19 April 2018

The Gene, Siddhartha Mukherjee




Gen, kata Siddhartha Mukherjee dalam bukunya, The Gene, adalah salah satu gagasan yang mengguncang tatanan dan paling berbahaya sepanjang sejarah dunia sains. Kesimpulannya bukan tanpa alasan. Tiga penemuan gagasan fundamental di dunia sains yang bermunculan sepanjang abad ke-20: atom, bit, dan gen, lahir sebagai konsep ilmiah yang abstrak, tetapi berkembang menjadi invasi tersendiri ke dalam diskursus manusia dan mengubah struktur sosial, politik, bahkan bahasa.

Kita sering mendengar dan mengucapkan kata "individu" tetapi mungkin jarang memikirkan apa yang dimaksud dengan kata tersebut. Individu berarti sesuatu yang tidak bisa dibagi lagi: indivisible. Pertanyaannya adalah pada tataran apa diri kita tidak bisa dibagi lagi? Jika seseorang cukup gila menetak lehermu sampai putusmu maka tubuhmu akan terbagi dua. Jadi hal apa yang terdapat di dalam diri kita yang tidak dapat dibagi menjadi lebih kecil?

Jawabannya adalah gen. Gen adalah unit informasi terkecil makhluk hidup yang tidak dapat dibagi lagi. Tersusun atas rantai basa nitrogen dengan komposisi huruf yang terkenal: A, C, G, T (atau U), gen menyimpan seluruh informasi yang diterjemahkan menjadi rangkaian protein, yang kemudian menyusun segala hal di tubuh kita: mekanisme biokimia, sistem organ, dan ciri fisik. Jika seluruh benda di dunia ini tersusun dari partikel atom, maka tubuh kita terdiri atas gen.

Siddhartha Mukherjee, onkolog asal India-Amerika menulis buku yang sangat bagus tentang gen. The Gene bukan hanya buku yang menjelaskan secara komperehensif apa itu gen, tetapi memaparkan secara kronologis sejarah penemuan termasuk kisah-kisah ilmuwan yang mempelajarinya. The Gene tidak hanya menyajikan sejarah dan masa kini gen tetapi juga spekulasi menarik tetang masa depan gen, yang tentu saja akan mempengaruhi masa depan kita.

Seperti tagline yang tercantum di sampul, an intimate history, The Gene betul-betul buku sejarah yang terasa intim. Semua hal yang disampaikan Siddhartha Mukherjee mengenai gen tidak terkesan seperti materi kuliah yang berjarak dan sulit dipahami. Ketika ia menceritakan ilmuwan-ilmuwan yang bekerja di dunia Biologi dan mempelajari gen, ia juga menyisipkan sepenggal kisah hidup mereka. Sosok-sosok yang terlibat langsung maupun tidak di dunia genetika dihidupkan dalam adegan-adegan yang membuat kita merasa seperti sedang menonton film Hollywood.

Bagian pembuka The Gene bahkan dimulai dengan kisah pribadi penulisnya. Dokter Mukherjee menulis prolog tentang bagaimana ia dan ayahnya menghampiri Moni, sepupu Dokter Mukherjee, yang dirawat di rumah sakit jiwa. Jagu dan Rajesh, anggota keluarga mereka yang lain, juga mengidap kelainan jiwa. Dalam suatu wawancara di Youtube, Siddhartha Mukherjee mengaku bahwa riwayat anggota keluarganya itu menjadi salah satu alasan yang mendorong ia untuk mempelajari dunia medis.

Di samping cakupan informasi yang luas, merentang dari periode Charles Darwin dengan teori evolusi hingga ilmuwan-ilmuwan Biologi modern yang membahas nasib umat manusia pasca-genom, yang paling istimewa dari buku The Gene adalah bagaimana ia dituturkan. Elemen-elemen yang biasanya ditemukan di karya fiksi: penokohan, alur, deskripsi, bahkan dialog, menjadi kunci Siddhartha Mukherjee menyajikan ilmu genetika dalam bentuknya yang paling intim.

Menemukan kutipan dari Albert Camus, Haruki Murakami, dan George Orwell, tidak begitu sulit menebak kalau Siddhartha Mukherjee adalah dokter ahli kanker yang juga pencinta karya sastra. Ia menulis buku ilmiah dengan insting seorang novelis. Ia menyusun informasi dari seluruh aspek dunia genetika dalam kurva dramaturgi yang membuat kita mengantisipasi kejadian, menahan napas, dan merasa sedih saat tiba di bagian yang menggugah. Perhatikan penggalan paragraf The Gene ini ketika Siddhartha Mukherjee sedang berada di sebuah konferensi ilmiah yang membahas tentang genom:

...The bell chimed, and the geneticists returned to the auditorium to contemplate the future's future. Erika's mother wheeled her out of the conference center. I waved to her, but she did not notice me. As I entered the building, I saw her crossing the parking lot in her wheelchair, her scarf billowing in the wind behind her, like an epilogue.

Ada banyak hal yang diceritakan tentang gen di buku The Gene, tapi mungkin yang paling menarik adalah pertanyaan tentang masa depan manusia pasca-genom. Saat ini hampir seluruh genom manusia telah dapat dibaca. Teknologi untuk membaca genom memungkinkan kita melakukan banyak hal terhadapnya, termasuk mengubahnya. Apa yang terjadi ketika komputer memahami instruksi yang ditulis untuk menciptakan dirinya?

