20 Mei 2016

.


Bernard Batubara adalah penulis. Lahir 9 Juli 1989 di Pontianak, Kalimantan Barat; saat ini tinggal di Yogyakarta. Belajar menulis puisi, cerita pendek, dan novel sejak medio 2007. Buku-bukunya yang telah terbit: Angsa-Angsa Ketapang (2010), Radio Galau FM (2011), Kata Hati (2012), Milana (2013), Cinta. (2013), Surat untuk Ruth (2013), dan Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri (2014). Radio Galau FM dan Kata Hati telah diadaptasi ke layar lebar. Surat untuk Ruth sedang dalam proses adaptasi ke layar lebar oleh Screenplay Productions, direncanakan tayang 2016. Novel terbarunya, I Fall For You (Gagasmedia) segera terbit, Agustus 2015.

5 Juli 2015

Teaser: I FALL FOR YOU

Teaser Cover Buku Kedelapan


Tiga hari lalu dapat kiriman dari editor lewat e-mail. Isinya adalah catatan revisi untuk manuskrip novel terbaru saya, I FALL FOR YOU

Rencananya, I Fall For You akan jadi buku kedelapan saya, dan bakal terbit bulan AGUSTUS 2015.

Jadi, sekarang saya lagi ngerjain revisinya. Doakan proses revisinya lancar dan bisa rilis tepat waktu ya! Oh iya. I Fall For You akan terbit lewat penerbit GagasMedia.

(PS: Gambar ini bukan cover lengkap dari I Fall For You, cuma teaser. Cover lengkap menyusul. Terima kasih!)

27 Juni 2015

The Book of Laughter and Forgetting, Milan Kundera





Pada awalnya, sedikit sulit bagi saya ketika berusaha memasuki dunia novel Milan Kundera karena belum familier dengan sejarah Republik Ceko, negara asal Kundera, yang ia olah dalam bukunya yang saya baca, The Book of Laughter and Forgetting.

Kundera lahir di Ceko pada tahun 1925. Saat berusia setengah abad, ia terpaksa pergi meninggalkan tempat kelahirannya dan hidup sebagai seorang eksil di Perancis. Entah sebagai bentuk protes atau kekecewaannya terhadap Ceko (atau dalam usahanya melupakan Ceko? Saya cuma menduga-duga dan dugaan saya tidak berlandaskan apapun yang kuat) ia bahkan melakukan penerjemahan ulang atas karya-karyanya, yang pada awalnya ditulis dalam bahasa Ceko, menjadi bahasa Perancis. Pada kata penutup The Book of Laughter and Forgetting (versi bahasa Indonesia: Kitab Lupa dan Gelak Tawa) Kundera berkata bahwa karya-karyanya dalam bahasa Perancis itu lebih mendekati keaslian daripada yang berbahasa Ceko.

The Book of Laughter and Forgetting dibuka dengan sebuah deskripsi atas foto Klement Gottwald dan Vladimír Clementis. Klement Gottwald adalah tokoh komunis Ceko, perdana menteri Ceko pada 1946 – 1948, dan presiden Republik Ceko pada 1948 – 1953. Vladimír Clementis merupakan tokoh berpengaruh Partai Komunis Ceko yang pada foto tersebut digambarkan berdiri di samping  Klement Gottwald. Clementis dihilangkan dari foto terkenal yang diambil pada 1948 tersebut sebagai bagian dari propaganda pemerintah di masa itu.

Saya kesampingkan deskripsi foto Gottwald dan Clementis dan memutuskan untuk terus membaca bagian pertama novel, ‘Lost Letters’. Laki-laki bernama Mirek, yang tampaknya seorang aktivis, dibuntuti oleh beberapa orang saat ia hendak menemui Zdena, perempuan yang ia cintai tapi kemudian dirinya menyesal. Mirek hendak menghancurkan surat-surat cinta yang pernah ia kirim untuk perempuan itu. Namun, di perjalanan, ia ditangkap oleh sekelompok orang yang membuntutinya dan akhirnya ia dijebloskan ke penjara.

