21 September 2018

Kenapa Mau Jadi Penulis?


-->


Mempertanyakan motivasi di balik keinginan besar anak muda terhadap profesi penulis. Sebuah catatan personal dari penulis yang baru satu dekade menekuni kesenangannya sebagai pilihan pekerjaan.



Saya tidak tahu kapan tepatnya penulis jadi profesi yang populer, terutama di kalangan remaja. Yang saya tahu saat ini banyak sekali anak muda ingin jadi penulis. Portal-portal digital tempat mengunggah tulisan bermunculan bagai jamur. Seiring meningkatnya kebutuhan konten untuk kepentingan bisnis hiburan maupun jenis bisnis lain, penulis jumlahnya terus bertambah, aktif melahirkan tulisan-tulisannya di kanal digital maupun media fisik.

Sebelum bicara lebih jauh, saya perlu menyampaikan sesuatu tentang siapa dalam hal ini yang saya bahas. Penulis yang saya maksud adalah siapapun yang membuat tulisan serta menerbitkannya, rutin maupun tidak. Demi membatasi pembahasan, secara khusus di tulisan ini saya merujuk kepada penulis-penulis muda di bawah 25 tahun yang berkarya melalui medium fiksi. Cerita pendek, bersambung, novel. Definisi dan batasan ini tidak berdasarkan apapun selain bahwa yang terlintas di kepala saya ketika mempertanyakan minat menulis adalah mereka yang lebih muda dari saya, dan fiksi karena saya sendiri lebih banyak menulis karya fiksi.

Kesimpulan saya tentang minat besar anak muda terhadap profesi penulis saya tarik dari banyaknya pertanyaan, testimoni, dan pesan-pesan yang masuk ke kanal-kanal digital saya tentang bagaimana caranya jadi penulis. Setiap kali saya talkshow untuk promosi buku terbaru, atau ketika mengisi kelas-kelas penulisan kreatif, saya selalu berhadapan dengan puluhan anak muda yang pengin jadi penulis. Pada tahun-tahun pertama menulis saya akan mudah menjawabnya. Namun, kini, sering pertanyaan tersebut saya jawab dengan sebuah pertanyaan lain:

“Kenapa kamu mau jadi penulis?”



Raison d’etre

Interaksi saya di berbagai kesempatan dengan anak-anak muda yang mengaku ingin jadi penulis mengajarkan saya sesuatu tentang motivasi. Ketika saya bertanya balik kenapa mereka ingin jadi penulis, sebagian menjawab dengan kalimat yang kabur, tetapi sisanya cukup jelas. Selain supaya bisa curhat dalam kalimat-kalimat yang artsy, poetic, dan sophisticated, sebetulnya cuma ada 2 (dua) motivasi utama seseorang pengin jadi penulis:
  1. Uang
  2. Ketenaran

Pengin kaya dan terkenal, itulah dua motivasi terbesar yang paling sering saya dengar. Dua hal yang dapat dicapai dengan cara lain, mungkin lebih efektif daripada harus meraihnya lewat jalan panjang dan sepi seorang penulis. Selugu apapun dua hal tersebut, uang dan ketenaran, saya dapat memahaminya. Namun, saya ingin mengutip quote Jim Carrey yang saya dapat dari Internet untuk menjawab keluguan itu.

“I think everybody should get rich and famous and do everything they ever dreamed of so they can see that it’s not the answer.” (Jim Carrey)


Ya, saya berani bilang itu bukan jawabannya. Menjadi kaya dan terkenal karena menulis bukanlah hal yang kamu cari.
Sewindu yang lampau, sebagai anak muda yang pengetahuannya tentang industri buku nyaris nol, saya tak pernah bermimpi bakalan menjadi penulis, apalagi menerbitkan buku yang laris. Namun, pasar pembaca sangat berbaik hati. Tiga buku pertama saya yang rilis lewat penerbit mainstream sangat laris bagi ukuran personal saya, mencatatkan nama saya ke peta buku nasional. Membuat saya punya pembaca.

