29 Juni 2016

Review Jatuh Cinta




“Karakter-karakter yang misterius, dialog-dialog yang menggelitik, solilokui dan narasi yang sarat refleksi. Bernard menggambarkan buruknya negeri ini dengan kalimat-kalimat yang rapi dan tersirat.” (Revius Webzine)

“Cerita-ceritanya menembus batas nalar, namun pijakannya tetap membumi. Bernard lihai menciptakan imaji bertaji dan mengontrol indera pembaca dengan kemampuannya bertutur dalam cerita.” (Buruan.co)

“Kisah-kisah cinta Bernard Batubara memukau saya. Ia berkisah tentang malaikat lugu yang jatuh cinta kepada manusia hingga lelaki yang jatuh cinta kepada pembakar perpustakaan kota. Caranya menggambarkan percintaan sepasang kekasih kadangkala memberi ruang kepada kita untuk membayangkan adegan yang lebih panjang lagi, seperti yang tersedia dalam kalimat: “Mereka bercampur dalam kegelapan seperti malam-malam sebelumnya”. Dalam kisah-kisah cintanya ini pula ikut terungkap situasi sosial dan masalah kemanusiaan di dunia kontemporer kita.” (Linda Christanty)

“Saya menemukan proses pendewasaan dalam cerpen-cerpen Bara kali ini; tema yang gelap dan satir. Cinta yang ia ungkap bukan lagi hanya sebatas manis dan perih, tetapi juga sisi gelap. Apakah lebih bagus atau tidak? Saya rasa bergantung pada selera pembaca. Sebagian akan kehilangan ciri Bara yang pernah mereka kenal, tetapi mungkin sebagian yang lain akan menyambut baik proses pendewasaannya ini. ” (Dewi ‘Dee’ Lestari)


Baca review atas buku terbaru saya Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri di sini:


Kalau kamu menemukan review atas buku ini atau kamu menulis reviewmu sendiri, jangan ragu untuk beri tahu saya. Saya akan baca dan pajang review kamu di halaman ini.

10 April 2015

Sepotong Cerita tentang Seorang Pria Pianis


Waktu itu pertengahan maret, malam hari, saya menghadiri acara pembukaan sebuah festival sastra internasional di sebuah tempat di bilangan Cikini, dan selama tak kurang dari tiga puluh menit, saya menyaksikan keindahan yang belum pernah saya lihat seumur hidup saya.

Saya dan banyak orang lain berada di sebuah ruangan. Teater Kecil, namanya. Ya, kami sedang di Taman Ismail Marzuki, menonton malam pembuka Asean Literary Festival 2015. Setelah melihat pembacaan puisi, muncullah sesosok pria berpakaian rapi, memberi salam ke arah kami, lalu ia pun duduk di singgasananya: sebuah bangku panjang yang berada tepat berhadapan dengan grand piano.

Ia mengangkat kedua telapak tangan ke udara, lalu mulai memencet tuts-tuts piano.

Selama beberapa menit, saya tersihir. saya yakin, orang-orang lain di dalam teater kecil itu juga terkesima. Pria di atas panggung yang sedang bermain piano itu sesungguhnya tidak sedang bermain piano. Saya yakin ia sedang merapal mantra lewat bunyi-bunyian. Dan benarlah, kami tersihir.

Ia membawakan beberapa lagu yang ia sebut dengan rhapsody nusantara. Di sebuah lagu, ia bahkan bermain hanya menggunakan satu tangan. Ia melakukannya sebagai cara berempati dan menunjukkan bahwa lagu tersebut terinspirasi oleh saudara-saudara difabel.

Saya tidak bisa melakukan apa-apa selain berdecak kagum di dalam hati, dan menggeleng. Sialan orang ini, saya membatin.

Tentu saja umpatan itu bukanlah umpatan, melainkan ekspresi ketakjuban saya.

*

Keesokan harinya, giliran saya yang berada di panggung, bersama dua orang teman sebaya sesama pencinta tulisan. Kami berbicara tentang bagaimana generasi kami, yang ternyata sudah dilabeli sebagai generasi digital, menyampaikan cerita-cerita dan tulisan-tulisan kami.

