25 November 2018

Lomba Menulis

Seorang teman pernah berkata kepada saya bahwa dulu, waktu ia kecil, ia sempat bercita-cita ingin menjadi penulis. Ia membaca buku-buku komik dan cerita di majalah anak-anak. Ia senang membaca cerita-cerita itu dan membayangkan bagaimana kalau ia sendiri yang mengarang cerita. Ia ingin tidak cuma jadi pembaca tapi juga penulis. Tidak cuma menjadi membaca tapi juga dibaca.

Teman saya itu waktu sekolah mengambil jurusan IPA lalu berkuliah di jurusan Ekonomi. Saat ini ia berkuliah di semester tiga sambil bekerja sampingan sebagai fotografer. Ia memotret apa saja mulai dari makanan hingga upacara perkawinan. Kami berkenalan ketika ia sudah berkuliah. Ia cerita ke saya tentang cita-cita masa kecilnya ingin jadi penulis ketika tahu bahwa saya menulis novel.

"Kamu masih bisa jadi penulis kalau mau." Itu yang saya katakan kepadanya. Saya memang percaya bahwa tidak pernah ada kata terlambat untuk menjadi penulis. Kalaupun tidak menjadikan kegiatan menulis sebagai pekerjaan, menulis tetap kegiatan yang bermanfaat untuk melatih cara berpikir yang teratur dan jernih. Menulis bisa membantu kita memahami pikiran-pikiran kita sendiri.

Teman saya mengangkat pundaknya. "Tapi apa yang harus aku tulis? Aku enggak punya ide."

Nah, kalau itu sesuatu yang saya tidak percayai. Kita selalu punya ide. Kita selalu punya sesuatu untuk diceritakan. Hidup kita tersusun dari cerita-cerita. Bahkan, sebelum kita terlahir ke dunia, orangtua kita juga hidupnya tersusun dari cerita-cerita. Sebelum dan sesudah kita hidup, cerita akan selalu ada. Saat kita hidup, kita sedang menjalani dan menciptakan cerita kita sendiri.

"Jawabanmu abstrak banget." kata teman saya lagi. "Coba kasih saran yang lebih praktis."

Bertahun-tahun, saya menulis fiksi. Saya mengarang cerita. Kadang-kadang saya mengambil cerita dari kehidupan orang lain, kadang-kadang dari kehidupan diri saya sendiri. Namun, cerita pendek dan novel punya aturannya sendiri. Aturannya hanya satu dan sangat sederhana:

Setiap hal yang muncul di cerita harus berdasarkan sebuah alasan.

Maka dari itu, hal yang paling penting dalam menulis adalah menjawab pertanyaan mengapa. Mengapa tokoh-tokohnya melakukan hal-hal yang mereka lakukan? Mereka lokasi ceritanya di situ dan bukan di sini? Mengapa si anu bertemu dengan si ini tetapi tidak dengan si itu? Semuanya harus memiliki alasan yang masuk akal dan kuat. Harus ada penjelasan yang menyertai setiap keputusan.

Salah satu cara terbaik untuk berlatih memaparkan alasan adalah dengan menulis ulasan. Review. Saya sering mengulas buku di blog saya ini. Kadang-kadang saya mengulas film. Ulasan atau review menjadi ruang yang sangat pas untuk latihan menjelaskan alasan-alasan di balik pendapat kita tentang sesuatu. Mengapa kita menyukai sesuatu. Mengapa kita berpikir ada yang bisa lebih dikembangkan dari sesuatu.


Saya senang mengundang kalian semua untuk berlatih menulis review. Tentu saja saya juga senang mengatakan bahwa latihan ini tidak cuma-cuma. Ada hadiah besar yang menanti para pemenang.

Bukalapak mengadakan lomba blog BukaReview. Berlangsung dari 22 Oktober 2018 hingga 31 Desember 2018. Total hadiah sebesar 60 juta rupiah untuk tiga pemenang. Ada beragam pilihan topik review yang bisa dipilih sehingga kesempatan untuk ikut serta semakin besar. Saya sendiri akan jadi salah satu juri lomba blog BukaReview.

