20 Mei 2016

.


Bernard Batubara adalah penulis. Lahir 9 Juli 1989 di Pontianak, Kalimantan Barat; saat ini tinggal di Yogyakarta. Belajar menulis puisi, cerita pendek, dan novel sejak medio 2007. Buku-bukunya yang telah terbit: Angsa-Angsa Ketapang (2010), Radio Galau FM (2011), Kata Hati (2012), Milana (2013), Cinta. (2013), Surat untuk Ruth (2013), dan Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri (2014). Radio Galau FM dan Kata Hati telah diadaptasi ke layar lebar. Surat untuk Ruth sedang dalam proses adaptasi ke layar lebar oleh Screenplay Productions, direncanakan tayang 2016. Novel terbarunya, I Fall For You (Gagasmedia) segera terbit, akhir September 2015.

3 September 2015

Breaking News: I Fall For You




Selamat siang, teman-teman pembacaku yang baik hatinya.

Hari ini saya mau memberikan kabar terbaru tentang buku kedelapan saya, sekaligus novel keempat saya, "I FALL FOR YOU". 

Sebelumnya, "I FALL FOR YOU" dijadwalkan terbit oleh Penerbit GagasMedia pada bulan Agustus 2015. Namun, karena proses penggodokan naskah di tim redaksi, maka jadwal terbit dimundurkan.

"I FALL FOR YOU" akan terbit pada akhir September 2015.

Bersama dengan itu, juga akan ada beberapa perubahan:

1) JUDUL "I FALL FOR YOU" akan diubah, menjadi berbahasa Indonesia. Bukan merupakan terjemahan langsung dari kalimat tersebut, melainkan akan dicari judul baru.

2) TAGLINE novel, yang sebelumnya "I Can't Smile Without You" juga akan diubah, menjadi berbahasa Indonesia.

3) DESAIN COVER, yang sebelumnya akan dibuat seperti dua novel terdahulu dalam serial Love Cycle, juga akan diubah, menyesuaikan konten dan nuansa cerita di "I FALL FOR YOU" yang sudah lebih dewasa ketimbang dua novel sebelumnya.

Jadi, saat terbit nanti, "I FALL FOR YOU" tidak akan bernama I FALL FOR YOU, tetapi akan menggunakan judul baru, yang saat ini belum ditentukan.

(Tapi untuk mempermudah kita ngobrolin novel ini, sementara judul barunya belum ada, kita masih pakai "I FALL FOR YOU" dulu ya!)

Update berikutnya:

Saat ini, "I FALL FOR YOU" sudah masuk tahap pra-cetak. Itu artinya, naskah novel sudah mulai di-setting atau di-layout oleh tim pra-cetak. Cover juga sudah mulai dibuat. Menurut tim redaksi, polling cover akan dilakukan minggu depan. Ah, saya nggak sabar pengin lihat cover novel baru ini. Kamu juga, kan? :D

Sekian dulu kabar terbaru dari novel terbaru saya, "I FALL FOR YOU" (yang akan berubah judulnya). Kalau ada pertanyaan, sampaikan di kolom komentar di bawah ini ya.

Terima kasih, teman-teman pembacaku yang baik hatinya!

Cheers!

- Bara

21 Juli 2015

26




Bagi saya, hidup tidak hanya sebuah anugerah, melainkan juga sebuah amanah.

Sejak beberapa tahun lalu, saya membiasakan diri untuk membuat semacam catatan kecil setiap kali saya tiba di tanggal lahir saya. Tidak ada tujuan khusus. Hanya cara sederhana saya untuk mengingat apa saja yang sudah saya alami dan dapatkan. Apa saja yang telah datang ke hidup saya, juga yang pergi.

