4 April 2019

Novel Digital Espresso!



Espresso adalah judul karya terbaru saya. Novel dalam format digital yang bisa teman-teman nikmati di layar handphone. Bab pertama sudah terbit hari Selasa 3 April 2018 dan bab baru akan terbit setiap Selasa pukul 19.00 WIB.

Baca Espresso di aplikasi Storial.co (unduh di Google Play). Lima bab pertama dapat teman-teman baca dengan gratis. Bab keenam hingga tamat perlu membayar menggunakan Koin Storial, yang dapat teman-teman beli dengan pulsa operator.

Untuk pertanyaan seputar teknis (cara mendaftarkan akun di Storial.co, membaca, membeli koin, dan lain-lainnya) silakan kontak Tim Storial.co di Twitter & Instagram: [at]StorialCo.

Selamat membaca Espresso!

17 Agustus 2018

Tiga Novel Michael Ondaatje



The English Patient (1992). Sudah lama saya mendengar tentang buku ini, tapi baru membacanya setelah dinobatkan sebagai peraih Golden Man Booker Prize, penghargaan yang diberikan Man Booker pada ulangtahunnya ke-50. Oleh tim juri, The English Patient dianggap novel terbaik dalam setengah abad terakhir. Luar biasa, bukan. Setelah membacanya, saya tak dapat membantah keputusan itu, meskipun untuk menilai secara objektif saya perlu membaca buku finalis lain (well saya sudah berhenti mencoba). Tapi cukup bagi saya bahwa Man Booker memilih novel yang tidak mengecewakan.

The English Patient adalah novel pasca perang dunia kedua, ditulis tahun 1992 oleh Michael Ondaatje, penulis Kanada lahir di Sri Lanka. Namanya populer mungkin setelah The English Patient digarap ke film tahun 1996 oleh Anthony Minghella, sutradara Inggris, dan diganjar 9 piala Oscar, termasuk untuk kategori film terbaik dan sutradara terbaik. Juliette Binoche, mendapat best actress in supporting role, memerankan Hana, perawat perang Kanada, karakter pertama yang muncul di adegan pembuka novelnya. Hana menarik tiga tokoh sentral lain: seorang mata-mata, seorang pencuri, dan seorang penjinak bom.

Novel dibuka dengan adegan Hana berdiri di kebun, di pekarangan vila yang terletak di sebuah area kompleks bangunan lama di Tuscany, Italia tengah. Ia merawat seorang pasien luka bakar parah, wajah tak bisa dikenali. Kelak dirujuk sebagai the english patient, si pasien Inggris. Belakangan terungkap nama aslinya, Almásy, penjelajah gurun dan kartografer Hungaria, dicurigai bukan hanya sebagai agen ganda, tapi triple agent (!) David Caravaggio, orang Kanada, pencuri, sudah empat bulan di rumah sakit Roma saat mendengar kabar burung tentang pasien Inggris dan perawat yang bersamanya. Tergerak oleh memori, ia pergi ke San Girolamo, lokasi mereka. Kip, penjinak bom asal India beragama Sikh, satu-satunya karakter sebaya Hana, bertugas membersihkan ranjau darat di sekitar vila, suatu siang terpancing bunyi denting piano Hana, mengira ada bom disembunyikan pasukan musuh di benda tersebut. Keempat karakter ini menjadi geng kecil di antara reruntuhan perang, seiring waktu menguak misteri hidup mereka melalui interaksi, percakapan yang menyingkap rahasia-rahasia.

Bagian terbaik dari novel ini adalah deskripsi Michael Ondaatje yang detail pada adegan-adegan yang tepat. Favorit saya, ketika Kip (kadang teringat tokoh Pip di novel Dickens) dalam proses menjinakkan ranjau darat seberat 2.000 kg. Begitu meyakinkan dan menegangkan, seolah Michael Ondaatje pernah melakukannya. Meski diapit detail di sana-sini, The English Patient tidak lantas menjadi bertele-tele. Dalam 300 halaman yang padat, kisah hidup empat orang dengan latar berbeda dapat terjalin apik, membentuk keutuhan cerita yang memuaskan. Michael Ondaatje bekerja sangat efektif. Sekilas melihat, kita akan tahu The English Patient melalui proses rewriting yang ketat dan mungkin hampir tak terhitung jumlahnya. Alur maju-mundur dalam adegan-adegan yang singkat mengingatkan saya pada novel-novel Dan Brown, untuk alasan serupa saya membacanya dengan sangat asyik, lancar tanpa hambatan hingga akhir.


