20 Mei 2017

Selamat Datang


Segera terbit buku terbaru Bernard Batubara, Luka Dalam Bara


Bisikan Busuk adalah blog pribadi Bernard Batubara (Bara): penulis penuh-waktu, yang lahir pada Juli 1989 di Pontianak, Kalimantan Barat; kini tinggal di Yogyakarta. Bara belajar menulis puisi, cerita pendek, dan novel sejak 2007. Buku-bukunya yang telah terbit: Angsa-Angsa Ketapang (2010), Radio Galau FM (2011), Kata Hati (2012), Milana (2013), Cinta. (2013), Surat untuk Ruth (2013), Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri (2014), Jika Aku Milikmu (2015), Metafora Padma (2016), dan Elegi Rinaldo (2016). Radio Galau FM dan Kata Hati telah diadaptasi ke layar lebar. Buku terbarunya terbit Maret 2017, Luka Dalam Bara.


21 Maret 2017

Slaughterhouse-Five, Kurt Vonnegut



Satu hal yang paling ingin saya pelajari dari Kurt Vonnegut adalah bagaimana ia membuat lelucon tentang hal-hal yang gelap. Perang, merupakan tema yang seakan tidak habis-habisnya menjadi samsak latihan tinju Vonnegut. Pukulan demi pukulan ia lancarkan dan luncurkan untuk menghajar habis peperangan. Buku-buku Vonnegut bagi saya adalah buku-buku anti-war terbaik, karena ia memperlihatkan cara paling ampuh untuk mengejek sesuatu: membuat lawakan tentangnya.

Yang lebih menyenangkan lagi, tentu saja, ejekan Vonnegut terhadap perang ditulis dalam bentuk cerita fiksi. Buku terakhir darinya yang saya baca, Slaughterhouse-Five, adalah sebuah novel yang menceritakan kisah hidup seorang optometris bernama Billy Pilgrim. Billy Pilgrim menjelajah ruang dan waktu (khas Vonnegut) bolak-balik ke masa lalu, masa depan, dan masa sekarang, untuk memaknai salah satu bagian dari peristiwa perang dunia kedua yang tidak banyak diekspos: pengeboman di Dresden tahun 1945.

Kurt Vonnegut menjadi salah satu penulis favorit saya karena selera humornya yang menyenangkan. Dia bisa membuat cerita perang jadi terasa enteng karena ditulis dalam buku yang, saya kira tidak keliru kalau saya melabelinya: bergenre komedi. Buku-buku Vonnegut bagi saya adalah buku-buku komedi. Timequake dan Cat’s Cradle betul-betul bikin saya ngakak.

Namun, di Slaughterhouse-Five, salah satu karya Vonnegut yang paling populer, saya merasa Vonnegut bicara dengan nada yang agak lebih serius dibanding dua buku sebelumnya. Seolah-olah Vonnegut tidak bisa banyak melawak untuk ceritanya yang satu ini. Cerita tentang hidup Billy Pilgrim dan pengeboman di Dresden selama Perang Dunia Kedua.

Sama seperti buku-buku Vonnegut yang saya baca sebelumnya, Slaughterhouse-Five juga mengangkat tema peperangan dan dibungkus nuansa fiksi-sains. Buku ini terasa lebih semi-otobiografis. Di kehidupan nyata, Vonnegut memang pernah menjadi anggota tentara Amerika Serikat dan turut serta dalam Perang Dunia Kedua. Bersama satuannya, Vonnegut diterbangkan ke Eropa, dan tertangkap oleh pihak Jerman. Vonnegut menjadi tahanan militer di Dresden, kemudian berhasil selamat dari pengeboman pihak sekutu setelah mengumpet di kotak penyimpanan daging di rumah potong (slaughterhouse) tempat ia ditahan.

Itu juga adalah cerita hidup Billy Pilgrim, protagonis dalam Slaughterhouse-Five. Selain menjadi tentara, Billy Pilgrim merupakan seorang optometris; dokter mata yang turut membuat resep untuk kacamata (barangkali juga melakukan bisnis produksi kacamata), dan seorang pejalan waktu. Karena sebuah peristiwa, mendadak Billy Pilgrim bisa melompat ke masa lalu, masa depan, dan kembali ke masa sekarang, lalu ke masa depan dan masa lalu lagi dan begitu seterusnya.