Saat jeda berbicara, saya melempar pandangan ke hadirin yang duduk di depan kami. Di salah satu kursi, saya menemukan sosok yang tidak asing. Ia adalah pria pianis itu. Berbeda dengan malam sebelumnya saat saya melihat ia mengenakan setelan jas rapi, siang itu saya melihat ia tampak sangat santai. Ia hanya mengenakan kaus berwarna cerah dan jeans.

Saya berkata dalam hati, seusai sesi bicara ini, saya harus menemuinya.

*

Saya bergegas mengambil satu kopi buku puisi saya sendiri di stan penerbit, dan buru-buru menghampirinya yang sedang berjalan di bawah terik matahari.

“Permisi, Mas,” saya mencegatnya, “Saya Bernard Batubara. Ini buku puisi saya, saya mau kasih untuk mas.”

Pria pianis itu menerimanya dengan senang hati. Saya tahu, ia menyukai puisi. Karena bertahun-tahun lampau saya menemukan videonya memainkan musik untuk puisi karangan penyair yang saya sukai, Hasan Aspahani. Bibirku Bersujud di Bibirmu, tajuk puisi itu. Maka, saya beri pria pianis itu buku puisi saya sendiri. Tidak ada ekspektasi apa-apa, selain berharap ia senang menerima buku itu dan menjadikannya tambahan koleksi. Syukur-syukur ia mau membacanya.

Lalu, dua malam yang lalu, ia menunjukkan gambar ini ke khalayak, dan menggamit saya beserta beberapa orang lain yang ternyata adalah rekan-rekannya.

Alangkah kagetnya saya, tentu saja. Saya tidak pernah membayangkan ia menulis lagu yang berasal dari puisi saya. Senang atau gembira kurang cukup untuk menggambarkan perasaan saya saat melihat gambar ini. Saya hanya bisa memandangi gambar ini terus-menerus sambil membayangkan bagaimana wujudnya.


Pria pianis itu bernama Ananda Sukarlan​. Ia menggubah komposisi lagu barunya dari sebuah puisi di buku Angsa-Angsa Ketapang. Begini lirik puisi itu:



Memo: Sepasang Daun Ketapang
kelak kita akan menguning dan tak lagi
mampu bertahan di ranting yang kian
renta ini
tapi percayalah saat jatuh dan tersapu
nanti akan ada yang menyatukan kita
kembali
dalam rimbun rumah api.

Saya kira, pria pianis itu, ia telah melakukan bentuk penghargaan tertinggi yang bisa dilakukan oleh seorang seniman (sekaligus penghargaan tertinggi yang bisa saya terima) yang tentunya akan membuat dunia seni jadi lebih menyenangkan ketika semakin banyak orang melakukannya.

Ia, pria pianis itu, mengapresiasi karya menggunakan karya. ***




***

6 April 2015

Wawancara oleh Alanda Kariza

Pertengahan tahun lalu, Alanda Kariza, seorang penulis dan aktivis pergerakan anak muda mengirimi surel dan mewawancarai saya. Wawancara itu ia lakukan untuk mengisi rubrik di blognya bertajuk "Ketika Menulis". Saya tampilkan keseluruhan wawancara tersebut di sini. Anda juga bisa menengoknya di blog Alanda dalam versi yang sama sekali tidak berbeda.

Selamat membaca.



1.     Alanda Kariza (AK): Anda telah menerbitkan sejumlah buku dan mempublikasikan sejumlah cerita pendek. Karya mana yang menjadi favorit Anda sampai saat ini, dan mengapa? 