Apa yang akan kita lakukan ketika kita dapat mengubah kode pembentuk diri kita? Apakah kita akan mengubahnya demi menjadi lebih sehat, lebih baik... lebih sempurna? Apa yang terjadi ketika manusia bisa mengubah bahan penyusun dasar dirinya? Apa manusia yang gennya telah dimodifikasi masih dapat menyebut dirinya manusia? Tatanan masyarakat macam apa yang bisa lahir dari kelompok manusia yang telah mengubah dirinya menjadi sesuatu yang bisa kita namai, katakanlah, pasca-manusia?

Yang paling menarik adalah bahwa pertanyaan-pertanyaan barusan bukan premis untuk sebuah novel fiksi ilmiah. Ilmu tentang genom adalah sesuatu yang nyata. Pembacaan genom telah rampung dilakukan. Modifikasi manusia pada tataran genetik sudah berjalan. Masa depan yang belum terbayangkan telah hadir begitu dekat dan intim, seintim sejarah genetika yang disajikan apik dalam buku The Gene.


18 April 2018

Genom, Kisah Spesies Manusia dalam 23 Bab





Jika unit terkecil materi adalah atom, maka unit terkecil penyusun makhluk hidup adalah gen. Apa itu gen? Ada pengertian teknis dan sederhana. Secara teknis gen adalah penggalan nukleotida yang menyusun kromosom dan menerjemahkan dirinya sendiri ke rantai protein yang menjalankan fungsi biokimia di tubuh kita. Sederhananya, gen adalah unit pewarisan sifat, yang diturunkan dari orangtua ke anak. Gen menentukan ciri fisik, fisiologi, bahkan takdir kita sebagai manusia.

Gen merupakan senyawa kimia dalam bentuk rangkaian amat panjang dari empat basa nitrogen: adenin, sitosin, guanin, dan timin. Disingkat A, C, G, T. Huruf-huruf tersebut tersusun menjadi apa yang kita kenal dengan sebutan DNA. Dalam menjalankan fungsinya untuk membentuk protein, DNA mengandalkan sepupunya, RNA.

DNA singkatan dari deoxyribonucleic acid (asam deoksiribonukleat). Dinamai demikian karena ia terdiri atas molekul yang disebut asam nukleat, yang terdiri atas gula (deoksiribosa), basa nitrogen, dan fosfat. Sepupunya, RNA, singkatan dari ribonucleic acid (asam ribonukleat) punya struktur kimia yang mirip, hanya berbeda di gula dan basa nitrogen. Jika DNA terdiri atas huruf-huruf A, C, G, T, maka RNA: A, C, G, U, dengan U untuk urasil.

Meski enggak kelihatan dari luar, tubuh kita terbentuk dari huruf-huruf tersebut: A, C, G, T. Lebih tepatnya serangkaian amat panjang dari huruf-huruf tersebut. Ada kira-kira 3 juta huruf. Menurut Matt Ridley dalam bukunya, Genom, kalau rangkaian huruf gen manusia dicetak, tebalnya 5.000 kali buku Genom (400 halaman versi bahasa Indonesia; 340 versi bahasa Inggris). Betewe, yang dimaksud "genom" adalah seperangkat lengkap gen.

Buku Genom: Kisah Spesies Manusia dalam 23 Bab yang ditulis seorang jurnalis Inggris bernama Matt Ridley menjelaskan gen manusia dalam bahasa sangat sederhana. Seperti buku sains popular lain, Genom memang dikemas untuk pembaca awam, jadi saya sangat terbantu dengan penjelasan Ridley. Bagian pendahuluan buku memberi pemaparan efektif tentang genom yang akan membantu kita memahami bab isi.

Untuk menjelaskan gen, Ridley menggunakan perumpamaan buku. Jika genom (seperangkat lengkap gen) adalah sebuah buku, maka bab-babnya disebut kromosom. Setiap bab mengandung beberapa ribu cerita, disebut gen. Setiap cerita tersusun atas paragraf-paragraf, disebut ekson, yang diselang-selingi iklan, disebut intron. Tiap paragraf terbentuk dari kata-kata, disebut kodon. Tiap kata ditulis menggunakan huruf-huruf yang disebut basa.

Saya sendiri belajar memahami gen dengan membayangkannya dari hirarki terluar organisme kemudian melakukan zoom in hingga ke bagian terdalam: kita punya tubuh, yang terdiri atas organ-organ, yang terdiri atas jaringan-jaringan, yang terdiri atas sel-sel. Sel memiliki inti sel yang disebut nukleus, yang di dalamnya terdapat kromosom-kromosom, yang di dalamnya lagi terdapat gen, yang terdiri atas huruf-huruf basa: A, C, G, dan T.

Begitu krusialnya rangkaian huruf tersebut sehingga sedikit perubahan saja bisa membuat seseorang menderita penyakit genetik (kita lebih mengenal penyakit genetik dengan istilah penyakit keturunan) seperti down syndrome, hemofilia, atau kanker rahim. Perubahan itu disebut mutasi. Mutasi di bagian tertentu memunculkan "gen untuk hemofilia" atau "gen untuk down syndrome", tetapi pada situasi berbeda, gen yang sama menjalankan fungsinya secara normal dan tidak memunculkan penyakit apapun.

Meski demikian Matt Ridley berkali-kali mengingatkan dalam Genom bahwa gen tidak hadir untuk membawa penyakit. Kecenderungan orang-orang mengaitkan gen dengan penyakit membuat asumsi bahwa gen semata-mata muncul untuk mendatangkan penyakit. Asumsi yang tidak sepenuhnya tidak berdasar, karena seperti Ridley katakan sendiri, "dari satu sisi genom adalah sebuah rekaman tertulis tentang penyakit-penyakit masa lalu".

