29 Juni 2016

Review Jatuh Cinta



Baca review atas buku terbaru saya Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri di sini:


Kalau kamu menemukan review atas buku ini atau kamu menulis reviewmu sendiri, jangan ragu untuk beri tahu saya. Saya akan baca dan pajang review kamu di halaman ini.

5 Maret 2015

My Name Is Red, Orhan Pamuk




Latar waktu yang diambil Pamuk dalam kisah dengan setting Istanbul ini adalah sekitar abad ke-16. Sekelompok miniaturist-sepanjang membaca saya membayangkan mereka sebagai seniman rupa, pelukis, atau ilustrator-mendapat mandat dari Sultan untuk membuat sebuah buku. Ternyata, masalah dimulai ketika sang mandor menggunakan teknik lukis gaya Eropa, yang dianggap menyalahi aturan agama dan membuatnya terancam sebagai seorang kafir.

Hal pertama yang terlintas di kepala saya ketika membaca My Name Is Red adalah, Orhan Pamuk merupakan penulis yang tahu bagaimana cara menangkap perhatian pembaca dengan cepat. Bisa kita lihat langsung dari paragraf pertama novel ini. Dituturkan dari sudut pandang seorang mayat, Pamuk menggunakan narasi yang padat dan catchy untuk menggambarkan keadaan mayat tersebut yang baru saja dibunuh, dan dalam keadaan wajahnya hancur dan berdarah.

Paragraf novel yang tebalnya tak kurang dari 400 halaman ini dibuka dengan narasi yang saya pikir cukup dramatis. Membawa saya masuk ke dalam cerita dengan pertanyaan demi pertanyaan. Mengapa mayat tersebut menjadi mayat? Mengapa seseorang membunuhnya? Adegan pembuka My Name Is Red mengingatkan saya pada novel-novel Dan Brown. Misteri disodorkan sejak awal untuk membuat pembaca segera tertangkap dalam ketegangan dan rasa penasaran.

Selain mampu ‘mencekik’ leher pembaca sedari awal, saya melihat Pamuk sebagai penulis yang juga telaten. Pilihan kata yang ia ambil di sepanjang kisah di dalam My Name Is Red tidak bisa dibilang ‘biasa’, dan saya tidak bisa membayangkan penulis yang terburu-buru mampu merangkai, menata, dan memilih kata demi kata dengan sangat sabar seperti yang Pamuk lakukan.  

Pada novel-novel lain, biasanya si penulis hanya memberi perhatian penuh pada paragraf-paragraf atau bab-bab awal, dan di sisa novel hampir dapat dipastikan, baik plot maupun narasinya tiba-tiba saja menjadi ‘kendor’ atau ‘kempis’. Paling-paling menjelang akhir novel, barulah si penulis memadatkan lagi narasinya dan memberi usaha lebih untuk menata kalimat demi kalimat, metafora demi metafora. Tidak demikian dengan My Name Is Red. Jumlah halaman yang banyak dan tokoh-tokoh yang jumlahnya tak bisa dibilang sedikit (belum lagi seluruhnya menggunakan sudut pandang orang pertama) tidak membuat Pamuk kempis sedikit pun. Memang, di bagian tengah Pamuk tampak kelelahan memilih-milih kata, sehingga narasinya tidak terasa sepadat bagian-bagian awal, tapi tetap saja jika dilihat secara keseluruhan, My Name Is Red adalah novel dengan narasi yang padat dan diksi yang memukau.

Karakter-karakter dalam My Name Is Red sangat variatif, mulai dari seorang lelaki melankolis yang menyimpan rasa cintanya terhadap seorang perempuan selama dua belas tahun dalam pelarian, kakek yang memiliki affair dengan pembantu rumah tangganya, seorang perempuan yang terjebak dalam perasaan bimbang memilih dengan siapa ia harus menikah di antara kedua lelaki yang menginginkannya, seorang perempuan Yahudi yang berprofesi sebagai penjaja pakaian sekaligus mak comblang, sampai seniman-seniman dengan karakternya masing-masing.