Bagi saya, penting untuk mengingat dan mencatat hal-hal tersebut. Agar saya tahu bahwa Tuhan masih peduli pada saya. Masih ‘mengurusi’ saya. Barangkali suatu hari nanti saya akan lupa pada apa yang saya ingat dan catat saat ini, seperti juga saya lupa pada hal-hal lain yang sempat saya ingat. Tak masalah. Kita tidak pernah didesain untuk mengingat semua hal selamanya. Pengalaman dan memori senantiasa datang dan pergi seperti udara yang kita hirup dan lepaskan dengan teratur. Yang saya lakukan sebatas menangkap udara tersebut dan mengamatinya. Tersenyum kepadanya. Seraya bersyukur.

Saya mengingat, setahun belakangan, ternyata terjadi hal-hal besar di hidup saya yang sederhana ini. Besar, setidaknya bagi saya. Besar, karena untuk melakukan hal tersebut saya harus melawan segala bentuk kekhawatiran dan ketakutan saya.

·      Awal tahun lalu, saya memutuskan untuk bekerja sebagai karyawan. Posisi yang sebelumnya tidak pernah menarik minat saya. Menjadi pekerja kantoran adalah hal terakhir yang ingin saya lakukan untuk mencari penghidupan. Tapi, toh, ternyata saya melakukannya. Seorang kawan baik mengajak saya bergabung sebagai editor di tempat ia bekerja. Saya berpikir beberapa kali dan berdiskusi dengan G tentang ajakan tersebut. Terus terang, saya tidak begitu menyukai kota tempat kantor teman saya itu berlokasi. Oke, mari kita sebut saja. Jakarta. Saya tidak menyukai kota penuh kemacetan itu dan teman saya mengetahuinya. Masalah ini teratasi karena ternyata saya akan ditempatkan di Jogja, tempat saya tinggal kala itu (dan hingga sekarang). Namun, bukan hanya itu, masalahnya adalah saya tidak bisa bekerja di bawah perintah orang lain. Sesungguhnya, saya tidak suka diperintah. Menjadi karyawan berarti saya masuk ke dalam sebuah sistem, sebuah struktur, yang membuat saya berada di bawah orang lain. Namun, saya pikir saya harus mencoba. Saya harus merasakan bagaimana bekerja untuk orang lain. Setelah saya menjalaninya, ada banyak hal yang saya pelajari tentang bekerja dalam sebuah struktur perusahaan. Apa arti kerja tim dan tanggungjawab, bagaimana memahami karakter orang lain sekaligus belajar menghadapinya. Ada banyak yang saya pelajari. Sampai di sebuah titik saya memutuskan untuk…

·      Mundur. Saya berhenti dan mengundurkan dari kantor tempat saya bekerja. Bukan, bukan karena pekerjaan saya tidak menyenangkan. Sebaliknya, pekerjaan saya saat itu adalah surga kecil dunia saya. Saya bekerja di bidang yang saya sukai, dengan rekan-rekan yang juga sudah saya anggap sebagai teman dekat, atasan yang amat menyenangkan, dan tugas-tugas yang tidak pernah saya anggap sebagai pekerjaan melainkan kesenangan. Puji Tuhan, gaji saya bagus. Saya bekerja di Jogja yang suasananya kondusif dan mendapat ilmu banyak serta kesempatan networking luas di Jakarta. Apa yang kurang? Tidak ada. Namun, seiring waktu, saya menyadari satu hal: ambisi saya bukan menjadi karyawan, bukan menjadi seorang editor. Akhir 2014, teman-teman penulis sebaya yang saya kagumi karyanya menuai banyak prestasi gemilang. Jujur saja, saya iri. Saya bersyukur dan gembira atas pencapaian mereka sekaligus merasa rendah diri. Delapan tahun menulis, apa yang sudah saya capai? Dibandingkan teman-teman saya itu, mereka lebih cemerlang daripada saya. Saya tahu, nasib karir kepenulisan setiap orang berbeda. Tapi apa yang mereka capai adalah apa yang selama ini saya inginkan. Maka, saya memutuskan untuk mundur sebagai karyawan. Karena untuk mengejar ambisi saya sebagai penulis (saya tidak akan malu mengucapkan ini, ya, saya memang ambisius) saya butuh ruang dan waktu yang luas agar bisa fokus. Saya tidak dapat melakukannya jika pikiran saya terbagi untuk pekerjaan. Akhirnya, saya mengatakannya kepada atasan saya dan minta diizinkan untuk resign. Ketika mereka bertanya apa alasan saya keluar, saya mengatakan apa yang baru saja saya tulis.