Matt Ridley menceritakan cukup banyak hal melalui 23 bab buku Genom. Jumlah bab tersebut disengaja, merujuk pada jumlah kromosom manusia. Pada setiap bab Ridley memilih gen yang terdapat di kromosom terkait untuk menceritakan sesuatu yang tematik. Misalnya bab "Kromosom 17" yang membahas tentang maut. Di kromosom 17 (kromosom diurutkan berdasarkan ukuran) terdapat gen bernama TPS3, yang diketahui berfungsi untuk menekan tumor. Mutasi pada gen ini paling menentukan dalam perannya sebagai penyebab kanker mematikan.

Genom adalah bacaan yang cocok bagi yang pengin mengenal serba-serbi seputar genom manusia. Disusun secara tematik dan dituturkan lewat bahasa yang mudah dicerna, Genom memberi kita pemahaman yang menyenangkan tentang hubungan gen dengan hidup bahkan matinya manusia.

Bagi yang skeptis sama kualitas buku terjemahan bahasa Indonesia, jangan khawatir, Genom diterjemahkan dengan baik. Saya enggak mengalami kesulitan memahami tuturan Matt Ridley. Seperti sempat saya sebut, bagian pendahuluan buku ini yang memberi perumpamaan tentang gen, sangat membantu saya buat mengikuti cerita-cerita di bab selanjutnya yang lebih spesifik.

Jika pengetahuan menyeluruh tentang genom merupakan tangga panjang menuju ruangan besar berisi hal-hal esoterik, Genom-nya Matt Ridley adalah anak tangga pertama yang ramah pengunjung.

17 April 2018

The Selfish Gene, Richard Dawkins



Mungkin di usia seperempat abad, saya mulai bertanya-tanya, apa artinya hidup? Hidup yang saya maksud kehidupan biologis seluruh makhluk hidup khususnya manusia. Saya tidak bisa berhenti memikirkan buat apa manusia ada. Manusia lahir, menua, kemudian mati. Beberapa yang cukup beruntung sempat memiliki keturunan sebelum mencapai ajal. Silsilah berlanjut.

Tapi mau ke mana? Di mana ujung siklus yang membosankan dan begitu tertebak ini? Buat apa siklus ini ada? Apa tujuannya? Atau kita kembali ke pertanyaan yang mungkin mendahului semua itu: gimana bisa ada kehidupan?

Jawabannya mungkin akan kurang memuaskan bagi yang bersikeras hidup punya makna mendalam dan tujuan agung. Maaf, tapi semua ini terjadi semata-mata karena kebetulan. Kehidupan tercipta karena suatu kebetulan dan, ini yang lebih bikin zonk, enggak punya tujuan. Iya, kehidupan ini kebetulan aja dan enggak ada tujuannya. Saya, kamu, mereka, ada karena kebetulan. Buat apa manusia ada di dunia? Enggak tahu. Enggak ada tujuan.

Bagi beberapa orang, arti kehidupan mungkin datang melalui peristiwa emosional, perjalanan batin, atau kejadian besar yang mengguncang hidupnya. Buat saya, arti kehidupan itu datang dari sebuah buku berjudul The Selfish Gene yang ditulis Richard Dawkins.

Dalam bukunya, Dawkins menjelaskan bagaimana kehidupan berlangsung dari sudut pandang gen, yang ujungnya menuju kesimpulan di paragraf sebelum ini. Makhluk hidup (tentu termasuk manusia) menurut The Selfish Gene tak lebih dari kendaraan yang ditumpangi gen-gennya untuk terus mereplikasi diri. Lebih spesifik lagi, kendaraan bagi keberlangsungan eksistensi gen egois.

Premis The Selfish Gene dirumuskan berdasarkan karya bertema serupa dari seorang ilmuwan biologi evolusioner Amerika bernama George C. Williams (mungkin enggak banyak yang kenal) sekaligus sebagai bentuk kritik atas teori evolusi Charles Darwin (yang ini lebih familier ya). Karena teori evolusi Darwin lebih populer mari kita bahas buku Dawkins sebagai respons atas pemikiran Darwin.

Karya Darwin yang judul panjangnya On the Origin of Species by Means of Natural Selection or the Preservation of Favoured Races in the Struggle for Life, yang lebih dikenal dengan versi pendeknya, On the Origin of Species, itu sebetulnya ngebahas banyak hal, tapi yang paling terkenal adalah bagian soal seleksi alam. Frasa Darwin, "survival of the fittest", jadi garis besarnya. Cuma makhluk yang mampu beradaptasi dengan perubahan di lingkungannya yang dapat bertahan hidup.

Seleksi alam, menurut Darwin, terjadi pada tataran individu. Dawkins berpikiran lain. Menurut Dawkins, seleksi alam berlangsung pada level yang lebih fundamental, yakni gen, unit terkecil pewarisan sifat yang menyusun, mengatur, dan memperbaiki fungsi biologis makhluk hidup. Pertempuran itu, "survival of the fittest" tidak terjadi di luar melainkan di dalam, di balik untai kromosom, berlangsung abadi meniti double-helix DNA & RNA di tubuh kita.

The Selfish Gene diterbitkan kali pertama tahun 1976, satu dekade setelah buku George C. Williams, Adaptation and Natural Selection, seabad lebih setelah On the Origin of Species. Dawkins meletakkan The Selfish Gene di posisi yang berseberangan dengan teori seleksi alam berdasarkan organisme individu dan kelompok. Buku setebal 357 halaman ini memuat penjabaran lengkap Dawkins tentang kehidupan dari sudut pandang gen.