Yang menyenangkan dari membaca novel Pamuk ini bukan hanya karena karakter-karakternya variatif, melainkan juga karena semuanya memiliki suara sendiri-sendiri, alias dituliskan menggunakan sudut pandang orang pertama. Kita bisa memandang dari kacamata masing-masing karakter dan dengan suaranya masing-masing. Tidak hanya tokoh-tokoh utama dan tokoh-tokoh sampingan, bahkan benda-benda mati (lukisan) pun berbicara. Seperti seekor anjing yang mengomel betapa ia tidak menyukai seorang pendakwah beserta kelompoknya yang dianggapnya tak memiliki nalar dan akal sehat (saya mengira si anjing merujuk kepada kelompok Islam fundamentalis), sebuah koin emas yang telah mengelana dari kantong ke kantong lain, seekor kuda yang gagah dan menawan, sampai sebuah warna merah yang menggambarkan dirinya sendiri.

Tentu saja, menghadirkan banyak tokoh dengan menggunakan sudut pandang pertama tidaklah cukup. Tidak sedikit novel yang gagal karena penulisnya memiliki ambisi berlebih untuk memunculkan begitu banyak tokoh, namun tidak dapat membedakan suara satu tokoh dengan tokoh yang lain. Untungnya, My Name Is Red bukan novel yang gagal (ya, tentu saja, Pamuk adalah salah satu peraih Nobel Kesusastraan).

Selain narasi dan permainan sudut pandang yang bikin melongo, saya kira Pamuk sukses dalam hal karakterisasi. Seluruh tokohnya hadir dengan watak dan suaranya sendiri-sendiri, yang membuat kita mampu membedakan suara satu tokoh dengan tokoh lain. Dengan mata tertutup, misalnya saja, saya dapat membedakan siapa yang berbicara di sebuah adegan, apakah Black Effendi ataukah Butterfly. Tanpa membaca namanya, hanya dengan membaca narasi dan dialognya, saya juga bisa mengetahui apakah yang sedang berbicara adalah si penjaja pakaian Eshter ataukah si janda Shekure.

Namun, dari semua hal, yang paling saya sukai adalah bagaimana Pamuk bercerita di dalam cerita. Saya mengingat bagaimana Syahrazad dalam dongeng mahsyur Seribu Satu Malam. Membaca My Name Is Red adalah membaca cerita-cerita dan dongeng-dongeng lain di dalam cerita utama. Philosophical artificers of boxes within boxes, kata John Updike dalam testimoninya yang saya temukan di sampul belakang. Salah satu dongeng ‘sisipan’ yang saya suka adalah tentang seorang raja yang mengurung putrinya karena dianggap terlalu cantik, namun kecantikan sang putri tak bisa dipenjara, ia menyelinap keluar kurungan dan tertangkap oleh seorang pelukis. Dan ada banyak lagi dongeng-dongeng lain.

Mengikuti konflik dan perseteruan yang terjadi di antara sekelompok seniman di dalam novel ini membuat saya teringat tentang satu adegan ketika saya kecil.

Saya baru saja usai mengaji dan sembari menunggu teman-teman saya yang lain selesai mengaji, saya mengeluarkan buku gambar dari dalam tas dan mulai menggambar wajah manusia. Saat kecil, saya suka menggambar wajah manusia, kadang dengan gaya manga kadang pula dengan gaya yang sekarang baru saya tahu disebut dengan istilah realis. Guru mengaji saya menegur saya yang tengah menggambar. Ia berkata bahwa dalam Islam kita dilarang menggambar makhluk hidup, karena itu artinya kita berusaha untuk menyaingi atau menyamai Tuhan, dan itu artinya dosa besar. Semenjak saat itu saya takut menggambar dan tidak lagi memupuk bakat terpendam saya itu (hingga saat ini saya merasa menggambar adalah bakat saya yang terpendam).

Selain hal tersebut, Pamuk juga mempertentangkan dua ideologi: Timur dan Barat. Dalam hal ini Timur diwakili oleh Islam (Istanbul, Timur Tengah) dan Barat diwakili oleh Venetian (Eropa) yang di dalam novel selalu mereka sebut sebagai infidel, kafir. Pertentangan ini berpusat pada tokoh Enishte Effendi, seniman muslim yang terpukau dengan gaya menggambar orang-orang Eropa, yang menangkap objek dan melukisnya hingga tampak lebih nyata dan indah dari aslinya, yang bertentangan dengan ‘ajaran’ dalam Islam: bahwa apa yang kita gambar seharusnya adalah apa yang juga dilihat oleh Tuhan. Manusia semestinya menggambar sebuah benda lewat persepsi Tuhan atas benda tersebut. Tidak boleh kurang, tidak boleh lebih.