·      Barangkali ini adalah satu bentuk dari apa yang orang-orang sebut sebagai quarter-life crisis. Meskipun saya tidak merasa krisis-krisis amat. Tetapi setidaknya ada fase dalam hidup saya, di antara usia saya yang ke-25 dan 26, saya sempat merasa bimbang. Itu adalah saat-saat saya mempertimbangkan apakah terus bekerja sebagai orang kantoran dengan risiko kehilangan waktu menulis, atau meneruskan aktivitas menulis saya dengan lebih fokus sembari mengambil risiko kehilangan status karyawan dan gaji bulanan. Apakah menjaga kepastian finansial dan mengorbankan renjana, ataukah mengikuti hasrat renjana dan kehilangan pemasukan rutin. Lewat pertimbangan yang tidak singkat, saya memilih yang terakhir. Saya tidak bisa memilih keduanya. Bagi saya, menulis bukan sesuatu yang bisa dibagi-bagi dengan hal lain. Penulis-penulis lain tetap dapat menulis buku bagus sembari bekerja sebagai karyawan. Saya tidak punya kemampuan itu. Energi saya sedikit dan kemampuan fokus saya tidak dapat dibagi-bagi untuk beberapa hal sekaligus. Maka, begitulah saya mengambil risiko kehilangan pekerjaan yang, puji Tuhan, sangat nyaman. Saya memilih jalan yang tidak nyaman. Jalan yang penuh ketidakpastian. Jalan yang sepi. Jalan kepenulisan.

·      Keputusan tersebut tidak serta-merta membuat saya dapat fokus menulis. Tetap saja ada halangan. Ketika saya telah punya banyak waktu dan kesempatan menulis, datanglah setan klasik bernama rasa malas. Di masa-masa seperti ini, kehadiran seorang partner yang tidak pernah bosan mengajak saya berdiskusi dan brainstorming ide-ide apapun sangat membantu. Saya berterima kasih kepadanya. Setiap kali rasa malas mendera, saya mengingat kembali alasan saya cabut dari pekerjaan dan memutuskan untuk hanya menulis. Hikmah lain yang sangat saya syukuri dari melepaskan pekerjaan adalah, saya jadi bisa pulang kampung lebih awal dan menghabiskan waktu bersama keluarga lebih banyak. Tahun ini saya berada di rumah hampir selama sebulan. Waktu bersama keluarga yang lebih panjang dari biasanya membuat saya memiliki kesempatan untuk kembali mengenal ibu, ayah, dan adik saya. Orang-orang terpenting dalam hidup saya yang selama ini jarang saya sentuh karena ketika berada di perantauan saya terlalu sibuk dengan ambisi-ambisi sendiri. Ada fase dalam hidup mereka yang telah luput oleh perhatian saya. Tanpa saya sadari, hal tersebut membuat lubang di dada saya. Saya merasa tidak lengkap. Setelah saya tidak lagi bekerja sebagai karyawan, saya mendapatkan kesempatan berharga untuk menambal lubang itu.

Bagi saya, hidup adalah sebuah anugerah, sekaligus merupakan amanah.

Sebuah anugerah karena saya memiliki kesempatan untuk merasakan cinta dari orang-orang terpenting dalam hidup saya, dan dapat membalas cinta mereka. Sebuah amanah karena merupakan tugas saya untuk melakukan yang terbaik bagi mereka.

