20 Mei 2016

Selamat Datang

Photograph by Glo
Bernard Batubara adalah penulis penuh-waktu. Lahir 9 Juli 1989 di Pontianak, Kalimantan Barat; tinggal di Yogyakarta. Belajar menulis puisi, cerita pendek, dan novel sejak medio 2007. Buku-bukunya yang telah terbit: Angsa-Angsa Ketapang (2010), Radio Galau FM (2011), Kata Hati (2012), Milana (2013), Cinta. (2013), Surat untuk Ruth (2013), Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri (2014), dan Jika Aku Milikmu (2015). Radio Galau FM dan Kata Hati telah diadaptasi ke layar lebar. Saat ini sedang mempersiapkan buku terbarunya, sebuah kumpulan cerita.

26 April 2016

Apalah yang Kita Tahu Soal Cinta?





“What do any of us really know about love?”  

Saya selalu tertarik untuk mengetahui apa yang dikatakan para penulis tentang satu kata misterius ini: “cinta”. Orhan Pamuk, dalam The Museum of Innocence, memperlihatkan cinta sebagai sesuatu yang bisa terlarang namun kekal, atau setidaknya berusia panjang, serta memantik sejenis kegilaan bagi manusia yang mengalaminya. Mario Vargas Llosa, dalam In Praise of the Stepmother, menunjukkan cinta yang penuh hasrat. Sedangkan Haruki Murakami, menggambarkan cinta sebagai sesuatu yang terlihat ganjil, absurd, tampak sederhana namun sekaligus rumit. Lantas, bagaimana cinta menurut Raymond Carver?

Carver mengatakan apa yang ia katakan saat ia mengatakan tentang cinta lewat 17 cerita pendek dalam kumpulan What We Talk About When We Talk About Love. Omong-omong soal judulnya yang catchy, saya mendadak teringat pada buku berjudul mirip: What I Talk About When I Talk About Running, memoar yang bagus dari Haruki Murakami tentang berlari maraton dan menulis novel. Saya tahu Murakami juga membaca Carver, dan yakin dari buku inilah ia mendapatkan judul untuk memoarnya itu. Saya juga teringat pernah melihat sebuah film Indonesia dengan judul What We Don’t Talk About When We Talk About Love. Dan kalau meramban di mesin pencarian, siapapun akan melihat ada banyak kalimat yang merupakan hasil modifikasi judul buku Carver ini.

Mari kita tinggalkan pembicaraan mengenai judul dan masuk ke cerita-ceritanya.

Di permukaan, cerita-cerita Carver terlihat sederhana, dan sepertinya memang demikian. Namun, ketika kita membacanya dengan perlahan dan menyimak hal-hal kecil di dalamnya, kita akan tahu bahwa ada pergolakan yang tak sederhana di diri masing-masing karakter. Carver tidak mengatakan hal ini, tentu saja. Alih-alih, ia melakukan hal terbaik yang bisa dilakukan penulis kala ingin mengatakan sesuatu: Ia menunjukkannya.

Dalam cerita “Why Don’t You Dance”, seorang lelaki menjual hampir seluruh perabotan rumahnya. Ia meletakkan begitu saja tempat tidur, sofa, televisi, dan barang-barang lain di pekarangan rumahnya, selayaknya sebuah garage sale. Tak ada yang mengatakan apapun tentang apa yang laki-laki itu alami dan mengapa ia melakukan apa yang ia lakukan. Namun, pada satu bagian di pembukaan cerita itu, Carver menulis bagaimana laki-laki tersebut memandangi tempat tidur di halaman dari balik jendela dapurnya, dan ia melihat dua sisi tempat tidur itu: Sisi miliknya, dan sisi miliknya-- seorang perempuan.

Seorang lelaki memandangi dari balik jendela seorang pria tua dengan kamera mengambil gambar rumahnya, kemudian menjual gambar itu kepadanya. Laki-laki pemilik rumah pun, didorong rasa tak nyaman, menerima pria tua itu di rumahnya sebagai tamu lantas mereka berbincang-bincang. Cerita itu berjudul “Viewfinder”, dan Carver memperlihatkan kesepian yang dialami si laki-laki tanpa menjelaskan apa yang sebetulnya ia alami dan masalah cinta macam apa yang telah menimpanya.

Cerita-cerita Carver kebanyakan ditulis seperti ini. Ambigu, dan hampir selalu berakhir dengan menggantung tanpa kesimpulan yang jelas apalagi alur yang bulat. Tetapi justru karena itu saya menyukainya. Tidak ada yang selesai, sama dengan tidak ada yang dimulai dalam cerita-ceritanya. Alih-alih sebuah cerita pendek yang utuh dengan pembuka, konflik, dan penutup-- yang membentuk satu cerita bulat-cerita-cerita Carver lebih berupa sketsa-sketsa, atau lebih tepat mungkin kita sebut saja fragmen-fragmen. Fragmen-fragmen itu berasal dari suatu kisah yang lebih panjang lagi, yang hanya bisa kita bayangkan sendiri, dan mungkin di situ juga lah terletak kenikmatan lain dari membaca cerita-cerita Carver. Kita diberi sketsa-sketsa atau fragmen-fragmen yang muncul dan pergi begitu saja dan kita diizinkan untuk membayangkan sendiri bagaimana bentuk utuh dari mereka.

Kendati demikian, ada satu hal yang terjadi pada kumpulan cerita Carver, yang seingat saya jarang terjadi pada kumpulan cerita penulis lain: Meski cerita-ceritanya terlepas satu sama lain, dan hadir dalam wujud sketsa patah alih-alih satu cerita bulat utuh, kita bisa memandangi dari jauh ketujuhbelas cerita dalam kumpulan ini dan membayangkan mereka menjadi satu kesatuan kisah yang panjang.

Tentang apa cinta itu menurut Carver, ia menjelaskannya melalui cerita yang judulnya menjadi judul buku ini: What We Talk About When We Talk About Love. Cerita itu isinya empat orang sekawan yang sedang mengobrol dan tanpa ada yang sadar mereka masuk ke topik tentang apa itu cinta. Dari sana muncul satu-dua konflik kecil tetapi bukan yang sedang terjadi, melainkan kilas balik dari kisah tokoh-tokohnya. Cinta itu lebih kepada sesuatu yang spiritual, kata seorang laki-laki, tetapi disambut cerita istrinya yang mengisahkan masa lalu bersama pacar lamanya yang mencintainya dengan cara yang agak sinting dan penuh kekerasan. Itu bukan cinta, kata sang suami, tetapi sang istri bersikeras itu juga cinta. Ia menyakitiku, kata sang istri, tetapi begitulah cara dia menunjukkan cintanya. Sampai akhirnya sang suami sendiri, yang tadinya paling berminat memberi definisi atas cinta, berkata: “…it ought to make us feel ashamed when we talk like we know what we’re talking about when we talk about love.”

