31 Desember 2014

novel terbaru saya




REVIEW "Surat untuk Ruth":

Review oleh Hany Nurulhadi: "Surat untuk Ruth, Bernard Batubara" / Anggrek Lestari: "Periodisasi Luka yang Pura-pura Terlupa" / Friska Yulianti: "Seuntai Kata untuk yang Terkasih" / Herlambang Adhytia: "Surat untuk Ruth" / Indah Ayu Sartika: "Review Surat untuk Ruth" / Viera Ajeng: "Review Surat untuk Ruth" / Ayu Setioardi: "Review Surat untuk Ruth" / Neni Safitri: "Review Surat untuk Ruth" / Ve Handojo: "Surat untuk Ruth - Bernard Batubara" / Amanda Sheila: "Review Anak Muda: Surat untuk Ruth by Bernard Batubara" / Atria Sartika: "Surat untuk Ruth" / Cahaya Ramadhani: "Review: Surat untuk Ruth" / Ni Putu Candra Dewi: "Surat untuk Ruth, Memoar Singkat dan Dekat" / Margareta Mentari: "Surat untuk Ruth by Bernard Batubara" / Sofi Meloni: "Review Surat untuk Ruth by Bernard Batubara" / Dinoy Novita: "Dear Are, Surat untuk Ruth by Bernard Batubara" / Irhamna: "Kenangan Itu Jahat dan Mengacaukan Segalanya" / Winda Huhul: "Welcome June, Surat untuk Ruth" / Ruri Alita: "Surat untuk Ruth, Review" / Aziz Amin: "Review Surat untuk Ruth" / Azure Sekai: "Surat untuk Ruth by Bernard Batubara" / Cholis Hidayat: "Review Surat untuk Ruth" / Andi N. A.: "Review Novel Surat untuk Ruth - Bernard Batubara" / Intan F.: "Review Surat untuk Ruth" / Elisa Fariesta: "Surat untuk Ruth, Bernard Batubara" / Charlenne Kayla: "Are, Ini Surat Untukmu"

29 Oktober 2014

The Brief Wondrous Life of Oscar Wao, Junot Díaz




Fukú. Begitu Díaz memulai prolog The Brief Wondrous Life of Oscar Wao. Belakangan, barulah ‘diterangkan’ bahwa jargon yang berarti ‘kutukan’ ini sebetulnya adalah plesetan dari Fuck U, atau setidaknya saya menganggapnya begitu. Tokoh utama, Oscar Wao (bernama asli Oscar, tambahan Wao ia dapatkan saat diejek oleh teman-teman Yunior, narator dalam novel ini) adalah anak bungsu dari sebuah keluarga Dominican yang dipercaya memiliki kutukan. Fukú. Kutukan itu diwariskan dari generasi ke generasi. Sebelum tiba di kehidupan pribadi Oscar, kutukan tersebut terlebih dahulu dialami oleh kakak, ibu, nenek, dan kakek Oscar. The Brief Wondrous Life of Oscar Wao adalah sebuah kisah yang saya terjemahkan sebagai dongeng tentang perjalanan sebuah kutukan.

Pertama kali saya membaca tulisan Junot Díaz adalah kumpulan cerpennya berjudul This Is How You Lose Her (2013). Buku itu memuat kalau tidak salah delapan cerpen, seluruhnya tentang kisah cinta yang dibungkus isu-isu transmigran. Junot Díaz punya cara bercerita yang, bisa saya katakan, nyeleneh. Ia mencampur-baurkan bahasa Inggris dan Spanyol, hingga di satu testimoni bukunya ada yang menyebut Díaz menulis dengan Spanglish, Spain-English. Saya sempat terkejut dengan gaya bahasanya yang cukup vulgar, bahkan cenderung kasar (kata-kata F bertebaran di sana-sini, di kemudian hari saya bahkan mengidentikkan kata-kata F dengan buku-buku Junot Díaz). Namun, setelah saya membaca terus, saya sangat menikmatinya. Bukan karena kata-kata F yang bertaburan, melainkan karena Díaz menggunakan kata-kata F itu sebagai elemen humor dalam cerita-ceritanya. Saya kurang paham apa arti sebenarnya dari istilah ini, tapi saya pikir tulisan Díaz mungkin apa yang disebut sebagai black humor atau dark comedy.

Sebuah testimoni di sampul belakang The Brief Wondrous Life of Oscar Wao mengatakan bahwa novel Junot Díaz “…impossible to categorize, which makes it good.” Saya agaknya bersepakat dengan komentar itu. Sempat memikirkan tentang apakah menulis sebuah novel sebaiknya menggunakan formula atau tata cara yang teratur dengan ketentuan-ketentuan yang telah dibuat, saya ditampar habis-habisan oleh novel Junot Díaz. Membaca tulisan-tulisan Junot Díaz membuat saya bergumam, antara kesal, kagum, dan takjub, “Ternyata menulis novel bisa dengan cara seperti ini.” Ketika itulah saya tahu, bahwa sebetulnya tak peduli cara seperti apa yang kau gunakan, orang hanya ingin membaca novel bagus. Junot Díaz menunjukkan itu.