Selama seperempat abad, saya selalu berpikir bagaimana caranya memberikan seluruh kemampuan saya untuk memuaskan banyak orang. Saya lupa, itu adalah tindakan yang sia-sia dan melelahkan. Mencari penghargaan, perhatian, dan pujian dari orang-orang banyak membuat saya kehilangan pandangan dari orang-orang yang lebih penting, yang jumlahnya sebenarnya sedikit. Saya melupakan yang sedikit itu. Saya bahkan melupakan diri saya sendiri. Ambisi saya membuat saya mengejar sesuatu yang barangkali tidak akan pernah saya raih.

Di suatu hari di awal Juli, diiringi ucapan selamat dari adik saya dan pacarnya, saya mengucapkan sesuatu dalam hati:

Bahwa saya harus bersyukur untuk hidup saya, bahwa hidup saya adalah sebuah pesan tugas untuk membuat orang-orang yang saya cintai berbahagia, bahwa saya harus bertanggungjawab atas pilihan-pilihan yang telah saya ambil.

Saya berkata kepada diri saya sendiri.

Bahwa hidup bukan perkara menghibur dan membuat senang sebanyak-banyaknya orang yang bahkan tidak pernah saya kenal. Bahwa hidup adalah soal menjaga kebahagiaan mereka yang telah membuat saya bahagia sejak terlahir ke dunia dan merasakan kehidupan. ***

5 Juli 2015

Teaser: I FALL FOR YOU

Teaser Cover Buku Kedelapan


Tiga hari lalu dapat kiriman dari editor lewat e-mail. Isinya adalah catatan revisi untuk manuskrip novel terbaru saya, I FALL FOR YOU

Rencananya, I Fall For You akan jadi buku kedelapan saya, dan bakal terbit bulan AGUSTUS 2015.

Jadi, sekarang saya lagi ngerjain revisinya. Doakan proses revisinya lancar dan bisa rilis tepat waktu ya! Oh iya. I Fall For You akan terbit lewat penerbit GagasMedia.

(PS: Gambar ini bukan cover lengkap dari I Fall For You, cuma teaser. Cover lengkap menyusul. Terima kasih!)

27 Juni 2015

The Book of Laughter and Forgetting, Milan Kundera





Pada awalnya, sedikit sulit bagi saya ketika berusaha memasuki dunia novel Milan Kundera karena belum familier dengan sejarah Republik Ceko, negara asal Kundera, yang ia olah dalam bukunya yang saya baca, The Book of Laughter and Forgetting.

Kundera lahir di Ceko pada tahun 1925. Saat berusia setengah abad, ia terpaksa pergi meninggalkan tempat kelahirannya dan hidup sebagai seorang eksil di Perancis. Entah sebagai bentuk protes atau kekecewaannya terhadap Ceko (atau dalam usahanya melupakan Ceko? Saya cuma menduga-duga dan dugaan saya tidak berlandaskan apapun yang kuat) ia bahkan melakukan penerjemahan ulang atas karya-karyanya, yang pada awalnya ditulis dalam bahasa Ceko, menjadi bahasa Perancis. Pada kata penutup The Book of Laughter and Forgetting (versi bahasa Indonesia: Kitab Lupa dan Gelak Tawa) Kundera berkata bahwa karya-karyanya dalam bahasa Perancis itu lebih mendekati keaslian daripada yang berbahasa Ceko.

The Book of Laughter and Forgetting dibuka dengan sebuah deskripsi atas foto Klement Gottwald dan Vladimír Clementis. Klement Gottwald adalah tokoh komunis Ceko, perdana menteri Ceko pada 1946 – 1948, dan presiden Republik Ceko pada 1948 – 1953. Vladimír Clementis merupakan tokoh berpengaruh Partai Komunis Ceko yang pada foto tersebut digambarkan berdiri di samping  Klement Gottwald. Clementis dihilangkan dari foto terkenal yang diambil pada 1948 tersebut sebagai bagian dari propaganda pemerintah di masa itu.