Silakan lihat syarat & ketentuan lomba blognya di sini: Lomba Blog BukaReview. Untuk mendaftar silakan ke sini: Pendaftaran Lomba Blog BukaReview.


9 November 2018

Mengenal Bayang-Bayang Lenin


Tulisan ini sebelumnya sudah saya unggah di akun Medium. Tapi mendadak akun saya langsung kena suspend, tanpa notifikasi apapun dari Medium. Apa saya melanggar peraturannya Medium? Tapi apa yang saya langgar ya. Apa karena tulisan saya mengandung tema komunisme? Enggak tahu juga.

Tadi sudah kirim e-mail ke Medium untuk bertanya dan minta bantuan akun saya dibalikin ke normal. Ini saya coba unggah tulisan yang bikin saya kena suspend itu di sini. Semoga aja blog ini enggak kena suspend juga.

Fingers crossed.

*




Mengenal Bayang-Bayang Lenin

Karl Marx merumuskan Marxisme. Namun, yang membawa pemikiran itu jejak ke tanah praktik dan menjadi sebuah aksi besar adalah sosok bernama Lenin.

Tulisan ini hasil membaca buku “Dalam Bayang-Bayang Lenin” karya Franz Magnis-Suseno (Gramedia, 2003), yang pak Magnis-Suseno tulis sebagai lanjutan dari “Pemikiran Karl Marx” (Gramedia, 1999). Buku tentang Karl Marx saya bahas di tulisan sebelumnya. Jadi harap membaca yang itu terlebih dulu sebelum membaca yang ini.

Tidak seperti di buku “Pemikiran Karl Marx” yang keseluruhan isinya tentang Karl Marx dan Marxisme, di buku “Dalam Bayang-Bayang Lenin” pak Magnis-Suseno tidak hanya menulis tentang Lenin. Melainkan ada enam tokoh yang mengembangkan pemikiran Marxisme dengan ciri khasnya masing-masing, termasuk Lenin. Mereka adalah Leon Trotsky, Georg Lukacs, Karl Korsch, Antonio Gramsci, dan Tan Malaka. Namun, di tulisan ini hanya akan membahas tentang Lenin.




Nama panjang Lenin adalah Vladimir Ilyc Ulyanov (1870–1924). Lenin adalah nama samarannya yang dia ambil dari Sungai Lena di dekat Siberia, tempat ia dibuang pada tahun 1896, di usia ke-26 tahun, gara-gara aktivitas politiknya. Waktu Lenin 17 tahun, kakak kandungnya dihukum mati karena dituduh terlibat dalam persiapan percobaan pembunuhan Tsar (pemimpin kekaisaran Rusia). Lulus kuliah hukum di Universitas Petersburg, Lenin bekerja jadi pengacara. Lalu ia masuk ke berbagai kelompok Marxis dan menulis artikel-artikel tentang masalah-masalah sosialisme.

Pada tahun 1900, di usia ke-30 tahun, Lenin dan teman-temannya bikin majalah Marxis revolusioner, Iskra (“bunga api”). Pada 1902 Lenin menulis tentang pahamnya mengenai konsep partai. Tulisan itu ditentang oleh tokoh Marxis lain. Partai Sosial Buruh Demokrat Sosial Rusia kemudian pecah di kongresnya 1903 ke dalam dua kubu: Kaum Bolshevik (dari bolshinstvo, mayoritas) dan kaum Menshevik (dari menshinstvo, minoritas). Kaum Bolshevik mendukung konsepsi Lenin, sedangkan kaum Menshevik menentangnya.

Di satu titik dalam Perang Dunia II, Rusia mengalami sederetan kekalahan di medan perang dan membuat keadaan ekonominya hancur. Pada 1917, Tsar Nikolaus II yang memimpin saat itu dipaksa turun takhta. Pemerintahan diambil alih oleh koalisi kekuatan nasional. Lenin yang waktu itu tidak di Rusia, langsung pulang lalu menarik partai Bolshevik dari koalisi tersebut. Setelah itu Lenin mengumumkan program radikal untuk revolusi. Tuntutan Lenin dirangkum dalam kalimat, “seluruh kekuasaan kepada Soviet-soviet” (“dewan” buruh dan prajurit yang desersi)baru tahu saya soviet dalam Uni Soviet itu dari sini asalnya.