Apalah yang kita tahu tentang cinta. Setidak-tidaknya, Carver menjawab hal itu dengan menawarkan cerita-cerita cinta yang di dalamnya berada rasa sepi, sakit, kedukaan yang terlihat tanpa ujung. Dalam cerita-cerita cinta Carver ada banyak perselingkuhan dan sedikit kebahagiaan. Namun, yang paling baik dari semua itu adalah Carver sama sekali tidak terlihat mendramatisir hal-hal tersebut. Ia tidak tertarik melakukan itu. Kebahagiaan dan kedukaan adalah hal yang niscaya ada dalam sebentuk perasaan cinta, mereka bisa datang dan pergi kapanpun mereka mau. Mendramatisir kebahagiaan tak membuat seseorang menjadi lebih bahagia dari yang sebenarnya, dan mendramatisir kedukaan tentu saja tak ada gunanya.

Sketsa-sketsa dalam kumpulan cerita pendek tentang cinta Raymond Carver, sebagaimana cerita-cerita bagus lainnya, tak selalu memberi sensasi menghentak yang heboh, tetapi ia niscaya beresonansi dengan pengalaman batin dan hidup pembacanya. Orang-orang yang pernah jatuh cinta dan tidak puas dengan itu akan menemukan kisah mereka di dalam buku ini, mungkin berwujud lain, tetapi perasaan familier itu akan muncul.

Kesederhanaan narasi dan suasana dalam cerita-cerita Carver akan menyajikan gangguan yang subtil, membuat kita yang tadinya merasa tak ada masalah cinta yang besar dalam cerita-ceritanya, tiba-tiba menyadari bahwa ternyata ada sesuatu yang sangat gawat sedang dialami oleh karakter-karakter dalam cerita-cerita itu. Sesuatu yang mungkin lebih gawat dari sekadar hati yang patah dan cinta yang pergi.

Apa yang kita bicarakan ketika kita membicarakan tentang cinta? Ah, seperti kata salah seorang karakter Carver, apalah yang kita tahu tentang cinta. Manusia hanya merasakan apa yang mereka rasakan dan untuk mempermudah segalanya mereka menyebut itu cinta, tanpa tahu apakah yang mereka rasakan memang benar-benar cinta atau hanya sesuatu yang menyerupainya. ***

25 April 2016

Mengenal Rumah Sendiri Dari Mulut Orang Asing




Richard Lloyd Parry adalah jurnalis asal Inggris yang menjadi koresponden Asia untuk The Times London; sebelumnya ia bekerja di The Independent, harian milik Inggris, dan dalam kurun waktu itu ia menulis reportase dari berbagai negara di kawasan benua Asia. Pada 1998 ia melaporkan kejatuhan Suharto, juga tragedi berdarah yang berlangsung menyusul referendum kemerdekaan Timor Timur. Ia juga menulis tentang kanibalisme dan konflik antar-etnis di Kalimantan Barat.

Hasil reportase itu yang terkumpul dalam buku nonfiksi Zaman Edan: Indonesia Di Ambang Kekacauan (Serambi, 2008)-diterjemahkan dengan sangat enak dari versi bahasa Inggris In the Time of Madness: Indonesia on the Edge of Chaos (Vintage, 2005). Buku ini terdiri atas tiga bab utama, masing-masing mengenai kanibalisme dan konflik Dayak-Madura di Kalimantan Barat pada 1997 dan 1999, demonstrasi mahasiswa dan tragedi Trisakti menyusul jatuhnya Suharto pada 1998, dan kekacauan referendum kemerdekaan Timor Timur pada 1999.

Meskipun ini buku nonfiksi saya sama sekali tidak merasa sedang membaca karya nonfiksi, yang selama ini, setidaknya bagi saya yang belum banyak menghadapi karya nonfiksi, relatif terkesan kering dan membosankan. Zaman Edan ditulis dengan gaya naratif layaknya sebuah karya fiksi, lengkap dengan plot, penokohan, dan deskripsi detail pada hal-hal penting-serta yang paling membuatnya terasa seperti novel, adalah hadirnya perasaan, emosi, dan kadang pandangan personal penulisnya sendiri terhadap apa saja yang ia saksikan.

Tetapi tentu saja, Zaman Edan adalah karya nonfiksi, sebab itu yang ia tunjukkan di dalam narasinya merupakan fakta dan bukan sesuatu yang diimajinasikan. Sekumpulan mayat di tengah hutan dan rumah-rumah terbakar buah konflik antar-etnis di Kalimantan Barat pada 1997 dan 1999 bukanlah peristiwa fiktif yang menjadi fantasi Richard, melainkan benar-benar terjadi, aktual. Begitu pula beberapa mahasiswa yang mati tertembak pada Tragedi Trisakti jelang Suharto turun pada 1998. Begitu pula ketegangan antara kelompok pro-kemerdekaan Timor Timur di bawah pimpinan Xanana Gusmão dengan kelompok-kelompok pro-integrasi yang konon didukung jajaran militer Indonesia. Seluruh peristiwa berdarah yang menelan banyak nyawa manusia itu bukan karya fantasi, tetapi faktual.

Fakta yang dituturkan Richard, alih-alih lahir dari serangkaian riset pustaka, lebih seperti laporan pandangan mata dan pengalaman empiris. Ia menyaksikan langsung kepala-kepala terpenggal diletakkan di atas tong-tong kosong dan daun telinga yang telah disayat diambil dari pemiliknya bergelantungan di pinggang sang pembunuh. Ia juga berhadap-hadapan langsung dengan Xanana beserta pejuang Falintil dan tinggal bersama mereka. Apa yang disampaikan Richard melalui narasinya bisa dibilang merupakan laporan orang pertama yang berada di pusat kejadian peristiwa-peristiwa tragis itu.

*

Saya baru berusia delapan tahun ketika Richard berada di Indonesia dan melihat konflik antar-etnis di Kalimantan Barat. Desa tempat tinggal saya, Anjungan, juga disebut sebanyak dua kali di dalam tulisannya pada bab pertama: “Musibah yang Mendekati Aib”, yang merangkum pengalamannya berkunjung ke Singkawang, Salatiga, dan desa-desa di pedalaman yang merupakan tempat kejadian perkara konflik horisontal antar-etnis ketika itu. Saya sendiri hingga hari ini samar-samar mengingat apa yang terjadi di desa saya semasa kecil, pada tahun yang ditulis Richard: suasana sepi, ketegangan yang tidak saya pahami, dan pengungsi di rumah orangtua saya di sebuah kompleks dinas pertanian.