Seperti membaca novel bagus lainnya, kita punya perasaan bahwa novel yang sedang kita baca adalah novel bagus, bahkan ketika baru memasuki bagian pertama, paragraf pertama, atau kalimat pertama. Itulah yang terjadi dengan saya saat membaca novel ini. Saya membuka halaman pertama dan langsung berkata dalam hati: this is going to be a nice trip.

Terlahir gendut, bermata minus, berambut awut-awutan, dan tak memiliki wajah menarik, Oscar menjadi anomali di antara rata-rata pemuda Dominicana. Ia hanya tertarik dengan video game, novel-novel dan film-film fiksi sains. Seorang ghetto nerd, seperti disebut Díaz. Tapi bukan berarti Oscar tak suka perempuan. Bahkan, dengan seluruh hobinya yang membuat ia kian jauh dari pergaulan sosial dan teman-temannya, ia memiliki satu keinginan sederhana namun kuat, dan ia menyimpan terus keinginan itu sampai dewasa: ia ingin memiliki kekasih, ia ingin mendapatkan cinta, ia ingin dicintai. Sayangnya, kutukan yang mengalir di keluarganya, tampaknya mengalir pula dalam darahnya. Oscar kehilangan cinta pertamanya saat ia berusia 7 tahun dengan cara yang menyakitkan, dan semenjak itu ia tak pernah memiliki seorang kekasih, meski ia telah mencoba ribuan cara.

Tak berbeda dengan dirinya, kakak kandung Oscar juga, ia sadari atau tidak, menyimpan warisan kutukan itu. Fukú. Seperti Oscar, Lola juga terlahir sebagai gadis Dominicana yang anomali. Ia tak punya buah dada besar, pantatnya kempis, tubuhnya kurus, dan bahkan pada satu titik rendah dalam kehidupannya, ia memangkas habis rambutnya sampai botak. Lola melakukan ini sebagai bentuk pemberontakan dan perlawanan terhadap ibu kandungnya, Belicia Cabral, yang membawa kutukan itu, fukú, dari ayah kandung yang tak pernah ia kenal, seorang profesor doktor dan akademisi terpandang bernama Abelard.

Membaca judul novel ini, The Brief Wondrous Life of Oscar Wao, saya mengira cerita akan berpusat pada tokoh utama bernama Oscar Wao, dan ia akan menjadi tokoh tunggal di mana seluruh plot bermula atau bermuara padanya. Ternyata saya keliru. The Brief Wondrous Life of Oscar Wao adalah kronik tentang sebuah keluarga. Lebih tepatnya lagi, kronik tentang sebuah keluarga Republik Dominika yang hidup di bawah rezim seorang diktator: Rafael Leónidas Trujillo Molina.

Rafael Leónidas Trujillo Molina, alias El Jefe, adalah politikus dan tentara yang kemudian memerintah Republik Dominika selama 31 tahun (kita juga punya sosok yang hampir sama dengan El Jefe yang memerintah Indonesia selama 31 tahun). Ia memegang tampuk tertinggi pemerintahan sejak 1930 hingga tewas dibunuh pada 1961. Junot Díaz mengambil rentang waktu ini untuk membangun plot cerita Oscar Wao dan keluarganya. Saya tidak tahu mana yang datang lebih dulu ke kepala Díaz, gagasan tentang rezim Trujillo, atau kisah tentang Oscar. Saya pikir keduanya bisa saja datang di waktu yang bersamaan (tapi saya cenderung mengira gagasan tentang rezim El Jefe datang lebih dulu).

Satu hal yang sangat saya senangi dari Junot Díaz adalah penulis ini punya cara yang menyenangkan untuk menyampaikan informasi ‘berat’ tentang tragedi politik dan dunia sekitarnya. Dimulai dengan seorang karakter culun dengan serba-serbi kisah cintanya yang gagal dan membuat saya tertawa-tawa, Díaz sedikit demi sedikit menyeret saya masuk ke dalam sejarah kelam Republik Dominika. Semakin menyenangkan ketika menyadari bahwa saya tak sadar sedang diseret ke sana! Saya hanya tertarik dan tertawa-tawa mengikuti kelucuan kisah Oscar, kakaknya, lalu ibunya, sampai kakeknya dan di sana lah saya tak bisa lagi tertawa, sebab Díaz menunjukkan kekejaman dan kebrutalan El Jefe, dan betapa orang-orang yang hidup di Republik Dominika tak bisa berkutik selain menuruti keinginan sang diktator, sebab El Jefe mengisolasi negaranya dari dunia luar. Hidup Oscar dan keluarganya berada dalam cengkeraman kaki-tangan El Jefe, meski pada akhirnya, sebagai sebuah anomali besar, setiap anggota keluarga Oscar memiliki jiwa seorang pelawan, pemberontak, dan keinginan murni untuk hidup dan menangkal kutukan abadi itu. Seperti La Inca, tokoh nenek, si abuela yang percaya pada kekuatan doa-doa.

