki yang kausnya mendadak berlumur darah. Jarang kita temukan peristiwa-peristiwa ‘sosial’ di dalam cerita-cerita Murakami. Barangkali hanya di novelnya The Wind-Up Bird Chronicle yang memuat banyak cuplikan perang Vietnam.

Saya berani bilang bahwa Murakami merupakan pengarang yang tidak peduli-peduli amat untuk memasukkan unsur ‘permasalahan sosial’ ke dalam cerita-cerita karangannya. Ia lebih gemar menggali kondisi psikologi individu manusia dengan merangkai peristiwa-peristiwa yang sureal dan absurd. Maka, ketika membaca After the Quake, saya menduga-duga, apakah benar kali ini Murakami kembali (setelah saya membaca The Wind-Up Bird Chronicle) memasukkan unsur ‘permasalahan sosial’ ke dalam cerita-ceritanya?

Ternyata, jawabannya adalah: tidak.

Enam cerita di dalam kumpulan cerita After the Quake (saya membaca versi terjemahan B ternyata bukanlah cerita-cerita seperti yang saya bayangkan. Saya membayangkan cerita-cerita yang ditulis Murakami benar-benar merupakan rekonstruksi sejarah dengan, mungkin, mengambil sudut pandang penceritaan yang lain (memang agak naif harapan semacam ini). Ternyata, seluruh cerita di dalam buku ini hanya menggunakan peristiwa gempa Kobe sebagai pemicu efek samping yang mengubah jalan hidup tokoh utama, sehingga konflik pun muncul dan cerita bergulir tanpa ada signifikansi yang besar terhadap peristiwa gempa Kobe itu sendiri.

Cerita UFO in Kushiro mengisahkan Komura, seorang laki-laki yang istrinya tidak melakukan pekerjaan apapun di rumah selain menonton televisi dan menyaksikan berita-berita mengerikan seputar gempa Kobe, hingga suatu hari istrinya pergi begitu saja dari rumah dan tidak kembali lagi. Memang konflik cerita dipicu oleh peristiwa gempa Kobe, namun ceritanya sendiri bukan tentang gempa Kobe, melainkan permasalahan klasik dalam buku-buku Murakami, yakni eksistensialisme.

Landscape with Flatiron tentang seorang laki-laki yang punya kebiasaan dan kegemaran unik: membuat api unggun. Kebiasaannya ini ia dapatkan setelah keluarganya menjadi korban gempa Kobe. Sekilas tampak seperti cerita tentang gempa Kobe, namun sebenarnya tidak. All God’s Children Can Dance, Thailand, Super-Frog Saves Tokyo, dan Honey Pie pun tak jauh berbeda. Semuanya cerita-cerita yang, menurut saya, dapat berdiri sendiri dan bergulir sebagaimana mestinya tanpa peristiwa gempa Kobe. Atau, peristiwa gempa Kobe pada cerita-cerita tersebut bisa diganti oleh peristiwa apa saja yang traumatik.

Barangkali Murakami memang benar-benar tidak tertarik merekonstruksi sejarah, seperti pengarang-pengarang lain ketika mereka menulis novel atau cerita pendek berlatarkan ‘peristiwa sosial’ atau ‘permasalahan sosial’. Sebetulnya tidak masalah bagi saya, toh saya sudah cukup paham bagaimana Murakami memandang sebuah fiksi. Baginya, saya kira, fiksi adalah tempat berimajinasi dan bercerita, bukan wadah untuk menjejalkan atau menimbun fakta sejarah, apalagi jika melakukannya demi tujuan agar cerita-ceritanya dianggap berbobot dan bermutu.