Namun, seiring waktu saya mengetahui bahwa bukan buku best-seller lah yang saya kejar. Bukan pula follower yang banyak. Walaupun kadang masih terasa ganjil, saya senang ketika ada yang mengenali saya di keramaian, di tempat publik, tapi bukan pula hal itu yang membuat hati saya tenteram dan puas. Ketika saya tahu bahwa punya buku laris dan dikenal orang tidak membuat saya bahagia, saya sadar, keduanya bukan raison d’etre saya menulis.

Lantas, apa?


Mitos tentang dunia penulis

Menjadi penulis mungkin terlihat keren, tapi sama sekali tidak ada yang menyenangkan dari proses menulis. Menulis membutuhkan ketahanan fisik dan mental yang kuat. Dalam sebuah tulisan yang cukup representatif, Dewi Lestari pernah menyatakan bahwa penulis adalah profesi yang tidak sehat. Siapapun yang pernah mendedikasikan berjam-jam menulis sesuatu bakal setuju. Low back pain (LBP) dan carpal tunnel syndrome (CTS) adalah teman akrab. Asam mefenamat adalah sahabatnya penulis.

Itu baru persoalan tubuh, belum pikiran yang secara langsung berdampak pada kondisi mental. Berapa banyak penulis yang punya masalah dengan kejiwaan? Cobalah google creativity and mental illness”, ada sederet nama penulis besar dalam berbagai artikel yang didampingi jenis penyakit jiwa mereka. Dalam pengantar di buku kompilasi biografi singkat penulis yang pernah saya baca, ada satu kalimat menggelitik. “Semua orang akan jadi gila, penulis hanya tiba di sana lebih cepat.”

Tentang hubungan penulis dengan penyakit kejiwaan silakan riset sendiri. Saya hanya bisa sampaikan satu hal: menulis membuatmu memikirkan, cemas pada banyak hal. Bahkan, keduanya yang mendorongmu menulis. Ingin hidup dalam kecemasan yang mencekam? Silakan jadi penulis.

Belum lagi persoalan ambisi menulis sebuah karya yang bagus, yang saya kira tak akan pernah tercapai, sebab ketika kamu sudah merasa menulis sesuatu yang bagus, di situ lah proses belajar berhenti. Progres tidak dimungkinkan dalam sikap berpuas diri. Saat kamu membaca buku-buku bagus, seketika kamu terdorong untuk menulis sebagus apa yang kamu baca. Namun, kamu akan ditinju kenyataan: ketidakmampuanmu menyeberangi jurang antara selera membaca dan kemampuanmu menulis. Wajahmu biru-biru oleh karya sendiri yang tidak cukup bagus bagimu dan rekening yang tidak banyak berubah karena bukumu tidak laku.

Jadi, kenapa masih mau jadi penulis?



Refleksi personal

Kenapa saya menulis? Saya sudah menjawabnya di profil akun ini. Saya menulis karena saya tidak bisa tidak melakukannya. Saya sudah pernah mencoba berhenti menulis. Dengan sangat menyesal saya harus bilang bahwa bahkan untuk yang satu ini pun saya gagal. Setiap kali saya memalingkan wajah ke hal-hal lain yang lebih bikin saya bahagia, lebih tidak bikin saya cemas, setiap kali itu pula saya seperti ditarik kembali ke depan layar laptop, handphone, buku catatan, untuk menulis apa yang saya alami, pikirkan, pertanyakan. Saya ingin tidak menulis, tapi saya tidak bisa.

Saya pernah punya buku yang laku, pernah juga tidak laku-laku amat. Saya pernah dielu-elukan di sebuah talkshow, pernah juga tidak ada satu pun yang mengenal saya di sebuah tempat. Pengin jadi penulis karena bisa kaya raya? Itu kalau bukumu laku, dan ingatlah bahwa pasar selalu misterius. Dikenal orang? Ada cara yang lebih efektif. Lakukan hal konyol dan minta bantu temanmu yang selebtweet memviralkan kelakuanmu.