Saya kesampingkan deskripsi foto Gottwald dan Clementis dan memutuskan untuk terus membaca bagian pertama novel, ‘Lost Letters’. Laki-laki bernama Mirek, yang tampaknya seorang aktivis, dibuntuti oleh beberapa orang saat ia hendak menemui Zdena, perempuan yang ia cintai tapi kemudian dirinya menyesal. Mirek hendak menghancurkan surat-surat cinta yang pernah ia kirim untuk perempuan itu. Namun, di perjalanan, ia ditangkap oleh sekelompok orang yang membuntutinya dan akhirnya ia dijebloskan ke penjara.

The Book of Laughter and Forgetting terdiri dari tujuh bagian yang memiliki premis serupa. Namun, ketujuh bagian tersebut memiliki plot yang tidak sangat berkesinambungan, sehingga sebenarnya The Book of Laughter and Forgetting bisa saja dibaca sebagai sekumpulan novela. Payung besar ketujuh novela tersebut adalah tentang melupakan, forgetting. Alih-alih menganggapnya sebagai karya fiksi, saya lebih memandang novel Kundera ini sebagai karya fiksi-semiotobiografi, karena meskipun membalutnya dengan cerita yang dikarang, si penulis juga menuturkan kisah hidupnya sendiri di beberapa bagian.

Tokoh-tokoh dalam novel Kundera adalah orang-orang yang bertarung dengan memorinya sendiri. ‘Mama’, ibunda mertua dari Marketa, yang merupakan istri laki-laki bernama Karel, hampir saja memergoki aktivitas seksual terlarang Marketa, Karel, Eva-teman dari Marketa dan Karel-ketika ia teringat akan seorang temannya di masa lalu yang memiliki wajah mirip Eva. Memori, pada ‘Mama’, membawa plot cerita ke titik baliknya dan menyeretnya dari klimaks.

Tamina, seorang perempuan yang bekerja di sebuah kafe, diceritakan dalam bagian ‘Lost Letters’ kedua, berjuang untuk mendapatkan kembali buku harian pribadi dan surat-surat cinta yang pernah ia tulis untuk mendiang suaminya. Kalau tidak salah ingat, ketika masih bernyawa, si suami digambarkan hidup sebagai eksil. Dalam usahanya mendapatkan barang-barang pribadinya tersebut yang tersimpan di rumah orangtuanya di Praha (Tamina tidak tinggal di Praha), ia bercinta dengan seorang laki-laki bernama Hugo. Sialnya (atau untungnya?), selama mereka bercinta, Tamina tidak bisa mengenyahkan memori mendiang suaminya. Berkali-kali, pada wajah Hugo, ia melihat wajah suaminya sendiri. Hugo, yang diharapkan Tamina dapat membantunya mengambil barang-barang pribadinya itu, akhirnya mengetahui bahwa Tamina hanya memanfaatkannya untuk agendanya sendiri. Ia marah dan Tamina kesal. Pada Tamina, memori mendiang suaminya membuatnya gagal mendapatkan kembali benda-benda pribadi berharganya.

Politik memori dan amnesia sosial adalah apa yang saya kira coba dikatakan oleh Kundera. Kerap ia bertutur bagaimana warga kota Praha merupakan manusia-manusia yang tidak lagi memiliki kontrol atas ingatannya sendiri. Dari waktu ke waktu, dari satu masa penjajahan ke masa penjajahan lain atas kota tersebut, nama-nama jalan di kota terus-menerus berubah dan berganti, sehingga orang-orang tidak lagi ingat bagaimana nama asli jalan-jalan tersebut. Bahkan, tidak lagi merasa bahwa itu penting untuk diingat. Bukankah ‘pelupaan massal’ ini juga terjadi di tempat-tempat lain, tidak terkecuali di tempat kita tinggal, di negara kita? Atau bahkan, di diri kita sendiri? ‘Pelupaan’ yang dituturkan oleh Kundera bisa menelusup hingga ke berbagai lapisan konteks. Sejarah umum maupun sejarah individu. Dan, memang demikianlah sepertinya yang ia tuliskan di dalam The Book of Laughter and Forgetting. Kundera menuliskan bagaimana manusia-manusia dibuat lupa oleh sejarah kota dan bangsa mereka sendiri, dan tentu saja, ‘pelupaan’ ini bukannya tidak dirancang dan direncanakan. Ingat kembali foto Klement Gottwald dan Vladimír Clementis, yang dimanipulasi setelah kudeta demi kepentingan ‘membentuk’ sejarah dan membuat orang-orang lupa pada elemen-elemen yang sebenarnya dan seharusnya muncul di foto tersebut.