Richard Dawkins membuka The Selfish Gene dengan pertanyaan dalam judul bab "Why Are People?" Kehidupan yang cerdas dimulai ketika manusia menemukan alasan keberadaannya (jawab: kebetulan). Dawkins melanjutkan ceritanya dengan memaparkan asal mula terjadi gen dan kemampuan utama yang dimiliki gen yakni mereplikasi diri.

Gen yang baik, menurut Dawkins, adalah gen yang egois, yakni gen yang melakukan apapun demi keberlangsungan dirinya sendiri. Seterusnya adalah cerita yang sangat menarik dan rinci tentang apa yang disebut agresi gen, pertarungan antar gender, dan masa depan gen. Dawkins memperlihatkan strategi bertahan hidup yang di dalamnya termasuk manipulasi atawa tipu-tipu, carmuk alias cari muka ke makhluk lain, dan melakukan pengorbanan yang sekilas tampak sebagai tindakan altruisme tapi sebetulnya semata-mata demi kepentingan egois gen.

Ada banyak banget hal menarik di buku The Selfish Gene. Kalau saya tulis satu-satu bakal terlalu panjang dan membosankan terutama bagi yang enggak begitu tertarik sama Biologi. Bab yang menurut saya dengan mudah menarik perhatian orang-orang adalah bagian "Battle of the Sexes" karena sangat sejalan sama situasi kehidupan nyata.

Dawkins memaparkan hal mendasar yang menentukan kejantanan dan kebetinaan makhluk hidup. Perbedaan ukuran sel telur dan sel sperma yang terjadi secara kebetulan (semula keduanya berukuran sama hingga tak bisa dibedakan) membuat hewan jantan dan betina punya strategi masing-masing yang unik demi keberlangsungan hidup mereka, termasuk memiliki kecenderungan berselingkuh (jantan) dan memanipulasi para jantan (betina).

Bagi yang kurang paham atau lupa apa itu gen, jangan khawatir. Meski enggak membahas struktur gen secara merinci, penjelasan Dawkins tentang asal-usul gen dan proses terjadinya evolusi akan sangat membantu memahami keseluruhan isi The Selfish Gene. Bahasa Dawkins pun enak dan ia kerap mengelaborasi pernyataan-pernyataannya jadi kita gak bakalan kehilangan jejak tentang apa yang sedang ia sampaikan. Tentu ada jargon dari lingkungan Biologi dan teori-teori ilmuwan lain yang dirujuk sepanjang penjelasan mengenai gen egois, tapi tanpa membaca lebih jauh teori-teori tersebut kita tetap bisa paham apa yang dimaksud Dawkins.

Sepanjang hidup yang sebetulnya enggak bertujuan ini, kita bisa membaca banyak buku, tapi sebetulnya enggak banyak yang betul-betul membekas dan mengubah cara pandang kita. Buat saya The Selfish Gene adalah satu dari sedikit buku yang mengubah pandangan saya secara permanen terhadap kehidupan. Saya enggak bisa lagi balik ke fase sebelum membaca buku ini. The Selfish Gene meninggalkan bekas abadi di pikiran saya, seabadi sang replikator, sang gen egois. ***

10 April 2018

Banyak Jalan Menuju Bacaan Favorit Berikutnya








Pertanyaan lain dari pembaca yang pernah masuk ke kanal-kanal media sosial saya: bagaimana cara saya menemukan bacaan saya selama ini?

Ada satu fase dalam hidup saya ketika saya merasa tertinggal sebagai pembaca. Saya melihat teman-teman penulis yang sebaya membaca buku-buku bagus lebih banyak, salah satunya saya kira karena mereka membaca lebih awal. Sementara saya mulai belakangan. Mungkin karena tidak ada yang memberitahu saya buku apa yang harus dibaca dan di mana mencari buku-buku tersebut.

Saya percaya ada banyak jalan menuju bacaan favorit berikutnya, termasuk jalan-jalan berikut yang saya alami selama ini:


1. Rekomendasi Personal

Bacaan saya sejauh ini sebagian saya dapatkan dari rekomendasi orang-orang yang saya kenal. Beberapa di antaranya teman penulis. Suatu hari dalam perbincangan singkat dengan novelis, saya mendapat ide untuk membaca buku-buku peraih Nobel Kesusastraan. Penulis lain yang saya sukai karyanya membuat blog berisi jurnal tentang buku-buku yang ia baca. Sesekali di kesempatan lain, secara langsung saya mendapat rekomendasi bacaan dari teman yang cukup dekat yang juga penulis.


2. Penghargaan Buku

Saya juga mengumpulkan bacaan dari buku-buku yang memenangi penghargaan (paling sering Pulitzer Prize dan Man Booker Prize). Kadang-kadang enggak mesti yang juara, yang sekadar masuk nominasi pun saya catat karena ada kemungkinan lebih bagus dari yang menang. Jalan lain: saya mencatat buku-buku yang disebut di halaman-halaman buku yang sedang saya baca, yang menjadi rujukan penulisnya (saya menemukan Raymond Carver dan Dostoyevsky dari novel-novel Haruki Murakami).


3. Media

Sekali waktu saya juga menengok daftar buku rekomendasi di media mainstream, semacam 100 Notable Books oleh New York Times atau The Best 100 Nonfiction Books oleh The Guardian. Tentu saya tidak mencatat semuanya, hanya beberapa yang kutipan atau ulasan singkatnya menarik perhatian saya. Di lain waktu saya tidak mencari buku, melainkan penulis yang menulis buku dengan tema terkait buku yang sedang saya baca. Misal ketika saya membaca Sejarah Tuhan Karen Armstrong, saya menemukan Richard Dawkins yang menulis The God Delusion dan Reza Aslan yang menulis God. Dalam hal ini, Internet sangat membantu.


