20 Mei 2017

Selamat Datang


Bisikan Busuk adalah blog pribadi Bernard Batubara (Bara): penulis penuh-waktu, yang lahir 9 Juli 1989 di Pontianak, Kalimantan Barat; kini tinggal di Yogyakarta. Bara belajar menulis puisi, cerita pendek, dan novel sejak 2007. Buku-bukunya yang telah terbit: Angsa-Angsa Ketapang (2010), Radio Galau FM (2011), Kata Hati (2012), Milana (2013), Cinta. (2013), Surat untuk Ruth (2013), Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri (2014), dan Jika Aku Milikmu (2015). Radio Galau FM dan Kata Hati telah diadaptasi ke layar lebar. Buku terbarunya terbit Agustus 2016, kumpulan cerita Metafora Padma.

28 Juni 2016

Two Years Eight Months and Twenty-Eight Nights, Salman Rushdie



Persis setahun yang lalu, saya membaca The Satanic Verses. Sebelumnya, saya membeli beberapa buku Salman Rushdie sekaligus. Hanya dua, sebenarnya. The Satanic Verses dan Midnight Children. Saya memilih untuk terlebih dahulu membaca yang pertama. Agaknya pilihan saya keliru. Buat saya, The Satanic Verses sangat melelahkan. Ketika saya curhat ke seorang teman pembaca, dia bilang The Satanic Verses memang tidak begitu bagus, novel itu hanya ramai karena kontroversinya, dan menurutnya Midnight Children jauh lebih baik. Sayang sekali saya sudah keburu lelah untuk membaca karya Salman Rushdie lagi. Saya sempat membaca The Satanic Verses hingga halaman 250-separuh novel-dan belum melanjutkannya hingga sekarang.

Tetapi, saya masih punya rasa penasaran yang besar dan butuh dituntaskan. Tidak mungkin, saya pikir, Salman Rushdie bisa begitu terkenal dan dielu-elukan dunia sastra internasional kalau semua bukunya melelahkan seperti The Satanic Verses. Maka, ketika saya tahu Rushdie merilis buku baru, saya segera tertarik membacanya. Walaupun sempat jiper gara-gara harga bukunya mahal sekali (edisi hard cover di Aksara hampir menyentuh angka lima ratus ribu!), akhirnya saya bisa mendapatkan buku itu dengan diskon separuh harga. Saya mencoba menuntaskan rasa penasaran terhadap Salman Rushdie dengan membaca novel terbarunya: Two Years Eight Months and Twenty-Eight Nights.

Sebelum membaca Two Years Eight Months and Twenty-Eight Nights, saya sudah membaca penggalannya di The Newyorker. Salman Rushdie merilisnya sebagai cerita pendek berjudul The Duniazát, yang adalah cuplikan dari bab pembuka novelnya. Cerpen itu sendiri menarik. Ceritanya tentang seorang filsuf yang tidak bisa mendakwahkan filosofinya, orang-orang yahudi yang tidak bisa menyebut dirinya yahudi, dan seorang gadis cantik yang ternyata perwujudan jin-diberi nama oleh si filsuf “dunia”. Si filsuf kawin dengan jin perempuan dan melahirkan banyak anak, banyak sekali hingga garis keturunannya hampir menjadi sebuah bangsa sendiri. Keturunan jin perempuan itu dinamai duniazát.

Secara singkat, novel terbaru Salman Rushdie ini adalah kisah tentang perang jin. Tidak murni perang antarjin, karena juga melibatkan manusia. Kisah dituturkan oleh narator omnipotent, yang menyebut dirinya secara tidak begitu jelas dengan petunjuk-petunjuk tertentu bahwa mereka (we, jamak) adalah manusia di zaman yang baru (aktual). Kisah perang antarjin yang melibatkan manusia telah terjadi ribuan tahun lampau, dan inilah yang diceritakan di dalam novel.

Seperti cerita pendek The Duniazát, novelnya juga dibuka dengan kisah serupa. Penggambaran si filsuf dan kehidupannya bersama Dunia, si jin perempuan. Dunia senang mendengarkan cerita-cerita yang dituturkan si filsuf dan si filsuf, selayaknya Syahrazad, menjadi pendongeng yang baik bagi pasangannya. Tentu saja dongeng itu bukan sekadar dongeng, tetapi dongeng yang ia karang sembari menyelundupkan gagasan-gagasan rasionalistisnya, termasuk pandangannya tentang eksistensi Tuhan dan fungsi agama. Sebagai makhluk dari dunia gaib, Dunia sering tidak sependapat dengan si filsuf, tetapi tidak lantas membuatnya membantah apa yang diceritakan pasangannya itu.

Lantas, bagaimana perang dimulai? Semua bermula dari aktivitas di dunia lain, yakni dunia jin. Syahdan, dunia jin dan dunia manusia berada bersisian tetapi terpisah. Namun, suatu hari terdapat “sobekan di langit” yang membuat kedua dunia tersebut menjadi terhubung. Jin dari berbagai golongan pun turun ke bumi dan melakukan apa yang ingin mereka lakukan terhadap umat manusia. Rushdie, pada bagian pembuka novel, melalui kami-narator memberikan pemaparan yang cukup panjang mengenai asal-usul dan jenis-jenis jin. Pemaparan itu mengerucut pada klasifikasi jin: jin jahat dan jin baik. Jin jahat mempengaruhi manusia untuk menguasai mereka sekaligus menghancurkannya, sementara jin baik mencegah hal tersebut terjadi. Kira-kira begitulah.

Dunia, jin perempuan yang menjadi “istri” si filsuf, memiliki seorang ayah, yang tentu saja adalah seorang jin. Raja jin, begitu. Sang ayah tewas karena-ini salah satu bagian menarik-cerita. Ia meninggal karena diperlihatkan sebuah kotak berisi cerita-cerita yang merupakan alegori dari ketakutan-ketakutan dan ketidakpuasannya sendiri terhadap anak sematawayangnya, Dunia. Ketika tahu tentang ini, Dunia berang dan mulai memburu para pembunuh ayahnya, empat sekawan jin jahat, para ifrits. Dunia mengumpulkan keturunannya, duniazat, dan memberitahu mereka bahwa mereka adalah keturunan separuh jin, lantas Dunia memberi mereka tugas untuk menumpas para ifrits, yang saat ini melancarkan serangannya demi penghancuran umat manusia.

Sama seperti The Satanic Verses, novel terbaru Salman Rushdie ini juga ditulis dengan narasi yang padat. Seringkali muncul kata-kata dalam bahasa Inggris yang belum pernah saya temui, dan akhirnya membuat saya terpaksa sesekali membuka google translate atau kamus ponsel Merriam-Webster. Tetapi, berbeda dengan The Satanic Verses yang bikin pusing karena alur waktu, latar tempat, dan kronologinya tidak jelas, Two Years Eight Monts and Twenty-Eight Nights jauh lebih tertata dan jelas apa siapa di mana mengapa bagaimananya. Sehingga, walaupun banyak kata-kata sulit, membaca ceritanya sendiri tidak begitu sulit, malah relatif mudah.

Pada kulit luarnya, Two Years Eight Months and Twenty-Eight Nights (omong-omong, ini adalah “pelesetan” dari seribu satu malam; kalau enggak percaya bisa coba hitung sendiri) adalah cerita seru tentang pertempuran antarjin yang juga melibatkan manusia. Tetapi, tentu saja secara keseluruhan, novel ini tidak hanya punya kulit luar. Di balik kulitnya, pada lapisan yang lebih dalam, novel Rushdie yang meskipun tetap mengandung cukup banyak kata-kata sulit namun tetap enak dibaca ini adalah sebuah paparan tentang pertentangan gagasan: gaib dan rasional, eksistensi Tuhan dan fungsi agama, keberadaan sesuatu yang liyan, juga tidak luput sindiran-sindiran terhadap persoalan sosial dan politik, termasuk di dalamnya tindak korupsi dalam birokrasi (ada tokoh seorang bayi keturunan jin yang punya kemampuan istimewa: siapapun koruptor yang berada di dekatnya akan mengalami keanehan penyakit kulit pada wajahnya, sehingga ia menjadi semacam detektor koruptor).

Membaca novel-novel Salman Rushdie membuat saya setengah teringat pada novel favorit saya semasa kecil, serial Harry Potter. Saya suka membaca novel genre fantasi, karena di dalamnya terdapat dunia antah-berantah dan makhluk-makhluk mitikal, sihir dan mantra-mantra, juga keajaiban-keajaiban yang tidak bisa saya temukan di bacaan-bacaan lain. Namun, kegemaran membaca novel fantasi tidak terbawa ketika saya beranjak dewasa, untuk alasan yang hingga hari ini tidak saya pahami. Saya tidak tertarik membaca novel fantasi selain Harry Potter (Lord of the Rings, Nicholas Flamel, Eragon? Tidak, maaf.)

Syukurlah, saya bertemu Neil Gaiman dan Salman Rushdie. Bagi jiwa pencinta kisah-kisah dunia antah-berantah dan makhluk-makhluk mitikal di dalam diri saya, buku-buku mereka seperti novel-novel fantasi untuk orang dewasa. Meski, tentu saja di balik balutan kisah fantasi itu terdapat gagasan-gagasan lain yang menjadi permenungan, kritik terhadap dunia dan manusia, serta pengetahuan lebih mendalam tentang suatu topik.


Buat pencinta novel fantasi, bacalah novel-novelnya Salman Rushdie. ***

25 Juni 2016

The White Tiger, Aravind Adiga



Buku dari penulis asal India yang kali pertama saya baca adalah kumpulan cerita Jhumpa Lahiri, Interpreter of Maladies. Saya menyukai buku itu.Tetapi, seperti yang sudah-sudah, bukan berarti setelahnya saya langsung membaca buku dari penulis India lagi. Biasanya, buku berikut yang saya baca terambil secara acak dari rak. Namun, kali ini ada sedikit kebetulan. Saya tetap mengambil buku dari rak perpustakaan pribadi secara acak, tetapi yang tercomot ternyata buku dari penulis India: The White Tiger, Aravind Adiga. Setelah beres membaca The White Tiger pun lagi-lagi secara kebetulan saya mengambil buku penulis India, sehingga berturut-turut saya membaca tiga buku dari tiga penulis asal India-- tetapi ini akan saya ceritakan di tulisan lain. Dalam tulisan ini saya mau bercerita pengalaman membaca The White Tiger, novel Aravind Adiga yang menjadi peraih penghargaan Man Booker tahun 2008.

Suatu hari di tahun 2015 saya bertandang ke Jakarta dan bertemu dua orang teman penulis. Saat itu sore hari, kami bertiga mengobrol santai di dalam sebuah ruangan gedung di areal Taman Ismail Marzuki di kawasan Cikini. Kami membicarakan buku. Saya bertanya apa saja buku favorit mereka, dandi antara judul-judul buku dan nama penulis yang mereka sebutkan, muncul The White Tiger. Saya familier dengan judul dan nama penulisnya, Aravind Adiga, tetapi belum pernah membaca. Buku-buku lain yang mereka sebutkan pun tidak satu pun yang sudah saya baca. Tetapi saya percaya tidak ada kata terlambat untuk membaca buku bagus, maka baru setelah delapan tahun sejak pertama rilis, akhirnya secara kebetulan saya membaca The White Tiger.

Hasilnya: saya sangat, sangat, sangat, menyukai novel ini.

Pernah baca The Brief Wondrous Life of Oscar Wao, Junot Díaz? Novel Aravind Adiga The White Tiger punya rasa yang mirip-mirip. Saya kira itu karena tokoh utama sekaligus naratornya, Balram Halwai, punya cara bicara mirip Yunior. Ceplas-ceplos, blak-blakan, gemar mengumpat, dan senantiasa membuat lelucon dan berkelakar. Saya sudah ngakak sejak halaman-halaman pertama The White Tiger, sama seperti saya tertawa membaca penggambaran Yunior atas hero novel Junot Díaz, si remaja gemuk pecandu gim Oscar di pembukaan novelnya. Itulah hal pertama yang membuat saya serta-merta menggumam: “Saya akan menyukai buku ini.” Buku bagus, sama seperti hal-hal lain yang bagus, sudah ketahuan sejak persentuhan pertama.

The White Tiger dibuka dengan narasi yang sekilas saja terlihat seperti sebentuk epistolari. Awalnya saya langsung malas ketika melihat ada surat di bagian awal. Tetapi, ternyata cara bicara Balram Halwai betul-betul menghibur. Ia menulis surat kepada kepala pemerintahan Cina, Wen Jiabao-- Balram menyebutnya “Mr. Premier”-- sesaat setelah Balram mendengar melalui radio India bahwa Jiabao akan berkunjung ke negaranya untuk mengenal seluk-beluk India. Dalam suratnya, Balram menjelaskan bahwa India adalah penghasil wirausahawan yang kece punya, dan ia bermaksud menceritakan kisah seorang pemuda yang berawal dari anak penarik becak di kampung terpencil menjadi seorang pebisnis sukses di pusat kota India.