Bernard Batubara (BB): Saya menulis puisi, cerita pendek, dan novel. Karya favorit saya adalah buku pertama saya, Angsa-Angsa Ketapang, kumpulan puisi yang terbit pada awal tahun 2010. Buku itu saya terbitkan secara mandiri (self-publishing) dengan kesadaran bahwa tidak ada penerbit major yang mau menerbitkan naskah kumpulan puisi saya. Pada waktu itu, semua penerbit major hanya menerbitkan kumpulan puisi dari penyair-penyair besar. Penyair yang tak punya nama seperti saya bisa dipastikan tak menarik perhatian mereka. Maka, saya mengumpulkan uang bulanan dari orangtua (saat itu usia saya 20 tahun, kuliah tahun ketiga) dan mencetak kumpulan puisi pertama saya, hanya 50 eksemplar. Itu pun saya bagi-bagikan gratis ke teman-teman sesama penulis muda, dan orang-orang terdekat. Setelah menerbitkan buku itu, selama sebulan saya hanya makan nasi dan mi instan.

2.     AK: Boleh dibilang, Anda merupakan salah satu penulis Indonesia yang cukup produktif. Kapan biasanya Anda menulis? Apakah Anda lebih senang menulis di pagi atau malam hari?

BB: Sebenarnya sih masih banyak yang jauh lebih produktif, mereka bisa menerbitkan empat sampai lima novel dalam satu tahun. Saya, sejauh ini, paling banyak dua buku dalam setahun (kombinasi antara kumpulan cerpen dan novel). Saya menulis ketika saya ingin menulis. Untungnya, saya selalu merasa ingin menulis. Saya bisa menulis kapan saja. Pada suatu fase, saya menulis setiap bangun subuh, pukul empat sampai pukul enam pagi, sebelum berangkat kuliah. Pada fase yang lain, terutama setelah saya lulus kuliah, saya menulis siang hingga malam hari, pukul satu sampai pukul delapan atau sembilan malam. Pada fase sekarang, yakni ketika saya sudah menjadi karyawan dan memiliki jam berkantor, saya menulis setelah jam kantor usai, pukul tujuh sampai sebelas malam. Saya pernah menjadi morning person dalam waktu yang sangat lama, sebelum akhirnya kebiasaan bangun pagi itu berubah setelah saya tidak lagi kuliah. Saya sulit bangun pagi karena hampir setiap hari saya begadang untuk menulis. Kalau ada jam-jam favorit untuk menulis, mungkin malam hari, sekitar pukul delapan sampai tengah malam. Tapi, pada dasarnya, saya bisa menulis kapan saja, asalkan tidak sedang diajak bicara.

3.     AK: Di mana Anda sering menulis? Apakah ada preferensi tertentu - misalnya, harus di tempat umum, atau justru di tempat sepi? 

BB: Oh, saya tidak bisa menulis di tempat sepi. Maksudmu kamar, atau pantai yang kosong tanpa manusia? Saya menyukai tempat-tempat sepi, karena tempat-tempat sepi membuat saya tenang dan nyaman dengan diri saya sendiri. Namun, kalau untuk menulis, saya lebih memilih tempat-tempat yang ‘bersuara’. Saya butuh suara-suara untuk tetap sadar dan melek. Saya pernah mencoba menulis di dalam kamar, tapi seringnya malah mengantuk dan berakhir dengan ketiduran. Ternyata, saya tidak bisa menulis jika suasana di sekeliling saya terlalu hening. Keheningan membuat saya mengantuk, dan kalau mengantuk tentunya lebih enak tidur daripada menulis.

Saya menyelesaikan sebagian besar naskah novel dan cerita pendek saya di kafe. Kafe memberikan saya suara-suara, dalam kadar yang pas. Ada suara-suara orang-orang yang sedang berbicara, suara-suara mesin penyeduh kopi, suara-suara langkah-langkah kaki, semuanya membuat saya tetap sadar dan tidak mengantuk, sehingga saya bisa berpikir untuk menuliskan cerita-cerita saya. Meskipun saya membutuhkan suara-suara untuk menulis, saya tidak bisa menulis sambil mendengarkan lagu lewat earphone. Dan, tentu saja, saya tidak bisa menulis di tengah-tengah pesta atau aksi demonstrasi.

