20 Mei 2017

Selamat Datang

Buku terbaru Bernard Batubara

Bisikan Busuk adalah blog pribadi Bernard Batubara (Bara): penulis penuh-waktu, yang lahir 9 Juli 1989 di Pontianak, Kalimantan Barat; kini tinggal di Yogyakarta. Bara belajar menulis puisi, cerita pendek, dan novel sejak 2007. Buku-bukunya yang telah terbit: Angsa-Angsa Ketapang (2010), Radio Galau FM (2011), Kata Hati (2012), Milana (2013), Cinta. (2013), Surat untuk Ruth (2013), Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri (2014), dan Jika Aku Milikmu (2015). Radio Galau FM dan Kata Hati telah diadaptasi ke layar lebar. Buku terbarunya terbit Agustus 2016, kumpulan cerita Metafora Padma.

29 Agustus 2016

The Corpse Exhibition, Hassan Blasim




Saya pernah melihat prosesi leher seseorang digorok sampai putus. Waktu itu saya sekolah tahun kedua SMA. Suatu siang, sepupu saya yang gemar menonton dan mengoleksi video-video brutal dan sadis kategori not safe for work, memberi saya satu video. Saya pikir video apa. Baru beberapa detik berjalan, saya sudah menebak ke mana arah cerita gambarnya. Saya bergidik dan jijik, tetapi rasa penasaran saya lebih besar. Saya mengendalikan diri dan berhasil menyaksikan video itu hingga selesai.

Sampai hari ini saya masih ingat detail dari video sadis tersebut. Pada tahun-tahun yang sama, saya melihat gambar-gambar lain berisikan hal serupa. Kali ini bukan video, tetapi foto-foto. Hasil puncak kerusuhan antaretnis di masa itu. Salah satu foto yang paling melekat dalam memori saya adalah gambar yang memperlihatkan tiga hingga empat kepala manusia, masing-masing diletakkan dan disusun di atas drum-drum kosong, seolah-olah mereka benda pameran. Dan saya kira memang pelakunya ketika itu sedang memamerkan hasil buruan mereka.

Saya membaca The Corpse Exhibition dan tidak bisa menghindar dari ingatan tentang kepala-kepala terpenggal yang disusun itu. Buku ini sebuah kumpulan cerita pendek. Ada empat belas cerita di dalamnya. Cerita pertama, “The Corpse Exhibition”, langsung berhasil menarik perhatian saya dan membuat saya menyukai keseluruhan bukunya meskipun belum membaca cerita-cerita lain (efek baik dari cerita pembuka yang bagus). Berkisah tentang agensi pembunuh yang misi utamanya adalah merancang korban-korban mereka agar tampak seperti benda seni. Mereka memajang mayat-mayat hasil penugasan di sudut-sudut kota dan membentuknya sedemikian rupa supaya mayat-mayat itu jadi terkesan artsy, layaknya benda-benda dalam pameran seni. Namun, kata seorang yang sepertinya supervisor di agensi itu, “…we are not terrorists whose aim is to bring down as many victims as possible in order to intimidate others, nor even crazy killers working for the sake of money.” Bahkan, “We have nothing to do with the fanatical Islamist groups or the intelligence agency of some nefarious government or any of that kind of nonsense.” Kocak dan ironis sekali.

Kocak dan ironis adalah dua kata yang bisa menyimpulkan seluruh cerita dalam The Corpse Exhibition. Dua kata lain: brutal dan vulgar. Brutal karena banyak adegan penembakan dan pembunuhan. Vulgar karena adegan-adegan tersebut sama sekali tidak disamarkan atau dikemas dalam bentuk kemasan, apalagi metafora-metafora. Realisme Blasim sangat mengejutkan karena ia disajikan apa adanya. Sama sekali tak ada niat untuk mengaburkannya dengan alasan apapun. Kalau dahi orang bolong kena peluru, ya dikasih lihat bolongannya seperti apa. Kalau ada orang mati ditusuk, ya digambarkan bagaimana darahnya muncrat dan menggenang di jalan. Tetapi ada dua kata berikutnya: magis dan mistis. Ini yang membuat kumcer Hassan Blasim semakin menarik. Selain anak kecil yang diajari abangnya cara membunuh orang, ada pula sekelompok sahabat yang bisa menghilangkan pisau dan memunculkannya kembali.

Dua cerita yang menjadi favorit saya dalam buku ini terletak di pembuka dan penutup. Penutupnya, cerita berjudul “The Nightmares of Carlos Fuentes”, sempat bikin saya agak terkecoh karena mengira akan bercerita tentang orang Meksiko. Ternyata protagonisnya-seperti hampir di semua cerita-adalah laki-laki arab yang mengubah identitasnya demi meninggalkan negara dan masa lalu yang kelam. Carlos Fuentes adalah Salim Abdul Husein, bekerja sebagai petugas pembersihan sisa-sisa ledakan perang yang bermigrasi ke Eropa dan mati di sana setelah dikejar-kejar mimpi buruk. Dalam mimpi buruknya, Carlos Fuentes kehilangan kemampuan berbahasa Belanda-yang sudah ia pelajari lama demi menjadi orang Eropa-dan tiba-tiba seluruh atribut identitasnya sebagai orang Arab muncul kembali. Ia kemudian berusaha untuk bermimpi dan memusnahkan segala hal yang berasal dari masa lalunya; ke-arab-annya. Dalam mimpinya secara mengejutkan ia bertemu Salim Abdul Husein, dirinya sendiri, dan cerita pun berakhir dengan tragis.