Perjalanan Billy Pilgrim bahkan tidak hanya mengitari lintasan waktu, tetapi juga hingga bertualang ke planet lain. Planet Tralfamadore, semesta yang kerap menjadi dunia paralel dengan bumi dalam karya-karya Vonnegut. Pertemuan Billy Pilgrim dengan manusia lain, seorang wanita bernama Montana Wildhack, melalui serangkaian adegan yang bernuansa fantasi membawanya pada perenungan tentang makna dan tujuan hidup.

Slaughterhouse-Five secara umum dianggap sebagai magnum opus Kurt Vonnegut. Namun, sesungguhnya saya lebih terhibur ketika membaca Gempa Waktu (terjemahan Timequake) dan Cat’s Cradle. Di Slaughterhouse-Five, Kurt Vonnegut terlihat tidak bisa terlalu banyak melucu. Mungkin karena pengalaman kelam yang pernah ia jalani secara langsung membuatnya kehilangan selera humor dan menjadikan ceritanya terasa relatif lebih suram dan “serius” ketimbang dua buku yang saya sebut sebelumnya.

Meski demikian, Slaughterhouse-Five tetap merupakan karya yang kuat. Cara pandang Vonnegut melalui tuturan narator serba-tahu tentang arah alir waktu yang tidak linear, melainkan bagai sebentuk panorama yang tersusun atas beberapa peristiwa-peristiwa yang berjalan paralel, memberikan semacam penghiburan atas rasa takut manusia pada kematian.

Kematian, dalam gagasan Vonnegut, merupakan sesuatu yang tidak lagi menakutkan karena ia bukan sebuah titik akhir dari garis hidup yang linear. Ketika seseorang mati, ia hanya mati di salah satu dari sekian banyak garis kehidupan. Di waktu bersamaan, ia masih hidup sehidup-hidupnya di garis-garis yang lain.

Vonnegut sangat mahir dalam memunculkan kekonyolan-kekonyolan yang membuat kita tiba-tiba merasa isu tentang peperangan jadi tidak serius-serius amat. Setidaknya, dapat dicerna sebagai sesuatu yang menghibur.


Kematian dan peperangan. Everything was beautiful and nothing hurt. ***

13 Maret 2017

Luka Dalam Bara Siap Menemui Kamu!



"Kata-katamu selimut tebal tidur lelapku. Kata-katamu lampu taman jalan setapak kisah mimpiku. Kata-katamu sejuk pagi yang sabar menantiku. Kau tahu, pada akhirnya aku merasa bukan hanya aku dan kamu yang mencintai kata-kata. Kata-kata pun, menyayangi kita."

Buku terbaruku, Luka Dalam Bara, saat ini sudah selesai dicetak. Buku yang dipegang oleh gadis dalam foto di atas adalah hasil final yang akan teman-teman terima (bagi yang ikut pre-order) dan temukan di toko-toko buku. Hari ini, pre-order Luka Dalam Bara sudah ditutup. Terima kasih bagi teman-teman yang sudah ikut ramai-ramai memesan bukunya.

Luka Dalam Bara seluruhnya dicetak hard cover. Bagi yang ingin membeli secara online, bisa memesan di toko buku dalam daftar ini. Bukunya sendiri akan beredar di toko-toko buku jaringan (Gramedia, Gunung Agung, Toga Mas, dll.) mulai akhir bulan Maret.

Selamat menunggu datangnya luka.

1 Maret 2017

PO: Luka Dalam Bara TAHAP 2


Hai, teman-teman semuanya. Buku terbaruku, Luka Dalam Bara saat ini sudah dapat dipesan selama sesi pre-order tahap kedua melalui beberapa toko buku online. Di sesi pertama kemarin, 500 buku bertandatangan Bara + bonus pouch sudah habis dalam 4 hari saja. Sama seperti sesi pertama, di sesi kedua ini masa pre-order juga berlangsung satu minggu. Mulai tanggal 1 - 7 Maret 2017.

Hanya tersedia 500 eksemplar buku bertandatangan Bara + bonus pouch berilustrasi cantik bagi para pemesan di sesi pre-order kedua ini.

