20 Mei 2017

Selamat Datang


Segera terbit novel baru Bara, "Elegi Rinaldo"


Bisikan Busuk adalah blog pribadi Bernard Batubara (Bara): penulis penuh-waktu, yang lahir 9 Juli 1989 di Pontianak, Kalimantan Barat; kini tinggal di Yogyakarta. Bara belajar menulis puisi, cerita pendek, dan novel sejak 2007. Buku-bukunya yang telah terbit: Angsa-Angsa Ketapang (2010), Radio Galau FM (2011), Kata Hati (2012), Milana (2013), Cinta. (2013), Surat untuk Ruth (2013), Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri (2014), Jika Aku Milikmu (2015), dan Metafora Padma (2016). Radio Galau FM dan Kata Hati telah diadaptasi ke layar lebar. Buku terbarunya terbit Desember 2016, novel Elegi Rinaldo.


1 Desember 2016

Fiksi Hemat Etgar Keret



Buku yang bagus akan mengubah cara pandangmu tidak hanya terhadap hal-hal di dunia, tetapi juga tentang bagaimana seharusnya sesuatu ditulis. Kalau kamu senang dengan narasi yang berbunga-bunga dan megah, sebuah buku bagus yang ditulis dalam bahasa lugas akan mengubah pendapatmu tentang idealnya bentuk narasi. Perubahan itu pun tidak hanya akan mempengaruhi saat membaca, tetapi juga ketika menulis. Kamu akan otomatis merasa mual saat melihat jari-jarimu mengetik kalimat-kalimat puitis yang enggak jelas apa maksud dan tujuannya.

Saya barusan selesai baca The Nimrod Flip Out, salah satu dari sekian kumpulan cerita Etgar Keret. Buku ini terbit tahun 2003. Sama seperti buku-buku Keret yang lain, cerita-cerita di dalamnya ditulis dalam bahasa Ibrani dan kebanyakan diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Miriam Shlesinger; sebagian di buku ini oleh Sondra Silverston. Saya belum pernah lihat cerita-cerita Keret dalam bahasa Ibrani. Kalaupun iya saya enggak bakalan ngerti. Tapi ya bolehlah saya anggap terjemahan Inggris cerita-cerita Keret sama ringkasnya dengan versi aslinya.

Saya suka banget Keret karena dia memperlihatkan dengan baik gimana caranya menulis efektif. Apa yang bisa disampaikan lewat 500 kata ya sudah, tidak usah dipanjang-panjangin jadi 5.000 kata. Saya ingin berasumsi kita semua pernah baca cerita, entah itu novel ataupun cerita pendek, yang terasa begitu panjang bukan karena memang masih ada hal penting yang perlu disampaikan, tetapi karena penulisnya enggak ngerti cara mengefektifkan narasi. Ibarat mi rebus yang terus direbus bahkan ketika ia sudah matang. Keret tidak. Ia memasak dan berhenti pada tingkat kematangan yang pas.

Saking ringkasnya, kadang-kadang membaca buku Etgar Keret seperti membaca sekumpulan sinopsis novel; sinopsis-sinopsis yang sangat berpotensi untuk jadi cerita yang lebih panjang dan kompleks. Imajinasi saya kerap terpantik oleh fiksi hemat Keret dan seiring pembacaan saya sering membayangkan, gimana kira-kira kalau cerita ini dipanjangin ya? Pasti bakal lebih menarik. Namun, faktanya Keret tidak memanjangkan ceritanya. Dia merasa segitu sudah cukup. Sikap ini jarang saya temukan di penulis-penulis lain: merasa cukup.

Saya membayangkan, jika Keret jadi seorang editor dia bakal jadi editor yang kejam. Enggak akan ada satu kata pun yang lolos dari usahanya memangkas agar cerita jadi seramping mungkin. Repetisi kata yang bikin kalimat enggak enak, coret. Metafora yang membingungkan, coret. Dialog-dialog enggak berfungsi, coret. Tokoh-tokoh figuran enggak penting, coret. Lemak berlebih adalah musuh. Segala pemotongan dilakukan demi mendapatkan daging buah yang murni.

Saya menghindari penggunaan istilah “fiksi mini” untuk membahas cerita-cerita Keret karena memang label tersebut tidak tepat. “Fiksi mini” atau flash fiction punya bentuk yang jauh lebih pendek lagi dari cerita-cerita Keret. Saya rasa lebih pas kalau saya sebut “super pendek”, karena lebih pendek dari cerita pendek (short story) “internasional” pada umumnya dan bahkan lebih pendek dari cerita pendek di koran-koran di Indonesia.