Tentu saja, “pebisnis sukses” ini tidak seperti yang kita bayangkan. Lagipula, memang bukan itu intinya.

Balram Halwai, narator kita, lahir di sebuah kampung bernama Laxmangarh. Ia punya ayah yang bekerja sebagai penarik becak (rickshaw puller-- ditarik dari depan berjalan kaki, bukan dengan diengkol dari belakang penumpang) dan bibi-bibi yang sangat menyebalkan. Ayahnya membiasakan Balram membaca dan mendorongnya agar rajin bersekolah. Balram memang akhirnya menjadi salah satu murid yang pintar, sampai-sampai ketika ada kunjungan dari orang dinas pendidikan (mungkin semacam itu) ke sekolah mereka, Balram disebut “White Tiger” karena hanya dirinya di antara teman-teman sekelas yang bisa membaca dengan baik, sehingga ia langka, one of a kind. Dari sana lah Balram mendapat julukan The White Tiger, yang kemudian juga menjadi judul novel ini.

Tetapi, sebagai personel keluarga Halwai, hidup Balram sudah digariskan. Takdir yang melekat pada marganya membuat ia terjebak dalam bayang-bayang masa depan menjadi pembuat manisan (atau mungkin gula-gula/permen). Seperti orang dengan marga lain dan takdir yang mengikutinya, marga Halwai berarti takdir hidup menjadi pekerja kelas rendah. Balram Halwai menolak masa depan seperti itu. Ia menginginkan jalur alternatif. Ia menginginkan masa depan yang berbeda. Ia menginginkan kebebasan.

Kebebasan itu diperoleh Balram dengan menjadi sopir seorang keluarga tajir di Delhi. Majikannya, Ashok, adalah anak kandung tuan tanah yang punya pengaruh politik di India. Orang penting. Memiliki insting yang tajam, inisiatif tinggi,dan kemampuan menyerap ilmu dengan cepat, kehidupan berjalan baik-baik saja bagi Balram, hingga musibah menimpa: sedan yang ia tumpangi menabrak mati seorang bocah.Adalah istri majikannya yang menyetir pada saat itu, tetapi di bawah ancaman, Balram dipaksa mengaku oleh sang tuan tanah bahwa dirinya pelaku tabrak lari tersebut. Ketegangan dimulai dari sini. Marabahaya bermula ketika Balram mencari jalan keluar dari perangkap besar yang telah menelan banyak orang bawah India ini. Jika kau bukan orang berpengaruh dan punya uang, hidup di India berarti hidup di dalam kandang ayam, dan The White Tiger adalah cerita bagaimana tokoh kita membebaskan dirinya dari kandang ayam itu.

The White Tiger merupakan cerita semi-thriller (karena di dalamnya ada adegan pembunuhan) yang menampilkan sisi-sisi India dalam metode dikotomis: terang dan gelap. Aravind Adiga mencoba menunjukkan kepada orang-orang bahwa India tidak hanya “surga” eksotis yang indah, tetapi juga memiliki di dalamnya bagian gelap, dan di dalam bagian gelap India inilah cerita Balram Halwai menjadi cerita masyarakat akar rumput di India, negara hasil jajahan Inggris yang memiliki banyak kesamaan dengan Indonesia (paling tidak sama-sama negara bekas jajahan).

Saya sangat terhibur membaca The White Tiger seperti saya terhibur membaca The Brief Wondrous Life of Oscar Wao seperti saya terhibur membaca Two Years Eight Months and Twenty-Eight Nights seperti saya terhibur membaca buku-buku bagus yang tidak hanya kaya dan berlapis secara muatan tetapi juga seru dan page-turner secara cerita. Buku-buku dengan muatan bagus dan mendalam tidak mesti ditulis dengan cara yang membosankan dan buku-buku seru tidak mesti punya muatan yang dangkal. Keduanya, muatan dan cerita, bisa tampil secara baik di tangan seorang penulis bagus; penulis yang membaca buku-buku bagus dan punya visi membuat buku-buku bagus. ***

5 Juni 2016

Rio Johan: Aku Ingin Melihat Sejauh Mana Aku Bisa Terus Menulis


Seorang pecandu gim konsol yang menemukan jalan kepenulisannya
lewat sejarah dari dunia-dunia jauh.





Tatkala tulisan ini dibuat, ia berusia 26 tahun. Demi umurnya itu dan hobi menulisnya, ia disebut sebagai penulis muda. Tetapi, kiranya bukan label umum semacam itu yang tepat disematkan pada laki-laki ini-penulis muda-melainkan sesuatu yang lebih spesifik. Lantas, apa? Mari kita lihat: ia menonton film-film cult yang tak banyak diketahui orang, menghabiskan waktunya bermain gim konsol yang jarang sekali, jika tak pernah, jadi bahan inspirasi bagi seorang penulis, dan menuliskan cerita tentang komunitas penyedia layanan aksi erotis bondage-discipline-sadism-masochism di suatu belahan dunia antah-berantah.

Saya menimbang-nimbang, mencari satu label spesifik itu, dan setelah ketemu langsung mengutarakannya kepada yang bersangkutan.

“Kau penulis aneh,” kata saya. Balasan yang saya peroleh hanya suara tawa dan raut memaklumi, seakan-akan ia sudah sering mendapat tudingan serupa.

Rabu, 28 Mei 2016. Saya sedang duduk di sebuah kafe di pusat kota Yogyakarta, berhadap-hadapan dengan laptop dan layar setengah kosong, berusaha keras menyelesaikan satu tulisan yang sudah saya rencanakan rampung hari itu. Saya mendelik ke ponsel yang tergeletak di dekat gelas plastik berisi kopi, yang sudah tandas, dan melihat waktu menunjukkan pukul empat lebih lima belas menit. Gawat. Saya harusnya sudah berada di tempat lain menemui seseorang. Segera saya ambil ponsel dan mengirim pesan teks.

“Saya minta waktu sekira setengah jam untuk menyelesaikan tulisan, nggak apa-apa?” dan tidak lama balasannya datang dalam kalimat yang santai. Saya mengirim satu pesan lagi. “Maaf ya, Rio. Terima kasih. Kita bertemu pukul lima."

Tiga puluh menit kemudian tulisan saya belum kelar, tapi tak mungkin mengulur waktu lagi. Bersepeda motor saya meluncur ke Dongeng Kopi-kedai kopi cum toko buku di utara pusat kota Yogyakarta-untuk menemui penulis aneh itu.

Rio Johan lahir 28 Agustus 1990 di Baturaja, Sumatera Selatan. Tatkala menjadi mahasiswa, ia pindah ke Solo, menyewa satu kamar indekos tidak jauh dari tempatnya berkuliah, Fakultas Teknik di Universitas Sebelas Maret. Jurusan yang ia ambil: Teknik Kimia. Ia juga memulai karir menulisnya di sana. Beres kuliah ia terbang ke Kalimantan Barat demi bekerja di perusahaan kelapa sawit. Tidak betah, ia kembali ke pulau Jawa dan tinggal di Yogyakarta sembari mencari pekerjaan baru. Kendatipun ia telah menginjakkan kaki ke tiga pulau besar di negerinya Indonesia, kita akan tahu, ia justru mengambil sumber inspirasi cerita-ceritanya dari pulau-pulau yang sangat jauh, yang belum pernah ia kunjungi. “Aku dianggap enggak membumi karena cerita-ceritaku enggak ada unsur lokalitasnya,” curhat Rio.

Petang hingga malam itu, saya mengobrol dengan Rio yang tiba lebih awal di Dongengkopi. Ia berpakaian santai: kaus biru toska berkerah V, jin biru, dan sneakers. Sebuah gelang bermotif warna pelangi melingkar di pergelangan tangan kirinya. Rambutnya hitam tipis berponi seperti bintang film Korea, dan mungkin karena hobi berolahraga di gym atau memang bawaan sedari lahir, posturnya ramping minim lemak berlebih. Selama tak kurang dari satu jam, saya melontarinya dengan pertanyaan-pertanyaan yang, seperti sudah saya duga, dijawab singkat-singkat. Dari parasnya, Rio memang terlihat seperti orang yang tidak begitu suka bicara banyak. Tetapi cerita-ceritanya, tentu saja, menampilkan kesan sebaliknya. Terbukti dari penghargaan Tokoh Seni Pilihan Majalah Tempo untuk kategori penulis fiksi yang dinobatkan pada dirinya sekira tahun 2014, itu ganjaran bagi cerita-ceritanya dalam buku debut Aksara Amananunna.



Aksara Amananunna itu buku pertamamu, atau sebelumnya sudah ada?

Iya, itu buku pertamaku. Tapi beberapa cerita pendekku sudah pernah dimuat di surat kabar. Ada dua pernah di Suara Merdeka, tapi cuma satu dari dua itu yang dimasukkan ke Aksara Amananunna.

Dalam kesusastraan modern Indonesia, tema-tema ceritamu termasuk jenis yang jarang diangkat. Datang dari mana sebenarnya dunia distopia dan unsur fiksi ilmiah dalam bukumu itu?

Aku memang senang membaca cerita-cerita fiksi ilmiah. Selain itu, aku juga suka membaca sejarah Mesopotamia, Inggris kuno, dan Mesir kuno. Aku menulis apa yang aku suka, dan aku mengambil tema tulisanku dari apa-apa yang aku suka.

Cerita “Ginekopolis” tentang dunia di bawah kuasa perempuan. Dapat ide dari mana?

(Tertawa sebentar) Itu pikiran iseng saja, sih. Aku membayangkan bagaimana kalau dunia ini dikuasai oleh seluruhnya perempuan. Lama-kelamaan bayangan itu menjadi ide yang terus berkembang, dan aku mengambil latar dunia distopia untuk membungkusnya.

Buku fiksi ilmiah apa yang paling kamu suka?

Untuk saat ini aku sedang suka Cyberiad (Stanisław Lem), dan Cosmicomics (Italo Calvino). Menurutku kedua buku itu memberi cerita fiksi ilmiah yang inovatif. Ada humor, ironi, dan unsur-unsur ilmiah di dalam cerita-cerita mereka tidak muncul sebagai tempelan, tetapi benar-benar berpadu dengan cerita. Di Cyberiad misalnya, Lem membuat dua tokoh utama yang sedang berusaha membuktikan keberadaan naga, dan demi melakukan itu mereka menggunakan teori-teori termodinamika. Sekilas memang kelihatan rumit, tapi Lem membuatnya terasa seperti bermain-main dan ada bagian konyolnya.

Memain-mainkan sains dengan humor yang asyik, buatku itu seru.

Aku juga suka buku-buku Victor Pelevin, kumpulan cerita A Werewolf Problem in Central Russia (1998) dan novel Omon Ra (1992). Ada satu ceritanya yang sangat aku suka karena ditulis dengan cara seperti petunjuk bermain gim, dan ceritanya pun tentang gim video.

Rio Johan di acara diskusi buku Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi Yusi Avianto Pareanom di Kafe Dongengkopi, Indie Book Corner, Yogyakarta. Rio mengaku tidak begitu banyak membaca karya penulis Indonesia era klasik.


Bagaimana mulanya kamu tertarik dengan dunia fiksi ilmiah?

Mungkin karena sejak bersekolah pikiranku sudah tercetak dengan mindset yang ilmiah. Aku anak IPA. Tapi, seperti aku bilang tadi, aku juga tertarik pada sejarah Mesopotamia dan Mesir kuno.

Bahkan, kayaknya aku lebih paham mitologi Yunani ketimbang Mahabarata.

Kalau soal mitologi Yunani, aku menyukainya gara-gara main gim. Cerita-cerita dalam gim yang aku mainkan banyak bersumber dari sana. Sayangnya enggak ada Gatotkaca di cerita-cerita gim itu, kalau ada mungkin aku bisa lebih menyukai sejarahnya ketimbang mitologi Yunani.

Gim apa yang bikin kamu kepikiran buat menulis?

Cerita “Ketika Mubi Bermimpi Menjadi Tuhan yang Melayang di Angkasa” dalam kumpulan Aksara Amananunna itu inspirasinya dari Valkryie Profile, aku teringat satu adegan ketika karakter di gim itu terbang mencari pasukan buat Ragnarok, lantas aku menulis cerita Mubi.

Omong-omong, kamu main Valkryie Profile?

Iya, aku main. Konsol paling lawas apa yang pernah kamu mainkan?

PlayStation 1. Tapi, aku juga sempat icip-icip Nintendo.

Genre gim favorit?

RPG--Role Playing Game--dan favoritku adalah Suikoden.

Main Legend of the Dragoon nggak?

Yang semua karakternya pakai jubah perang bersayap dan gimnya sampai empat disc itu? Main.

