17 Desember 2014

Excerpt: Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri

Ilustrasi: Ida Bagus Gede Wiraga



“Bril, aku tidak tahu mengapa aku menceritakan semua ini kepadamu. Aku baru mengenalmu dan kau bahkan bukan manusia.”

“Kau bisa bercerita apa pun, kalau itu membuat perasaanmu lebih ringan.”

Rahayu mengusap air matanya. “Yah…, aku rasa perasaanku sekarang lebih ringan. Bril, terima kasih.”

Sudah kukatakan kepadamu, bahwa Rahayu sangat cantik? Aku ralat, Rahayu bukan cantik, melainkan tidak membosankan. Ada perbedaan yang sangat jelas antara cantik dan tidak membosankan. Gadis-gadis di kampusku cantik (kau bertanya bagaimana cara malaikat kuliah? Tentu saja aku bisa kuliah, ayahku tidak disebut Dewa tanpa sebuah alasan), tapi semua gadis cantik itu membosankan. Semuanya berdandan dengan cara yang sama, mengenakan pakaian yang sama, gaya rambut yang sama, membicarakan hal yang sama, dan mengeluhkan hal yang sama. Membosankan. Rahayu tidak membosankan. Saat bersama Rahayu, entah bagaimana, aku merasa seperti sedang berada di Bumi sekaligus berada di Langit yang Tinggi. Aneh.

Aneh, tetapi menyenangkan.

Aku tidak perlu menceritakan bagian selanjutnya karena akan sangat membosankan bagimu, dan hal terakhir yang diinginkan seorang remaja sepertiku adalah menjadi membosankan bagi orang lain. Jadi, aku akan melewatkan bagian saat aku dan Rahayu jadi sering janjian untuk bertemu, menghabiskan jam-jam dengan berbicara banyak hal (pantai, musik, sejarah, agama, politik, sampai topik favoritku: novel kesukaan kami), dan merasa semakin dekat satu sama lain. Setiap kali kami harus berpisah karena Rahayu tak bisa pulang terlalu larut, yang kukerjakan hanya menghitung waktu untuk bertemu dengannya lagi esok hari. Bahkan, aku lupa dengan rencanaku kembali ke Langit.

Malah, aku memikirkan sesuatu yang lain, yang baru, yang-menurut seorang teman manusiaku-anarkis.

Aku ingin menjadi manusia.

Ya, cepat atau lambat, aku akan kembali ke Langit yang Tinggi. Kalaupun aku tidak berinisiatif untuk kembali, ayahku pasti akan mulai curiga dan mencariku di Bumi, lalu menyuruhku pulang. Intinya, karena aku malaikat, tempatku adalah di Langit. Selama apa pun aku tinggal di Bumi, aku tetap malaikat dan memiliki tugas, dan tugas-tugasku itu tidak bisa kulakukan kalau aku terus-menerus tinggal di Bumi.

Maka, kalau aku ingin terus bersama Rahayu, aku harus berubah menjadi manusia.

“Kamu anarkis, Bril!” kata teman manusiaku. Namanya Jon (sesungguhnya namanya Joko Purnomo, tapi ia tidak suka dengan namanya dan ia menggemari Chris John, maka semenjak itu ia memperkenalkan diri kepada semua orang dengan nama Jon). Kami sedang duduk-duduk di kantin kampus saat aku mengutarakan kenginanku.

“Apa pun sebutannya, Jon, aku ingin jadi manusia. Demi Rahayu.”

Edan, kamu. Apa kata ayahmu kalau dia tahu kamu ingin jadi manusia? Ah, edan.”

“Aku tidak peduli, Jon. Aku akan terbang ke Langit, lalu memberitahukan sendiri keinginanku kepada Ayah.”

Wong kenthir. Kalau kamu dihukum dan tak bisa balik lagi ke sini, gimana?”

“Kau tak akan tahu sebelum mencoba.” Aku menyeringai.

