31 Desember 2014

novel terbaru saya



REVIEW:

Review oleh Hany Nurulhadi: "Surat untuk Ruth, Bernard Batubara"
Review oleh Anggrek Lestari: "Periodisasi Luka yang Pura-pura Terlupa"
Review oleh Friska Yulianti: "Seuntai Kata untuk yang Terkasih"
Review oleh Herlambang Adhytia: "Surat untuk Ruth"
Review oleh Indah Ayu Sartika: "Review Surat untuk Ruth"
Review oleh Viera Ajeng: "Review Surat untuk Ruth"
Review oleh Ayu Setioardi: "Review Surat untuk Ruth"
Review oleh Neni Safitri: "Review Surat untuk Ruth"
Review oleh Ve Handojo: "Surat untuk Ruth - Bernard Batubara"
Review oleh Amanda Sheila: "Review Anak Muda: Surat untuk Ruth by Bernard Batubara"
Review oleh Atria Sartika: "Surat untuk Ruth"
Review oleh Cahaya Ramadhani: "Review: Surat untuk Ruth"
Review oleh Ni Putu Candra Dewi: "Surat untuk Ruth, Memoar Singkat dan Dekat"
Review oleh Margareta Mentari: "Surat untuk Ruth by Bernard Batubara"
Review oleh Sofi Meloni: "Review Surat untuk Ruth by Bernard Batubara"
Review oleh Dinoy Novita: "Dear Are, Surat untuk Ruth by Bernard Batubara"
Review oleh Irhamna: "Kenangan Itu Jahat dan Mengacaukan Segalanya"
Review oleh Winda Huhul: "Welcome June, Surat untuk Ruth"
Review oleh Ruri Alita: "Surat untuk Ruth, Review"
Review oleh Aziz Amin: "Review Surat untuk Ruth"
Review oleh Azure Sekai: "Surat untuk Ruth by Bernard Batubara"
Review oleh Cholis Hidayat: "Review Surat untuk Ruth"
Review oleh Andi N. A.: "Review Novel Surat untuk Ruth - Bernard Batubara"
Review oleh Intan F.: "Review Surat untuk Ruth"
Review oleh Elisa Fariesta: "Surat untuk Ruth, Bernard Batubara"
Review oleh Charlenne Kayla: "Are, Ini Surat Untukmu"

20 Oktober 2014

Kafka on the Shore, Haruki Murakami





Saya pernah berkata kepada seseorang, dalam usaha membuat ia tertarik membaca novel pengarang yang sedang sangat saya gandrungi. Saya bilang kepadanya: Membaca Haruki Murakami itu harus sabar dan ikhlas, jangan memiliki prasangka dan dugaan-dugaan, juga tidak perlu menggotong-gotong wawasan luas yang sudah kamu miliki. Lepaskan ekspektasi dan apapun yang biasanya kau sematkan pada buku yang sedang kau baca, lepaskan itu semua, karena hanya dengan demikian kau bisa menikmati dan mendapatkan intisari dari tulisan-tulisan Murakami. Membaca novel-novel Murakami itu ibarat memasuki dunia yang benar-benar berbeda, sekaligus sebenarnya tidak sangat-sangat berbeda (ini biasanya hanya bisa dipahami jika telah menyampai separuh jalan cerita). Namun, sebelum mulai membaca, kita harus mengosongkan isi gelas, melepaskan prinsip-prinsip dan nilai-nilai dan ukuran-ukuran yang selalu kita pakai untuk mendakwa setiap buku yang pernah kita baca sebelumnya, karena niscaya nilai-nilai dan ukuran-ukuran itu tidak berlaku bagi novel-novel Murakami. Bukan karena novel-novel Murakami berada di atas ukuran-ukuran itu, melainkan semata-mata dunia fiksi Murakami adalah dunia kosong, terkadang membosankan, monoton, absurd, aneh, dan hanya dengan keikhlasan dan kesabaran yang bulat seseorang baru dapat memasuki dan menikmati dunianya.