Kalau pernah baca cerpen-cerpennya Etgar Keret, membaca Hassan Blasim akan memberi sensasi serupa, walau tidak persis sama. Di cerpen-cerpen Etgar Keret, humornya lebih terasa dan unsur fantasinya relatif lebih kentara. Hassan Blasim, meskipun cerpen-cerpennya juga terasa kocak, perasaan yang lebih menempel di hati adalah sejenis kegetiran dan kepedihan. Bukan cuma karena Blasim memilih menuturkan kisah-kisah dari belakang layar peperangan itu dengan cara yang vulgar alias sebagaimana adanya, tetapi juga karena kesedihan yang dipendam tokoh-tokohnya begitu dalam dan terlalu pekat untuk ditertawai. Yang jelas, kalau pengin belajar jadi cerpenis yang bagus, Etgar Keret dan Hassan Blasim adalah dua penulis yang patut dijadikan standar (saya kira membaca karya keduanya pada waktu bersamaan juga layak dicoba, mungkin bakal memberi sensasi yang menarik mengingat yang satu memberi cerita-cerita perang dari sudut pandang Yahudi Israel dan satunya lagi menyajikannya dari kacamata orang Arab-Islam Irak).

Cerita tentang sekawanan berkemampuan sejenis sihir yang bisa melenyapkan pisau dan memunculkannya kembali, berjudul “A Thousand and One Knives” (judulnya pasti bikin teringat pada dongeng seribu satu malam, pelafalan knives juga mirip-mirip nights), juga bagian yang menarik dari buku ini. Sekawanan itu terdiri dari empat orang, dengan tiga-tiga laki yang hanya bisa menghilangkan pisau tetapi tidak bisa memunculkannya kembali, dan satu perempuan yang bisa memunculkanya. Cara mereka melakukannya: menatap pisau selama 30 detik dan menangis, tanpa berkedip. Maka poof! hilanglah pisau itu, atau poof! muncul kembali. Paragraf yang saya suka dari cerpen ini: “The days passed slowly and sadly, like the miserable face of the country. The wars and the violence were like a photocopier churning out copies, and we all wore the same face, a face shaped by pain and torment…”

Satu lagi dari buku ini yang saya kira amat relevan untuk disebut. Pada sebuah cerita, Blasim melalui tokohnya berkata bahwa “manusia menggunakan Tuhan untuk memenggal kepala orang lain”. Ouch, kalau saya jadi Tuhan, saya enggak tahu harus bereaksi gimana. Apakah mengucurkan ke dunia manusia karunia yang lebih besar agar mereka bersyukur dan menyadari betapa pengasih dan penyayangnya saya, atau membiarkan mereka melanjutkan misi mulianya demi menegakkan nama saya dengan cara meledakkan tubuh anak-anak kecil dan menghancurkan hidup orang-orang baik?


Sepertinya itu tugas yang terlalu berat, jadi saya perlu mencari pendapat lain. Kalau kamu, seandainya jadi Tuhan, apa yang akan kamu lakukan? 

The Hour of The Star, Clarice Lispector




Sebagai anak kecil, saya selalu berpikiran baik tentang Tuhan. Artinya, di mata saya, Tuhan selalu bersikap baik terhadap manusia ciptaannya. Tidak mungkin Tuhan jahat, apalagi kejam dan sadis. Rezeki manusia, itu Tuhan yang kasih karena Dia baik. Manusia kejatuhan sial, itu bukan ulah Tuhan. Mungkin hasil usilnya setan atau iblis. Manusia dapat nasib buruk lalu mati konyol? Itu bukan Tuhan yang bikin, tetapi mungkin manusia sudah tergoda setan atau iblis sampai berjalan di jalan yang bengkok-bengkok (tidak lurus) sehingga jeblos ke lubang keterpurukan. Adalah tidak mungkin bagi nalar saya sebagai anak kecil, Tuhan berbuat jahat. Tidak ada hal lain yang masuk akal bagi saya selain Tuhan = baik.

Tetapi, semakin beranjak dewasa, secara perlahan dan pasti saya justru memiliki kecenderungan memandang Tuhan sebagai entitas yang sebenarnya rada-rada negatif juga. Akarnya adalah slogan “Semua terjadi atas kehendak-Nya” yang sudah sering saya dengar sejak bocah sampai sekarang. Dulu saya enggak pernah mencerna benar makna dari kalimat itu, tetapi ketika otak saya sudah cukup bisa disuruh mikir, ternyata frasa tersebut terdengar ganjil. Jika semua terjadi atas kehendak Tuhan, berarti bocah-bocah tewas dihantam bom di Aleppo itu atas kehendak Tuhan? Mereka tidak sempat hidup cukup panjang untuk berbahagia dan membahagiakan orangtuanya itu atas kehendak Tuhan? Bayi mati dibunuh orangtuanya sendiri, anak gadis mati diperkosa bapaknya sendiri, istri dibacok sampai tewas sama suaminya sendiri, itu semua terjadi atas kehendak Tuhan juga?

Ajegile, kejam betul Tuhan ini.

Tapi apa boleh buat, namanya saja Yang Maha Kuasa. Suka-suka Dia lah. Dia yang punya power. Kita manusia bisa apa. Paling-paling cuma bisa mencari hikmah dari segala yang terjadi dan berusaha semampu mungkin menolong satu sama lain. Pada Tuhan yang kejam itulah kita juga tetap akan berdoa, berpengharapan, dan menyandarkan sepenuhnya hidup-mati kita. Pada Tuhan yang mengizinkan peperangan dan pemusnahan manusia itulah kita juga tetap akan memohon keselamatan, masa depan yang baik, dan dunia yang lebih indah buat anak-cucu kita. Apakah Tuhan di sana (atau di sini, atau di mana saja) mendengarkan doa-doa itu dan mengabulkannya? Dirasa-rasa sendiri saja.