Zafa.


Saya kira, The Brief Wondrous Life of Oscar Wao adalah sebuah pesan tak langsung kepada kita bahwa hidup selalu perihal pertempuran antara fukú dan zafa, kutukan dan doa, nasib buruk dan niat baik, iblis dan malaikat, penjahat dan pahlawan. Satu-satunya perbedaan dari kedua hal yang terkadang bisa menjadi sama kuat itu adalah, kutukan bisa datang dalam berbagai wujud, namun penangkalnya, zafa, selalu sama, yakni niat baik, tekad kuat, dan ketulusan. Setiap orang mungkin saja memiliki kutukan dalam hidupnya, atau setidaknya yang ia anggap sebagai kutukan. Namun, sesungguhnya tak ada yang mendominasi dalam dunia sempit ini, di sebelah fukú, senantiasa berdiam zafa, menunggu dipanggil oleh hati yang jernih dan berharap. Maka, kita tahu, dengan kehadiran dua hal yang berkontraposisi itu, fukú dan zafa, dunia adalah sebuah arena pertempuran yang abadi. Tak pernah usai. ***

21 Oktober 2014

The Little Prince, Antoine de Saint-Exupéry




Buku yang baik, setidaknya menurut saya, adalah buku yang berlakon seperti kristal. Ia memiliki fragmen-fragmen, dan ketika dibaca dari sudut yang berbeda, maka ia akan memantulkan hal-hal yang berbeda pula. Buku yang baik juga seperti sebuah diorama, ia tampak beku, diam, dan tetap, namun jika kita melihatnya pertama kali saat berusia 5 tahun, dan melihatnya lagi saat kita sudah berusia 30 tahun, kita akan menemukan sesuatu yang baru, yang belum pernah kita lihat sebelumnya.

Sensasi semacam itulah yang saya rasakan saat membaca The Little Prince, karangan Antoine de Saint-Exupéry. Saint-Exupéry adalah pengarang berkebangsaan Perancis, salah satu yang paling diingat di antara penulis-penulis pada angkatannya, dan masih dikenang hingga sekarang karena buku dongeng semi-otobiografi yang terbit pasca kematiannya ini.

The Little Prince bercerita tentang seorang pilot yang terdampar di gurun pasir karena mesin pesawatnya rusak. Di ambang sadar dan tak sadar, ia mendengar suara seseorang yang memintanya menggambar seekor domba. “Draw me a sheep.” Si pilot celingukan karena tak melihat siapa yang berbicara. “Draw me a sheep.” Lagi-lagi terdengar, dan si pilot tak menemukan siapa-siapa. Lalu, ia melihat sesosok yang kecil, sangat kecil, dan ternyata suara itu berasal dari sana. Sosok itulah yang kemudian dipanggil si pilot sebagai The Little Prince.

Pangeran kecil yang misterius meminta si pilot menggambarkan seekor domba untuknya. Si pilot, tampak bingung, berkata kepada pangeran kecil bahwa ia tidak bisa lagi menggambar, karena bakat menggambarnya sudah dikandaskan saat ia masih berusia 6 tahun, oleh pendapat orang dewasa yang mengatakan bahwa gambarnya tidak betul dan aneh.

Saint-Exupéry membuka The Little Prince dengan sindiran untuk orang dewasa, melalui narasi di mana tokoh utama (si pilot) mengingat tentang masa kecilnya, ketika ia menggambar sesuatu yang dipandang orang dewasa sebagai sebuah topi, padahal ia tidak bermaksud menggambar sebuah topi, melainkan seekor gajah yang sedang berada di dalam perut ular boa. Orang dewasa tidak melihat bentuk ular boa dan gajah pada gambarnya, dan semenjak itulah ia merasa orang dewasa tidak bisa memahami apa-apa dan tidak memiliki daya imajinasi, dan hanya menyukai angka-angka.


Whenever I encountered a grown-up who seemed to me at all enlightened, I would experiment on him with my drawing Number One, which I have always kept. I wanted to see if he really understood anything. But he would answer, “That’s a hat.” Then I wouldn’t talk about boa constrictors or jungles or stars. I would put myself on his level and talk about bridge and golf and politics and neckties. And my grown-up was glad to know such a reasonable person.


Hal paling menyenangkan dari membaca dongeng adalah ia menyampaikan gagasan dengan tidak mendikte, melainkan menggunakan alegori. Begitulah semestinya sebuah cerita, dan begitulah semestinya seorang pencerita, tidak mendikte ataupun berkhotbah, melainkan menggunakan perumpamaan-perumpamaan dan perbandingan-perbandingan tanpa memaksakan kepada pembaca bahwa perumpamaan dan perbandingan tersebut harus dipahami dengan hanya satu cara, cara si penulis. Dalam menggunakan alegori, yang terpenting adalah bagaimana menunjukkan sesuatu, bukan mengatakan. Show, don’t tell. Kita tahu Si Kancil nakal bukan karena ada seseorang yang mengatakan bahwa dia nakal, melainkan kita diperlihatkan perbuatan-perbuatan Si Kancil, sehingga kita mengerti bahwa Si Kancil itu hewan yang nakal. Saint-Exupéry menuliskan petualangan kecil The Little Prince berkelana dari satu planet ke planet lainnya, bertemu dengan orang-orang yang tidak ia pahami, untuk menunjukkan betapa orang dewasa telah kehilangan kemampuan untuk menghargai hal-hal kecil yang bermakna.