Ketika saya resign dari kantor penerbit besar dan memutuskan untuk jadi penulis saja, saya menikmati kebebasan dan ketidakpastian yang saya hadapi setiap hari. Saya meninggalkan gaji pokok, insentif, orang-orang hebat yang menyenangkan, demi ambisi personal. Saya ingin menulis sesuatu yang berarti. Saya ingin menulis karya yang bagus dan berarti.

Dan arti? Sebagai self-proclaimed, so-called nihilist, membicarakan arti bakal jadi pekerjaan rumah yang, ironisnya, tak berarti. Tujuan saya menulis kini jadi senjata makan tuan. Saya ingin melakukan sesuatu yang bertujuan, yang berarti, ketika saya sendiri tak yakin apakah semua ini ada artinya, di waktu yang bersamaan saya tak dapat mengerjakan apapun selain menulis. Terjebak dalam lingkaran yang menyiksa batin, menggeroti fisik dan pikiran. Well.

5 September 2018

Insomniac City, Bill Hayes




Enggan melupakan sesuatu tidak sama dengan berharap mengingatnya lebih baik. Saya menebak bahwa Bill Hayes, kolumnis The New York Times, menulis berbagai peristiwa yang ia alami selama enam tahun hidup di New York dalam buku memoar yang bagus, Insomniac City (2017) untuk memberitahu pembaca bahwa ia tak bermaksud semakin mengingat adegan-adegan itu, melainkan sekadar tidak melupakannya. Namun, kalau dipikir-pikir lagi, di mana batas antara mencatat sejarah dan mempertajam memori? Bagaimana kita tahu di mana jurnal berakhir, dan nostalgia dimulai?

Sebelum membaca Insomniac City, saya tidak pernah tahu nama Bill Hayes. Suatu hari saya bicara di talkshow untuk buku terbaru dua orang teman, dan mereka memberi saya buku ini sebagai hadiah. Saya jarang baca memoar, jadi buku ini tidak masuk ke daftar prioritas membaca, jujur saja. Tapi kadang-kadang saya iseng mengambil buku secara acak dari koleksi di kamar, terutama jika tidak sedang tahu harus baca yang mana. Agak kurang menyangka, ternyata Insomniac City jadi salah satu buku terbaik yang saya baca melalui random-picking itu.

Insomniac City adalah buku kumpulan esei super pendek yang diselang-selingi catatan acak dari jurnal penulisnya. Bill Hayes, seorang homoseksual, menulis esei-esei yang sangat bagus tentang New York dan hubungan asmara dengan Oliver Sacks, neurolog dan ilmuwan Inggris. Sebagaimana Bill Hayes, saya pun tak tahu-menahu tentang Oliver Sacks hingga membaca buku ini. Dalam salah satu eseinya Bill Hayes juga menceritakan bagaimana ketika ia mengungkap orientasi seksualnya kepada ayahnya.

Itulah tema buku ini. Kota dan cinta. New York, Oliver Sacks, and Me, seperti ditulis Bill Hayes di bawah judul Insomniac City.

*

Bill Hayes membagi isi bukunya ke dalam tiga bagian, masing-masing diberi judul Insomniac City, On Being Not Dead, How New York Breaks Your Heart. Ia lebih banyak bercerita tentang dirinya di bagian pertama, tentang Oliver Sacks di bagian kedua, dan kehidupan orang-orang New York di bagian terakhir. Namun, tidak sekaku itu. Di tiap-tiap bagian selalu terdapat gagasan-gagasan kehidupan dari perspektif Bill Hayes sendiri, interaksinya dengan orang-orang New York, dan hubungannya dengan Oliver Sacks. Ketiganya berkelindan apik dalam rangkaian kalimat yang page turning.