Di samping bahasa yang mudah (saya membaca The Book of Laughter and Forgetting terjemahan bahasa Inggris dari versi Perancis) hal yang kentara dalam tulisan-tulisan Kundera adalah humor. Kundera punya selera humor yang menyenangkan. Pada bab ketiga, ‘The Angels’ yang pertama (karena ada dua kali ‘The Angels’) ia menuliskan semacam ‘sejarah tawa’, tentang bagaimana pada mulanya tawa ‘diciptakan’ oleh setan. Tawa setan adalah tawa yang asli, yang lepas, yang tulus. Sementara itu, kelompok malaikat yang tidak menyenangi tawa setan dan khawatir tawa tersebut semakin meluas, melakukan perlawanan dengan tawa versi malaikat, tawa yang digambarkan sebagai tawa beragenda. Saya membayangkan tawa malaikat seperti tawa karakter-karakter aristokrat atau orang super kaya di cerita-cerita komik atau anime. Kundera menuliskan bahwa, oleh malaikat, tawa setan dipandang sebagai ‘ancaman’ atas kebaikan, karena tawa tersebut membuat seseorang lupa. Lupa daratan, istilah yang kita pakai. Saya jadi teringat di dalam Islam pun dikatakan bahwa seseorang tidak boleh tertawa terlalu lebar, ngakak, karena pada momen itu setan dapat masuk ke dalam dirinya. Saya tertawa berkali-kali membaca bagian ini.

Selain humor, yang menyenangkan dari cerita-cerita Kundera adalah kenyataan bahwa cerita-cerita tersebut tetap dapat dinikmati walau kita tidak mengetahui konteks atau peristiwa aktual atau wacana yang melandasi cerita tersebut. Walau kita tidak tahu tentang sejarah pendudukan Rusia atas Ceko dan tahu hanya sedikit tentang perang dunia dan wacana komunisme, kita tetap dapat menikmati cerita-cerita Kundera, setidaknya sebagai sebuah cerita. Saya kira, salah satu ciri cerita yang baik adalah cerita yang tetap dapat dinikmati meskipun si pembaca tidak memiliki wawasan kontekstual atas cerita tersebut. Tentu saja, cerita yang baik juga adalah cerita yang jikalau si pembaca memiliki wawasan kontekstual atas cerita tersebut, ia akan mendapatkan pembacaan yang lebih lengkap, luas, dan dalam. ***


21 Juni 2015

Seekor Burung Kecil Biru di Naha, Linda Christanty





PADA masa ketika hidup sudah sedemikian sulit dan setiap orang bersusah-payah mencari cara untuk menghibur diri sendiri, apa pentingnya menulis tentang konflik, kerusuhan, dan pembantaian manusia?

Tiga belas tulisan tentang konflik, tragedi, dan rekonsiliasi dalam kumpulan feature Linda Christanty, Seekor Burung Kecil Biru di Naha, membantu saya untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Saya membaca “Berdamai dari Bawah”, sambil membayangkan suasana di halaman Rumoh Geudong di desa Billie Aron, Teupin Raya, Aceh, yang seperti disebut di dalam tulisan, terkenal sebagai tempat penyekapan dan penyiksaan di masa Aceh berstatus Daerah Operasi Militer atau DOM. Dialog-dialog dengan Khatijah binti Amin, seorang perempuan Aceh yang ditangkap tentara karena suaminya anggota pasukan Hasan Tiro, pencetus Gerakan Aceh Merdeka (GAM), dengan sendirinya membangun visual yang mencekam di kepala, menampakkan kekejaman dan kepedihan. Juga percakapan-percakapan dengan Nurhaida, Sanusi, Saliza, Zubaidah, Beniati, Marhamah, Dwi-semuanya warga Aceh-tentang peristiwa pembakaran, penembakan, yang terbungkus isu-isu konflik etnis dan agama.