Ocehan saya di atas berlaku pula untuk Kafka on the Shore. Salah satu novel Murakami yang cukup tebal ini (nyaris lima ratus halaman) juga hampir tak mungkin bisa dinikmati oleh pembaca yang tidak sabaran. Sebab, alih-alih merasakan kesenangan apalagi mendapatkan sesuatu, bisa jadi belum apa-apa novel tersebut sudah dilempar ke kasur atau dikembalikan ke rak buku. Saya sendiri hampir melakukannya. Namun, saya berhasil menaklukkan perasaan untuk meletakkan kembali buku itu ke rak, meneruskan membaca, dan menyelesaikannya.

Murakami menulis Kafka on the Shore menggunakan teknik yang kurang lebih serupa dengan 1Q84. Novel yang nama tokoh utamanya diambil dari salah satu pengarang favorit Murakami ini ditulis dengan menggunakan model multi-plot, atau plot berganda. Jika Anda membaca 1Q84, maka Anda akan menemukan apa yang saya maksud. Di dalam 1Q84, ada dua plot utama: Tengo dan Aomame, ditambah satu plot ekstra di akhir buku yakni Ushikawa. Ketiga plot tersebut berjalan secara paralel. Tengo, Aomame, dan Ushikawa bergerak di jalur masing-masing, menghadapi permasalahannya sendiri-sendiri, tidak (atau lebih tepatnya, belum) bertemu, hingga pada satu titik akhirnya mereka melihat satu sama lain. Dua plot utama 1Q84, yakni plot milik Tengo dan Aomame, justru benar-benar baru bersilang di akhir cerita. Di dalam Kafka on the Shore, juga terdapat tiga plot berbeda yang berjalan secara paralel: yang pertama plot milik si tokoh utama, anak laki-laki berusia 15 tahun bernama Kafka Tamura; plot milik seorang laki-laki berusia 52 tahun bernama Nakata, yang memiliki keterbelakangan mental dan mampu berbicara dengan kucing; dan plot di mana terjadi sebuah peristiwa, yang dituliskan dengan teknik reportase dan transkrip wawancara (belakangan baru terungkap bahwa plot ketiga ini menjadi dasar atau latar belakang kehidupan Nakata, si lelaki pencari kucing).

Diceritakan bahwa Kafka Tamura kabur dari rumah untuk menjauhi ayahnya dan menjadi seorang pemuda berusia 15 tahun yang tangguh dan bebas. Hanya bermodalkan tas berisi barang-barang yang ia ambil di kamar ayahnya dan uang secukupnya, Kafka memulai perjalanannya. Ia berkelana tanpa tahu arah: naik bus ke tujuan yang ia tidak tahu, pergi ke perpustakaan yang tak ia kenal, dan menginap di hotel hanya untuk kemudian meninggalkan hotel tersebut tanpa check-out maupun pemberitahuan.

Dalam perjalanannya itu, Kafka bertemu orang-orang asing, yang sedikit demi sedikit mengarahkannya kepada sebuah tujuan. Orang-orang asing ini, tentu saja, memiliki ‘keunikan’. Seperti lumrahnya cerita-cerita yang ditulis Murakami, selalu tokoh-tokohnya tampak absurd, ‘sakit’, atau sedikitnya bukan dari jenis manusia yang ‘lazim’. Sakura adalah gadis yang mengaku memiliki pacar dan hubungan yang stabil, namun memberikan ‘servis’ untuk Kafka saat pertama kali Kafka menginap di apartemennya, hanya karena merasa Kafka tampak kelelahan dan ia ingin melepaskan rasa lelah itu dari Kafka (ia menambahkan alasan bahwa Kafka terasa seperti saudaranya sendiri, apakah ini juga menjadi alasan ia memberikan ‘servis’ itu? Entahlah). Ayah Kafka alias Johnnie Walker, ia menangkapi kucing liar, menggorok leher mereka, membelah dada kucing-kucing itu dan memakan jantungnya, lalu menyusun kepala-kepala kucing yang telah mati di dalam kulkas. Oshima, penjaga perpustakaan pengidap hemofilia dan bias gender (Kafka selalu merujuknya dengan him, sebelum akhirnya ia mengetahui bahwa Oshima adalah seorang perempuan dengan kelainan hormon sehingga dadanya tidak tumbuh seperti perempuan). Miss Saeki, tentu tidak kalah ‘sakit’, ia mengalami trauma dan kehilangan yang teramat besar setelah kekasihnya tewas dalam sebuah demonstrasi mahasiswa di Jepang.