Silakan melakukan pemesanan ke toko-toko buku berikut (klik tautan pada nama toko):

Mizanstore
LINE: @mizanstore (pakai @)

Bukabuku
WA/SMS: 089-888-999-50
LINE: bukabuku

Pengenbuku
E-mail: pesanpengenbuku@gmail.com
WA: 0851-007-49052

Bukukita
WA/SMS: 0812-85000-570

Temanbuku
WA: 0857-2209-6918

Parcelbuku
WA: 0878-7789-2584
LINE: @kiu9952d (pakai @)
E-mail: pesan.parcelbuku@gmail.com

Bukubukularis

Kupkupbuku
WA: 0821-2698-1310


Kali ini teman-teman harus bergerak lebih gesit, agar tidak ketinggalan buku bertandatangan Bara + bonus pouch berilustrasi dan berpuisi. Selamat memesan Luka Dalam Bara. 

17 Februari 2017

Luka Dalam Bara



+ Kenapa orang-orang patah hati malah meresapi kesedihannya dan tidak membuangnya jauh-jauh?

- Mungkin, itu cara mereka meyakinkan diri sendiri bahwa cinta yang mereka miliki selama ini adalah sesuatu yang nyata. Kita tidak akan merasa benar-benar sedih kalau tidak benar-benar cinta, kan? Sayangnya, menutup luka tidak akan membuatnya segera sembuh. Menyangkal bahwa kamu sedang terluka tidak akan membuat luka itu hilang.

("Dialog-dialog yang Tidak Pernah Terjadi")

-

Menulis, adalah cara saya mengakui bahwa saya terluka. Bahwa saya gagal dalam sesuatu. Bahwa saya tidak berhasil mewujudkan kebahagiaan yang saya rencanakan.

Saya tidak tahu apakah akan segera sembuh dengan menuliskan luka-luka saya. Kalian tahu, tidak seperti luka karena terjatuh di jalan atau tersayat pisau, luka karena cinta bukanlah luka luar, yang darah dan sobekannya terlihat jelas. Luka karena cinta dan rindu yang gagal adalah luka dalam. Meski tidak terlihat, luka tersebut ada. Ada, nyata, dan terasa.

Saya tidak tahu apakah kisah-kisah dalam buku ini akan menyembuhkan saya. Namun, jika ingin jatuh cinta lagi, jika saya ingin sembuh dari luka lama, jika saya ingin merancang kebahagiana baru, saya tahu saya harus memulai sesuatu.

Dari buku ini, catatan-catatan personal ini, serta dengan bantuanmu yang mungkin juga sedang patah hati, saya mencoba menyembuhkan diri sendiri. Mungkin, jika kamu membaca buku ini, kamu dapat menyembuhkan dirimu juga.

Mari patah hati bersama. Mari sembuh, dan jatuh cinta lagi, bersama.

Buku terbaruku, LUKA DALAM BARA, terbit eksklusif dalam edisi cetak hardcover di Noura Books, Februari 2017.


3 Februari 2017

Wawancara Eksklusif: Bintang.com



"Dulu aku menulis untuk sarana eskapisme, untuk lari dari kenyataan. Aku membentuk duniaku sendiri dari apa-apa yang aku suka. Tapi semakin ke sini motivasiku berubah-ubah setiap waktu. Sekarang ini tanpa aku sadari aku menuliskan hal-hal yang dulu aku hindari, seperti tema yang berkaitan dengan konflik keluarga. Aku sempat merasa agak berjarak dengan keluargaku, tetapi aku menebusnya dengan menulis. Aku menggunakan nama ibu dan adikku serta memasukkan tokoh-tokoh yang mirip ayahku di cerita-ceritaku. Bagiku itu cara untuk menebus jarak yang ada dengan mereka. Sekarang aku menulis untuk menyembuhkan diriku sendiri."

Baca wawancara ekslusif Bara dengan redaksi Bintang.com di sini.

31 Januari 2017

Other Colors, Orhan Pamuk




Buku pertama Orhan Pamuk yang saya baca, novel My Name Is Red (1998), secara instan langsung bikin saya menyukai Pamuk. Novel itu menjerat saya sejak kalimat pembukanya. I am nothing but a corpse now, a body at the bottom of a well. Dituturkan oleh seorang mayat, novel tersebut menggiring paksa saya untuk masuk ke sebentuk konspirasi besar, misteri pembunuhan yang dilakukan para seniman ilustrasi Kekaisaran Ottoman jelang akhir abad ke-15. Di dalam novel tebal itu-novel yang secara umum dianggap karya terbaik Orhan Pamuk-Pamuk bicara tentang sejarah dan seni. Khususnya sejarah Kekaisaran Ottoman yang menjadi cikal-bakal Republik Turki, dan seni Islam.