Terlepas dari itu semua, saya selalu merasa bahwa sepanjang hidupnya manusia akan selalu berusaha untuk mencari tahu tentang penciptanya, dengan cara apapun. Mempertentangkan dua ideologi yang berseberangan, melakukan hal-hal di luar norma, bahkan mengambil risiko dicap kafir seperti dalam novel ini, hanyalah beberapa hal yang bisa dilakukan manusia untuk mencapai misi tersebut. ***

19 Februari 2015

Cerpen: Perkenalan (Koran Tempo 15 Februari 2015)





Perkenalan
Cerpen Bernard Batubara

Dimuat di Koran Tempo, Minggu 15 Februari 2015


“Kamu harus tahu, Harumi sayang. Pada zaman ketika kekerasan begitu mudah dilakukan, hal terburuk yang bisa dimiliki seseorang adalah identitas.” Bong berkata demikian, tepat satu hari sebelum ia mati mengenaskan. Kepalanya ditemukan terpisah sejauh lima meter dari tubuhnya. Jasadnya tergeletak begitu saja di tengah jalan.

Pertama-tama, saya minta maaf kepada teman-teman semua, karena sudah membuka perkenalan ini dengan adegan yang kurang nyaman. Namun, apa boleh buat, begitulah memang yang saya alami. Maka, begitu pula yang akan saya sampaikan. Perkenalan ini akan singkat saja. Jadi, saya mohon teman-teman tidak pergi dari tempat ini.

Teman-teman semua.

Nama saya Harumi. Saya bukan orang Jepang. Saya akan bercerita tentang kehidupan saya. Namun, mengingat ucapan terakhir Bong, saya akan mengisahkan cuplikan masa lalu saya dengan mengubah seluruh identitas orang-orang yang ada di dalamnya. Mungkin juga identitas tempat-tempat.

Teman-teman silakan duduk dengan baik. Tidak perlu takut. Saya tidak akan berlama-lama. Saya juga merasa aneh bicara dengan suara yang bukan milik saya.

Baik. Untuk mempersingkat waktu, saya akan mulai dengan keluarga saya.

Nama papa saya Tuan Pemegang Kaki. Tentu saja, itu bukan nama asli. Dia suka membaca novel-novel pengarang Jepang terutama yang di dalamnya ada kisah-kisah tentang geisha. Nama mama saya Nyonya Pecah Belah. Dia suka melempari kepala saya dengan piring kaca, gelas kaca, atau sesekali menggunakan sendok nasi.

Tuan Pemegang Kaki memiliki obsesi terhadap geisha. Ia memburu dan mengumpulkan semua novel Jepang yang di dalamnya terdapat tokoh geisha. Pada suatu malam saat saya berusia 8 tahun, Tuan Pemegang Kaki mengurung saya di kamar dan mendandani saya seperti seorang geisha. Dia memeluk saya dan mencium-cium pipi saya. Lama-lama dia mengelus leher saya dan meraba kaki hingga ke paha saya. Dia berhenti karena pintu kamar digedor keras oleh Nyonya Pecah Belah. Tampaknya Nyonya Pecah Belah merasa ini sudah giliran dia untuk melempari saya dengan gelas kaca baru, bonus dari sabun cuci piring yang dia beli saat belanja pagi tadi.

Tuan Pemegang Kaki membuka pintu sambil menggerutu. Nyonya Pecah Belah setengah berteriak saat melihat wajah saya penuh pupur dan gincu yang merah tebal di bibir saya. Dia berteriak lagi ke wajah Tuan Pemegang Kaki dan menamparnya tidak kurang dari sepuluh kali. Tuan Pemegang Kaki tidak melawan.

Itu bukan yang pertama kalinya.

Teman-teman yang saya sayangi.

Saya tahu saya terdengar dingin saat menceritakan semua ini. Tapi percayalah, pada saat peristiwa itu terjadi, saya merasakan panas yang tiada tara. Apalagi jika teman-teman tahu bahwa kejadian seperti itu tidak hanya berlangsung sekali dalam hidup saya. Melainkan, hmm, tidak terhitung. Mungkin lebih banyak dari gabungan jumlah jari tangan kita yang sedang berada dalam ruang kelas ini.