Meski The Little Prince tampak seperti buku dongeng atau bacaan untuk anak-anak, sebetulnya buku ini adalah bacaan untuk orang dewasa. Bahkan, di bagian pengantar, Saint-Exupéry sendiri menuliskan ‘pengakuan’nya. Saya kira The Little Prince kurang-lebih seperti Animal Farm, dengan sifat-sifatnya yang seperti dongeng atau fabel, tetapi sebenarnya ditujukan untuk orang dewasa. Tentu saja anak-anak tetap dapat menikmati ceritanya sebagai sebuah dongeng petualangan yang agak sureal.

Saya pikir, butuh kemahiran dan daya fokus yang tinggi dari seorang pengarang untuk menulis sebuah buku yang memiliki bungkus anak-anak, namun kandungan isu tentang dan untuk orang dewasa. Cerita anak-anak adalah cerita yang ditulis hanya untuk anak-anak, dan cerita dewasa adalah cerita yang ditulis hanya untuk orang dewasa, tapi cerita yang bisa dibaca dan dinikmati sekaligus oleh anak-anak (sebagai dongeng) dan orang dewasa (konten dan isu sesungguhnya) adalah cerita yang dihasilkan melalui daya berpikir, teknik, dan kemampuan menulis tingkat tinggi. Setidaknya, saya berpikir demikian.

Kembali ke paragraf pertama dari catatan ini, tentang bagaimana saya menemukan hal lain setelah membaca ulang The Little Prince, meski tidak dalam selang waktu yang teramat jauh. Saya membaca The Little Prince pertama kali tanpa mengetahui riwayat hidup Saint-Exupéry, hanya membaca buku ini dengan apapun yang ada di dalamnya, di luar konteks dan keadaan zaman atau kehidupan pengarang ketika buku ini dituliskan. Yang saya temukan adalah seorang pilot terdampar di gurun, bertemu sosok misterius bertubuh mini yang berasal dari planet mini nun di dunia antah berantah (saya masih memikirkan kemungkinan si pilot mengalami halusinasi berat pasca kecelakaan tersebut), dan mereka pun berteman seiring si sosok misterius bertubuh mini itu menceritakan bagaimana perjalanannya hingga ia sampai di Bumi. Namun, ketika saya sedikit mencari riwayat Saint-Exupéry (1900-1944), bagaimana ia tumbuh besar dan menjadi penerbang pada usia ke-12, lalu tewas dalam sebuah tragedi kecelakaan pesawat pada usia ke-44, saya menemukan hal yang betul-betul berbeda ketika membaca ulang The Little Prince (sebagai informasi tambahan, The Little Prince diterbitkan posthumous, artinya manuskrip yang diterbitkan setelah pengarangnya meninggal).

Kecelakaan pesawat yang dialami oleh si tokoh utama sekaligus narator dalam The Little Prince benar-benar dialami oleh Saint-Exupéry. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1935, Saint-Exupéry jatuh bersama pesawat dan navigatornya André Prévot di gurun Sahara saat mencoba memecahkan rekor balap udara (mereka menyebutnya raid) dengan rute dari Paris ke Saigon, Vietnam. Sebelum akhirnya ditemukan, mereka terdampar selama empat hari, mengalami kelelahan, dehidrasi, dan berhalusinasi. Ini kemudian menjadi inspirasi The Little Prince.


Look at this landscape carefully to be sure of recognizing it, if you should travel to Africa someday, in the desert. And if you happen to pass by here, I beg you not to hurry past. Wait a little, just under the star! Then if a child comes to you, if he laughs, if he has golden hair, if he doesn’t answer your questions, you’ll realize who he is.



Itulah sebabnya mengapa saya mengira tokoh utama dalam The Little Prince mengalami halusinasi. Kalaupun The Little Prince benar-benar produk halusinasi, ini adalah halusinasi yang sangat bermanfaat, karena menjadi sebuah dongeng yang dibaca oleh jutaan orang, dan dimaknai berbeda oleh setiap orang yang membacanya, sehingga membuat halusinasi Saint-Exupéry menjadi salah satu halusinasi paling penting sepanjang sejarah manusia. ***