Kenapa saya merepet tentang Tuhan, menuduhnya kejam pula? Karena saya baru selesai membaca novelnya Clarice Lispector, The Hour of the Star. Dalam novel ini protagonisnya bikin iba. Lebih iba karena yang bersangkutan enggak merasa dirinya perlu dikasihani. Dia enggak merasa ada yang salah atau kurang dalam hidupnya. Padahal kalau kita baca ceritanya, dengan nalar kita sebagai manusia yang hidup “normal”, kita akan segera saja tahu bahwa hidup Macabéa, seorang gadis yang jadi protagonis novel ini, punya nasib yang betul-betul bikin sedih dan sangat layak dikasihani.

Sedikit informasi tentang penulisnya. Clarice Lispector adalah penulis asal Brasil. Ia sudah meninggal pada tahun 1977 di Rio de Janeiro. Lispector lahir di Ukraina dan langsung dibawa ke Brasil ketika ia masih bayi. The Hour of the Star ditulis dalam bahasa Portugis (saya baca terjemahan bahasa Inggris Benjamin Moser, terbitan New Directions), termasuk satu dari beberapa karya terakhirnya. Buku yang diterbitkan posthumous ini, menurut beberapa reviu, merupakan salah satu karya terbaik Lispector. Buku-buku Lispector mulai banyak diterjemahkan ulang ke bahasa Inggris ketika Benjamin Moser menulis biografi tentang dia dalam buku berjudul Why This World: A Biography of Clarice Lispector.

Kembali ke The Hour of the Star. Ini adalah novel tipis (belakangan saya lebih suka menyebut “novel tipis” ketimbang “novela”/“novelet”) setebal 77 halaman yang bercerita tentang nasib buruk seorang gadis baik dan kekejaman Tuhan. Protagonisnya, tadi sudah saya sebut, bernama Macabéa. Macabéa gadis belia yang tinggal di kawasan miskin di Rio de Janeiro. Ia bekerja sebagai tukang ketik dan meski miskin, ia tidak merasa hidupnya kekurangan. Macabéa adalah gadis lugu yang bukan saja tidak mengetahui tentang banyak hal di dunia luar, tetapi juga tidak mengetahui bahwa dirinya sendiri penuh kekurangan: kurang harta, kurang cinta, dan kurang (bahkan sama sekali tidak pernah memiliki) harapan.

Alur ceritanya tidak begitu panjang. Sangat pendek malah. Dibuka oleh narator serba tahu (omniscience), kita mulai memasuki kehidupan Macabéa. Suara narator mendominasi keseluruhan isi novel. Kemungkinan besar, yang menjadi narator adalah Clarice Lispector sendiri, karena pada beberapa bagian terdapat petunjuk bahwa si narator adalah seseorang yang menuliskan kisah ini (kisah di dalam The Hour of the Star). Tidak hanya menceritakan tokoh-tokohnya, tetapi si narator pun memiliki karakter, dan dari narasinya kita bisa mengetahui kondisi psikologis narator serta bagaimana ia berempati pada protagonisnya, si gadis lugu Macabéa.

Lalu, suatu hari Macabéa jatuh cinta (tetapi sebenarnya dia tidak benar-benar mengerti jatuh cinta itu bagaimana) pada seorang cowok machismo, seorang gali bernama Olímpico. Hubungan mereka terlihat seperti cinta bertepuk sebelah tangan, karena hanya Macabéa yang menunjukkan afeksinya buat Olímpico, sementara si cowok terus-terusan mengoceh tentang ambisinya (ia akan jadi orang paling disegani sedunia, punya pengikut dan berkuasa) dan kerap berkata kasar ke Macabéa. Olímpico juga sering jengkel pada Macabéa karena di matanya Macabéa seperti gadis bodoh dan aneh. Tetapi sebetulnya Macabéa hanya punya logika yang agak unik karena wawasan dan kesadarannya sempit. Pada beberapa adegan malah terlihat Olímpico yang tidak begitu cerdas dan Macabéa punya nalar yang lebih kritis (ia banyak bertanya tentang istilah-istilah asing yang ia dengar dari stasiun radio).

Hubungan Macabéa tidak berjalan lancar karena Olímpico lebih naksir teman kerja Macabéa, cewek bernama Glória yang bertubuh subur dan semlohay. Buat Olímpico, cewek kayak Glória ini yang bisa memberinya keturunan kualitas wahid, bukan gadis kurus tak terurus seperti Macabéa. Macabéa pun patah hati (tetapi ia tertawa saat diputusin Olímpico). Glória, didorong rasa bersalah, merekomendasikan kepada Macabéa seorang peramal yang bisa membuatnya punya nasib mujur. Macabéa pergi ke peramal itu dan memang akhirnya peramal bilang dirinya akan bernasib baik. “Setelah keluar dari tendaku, seorang cowok tampan akan jatuh cinta padamu, dan kau akan berbahagia dengannya.”

Macabéa merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan seumur hidupnya: secercah harapan. Gelembung kesadarannya bocor tipis dan angin dunia luar yang hangat masuk ke dalam kepalanya dan membuatnya tahu bahwa ada hal lebih di luar kehidupannya selama ini. Harapan.

Tetapi ketika melangkahkan kaki keluar tenda peramal, Macabéa malah ditabrak mobil. Tewas di tempat.

Selesai perkara. Selesai.


Tidakkah tadi sudah saya katakan bahwa novel bagus ini bercerita tentang gadis bernasib buruk dan Tuhan yang kejam?