Jon menggeleng. Ia sudah paham aku tak bisa dilarang. Semakin diragukan, semakin aku yakin bahwa keinginanku adalah sesuatu yang harus kulaksanakan. Suatu hari nanti, saat aku berkata bahwa aku mencintainya, Rahayu boleh meragukanku, karena setelah itu aku akan semakin yakin untuk mencintainya dan akan membuktikan kepadanya bahwa aku tidak asal bicara. Begitulah seharusnya yang kau lakukan, Teman, saat orang-orang meragukanmu, kau harus tunjukkan kepada mereka bahwa mereka keliru.

Itulah yang kulakukan kepada Jon. Malamnya, aku terbang ke Langit yang Tinggi. Dengan dada membusung, rasa percaya diri yang genap, dan sikap optimistis, aku menghadap Ayah. Aku berlutut di hadapannya yang sedang duduk di singgasana sambil mengunyah anggur biru, lalu aku pun berkata, “Ayah. Aku ingin menjadi manusia.”

Apa kau sudah memperkirakannya? Apa kau sudah memperkirakan bagaimana reaksi ayahku saat melihatku kembali ke langit dan berkata kepadanya sesuatu yang sangat konyol seperti ingin menjadi manusia? Mungkin, kau sudah memperkirakannya. Namun, beginilah reaksi ayahku. Di luar dugaanku, ia tidak marah, tidak melemparku dengan piala berisi anggur putih ataupun mencengkeram tanganku. Tidak. Kau tahu apa yang ayahku lakukan? Ia tertawa.

Ayahku tertawa. Tawanya meledak, mungkin sampai terdengar ke seluruh penjuru langit dan sampai di tempatmu sebagai gelegar petir.

“Apa kau bilang? Ulangi lagi. Apa? Apa? Ayo ulangi lagi. Apa kau bilang?”

“Aku ingin menjadi manusia,” ulangku.

Ia tertawa lagi.

“Bocah! Apa yang kau lihat di Bumi sana, apa yang kau saksikan? Kau lihat kebenaran ucapanku, bukan?” Ia tertawa. “Sekarang kau bilang apa, ingin jadi manusia? Apa yang terjadi dengan kepalamu, terbentur batu kali? Tak pernah kudengar sebelumnya hal yang sangat konyol. Kau dengar itu? Tak pernah.” Lalu, ia tertawa lagi.

“Aku ingin menjadi manusia. Ayah seorang dewa dan tahu banyak hal, tolong beri tahu aku bagaimana caranya,” pintaku.

Kali ini, Ayah tidak tertawa.

“Kau benar-benar ingin jadi manusia? Di antara semua makhluk; kambing, kuda, kupu-kupu, pohon, jerapah, semut, penguin, laba-laba, yang memiliki kemampuan lebih mulia dan lebih indah, kau memilih untuk jadi manusia?”

Aku mengangguk.

“Kalau begitu,” kata Ayah, “kau harus bunuh diri.”

“Maaf? Apa?”

“Kau mendengarku. Kau harus bunuh diri.”

“Bunuh-diri?”

“Bocah, anakku, kau tak berharap ada cara yang mudah untuk mengubah dirimu menjadi sesuatu yang lain, lebih-lebih sesuatu yang seburuk manusia, bukan?”

“Tidak, Ayah, tentu tidak.”

“Berubah adalah hal yang sangat sulit, Anakku.” Tiba-tiba saja, untuk kali pertama dalam hidupnya, ayahku bicara dengan nada yang tidak terlalu membuat kesal. “Kau tahu berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk berubah menjadi seperti yang ibumu mau? Empat musim, anakku, empat musim lamanya yang kubutuhkan untuk berubah menjadi laki-laki yang diinginkan ibumu! Perubahan itu niscaya, kata mereka. Tapi, mereka yang berkata seperti itu tak tahu apa-apa tentang laki-laki yang berusaha mengubah dirinya demi cinta. Kau mungkin bisa berubah, dengan semua upaya keras dan waktu yang banyak, tapi ada hal-hal yang tak bisa diubah. Katakanlah, kau bisa berubah jadi manusia, lalu apa yang akan kau lakukan dengan itu?”

“Aku mencintai seorang gadis, Ayah.”

