31 Desember 2014

novel terbaru saya



REVIEW:

Review oleh Hany Nurulhadi: "Surat untuk Ruth, Bernard Batubara"
Review oleh Anggrek Lestari: "Periodisasi Luka yang Pura-pura Terlupa"
Review oleh Friska Yulianti: "Seuntai Kata untuk yang Terkasih"
Review oleh Herlambang Adhytia: "Surat untuk Ruth"
Review oleh Indah Ayu Sartika: "Review Surat untuk Ruth"
Review oleh Viera Ajeng: "Review Surat untuk Ruth"
Review oleh Ayu Setioardi: "Review Surat untuk Ruth"
Review oleh Neni Safitri: "Review Surat untuk Ruth"
Review oleh Ve Handojo: "Surat untuk Ruth - Bernard Batubara"
Review oleh Amanda Sheila: "Review Anak Muda: Surat untuk Ruth by Bernard Batubara"
Review oleh Atria Sartika: "Surat untuk Ruth"
Review oleh Cahaya Ramadhani: "Review: Surat untuk Ruth"
Review oleh Ni Putu Candra Dewi: "Surat untuk Ruth, Memoar Singkat dan Dekat"
Review oleh Margareta Mentari: "Surat untuk Ruth by Bernard Batubara"
Review oleh Sofi Meloni: "Review Surat untuk Ruth by Bernard Batubara"
Review oleh Dinoy Novita: "Dear Are, Surat untuk Ruth by Bernard Batubara"
Review oleh Irhamna: "Kenangan Itu Jahat dan Mengacaukan Segalanya"
Review oleh Winda Huhul: "Welcome June, Surat untuk Ruth"
Review oleh Ruri Alita: "Surat untuk Ruth, Review"
Review oleh Aziz Amin: "Review Surat untuk Ruth"
Review oleh Azure Sekai: "Surat untuk Ruth by Bernard Batubara"
Review oleh Cholis Hidayat: "Review Surat untuk Ruth"
Review oleh Andi N. A.: "Review Novel Surat untuk Ruth - Bernard Batubara"
Review oleh Intan F.: "Review Surat untuk Ruth"
Review oleh Elisa Fariesta: "Surat untuk Ruth, Bernard Batubara"
Review oleh Charlenne Kayla: "Are, Ini Surat Untukmu"

