31 Desember 2014

novel terbaru saya



REVIEW:

Review oleh Hany Nurulhadi: "Surat untuk Ruth, Bernard Batubara"
Review oleh Anggrek Lestari: "Periodisasi Luka yang Pura-pura Terlupa"
Review oleh Friska Yulianti: "Seuntai Kata untuk yang Terkasih"
Review oleh Herlambang Adhytia: "Surat untuk Ruth"
Review oleh Indah Ayu Sartika: "Review Surat untuk Ruth"
Review oleh Viera Ajeng: "Review Surat untuk Ruth"
Review oleh Ayu Setioardi: "Review Surat untuk Ruth"
Review oleh Neni Safitri: "Review Surat untuk Ruth"
Review oleh Ve Handojo: "Surat untuk Ruth - Bernard Batubara"
Review oleh Amanda Sheila: "Review Anak Muda: Surat untuk Ruth by Bernard Batubara"
Review oleh Atria Sartika: "Surat untuk Ruth"
Review oleh Cahaya Ramadhani: "Review: Surat untuk Ruth"
Review oleh Ni Putu Candra Dewi: "Surat untuk Ruth, Memoar Singkat dan Dekat"
Review oleh Margareta Mentari: "Surat untuk Ruth by Bernard Batubara"
Review oleh Sofi Meloni: "Review Surat untuk Ruth by Bernard Batubara"
Review oleh Dinoy Novita: "Dear Are, Surat untuk Ruth by Bernard Batubara"
Review oleh Irhamna: "Kenangan Itu Jahat dan Mengacaukan Segalanya"
Review oleh Winda Huhul: "Welcome June, Surat untuk Ruth"
Review oleh Ruri Alita: "Surat untuk Ruth, Review"
Review oleh Aziz Amin: "Review Surat untuk Ruth"
Review oleh Azure Sekai: "Surat untuk Ruth by Bernard Batubara"
Review oleh Cholis Hidayat: "Review Surat untuk Ruth"
Review oleh Andi N. A.: "Review Novel Surat untuk Ruth - Bernard Batubara"
Review oleh Intan F.: "Review Surat untuk Ruth"
Review oleh Elisa Fariesta: "Surat untuk Ruth, Bernard Batubara"
Review oleh Charlenne Kayla: "Are, Ini Surat Untukmu"

15 Agustus 2014

Pengumuman: Puisi Pindah Rumah


Demi kenyamanan membaca, saya memindahkan puisi-puisi saya dari blog lama ke rumah yang baru. Jika teman-teman ingin mampir, silakan ke sini: Bisikan-Bisikan





12 Agustus 2014

A Tale for the Time Being, Ruth Ozeki






Meski saya sendiri pernah menulis novel dengan sudut pandang orang pertama, saya bukan penggemar novel-novel dengan penceritaan lewat sudut pandang orang pertama. Menurut saya, novel-novel yang ditulis menggunakan sudut pandang orang pertama terkadang terlalu membuat saya tenggelam hanya pada satu tokoh, yakni tokoh utama, dan membuat saya tidak bisa mendapatkan informasi cukup dari tokoh-tokoh lain, dan karenanya saya tidak bisa memahami karakter mereka. Akibat buruknya adalah, saya tidak merasa utuh, karena isi cerita menjadi sangat subjektif dan personal. Bahkan kadang-kadang terasa tidak adil.

Tidak semua novel dengan sudut pandang orang pertama membosankan, tentunya. Ada novel-novel dengan sudut pandang orang pertama yang bagus dan menyenangkan. Salah satunya adalah A Tale For the Time Being, karangan novelis Jepang bernama Ruth Ozeki. Pertama kali saya melihat novel ini pada sebuah acara festival sastra di Ubud setahun yang lalu, dan saya tidak ngeh ketika itu penulisnya turut hadir. Setahun kemudian, barulah saya tertarik membaca novel ini, dan saya menyukainya.

Tampaknya memang kurang tepat kalau saya menyebut A Tale for the Time Being sebagai novel yang ditulis dengan sudut pandang orang pertama, karena di dalam novel ini terdapat dua macam sudut pandang, dari dua tokoh utama. Ya, tokoh utama di dalam novel ini ada dua orang, atau setidaknya saya menganggapnya demikian. Karena jika diperhatikan, memang hanya ada satu tokoh utama dalam novel ini, yakni seorang novelis bernama Ruth (saya duga si novelis dalam novel adalah orang yang menulis novel tersebut, Ruth Ozeki sendiri). Namun, ada satu tokoh lagi yang saya kira sangat bisa dianggap tokoh sentral, karena sebagian besar cerita berputar pada kisah hidupnya, yakni seorang gadis belia bernama Nao. Naoko Yasutani.