4. Film

Kadang-kadang, saya mendapatkan rekomendasi bacaan dari film yang saya tonton. Film-film bagus biasanya menampilkan adegan aktor atau aktris yang sedang membaca buku. Meski seringnya cuma jadi pajangan, tapi kemunculan buku di adegan-adegan film bisa memberi ide bacaan berikutnya. Saya pernah membaca ulang The Old Man and the Sea Ernest Hemingway setelah melihat Denzel Washington membaca buku tersebut di sebuah kafe, dalam film The Equalizer. Saya membeli buku The Orchid Thief Susan Orlean usai menonton Adaptation, Spike Jonze.


5. Medsos

Twitter, Facebook, dan Instagram juga punya andil cukup penting bagi pencarian saya atas bacaan baru. Suatu hari saya membaca percakapan dua orang teman penulis di Twitter dan dari sana saya menemukan penulis favorit saya, Etgar Keret. Ketika sering mengoceh soal Etgar Keret, seorang admin toko buku daring memberitahu saya penulis asal Yahdu lainnya: Benny Barbash, novelnya berjudul menarik, My First Sony. Saat mencari buku-buku kajian Islam, saya bertanya via Instagram Story dan mendapatkan banyak rekomendasi buku, salah satunya yang kemudian jadi favorit saya, Islam: Pemikiran dan Peradaban oleh Fazlur Rahman.


Omong-omong soal rekomendasi, sebetulnya saya cukup sulit menerima saran bacaan dari orang lain, terutama yang belum saya percayai selera bacaannya. Saya harus mengakui ini karena cukup sering merasa bersalah ketika ada teman atau kenalan yang menyarankan saya untuk baca buku ini dan itu tapi enggak pernah saya anggap serius, padahal mereka memberi rekomendasi dengan sangat antusias. Masalahnya, saya sudah punya daftar bacaan. Semacam daftar pekerjaan rumah yang saya rancang. Saya hanya akan menginterupsi daftar tersebut jika saya sendiri yang menemukan bacaan baru di luar daftar, atau seseorang yang saya percayai bacaannya memberi saya rekomendasi.

Hal-hal bagus datang dari berbagai arah. Jika kita membuka mata dan tahu apa yang ingin kita cari, niscaya bakal ketemu. Apalagi ada Internet, rasanya enggak ada alasan untuk enggak menemukan bacaan bagus. Terus, katanya kalau kita memikirkan sesuatu terus-menerus, kita akan terus-terusan melihat hal tersebut di berbagai tempat yang kita datangi. Jadi teruslah pikirkan buku di kepalamu, niscaya buku-buku bagus, bacaan favoritmu berikutnya, akan muncul ke manapun arah matamu memandang.

6 April 2018

Bagaimana Saya Membaca Buku



Saya cukup sering dapat pertanyaan di Twitter atau Instagram seputar buku. Mulai dari rekomendasi buku, tempat beli buku, sampai cara saya membaca buku. Yang terakhir ini menggelitik saya karena sepertinya saya memang belum pernah cerita tentang cara membaca buku. Semata-mata karena saya merasa enggak ada yang khusus dari cara saya membaca buku.

Tapi saya percaya membaca adalah kegiatan yang sangat personal. Setiap orang bisa punya pengalaman, tujuan, termasuk cara membaca buku yang berbeda. Saya pernah dengar seorang teman yang juga penulis berkata ke pembacanya di sebuah talkshow bahwa ia membaca beberapa buku sekaligus.

Menarik, saya pikir. Kenapa saya tidak pernah mencoba membaca beberapa buku sekaligus? Pulang dari talkshow itu saya melakukannya. Saya baca empat buku, bergantian sesuai mood. Ternyata tidak berjalan baik. Saya sulit fokus, enggak memperoleh ikatan yang kuat pada buku mana pun, dan yang paling parah, susah mengingat apa yang sudah saya baca.

Terus saya teringat lagi pada hal yang saya yakini sejak awal, bahwa membaca merupakan kegiatan yang sangat personal. Mungkin bagi teman saya, membaca beberapa buku sekaligus membantunya untuk membaca lebih banyak atau lebih baik, tapi cara itu tidak berhasil buat saya. Saya lebih senang baca satu buku demi satu buku, menyelesaikannya sebelum berpindah ke yang lain.

Jadi mungkin memang ada yang bisa dibagi tentang cara membaca. Setelah mengingat-ingat pengalaman sendiri, kira-kira beginilah cara saya membaca buku selama ini:


1. Satu-Satu

Saya sudah coba membaca beberapa buku sekaligus. Tidak berhasil. Bukannya meraup lebih banyak pengetahuan, saya jadi enggak fokus dan gampang lupa sama apa yang sudah saya baca.

Jadi saya balik ke cara semula, beresin dulu satu buku baru pindah ke yang berikutnya. Cara ini bikin saya lebih fokus dan mengingat lebih baik. Keterikatan dengan apa yang saya baca pun jadi terasa kuat, efek aftertaste-nya pun jadi lebih membekas.


2. Bikin Jadwal Baca

Pada dasarnya saya senang membaca, jadi tanpa bikin jadwal pun saya tetap akan membaca setiap hari. Tapi ada saatnya saya mewajibkan diri untuk membaca, terutama ketika lagi malas membaca dan tumpukan buku yang belum terbaca semakin tinggi. Saya punya jadwal membaca buku yang simpel: satu jam tiap pagi habis bangun tidur dan satu jam sebelum tidur malam. Ini hanya batas minimum. Seringnya saya keasyikan baca sampai lewat dari satu jam.

