20 Mei 2016

Selamat Datang



Bernard Batubara adalah penulis penuh-waktu. Lahir 9 Juli 1989 di Pontianak, Kalimantan Barat; tinggal di Yogyakarta. Belajar menulis puisi, cerita pendek, dan novel sejak medio 2007. Buku-bukunya yang telah terbit: Angsa-Angsa Ketapang (2010), Radio Galau FM (2011), Kata Hati (2012), Milana (2013), Cinta. (2013), Surat untuk Ruth (2013), dan Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri (2014). Radio Galau FM dan Kata Hati telah diadaptasi ke layar lebar. Surat untuk Ruth sedang dalam proses adaptasi ke layar lebar oleh Screenplay Productions, direncanakan tayang 2016. Novelnya yang terbaru telah terbit bulan Oktober 2015: JIKA AKU MILIKMU (GagasMedia).

12 Januari 2016

Terkokang dan Terkunci (Etgar Keret)

Diterjemahkan dari versi bahasa Inggris di buku The Bus Driver Who Wanted to be God (Riverhead Books, 2015). Terjemahan dari bahasa Ibrani ke bahasa Inggris oleh Miriam Shlesinger.


*


Ia berdiri di sana di tengah-tengah gang, sekitar dua puluh meter dariku, kain keffiyeh menyelubungi wajahnya, dan ia mencoba melakukan provokasi dengan bergerak mendekat: “Zspecial Force bangsat,” ia berteriak, logat Arabnya kental.

“Kenapa, oi, pahlawan? Bosmu yang mata satu itu menyodomimu terlalu kasar? Kau jadi susah lari, ya?” Ia membuka risleting celana dan menunjukkan penisnya: “Kenapa, Zspecial Force? Kontolku kurang oke ya buatmu? Tapi cukup oke buat adik perempuanmu, kan? Cukup oke buat ibumu, kan? Cukup oke buat temanmu itu, Abutbul. Gimana kabar dia, Abutbul itu? Sudah baikan si pemuda malang itu? Kemarin kulihat helikopter zspecial mengangkut dia pergi. Dia mengejarku seperti orang gila. Setengah blok dia mengejarku seperti seorang majnun. Blatsh! Mukanya pecah kayak buah semangka.”

Aku menggeser senapanku, sampai aku mendapatkan titik tewasnya dalam arah tembakku.

“Tembak aku, homo!” ia berteriak, kemudian melepaskan pakaiannya dan memancingku. “Tembak di sini.” Ia menunjuk letak jantung di dadanya.

Aku melepas pengaman, kemudian menahan napas. Ia menunggu dengan berkacak pinggang, tampak tidak peduli sama sekali. Jantungnya berada jauh di balik kulit dan dagingnya, terletak dengan sempurna tepat di garis tembakku.

“Kau tak mungkin menembak, pengecut bangsat. Tapi kali-kali saja kalau kau menembak komandanmu yang mata satu itu, dia tak bakal menyodomimu lagi, ya tidak?”

Aku menurunkan senapanku, dan ia kembali menunjukkan sikap penuh kebencian. “Yallah-cepatlah, aku mau balik, nih, bangsat. Besok aku akan ke sini lagi. Kapan kau ditugaskan untuk berpatroli di sini lagi? Jam dua lewat sepuluh? Sampai ketemu besok.” Ia berbalik, beranjak menyusuri gang, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti dan ia menoleh ke arahku sambil mencengir: “Titip salam buat Abutbul ya, bilang dari Hamas. Katakan ke dia kami benar-benar minta maaf soal lemparan bata itu.”

“Kenapa, oi, homo?” ia berteriak lagi. “Otakmu rusak gara-gara disodomi terlalu sering oleh komandanmu si mata satu itu?”

Kemudian, aku menyobek kain pelapis seragam lapanganku dan menyelubungi wajahku dengannya. Kini yang tampak hanya sepasang mataku. Aku mengambil senapanku, mengokangnya, dan memastikan pengamannya terpasang. Aku memegang gagang senapan dengan kedua tangan, mengangkatnya ke atas kepala dan mengayunnya beberapa kali, lalu melepaskannya dengan tiba-tiba. Benda tersebut terbang, melayang-layang, kemudian mendarat di tanah, tergeletak tepat di antara kami.

Kini aku persis seperti dirinya. Kini, aku pun memiliki kesempatan untuk menang.

“Itu buatmu, ya majnun,” aku berteriak.

Untuk beberapa saat ia hanya menatapku, terheran-heran. Kemudian, ia bergegas menuju senapan itu. Ia bergerak hendak mengambilnya, dan dalam waktu bersamaan aku berlari ke arahnya. Ia lebih cepat dariku. Ia akan mendapatkannya lebih dulu.