Lewat semesta yang magis, aneh, sering tak masuk akal, Murakami mengupas sisi-sisi gelap manusia: amarah, kebencian, rasa bersalah, dan hasrat seksual. Seperti pada cerita-ceritanya yang lain, tentu saja di Kafka on the Shore juga terdapat adegan-adegan seks, yang diceritakan dengan sangat-Murakami. Satu hal yang agak berbeda di Kafka on the Shore adalah Murakami tampak lebih humoris, lewat sindiran-sindiran dan dialog-dialog menyimpang dari karakter-karakter yang juga komikal, seperti Hoshino dan Colonel Sanders. Murakami pun terlihat berusaha lebih sering menyentuh isu peperangan dan isu-isu sosial lainnya, yang mana sebelumnya jarang ia sentuh (walaupun, yah, masih sebatas menyentuh).

Sulit untuk menikmati novel-novel Murakami jika tak bisa memahami letak keindahan sebuah absurditas. Belum lagi Murakami mengawinkan absurditas itu dengan sesuatu yang ‘magis’, untuk tidak menyebutnya cerita beraliran realisme magis. The Boy Named Crow adalah salah satu manifestasi absurditas tersebut. Pada awalnya menduga The Boy Named Crow benar-benar seorang anak laki-laki manusia, saya kemudian mengubah pendapat saya karena lama-kelamaan tokoh tersebut lebih tampak seperti bagian lain, katakanlah alter-ego, dari Kafka Tamura sendiri. Lebih jauh lagi, semakin sulit rasanya memahami Kafka on the Shore (dan cerita-cerita Murakami lainnya) ketika absurditas itu dikawinsilangkan dengan plot yang lambat dan berjalan paralel secara tidak terburu-buru (masing-masing plot benar-benar ‘menikmati’ waktunya), serta adegan-adegan yang tampak tidak masuk di akal.

Namun, toh, setidaknya saya masih mampu berusaha bersabar dan mulai menemukan ketertarikan pada Kafka on the Shore saat adegan kemunculan Johnnie Walker, dan mendapatkan fokus membaca lagi di halaman-halaman berikutnya. Absurditas, bagian-bagian yang sureal, dan lubang-lubang nalar di Kafka on the Shore yang saya lihat, entah mengapa tidak mengurangi sedikit pun kenikmatan membaca.


Di situ lah, saya kira, letak kehebatan Murakami. Dengan segala hal-hal aneh dan tak lazim yang ia tebarkan di sepanjang novelnya, ia bisa membuat saya tidak memedulikan lubang-lubang itu. Murakami menambal lubang-lubang itu dengan memberikan informasi yang cukup untuk membuat saya merasa lubang-lubang itu wajar-wajar saja, sehingga ketika saya melihat lubang-lubang dan keanehan-keanehan lain, saya tidak lagi memikirkannya. Tidak penting. Bagi saya, satu-satunya yang penting adalah saya, setelah memulai pembacaan dengan keikhlasan dan kesabaran, pada akhirnya dapat menikmati isi dan jalan cerita. Lagi-lagi, keikhlasan dan kesabaran adalah dua kunci dasar untuk menikmati novel-novel Murakami, baik itu Kafka on the Shore maupun yang lain. Tentu saja tidak semua orang harus bisa ikhlas dan sabar, tapi sejauh yang pernah saya alami, keikhlasan dan kesabaran selalu memberi sesuatu yang menyenangkan. ***