Tak berapa lama sebelum membaca Insomniac City, saya sedang ingin mencoba menulis esei tentang kehidupan sehari-hari. Kolom-kolom pendek yang reflektif. Slices of life. Ada semacam perasaan rugi kalau tak mencatat apa-apa yang terjadi seharian meski tak semuanya menarik. Persoalannya, saya tak punya panduan. Ketika membaca tulisan-tulisan pendek Bill Hayes, saya merasa mendapat titik terang.

Dalam kalimat-kalimat ketat saya bayangkan ditulis ulang berkali-kali, Bill Hayes begitu jernih menyampaikan gagasan-gagasannya melalui apa yang ia amati. Ia menangkap dengan matanya pasangan muda di bangku taman, perempuan dan anak kecil di gerbong subway, pelanggan toserba, ia menggambarkan interaksi menggunakan pilihan kata yang tidak hanya akurat, tapi juga memberi makna yang luas. Adegan-adegan yang tadinya terasa hanya mungkin terjadi di New York, menjadi punya arti lebih umum, universal.

Ia mengidap insomnia akut, Bill Hayes, dan kerap menggambarkan New York sebagai refleksi dari dirinya sendiri. Kalau New York itu seorang pasien, tulisnya dalam bahasa Inggris, ia pasti mengidap yang namanya agrypnia excitata, kondisi langka yang dicirikan dengan insomnia, kejang-kejang, perasaan gugup; gambaran kota yang tak pernah tidur, tempat seseorang datang untuk menciptakan dirinya kembali.

*

Cukup lama saya sadar, kini sudah menerimanya sebagai kenyataan, bahwa hidup tidak memiliki makna di dalam dirinya sendiri. Kita tidak mencari makna karena hidup tidak menawarkannya. Kita menciptakan makna. Dalam kesadaran ini saya memperoleh kelegaan. Dalam kenyataan ini terdapat kebebasan, bebas menciptakan makna apapun yang saya inginkan untuk hidup saya. Bebas pula ingin menciptakan makna atau tidak.

Menulis, bagi saya, adalah cara untuk menciptakan makna tersebut. Menulis adalah cara memaknai hal-hal duniawi yang biasa, yang sepele. Yang mundane. Jika kita bukan tentara yang hidup di Gaza atau orang-orang yang menunggu bom di Palestina, hidup ini tidak selamanya memberi hal-hal yang besar, yang mengguncang, yang life-changing. Hidup bagi orang medioker, kelas menengah sedikit ngehe seperti saya sebagian banyak terisi hal-hal tak berarti. Menulis hal-hal tak berarti itu adalah cara untuk memandangnya dari perspektif lain, sambil menduga-duga ilham yang tersembunyi di baliknya.

Menulis adalah sebuah usaha mengungkap makna di antara serangkaian peristiwa sepele yang terjadi secara acak. Seperti ketika saya mengambil Insomniac City dari tumpukan buku di kamar. Tak harus ada penyebab, tapi konsekuensi selalu hadir. Esei-esei pendek di buku ini mengingatkan saya kembali akan pentingnya mencatat. Menulis apa saja yang terjadi, sesepele apapun kelihatannya. Suatu hari yang sepele di jurnal akan menjadi tujuan nostalgia. Memori yang terangkat ke permukaan untuk menceritakan ulang tentang hidup yang sudah kita jalani. Hidup yang kurang panjang, mungkin, tetapi cukup berarti. ***

1 September 2018

Novel Digital Espresso!



Espresso adalah judul karya terbaru saya. Novel dalam format digital yang bisa teman-teman nikmati di layar handphone. Bab pertama sudah terbit hari Selasa 3 April 2018 dan bab baru akan terbit setiap Selasa pukul 19.00 WIB.

Baca Espresso di aplikasi Storial.co (unduh di Google Play). Lima bab pertama dapat teman-teman baca dengan gratis. Bab keenam hingga tamat perlu membayar menggunakan Koin Storial, yang dapat teman-teman beli dengan pulsa operator.