Kiat Sukses Hancur Lebur, Martin Suryajaya




Selain menuntut penulis membuat novel yang penuh kebaruan-baik itu dari segi tema, cara bercerita, dan kawan-kawannya-saya kira tuntutan serupa juga tidak salah jika disodorkan kepada pembaca. Sebagaimana penulis yang baik terus berinovasi dalam menulis, pembaca yang baik juga sekiranya bersedia memperbarui cara pembacaan. Hal tersebut yang melintas dalam pikiran saya, setiap kali membaca novel yang rada aneh, atau dalam bahasa yang sedikit lebih keren, “eksperimental”. Salah satu dari novel-novel aneh atau “eksperimental” itu adalah sebuah novel Indonesia baru yang saya baca beberapa hari lalu, Kiat Sukses Hancur Lebur, karya debut Martin Suryajaya.

Terus terang saya menghadapi kesulitan yang hakiki ketika hendak mengulas novel ini. Bukan karena ia sulit dimengerti, tetapi karena Kiat Sukses Hancur Lebur ditulis dalam bentuk yang unik dan tidak konvensional. Novel ini ditulis selayaknya sebuah buku nonfiksi bertema pengembangan diri atau self-help. Di dalamnya terdapat panduan melakukan macam-macam hal, di antaranya adalah bagaimana mempelajari manajemen bisnis dan kiat-kiat budidaya lele.

Membaca judul-judul bab dalam daftar isinya: Menjadi Pribadi Sukses Berkepala Tiga, Tujuh Kurcaci Manajemen Bisnis, Pemrograman Komputer Menggunakan Sepuluh jari-seketika kita pembaca dibuat ragu apakah sebenarnya kita ini sedang membaca novel atau buku nonfiksi bertema pengembangan diri. Namun, karena penulisnya menyebut buku ini “novel”-setidaknya terlihat dari label pada sampul depan-maka baik, marilah kita hadapi buku ini sebagai novel.

Tetapi, agak mustahil menghadapi Kiat Sukses Hancur Lebur sebagai novel, itu sebabnya di awal tulisan ini saya berkata bahwa seorang pembaca mesti terus mengembangkan cara pembacaannya. Sebagai novel, buku Martin Suryajaya menyeleweng dari hampir seluruh “pakem” elemen sebuah karya fiksi. Tidak ada plot, kehadiran tokoh-tokoh antagonis maupun pendukung, latar tempat dan waktu, adegan, dan konflik.

Satu-satunya penggalan “cerita” yang bisa dipegang untuk menghadapi Kiat Sukses Hancur Lebur sebagai novel adalah nukilan yang tercantum pada sampul belakang buku ini, yang mengatakan bahwa seorang editor menerima kiriman manuskrip novel di tahun 2019 dari seorang penulis bernama Anto Labil, S. Fil (iya, disertai gelar akademis) yang merupakan anggota komunitas sastra radikal di Semarang. Disampaikan pula bahwa manuskrip novel tersebut ditulis dengan gaya seorang pemabuk yang membuat sang editor merasa “tidak pernah cukup meneguk zat asam saat menyuntingnya”.

Akan tetapi, ketika beranjak masuk ke dalam novelnya, kita sama sekali tidak akan menemukan cerita. Tidak ada plot. Tidak ada konflik. Dialog pun amat minim. Hanya ada narasi berupa celotehan narator (tidak dijelaskan apakah Anto Labil, S.Fil sendiri yang menjadi narator ataukah ada seorang protagonis rekaan lain yang berperan sebagai narator) yang menuturkan beragam hal, mulai dari “Tips Sukses Menjadi Pribadi Berkepala Tiga”, “Kiat-kiat Bunuh Diri di Apartemen”, hingga “Resep Sukses Tes Calon Pegawai Negeri Sipil”.

Muatan bukunya sendiri juga bisa dibilang jauh dari bentuk novel yang pernah kita lihat selama ini. Alih-alih sebuah cerita panjang yang utuh, Kiat Sukses Hancur Lebur justru menampilkan tabel, grafik, dan gambar-gambar pendukung yang lumrahnya terdapat pada karya ilmiah seperti jurnal atau skripsi. Tetapi, tabel, grafik, dan gambar-gambar itu pun tidak tampil dengan wajar, dan malah memberi keterangan yang, jika dilihat sekilas, terkesan ngawur.

Namun, di balik kesan ngawur itu, sesungguhnya Kiat Sukses Hancur Lebur dapat dibaca sebagai cara Martin Suryajaya melayangkan kritik dan ejekennya kepada banyak hal. Ia mengejek fungsi dan kinerja pegawai negeri sipil, manfaat etika bagi kehidupan manusia, dan lain-lain banyak lagi yang sebaiknya kamu cari sendiri saja lah.

Memang sedikit membingungkan menghadapi buku fiksi Martin Suryajaya jika kita tidak memperbarui cara membaca novel. Di sisi lain, saya juga tertarik ingin mengetahui alasan mengapa Martin memberi label “novel” di buku yang jelas memiliki susunan dan bentuk konten lebih mirip karya nonfiksi ilmiah alih-alih sebuah buku fiksi. Apakah itu demi berlindung di balik tameng istimewa fiksi yang mengizinkannya tidak bertanggungjawab atas keabsahan atau keakuratan data dalam tulisannya, atau Martin sungguh-sungguh sedang ingin membuat novel bentuk baru dengan mendobrak aturan-aturan naratif sebuah cerita?

Saya kira, Kiat Sukses Hancur Lebur akan lebih mudah dihadapi pembaca awam jika diberi label “novel komedi”, karena isinya memang lucu dan bertendensi ke arah sana: melucu. Tetapi memang bakal kurang asyik kalau belum-belum penulisnya sudah melabeli sendiri karyanya sebagai novel komedi. Seandainya enggak lucu, gimana? Apa dia mau tanggung jawab? Mungkin itu alasan Martin Suryajaya, meskipun menulis sesuatu yang teramat lucu, tidak cukup gegabah untuk mencantumkan label novel komedi pada bukunya.