Dua hal tersebut, sejarah dan seni, menjadi topik yang tidak pernah absen di dalam karya-karya Pamuk. Tidak hanya di novel, seperti My Name Is Red dan The Museum of Innocence (2008), tetapi juga di karya-karya nonfiksinya: Istanbul: Memories and the City (2003) dan Other Colors: Essays and a Story. Selain itu, Pamuk juga sering menulis tentang kehidupan personalnya. Di Istanbul, ia bercerita cukup banyak tentang keluarganya, termasuk tentang dirinya sendiri dan bagaimana ia menjadi seorang penulis.

Belum lama ini saya rampung membaca Other Colors: Essays and a Story. Buku kumpulan tulisan yang disebut Pamuk “…terbuat dari potongan-potongan ide, imaji, dan fragmen kehidupan yang belum menemukan jalannya untuk hadir di dalam novel-novelku.” Pengantar yang ditulis Pamuk sangat menjelaskan bagaimana bentuk buku ini dan apa tujuannya menulis buku ini. Tidak ada satu tema khusus yang dipakai di Other Colors seperti di Istanbul, misalnya. Sehingga membaca Other Colors terasa seperti membaca isi bloknot atau jurnal pribadi Pamuk. Kadang-kadang terlihat berantakan, tidak terencana, dan suka-suka dia.

Memang tulisan-tulisan Pamuk di Other Colors disusun ke dalam beberapa bab. Sekadar untuk mengelompokkan kepingan-kepingan esei yang saya kira pada awalnya enggak Pamuk rencanakan hadir di satu buku utuh. Ada bab Living and Worrying yang berisi tentang keluarganya; esei-esei pendek yang Pamuk tulis secara rutin di semacam majalah lokal. Books and Reading berisi pembacaan Pamuk tentang buku-buku yang ia suka; Dostoyevsky, Camus, Rushdie, Nabokov. Politics, Europe, and Other Problems of Being Oneself kebanyakan tentang pengalaman Pamuk bersenggolan dengan permasalahan politik dan konflik batinnya sebagai warga Turki. My Books are My Life, Pamuk bicara tentang karya-karyanya sendiri. Picture and Texts, Pamuk mengulas karya-karya seni yang kerap menjadi alusi di novel-novelnya. Other Cities, Other Civilizations, tentang bagaimana Pamuk melihat Amerika dan melihat dunia lain dari Amerika. Bonusnya adalah arsip wawancara Pamuk di The Paris Review, sebuah cerita pendek yang sentimentil, dan pidato penerimaan Nobel Kesusastraan 2006.

Seperti tulisan nonfiksi Orhan Pamuk yang lain, esei-esei pendeknya di Other Colors sangat mudah dibaca. Ia begitu jujur menceritakan apapun yang ada di dalam pikirannya. Kadang-kadang Pamuk tampak seperti orang dewasa yang seperti anak kecil. Ia tidak berusaha mengemas pikiran-pikirannya dengan kalimat-kalimat bersayap demi menyamarkan gagasannya, melainkan berceloteh begitu saja hingga ia kelelahan.

Di sebuah wawancara, Orhan Pamuk pernah menyebut dirinya seorang graphomania. Klaim tersebut akan terbayangkan ketika membaca Other Colors. Jumlah tulisan yang banyak dan pendek-pendek dan seolah-olah melompat dari satu tema ke tema lain memperlihatkan Pamuk punya energi meluap-luap nyaris tidak terkendali untuk menuliskan apapun yang terlintas di kepalanya.

Bagi yang sudah pernah membaca satu-dua novel Orhan Pamuk dan memoar Istanbul, buku ini tidak menawarkan topik yang sangat baru. Pamuk masih berbicara sebagai orang Turki tentang tegangan Timur dan Barat, Asia dan Eropa. Ia masih berbicara serba-serbi mengenai Eropa dan keeropaan. Ia masih membahas satu-dua hal tentang keluarganya. Barangkali dengan sedikit tambahan renungan Orhan Pamuk tentang perkara sehari-hari yang ia alami.