Kisah yang agak komikal tentang kepongahan Panglima Amir, seorang laki-laki Bangka mantan pejabat kolonial Belanda pada tahun 1830, dituturkan lewat tulisan “Panglima Amir dan Ayamnya”. Perseteruan Panglima Amir dengan seorang lanun yang dipicu oleh kekesalan dan rasa iri pada seekor ayam jantan raksasa, kemudian berkembang menjadi adegan penghancuran dan perbudakan orang-orang Bangka oleh Panglima Raman, seorang anak dari saudagar Bugis-Wajo, bersama Punggawa Sengkang, seorang pedagang budak dari Makassar.  “Kakek Saya, Opa Manusama, dan Opa Willem” mengungkap kisah perjuangan orang-orang pascaproklamasi di Pulau Bangka, yakni perlawanan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terhadap tentara Nederlandsch Indië Civil Administratie (NICA) dan Tentara Tionghoa Indonesia (TTI).

Berjalan ke bagian Timur dari Indonesia, kekerasan hinggap di Maluku, dan diceritakan dalam tulisan “Percik Api di Timur”. Ini feature terpanjang dalam buku Seekor Burung Kecil Biru di Naha. Isinya tentang bagaimana persoalan perselisihan batas-batas wilayah tinggal antara orang-orang Makian dan Kao di Halmahera Utara berkembang menjadi konflik antaragama.

Tidak hanya konflik di dalam negeri, Linda Christanty juga menuturkan konflik serupa yang terjadi di luar negeri.

Seperti kisah seorang perempuan India bernama Irom Sharmila. Dalam “Mendengar Bisikan Sungai Brahmaputra”, Linda, lewat mulut orang-orang yang ia temui di sebuah festival sastra di Guwahati, Assam, India, menceritakan bagaimana Sharmila melawan hukum darurat militer dan melayangkan protes terhadap pembunuhan orang-orang tak bersalah oleh aparat bersenjata di Manipur. Dalam “Karbala”, Linda menuturkan secuplik peristiwa yang barangkali menjadi awal mula perseteruan dua mazhab di agama Islam, Sunni dan Syi’ah.

“Seekor Burung Kecil Biru di Naha” menampilkan sebuah percakapan dengan Akiko, seorang warga Jepang, tentang pendudukan Jepang atas negara-negara Asia, termasuk bagaimana ratusan ribu perempuan Indonesia dijadikan budak seks atau jugun ianfu. Kehancuran Partai Komunis Thailand (PKT) meluncur dari bibir seorang perempuan berusia setengah abad bernama Punne Suangsatapananon, ditulis Linda dalam “Kenangan Punne”, yang dibumbui sedikit kisah cinta, karena pacar Punne adalah anggota PKT yang ditangkap dan dibunuh oleh tentara pemerintah.

Rudolf Hess, petinggi Nazi dan wakil Hitler, tidak luput dari catatan Linda, dan kisah di penjara Spandau dan pembantaian yang ia lakukan direkam dalam tulisan “Tentang Dua Tragedi: Masa Nazi di Jerman dan 1965”-tulisan ini juga mengungkap bagaimana Suharto, setelah kejahatan kemanusiaan yang ia lakukan semasa hidup, mati tanpa pernah diadili, bahkan dikenang sebagai ‘Bapak Pembangunan Nasional’. Sebagai penutup, “Continental Club” ditulis untuk menggambarkan sejarah dan konflik di kota-kota selatan di Amerika Serikat, termasuk di dalamnya terdapat peristiwa pembunuhan John F. Kennedy, juga tentang Benteng Alamo di Texas, sebuah bangunan yang dibangun pada 1718 untuk melindungi para misionaris dari serangan orang-orang Indian.