22 Juli 2014

Membaca Puisi Ketika Sakit



Tepat pada saat pemilihan umum presiden dan calon presiden pada tanggal 9 Juli lalu, yang juga bersamaan dengan hari ulang tahun saya ke seperempat abad, saya jatuh sakit. Dimulai dengan, saya duga, radang tenggorokan, dan berakhir dengan flu. Tidak sampai demam, tapi cukup mengganggu karena saya jadi tidak bersemangat untuk melakukan apapun. Saya terpaksa pergi ke rumah sakit (saya jarang sekali ke rumah sakit, untuk beberapa penyakit yang ringan saya lebih memilih untuk membiarkan waktu menyembuhkannya, atau membeli obat di apotek) dan mendapatkan resep empat macam jenis obat. Saya beristirahat di kamar dan malas melihat televisi, seperti biasanya. Satu-satunya hiburan saya adalah berselancar di dunia maya lewat laptop atau ponsel, namun kepala saya segera sakit kalau lama-lama melihat monitor. Akhirnya, untuk melewatkan waktu sendiri di kamar, saya membaca buku.
Karena merasa sedang tidak punya energi untuk membaca yang panjang-panjang, saya mengeluarkan novel dan kumpulan cerita pendek dari daftar buku yang ingin saya baca ketika sakit. Saya ingin membaca sesuatu yang singkat-singkat saja, yang tidak perlu memikirkan plot, menduga-duga twist atau letak kejutan di cerita, memikirkan motivasi tokoh, atau mengikuti kisah yang panjang. Atas pertimbangan dan kriteria-kriteria tersebut, saya mengambil buku puisi dari perpustakaan kamar kos saya.
Beberapa buku puisi yang saya ambil dari rak buku adalah: Ekaristi (Mario F. Lawi), Roman Semesta (Fitrawan Umar), Api Bawah Tanah (Raudal Tanjung Banua), Rusa Berbulu Merah (Ahda Imran), Malam Tanpa Ujung (Irwan Bajang), Kumpulan Sajak 1948-2005 (Sitor Situmorang), Selected and Last Poems 1931-2004 (Czesław Miłosz), dan Don Quixote (Goenawan Mohamad). Saya mengambil acak dan membaca buku-buku puisi tersebut, satu demi satu, dan menemukan beberapa hal yang ingin saya rekam lewat catatan ini.
Ekaristi, sebuah kumpulan puisi milik seorang penyair muda asal Kupang, Mario F. Lawi adalah salah satu buku puisi yang saya tunggu. Penyair ini, dalam dua tahun belakangan, namanya berseliweran di harian nasional. Membaca puisi-puisinya Mario F. Lawi seperti membaca injil, atau setidaknya respons terhadap injil. Mario banyak menggunakan jargon-jargon agama di dalam puisi-puisinya, termasuk kisah-kisah yang diceritakan dalam alkitab. Tidak heran karena, seperti yang ia kisahkan sendiri pada bagian pengantar Ekaristi, ia tumbuh di sekolah misionaris dan orangtuanya pun kerap menceritakan kisah-kisah dari kepercayaan yang mereka anut kepadanya. Saya cukup menikmati puisi-puisi Mario dalam Ekaristi, meski lebih sering saya seperti masuk ke dalam sebuah ruangan gelap, tanpa penerangan. Saya kira ini karena saya tidak akrab dengan ajaran Kristen dan dengan demikian sulit bagi saya untuk memasuki hutan dalam puisi-puisi Mario yang dipenuhi jargon-jargon dan kisah-kisah keagamaan. Tak kalah gelapnya saya rasakan ketika membaca puisi-puisi Goenawan Mohamad dalam Don Quixote. Alasannya mungkin karena saya belum membaca novel Don Quixote karya terkenal Miguel de Cervantes itu. Goenawan Mohamad menulis Don Quixote sebagai respons dan penafsirannya terhadap novel tersebut, dengan menambahkan unsur-unsur melankoli dan roman. Saya cukup menikmati bagaimana si penyair memilih dan merangkai kata-kata dalam puisi-puisinya, dibantu dengan ilustrasi dan tata letak yang unik, puisi-puisi dalam buku Don Quixote memberikan efek tersendiri. Jarang sekali buku puisi penyair Indonesia yang berani bermain dengan tipografi, dan lebih sering mempertahankan bentuk tata letak konvensional alias tidak bermain bentuk sama sekali.
Roman Semesta karya Fitrawan Umar dan Malam Tanpa Ujung milik Irwan Bajang, sebaliknya, membawakan kepada saya sebuah kesederhanaan. Membaca puisi-puisi Fitrawan dan Irwan seperti masuk ke ruangan dengan pencahayaan cukup, sehingga saya dapat melihat apa yang berada di dalamnya. Meski tetap ada satu-dua elemen yang tidak saya mengerti. Itu bukan masalah. Di situlah saya kira keasyikan membaca puisi, saya tidak perlu mengerti isinya untuk dapat menikmatinya.