Aku tak tahu mengapa aku memberitahukan hal itu, mungkin karena suasana yang muncul saat Ayah menceritakan keresahannya. Aku merasa, untuk kali pertama, bisa bicara dengan Ayah.

Ayah tertawa lagi. “Harusnya aku tahu”, katanya. “Ya, harusnya aku tahu. Terserah kau. Aku sudah memberitahukan apa yang ingin kau dengar. Kau lihat, kan, ayahmu ini tidak selamanya jahat seperti yang kau pikirkan. Jangan kira aku tak tahu apa yang kau pikirkan tentang ayahmu, Bocah. Kau tidak menyukaiku. Tapi, dalam hatimu kau tahu semua yang kukatakan benar. Kau jatuh cinta dengan manusia, lalu ingin menjadi manusia? Kau sudah tahu caranya. Kau harus bunuh diri.”

Bunuh diri.

Ayah melanjutkan, sembari meninggalkan singgasananya, lalu berjalan melewatiku, menuju pintu istana. “Tentu saja hanya orang bodoh dan ceroboh yang mau bunuh diri demi cinta.” Lalu, ia pun tertawa.





16 Desember 2014

Di Balik Proses Jatuh Cinta


Saya ingin bercerita sedikit tentang proses terbitnya buku terbaru saya: Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri. Agar memudahkan, saya akan menyebut dengan nama yang lebih singkat: Jatuh Cinta.

Seperti pernah saya ceritakan di tulisan yang lalu, first draft atau naskah pertama Jatuh Cinta saya serahkan ke editor pada bulan Agustus. Saya mengirim dengan maksud untuk mencoba-coba saja, sebenarnya. Mengingat agak sulit menembus penerbit dengan naskah kumpulan cerita. Dibanding novel, kumpulan cerita memiliki segmen pembaca yang lebih khusus, mungkin itu sebabnya tidak banyak penerbit yang mau menerima naskah kumpulan cerita.

Alhamdulillah, ternyata kurang-lebih sebulan kemudian saya mendapat kabar baik. Editor saya, Widyawati Oktavia (Iwied), berkata bahwa naskah kumpulan cerita yang saya kirim telah diajukan dan didiskusikan di rapat redaksi. Hasilnya: Penerbit GagasMedia setuju untuk menerbitkan naskah tersebut. Tidak luput beberapa catatan yang menyertai kabar menggembirakan itu. Di antara catatan itu adalah, ada tiga cerita yang dicoret karena dianggap kurang kuat, dan saya harus menulis beberapa cerita baru untuk melengkapi benang merah buku, yakni kisah-kisah cinta dengan beragam rasa.

Tentang bagaimana gambaran cerita-cerita di dalam buku terbaru saya ini, silakan baca tulisan terdahulu saya. Kali ini saya ingin menunjukkan apa saja yang terjadi di balik proses terbitnya Jatuh Cinta.


Editing

Naskah saya kali ini digawangi oleh Gita Romadhona. Tidak secara langsung oleh Iwied karena dia sedang mengerjakan naskah saya yang lain. Namun, Iwied tetap mengawasi dan melakukan cek ulang hasil revisi.

Proses revisi berjalan lancar dan cukup singkat, tidak sampai dua minggu. Gita langsung melakukan penyuntingan setelah saya mengirim naskah utuh Jatuh Cinta versi baru dengan tambahan tiga cerita. Setelah mendapat kiriman catatan dari Gita, saya pun langsung mengerjakan revisi.

Setelah revisi selesai, Iwied mengirim naskah ke layouter untuk di-set ke bentuk halaman buku. Ilustrasi-ilustrasi buatan Ida Bagus Gede Wiraga (Hege) juga dimasukkan. Saya meminta kepada Iwied agar layout Jatuh Cinta dibuat senyaman mungkin untuk dibaca. Ukuran huruf, margin, kerning, semuanya diperhitungkan. Iwied melakukan cek ulang hasil revisi. Saya melihat langsung, karena kebetulan juga sedang ke kantor Penerbit GagasMedia di Jakarta.