Saat membaca After the Quake, saya justru lebih fokus pada bagaimana Murakami bisa melepaskan bebannya dari ‘peristiwa sosial’ yang ia angkat. Ia tidak merasa harus memasukkan data-data atau beberapa adegan peristiwa tersebut. Ia kembali ke cerita. Ia tahu bahwa cerita, bagaimanapun, mesti menghibur. Ia melakukannya sangat baik di cerita pendek berjudul Super-Frog Saves Tokyo, yang menampilkan adegan seorang laki-laki kembali ke apartemennya di siang bolong dan menemukan seekor kodok raksasa telah menunggunya (kodok raksasa itu meminta bantuannya untuk berkelahi dengan seekor cacing yang mungkin juga raksasa, demi menyelamatkan sebuah kota di Jepang agar tidak terkena dampak gempa besar).

Satu hal menarik dari enam cerita pendek di kumpulan cerita After the Quake adalah bagaimana Murakami tetap memiliki selera humor yang baik, bahkan ketika ia sedang menulis sebuah cerita yang berlandaskan ‘peristiwa sosial’ besar: gempa. Ia tidak tenggelam dalam arus opini bahwa cerita yang ditulis menggunakan ‘peristiwa sosial’ sebagai pondasinya, mestilah juga membahas dalam porsi besar peristiwa tersebut.

Saking tidak signifikannya peristiwa gempa Kobe di dalam After the Quake (melihat porsi adegan atau narasi yang membahas peristiwa itu sendiri) saya seringkali lupa bahwa cerita-cerita tersebut ditulis sebagai respons untuk gempa Kobe. Cerita-cerita itu bisa kita nikmati bahkan jika tidak tahu sama sekali tentang terjadinya gempa Kobe. Itulah yang saya rasakan saat membaca buku ini.

Saya kira begitulah cerita yang baik. Cerita yang tetap dapat dibaca dan dinikmati oleh orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan tentang peristiwa nonfiksi di dalam cerita tersebut. Tentu saja, jika seseorang memiliki pengetahuan akan peristiwa yang ditulis atau diangkat secara tersirat di sebuah karya fiksi, ia akan dapat melakukan pemaknaan yang lebih. Tapi, jikapun tidak, ia tetap bisa menikmati alur, karakterisasi, dialog-dialog, dan adegan-adegan cerita tersebut.

Lagipula, jika ingin menulis banyak tentang fakta peristiwa sejarah, bukankah ada banyak bentuk-bentuk tulisan lain yang lebih cocok ketimbang cerita pendek atau novel? Tulisan opini atau esei, misalnya. Atau barangkali, artikel investigasi? Saya percaya selalu ada bentuk tulisan yang paling tepat untuk sebuah ide atau keinginan si penulis. Cerita bukan tempat berkhotbah. Tidak pula layak, saya kira, menjejali cerita dengan data dan fakta sejarah yang bertumpah ruah, sehingga penulisnya mengesampingkan plot dan elemen-elemen fiksi lain.


Tentu saja hal ini masih bisa dan sangat boleh diperdebatkan. Tentang cerita untuk cerita, atau cerita untuk ‘misi kemanusiaan’. Tentang seni untuk seni, atau seni untuk ‘rakyat’. Tentang bagaimana kenikmatan dari sebuah cerita mestinya dibebaskan dari beban pesan moral apalagi misi kemanusiaan. Meski, tidak pula berarti memasukkan ‘misi kemanusiaan’ adalah hal yang keliru dan ambisius. Semuanya sah-sah saja, sebetulnya. Asalkan cerita ditulis dengan bagus dan dapat dinikmati. ***

9 Maret 2015

The Stranger, Albert Camus




Seorang pria melihat ibunya yang baru saja meninggal sedang disemayamkan, dan ketika seluruh pelayat hadir dengan wajah muram dan airmata menetes di pipi mereka, pria tersebut sama sekali tidak menangis. Bahkan, ia tidak sedikit pun menunjukkan tanda-tanda bahwa ia bersedih atas kematian ibunya. Seolah-olah ibunya yang sedang terbujur kaku sebagai mayat itu bukanlah ibunya, melainkan sebatang pohon yang baru saja ditebang, atau seekor lalat yang baru tuntas ditepuk.