Saya lebih bisa merasakan keterikatan pada puisi-puisi Raudal Tanjung Banua dalam bukunya Api Bawah Tanah. Di sana, ia berkisah tentang perjalanan. Saya merasakan sebuah koneksi pada tahap kesamaan dengan Raudal sebagai anak rantau. Anak rantau, saya kira, nyaris selalu menggelisahkan satu hal: pulang. Perjalanan pergi dan kembali, tempat-tempat persinggahan, kebimbangan, rumah, nostalgia, perubahan, kerinduan, adalah hal-hal yang saya temukan di puisi-puisi Raudal. Kebanyakan ia menulis puisi seperti berdongeng, dalam larik-larik singkat namun panjang. Pada puisi-puisi yang pendek dengan bentuk seperti haiku atau tidak, Raudal kehilangan kekuatannya. Sepertinya ia memang lebih cocok menulis puisi-puisi yang panjang dan ‘mendongeng’. Jika Raudal dala Api Bawah Tanah berkisah tentang kampung halaman atau tempat asal, Rusa Berbulu Merah milik Ahda Imran banyak bercerita tentang kota di mana ia tinggal. Memori dan pertemuan-pertemuan adalah hal yang banyak muncul dalam puisi-puisinya.
Buku puisi Sitor Situmorang dan Czesław Miłosz yang saya baca adalah buku yang memuat karya-karya penyairnya dalam rentang waktu sangat panjang, mungkin seluruh usia kepenyairan mereka. Dalam kumpulan puisinya pada rentang 1948-2005, saya mendapat satu kesimpulan tentang puisi-puisi Sitor Situmorang: ia mudah terpengaruh oleh teman-temannya sesama penyair, kota tempat ia tinggal, dan orang-orang yang (mungkin) ia idolakan. Ini terlihat dari banyaknya puisi yang ia tulis dengan judul-judul nama tempat atau kota. Sitor sering sekali menulis puisi-puisi tribute, untuk Chairil Anwar, misalnya, dan orang-orang lain dalam kehidupannya. Ia seolah-olah tidak pernah menulis untuk dirinya sendiri. Dan saya kira ia adalah seorang penyair yang sangat produktif pada masanya, karena jumlah puisinya yang terbilang banyak (ini tentu saja relatif). Czesław Miłosz adalah penyair asal Polandia pertama yang saya baca puisi-puisinya. Saya lebih akrab dengan nama Wysława Szymborska, namun justru belum pernah membaca puisinya (sulit sekali menemukan buku puisi karya penyair luar Indonesia, bahkan di toko buku bekas sekalipun). Dari puisi-puisinya yang saya baca, saya melihat Czesław Miłosz kerap menunjukkan kegelisahannya terhadap Tuhan, kehidupan, dan kematian. Ia juga menulis beberapa puisi tentang kota tempat ia tinggal dan puisi-puisi ‘memoir’ untuk orang-orang dalam kehidupannya. Namun yang paling saya ingat dari puisi-puisinya adalah kegelisahannya pada keberadaan Tuhan. Terlihat pada salah satu puisinya berjudul If There Is No God (If there is no God / Not everything is permitted to man / He is still his brother’s keeper / And he is not permitted to sadden his brother / By saying that there is no God //).
Seorang penyair Indonesia pernah bercerita bahwa suatu kali, penyair W. S. Rendra jatuh sakit pada hari di mana ia harus memenuhi undangan untuk membacakan puisi di sebuah acara. Rendra, pada akhirnya, tetap memenuhi undangan tersebut, dan mendeklamasikan puisi-puisinya. Selesai membaca puisi, Rendra mengaku tiba-tiba saja ia merasa baikan, tidak sakit lagi. Ternyata, membaca puisi baginya dapat menjadi obat, penyembuh. Mungkin seperti seorang penyanyi yang melupakan sakitnya ketika ia sedang beraksi di atas panggung, atau pelukis yang tidak ingat ia sedang demam saat asyik menggoreskan kuas di kanvas. Tenggelam dalam hal-hal yang kita kerjakan dengan rasa senang memang dapat membuat kita terdistraksi dari hal-hal lain, termasuk penyakit yang tengah kita derita. Saya kira itu yang dialami oleh Rendra.
Apakah itu terjadi juga pada saya? Apakah saya mendadak sembuh setelah membaca buku-buku puisi yang saya sebutkan tadi? Ternyata tidak. Tapi setidaknya dengan membaca puisi ketika sakit, saya merasa mendapatkan dunia kecil yang tidak perlu saya pahami. Di sanalah, bagi saya, letak kesenangan membaca puisi. Saya tidak perlu paham dan sepenuhnya mengerti. Ketika sakit saya tidak ingin berusaha untuk mengerti apapun. Saya hanya ingin berbaring di tempat tidur dan membaca sesuatu yang dapat saya nikmati. Apakah kamu bisa menikmati sesuatu tanpa harus memahami sesuatu tersebut? Kalau iya, bersyukurlah, karena banyak dari keindahan di dunia ini yang tidak bisa kamu pahami, hanya bisa kamu nikmati. Tapi, kalau kamu termasuk orang-orang yang harus mengerti sesuatu untuk menikmatinya, maka siapkanlah pisau bedahmu untuk menguliti keindahan-keindahan itu, temukan intisari dan pengertiannya. Jangan heran kalau nanti setelah mencoba menguliti dan memahami, kamu justru kehilangan waktu untuk menikmati keindahan itu. Apalagi jika yang sedang kamu kuliti adalah puisi, karena di dalam puisi terdapat keindahan yang tidak dapat dimengerti.
Selamat sibuk. Saya ingin tidur dulu. ***