Tapi aku akan menang, karena kini aku persis seperti dirinya, dan dengan senapan di tangannya, ia jadi persis seperti diriku. Ibunya dan adik perempuannya akan jadi orang Yahudi, teman-temannya akan terkapar di ranjang-ranjang rumah sakit, dan ia akan berdiri di sana memandangiku seperti seorang bangsat dengan senapan di tangannya, dan ia tidak akan mampu berbuat apa-apa.

Mana bisa aku kalah?

Ia mengambil senapan itu, kemudian melepas pengamannya-aku terlambat sejauh lima meter. Sebelah kaki menekuk, ia meninting dan menarik pemicu.

Dan kemudian ia melihat apa yang aku lihat sepanjang beberapa bulan berada di tempat ini, di lubang neraka ini:

Senapan itu cuma sampah. Besi seberat tiga setengah kilo yang tak berguna. Betul-betul tidak berfungsi. Percuma saja mencoba. Sebelum ia dapat bangkit, aku sudah menendangnya dengan keras tepat di hidung. Saat ia terguling, aku menjambak rambutnya dan mencopot keffiyeh-penutup wajahnya. Aku menatapnya lekat-lekat. Kemudian, seperti orang sinting, aku menghantamkan wajahnya ke tiang telepon. Lagi dan lagi, lagi dan lagi, lagi dan lagi.


Sekarang mari serahkan dia ke komandan bermata satu untuk disodomi. ***

10 Januari 2016

Memecahkan Celengan Babi (Etgar Keret)

Diterjemahkan dari versi bahasa Inggris di buku The Bus Driver Who Wanted to be God (Riverhead Books, 2015). Terjemahan dari bahasa Ibrani ke bahasa Inggris oleh Miriam Shlesinger.


*


Ayah tidak mau membelikanku boneka Bart Simpson. Ibu bilang boleh, tapi Ayah bilang aku terlalu dimanjakan. “Kenapa?” katanya kepada Ibu. “Kenapa pula harus kita turuti kemauan anak ini? Dia cuma perlu merengek sedikit dan kau langsung mengabulkan apa yang dia mau.” Ayah bilang aku tidak dapat menghargai uang, dan bila aku tidak belajar sedari kecil, kapan lagi? Anak-anak yang diberi boneka Bart Simpson dengan cara mudah akan tumbuh dewasa jadi preman yang suka memalaki pedagang kaki lima, karena mereka terbiasa mendapatkan apa yang mereka inginkan dengan cara yang mudah. Jadi alih-alih membelikanku boneka Bart Simpson, Ayah membelikanku sebuah celengan babi buruk rupa dan dengan demikian aku akan tumbuh dewasa dengan baik-baik saja dan tidak akan jadi seorang preman.

Kini, meskipun aku membencinya, setiap pagi aku harus minum cokelat. Segelas cokelat campur kulitnya berarti sekeping shekel, dan kalau tanpa kulit artinya setengah shekel, dan bila aku muntah aku tidak dapat apapun. Aku meloloskan keping-keping shekel ke punggung celengan babi yang berlubang, dan saat aku mengocoknya ia bergemerincing. Kelak saat si babi sudah penuh dan tidak bergemerincing lagi waktu dikocok, aku bisa dapat boneka Bart Simpson dan papan skate sekaligus. Begitu kata Ayah, dan menurutnya ini cara yang mendidik.

Sebenarnya, si babi ini imut. Hidungnya terasa dingin kalau kau sentuh, dan dia tersenyum saat kau memasukkan sekeping shekel melalui punggungnya ataupun setengah shekel, tapi yang paling menyenangkan adalah dia tetap tersenyum meski kau tidak memasukkan apa-apa. Aku memberinya nama: Pesachson. Dari nama merk kotak surat di rumah.

Pesachson tidak seperti mainanku yang lain, dia lebih tenang, tidak punya lampu dan per pegas dan baterai yang suatu waktu bisa soak. Kau cuma perlu mengawasinya supaya dia tidak melompat dari meja. “Pesachson, hati-hati! Kau itu buatan Cina,” kataku saat aku melihatnya agak mencondongkan tubuh dan melongo ke lantai, dan dia tersenyum kepadaku dan dengan sabar menungguku menurunkannya.

Aku tergila-gila dengan senyumannya. Demi dia lah aku rela setiap pagi minum cokelat dengan kulit, supaya aku bisa memasukkan sekeping shekel melalui punggungnya dan melihat betapa senyumnya tidak pernah bergeser sedikit pun. “Aku menyayangimu, Pesachson,” kataku kemudian. “Jujur ya, aku lebih menyayangimu ketimbang Ibu atau Ayah. Dan aku akan selalu menyayangimu, tidak peduli apapun yang terjadi, bahkan kalaupun kau jadi preman. Tapi jangan sekali-sekali kau melompat dari meja, ya!”