Untuk pertanyaan seputar teknis (cara mendaftarkan akun di Storial.co, membaca, membeli koin, dan lain-lainnya) silakan kontak Tim Storial.co di Twitter & Instagram: [at]StorialCo.

Selamat membaca Espresso!

17 Agustus 2018

Tiga Novel Michael Ondaatje



The English Patient (1992). Sudah lama saya mendengar tentang buku ini, tapi baru membacanya setelah dinobatkan sebagai peraih Golden Man Booker Prize, penghargaan yang diberikan Man Booker pada ulangtahunnya ke-50. Oleh tim juri, The English Patient dianggap novel terbaik dalam setengah abad terakhir. Luar biasa, bukan. Setelah membacanya, saya tak dapat membantah keputusan itu, meskipun untuk menilai secara objektif saya perlu membaca buku finalis lain (well saya sudah berhenti mencoba). Tapi cukup bagi saya bahwa Man Booker memilih novel yang tidak mengecewakan.

The English Patient adalah novel pasca perang dunia kedua, ditulis tahun 1992 oleh Michael Ondaatje, penulis Kanada lahir di Sri Lanka. Namanya populer mungkin setelah The English Patient digarap ke film tahun 1996 oleh Anthony Minghella, sutradara Inggris, dan diganjar 9 piala Oscar, termasuk untuk kategori film terbaik dan sutradara terbaik. Juliette Binoche, mendapat best actress in supporting role, memerankan Hana, perawat perang Kanada, karakter pertama yang muncul di adegan pembuka novelnya. Hana menarik tiga tokoh sentral lain: seorang mata-mata, seorang pencuri, dan seorang penjinak bom.

Novel dibuka dengan adegan Hana berdiri di kebun, di pekarangan vila yang terletak di sebuah area kompleks bangunan lama di Tuscany, Italia tengah. Ia merawat seorang pasien luka bakar parah, wajah tak bisa dikenali. Kelak dirujuk sebagai the english patient, si pasien Inggris. Belakangan terungkap nama aslinya, Almásy, penjelajah gurun dan kartografer Hungaria, dicurigai bukan hanya sebagai agen ganda, tapi triple agent (!) David Caravaggio, orang Kanada, pencuri, sudah empat bulan di rumah sakit Roma saat mendengar kabar burung tentang pasien Inggris dan perawat yang bersamanya. Tergerak oleh memori, ia pergi ke San Girolamo, lokasi mereka. Kip, penjinak bom asal India beragama Sikh, satu-satunya karakter sebaya Hana, bertugas membersihkan ranjau darat di sekitar vila, suatu siang terpancing bunyi denting piano Hana, mengira ada bom disembunyikan pasukan musuh di benda tersebut. Keempat karakter ini menjadi geng kecil di antara reruntuhan perang, seiring waktu menguak misteri hidup mereka melalui interaksi, percakapan yang menyingkap rahasia-rahasia.

Bagian terbaik dari novel ini adalah deskripsi Michael Ondaatje yang detail pada adegan-adegan yang tepat. Favorit saya, ketika Kip (kadang teringat tokoh Pip di novel Dickens) dalam proses menjinakkan ranjau darat seberat 2.000 kg. Begitu meyakinkan dan menegangkan, seolah Michael Ondaatje pernah melakukannya. Meski diapit detail di sana-sini, The English Patient tidak lantas menjadi bertele-tele. Dalam 300 halaman yang padat, kisah hidup empat orang dengan latar berbeda dapat terjalin apik, membentuk keutuhan cerita yang memuaskan. Michael Ondaatje bekerja sangat efektif. Sekilas melihat, kita akan tahu The English Patient melalui proses rewriting yang ketat dan mungkin hampir tak terhitung jumlahnya. Alur maju-mundur dalam adegan-adegan yang singkat mengingatkan saya pada novel-novel Dan Brown, untuk alasan serupa saya membacanya dengan sangat asyik, lancar tanpa hambatan hingga akhir.