Cerita-cerita super pendek Keret bisa jadi solusi bagi mereka yang mengalami kesulitan menulis novel dan lebih tertarik membuat cerita-cerita super pendek. Saya punya seorang teman yang menulis dengan bagus, tapi mengaku tidak bisa membuat novel. Saya kira ia dan orang-orang lain yang seperti dirinya bisa coba membaca cerita-cerita Keret untuk menemukan formula merangkai cerita yang panjang dari penggalan-penggalan yang lebih pendek.

Dulu saya mengira seorang penulis (fiksi) harus bisa menulis cerita pendek dan novel. Kalau lihat penulis yang hanya menerbitkan kumpulan cerita rasa-rasanya kok belum sah jadi penulis. Itu sebabnya saya sering meneror beberapa teman yang menulis cerita-cerita pendek dengan bagus tapi belum pernah menerbitkan novel. Namun, setelah membaca Etgar Keret, anggapan semacam itu mungkin perlu saya ralat. Kalau cerita-cerita pendeknya sebagus punya Keret, rasanya enggak usah bikin novel. Jadi spesialis cerita pendek aja (walaupun Keret juga sesekali menulis novela) dan terus menerbitkan kumpulan cerita.

Saya tidak tahu dari mana Etgar Keret memperoleh visi bentuk cerita-ceritanya. Pada beberapa wawancara, dia cukup sering menyampaikan kisah ketika kedua orangtuanya hidup dalam persembunyian kala Holocaust berlangsung. Selama tidak kurang dari dua tahun, mereka bersembunyi di ruang bawah tanah. Ayah dan Ibu Keret mendistraksi anak-anaknya dengan mendongeng. Seluruh kisah yang mereka dongengkan asli karangan mereka sendiri. Spontan dan otentik. Bayangkan hidup dua tahun di bunker, ada berapa dongeng yang sudah pernah didengar Keret? Mungkin secara tidak langsung Keret mendapatkan visinya dari sana. Tentu saja ini hanya dugaan.

Satu hal yang jelas, seperti saya bilang di paragraf pembuka tulisan ini, Keret mengubah cara pandang saya terhadap bagaimana sebaiknya cerita dituturkan. Sampaikan hanya yang benar-benar penting. Gunakan prinsip ekonomi, dengan modal sekecil mungkin tetapi memperoleh untung sebanyak-banyaknya; tulis narasi seringkas mungkin yang menyampaikan informasi sebanyak-banyaknya.

Mungkin suatu hari nanti cara pandang saya terhadap cara dan bentuk bercerita akan kembali berubah ketika bertemu buku yang lebih bagus. Tapi sampai hal itu terjadi, saya masih akan menuankan (bukan menuhankan) Keret.


Bagi kamu yang ingin belajar cara menulis dengan efektif, buku-buku Keret amat saya rekomendasikan untuk dibaca. Kecuali memoarnya, buku-buku Keret belum diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Kamu bisa mencari di Internet cerita-cerita pendeknya dalam bahasa Inggris. Saya menerjemahkan beberapa di blog ini, dan orang-orang baik lain juga menerjemahkan cerita-cerita Keret di blog mereka.

24 November 2016

Pemesanan Awal Elegi Rinaldo



Novel terbaru saya, Elegi Rinaldo, sudah bisa dipesan (pre-order) di beberapa toko buku daring. Untuk pemesanan awal yang berlangsung 24 November - 9 Desember ini, tersedia 300 buku bertandatangan. Bukunya sendiri baru akan masuk toko-toko buku jaringan sekitar akhir Desember.

Berikut adalah daftar toko buku yang melakukan pre-order Elegi Rinaldo. Kamu bisa memesan novel saya di salah satunya (klik nama toko buku):

Demabuku (IG: @demabuku)

19 November 2016

Buku Bagi Penggila Buku




Saya senang membaca buku. Dari banyak hal yang saya senangi-memotret, mendengar musik, mengendus seprei baru, membersihkan kipas angin, makan, minum kopi, berbincang santai, berdiam diri, memandangi orang-membaca buku adalah hal yang paling saya senangi. Jika saya membuat daftar tentang hal-hal menyenangkan dalam hidup saya, tanpa ragu saya akan meletakkan “buku” di urutan teratas.