The Book of Laughter and Forgetting terdiri dari tujuh bagian yang memiliki premis serupa. Namun, ketujuh bagian tersebut memiliki plot yang tidak sangat berkesinambungan, sehingga sebenarnya The Book of Laughter and Forgetting bisa saja dibaca sebagai sekumpulan novela. Payung besar ketujuh novela tersebut adalah tentang melupakan, forgetting. Alih-alih menganggapnya sebagai karya fiksi, saya lebih memandang novel Kundera ini sebagai karya fiksi-semiotobiografi, karena meskipun membalutnya dengan cerita yang dikarang, si penulis juga menuturkan kisah hidupnya sendiri di beberapa bagian.

Tokoh-tokoh dalam novel Kundera adalah orang-orang yang bertarung dengan memorinya sendiri. ‘Mama’, ibunda mertua dari Marketa, yang merupakan istri laki-laki bernama Karel, hampir saja memergoki aktivitas seksual terlarang Marketa, Karel, Eva-teman dari Marketa dan Karel-ketika ia teringat akan seorang temannya di masa lalu yang memiliki wajah mirip Eva. Memori, pada ‘Mama’, membawa plot cerita ke titik baliknya dan menyeretnya dari klimaks.

Tamina, seorang perempuan yang bekerja di sebuah kafe, diceritakan dalam bagian ‘Lost Letters’ kedua, berjuang untuk mendapatkan kembali buku harian pribadi dan surat-surat cinta yang pernah ia tulis untuk mendiang suaminya. Kalau tidak salah ingat, ketika masih bernyawa, si suami digambarkan hidup sebagai eksil. Dalam usahanya mendapatkan barang-barang pribadinya tersebut yang tersimpan di rumah orangtuanya di Praha (Tamina tidak tinggal di Praha), ia bercinta dengan seorang laki-laki bernama Hugo. Sialnya (atau untungnya?), selama mereka bercinta, Tamina tidak bisa mengenyahkan memori mendiang suaminya. Berkali-kali, pada wajah Hugo, ia melihat wajah suaminya sendiri. Hugo, yang diharapkan Tamina dapat membantunya mengambil barang-barang pribadinya itu, akhirnya mengetahui bahwa Tamina hanya memanfaatkannya untuk agendanya sendiri. Ia marah dan Tamina kesal. Pada Tamina, memori mendiang suaminya membuatnya gagal mendapatkan kembali benda-benda pribadi berharganya.

Politik memori dan amnesia sosial adalah apa yang saya kira coba dikatakan oleh Kundera. Kerap ia bertutur bagaimana warga kota Praha merupakan manusia-manusia yang tidak lagi memiliki kontrol atas ingatannya sendiri. Dari waktu ke waktu, dari satu masa penjajahan ke masa penjajahan lain atas kota tersebut, nama-nama jalan di kota terus-menerus berubah dan berganti, sehingga orang-orang tidak lagi ingat bagaimana nama asli jalan-jalan tersebut. Bahkan, tidak lagi merasa bahwa itu penting untuk diingat. Bukankah ‘pelupaan massal’ ini juga terjadi di tempat-tempat lain, tidak terkecuali di tempat kita tinggal, di negara kita? Atau bahkan, di diri kita sendiri? ‘Pelupaan’ yang dituturkan oleh Kundera bisa menelusup hingga ke berbagai lapisan konteks. Sejarah umum maupun sejarah individu. Dan, memang demikianlah sepertinya yang ia tuliskan di dalam The Book of Laughter and Forgetting. Kundera menuliskan bagaimana manusia-manusia dibuat lupa oleh sejarah kota dan bangsa mereka sendiri, dan tentu saja, ‘pelupaan’ ini bukannya tidak dirancang dan direncanakan. Ingat kembali foto Klement Gottwald dan Vladimír Clementis, yang dimanipulasi setelah kudeta demi kepentingan ‘membentuk’ sejarah dan membuat orang-orang lupa pada elemen-elemen yang sebenarnya dan seharusnya muncul di foto tersebut.