Terjadilah Revolusi Rusia 1917. Masa kekaisaran Rusia usai dan Uni Soviet bangkit. Lenin memegang tampuk kekuasaan Uni Soviet. Sayangnya kaum buruh di Rusia itu minoritas. Hanya 1% dari total penduduk. Sisanya kaum tani dan mereka tidak mendukung Lenin. Ternyata sejak awal kekuasaan Lenin rapuh. Ia agak memaksakannya. Maka cara paling ampuh untuk mempertahankan kekuasaan adalah dengan kediktatoran partai. Diselenggarakan dengan cara kekerasan.
Hasilnya, di bawah pemerintahan Lenin, 20 juta warga Uni Soviet mati karena dibunuh atau kelaparan.



Masalah utama Lenin yang membuatnya melakukan salah satu kejahatan manusia paling mengerikan (di samping Hitler dengan Nazi-nya) yaitu ia memaksakan kehendaknya.

Lenin melihat situasi Rusia pada waktu itu tidak mendukung untuk revolusi sosialis. Ingat kembali apa kata Karl Marx mengenai keniscayaan sosialisme. Kapitalisme memang membawa di dalam dirinya bibit-bibit kehancurannya sendiri, dan ketika bibit-bibit ini sudah tumbuh matang, revolusi pun pecah. Namun, di Rusia kapitalisme baru saja ditanam. Baru mulai meluas tapi belum matang.

Lenin menolak situasi ini. Ia merumuskan pandangannya soal “imperialisme sebagai tahap akhir kapitalisme”. Imperialisme (penjajahan oleh negara atas negara lain), pikir Lenin, adalah sarana negara-negara kapitalis maju untuk mengirim ketegangan di tubuh mereka sendiri ke negara-negara prakapitalis (contoh dalam hal ini Kekaisaran Rusia yang feodal). Jadi Lenin berpendapat bahwa revolusi sosialis justru lebih mungkin pecah di Rusia.

Pandangan Lenin juga menentang kaum Menshevik, yang berpendapat bahwa untuk menjatuhkan feodalisme (kekuasaan kekaisaran Rusia) dan mendirikan pemerintahan demokratis, kelas buruh haruslah terlebih dulu bekerjasama dengan kaum borjuasi (borju, golongan menengah ke atas). Menurut Lenin, proletariat harus bersekutu dengan kelas borjuasi, tapi sebagai yang memimpin gerakan revolusioner.

Karena itu, Lenin selalu menegaskan bahwa proletariat harus dibentuk sebagai kekuatan politik mandiri, yang tidak cuma melawan kekuasaan feodal Tsar, tapi juga selalu sadar bahwa musuh sebenarnya adalah para pemilik modal. Para pendukung kapitalisme.




Pada masa-masa Lenin ini, pandangan Karl Marx yaitu Marxisme sudah menjadi pandangan dan sikap buruh sedunia. Namun, Karl Marx baru meletakkan teori, belum meneruskannya jadi tindakan. Lenin lah yang mewujudkan teori itu. Oleh Lenin, Marxisme menjadi Komunisme.

Tujuan pemikiran Lenin adalah revolusi sosialis. Perubahan ketatanegaraan dari yang tadinya feodal di masa kekaisaran Rusia menjadi negara sosialis di masa berdirinya Uni Soviet (yang kemudian runtuh juga). Jadi apapun akan Lenin lakukan agar revolusi sosialis itu terjadi, termasuk bersekutu dengan kelas-kelas tertindas lainnya (kaum tani dan borjuasi kecil). Pragmatisme Lenin ini jadi bagian penting dari ajarannya yang bernama Marxisme-Leninisme (dibakukan secara resmi oleh Stalin).

Sesudah revolusi terjadi, menurut Lenin kaum proletariat harus memegang hegemoni (mendominasi) atas kelas-kelas revolusioner lain. Untuk itu Lenin berencana mendirikan “kediktatoran proletariat”. Namun, lama-kelamaan yang terjadi bukan kediktatoran proletariat, tapi malah kediktatoran partai. Bukan kaum tertindas yang dulu dibayangkan Marx yang kemudian memimpin Uni Soviet, tapi partai. Partai Komunis Uni Soviet.