17 Oktober 2014

Gadis Pantai, Pramoedya Ananta Toer





Adalah hal yang penting bagi seorang pengarang, untuk tidak menghamburkan kata-kata. Setidaknya begitu yang saya pahami ketika selesai membaca Gadis Pantai, novel Pramoedya Ananta Toer. Kata pengantar novel ini mengatakan bahwa Gadis Pantai adalah bagian pertama dari trilogi yang tidak lengkap. Maksudnya tidak lengkap adalah, dua buku terakhir tidak pernah terbit, dikarenakan pencekalan oleh pemerintah pada zaman itu. Meski demikian, meski Gadis Pantai berdiri sendiri, menurut saya ia tidak kehilangan keistimewaannya.

Mengapa saya membuka catatan ini dengan sebuah pesan, untuk tidak menyebutnya peringatan, tentang bagaimana seharusnya seorang pengarang memperlakukan kata-kata? Karena hal itulah yang pertama kali saya tangkap saat membaca beberapa halaman awal Gadis Pantai.


Empatbelas tahun umurnya waktu itu. Kulit langsat. Tubuh kecil mungil. Mata agak sipit. Hidung ala kadarnya. Dan jadilah ia bunga kampung nelayan sepenggal pantai keresidenen Jepara Rembang.


Pram terlihat sangat efektif dalam menggambarkan sesuatu, atau menyampaikan sebuah gagasan. Begitu pula ketika ia melukiskan suasana sebuah adegan atau menunjukkan watak dan sosok karakter-karakternya. Ia tidak memerlukan tiga sampai empat paragraf hanya untuk memberitahukan kepada pembaca bahwa si tokoh utama adalah seorang gadis belia berusia 14 tahun yang manutan dan bernasib buruk, atau tokoh antagonisnya adalah pejabat pemerintah yang jahat dan ditakuti. Cukup beberapa kalimat pendek, gambaran gestur dan dialog yang khas, sosok-sosok dalam Gadis Pantai pun terekam sudah dengan jelas dalam kepala, melekat hingga akhir cerita, bahkan hingga setelahnya.

Contoh paling baik untuk menunjukkan hal ini, salah satunya adalah bagaimana Pram memasukkan satu ciri khas Bendoro Bupati, pejabat administrasi pemerintahan Belanda yang rencananya hendak menyunting Gadis Pantai, yang kemudian menjadi entrance scene yang teramat khas. Yakni bunyi selop.


“Bendoro sudah bangun,” kepala kampung memperingatkan.
Semua tegang menegakkan tubuh. Pendengaran tertuju pada sepasang selop yang berbunyi berat sayup terseret-seret di lantai. Bunyi kian mendekat dan akhirnya nyata terdengar: buuutt.


Bunyi selop Bendoro itu diletakkan Pram di beberapa tempat sepanjang pembukaan cerita, dan itu adalah ciri yang kecil dan mungkin terlewatkan, namun setidaknya di kepala saya ‘bunyi selop’ itu menjadi entrance scene si tokoh antagonis ini yang membuatnya memorable, mudah diingat. Hebatnya lagi, efek ‘bunyi selop’ ini memberikan efek khusus. Ketika membaca frasa ‘bunyi selop’ yang terseret-seret, saya langsung merasakan apa yang dirasakan oleh Gadis Pantai, ibu, bapak, dan pembantu si Bendoro: ketakutan. Padahal, si Bendoro tidak melakukan apa-apa, hanya melangkahkan kakinya. Namun, Pram membuat ‘bunyi selop’ itu menjadi satu efek bunyi yang memberikan kesan angker, dan pada satu waktu juga, entah bagaimana, memunculkan kesan bahwa si tokoh ini memiliki kekuasaan besar dan menjadi penanda ‘posisi’ tokoh tersebut dalam cerita, atau kehidupan Gadis Pantai.