20 Oktober 2014

Kafka on the Shore, Haruki Murakami





Saya pernah berkata kepada seseorang, dalam usaha membuat ia tertarik membaca novel pengarang yang sedang sangat saya gandrungi. Saya bilang kepadanya: Membaca Haruki Murakami itu harus sabar dan ikhlas, jangan memiliki prasangka dan dugaan-dugaan, juga tidak perlu menggotong-gotong wawasan luas yang sudah kamu miliki. Lepaskan ekspektasi dan apapun yang biasanya kau sematkan pada buku yang sedang kau baca, lepaskan itu semua, karena hanya dengan demikian kau bisa menikmati dan mendapatkan intisari dari tulisan-tulisan Murakami. Membaca novel-novel Murakami itu ibarat memasuki dunia yang benar-benar berbeda, sekaligus sebenarnya tidak sangat-sangat berbeda (ini biasanya hanya bisa dipahami jika telah menyampai separuh jalan cerita). Namun, sebelum mulai membaca, kita harus mengosongkan isi gelas, melepaskan prinsip-prinsip dan nilai-nilai dan ukuran-ukuran yang selalu kita pakai untuk mendakwa setiap buku yang pernah kita baca sebelumnya, karena niscaya nilai-nilai dan ukuran-ukuran itu tidak berlaku bagi novel-novel Murakami. Bukan karena novel-novel Murakami berada di atas ukuran-ukuran itu, melainkan semata-mata dunia fiksi Murakami adalah dunia kosong, terkadang membosankan, monoton, absurd, aneh, dan hanya dengan keikhlasan dan kesabaran yang bulat seseorang baru dapat memasuki dan menikmati dunianya.

Ocehan saya di atas berlaku pula untuk Kafka on the Shore. Salah satu novel Murakami yang cukup tebal ini (nyaris lima ratus halaman) juga hampir tak mungkin bisa dinikmati oleh pembaca yang tidak sabaran. Sebab, alih-alih merasakan kesenangan apalagi mendapatkan sesuatu, bisa jadi belum apa-apa novel tersebut sudah dilempar ke kasur atau dikembalikan ke rak buku. Saya sendiri hampir melakukannya. Namun, saya berhasil menaklukkan perasaan untuk meletakkan kembali buku itu ke rak, meneruskan membaca, dan menyelesaikannya.

Murakami menulis Kafka on the Shore menggunakan teknik yang kurang lebih serupa dengan 1Q84. Novel yang nama tokoh utamanya diambil dari salah satu pengarang favorit Murakami ini ditulis dengan menggunakan model multi-plot, atau plot berganda. Jika Anda membaca 1Q84, maka Anda akan menemukan apa yang saya maksud. Di dalam 1Q84, ada dua plot utama: Tengo dan Aomame, ditambah satu plot ekstra di akhir buku yakni Ushikawa. Ketiga plot tersebut berjalan secara paralel. Tengo, Aomame, dan Ushikawa bergerak di jalur masing-masing, menghadapi permasalahannya sendiri-sendiri, tidak (atau lebih tepatnya, belum) bertemu, hingga pada satu titik akhirnya mereka melihat satu sama lain. Dua plot utama 1Q84, yakni plot milik Tengo dan Aomame, justru benar-benar baru bersilang di akhir cerita. Di dalam Kafka on the Shore, juga terdapat tiga plot berbeda yang berjalan secara paralel: yang pertama plot milik si tokoh utama, anak laki-laki berusia 15 tahun bernama Kafka Tamura; plot milik seorang laki-laki berusia 52 tahun bernama Nakata, yang memiliki keterbelakangan mental dan mampu berbicara dengan kucing; dan plot di mana terjadi sebuah peristiwa, yang dituliskan dengan teknik reportase dan transkrip wawancara (belakangan baru terungkap bahwa plot ketiga ini menjadi dasar atau latar belakang kehidupan Nakata, si lelaki pencari kucing).

Diceritakan bahwa Kafka Tamura kabur dari rumah untuk menjauhi ayahnya dan menjadi seorang pemuda berusia 15 tahun yang tangguh dan bebas. Hanya bermodalkan tas berisi barang-barang yang ia ambil di kamar ayahnya dan uang secukupnya, Kafka memulai perjalanannya. Ia berkelana tanpa tahu arah: naik bus ke tujuan yang ia tidak tahu, pergi ke perpustakaan yang tak ia kenal, dan menginap di hotel hanya untuk kemudian meninggalkan hotel tersebut tanpa check-out maupun pemberitahuan.