Nao dan Ruth, dua orang perempuan yang hidup pada lintasan waktu berbeda, dipertemukan lewat tulisan, dalam sebuah buku harian. Ruth menemukan buku harian itu terdampar di pinggir pantai, bersama dengan sebuah kotak makan bergambar Hello Kitty (buku harian tersebut ada di dalamnya). Ruth membawa kotak makan itu pulang, membukanya, dan menemukan sebuah buku harian. Awalnya, Ruth tidak begitu tertarik, namun setelah ia mulai membaca halaman demi halaman, tanpa ia sadari ia sudah terisap dalam kisah hidup si pemilik buku harian, Nao.

Apakah isi buku harian itu? Inilah yang membentuk isi cerita. Nao menuliskan kisah hidupnya sendiri, keluarganya, dan nenek buyutnya; seorang biarawati budha berusia 104 tahun, bernama Jiko. Nao menulis tentang Jiko, dengan diawali bercerita tentang ayahnya yang dipecat karena perusahaannya bangkrut, kepulangan mereka ke Jepang (sebelumnya mereka tinggal di Sunnyvale, California), depresi yang diderita ayahnya, keretakan dan ketidakharmonisan keluarga mereka karena peristiwa tersebut, dan adegan-adegan bullying yang dialami Nao di sekolah atas akibat dari statusnya yang siswa baru pindahan dari luar Jepang.

Nao, yang telah lama terbiasa dengan kebiasaan dan gaya hidup orang Amerika, telah teralienasi di sekolah barunya di Jepang bahkan sebelum ia sempat merasa teralienasi. Teman-teman di sekolahnya sering mengejeknya dengan kata-kata yang membuat tidak nyaman. Beberapa orang temannya sempat memotret Nao yang sedang membersihkan darah haid di toilet sekolah, hampir memperkosa Nao, dan melelang celana dalam Nao yang berdarah. Bahkan, puncaknya, mereka membuat video pemakaman Nao dan mengunggahnya ke Youtube, mengganggap Nao sudah tidak ada di dunia. Semua peristiwa ini, ditambah keadaan di rumah yang sangat tidak nyaman, membuat Nao ikut-ikutan depresi dan berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Namun, sebelum ia memiliki kesempatan untuk melakukannya, ayahnya mempertemukan ia dengan Jiko, sang biarawati budha berusia seabad, nenek buyut Nao. Meski di awal Nao merasa aneh, perlahan-lahan mulai mengetahui kisah hidup Jiko, pemikiran-pemikirannya, dan membuat Nao merasa memiliki teman dan gairah hidup kembali.

Ruth Ozeki menggunakan dua macam sudut pandang penceritaan dalam A Tale for the Time Being: sudut pandang orang pertama untuk bab-bab Nao, dan sudut pandang orang ketiga serba tahu untuk bab-bab Ruth. Karena A Tale for the Time Being adalah cerita tentang Ruth yang membaca cerita tentang Nao, maka bisa dikatakan bahwa membaca A Tale for the Time Being adalah membaca cerita di dalam cerita. Cerita berbingkai. Suara yang muncul saat membaca bagian Nao (ia berusia 16 tahun), benar-benar terasa sangat remaja, dan bagian Ruth (sepertinya berusia 30-an), terasa dewasa.

Dalam A Tale for the Time Being, Ruth Ozeki merekam dan menyampaikan banyak hal yang sangat identik dengan Jepang. Mungkin lebih tepatnya Jepang modern. Misalnya saja, fenomena atau kecenderungan orang-orang Jepang untuk bunuh diri. Saya tidak memiliki data, namun jika seseorang menyebut Jepang, maka salah satunya yang akan melintas di kepala saya adalah angka bunuh diri yang tinggi di sana. Sebabnya bisa macam-macam, tapi dari yang saya tahu, kebanyakan karena tekanan di pekerjaan. Itu pula yang dialami oleh Haruki Yasutani, ayah Nao.