Konflik Dayak-Madura sendiri sebetulnya telah dimulai jauh sebelum Richard datang ke Indonesia. Tidak kurang dari lima puluh tahun yang lalu, membentang hingga awal tahun 2000, setidaknya ada sebelas kali konflik dengan beragam sebab dan hampir seluruhnya menelan korban jiwa. Siapapun bisa mengetahui tentang ini sekarang hanya dengan meramban di Internet. Tetapi perlu rasa ingin tahu yang lebih untuk menelusuri di mana akar permasalahannya-sesuatu yang hingga kini barangkali masih diperdebatkan jikapun masih dibahas.

Richard datang pada puncak konflik itu, dan merekam serta menuliskannya kembali dengan suatu cara yang membuat saya hampir tak mengenal daerah asal saya sendiri. Benarkah peristwa ini betul-betul terjadi di tempat saya? Mengapa hal semacam ini bisa terjadi? Apa sesungguhnya yang kami hadapi ketika saya berusia delapan tahun, berada di dalam rumah dan dilarang ibu bermain di luar? Tulisan Richard, yang saya baca belasan tahun kemudian, saat ini, membuat saya takjub sekaligus mengetahui lebih banyak tentang tragedi yang kala itu tengah berlangsung tak jauh dari tempat kami berada.

*

Ada semacam perasaan aneh yang saya alami ketika membaca reportase naratif Richard di bukunya Zaman Edan. Perasaan itu bukan muncul dari deskripsi visual yang bikin bergidik atas penggalan-penggalan kepala dan mayat korban pembantaian di dalam hutan, bukan pula gambaran situasi penuh ketegangan dari demonstrasi mahasiswa di Jakarta atau aksi mengancam kelompok pro-integrasi di Timor Timur. Perasaan yang saya alami adalah sensasi ganjil yang datang dari ketakjuban aneh saat mengetahui hal-hal di sekitar saya dituturkan oleh orang asing yang tidak saya kenal sama sekali.

Barangkali terlalu ceroboh mengatakan ini-mengingat bahwa saya tidak banyak membaca karya nonfiksi tentang Indonesia dari penulis Indonesia-tetapi saya kira ada secuil kebenaran dalam pernyataan ini: kadang-kadang kita menjadi lebih mengenal negeri sendiri setelah ada orang asing yang bercerita atau menuliskan tentangnya. Seperti opini Michel Houellebecq dalam Lanzarote perihal kecuekan warga asli terhadap potensi wisata wilayah mereka sendiri dan mengeksploitasinya setelah “disadarkan” oleh turis yang memberitahu mereka tentang tempat tinggal mereka.

Saya mengetahui lebih banyak apa yang terjadi di Kalimantan Barat-tempat saya tinggal dan hidup sejak lahir hingga remaja-melalui tulisan reportase naratif Richard, jurnalis asal Inggris yang menaruh perhatian pada konflik di negara-negara benua Asia, bukan melalui orang-orang yang saya kenal dan tinggal di tempat saya tinggal. Saya mengetahui apa yang terjadi di rumah saya dari orang asing, tamu yang berkunjung. Tentu saya tak bermaksud menambah-nambah pandangan ceroboh yang mengatakan bahwa orang asing selalu lebih peduli pada negeri kita ketimbang kita sebagai penghuninya sendiri, karena faktanya tidak demikian, walaupun dalam beberapa situasi bisa jadi benar.

Tetapi saya beruntung bertemu Zaman Edan. Fakta bahwa saya mengetahui dari mulut orang asing mengenai apa yang terjadi di kampung halaman saya sendiri tidak mengurangi sedikitpun antusiasme saya akan informasi yang ia miliki. Saya menikmati membaca Zaman Edan dan seolah-olah berada di sebelah Richard, menyaksikan langsung apa yang ia saksikan-semuanya sebagai hasil dari narasi yang mengalir enak dan deskripsi detail yang mengerikan, tetapi tidak lebih membuat dengkul lemas dan jantung mencelus ketimbang menyaksikan peristiwa-peristiwa itu secara langsung.

Zaman Edan adalah buku penting, yang menawarkan informasi mengejutkan dan pengalaman membaca yang menyenangkan-sesuatu yang kelak terasa ganjil diucapkan mengingat muatan buku itu penuh dengan peristiwa tragis dalam sejarah manusia, terutama manusia Indonesia. Setelah Sejarah Tuhan – Karen Armstrong, ini adalah buku nonfiksi terbaik yang pernah saya baca. Barangkali akan jadi yang terbaik sepanjang tahun ini. ***

18 April 2016

Lanzarote, Michel Houellebecq




Seorang teman pernah berkata: “Kota diciptakan bagi penghuninya, bukan turis.” Ia tidak mengucapkan kalimat itu langsung kepada saya, melainkan di satu kanal media sosial dan karena saya mengikutinya di sana, terbacalah oleh saya. Teman saya itu seorang pelancong. Ia telah berkunjung ke banyak negara di dunia. Ia juga seorang penulis dan untuk alasan itu ia sering menuliskan pengalaman perjalanannya di blog, majalah, maupun buku. Dalam berbagai kesempatan yang sempat saya hadiri, baik di jejaring media sosial maupun pertemuana kopi darat, ia tidak bosan-bosan menegaskan kalimat tadi, yang dengan satu dan lain cara menjadi semacam kredo baginya sebagai seorang pelancong.

Bentuk lebih lengkap kalimat itu kira-kira seperti ini: “Kota diciptakan bagi penghuninya, bukan turis. Maka setiap kota dibentuk sesuai kenyamanan dan kebutuhan penduduknya sendiri, bukan para pelancong yang datang ke sana.” Seingat saya, ia melontarkan kredo itu di kanal media sosialnya menyusul ribut-ribut seorang pelancong Indonesia terkenal-yang juga penulis buku-yang misuh-misuh perihal masalah yang ia hadapi ketika berkunjung ke suatu negara. Si pelancong ngomel panjang lebar tentang betapa tak becusnya negara tersebut dalam satu-dua hal, lantas, jika ingatan saya tak menipu, ia membandingkan pula ketidakbecusan negara itu dengan kehebatan negara lain.

Hal itulah yang kali pertama melintas di kepala tatkala saya mulai membaca Lanzarote. Ini novel tipis yang ditulis oleh Michel Houellebecq, seorang penulis asal Prancis. Ceritanya tentang seorang laki-laki dewasa-mungkin berusia sekira empat puluh tahun-yang karena merasa malam pergantian tahun akan menjadi saat-saat buruk baginya, secara impulsif pergi ke agen perjalanan dan kemudian membeli paket liburan ke suatu tempat. Setelah petugas memberinya rekomendasi ini dan itu, akhirnya ia memutuskan menerima tawaran paket liburan ke sebuah pulau terpencil di kawasan Spanyol, dekat Samudera Atlantik. Pulau itu bernama Lanzarote. Tetapi sepanjang perjalanan ke sana, sang narator mengoceh tentang hal-hal di tempat itu yang baginya nggak oke.

