20 Mei 2017

Selamat Datang

Buku terbaru Bernard Batubara

Bisikan Busuk adalah blog pribadi Bernard Batubara (Bara): penulis penuh-waktu, yang lahir 9 Juli 1989 di Pontianak, Kalimantan Barat; kini tinggal di Yogyakarta. Bara belajar menulis puisi, cerita pendek, dan novel sejak 2007. Buku-bukunya yang telah terbit: Angsa-Angsa Ketapang (2010), Radio Galau FM (2011), Kata Hati (2012), Milana (2013), Cinta. (2013), Surat untuk Ruth (2013), Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri (2014), dan Jika Aku Milikmu (2015). Radio Galau FM dan Kata Hati telah diadaptasi ke layar lebar. Buku terbarunya terbit Agustus 2016, kumpulan cerita Metafora Padma.

Detikhot: Bernard Batubara Umumkan Buku Terbaru. "Metafora Padma"
Bisnis Indonesia: Bernard Batubara Rilis Kumcer Berlatarbelakang Konflik 
Trivia: Buku "Metafora Padma" dan 7 Karya Bernard Batubara Lain yang Harus Kamu Baca

29 September 2016

Delusi (Atas) Tuhan, Richard Dawkins




Tidak sebelum memasuki usia seperempat abad saya memiliki ketertarikan untuk membaca buku-buku tentang agama, tuhan, atau ketuhanan. Buku pertama yang saya baca adalah Sejarah Tuhan, Karen Armstrong. Saya menyukainya. Pengantar yang bagus untuk memasuki percakapan-percakapan dengan tema seperti itu. Buku itu, secara ringkas, adalah kumpulan informasi mendasar dan umum soal sejarah tiga agama samawi-Yahudi, Kristen, Islam-juga kepercayaan lain yang muncul sebelum maupun sesudah kelahiran tiga agama itu (paganisme dan ateisme).

Buku berikutnya yang saya baca adalah The God Delusion, Richard Dawkins (judul yang dipakai penerbitnya masih berbahasa Inggris). Sama seperti buku Karen Armstrong, saya membaca buku ini dalam terjemahan bahasa Indonesia. Juga sama seperti Karen Armstrong, saya tidak punya pengetahuan awal tentang sosok Richard Dawkins. Saya mengetahui latar belakang pendidikan Dawkins dan siapa dirinya seiring membaca buku tersebut. Saya hanya tahu buku ini populer (dan belakangan baru tahu ternyata juga kontroversial).

Karena satu-satunya referensi yang saya punya akan buku bertema agama dan ketuhanan adalah Sejarah Tuhan, mau tidak mau saya sering membandingkan The God Delusion dengan buku itu, dan membangun ekspektasi saya berdasarkan buku itu. Saya mengira Richard Dawkins membahas tema serupa dalam lingkup yang sama dengan Karen Armstrong di Sejarah Tuhan, hanya menggunakan cara pembahasan yang berbeda. Tetapi, perkiraan ini keliru.

*

Richard Dawkins secara tegas menyatakan dirinya ateis dan mendorong orang-orang (setidaknya yang membaca bukunya) untuk meninggalkan agama. Dalam The God Delusion, Dawkins memaparkan argumen-argumen yang menyatakan bahwa keyakinan akan keberadaan Tuhan adalah sebentuk igauan (delusi). Tak ada alasan logis dan kuat untuk terus mempertahankan keyakinan akan adanya Tuhan.

Dalam mengatakan hal tersebut, Dawkins menggunakan teori evolusi Darwin. Ia mendekati permasalahan-permasalahan (yang ada dalam tubuh) agama dengan cara pandang Darwinian. Dawkins juga memaparkan alasan-alasan apa saja yang dipakai orang-orang berkeyakinan (believer) demi mendukung keyakinan Tuhan itu ada, dan apa yang menurut Dawkins sangat keliru tentang alasan-alasan itu.

Berbeda dengan Karen Armstrong yang meleburkan seluruh referensi teorinya ke dalam narasi yang enak dibaca, penjelasan Dawkins diselingi kutipan sumber lain di sana-sini. Kadang-kadang sulit melacak opini asli Dawkins karena kerap kali ia mengutip teori orang-orang lain sebagai pendukung maksudnya, tanpa berusaha memasukkannya ke dalam elaborasi yang mulus seperti Armstrong lakukan. Meski demikian, nada bicaranya yang keras dan tajam buat saya sangat menghibur, sehingga saya tetap bisa menyelesaikan seluruh buku tanpa macet.

*

Saya memasuki buku The God Delusion Dawkins sebagai pembaca dan pemeluk sebuah agama. Dalam hal ini, Islam. Sehingga saya setengah berharap Dawkins membahas Tuhan yang diyakini orang-orang Islam. Sayangnya untuk yang satu ini saya harus agak kecewa.

Dawkins sedikit sekali menyinggung agama Islam, saking sedikitnya hingga bisa dianggap tidak ada. Hampir seluruh isi The God Delusion ditulis Dawkins untuk orang-orang Kristen. Dawkins melontarkan kritik pedas terhadap keyakinan pemeluk agama Kristen, muatan injil, para pendeta, dan gereja sebagai institusi. Tentang Islam, Dawkins seakan sengaja menghindar untuk tidak menyentuhnya (kabarnya Dawkins takut, tapi saya belum mencari lebih jauh tentang ini)

Jadi, kadang-kadang seiring membaca, saya tidak merasa buku ini ditujukan buat saya. Berbeda dengan Sejarah Tuhan yang membahas cukup banyak soal Islam, baik itu sekilas sejarah Nabi Muhammad SAW dan Allah SWT-Tuhan dalam konsepsi orang-orang Islam-maupun muatan kitab sucinya: Al-Quran. Kritik Karen Armstrong mengena di pikiran saya sebagai seorang muslim. Sementara celaan dan sergahan Dawkins tidak sungguh-sungguh menyentuh batin saya, karena saya bukan orang Kristen.

Tetapi, pendapat-pendapat Dawkins tetap menarik bagi saya sebagai seorang believer, dan terus terang kebanyakan pendapatnya yang masuk akal. Saya kira, tujuan Dawkins menulis The God Delusion adalah untuk membuka “kesadaran” manusia-dalam bahasa Dawkins, menyingkap burka-menggunakan sains, demi memperlihatkan bahwa apa yang selama ini diyakini manusia sebagai Tuhan tidak lebih dari sebuah delusi. Lebih jauh lagi: bahwa manusia sebenarnya tidak butuh Tuhan (dan atau agama) untuk menjadi manusia baik dan menjalani kehidupan yang baik.

*

Salah satu bagian yang menarik bagi saya adalah ketika Dawkins berkata bahwa sebaiknya anak kecil tidak dicekoki orangtuanya hal-hal mengenai agamanya. Kira-kira begini bunyi bagian itu: “Seorang anak bukan anak Islam, atau anak Kristen, atau anak Yahudi, melainkan anak dari orangtua yang Islam, Kristen, atau Yahudi.” Menurut Dawkins, anak-anak tak selayaknya dibebani label agama sampai mereka dapat berpikir dan memilih untuk dirinya sendiri.