Di samping bahasa yang mudah (saya membaca The Book of Laughter and Forgetting terjemahan bahasa Inggris dari versi Perancis) hal yang kentara dalam tulisan-tulisan Kundera adalah humor. Kundera punya selera humor yang menyenangkan. Pada bab ketiga, ‘The Angels’ yang pertama (karena ada dua kali ‘The Angels’) ia menuliskan semacam ‘sejarah tawa’, tentang bagaimana pada mulanya tawa ‘diciptakan’ oleh setan. Tawa setan adalah tawa yang asli, yang lepas, yang tulus. Sementara itu, kelompok malaikat yang tidak menyenangi tawa setan dan khawatir tawa tersebut semakin meluas, melakukan perlawanan dengan tawa versi malaikat, tawa yang digambarkan sebagai tawa beragenda. Saya membayangkan tawa malaikat seperti tawa karakter-karakter aristokrat atau orang super kaya di cerita-cerita komik atau anime. Kundera menuliskan bahwa, oleh malaikat, tawa setan dipandang sebagai ‘ancaman’ atas kebaikan, karena tawa tersebut membuat seseorang lupa. Lupa daratan, istilah yang kita pakai. Saya jadi teringat di dalam Islam pun dikatakan bahwa seseorang tidak boleh tertawa terlalu lebar, ngakak, karena pada momen itu setan dapat masuk ke dalam dirinya. Saya tertawa berkali-kali membaca bagian ini.

Selain humor, yang menyenangkan dari cerita-cerita Kundera adalah kenyataan bahwa cerita-cerita tersebut tetap dapat dinikmati walau kita tidak mengetahui konteks atau peristiwa aktual atau wacana yang melandasi cerita tersebut. Walau kita tidak tahu tentang sejarah pendudukan Rusia atas Ceko dan tahu hanya sedikit tentang perang dunia dan wacana komunisme, kita tetap dapat menikmati cerita-cerita Kundera, setidaknya sebagai sebuah cerita. Saya kira, salah satu ciri cerita yang baik adalah cerita yang tetap dapat dinikmati meskipun si pembaca tidak memiliki wawasan kontekstual atas cerita tersebut. Tentu saja, cerita yang baik juga adalah cerita yang jikalau si pembaca memiliki wawasan kontekstual atas cerita tersebut, ia akan mendapatkan pembacaan yang lebih lengkap, luas, dan dalam. ***


21 Juni 2015

Seekor Burung Kecil Biru di Naha, Linda Christanty





PADA masa ketika hidup sudah sedemikian sulit dan setiap orang bersusah-payah mencari cara untuk menghibur diri sendiri, apa pentingnya menulis tentang konflik, kerusuhan, dan pembantaian manusia?

Tiga belas tulisan tentang konflik, tragedi, dan rekonsiliasi dalam kumpulan feature Linda Christanty, Seekor Burung Kecil Biru di Naha, membantu saya untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Saya membaca “Berdamai dari Bawah”, sambil membayangkan suasana di halaman Rumoh Geudong di desa Billie Aron, Teupin Raya, Aceh, yang seperti disebut di dalam tulisan, terkenal sebagai tempat penyekapan dan penyiksaan di masa Aceh berstatus Daerah Operasi Militer atau DOM. Dialog-dialog dengan Khatijah binti Amin, seorang perempuan Aceh yang ditangkap tentara karena suaminya anggota pasukan Hasan Tiro, pencetus Gerakan Aceh Merdeka (GAM), dengan sendirinya membangun visual yang mencekam di kepala, menampakkan kekejaman dan kepedihan. Juga percakapan-percakapan dengan Nurhaida, Sanusi, Saliza, Zubaidah, Beniati, Marhamah, Dwi-semuanya warga Aceh-tentang peristiwa pembakaran, penembakan, yang terbungkus isu-isu konflik etnis dan agama.