Partainya Lenin.




Terus, Komunisme itu apa?

Ingat lagi di tulisan sebelumnya bahwa Karl Marx membayangkan sebuah dunia di mana manusia hidup bebas dan tidak terasing dari dirinya sendiri. Ketika Karl Marx memikirkan itu, sedang terjadi penindasan atas warga Prusia. Revolusi Industri melahirkan kelas pemilik dan kelas pekerja. Kapitalisme menjadi sistem ekonomi yang menindas sebagian besar masyarakat dan menguntungkan sebagian kecil pemilik modal.

Marx berpendapat bahwa umat manusia akan lebih bahagia jika mereka memenuhi hakikatnya yang sosial. Marx menganut paham sosialisme yaitu percaya bahwa harusnya tidak boleh ada hak milik pribadikarena ini sumber penindasan. Sosialisme berarti seluruh harta benda di bawah kepemilikan sosial (bisa koperasi, negara, atau gabungannya).

Komunisme adalah sistem masyarakat di mana tidak ada lagi negara, dan setiap orang bekerja dan dibayar sesuai bakat dan kemampuannya.

Kebayang enggak?




Komunisme dengan pengertiannya sendiri berbeda dengan komunisme yang dipraktikkan Lenin. Lenin dengan Uni Soviet-nya mendirikan negara komunis (ingat bahwa di masyarakat komunis negara tidak ada lagi) yang dipimpin partai tunggal-komunis.

Waktu itu Lenin berpendapat bahwa negara tetap harus ada karena musuh-musuh proletariat masih ada. Jadi negara dibutuhkan untuk menghabisi musuh-musuh itu. Sesudah revolusi sosialis terjadi, negara juga masih diperlukanuntuk waktu yang lamahingga seluruh kekurangan masyarakat sosialis tidak ada lagi.

Dalam periode itulah, ketika negara komunis bentukan Lenin berdiri, tragedi terjadi. Pemikiran Karl Marx yang tadinya bertujuan untuk membebaskan manusia dari keterasingannya, di tangan Lenin justru menjadi “penjara terbesar di dunia” (Dalam Bayang-Bayang Lenin, halaman 50).




Sejarah telah membuktikan bahwa komunisme gagal di mana-mana. Termasuk di Indonesia. Negara komunis yang berhasil pun akhirnya membuka keran bagi kapitalisme.

Namun, gagasan mengenai pemikiran yang membebaskan manusia yang terkandung di dalam Marxisme masih menarik perhatian seseorang yang hidup hampir 150 tahun sesudah Karl Marx wafatyaitu saya sendiri. Ini tidak lain karena tulisan pak Magnis-Suseno di buku-bukunya, yang saya sangat nikmati. Gaya menulisnya yang jernih serta kritiknya yang tajam terhadap Marxisme dan turunan-turunannya membuat saya yang awam mengenai filsafat dan politik jadi tertarik untuk belajar lebih dalam.

Tapi dari dua tulisan mengenai Marxisme ini kita hanya tahu tentang masa lalu. Bagaimana Marxisme di masa sekarang? Setelah komunisme bangkrut, apa yang terjadi? Jika tadi kita bicara tentang Rusia saja, bagaimana yang terjadi di negara lain yang juga komunis, misalnya Cina?

Tunggu tulisan berikutnya.


2 November 2018

Perpisahan yang Manis


-->
Perpisahan yang Manis
Enam tahun berkarir sebagai penulis, mencari tempat ideal untuk menuangkan kata-kata menjadi sebuah tulisan yang memuaskan, bikin saya menyimpulkan satu hal. Mungkin benar anggapan umum yang berkata bahwa, penulis dan coffee shop adalah dua hal yang hampir enggak bisa dipisahkan. Seakan ada rahasia tersendiri di kedai-kedai kopi yang membuat penulis tidak pernah kehabisan inspirasi.
Sebagai penulis dan penikmat kopi, saya selalu menduga ketergantungan saya pada coffee shop untuk bekerja bukan cuma karena efek kafein dari kopi yang diseruput, tapi juga suasana kedai yang memang mendukung. Saya selalu mengantuk jika menulis di kamar. Namun, tidak di coffee shop. Pemandangan orang-orang yang sedang berkutat dengan laptop, situasi yang kondusif, dan riuh rendah suara serta bunyi mesin kopi yang membuat pikiran saya terjaga. Mood-nya dapet aja gitu.