Cek ulang layout bareng Iwied


Cover dan Bulu Burung

Beres dengan layout, kami berkutat dengan desain cover. Sejak awal saya sudah menyampaikan permintaan khusus kepada tim pracetak dan desain Penerbit GagasMedia agar judul buku Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri menjadi sorotan utama pada cover. Saya ingin tulisan yang mengisi penuh halaman sampul. Berbeda dengan buku-buku saya sebelumnya yang memberi fokus pada objek atau ilustrasi, bukan teks judul.

Warna juga sempat jadi persoalan. Awalnya, saya hanya berpikir bahwa buku ini akan jadi berbeda dengan aura cover buku-buku saya sebelumnya, yang cenderung lembut, sepi, mellow, dan puitis. Saya tidak ingin buku terbaru saya terlihat puitis, apalagi lembut. Warna apa yang kira-kira masuk kriteria tersebut? Merah, hijau, biru, dan ungu, adalah beberapa pilihan. Kuning sempat menarik minat saya. Namun, akhirnya pilihan akhir jatuh kepada ungu. Alasannya adalah, setelah dibaca dengan lebih teliti, ternyata cerita-cerita di dalam Jatuh Cinta tidak semuanya manis, tidak pula seluruhnya pahit, melainkan keduanya.

Cinta itu bukan merah, yang berhasrat dan menggelora. Cinta bukan biru, yang dingin dan sendu. Cinta itu ungu. Karena ia menyimpan keduanya.

Kami mengerjakan cover Si Ungu mulai pukul delapan malam hingga pukul dua dini hari, di satu hari yang sama. Levina Lesmana (Lele) dan Jeffri Fernando (Jeffri) adalah dua orang hebat yang berada di balik pembuatan desain cover buku terbaru saya ini. Sempat kebingungan memberikan sentuhan akhir pada cover, karena kami bertiga merasa masih ada yang kurang. Sampai akhirnya Jeffri mengusulkan untuk memberi setangkai bulu burung, sebagai simbol sesuatu yang patah dan tercerabut dari tempatnya. Hati yang terlepas dari kamarnya. Bulu burung ini juga mewakili karakter salah satu tokoh dalam cerita berjudul Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri, cerita yang judulnya dipakai untuk judul buku ketujuh saya ini.



Ngerjain cover sampai tengah malam


Begitulah, sedikit cerita tentang proses di balik pembuatan Jatuh Cinta. Sangat singkat, memang. Hanya sekitar tiga bulan. Meski demikian, saya berharap kesan yang didapatkan oleh pembaca nanti setelah membaca bukunya tidak singkat, tetapi memanjang hingga seterusnya.

Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri akan hadir di toko buku Jabodetabek mulai minggu ini hingga akhir Desember 2014. Di luar pulau Jawa, sekitar bulan Januari 2015. Jika sudah tidak sabar, teman-teman bisa membelinya secara online di sini.

Selamat berburu!


Bara

7 Desember 2014

Jatuh Cinta + Signed Edition



HAI. Para pembaca yang baik hati. Buku terbaru saya, Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri sekarang sudah bisa dipesan di toko buku online yang bekerjasama dengan penerbit.


Buku yang dijual berharga diskon + edisi bertandatangan (terbatas).


Berikut daftar toko bukunya:




(klik untuk membuka tautan dan memesan)



Bukan pre-order, karena buku akan diantar pada tanggal yang sama dengan kehadiran buku di toko-toko buku konvensional, sekitar akhir bulan Desember sampai awal Januari 2015.




1 Desember 2014

Buku Baru: Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri




“Aku tidak bersepakat dengan banyak hal, kau tahu.
Kecuali, kalau kau bilang bahwa jatuh cinta adalah cara terbaik untuk bunuh diri.

Untuk hal itu, aku setuju.”


Kebanyakan orang lebih senang menceritakan sisi manis dari cinta.
Sedikit sekali yang mampu berterus terang mengakui
dan mengisahkan sisi gelap cintanya.
Padahal, meski tak diinginkan, selalu ada keresahan
yang tersembunyi dalam cinta.

Bukankah kisah cinta selalu begitu?
Di balik hangat pelukan dan panasnya rindu antara dua orang,
selalu tersimpan bagian muram dan tak nyaman.
Sementara, setiap orang menginginkan cinta yang tenang-tenang saja.