Kenapa suka RPG?

Aku akan menjawabnya begini: Suatu kali aku membaca salah satu kritik film dari Roger Ebert, dia bilang gim bukanlah seni. Aku pikir Roger Ebert perlu main gim-gim RPG untuk membuktikan keabsahan komentar itu.

Di dalam gim-gim RPG ada cerita, visual, drama, karakter, yang unsur-unsur itu semuanya bisa diaplikasikan ke seni, dan juga sebenarnya adalah elemen suatu bentuk seni. Cerita-cerita di gim RPG sangat kompleks, enggak melulu tentang menyelamatkan dunia.

Kapan tepatnya, seiring main gim, pikiranmu sebagai penulis lahir?

Sebenarnya keinginanku menulis enggak hanya datang dari main gim. Aku juga suka baca dan nonton film. Pengalaman main gim, baca, dan nonton film itu yang berpengaruh terhadap prosesku menulis.

Enggak ada momen pasti kapan aku mulai serius menulis. Tapi, tahun 2008 aku gabung dengan situs forum penulis pemula http://kemudian.com. Waktu itu juga belum serius, cuma iseng posting tulisan-tulisanku yang kebanyakan cerita-cerita detektif.

Aku enggak merasa ada satu titik jelas ketika aku memutuskan ingin menulis cerita fiksi yang bisa dibukukan. Aku hanya menulis, prosesnya mengalir saja, lama-kelamaan aku ketagihan menulis cerita dan dengan sendirinya cerita-cerita itu semakin digarap secara serius. Aku mulai ingin menulis lebih baik lagi, lalu tahu-tahu ada ceritaku yang terbit di media cetak. Begitu saja.

Keseriusanku menulis dimulai dengan menulis tidak serius.

Selain membaca novel-novel fiksi ilmiah dan bermain gim, kamu juga suka menonton film. Film macam apa yang kamu tonton?

Meskipun beberapa orang merasa cerita-ceritaku aneh karena referensi bacaan yang enggak lazim, sebetulnya aku juga menyukai cerita-cerita yang mainstream. Seleraku atas buku dan film fleksibel saja.

Film-film yang bikin aku ingin menulis kebanyakan datang dari Cekoslovakia, lebih tepatnya produksi tahun 1960-an ketika mereka masih negara komunis. Aku suka karena film-film mereka satir dan dituturkan dengan cara yang unik. Ironi dan humor pun ada di dalam film-film itu.

Selera filmku berkembang dari waktu ke waktu. Dulu waktu SMA, aku nonton film yang seru-seru saja. Setelah itu mulai nonton film-film nominasi Oscar. Lalu, baru aku mencari film yang "aneh-aneh", misalnya film-film festival Cannes dan semacamnya.  

Jadi, enggak sejak awal aku menonton film-film "aneh", tapi seleraku menonton, sama seperti selera bacaan, terus berkembang.

Dari sejumlah film produksi Cekoslovakia yang kamu tonton, mana yang paling kamu suka?

Salah satunya Closely Watched Trains (1966, Jiri Menzel). Ceritanya tentang anak remaja yang tinggal di suatu kampung di Ceko, dan ia baru diterima kerja sebagai pengawas rel kereta. Ia naksir seorang cewek yang juga petugas kereta. Si cowok belum pernah bercinta, sementara si cewek, dalam hal ini, lebih berpengalaman.

Menurutku, itu film coming of age yang lengkap: humor, ironi, dan kritik sosial, semuanya ada di sana. Ada kegelisahan anak muda jomlo yang pengin mendapatkan pengalaman seks pertamanya. Seluruhnya dituturkan dengan cerita yang lucu sekaligus ironis.

Dari mana asalnya tema BDSM di dalam cerita-ceritamu?

(Tertawa) Buatku, seru saja kalau bisa menggali sisi-sisi gelap manusia yang tidak banyak orang lihat, kemudian menggabungkan sisi-sisi itu dan menuliskan ceritanya. Tapi, aku tetap berusaha memasukkan unsur humor ke dalam cerita-cerita gelap itu. Entah berhasil atau tidak, aku juga enggak yakin.

Tema BDSM aku dapat dari film. Bukan film bokep. Salah satu referensiku film Prancis, judulnya Maîtresse (1976, Barbet Schroeder). Aku nonton itu waktu bikin cerita “Komunitas” di Aksara Amananunna.

Saya kira kamu baca buku-bukunya Marquis de Sade?

Aku baca de Sade juga. Sebetulnya aku baca lumayan banyak buku-buku erotika. Selain buku-bukunya Marquis de Sade, aku juga baca Hogg (Samuel R. Delany), dan cerita-cerita pendek Anaïs Nin.

Maaf kalau ini mulai terdengar membosankan, tapi saya ingin komentar sekali lagi tentang tema cerita-ceritamu yang aneh dan “menyeleweng” dari kebanyakan tema cerita-cerita penulis seangkatanmu maupun di atas kamu. Kamu membedakan genremu secara sengaja atau bagaimana?

Aku enggak pernah secara sadar ingin terlihat berbeda dari penulis-penulis lain. Mungkin referensi dan ketertarikanku saja yang membuat cerita-ceritaku beda. Kalau yang aku lihat, kebanyakan penulis Indonesia lain mengarang cerita realis, tetapi aku tidak.

Aku sadar cerita-ceritaku terlihat berbeda. Di satu sisi, aku merasa senang, tapi di sisi lain aku juga merasa teralienisasi. Kritik yang paling banyak aku terima dari orang-orang adalah bahwa tidak ada satu pun cerita yang aku tulis tentang Indonesia. Oh, enggak tepat Indonesia, sih, tapi lebih kepada cerita-ceritaku yang dianggap tidak membumi. Cerita-ceritaku enggak memuat isu sosial, politik, atau peristiwa-peristiwa faktual yang sedang terjadi.


Karya Debut Rio Johan, kumpulan cerita Aksara Amananunna (KPG, 2014). Buku ini mengantarkan Rio menjadi Tokoh Seni Kategori Penulis Prosa oleh Majalah TEMPO pada 2014, bersanding dengan Mario F. Lawi pada kategori Puisi.


Walau ceritamu rada-rada aneh, bahasa yang kamu gunakan saat menulis justru sebaliknya: sederhana dan lugas. Apa itu strategi literer kamu dalam usaha mendekatkan cerita-ceritamu ke pembaca?

Aku enggak pernah sangat memikirkan hal itu, sih. Buatku, yang penting ceritaku mengalir. Itu saja cukup. Gaya bahasa yang aku pilih bergantung pada kebutuhan karakter atau cerita itu sendiri.

Selain bikin cerita pendek, kamu juga menulis novela. Kamu lebih nyaman bercerita dalam bentuk pendek atau panjang?

Seperti aku bilang tadi, aku menulis dengan mengalir saja. Enggak pernah sejak awal memikirkan pendek atau panjang cerita. Kalau kebutuhan cerita membuat alurnya jadi panjang, mau enggak mau ya jadi panjang, dan kalau memang cerita tertentu enggak bisa selesai dalam bentuk yang pendek, kenapa harus dipaksa diselesaikan? Berlaku juga kasus sebaliknya.

Kamu menulis pakai outline?

Enggak. Aku enggak bisa menulis pakai kerangka.

Aku mulai dari ide dasar, lalu menimbang-nimbang, merenungkan, dan memasak ide itu sampai matang, baru menuliskannya.

Biasanya aku membedakan cerita-ceritaku menjadi dua jenis: yang satir dan yang benar-benar gelap tanpa humor. Misalnya, cerita “Riwayat Benjamin” dan “Suzanna, Suzanna” itu enggak ada humornya, tapi di “Kevalier d’Orange” masih lucu. Setiap dapat ide tulisan, biasanya aku memutuskan terlebih dahulu akan menggarap ide ini dan mengarahkannya menjadi golongan yang mana.

Tapi, enggak selamanya harus seperti itu.

“Undang-Undang Antibunuhdiri” itu idenya dari mana?

Ada dua: film dan berita. Waktu itu, aku baca berita tentang angka bunuh diri di Rusia yang semakin meningkat--negara “R” dalam cerita itu mengacu pada negara tersebut--dan aku sempat menonton film Prancis, The Suicide Shop (2012, Patrice Leconte). Jadilah aku menulis cerita itu.

Dari beberapa berita yang aku baca, aku tahu ternyata ada beberapa negara yang memutuskan untuk memasukkan aksi bunuh diri sebagai tindak kriminal. Tapi, aku enggak mengerti gimana cara mereka menghukum pelaku bunuh diri. Kalau mereka sudah bunuh diri dan mati… lantas?

Buku apa yang kali pertama kamu baca seumur hidupmu?

Komik Paman Gober.

Setelah dari komik dan kisah-kisah dongeng semasa kecil, baru aku baca novel. Novel pertama yang aku selesaikan: serial Narnia, ada tujuh buku. Itu waktu aku SMP. Lalu, aku baca novel-novelnya Agatha Christie. Sampai sekarang, aku masih terpesona dengan cara Agatha Christie merangkai logika dalam cerita-cerita detektifnya.

Omong-omong soal logika, bagaimana cara kamu membangun keutuhan logika dalam cerita-ceritamu?

Kalau cerita-cerita dengan latar dunia masa depan antah-berantah, buatku lebih mudah, kita cuma perlu mengarang dengan memasukkan unsur-unsur yang tetap logis.

Yang lebih butuh kerja ekstra adalah cerita-cerita dengan latar masa lalu, misal cerita berlatar sejarah Mesopotamia atau Mesir kuno, yang dunianya memang jauh dari sini, tapi benar-benar ada. Untuk cerita berlatar seperti itu, aku harus melakukan riset yang kuat. Salah satu caraku meriset adalah dengan menonton film-film yang sesuai.

Cerita “Riwayat Benjamin” yang berlatar Inggris tahun 1598, misalnya, aku harus riset sampai ke isu sosial dan politik apa yang terjadi pada masa itu, ketika masih di bawah pemerintahan Raja James, setelah Reformasi Gereja. Konflik Protestan dengan Katolik waktu itu masih sengit, dan James mewarisi konflik tersebut dari Elizabeth pertama--sang ratu perawan. Ceritaku menyentil masalah itu, termasuk soal Raja James yang main aman dan enggak seberani Elizabeth dalam memperjuangkan protestanisme, terutama terhadap Spanyol yang saat itu dianggap pejuang Katolik.

Enggak cuma isu sosial politik, tapi hal-hal sepele seperti cara orang-orang di sana pada waktu itu makan dan berpakaian pun harus aku riset, untuk membuat pembaca yakin. Misalnya, cowok-cowok di sana zaman segitu pakai sepatu heels, dan cewek-cewek cantik bukan yang berbadan kurus seperti sekarang, tetapi justru yang berisi.

Semua riset itu perlu untuk membangun logika cerita.

Kamu dinobatkan oleh majalah TEMPO sebagai Tokoh Seni kategori Sastra Prosa tahun 2014. Apa yang ada di benakmu saat itu?

Aku hanya penasaran gimana juri-jurinya berdebat menentukan itu.

Kamu melihat kemenangan itu sebagai pengakuan dari para sastrawan akan bakatmu sebagai penulis muda dengan cerita-cerita yang segar?

Aku ingin jawab kayak begitu, tapi aku takut dibilang sombong (tertawa).

Aku enggak pernah memikirkannya, sih. Menurutku saat itu ada banyak buku bagus. Soal menang atau kalah sepenuhnya kebijakan para juri. Tapi, aku senang cerita-cerita dengan tema yang jarang diangkat di dunia prosa Indonesia bisa terpilih dan menang penghargaan seperti itu.

Seperti tadi aku bilang, aku penasaran ingin melihat gimana para juri berdebat waktu mereka menentukan pemenangnya.

Kamu pernah gabung dengan komunitas sastra?

Waktu di Solo aku sempat ikut komunitas Pawon, tapi cuma jadi penggembira. Pernah beberapa kali diminta jadi moderator acara bedah buku, tapi aku sering nolak karena merasa enggak punya kapasitas melakukan kritik sastra. Aku datang dari Teknik Kimia dan enggak punya ilmu sastra.

Siapa penulis Indonesia yang kamu suka?

Ini juga yang mungkin bikin cerita-ceritaku agak berjarak dari penulis-penulis Indonesia lain: aku jarang membaca buku dari penulis-penulis klasik Indonesia. Aku membaca buku dari penulis-penulis kontemporer, tapi yang klasik semacam Romomangun, aku belum pernah baca.

Aku suka Budi Darma, terutama bukunya Olenka (1983). Aku suka cara Budi Darma menggali isi pikiran dan perasaan di dalam diri tokoh-tokohnya. Aku juga suka Orang-Orang Bloomington (1981). Budi Darma benar-benar menggali sisi manusia sampai ke bagian terdalam.