Sebagai orang yang senang membaca buku, saya ingin orang-orang lain juga suka membaca buku. Namun, ternyata gampang-gampang susah untuk menunjukkan kepada orang lain betapa menyenangkannya membaca buku. Lebih susah lagi memberitahu mereka yang tidak punya hobi membaca buku tentang bagaimana setumpuk kertas yang dijilid, seperti kata Carlos María Domínguez dalam novela Rumah Kertas, “…mengubah takdir hidup orang-orang.”

Barangkali saya kurang pandai menunjukkan ke teman-teman saya bagaimana buku merupakan salah satu benda paling menyenangkan di dunia. Saya sekadar berkata bahwa baca buku itu asyik. Mereka tidak bisa memahami hanya dengan penjelasan tersebut. Itu bahkan bukan sebuah penjelasan. Gimana lagi dong? Baca buku itu emang asyik. Kadang saya merasa enggak perlu menjelaskan lebih jauh karena bagi orang yang suka baca buku penjelasan saya enggak diperlukan, dan bagi yang enggak suka baca buku, penjelasan saya enggak berguna.

Tapi, sekarang saya sudah punya alat bantu. Sebuah buku bagus berjudul Rumah Kertas karya penulis Amerika Latin, Carlos María Domínguez (judul asli bukunya La casa de papel, bahasa Inggris: The House of Paper). Bukunya tipis sekali, hanya 76 halaman. Namun, after effect-nya seperti habis membaca novel 700 halaman.

Karena novelnya sangat tipis, jadi kurang bijak jika saya memberi tahu tentang ceritanya. Jika saya mengatakannya tidak akan ada lagi yang tersisa untuk anda baca. Sebagai gambaran umum kira-kira begini saja: Seorang laki-laki menerima kiriman buku, tapi karena merasa pengirimnya salah alamat, ia menelusuri jejak si pengirim untuk mengembalikan bukunya, dan dalam penelusurannya itu ia menemukan cerita-cerita yang menakjubkan.

(Gambaran di atas tidak begitu akurat, tetapi kalau saya bikin lebih akurat lagi saya terpaksa memberi spoiler)

Saya merasa novela Rumah Kertas adalah buku yang ditulis dari dan untuk para pencinta buku. Orang-orang yang senang membaca buku akan memahami apa yang sedang disampaikan si penulis dalam buku tipis ini. Tidak, senang adalah kata yang kurang akurat. Gila, mungkin lebih tepat. Orang-orang yang gila buku, yang tidak hanya senang membaca buku tetapi juga mengoleksinya, menumpuk, mengendus; orang-orang yang rela mengeluarkan uang banyak untuk membeli dan memburu buku; orang-orang yang rela kelaparan asal masih bisa membaca buku; orang-orang seperti ini niscaya akan merasa terwakili perasaannya oleh buku Carlos María Domínguez.

Novela pengarang asal Buenos Aires, Argentina ini diterjemahkan dengan sangat enak oleh Ronny Agustinus (saya lebih senang memakai kata enak daripada baik untuk menggambarkan hasil terjemahan). Sebelum Rumah Kertas saya membaca dua-tiga buku terjemahan Ronny Agustinus, semuanya fiksi karya para penulis Amerika Latin. Ketika awal memutuskan akan membeli buku ini pun salah satu alasannya karena penerjemahnya Ronny.

Jadi, apakah buku ini bisa dinikmati oleh mereka yang tidak amat suka membaca buku? Atau setidaknya, tidak sampai gila dengan buku? Saya kurang yakin. Tapi mungkin saja dengan membaca Rumah Kertas anda jadi bisa membayangkan mengapa ada orang-orang yang gila dengan setumpuk kertas dijilid dan dijual dengan harga mahal yang terlihat tidak memberikan manfaat apa-apa selain dua sampai lima jam waktu tersia-siakan di atas tempat tidur, bangku kafe, atau sofa ruang tamu.

Ada banyak referensi buku yang disebut penulisnya dalam Rumah Kertas. Lewat dialog-dialog antartokohnya, nama-nama seperti Dostoyevsky, Conrad, Tolstoy, Faulkner, Hugo, beserta karya-karya mereka menjadi bahan diskusi utama yang juga menjadi bagian dari inti atau tujuan untuk apa buku ini ditulis. Banyak juga sindiran pedas terhadap dunia sastra serta para pelakunya (termasuk industri penerbitan), yang meskipun konteksnya terjadi di Buenos Aries, menurut saya sangat relevan dengan situasi di Indonesia, dan barangkali juga di negara-negara lain.