Saya tidak berniat bersepakat atau menentang pendapat-pendapat Dawkins di tulisan ini. Saya hanya ingin menggambarkan apa yang ditulis Dawkins di dalam bukunya. Bagi saya topik ini adalah pencarian panjang, yang belum tentu ada ujungnya, tetapi saya senang menjalaninya. Saya senang berbicara dengan orang yang punya ketertarikan serupa terhadap tema-tema agama dan ketuhanan. Tapi tidak di tulisan saya sendiri. Belum.

Ketika baca The God Delusion, saya teringat saat suatu hari mengunggah foto Sejarah Tuhan di Instagram. Seseorang semacam curhat di kolom komentar foto itu dan berkata bahwa temannya menuduh dia sudah berubah jadi ateis hanya karena temannya menemukan ia membaca buku tersebut. Saya sama sekali tidak merasa Sejarah Tuhan punya kemampuan mengubah seorang teis jadi ateis. Buku Dawkins lebih punya kekuatan untuk tujuan itu. Semata-mata karena dia terang-terangan mendorong pembacanya meninggalkan agama dan keyakinan terhadap Tuhan mereka, tak seperti Armstrong yang hanya memberi kronologi.

Kalau sudah pernah baca Sejarah Tuhan sebagai pengantar, The God Delusion bisa jadi bacaan lanjutan yang bagus. Tentu memasuki bukunya harus dengan santai. Kalau gampang tersulut, baru masuk pembukaan barangkali sudah tidak berselera lagi untuk melanjutkan sampai selesai. Rileks saja dan ikuti apa yang coba disampaikan Dawkins. Secara personal, saya menganggap The God Delusion buku yang penting dibaca, terutama bagi para teis (agnostik dan ateis kayaknya sudah tidak butuh baca ini lagi-tetapi Dawkins beberapa kali juga memberi kritik kepada rekan-rekannya yang ateis)

Alih-alih menjadi ateis, sebagaimana saya kira yang paling diharapkan Dawkins dari pembaca The God Delusion, saya malah jadi pengin baca buku-buku Biologi. Dulu, sebagai anak IPA, Biologi mata pelajaran yang paling saya sukai. Saya bahkan sempat mengikuti tes masuk universitas dan mengambil program studi MIPA Biologi. Hal yang paling menarik dari Biologi adalah, saya belajar tentang diri saya sendiri. Tubuh saya sendiri. Apa yang tampak dari luar sebagai sesuatu yang sederhana, ternyata di dalamnya begitu rumit dan hampir-hampir ajaib.


Kegemaran belajar Biologi itu membuat saya semakin lama semakin takjub pada siapapun (atau apapun) yang menciptakannya. Karena satu-satunya nama yang saya tahu adalah Tuhan, maka semakin lama belajar Biologi semakin saya kagum sama Tuhan. Rada-rada kontradiktif dengan harapannya Dawkins ya?

22 September 2016

Mencari yang Terbaik dalam Ketidakterbatasan



Saya berusia 12 tahun ketika pertama kali naksir seseorang. Teman satu sekolah. Saya menyukainya karena terbiasa melihatnya di kelas, kantin, dan lapangan. Ia tidak sangat cantik, tetapi pintar. Di usia 13 tahun, saya naksir adik kelas. Sayang sekali tidak sempat pacaran karena saya telat nembak. Waktu SMA, saya naksir beberapa kali dengan adik kelas, teman seangkatan, maupun kakak kelas. Semua berada di sekolah yang sama. Saya tidak punya referensi lain selain apa yang bisa saya lihat sehari-hari di sekolah.

Semua itu terjadi dalam kurun tahun 2001-2007. Saya hanya punya ponsel Nokia 8250, tanpa internet maupun media sosial. Tidak ada Facebook dan Twitter. Ada Friendster, tetapi saya bukan pengguna setia. Orang-orang yang saya taksir saya temukan di dunia nyata, di dalam ruang lingkup kegiatan sehari-hari: sekolah.

Pilihannya tentu saja terbatas, tetapi saya tidak memikirkan hal itu. Gadis-gadis idola di sekolah hampir pasti sudah ditaksir oleh teman-teman atau senior yang lebih tampan dan populer. Saya tidak masuk ke dalam dua kategori tersebut. Saya cowok biasa anggota ekskul kelompok debat bahasa Inggris, tidak bisa main basket dan bukan pengurus paskibra; tidak juga badass seperti anak-anak siswa pencinta alam. Saya tidak punya daya tawar untuk menggaet cewek-cewek cantik populer di sekolah. Praktis, jika pengin punya pacar, saya cuma bisa nekat cari perhatian ke mereka yang belum digaet senior. Ini membuat pilihan semakin terbatas.

Saya akhirnya punya pacar. Adik kelas yang konon menyukai saya ketika melihat saya menabuh triol saat pameran ekskul drum band. Kami pacaran tiga tahun.

*

Sepuluh tahun kemudian, empat mantan dan empat patah hati kemudian, benda asing bernama Internet dan media sosial yang kini tidak asing lagi dan menjadi kebutuhan primer manusia, telah mengubah seseorang yang tadinya hanya bisa naksir orang-orang di lingkup kegiatannya di dunia nyata-sekolah, kampus, kantor-menjadi seorang pengembara yang dapat menemukan cinta di mana pun ia ingin, tanpa terkekang batasan-batasan geografis.

Saya yang berada di Yogyakarta bisa jatuh hati pada seorang gadis berkacamata yang sedang membaca buku dan minum kopi di satu sudut coffee shop di Jakarta, atau seorang mahasiswi yang menunggu bus di sebuah halte di Jerman. Selama kami berada di dalam Internet, kami saling terkoneksi, lebih-lebih jika kanal-kanal media sosial kami saling terhubung. Praktis tidak ada batasan pencarian calon jodoh.

Perubahan seperti ini sangat membantu bagi seseorang seperti saya yang tidak punya ruang lingkup tertentu untuk bersosial dan berkegiatan. Saya penulis, tiap hari bekerja hanya dengan laptop dan bloknot; tanpa manusia. Saya tidak punya teman kantor sehingga mustahil bisa cinta lokasi. Seakan itu belum cukup parah, saya juga penyendiri. Saya punya banyak teman yang tinggal sekota tetapi jarang hangout. Sesekali mungkin, tetapi saya bukan jenis yang menghabiskan hari-harinya dalam sebuah kumpulan, baik itu untuk pekerjaan maupun bersuka-ria.

Dari mana saya bisa dapat pacar jika tidak pernah bertemu manusia di dunia nyata? Zaman digital menjawabnya: Internet dan media sosial, saudara-saudara.

*

Apakah dengan eksis di Twitter, Facebook, dan Tinder, otomatis seseorang bisa lebih mudah mendapatkan jodoh ketimbang ketika ia hidup di zaman ketika hal-hal itu belum ada? Jawabannya ternyata rada kontradiktif dengan kemungkinan-kemungkinan menyenangkan yang jejaring sosial tersebut tawarkan.

Jika kamu punya uang satu juta rupiah dan ingin membeli sepatu di sebuah toko yang hanya menyediakan dua jenis pasang sepatu yang keduanya seharga satu juta, kemungkinan kamu akan memilih satu dari mereka. Tetapi ketika kamu tahu bahwa ada toko lain, dalam jumlah sangat banyak hingga tidak terbatas, yang menyediakan sepatu seharga serupa dengan jenis-jenis lebih beragam lagi, kemungkinannya adalah kamu tidak akan buru-buru menyerahkan satu juta milikmu kepada toko pertama. Kamu menunggu kesempatan datang ke toko lain dan menemukan jenis yang lebih baik atau terbaik bagimu (atau seleramu).