Kalau dari generasi muda, aku suka cerita-cerita yang ditulis teman-temanku. Mereka menggali hal-hal baru dan cerita-cerita mereka segar. Mereka juga punya bacaan yang bagus. Semoga pendapat ini enggak dianggap nepotisme (tertawa).

Kamu membaca buku dengan cara yang berbeda sebelum dan sesudah aktif menulis?

Iya. Kalau sekarang aku membaca buku dengan lebih analitik. Setiap ketemu buku bagus, aku berpikir apa yang bisa digali dan dipelajari dari sana. Untuk menemukannya, aku membaca ulang buku itu.

Kembali ke persoalan tema ceritamu yang dianggap tidak membumi. Kamu terganggu tidak dengan komentar seperti ini?

Cukup terganggu, karena kritik itu memang benar.

Itu yang bikin aku kadang-kadang merasa teralienisasi. Tapi aku memang enggak bisa menulis cerita-cerita jenis yang realis, mengandung unsur-unsur lokalitas, atau yang memuat isu-isu sosial politik di Indonesia. Semua itu bukan zona nyamanku. Aku merasa belum cukup peka menangkap peristiwa faktual yang terjadi di sini untuk diangkat ke tulisanku.

Enggak tertutup kemungkinan bahwa beberapa tahun lagi aku akan menuliskan hal-hal seperti itu, tentu dengan caraku sendiri. Tapi, untuk sekarang, belum.

Punya first reader buat manuskrip-manuskripmu?

Enggak.

Sejujurnya, aku orang yang enggak cukup pede dengan karya-karyaku sendiri. Di dalam buku Aksara Amananunna yang ada dua belas cerpen, cuma tiga yang aku benar-benar percaya diri untuk dibukukan: “Riwayat Benjamin”, “Aksara Amananunna”, dan “Kevalier d’Orange, sisanya aku menilai cerita-ceritaku cuma di titik lumayan.

Aku lebih sering melakukan kritik terhadap karya-karyaku sendiri. Begitu caraku belajar. Mungkin bukan cara yang baik, karena kita tahu kita enggak akan pernah bisa sepenuhnya objektif menilai karya sendiri.

Pernah ikut klub membaca?

Enggak.

Hadir sebagai penulis di zaman digital, apa manfaatnya buatmu?

Karena kebanyakan cerita-cerita pendekku berukuran panjang-panjang, aku jadi lebih leluasa memuatnya lewat blog dan mudah dibaca orang. Selain itu, mudah juga untuk mencari referensi bacaan. Kalau mau riset, dulu orang-orang harus ke perpustakaan, sekarang aku tinggal pakai Google.

Aku pikir kemudahan-kemudahan seperti itu adalah keuntungan utama menjadi penulis di generasi digital atau Internet.

Di keluargamu siapa lagi yang senang membaca buku?

Ibuku. Tapi, bacaan dia buku-buku tentang hukum.

Aku punya tiga orang nenek, dan salah satunya adalah guru sejarah. Waktu kecil, dia sering cerita ke aku soal sejarah, tetapi sayangnya bukan sejarah nusantara; dia bercerita tentang Marie Antoinette, Zeus, dongeng apel emas, dan lain-lain. Dia menceritakan kepadaku Revolusi Prancis, dengan cara seperti mendongeng, dan karena aku masih kecil waktu itu dia tidak menceritakan bagian-bagian isu politiknya. Kadang-kadang nenekku juga mengarang sendiri dongengnya.

Apa ambisimu di dunia kesusastraan?


Aku cuma ingin melihat sejauh mana aku bisa bertahan terus menulis. ***

31 Mei 2016

Piramid, Ismaïl Kadaré



Kali terakhir saya membaca buku dengan latar Mesir adalah novela Naguib Mahfouz, The Thief and the Dogs. Ceritanya tentang seorang mantan narapidana yang ingin memperbaiki hidup setelah bebas dari penjara, tetapi menemukan dirinya dikhianati oleh semua orang yang ia cintai. Kendatipun bergenre thriller, novela itu sangat puitis. Tidak seperti novel-novel dengan elemen suspense yang umumnya dituturkan dengan kalimat pendek-pendek demi membangun aura tegang, Naguib Mahfouz malah terlihat seperti berpuisi di dalam novelanya. Saya kira itu semata pilihan gaya menulis yang ia ambil, tapi begitu membaca Piramid, novel Ismaïl Kadaré, yang juga berlatarkan Mesir, saya melihat gaya narasi yang sama.

Ismaïl Kadaré adalah novelis dan penyair Albania. Tatkala mengetahui bahwa ia juga seorang penyair, saya baru mengerti mengapa narasi dalam Piramid terasa puitis (Naguib Mahfouz tidak dikenal sebagai penyair-karyanya kebanyakan prosa-tapi caranya menulis seperti berpuisi). Kadaré, sebagaimana Mahfouz, sepanjang karir mereka sebagai penulis sempat terganjal masalah dengan pemerintah atau kelompok di tempat tinggalnya. Mahfouz diteror kelompok Islam ekstremis di Mesir tahun 1994 karena salah satu novelnya yang dianggap kontroversial. Kadaré terpaksa menyelundupkan manuskrip novelnya keluar negeri karena tekanan dan penindasan rezim totaliter Enver Hoxha, pemimpin komunis Albania tahun 1944 hingga 1985.

Piramid, terjemahan dari bahasa Prancis La pyramide-ditulis Kadaré semula menggunakan bahasa Albania berjudul Pluhuri mbretëror -merupakan salah satu karyanya yang menginspirasi usaha penumbangan rezim totaliter Albania. Karena Kadaré senantiasa menulis novel-novelnya dalam bahasa Albania murni tanpa menyelipkan bahasa asing, ia dianggap sebagai pembaharu sastra Albania. Kesetiaan pada bahasa nasionalnya ini merupakan sesuatu yang unik dan dihargai atas dampaknya pada kelestarian bahasa Albania. Kendati demikian, Piramid diselesaikan dalam bahasa Prancis (sedikit mengingatkan saya pada Milan Kundera yang berhenti menulis dalam bahasa Ceko setelah eksil ke Prancis karena masalah dengan pemerintahnya, sejak itu mengalihbahasakan seluruh karyanya ke bahasa Prancis dan mulai menulis dalam bahasa Prancis). Saya sendiri membaca Piramid versi bahasa Indonesia, yang diterjemahkan amat baik oleh Dwi Pranoto.

Secara ringkas, Piramid bercerita tentang seorang firaun yang memerintahkan rakyatnya untuk membangun sebuah piramida bagi dirinya, sebagaimana tradisi Mesir yang telah tertoreh di gulungan-gulungan papirus seolah suratan takdir. Cheops, firaun baru dan masih muda, sebelumnya sempat membuat seluruh jajaran anak buahnya gempar, karena mengeluarkan pernyataan tak layak dan mencemaskan: ia tidak ingin dibuatkan piramida. Celetukan itu merupakan “…berita malapetaka” bagi para penghuni istana. Menurut mereka, firaun baru ini kelewat nyeleneh. Mana ada firaun yang tak mau memiliki piramida? Namun, setelah usaha demi usaha membujuk Cheops, firaun muda itu, akhirnya para penghuni istana berhasil meyakinkan pemimpin mereka bahwa bagaimanapun piramida dibutuhkan, bukan hanya bagi sang firaun, tetapi juga demi rakyat dan bahkan Mesir itu sendiri.

Bab-bab berikutnya adalah proses pembangunan piramida baru bagi sang firaun baru-ini merupakan sebagian besar isi novel Piramid. Kadaré menunjukkan bagaimana pembangunan sebuah piramida betul-betul sesuatu yang krusial bagi Mesir. Bagi firaun, penghuni istana, rakyat Mesir, dan bahkan negara-negara lain yang bertetangga dengan Mesir, pembangunan piramida adalah momen penting layaknya pernikahan pangeran kerajaan atau barangkali bencana nasional. Tahapan-tahapan pembangunan piramid dideskripsikan begitu rinci dan visual, sehingga tatkala membaca novel ini, saya merasa seperti sedang menonton film 10.000 BC.

Keseluruhan cerita dalam Piramid dituturkan secara kronologis, ini berarti tidak ada permainan alur maju-mundur maupun kilas balik. Agak berbeda dengan The Thief and the Dogs Naguib Mahfouz yang terdiri atas serentetan peristiwa, yang karena itu penuh adegan dan dialog, Piramid Kadaré sangat naratif, selayaknya tradisi mendongeng oral zaman dulu. Dialog sangat sedikit dan hanya muncul di bagian-bagian yang memerlukannya. Sisanya, kita mengetahui apa yang terjadi melalui narasi yang, seperti saya katakan tadi, kadang-kadang terasa mengalun dan puitis.

Piramid adalah cerita tentang usaha pemerintah melanggengkan kekuasaannya atas rakyat yang juga rada-rada masokis. Bagaimana tidak, pada saat firaun dan penghuni istana mengumumkan piramida akan mulai dibangun, seluruh rakyat di penjuru Mesir bersorak dan bergembira ria seakan-akan bakal memperoleh rezeki berlimpah, padahal yang terjadi sebaliknya, mereka sedang diseret masuk ke dalam penjara abadi penyiksaan. Penyiksaan ini diperlukan, kata penasihat, demi membangkitkan rasa hormat rakyat pada penguasa, menyegarkan kembali wibawa negara, dan yang paling luar biasa adalah: supaya rakyat tidak hidup bermalas-malasan. Penyiksaan kerja rodi membangun piramida, yang kelak memakan korban jiwa tak terhitung, bertujuan agar rakyat rajin berkegiatan dan produktif!

Rencana besar membangun sebuah piramida tidak terletak pada piramida itu sendiri, melainkan proses pembangunannya. Di sanalah terkandung trik penting dan nilai krusialnya. Piramida hanya akan selesai jika firaun menginginkannya. Jika piramida sudah hampir mencapai puncak, firaun dapat mengubah pikiran dan memerintahkan pembongkaran dan membangun dari awal, atau jika sudah kadung rampung, firaun akan memerintahkan untuk membuat piramida anak atau piramida pendamping, yang kendatipun umumnya berukuran lebih kecil, bisa berjumlah sebanyak yang diinginkan-semuanya sesuka-suka pemimpin. Kerja paksa penuh kesengsaraan itu akan terus berlangsung sejauh dibutuhkan, demi-seperti dinasihatkan para penghuni istana kepada Cheops sang firaun muda-membangkitkan moral, rasa hormat bahkan rasa takut, dan etos kerja rakyat Mesir demi negara dan pemimpinnya.

Tetapi, sebagaimana pada awalnya telah membuat Cheops cemas, pembangunan piramid inipun kelak betul-betul menjadi sebuah paradoks. Ia bingung apakah harus melecut rakyatnya bekerja keras agar piramida cepat rampung seperti tujuan semula yakni demi memacu etos kerja rakyat Mesir, tetapi mengingat bahwa piramida adalah makam bagi firaun, itu membuatnya curiga berat karena berarti orang-orang mengharapkan dirinya cepat mati. Demikian pula jikalau ia membiarkan proses pembangunan piramida berjalan lamban itu menunjukkan wibawanya sebagai firaun mulai pudar dan tidak dianggap, belum lagi kritik dari negara-negara tetangga yang bertanya-tanya kapan piramida selesai, bahkan menuduh bahwa piramida itu hanya omong-kosong Mesir beserta firaunnya. Cheops terjebak dalam usaha melanggengkan kekuasaan yang ia mulai sendiri.

Secara jitu, novel Piramid memperlihatkan bagaimana pemerintah selalu punya cara untuk melanggengkan kekuasaan, bahkan dengan metode-metode yang tak selalu disadari oleh rakyatnya. Kita boleh lebih kritis di masa sekarang ini, tidak seperti zaman rakyat Mesir di bawah pimpinan seorang firaun, tetapi metode hanyalah metode yang senantiasa bisa dimodifikasi. Kalau tidak secara terang-terangan, ya pakai cara halus dan terselubung. Satu-satunya cara agar tidak terperangkap oleh tentakel-tentakel negara yang tidak pernah berhenti mencoba mengontrol habis rakyatnya, adalah dengan merawat kesadaran, berpikir kritis, dan menajamkan nurani.


Dengan isu yang diangkat, penuturan yang mengalir, deskripsi peristiwa yang filmis, serta kompleksitas situasi yang terdapat di dalamnya, novel Piramid karya Ismaïl Kadaré masuk dalam daftar novel terbaik dunia yang pernah saya baca. ***

22 Mei 2016

Persoalan Sementara (Jhumpa Lahiri)

Diterjemahkan dari buku Interpreter of Maladies  (Mariner, 1999)

-

Surat pemberitahuan bilang ini cuma persoalan sementara: selama lima hari ke depan akan ada pemadaman listrik di tempat mereka, mulai pukul delapan malam dan berlangsung selama satu jam. Satu jalur listrik rusak akibat badai salju terakhir, dan demi memperbaikinya teknisi menggunakan saat-saat malam hari yang cuacanya relatif lebih aman. Pekerjaan perbaikan itu hanya akan berdampak pada rumah-rumah di jalanan yang sunyi dengan barisan pohon di pinggir-pinggir, dekat dengan sederet ruko berdindingkan bata dan tempat troli, yang salah satunya ditinggali oleh Shoba dan Shukumar selama tiga tahun terakhir.