Kemarin, ayah mengambil Pesachson dari meja dan lalu mengocok-ngocoknya ke atas dan ke bawah dengan kasar. “Hati-hati, Yah,” kataku, “Ayah bikin Pesachson sakit perut.” Tapi Ayah terus saja mengocoknya.

“Tidak ada bunyi gemerincing, kau tahu itu artinya apa, Yoavi? Besok kau dapat boneka Bart Simpson dan papan skate.

“Asyik!” seruku. “Bart Simpson di atas papan skate, asyik. Tapi jangan kocok Pesachson lagi, itu bikin dia nggak nyaman.”

Ayah meletakkan Pesachson kembali ke atas meja, kemudian pergi mencari Ibu. Setelah beberapa saat, ia muncul lagi bersama Ibu.

Ayah menggenggam martil.

“Apa kubilang.” kata Ayah kepada Ibu. “Sekarang anak ini tahu bagaimana cara menghargai sesuatu. Begitu, kan, Yoavi?”

“Tentu, aku tahu,” kataku, “tentu… tapi itu martilnya buat apa?”

“Ini untukmu,” kata Ayah, dan ia meletakkan martil tersebut di tanganku. “Hati-hati.”

“Tentu, aku akan hati-hati,” kataku, dan aku memang benar-benar berhati-hati, tapi beberapa saat kemudian Ayah tampak geram.

“Ayo, pecahkan babinya.”

“Apa?” tanyaku, “pecahkan Pesachson?”

“Ya, ya, Pesachson,” kata Ayah. “Ayo, pecahkan. Kau berhak dapat Bart Simpson, kau sudah berjuang keras.”

Pesachson tersenyum kepadaku dengan satu senyum yang sedih, senyum seekor babi Cina yang tahu bahwa akhir hidupnya akan tiba.

Masa bodo dengan Bart Simpson. Aku, menghajar kepala sahabat terbaikku dengan martil?

“Aku tidak mau Bart.” Aku mengembalikan martil itu ke Ayah. “Pesachson saja cukup untukku.”

“Kau tidak paham,” kata Ayah. “Tidak apa-apa, ini namanya mendidik. Sini, Ayah pecahkan untukmu.”

Seketika saja Ayah sudah mengangkat martilnya, dan aku menatap mata Ibu yang tampak jeri dan senyum lemah Pesachson dan aku tahu semua ini bergantung pada tindakanku, kalau aku tidak berbuat apa-apa dia akan segera mati.

“Ayah.” Aku menarik-narik celana Ayah.

“Apa, Yoavi?” kata Ayah. Tangannya yang menggenggam martil masih bersiaga.

“Aku minta satu shekel lagi, ya, aku mohon,” kataku. “Aku minta satu shekel buat aku masukkan, besok, habis minum cokelat. Habis itu baru kita pecahkan, besok, aku janji.”

“Satu shekel lagi?” Ayah tersenyum dan meletakkan martil ke atas meja.

“Iya. Lihat, kan, aku sudah mengerti dan dewasa,” kataku. “Besok.” Saat itu, airmata sudah tersangkut di tenggorokanku.

Ketika mereka meninggalkan ruangan, aku memeluk Pesachson sangat erat dan akhirnya airmataku mengalir. Pesachson tidak berkata apa-apa, hanya bergemetar dengan heningnya di dalam dekapanku. “Jangan takut,” aku berbisik di telinganya, “aku akan menyelamatkanmu.”

Malamnya, aku menunggu Ayah selesai menonton televisi di ruang tengah sampai ia masuk kamar dan tidur. Kemudian, diam-diam aku menyelinap keluar rumah bersama Pesachson. Kami berjalan sangat jauh sampai tiba di padang rumput luas yang penuh dengan duri. “Babi suka sekali dengan padang rumput luas,” kataku kepada Pesachson sembari meletakkannya di tanah, “apalagi padang yang banyak durinya. Kau akan betah di sini.”

Aku menunggu jawaban, tapi Pesachson tidak mengatakan apapun, dan saat aku menyentuh hidungnya untuk mengucapkan selamat tinggal, dia hanya menatapku dengan sedih. Dia tahu dia tidak akan pernah bertemu denganku lagi. ***


Catatan: Shekel adalah mata uang Israel. 