13 Juli 2014

Tetralogi Buru Pramoedya dan Karya Fiksi yang Baik



Perkenalan pertama saya dengan Pramoedya Ananta Toer terjadi kira-kira setahun yang lalu, saat saya sedang mencari-cari buku di sebuah toko buku impor bekas di sudut Yogyakarta. Sudah lama mendengar namanya, namun saya belum pernah membaca karya-karyanya, satu pun. Orang-orang selalu membicarakan Pram, Pram, dan Pram, setiap kali muncul pembahasan tentang pengarang terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Saya pun sudah mengetahui bahwa Pram adalah satu-satunya pengarang Indonesia yang pernah dinominasikan untuk memenangi penghargaan Nobel Kesusastraan. Mengapa saya belum pernah membacanya? Karena saya tidak menemukan buku-bukunya. Mungkin karena saya tidak mencari. Atau mungkin karena saya sudah sempat melihat bukunya namun belum berminat membelinya. Ada banyak alasan yang bisa saya cari untuk sebuah buku yang tidak saya beli. Sebaliknya, tidak perlu alasan apa-apa ketika pada akhirnya saya memutuskan untuk membeli sebuah buku.

Sejujurnya, alasan pertama saya pada saat itu belum membaca novel-novel Pram adalah karena bayang-bayang “berat” karya pengarang kelahiran Blora tersebut. Dari yang saya dengar, Pram menulis tentang sejarah. Bayang-bayang lugu saya tentang “sejarah” adalah sesuatu yang berat dan sulit dicerna. Apalagi ketika sempat saya melihat novel-novel Pram kebanyakan tebal-tebal. Sementara pada saat itu saya merasa sedang berada pada fase tidak mampu membaca buku-buku berat dan tebal.

Ternyata, ketakutan saya adalah kesalahpahaman belaka. Saat melihat novel-novel Pram di toko buku impor bekas tadi dan diawali dengan perbincangan bersama beberapa teman di sana yang sudah membaca novel Pram, akhirnya saya berkata pada diri sendiri, oke saya harus membeli novel-novel Pram dan membacanya. “Yang mana yang disebut dengan Tetralogi Buru?” tanya saya, karena saya memang tidak tahu novel-novel Pram mana saja yang termasuk Tetralogi Buru, sebab tidak ada novel Pram berjudul Tetralogi Buru. Setelah diberitahu, saya membungkus empat novel Pram dalam Tetralogi Buru: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca.

Hal pertama yang saya sadari ketika mulai membaca buku pertama Tetralogi Buru, Bumi Manusia, adalah: saya sudah sampai halaman keseratus! Saya tidak sadar tiba-tiba sudah membaca cukup jauh, padahal perasaan baru memulai belum lama. Poin pertama sebuah karya fiksi yang baik: pembaca tidak sadar sudah membaca banyak halaman. Artinya, narasi si penulis sangat mengalir, seperti aliran air di sungai yang jernih. Membacanya tak tersandung oleh batu-batu, hambatan-hambatan atau plot yang membuat dahi mengernyit karena kehilangan fokus atau bagian berlubang yang mengganggu. Cara bertutur Pram sangat mengalir. Saya hampir tidak percaya dengan dakwaan saya sendiri yang sebelumnya menuduh novel-novel Pram berat dan karena itu tidak nyaman dibaca.

Minke, si tokoh utama dalam Tetralogi Buru (kecuali yang terakhir, Rumah Kaca, karena di novel tersebut cerita berpindah ke sudut pandang Jacques Pangemanann sebagai tokoh utama, seorang anak bangsa berpendidikan Eropa yang bekerja pada pemerintah kolonial) adalah seorang pemuda dan pelajar yang terpesona dengan ilmu pengetahuan milik Eropa. Sementara bangsanya sendiri dijajah oleh Eropa. Belakangan Minke sadar, kekagumannya pada Eropa tidak semestinya membuat ia meninggalkan bangsanya, dan ia harus berpihak pada keberlangsungan hidup dan kemakmuran bangsanya sendiri, dan menentang penjajah. Indonesia melawan penjajah. Beberapa orang menyebut Pram tidak menulis tentang Indonesia, melainkan hanya Jawa. Bagaimanapun, Pram telah menuturkan dengan baik sebuah konflik besar pada zaman itu lewat karya fiksi. Ciri lain dari sebuah karya fiksi yang baik: ide yang besar, grandeur. Meskipun ini masih bisa diperdebatkan karena ide “kecil” pun tetap bisa menjadi karya baik jika ditulis dengan baik. Namun, yang ingin saya katakan adalah, sebuah karya fiksi yang baik adalah karya yang merekam dengan baik keadaan zamannya. Pram melakukan itu.