Albert Camus memulai novela berjudul The Stranger ini dengan menampilkan gambaran karakter yang sangat kuat, sekaligus barangkali nyeleneh dan agak kurang masuk akal bagi sebagian orang. Terutama mereka yang berpikir bahwa manusia seharusnya merasakan emosi begini atau begitu.

Bukan hal keliru, memang, jika sebagian yang membaca The Stranger akan menganggap si lelaki yang berperan sebagai tokoh utama tersebut mengidap kelainan jiwa karena tidak menangis bahkan tidak menunjukkan tanda-tanda emosional sedikit pun saat melihat mayat ibunya, atau saat mendapat kabar bahwa ibunya meninggal. Bahkan, ia tidak ingat kapan tepatnya ibunya meninggal, hari ini atau kemarin, kemarin atau hari ini. Baginya sama saja.

Saya katakan bukan hal yang keliru, karena tokoh-tokoh lain di dalam The Stranger pun beranggapan demikian. Dapat dilihat ketika si tokoh utama terlibat masalah hukum setelah di siang bolong, di tepi pantai tempat ia berlibur bersama beberapa temannya, ia menembak mati seorang Arab. Lima tembakan di tubuh bagian depan.

Saat ditanya di persidangan tentang alasannya menembak laki-laki Arab tersebut, si tokoh utama awalnya diam karena tiba-tiba ia merasa jawaban yang akan berikan bakal terdengar sangat konyol di khayalak persidangan. Namun, ia tetap harus menjawab, karena ia pun ingin menjawab. Dan, benar saja dugaannya, saat ia memberikan jawaban atas pertanyaan itu, semua orang tertawa, termasuk jaksa penuntut umum.

Jawabannya ketika ditanya mengapa ia menembak mati laki-laki Arab tersebut adalah karena ia merasa sinar matahari pada saat itu sangat menyengat dan ia merasa pusing dan akhirnya ia pun menarik pelatuk dan menembak korban.

Semua orang merasa si tokoh utama memiliki kelainan jiwa. Apalagi ketika jaksa penuntut umum menyampaikan hasil penyelidikannya. Ia menemukan dan menyampaikan di persidangan bahwa si tokoh utama-yang telah jadi tersangka pada saat itu-diketahui lewat saksi-saksi, tidak menangis sama sekali dan tidak menunjukkan tanda-tanda emosi ketika menghadiri pemakaman ibunya. Bahkan, si tokoh utama pergi berkencan dengan seorang perempuan keesokan harinya dengan kondisi bahagia, seolah tak pernah terjadi apa-apa. Seolah ibunya tidak pernah meninggal.

Dengan cerdas, Albert Camus menggiring pikiran kita hingga berada di posisi yang barangkali sama seperti tokoh-tokoh lain di dalam cerita. Seperti mereka, kita akan melihat si tokoh utama ini sebagai orang yang mengidap kelainan jiwa. Jangan-jangan ia pernah mengidap trauma masa kecil atau semacamnya, pikir kita.

Namun, kenyataannya si tokoh utama tidak mengidap trauma masa kecil atau apapun (setidaknya dari yang terlihat pada teks). Ia, dengan pemikirannya sendiri, memang merasa tidak ingin menangis. Tidak ada hal yang mendorong ia untuk menangis. Kematian Maman, ibunya, adalah sesuatu yang baginya normal-normal saja. Jika hari ini ibunya mati, atau kemarin, atau besok, atau tahun depan, sama saja. Semuanya tetap akan berjalan normal dan seperti biasa. Kematian ibunya bukanlah peristiwa yang signifikan.

Tidak sulit memahami jalan pikiran si tokoh utama di novela The Stranger (atau jalan pikiran pengarangnya) ketika kita mengetahui bahwa Albert Camus adalah seorang eksistensialis (silakan cari di Google apa itu eksistensialis). Meski tidak tampak di awal-awal cerita, pada akhirnya kita akan mengerti mengapa si tokoh utama memiliki jalan pikiran demikian dan mengambil tindakan-tindakan seperti di dalam cerita.