Secara singkat, Lanzarote adalah cerita tentang pengalaman berlibur si narator ke pulau tersebut. Tetapi tentu saja ini bukan sekadar cerita pelesir tak penting. Sebaliknya, meski tipis (hanya 87 halaman), ada satu-dua hal krusial disinggung Houellbecq melalui naratornya. Di antaranya adalah perkara stereotip penduduk beberapa negara Eropa dan sentimen negatif terhadap Islam.

Perlu diingat bahwa narator cerita adalah seorang pria Prancis. Prancis memang punya masalah dengan orang Arab, atau lebih khusus lagi, Islam. Saat membaca Lanzarote, saya teringat The Stranger – Albert Camus, di mana tokoh utamanya Meursault menembak mati seorang pria Arab di suatu pantai, dan terus saja menembakinya meski tahu pria itu sudah mati. Narator dalam Lanzarote juga bicara terang-terangan tentang ketidaksukaannya terhadap Arab/Islam, bahkan sejak pembuka buku. Itu salah satu penyebab petugas agen perjalanan akhirnya memberi rekomendasi pulau Lanzarote yang hedon dan tanpa orang Arab/Islam.

Di Lanzarote, narator kita bertemu dengan sepasang lesbian yang orang Jerman, dan seorang polisi asal Brussels, Belgia. Pasangan lesbian itu, Pam dan Barbara, dua perempuan yang berbahagia dan menjalani hidup dengan ringan. Sebaliknya si polisi, Rudi, terlihat begitu depresif. Sang narator, Pam, Barbara, dan Rudi berada dalam satu kelompok tur selama beberapa hari di Lanzarote. Lewat percakapan dengan Rudi, narator kita mengetahui polisi berusia nyaris setengah abad itu sedang amat terpuruk setelah ditinggal istri dan anaknya, ditambah pekerjaannya sebagai polisi di Brussels yang baginya merupakan pengalaman buruk. Belgia sendiri bagi dia “…an absurd country in steep decline; it is a country which should never have existed.” Rudi, didorong oleh kondisi psikis sekaligus pengalaman buruk dalam hidup dan pemikiran kritis-depresifnya, belakangan bergabung dengan sekte Azraelian-aliran kepercayaan yang meyakini manusia merupakan kreasi alien bernama Anakim.

Michel Houellbecq sendiri adalah penulis yang sering dikecam karena dianggap kerap menyebarkan hate speech terhadap komunitas muslim, begitu yang saya temukan di Internet. Namun, terlepas dari teks dalam Lanzarote yang memang menunjukkan hal tersebut, novela ini lucu. Selain mengoceh tentang stereotip orang-orang Italia (mata keranjang), Inggris (retorik), bahkan Prancis sendiri (egosentris), sang narator juga menyindir terang-terangan sifat umum penduduk asli suatu negara (native) yang tak mampu melihat keindahan negerinya sendiri sebelum ditunjukkan oleh para turis. Sang narator berkata, penduduk asli suatu negeri baru sadar kalau keindahan negerinya dikasih lihat oleh turis, dan setelah sadar mereka mengeksploitasinya dengan berbagai cara demi keuntungan besar.

Setelah mengoceh seputar stereotip dan menyindir sifat buruk penduduk asli suatu negara, pembicaraan bergeser ke soal keyakinan-agama alternatif, dalam hal ini. Sekte Azraelian yang percaya bahwa manusia diciptakan oleh alien bernama Anakim telah memutuskan untuk membangun satu kawasan yang akan dijadikan tempat mendaratnya Anakim, demi melihat progres hasil ciptaannya. Saya teringat sekte Bokononisme di novel Gempa Waktu – Kurt Vonnegut. Pencipta sekte Azraelian adalah kolumnis surat kabar Prancis bernama Philippe Leboueuf, yang di akhir buku tampil untuk memberi klarifikasi atas satu skandal terkait aliran kepercayaan ciptaannya.

Lanzarote ditutup, masih oleh sang narator menggunakan sudut pandang orang pertama, dengan informasi pecahnya skandal seks yang dilakukan oleh penganut Azraelian. Para penganut Azraelian melakukan praktik inses dan sebagiannya adalah pelaku pedofilia. Di antara yang kemudian diadili dan disorot pers adalah Rudi, teman sang narator semasa berlibur di Lanzarote, si polisi Brussels yang depresi usai ditinggal istrinya, seorang perempuan Moroko beragama Islam. Anehnya, tidak satu pun dari para pelaku pedofilia dan inses itu merasa bersalah atas perbuatan mereka. Mereka menganggap hal itu merupakan keputusan terbaik yang dapat manusia ambil demi mencapai kemanusiaan yang lebih baik. “We have given pleasure to our children. From earliest childhood we have taught them to experiene pleasure and to give pleasure to others. We have completely fulfilled out duty as parents,” merupakan opini umum penganut Azraelian yang tertangkap melakukan kekeliruan seksual.

Bagian yang juga menarik dari buku tipis ini adalah bab berisi surat yang ditulis oleh Rudi kepada sang narator, tatkala polisi itu check out dari hotel dan bergabung dengan sekte Azraelian. Dalam surat tersebut, Rudi mengucapkan terima kasih atas kebaikan sang narator selama mereka berlibur di Lanzarote, sembari menjelaskan apa yang terjadi padanya dan mengapa ia bergabung dengan sekte Azraelian. Menurutnya, Azraelian mengambil sikap lebih baik atas kebenaran penciptaan dan hubungan manusia dengan Yang Tertinggi, karena mereka berpikir menggunakan dasar-dasar sains yang inovatif dan radikal. Dan merupakan sesuatu yang ganjil apabila orang-orang beragama konvensional menuduh mereka sesat, di saat agama konvensional menghadapi pertanyaan-pertanyaan mendasar menggunakan cara-cara yang metaforik dan irasional. ***

17 April 2016

Chekhov dan Orang-Orang Pintar yang Putus Asa




Orang-orang skeptis sesungguhnya adalah orang-orang optimis yang pernah dikecewakan. Saya membaca kalimat itu di internet dan setelah melihat sembari sedikit mempelajari orang-orang di dunia maya yang terlihat skeptis, atau sinis, saya merasa ada kebenaran dalam kalimat tersebut. Membaca cerita-cerita pendek Anton Chekhov dalam kumpulan Ruang Inap No.6 adalah bertemu dengan orang-orang skeptis, bahkan putus asa. Orang-orang skeptis sebetulnya masih memiliki keyakinan meski secuil, tetapi orang-orang putus asa betul-betul telah melepaskan harapannya pada apapun di dunia.