Satu-satunya hal yang bisa meredakan panas di kepala saya waktu itu adalah seorang laki-laki. Namanya Bong. Saya bertemu dengan Bong karena sebuah kecelakaan. Benar-benar kecelakaan.

Ketika itu, saya sedang menyeberang jalan di depan sekolah. Jalanan terlihat sepi, namun tiba-tiba sebuah sedan hitam melesat ke arah saya dan seketika saja saya tidak sadarkan diri.

Ketika saya siuman, saya melihat Bong di sebelah saya. Dia duduk di kursi. Saya terbaring di ranjang. Waktu itu saya belum tahu namanya Bong. Kami berkenalan setelah dia menjawab raut bingung saya saat melihat ke sekeliling ruangan.

“Kamu lagi di rumah sakit. Mobil yang saya kendarai nabrak kamu. Saya yang bawa kamu ke sini,” kata Bong. Wajah Bong putih dan kepalanya gundul. Bola matanya terlihat licin dan berkilau, seperti permukaan piring keramik hiasan yang biasa Nyonya Pecah Belah lemparkan ke kepala saya setiap subuh dan petang. Bong mengenakan kemeja warna putih. Saya mencium wangi dari tubuhnya. Untuk sesaat, saya merasa seperti berada di dalam hutan hujan, di antara hamparan tanah basah dan pohon-pohon.

“Jangan khawatir, saya akan bertanggungjawab.”

Saya tidak memikirkan Tuan Pemegang Kaki dan Nyonya Pecah Belah, atau meminta bantuan mereka. Karena saya tahu hal itu tidak berguna. Saya melihat punggung tangan saya terpasangi infus. Saya memegangi kepala dan merintih.

“Kata dokter, ada pendarahan di kepala kamu. Tapi kamu akan baik-baik saja. Siapa nama kamu?”

Nama? Siapa nama saya? Kepala saya bagaikan gong dan pertanyaan Bong saat itu terasa seperti pemukul kayu besar yang menghajar kepala saya. Ada bunyi gong yang berulang di dalam kepala saya, dan saya tidak berhasil menemukan apapun yang bisa digunakan untuk menjawab pertanyaan Bong, meski pertanyaan itu sangatlah sederhana.

Nama?

Siapa nama saya?

“Kamu tidak bisa ingat?” kata Bong, tampak khawatir.

Siapa nama saya?

Saya melihat ke Bong, masih merasa bingung. Bong menggeleng dan menghela napas panjang. Lalu, dia bicara lagi.

“Saya sempat buka tas kamu tadi, maaf, saya harus cari nomor telepon orangtuamu atau alamat rumahmu. Tapi, saya tidak menemukan apa-apa. Di tas kamu cuma ada buku catatan dan dua buah jeruk. Kamu tidak bawa dompet?”

Dompet? Saya menggeleng. Saya tidak pernah bawa dompet. Saya selalu bawa uang dengan melipat-lipatnya dan menyimpannya di kantong dada seragam sekolah.

“Apa nama kamu Harumi? Saya lihat gantungan kunci dengan huruf-huruf membentuk H-A-R-U-M-I di tas kamu. Tadinya saya ingin panggil kamu Harumi, tapi saya tidak yakin itu nama kamu. Kamu bukan orang Jepang.”

“Bukan,” kata saya.

Bong tertawa kecil. “Untuk sementara, saya panggil kamu Harumi saja. Saya akan coba cari kontak orangtua kamu.”

Saya hanya diam.

“Omong-omong, kamu suka baca novel tidak? Saya pernah baca novel Jepang. Tentang geisha. Ada seorang geisha bernama Harumi di sana. Lucu sekali.”

Saya tidak menjawab, kepala saya masih terasa sakit. Beberapa jam setelahnya, dengan cara yang tidak saya ketahui, Bong menemukan alamat rumah saya. Dia mengantarkan saya pulang setelah kondisi saya cukup membaik.

Teman-teman yang saya cintai.