In the Skin of a Lion (1987). Novel tentang orang-orang imigran di Toronto awal abad ke-20. Karya yang mendahului The English Patient, juga dianggap sebagai prekuelnya. Karakter pencuri David Caravaggio pertama muncul di novel ini, bersama Hana yang masih kecil. Patrick Lewis, protagonis In the Skin of a Lion, adalah ayah tiri Hana. Hidupnya kelak berakhir di The English Patient, tapi di novel ini kisahnya bermula sebagai pekerja yang ditugaskan mencari orang hilang. Novel In the Skin of a Lion berutang dari naskah Epos Gilgames, mengambil bagiannya untuk menjadi judul.

Patrick Lewis yang kehilangan ayahnya karena sebuah kecelakaan proyek pembangunan jembatan, memilih pekerjaan lain. Mencari konglomerat yang menghilang, Ambrose Small. Pencarian itu berakhir dengan kisah cinta yang pahit antara Patrick dengan Clara Dickens, selir si konglomerat. Untungnya kehidupan asmara Patrick berlanjut. Ia bertemu sahabat Alice Gull, sahabat Clara, dan anaknya yang berusia sembilan tahun, Hana. Mereka pacaran. Gagasan-gagasan Alice perihal uang dan kekuasaan merasuki Patrick. Sepeninggalnya Alice, Patrick meledakkan Muskoka, sebuah hotel di distrik Ontario Tengah yang dihuni orang-orang kaya.

In the Skin of a Lion punya bentuk yang sedikit mirip sekuelnya, namun dibanding The English Patient, ini lebih kronologis. Cerita berganti-ganti fokus menggunakan beberapa karakter, seluruhnya dituturkan dari sudut pandang ketiga. Dialog ditulis di antara adegan seperti naskah drama, minim gestur dan keterangan, somehow bikin tempo cerita jadi lebih cepat dan terkesan lebih dramatis. Bagian favorit saya ketika membayangkan David Caravaggio yang di The English Patient kehilangan dua jempol setelah dipotong tentara Blok Poros karena mencuri dokumen rahasia, di novel ini bekerja sebagai pembuat roti.


Coming Through Slaughter (1976). Pendahulu kedua novel sebelumnya. Berlatar New Orleans pada pergantian abad, ke-18 menuju ke-19. Tentang riwayat hidup Charles Joseph Buddy Bolden atau Buddy Bolden, pemain terompet cornet yang dianggap sebagai pelopor musik jazz.

Awalnya agak kagok baca novel ini, karena bentuknya sangat berbeda dengan The Englisht Patient dan In the Skin of a Lion. Kedua novel belakangan ditulis lebih rapi, bagian ke bagian. Prosa yang utuh. Coming Through Slaughter lebih, dalam tanda kutip, berantakan. Tapi justru inilah bagian terbaiknya. Halaman-halamannya terdiri atas fragmen-fragmen pendek, kadang potongan lirik lagu, deretan nama-nama band, berganti-ganti penutur dari narator ketiga ke suara Buddy Bolden sendiri lalu kembali ke narator serba-tahu. Saya membayangkan pada masanya novel ini dikategorikan, dalam tanda kutip, novel eksperimental.

Cara terbaik membaca novel ini adalah sembari mendengarkan Buddy Bolden’s Blues. Rangkaian bunyi terompet cornet yang lantang dan terdengar ceria, terasa kontras dengan kisah Buddy Bolden yang kelam, sendu, dan tragis. Jelang akhir hidupnya, ia divonis mengidap skizofrenia. Sebelum gila, Buddy Bolden seorang alkoholik dan terlibat perselingkuhan yang membuat rumah tangganya hancur. Michael Ondaatje secara brilian menulis paragraf-paragraf yang awalnya teratur, layaknya bait-bait pertama sebuah lagu, kemudian berganti ke kalimat-kalimat Buddy Bolden yang panjang tanpa tarikan napas tanpa tanda baca seperti yang saya coba tunjukkan di kalimat ini untuk menggambarkan pikiran Bolden yang melaju seperti nada-nada yang keluar dari terompetnya. Bagian favorit saya di novel ini ketika seorang tokoh diam-diam melihat Buddy Bolden memainkan terompetnya, mendengar Bolden memainkan blues yang lebih sedih dari himne, himne yang lebih sedih dari blues. Mencampuradukkan keduanya, himne dan blues, musik Tuhan dengan musik iblis (belakangan saya baru tahu pada masanya memainkan blues dianggap dosa).

Tokoh-tokoh legenda musik memang selalu menarik untuk dikulik. Gara-gara baca novel ini saya jadi mencari tahu tentang sejarah jazz, mendengar Chet Baker, Miles Davis, John Coltrane, dan pengin menonton Born to be Blue.