Salah satu hal yang paling saya suka ketika membaca karya-karya nonfiksi Pamuk adalah saat ia bercerita tentang keinginannya menjadi penulis. Seperti sering ia ceritakan di berbagai wawancara, Pamuk sebetulnya bercita-cita jadi arsitek, tapi kemudian berubah jadi penulis. Ia mengurung diri selama satu windu membaca buku-buku koleksi ayahnya, sebelum menuliskan novel pertamanya, Cevdet Bey and His Sons, di usia 22 tahun. Semenjak itu ia kian tenggelam dalam kecintaannya pada dunia sastra.

Sebagai penutup catatan yang enggak penuh analisis ini, saya ingin mengutip bagian Other Colors ketika Pamuk menulis tentang mengapa ia menulis:


Saya menulis karena saya punya hasrat bawaan untuk menulis. Saya menulis karena saya tidak bisa bekerja normal seperti orang lain. Saya menulis karena saya ingin membaca buku seperti yang saya tuliskan. Saya menulis karena saya marah pada Anda semua. Saya menulis karena saya menikmati duduk di sebuah ruangan untuk menulis seharian. Saya menulis karena saya saya suka aroma kertas, pulpen, dan tinta. Saya menulis karena saya mempercayai kesusastraan dan seni penulisan novel melebihi hal-hal lain. Saya menulis karena menulis bagi saya adalah kebiasaan sekaligus sebentuk renjana. Saya menulis karena saya takut orang-orang akan melupakan saya. Saya menulis karena saya ingin sendirian. Mungkin juga saya menulis untuk memahami kenapa saya begitu marah, sangat, sangat, sangat marah pada semua orang. Saya menulis karena saya senang jika orang membaca karya saya. Saya menulis karena orang berharap saya menulis. Saya menulis karena saya percaya pada keabadian perpustakaan. Saya menulis karena saya senang menggubah hal-hal yang indah dari kehidupan ke dalam kata-kata. Saya menulis bukan untuk menceritakan sebuah kisah, tetapi untuk menciptakan sebuah kisah. Saya menulis karena saya sulit merasa bahagia. Saya menulis karena saya ingin merasa bahagia. ***

30 Januari 2017

Malas Baca Buku? Sama

Foto: Thoughtcatalog.com


Walau saya mengaku sebagai seorang pencinta buku dan sering nunjukin ke orang-orang bahwa saya suka baca buku, jangan kira saya selalu rajin baca buku. Sama seperti hal-hal lain yang bisa bikin kamu senang, suatu hari hal yang sama juga bisa bikin kamu muak, atau seenggaknya capek. Tanpa terkecuali membaca buku.

Saya pernah ngerasa capek baca buku, bahkan sampai mual ngeliat tumpukan buku di kamar. Benda-benda yang tadinya saya kagumi setengah mati, suatu hari jadi tumpukan kertas tak berarti yang bikin saya kesel. "Ngapain saya buang duit buat semua ini?"

Rasa muak semacam itu akan jadi berkali-kali lipat kalau kamu penulis. Setiap habis baca buku bagus, kamu bukan hanya akan merasa gembira, tapi juga stres karena tahu kamu enggak bisa menulis sebagus buku yang kamu baca.

Sial, kalo gitu ngapain saya baca buku?

Makin sial lagi, ternyata saya enggak bisa benar-benar berhenti baca buku. Saya udah coba. Saya pernah berniat membuang seluruh koleksi pribadi saya atau memberikannya ke orang lain atau menjualnya atau apapun yang bisa mengenyahkan buku-buku dari kehidupan saya. Saya pengin ngelakuin hal lain aja yang enggak harus bikin saya baca buku. Namun, akhirnya saya balik lagi ke buku. Akhirnya saya baca buku lagi. Semakin saya berusaha buat enggak baca buku, semakin saya ketarik lagi ke buku-buku itu.

Beberapa hari lalu saya dapat mention di twitter yang isinya pertanyaan. Kira-kira begini bunyinya:

Gimana ya caranya bikin semangat baca buku lagi kalau sedang malas baca buku?