Dalam sebuah tetralogi, tentu saja akan ada banyak tokoh. Selain Minke, ada Jean Marais, Robert Surhoff, Robert Mellema, Herman Mellema, Darsam, Nyai Ontosoroh, Annelies, dan Jacques Pangemanann. Ketika Minke berbicara, saya melihat pikiran-pikiran dan mendengar suara Minke yang penasaran dan penuh rasa ingin tahu. Saat Nyai Ontosoroh muncul dalam sebuah adegan, saya melihat Nyai Ontosoroh dan mendengar suaranya yang terselubung aura magis dan kebijaksanaan, namun terselip perlawanan. Begitu Annelies muncul, saya melihat gerak-gerik manja dan sosok yang rapuh pada dirinya. Melihat Darsam, saya menyaksikan kegarangan dan kepatuhan seorang abdi. Berdiri di samping Pangemanann, saya melihat kebimbangan seseorang yang lama-lama melihat dirinya sendiri sebagai seorang pengkhianat bangsa. Pram? Pram lenyap dalam cerita, hanya terdengar suaranya sebagai narator, itu pun cuma samar-samar. Karya fiksi yang baik adalah karya fiksi yang suara penulisnya hilang, meninggalkan suara-suara tokoh di dalam cerita. Tentu kita sering membaca novel yang memiliki banyak tokoh, namun suara si pengarang kentara sekali terdengar dan terasa di semua tokoh tersebut. Ia tidak bisa melepaskan diri dari tokoh, dan tidak bisa membiarkan cerita berjalan “dengan sendirinya”. Ketika Nyai Ontosoroh muncul, ia adalah Nyai Ontosoroh, bukan Pram. Ketika Annelies muncul, gadis itu adalah Annelies, bukan Pram.

Sebuah roman sejarah, tentu saja menuntut data yang cukup. Bukan hal yang sulit bagi Pram karena ia hidup pada zaman tersebut. Namun, memiliki data yang mumpuni bukan satu-satunya solusi untuk menulis sebuah karya fiksi yang baik. Seorang pengarang tidak bisa begitu saja menjejalkan data-data itu ke dalam cerita, dan membuat pembaca jengah bahkan mual membacanya. Alih-alih sebuah karya fiksi, membaca cerita yang ditumpah-ruahi data justru seperti membaca buku teks pelajaran, dan bukan itu yang dicari oleh seorang pembaca karya fiksi. Hal ini tidak terjadi pada Tetralogi Buru. Keterangan-keterangan tentang VOC, pemerintah dan hukum kolonial, peristiwa-peristiwa bersejarah lengkap dengan tempat dan tahun terjadinya, disajikan oleh Pram dengan cara yang enak, hingga data-data tersebut menyatu dengan plot cerita. Saya sama sekali tidak jengah dan mual. Karya fiksi yang baik adalah karya fiksi yang tidak terbebani oleh hasil riset, melainkan hasil riset tersebut tetap digunakan dalam koridor yang sudah terpasang pada plot cerita. Ini artinya, seorang pengarang tidak diizinkan mempertunjukkan kepintaran dan memamerkan keluasan wawasannya dalam novel yang ia tulis. Setidaknya ini menurut saya.