Ketika saya mengatakan Ruth Ozeki banyak merekam hal-hal yang identik dengan Jepang, maka ia benar-benar melakukannya. Dari kecenderungan mengalami depresi dan keinginan bunuh diri, sampai ‘budaya’ hentai alias serba-serbi kartun/manga porno, ada di dalam A Tale for the Time Being. Ruth Ozeki juga mengangkat lokasi-lokasi populer di Jepang seperti Akihabara dan Harajuku. Ia menampilkan adegan-adegan yang di dalamnya terdapat orang-orang sedang melakukan cosplay (costume player), bermain arcade game, dan geng-geng jalanan anak sekolah. Ruth Ozeki juga tampak ingin mengawinkan, atau sekurangnya membangun jembatan antara budaya Jepang kuno dan modern. Pada adegan-adegan di tempat kediaman Jiko, nenek buyut Nao, Ruth Ozeki menunjukkan ritual-ritual budha zen (saya tidak tahu istilah yang tepat untuk ini) dan ia membahas cukup banyak tentang itu, seakan-akan ingin memberikan sentuhan ‘klasik’ atau ‘kuno’ pada alur ceritanya yang sebenarnya sangat modern (setting di bagian Ruth dan suaminya Oliver: sudah ada Google, Youtube, dan lain-lain). A Tale for the Time Being merupakan usaha Ruth Ozeki untuk mempertemukan dua zaman yang berselang ribuan tahun.

Membaca A Tale for the Time Being memang terasa seperti membaca sebuah dongeng. Saya tidak bisa langsung menangkap apa yang dimaksud oleh si pengarang, tapi saya tidak peduli. Meski terkadang terkesan melantur (ada sedikit sentuhan Haruki Murakami di sana) saya menyukai cara bertutur Ruth Ozeki. Ia bercerita dengan pelan, teratur, dan sesekali menghanyutkan. Ada pula bagian-bagian yang surreal dan tidak logis. Tapi, lagi-lagi, seperti semua buku bagus, saya tidak peduli apakah ia masuk akal atau tidak masuk akal, karena ketika kita telah menyukai dan jatuh cinta pada sesuatu, kita tidak lagi memikirkan apakah hal tersebut masuk akal atau tidak masuk akal.