Kesadaran bahwa ada pilihan lain di luar sana membuat kita tidak bisa dengan segera menentukan pilihan. Bahkan setelah kita merasa bahwa pilihan yang ada di hadapan kita sudah terbaik. Kita akan berpikir, “Jangan-jangan ada yang lebih terbaik lagi.” Jika benar terbukti demikian, bukankah kita telah menyia-nyiakan waktu bersama seseorang yang kita kira sudah terbaik padahal tidak lebih baik dari kemungkinan lain yang bisa kita dapatkan?

*

Sebagian dari kita barangkali akan merespons ilustrasi barusan dengan berkata: “Yang terbaik selalu ada, tetapi kita harus tahu kapan berhenti.” Pernyataan yang harus saya akui terdengar amat bijak, meskipun di sisi lain rada menjebak. Sikap seperti itulah yang memunculkan kasus-kasus di mana seseorang bertahan pada hubungan yang tidak membahagiakannya. Dia telah berhenti, pada yang ia kira sudah terbaik. Sementara akal pikirannya tahu persis dunia begitu luas dan di dalamnya ada terlalu banyak pilihan lebih baik yang, ia juga tahu, bisa dicapai.

Pilihan yang sempit membuat seseorang lebih mudah memilih. Pilihan yang tak terbatas membuat seseorang terjebak dalam kerangka berpikir bijaksana yang mengatakan kepadanya bahwa ia harus berhenti di satu orang, pada waktu yang sama menyadari bahwa ada lebih banyak pilihan yang bisa dan sangat mungkin diperoleh.

Lantas, apa yang harus kita lakukan?

Saya, sih, pragmatis saja. Seorang teman pernah berkata, jika sedang bergembira, zoom in kegembiraanmu dan nikmati detailnya, tetapi jika bersedih, zoom out dari kesedihanmu untuk melihat “gambar besar” yang telah dirancang sangat baik oleh Tuhan-dengan kata lain, diam-diam Tuhan sudah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagimu dan karenanya kamu tidak perlu bersedih.

Saya mengubah sedikit kerangka berpikir tersebut dengan meletakkannya pada konteks mencari jodoh di zaman digital. Hasilnya kira-kira begini: Jika sudah dan sedang punya pacar yang di dalam hubungan itu kamu berbahagia, maka nikmati detailnya dan lupakan bahwa mungkin ada seseorang di luar sana yang jauh jauh jauh lebih baik daripada pacarmu.

Namun, jika kamu bersedih karena baru saja putus atau ditolak oleh seseorang yang sangat kamu sukai, ingat bahwa di zaman Internet kamu tinggal log in ke Twitter atau Tinder untuk menemukan sosok yang, saya berani bertaruh segelas double shots iced shaken espresso atau lebih mahal lagi, lebih menarik dari orang yang dengan tega hati memutuskan atau menolak cintamu.

Dunia ini sempit sekaligus luas, luas tetapi sempit dalam pengertiannya masing-masing. Agar dapat menikmatinya, jadilah seorang Cancer yang fleksibel-untuk tidak menyebut plin-plan-sehingga bisa menyesuaikan pengaturan cara pandang terhadap dunia berdasarkan situasi-situasi tertentu yang sedang ia alami. Kalau takdir sudah sedemikian jahat tidak melahirkanmu sebagai Cancer, maka kamu masih bisa mengubah hidupmu jadi lebih baik, yakni dengan jatuh cinta kepada seorang Cancer.


***

15 September 2016

Mencungkil Peluru dan Bertahan Hidup




Ketika kamu mencintai seseorang, sulit membayangkan hidupmu tanpa dirinya. Di pikiranmu, hanya ada satu kehidupan, yakni kehidupan yang di dalamnya ada dia. Tidak ada versi lain. Tidak mungkin ada. Tetapi saya katakan dengan tegas: kamu bisa hidup tanpa orang yang kamu cintai.

Sebagai orang yang perasa, rasa-rasanya mustahil kalimat barusan terlontar dari mulut saya. Keterikatan emosional membuat saya benar-benar bergantung pada hubungan yang sedang saya miliki. Namun, pengalaman lima kali pacaran telah membuktikan bahwa betapapun saya berkata tidak bisa hidup tanpa seseorang yang sangat saya cintai, pada akhirnya saya bisa. Saya masih bernapas setelah kehilangan. Saya masih berkarya. Saya bahkan kembali berbahagia.

Seorang teman pernah berkata, ketika mencintai seseorang, kamu adalah budak. Kamu menjadi budak bagi perasaanmu sendiri. Bagi rasa takut kehilangan, yang membuatmu melakukan apapun yang diperlukan demi mempertahankan orang yang kamu cintai. Walau kamu tahu hubunganmu dengan dia tidak berkembang ke arah yang lebih baik, kamu tetap akan mempertahankannya, karena kamu takut kehilangan. Kamu tidak ingin membayangkan rasanya terbangun di pagi hari tanpa sapaan “Selamat pagi…” atau telepon dari seseorang yang bermakna bagimu.

*

Cinta membawa jebakan-jebakannya sendiri. Mereka bilang kamu tidak boleh melepaskan seseorang yang mencintaimu dan kamu cintai. Benarkah begitu? Apa mereka tahu bahwa dua orang bisa saling mencintai dan melukai sekaligus? Bagaimana dengan cinta dan hubungan yang seperti itu, apakah kita tetap harus mempertahankannya? Kalau iya, untuk berapa lama? Seumur hidup?

Bagi saya, sebuah hubungan (relationship) sama seperti kehidupan itu sendiri, harus tumbuh dan berkembang. Mulai dari bibit, tunas, berbatang, berbunga, dan berbuah. Setelah berbuah, ia tetap tumbuh: memperkuat batang, memperdalam akar, melebatkan daun-daun, dan menyuburkan bunga-bunga dan buahnya. Tak boleh stagnan. Hubungan yang stagnan seperti tanaman yang gagal berkembang. Mencintai seseorang saja sudah tindakan gila. Mempertahankan hubungan yang stagnan, itu lebih gila.

Contoh hubungan yang stagnan: masalah serupa muncul berulangkali. Bahkan keledai hanya jatuh dua kali di satu lubang (pada beberapa keledai lain mungkin lebih). Tentu saya tidak ingin menjadi keledai dan punya hubungan yang seperti keledai. Saya ingin berada dalam hubungan yang, jikapun ada masalah (dan pasti ada masalah; hubungan yang tak ada masalah bukanlah sebuah hubungan) selalu berbeda dari waktu ke waktu, dan lebih esensial.

Kata Agnes Monica, cinta kadang-kadang tak pakai logika. Amin. Tapi, pada suatu titik saya akan mengambil lagi otak yang saya tinggal di dalam lemari pakaian, dan menimbang-nimbang apakah cinta ini masih layak dipertahankan? Apakah hubungan dengan pacar saya ini masih bertumbuh dan berkembang? Ataukah sudah mentok dan berputar-putar lagi di masalah yang itu-itu saja? Apakah kami berdua bisa tidak lebih saling menyakiti lagi di masa depan?