Cinta adalah manis. Cinta adalah terang. Cinta adalah putih.
Cinta adalah senyum. Cinta adalah tawa.

Sayangnya, cinta tak sekadar manis. Cinta tak sekadar terang.
Cinta tak melulu tentang senyum dan tawa. Ini kisah cinta yang sedikit berbeda.

Masih beranikah kau untuk jatuh cinta?

-

"Cinta yang Bara ungkap di buku ini bukan lagi sebatas manis dan perih, melainkan juga sisi gelap. Saya menemukan proses pendewasaan dalam cerpen-cerpen Bara. Dibandingkan dengan karya-karya ia sebelumnya, kali ini ada warna yang berbeda."
—Dewi ‘Dee’ Lestari, penulis

“Kisah-kisah cinta Bernard Batubara memukau saya. Caranya menggambarkan percintaan sepasang kekasih kadang kala memberi ruang untuk membayangkan adegan yang lebih panjang. Di dalamnya, ikut terungkap pula situasi sosial dan masalah kemanusiaan di dunia kontemporer kita.”

—Linda Christanty, penulis


Buku terbaru Bernard Batubara. Sebuah kumpulan cerita cinta. 
Terbit Desember 2014, GagasMedia.

Akan diluncurkan pada 13 Desember 2014 di Kembang Kencur, Gedung Promenade, Pejaten, Jakarta, dalam acara Kumpul Penulis dan Pembaca GagasMedia. Informasi HTM dan pendaftaran lihat website >> Kumpul Penulis dan Pembaca Segera daftar, karena terbatas. Ditutup 5 Desember.

22 November 2014

ilustrasi di buku terbaru


Di buku terbaru saya (yang akan terbit bulan depan, semoga) Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri, akan ada beberapa ilustrasi. Ilustrasi-ilustrasi tersebut melengkapi setiap cerita. Total ada 15 cerita, sehingga akan ada 15 ilustrasi. Yang saya pajang ini adalah salah duanya.

Sang ilustrator adalah IBG Wiraga (Hege). Saya menyukai gaya ilustrasinya yang sederhana namun detail, dreamy, dan terkadang surreal. Saya sudah pernah kerjasama dengan Hege untuk buku puisi saya, Angsa-Angsa Ketapang, edisi revisi. Saya pikir saya ingin ilustrasi-ilustrasi dia hadir kembali di buku terbaru saya. Maka saya pun menghubunginya, dan dia menyanggupi. Editor dan penerbit pun sepakat untuk menggunakan ilustrasi-ilustrasi Hege. Kalau ingin lihat karya Hege yang lain, mampirlah ke blognya: http://ibgwiraga.com

Apa kamu suka ilustrasi ini? :)

17 November 2014

film: surat untuk ruth





Adalah editor saya untuk buku Surat untuk Ruth, Siska Yuanita, yang memperkenalkan saya dengan Ve Handojo, orang yang kemudian menyampaikan kepada saya bahwa kantor tempat ia bekerja berminat untuk mengadaptasi novel saya ke layar lebar.

Saya tahu nama Ve Handojo lewat Twitter, belum pernah bertemu langsung. Setelah mencari-cari, saya baru tahu bahwa ia adalah salah satu penulis skenario dalam film omnibus Rectoverso Dee Lestari, dan saya menyukai film itu. Saya pun berkomunikasi via surel dengan Mbak Siska dan Mas Ve. Kami berkenalan dan bersepakat untuk bertemu di Jogja, membicarakan lebih jauh tentang rencana tersebut.

Lewat pertemuan itu, saya mengetahui dua hal: Pertama, kantor tempat Mas Ve bekerja adalah Screenplay Productions. Kedua, Mas Ve memiliki visi yang menarik terhadap film Surat untuk Ruth.