4.     AK: Bagaimana susunan meja kerja yang Anda miliki?

BB: Karena saya jarang menulis di dalam kamar, saya tidak punya meja kerja. Lagipula, kamar kos-kosan saya tidak memberi ruang yang cukup untuk saya membeli meja kerja. Di rumah orangtua saya di Pontianak, saya memiliki meja kerja, tapi saya belum pernah menulis dan menyelesaikan naskah apapun di sana karena saya hanya pulang ke rumah orangtua sekali dalam setahun, setiap menjelang lebaran. Meja kerja saya adalah di manapun tempat saat saya menulis: meja bundar kecil di sudut kafe, meja di kamar hotel saat saya sedang bepergian keluar kota, meja di minimarket 24 jam. Selama ada meja, dan saya sedang ingin menulis, maka itulah meja kerja saya.

Oh, ya, biasanya saat menulis, di atas ‘meja kerja’ saya pasti ada hal-hal ini: laptop, bloknot, pulpen, novel atau kumpulan cerpen atau buku puisi, dan sebotol air mineral (berganti-ganti dengan iced lemon tea atau double shots iced shaken espresso, tergantung saat itu saya sedang ingin minum apa).

5.     AK: Bagaimana Anda biasanya menulis? Alat apa saja yang Anda gunakan (misalnya: laptop, ponsel, buku catatan, dan sebagainya)?

BB: Sebagian sudah saya jawab di pertanyaan sebelumnya. Saat merancang outline atau plot untuk novel, membuat bagan karakter, saya menulis di bloknot. Saat menulis draf puisi juga saya menggunakan pulpen dan bloknot. Saat menulis draf utuh naskah novel atau puisi yang sudah selesai ditulis di bloknot, barulah saya mengetik di laptop. Beberapa kali saya pernah menulis puisi di ponsel, saat sedang dalam perjalanan dan tidak sempat menulis di bloknot. Namun demikian, saya belum pernah menulis cerita pendek dan novel utuh di ponsel (saya pernah bertemu dengan orang yang menulis novel pertamanya, seluruh naskah novel pertamanya di ponsel, tidakkah itu menakjubkan?)

6.     AK: Apakah Anda biasa mendengarkan musik ketika sedang menulis? Musik yang seperti apa? 

BB: Sekali-kali, saya mendengarkan musik. Meskipun sempat saya katakan sebelumnya bahwa saya sulit berkonsentrasi kalau menulis sambil mendengarkan musik. Saya mendengarkan musik, seringnya, hanya untuk membangun mood. Lagu-lagu yang saya dengarkan biasanya sesuai dengan adegan yang sedang ingin saya tulis, dan ambience yang ingin saya dapatkan di dalam adegan itu. Misal, saya sedang ingin menulis adegan yang mellow dan sedih, maka saya mendengarkan lagu-lagu mellow dan sedih. Atau, saat saya ingin menulis adegan cute dan manis, maka saya mendengarkan lagu-lagu yang bernuansa manis. Begitu pula saat saya ingin menulis adegan pertengkaran atau marah-marah, maka saya mendengarkan lagu rock, metal, atau bahkan underground (tapi ini jarang sekali, karena di cerita-cerita yang saya tulis jarang ada orang marah-marah).

Kadangkala, saya mendengarkan musik yang sesuai dengan karakter dalam novel. Draf terbaru saya, Sarif & Nur (sedang menunggu giliran penyuntingan di penerbit, direncanakan terbit tahun ini), tokohnya adalah seorang pemain biola, dan di dalam plotnya banyak lagu-lagu klasik yang muncul, maka saat menuliskan Sarif & Nur saya selalu mendengarkan lagu-lagu Brahms, Bach, dan Chopin.

7.     AK: Bagaimana "hari menulis" Anda biasanya berjalan? (Misalnya, bangun jam 3 pagi lalu menulis, atau mungkin, bangun jam 8 pagi, menulis, makan siang, menulis lagi, dsb.)