*

Hubungan terakhir saya bertahan dua setengah tahun. Dia perempuan luar biasa dan menyenangkan. Dia senang membaca buku, gemar menulis, menyukai sastra sebagaimana diri saya. Dia seperti anak kecil yang manja, manis, menggemaskan di waktu-waktu tertentu, dan menjadi perempuan dewasa bijak dan tenang di waktu-waktu lain. Dia Scorpio, memahami sepenuhnya sifat sensitif dan tingkah aneh seorang Cancer seperti saya. Hanya dia yang mengerti cara saya berpikir, dan hanya dia yang tertawa pada lawakan-lawakan absurd saya.

Saya sangat mencintainya sebagaimana dia mencintai saya.

Tetapi saya tetap harus melepaskannya, sebagaimana dia melepaskan saya.

“Kamu bisa mencintai sesuatu dan tetap harus membiarkannya pergi.” Itu dialog seorang figuran dalam cerita pendek seorang penulis Israel yang saya sukai. Saya termenung membaca kalimat itu. Ternyata cinta tidak memberi legitimasi pada kita untuk terus-terusan mempertahankan seseorang, sehingga pertanyaan aneh seperti: “Kok kalian putus? Kan, masih sayang.” harusnya masuk ke dalam kitab daftar hal-hal usang yang tidak relevan, sejenis dengan pertanyaan kapan kawin.

Mencintai adalah satu hal, berada dalam relationship hal lain. Kamu tidak bisa cuma bermodal cinta untuk punya hubungan langgeng sampai mati. Saya cinta pacar saya, tetapi saya tidak bisa menghindari hal-hal yang melukainya. Begitu pula dengan dia. Pada awalnya kami masih percaya diri bisa menangani masalah ini. Tetapi selalu ada akhir bagi sesuatu, termasuk daya tahan dan kesabaran.

Mencintai seseorang sembari terus-terusan melukainya adalah bentuk terburuk dari cinta. Kamu bisa berada di posisi keduanya: yang dilukai atau melukai. Saya, barangkali, mengambil peran yang terakhir. Saya tidak bisa melihat pacar saya bersedih karena saya tidak mampu mengontrol pikiran-pikiran saya. Saya tidak ingin memerangkapnya dengan asumsi-asumsi dan ketakutan saya sendiri. Saya tidak mau menarik kakinya, apalagi mematahkan sayapnya yang sedang terbang ke tempat-tempat yang lebih jauh dan dia inginkan.

Saya ingin dia terus terbang tinggi, tetapi barangkali lebih baik jika dia terbang tanpa saya.

*

Penting bagi saya mengambil waktu untuk merenungi hubungan yang sedang saya miliki. Salah satu pertanyaan yang akan saya ajukan ke diri sendiri adalah: apakah saya menghambat ia bertumbuh? Jika ya, barangkali saatnya menguatkan hati dan melepaskannya pergi. Mungkin jatah perjalanan saya dengannya sampai di sini saja. Tentu saja pertanyaan tadi bisa dibalik. Apakah dia menghambatmu bertumbuh?

Ada banyak keputusan berat yang harus diambil sepanjang hidup, salah satu dari yang paling berat adalah melepaskan seseorang yang kamu kira sudah terbaik. Kamu tidak bisa membayangkan ada orang yang lebih memahami ambisi dan mimpi-mimpimu sekaligus terhibur oleh lawakan-lawakanmu yang garing. Tidak ada orang yang lebih bisa menggila, membicarakan hal remeh-temeh, sekaligus mendiskusikan makna kehidupan selama berjam-jam di telepon denganmu.

Namun, saat keputusan harus diambil, jadilah orang berani. Tentu saja rasanya sakit. Hanya orang bodoh atau punya kelainan fungsi saraf-saraf sensorik yang bisa bilang putus cinta dan patah hati rasanya biasa saja. Kamu tidak akan baik-baik saja. Kamu akan bersedih ketika genggamanmu pada akhirnya harus kamu kendurkan, dan lepaskan. Tetapi untuk sembuh, peluru di paha prajurit harus dicungkil besi panas dan kaki yang terkena ranjau musti diamputasi.

Tidak ada yang lebih melegakan daripada membuang racun di tubuhmu. Kamu juga harus paham jangan-jangan kamu yang jadi racun bagi dia. Jika kamu telah menyadarinya dengan baik, jangan berlama-lama. Segera lepaskan. Kamu tidak berhak memerangkap seseorang yang kamu cintai dalam hubungan yang tidak membuatnya bertumbuh, begitu pula sebaliknya.

Seperti seorang prajurit yang tubuhnya bersarang belasan peluru, kamu akan tetap hidup setelah peluru-peluru itu dicungkil dan dibuang. Sakit, hampir mau mati, bahkan kamu berharap nyawamu dicabut-tetapi kamu akan bertahan. Kamu akan melihat kehidupan lain yang di dalamnya tidak ada orang yang kamu cintai. Kehidupan dalam bentuk yang sedikit berbeda. Kehidupan yang jangan-jangan lebih indah dan lebih baik bagimu, juga bagi dia.


***

6 September 2016

Tidak Benar-Benar Sendirian (Etgar Keret)

Diterjemahkan dari buku Suddenly, A Knock on the Door

*

Tiga laki-laki yang pacaran dengannya pernah mencoba bunuh diri. Ketika menceritakan hal tersebut, ia terdengar sedih, tetapi juga agak bangga. Satu dari mereka bahkan berhasil melakukannya: melompat dari atap gedung fakultas humaniora. Tubuhnya ambyar tak keruan, walaupun jika dilihat dari agak jauh dia tampak utuh, bahkan sepertinya mati dengan tenang. Ia tidak ke kampus di hari pemuda itu mati. Teman-temannya yang memberi kabar.

Kadang-kadang, saat ia sedang di rumah sendirian, ia bisa merasakan kehadiran pemuda itu; di ruang tamu bersamanya, memperhatikannya. Ketika itu terjadi, mula-mula ia merasa agak takut, tetapi ia senang. Karena ia tahu bahwa ia tidak benar-benar sendirian.

Aku? Oh, ia sangat menyukaiku. Suka, tetapi tidak tertarik. Dan hal itu membuatnya sedih, seperti aku yang bahkan merasa lebih sedih. Karena ia sangat ingin tertarik dengan orang sepertiku. Seseorang yang pintar, santun, dan sungguh-sungguh mencintainya.

Setahun ini ia punya affair dengan pedagang barang seni yang usianya lebih tua. Laki-laki itu sudah menikah dan sama sekali tidak berencana cerai dari istrinya. Kepada laki-laki itulah, ia tertarik. Jahat sekali. Jahat bagiku dan jahat baginya.

Hidup akan lebih simpel andai saja ia tertarik padaku.

*

Ia mengizinkanku menyentuhnya. Kadang-kadang kalau punggungnya sakit, ia bahkan memintaku melakukannya. Saat aku memijatnya ia akan memejam dan tersenyum. “Enak,” ia bilang, “enak banget.”

Sekali waktu, kami bahkan bercinta. Usai merenunginya, ia bilang itu kesalahan. Sebagian dari dirinya terlalu menginginkan hubungan kami berhasil sehingga ia tidak berpikir panjang. Tetapi wangiku, tubuhku, sesuatu di antara kami tidak bisa klop. Ia sudah empat tahun kuliah psikologi dan tetap tak bisa menjelaskan apa yang terjadi. Pikirannya menginginkanku, tetapi tubuhnya enggan.