Terus terang rada-rada sulit bikin ulasan tentang buku ini. Saya harus membaca ulang bukunya dengan mengambil halaman secara acak demi mencari kira-kira poin apalagi yang mesti saya tulis. Intinya novel Martin Suryajaya ini menurut saya adalah novel yang merusak semuanya: Format karya fiksi, bentuk cerita, bahkan-ini yang paling mendasar dan krusial-logika. Jadi saya baca buku Martin dengan kenikmatan rasa terhibur karena tuturan naratornya yang jenaka. Tetapi apa sebenarnya isi buku ini? Tak tahulah saya.

Tapi buat saya enggak penting tahu apa isi dan maksud buku ini. Buat saya, ya. Kalau kamu tetap butuh mencari makna, maksud, dan pesan moral dari buku ini, ya sudah silakan cari sendiri. Saya tetap menikmati Kiat Sukses Hancur Lebur tanpa paham benar apa yang pengin dibicarakan penulisnya (baik itu Anto Labil, S. Fil atau Martin Suryajaya-yang kayaknya juga S. Fil). Novel ini sumpah minta ampun lucunya. Itu saja yang akan saya katakan ke orang-orang jika mereka bertanya apa bagusnya novel ini. Kalau mereka melanjutkan dengan pertanyaan: “Memang bukunya tentang apa?” atau “Ceritanya bagaimana?” saya langsung angkat pundak dan geleng-geleng. “Baca sendiri deh,” paling-paling saya bakal bilang begitu.


Selain ketawa yang enggak kelar-kelar sepanjang membaca Kiat Sukses Hancur Lebur, setidaknya ada satu hal penting (hore, akhirnya!) yang saya peroleh dari membaca novel perdana Martin Suryajaya ini. Dengan jitu dan melalui cara yang menyenangkan, Martin Suryajaya memperlihatkan kepada saya bahwa cara terbaik mengkritik sesuatu (atau seseorang) adalah dengan membuat lelucon tentangnya. Jadi, lain kali kamu membenci sesuatu (atau seseorang) tidak perlu teriak marah-marah sampai urat leher putus, cukup merancang anekdot atau cerita saja dan jadikan dia tokoh bernasib menyedihkan. ***

24 Agustus 2016

Beli Metafora Padma



Buku terbaru saya, Metafora Padma, sudah terbit sejak 15 Agustus 2016. Saat ini sudah tersebar ke toko-toko buku di 25 kota di Indonesia: Gramedia, Toga Mas, Jendela, dan toko-toko buku lain.

Bagi yang ingin memiliki buku ini, selain dengan mendatangi toko-toko buku tersebut, juga bisa membelinya di toko-toko buku daring. Kelebihan membeli buku di toko buku daring adalah, kamu tidak perlu repot-repot pergi ke toko buku, buku langsung diantar ke alamat, dan biasanya diberi harga diskon. Tentu saja ada ongkos kirim yang mesti ditanggung pembeli.

Berikut adalah daftar toko buku daring yang menyediakan Metafora Padma. 

  • Twitter: @kedaiboekoe (085891444731), @katalisbooks (085793042909), @hematbuku20 (087781853710)
  • Instagram: @demabuku (085881449998), @warnabuku (087882023533), @yukbelibukuori (087853358866), @goarbuku (081288456447), @buku_plus (089628519266)
  • Web: www,bukabuku.com, www.bukubukularis,com

Hingga hari ini, Metafora Padma sudah tersebar hampir merata di seluruh Indonesia, kecuali beberapa kota di Sulawesi dan Indonesia Bagian Timur. Jika ada yang memiliki informasi di kotanya, mohon beri tahu saya, agar pembaca lain dapat terbantu dan bisa menemukan Metafora Padma.

Terima kasih.


The Tunnel, Ernesto Sábato



Semenjak dulu sempat membaca sebuah novel tipis karangan Juan Rulfo, Pedro Páramo, dan sebuah kumpulan cerita sangat pendek antologi penulis Amerika Latin terjemahan bahasa Indonesia oleh Ronny Agustinus, Matinya Burung-Burung (sayang sekali penerbitnya gulung tikar, padahal menurut saya terbitannya bagus-bagus), saya jadi punya ketertarikan khusus terhadap penulis-penulis Amerika Latin. Salah satu yang membuat saya tertarik adalah kebanyakan mereka punya selera humor tinggi (walau barangkali masih kalah sedikit dari Kurt Vonnegut).

Salah satu penulis Amerika Latin yang ada di dalam daftar pencarian saya adalah Ernesto Sábato, bersama Enrique Villa-Matas dan Cesar Aria-dua terakhir belum saya dapatkan bukunya. Buku terakhir dari penulis Amerika Latin yang saya baca, kalau tidak salah ingat, In Praise of the Stepmother, Mario Vargas Llosa. Novel itu juga tipis, mengandung banyak alusi, dan ya, di banyak tempat juga terasa sangat lucu.

Kalau boleh diringkas, bisa dibilang The Tunnel merupakan novel cinta-cintaan. Protagonisnya adalah seorang pelukis (tampaknya sudah mapan dan terkenal) bernama Juan Pablo Castel. Castel jatuh cinta pada seorang gadis bernama Maria Iribarne. Alasannya jatuh cinta? Maria satu-satunya gadis yang berdiri terpaku di hadapan salah satu lukisannya-di sebuah eksibisi-dan menangkap aspek pada lukisan itu yang tidak dilihat oleh orang lain.

Merasa Maria bukan sosok yang biasa, Castel secara impulsif mengejar gadis itu. Ia mencarinya dari satu tempat ke tempat lain, bahkan membuntutinya hingga ke tempat ia bekerja. Ketika akhirnya mereka mendapatkan kesempatan bicara, dan Castel bertanya “Apa yang kau lihat dari lukisan itu?” Maria memberi Castel jawaban yang ia inginkan. “Kesepian,” kata Maria, “aku seperti melihat kesepian pada lukisanmu.” Semenjak itu, makin menjadi-jadilah obsesi Castel pada gadis ini.