Supaya saya tidak dianggap pelit, saya kasih secuil percakapan dari buku Rumah Kertas. Dari sini anda bisa membayangkan kira-kira bagaimana isi bukunya. Part yang saya ambil ini terjadi saat protagonis bertemu seorang pencinta buku yang merupakan sahabat dekat dari orang yang sedang ia cari.

“Berapa banyak buku yang Anda punya?” tanyaku.

“Jujur saja, saya sudah berhenti menghitung. Tapi saya rasa pasti ada sekitar delapan belas ribu. Sejauh yang saya ingat, saya sudah lama membeli buku di sana sini. Membangun perpustakaan adalah mencipta kehidupan. Perpustakaan tak pernah menjadi kumpulan acak dari buku-buku belaka.”

“Saya kurang begitu paham,” sahutku.

“Anda tambahkan terus buku-buku ke rak dan kelihatan banyak, tapi kalau boleh saya bilang, itu cuma ilusi. Kita ikuti tema-tema tertentu, dan sesudah suatu waktu, kita temukan bahwa kita sedang merumuskan dunia; atau bila Anda suka, bahwa kita sedang menapak tilas jejak-jejak sebuah perjalanan, dan untungnya jejak-jejak tersebut masih bisa kita lestarikan. Ini tidak gampang lho. Inilah proses kita merampungkan bibliografi: kita mulai dengan satu rujukan kepada buku yang tidak kita punya, lalu begitu kita memiliki buku tersebut, ada rujukan yang menuntun kita ke buku lainnya. Kendati harus saya akui bahwa pembacaan saya sendiri sangat terbatas. Saya perlu membaca semua catatan yang ada di sebuah buku untuk menjernihkan makna tiap-tiap konsep, jadi sulit bagi saya untuk duduk membaca buku tanpa ditemani dua puluh buku lain di sampingnya, kadang hanya untuk menafsirkan satu bab saja secara utuh. Tapi tentu saja, justru kerepotan inilah yang memukau saya.”

Ia menyungging senyum tahu-sama-tahu yang membuatku ikut tersenyum.

Sepanjang membaca Rumah Kertas, saya seolah-olah saling bertukar senyum tahu-sama-tahu dengan Carlos María Domínguez. Anda tahu, kan, rasanya ketika ketawa bareng teman gara-gara jokes internal yang hanya dimengerti oleh kita sendiri? Rumah Kertas seperti 76 halaman jokes internal yang hanya dimengerti oleh para pencinta buku. Itu tadi sebab saya bilang bahwa Rumah Kertas seperti buku yang ditulis oleh dan untuk para pencinta buku. Tidak, para penggila buku.


Namun, bukan tidak mungkin buku ini juga memikat orang-orang yang tidak gila buku. Ingat bahwa Rumah Kertas ditulis oleh pengarang Amerika Latin, dan saya belum pernah membaca buku jelek dari pengarang Amerika Latin. Cara mereka menulis sangat efektif, diksi dan kalimatnya akurat, seringkali penuh humor, dan demi alasan-alasan tersebut buku bagus ini menjadi lebih menyenangkan lagi untuk dibaca. ***

17 November 2016

Buku Baru! Elegi Rinaldo




Buku saya ke-10. Novel keempat. "Elegi Rinaldo" terbit bulan depan (Desember 2016), Falcon Publishing. Elegi Rinaldo sudah bisa dipesan pracetak (pre-order) di toko buku daring berikut:

Demabuku (IG: @demabuku)


Kredo Keret




Salah satu ranjau darat yang diletakkan penulis bagi pembacanya adalah narasi yang terlalu panjang dan sia-sia. Kita bisa mati di sana. Bukan mati terhormat, tapi mati konyol. Seperti mati terinjak lumpur isap yang di baliknya tumpukan kotoran sapi. Sudah konyol, bau pula. Seorang penulis bisa menghabiskan sepuluh halaman novelnya dengan narasi amat panjang yang tidak mengatakan apa-apa. Tuhan melindungi kita dari penulis-penulis semacam ini (jika penulis itu saya, semoga Tuhan melindungi anda sekalian)

Untunglah Tuhan baik. Ia turunkan Etgar Keret sebagai nabi para pencerita yang membawa sepuluh perintah. Sembilan perintah terakhir tidak penting. Perintah pertama yang paling krusial: Dilarang menyia-nyiakan kata-kata. Itu yang Etgar Keret lakukan dan beri contoh kepada siapapun yang ingin menjadi pencerita. Ketika orang lain membuat novel tebal yang dipanjang-panjangkan, Keret tahu perbuatan tersebut adalah dosa besar, sehingga apa yang bisa ia ucapkan dalam satu paragraf, ia sampaikan lewat satu paragraf saja.