Memikirkan momen bercinta kami malam itu membuatnya sedih. Banyak hal yang membuatnya sedih. Ia masih seperti kanak-kanak. Hampir seluruh masa kecilnya ia lalui sendirian. Ayahnya sakit, sekarat, lalu meninggal. Ia tidak punya abang yang bisa mengerti dirinya, yang bisa mengemongnya. Aku satu-satunya yang bisa ia anggap abang. Aku, dan Kuti; itu nama laki-laki yang lompat dari gedung fakultas  humaniora.

*

Ia bisa mengobrol selama berjam-jam denganku tentang apapun. Ia bisa tidur denganku, melihatku tanpa pakaian, dan berada di sekitarku tanpa pakaiannya. Tidak ada hal apapun di antara kami yang membuatnya malu. Bahkan ketika aku masturbasi di sampingnya. Walaupun meninggalkan noda di seprei, dan itu membuatnya sedih. Sedih karena ia tak bisa mencintaiku, tetapi jika hal tersebut bisa membuatku merasa baikan, ia rela membersihkan noda itu.

Sebelum ayahnya wafat, mereka berdua sangat dekat. Ia dan Kuti juga dekat. Kuti jatuh cinta padanya. Aku satu-satunya orang yang dekat dengannya yang masih hidup. Namun, pada akhirnya aku mulai kencan dengan gadis lain, dan ia kembali sendiri. Ia tahu, ini pasti terjadi. Dan ketika betul-betul terjadi, ia bersedih. Sedih pada dirinya sendiri, tetapi juga bahagia untukku karena aku menemukan cinta.

Saat aku keluar, ia mengusap wajahku dan berkata bahwa meskipun ia merasa sedih, ia juga tersanjung. Tersanjung, karena di antara seluruh perempuan yang ada di dunia, ia satu-satunya yang aku bayangkan ketika aku masturbasi.

*

Pedagang barang seni yang tidur dengannya juga, dia lebih pendek dariku dan berbulu lebat. Entah di mana menariknya. Dia tentara Netanyahu, dan berteman dengannya. Benar-benar berteman. Kadang, saat dia mengunjungi pacarku, dia bilang kepada istrinya bahwa ia pergi ke tempat Bibi-Netanyahu itu sendiri.

Suatu hari, ia tidak sengaja bertemu laki-laki itu bersama istrinya di mal. Jarak mereka cuma beberapa langkah. Ia tersenyum kepada laki-laki itu; senyum tipis dan diam-diam. Laki-laki itu mengabaikannya; melihatnya tetapi seperti tidak melihat apa-apa. Seakan-akan ia hanya udara kosong.

Ia mengerti laki-laki itu tidak bisa membalas senyumnya atau menyapanya karena istrinya ada di sana, tetapi tetap saja rasanya menyakitkan. Ia berdiri sendirian di sebelah telepon umum dan mulai menangis.

Malamnya adalah malam ketika kami bercinta untuk kali pertama. Usai merenunginya, ia bilang itu kesalahan.

*

Empat laki-laki yang pacaran dengannya pernah mencoba bunuh diri. Dua dari mereka bahkan berhasil melakukannya. Keduanya adalah laki-laki yang paling ia pedulikan. Mereka dekat dengannya, sangat dekat, seperti abang kandung.


Kadang-kadang, saat ia sedang di rumah sendirian, ia bisa merasakan kehadiran kami; di ruang tamu bersamanya, memperhatikannya. Ketika itu terjadi, mula-mula ia merasa agak takut, tetapi ia senang. Karena ia tahu bahwa ia tidak benar-benar sendirian.

31 Agustus 2016

Lomba Review Metafora Padma



Info terbaru: Lomba ini sudah ditutup. Pemenang sudah diumumkan di Twitter Bara.

Jangan lupa untuk rate dan review Metafora Padma di Goodreads.

29 Agustus 2016

The Corpse Exhibition, Hassan Blasim




Saya pernah melihat prosesi leher seseorang digorok sampai putus. Waktu itu saya sekolah tahun kedua SMA. Suatu siang, sepupu saya yang gemar menonton dan mengoleksi video-video brutal dan sadis kategori not safe for work, memberi saya satu video. Saya pikir video apa. Baru beberapa detik berjalan, saya sudah menebak ke mana arah cerita gambarnya. Saya bergidik dan jijik, tetapi rasa penasaran saya lebih besar. Saya mengendalikan diri dan berhasil menyaksikan video itu hingga selesai.

Sampai hari ini saya masih ingat detail dari video sadis tersebut. Pada tahun-tahun yang sama, saya melihat gambar-gambar lain berisikan hal serupa. Kali ini bukan video, tetapi foto-foto. Hasil puncak kerusuhan antaretnis di masa itu. Salah satu foto yang paling melekat dalam memori saya adalah gambar yang memperlihatkan tiga hingga empat kepala manusia, masing-masing diletakkan dan disusun di atas drum-drum kosong, seolah-olah mereka benda pameran. Dan saya kira memang pelakunya ketika itu sedang memamerkan hasil buruan mereka.

Saya membaca The Corpse Exhibition dan tidak bisa menghindar dari ingatan tentang kepala-kepala terpenggal yang disusun itu. Buku ini sebuah kumpulan cerita pendek. Ada empat belas cerita di dalamnya. Cerita pertama, “The Corpse Exhibition”, langsung berhasil menarik perhatian saya dan membuat saya menyukai keseluruhan bukunya meskipun belum membaca cerita-cerita lain (efek baik dari cerita pembuka yang bagus). Berkisah tentang agensi pembunuh yang misi utamanya adalah merancang korban-korban mereka agar tampak seperti benda seni. Mereka memajang mayat-mayat hasil penugasan di sudut-sudut kota dan membentuknya sedemikian rupa supaya mayat-mayat itu jadi terkesan artsy, layaknya benda-benda dalam pameran seni. Namun, kata seorang yang sepertinya supervisor di agensi itu, “…we are not terrorists whose aim is to bring down as many victims as possible in order to intimidate others, nor even crazy killers working for the sake of money.” Bahkan, “We have nothing to do with the fanatical Islamist groups or the intelligence agency of some nefarious government or any of that kind of nonsense.” Kocak dan ironis sekali.

Kocak dan ironis adalah dua kata yang bisa menyimpulkan seluruh cerita dalam The Corpse Exhibition. Dua kata lain: brutal dan vulgar. Brutal karena banyak adegan penembakan dan pembunuhan. Vulgar karena adegan-adegan tersebut sama sekali tidak disamarkan atau dikemas dalam bentuk kemasan, apalagi metafora-metafora. Realisme Blasim sangat mengejutkan karena ia disajikan apa adanya. Sama sekali tak ada niat untuk mengaburkannya dengan alasan apapun. Kalau dahi orang bolong kena peluru, ya dikasih lihat bolongannya seperti apa. Kalau ada orang mati ditusuk, ya digambarkan bagaimana darahnya muncrat dan menggenang di jalan. Tetapi ada dua kata berikutnya: magis dan mistis. Ini yang membuat kumcer Hassan Blasim semakin menarik. Selain anak kecil yang diajari abangnya cara membunuh orang, ada pula sekelompok sahabat yang bisa menghilangkan pisau dan memunculkannya kembali.