BB: Saya punya “hari menulis” ini jika saya sedang mengerjakan sebuah novel. Untuk cerita-cerita pendek ‘lepas’, saya menulis kapanpun saya ingin menulis, tanpa pola tertentu. Untuk puisi, karena pendek-pendek, ‘pola’nya seperti menulis cerita pendek, kapanpun saya ingin. Sebelum saya memiliki jam berkantor, saya punya “hari menulis”, dan berlangsung kira-kira seperti ini: Bangun tidur pukul sembilan, sarapan, mandi, pergi ke kafe setelah makan siang, menulis sampai petang, makan malam, lanjut menulis sampai tengah malam, pulang ke kos. Rutinitas ini berlangsung hingga draf pertama novel saya selesai.

8.     AK: Bisakah Anda menceritakan bagaimana proses yang biasanya Anda lalui ketika menerbitkan sebuah karya - mulai dari membuat kerangka tulisan sampai akhirnya tulisan tersebut diterbitkan? 

BB: Saya selalu membuat sinopsis dan outline sebelum menulis draf novel. Setelah sinopsis dan outline beres, saya menulis draf pertama. Proses menulis draf pertama hingga selesai biasanya memakan waktu satu hingga dua bulan (saat ini, karena kewajiban saya bertambah, durasi yang saya butuhkan untuk menyelesaikan satu naskah novel pun menjadi lebih lama, bisa empat hingga lima bulan). Setelah draf pertama selesai, saya endapkan. Proses pengendapan naskah berlangsung tiga minggu hingga satu bulan. Setelah pengendapan, saya baca ulang, dan memulai revisi mandiri (self-editing) untuk menghasilkan draf kedua. Draf kedua ini yang saya kirim ke editor. Setelah draf naskah diterima oleh editor, saya tinggal menunggu editor memulai proses penyuntingan (lama waktu menunggu tergantung kesibukan editor pada saat itu). Proses penyuntingan naskah sendiri biasanya berlangsung satu sampai dua bulan. Setelah penyuntingan, masuk ke tahap perancangan tata letak (layout) dan sampul (cover). Editor akan mengirimi contoh layout dan pilihan cover. Sebagai penulis, saya diberi hak untuk memilih layout dan cover mana yang saya inginkan untuk novel saya. Setelah semuanya beres, maka tinggal menunggu tanggal naik cetak. Seluruh proses ini berlangsung selama kurang-lebih empat sampai lima bulan.

Setelah buku naik cetak dan didistribusikan ke toko-toko buku, biasanya saya diberi jadwal talkshow, untuk bertemu pembaca dan mempromosikan buku terbaru saya. Ini adalah kesempatan untuk membuat orang-orang yang telah membaca buku saya semakin ingin membaca buku terbaru saya, dan orang-orang yang belum pernah membaca buku saya, menjadi penasaran dan ingin membaca buku saya. Bukankah salah satu tugas pengarang adalah mempengaruhi orang lain dengan tulisannya? Termasuk mempengaruhi mereka untuk membeli buku kita. Hehehe.

Saya kira, bagian terpenting dari pertanyaanmu dan penjelasan saya untuk pertanyaan ini adalah, setiap orang yang ingin menjadi penulis (published author) harus mengetahui tahapan-tahapan ini, sehingga tidak buru-buru atau cepat patah arang dan menyalahkan penerbit untuk proses yang memakan waktu lama. Terbitnya sebuah buku bukan proses yang lekas seperti memasak mi instan, kecuali kamu ingin bukumu seperti mi instan: Mungkin cepat saji dan bisa segera disantap, tapi tidak sehat dan berbahaya. Begitu pula jika ingin menjadi seorang penulis, tidak ada yang instan, semua butuh proses. Kamu akan menghadapi kesulitan yang seperti tidak ada ujungnya, kehilangan mood, memeras otak untuk mendapatkan ide dan plot yang bagus, kekeringan inspirasi, dan lain sebagainya. Jika kamu tidak tahan dengan proses ini, lebih baik kamu memelihara ikan atau burung. Sebab, sebagaimana tidak ada pelaut handal terlahir dari samudera yang tenang, tidak ada penulis besar lahir dari proses yang gampang. ***