Itu sebabnya hari-hari kerja saya adalah perjalanan dari satu coffee shop ke coffee shop lain. Beruntung, saya tinggal di Yogyakarta. Kota yang konon punya lebih dari seribu kedai kopi (catchy juga kalau jadi slogan). Apalagi belakangan ini, coffee shop baru bergaya modern terus bermunculan bagai jamur di musim hujan. Saya tidak pernah kehilangan pilihan tempat menulis. Kalau bosan dengan coffee shop yang satu, tinggal pindah ke yang lain.

Tapi...
Tapi, ternyata enggak semudah itu menikmati coffee shop-coffee shop baru tersebut, menjelajahi "kantor-kantor" baru saya untuk menulis. Motor pribadi yang selalu menjadi teman saya mengelilingi kota pernah juga menjadi musuh saya. Bukan karena kami berantem pukul-pukulan, tapi mengendarai motor sendiri kadang bikin capek. Kalau sudah capek, mood untuk menulis pun bisa ngedrop.

Jangankan untuk menulis yang memang jadi pekerjaan saya, buat ketemu teman-teman nongkrong yang notabene harusnya jadi kegiatan seru pun rasanya malas, kalau sudah capek bawa motor. Apalagi motor saya pakai kopling. Ke mana-mana sudah kayak pakai adjustable hand-grip, alat buat menguatkan otot tangan.

Ditambah kalau jalan sudah macet, biasanya sore-sore jelang magrib. Wah, ampun deh. Maju sedikit, berhenti, maju sedikit, berhenti. Otot telapak tangan dijamin pegal linu karena kopling main terus. Pasti pernah ngalamin juga?

Belum cukup soal tangan pegal linu gara-gara main kopling. Pinggang juga pegel gara-gara kelamaan duduk. Kalau sudah menulis, saya bisa duduk menghadap laptop selama berjam-jam. Paling sebentar 3-4 jam, pernah 10 jam. Duduk pas nulis, duduk pas bawa motor dengan kondisi tangan pegal, semuanya bisa merusak mood menulis seketika.

Padahal, sulit banget menulis kalau enggak ada mood. Tulisan bisa tetap selesai tapi hasilnya enggak memuaskan. Kata-katanya jadi enggak mengalir, adegan-adegan di naskah novel jadi enggak hidup, pokoknya enggak beres. Kopi terbaik yang sudah diseduh sepenuh hati oleh barista paling jago, di coffee shop yang paling pewe, pun enggak cukup untuk mengembalikan mood. Gara-gara pegal, lelah fisik.

Enggak, belum cukup parah. Bayangin satu hal lagi. Setelah capek duduk di coffee shop, capek duduk di motor, tahu-tahu di jalan ada pengendara yang enggak paham aturan. Main nyerobot lampu merah, selip sana selip sini sampai membahayakan orang lain. Rasa-rasanya mau ngedumel, bawaan pengin misuh-misuh, tapi juga percuma. Malah bikin makin lelah.




Usut punya usut, benar juga yang GO-JEK bilang soal gangguan Rheumatir& Hipersensi. Jelas sudah saya lagi mengalami dua gangguan itu sekaligus. Rheumatir bikin kondisi fisik ​ngedrop ​gara-gara kebanyakan duduk sambil fokus bawa motor. Akibatnya keterusan, jadi Hipersensi, melampiaskan emosi berlebihan di jalan. Udah capek, ​ngedumel. Enggak ada bagus-bagusnya buat kebaikan jiwa.