Saya sering ditanya oleh beberapa orang teman: “Novel yang baik itu yang seperti apa sih?” Ketika mendapatkan pertanyaan seperti atau sejenis itu, saya tidak memerlukan waktu banyak untuk menyebut satu contoh, sebab hanya satu yang terlintas dalam kepala saya: Tetralogi Buru. Kenapa? Karena Tetralogi Buru memiliki semua syarat yang harus dipenuhi oleh sebuah karya fiksi yang baik. ***

11 Juli 2014

kepada diriku 25 tahun yang lalu


Yogyakarta, 11 Juli 2014
6:22 WIB



/1/

Hai,

Sebelum aku berkata apa-apa, aku akan memberitahumu bahwa surat ini akan kau tulis 25 tahun lagi, dan seharusnya kau tulis tepat ketika kau menginjak usiamu yang baru, seperempat abad. Namun, kau tidak bisa melakukannya karena pada malam pergantian itu kau sedang menghabiskan waktumu dengan seseorang yang lebih membahagiakan dan hal-hal yang lebih menyenangkan bagimu ketimbang menulis sebuah surat. Keesokan harinya, kau pergi ke rumah sakit dan tidur seharian di kamar. Maka, pada pagi hari, berselang dua tanggal setelah ulang tahunmu, barulah kau sempat menulis surat ini. Surat yang kau tulis untuk dirimu sendiri.

Berita bahagia pertama yang ingin kusampaikan dalam surat ini adalah, kau akan sampai pada usia 25. Itu kabar bagus, karena setidaknya kau tahu kau punya waktu 25 tahun untuk melakukan hal-hal yang kau inginkan. Apakah kau akan sampai pada usia ke-26? Aku tidak tahu, karena aku belum melewatinya. Tapi kau harus bersyukur dengan kabar ini.

Banyak peristiwa besar yang menyertai ulang tahunmu kali ini. Peristiwa itu terjadi di macam-macam tempat: di negaramu, di negara saudaramu, dan di dirimu sendiri.

Di negaramu, pada tanggal yang sama dengan ulang tahunmu yang ke-25, sedang terjadi sebuah peristiwa penting. Negaramu akan memiliki pemimpin yang baru. Semua orang menyampaikan dua hal: harapan dan ketakutan. Begitu kentara dua hal itu terlihat, setidaknya dari apa yang kau saksikan di dunia maya dan di pertemuanmu dengan beberapa teman atau kenalan.

(Ayahmu akan mengirimimu pesan singkat yang mendoakan keselamatan dan perlindunganmu dan ia menambahkan doa semoga kelak kau yang memimpin bangsa ini. Kau tidak pernah memiliki ambisi untuk menjadi presiden tapi kau tersenyum saja membaca pesan itu.)

Di negara saudaramu, hujan roket menghiasi langit dan kota, ledakan di mana-mana. Saudara-saudaramu bersimbah darah, terkapar di jalan-jalan. Perang itu tak usai-usainya. Tidak ada yang bisa kau lakukan untuk ini, selain berdoa demi keselamatan mereka yang teraniaya dan tak cukup berdaya untuk membalas.

Di dirimu sendiri, peristiwa besar itu mungkin luput kau lihat, tapi aku akan memberitahumu. Kau telah mengambil keputusan-keputusan besar. Itu bagus. Kau akhirnya bekerja untuk orang lain, sesuatu yang sebelumnya sangat kau hindari, karena kau merasa dirimu bukanlah orang yang cocok menerima perintah. Hal baiknya adalah, kau menemukan rekan kerja yang baik dan dapat membuatmu percaya.

Tapi tahukah kau apa peristiwa yang lebih besar dari itu? Kau memutuskan untuk mencintai seseorang lagi.


/2/

Jika ada satu hal yang kusuka darimu, itu adalah ketidaktakutanmu pada kegagalan. Kau tidak takut gagal. Namun, saat kau akhirnya terlahir ke dunia, kau sadar bahwa kau memiliki satu ketakutan. Kau takut tidak berbuat yang terbaik.

Maka, berita bahagia kedua yang ingin kusampaikan padamu adalah, kau akan tumbuh menjadi seseorang yang selalu berusaha untuk melakukan yang terbaik. Saat kau ingin mengerjakan sesuatu, maka kau akan mengerahkan seluruh kemampuanmu untuk itu. Kau tidak peduli akan jadi bagaimana hasilnya, namun kau tahu, kau tidak boleh memberikan hatimu setengah-setengah pada apapun yang sedang kau kerjakan.

Kau harus bersyukur punya orang tua yang sangat demokratis. Ayah dan ibumu (kau akan memanggil mereka dengan sebutan papa dan mama) tidak pernah melarangmu untuk melakukan hal-hal yang kau inginkan, tempat-tempat yang ingin kau datangi. Mereka hanya berkata kepadamu, jika kau yakin dengan apa yang kau pilih, maka jalanilah. Mereka memberikanmu kebebasan. Dan, kau pasti tahu, di semua tempat di dunia ini, kebebasan adalah anugerah.