Kisah yang agak komikal tentang kepongahan Panglima Amir, seorang laki-laki Bangka mantan pejabat kolonial Belanda pada tahun 1830, dituturkan lewat tulisan “Panglima Amir dan Ayamnya”. Perseteruan Panglima Amir dengan seorang lanun yang dipicu oleh kekesalan dan rasa iri pada seekor ayam jantan raksasa, kemudian berkembang menjadi adegan penghancuran dan perbudakan orang-orang Bangka oleh Panglima Raman, seorang anak dari saudagar Bugis-Wajo, bersama Punggawa Sengkang, seorang pedagang budak dari Makassar.  “Kakek Saya, Opa Manusama, dan Opa Willem” mengungkap kisah perjuangan orang-orang pascaproklamasi di Pulau Bangka, yakni perlawanan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terhadap tentara Nederlandsch Indië Civil Administratie (NICA) dan Tentara Tionghoa Indonesia (TTI).

Berjalan ke bagian Timur dari Indonesia, kekerasan hinggap di Maluku, dan diceritakan dalam tulisan “Percik Api di Timur”. Ini feature terpanjang dalam buku Seekor Burung Kecil Biru di Naha. Isinya tentang bagaimana persoalan perselisihan batas-batas wilayah tinggal antara orang-orang Makian dan Kao di Halmahera Utara berkembang menjadi konflik antaragama.

Tidak hanya konflik di dalam negeri, Linda Christanty juga menuturkan konflik serupa yang terjadi di luar negeri.

Seperti kisah seorang perempuan India bernama Irom Sharmila. Dalam “Mendengar Bisikan Sungai Brahmaputra”, Linda, lewat mulut orang-orang yang ia temui di sebuah festival sastra di Guwahati, Assam, India, menceritakan bagaimana Sharmila melawan hukum darurat militer dan melayangkan protes terhadap pembunuhan orang-orang tak bersalah oleh aparat bersenjata di Manipur. Dalam “Karbala”, Linda menuturkan secuplik peristiwa yang barangkali menjadi awal mula perseteruan dua mazhab di agama Islam, Sunni dan Syi’ah.

“Seekor Burung Kecil Biru di Naha” menampilkan sebuah percakapan dengan Akiko, seorang warga Jepang, tentang pendudukan Jepang atas negara-negara Asia, termasuk bagaimana ratusan ribu perempuan Indonesia dijadikan budak seks atau jugun ianfu. Kehancuran Partai Komunis Thailand (PKT) meluncur dari bibir seorang perempuan berusia setengah abad bernama Punne Suangsatapananon, ditulis Linda dalam “Kenangan Punne”, yang dibumbui sedikit kisah cinta, karena pacar Punne adalah anggota PKT yang ditangkap dan dibunuh oleh tentara pemerintah.

Rudolf Hess, petinggi Nazi dan wakil Hitler, tidak luput dari catatan Linda, dan kisah di penjara Spandau dan pembantaian yang ia lakukan direkam dalam tulisan “Tentang Dua Tragedi: Masa Nazi di Jerman dan 1965”-tulisan ini juga mengungkap bagaimana Suharto, setelah kejahatan kemanusiaan yang ia lakukan semasa hidup, mati tanpa pernah diadili, bahkan dikenang sebagai ‘Bapak Pembangunan Nasional’. Sebagai penutup, “Continental Club” ditulis untuk menggambarkan sejarah dan konflik di kota-kota selatan di Amerika Serikat, termasuk di dalamnya terdapat peristiwa pembunuhan John F. Kennedy, juga tentang Benteng Alamo di Texas, sebuah bangunan yang dibangun pada 1718 untuk melindungi para misionaris dari serangan orang-orang Indian.

Nuansa agak berbeda dari tulisan-tulisan Linda mengenai konflik antaretnis, antaragama, maupun antarbangsa (yang di dalamnya terdapat peran militer, wacana politik, dan kawan-kawannya) terdapat pada tulisan berjudul “Rumah Bagi Mereka yang Tua”. Kali ini, yang lebih terasa adalah suasana sentimentil yang amat personal. Meski ceritanya bersifat pribadi, tapi siapapun anak rantau yang membacanya, saya yakin akan merasakan melankoli serupa: rindu pada kampung halaman, rindu kembali kepada orangtua. Begitu pula pada “Nama Saya Wanda”, tidak terdapat adegan-adegan pembantaian atau konflik antaragama maupun antaretnis di dalamnya, melainkan konflik di dalam diri seorang transgender dan keluarga tempat ia lahir, yang tidak kalah rumit dan pelik dari konflik perang antarbangsa maupun dunia.