Dalam perjalanannya itu, Kafka bertemu orang-orang asing, yang sedikit demi sedikit mengarahkannya kepada sebuah tujuan. Orang-orang asing ini, tentu saja, memiliki ‘keunikan’. Seperti lumrahnya cerita-cerita yang ditulis Murakami, selalu tokoh-tokohnya tampak absurd, ‘sakit’, atau sedikitnya bukan dari jenis manusia yang ‘lazim’. Sakura adalah gadis yang mengaku memiliki pacar dan hubungan yang stabil, namun memberikan ‘servis’ untuk Kafka saat pertama kali Kafka menginap di apartemennya, hanya karena merasa Kafka tampak kelelahan dan ia ingin melepaskan rasa lelah itu dari Kafka (ia menambahkan alasan bahwa Kafka terasa seperti saudaranya sendiri, apakah ini juga menjadi alasan ia memberikan ‘servis’ itu? Entahlah). Ayah Kafka alias Johnnie Walker, ia menangkapi kucing liar, menggorok leher mereka, membelah dada kucing-kucing itu dan memakan jantungnya, lalu menyusun kepala-kepala kucing yang telah mati di dalam kulkas. Oshima, penjaga perpustakaan pengidap hemofilia dan bias gender (Kafka selalu merujuknya dengan him, sebelum akhirnya ia mengetahui bahwa Oshima adalah seorang perempuan dengan kelainan hormon sehingga dadanya tidak tumbuh seperti perempuan). Miss Saeki, tentu tidak kalah ‘sakit’, ia mengalami trauma dan kehilangan yang teramat besar setelah kekasihnya tewas dalam sebuah demonstrasi mahasiswa di Jepang.

Lewat semesta yang magis, aneh, sering tak masuk akal, Murakami mengupas sisi-sisi gelap manusia: amarah, kebencian, rasa bersalah, dan hasrat seksual. Seperti pada cerita-ceritanya yang lain, tentu saja di Kafka on the Shore juga terdapat adegan-adegan seks, yang diceritakan dengan sangat-Murakami. Satu hal yang agak berbeda di Kafka on the Shore adalah Murakami tampak lebih humoris, lewat sindiran-sindiran dan dialog-dialog menyimpang dari karakter-karakter yang juga komikal, seperti Hoshino dan Colonel Sanders. Murakami pun terlihat berusaha lebih sering menyentuh isu peperangan dan isu-isu sosial lainnya, yang mana sebelumnya jarang ia sentuh (walaupun, yah, masih sebatas menyentuh).

Sulit untuk menikmati novel-novel Murakami jika tak bisa memahami letak keindahan sebuah absurditas. Belum lagi Murakami mengawinkan absurditas itu dengan sesuatu yang ‘magis’, untuk tidak menyebutnya cerita beraliran realisme magis. The Boy Named Crow adalah salah satu manifestasi absurditas tersebut. Pada awalnya menduga The Boy Named Crow benar-benar seorang anak laki-laki manusia, saya kemudian mengubah pendapat saya karena lama-kelamaan tokoh tersebut lebih tampak seperti bagian lain, katakanlah alter-ego, dari Kafka Tamura sendiri. Lebih jauh lagi, semakin sulit rasanya memahami Kafka on the Shore (dan cerita-cerita Murakami lainnya) ketika absurditas itu dikawinsilangkan dengan plot yang lambat dan berjalan paralel secara tidak terburu-buru (masing-masing plot benar-benar ‘menikmati’ waktunya), serta adegan-adegan yang tampak tidak masuk di akal.

Namun, toh, setidaknya saya masih mampu berusaha bersabar dan mulai menemukan ketertarikan pada Kafka on the Shore saat adegan kemunculan Johnnie Walker, dan mendapatkan fokus membaca lagi di halaman-halaman berikutnya. Absurditas, bagian-bagian yang sureal, dan lubang-lubang nalar di Kafka on the Shore yang saya lihat, entah mengapa tidak mengurangi sedikit pun kenikmatan membaca.


Di situ lah, saya kira, letak kehebatan Murakami. Dengan segala hal-hal aneh dan tak lazim yang ia tebarkan di sepanjang novelnya, ia bisa membuat saya tidak memedulikan lubang-lubang itu. Murakami menambal lubang-lubang itu dengan memberikan informasi yang cukup untuk membuat saya merasa lubang-lubang itu wajar-wajar saja, sehingga ketika saya melihat lubang-lubang dan keanehan-keanehan lain, saya tidak lagi memikirkannya. Tidak penting. Bagi saya, satu-satunya yang penting adalah saya, setelah memulai pembacaan dengan keikhlasan dan kesabaran, pada akhirnya dapat menikmati isi dan jalan cerita. Lagi-lagi, keikhlasan dan kesabaran adalah dua kunci dasar untuk menikmati novel-novel Murakami, baik itu Kafka on the Shore maupun yang lain. Tentu saja tidak semua orang harus bisa ikhlas dan sabar, tapi sejauh yang pernah saya alami, keikhlasan dan kesabaran selalu memberi sesuatu yang menyenangkan. ***

17 Oktober 2014

Gadis Pantai, Pramoedya Ananta Toer





Adalah hal yang penting bagi seorang pengarang, untuk tidak menghamburkan kata-kata. Setidaknya begitu yang saya pahami ketika selesai membaca Gadis Pantai, novel Pramoedya Ananta Toer. Kata pengantar novel ini mengatakan bahwa Gadis Pantai adalah bagian pertama dari trilogi yang tidak lengkap. Maksudnya tidak lengkap adalah, dua buku terakhir tidak pernah terbit, dikarenakan pencekalan oleh pemerintah pada zaman itu. Meski demikian, meski Gadis Pantai berdiri sendiri, menurut saya ia tidak kehilangan keistimewaannya.