Saya enggak punya trik khusus untuk menumbuhkan semangat membaca buku, karena buat saya baca buku hampir jadi sesuatu yang refleks dan bagian dari kebiasaan. Namun, saya pernah ada di fase malas baca buku. Bukan hanya malas, tapi saya merasa baca buku berbahaya buat saya hingga saya menghindarinya. Meski demikian, barangkali beberapa hal ini bisa kamu coba lakukan:

1. Hijrah ke buku-buku lain

Buku-buku apa yang kamu baca selama ini? Kalau kebanyakan komik, coba sekali-kali baca novel. Kalau sering baca buku-buku nonfiksi, coba baca kumpulan cerita pendek atau kumpulan puisi. Begitu pula sebaliknya. Kalau selama ini hanya baca novel dan cerita pendek atau puisi, coba baca buku-buku nonfiksi. Mulai dengan tema yang menarik buatmu. Membaca buku dalam format yang berbeda akan memberimu pengalaman baru.

2. Keluar dari zona nyaman

Mirip dengan tips pertama. Hanya saja di tips sebelumnya saya bicara tentang membaca buku lintas format, di sini saya menyarankan membaca buku lintas genre/tema yang masih di format yang sama. Kalau kamu sering membaca novel dan selama ini hanya membaca novel-novel urban populer, coba cicipi karya sastra klasik. Kalau zona nyamanmu adalah novel-novel sastra bertema politik dan sejarah yang ditulis dalam gaya realisme, coba baca novel-novel fantasi yang sedang populer. Kalau kamu hobi baca komik yang lucu-lucu dan ringan, coba bergeser sedikit ke karya-karya novel grafis bertema sejarah.

3. Minta rekomendasi dari teman

Kalau kamu punya teman yang juga hobi baca buku tapi jenis buku atau genrenya berbeda denganmu, kamu bisa meminta rekomendasi darinya. Tanya dia apa bacaan favoritnya. Kalau perlu minta dia bikin semacam daftar buku favorit sepanjang masa. Kemudian kamu cari satu-dua buku itu dan mulai membaca.

4. Ikut tantangan membaca

"Memaksa" diri sendiri untuk membaca buku menurut saya enggak selalu merupakan hal yang buruk. Bagi saya malah cara itu berhasil buat mengurangi tumpukan buku tak-terbaca di rak kamar. Saya pemalas, jadi mendisiplinkan diri adalah satu-satunya cara mengatasi hal tersebut. Website semacam Goodreads setiap tahun bikin tantangan membaca. Blog-blog lain juga kadang-kadang bikin tantangan membaca yang lebih variatif dan cukup seru untuk diikuti.

5. Jangan dipaksakan

Agak kontradiktif dengan tips no. 4, tapi harap maklum karena saya Cancer, jadi kontradiktif is my middle name. Maksud saya dengan tips ini adalah, ya sudah jangan dipaksakan kalau emang lagi enggak pengin baca buku. Enggak ada juga yang mewajibkanmu menghabiskan novel-novel di rak bukumu itu. Satu-satunya yang perlu kamu tahu hanya buku-buku tersebut enggak akan membaca dirinya sendiri; hanya kamu yang bisa membaca mereka. Lakukan hal-hal lain yang bikin kamu senang. Kalau emang kamu cinta sama buku, suatu hari kamu pasti akan kembali lagi ke buku.

27 Januari 2017

5 Cara Menjaga Fokus Menulis




Barusan, saya dapat ide cerita yang menarik. Saking menariknya, saya merasa harus segera menuliskannya. Mungkin jadi sebuah cerita pendek atau malah sinopsis novel, saya enggak tahu. Saya tahu saya harus menuliskannya sekarang juga. Saya membuka laptop dan mulai menuliskan paragraf pertama.

Sial, di tengah-tengah nulis, saya dapat ide cerita yang lain lagi. Ide baru ini lebih menarik dari cerita yang sedang saya tulis. Saya ingin lanjut menulis tapi saya enggak bisa berhenti memikirkan ide baru ini. Saya membuka layar baru di laptop dan mulai menuliskan ide baru tersebut. Sekarang ada dua cerita yang on progress di laptop saya.

Ah, sial, lagi-lagi saya kepikiran ide baru yang lain. Ide ini jauh jauh jauh lebih menarik dari dua ide sebelumnya yang bahkan belum kelar saya tulis. Menjengkelkan sekali!