“Baik sekali mereka mau memberitahu kita,” Shoba berucap pasrah usai membaca pengumuman itu keras-keras, lebih ditujukan kepada dirinya sendiri alih-alih terhadap Shukumar. Ia menggeser tali tas kecilnya, yang penuh naskah, hingga terlolos dari pundak, dan membiarkannya tergeletak di lantai dekat pintu masuk rumah seiring ia melangkah ke dapur. Ia mengenakan mantel biru dongker, celana panjang katun abu-abu, dan sepatu kets putih-terlihat selayaknya perempuan 33 tahun yang pada masanya tidak pernah ingin ia jadikan teladan.

Ia baru pulang dari gym. Warna cranberry lipstiknya hanya terlihat pada bibir bagian luar dan bekas eyeliner tertinggal seperti jejak bubuk arang dekat bulu mata bawah. Di waktu-waktu tertentu ia memang jadi seperti ini, pikir Shukumar, kala pagi hari usai pesta atau nongkrong di bar, kala ia terlalu malas membasuh wajahnya dan terlalu ingin cepat-cepat jatuh ke dalam dekapan suaminya. Shoba menjatuhkan setumpuk surat begitu saja di atas meja tanpa menoleh. Matanya masih terpaku pada lembar pengumuman di tangan satunya lagi. “Tapi mestinya mereka ngerjain ini siang-siang.”

“Pas aku lagi di rumah, maksudmu,” kata Shukumar. Ia menggeser penutup kaca di atas panci berisi masakan daging domba, mengaturnya agar sedikit uap yang lolos. Sejak Januari ia bekerja di rumah, berusaha merampungkan bab akhir disertasinya soal pemberontakan agraris di India. “Kapan perbaikannya kelar?”

“Katanya sembilan belas Maret. Hari ini sembilan belas Maret, bukan?” Shoba mendekat ke papan styrofoam pada dinding di sebelah kulkas, yang di sana terdapat kalender bermotif artistik buatan William Morris. Ia menatapnya seakan-akan baru melihat benda itu, menyimak dengan serius motif pada separuh halaman kalender bagian atas, sebelum beralih ke baris dan kolom angka di bawahnya. Seorang teman memberi kalender tersebut sebagai hadiah Natal, kendatipun Shoba dan Shukumar tidak merayakannya.

“Kalau gitu, hari ini dong,” ujar Shoba. “Omong-omong, kamu ada janji sama dokter gigi Jum’at depan.”

Ia meraba giginya menggunakan lidah; pagi itu ia lupa menggosok gigi. Bukan hal baru. Seharian ia tidak keluar rumah, begitupun hari sebelumnya. Semakin lama Shoba berada di luar, semakin banyak pekerjaan yang istrinya lakukan, semakin ia ingin tinggal di rumah saja, tidak pergi bahkan hanya untuk mengecek isi kotak surat ataupun berbelanja buah atau anggur.

Enam bulan lalu, tepatnya September, Shukumar sedang menghadiri konferensi akademis di Baltimore tatkala Shoba berkantor-tiga minggu sebelum tenggat kelahiran bayi mereka. Ia enggan pergi ke konferensi tersebut, tapi istrinya memaksa; perhelatan itu penting baginya dalam membangun jaringan relasi, dan tahun depan ia akan mulai memasuki dunia kerja. Istrinya bilang ia sudah menyimpan nomor telepon hotelnya, dan salinan jadwal kegiatannya, dan nomor penerbangannya, dan ia sudah membuat janji dengan temannya Gillian agar di saat-saat darurat dapat mengantarnya ke rumah sakit. Tatkala pagi itu taksi menjemputnya untuk ke bandara, Shoba berdiri melambai kepadanya, dalam gaun terusan, dengan sebelah tangan ia letakkan santai di atas perut membuncit seolah-olah gundukan tersebut memang bagian tubuh yang sudah ada sejak awal.

Setiap kali ia memikirkan adegan itu, momen kali terakhir ia menyaksikan Shoba hamil, justru taksi yang menjemputnya yang paling ia ingat, sebuah station wagon-sedan panjang, merah dengan huruf-huruf biru. Bagian dalamnya jauh lebih luas dibanding mobil mereka. Kendatipun Shukumar memiliki tubuh setinggi enam kaki, dengan telapak tangan yang terlalu besar bagi saku jinnya, ia tetap merasa seperti kurcaci duduk di kursi belakang. Seiring taksi melaju di Beacon Street, ia membayangkan suatu hari ketika ia dan Shoba mungkin perlu membeli sebuah station wagon, untuk mengantar-jemput buah hati mereka menuju tempat les musik atau pergi ke dokter gigi. Ia membayangkan dirinya memegang setir, kala Shoba memutar badannya ke belakang demi menyodorkan sekotak jus buat anak mereka. Dahulu, bayang-bayang kegiatan mengasuh anak semacam ini mengganggu Shukumar, menambah-nambahkan kecemasan akan statusnya yang masih pelajar dan baru berusia 25 tahun. Tetapi, pada permulaan pagi hari musim gugur itu, tatkala pohon-pohon berat oleh daun-daun yang mulai menua, untuk kali pertama ia menyambut gambaran masa depan itu.

Di tengah-tengah konferensi tersebut, seorang panitia akhirnya berhasil menemukan ia di antara ruang-ruang dalam gedung yang semuanya kelihatan sama, dan kemudian menyerahkan kepadanya secarik memo. Hanya ada angka-angka, tapi Shukumar tahu itu nomor telepon rumah sakit. Saat ia kembali ke Boston, segalanya telah berakhir. Bayi mereka sudah wafat ketika lahir. Shoba tergolek di atas ranjang, tertidur, di dalam ruangan yang begitu kecilnya sampai-sampai tidak ada tempat cukup untuk berdiri di dekat istrinya, di lokasi yang berada pada sisi sayap rumah sakit yang tidak pernah mereka lihat waktu dibawa berkeliling dalam rangka tur persiapan orangtua baru. Ari-ari istrinya melemah dan ia melahirkan secara sesar, kendatipun ternyata tidak cukup cepat ditangani. Dokter menjelaskan bahwa hal seperti ini bisa terjadi. Ia tersenyum seramah yang ia bisa, dengan cara yang paling mungkin ia lakukan kepada orang yang hanya ia kenal secara profesional. Kondisi kesehatan Shoba akan membaik setelah beberapa minggu. Tidak ada indikasi bahwa ia takkan bisa mengandung lagi.

Belakangan, Shoba selalu raib pas Shukumar terbangun. Ia akan membuka mata dan menemukan helai-helai rambut hitam panjang istrinya yang menempel di bantal dan membayangkan istrinya sudah berbusana kerja, menyesap cangkir kopi ketiga, di ruang kantornya di pusat kota, tempat ia melacak kesalahan pengetikan buku-buku teks kemudian menandainya-dengan simbol-simbol yang suatu kali pernah istrinya jelaskan kepadanya-menggunakan sejumlah pensil berwarna. Istrinya berjanji akan melakukan hal sama buat disertasinya kalau ia sudah selesai. Ia merasa iri kepada pekerjaan istrinya yang begitu spesifik, tidak seperti pekerjaannya yang kurang jelas. Ia pelajar biasa yang dapat menyerap hal-hal rinci meski tanpa antusiasme sedikit pun. Hingga bulan September ia menjadi pelajar yang rajin, jika tidak berdedikasi, merangkum bab-bab, merancang kerangka argumentasi di atas lembaran-lembaran kuning. Tetapi, sekarang ia tergolek di kamar tidur mereka sampai bosan, memandangi lemari pakaian yang selalu Shoba biarkan setengah terbuka, memandangi deretan jas dan celana panjang korduroy bergantung di sana, yang tidak perlu ia pilih-pilih kala mengenakannya untuk pergi mengajar. Sepeninggalnya bayi mereka, ia sudah tidak bisa mundur dari tugas mengajar. Tetapi, pembimbingnya telah menyusun jadwal agar ia bisa rehat sepanjang semester musim semi. Saat itu, Shukumar kuliah tahun keenam. “Nah, dengan ini dan musim panas nanti pasti kamu akan semangat lagi,” begitu yang dikatakan pembimbingnya. “Bulan September kamu sudah bisa selesai.”

Tetapi, tidak ada yang membuat Shukumar kembali bersemangat. Alih-alih, ia merenungi bagaimana ia dan istrinya telah begitu ahli saling menghindar di dalam rumah berkamar tiga mereka, menghabiskan waktu sebanyak mungkin berkegiatan di lantai berbeda. Ia memikirkan bagaimana ia tidak lagi menunggu-nunggu akhir pekan, tatkala istrinya duduk berjam-jam di atas sofa dengan pensil berwarna dan naskah kerjaannya, sedemikian rupa sehingga ia khawatir memutar lagu di rumah sendiri merupakan perbuatan terlarang. Ia memikirkan tentang sudah begitu lama sejak kali terakhir istrinya menatap matanya dan tersenyum, atau membisikkan namanya di waktu-waktu yang kini telah langka, ketika mereka masih meraih tubuh satu sama lain sebelum akhirnya tertidur.

Pada mulanya ia percaya bahwa persoalan ini akan berlalu, bahwa ia dan Shoba bagaimanapun akan bisa melewatinya. Istrinya baru berusia 33 tahun. Ia orang yang tegar, dapat kembali berdiri di atas kakinya sendiri. Tetapi, pikiran ini pun tidak menghiburnya. Seringkali sudah hampir jam makan siang ketika Shukumar akhirnya beranjak dari tempat tidur dan turun demi secangkir kopi, menuang sisa dari teko yang Shoba tinggalkan untuknya-bersama sebuah mug kosong-di atas meja.


SHUKUMAR memunguti kulit bawang putih dan membuangnya ke tempat sampah, di atas tumpukan lemak domba. Ia menyalakan keran air bak cuci, membasuh pisau dan talenan, dan menggosok jarinya dengan potongan lemon demi menghilangkan aroma bawang putih-ia belajar dari Shoba. Jam menunjukkan pukul setengah delapan malam. Melalui jendela, ia melihat langit hitam tetapi agak pudar. Tumpukan salju yang tidak rata masih menutupi sisi-sisi jalan, kendatipun cuaca sudah cukup hangat hingga orang-orang bisa berjalan-jalan tanpa mengenakan topi ataupun sarung tangan. Saat badai terakhir, salju turun nyaris setebal tiga kaki, hingga selama seminggu orang-orang harus berjalan di satu jalur setapak sempit di sisi parit. Selama seminggu, itulah alasan Shukumar tidak keluar rumah. Tetapi, kini parit sudah mulai meluas, dan air mengalir lancar menuju saluran-saluran di bawah trotoar.

“Dombanya belum matang sampai nanti jam delapan,” ujar Shukumar. “Kita mungkin bakal makan sambil gelap-gelapan.”

“Kita bisa pakai lilin,” Shoba menganjurkan. Ia menggerai rambutnya yang seharian dicepol, kemudian mencopot sepatu kets tanpa melepaskan talinya. “Aku mandi dulu, sebelum mati lampu,” katanya, melangkah ke tangga. “Sebentar aja.”

Shukumar memindahkan tas dan sepatu istrinya ke dekat kulkas. Istrinya tidak pernah seperti ini. Ia biasa menggantung mantelnya, meletakkan sepatunya di rak, dan melunasi tagihan sesaat setelah mereka datang. Tetapi, kini istrinya memperlakukan rumah mereka selayaknya hotel. Fakta bahwa ada sofa kuning tabrakan warna dengan karpet Turki biru-marun di ruang tamu rumah mereka tidak lagi mengusiknya. Di teras belakang, sebuah tas putih masih tergeletak di atas kursi rotan panjang, berisi renda yang tadinya ingin ia jahit menjadi gorden.

Sementara Shoba mandi, Shukumar masuk ke kamar mandi di lantai bawah dan menemukan di bawah wastafel sebuah sikat gigi baru. Bulu sikat gigi murah yang kaku itu membuat gusinya berdarah, dan ia meludah ke wastafel. Di dalam keranjang besi di kamar mandi mereka ada banyak sikat gigi cadangan. Shoba membelinya ketika ada obral dalam sebuah acara yang dikunjungi orang-orang secara impulsif.