Tidak seluruh cerita dalam buku Ruang Inap No.6 memperlihatkan tokoh-tokoh yang putus asa, tapi hal tersebut kentara terpancar di dalam dua cerita yang panjangnya nyaris seukuran sebuah novelet. “Ruang Inap No. 6” dan “Riwayat yang Membosankan” menjadi cerita pembuka dalam kumpulan ini dan mereka menyampaikan keputusasaan dengan nuansa yang terasa depresif lagi kelam.

Tujuh cerita lainnya, “Pertaruhan”, “Manusia dalam Kotak”, “Bunglon”, “Wanita dengan Anjing”, “Karya Seni”, “Roman dengan Kontrabas”, dan “Bintara Prishibeyev” kebanyakan bernada lucu dengan pengecualian pada cerita “Wanita dengan Anjing” yang memiliki petunjuk akan hadirnya sebentuk tragedi.

Kita mulai dengan keputusasaan dalam “Ruang Inap No. 6”. Cerita ini sebagian besar berlangsung di semacam rumah sakit jiwa. Ruang inap yang disebut di dalam judul merupakan nama salah satu bangsal di rumah sakit itu. Isinya tentu orang-orang yang dianggap memiliki kelainan jiwa. Dua tokoh sentral dalam cerita itu adalah dua laki-laki bernama Ivan Dmitrich dan Andrei Yefimich-yang pertama disebut pasien, satunya lagi dokter.

Ivan Dmitrich orang terpelajar yang mengidap semacam paranoid dan ia dijebloskan ke Ruang Inap No. 6 karena hal tersebut, sementara Andrei Yefimich adalah orang putus asa yang kelak kita sorot, seorang dokter yang menemukan bahwa eksistensi manusia di dunia ini tak memiliki makna apapun dan sia-sia. Suatu ketika mereka pun bertemu, dan ternyata Andrei Yefimich yang tak pernah dibikin gumun oleh apapun karena ia tak memiliki asa terhadap apapun, tiba-tiba melihat ketertarikan mendalam pada dirinya saat ia berbicara dengan Ivan.

Dalam banyak hal, Ivan Dmitrich memiliki jalan pikiran bertolakbelakang Andrei, tetapi ini yang membuat Dokter Andrei tertarik. Andrei dibikin tertarik oleh Ivan ketika lelaki pengidap paranoid itu bicara tentang kesengsaraan hidup dan rasa sakit. “Rasa dingin, seperti rasa nyeri lain, bisa tidak dirasakan,” kata Andrei, “Anda bisa mengabaikannya.” Tetapi dengan berang Ivan Dmitrich menyergah Andrei. “Saya sekumpulan jaringan organis buatan Tuhan, dan jaringan tersebut wajib bereaksi terhadap setiap rangsangan. Dan saya bereaksi!” serunya. Dialog Ivan Dmitrich dan Andrei Yefimich saya kira adalah dialog terbaik kedua yang pernah saya baca setelah percakapan Alyosha Karamazov dan Ivan Karamazov dalam The Brothers Karamazov, Fyodor Dostoyevsky.

Kembali soal keputusasaan.

Andrei Yefimich putus asa pada banyak hal di dunia, salah satunya makna keberadaan manusia yang ia pandang nihil, sebagai buah dari kejengkelannya atas banyaknya manusia yang terlalu gemar mengurusi hal remeh-temeh dan tidak memikirkan persoalan-persoalan substansial (tentang kejengkelan seperti ini muncul di banyak cerita Chekhov). Orang-orang tidak ada yang sepintar Andrei, tidak ada yang bisa Andrei ajak bicara tentang makna eksistensi, filsafat, dan hal besar mendalam lainnya. Banyak sekali orang bodoh dan terlalu sedikit orang berilmu, begitu pikir Andrei, dan ia tampak stres sekali karenanya. Lama-kelamaan ia putus asa dan keputusasaannya tidak lagi mengarah hanya pada ketidakmampuan manusia berpikir sedalam dirinya, tetapi juga pada makna secara umum apa artinya mereka ini, termasuk dirinya, diciptakan di dunia yang begitu-begitu saja.

Profesor Nikolai Stepanovich dalam cerita “Riwayat yang Membosankan” adalah manifestasi keputusasaan yang berikutnya. Ia punya istri yang setiap pagi masuk ke kamar hanya untuk membahas hal remeh-temeh. Ia punya anak perempuan yang berpacaran dengan orang yang ia anggap tak setara ilmu dan pemikirannya menurut standarnya. Tetapi seperti kehadiran Ivan Dmitrich dalam “Ruang Inap No. 6”, ada sosok yang masih memantik ketertarikan Nikolai Stepanovich, kali ini seorang perempuan bernama Katya, yang merupakan anak asuh Nikolai, tetapi sangat dimusuhi oleh anak-istri Nikolai.

Bagaimana soal keputusasaan Profesor Nikolai? Tidak jauh beda penyebabnya dengan yang terjadi pada Dokter Andrei, yakni soal tidak adanya orang-orang dalam hidup mereka yang memiliki pemikiran seperti mereka-rumit, dalam, dan substansial. Hidup tak lagi ada artinya, seolah-olah sang profesor mengeluh demikian, sebab kehidupan semata tentang suatu nonsens bergerak menuju nonsens yang lain, tanpa henti dan tanpa makna khusus, begitu saja dan begitu seterusnya. Tidak ada bedanya mati atau hidup, sembuh atau sakit, berumur pendek atau panjang, terkenal atau terkucil, sukses atau melarat, berilmu atau bodoh-semuanya sama saja, semuanya akan “…ditakdirkan menjadi tanah dan pada akhirnya mendingin bersama kerak bumi.”

Pertanyaan-pertanyaan mengenai kekekalan dan makna keberadaan manusia di dunia menjadi penyebab terbesar keputusasaan tokoh-tokoh dalam cerita-cerita pendek Anton Chekhov. Pada cerita-ceritanya yang lain, seperti misalnya dalam kumpulan Pengakuan, ia lebih banyak protes dan memaki praktik busuk korupsi, kolusi, dan nepotisme yang ia lihat menjadi pemicu rusaknya peradaban Rusia (meski setelah membacanya kita tentu saja tahu hal tersebut tidak cuma berlaku di sana), sedangkan dalam kumpulan Ruang Inap No. 6, sedikit sekali ia bicara mengenai hal-hal tersebut, tetapi ia masuk lebih dalam lagi.