Saat itu saya berusia 17 tahun, sama seperti teman-teman semua saat ini. Bong tigapuluh tahun di atas saya. Dia punya dua anak. Istrinya sudah meninggal saat melahirkan anak kedua mereka. Bong menceritakan ini ketika kami bertemu pasca minggatnya saya dari rumah.

Dua hari setelah pulang dari rumah sakit, saya membeli tiket pesawat menuju Surabaya, tempat nenek dari Papa. Namanya Nek Mun. Nek Mun baik sekali. Semenjak saya berusia 5 tahun, Nek Mun tinggal di rumah dan mengasuh saya. Nek Mun kembali ke kampungnya di Surabaya ketika saya berusia 15 tahun.

Nek Mun berteriak senang saat melihat saya di muka pintu. Dia memeluk saya sampai menangis. Saya juga ikut-ikutan menangis. Nek Mun bertanya ada apa saya pergi ke Surabaya, bagaimana keadaan Papa dan Mama, dan seterusnya. Saya jawab apa adanya saja.

Setelah mendengar cerita saya, Nek Mun menghela napas berat dan mulai berkisah.

Dahulu, Papa dan Mama baik-baik saja. Yang dimaksud Nek Mun dengan dahulu adalah ketika saya belum lahir. Saya lahir di tahun 1997. Kata Nek Mun Papa dan Mama tampak begitu bahagia ketika melihat saya. Saya hampir-hampir tidak percaya.

Setahun setelah itu, semuanya berubah. Kebahagiaan yang tadinya mengisi setiap sudut rumah, kini menjelma jadi teror tak berkesudahan. Saya masih berusia satu tahun, jadi saya tidak tahu apa yang sedang terjadi. Ini saya ceritakan dari apa yang dikisahkan oleh Nek Mun.

Teman-teman sekalian.

Papa saya, Tuan Pemegang Kaki, adalah laki-laki dari suku X. Sementara mama saya, Nyonya Pecah Belah, adalah perempuan dari suku Y. Tidak pernah ada masalah antara X dan Y sebelum 1997. Tapi setelah 1997, tiba-tiba X dan Y bagaikan air dan minyak. Mustahil menyatukan mereka, dengan cara bagaimanapun.

Nek Mun terus berkisah. Dia memberitahu apa yang dia lihat setelah 1997.

Kampung halaman Tuan Pemegang Kaki dan Nyonya Pecah Belah tidak saja dihuni oleh suku X dan Y, melainkan juga suku A, B, C, dan D. Pada suatu hari, Nek Mun pulang berbelanja sayur-mayur ketika dia melihat rumah orang-orang ditulisi kalimat-kalimat singkat berbunyi: “DI SINI SUKU A”, atau “ORANG SUKU C”. Nek Mun tidak paham apa maksud mereka menulisi dinding-dinding rumah sendiri dengan kalimat-kalimat seperti itu.

Belakangan, baru Nek Mun tahu, mereka melakukannya agar tidak diserang oleh X ataupun Y. Kedua suku itu bertikai karena suatu sebab yang hanya diketahui oleh Tuhan Yang Maha Mengetahui, kata Nek Mun.

Pertikaian kedua suku meruncing hingga tak bisa lebih tajam lagi. Dua belas jam setelah orang-orang mulai menulisi dinding-dinding rumah mereka, Nek Mun melihat Tuan Pemegang Kaki meraung di ruang tamu dan Nyonya Pecah Belah menggerung di dapur. Dua adik kandung Tuan Pemegang Kaki baru saja dikuburkan. Leher keduanya putus ditebas parang. Di pihak Nyonya Pecah Belah, satu korban. Kakak perempuannya tewas dibacok di dada.

Teman-teman yang saya sayangi.

Seperti janji saya, perkenalan ini singkat saja. Mohon maaf jika saya sudah mengganggu teman-teman dan seluruh penghuni sekolah ini. Saya tidak bermaksud demikian. Saya hanya butuh bercerita. Saya ingin menyampaikan hal-hal tadi, juga bahwa Bong, orang saya cintai, telah mati tanpa kepala. Saya sendiri mati setelahnya. Gantung diri di kamar. Saya pikir saat itu, ini cara paling mudah untuk menghampiri Bong.