Pas sudah mulai sadar dengan gangguan yang saya alami, saya enggak menunda-nunda lagi buat cari solusi. ​Mood menulis harus secepat mungkin dikembalikan. Satu-satunya cara ya harus segera meredakan Rheumatir & Hipersensi ini. Saya perlu mengurangi gangguan dari capek fisik dan emosi yang berlebihan gara-gara setiap hari kelelahan bawa kendaraan pribadi.

Tapi, gimana?

Waktu buka-buka ​handphone, ​muncullah jawaban atas pertanyaan itu.

GO-JEK.

Saya udah beberapa kali pakai GO-JEK buat ke mana-mana, tapi seringkali masih ​ngotot pakai motor sendiri. Seseringkali itu pula saya terpaksa ​ngedumel ​ke diri sendiri. ​Siapa suruh bawa motor terus, pegel-pegel kan.

​Padahal di Yogyakarta, armada GO-JEK udah banyak, gampang ditemukan. Baru pesan nih, enggak sampai setengah menit udah dapat ​driver. ​Tunggu sebentar sambil siul-siul, ​driver​ pun tiba, siap ditumpangi ke tempat tujuan. 

Hal yang paling saya suka kalau sudah naik GO-JEK adalah, tentu saja, jadi enggak perlu ​ngerasain ​tangan pegal linu. Karena enggak mengendarai sendiri motornya, jadi bisa lebih rileks di jalan. Karena di jalanan merasa santai, jadi enggak kebawa emosional sama situasi jalanan yang padat dan kadang ruwet. 

Selamat tinggal, gangguan Rheumatir dan Hipersensi. Titip salam buat gangguan-gangguan lainnya. Sekarang saya sudah punya peredanya. Ampuh dan gampang diperoleh.

Salah satu pertanyaan yang pernah saya dapat ketika mengisi kelas-kelas menulis adalah bagaimana caranya agar bisa fokus menulis.

Beberapa mengira jawabannya melakukan ini dan itu. Keliru. Justru sebaliknya, yakni ​tidak ​melakukan ini dan itu.

Untuk urusan fokus, langkah pertama yang penting bukan melakukan sesuatu agar fokus, tapi ​tidak ​melakukan hal-hal yang membuat kita tidak fokus. Misal bawa kendaraan sendiri yang akhirnya bikin capek dan ​misuh-misuh ​di jalan. Hasilnya jadi lelah fisik dan mental, mengganggu fokus bekerja.

Harusnya tenaga fisik dan modal psikis (​mood​) bisa dicurahkan seluruhnya untuk pekerjaan yang mau kita selesaikan, tapi seringnya yang terjadi malah kita buang-buang energi di jalan. Hal itu sebenarnya enggak perlu terjadi. #UdahWaktunya gangguan kayak Rheumatir dan Hipersensi yang, saya yakin, kita sering banget alami, bisa mudah diredakan dengan satu cara praktis: Pakai GO-JEK.

Kita kadang-kadang enggak ​ngeh ​bahwa jawaban dari pertanyaan kita biasanya enggak pernah jauh-jauh, bahkan bisa jadi sedekat genggaman tangan.​

Nah, sekarang saya mau main ke coffee shop yang baru buka di daerah Palagan. Tapi naga-naganya di jalan bakal kejebak jalanan padat. Mendingan motor saya istirahatkan dulu, sekaligus mengistirahatkan diri sendiri dari ​ngedumel ​yang enggak perlu. Pergi ke coffee shop #UdahWaktunya pakai GO-JEK aja.

Selamat tinggal Rheumatir. Selamat tinggal Hipersensi. Ini perpisahan yang amat manis.



21 September 2018

Kenapa Mau Jadi Penulis?


-->


Mempertanyakan motivasi di balik keinginan besar anak muda terhadap profesi penulis. Sebuah catatan personal dari penulis yang baru satu dekade menekuni kesenangannya sebagai pilihan pekerjaan.



Saya tidak tahu kapan tepatnya penulis jadi profesi yang populer, terutama di kalangan remaja. Yang saya tahu saat ini banyak sekali anak muda ingin jadi penulis. Portal-portal digital tempat mengunggah tulisan bermunculan bagai jamur. Seiring meningkatnya kebutuhan konten untuk kepentingan bisnis hiburan maupun jenis bisnis lain, penulis jumlahnya terus bertambah, aktif melahirkan tulisan-tulisannya di kanal digital maupun media fisik.