16 Agustus 2018

The Namesake dan Pantulan


-->

Saya selalu merasa buku bisa dinilai secara objektif. Dibedah, dimutilasi, dikorek isinya dengan sikap yang dingin. Dengan mata yang tak berbelas kasih. Isi buku dibaca, didekonstruksi, didakwa, menggunakan pisau kritik yang tak berjiwa. Tak peduli apakah buku tersebut sebetulnya mengandung hal-hal yang kita sendiri alami. Buku dalam beragam wajah dan sejarahnya, akan senantiasa tergeletak di atas meja operasi, berserah diri pada kesewenang-wenangan pembaca, sang dokter bedah.

Saya hanya pembaca, bukan kritikus sastra. Tidak punya gelar sarjana sastra. Tidak paham teori tentang karya sastra. Tidak punya pisau yang dibutuhkan untuk membedah karya sastra. Namun, sejujurnya saya pernah mencoba, tentu tanpa menyebut apa yang saya tulis sebagai sebuah kritik, tidak pernah. Saya hanya menulis ulasan. Awalnya saya mengira dapat membuat ulasan yang objektif, tapi lama-kelamaan saya merasa percuma saja mencoba. Buku akan selalu menjadi benda yang subjektif. Pembacaan atas buku akan sangat bergantung pada pengalaman pembacanya sendiri.  

Saya semakin meyakini hal ini ketika membaca novel The Namesake, Jhumpa Lahiri. Ketika membacanya, saya menangis di beberapa bagian, cukup banyak. Saya yakin, saya menangis bukan hanya karena The Namesake ditulis dengan bagus, tapi juga, dan terutama karena bagian-bagian buku tersebut menyentuh pengalaman personal saya. Identitas, keadaan, dan kegelisahan karakternya mencerminkan identitas, keadaan, dan kegelisahan personal saya sebagai manusia.

The Namesake terbit tahun 2003 dalam bahasa Inggris; diadaptasi ke film tahun 2006 oleh Mira Nair. Meski lahir dari orangtua yang India, Jhumpa Lahiri tidak menulis dalam bahasa Bengali. Ia lahir di London lalu di usia yang ke 2 tahun pindah ke New York, Amerika. Ia melihat dirinya sebagai orang Amerika. Nama asli Jhumpa Lahiri terdengar sangat India, Nilanjana Sudeshna, tapi ia memilih dikenal dengan nama Jhumpa. Persoalan nama ini juga menjadi inti persoalan The Namesake. Novel yang bergerak karena sebuah nama.

The Namesake bercerita tentang keluarga muda imigran India di Amerika. Cerita dimulai dengan kelahiran seorang anak laki-laki dari pasangan tersebut, Ashoke dan Ashima Ganguli, anak yang diberi nama Nikhil Gogol Ganguli. Nama yang ganjil itu diambil dari nama penulis Rusia, Nikolai Valisievich Gogol atau yang dikenal dalam versi lebih ringkas, Nikolai Gogol. Ayah si anak itu, bernama Ashoke, akademisi, adalah penggemar karya-karya Nikolai Gogol.

Suatu hari, sebelum menikah dan memulai kehidupan keluarganya di Amerika, Ashoke mengalami peristiwa tragis, kecelakaan kereta api. Secara ajaib, buku Nikolai Gogol yang sedang dibacanya saat itu menyelamatkan hidupnya. Lantas, letika anak pertamanya lahir, persoalan memberikan nama menjadi hal pelik. Rumah sakit Amerika tempat istrinya bersalin butuh mereka segera menamai bayinya, tapi tradisi India menjadikannya lebih rumit. Untuk mempermudah urusan mereka, Ashoke menamai anaknya Gogol.

Di kemudian hari, ternyata nama Gogol ini menjadi persoalan yang pelik. Saking peliknya sampai-sampai Gogol Ganguli memutuskan untuk mengubah namanya, secara resmi. Menjadi Nikhil Gogol Ganguli. Memperkenalkan dirinya ke orang-orang sebagai Nikhil, bukan Gogol. Ia menyembunyikan Gogol, mengubur nama itu dalam-dalam, bersama amarah serta kejengkelan terhadap orangtuanya. Hingga kelak di usia yang ke-30 tahun, Gogo mulai memahami makna sebenarnya dari sebuah nama. Namanya.

Sebuah nama, yang hanya ia sendiri yang punya.

*

Bagi saya, The Namesake menjadi personal karena menyimpan terlalu banyak kemiripan dengan hidup saya. Tak banyak yang tahu, tapi saya selalu merasakan kegamangan yang sama seperti yang dialami Gogol. Saya lahir dari ibu bersuku Melayu dan ayah bersuku Batak tapi saya tak pernah betul-betul merasa sebagai orang Melayu maupun Batak. Agama saya Islam, tapi nama saya Bernard. Saya sering dikira orang Kristen. Saya merasa tak menjejak pada satu tanah suku, agama, dan bahasa yang kuat. Persoalan identitas tidak pernah menjadi hal yang mudah dan tegas bagi saya.