Nuansa agak berbeda dari tulisan-tulisan Linda mengenai konflik antaretnis, antaragama, maupun antarbangsa (yang di dalamnya terdapat peran militer, wacana politik, dan kawan-kawannya) terdapat pada tulisan berjudul “Rumah Bagi Mereka yang Tua”. Kali ini, yang lebih terasa adalah suasana sentimentil yang amat personal. Meski ceritanya bersifat pribadi, tapi siapapun anak rantau yang membacanya, saya yakin akan merasakan melankoli serupa: rindu pada kampung halaman, rindu kembali kepada orangtua. Begitu pula pada “Nama Saya Wanda”, tidak terdapat adegan-adegan pembantaian atau konflik antaragama maupun antaretnis di dalamnya, melainkan konflik di dalam diri seorang transgender dan keluarga tempat ia lahir, yang tidak kalah rumit dan pelik dari konflik perang antarbangsa maupun dunia.

Tulisan-tulisan Linda Christanty amat jernih, teratur, dan mudah dibaca. Sesekali ia membuka narasinya dengan deskripsi, yang membuat kita membayangkan sebuah tempat, di mana tempat tersebut ternyata memiliki sejarah kekerasan. Di waktu lain, Linda mengantarkan kita ke dalam premis-premisnya menggunakan pernyataan-pernyataan, yang meski dituturkan tanpa berapi-api, lembut, nyaris terasa datar, tetap membawa ketegasan yang kuat, yang menjelaskan posisinya dalam setiap peristiwa-peristiwa yang ia catat dan kabarkan.

Ibarat api, kekerasan-dalam wujudnya yang samar dan kerap menyaru ke dalam identitas sehingga membuat manusia membunuh sesamanya hanya karena perbedaan suku bangsa, ras, atau agama-tidak pernah puas hanya berkobar di satu tempat. Konflik telah pecah sejak berabad-abad yang lalu, dan dalam rentang masa yang teramat panjang itu, kekerasan telah melompat dari satu bagian dunia ke bagian dunia yang lain, menghantam satu bangsa ke bangsa yang lain. Namun, jika kita ingin menatap dengan mata yang jernih, seringkali akar kekerasan yang sesungguhnya bukanlah perbedaan identitas. Masalah sebenarnya dari setiap konflik bukanlah persoalan etnis, agama, atau bangsa, melainkan seringkali terjadi karena provokasi dan hasutan oknum-oknum yang punya kepentingan pribadi-agenda-agenda politik. Konflik di banyak tempat di Indonesia ditunggangi dan diatur oleh kelompok-kelompok yang memiliki kekuasaan dan kekuatan untuk memecah-belah komunitas-komunitas di masyarakat yang tadinya hidup berdampingan dengan damai sentosa.

Membaca Seekor Burung Kecil Biru di Naha membuat saya menemukan sedikit jawaban tentang mengapa seseorang perlu mencatat, menelisik, mempelajari, dan mengabarkan peristiwa-peristiwa konflik dan kekerasan yang terjadi di mana saja, lebih-lebih di tempat tinggalnya sendiri. Pentingnya terus-menerus mengabarkan konflik lewat tulisan bukanlah untuk mengobarkan amarah terpendam di masa lalu, apalagi menyulut kembali api sentimen negatif antarkelompok yang pernah bertikai, melainkan untuk senantiasa mengingatkan kepada setiap dari kita bahwa kekerasan tidak pernah menyenangkan. Bahwa ada yang menghendaki kita saling membunuh. Bahwa selama kita masih berpikir kekerasan merupakan solusi atas masalah-masalah pelik, maka kedamaian akan selamanya menjadi utopia. ***