Walaupun terasa depresif, seperti pemikir pada umumnya, Anton Chekhov juga masih memiliki selera humor. Cerita “Bunglon” menampilkan sosok aparat yang berubah-ubah sikapnya atas sesuatu bergantung pada kepentingan hal yang sedang ia tangani, secara implisit menyindir ketidaktegasan dan sifat penjilat; “Karya Seni” tentang benda seni yang dioper dari satu tangan ke tangan lain karena ia terlalu vulgar; “Roman dengan Kontrabas” yang bernuansa roman klasik berkisah tentang pria musisi dan seorang puteri raja yang terjebak dalam situasi konyol, membikin tertawa geli; “Bintara Prishibeyev” tentang aparat yang kaku terhadap hukum dan norma yang membuat dirinya justru diadili. Kisah cinta dalam “Wanita dengan Anjing” terasa seperti roman Rusia umumnya. Sementara “Manusia dalam Kotak” menyinggung keterkungkungan manusia di dalam perangkap tembus pandang yang mereka buat sendiri demi kenyamanan dan jaminan hidup-membahas secara halus namun tajam tentang idealisme di tengah-tengah kebutuhan realitas kehidupan sehari-hari.

Orang-orang yang putus asa dalam cerita-cerita depresif Anton Chekhov adalah orang-orang pintar. Mereka memikirkan teramat dalam akan hal-hal substansial mengenai manusia, kehidupan, kematian, Tuhan, dan seterusnya. Tetapi seringkali terlihat bahwa orang-orang pintar ini tidak bahagia, atau setidak-tidaknya sulit sekali merasa bahagia. Mungkin itu sebabnya kebanyakan orang gila justru terlihat lebih bahagia ketimbang mereka yang waras-orang gila tidak capek-capek memikirkan makna keberadaan manusia, penciptaan, dan tetek-bengeknya. Semakin berpikir, semakin kita tidak bahagia.

Tokoh-tokoh Chekhov yang putus asa menunjukkan kenyataan pahit bahwa situasi dunia telah sebegitu buruknya dan keputusan-keputusan Tuhan sebegitu misteriusnya sehingga jikalau manusia ingin dapat merasakan bahagia, manusia perlu untuk tidak memikirkannya. ***

9 April 2016

Parade Ironi Anton Chekhov



 
Keburukan terbesar manusia bukanlah ketika ia dengan sengaja berbuat jahat, tetapi tatkala ia menjadi sosok yang munafik. Barangkali ini yang coba dikatakan oleh Anton Pavlovich Chekhov, atau lebih dikenal sebagai Anton Chekhov, raja cerita pendek Rusia melalui kisah-kisah yang ia tulis dalam kumpulan cerita Pengakuan. Ia memotret kemunafikan para manusia. Sikap munafik itu, rata-rata, terbit ketika mereka dihadapkan pada satu benda paling keramat di dunia: uang.

Anton Chekhov lahir tahun 1860, sekitar tiga dekade setelah kelahiran Leo Tolstoy, dan empat dekade setelah Fyodor Dostoyevsky-- dua raksasa sastra Rusia, jika tidak dunia. Sepanjang usianya yang terhitung tidak begitu panjang, yakni empat puluh empat tahun, Anton Chekhov menulis tak kurang dari ratusan judul cerita pendek, belasan naskah drama, beberapa novela, dan juga karya nonfiksi. Buku Pengakuan, yang diterjemahkan langsung dari bahasa Rusia oleh almarhum Koesalah Soebagyo Toer adik sastrawan Pramoedya Ananta Toer ini berisi dua puluh lima cerita pendek yang dipilih dari sekian banyak karya Anton Chekhov itu.

Kedua puluh lima cerita pendek Anton Chekhov dalam Pengakuan terbilang berukuran amat pendek, mengingatkan pada cerita-cerita super pendek para penulis Amerika Latin, meski tidak persis sama-terutama soal humor. Jika sebagian cerita penulis Amerika Latin terasa lucu karena sarkasme dan situasi komikal, humor Chekhov terletak pada ironi dan hipokrisi manusia-manusianya.

Hal tersebut seolah telah diperingatkan Chekhov sejak pembukaan. Dalam cerita berjudul “Munafik”, ia menulis, “Jangan percaya kepada Yudas-Yudas, bunglon-bunglon! Di zaman kita ini orang lebih mudah kehilangan kepercayaan daripada sarung tangan tua.” Cerita itu sendiri berkisah tentang seorang pegawai kantor yang sosoknya senantiasa mengiba, pendiam, pemurung, manutan, tetapi suatu hari kepergok atasannya sedang mengomel berkomentar pedas tentang politik dan kebebasan berpendapat.

Ironi yang kental hadir hampir di setiap cerita Anton Chekhov. Salah satu yang sangat pekat ada dalam cerita “Pengakuan”, yang judulnya diambil sebagai buku ini. Cerita itu berkisah tentang seorang kasir yang korup, tetapi menemukan dirinya menjadi pusat perhatian orang-orang yang tadinya tak peduli padanya. Orang-orang mendekatinya karena ia punya banyak uang. Mereka memandang jijik pada si kasir ketika muncul gosip bahwa ia korupsi, tetapi mereka berkata demikian setelah mendapatkan bagian dari hasil korupsi si kasir.

Cerita berjudul “Satu-satunya Cara Berkenaan dengan Proses Organisasi Perkreditan Petersebug” cukup menggelitik. Dalam cerita tersebut seakan-akan Anton Chekhov mencoba memberi solusi atas praktik korupsi. Tokoh utama cerita itu juga seorang kasir. Ia kasir kesepuluh yang diangkat di kantornya setelah sembilan kasir sebelumnya dipecat lantaran ketahuan korupsi. Mencoba mencari akal agar kasir kesepuluh ini tidak korupsi, jejeran atasan organisasinya menaikkan gaji si kasir tiga kali lipat dan memberinya tiket teater, cerutu, sampanye-semua secara cuma-cuma.

Di samping kemunafikan dan korupsi, Chekhov juga menyoroti persoalan praktik suap. “Dalam Pertunjukan Hipnotis” memperlihatkan adegan seorang penonton yang menjadi sukarelawan pesulap. Di atas panggung, ia dihipnotis agar tidur, tapi karena itu bualan belaka, ia tetap terjaga. Lantas, saat memejam, tiba-tiba saja ada seseorang menyelipkan lembaran uang ke tangannya dan seketika itu ia pun tertidur.

Sifat humoris Chekhov terlihat di cerita “Cermin Perot” dan “Pergi”, sekadar menyebut dua dari beberapa yang lucu, jika tidak seluruhnya. Yang pertama disebut berkisah tentang seorang istri yang senang mematut diri di hadapan cermin perot karena cermin itu justru membuat dirinya yang buruk rupa menjadi cantik, sementara yang terakhir tentang seorang istri yang mengomeli praktik korupsi tapi ternyata suaminya mengaku bahwa ia membeli barang-barang si istri menggunakan uang hasil korupsi-si istri pergi, tetapi bukan meninggalkan si suami, melainkan hanya masuk ke kamar.