Dua cerita yang menjadi favorit saya dalam buku ini terletak di pembuka dan penutup. Penutupnya, cerita berjudul “The Nightmares of Carlos Fuentes”, sempat bikin saya agak terkecoh karena mengira akan bercerita tentang orang Meksiko. Ternyata protagonisnya-seperti hampir di semua cerita-adalah laki-laki arab yang mengubah identitasnya demi meninggalkan negara dan masa lalu yang kelam. Carlos Fuentes adalah Salim Abdul Husein, bekerja sebagai petugas pembersihan sisa-sisa ledakan perang yang bermigrasi ke Eropa dan mati di sana setelah dikejar-kejar mimpi buruk. Dalam mimpi buruknya, Carlos Fuentes kehilangan kemampuan berbahasa Belanda-yang sudah ia pelajari lama demi menjadi orang Eropa-dan tiba-tiba seluruh atribut identitasnya sebagai orang Arab muncul kembali. Ia kemudian berusaha untuk bermimpi dan memusnahkan segala hal yang berasal dari masa lalunya; ke-arab-annya. Dalam mimpinya secara mengejutkan ia bertemu Salim Abdul Husein, dirinya sendiri, dan cerita pun berakhir dengan tragis.

Kalau pernah baca cerpen-cerpennya Etgar Keret, membaca Hassan Blasim akan memberi sensasi serupa, walau tidak persis sama. Di cerpen-cerpen Etgar Keret, humornya lebih terasa dan unsur fantasinya relatif lebih kentara. Hassan Blasim, meskipun cerpen-cerpennya juga terasa kocak, perasaan yang lebih menempel di hati adalah sejenis kegetiran dan kepedihan. Bukan cuma karena Blasim memilih menuturkan kisah-kisah dari belakang layar peperangan itu dengan cara yang vulgar alias sebagaimana adanya, tetapi juga karena kesedihan yang dipendam tokoh-tokohnya begitu dalam dan terlalu pekat untuk ditertawai. Yang jelas, kalau pengin belajar jadi cerpenis yang bagus, Etgar Keret dan Hassan Blasim adalah dua penulis yang patut dijadikan standar (saya kira membaca karya keduanya pada waktu bersamaan juga layak dicoba, mungkin bakal memberi sensasi yang menarik mengingat yang satu memberi cerita-cerita perang dari sudut pandang Yahudi Israel dan satunya lagi menyajikannya dari kacamata orang Arab-Islam Irak).

Cerita tentang sekawanan berkemampuan sejenis sihir yang bisa melenyapkan pisau dan memunculkannya kembali, berjudul “A Thousand and One Knives” (judulnya pasti bikin teringat pada dongeng seribu satu malam, pelafalan knives juga mirip-mirip nights), juga bagian yang menarik dari buku ini. Sekawanan itu terdiri dari empat orang, dengan tiga-tiga laki yang hanya bisa menghilangkan pisau tetapi tidak bisa memunculkannya kembali, dan satu perempuan yang bisa memunculkanya. Cara mereka melakukannya: menatap pisau selama 30 detik dan menangis, tanpa berkedip. Maka poof! hilanglah pisau itu, atau poof! muncul kembali. Paragraf yang saya suka dari cerpen ini: “The days passed slowly and sadly, like the miserable face of the country. The wars and the violence were like a photocopier churning out copies, and we all wore the same face, a face shaped by pain and torment…”

Satu lagi dari buku ini yang saya kira amat relevan untuk disebut. Pada sebuah cerita, Blasim melalui tokohnya berkata bahwa “manusia menggunakan Tuhan untuk memenggal kepala orang lain”. Ouch, kalau saya jadi Tuhan, saya enggak tahu harus bereaksi gimana. Apakah mengucurkan ke dunia manusia karunia yang lebih besar agar mereka bersyukur dan menyadari betapa pengasih dan penyayangnya saya, atau membiarkan mereka melanjutkan misi mulianya demi menegakkan nama saya dengan cara meledakkan tubuh anak-anak kecil dan menghancurkan hidup orang-orang baik?


Sepertinya itu tugas yang terlalu berat, jadi saya perlu mencari pendapat lain. Kalau kamu, seandainya jadi Tuhan, apa yang akan kamu lakukan? 

The Hour of The Star, Clarice Lispector




Sebagai anak kecil, saya selalu berpikiran baik tentang Tuhan. Artinya, di mata saya, Tuhan selalu bersikap baik terhadap manusia ciptaannya. Tidak mungkin Tuhan jahat, apalagi kejam dan sadis. Rezeki manusia, itu Tuhan yang kasih karena Dia baik. Manusia kejatuhan sial, itu bukan ulah Tuhan. Mungkin hasil usilnya setan atau iblis. Manusia dapat nasib buruk lalu mati konyol? Itu bukan Tuhan yang bikin, tetapi mungkin manusia sudah tergoda setan atau iblis sampai berjalan di jalan yang bengkok-bengkok (tidak lurus) sehingga jeblos ke lubang keterpurukan. Adalah tidak mungkin bagi nalar saya sebagai anak kecil, Tuhan berbuat jahat. Tidak ada hal lain yang masuk akal bagi saya selain Tuhan = baik.

Tetapi, semakin beranjak dewasa, secara perlahan dan pasti saya justru memiliki kecenderungan memandang Tuhan sebagai entitas yang sebenarnya rada-rada negatif juga. Akarnya adalah slogan “Semua terjadi atas kehendak-Nya” yang sudah sering saya dengar sejak bocah sampai sekarang. Dulu saya enggak pernah mencerna benar makna dari kalimat itu, tetapi ketika otak saya sudah cukup bisa disuruh mikir, ternyata frasa tersebut terdengar ganjil. Jika semua terjadi atas kehendak Tuhan, berarti bocah-bocah tewas dihantam bom di Aleppo itu atas kehendak Tuhan? Mereka tidak sempat hidup cukup panjang untuk berbahagia dan membahagiakan orangtuanya itu atas kehendak Tuhan? Bayi mati dibunuh orangtuanya sendiri, anak gadis mati diperkosa bapaknya sendiri, istri dibacok sampai tewas sama suaminya sendiri, itu semua terjadi atas kehendak Tuhan juga?

Ajegile, kejam betul Tuhan ini.

Tapi apa boleh buat, namanya saja Yang Maha Kuasa. Suka-suka Dia lah. Dia yang punya power. Kita manusia bisa apa. Paling-paling cuma bisa mencari hikmah dari segala yang terjadi dan berusaha semampu mungkin menolong satu sama lain. Pada Tuhan yang kejam itulah kita juga tetap akan berdoa, berpengharapan, dan menyandarkan sepenuhnya hidup-mati kita. Pada Tuhan yang mengizinkan peperangan dan pemusnahan manusia itulah kita juga tetap akan memohon keselamatan, masa depan yang baik, dan dunia yang lebih indah buat anak-cucu kita. Apakah Tuhan di sana (atau di sini, atau di mana saja) mendengarkan doa-doa itu dan mengabulkannya? Dirasa-rasa sendiri saja.

Kenapa saya merepet tentang Tuhan, menuduhnya kejam pula? Karena saya baru selesai membaca novelnya Clarice Lispector, The Hour of the Star. Dalam novel ini protagonisnya bikin iba. Lebih iba karena yang bersangkutan enggak merasa dirinya perlu dikasihani. Dia enggak merasa ada yang salah atau kurang dalam hidupnya. Padahal kalau kita baca ceritanya, dengan nalar kita sebagai manusia yang hidup “normal”, kita akan segera saja tahu bahwa hidup Macabéa, seorang gadis yang jadi protagonis novel ini, punya nasib yang betul-betul bikin sedih dan sangat layak dikasihani.