Tulisan-tulisan Linda Christanty amat jernih, teratur, dan mudah dibaca. Sesekali ia membuka narasinya dengan deskripsi, yang membuat kita membayangkan sebuah tempat, di mana tempat tersebut ternyata memiliki sejarah kekerasan. Di waktu lain, Linda mengantarkan kita ke dalam premis-premisnya menggunakan pernyataan-pernyataan, yang meski dituturkan tanpa berapi-api, lembut, nyaris terasa datar, tetap membawa ketegasan yang kuat, yang menjelaskan posisinya dalam setiap peristiwa-peristiwa yang ia catat dan kabarkan.

Ibarat api, kekerasan-dalam wujudnya yang samar dan kerap menyaru ke dalam identitas sehingga membuat manusia membunuh sesamanya hanya karena perbedaan suku bangsa, ras, atau agama-tidak pernah puas hanya berkobar di satu tempat. Konflik telah pecah sejak berabad-abad yang lalu, dan dalam rentang masa yang teramat panjang itu, kekerasan telah melompat dari satu bagian dunia ke bagian dunia yang lain, menghantam satu bangsa ke bangsa yang lain. Namun, jika kita ingin menatap dengan mata yang jernih, seringkali akar kekerasan yang sesungguhnya bukanlah perbedaan identitas. Masalah sebenarnya dari setiap konflik bukanlah persoalan etnis, agama, atau bangsa, melainkan seringkali terjadi karena provokasi dan hasutan oknum-oknum yang punya kepentingan pribadi-agenda-agenda politik. Konflik di banyak tempat di Indonesia ditunggangi dan diatur oleh kelompok-kelompok yang memiliki kekuasaan dan kekuatan untuk memecah-belah komunitas-komunitas di masyarakat yang tadinya hidup berdampingan dengan damai sentosa.

Membaca Seekor Burung Kecil Biru di Naha membuat saya menemukan sedikit jawaban tentang mengapa seseorang perlu mencatat, menelisik, mempelajari, dan mengabarkan peristiwa-peristiwa konflik dan kekerasan yang terjadi di mana saja, lebih-lebih di tempat tinggalnya sendiri. Pentingnya terus-menerus mengabarkan konflik lewat tulisan bukanlah untuk mengobarkan amarah terpendam di masa lalu, apalagi menyulut kembali api sentimen negatif antarkelompok yang pernah bertikai, melainkan untuk senantiasa mengingatkan kepada setiap dari kita bahwa kekerasan tidak pernah menyenangkan. Bahwa ada yang menghendaki kita saling membunuh. Bahwa selama kita masih berpikir kekerasan merupakan solusi atas masalah-masalah pelik, maka kedamaian akan selamanya menjadi utopia. ***

7 Juni 2015

Metafora Padma: Koran Tempo, 7 Juni 2015




Cerita pendek terbaru saya, “Metafora Padma” dimuat di Koran Tempo, Minggu 7 Juni 2015. Jika teman-teman ingin membaca, silakan cari korannya.

Selamat hari Minggu.

- BB

30 Mei 2015

The Sense of an Ending, Julian Barnes





Selain tradisi minum teh dan bangunan-bangunan berarsitektur klasik a la kastil mirip sekolah sihir Hogwarts di novel berseri Harry Potter karangan J. K. Rowling (imajinasi saya akan Inggris terbentuk saat membaca Harry Potter, yah mau tak mau), barangkali yang juga khas dari Inggris (dan dengan demikian orang-orang Inggris) adalah sarkasmenya. Meskipun belum pernah bertemu dan berbincang langsung dengan orang Inggris asli, agaknya saya bisa mengamini dugaan tersebut dari melihat karakter-karakter orang Inggris di beberapa film yang pernah saya tonton dan, tentu saja, di novel-novel yang ditulis oleh orang Inggris.