Seperti kata Jiko: Masuk akal, tidak masuk akal, sama saja. ***

22 Juli 2014

Membaca Puisi Ketika Sakit



Tepat pada saat pemilihan umum presiden dan calon presiden pada tanggal 9 Juli lalu, yang juga bersamaan dengan hari ulang tahun saya ke seperempat abad, saya jatuh sakit. Dimulai dengan, saya duga, radang tenggorokan, dan berakhir dengan flu. Tidak sampai demam, tapi cukup mengganggu karena saya jadi tidak bersemangat untuk melakukan apapun. Saya terpaksa pergi ke rumah sakit (saya jarang sekali ke rumah sakit, untuk beberapa penyakit yang ringan saya lebih memilih untuk membiarkan waktu menyembuhkannya, atau membeli obat di apotek) dan mendapatkan resep empat macam jenis obat. Saya beristirahat di kamar dan malas melihat televisi, seperti biasanya. Satu-satunya hiburan saya adalah berselancar di dunia maya lewat laptop atau ponsel, namun kepala saya segera sakit kalau lama-lama melihat monitor. Akhirnya, untuk melewatkan waktu sendiri di kamar, saya membaca buku.
Karena merasa sedang tidak punya energi untuk membaca yang panjang-panjang, saya mengeluarkan novel dan kumpulan cerita pendek dari daftar buku yang ingin saya baca ketika sakit. Saya ingin membaca sesuatu yang singkat-singkat saja, yang tidak perlu memikirkan plot, menduga-duga twist atau letak kejutan di cerita, memikirkan motivasi tokoh, atau mengikuti kisah yang panjang. Atas pertimbangan dan kriteria-kriteria tersebut, saya mengambil buku puisi dari perpustakaan kamar kos saya.
Beberapa buku puisi yang saya ambil dari rak buku adalah: Ekaristi (Mario F. Lawi), Roman Semesta (Fitrawan Umar), Api Bawah Tanah (Raudal Tanjung Banua), Rusa Berbulu Merah (Ahda Imran), Malam Tanpa Ujung (Irwan Bajang), Kumpulan Sajak 1948-2005 (Sitor Situmorang), Selected and Last Poems 1931-2004 (Czesław Miłosz), dan Don Quixote (Goenawan Mohamad). Saya mengambil acak dan membaca buku-buku puisi tersebut, satu demi satu, dan menemukan beberapa hal yang ingin saya rekam lewat catatan ini.
Ekaristi, sebuah kumpulan puisi milik seorang penyair muda asal Kupang, Mario F. Lawi adalah salah satu buku puisi yang saya tunggu. Penyair ini, dalam dua tahun belakangan, namanya berseliweran di harian nasional. Membaca puisi-puisinya Mario F. Lawi seperti membaca injil, atau setidaknya respons terhadap injil. Mario banyak menggunakan jargon-jargon agama di dalam puisi-puisinya, termasuk kisah-kisah yang diceritakan dalam alkitab. Tidak heran karena, seperti yang ia kisahkan sendiri pada bagian pengantar Ekaristi, ia tumbuh di sekolah misionaris dan orangtuanya pun kerap menceritakan kisah-kisah dari kepercayaan yang mereka anut kepadanya. Saya cukup menikmati puisi-puisi Mario dalam Ekaristi, meski lebih sering saya seperti masuk ke dalam sebuah ruangan gelap, tanpa penerangan. Saya kira ini karena saya tidak akrab dengan ajaran Kristen dan dengan demikian sulit bagi saya untuk memasuki hutan dalam puisi-puisi Mario yang dipenuhi jargon-jargon dan kisah-kisah keagamaan. Tak kalah gelapnya saya rasakan ketika membaca puisi-puisi Goenawan Mohamad dalam Don Quixote. Alasannya mungkin karena saya belum membaca novel Don Quixote karya terkenal Miguel de Cervantes itu. Goenawan Mohamad menulis Don Quixote sebagai respons dan penafsirannya terhadap novel tersebut, dengan menambahkan unsur-unsur melankoli dan roman. Saya cukup menikmati bagaimana si penyair memilih dan merangkai kata-kata dalam puisi-puisinya, dibantu dengan ilustrasi dan tata letak yang unik, puisi-puisi dalam buku Don Quixote memberikan efek tersendiri. Jarang sekali buku puisi penyair Indonesia yang berani bermain dengan tipografi, dan lebih sering mempertahankan bentuk tata letak konvensional alias tidak bermain bentuk sama sekali.
Roman Semesta karya Fitrawan Umar dan Malam Tanpa Ujung milik Irwan Bajang, sebaliknya, membawakan kepada saya sebuah kesederhanaan. Membaca puisi-puisi Fitrawan dan Irwan seperti masuk ke ruangan dengan pencahayaan cukup, sehingga saya dapat melihat apa yang berada di dalamnya. Meski tetap ada satu-dua elemen yang tidak saya mengerti. Itu bukan masalah. Di situlah saya kira keasyikan membaca puisi, saya tidak perlu mengerti isinya untuk dapat menikmatinya.