Kau memiliki banyak keinginan, namun sepertinya yang paling kuat adalah kau ingin bisa menulis. Kau ingin menjadi penulis. Aku tidak akan mengatakan kepadamu apakah di usiamu yang seperempat abad ini kau sudah mencapai cita-citamu itu atau belum, karena sungguh aku sendiri pun belum tahu. Tapi yang jelas, kau akan menulis, dan kabar baiknya adalah kau masih menulis hingga saat ini (tentu saja surat ini adalah sebuah bukti).

Kabar baik lain dan yang kukira paling utama adalah, kau akan mencintai seseorang. Kau sudah mengalami patah hati beberapa kali, namun kau tidak pernah menyerah pada cinta. Kau tahu ketika seseorang memutuskan untuk mencintai, maka terluka adalah konsekuensi wajar yang harus diterima. Kau memahami itu. Kau tahu kau akan terluka, karena mustahil mencintai tanpa terluka. Dan setelah luka demi luka yang kau alami, kau tetap memilih untuk mencintai, karena kau tahu itu baik bagimu dan kau berharap itu juga baik bagi orang yang kau cintai.

(Perempuan itu memiliki inisial huruf ketujuh, angka bulan kelahiranmu. Ia akan memberikanmu kejutan dengan hadir secara tiba-tiba di kota tempat kau tinggal dan bekerja, sehari sebelum ulang tahunmu yang ke-25. Ia berkulit putih, berambut sebahu, mengenakan kacamata, dan sama sepertimu, ia suka membaca buku. Ia adalah orang yang kusebut pada paragraf pertama surat ini, yang menemanimu melewati malam pergantian dan kau belum pernah melewati malam pergantian bersama seseorang yang kau cintai. Maka, ia istimewa. Dan ia tersenyum saat kau berkata kepadanya bahwa ia istimewa.)


/3/

Aku tidak ingin memberikanmu kabar buruk karena memang sejauh yang kurasakan dan kualami, tidak ada kabar buruk dalam hidupmu. Belum pernah ada dan tidak akan pernah ada. Kabar buruk adalah kabar baik yang belum kita pahami maksudnya. Maka, kau akan lebih memilih untuk memberi waktu yang cukup bagi hal-hal kurang menyenangkan yang kau dapatkan dan mencoba untuk memahami apa kabar baik di balik peristiwa itu. Untungnya, meski kau tidak selalu menemukannya, kau tetap percaya bahwa setiap kejadian yang berlangsung di hidupmu pasti memiliki manfaat.

Jika dalam surat ini aku boleh memberikan beberapa pesan bagimu, aku akan mengatakan bahwa kau sudah melakukan yang terbaik dan akan selalu melakukan yang terbaik. Kau sudah memiliki yang terbaik. Ayahmu, ibumu, adik-adikmu (pada usia kedelapan, adikmu laki-laki yang paling bungsu akan mendahuluimu untuk naik ke surga, jangan bersedih karena ia pergi dengan senyuman), sahabat-sahabatmu, teman-temanmu, kekasihmu, semua adalah yang terbaik bagimu. Kau tidak perlu berharap mendapatkan yang lain dari apa yang sudah kau dapatkan. Kau mesti bersyukur.

Jangan cemas. Kau sering memenuhi kepalamu dengan kecemasan-kecemasan yang belum terjadi dan belum tentu akan terjadi. Kau terlalu memikirkan hal-hal yang begitu jauh hingga terkadang itu membuatmu kehilangan jejak pada apa yang kau miliki saat ini. Jalanilah satu hari demi satu hari. Jangan menghabiskan waktu dan tenagamu untuk membuat rencana-rencana. Hidup bukan serangkaian daftar yang harus kau penuhi. Kau hanya perlu menjalaninya dengan usaha terbaik.

Maka, aku akan mengakhiri surat ini dengan beberapa pesan singkat untukmu. Teruslah melakukan yang terbaik. Teruslah berbuat baik, kepada dirimu sendiri dan kepada orang lain. Dan, yang terpenting, jangan kehilangan kemampuan untuk mencintai.




Dengan cinta,



Dirimu 25 Tahun yang Akan Datang