Sedikit informasi tentang penulisnya. Clarice Lispector adalah penulis asal Brasil. Ia sudah meninggal pada tahun 1977 di Rio de Janeiro. Lispector lahir di Ukraina dan langsung dibawa ke Brasil ketika ia masih bayi. The Hour of the Star ditulis dalam bahasa Portugis (saya baca terjemahan bahasa Inggris Benjamin Moser, terbitan New Directions), termasuk satu dari beberapa karya terakhirnya. Buku yang diterbitkan posthumous ini, menurut beberapa reviu, merupakan salah satu karya terbaik Lispector. Buku-buku Lispector mulai banyak diterjemahkan ulang ke bahasa Inggris ketika Benjamin Moser menulis biografi tentang dia dalam buku berjudul Why This World: A Biography of Clarice Lispector.

Kembali ke The Hour of the Star. Ini adalah novel tipis (belakangan saya lebih suka menyebut “novel tipis” ketimbang “novela”/“novelet”) setebal 77 halaman yang bercerita tentang nasib buruk seorang gadis baik dan kekejaman Tuhan. Protagonisnya, tadi sudah saya sebut, bernama Macabéa. Macabéa gadis belia yang tinggal di kawasan miskin di Rio de Janeiro. Ia bekerja sebagai tukang ketik dan meski miskin, ia tidak merasa hidupnya kekurangan. Macabéa adalah gadis lugu yang bukan saja tidak mengetahui tentang banyak hal di dunia luar, tetapi juga tidak mengetahui bahwa dirinya sendiri penuh kekurangan: kurang harta, kurang cinta, dan kurang (bahkan sama sekali tidak pernah memiliki) harapan.

Alur ceritanya tidak begitu panjang. Sangat pendek malah. Dibuka oleh narator serba tahu (omniscience), kita mulai memasuki kehidupan Macabéa. Suara narator mendominasi keseluruhan isi novel. Kemungkinan besar, yang menjadi narator adalah Clarice Lispector sendiri, karena pada beberapa bagian terdapat petunjuk bahwa si narator adalah seseorang yang menuliskan kisah ini (kisah di dalam The Hour of the Star). Tidak hanya menceritakan tokoh-tokohnya, tetapi si narator pun memiliki karakter, dan dari narasinya kita bisa mengetahui kondisi psikologis narator serta bagaimana ia berempati pada protagonisnya, si gadis lugu Macabéa.

Lalu, suatu hari Macabéa jatuh cinta (tetapi sebenarnya dia tidak benar-benar mengerti jatuh cinta itu bagaimana) pada seorang cowok machismo, seorang gali bernama Olímpico. Hubungan mereka terlihat seperti cinta bertepuk sebelah tangan, karena hanya Macabéa yang menunjukkan afeksinya buat Olímpico, sementara si cowok terus-terusan mengoceh tentang ambisinya (ia akan jadi orang paling disegani sedunia, punya pengikut dan berkuasa) dan kerap berkata kasar ke Macabéa. Olímpico juga sering jengkel pada Macabéa karena di matanya Macabéa seperti gadis bodoh dan aneh. Tetapi sebetulnya Macabéa hanya punya logika yang agak unik karena wawasan dan kesadarannya sempit. Pada beberapa adegan malah terlihat Olímpico yang tidak begitu cerdas dan Macabéa punya nalar yang lebih kritis (ia banyak bertanya tentang istilah-istilah asing yang ia dengar dari stasiun radio).

Hubungan Macabéa tidak berjalan lancar karena Olímpico lebih naksir teman kerja Macabéa, cewek bernama Glória yang bertubuh subur dan semlohay. Buat Olímpico, cewek kayak Glória ini yang bisa memberinya keturunan kualitas wahid, bukan gadis kurus tak terurus seperti Macabéa. Macabéa pun patah hati (tetapi ia tertawa saat diputusin Olímpico). Glória, didorong rasa bersalah, merekomendasikan kepada Macabéa seorang peramal yang bisa membuatnya punya nasib mujur. Macabéa pergi ke peramal itu dan memang akhirnya peramal bilang dirinya akan bernasib baik. “Setelah keluar dari tendaku, seorang cowok tampan akan jatuh cinta padamu, dan kau akan berbahagia dengannya.”

Macabéa merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan seumur hidupnya: secercah harapan. Gelembung kesadarannya bocor tipis dan angin dunia luar yang hangat masuk ke dalam kepalanya dan membuatnya tahu bahwa ada hal lebih di luar kehidupannya selama ini. Harapan.

Tetapi ketika melangkahkan kaki keluar tenda peramal, Macabéa malah ditabrak mobil. Tewas di tempat.

Selesai perkara. Selesai.


Tidakkah tadi sudah saya katakan bahwa novel bagus ini bercerita tentang gadis bernasib buruk dan Tuhan yang kejam?

Kiat Sukses Hancur Lebur, Martin Suryajaya




Selain menuntut penulis membuat novel yang penuh kebaruan-baik itu dari segi tema, cara bercerita, dan kawan-kawannya-saya kira tuntutan serupa juga tidak salah jika disodorkan kepada pembaca. Sebagaimana penulis yang baik terus berinovasi dalam menulis, pembaca yang baik juga sekiranya bersedia memperbarui cara pembacaan. Hal tersebut yang melintas dalam pikiran saya, setiap kali membaca novel yang rada aneh, atau dalam bahasa yang sedikit lebih keren, “eksperimental”. Salah satu dari novel-novel aneh atau “eksperimental” itu adalah sebuah novel Indonesia baru yang saya baca beberapa hari lalu, Kiat Sukses Hancur Lebur, karya debut Martin Suryajaya.

Terus terang saya menghadapi kesulitan yang hakiki ketika hendak mengulas novel ini. Bukan karena ia sulit dimengerti, tetapi karena Kiat Sukses Hancur Lebur ditulis dalam bentuk yang unik dan tidak konvensional. Novel ini ditulis selayaknya sebuah buku nonfiksi bertema pengembangan diri atau self-help. Di dalamnya terdapat panduan melakukan macam-macam hal, di antaranya adalah bagaimana mempelajari manajemen bisnis dan kiat-kiat budidaya lele.

Membaca judul-judul bab dalam daftar isinya: Menjadi Pribadi Sukses Berkepala Tiga, Tujuh Kurcaci Manajemen Bisnis, Pemrograman Komputer Menggunakan Sepuluh jari-seketika kita pembaca dibuat ragu apakah sebenarnya kita ini sedang membaca novel atau buku nonfiksi bertema pengembangan diri. Namun, karena penulisnya menyebut buku ini “novel”-setidaknya terlihat dari label pada sampul depan-maka baik, marilah kita hadapi buku ini sebagai novel.

Tetapi, agak mustahil menghadapi Kiat Sukses Hancur Lebur sebagai novel, itu sebabnya di awal tulisan ini saya berkata bahwa seorang pembaca mesti terus mengembangkan cara pembacaannya. Sebagai novel, buku Martin Suryajaya menyeleweng dari hampir seluruh “pakem” elemen sebuah karya fiksi. Tidak ada plot, kehadiran tokoh-tokoh antagonis maupun pendukung, latar tempat dan waktu, adegan, dan konflik.