Mengapa saya membuka catatan ini dengan sebuah pesan, untuk tidak menyebutnya peringatan, tentang bagaimana seharusnya seorang pengarang memperlakukan kata-kata? Karena hal itulah yang pertama kali saya tangkap saat membaca beberapa halaman awal Gadis Pantai.


Empatbelas tahun umurnya waktu itu. Kulit langsat. Tubuh kecil mungil. Mata agak sipit. Hidung ala kadarnya. Dan jadilah ia bunga kampung nelayan sepenggal pantai keresidenen Jepara Rembang.


Pram terlihat sangat efektif dalam menggambarkan sesuatu, atau menyampaikan sebuah gagasan. Begitu pula ketika ia melukiskan suasana sebuah adegan atau menunjukkan watak dan sosok karakter-karakternya. Ia tidak memerlukan tiga sampai empat paragraf hanya untuk memberitahukan kepada pembaca bahwa si tokoh utama adalah seorang gadis belia berusia 14 tahun yang manutan dan bernasib buruk, atau tokoh antagonisnya adalah pejabat pemerintah yang jahat dan ditakuti. Cukup beberapa kalimat pendek, gambaran gestur dan dialog yang khas, sosok-sosok dalam Gadis Pantai pun terekam sudah dengan jelas dalam kepala, melekat hingga akhir cerita, bahkan hingga setelahnya.

Contoh paling baik untuk menunjukkan hal ini, salah satunya adalah bagaimana Pram memasukkan satu ciri khas Bendoro Bupati, pejabat administrasi pemerintahan Belanda yang rencananya hendak menyunting Gadis Pantai, yang kemudian menjadi entrance scene yang teramat khas. Yakni bunyi selop.


“Bendoro sudah bangun,” kepala kampung memperingatkan.
Semua tegang menegakkan tubuh. Pendengaran tertuju pada sepasang selop yang berbunyi berat sayup terseret-seret di lantai. Bunyi kian mendekat dan akhirnya nyata terdengar: buuutt.


Bunyi selop Bendoro itu diletakkan Pram di beberapa tempat sepanjang pembukaan cerita, dan itu adalah ciri yang kecil dan mungkin terlewatkan, namun setidaknya di kepala saya ‘bunyi selop’ itu menjadi entrance scene si tokoh antagonis ini yang membuatnya memorable, mudah diingat. Hebatnya lagi, efek ‘bunyi selop’ ini memberikan efek khusus. Ketika membaca frasa ‘bunyi selop’ yang terseret-seret, saya langsung merasakan apa yang dirasakan oleh Gadis Pantai, ibu, bapak, dan pembantu si Bendoro: ketakutan. Padahal, si Bendoro tidak melakukan apa-apa, hanya melangkahkan kakinya. Namun, Pram membuat ‘bunyi selop’ itu menjadi satu efek bunyi yang memberikan kesan angker, dan pada satu waktu juga, entah bagaimana, memunculkan kesan bahwa si tokoh ini memiliki kekuasaan besar dan menjadi penanda ‘posisi’ tokoh tersebut dalam cerita, atau kehidupan Gadis Pantai.

Tidak hanya pada Gadis Pantai dan Bendoro, tokoh pendukung seperti ayahnya Gadis Pantai juga digambarkan wataknya dengan cara yang sangat efektif. Lagi-lagi, Pram tidak memerlukan deskripsi panjang lebar untuk memberi tahu kepada pembaca bagaimana sifat dan perangai ayah Gadis Pantai. Cukup dengan dialog yang sangat singkat seperti saya kutip di bawah ini, kita sudah mendapat bayangan yang cukup jelas tentang sosok tersebut.


“Sst. Jangan nangis, nak. Hari ini kau jadi istri orang kaya.”
Ia terisak-isak, tersedan, akhirnya melolong. Ia tak pernah merasa miskin dalam empat belas tahun ini.
Pemandangan pantai sepanjang jalan, tumbuhan laut yang jadi semak-semak, kadal-kadal laut yang bercanda-ria dan ketam pasir yang mondar-mandir bermandi matari, semua tak menarik hatinya. Irama telapak kuda tak terdengar olehnya. Ia mengangkat kepala sebentar waktu dokar berhenti dan bapaknya turun dari dokar depan, menghampirinya, dan: “Kau mau diam tidak?”


Kecenderungan mendeskripsikan sesuatu dengan panjang lebar, saya kira, adalah salah satu dari tujuh dosa pengarang (saya belum menentukan enam yang lain) yang hampir selalu saya temukan di buku-buku yang saya baca. Tentu saja, dapat dipastikan, saya juga pernah bahkan sering terjebak dalam kecenderungan yang sama. Sebagai pengarang, saya kerap merasa tidak yakin apakah pembaca sudah menangkap apa yang ingin saya gambarkan, sehingga saya merasa perlu menambah deskripsi lebih detail. Namun, alih-alih memberikan gambaran yang kian kuat, seringkali deskripsi panjang lebar tersebut malah membuat eneg dan capek.