Tetapi, tentu saja kita butuh konflik karena tanpanya maka cerita akan tiada. Castel dibutakan oleh obsesinya pada Maria sehingga sebelum jatuh cinta, ia tak mencari tahu terlebih dahulu apakah gadis itu masih berada dalam situasi bisa dicintai. Sialnya, keadaan di lapangan agak lebih rumit dari yang Castel kira. Maria sudah punya suami.

Hal ini membikin Castel berang, tetapi sekaligus dibuat bingung, terutama oleh sikap Maria yang menurutnya terlalu misterius. Sementara, Castel adalah laki-laki tukang mikir. Tukang mikir banget, malah. Ia seorang pelukis yang gemar memikirkan dalam-dalam suatu hal, bahkan membesar-besarkannya. Seorang overthinker. Ketika orang seperti dia jatuh cinta pada gadis seperti Maria yang menyimpan banyak rahasia, bisa dibayangkan bagaimana kacaunya (bagi Castel)

The Tunnel dituturkan dari kacamata Castel, menggunakan sudut pandang orang pertama. Memang pilihan yang tepat, karena dengan demikian Ernesto Sábato dapat menggali dan memunculkan pikiran-pikiran terdalam tokoh utamanya, termasuk tentu saja lebih leluasa menampilkan kondisi kejiwaannya. Sebagian besar isi The Tunnel adalah narasi Castel tentang segala hal yang berputar dalam kepalanya, dan karena ia seorang overthinker, maka ada banyak sekali yang ia pikirkan. Pada beberapa kesempatan mungkin kita akan merasa Castel kelewat bawel, tapi saya kira memang begitulah karakternya.

Kalau kamu membaca The StrangerAlbert Camus, kamu akan mendapat kesan yang mirip dari The Tunnel. Konfliknya berbeda tentu saja. Karakter Meursault dan Castel cukup berbeda. Meursault tidak banyak omong dan lebih sering menggumam seadanya, sementara Castel luar biasa bawel. Tetapi, konon Camus terinspirasi menulis The Stranger setelah membaca novel Castel ini. Bahkan, ia yang membawa novel tersebut untuk diterjemahkan ke bahasa Prancis. Meskipun, menurut saya, kalau The Stranger dan The Tunnel dihadap-hadapkan, kita akan menemukan cukup banyak perbedaannya. Tetapi, atmosfer narasi dan keseluruhan ceritanya mirip-gelap, depresif, dan berakhir tragis.

Kelar membaca The Tunnel, ternyata kesan yang saya peroleh agak berbeda dari perkiraan. Sebelum membeli bukunya, saya memang sudah sempat baca secuil cuplikannya yang mengindikasikan bahwa ceritanya bernuansa gelap. Tetapi, karena saya mengira semua penulis Amerika Latin punya selera humor yang baik, saya pikir The Tunnel ada lucu-lucunya sedikit. Ternyata, ya, memang lucu sih melihat bawelnya pikiran Castel yang berlebihan dan terlalu mikirin banget hal-hal yang sebenarnya belum kejadian (terus terang saya merasa Castel mirip dengan saya). Namun, lucunya tidak seperti lucu pada novela Pedro Páramo atau cerita-cerita super pendek dalam antologi Matinya Burung-Burung.

Hal paling menarik dari The Tunnel bagi saya adalah tingkat relevansinya yang amat tinggi dengan masa kekinian. Mungkin saja karena ia adalah novel cinta-cintaan, tentang seorang cowok tukang mikir dan seorang cewek misterius, sehingga saya kira jika novel ini dibaca oleh pemuda-pemudi pop masa kini, mereka akan mudah meresapi kisahnya. The Tunnel sudah dikategorikan karya sastra klasik, dan seperti karya-karya sastra klasik lainnya dengan plot utama kisah cinta, ia akan relatif lebih mudah dipahami. Bahkan, para penulis kisah cinta bisa dapat inspirasi atau ide cerita dari novel ini.

Tentu saja yang tak boleh dilupakan dari The Tunnel adalah aspek psikologisnya. Seperti tadi saya bilang, sebagian besar isi novel ini adalah celotehan Castel terhadap dirinya sendiri. Dia sering ngedumel tentang Maria, dan sebelum ia bertemu Maria, ia ngedumel tentang kritikus seni yang tidak memahami karya-karya lukisannya. Saya sangat terhibur saat membaca bagian ini. Melihat seorang seniman ngedumelin kritikus adalah salah satu kenikmatan duniawi yang hanya setingkat di bawah mengunyah martabak telor dan buang hajat di pagi hari.

Sedikit mengobrol soal penulisnya, Ernesto Sabato, ternyata The Tunnel adalah novel pertamanya. Ketimbang menerbitkan karya fiksi, ia lebih banyak menulis esei. Sabato juga dikenal sebagai seorang pelukis. Membuat saya berpikir jangan-jangan Juan Pablo Castel dalam The Tunnel adalah alter ego Sabato, atau bahkan dirinya sendiri. Enak enggak enak memang kalau jadi penulis fiksi, kadang-kadang pengin bikin fiksi yang betul-betul fiksi, tanpa sengaja hal-hal faktual masuk ke dalamnya dan jika terlacak oleh pembaca-seperti saat ini saya melacak riwayat hidup dan biodata Ernesto Sabato-bakalan dituduh curhat.