. . . . . . . . . . . . . . . . . .

Kumpulan cerita Pengakuan diterjemahkan dengan baik oleh Koesalah Soebagyo Toer (alm.). Terdapat beberapa jargon yang terdengar asing, terutama istilah-istilah jabatan dalam pemerintahan pada masa tsar Rusia. Namun, catatan kaki di halaman-halaman tertentu cukup membantu, selain juga penerjemah berusaha mencari padanan langsung dari istilah-istilah tersebut, sehingga tak mengganggu kenyamanan membaca.

Para penulis dapat belajar dari buku ini bagaimana menciptakan karakter yang menarik. Bukan melalui deskripsi, melainkan mengungkap apa yang mereka sembunyikan. “Hidup yang sesungguhnya dan yang paling menarik dari setiap orang adalah yang berlangsung dalam selubung rahasia, seperti dalam selubung malam,” kata Anton Chekhov di salah satu ceritanya. Selain itu, dapat pula belajar bagaimana merangkai dialog yang tidak sekadar percakapan tanpa arti, tetapi mengungkap watak masing-masing karakter dan membuat cerita bergerak maju.

Buku yang bagus memang tidak hanya menyajikan cerita yang bagus dengan isu yang penting, tetapi juga secara tidak langsung memperlihatkan bagaimana cara membuat cerita yang bagus.

. . . . . . . . . . . . . . . . . .

Cerita-cerita pendek Anton Chekhov memanfaatkan situasi untuk mengungkap watak asli karakter-karakternya. Ia tidak mendeskripsikan sifat suatu karakter melalui kata-kata, tetapi memperlihatkan bagaimana karakter tersebut bereaksi pada situasi tertentu. Dalam pada ini adalah kemunafikan dan hipokrisi manusia yang tadinya seperti tak kasatmata, tapi kemudian muncul ke permukaan tatkala dihadapkan pada harta dan kemungkinan-kemungkinan yang menguntungkan posisinya.

Dalam Pengakuan, Realisme Chekhov dikemas bagaikan fragmen-fragmen, dan jika seluruh fragmen tersebut disusun menjadi satu cerita panjang, maka akan terbentuklah secara lebih lengkap keadaan masyarakat Rusia jelang abad keduapuluh yang kala itu dipandang Chekhov sedang membusuk. Kemunafikan, praktik suap dan penjilatan, serta korupsi di mana-mana.

Korupsi, kolusi, nepotisme-- trisula keburukan manusia ini, ditambah dengan hipokrisi dan sosok-sosok “penjilat” demi posisi, harta, dan kekuasaan, menjadi serangkaian pertunjukan dalam parade ironi yang menyedihkan. Melalui cerita-ceritanya yang amat ringkas, Anton Chekhov dengan sukses menyajikan potret kebusukan dan kemuraman manusia, sambil barangkali diam-diam berharap agar pada akhirnya manusia sadar bahwa satu-satunya jalan keluar dari semua itu hanyalah melakukan perubahan radikal atas mentalitas yang bobrok dan juga  mempertajam nurani.

Dibanding para pendahulunya seperti Tolstoy dan Dostoyevsky, Chekhov lebih humoris, meski tentu saja dengan gayanya sendiri. Tetapi seperti dua raksasa sastra Rusia pendahulunya itu, cerita-cerita Chekhov juga bisa dibilang abadi.

Cerita-cerita dalam Pengakuan ditulis Chekhov tak kurang dari satu abad lalu. Kendati cerita-cerita tersebut telah berumur satu abad, mereka tetap relevan pada masa kini. Kemunafikan, aksi manipulasi, praktik suap dan korupsi, tak hanya terjadi di abad kesembilan belas atau kedua puluh, tetapi juga sekarang, di zaman digital abad duapuluh satu.

Begitulah salah satu, jika tidak satu-satunya, ciri cerita yang bagus. Selain memiliki nilai universal dan tingkat relevansi tinggi yang membuatnya dapat menjejak di belahan dunia bagian mana pun, kapanpun ia dibaca, cerita-cerita bagus mengandung urgensi yang takkan pudar ditelan zaman. Ia relevan ketika dibaca pada masanya, dan ia tetap relevan saat dibaca seratus, dua ratus, bahkan mungkin tiga ratus tahun kemudian. ***

5 April 2016

Cat’s Cradle, Kurt Vonnegut




Novel ini bercerita tentang seorang penulis bernama Jonah. Pada bagian pembuka ia mengatakan kepada kita bahwa ia sedang mengerjakan sebuah buku. Ia juga bilang ia beragama Kristen, atau lebih tepat: pernah beragama Kristen. Ia kini menganut kepercayaan “Bokononisme”. Bokononisme diciptakan oleh seseorang bernama Bokonon dan penganut Bokononisme disebut Bokonis. Cat’s Cradle bercerita tentang bagaimana perjalanan si penulis bertemu orang-orang yang menjadi narasumber untuk buku yang sedang ia tulis: “The Day the World Ended”, dan kemudian membuatnya menjadi penganut Bokononism, dan menyaksikan akhir dunia.

Sebelum membaca novel ini, saya membaca novel Vonnegut yang lain, Gempa Waktu. Novel itu benar-benar lucu. Sumpah. Saya nggak menghitung berapa kali tertawa sepanjang membacanya. Yang saya tahu, menjelang selesai, saya sampai buru-buru keluar dari kamar untuk muntah-saya bahkan nggak sempat ke toilet. Separah itu, memang. Gempa Waktu mirip otobiografi parodi, karena di dalamnya Kurt Vonnegut hadir sebagai dirinya sendiri. Kilgore Trout, tokoh utama novel itu, merupakan alter-ego Vonnegut, dan melalui Trout lah Vonnegut melontarkan lawakan-lawakan satir terhadap perang dan kehidupan manusia.

Ketika kelar membaca Gempa Waktu saya baru sadar ternyata saya menyimpan buku Vonnegut yang lain di rak. Judulnya Cat’s Cradle. Langsung saya ambil. Orang-orang semakin hari semakin serius, termasuk saya sendiri, karena itu saya haus bacaan yang bikin ngakak.

Kurt Vonnegut adalah pilihan tepat.

Seperti tadi saya katakan di awal tulisan ini, Cat’s Cradle dibuka dengan narator utama yang memperkenalkan dirinya sendiri. Ia bilang namanya Jonah (saya langsung mengingat-ingat kisah Nabi Yunus). Bagian penting dari pembuka ini adalah saat Jonah memberitahu bahwa ia seorang Kristen, tadinya, karena ia kini beragama Bokononisme-ia seorang Bokononis. Juga, keterangan bahwa ia sedang menulis sebuah buku berjudul “The Day the World Ended” yang harusnya berisi tentang hal-hal apa yang orang-orang penting Amerika lakukan pada hari ketika bom atom pertama dijatuhkan di Hiroshima, Jepang (tentu saja ini adalah sebuah sindiran).