Jadwal seperti ini membantu saya mengurangi rasa berdosa pada buku-buku yang sudah dibeli dengan sporadis dan tak berujung jadi tumpukan di sudut kamar.

Juga membantu saya biar enggak dapat hasil yang malu-maluin di Goodreads Reading Challenge.


3. Bawa Bloknot & Sticky Notes

Yang paling penting dari membaca buku bukanlah seberapa banyak buku yang sudah kamu baca, melainkan seberapa dalam kamu memahami isi buku tersebut. Saya selalu bawa dua benda ini, bloknot & sticky notes untuk membantu saya mencatat & menandai bagian-bagian yang menarik selama membaca buku.

Bagian-bagian menarik bisa macam-macam: pernyataan, pertanyaan, istilah, informasi mengenai tempat, kronologi sebuah peristiwa, sampai referensi yang disebut oleh penulis. Yang terakhir ini bagian yang paling saya suka. Biasanya habis baca buku yang bagus jadi ketemu buku-buku berikutnya (atau bahkan film!) yang juga bagus.

Mencatat adalah cara saya mengingat dan memahami lebih dalam buku-buku yang saya baca.



Sticky notes warna-warni alat yang ampuh buat nandain bagian penting biar enggak lupa.


4. Telusuri Jejak-Jejak Referensi Lain

Biasanya kalau baca buku, saya enggak hanya baca apa yang ada di buku tersebut. Kalau nemu istilah, kota, organisasi, judul buku, judul film, jurnal, nama-nama tokoh, saya akan melakukan penelusuran lebih lanjut. Lewat apa? Google dong. Jadi sambil baca buku saya bakal mencatat dan sesekali buka browser buat cari tahu hal-hal yang disebut di buku tapi enggak dijelasin secara lengkap oleh penulisnya.

Dengan cara ini saya jadi dapat informasi lebih banyak dari apa yang disediakan di dalam buku. Saya jadi memperoleh pengetahuan yang lebih komperehensif, sekaligus mengantarkan saya ke wacana-wacana terkait yang seringnya membawa saya ke bacaan berikutnya yang lebih menarik.



Catatannya bisa jadi bahan buat bikin ulasan juga!


5. Tulis Ulasan Buku

Kalau kata David Mitchell, buku yang belum selesai dibaca ibarat hubungan asmara yang belum beres. Alias ngegantung enggak enak. Kata saya, bahkan buku yang sudah selesai dibaca pun belum berarti sudah beres. Bagi saya proses membaca sebuah buku baru bisa dikatakan selesai kalau sudah ditulis ulasannya.

Selain bukti kepada diri sendiri bahwa saya sudah selesai membaca buku tersebut, membuat ulasan adalah cara saya mengingat ulang dan mengelaborasi pengetahuan yang saya dapatkan dari buku itu.


Nah, begitulah kira-kira cara saya membaca buku. Kalau kamu gimana? Sama atau beda? Share dong di kolom komentar.

5 April 2018

5 Toko Buku Online Favorit



Fotonya enggak nyambung gapapa ya.



Saya pakai online aja ketimbang daring. Bukan karena enggak cinta dan menghormati bahasa Indonesia, tapi rasanya lebih alamiah aja. Seperti yang kebanyakan dari kita alami, perkembangan teknologi sekarang mengubah banyak hal, termasuk cara belanja. Belanja online udah bukan hal aneh, malah jadi kebiasaan dan bagian keseharian manusia modern. Enggak terkecuali perkara belanja buku.

Sebagai orang yang senang menumpuk buku (harap jangan ditiru, kalau beli buku sebaiknya langsung dibaca) saya hobi banget belanja buku. Baru melihat-lihat buku aja saya udah senang. Ketika membayar buku yang saya incar, perasaan senangnya bertambah. Perasaan senang yang saya dapatkan saat belanja buku kadang-kadang nyaris seintens ketika membacanya.

Sekali waktu, saya masih belanja buku di toko buku offline (luring: luar jejaring), tapi sekarang lebih sering belanja di toko buku online. Alasannya simpel: cepat, gampang, praktis. Memang ada biaya  pengiriman, tapi saya anggap aja itu buat bayar ongkos karena saya enggak perlu berkendara motor dan muter-muterin toko buku tanpa kepastian ada enggaknya buku yang saya cari.

Nah, berikut ini 5 toko buku online favorit saya, yang paling sering saya samperin setiap pengin belanja buku:


1. Kedaiboekoe (@kedaiboekoe) - highly recommended!

Mereka punya akun Twitter maupun Instagram, tapi saya lebih sering skrol-skrol katalognya di Twitter. Adminnya update setiap hari. Yang saya suka, update-nya sering tematik. Misal di jam-jam tertentu di setiap harinya yang diunggah katalog buku-buku tema agama, bola, atau fiksi. Saya sering belanja di Kedaiboekoe kalau pengin cari buku-buku nonfiksi terjemahan Indonesia tema agama. Sudah berkali-kali belanja buku di sini, belum pernah kecewa satu kali pun.


2. Periplus.com

Tiga bulan terakhir saya hampir selalu belanja di web Periplus kalau pengin beli buku-buku impor. Koleksinya banyak banget karena basis datanya world wide, enggak seperti toko offline-nya yang terbatas. Proses pembelian jelas dan mudah. Kalau punya kartu member Periplus malah bisa dapat diskon tambahan. Waktu pengiriman cukup lama (2-3 minggu) tapi buat saya enggak masalah.


3. Mizanstore.com

Salah satu toko buku online Indonesia yang lumayan sering bikin event buku diskon, dan biasanya lumayan gede. Terakhir saya belanja baru-baru ini pas ada event diskon 35% dalam rangka ulang tahunnya. Proses pembelian mudah. Dapat notifikasi yang tertib setiap ada perkembangan selama proses pengiriman, jadi melacaknya pun gampang.