Sefiksi-fiksinya cerita yang dikarang penulis fiksi, jangan-jangan memang tidak akan pernah bisa menjadi sepenuhnya fiksi. Cerita pendek dan novel yang kita baca selama ini, jangan-jangan seluruhnya adalah hasil curhatan penulisnya sendiri, tentang kisah hidupnya sendiri, masalahnya sendiri, dan persoalan cinta dan patah hatinya sendiri. Tidak percaya? Boleh coba baca ulang buku-buku kesukaanmu, kemudian cari tahu riwayat hidup penulisnya. Lebih baik lagi kalau penulisnya belum mati, kamu bisa langsung bertanya kalau suatu saat bertemu dengannya: “Mas, buku Mas ini terinspirasi dari kisah pribadi atau bukan?”


Taruhan, sedikit yang akan dengan berani dan tanpa ragu-ragu menjawab: “Iya, ini buku sebenernya curhatan saya aja, sih. Hehehe.” ***

8 Agustus 2016

The Vegetarian, Han Kang




Hal lucu dari membaca novel yang memiliki cerita bernuansa gelap adalah kita justru kerap mendapat pencerahan dari sana. Tentu, dengan catatan novelnya bagus. Pencerahan macam apa yang didapat dari membaca novel bernuansa gelap? Bisa pencerahan tentang kehidupan, kematian, manusia, dunia, dan hal-hal yang berada di antaranya. Salah satu novel bagus bernuansa gelap yang baru saja selesai saya baca adalah The Vegetarian.

Novel The Vegetarian ditulis Han Kang, seorang penulis perempuan asal Korea berusia 45 tahun yang juga mengajar penulisan kreatif di Seoul Institute of the Arts. Kang lahir di keluarga penulis. Setidaknya, ayah dan abangnya juga penulis. Sebelum meraih Man Booker International Prize lewat novel pertamanya yang diterjemahkan ke Bahasa Inggris, The Vegetarian, sebenarnya Kang sudah sering mendapat penghargaan kesusastraan di negara asalnya. Salah satunya kompetisi sastra Seoul Shinmun, yang ia menangi lewat karya cerita pendeknya, The Scarlet Anchor.

The Vegetarian bercerita tentang seorang perempuan-menikah (tidak disebut jelas berapa usianya, tetapi ia berada dalam sebuah rumah tangga) yang suatu hari karena terbangun dari mimpi buruk dan tiba-tiba berubah menjadi seorang vegetarian. Perubahan ini mengagetkan tidak hanya bagi suaminya, yang kelak akan sering protes atas kondisi baru tersebut, tetapi juga keluarga si perempuan, terutama ayahnya yang seorang veteran penikmat daging.

Saya kurang fasih mengenal budaya kuliner Korea, tapi dari satu-dua drama dan reality show Korea yang pernah saya tonton, tampaknya mereka punya banyak sekali ragam menu olahan daging. Kita anggap saja daging merupakan makanan wajib orang-orang Korea. Sehingga, keputusan Yeong-hye-protagonis The Vegetarian-menjadi seorang vegan adalah hal yang mengguncang dan tidak dapat dipercaya.

Mimpi buruk yang membuat Yeong-hye berubah dari pemakan daging menjadi seorang vegan diberikan sepotong demi sepotong dalam sejumlah halaman pertama novel, menjadikannya fragmen-fragmen yang ditulis dengan cara agak berbeda dari narasi utama. Potongan-potongan mimpi Yeong-hye lebih terasa seperti sebuah puisi panjang yang dipenggal-penggal. Isi mimpinya kebanyakan deskripsi mengenai sesuatu horor dan mencekam: sosok seseorang (mungkin itu Yeong-hye sendiri) dengan mulut, tubuh, dan sekujur pakaian yang berlumurkan darah.

Mimpi buruk tersebut berlanjut malam ke malam dan berjalan seiring dengan tindak-tanduk baru Yeong-hye (yang dianggap ganjil oleh suaminya) kini sebagai seorang vegan: membuang daging dan telur dari kulkas dan memasak hanya sup bening yang hambar untuk makan siang. Si suami berang karena menganggap sikap Yeong-hye tidak masuk akal. Ia melaporkan perubahan drastis istrinya itu kepada mertua dan iparnya. Puncaknya: mereka makan bersama di rumah orang tua Yeong-hye, ayah Yeong-hye menjejalkan sepotong daging ke mulut Yeong-hye, Yeong-hye memberontak, melepehkan daging itu, lalu menyayat tangannya sendiri.

Itu bagian pertama The Vegetarian, dituturkan menggunakan sudut pandang orang ketiga dari perspektif suami Yeong-hye, Mr. Cheong. The Vegetarian terdiri atas tiga bagian. Bagian kedua dituturkan dari sudut pandang abang ipar Yeong-hye, seorang seniman visual yang punya imajinasi eksentrik (bagian favorit saya dari The Vegetarian ada di bab kedua ini, “The Mongolian Mark”), dan bagian ketiga atau terakhir novel dituturkan dari sudut pandang In-hye, kakak kandung Yeong-hye. Ironisnya, Yeong-hye sebagai protagonis justru tidak memiliki suara sendiri. Karakternya diungkap melalui dialog-dialog dan perilakunya yang dilihat oleh tokoh lain.

Suasana gelap yang tadi saya bicarakan adalah bagian ketika Yeong-hye tidak hanya menjadi seorang vegan, tetapi juga membawa vegetarianisme ke titik yang ekstrem: akhirnya ia tidak makan apapun sama sekali. Tubuhnya menipis hingga seperti papan, barangkali tersisa kulit dan tulang dan sangat sedikit daging atau lemak. Ia masuk rumah sakit dan menderita gastritis. Makanan apapun yang coba masuk ke tubuhnya, ia muntahkan kembali dan kerap muntahnya disertai darah. Kondisi Yeong-hye kian lama kian mengenaskan. Tidak hanya kesehatan tubuhnya, tetapi juga mentalnya, serta relasinya dengan orang-orang terdekat (rumah tangganya pecah-belah pasca ia menjadi vegan).