Tidak hanya pada Gadis Pantai dan Bendoro, tokoh pendukung seperti ayahnya Gadis Pantai juga digambarkan wataknya dengan cara yang sangat efektif. Lagi-lagi, Pram tidak memerlukan deskripsi panjang lebar untuk memberi tahu kepada pembaca bagaimana sifat dan perangai ayah Gadis Pantai. Cukup dengan dialog yang sangat singkat seperti saya kutip di bawah ini, kita sudah mendapat bayangan yang cukup jelas tentang sosok tersebut.


“Sst. Jangan nangis, nak. Hari ini kau jadi istri orang kaya.”
Ia terisak-isak, tersedan, akhirnya melolong. Ia tak pernah merasa miskin dalam empat belas tahun ini.
Pemandangan pantai sepanjang jalan, tumbuhan laut yang jadi semak-semak, kadal-kadal laut yang bercanda-ria dan ketam pasir yang mondar-mandir bermandi matari, semua tak menarik hatinya. Irama telapak kuda tak terdengar olehnya. Ia mengangkat kepala sebentar waktu dokar berhenti dan bapaknya turun dari dokar depan, menghampirinya, dan: “Kau mau diam tidak?”


Kecenderungan mendeskripsikan sesuatu dengan panjang lebar, saya kira, adalah salah satu dari tujuh dosa pengarang (saya belum menentukan enam yang lain) yang hampir selalu saya temukan di buku-buku yang saya baca. Tentu saja, dapat dipastikan, saya juga pernah bahkan sering terjebak dalam kecenderungan yang sama. Sebagai pengarang, saya kerap merasa tidak yakin apakah pembaca sudah menangkap apa yang ingin saya gambarkan, sehingga saya merasa perlu menambah deskripsi lebih detail. Namun, alih-alih memberikan gambaran yang kian kuat, seringkali deskripsi panjang lebar tersebut malah membuat eneg dan capek.

Efektivitas dalam bercerita adalah kemampuan yang wajib dimiliki oleh seorang pengarang, jika tidak maka bukunya akan berisi ratusan halaman penuh hal-hal yang layak dilewatkan begitu saja, tidak perlu dibaca kalimat per kalimat. Cerita yang tidak disampaikan dengan efektif, akan membuat pembaca melakukan skimming (jika ia pembaca yang cepat maka ia bahkan tak membutuhkan sepuluh menit untuk menyelesaikan novel setebal dua ratus halaman) dan si pengarang pada akhirnya hanya dapat berharap buku yang ia tulis tidak menjadi bahan tuduhan para pencinta lingkungan perihal menyia-nyiakan pohon untuk sesuatu yang lebih sia-sia.

Gadis Pantai memberikan contoh yang baik saat kita berbicara tentang efektivitas. Tidak hanya saat menggambarkan suasana, profil, dan watak tokoh, namun Pram juga sangat efektif dalam menulis dialog. Ia tidak merasa perlu membubuhkan aksi pada setiap akhir kalimat sehingga membuat halaman-halaman novel penuh dengan “…katanya”, atau “…ujarnya” dan tentu saja membuat kegiatan membaca novel jadi tak jauh beda seperti mengalami siksaan lahir batin. Dialog-dialog Gadis Pantai dengan ayahnya, ibunya, Bendoro, mBok, kusir, Mardinah, dan tokoh-tokoh lain, dituliskan hanya karena memang dialog-dialog itu perlu untuk dituliskan, tanpa menambahkan hal-hal yang tidak perlu seperti aksi-aksi yang mengiringi kalimat-kalimat dialog tersebut. Hanya informasi penting, clue perihal watak tokoh, isi pikiran dan pandangan tokoh, yang dimasukkan Pram ke dalam dialog-dialog di adegan-adegan Gadis Pantai.


“Mas Nganten,” Mardinah berteriak, kemudian melompat turun dari dokar dan memburu. “Ke mana? Banyak ular di akar-akaran bakau di pantai tanpa penghuni begini.”

Tanpa memandang Mardinah Gadis Pantai berkata lemah, “Bukankah itu yang kau inginkan?”