Penyakit lain yang dimiliki penulis selain tidak tahu kapan harus memulai adalah kapan harus berhenti. Banyak cerita bagus yang memuakkan hanya karena tidak diakhiri dengan tepat. Penulisnya merasa pembaca terlalu dungu untuk paham apa yang ingin ia sampaikan, atau memang dasarannya ia tidak tahu bagaimana cara menutup mulut. Tidak seperti Keret. Keret tahu betul kapan harus berhenti bicara.

Sejauh ini saya membaca tiga kumpulan cerita Keret. Buku yang terakhir saya baca, Suddenly, A Knock on the Door, buat saya yang terbaik. Ini buku kedua terbaru dari Keret sebelum memoar The Seven Good Years. Secara bentuk tidak jauh beda dengan dua kumcer sebelumnya, The Bus Driver Who Wanted to be God dan The Girl on the Fridge. Masih super pendek, ringkas. Tapi di buku ini Keret menyampaikan gagasannya dengan jauh lebih efektif, mengena, dan ibarat peluru senapan penembak jitu, daya hancurnya lebih besar dari yang pernah ada.

Ada 35 cerita di buku ini. Pembukanya, “Suddenly, A Knock on the Door” tentang penulis yang ditodong tiga orang laki-laki dengan pistol dan dipaksa menulis cerita. Saya kira cerita pembuka ini adalah kredo kepengarangan Keret. Bukan hanya tentang tekanan dari luar yang memaksa ide-ide kreatif (bikin saya mau tidak mau teringat pada dongeng Syahrazad yang bercerita di bawah ancaman hukum penggal raja Syahriar), tetapi juga ada clue di dalamnya tentang mengapa Keret memilih menuliskan cerpen-cerpennya sangat pendek, terkadang absurd, imajinatif, dan mengandung unsur fantasi. Itu semua pilihan yang berasal dari pengalaman Keret hidup dalam situasi di Israel.

Lihat salah satu dialog menarik ini dalam cerita tersebut (saya terjemahkan ke bahasa Indonesia): “Ayolah, beri kami cerita. Yang pendek-pendek aja, gak usah beranalisis. Hidup udah susah, tahu. Pengangguran, bom bunuh diri, orang-orang Iran. Semua orang butuh hal lain. Kau pikir kami ke rumahmu ini kenapa? Kami desperate, tahu. Desperate!”

Si penulis, sang protagonis cerita, berdeham dan mengulang karangannya. Tiba-tiba salah satu dari penodong kembali protes. “Oi, itu bukan cerita. Itu laporan pandangan mata. Kau cuma ngasih tahu apa yang saat ini sedang terjadi. Kami setengah mati menjauh dari hal-hal itu-dari kenyataan-tahu tidak? Jangan kau limpahkan kami dengan cerita kenyataan kayak mereka itu sampah. Pakailah imajinasimu itu. Ciptakan hal baru.”

Cerpen-cerpen Keret kadang-kadang memang terasa seperti eskapisme. Israel hadir dalam cerpen-cerpennya dengan beragam sisi konflik yang ia miliki, tetapi mereka senantiasa diiringi humor, absurditas, situasi-situasi komikal, dan unsur-unsur fantasi yang membuat mereka bergeser dari jalan realisme. Ternyata itu bukan sebuah kebetulan, seperti saya catat tadi.

Kemarin saya menonton wawancara Keret di Youtube. Pewawancara, Michael Chabon, memberi pertanyaan-pertanyaan sederhana dan menarik. Selain nama “Etgar” yang ternyata unik bagi orang Israel, Chabon juga membahas tentang salah satu cerpen Keret berjudul “Lieland” (ada di buku Suddenly, A Knock on the Door). Premis cerpen itu: tentang kebohongan. Ketika kita berbohong, ada dunia lain yang hadir paralel sebagai manifestasi dari kebohongan-kebohongan kita.

Bagi Keret, kebohongan merupakan sesuatu yang esensial. Hidup dalam situasi konflik perang membuat Keret menyadari apa makna sebuah penghiburan. Lie, kebohongan, menjadi eskapisme.