Kamu pernah mengalami perkara semacam ini? Diserang beberapa ide tulisan sekaligus dalam satu waktu? Kedatangan ide yang lebih menarik di saat kamu sedang mengerjakan tulisan lain? Kalau iya, selamat, kamu enggak sendirian. Ada saya dan banyak lagi penulis di luar sana yang juga mengalami hal serupa. Kesulitan fokus mengerjakan satu ide.

Saya punya langkah-langkah yang biasanya saya lakukan ketika sedang berada di situasi seperti itu. Mungkin kamu bisa mencobanya. Berikut lima hal yang bisa kamu lakukan untuk menjaga fokus mengerjakan satu topik tulisan.

1.     Bikin Bank Ide

Ide yang sama enggak akan datang dua kali. Saya memperlakukan seluruh ide yang menghampiri kepala saya sebagai sesuatu yang unik dan spesial. Begitu kepikiran satu ide, saya akan langsung mencatatnya di bloknot atau ponsel. Saya enggak tahu apakah ide tersebut akan jadi satu cerita utuh atau apa nantinya. Saya mencatatnya saja, merekamnya. Catat ide apapun yang melintas di benak kamu. Enggak ada ruginya. Malah, ketika suatu hari kamu pengin nulis dan enggak punya ide, kamu jadi tinggal buka bloknot atau ponsel untuk melihat simpanan ide kamu. Bikin Bank Ide kamu.

2.     Santai

Pas kedatangan ide baru, santai saja. Jangan buru-buru ingin menggarapnya. Kalau kamu sedang mengerjakan satu proyek tulisan, perlakukan ide-ide lain sebagaimana kamu bereaksi pada sebuah godaan: lirik, rekam, lalu lupakan. Ingat, kamu sedang menjalin hubungan dengan sebuah naskah. Naskah yang lagi kamu kerjakan saat ini adalah pacarmu. Ide-ide lain yang berdatangan kemudian adalah godaan. Godaan selalu tampak lebih menarik daripada pacarmu sendiri. Santai saja, jangan tergoda. Nikmati hubungan dengan pacarmu dulu. Kalau sudah beres urusan sama pacarmu alias putus, baru kamu jajaki godaan kemarin.

3.     Komitmen

Kata Neil Gaiman, kamu akan belajar banyak hal dari menyelesaikan sesuatu. Hal yang paling dibutuhkan untuk menyelesaikan sesuatu adalah komitmen. Komitmen yang kuat. Saya senang menggunakan analogi dua orang yang sedang pacaran untuk menggambarkan hubungan seorang penulis dengan naskahnya. Demi memiliki hubungan yang berhasil, salah satu hal terpenting adalah komitmen. Berkomitmen menyelesaikan tulisan yang sedang kamu garap akan membuatmu teguh dan tidak mudah goyah oleh datangnya godaan ide-ide baru.

4.     Fokus

Kalau sudah memutuskan mengerjakan sebuah proyek tulisan, tujukan segenap perhatianmu pada proyek tersebut. Apapun yang kamu pikirkan dan imajinasikan sehari-harinya mesti berputar di ide tulisan yang lagi kamu garap. Adegan-adegan, dialog-dialog, plot, sub-plot, paragraf pembuka, paragraf penutup, alur kilas balik, karakter-karakter, semua elemen cerita yang kamu pikirkan kamu siapkan untuk memperdalam dan mempertajam ceritamu yang saat ini. Ajak teman dekat atau pacarmu mengobrol tentang tulisanmu yang saat ini. Lakukan riset untuk memperkuat gagasanmu di tulisanmu yang saat ini.

5.     Just, stick to your current project and try to finish it for god’s sake!

Enggak ada solusi lain selain cobalah memaksakan dirimu sendiri untuk menyelesaikan kerjaanmu yang sedang berjalan. Saya tahu, kata memaksakan terasa enggak menyenangkan. Menulis adalah pekerjaan yang melibatkan dorongan emosi, mood, atau apapun itu, jadi kalau menulis saja sudah harus dipaksakan di mana letak kesenangannya? Namun, saya enggak melihatnya sebagai sesuatu yang negatif. Banyak dari cerita pendek dan novel yang saya selesaikan karena saya memaksakan diri untuk menyelesaikannya. Juga sebaliknya. Hampir pasti enggak ada buku saya yang pernah terbit jika saya enggak memaksa diri untuk menuliskannya.