Sebelum bicara lebih jauh, saya perlu menyampaikan sesuatu tentang siapa dalam hal ini yang saya bahas. Penulis yang saya maksud adalah siapapun yang membuat tulisan serta menerbitkannya, rutin maupun tidak. Demi membatasi pembahasan, secara khusus di tulisan ini saya merujuk kepada penulis-penulis muda di bawah 25 tahun yang berkarya melalui medium fiksi. Cerita pendek, bersambung, novel. Definisi dan batasan ini tidak berdasarkan apapun selain bahwa yang terlintas di kepala saya ketika mempertanyakan minat menulis adalah mereka yang lebih muda dari saya, dan fiksi karena saya sendiri lebih banyak menulis karya fiksi.

Kesimpulan saya tentang minat besar anak muda terhadap profesi penulis saya tarik dari banyaknya pertanyaan, testimoni, dan pesan-pesan yang masuk ke kanal-kanal digital saya tentang bagaimana caranya jadi penulis. Setiap kali saya talkshow untuk promosi buku terbaru, atau ketika mengisi kelas-kelas penulisan kreatif, saya selalu berhadapan dengan puluhan anak muda yang pengin jadi penulis. Pada tahun-tahun pertama menulis saya akan mudah menjawabnya. Namun, kini, sering pertanyaan tersebut saya jawab dengan sebuah pertanyaan lain:

“Kenapa kamu mau jadi penulis?”



Raison d’etre

Interaksi saya di berbagai kesempatan dengan anak-anak muda yang mengaku ingin jadi penulis mengajarkan saya sesuatu tentang motivasi. Ketika saya bertanya balik kenapa mereka ingin jadi penulis, sebagian menjawab dengan kalimat yang kabur, tetapi sisanya cukup jelas. Selain supaya bisa curhat dalam kalimat-kalimat yang artsy, poetic, dan sophisticated, sebetulnya cuma ada 2 (dua) motivasi utama seseorang pengin jadi penulis:
  1. Uang
  2. Ketenaran

Pengin kaya dan terkenal, itulah dua motivasi terbesar yang paling sering saya dengar. Dua hal yang dapat dicapai dengan cara lain, mungkin lebih efektif daripada harus meraihnya lewat jalan panjang dan sepi seorang penulis. Selugu apapun dua hal tersebut, uang dan ketenaran, saya dapat memahaminya. Namun, saya ingin mengutip quote Jim Carrey yang saya dapat dari Internet untuk menjawab keluguan itu.

“I think everybody should get rich and famous and do everything they ever dreamed of so they can see that it’s not the answer.” (Jim Carrey)


Ya, saya berani bilang itu bukan jawabannya. Menjadi kaya dan terkenal karena menulis bukanlah hal yang kamu cari.
Sewindu yang lampau, sebagai anak muda yang pengetahuannya tentang industri buku nyaris nol, saya tak pernah bermimpi bakalan menjadi penulis, apalagi menerbitkan buku yang laris. Namun, pasar pembaca sangat berbaik hati. Tiga buku pertama saya yang rilis lewat penerbit mainstream sangat laris bagi ukuran personal saya, mencatatkan nama saya ke peta buku nasional. Membuat saya punya pembaca.

Namun, seiring waktu saya mengetahui bahwa bukan buku best-seller lah yang saya kejar. Bukan pula follower yang banyak. Walaupun kadang masih terasa ganjil, saya senang ketika ada yang mengenali saya di keramaian, di tempat publik, tapi bukan pula hal itu yang membuat hati saya tenteram dan puas. Ketika saya tahu bahwa punya buku laris dan dikenal orang tidak membuat saya bahagia, saya sadar, keduanya bukan raison d’etre saya menulis.

Lantas, apa?