Pada saat saya membaca The Namesake, usia saya hampir 30 tahun, sama seperti Gogol. Ibu kandung Gogol, Ashima, adalah perempuan India. Tak lama sebelum membaca The Namesake saya mengetahui bahwa saya punya garis keturunan India, langsung dari sebelah ibu; suami dari nenek moyang saya (neneknya ibu) adalah orang India. Sejujurnya saya tak ingat apakah ada adegan memasak di The Namesake, tapi masakan-masakan India selalu terasa dekat bagi saya karena di rumah nenek kami sering menyantapnya. Gogol punya adik perempuan yang usianya tak jauh dari adik saya. Sulit untuk menyangkal betapa berlimpah kemiripan di The Namesake dengan kehidupan personal saya.

Dengan begitu banyak kemiripan, saya tak bisa menghindar dari menjadikan adegan-adegan The Namesake sebagai bahan refleksi. Saya melihat diri saya di dalam Gogol. Cara bertutur Jhumpa Lahiri yang deskriptif dan subtil, membuat saya merasakan perubahan emosi Gogol secara intens, seakan-akan yang saya baca adalah perasaan-perasaan saya sendiri. Membaca The Namesake seperti mengalami perasaan yang sama dua kali. Kegelisahan yang sama. Kesedihan yang sama.

*

Dapatkah saya membuat ulasan buku yang objektif, yang mengesampingkan pengalaman pribadi saya dan membatasi pembacaan di dalam buku itu sendiri? Setelah The Namesake, saya rasa tidak. Saya tak akan pernah mencobanya lagi.

Tentu saja persoalan akan berbeda bagi kritikus sastra, tapi saya akan selamanya melihat buku sebagai sesuatu yang personal, yang memberi efek terdahsyatnya bukan hanya karena ia ditulis dengan bagus dan penuh kesabaran, tapi karena penulisnya telah sangat apik mengungkapkan apa yang dirasakan, dialami, dan disimpan diam-diam oleh pembacanya. Memantulkan kembali wajah sejarah pribadi pembacanya. Menjadi sepotong cermin. ***



10 Juli 2018

Skenario Film Jadi Novel



Novel terbaru saya sudah terbit. Asal Kau Bahagia ditulis dari skenario film berjudul sama. Filmnya akan tayang akhir tahun 2018. Baca novelnya sebelum nonton filmnya.

Novelnya sudah bisa dibeli di Gramedia dan toko-toko buku online.

12 Mei 2018

Semasa Bersama Maesy & Teddy di Yogyakarta





Foto: Dokumentasi pribadi



Sejak awal, saya mengenal mereka sebagai pasangan.

Bahkan hingga hari ini setelah saya cukup sering bertemu dan berbincang dengan masing-masing dari mereka, saya tidak bisa memisahkan keberadaan mereka di kepala saya sebagai manusia yang sepasang. Dalam kepala saya, Maesy dan Teddy adalah The Dusty Sneakers dan mungkin akan selalu demikian. Mereka pasangan yang mengasuh sebuah toko buku independen di satu titik bagian selatan Jakarta, Post. Mereka adalah pasangan yang mencintai buku. Setelah mereka menerbitkan Semasa, kini mereka juga adalah pasangan penulis.

Minggu, 22 April 2018, saya bertemu mereka di Yogyakarta, kota yang telah saya tinggali selama 11 tahun terakhir. Sebelumnya saya pernah bertemu Teddy di Yogyakarta, tanpa Maesy (yang pertama saya tanyakan ketika bersalaman dengannya adalah “Maesy lagi di mana?”). Saat itu kami menghadiri acara pernikahan seorang teman yang juga bergiat di dunia buku. Maesy, saya baru kali pertama bertemu dengannya di Yogyakarta.

Hari itu kami membuat janji temu untuk ngopi sambil mengobrol santai di sebuah kedai kopi kecil di tengah-tengah Yogyakarta. Saya sudah tiba di lokasi sekira dua jam sebelumnya karena secara kebetulan ada janji dengan orang lain di tempat yang sama. Tak lama setelah urusan saya beres, Maesy dan Teddy muncul di kedai. Kami saling menyapa. Saya mempersilakan keduanya duduk. Senyum tak lepas dari wajah mereka yang tampak begitu ceria. Ketika percakapan mulai bergulir, Maesy mengaku bahwa mereka belum sempat mandi dan sedang kurang tidur.