Sebelum saya gantung diri, saya menerima kabar bahwa Bong ditemukan tergeletak di tengah jalan. Kepalanya terpisah sejauh lima meter dari tubuhnya. Ada yang bilang orang suku X memenggal Bong. Ada juga yang bilang itu perbuatan suku Y. Yang jelas, saya tahu, Bong bukan bagian dari X maupun Y. Ia tidak bersuku. Ia tidak berbangsa. Begitu yang Bong bilang kepada saya.

Teman-teman.

Maaf untuk peristiwa-peristiwa yang belakangan terjadi di sekolah ini. Jangan takut. Peristiwa-peristiwa itu bukan kerasukan. Hanya cara saya berkomunikasi. Seperti teman-teman tahu, saya tidak punya tubuh, meski saya punya pesan.

Saya meminjam tubuh salah satu di antara kalian karena tidak tahan melihat adegan-adegan di masa hidup saya dahulu, kini berulang lagi. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa kekerasan seperti ini sudah pernah terjadi sebelumnya.

Bukankah manusia yang baik adalah manusia yang belajar dari sejarah, terutama yang paling penuh luka? Begitu kata Bong. Saya berharap teman-teman tidak melanjutkan pertempuran yang tidak menghasilkan apa-apa selain darah. Pacar saya sebelum Bong juga senang ikut teman-temannya yang tawuran. Dia berhenti setelah saya berkata kepadanya bahwa saya perempuan, kalau dia ingin darah, saya bisa memberikannya setiap bulan.

Teman-teman, saya akan segera pergi. Jangan khawatir, saya tidak akan kembali lagi dan merasuki siapapun. Saya sudah menyampaikan apa yang ingin saya sampaikan. Izinkan saya tutup perkenalan ini dengan mengucapkan terima kasih, terutama kepada gadis yang saya rasuki ini. Dia tubuh yang sangat pas dengan ruh saya.

Selamat tinggal.



(2014)



18 Februari 2015

Jatuh Cinta di Surabaya dan Malang




Meneruskan perjalanan tur promo buku terbaru saya: Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri, saya dan tim penerbit GagasMedia bertandang, kali ini, ke Jawa bagian Timur. Tepatnya ke Surabaya dan Malang.

Tanggal 13 Februari 2015, saya berangkat dari Jogja pukul enam pagi menggunakan kereta. Sancaka Pagi, nama keretanya. Ini bukan perjalanan pertama saya ke Surabaya. Beberapa buku saya sebelumnya membawa saya melakukan perjalanan ke Surabaya, juga untuk urusan promosi.

Hari itu hari Jumat, saya tiba di Surabaya tepat pukul duabelas siang. Di stasiun Surabaya Gubeng, saya sudah ditunggu Zaenal, kru pemasaran Agromedia, yang dalam tiga hari ke depan akan menemani saya berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk bertemu para pembaca.

Malamnya, kami bertandang ke Prima Radio Surabaya. Sempat ada masalah karena ternyata alamat radio yang kami simpan tidak valid. Akibatnya, kami harus menempuh jalan lebih jauh untuk menuju lokasi, dan kehilangan tak kurang dari setengah jam dari waktu talk show. Saya tiba di Prima Radio tigapuluh menit terlambat dari jadwal, dan menggunakan waktu yang tersisa sebaik-baiknya untuk bercerita sedikit tentang buku saya.



Hari kedua, Sabtu tanggal 14 Februari 2015, saya bertemu dengan teman-teman pembaca di Gramedia Tunjungan Plaza, masih di Surabaya. Acara dimulai pukul dua siang dan berakhir pukul empat sore. Meski setelahnya kami masih sempat berfoto bersama, dan saya mengobrol singkat dengan beberapa pembaca. Mereka sangat menyenangkan, karena begitu antusias mengikuti acara meet and greet dan tampak amat menyimak apa yang saya sampaikan.



Selesai di Gramedia Tunjungan Plaza, kami langsung melanjutkan perjalanan menuju Malang. Beranjak pukul setengah tujuh malam, kami tiba di Malang sekitar pukul sembilan. Terhitung cukup cepat, mengingat dari pengalaman saya biasanya butuh waktu paling lekas tiga jam perjalanan darat dari Surabaya ke Malang.

Setelah check-in di hotel, saya langsung istirahat karena merasa cukup lelah. Namun, saya menyimpan semangat yang besar untuk keesokan harinya. Agenda yang padat di Malang sudah menunggu.