Pertemuan pertama kami di Jogja lebih banyak membahas ide-ide kreatif dan visi dari masing-masing pihak, bagaimana Mas Ve mewakili production house memandang film Surat untuk Ruth, dan bagaimana saya memandangnya dari kacamata penulis. Ternyata, Mas Ve memiliki pandangan yang bagi saya cukup menarik. Saya menyukai bagaimana ia menginginkan wujud film ini nantinya, dan pandangannya kurang lebih mirip dengan keinginan saya. Hal itulah yang membuat saya-setelah tiga kali pertemuan (yang kedua saya main langsung ke kantor Mas Ve, yang terakhir kami bertemu lagi di Jogja)-akhirnya setuju untuk menjual hak adaptasi film Surat untuk Ruth ke Screenplay Productions.


Pertanyaan-Pertanyaan

Pertanyaan satu: Apa peran saya dalam proses pembuatan film Surat untuk Ruth? Saya tidak menulis skenario, tidak pula menjadi aktor dalam filmnya. Saya akan menulis sinopsis hingga treatment (semacam kerangka atau outline pada novel), untuk kemudian diteruskan menjadi skenario utuh oleh Mas Ve. Ini sekaligus menjawab siapa penulis skenario film Surat untuk Ruth.

Pertanyaan dua: Siapa sutradara film Surat untuk Ruth dan siapa saja aktor dan aktris yang akan terlibat? Saya belum tahu. Tahap menentukan sutradara dan cast sepertinya baru bisa dilakukan setelah skenario selesai. Meski demikian, saya akan sangat senang kalau teman-teman pembaca punya usul atau bayangan, kira-kira siapa aktor dan aktris yang cocok memerankan tokoh-tokoh di Surat untuk Ruth (silakan sampaikan lewat kolom komentar di bawah tulisan ini). :D

Pertanyaan tiga: Kapan film Surat untuk Ruth tayang? Saya belum tahu. Saat ini kami baru akan mulai tahap pertama, yakni menulis sinopsis cerita. Jika semua berjalan lancar, mungkin Surat untuk Ruth akan tayang akhir tahun 2015, atau tahun 2016. Ya, ya, saya juga berharap filmnya segera jadi. He, he, he.

Pertanyaan empat: Apakah judul filmnya tetap sama dengan novel? Alhamdulillah, Mas Ve sudah bilang bahwa salah satu bagian dari novel Surat untuk Ruth yang akan dipertahankan di filmnya adalah judul. Bahkan, judul itulah yang pada awalnya menarik minatnya untuk mengadaptasi novel tersebut ke layar lebar. Lalu, bagaimana dengan bagian-bagian lainnya, apakah ada yang diubah? Mari kita bersepakat bahwa tidak mungkin memindahkan seratus persen isi novel ke film (jika pun bisa, apa gunanya?). Membuat karya baru artinya memberikan sesuatu yang baru, sesuatu yang lebih. Jika ada hal-hal yang bisa diubah, maka perubahan itu akan dilakukan. Tentu saja bagian-bagian penting, adegan-adegan kunci di dalam novel, akan tetap dipertahankan. Yang jelas, perubahan atau segala hal yang dilakukan terhadap versi film dari Surat untuk Ruth nanti dilakukan hanya untuk satu tujuan: memuaskan para penonton, juga pembacanya.


Saya berharap teman-teman berkenan untuk berdoa bersama saya, agar proses adaptasi Surat untuk Ruth berjalan lancar. Kita semua ingin segera menonton filmnya, namun kita juga tidak ingin filmnya menjadi abal-abal. Maka dari itu, kami tidak akan melakukan proses ini secara terburu-buru, melainkan berhati-hati dan dengan keseriusan yang baik.

Saya akan terus mengabarkan lewat blog ini jika ada berita terbaru mengenai proses pengadaptasian Surat untuk Ruth. Jika teman-teman ingin mengetahui kabar yang lebih cepat, teman-teman bisa follow Twitter resmi film Surat untuk Ruth di: @SuratuntukRuth dan Instagram di: @suratuntukruth.

Saran, masukan, usul apapun mengenai film Surat untuk Ruth, silakan sampaikan ke saya lewat Twitter (@benzbara_) ataupun di kolom komentar post ini. Dengan senang hati akan saya kumpulkan dan sampaikan ke PH. Jadi, jangan ragu. :D


Terima kasih!




Bara