7 Januari 2016

Rahim (Etgar Keret)

Diterjemahkan dari Inggris di buku The Bus Driver Who Wanted to be God (Riverhead Books, 2015). Terjemahan Inggris dari Ibrani oleh Miriam Shlesinger.


*


Pada ulang tahunku yang kelima, ibuku divonis kanker, dan dokter bilang rahim ibu harus diangkat. Itu hari yang sedih. Kami semua naik mobil Subaru milik ayah, pergi ke rumah sakit, dan menunggu sampai dokter keluar dari ruang operasi sambil menangis. “Belum pernah saya lihat rahim seindah itu,” ia bilang, seraya melepas masker. “Saya jadi merasa seperti pembunuh.”

Ibuku memang punya rahim yang indah. Saking indahnya, rumah sakit mendonasikan rahim tersebut ke museum. Dan pada hari Sabtu, kami sengaja ke sana, dan paman memotret kami yang berpose di sebelah rahim ibu. Waktu itu ayahku sudah tidak ada lagi. Ia menceraikan ibu sehari setelah operasi pengangkatan rahim. “Perempuan tanpa rahim bukan perempuan. Dan laki-laki yang tetap bersama perempuan yang bukan perempuan, bukanlah laki-laki,” ia berkata kepada abangku dan aku, sesaat sebelum ia naik pesawat menuju Alaska. “Nanti setelah dewasa, kalian akan paham.”

Ruangan tempat rahim ibuku dipamerkan gelap sekali. Satu-satunya cahaya berasal dari rahim itu sendiri, berpendar lembut seperti cahaya di dalam kabin pesawat saat terbang di malam hari. Dalam foto, benda tersebut tampak biasa saja, karena terpapar sinar flash dari kamera, tapi saat aku melihatnya langsung dari dekat, aku benar-benar mengerti kenapa waktu itu dokter sampai menangis dibuatnya. “Kau berasal dari sana,” pamanku bilang, menunjuk ke arah rahim. “Di dalam sana, kau seperti pangeran, tahu tidak. Ibumu itu memanglah…”

Pada akhirnya, ibuku meninggal. Pada akhirnya semua ibu akan meninggal. Dan ayahku menjadi seorang penjelajah di kutub utara dan pemburu paus.

Gadis-gadis yang aku pacari selalu salah paham saat aku mengintip rahim mereka. Mereka pikir itu tindakan yang bikin ilfil. Tapi salah satu dari mereka, yang tubuhnya aduhai sekali, bersedia menikah denganku. Aku sering memukuli pantat anak-anakku bahkan sejak mereka bayi, karena tangisan mereka benar-benar menggangguku. Kenyataannya mereka cepat mengerti dan sama sekali berhenti menangis saat memasuki usia sembilan bulan, jika tidak lebih awal. Awalnya tiap mereka berulang tahun aku membawa mereka ke museum untuk melihat rahim nenek mereka, tapi mereka tidak tertarik, dan istriku akan marah, jadi kemudian aku membawa mereka menonton film-film Walt Disney saja.

Suatu hari mobilku diderek, dan kantor polisi berada tidak jauh, jadi mumpung sedang dekat dari museum, aku mampir. Rahim ibu tidak di tempat biasanya. Mereka memindahkannya ke ruang sebelah yang penuh gambar-gambar, dan ketika aku memperhatikan rahim ibu lebih dekat, aku melihat benda itu dikerubungi bintik-bintik hijau. Aku bertanya ke satpam kenapa tidak ada yang membersihkannya, tapi dia cuma mengangkat bahu. Aku memohon kepada pengurus pameran agar diizinkan membersihkannya sendiri kalau-kalau mereka kekurangan orang, tapi pengurus tersebut menyebalkan sekali. Dia bilang aku tidak boleh menyentuh apapun karena bukan karyawan museum.

Istriku bilang petugas itu benar, dan sejauh yang ia tahu, memamerkan rahim di tempat publik merupakan perbuatan sinting, lebih-lebih kalau di tempat itu banyak anak kecil. Tapi aku tidak sependapat. Aku tidak bisa memikirkan apapun. Jauh dalam hatiku, aku tahu kalau aku tidak segera menyelinap ke museum dan mengambil rahim ibu dan merawatnya, aku akan menjadi seseorang yang bukan diriku lagi. Maka seperti ayahku di malam ketika ia pergi, aku sangat tahu apa yang harus aku lakukan.