“Duduk saja di dalam dokar.”
“Mungkin sekali kalau ada takdir, seekor ular gigit aku, dan kau bisa senang gantikan aku sebagai wanita utama.”
“Tidak mungkin.”
“Mengapa tidak mungkin.”
“Mas Nganten tahu sendiri sahaya cuma seorang janda.”
“Tapi kau wanita bukan?”
“Ah, Mas Nganten begitu lama di gedung tak juga mengerti para pembesar cuma mau terima wanita langsung dari tangan Gusti Allah.”
“Kau?”
“Sahaya bekas lelaki lain.”
“Lantas. Mengapa surat itu kau paksa-paksa padaku?”
“Ayolah, naik ke atas Mas Nganten.”
“Naiklah. Aku lebih suka bicara dengan kusir.”
“Bendoro akan marah.”
“Lebih enak buat kau kan?”
“Tidak enak buat sahaya naik ke atas, sedang Mas Nganten masih di bawah.”
“Kau sering membuat surat untuk orang lain?”
“Lantas, siapa yang mesti sahaya surati? Tetapi sahaya bisa menulis.”
“Apakah semua keturunan pembesar begitu?”
“Begitu bagaimana Mas Nganten?”
“Ya, begitu seperti iblis.”


Pram pun tidak ragu untuk ‘melompatkan’ adegan, ia tidak merasa harus menuliskan cerita dari hari ke hari. Dalam satu halaman Gadis Pantai, bisa terdapat dua adegan yang waktu terjadinya berselang satu minggu bahkan satu bulan. Perpindahan adegan itu dituliskan tanpa menggunakan ‘pemisah’, bahkan tampak seperti dua paragraf yang terjadi pada satu waktu, namun ternyata tidak. Pram melakukan perpindahan itu dengan halus sehingga membuat saya tidak rewel bertanya-tanya apa yang terjadi pada kehidupan si tokoh di selang waktu yang ‘bolong’ itu. Informasi diberikan dengan baik dan lubang-lubang pada plot pun ‘tertambal’ dengan rapi.


Di catatan lain tentang novel Pram, saya sempat menuliskan bahwa jika ada orang yang bertanya bagaimana contoh novel yang bagus, saya akan tanpa ragu menjawab Bumi Manusia. Membaca Gadis Pantai menguatkan keyakinan itu, bahwa Pram memang pengarang ‘paket komplit’, ia tidak hanya memiliki isu yang ‘besar’, namun juga kemampuan, teknik menulis yang mumpuni. Pram memiliki konteks, dan tidak lupa bahwa menulis adalah sebuah keterampilan, dan sebuah keterampilan hanya dapat dibuktikan dari seberapa terampil si pengarang menuturkan ceritanya. ***

13 Oktober 2014

Lelaki Harimau, Eka Kurniawan




Membaca novel-novel Eka Kurniawan adalah membaca karya-karya pengarang dunia di dalam satu buku, kata seseorang yang saya tidak ingat namanya. Karena saya baru membaca sedikit, maka yang saya tangkap juga tidak banyak. Saat membaca kalimat pembuka Lelaki Harimau, saya hanya teringat pada satu nama: Gabriel García Márquez.

Senja ketika Margio membunuh Anwar Sadat, Kyai Jahro tengah masyuk dengan ikan-ikan di kolamnya,…

Foreshadowing atau ‘peramalan’ adalah teknik Eka Kurniawan yang paling sering saya temukan, setidaknya pada dua novelnya yang belum lama ini saya baca, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas dan Lelaki Harimau ini. Menurut sumber, teknik foreshadowing seperti yang dipakai pada bagian pembuka Lelaki Harimau itu pertama kali dipopulerkan, atau mungkin sering digunakan, oleh Gabriel García Márquez. Contoh yang sangat bagus adalah novela Chronicle of a Death Foretold (Kronik Kematian yang Telah Diramalkan), berkisah tentang pembunuhan seseorang yang diketahui seisi kota namun tak ada satu pun orang mencegah. Dalam Chronicle of a Death Foretold, cerita juga dimulai lewat cara seperti pembuka Lelaki Harimau (buku tersebut sudah saya kirim ke kampung halaman, jadi maaf saya tidak bisa memberi contohnya di sini).