Beberapa hari sebelum kami bertemu, seorang teman lain menghubungi saya. Irwan Bajang mengabari bahwa Maesy dan Teddy akan ke Yogyakarta untuk acara buku mereka yang terbaru, Semasa. Bajang mengajak saya untuk membahas buku tersebut. Saya tak berpikir dua kali, langsung saya iyakan. Pertama karena saya memang rindu ingin bertemu pasangan itu. Kedua karena saya senang mengetahui pasangan favorit saya di dunia buku menerbitkan karya fiksi pertama mereka.

Siang itu ketika kami bersua di kedai kopi, Maesy mengenakan kaus lengan pendek hitam polos dan rok sebetis berwarna dasar hitam dan motif polkadot. Teddy datang dengan kaus lengan pendek marun polos dan chino krem. Mereka selalu tampil santai. Jikapun ada yang sedikit berbeda siang itu adalah warna highlight abu-abu pada rambut Maesy. Ketika Maesy bilang mereka tak sempat mandi karena belum dapat check-in di penginapan di Yogyakarta, saya menggeleng karena berpikir mereka rapi dan baik-baik saja, sama sekali tak terlihat seperti belum mandi.

Hal pertama yang membuat saya gembira ketika bertemu mereka hari itu adalah minuman yang mereka pesan. Maesy memesan segelas es kopi susu, sementara Teddy secangkir kopi seduh manual. Kalau tak salah, Teddy memesan kopi Ethiopia. “Kopinya enak,” komentar Maesy. Saya bilang kedai kopi tempat kami bertemu itu memang serius melakukan kurasi terhadap biji kopi yang mereka seduh. Sama seriusnya seperti ketika Maesy dan Teddy menyeleksi buku-buku di Post.

Saya berniat mewawancarai mereka di kedai kopi tersebut, tetapi kami keasyikan mengobrol tentang hal-hal lain. Terlebih ketika kami kedatangan dua tamu baru, Eka dan Tami, pasangan pegiat buku lainnya. Saya dan Teddy sempat menghadiri resepsi pernikahan mereka di Yogyakarta. Novel perdana Maesy dan Teddy, Semasa, diterbitkan Penerbit Oak yang diasuh Eka.

Saat Eka dan Tami tiba di kedai, hari telah cukup sore, sementara acara diskusi buku Semasa dimulai pukul 16.00 WIB di kedai kopi lain. Kami berpindah tempat. Saya memutuskan untuk mewawancarai Maesy dan Teddy seusai acara.






Dari mana datangnya ide untuk menulis Semasa?

Maesy: Kami bukan jenis penulis yang ingin menulis karya yang sama terus-menerus. Setelah buku pertama terbit kami enggak pengin menulis tentang kisah perjalanan lagi. Jadi kami memang pengin menulis karya fiksi karena belum pernah. Kami tertarik bentuk novela karena menurut kami belum banyak dieksplorasi di sini.

Sebagai pembaca, kami lebih banyak menikmati karya-karya yang eksperimental, yang bermain bentuk dan penuh kejadian yang fantastis. Ketika menulis, justru kami pengin bikin cerita yang sangat sehari-hari dan sederhana.

Teddy: Suatu hari kami baca esei foto tentang dua anak kecil yang bersaudara. Di esai itu mereka tampak sangat akrab. Itu memunculkan pertanyaan, “Setelah mereka besar apakah akan tetap akrab ya?” Setelah itu kami mengobrol dan saling tanya tentang masa kecil kami. Kejadian yang biasa saja sebetulnya, seperti kami selalu mengobrolkan buku-buku yang kami baca.

Waktu itu kami memang sudah punya keinginan menulis novela dengan gagasan yang bentuknya slice of life. Ide tentang keluarga yang para anggotanya dekat kemudian jadi berjarak, yang kami peroleh dari obrolan usai membaca esei foto tersebut, terasa menarik untuk ditulis. Kami menggarap gagasan tersebut karena ia mampu menjadi cerita yang sederhana dan meaningful tanpa perlu didukung dengan, misalnya, plot yang fantastis.


Kenapa ingin menulis cerita yang sederhana?

Teddy: Permasalahan di dalam keluarga sering tampak sederhana di mata orang luar, tapi sebetulnya tidak sederhana di diri orang-orang yang mengalaminya. Perasaan-perasaan itu yang ingin kami munculkan.

Selain itu, tidak ada alasan yang lebih mendasar dari yang tadi sudah dikatakan oleh Maesy. Kami banyak membaca cerita-cerita yang fantastis dan justru karena itu kami pengin menulis cerita yang sederhana.

Maesy: Buat kami membaca adalah kebutuhan. Ketika menulis kami bertanya-tanya, bisa enggak ya kami menulis sesuatu yang berbeda dari yang kami baca? Aku sendiri ingin tidak mengikuti penulis tertentu yang aku suka.