4. Gramedia.com

Belanja buku di web ini untuk alasan yang sama seperti Mizanstore.com, karena sering bikin event buku diskon. Proses pembelian pun mudah. Memang sempat kena masalah yang waktu event gede-gedean itu, tapi menurut saya kasus tersebut pengecualian. Saya tetap bakal beli buku di sini kalau ada event diskonan lagi.


5. Toko Ami Toko Buku (Instagram: @tokoami) -- highly recommended!

Koleksi buku impor bekasnya mantap. Langsung aja meluncur ke galerinya di Instagram. Kemarin saya nemu novel We Yevgeny Zamyatin dan White Noise Don DeLillo harga murah meriah dibanding cetakan baru. Kalau mau beli buku di sini harus gercep alias gerak cepat, karena hampir semua sudah sold out, dan kalau ada buku baru cepet banget terjual. Buruan selamatkan incaranmu!

4 April 2018

Cerbung Digital Espresso!



Espresso adalah judul karya terbaru saya. Cerita bersambung dalam format digital yang bisa teman-teman baca langsung di handphone. Bab pertama sudah terbit hari Selasa 3 April 2018 dan bab baru akan terbit setiap Selasa pukul 19.00 WIB.

Baca Espresso di aplikasi Storial.co (unduh di Google Play). Lima bab pertama dapat teman-teman baca dengan gratis. Bab keenam hingga tamat perlu membayar menggunakan Koin Storial, yang dapat teman-teman beli dengan pulsa operator.

Untuk pertanyaan seputar teknis (cara mendaftarkan akun di Storial.co, membaca, membeli koin, dan lain-lainnya) silakan kontak Tim Storial.co di Twitter & Instagram: [at]StorialCo.

Selamat membaca Espresso!

19 Maret 2018

The White Book, Han Kang




Saya tergelitik oleh tulisan Andina Dwifatma di blognya tentang hal-hal yang hanya bisa ditulis oleh penulis perempuan. Secara khusus di postingan tersebut Andina membahas cerita-cerita Alice Munro, peraih Nobel Sastra pertama yang hanya menulis cerita pendek sepanjang karirnya. Menurut Andina, cerita-cerita Alice Munro merupakan “antitesis terhadap ‘anggapan perempuan pemberontak sebagai premis cerita yang menarik’”.

Saya tidak bermaksud membahas Alice Munro, melainkan pernyataan Andina yang lain di tulisan yang sama, perihal asumsi bahwa ada hal-hal yang hanya bisa ditulis oleh pengarang perempuan. Pernyataan ini kontan membuat saya bertanya, apakah memang ada pula hal-hal yang hanya bisa ditulis oleh pengarang laki-laki? Apakah ada hal-hal yang tidak dapat menembus batas gender? Apakah gender, setelah memunculkan batas-batas norma dan peran sosial yang hingga kini terus berusaha ditembus, ternyata juga membatasi seorang pengarang dari menuliskan hal-hal yang ingin dia tuliskan?

Pertanyaan pertama yang perlu dijawab tentu saja adalah apa yang sungguh-sungguh membedakan perempuan dan laki-laki? Yang seketika terlintas di kepala saya: struktur biologis. Satu-satunya yang membedakan perempuan dan laki-laki adalah jenis kromosom mereka. Perempuan berkromosom homogamet, XX, sementara laki-laki heterogamet, XY, yang membuat keduanya mengalami perkembangan embriologi ke arah yang berbeda. Termasuk kemudian perempuan jadi punya rahim dan laki-laki penis. Perempuan dan laki-laki bahkan sama-sama punya hormon seksual esterogen, progesteron, dan testosteron, hanya dalam kadar yang berbeda. Sisanya? Sama saja.

*

Dalam tulisannya, Andina menyebut Dear Life – Alice Munro dan Ibu Mendulang Anak Berlari – Cyntha Hariadi sebagai contoh karya sastra yang mengangkat tema khas perempuan. Saya bermaksud menambahkan satu, The White Book – Han Kang.

The White Book adalah buku yang akan saya masukkan ke kategori buku yang hanya bisa ditulis pengarang perempuan, jika kategori itu betul-betul ada. Buku ini mengangkat tema yang khas perempuan, yakni melahirkan. Laki-laki tidak bisa melahirkan (iya, kuda laut jantan di baris belakang, saya melihatmu).

Salah satu bagian The White Book menggambarkan perpindahan bayi dari rahim ke dunia. Bab tersebut berjudul “Swaddling bands” mungkin jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia jadi “Kain lampin”.

“Swaddling bands white as snow are wound around the newborn baby. The womb will have been such a snug fit, so the nurse binds the body tight, to mitigate the shock of its abrupt projection into limitlessness.”

Paragraf tersebut diikuti deskripsi tentang perempuan yang pucat karena kehilangan banyak darah, sedang memandangi bayinya yang menangis. Bayi yang pada saat itu “belum tahu cara menyembuhkan tangisannya”. Kalimat-kalimat berikutnya menggambarkan dengan sangat rinci momen-momen emosional yang dialami perempuan ketika melihat bayi pertamanya.

Momen yang mengharukan itu serta-merta berubah drastis menjadi tragedi di bagian selanjutnya, “Newborn gown”.

“My mother’s first child died, I was told, less than two hours into life.

Dalam waktu amat singkat, kelahiran berganti rupa menjadi kematian. Keduanya dialami perempuan yang sama. Sosok yang menjadi tujuan aku-narator dalam tuturannya sepanjang buku, yang adalah anak kedua perempuan tersebut.