Dua hari kemudian sepulang kerja, aku mengendarai mobil van menuju museum, tepat saat museum hampir tutup. Ruangan-ruangannya kosong dan sepi, tapi kalaupun aku kepergok oleh seseorang, aku tidak khawatir. Aku punya senjata dan rencana yang sangat rapi. Tapi masalahnya adalah, rahim ibuku menghilang. Petugas pameran terkejut memergokiku, tapi saat aku dengan gesit menekan tenggorokannya dengan gagang pistol Jericho baruku, ia langsung mengatakan apa yang ingin aku ketahui:

Rahim ibuku sudah dijual sehari sebelumnya kepada seorang kolektor Yahudi yang meyakinkan bahwa rahim tersebut harus dikirim ke salah satu komunitas pusat di Alaska. Dalam proses pengirimannya, benda tersebut dicuri oleh salah satu cabang organisasi Front Lingkungan. Front merilis pernyataan resmi bahwa sebuah rahim tidak boleh disimpan dan dimiliki oleh siapapun, itu sebabnya mereka memutuskan untuk melepasnya ke alam bebas. Menurut berita Reuters, Front Lingkungan ini termasuk suatu gerakan yang radikal dan berbahaya. Seluruh operasi mereka dijalankan lewat kapal pembajak yang dipimpin oleh seorang pensiunan pemburu paus.

Aku mengucapkan terima kasih kepada petugas pameran dan menyimpan kembali pistolku.


Dalam perjalanan pulang, semua lampu di jalan tampak berwarna merah. Aku terus saja berkendara meliuk dari satu jalur ke jalur lain tanpa melihat ke kaca spion, sambil berusaha keras mengenyahkan sesuatu yang seperti tersangkut di tenggorokanku. Aku mencoba membayangkan rahim ibuku mengambang di tengah-tengah samudera arktik penuh dengan ikan tuna dan lumba-lumba. ***

4 Januari 2016

Lubang di Tembok (Etgar Keret)

Diterjemahkan dari versi bahasa Inggris di buku The Bus Driver Who Wanted to be God (Riverhead Books, 2015). Terjemahan bahasa Inggris dari Ibrani oleh Miriam Shlesinger.

*


Di Bernadotte Avenue, tepat di sebelah Central Bus Station, terdapat lubang di suatu permukaan tembok. Dulunya ada ATM di situ, tapi kemudian rusak atau semacamnya, atau mungkin juga tidak ada yang pernah menggunakannya, jadi orang-orang bank mencopot mesin ATM itu dan tidak pernah memasangnya lagi.

Seseorang pernah berkata kepada Udi bahwa bila kau meneriakkan keinginanmu di hadapan lubang itu, maka keinginan tersebut akan terwujud, tapi Udi tidak sepenuhnya percaya. Faktanya, suatu hari saat ia dalam perjalanan pulang dari menonton film di bioskop, ia meneriaki lubang di tembok tersebut dan berkata bahwa ia ingin Dafne Rimalt jatuh cinta kepadanya, dan setelahnya tidak terjadi apapun.

Dan suatu hari, ketika ia merasa sangat kesepian, ia kembali meneriaki lubang di tembok itu dan berkata bahwa ia ingin punya teman seorang malaikat, dan ternyata malaikat itu betul-betul muncul, tapi ia tidak bersikap layaknya seorang teman dan selalu saja menghilang di saat Udi sedang membutuhkannya. Malaikat ini kurus, suka merunduk, dan senantiasa mengenakan jas hujan yang menutupi sepasang sayapnya. Orang-orang di jalan mengira ia benar-benar hunchback-makhluk bungkuk. Kadang-kadang, kalau mereka hanya berdua, si malaikat akan mencopot jas hujannya. Sekali waktu ia bahkan membolehkan Udi menyentuh bulu-bulu sayapnya. Tapi saat ada orang lain bersama mereka, ia mengenakan jas hujannya kembali.

Suatu hari anak-anak keluarga Klein bertanya kepada si malaikat, apa yang ia sembunyikan di balik jas hujan itu, dan ia menjawab itu adalah ransel penuh buku-buku yang bukan miliknya dan ia tidak ingin buku-buku itu basah.

Sejujurnya, ia selalu berbohong.

Ia menceritakan Udi kisah-kisah yang dapat membuatmu sekarat saking terlalu menakjubkannya: tentang tempat-tempat di alam surga, tentang orang-orang yang beranjak ke tempat tidur tanpa mencabut kunci mobilnya, dan tentang kucing-kucing yang tidak takut terhadap apapun bahkan tidak tahu apa arti dari “tahi kucing”. Malaikat tersebut bersumpah cerita-cerita itu benar adanya.

Udi nyaris gila dibuatnya, dan ia berusaha keras mempercayainya. Beberapa kali ia bahkan meminjaminya sejumlah uang ketika malaikat itu sedang kesulitan. Sedang si malaikat sama sekali tidak berbuat apapun untuk Udi. Ia hanya berceloteh dan berceloteh dan berceloteh terus, melantur dengan cerita-cerita tololnya. Sepanjang enam tahun Udi mengenalnya, ia tidak pernah melihatnya melakukan hal-hal luar biasa.