In the Skin of a Lion (1987). Novel tentang orang-orang imigran di Toronto awal abad ke-20. Karya yang mendahului The English Patient, juga dianggap sebagai prekuelnya. Karakter pencuri David Caravaggio pertama muncul di novel ini, bersama Hana yang masih kecil. Patrick Lewis, protagonis In the Skin of a Lion, adalah ayah tiri Hana. Hidupnya kelak berakhir di The English Patient, tapi di novel ini kisahnya bermula sebagai pekerja yang ditugaskan mencari orang hilang. Novel In the Skin of a Lion berutang dari naskah Epos Gilgames, mengambil bagiannya untuk menjadi judul.

Patrick Lewis yang kehilangan ayahnya karena sebuah kecelakaan proyek pembangunan jembatan, memilih pekerjaan lain. Mencari konglomerat yang menghilang, Ambrose Small. Pencarian itu berakhir dengan kisah cinta yang pahit antara Patrick dengan Clara Dickens, selir si konglomerat. Untungnya kehidupan asmara Patrick berlanjut. Ia bertemu sahabat Alice Gull, sahabat Clara, dan anaknya yang berusia sembilan tahun, Hana. Mereka pacaran. Gagasan-gagasan Alice perihal uang dan kekuasaan merasuki Patrick. Sepeninggalnya Alice, Patrick meledakkan Muskoka, sebuah hotel di distrik Ontario Tengah yang dihuni orang-orang kaya.

In the Skin of a Lion punya bentuk yang sedikit mirip sekuelnya, namun dibanding The English Patient, ini lebih kronologis. Cerita berganti-ganti fokus menggunakan beberapa karakter, seluruhnya dituturkan dari sudut pandang ketiga. Dialog ditulis di antara adegan seperti naskah drama, minim gestur dan keterangan, somehow bikin tempo cerita jadi lebih cepat dan terkesan lebih dramatis. Bagian favorit saya ketika membayangkan David Caravaggio yang di The English Patient kehilangan dua jempol setelah dipotong tentara Blok Poros karena mencuri dokumen rahasia, di novel ini bekerja sebagai pembuat roti.


Coming Through Slaughter (1976). Pendahulu kedua novel sebelumnya. Berlatar New Orleans pada pergantian abad, ke-18 menuju ke-19. Tentang riwayat hidup Charles Joseph Buddy Bolden atau Buddy Bolden, pemain terompet cornet yang dianggap sebagai pelopor musik jazz.

Awalnya agak kagok baca novel ini, karena bentuknya sangat berbeda dengan The Englisht Patient dan In the Skin of a Lion. Kedua novel belakangan ditulis lebih rapi, bagian ke bagian. Prosa yang utuh. Coming Through Slaughter lebih, dalam tanda kutip, berantakan. Tapi justru inilah bagian terbaiknya. Halaman-halamannya terdiri atas fragmen-fragmen pendek, kadang potongan lirik lagu, deretan nama-nama band, berganti-ganti penutur dari narator ketiga ke suara Buddy Bolden sendiri lalu kembali ke narator serba-tahu. Saya membayangkan pada masanya novel ini dikategorikan, dalam tanda kutip, novel eksperimental.

Cara terbaik membaca novel ini adalah sembari mendengarkan Buddy Bolden’s Blues. Rangkaian bunyi terompet cornet yang lantang dan terdengar ceria, terasa kontras dengan kisah Buddy Bolden yang kelam, sendu, dan tragis. Jelang akhir hidupnya, ia divonis mengidap skizofrenia. Sebelum gila, Buddy Bolden seorang alkoholik dan terlibat perselingkuhan yang membuat rumah tangganya hancur. Michael Ondaatje secara brilian menulis paragraf-paragraf yang awalnya teratur, layaknya bait-bait pertama sebuah lagu, kemudian berganti ke kalimat-kalimat Buddy Bolden yang panjang tanpa tarikan napas tanpa tanda baca seperti yang saya coba tunjukkan di kalimat ini untuk menggambarkan pikiran Bolden yang melaju seperti nada-nada yang keluar dari terompetnya. Bagian favorit saya di novel ini ketika seorang tokoh diam-diam melihat Buddy Bolden memainkan terompetnya, mendengar Bolden memainkan blues yang lebih sedih dari himne, himne yang lebih sedih dari blues. Mencampuradukkan keduanya, himne dan blues, musik Tuhan dengan musik iblis (belakangan saya baru tahu pada masanya memainkan blues dianggap dosa).