Saya mencomot novela Julian Barnes, The Sense of an Ending, dari rak buku karena ukurannya yang kecil dan tipis. Setelah membaca novel tebal Haruki Murakami Hard-Boiled Wonderland and the End of the World, seperti biasa, stamina saya terkuras. Maka, seperti biasa pula, buku-buku berikutnya yang saya baca dapat dipastikan adalah novela, atau kumpulan cerita pendek. Pola seperti ini sudah berlangsung cukup lama. Novel tebal, novela atau kumpulan cerita pendek, novel tebal lagi, novela atau kumpulan cerita pendek lagi, begitu terus. Ini saya lakukan sebagai trik untuk mengatur napsu membaca saya agar tidak cepat butek oleh masifnya jumlah teks yang masuk ke kepala.

Sebetulnya, saya belum banyak membaca penulis Inggris (bukan berarti saya sudah banyak membaca penulis selain Inggris juga, sih). Dari catatan saya, saya baru membaca Julian Barnes, George Orwell, Neil Gaiman, dan tentu saja penulis kesukaan saya semasa kecil, Joanne Kathleen Rowling, beserta alter-egonya, Robert Galbraith. Meski demikian, dari yang sedikit itu, setidaknya saya boleh menarik kesimpulan sementara, yakni bahwa orang Inggris punya kemampuan luar biasa dalam melempar sarkasme.

Lihat saja bagaimana dialog-dialog penuh sarkasme bertebaran dalam percakapan-percakapan antar guru Hogwarts School of Witchcraft and Wizardry di ketujuh seri novel Harry Potter. Severus Snape adalah guru yang terkenal dengan sindiran-sindiran pedasnya terhadap murid-murid. Atau, Ronald Weasley, sahabat kental Harry Potter, juga kerap melontarkan sindiran a la keluarga Weasley. Kalau kita membaca novela semi-fabel Animal Farm milik Eric Arthur Blair alias George Orwell, kita akan tahu bahwa novela itu adalah sarkasme besar atas tingkah laku manusia terutama kaitannya dengan tipu-tipu muslihat dunia politik. Neil Gaiman juga kerap menyisipkan sindiran tajamnya terhadap sikap orang dewasa (dan kedewasaan) lewat cerita semi-fantasi semi-sureal di novela The Ocean at the End of the Lane.

Sarkasme yang sama saya temukan di sepanjang cerita The Sense of an Ending, novela Julian Barnes yang mendapat penghargaan kesusastraan Man Booker Prize tahun 2011. Sarkasme itu muncul lewat dialog karakter-karakternya, tapi terutama lewat narasi si tokoh utama. Namun, yang membedakan sarkasme Julian Barnes dengan sarkasme J. K. Rowling, George Orwell, dan Neil Gaiman, adalah bagaimana sarkasme yang muncul di novela Barnes ternyata belakangan mempengaruhi kehidupan tokoh utamanya, sekaligus menjadi titik belok plot utama cerita, dan juga merupakan inti keseluruhan novel tersebut. Sarkasme dalam tulisan Barnes tidak hanya ditujukan kepada publik di luar teks, tetapi juga berdampak pada karakter di dalam teks itu sendiri.

Adalah seorang lelaki berusia 60-an tahun bernama Tony Webster yang, lewat dirinya, Barnes menyampaikan sarkasmenya. Atau, marilah kita anggap yang melontarkan sarkasme adalah Tony Webster, dan dengan demikian sarkasme yang akan kita bicarakan adalah sarkasme milik Tony Webster. The Sense of an Ending ditulis dalam dua bagian, atau dua bab. Bab pertama merupakan ingatan-ingatan Tony Webster, kilas baliknya ke masa-masa remaja. Pada bagian inilah sarkasme Tony Webster hampir selalu terlontar, dan-setidaknya bagi saya-terasa sangat menghibur.