Istrinya memang begitu. Ia kerap mengantisipasi hal-hal tak terduga, baik maupun buruk. Jikalau ia menemukan rok atau dompet yang ia suka, ia akan membeli masing-masing dua. Istrinya menyimpan bonus gaji di rekening lain atas namanya. Itu tidak mengganggu Shukumar. Ibunya sendiri terpuruk tatkala ayahnya wafat, lantas pergi begitu saja meninggalkan rumah tempat ia tumbuh besar demi kembali pulang ke Calcutta, menyerahkan semua persoalan kepada Shukumar. Ia senang Shoba tidak begitu. Ia takjub melihat kemampuan istrinya berpikir jauh. Tatkala istrinya masih sering berbelanja, dapur mereka senantiasa sedia berbotol-botol minyak zaitun dan minyak jagung-bergantung apakah mereka akan membuat masakan Italia atau India. Ada berkotak-kotak pasta beragam bentuk dan warna, berkarung-karung beras basmati, potongan utuh domba dan kambing beku dari tukang daging muslim di Haymarket, terbungkus dalam jumlah yang mustahil dihitung. Di hari-hari Sabtu lain, mereka menyusuri deretan rak yang kelak Shukumar kenal betul. Ia menyaksikan tak percaya ketika istrinya membeli lebih banyak makanan, sembari ia mengekor sambil mendekap tas-tas karton, seiring istrinya menyeruak melewati kerumunan orang, dan meski masih sangat pagi sudah berdebat dengan para pedagang yang masih terlalu muda tapi sudah ompong, yang mengambil dari dalam tas karton coklat sejumlah sayur artikok, buah plum, kunyit, ketela, dan menimbang mereka, dan menyerahkannya ke Shoba. Istrinya tidak keberatan berdesak-desakan, bahkan saat dia sudah hamil. Istrinya tinggi, berbahu lebar, dan memiliki pinggul dengan bentuk yang dokter kandungannya bilang memang ditakdirkan untuk beranak. Dalam perjalanan pulang, seiring mobil mereka menikung di Charles, mereka akan terkagum-kagum mengetahui banyaknya makanan yang mereka beli.

Semua itu tidak pernah terbuang mubazir. Tatkala teman-teman mampir ke rumah mereka, Shoba akan membuat masakan yang kelihatannya butuh setengah hari mempersiapkannya, menggunakan bahan-bahan yang ia simpan dalam botol dan dibekukan, bukan bahan-bahan masak kalengan murah melainkan paprika yang sudah ia baluri dengan rosmarin, dan saus chatni yang ia masak di hari minggu dengan mengaduk buah prone dan tomat dalam air mendidih. Sejumlah toples beling miliknya yang masing-masing sudah dinamai berjejer rapi di rak-rak di dapur dan tersegel, cukup, mereka bersepakat, untuk kebutuhan anak hingga cucu mereka. Kini, semuanya telah mereka habiskan. Berangsur-angsur, Shukumar telah menggunakan seluruh pasokan, menyiapkan makanan untuk mereka berdua, mengukur centong nasi, memanaskan daging beku hari demi hari. Setiap sore ia menekuri buku resep istrinya, mengikuti instruksi yang sudah istrinya tandai dengan pensil, agar menggunakan dua sendok teh sahang alih-alih satu, atau memakai kacang polong merah alih-alih yang kuning. Setiap resep tersebut sudah diberi tanggal, menunjukkan kapan kali pertama mereka menyantapnya. Tanggal 2 April, sayur kembang kol dengan adas. Tanggal 14 Januari, ayam dengan kacang almond dan anggur hijau. Sesungguhnya ia tidak ingat pernah memakan semua masakan itu, tetapi buktinya semua tercatat rapi oleh tangan istrinya-seorang penata aksara. Kini, Shukumar menikmati memasak. Membuatnya merasa produktif. Kalau bukan karena dirinya, ia yakin, Shoba bakal menyantap semangkuk sereal untuk makan malamnya.

Malam ini, dalam gelap, mereka akan makan bersama. Sebelumnya, berbulan-bulan mereka memasak sendiri-sendiri, dan ia akan membawa piringnya ke ruang kerjanya, membiarkan makanannya menjadi dingin sebelum menyantapnya tanpa jeda, sementara Shoba membawa piringnya ke ruang tengah dan menonton televisi, atau mengerjakan naskah dengan satu set pensil warna di tangan.

Pada waktu-waktu tertentu di malam hari, istrinya akan menghampiri. Tatkala ia mendengar langkah-langkah kaki sang istri, ia akan menyingkirkan novel yang sedang ia baca dan mulai mengetik di komputer. Istrinya akan memegangi bahunya dan bersama dirinya menatap layar biru monitor. “Jangan diforsir kerjanya,” istrinya akan berkata demikian usai hening satu-dua menit, dan setelahnya beranjak tidur. Itu satu-satunya momen dalam seharian istrinya mencari dirinya, tetapi ia malah merasa ganjil. Ia tahu istrinya memaksakan diri. Suatu kali, istrinya akan menghabiskan waktu melihat-lihat dinding kamar yang pada musim panas lalu telah mereka hias dengan bingkai bebek-bebek berbaris dan kelinci-kelinci bermain terompet dan drum. Pada akhir Agustus sudah ada boks bayi berwarna ceri terletak di bawah jendela, sebuah meja untuk mengganti pakaian bayi berwarna putih dengan kenop hijau permen, dan kursi goyang dengan bantal motif kotak-kotak. Shukumar telah membongkar semuanya sebelum menjemput Shoba di rumah sakit, ia mencopot bebek-bebek dan kelinci-kelinci di dinding menggunakan spatula. Untuk beberapa alasan, kamar itu tidak menghantuinya sebagaimana terjadi pada Shoba. Pada Januari, tatkala ia sudah tidak lagi bekerja di kubikelnya di perpustakaan, dengan hati-hati ia memasang meja kerjanya sendiri di dalam kamar itu, sebagian karena kamar itu membuatnya merasa tenang, dan sebagian lagi karena kamar itu tempat yang paling Shoba hindari.


SHUKUMAR kembali ke dapur dan membuka laci satu demi satu. Ia mencari-cari sebatang lilin di antara gunting, pemecah dan pengocok telur, dan ulekan yang istrinya beli di sebuah pasar di Calcutta, yang ia gunakan untuk menumbuk bawang putih dan kapulaga, dahulu tatkala ia masih sering memasak. Akhirnya, ia menemukan senter, tapi tanpa baterai, serta sekotak lilin ulang tahun yang tinggal setengah terisi. Bulan Mei lalu Shoba memberinya kejutan pesta ulang tahun. Seratus dua puluh orang menyesaki rumah mereka-seluruhnya adalah teman-temannya sendiri, juga teman-temannya teman-teman mereka, yang kini perlahan-lahan mereka hindari. Sebotol anggur vinho verde berdiri santai dalam tumpukan es batu di sisi bathtub. Tatkala itu, Shoba sedang hamil lima bulan, dan ia meneguk jahe dari gelas koktail. Sebelumnya, ia membuat kue krim vanili dengan saus custard dan gula spun. Sepanjang malam, ia menggenggam jemari Shukumar yang panjang-panjang, dan melangkah di antara para tamu pesta.

Setelah September, satu-satunya tamu mereka hanya ibunya Shoba. Ia datang dari Arizona dan menginap di rumah mereka selama dua bulan sejak Shoba pulang dari rumah sakit. Setiap malam ia memasak, menyetir sendiri ke supermarket, mencuci pakaian mereka, dan merapikannya. Ia perempuan yang religius. Ia membuat tempat bersembahyang yang sederhana-sebuah pigura foto dewi berwajah ungu, piring berisi kelopak-kelopak bunga marigold-di atas meja nakas kamar tamu, dan berdoa dua kali sehari demi kesehatan bakal cucunya. Ia bersikap sopan terhadap Shukumar, kendatipun tidak begitu ramah. Ia melipat pakaian menantunya dengan keahlian seorang penjaga toko swalayan. Ia menjahit kancing baru untuk mantelnya dan membuatkannya skarf krem kecoklatan, yang setelah selesai ia berikan kepada menantunya tanpa ekspresi apapun, seakan-akan pemilik skarf itu baru saja menjatuhkan benda tersebut dan tidak menyadarinya. Ia tidak pernah berbincang dengan menantunya mengenai Shoba; sekali waktu, tatkala menantunya menyinggung soal wafatnya bayi mereka, ia mendongak sejenak dari kegiatan menyulamnya, lantas berkata, “Tapi kamu bahkan tidak ada di sana.”

Aneh sekali tidak ada satu pun lilin betulan di rumah ini, pikirnya. Aneh rasanya mengetahui Shoba tidak mempersiapkan apapun untuk situasi darurat yang lazim semacam ini. Sekarang ia mencari-cari sesuatu yang bisa dijadikan alas lilin ulang tahun itu, dan memutuskan memakai pot tanaman ivy yang biasanya diletakkan di jendela dekat wastafel dapur. Kendatipun tumbuhan dalam pot itu sudah setinggi beberapa inci, tanahnya begitu kering sehingga ia harus membasahinya terlebih dahulu demi menancapkan batang lilin-lilin ulang tahun di atasnya agar dapat berdiri tegak. Ia menyingkirkan semua benda di atas meja makan di dapur: tumpukan surat dan buku-buku dari perpustakaan yang belum dibaca. Ia teringat momen perdana mereka makan bersama di meja itu, tatkala mereka begitu antusias membayangkan akan menikah dan pada akhirnya dapat tinggal bersama di bawah satu atap-lebih tidak sabaran ingin bercinta daripada mengisi perut. Ia menyusun dua alas piring tenunan, kado pernikahan dari seorang paman di Lucknow, dan meletakkan piring serta gelas anggur yang biasanya mereka siapkan untuk tamu. Ia meletakkan pot tanaman ivy di tengah-tengah, berhiaskan sepuluh batang lilin ulang tahun. Ia menyetel radio pada frekuensi yang menyiarkan musik jazz.

“Apa ini?” ujar Shoba tatkala ia turun. Kepalanya terbungkus handuk tebal putih. Ia melepas handuk itu dan menggantungnya di atas kursi, membiarkan rambutnya yang hitam dan masih basah terkulai di punggungnya. Terbengong-bengong, ia melangkah ke arah kompor seraya meraih rambutnya yang kusut. Ia mengenakan celana panjang katun, kaus, dan mantel usang berbahan flanel. Perutnya kini rata, pinggangnya ramping menyambung dengan pinggulnya yang montok, dan sabuk mantelnya terikat dalam simpul pita.

Hampir pukul delapan malam. Shukumar meletakkan wadah berisi nasi di atas meja dan memasukkan kacang polong sisa kemarin ke microwave, kemudian memencet-mencet angka pada penunjuk waktu.

“Kamu masak rogan josh,” Shoba mengamati wadah kaca berisi rebusan paprika.

Shukumar mengambil sepotong daging domba matang, menyuwirnya cepat-cepat agar jarinya tidak melepuh. Ia mendorong bagian daging yang lebih besar menggunakan sendok demi melepaskan seluruhnya dari tulang. “Sudah siap,” ia berujar.

Microwave berbunyi tepat sesaat sebelum listrik padam, dan suara musik pun lenyap.

“Pas banget,” kata Shoba.

“Aku cuma nemu lilin ulang tahun ini.” Ia menyalakan pot ivy itu, lantas menyimpan sisa lilin serta korek di dekat piringnya sendiri.

“Nggak apa-apa,” kata istrinya, menyusuri pegangan gelas anggur dengan jemarinya. “Terasa romantis.”

Dalam suasana remang, ia tahu bagaimana istrinya duduk: agak condong ke depan, menyilangkan kaki, dan menyandarkan sikut sebelah kiri di atas meja. Tadi waktu ia mencari lilin, Shukumar menemukan sebotol anggur dalam kotak kayu yang ia kira kosong. Ia menjepit botol anggur di antara pahanya sembari menancapkan lalu memutar sumbat botol. Ia khawatir anggurnya tumpah, sebab itu selagi menuangnya ia memegang gelas begitu dekat ke pangkuan. Mereka berdua mengambil makanan sendiri-sendiri, mengaduk nasi memakai garpu masing-masing, memicing waktu menyingkirkan daun salam dari rebusan. Setiap beberapa menit Shukumar menyalakan lilin baru dan menancapkannya di atas pot tanaman.

“Rasanya kayak di India,” ujar Shoba, menyimak sang suami yang sedang berkutat dengan candelabra buatannya. “Kadang-kadang listrik padam sampai berjam-jam. Aku pernah datang ke annaprashana gelap-gelapan. Si bayi nangis nggak berhenti. Dia pasti kepanasan.”

Bayi mereka tidak pernah menangis, renung Shukumar. Bayi mereka tidak akan pernah dapat annaprashana--perayaan bagi bayi kala memakan nasi pertamanya--kendatipun Shoba telah membuat daftar tamu, dan sudah memutuskan siapa dari tiga abangnya yang akan ia minta untuk menyuapi bayi mereka; kelak setelah ia berusia enam bulan jika laki-laki, tujuh bulan jika perempuan.