Tokoh-tokoh legenda musik memang selalu menarik untuk dikulik. Gara-gara baca novel ini saya jadi mencari tahu tentang sejarah jazz, mendengar Chet Baker, Miles Davis, John Coltrane, dan pengin menonton Born to be Blue.

16 Agustus 2018

The Namesake dan Pantulan


-->

Saya selalu merasa buku bisa dinilai secara objektif. Dibedah, dimutilasi, dikorek isinya dengan sikap yang dingin. Dengan mata yang tak berbelas kasih. Isi buku dibaca, didekonstruksi, didakwa, menggunakan pisau kritik yang tak berjiwa. Tak peduli apakah buku tersebut sebetulnya mengandung hal-hal yang kita sendiri alami. Buku dalam beragam wajah dan sejarahnya, akan senantiasa tergeletak di atas meja operasi, berserah diri pada kesewenang-wenangan pembaca, sang dokter bedah.

Saya hanya pembaca, bukan kritikus sastra. Tidak punya gelar sarjana sastra. Tidak paham teori tentang karya sastra. Tidak punya pisau yang dibutuhkan untuk membedah karya sastra. Namun, sejujurnya saya pernah mencoba, tentu tanpa menyebut apa yang saya tulis sebagai sebuah kritik, tidak pernah. Saya hanya menulis ulasan. Awalnya saya mengira dapat membuat ulasan yang objektif, tapi lama-kelamaan saya merasa percuma saja mencoba. Buku akan selalu menjadi benda yang subjektif. Pembacaan atas buku akan sangat bergantung pada pengalaman pembacanya sendiri.  

Saya semakin meyakini hal ini ketika membaca novel The Namesake, Jhumpa Lahiri. Ketika membacanya, saya menangis di beberapa bagian, cukup banyak. Saya yakin, saya menangis bukan hanya karena The Namesake ditulis dengan bagus, tapi juga, dan terutama karena bagian-bagian buku tersebut menyentuh pengalaman personal saya. Identitas, keadaan, dan kegelisahan karakternya mencerminkan identitas, keadaan, dan kegelisahan personal saya sebagai manusia.

The Namesake terbit tahun 2003 dalam bahasa Inggris; diadaptasi ke film tahun 2006 oleh Mira Nair. Meski lahir dari orangtua yang India, Jhumpa Lahiri tidak menulis dalam bahasa Bengali. Ia lahir di London lalu di usia yang ke 2 tahun pindah ke New York, Amerika. Ia melihat dirinya sebagai orang Amerika. Nama asli Jhumpa Lahiri terdengar sangat India, Nilanjana Sudeshna, tapi ia memilih dikenal dengan nama Jhumpa. Persoalan nama ini juga menjadi inti persoalan The Namesake. Novel yang bergerak karena sebuah nama.

The Namesake bercerita tentang keluarga muda imigran India di Amerika. Cerita dimulai dengan kelahiran seorang anak laki-laki dari pasangan tersebut, Ashoke dan Ashima Ganguli, anak yang diberi nama Nikhil Gogol Ganguli. Nama yang ganjil itu diambil dari nama penulis Rusia, Nikolai Valisievich Gogol atau yang dikenal dalam versi lebih ringkas, Nikolai Gogol. Ayah si anak itu, bernama Ashoke, akademisi, adalah penggemar karya-karya Nikolai Gogol.