Ketika Udi menjalani pelatihan dasar wajib militer, dan ia betul-betul butuh seseorang untuk diajak bicara, si malaikat tiba-tiba menghilang selama dua bulan penuh. Kemudian, ia kembali dengan wajah brewok dan ekspresi jangan-tanyakan-apa-yang-terjadi. Jadi Udi tidak bertanya apapun kepadanya, dan di suatu hari Sabtu mereka duduk berdua di atas atap, mengenakan celana pendek, meresapi pancaran sinar matahari, dan merasa lesu. Udi memandangi atap rumah-rumah lain yang di atasnya banyak kabel berkelindan serta alat pemanas dari energi matahari dan ia juga memandangi langit.

Tiba-tiba ia menyadari sesuatu, selama bertahun-tahun ia bersama si malakat, ia tidak pernah satu kali pun menyaksikan malaikat itu terbang.

“Gimana kalau kau terbang sedikit,” ia berkata kepada si malaikat. “Pasti kau merasa lebih enakan.”

Dan si malaikat berkata: “Lupakan. Gimana kalau ada yang lihat?”

“Ayolah,” kata Udi. “Sedikit saja. Demi aku.” Tapi si malaikat, disertai suara yang jorok, malah menggali dahaknya dengan satu sedotan melalui tenggorokan dan meludahi atap rumah.

“Ya sudahlah,” kata Udi. “Aku bertaruh, kau memang tidak bisa terbang.”

“Tentu saja bisa,” si malaikat membalas. “Aku cuma tidak mau ada orang yang melihatku, itu saja.”

Di atas atap rumah di seberang jalan, mereka melihat beberapa bocah melempar bom air. “Tahu tidak,” Udi tersenyum. “Dulu, waktu aku kecil, sebelum bertemu denganmu, aku sering banget ke sini dan melempari orang-orang di jalanan dengan bom air. Aku akan melemparkan ke arah antara kanopi satu dengan yang lain,” ia menjelaskan, sembari mencondongkan tubuhnya dan mengacungkan jari ke arah kanopi di toko sembako dan kanopi di toko sepatu. “Orang-orang akan mendongak, dan yang mereka lihat hanya kanopi. Mereka tidak akan tahu dari mana datangnya bom-bom air itu.”

Si malaikat juga berdiri, dan melihat ke jalanan di bawah mereka. Ia membuka mulutnya, hendak mengucapkan sesuatu. Sekonyong-konyong, Udi mendorong si malaikat hingga ia limbung. Udi cuma bermain-main. Ia tidak berniat menyakiti si malaikat, cuma ingin ia terbang sedikit demi hiburan. Tapi si malaikat jatuh sejauh lima lantai, mendarat bagai sekarung kentang.

Terpana, Udi melihat malaikat itu tergeletak di trotoar. Tubuh si malaikat masih utuh, kecuali sepasang sayap yang agak berkedut, seperti sekarat. Itulah momen ketika ia akhirnya paham bahwa dari semua hal yang pernah malaikat tersebut ceritakan kepadanya, tidak satu pun yang benar. Si malaikat bahkan bukanlah malaikat, cuma tukang bohong yang memiliki sepasang sayap. ***

29 Desember 2015

Cerita tentang Seorang Sopir Bus yang Ingin Menjadi Tuhan (Etgar Keret)


Diterjemahkan dari versi bahasa Inggris di buku The Bus Driver Who Wanted to be God (Riverhead Books, 2015).

*

Ini cerita tentang seorang sopir bus yang tidak pernah mau membukakan pintu busnya bagi orang-orang yang terlambat. Tidak bagi siapapun. Tidak bagi seorang murid tertindas di sekolahnya yang berlari bersisian dengan bus sembari menatap bus dengan tatapan memelas, dan apalagi tidak bagi orang-orang yang menggedor keras pintu bus seakan-akan mereka tidak terlambat dan bahwa si sopir bus lah yang tidak tepat waktu, dan bahkan tidak pula bagi nenek bertubuh kecil yang mendekap bungkusan belanja seraya berusaha keras menyetop bus dengan lambaian tangannya yang gemetar. Si sopir bus tidak membukakan pintu bagi mereka semua bukan karena ia jahat, sebab secuil pun ia tidak punya bakat jahat di dalam dirinya. Ini perkara prinsip.