“Kamu kepanasan?” ia bertanya kepada istrinya. Ia menggeser pot dengan lilin-lilin menyala menjauh ke sisi meja yang lain, ke arah tumpukan buku dan surat, membuat semakin sulit bagi mereka untuk saling melihat. Tiba-tiba ia merasa kesal tidak bisa naik ke ruangannya dan duduk di depan komputer saja.

“Nggak, kok. Ini enak,” kata istrinya, mengetuk piring dengan garpu. “Beneran enak.”

Ia menuang anggur untuk istrinya, yang membalas dengan ucapan terima kasih.

Dulu, mereka tidak pernah seperti ini. Sekarang ia harus berusaha keras menemukan topik yang menarik bagi istrinya untuk dibahas, topik yang dapat membuat istrinya mendongak dari piring atau naskah kerjaannya. Tetapi pada akhirnya ia berhenti mencoba. Ia belajar menerima kesunyian di antara mereka.

“Aku ingat dulu di rumah nenek, kalau sedang mati lampu kami harus mengatakan sesuatu,” lanjut Shoba. Ia hanya samar-samar menangkap wajah istrinya, tetapi dari nada bicaranya ia tahu istrinya sedang memicing, seolah-olah pandangannya berfokus pada satu benda yang jauh. Itu kebiasaan istrinya.

“Misalnya?”

“Terserah aja. Puisi, guyonan, atau informasi apa lah. Kalau kerabatku sering minta aku ngucapin nama teman-teman di Amerika. Aku nggak tahu kenapa hal itu menarik. Terakhir ketemu bibi, ia bertanya tentang empat gadis yang jadi teman sekolahku di Tucson. Aku bahkan sudah nggak ingat lagi.”

Shukumar tidak pernah tinggal lama di India sebagaimana Shoba. Orangtuanya, yang bermukim di New Hampshire, sering ke sana tanpa dirinya. Kali pertama ia berkunjung waktu masih bayi, ia hampir meninggal terkena disentri. Ayahnya orang yang mudah panik, takut membawanya kembali ke sana kalau terjadi sesuatu lagi, lantas menitipkannya dengan bibi dan pamannya di Concord. Tatkala beranjak remaja, setiap musim panas ia lebih memilih ikut pagelaran kemah mendayung atau mengudap es krim, ketimbang liburan ke Calcutta. Sepeninggal ayahnya bersamaan ia memasuki tahun-tahun akhir kuliah, barulah negara itu menarik perhatiannya, dan ia mempelajari sejarahnya dari buku-buku panduan selayaknya materi perkuliahan. Kini ia berharap bisa punya kisah masa kecil sendiri di India.

“Yuk,” ujar istrinya tiba-tiba.

“Yuk apa?”

“Ucapkan sesuatu.”

“Ucapkan apa? Aku nggak bisa melawak.”

“Nggak, bukan lawakan.” Istrinya berpikir sejenak. “Gimana kalau kita saling mengucapkan hal yang nggak pernah kita kasih tahu sebelumnya.”

“Dulu waktu SMA aku sering main beginian,” Shukumar mengingat-ingat. “Waktu kami lagi mabuk.”

“Maksudmu truth or dare. Nggak, ini beda. Oke, aku yang mulai.” Istrinya menyesap anggur. “Waktu pertama kali ke apartemenmu, aku mengintip buku alamatmu buat ngeliat ada namaku nggak di situ. Kalau nggak salah kita sudah kenal sekitar dua minggu.”

“Aku lagi di mana, ya?”

“Kamu lagi ngobrol di telepon sama ibumu, di ruangan lain. Aku pikir pasti kalian ngobrolnya lama. Aku penasaran apa kamu ngebahas aku.”

“Aku ngebahas kamu nggak?”

“Nggak. Tapi aku nggak menyerah. Nah, sekarang giliran kamu.”

Ia tidak bisa memikirkan apapun, tetapi Shoba menunggu ia mengatakan sesuatu. Bulan-bulan terakhir istrinya tidak pernah terlihat seniat ini. Apa lagi yang belum ia utarakan kepada istrinya? Ia mengingat-ingat saat mereka kali pertama bertemu, empat tahun lampau di dalam ruang kelas di Cambridge, tatkala sekelompok penyair Bengali tengah membacakan sajak-sajak. Mereka duduk bersisian di bangku kayu. Shukumar segera bosan; ia tidak paham kata-kata dalam sajak-sajak itu, dan tidak bisa ikut seperti hadirin yang lain ketika mereka mengangguk khidmat atau menarik napas panjang pada kalimat-kalimat tertentu. Alih-alih, ia mengintip koran di pangkuannya, dan mencari tahu ketinggian derajat suhu di kota-kota sepenjuru dunia. Kemarin tiga puluh dua derajat selsius di Singapura, sepuluh derajat di Stockholm. Tatkala ia menoleh ke kiri, ia melihat perempuan di sebelahnya sedang menulis daftar belanja di bagian belakang selembar map, lantas ia terkesima menyadari betapa menawannya perempuan itu.

“Oke,” katanya, sembari mengingat. “Waktu pertama kali kita pergi dinner, di restoran Portugis, aku lupa kasih tip buat waiter. Besoknya pagi-pagi aku balik ke sana, nyari tahu namanya, terus nitip uang ke manajer tempat itu.”

“Kamu jauh-jauh balik ke Somerville cuma buat ngasih tip?”

“Pakai taksi, kok.”

“Kenapa kamu lupa kasih tip?”

Lilin ulang tahun di meja padam, tetapi ia merekam wajah istrinya begitu jelas dalam kegelapan: sepasang bola mata besar yang mengerling, bibir tebal berona anggur, dan bekas luka jatuh dari kursi tinggi waktu kecil masih tampak berbentuk seperti tanda koma di dagunya. Hari demi hari, Shukumar menyadari, kecantikan istrinya yang dahulu membuatnya terkesima telah perlahan pudar. Kini istrinya butuh berdandan lebih tebal, bukan demi mempercantik dirinya melainkan, dengan suatu cara, justru menunjukkan karakter aslinya.

“Malam itu, pas kita udah mau selesai makan, perasaanku campur aduk dan kepikiran ingin menikahi kamu,” katanya, untuk kali pertama mengakui hal tersebut, terhadap dirinya sendiri juga istrinya. “Mungkin itu bikin aku nggak fokus.”


MALAM berikutnya Shoba pulang kerja lebih awal. Di dapur masih ada daging domba sisa semalam, dan Shukumar memanaskannya agar mereka sudah bisa makan malam pukul tujuh. Hari itu ia keluar rumah, berjalan di atas salju yang mulai mencair, demi membeli dari toko di sudut jalan sekotak lilin betulan dan baterai senter. Ia sudah memacakkan lilin tersebut di meja dapur di atas wadah berbentuk seperti kelopak teratai, tetapi mereka bersantap di bawah naungan sinar lampu berkap tembaga yang menggelantung di langit-langit di atas meja.

Tatkala mereka selesai, Shukumar terkejut demi menyaksikan istrinya menumpuk piring bekas makan mereka dan membawanya ke wastafel. Ia mengira setelah itu istrinya akan langsung beranjak ke ruang tamu mengoreksi naskah.

“Biarin saja piring kotornya,” ia berkata, seraya mengambil piring-piring itu dari tangan istrinya.

“Nggak, lah,” balas istrinya, lantas menuang setetes sabun cuci cair ke spons. “Sudah hampir jam delapan.”

Debaran di dadanya jadi lebih kencang. Sepanjang hari Shukumar telah menanti listrik padam. Ia memikirkan yang Shoba katakan semalam, tentang mengintip ke buku alamatnya. Rasanya menyenangkan mengingat-ingat sosok istrinya pada masa-masa itu, betapa pemberani sekaligus kikuk dirinya, dan betapa penuh harap. Mereka berdiri bersisian di hadapan wastafel, bayangan mereka memantul pada kaca jendela. Ia merasa malu, sebagaimana kali pertama ia berdiri bersisian dengan istrinya di depan kaca. Ia lupa kapan kali terakhir mereka berfoto. Mereka sudah tidak pernah lagi menghadiri pesta, tidak pernah lagi pergi ke manapun berdua. Foto-foto dalam kamera miliknya masih terdapat gambar-gambar Shoba, berada di halaman depan rumah, masih mengandung.

Selesai mencuci piring, mereka bersandar di meja wastafel, mengeringkan tangan dengan handuk kecil-ujung ini di tangan Shukumar, ujung satunya di tangan Shoba. Tepat pukul delapan, listrik pun padam. Shukumar menyalakan sumbu lilin, terpukau dengan apinya yang panjang nan tenang.

“Duduk di luar, yuk,” ujar Shoba. “Jam segini kayaknya masih hangat.”

Mereka masing-masing memegang sebatang lilin dan pergi duduk di atas anak tangga di beranda. Rasanya aneh duduk di luar rumah di waktu salju masih berjatuhan. Tetapi malam ini semua orang keluar rumah, udara yang segar membuat orang-orang terjaga. Pintu-pintu rumah membuka dan menutup. Kelompok kecil warga melintas dengan senter di tangan.

“Kami mau ke toko buku,” seru seorang pria berambut perak. Ia berjalan bersama istrinya, seorang perempuan kurus berjaket parasut yang membawa seekor anjing dengan tali kekang. Mereka keluarga Bradford, suatu kali pernah memasukkan ke kotak surat di rumah Shoba dan Shukumar sebuah kartu ucapan belasungkawa. “Katanya mereka punya genset.”

“Harusnya,” balas Shukumar. “Kalau nggak, kalian bakal cari buku gelap-gelapan.”

Istri tetangganya itu tertawa, lantas menggamit lengan suaminya. “Kalian ikut?”

“Nggak, makasih,” Shoba dan Shukumar menjawab serempak. Shukumar kaget dengan hal tersebut.

Ia menebak-nebak apa yang akan Shoba sampaikan kepadanya. Ia sudah memikirkan kemungkinan terburuk. Bahwa istrinya berselingkuh. Bahwa istrinya tidak suka ia sudah 35 tahun tetapi masih berstatus pelajar. Bahwa istrinya menyalahkannya karena ia dan ibunya berada jauh di Baltimore waktu istrinya melahirkan. Namun, ia tahu semua itu tidak benar. Istrinya setia, sebagaimana dirinya. Istrinya percaya kepadanya. Istrinya lah yang memaksanya pergi ke Baltimore. Apa lagi yang belum mereka tahu mengenai satu sama lain? Ia tahu istrinya mengepalkan tangan jikalau tidur, dan sedikit lasak jikalau bermimpi buruk. Ia tahu istrinya lebih suka semangka ketimbang melon. Ia tahu tatkala mereka pulang dari rumah sakit, hal pertama yang istrinya lakukan ketika masuk rumah adalah mengambili benda-benda dan melemparkannya ke lorong menjadi tumpukan: buku-buku dari rak, pot-pot tanaman dari jendela dapur, lukisan-lukisan dari dinding, foto-foto dari pigura, serta panci dan wajan dari gantungan dekat kompor. Shukumar tidak mencegahnya. Tatkala ia telah puas, istrinya berdiri memandangi tumpukan benda-benda itu, lantas bibirnya mengerucut seperti mau meludah. Kemudian, ia menangis.

Ia mulai menggigil duduk di anak tangga beranda. Ia merasa harus bicara lebih dulu, menganggap ini gilirannya.

“Waktu ibumu ke rumah,” akhirnya istrinya yang bicara. “Pas aku bilang terpaksa kerja lembur, sebenarnya aku pergi bareng Gillian dan minum martini.”

Ia mengamati paras istrinya, batang hidung ramping dan rahangnya kaku seperti pria. Ia ingat betul malam itu: ia makan dengan ibunya, lelah usai mengajar dua kelas berturut-turut, berharap Shoba ada bersama mereka agar istrinya bisa mengatakan sesuatu yang baik, karena dirinya senantiasa salah bicara. Sudah dua belas tahun sejak ayahnya wafat, dan ibunya berkunjung ke rumah mereka demi menemaninya berkabung. Setiap malam ibunya memasak makanan kesukaan ayahnya, lantas merasa begitu sedih dan kecewa mengetahui hanya ia sendiri yang menyantap makanan itu, dan airmatanya berlinang seiring Shoba mengusap-usap punggung tangannya. “Aku jadi ikut sedih,” kala itu Shoba berkata kepadanya. Kini, ia membayangkan Shoba bersama Gillian duduk di atas sofa beludru di bar-tempat yang biasa ia dan Shoba datangi usai menonton di bioskop-dan istrinya memastikan ekstra buah olive pesanannya ada di gelasnya, lantas mengambil sebatang rokok dari Gillian. Ia membayangkan istrinya curhat, dan Gillian bersimpati kepadanya atas kedatangan mertuanya. Gillian yang mengantar Shoba ke rumah sakit.