Demi mengumpulkan materi untuk bukunya itu, Jonah atau John mengontak narasumbernya. Mereka adalah tiga anak kandung Dr. Felix Hoenikker, salah satu ilmuwan yang menciptakan bom atom. Dengan satu dan lain cara, si penulis berhasil berkomunikasi bahkan bertemu Frank Hoenikker, Angela Hoenikker, dan Newt Hoenikker-anak-anak Dr. Felix Hoenikker-untuk salah satunya mencari tahu apa yang ayah mereka, “bapak” bom atom itu, lakukan ketika bom atom tersebut dijatuhkan di Hiroshima.

Anak-anaknya bilang, pada hari bom atom dijatuhkan, ayah mereka duduk di kursi di rumah dan bermain karet gelang. Cat’s Cradle adalah nama permainan karet gelang itu. Begini bentuknya:



Perjalanan si penulis mengumpulkan materi bukunya membawanya ke sebuah pulau bernama San Lorenzo. Ia akan mewawancarai narasumber terakhir, Felix Hoenikker. Kelak di pulau itu ia akan menemui kepercayaan baru, Bokononisme, dan sebagaimana yang terjadi-sebagaimana yang semestinya terjadi,” kata Bokonon-ia akan menjadi Bokononis.

Poin gentingnya: Dalam perjalanannya mengumpulkan materi untuk menulis, ia mewawancarai seorang rekan kerja Dr. Felix Hoenikker, dan menemukan fakta mengejutkan bahwa tiga orang anak Dr. Felix yakni Frank, Angela, dan Newt, membawa masing-masing bersama mereka kepingan sebuah benda kimia yang disebut ice-nine, hasil temuan ayah mereka, yang dapat membekukan apa saja termasuk lautan beserta isinya, dan dengan demikian dapat membuat dunia berakhir. The Day the World Ended.


. . . . . . . . . . . . . . . . . .


Subjek utama lelucon Vonnegut adalah kebodohan manusia dan tindakan Tuhan menciptakan mereka. Kebodohan manusia yang dirujuk Vonnegut salah satunya adalah peperangan. Lewat lelucon-lelucon satirnya ia memperlihatkan betapa konyolnya manusia yang masih mencoba memahami kenapa dunia ini dibuat, kenapa Tuhan menciptakan mereka, dan apa makna dari semuanya. Tuhan kesepian, kata Vonnegut dalam Cat’s Cradle, kemudian Dia “membangunkan lumpur”-lumpur adalah manusia-untuk menyaksikan kebesarannya, dan ketika lumpur bertanya “Apa makna dari semua ini?” Tuhan menjawab: “Maknanya? Hmm, maknanya… Itu tugasmu untuk memikirkannya,” lalu Tuhan ngeloyor, mungkin sambil siul-siul.

Hal menarik dari Cat’s Cradle adalah bagaimana Vonnegut menyampaikan pandangan personalnya terhadap hal-hal faktual melalui kisah fiktif, termasuk objek-objek di dalamnya (agama Bokononisme, materi kimiawi ice-nine, tokoh Bokonon pencipta agama Bokononisme, dan seterusnya-tidak eksis di dunia nyata) dan dengan demikian bukunya menjadi menarik untuk dibaca.

Ini mengingatkan saya kembali, lagi dan lagi, bahwa dalam menulis bagaimana cara menyampaikan sesuatu lebih penting dari apa yang ingin disampaikan. Tentu saja informasi tentang Perang Dunia atau peristiwa jatuhnya bom atom di Hiroshima atau kediktatoran Hitler atau komunisme Uni Soviet Rusia dapat dengan mudah didapatkan di Internet atau di sumber-sumber lain, tapi hanya memiliki materi soal itu apakah seseorang sudah pasti dapat menulis novel yang penting dan berbobot, lebih-lebih lagi, menyenangkan untuk dibaca?

Jika Vonnegut tak memiliki pandangan uniknya terhadap peristiwa-peristiwa besar di dunia, dan tak punya kemampuan mengarang yang baik, pasti buku yang ia tulis akan jadi tak lebih dari sekumpulan informasi yang saat ini bisa didapat di mana saja dengan mudah oleh siapapun. Cat’s Cradle bagaimanapun adalah novel, seperti yang diniatkan oleh penulisnya, sehingga ia menuntut kehadiran sebuah cerita, dan demi membuatnya menarik hingga dapat dibaca sampai selesai, cerita tersebut mesti dituturkan oleh penulis dengan kemampuan bercerita yang mumpuni.

Novel adalah kisah karangan. Ia menyampaikan kebohongan-kebohongan (fiktif) demi mengungkap kebenaran. Karena novel adalah produk yang personal, tentu saja kebenaran yang hendak diungkap pun merupakan kebenaran subyektif, berdasarkan pandangan personal penulisnya sendiri. Ini yang membuat sebuah novel menjadi unik, sekaligus, sekali lagi, menarik untuk dibaca. Jangan lupakan juga bahwa bagaimana cara menyampaikan pandangan personal tersebut dalam hal ini lebih penting daripada pandangan itu sendiri.


. . . . . . . . . . . . . . . . . .


Kurt Vonnegut menciptakan agama baru demi menyampaikan pandangan personal dan kebenaran subyektifnya terhadap kekacauan yang terjadi di dunia, mulai dari penciptaan manusia hingga peperangan. Ia mengarang peristiwa yang tak pernah terjadi-tentu saja dengan logika kuat-untuk menyindir sosok Hitler, Mussolini, Mao, yang oleh salah satu tokoh dalam ceritanya disebut sebagai “para musuh kebebasan”. Semua ini dilakukan dengan intensi membuat lelucon atas mereka.

Cat’s Cradle sendiri, saya kira, menjadi alegori terhadap pencarian manusia atas makna diciptakannya mereka untuk hidup di dunia. Ini tentu saja satu lelucon lain yang brilian dari Vonnegut. Lelucon ini dituturkan Newt Hoenikker kepada Jonah ketika ia bercerita tentang apa yang ayahnya-“bapak bom atom”- lakukan pada hari bom atom dijatuhkan di Hiroshima. Ayahnya bermain karet gelang, membentuk pola tertentu yang secara umum dikenal sebagai ‘cat’s cradle’ (ayunan kucing), dan dengan menyengir menunjukkannya kepada Newt.

Tetapi Newt kecil tak melihat ada kucing maupun ayunan pada pola karet gelang itu.


“See the cat? See the cradle?”