Hal yang segera muncul ketika seorang pengarang menggunakan teknik foreshadowing sebetulnya adalah sesuatu yang paling dihindari oleh penulis cerita, yakni spoiler. Dalam pengertian yang ceroboh, menurut saya foreshadowing adalah ‘jurus ampuh’ untuk membocorkan spoiler kepada pembaca, yang mana justru sangat dihindari, bahkan dibenci. Ketika seseorang menggunakan teknik foreshadowing, maka dia memampangkan jelas-jelas inti cerita, klimaks, bahkan bisa jadi ending-nya. Dalam hal ini, Eka Kurniawan melakukan yang terakhir. Ya, kalimat pembuka Lelaki Harimau adalah juga merupakan ending novel tersebut.

Lalu, kalau sudah tahu ending ceritanya, bagaimana dong? Untuk apa dibaca lagi, kan sudah tahu akhirnya seperti apa? Di sini lah letak tantangan foreshadowing. Saya memandang foreshadowing lebih memberikan tantangan kepada penulisnya ketimbang pembaca. Apa tantangan itu? Jelas sekali, karena si pengarang sudah membocorkan klimaks dan ending ceritanya, maka misi besar saat menuliskan novelnya menjadi: bagaimana cara membuat pembaca tetap membaca dari awal hingga selesai, paragraf demi paragraf, halaman demi halaman, meski mereka telah mengetahui apa yang terjadi di akhir cerita?

Itulah, saudara-saudara, kekuatan Eka Kurniawan. Setidaknya dalam Lelaki Harimau dan Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (saya belum membaca Cantik Itu Luka, dan lupa sebagian besar cerpennya di buku-buku yang lain; hanya ingat Gerimis yang Sederhana) Eka menunjukkan kelihaiannya bermain-main dengan teknik andalan maestro realisme magis Gabriel García Márquez ini. Adegan pembuka yang mengandung spoiler (tidak tanggung-tanggung, Eka memberikan ending-nya!) dibelokkan ke adegan lain, yakni Kyai Jahro yang sedang masyuk dengan ikan-ikan di kolamnya. Untuk menyamarkan dan mengalihkan perhatian pembaca, seakan-akan tepat pada saat ia telah menunjukkan ending ceritanya secara gamblang di hadapan wajah kita ia lantas ingin membuat kita lupa, Eka melanjutkan adegan dengan kegiatan Kyai Jahro dan ia menuliskannya dengan kalimat-kalimat panjang, membawa dan menggiring perhatian pembaca ke hal lain.

 Senja ketika Margio membunuh Anwar Sadat, Kyai Jahro tengah masyuk dengan ikan-ikan di kolamnya, ditemani aroma asin yang terbang di antara batang kelapa, dan bunyi falseto laut, dan badai jinak merangkak di antara ganggang, dadap, dan semak lantana. Kolamnya menggenang di tengah perkebunan coklat, yang meranggas kurang rawat, hanya berguna bagi pabrik tempe yang merampok daunnya setiap petang… (dan seterusnya)

Eka mencoba mengalihkan perhatian dari ending cerita yang telah ia bocorkan di kalimat pertama, dengan menggunakan kalimat-kalimat majemuk yang panjang dan terus terangkai, dan memang saya sempat teralihkan sejenak. Saya lupa bahwa di kalimat pertama, ada informasi bahwa seseorang telah membunuh seseorang. Siapa Margio itu? Siapa Anwar Sadat? Kenapa Margio membunuh Anwar Sadat, apa masalahnya? Tapi, seolah-olah tidak peduli dan melakukan saja apa yang ingin ia lakukan, Eka malah memperlihatkan adegan tokoh yang lain lagi. Bukan Margio dan bukan Anwar Sadat.