Efektivitas dalam bercerita adalah kemampuan yang wajib dimiliki oleh seorang pengarang, jika tidak maka bukunya akan berisi ratusan halaman penuh hal-hal yang layak dilewatkan begitu saja, tidak perlu dibaca kalimat per kalimat. Cerita yang tidak disampaikan dengan efektif, akan membuat pembaca melakukan skimming (jika ia pembaca yang cepat maka ia bahkan tak membutuhkan sepuluh menit untuk menyelesaikan novel setebal dua ratus halaman) dan si pengarang pada akhirnya hanya dapat berharap buku yang ia tulis tidak menjadi bahan tuduhan para pencinta lingkungan perihal menyia-nyiakan pohon untuk sesuatu yang lebih sia-sia.

Gadis Pantai memberikan contoh yang baik saat kita berbicara tentang efektivitas. Tidak hanya saat menggambarkan suasana, profil, dan watak tokoh, namun Pram juga sangat efektif dalam menulis dialog. Ia tidak merasa perlu membubuhkan aksi pada setiap akhir kalimat sehingga membuat halaman-halaman novel penuh dengan “…katanya”, atau “…ujarnya” dan tentu saja membuat kegiatan membaca novel jadi tak jauh beda seperti mengalami siksaan lahir batin. Dialog-dialog Gadis Pantai dengan ayahnya, ibunya, Bendoro, mBok, kusir, Mardinah, dan tokoh-tokoh lain, dituliskan hanya karena memang dialog-dialog itu perlu untuk dituliskan, tanpa menambahkan hal-hal yang tidak perlu seperti aksi-aksi yang mengiringi kalimat-kalimat dialog tersebut. Hanya informasi penting, clue perihal watak tokoh, isi pikiran dan pandangan tokoh, yang dimasukkan Pram ke dalam dialog-dialog di adegan-adegan Gadis Pantai.


“Mas Nganten,” Mardinah berteriak, kemudian melompat turun dari dokar dan memburu. “Ke mana? Banyak ular di akar-akaran bakau di pantai tanpa penghuni begini.”

Tanpa memandang Mardinah Gadis Pantai berkata lemah, “Bukankah itu yang kau inginkan?”

“Duduk saja di dalam dokar.”
“Mungkin sekali kalau ada takdir, seekor ular gigit aku, dan kau bisa senang gantikan aku sebagai wanita utama.”
“Tidak mungkin.”
“Mengapa tidak mungkin.”
“Mas Nganten tahu sendiri sahaya cuma seorang janda.”
“Tapi kau wanita bukan?”
“Ah, Mas Nganten begitu lama di gedung tak juga mengerti para pembesar cuma mau terima wanita langsung dari tangan Gusti Allah.”
“Kau?”
“Sahaya bekas lelaki lain.”
“Lantas. Mengapa surat itu kau paksa-paksa padaku?”
“Ayolah, naik ke atas Mas Nganten.”
“Naiklah. Aku lebih suka bicara dengan kusir.”
“Bendoro akan marah.”
“Lebih enak buat kau kan?”
“Tidak enak buat sahaya naik ke atas, sedang Mas Nganten masih di bawah.”
“Kau sering membuat surat untuk orang lain?”
“Lantas, siapa yang mesti sahaya surati? Tetapi sahaya bisa menulis.”
“Apakah semua keturunan pembesar begitu?”
“Begitu bagaimana Mas Nganten?”
“Ya, begitu seperti iblis.”


Pram pun tidak ragu untuk ‘melompatkan’ adegan, ia tidak merasa harus menuliskan cerita dari hari ke hari. Dalam satu halaman Gadis Pantai, bisa terdapat dua adegan yang waktu terjadinya berselang satu minggu bahkan satu bulan. Perpindahan adegan itu dituliskan tanpa menggunakan ‘pemisah’, bahkan tampak seperti dua paragraf yang terjadi pada satu waktu, namun ternyata tidak. Pram melakukan perpindahan itu dengan halus sehingga membuat saya tidak rewel bertanya-tanya apa yang terjadi pada kehidupan si tokoh di selang waktu yang ‘bolong’ itu. Informasi diberikan dengan baik dan lubang-lubang pada plot pun ‘tertambal’ dengan rapi.


Di catatan lain tentang novel Pram, saya sempat menuliskan bahwa jika ada orang yang bertanya bagaimana contoh novel yang bagus, saya akan tanpa ragu menjawab Bumi Manusia. Membaca Gadis Pantai menguatkan keyakinan itu, bahwa Pram memang pengarang ‘paket komplit’, ia tidak hanya memiliki isu yang ‘besar’, namun juga kemampuan, teknik menulis yang mumpuni. Pram memiliki konteks, dan tidak lupa bahwa menulis adalah sebuah keterampilan, dan sebuah keterampilan hanya dapat dibuktikan dari seberapa terampil si pengarang menuturkan ceritanya. ***