Saya lebih bisa merasakan keterikatan pada puisi-puisi Raudal Tanjung Banua dalam bukunya Api Bawah Tanah. Di sana, ia berkisah tentang perjalanan. Saya merasakan sebuah koneksi pada tahap kesamaan dengan Raudal sebagai anak rantau. Anak rantau, saya kira, nyaris selalu menggelisahkan satu hal: pulang. Perjalanan pergi dan kembali, tempat-tempat persinggahan, kebimbangan, rumah, nostalgia, perubahan, kerinduan, adalah hal-hal yang saya temukan di puisi-puisi Raudal. Kebanyakan ia menulis puisi seperti berdongeng, dalam larik-larik singkat namun panjang. Pada puisi-puisi yang pendek dengan bentuk seperti haiku atau tidak, Raudal kehilangan kekuatannya. Sepertinya ia memang lebih cocok menulis puisi-puisi yang panjang dan ‘mendongeng’. Jika Raudal dala Api Bawah Tanah berkisah tentang kampung halaman atau tempat asal, Rusa Berbulu Merah milik Ahda Imran banyak bercerita tentang kota di mana ia tinggal. Memori dan pertemuan-pertemuan adalah hal yang banyak muncul dalam puisi-puisinya.
Buku puisi Sitor Situmorang dan Czesław Miłosz yang saya baca adalah buku yang memuat karya-karya penyairnya dalam rentang waktu sangat panjang, mungkin seluruh usia kepenyairan mereka. Dalam kumpulan puisinya pada rentang 1948-2005, saya mendapat satu kesimpulan tentang puisi-puisi Sitor Situmorang: ia mudah terpengaruh oleh teman-temannya sesama penyair, kota tempat ia tinggal, dan orang-orang yang (mungkin) ia idolakan. Ini terlihat dari banyaknya puisi yang ia tulis dengan judul-judul nama tempat atau kota. Sitor sering sekali menulis puisi-puisi tribute, untuk Chairil Anwar, misalnya, dan orang-orang lain dalam kehidupannya. Ia seolah-olah tidak pernah menulis untuk dirinya sendiri. Dan saya kira ia adalah seorang penyair yang sangat produktif pada masanya, karena jumlah puisinya yang terbilang banyak (ini tentu saja relatif). Czesław Miłosz adalah penyair asal Polandia pertama yang saya baca puisi-puisinya. Saya lebih akrab dengan nama Wysława Szymborska, namun justru belum pernah membaca puisinya (sulit sekali menemukan buku puisi karya penyair luar Indonesia, bahkan di toko buku bekas sekalipun). Dari puisi-puisinya yang saya baca, saya melihat Czesław Miłosz kerap menunjukkan kegelisahannya terhadap Tuhan, kehidupan, dan kematian. Ia juga menulis beberapa puisi tentang kota tempat ia tinggal dan puisi-puisi ‘memoir’ untuk orang-orang dalam kehidupannya. Namun yang paling saya ingat dari puisi-puisinya adalah kegelisahannya pada keberadaan Tuhan. Terlihat pada salah satu puisinya berjudul If There Is No God (If there is no God / Not everything is permitted to man / He is still his brother’s keeper / And he is not permitted to sadden his brother / By saying that there is no God //).
Seorang penyair Indonesia pernah bercerita bahwa suatu kali, penyair W. S. Rendra jatuh sakit pada hari di mana ia harus memenuhi undangan untuk membacakan puisi di sebuah acara. Rendra, pada akhirnya, tetap memenuhi undangan tersebut, dan mendeklamasikan puisi-puisinya. Selesai membaca puisi, Rendra mengaku tiba-tiba saja ia merasa baikan, tidak sakit lagi. Ternyata, membaca puisi baginya dapat menjadi obat, penyembuh. Mungkin seperti seorang penyanyi yang melupakan sakitnya ketika ia sedang beraksi di atas panggung, atau pelukis yang tidak ingat ia sedang demam saat asyik menggoreskan kuas di kanvas. Tenggelam dalam hal-hal yang kita kerjakan dengan rasa senang memang dapat membuat kita terdistraksi dari hal-hal lain, termasuk penyakit yang tengah kita derita. Saya kira itu yang dialami oleh Rendra.
Apakah itu terjadi juga pada saya? Apakah saya mendadak sembuh setelah membaca buku-buku puisi yang saya sebutkan tadi? Ternyata tidak. Tapi setidaknya dengan membaca puisi ketika sakit, saya merasa mendapatkan dunia kecil yang tidak perlu saya pahami. Di sanalah, bagi saya, letak kesenangan membaca puisi. Saya tidak perlu paham dan sepenuhnya mengerti. Ketika sakit saya tidak ingin berusaha untuk mengerti apapun. Saya hanya ingin berbaring di tempat tidur dan membaca sesuatu yang dapat saya nikmati. Apakah kamu bisa menikmati sesuatu tanpa harus memahami sesuatu tersebut? Kalau iya, bersyukurlah, karena banyak dari keindahan di dunia ini yang tidak bisa kamu pahami, hanya bisa kamu nikmati. Tapi, kalau kamu termasuk orang-orang yang harus mengerti sesuatu untuk menikmatinya, maka siapkanlah pisau bedahmu untuk menguliti keindahan-keindahan itu, temukan intisari dan pengertiannya. Jangan heran kalau nanti setelah mencoba menguliti dan memahami, kamu justru kehilangan waktu untuk menikmati keindahan itu. Apalagi jika yang sedang kamu kuliti adalah puisi, karena di dalam puisi terdapat keindahan yang tidak dapat dimengerti.
Selamat sibuk. Saya ingin tidur dulu. ***