Kenapa seperti itu?

Maesy: Menulis itu susah. Ketika kami menyisihkan energi untuk menulis sesuatu, kami ingin menulis dengan cara kami sendiri. Lagi-lagi karena kami banyak membaca novel Amerika Latin dan Indonesia yang bermain dengan bentuk, kami ingin tahu apakah kami bisa menulis sesuatu yang sederhana, yang sehari-hari. Apakah orang-orang bisa menangkap apa yang coba kami sampaikan meskipun di dalamnya tidak terdapat konflik sentral dan lebih banyak hal-hal yang sifatnya subtil.

Bagi kami, itu lebih menantang.

Teddy: Kami ingin invest waktu yang kami punya untuk menuliskan sesuatu yang dekat dengan kami. Keluarga adalah tema yang cukup dekat. Cerita yang kami tulis tentang keluarga memang perlu diceritakan seperti kami menuliskannya.

Maesy: Kami deg-degan, sebetulnya, karena kami tahu pilihan cara bercerita yang kami ambil bisa jadi membuat orang merasa Semasa terlalu pucat dan bahkan membosankan.

Teddy: Pada cerita-cerita dengan plot yang seru, pembaca akan tetap dapat menikmati ceritanya walaupun tidak begitu merasa terhubung. Tapi ketika plot yang semacam itu tidak hadir, pembaca harus dapat merasa terhubung dengan apa yang cerita tersebut coba sampaikan untuk bisa menikmatinya. Beban terbesar kami di Semasa adalah membangun keterhubungan pembaca dengan kisah yang kami tulis.


Ini kali pertama kalian menulis tentang keluarga?

Maesy: Keluarga adalah hal yang sangat personal bagi kami, jadi kalau bukan lewat medium fiksi sepertinya enggak akan pernah kami tulis. Aku sendiri enggak akan bisa menulis karya nonfiksi tentang keluarga, seperti memoar atau semacamnya. Kalau lewat fiksi, kita bisa menuangkan apa yang kita pikirkan tentang keluarga tanpa harus menuliskan kisah tentang keluarga kita sendiri.

Teddy: Semasa bukan cerita tentang apa yang keluarga kami alami.

Maesy: Iya, Semasa bukan kisah yang otobiografis.

Teddy: Tapi refleksi tokoh-tokohnya merupakan hal-hal yang memang kami pikirkan. Misal seperti yang tadi Maesy cerita, tentang orang yang melakukan hal-hal besar dan dihargai publik, serta hubungannya dengan persoalan keluarga yang tidak glamor. Jika ada yang tanya apakah ada diri kami di dalam tokoh-tokoh Semasa, mungkin lebih terletak pada reaksi-reaksi mereka terhadap apa yang mereka alami.


Semasa adalah novel duet. Bagaimana secara teknis cara kalian mengeksekusinya?

Teddy: Tadinya kami ingin pakai dua narator, dariku (Coro) dan dari Maesy (Sachi), tapi kemudian kami putuskan untuk menggunakan satu narator saja. Untuk menjaga konsistensi suara narator, diputuskan bahwa penulis akhirnya aku. Banyak bagian Semasa yang ditulis oleh Maesy terlebih dahulu, lalu ditulis ulang olehku agar sesuai dengan sudut pandang Coro.

Maesy: Kami menulis dengan lambat, tidak bergantian menulis setiap bab.

Teddy: Mainnya di paragraf atau adegan. Seperti adegan tokoh-tokohnya berkemas barang di rumah yang baru saja dijual, itu Maesy yang tulis. Setelah itu baru aku tulis ulang.

Maesy: Soalnya Teddy ini, kan, bahasa Indonesianya sangat spesifik. Sintaksnya Teddy itu particular, dia akan menuliskan kalimat dengan cara yang tidak seperti orang lain ketika menggunakan bahasa Indonesia. Sedangkan aku lebih banyak menulis dalam bahasa Inggris. Caraku berpikir dan membentuk kalimat berbeda sekali dengan cara Teddy. Maka solusinya Teddy harus melihat apa yang aku tulis, lalu dia bahasakan sendiri, supaya narator Semasa enggak punya kepribadian ganda.


Bagian mana di Semasa yang butuh waktu pengerjaan paling lama?

Maesy: Menemukan gagasan untuk meneruskan bab pertama. Jarak dari penulisan bab pertama ke bab kedua itu lama banget karena kami belum menemukan konflik.

Teddy: Bagian penutup Semasa juga sangat lama ketemunya. Resolusi di cerita Semasa itu, kan, jenisnya off-screen. Coro dan Sachi dari kejauhan melihat Bapak dan Bibi Sari lagi bicara untuk menyelesaikan masalah yang ada.