Begini prinsip si sopir bus:

Katakanlah, bus tertunda jadwalnya bila ia membukakan pintu bagi seseorang yang terlambat kurang dari tiga puluh detik, dan bila ia tidak membukakan pintu bus membuat orang tersebut kehilangan lima belas menit dalam hidupnya, itu tetap akan adil, karena tiga puluh detik telah terselamatkan dari hidup seluruh penumpang bus. Nah, jika di bus ada 60 orang tak bersalah yang tiba di halte bus tepat waktu, bila dijumlahkan mereka semua akan kehilangan tiga puluh menit, yang mana itu dua kalinya waktu terbuang milik si orang terlambat tadi.

Inilah satu-satunya alasan si sopir bus tidak akan mau membukakan pintu bagi orang-orang terlambat. Ia tahu, para penumpang tidak akan memahami prinsipnya, begitu pula mereka yang terlambat dan mengejar bus seraya memberinya beragam isyarat agar berhenti-mereka tidak akan mengerti. Ia juga tahu, bahwa orang-orang menganggap ia menyebalkan, dan secara pribadi lebih mudah baginya menerima senyum dan ucapan terima kasih dari mereka sambil membiarkan mereka memandangnya dengan anggapan demikian.

Kecuali bila sebenarnya ia menyadari bahwa ia hanya bisa memilih satu dari dua hal berikut: antara senyum disertai ucapan terima kasih, atau kebaikan publik.

Seseorang yang paling dirugikan oleh prinsip si sopir bus ini adalah Eddie, tapi tidak seperti orang-orang lain dalam cerita ini, Eddie bahkan tidak akan pernah mencoba mengejar bus bila ia terlambat, ya, sebegitu malas dan tersia-siakannya memang orang ini. Nah, Eddie adalah seorang asisten koki di restoran bernama The Steakaway, yang mana nama tersebut merupakan hasil permainan kata terbaik yang bisa dipikirkan oleh pemiliknya (Stick-away!). Makanan di restoran itu tidak istimewa, tapi Eddie sendiri adalah pemuda yang baik-saking baiknya dia, kalau ada masakannya yang tidak begitu enak, ia sendiri yang akan membawa makanan itu ke meja pelanggan dan sekaligus meminta maaf.

Pada salah satu adegan meminta maaf inilah, Eddie bertemu Kebahagiaan, atau setidaknya secicip Kebahagiaan, dalam wujud seorang gadis yang teramat baik hatinya karena ia bahkan mencoba menelan habis daging sapi bakar yang Eddie bawakan untuknya, hanya agar pemuda itu merasa senang. Dan gadis ini tidak mau memberi tahu Eddie namanya ataupun nomor ponselnya, tapi gadis ini cukup manis karena ia bersedia menemui Eddie keesokan harinya pada pukul lima sore, di tempat yang mereka sepakati-Dolphinarium, tepatnya.

Nah, sialnya, Eddie punya satu masalah-sesuatu yang telah membuatnya kelewatan banyak hal sepanjang hidupnya. Tidak, sesuatu ini bukan semacam pembengkakan adenoid atau sejenis itu, tapi tetap saja, hal ini sudah banyak merugikannya. Yakni, ia punya semacam penyakit yang membuatnya selalu tertidur sepuluh menit lebih lama dari seharusnya, dan tidak satu alarm pun pernah berhasil membangunkannya. Itulah kenapa ia kerap terlambat berangkat ke The Steakaway, juga terlambat naik bus yang dikemudikan oleh si sopir bus yang senantiasa lebih memihak kepentingan publik ketimbang urusan pribadi.

Akan tetapi, kali ini Eddie mau tidak mau harus mengatasi masalahnya, karena taruhannya adalah Kebahagiaan, dan alih-alih tidur sore seperti biasa, ia memutuskan tetap terjaga sambil menonton televisi. Agar aman, ia tidak hanya memasang satu jam alarm, melainkan tiga. Tapi sial sekali, penyakit ini betul-betul tidak tersembuhkan, dan Eddie tetap tertidur selayaknya bayi, di hadapan televisi yang menayangkan kanal anak-anak. Ia terbangun oleh lengkingan suara jutaan, milyaran, alarm-terlambat sepuluh menit, tergopoh-gopoh keluar rumah tanpa mengganti pakaian, dan berlari menuju halte bus.

Ia tidak ingat lagi caranya berlari, dan kakinya bahkan sesekali terpelecok. Kali terakhir ia berlari adalah sebelum ia menyadari bahwa ia bisa juga membolos dari jam pelajaran olahraga, waktu itu ia kelas enam SD, hanya saja tidak seperti pada jam pelajaran olahraga tersebut, sekarang ia berlari sangat sangat sangat sangat kencang, karena ia tahu bila tidak melakukannya ia akan kehilangan sesuatu, dan segenap rasa sakit di dadanya serta panggilan sayup-sayup dari bungkus Lucky Strike di kantung bajunya tidak dapat mencegahnya dari usahanya Mengejar Kebahagiaan.