“Suatu hari aku naik pesawat yang turbulensi parah. Aku duduk di sebelah perempuan Italia. Aku bilang kepadanya bahwa aku teknisi pesawat, dan kita sedang naik pesawat paling aman di dunia. Aku berbohong. Tapi perempuan yang tadinya berteriak-teriak histeris itu jadi tenang dan kemudian ia berterima kasih.” Di video lain yang saya tonton, Keret menceritakan pengalamannya berbohong. “Jenis kebohongan seperti ini, aku tidak keberatan melakukannya. Kalaupun hari itu pesawat kami jatuh dan kami mati, buatku lebih baik mati setelah seseorang di sampingmu mengatakan hal-hal baik, daripada mati dalam kondisi histeris.”

Cerpen-cerpen Keret adalah kebohongan-kebohongan yang menghibur. Tentu saja di antara kebohongan-kebohongan tersebut kita tetap bisa melacak realitas. Tetap ada duka kematian karena perang, kehilangan orang yang dicintai, bahkan perceraian. Bukankah cerita yang bagus seperti itu? Menyodorkan serangkaian kebohongan, situasi-situasi yang dikarang belaka, untuk menyampaikan secuil kebenaran dan realitas? Yang barangkali kita semua sudah tahu, tetapi rasanya akan berbeda jika realitas itu masuk kembali ke kesadaran kita melalui cerita.

Cerita favorit saya di buku Suddenly, A Knock on the Door adalah “Pick a Color”. Menurut saya ini cerita terbaik tentang rasisme. Apapun yang berkaitan dengan konflik identitas terangkum dalam dan terwakili dengan sangat baik oleh cerita ini.

Kadang-kadang cerita Keret tidak menyampaikan gagasan apapun, selain ingin membawa kita ke sebuah petualangan ringkas yang menyenangkan. Saya kira itu bentuk paling murni dari cerita. Kita tenggelam dalam cerita itu sendiri tanpa perlu mencari tahu apa sebenarnya yang ingin disampaikan si pencerita. Karena memang tidak ada. Membaca cerita seperti mengupas bawang bombay untuk pertama kali dan penasaran ada apa di intinya. Jawabannya: tidak ada apa-apa.


Namun, selesai membaca cerita-selesai mengupas sisik-sisik bombay-kita tanpa sadar bisa berurai airmata. Ada efek samping yang hadir. Tidak lagi penting apa sesungguhnya yang ingin disampaikan sebuah cerita, karena cerita itu sendiri sudah mengubah satu bagian dari diri kita sebagai manusia. ***

15 November 2016

Berbohong Cara Etgar Keret

"Kebohongan itu seperti pisau. Kalau kau pakai pisau buat menusuk orang, ya itu salah. Tapi kalau pisau itu kau pakai pisaumu untuk mengoles mentega ke roti, enggak ada yang salah dengan itu.

Saya pernah suatu kali terbang dari Berlin ke Milan. Turbulensinya sangat parah. Penerbangan yang buruk sekali. Lalu, saya dengar seorang perempuan menangis, dan berteriak dalam bahasa Italia. Dia pakai baju dengan simbol salip. Saya berharap ada pramugari menghampirinya dan menenangkan perempuan itu. Namun, pas saya lihat ke belakang, dua pramugari semuanya menangis.

Perempuan tadi terus menangis histeris dan berteriak-teriak. Saya pikir, harus ada yang berbuat sesuatu.

Saya lihat kursi di sebelah perempuan itu kosong. Saya buka seat belt, saya pindah ke sebelahnya, saya pasang seat belt. Saya genggam tangan perempuan itu dan saya bilang ke dia:

'Coba liat saya, saya keliatan ketakutan tidak?'

'Tidak,' kata perempuan itu. 'Kenapa Anda tidak ketakutan?'

'Karena saya teknisi penerbangan, dan saya tahu kita sedang naik pesawat paling aman di dunia. Kita akan baik-baik saja.'

Perempuan itu masih menggenggam tangan saya, tapi sekarang dia sudah bisa mengatur napas.

'Tuhan mengirim Anda untuk saya,' katanya. 'Berapa kemungkinannya dari setiap hari dalam hidupku, bisa bertemu seorang teknisi penerbangan di pesawat dalam keadaan seperti ini?'

-

Inilah jenis kebohongan yang saya tidak keberatan melakukannya. Saya pikir, kalaupun saat itu pesawat kami kecelakaan, meninggal dalam kondisi histeris tidak lebih baik dibanding meninggal setelah mendengar seseorang di sampingmu mengatakan kebohongan yang menenangkan."
-->