Satu-satunya penggalan “cerita” yang bisa dipegang untuk menghadapi Kiat Sukses Hancur Lebur sebagai novel adalah nukilan yang tercantum pada sampul belakang buku ini, yang mengatakan bahwa seorang editor menerima kiriman manuskrip novel di tahun 2019 dari seorang penulis bernama Anto Labil, S. Fil (iya, disertai gelar akademis) yang merupakan anggota komunitas sastra radikal di Semarang. Disampaikan pula bahwa manuskrip novel tersebut ditulis dengan gaya seorang pemabuk yang membuat sang editor merasa “tidak pernah cukup meneguk zat asam saat menyuntingnya”.

Akan tetapi, ketika beranjak masuk ke dalam novelnya, kita sama sekali tidak akan menemukan cerita. Tidak ada plot. Tidak ada konflik. Dialog pun amat minim. Hanya ada narasi berupa celotehan narator (tidak dijelaskan apakah Anto Labil, S.Fil sendiri yang menjadi narator ataukah ada seorang protagonis rekaan lain yang berperan sebagai narator) yang menuturkan beragam hal, mulai dari “Tips Sukses Menjadi Pribadi Berkepala Tiga”, “Kiat-kiat Bunuh Diri di Apartemen”, hingga “Resep Sukses Tes Calon Pegawai Negeri Sipil”.

Muatan bukunya sendiri juga bisa dibilang jauh dari bentuk novel yang pernah kita lihat selama ini. Alih-alih sebuah cerita panjang yang utuh, Kiat Sukses Hancur Lebur justru menampilkan tabel, grafik, dan gambar-gambar pendukung yang lumrahnya terdapat pada karya ilmiah seperti jurnal atau skripsi. Tetapi, tabel, grafik, dan gambar-gambar itu pun tidak tampil dengan wajar, dan malah memberi keterangan yang, jika dilihat sekilas, terkesan ngawur.

Namun, di balik kesan ngawur itu, sesungguhnya Kiat Sukses Hancur Lebur dapat dibaca sebagai cara Martin Suryajaya melayangkan kritik dan ejekennya kepada banyak hal. Ia mengejek fungsi dan kinerja pegawai negeri sipil, manfaat etika bagi kehidupan manusia, dan lain-lain banyak lagi yang sebaiknya kamu cari sendiri saja lah.

Memang sedikit membingungkan menghadapi buku fiksi Martin Suryajaya jika kita tidak memperbarui cara membaca novel. Di sisi lain, saya juga tertarik ingin mengetahui alasan mengapa Martin memberi label “novel” di buku yang jelas memiliki susunan dan bentuk konten lebih mirip karya nonfiksi ilmiah alih-alih sebuah buku fiksi. Apakah itu demi berlindung di balik tameng istimewa fiksi yang mengizinkannya tidak bertanggungjawab atas keabsahan atau keakuratan data dalam tulisannya, atau Martin sungguh-sungguh sedang ingin membuat novel bentuk baru dengan mendobrak aturan-aturan naratif sebuah cerita?

Saya kira, Kiat Sukses Hancur Lebur akan lebih mudah dihadapi pembaca awam jika diberi label “novel komedi”, karena isinya memang lucu dan bertendensi ke arah sana: melucu. Tetapi memang bakal kurang asyik kalau belum-belum penulisnya sudah melabeli sendiri karyanya sebagai novel komedi. Seandainya enggak lucu, gimana? Apa dia mau tanggung jawab? Mungkin itu alasan Martin Suryajaya, meskipun menulis sesuatu yang teramat lucu, tidak cukup gegabah untuk mencantumkan label novel komedi pada bukunya.

Terus terang rada-rada sulit bikin ulasan tentang buku ini. Saya harus membaca ulang bukunya dengan mengambil halaman secara acak demi mencari kira-kira poin apalagi yang mesti saya tulis. Intinya novel Martin Suryajaya ini menurut saya adalah novel yang merusak semuanya: Format karya fiksi, bentuk cerita, bahkan-ini yang paling mendasar dan krusial-logika. Jadi saya baca buku Martin dengan kenikmatan rasa terhibur karena tuturan naratornya yang jenaka. Tetapi apa sebenarnya isi buku ini? Tak tahulah saya.

Tapi buat saya enggak penting tahu apa isi dan maksud buku ini. Buat saya, ya. Kalau kamu tetap butuh mencari makna, maksud, dan pesan moral dari buku ini, ya sudah silakan cari sendiri. Saya tetap menikmati Kiat Sukses Hancur Lebur tanpa paham benar apa yang pengin dibicarakan penulisnya (baik itu Anto Labil, S. Fil atau Martin Suryajaya-yang kayaknya juga S. Fil). Novel ini sumpah minta ampun lucunya. Itu saja yang akan saya katakan ke orang-orang jika mereka bertanya apa bagusnya novel ini. Kalau mereka melanjutkan dengan pertanyaan: “Memang bukunya tentang apa?” atau “Ceritanya bagaimana?” saya langsung angkat pundak dan geleng-geleng. “Baca sendiri deh,” paling-paling saya bakal bilang begitu.


Selain ketawa yang enggak kelar-kelar sepanjang membaca Kiat Sukses Hancur Lebur, setidaknya ada satu hal penting (hore, akhirnya!) yang saya peroleh dari membaca novel perdana Martin Suryajaya ini. Dengan jitu dan melalui cara yang menyenangkan, Martin Suryajaya memperlihatkan kepada saya bahwa cara terbaik mengkritik sesuatu (atau seseorang) adalah dengan membuat lelucon tentangnya. Jadi, lain kali kamu membenci sesuatu (atau seseorang) tidak perlu teriak marah-marah sampai urat leher putus, cukup merancang anekdot atau cerita saja dan jadikan dia tokoh bernasib menyedihkan. ***

24 Agustus 2016

Beli Metafora Padma



Buku terbaru saya, Metafora Padma, sudah terbit sejak 15 Agustus 2016. Saat ini sudah tersebar ke toko-toko buku di 25 kota di Indonesia: Gramedia, Toga Mas, Jendela, dan toko-toko buku lain.

Bagi yang ingin memiliki buku ini, selain dengan mendatangi toko-toko buku tersebut, juga bisa membelinya di toko-toko buku daring. Kelebihan membeli buku di toko buku daring adalah, kamu tidak perlu repot-repot pergi ke toko buku, buku langsung diantar ke alamat, dan biasanya diberi harga diskon. Tentu saja ada ongkos kirim yang mesti ditanggung pembeli.

Berikut adalah daftar toko buku daring yang menyediakan Metafora Padma. 

  • Twitter: @kedaiboekoe (085891444731), @katalisbooks (085793042909), @hematbuku20 (087781853710)
  • Instagram: @demabuku (085881449998), @warnabuku (087882023533), @yukbelibukuori (087853358866), @goarbuku (081288456447), @buku_plus (089628519266)
  • Web: www,bukabuku.com, www.bukubukularis,com

Hingga hari ini, Metafora Padma sudah tersebar hampir merata di seluruh Indonesia, kecuali beberapa kota di Sulawesi dan Indonesia Bagian Timur. Jika ada yang memiliki informasi di kotanya, mohon beri tahu saya, agar pembaca lain dapat terbantu dan bisa menemukan Metafora Padma.

Terima kasih.