Perubahan drastis Yeong-hye menjadi seorang vegan ternyata tak hanya tampak ganjil dan mengerikan, tetapi kadang-kadang juga terlihat puitis, terutama ketika di satu titik ia merasa dirinya bukan lagi seorang manusia, melainkan sebatang pohon atau mungkin tanaman. Pada pagi hari di rumah sakit, ia akan mencopot pakaian dan berjemur menghadap matahari seakan-akan dirinya sekuntum bunga atau pohon yang sedang berfotosintesis. Pada tahap berikutnya, ia selalu berdiri terbalik karena merasa kedua tangannya adalah akar yang menancap ke tanah dan tubuhnya batang tanaman. Ia juga senang membayangkan (dan ingin itu terjadi) sekuntum bunga tumbuh dari liang kemaluannya.

Metamorfosa Yeong-hye adalah bentuk putus asa usahanya menekan kekerasan yang barangkali inheren pada diri manusia. Hewan yang dibunuh untuk dimakan adalah simbol bahwa manusia hidup dengan mencabut nyawa makhluk lain. Hal ini yang ditolak Yeong-hye menggunakan cara yang eksentrik. Han Kang sendiri dalam sebuah wawancara mengaku pernah menjadi vegan selama beberapa tahun, hingga akhirnya kembali mengonsumsi daging untuk alasan kesehatan (meski ia bilang ia tetap merasa bersalah setiap kali makan daging).

The Vegetarian ditulis dengan narasi yang rileks, tidak meletup-letup, cenderung pelan dan santai, tetapi tanpa mengurangi intensitas yang ia bawa. Deskripsi Han Kang pada tiap situasi cerita, terutama kondisi psikologis karakter-karakternya, merupakan sesuatu yang patut dipuji. Kita dibawa masuk ke alam pikiran dan perasaan karakter-karakternya dengan tujuan menelisik keganjilan-keganjilan yang mereka simpan dan sembunyikan dari satu sama lain.

Omong-omong tentang Korea, saya lama-lama makin kagum sama negara ini. Karena mereka tidak hanya bisa mengekspor pasukan industri hiburan macam girlband-boysband K-Pop, drama, atau budaya kulinernya (di Indonesia sekarang semakin banyak restoran Korea, termasuk yang menjual makanan pencuci mulut khas Korea), tetapi ternyata mereka juga bisa mengekspor penulis keren. Tentu saja ini tidak luput dari andil proses penerjemahan karya sastra. Terima kasih untuk Deborah Smith, cewek kelahiran 1987 (hanya setahun lebih tua dari saya tapi prestasinya ampun, Man Booker International Prize!) yang belajar bahasa Korea otodidak dan menerjemahkan The Vegetarian.

Meskipun saya belum membaca buku-buku lain yang dinominasikan di Man Booker International Prize 2016, tetapi setelah membaca The Vegetarian, rasa-rasanya tidak heran novel tipis ini bisa menyingkirkan Eka Kurniawan, Orhan Pamuk, bahkan Kenzaburo Oe dalam penghargaan bergengsi itu. Setelah Mo Yan, senang melihat ada orang Asia menang penghargaan sastra dunia, dikenal luas oleh orang-orang benua lain. Sebelum Haruki Murakami yang amat populer, Jepang juga sudah punya banyak pemenang Nobel Kesusastraan. Cina pun sudah menyumbang satu nama.


Kira-kira, Indonesia kapan ya? ***

6 Agustus 2016

Peluncuran "Metafora Padma"

Hari Minggu, 31 Juli 2016, buku kesembilan saya, kumpulan cerita Metafora Padma resmi diluncurkan. Bertempat di Gramedia Central Park, Jakarta, buku tersebut untuk kali pertama dijual. Terima kasih untuk Egha Latoya dan Eka Kurniawan, yang juga turut hadir dan bicara pada acara tersebut, masing-masing sebagai ilustrator isi dan perancang sampul bukunya.

Metafora Padma akan tersebar merata di toko-toko buku pada tanggal 15 Agustus 2016.








15 Juli 2016

Dua Buku, Sampul Baru





Kabar gembira dari penerbit.

Dua buku saya, kumpulan cerita Milana dan novel Surat untuk Ruth sedang dicetak ulang oleh Gramedia Pustaka Utama. Edisi cetak ulang ini menggunakan wajah baru, sampul hasil rancangan Muhammad Taufiq alias eMTe. Saya sangat suka dengan sampul yang baru ini, terasa lebih suram dan misterius, seperti kisah-kisah yang terdapat di dalamnya.

Bagi yang belum sempat memiliki kedua buku ini, sekarang kesempatan baik untuk memilikinya. Namun, jika sudah punya, tetap boleh beli untuk koleksi.

Keduanya akan terbit tanggal 15 agustus 2016, bersamaan dengan Metafora Padma.

14 Juli 2016

Metafora Padma: Ilustrasi




Berikut adalah tiga dari empat belas ilustrasi yang akan ada di dalam buku terbaru saya, kumpulan cerita Metafora Padma. Dibuat oleh Egha Latoya, salah satu personel duo penyanyi "The Fatima" yang berada di bawah arahan Manajemen Republik Cinta Ahmad Dhani.

Banyak yang mengenal Egha, atau El, sebagai entertainer-- penyanyi dan model-- tetapi belum banyak yang tahu bahwa ia juga menggambar dengan sangat bagus. Itulah yang membuat saya mengajaknya berkolaborasi membuat ilustrasi pendamping cerpen-cerpen di buku terbaru saya. Karya-karya Egha atau El bisa dilihat di galeri instagram: [at]artfromel.

Buku Metafora Padma akan terbit lewat Gramedia Pustaka Utama tanggal 15 Agustus 2016.