Hari ketiga, Minggu 15 Februari 2015, seluruh agenda promo bertempat di Malang. Ada empat acara yang sudah terjadwal.

Pertama, pukul delapan lebih seperempat kami datang ke Radio Elfara FM, Malang. Di sana saya bicara tentang beberapa hal mengenai buku Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri, dan hal-hal lain terkait tulis-menulis. Penyiar yang bertugas menyampaikan pertanyaan-pertanyaan yang menyenangkan. Talk show berjalan lancar dan berakhir sekitar pukul sepuluh pagi.



Dari Elfara, kami berpindah ke Toko Oen. Saya dijadwalkan bertemu dengan teman-teman dari klub buku Surabaya. Nama klub bukunya “Booklicious”. Teman-teman dari Booklicious datang tepat waktu. Bahkan, mereka sudah menunggu kami di lokasi. Saya menyalami tiga orang pertama, lalu kami mencari meja yang lebih lebar karena akan ada cukup banyak orang lagi yang datang.

Benar saja, tidak sampai sepuluh menit setelahnya, teman-teman Booklicious yang lain mulai berdatangan. Sepertinya tak kurang dari duapuluh orang berkumpul di meja panjang, dan kami berbincang-bincang santai tentang kepenulisan fiksi.

Ditemani es krim cokelat rekomendasi dari pramusaji, saya menjawab pertanyaan teman-teman Booklicious. Mulai dari bagaimana menciptakan karakter fiksi yang kuat, hingga trik-trik agar tulisan yang diambil dari kisah pribadi tidak tampak seperti curhatan colongan alias curcol.

Pertemuan menyenangkan itu berlangsung nyaris selama dua jam. Lebih panjang dari satu jam yang direncanakan.

Saya juga sempat bertemu dengan tim panitia Malang Membaca, yang menyelenggarakan acara “Festival Cerita dari Malang”, di mana saya menjadi salah satu pembicara dan pengisi kelas menulisnya. Acara ini akan dilangsungkan pada tanggal 27 dan 28 Februari 2015. Jika ingin mengikuti acara ini, silakan daftar atau cari informasinya di Twitter: [at]malangmembaca.



Selesai di Toko Oen, saya melangkah ke Gramedia Basuki Rachmat, yang hanya terletak di samping Toko Oen. Saya menyempatkan diri membeli novel The Godfather Mario Puzo edisi terjemahan Indonesia di area buku obral di pelataran toko, sebelum masuk dan naik ke lantai dua, menuju venue acara (sebelumnya saya mengisi perut di restoran cepat saji di seberang jalan, saya kelaparan karena lupa memesan makanan dan hanya makan segelas es krim di Toko Oen).

Beberapa kursi sudah terisi ketika saya tiba di venue. MC memanggil nama saya dan acara pun dimulai. Pada kesempatan tersebut, saya lebih banyak bercerita mengenai hal-hal yang melatarbelakangi keputusan saya menulis cerita-cerita pendek di dalam Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri. Saya bercerita tentang kekerasan, dan bagaimana kekerasan menjadi salah satu tema besar di buku terbaru saya.



Perjalanan jatuh cinta di Surabaya dan Malang pun berakhir. Saya kembali ke Jogja keesokan paginya, juga menggunakan kereta. Kali ini Malioboro Express. Jika tidak sedang terburu-buru, saya memang lebih senang bepergian dengan kereta daripada pesawat terbang. Kereta api mengizinkan saya larut dalam waktu dan melankoli, tidak seperti pesawat terbang yang lebih sering membuat saya terburu-buru, tertidur, atau menghindar dari penumpang di sebelah saya.

Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam perjalanan jatuh cinta di Surabaya dan Malang, terutama kepada teman-teman pembaca, yang sudah sudi meluangkan waktunya untuk menemui saya. Antusiasme, perhatian, dan semangat kalian adalah energi besar bagi saya untuk terus berkarya.

Perjalanan jatuh cinta berikutnya akan diteruskan di daerah JABODETABEK. Kira-kira akan berlangsung pada pertengahan bulan Maret. Tunggu jadwalnya, ya.

Sekali lagi, terima kasih Surabaya dan Malang. Kalian keren dan menyenangkan!



Bara