Maesy: Kami sengaja pakai resolusi yang off-screen karena biasanya cerita bertema keluarga yang dituturkan dari sudut pandang anak muda diselesaikan oleh anak muda tersebut, sebagai hero cerita. Tapi kami ingin perlihatkan bahwa orang tua di dalam keluarga juga dapat menyelesaikan masalah mereka sendiri. Apalagi karakter Bapak dan Bibi Sari yang sangat rasional dan mencintai satu sama lain.

Teddy: Iya, dan karena itu mereka bisa menyelesaikan masalah mereka sendiri. Itu yang bikin kami berdiskusi gimana caranya menyampaikan ini ke pembaca. Ketemulah solusi membuat penyelesain konflik yang off-screen.


Kenapa rumah peristirahatan di Semasa diberi nama Pandanwangi?

Teddy: Enggak ada alasan khusus. Termasuk juga nama tokoh-tokoh di Semasa, Coro dan Sachi. Nama Paman Giofridis pun muncul begitu saja.

Maesy: Kami enggak begitu mikir soal nama. Yang lebih kami pikirin adalah, mereka ini siapa. Sebenarnya bisa aja, sih, kami ngarang. Misalnya Coro artinya kecoa, jadi cerita kami ini sebetulnya rada Kafkaesque (ketawa), tapi ya buat apa kami bohong.


Seberapa banyak bagian kehidupan keluarga kalian hadir dalam Semasa?

Maesy: Seperti yang Coro dan Sachi alami, waktu kecil keluargaku punya rumah peristirahatan di daerah Puncak, Bogor. Tapi keluargaku beda banget dengan keluarga Coro dan Sachi. Mereka keluarga kecil, sementara aku anggota keluarganya banyak banget. Lebih dari 20 orang.

Teddy: Bagian kuis di mobil. Waktu kecil, kalau aku mulai capek dalam perjalanan di mobil sama kakekku, dia kasih tebak-tebakan: mobil berikutnya yang di depan kami platnya berangka ganjil atau genap.

Maesy: Bagian Sachi yang kurang tangkas dan sering muntah di mobil itu kayaknya aku (ketawa). Sampai di situ aja, sih. Lainnya enggak.

Teddy: Bagian dari kehidupan kami yang lebih banyak muncul di Semasa menjadi refleksi kejadian-kejadian yang dialami tokoh-tokohnya. Misalnya pada saat Coro dan Sachi di minimarket melihat ada pasangan bertengkar, Sachi mengajak Coro keluar melihat kalau-kalau terjadi pemukulan di antara mereka.

Adegan itu sebetulnya refleksi permasalahan-permasalahan yang muncul di keluarga, yang hadir lewat pertanyaan seperti: Sampai mana, sih, kita sudah berusaha untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukan? Kapan tepatnya kita memutuskan bahwa kita sudah melakukan sesuatu dengan cukup? Apakah kita harus bertindak lebih jauh, karena kalau tidak nanti kita akan merasa bersalah?

Saat ayahku meninggal, pertanyaan yang muncul di kepalaku adalah apakah aku sudah mengobrol cukup dengan dia sehingga dia punya closure yang baik. Apakah dia pergi dengan kondisi sudah membicarakan semua yang harus dia bicarakan denganku. Aku selalu berusaha mengobrol dengan ayahku karena kami memang dekat, tapi the question of whether it’s enough or not selalu ada.

Maesy: Kalau aku berbeda. Bukan cuma persoalan whether it’s enough or not, tapi perkara what should we do? Kalau ada masalah di keluarga, is it something people need to resolve on their own? Is that a role for me to step in? Should I or should I not?


Setelah menulis Semasa apakah kalian sudah mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut?

Maesy: Enggak.

Teddy: Menurutku kita enggak akan pernah tahu, tapi kalau aku, aku sudah memutuskan untuk berdamai dengan pertanyaan-pertanyaan itu.


Siapa penulis yang muncul di kepala kalian saat menulis Semasa?

Teddy: Kalau ada yang bilang Semasa bertempo lambat seperti karya-karya penulis Jepang, mungkin karena pada waktu itu aku juga lagi baca Hiromi Kawakami.

Maesy: (Ke Teddy) Tapi kamu baca Hiromi Kawakami itu dari berapa ratus buku lain yang juga kamu baca di periode penulisan Semasa. Kalaupun memang ada pengaruhnya mungkin secara enggak sadar.





Gaya narasi di Semasa, apakah sesuatu yang kalian bentuk atau hadir dengan sendirinya?