Tidak ada yang dapat menghalanginya kecuali si sopir bus kita, yang baru saja menutup pintu bus, dan akan segera beranjak. Si sopir bus melihat Eddie lewat kaca spion, tapi seperti sudah kami jelaskan sebelumnya, ia punya prinsip-prinsip yang teramat masuk akal yang, lebih dari apapun, didasarkan pada sikap menjunjung tinggi keadilan, juga perhitungan aritmatika sederhana. Tapi Eddie tidak peduli dengan perhitungan aritmatika si sopir bus. Untuk kali pertama sepanjang hidupnya, ia benar-benar ingin tiba di suatu tempat pada waktu yang tepat. Dan itulah kenapa ia tetap mengejar bus, meski ia tidak punya peluang sedikit pun.

Tiba-tiba saja, keberuntungan Eddie datang, tapi cuma separuh keberuntungan: kira-kira seratus meter dari halte bus sebelumnya, ada traffic light. Dan, hanya beberapa detik sebelum bus mencapainya, lampu merah menyala. Eddie berhasil menyusul bus dan menggapai pintu masuk sopir bus. Saking kelelahannya, ia tidak mampu lagi mengetuk kaca pintu. Ia hanya menatap si sopir bus dengan mata yang berembun, sembari memegangi lututnya, ngos-ngosan.

Dan, melihat Eddie seperti itu, si sopir bus teringat akan sesuatu-jauh di masa lalunya, dari suatu waktu ketika ia bahkan belum terpikir untuk menjadi seorang sopir bus, dari suatu waktu ketika ia masih ingin menjadi Tuhan.

Itu memori yang agak sedih sebenarnya, karena pada akhirnya ia gagal menjadi Tuhan, tapi juga membahagiakan, karena ia kemudian menjadi sopir bus, yang mana adalah keinginan keduanya setelah menjadi Tuhan. Dan tiba-tiba si sopir bus teringat akan janjinya kepada diri sendiri bahwa bila ia dapat menjadi Tuhan, ia akan menjadi Tuhan yang baik dan pengampun, dan akan mendengarkan doa-doa seluruh makhluk-Nya. Jadi, ketika dari bangku sopirnya ia melihat Eddie berlutut di jalanan aspal, ia tidak lagi bisa mempertahankan prinsipnya, dan meski dengan seluruh pertimbangan kepentingan publik dan perhitungan aritmatikanya itu, ia membukakan pintu, dan Eddie pun naik-tanpa mengucapkan terima kasih, karena ia betul-betul kehabisan napas.

Hal terbaik yang bisa kamu lakukan adalah berhenti membaca cerita ini di sini, karena meski Eddie akhirnya tiba di Dolphinarium tepat pada waktunya, Kebahagiaan tidak datang, karena Kebahagiaan sudah memiliki seorang kekasih. Hanya karena gadis itu terlalu baik ia tidak dapat mengatakan hal tersebut kepada Eddie, jadi ia memilih membiarkan pemuda itu melakukan apa yang ingin ia lakukan.

Eddie menanti dan menanti, di bangku yang mereka berdua sepakati, nyaris selama dua jam penuh. Sepanjang penantiannya, ia terus memikirkan hal-hal depresif mengenai kehidupan, dan sembari berpikir, ia memandangi senja yang lumayan indah, dan mengira bila menunggu lebih lama lagi bisa-bisa ia akan jadi penjaga malam.


Dalam perjalanan pulang, saat ia sangat putus asa, ia melihat bus di kejauhan berhenti di halte dan menurunkan penumpang, dan pada saat itu ia tahu bahwa meskipun ia punya tenaga untuk berlari, ia toh tidak akan sanggup menyusul bus itu. Jadi ia tetap berjalan pelan, dan pada tiap langkahnya ia merasa-rasai jutaan sel otot yang kelelahan, dan ketika ia sedikit lagi tiba di halte, bus masih di situ, menunggunya. Dan meskipun para penumpang di dalam berteriak-teriak dan mengomel agar bus segera berangkat, si sopir bus menunggu Eddie, dan ia tidak sedikit pun menginjak pedal gas hingga Eddie duduk di dalam bus. Ketika akhirnya bus berangkat, si sopir bus melihat ke arah Eddie melalui kaca spion dalamnya, dan mengerling simpati kepadanya, dan itu membuat segalanya jadi terasa dapat tertanggungkan. ***