Bersama tiga orang sahabatnya, Tony Webster menjalani masa-masa remaja yang meskipun tidak membosankan, tidak juga bisa dibilang luar biasa. Satu-satunya hal ‘tidak biasa’ yang terjadi pada periode kehidupan Tony Webster saat itu adalah kabar bunuh diri seorang murid di kelasnya. Hal ‘tidak biasa’ lain yang terjadi di hidup Tony Webster mengambil wujud seorang manusia, yakni satu dari tiga sahabatnya sendiri, seorang bernama Adrian. Tony Webster juga punya pacar bernama Veronica, yang terhadapnyalah, sarkasme kocak Tony Webster kerap ditujukan (selain tentu saja kepada hal-hal lain).

Pada awalnya, sarkasme Tony Webster tidak mengandung hal-hal yang amat serius. Sindiran-sindiran terselubung dalam kalimat-kalimatnya, baik itu berwujud dialog maupun narasi (The Sense of an Ending ditulis dengan sudut pandang orang pertama), hanya berputar pada hubungan Tony Webster dengan teman-teman sekolah, guru, pacarnya, dan keluarga pacarnya. Namun, sarkasme yang tidak amat serius ini, ternyata berpuluh tahun kemudian memberi dampak besar pada kehidupan Tony Webster sendiri. Sindiran-sindiran yang pada suatu hari memuncak dan tersampaikan lewat sepucuk surat yang ia kirimkan kepada Veronica dan Adrian, berbalik kepadanya sebagai realitas yang menyakitkan. Omong-omong, ia mengirim surat tersebut setelah Veronica putus darinya dan berpacaran dengan Adrian, sahabatnya sendiri.

Sarkasme yang berbalik itulah yang ditulis Julian Barnes di bagian kedua novela. Kehidupan-kini Tony Webster, sebagai duda beranak satu, yang ia harapkan menjadi kehidupan penuh ketenangan, terusik oleh kabar yang mengejutkan: Adrian, sahabat kentalnya (dan juga pacar baru mantan pacarnya dulu, Veronica) tewas bunuh diri. Kabar ini menjungkirbalikkan ketenangan hidup Tony Webster. Bukan hanya lantaran karena sahabatnya bunuh diri, melainkan juga karena seumur hidupnya, Tony Webster melihat dan meyakini bahwa Adrian adalah sosok rasional, cerdas, penuh pertimbangan dan perhitungan, yang dengan segala intelektualnya, sangat tidak mungkin melakukan tindakan ‘irasional’ semacam bunuh diri. Setidaknya, demikian yang diyakini oleh Tony Webster. Sampai ia berkontak kembali dengan mantan pacarnya, Veronica, dan dari sana sebuah misteri perlahan-lahan berkelindan di seputar peristiwa kematian Adrian. Buku harian Adrian, yang Tony Webster yakini sebagai warisan untuknya, menjadi penghubung ia dan Veronica.

Sindiran-sindiran kocak pada bagian pertama The Sense of an Ending yang membuat saya terbahak nyaris di setiap halaman, secara perlahan berubah menjadi satu misteri. Yang tadinya tidak amat serius menjadi mulai serius. Lalu, di bagian akhir novela, misteri dan keseriusan itu ditutup dengan hal yang paling sering berhasil membuat kita menyukai sebuah cerita: kejutan. Ternyata yang keluar dari saya sebagai reaksi saat membaca novel Barnes tidak hanya suara tawa karena menyimak sarkasme kocaknya, tetapi juga ekspresi kening berkerut dan umpatan kaget, masing-masing saat mengikuti misteri dan akhirnya bertemu dengan penutup ceritanya.

Begitulah. Buku yang bagus selalu memuat lebih dari satu hal. Bahkan, seringnya, banyak hal. Hal-hal itu bisa kita temukan dalam sekali baca, bisa juga setelah membacanya ulang. Jelasnya, seperti seorang manusia yang menarik karena memiliki banyak sisi, buku yang menarik juga senantiasa menawarkan banyak nuansa dan emosi. Selalu jamak dan kompleks. Tidak pernah satu, tidak pernah tunggal. Sehingga kita tahu, itulah yang membuat buku menyenangkan untuk dibaca. ***