Mitos tentang dunia penulis

Menjadi penulis mungkin terlihat keren, tapi sama sekali tidak ada yang menyenangkan dari proses menulis. Menulis membutuhkan ketahanan fisik dan mental yang kuat. Dalam sebuah tulisan yang cukup representatif, Dewi Lestari pernah menyatakan bahwa penulis adalah profesi yang tidak sehat. Siapapun yang pernah mendedikasikan berjam-jam menulis sesuatu bakal setuju. Low back pain (LBP) dan carpal tunnel syndrome (CTS) adalah teman akrab. Asam mefenamat adalah sahabatnya penulis.

Itu baru persoalan tubuh, belum pikiran yang secara langsung berdampak pada kondisi mental. Berapa banyak penulis yang punya masalah dengan kejiwaan? Cobalah google creativity and mental illness”, ada sederet nama penulis besar dalam berbagai artikel yang didampingi jenis penyakit jiwa mereka. Dalam pengantar di buku kompilasi biografi singkat penulis yang pernah saya baca, ada satu kalimat menggelitik. “Semua orang akan jadi gila, penulis hanya tiba di sana lebih cepat.”

Tentang hubungan penulis dengan penyakit kejiwaan silakan riset sendiri. Saya hanya bisa sampaikan satu hal: menulis membuatmu memikirkan, cemas pada banyak hal. Bahkan, keduanya yang mendorongmu menulis. Ingin hidup dalam kecemasan yang mencekam? Silakan jadi penulis.

Belum lagi persoalan ambisi menulis sebuah karya yang bagus, yang saya kira tak akan pernah tercapai, sebab ketika kamu sudah merasa menulis sesuatu yang bagus, di situ lah proses belajar berhenti. Progres tidak dimungkinkan dalam sikap berpuas diri. Saat kamu membaca buku-buku bagus, seketika kamu terdorong untuk menulis sebagus apa yang kamu baca. Namun, kamu akan ditinju kenyataan: ketidakmampuanmu menyeberangi jurang antara selera membaca dan kemampuanmu menulis. Wajahmu biru-biru oleh karya sendiri yang tidak cukup bagus bagimu dan rekening yang tidak banyak berubah karena bukumu tidak laku.

Jadi, kenapa masih mau jadi penulis?



Refleksi personal

Kenapa saya menulis? Saya sudah menjawabnya di profil akun ini. Saya menulis karena saya tidak bisa tidak melakukannya. Saya sudah pernah mencoba berhenti menulis. Dengan sangat menyesal saya harus bilang bahwa bahkan untuk yang satu ini pun saya gagal. Setiap kali saya memalingkan wajah ke hal-hal lain yang lebih bikin saya bahagia, lebih tidak bikin saya cemas, setiap kali itu pula saya seperti ditarik kembali ke depan layar laptop, handphone, buku catatan, untuk menulis apa yang saya alami, pikirkan, pertanyakan. Saya ingin tidak menulis, tapi saya tidak bisa.

Saya pernah punya buku yang laku, pernah juga tidak laku-laku amat. Saya pernah dielu-elukan di sebuah talkshow, pernah juga tidak ada satu pun yang mengenal saya di sebuah tempat. Pengin jadi penulis karena bisa kaya raya? Itu kalau bukumu laku, dan ingatlah bahwa pasar selalu misterius. Dikenal orang? Ada cara yang lebih efektif. Lakukan hal konyol dan minta bantu temanmu yang selebtweet memviralkan kelakuanmu.

Ketika saya resign dari kantor penerbit besar dan memutuskan untuk jadi penulis saja, saya menikmati kebebasan dan ketidakpastian yang saya hadapi setiap hari. Saya meninggalkan gaji pokok, insentif, orang-orang hebat yang menyenangkan, demi ambisi personal. Saya ingin menulis sesuatu yang berarti. Saya ingin menulis karya yang bagus dan berarti.

Dan arti? Sebagai self-proclaimed, so-called nihilist, membicarakan arti bakal jadi pekerjaan rumah yang, ironisnya, tak berarti. Tujuan saya menulis kini jadi senjata makan tuan. Saya ingin melakukan sesuatu yang bertujuan, yang berarti, ketika saya sendiri tak yakin apakah semua ini ada artinya, di waktu yang bersamaan saya tak dapat mengerjakan apapun selain menulis. Terjebak dalam lingkaran yang menyiksa batin, menggeroti fisik dan pikiran. Well.