Suatu hari, sebelum menikah dan memulai kehidupan keluarganya di Amerika, Ashoke mengalami peristiwa tragis, kecelakaan kereta api. Secara ajaib, buku Nikolai Gogol yang sedang dibacanya saat itu menyelamatkan hidupnya. Lantas, letika anak pertamanya lahir, persoalan memberikan nama menjadi hal pelik. Rumah sakit Amerika tempat istrinya bersalin butuh mereka segera menamai bayinya, tapi tradisi India menjadikannya lebih rumit. Untuk mempermudah urusan mereka, Ashoke menamai anaknya Gogol.

Di kemudian hari, ternyata nama Gogol ini menjadi persoalan yang pelik. Saking peliknya sampai-sampai Gogol Ganguli memutuskan untuk mengubah namanya, secara resmi. Menjadi Nikhil Gogol Ganguli. Memperkenalkan dirinya ke orang-orang sebagai Nikhil, bukan Gogol. Ia menyembunyikan Gogol, mengubur nama itu dalam-dalam, bersama amarah serta kejengkelan terhadap orangtuanya. Hingga kelak di usia yang ke-30 tahun, Gogo mulai memahami makna sebenarnya dari sebuah nama. Namanya.

Sebuah nama, yang hanya ia sendiri yang punya.

*

Bagi saya, The Namesake menjadi personal karena menyimpan terlalu banyak kemiripan dengan hidup saya. Tak banyak yang tahu, tapi saya selalu merasakan kegamangan yang sama seperti yang dialami Gogol. Saya lahir dari ibu bersuku Melayu dan ayah bersuku Batak tapi saya tak pernah betul-betul merasa sebagai orang Melayu maupun Batak. Agama saya Islam, tapi nama saya Bernard. Saya sering dikira orang Kristen. Saya merasa tak menjejak pada satu tanah suku, agama, dan bahasa yang kuat. Persoalan identitas tidak pernah menjadi hal yang mudah dan tegas bagi saya.

Pada saat saya membaca The Namesake, usia saya hampir 30 tahun, sama seperti Gogol. Ibu kandung Gogol, Ashima, adalah perempuan India. Tak lama sebelum membaca The Namesake saya mengetahui bahwa saya punya garis keturunan India, langsung dari sebelah ibu; suami dari nenek moyang saya (neneknya ibu) adalah orang India. Sejujurnya saya tak ingat apakah ada adegan memasak di The Namesake, tapi masakan-masakan India selalu terasa dekat bagi saya karena di rumah nenek kami sering menyantapnya. Gogol punya adik perempuan yang usianya tak jauh dari adik saya. Sulit untuk menyangkal betapa berlimpah kemiripan di The Namesake dengan kehidupan personal saya.

Dengan begitu banyak kemiripan, saya tak bisa menghindar dari menjadikan adegan-adegan The Namesake sebagai bahan refleksi. Saya melihat diri saya di dalam Gogol. Cara bertutur Jhumpa Lahiri yang deskriptif dan subtil, membuat saya merasakan perubahan emosi Gogol secara intens, seakan-akan yang saya baca adalah perasaan-perasaan saya sendiri. Membaca The Namesake seperti mengalami perasaan yang sama dua kali. Kegelisahan yang sama. Kesedihan yang sama.

*

Dapatkah saya membuat ulasan buku yang objektif, yang mengesampingkan pengalaman pribadi saya dan membatasi pembacaan di dalam buku itu sendiri? Setelah The Namesake, saya rasa tidak. Saya tak akan pernah mencobanya lagi.

Tentu saja persoalan akan berbeda bagi kritikus sastra, tapi saya akan selamanya melihat buku sebagai sesuatu yang personal, yang memberi efek terdahsyatnya bukan hanya karena ia ditulis dengan bagus dan penuh kesabaran, tapi karena penulisnya telah sangat apik mengungkapkan apa yang dirasakan, dialami, dan disimpan diam-diam oleh pembacanya. Memantulkan kembali wajah sejarah pribadi pembacanya. Menjadi sepotong cermin. ***