Membaca The Stranger Albert Camus mengingatkan saya pada novel-novel dan cerita-cerita pendek Haruki Murakami. Saya bahkan merasa mereka seperti abang-beradik. Camus abangnya, Murakami adiknya. Bisa kita bilang mereka berdua adalah eksistensialis. Tidak sulit mengetahuinya. Hanya dengan melihat tindakan dan cara berpikir tokoh utama dalam novel mereka, hal tersebut dapat terlihat.

Yang lebih ingin saya soroti dan bahas dari novela setebal 120 halaman ini adalah, kesederhanaan bahasanya. Berkali-kali saya berpikir bahwa pengarang-pengarang sekelas pemenang Nobel Kesusastraan pastilah memiliki karya-karya dengan bahasa yang berat. Bahasa yang berat maksud saya adalah pemilihan kata yang tidak lazim. Seperti novel yang dijejali kata-kata langka dari dalam kamus.

Namun, The Stranger sama sekali tidak demikian. Saya menyelesaikan membaca The Stranger hanya dalam beberapa jam. Mungkin tidak lebih dari tiga jam. Salah satunya karena bahasa Camus sangat mudah dipahami. Tidak ada kata-kata dalam Bahasa Inggris yang sulit, yang membuat saya mesti mengubek-ubek Google Translate untuk dapat memahami maksudnya.

Begitu pula dengan plot. The Stranger tak menggunakan model lain selain bentuk yang linear. Alur maju. Camus tidak menawarkan permainan flashback, foreshadowing, atau fragmen-fragmen yang rumit. Kisah tokoh utama yang dianggap memiliki kelainan jiwa oleh tokoh-tokoh lain di dalam cerita dikisahkan dengan cara yang amat sederhana.

Kadangkala saya berpikir bahwa penulis-penulis yang matang memang akan menuju bentuk dan cara yang sederhana. Seperti orang bijak atau orang pintar yang dapat menyampaikan hal rumit lewat pernyataan-pernyataan sederhana. Orang yang kerap menggunakan bahasa rumit, menurut saya, justru adalah orang yang tak benar-benar paham dengan apa yang ingin ia ucapkan sendiri.

Meski demikian, meski dengan bahasa dan alur yang sederhana, kita tahu apa yang dimunculkan oleh Camus lewat tokoh utama di The Stranger bukanlah hal yang sederhana. Camus menggali hingga ke dalam jiwa manusia, lalu memunculkan ke permukaan pertanyaan demi pertanyaan yang barangkali, secara sadar maupun tidak, menghantui kita semua. Mengapa seseorang harus punya tujuan hidup? Apakah tujuan hidup itu? Apakah hidup itu sendiri dan apakah itu kehidupan? Apakah kematian?

The Stranger juga membuat kita bertanya dan berasumsi, barangkali apa yang disebut kelainan jiwa hanyalah kewarasan dalam perspektif lain. Saya sering menduga dan curiga, jangan-jangan orang gila, atau yang setidaknya kita kerap sebut orang gila, hanyalah orang yang punya bentuk kewarasan yang berbeda dengan kita, manusia ‘waras’. Orang gila atau orang yang punya kelainan jiwa hanya memiliki dunia yang berbeda dengan kita. Dan, tentu saja, itu bukan hal yang aneh.


Lalu, jika benar demikian, apakah salahnya memiliki dunia yang berbeda? Apakah salahnya menjadi gila di dunia yang waras, atau menjadi waras di dunia yang gila? Bukankah waras dan gila hanya masalah mana yang lebih mendominasi? Seperti orang gila yang berada di dunia orang waras tidak dapat disebut orang waras, apakah orang waras yang diletakkan di dunia penuh orang gila tidak boleh disebut orang gila? ***