Saat membaca setiap tulisan Eka Kurniawan, cerpen-cerpen dan novel-novelnya, saya selalu mendapatkan sensasi seperti sedang menonton sebuah film. Bukan hanya deskripsi yang cukup visual, melainkan permainan plot, yang layaknya sebuah plot film Hollywood nomor wahid. Dalam Lelaki Harimau, Eka menggunakan sudut pandang orang ketiga, dengan berbagai filter. Jika dibentangkan secara lurus, alur cerita Lelaki Harimau sebetulnya sangat pendek, namun permainan plot yang maju-mundur, dan pergantian sudut pandang (berpindah-pindah antara Kyai Jahro, Mayor Sadrah, Margio, Anwar Sadar, dan tokoh-tokoh lain) membuat Lelaki Harimau tampak seolah-olah panjang.

Dengan teknik demikian lah, Eka mengungkap misteri demi misteri dalam ceritanya. Bagaimana Margio membunuh Anwar Sadat, kehidupan Margio dan peristiwa-peristiwa yang ia alami sebelum ia melakukan pembunuhan itu, mengapa ia melakukannya. Eka juga melengkapi pengetahuan pembaca dengan informasi profil dan kehidupan tokoh-tokoh lain, juga lewat teknik yang sama, plot maju-mundur, dan berpindah-pindah kamera. Kalau penjelasan saya tentang plot dan teknik maju-mundur berpindah-pindah perspektif ini membingungkan dan sulit dibayangkan, tontonlah film Vantage Point. Anda akan paham dengan apa yang saya maksud.

Pada lapisan kulit yang lebih dalam, lewat Lelaki Harimau Eka memaparkan bermacam-macam isu. Mulai dari kekerasan, dendam, birahi, sampai cinta. Namun, semua lapisan kulit itu rupanya hanya menjadi pembungkus dari intisari yang menjadi penyebab nyaris seluruh konflik. Kekerasan, dendam, birahi, dan cinta, semuanya bermula dan bersumber dari satu titik kecil dan menyakitkan: kemiskinan. Setidaknya, saya melihatnya demikian.

Tentu saja di dunia ini tidak ada yang sempurna, Lelaki Harimau pun memiliki bagian yang sempat membuat saya menguap lebar dan melakukan skimming di banyak halaman. Hal ini terjadi pada bagian pertengahan, ketika Eka mengisahkan kehidupan Margio dan keluarganya sebelum ia menemukan ‘harimau’ yang kemudian merasuk dalam dirinya. Sebabnya saya menguap dan melakukan skimming tak lain daripada Eka mulai tampak malas menggunakan kelihaiannya, plot dengan perspektif berpindah-pindah itu berhenti di sana, dan seterusnya adalah alur yang linear dan teramat mudah ditebak. Betul-betul membosankan, mengingat di bagian awal novel ini menarik perhatian dengan sangat efektif dan jitu. Mungkin Eka berpikir bagian tersebut harus dituliskan menggunakan alur linear, karena fokusnya kali ini terletak pada informasi dan latar belakang, alih-alih bermain-main dengan plot. Tapi, tetap saja, apapun itu saya telah menguap di bagian pertengahan hingga nyaris akhir (meskipun, hal ini seketika termaafkan ketika saya sampai pada kalimat terakhir Lelaki Harimau).

Eka Kurniawan adalah pengarang yang matang teknik. Ia paham bahwa menulis adalah perkara menyampaikan apa dengan cara bagaimana. Ia tahu, untuk menyampaikan gagasan yang ia inginkan, ia harus mencari cara yang tepat pula. Bukan hanya tepat, tetapi yang paling tepat. Ia mengerti, ia mesti menemukan cara terbaik untuk mengucapkan apa yang ingin ia ucapkan. Hanya ada satu kalimat “Aku cinta kamu” di dunia ini, namun ada berapa ribu cara mengucapkannya?

Dan, Lelaki Harimau adalah gagasan yang ingin Eka sampaikan, dengan cara terbaik yang bisa ia dapatkan. ***