Maesy: Waktu menulis Semasa kami enggak mikirin gaya narasi. Kami lebih sibuk mengolah karakter, apa yang terjadi dengan mereka dan apa yang pengin mereka lakukan. Ini kali pertama kami menulis fiksi dan kami merasa harus terlebih dahulu mengerti universe ceritanya. Jadi kami lebih banyak menghabiskan waktu di sana.

Teddy: Kalau di nonfiksi, peristiwa apapun yang kami tulis memang sudah kejadian. Kami tidak perlu, misalnya, membuatnya masuk akal. Tapi kalau di fiksi, ketika karakter-karakternya bertindak, harus ada alasan. Kami sibuk menggarap bagian-bagian tersebut. Kami juga lebih banyak fokus mengolah bunyi kalimat, memastikan kalimat-kalimatnya sudah tepat menyampaikan apa yang pengin kami sampaikan. Soal gaya, enggak terlalu kami pikirin.


Mana yang lebih bikin repot, fiksi atau nonfiksi?

Maesy: Fiksi. Jauh lebih bikin repot.

Teddy: Fiksi lebih susah.


Kenapa?

Maesy: Itu tadi, bikin semestanya. Kami sudah sering nulis blog, jadi ketika mau bikin memoar, misalnya, tinggal memutuskan how much do we want to reveal, how do we say the story. Kalau fiksi, boro-boro mau mikirin itu, pertama-tama harus mikirin dulu ini karakter-karakternya siapa, kenapa mereka begini dan begitu.

Teddy: Maesy, misalnya, waktu bikin tulisan nonfiksi tentang refleksi being Chinese in Jakarta, itu enggak harus dijelaskan terlalu merinci mengenai karakternya. Kalau di fiksi perlu diolah lagi.

Maesy: Tapi justru jadi menyenangkan karena kami mencoba sesuatu yang baru.

Teddy: Kalau nanti kami nulis fiksi lagi, mungkin bakal lebih plot-driven.

Maesy: (Ke Teddy) Mungkin akan menarik kalau kita nulis sesuatu yang kayak 69-nya Ryu Murakami. Karena ceritanya fun dengan tokoh-tokoh yang impulsif. These people (tokoh-tokoh di Semasa) are anything but impulsive. Mereka semua banyak mikir.


Sumber: Zinc

Kenapa menulis Semasa berdua? Kenapa enggak masing-masing dari kalian bikin novela?

Teddy:
Kami sudah punya dunia masing-masing dalam pekerjaan sehari-hari, jadi dalam hal yang kreatif kami suka mengerjakan sesuatu bersama-sama. Mengelola Post dan menulis, misalnya.

Maesy: Kami kalau berkolaborasi memang saling melengkapi banget. Pas menulis, misalnya, aku yang bikin struktur atau outline. Teddy yang mulai menuliskannya karena dia bisa lebih mengalir walau sering kehilangan arah. Jadi aku yang bantu mengarahkannya, tapi dari segi keluwesan atau memulai sesuatu, itu Teddy yang lebih bisa.


Apakah kolaborasi semacam itu juga terjadi di luar fiksi, maksudnya saat bekerja?

Teddy: Kami enggak terhubung kalau soal pekerjaan sehari-hari.

Maesy: Thank God (ketawa).

Teddy: Kalau pas menulis Semasa, aku lebih banyak yang setting the tone, bikin pembukaan babnya. Maesy bikin penutupnya.

Maesy: Menulis itu, kan, kegiatan yang sangat solitary. Aku merasa kalau menulis berdua Teddy jauh lebih menyenangkan. Karena kalau enggak, rasanya jadi terisolir banget. Kalau Teddy nulis sendiri terus nagging aku tiap tiga paragraf, aku enggak mau (ketawa).

Teddy: Iya. Aku tuh… agak clingy memang (ketawa).


Siapa yang bikin judul Semasa?

Teddy: Maesy.

Maesy: Menurutku cerita sesederhana ini cocok diberi judul dengan satu kata aja, dan aku suka Semasa karena sebagai kata ia lumayan simetris. Semasa bisa berarti macam-macam, apakah masa yang dimaksud itu masa sekarang atau masa lalu. Itu menggambarkan isi bukunya yang memang bergerak di dua alam waktu secara paralel.

Teddy: Waktu Maesy muncul dengan judul Semasa, aku merasakan ada sentuhan dreamy di dalamnya. Aku langsung suka.


Novela favorit kalian?

Maesy: Down the Rabbit Hole, Juan Pablo Villalobos.

Teddy: The Old Man and the Sea, Ernest Hemingway.

Maesy: (Ke saya) Kalau kamu?

Dengarlah Nyanyian Angin, Haruki Murakami.




Foto: Dokumentasi pribadi