“Giliranmu,” sang istri membuyarkan lamunannya.

Di ujung jalan, Shukumar mendengar suara bor dan teriakan si teknisi. Ia memandangi fasad rumah-rumah berjejer di seberang jalan. Terlihat nyala lilin di jendela salah satunya. Terlepas cuaca yang sebenarnya sudah agak hangat, tampak asap membubung dari cerobong rumah itu.

“Aku nyontek pas ujian mata kuliah Peradaban Asia,” ujarnya. “Waktu semester akhir, ujian terakhirku. Ayah meninggal beberapa bulan sebelumnya. Aku bisa lihat kertas ujian orang di sebelah. Cowok Amerika, maniak. Dia tahu bahasa Urdu dan Sanskrit. Aku nggak ingat contoh puisi di soal itu ghazal atau bukan. Aku nyontek jawaban dia.”

Ia melakukan hal tersebut lebih dari lima belas tahun silam. Kini ia merasa lega telah mengungkap hal itu kepada istrinya.

Istrinya menoleh, tidak kepadanya melainkan sepatunya-mokasin lawas yang ia injak saja seperti memakai sandal, bagian tumitnya tergencet rata dengan alas sepatu. Ia menduga apakah istrinya tidak senang atas ceritanya barusan? Istrinya meraih tangannya dan menggenggamnya. “Kamu nggak perlu kasih tahu alasan kamu nyontek,” ujarnya, seraya bergeser mendekat.

Mereka duduk berdua hingga pukul sembilan, dan listrik pun kembali menyala. Mereka mendengar orang-orang bertepuk tangan dari beranda rumah masing-masing, dan televisi di rumah-rumah dihidupkan lagi. Keluarga Bradford berjalan melintas dan sembari menjilati es krim, mereka melambai. Shoba dan Shukumar membalas lambaian mereka. Kemudian, mereka berdua bangkit-masih bergenggaman tangan-dan masuk ke rumah.


BERIKUT-BERIKUTNYA, tanpa ada yang mengatur, situasi di antara mereka senantiasa berubah jadi arena mengumbar pengakuan-mengenai hal-hal sepele yang mereka lakukan demi mengecewakan satu sama lain, bahkan diri mereka sendiri. Keesokan hari Shukumar bimbang, antara harus mengaku soal ia menyobek foto seorang wanita di majalah langganannya dan menyelipkannya di buku yang ia bawa selama berminggu-minggu, atau mengaku bahwa ia sudah berbohong tatkala dulu berkata ia menghilangkan rompi rajutan yang istrinya berikan sebagai kado peringatan hari pernikahan mereka, dan bahwa ia menjual benda tersebut di Filene’s dan kemudian pergi minum-minum sendirian siang bolong di bar hotel. Pada hari itu, istrinya sudah memasak beragam hidangan untuk makan malam mereka. Rompi rajut itu membuatnya frustrasi. “Istriku kasih rompi rajut buat ngerayain nikahan kami,” ia curhat ke bartender, sedang kepalanya sudah goyang akibat cognag. “Lha, mestinya gimana?” balas si bartender. “Bung, kan, memang sudah nikah.”

Mengenai foto wanita di majalah, ia tidak paham kenapa ia menyobeknya. Bukannya wanita itu lebih cantik dari Shoba. Wanita itu mengenakan gaun payet, mukanya cemberut dan kakinya kurus seperti kaki pria. Kedua lengan wanita itu terangkat, tangannya mengepal di dekat wajah, dan berpose seperti hendak meninju dirinya sendiri. Gambar tersebut iklan produk stoking. Tatkala itu Shoba sedang mengandung, perutnya ujug-ujug membuncit, begitu buncit sampai Shukumar enggan menyentuhnya. Pertama ia melihat foto wanita itu ia sedang tiduran di samping istrinya, yang tengah membaca buku. Begitu ia melihat majalah tersebut di tempat sampah, ia menemukan foto wanita itu dan menyobeknya dengan sangat berhati-hati. Setiap hari selama seminggu, ia mengintip foto itu. Libidonya naik, tetapi setelahnya ia merasa jijik dengan dirinya sendiri. Itu satu-satunya aksi berselingkuh yang pernah ia lakukan.

Pada malam ketiga pemadaman listrik ia mengutarakan kepada istrinya tentang rompi rajut, dan pada malam keempat tentang foto wanita itu. Istrinya diam saja waktu ia bicara, tidak protes ataupun mencela. Istrinya mendengar saja, lalu meraih tangannya dan menggenggamnya seperti kemarin-kemarin. Pada malam ketiga pemadaman, istrinya bilang bahwa dulu suatu kali tatkala mereka pulang kuliah, saat ia mengobrol dengan seorang dosen, istrinya tidak memberitahu kalau ada remah-remah roti di dagunya. Kala itu istrinya sedang kesal kepadanya karena suatu hal, lantas membiarkan dirinya terus mengobrol dengan dosen mengenai beasiswa perkuliahan semester depan, tanpa memberi isyarat kepadanya bahwa dagunya kotor. Pada malam keempat pemadaman, ia mengaku bahwa sebenarnya ia tidak suka puisi yang pernah ia tulis, satu-satunya puisi yang ia tulis dan dimuat di suatu majalah sastra di Utah. Ia menulis puisi itu usai pertemuannya dengan Shoba. Istrinya bilang, puisinya kelewat sentimentil.

Hal baru telah terjadi semenjak pemadaman: mereka kembali mengobrol. Pada malam yang ketiga, seusai makan, mereka duduk di sofa, dan begitu listrik padam ia mengecup pipi dan kening istrinya dengan agak kikuk, dan kendatipun sudah gelap, ia tetap memejam, dan tahu istrinya melakukan hal yang sama. Pada malam keempat, mereka melangkah canggung menaiki tangga menuju kamar tidur, sama-sama diam sejenak ketika menjejak di lantai atas, kemudian bercinta dengan keputusasaan yang telah terlupa. Istrinya menangis tanpa suara, membisikkan namanya, dan dalam kegelapan menyusuri alisnya menggunakan jemari. Dalam percintaan mereka, ia memikirkan apa lagi yang harus ia ceritakan besok malam, apa lagi yang istrinya ceritakan-dan semua ini membuatnya bergairah. “Peluk aku,” ia berkata, “dekap aku.” Begitu listrik kembali menyala, mereka telah tertidur pulas.


PAGI pada hari terakhir pemadaman, Shukumar mendapat surat pemberitahuan dari perusahaan listrik: jalur listrik sudah kembali normal, lebih awal dari jadwal semula. Ia kecewa. Ia sudah berencana memasak udang malaikari buat Shoba, tetapi tatkala ia tiba di swalayan ia sudah tidak selera lagi. Suasananya bakal berbeda, ia pikir, kalau listrik tidak padam. Dalam pandangannya, udang-udang itu terlihat kurus dan tidak menarik. Kotak-kotak santan siap saji itu berdebu dan kemahalan. Kendati demikian, ia tetap membeli semua, beserta sebatang lilin aromaterapi dan dua botol anggur.

Istrinya pulang pukul setengah delapan malam. “Kayaknya permainan kita sampai di sini ya,” ujar Shukumar tatkala melihat istrinya membaca surat pemberitahuan.

Istrinya menoleh. “Kamu masih bisa nyalain lilin kalau mau.” Malam ini istrinya tidak berangkat ke gym. Ia mengenakan kemeja di balik mantelnya. Ia sudah memulas riasannya lagi.

Tatkala istrinya ke lantai atas untuk bersalin, Shukumar menuang anggur buat dirinya sendiri dan memutar lagu: album Thelonius Monk, favorit istrinya.

Setelah istrinya kembali, mereka bersantap bersama. Istrinya tidak bilang terima kasih atau memujinya. Mereka makan saja dalam cahaya remang-remang, diterangi pendar lilin aromaterapi. Mereka telah melewati masa-masa krisis. Mereka melahap habis udang di meja. Mereka meneguk tandas botol anggur pertama dan langsung membuka yang kedua. Mereka duduk di situ sampai lilin hampir habis. Istrinya menggeser posisi, dan sesaat Shukumar mengira ia akan mengatakan sesuatu. Alih-alih, istrinya meniup lilin hingga padam, beranjak dari kursinya, menyalakan lampu, kemudian duduk lagi.

“Nggak dibiarin gelap aja?” tanya Shukumar.

Istrinya menyingkirkan piring di hadapan dan memasang gestur serius. “Aku mau kamu lihat aku saat aku mengatakan ini…,” ujarnya tenang.

Jantungnya berdentam keras. Hari ketika istrinya memberitahu bahwa dirinya mengandung, ia bicara persis seperti ini, persis dengan ketenangan yang sama, seusai mematikan televisi saat ia sedang menonton pertandingan basket. Kala itu ia tidak siap. Sekarang sudah.

Hanya saja ia enggan mendengar jikalau istrinya mengandung lagi. Ia tidak mau berpura-pura senang.

“Aku sempat cari-cari apartemen, dan sudah dapat,” ujar istrinya seraya memicing, pandangannya terarah ke bahu kirinya. Bukan salah siapa-siapa, istrinya melanjutkan. Mereka sudah sama-sama lelah. Ia butuh menyendiri. Ia punya tabungan. Apartemen baru itu terletak di Beacon Hill, jadi ia bisa jalan kaki ke kantor. Ia sudah meneken kontrak sewanya tadi sebelum pulang.

Istrinya enggan menatap matanya, tapi Shukumar memandanginya lekat-lekat. Jelas sekali istrinya sudah melatih ucapannya. Selama ini ia menghabiskan waktunya mencari apartemen, mengecek tekanan air, bertanya ke agen properti apakah ada fasilitas air panas di sana. Semua ini membuat Shukumar pening-mengetahui istrinya melewati malam-malam belakangan mempersiapkan hidup baru tanpa dirinya. Ternyata inilah inti permainannya.

Kini, giliran ia bicara. Ada satu hal yang ia sudah bersumpah tidak akan memberitahu istrinya, dan selama setengah tahun terakhir ia berusaha tidak memikirkannya. Sebelum USG, istrinya meminta dokter merahasiakan jenis kelamin bayi mereka, dan Shukumar setuju. Istrinya ingin kejutan.

Kelak, tatkala mereka sempat beberapa kali membahasnya, istrinya bilang setidaknya mereka telah berbagi rahasia. Istrinya seperti bangga dengan keputusannya itu, sebab dengan demikian ia dapat mencari perlindungan di dalam ketidaktahuan. Shukumar tahu, istrinya mengira hal tersebut juga menjadi misteri baginya. Setahu istrinya ia terlambat kembali dari Baltimore-tatkala segalanya telah berakhir dan istrinya tergolek lemah di ranjang rumah sakit. Padahal tidak. Ia tiba cukup awal demi melihat bayi mereka, dan pula sempat mendekapnya sebelum upacara kremasi dilakukan. Awalnya ia tersentak dengan saran mendekap jenazah bayinya, tetapi dokter berkata mungkin hal itu dapat membantunya melalui proses berduka. Shoba sudah terlelap. Sang bayi sudah dimandikan, matanya terpejam untuk selamanya.

“Anak kita laki-laki,” ia berkata. “Kulitnya lebih kemerahan ketimbang coklat. Rambutnya hitam. Beratnya dua kilo. Tangannya mengepal terus, persis seperti kamu kalau lagi tidur.”

Kini Shoba menoleh, tampak begitu nestapa. Suaminya menyontek saat ujian kuliah dan menyobek foto wanita dari majalah. Suaminya menghilangkan sweter pemberiannya dan pergi mabuk-mabukan. Ini semua yang suaminya katakan kepadanya. Suaminya mendekap bayi mereka, yang hanya mengetahui kehidupan di dalam rahim dirinya, di dalam ruangan remang di kamar terkucil di rumah sakit. Suaminya mendekap bayi mereka hingga perawat mengetuk pintu dan memboyong bayi itu pergi, dan ia berjanji tidak akan memberitahu Shoba, sebab ia masih mencintainya, dan rahasia itu satu-satunya kejutan yang ingin ia peroleh dalam hidupnya.


SHUKUMAR bangkit dan membereskan piring makan. Ia membawa piring-piring itu ke wastafel, tetapi alih-alih mencucinya ia justru memandang ke luar jendela. Di luar, malam masih hangat, dan keluarga Bradford terlihat berjalan bergandeng tangan. Saat ia masih memperhatikan mereka, mendadak lampu padam, lantas ia berbalik. Shoba yang mematikannya, kemudian kembali ke meja makan dan duduk lagi, dan beberapa saat kemudian Shukumar juga. Bersama mereka menangis, demi hal-hal yang kini telah mereka ketahui. ***