 *

The White Book ditulis menggunakan struktur yang mirip The Vegetarian, yakni terbagi menjadi tiga babak. Babak pertama The White Book berjudul “I” berisi narasi tokoh Aku yang mengingat ibunya. Babak kedua, “She” menceritakan kehidupan sang ibu. Yang terakhir, “All Whiteness” menggambarkan pikiran serta perasaan tokoh Aku mengenai, salah satunya, sesuatu yang hilang tapi menghubungkan dirinya dengan sang ibu, yakni almarhumah calon kakak.

Cara Han Kang membagi buku ini ke sub-bab yang pendek-pendek dan menuliskannya dalam narasi yang sangat puitis tapi tetap mengandung alur, tokoh-tokoh, dan adegan yang jelas, membuat buku ini menarik karena tidak betul-betul bisa dimasukkan ke kategori novel, kumpulan cerita, ataupun puisi. Buku ini ketiganya sekaligus. The White Book sesuatu yang segar dan lebih menyakitkan dibanding kedua pendahulunya, The Vegetarian dan Human Acts.

Han Kang menulis The White Book seperti sedang menulis tribut untuk semua perempuan di dunia, meskipun barangkali dia menengok ke sesuatu yang lebih personal, seperti sensasi yang saya rasakan ketika membaca halaman demi halamannya. Walaupun mengangkat tema yang khas perempuan, saya yang laki-laki tidak merasa tersingkir dari dunia yang Han Kang tulis, justru sebaliknya. Saya terisap ke semesta yang asing sekaligus akrab. Tempat saya berasal. Rahim ibunda.

Saya tidak bisa membaca The White Book tanpa sebentar-sebentar berhenti karena perlu mengatur napas. Setiap halamannya seperti mengirim pukulan demi pukulan yang keras ke sekujur perut saya. Ini buku yang menyakitkan, bahkan bagi saya yang tidak akan pernah merasakan hamil dan melahirkan. Bahkan di Twitter saya memberi peringatan bagi perempuan yang ingin membaca buku ini.



Kembali ke pertanyaan awal tulisan ini, adakah hal-hal yang hanya bisa ditulis perempuan sebagaimana ada hal-hal yang hanya bisa ditulis? Saya kira mungkin saja ada. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana seandainya The White Book ditulis oleh, misalnya, Raymond Carver? Akankan terasa senyata dan semenyakitkan seperti Han Kang menuliskannya? Carver bisa melakukan pengamatan, wawancara, dan beragam hal lain untuk meriset apa yang dialami tokoh-tokoh perempuan dalam The White Book, tapi apakah dia betul-betul paham bagaimana rasanya mengeluarkan manusia kecil dari perutnya dan menyaksikannya meninggal dua jam kemudian?



18 Maret 2018

The Red-Haired Woman, Orhan Pamuk




Novel terbaru Orhan Pamuk bercerita tentang seorang pemuda yang bekerja sebagai anak magang bagi seorang penggali sumur profesional. Si pemuda Cem, dan mentornya alias si penggali sumur itu sendiri dipanggil Master Mahmut. Ceritanya Cem dan Master Mahmut menggali sumur di kawasan pinggiran Istanbul, lalu satu hari Cem bertemu perempuan berambut merah yang bekerja sebagai pemain teater keliling. Pertemuan itu diiringi insiden yang mengubah jalan hidup Cem.

The Red-Haired Woman adalah cerita yang cukup sederhana jika dibandingkan dengan My Name Is Red atau The Museum of Innocence (saya menggunakan dua novel ini untuk perbandingan karena belum baca yang lainnya) meskipun saya enggak yakin apakah layak membandingkan mereka. Perbedaan yang paling kentara ada pada gaya narasi. My Name Is Red sangat kompleks dan The Museum of Innocence, meskipun tidak secanggih My Name Is Red, punya plot dan konflik internal yang tidak bisa dibilang sederhana.

Sebaliknya, The Red-Haired Woman seakan tidak menyimpan kejutan apapun. Sejak awal kita akan segera tahu apa yang akan terjadi pada tokoh utama. Judulnya membuat kita mengantisipasi kejadian seperti apa yang mungkin berlangsung sepanjang novel. Seperti misalnya, kita akan menunggu kapan si perempuan berambut merah muncul, siapa dia, dan apa yang membuatnya cukup istimewa sehingga layak dijadikan judul buku.

Setidaknya sejak membaca The Museum of Innocence, saya melihat tendensi gaya bercerita Orhan Pamuk yang senang memberitahu apa yang akan terjadi dalam ceritanya. Cara bercerita seperti ini di satu sisi memberi kenyamanan tertentu bagi pembaca karena jadi tidak perlu kebingungan dan menebak-nebak kejadian di novel, tapi juga memunculkan tantangan tersendiri bagi si penulis: penulis perlu memberikan hal lain yang lebih menarik di dalam ceritanya lebih daripada informasi mengenai apa yang sedang terjadi.

Pada My Name Is Red dan The Museum of Innocence, hal ini ditangani dengan baik melalui penggunaan diksi, plot, dan narasi. Saya kira siapapun yang sudah membaca My Name Is Red akan sepakat mengenai kepadatan narasi, diksi yang tidak sepenuhnya umum (setidaknya dalam versi bahasa Inggris; saya tidak membacanya dalam bahasa asli, Turki), di samping plot yang juga dinamis, bergerak tak tertebak menuju kemungkinan-kemungkinan yang sangat beragam. Jangan lupa permainan sudut pandang serta informasi yang kaya tentang sejarah dan teori seni rupa dalam konteks modern maupun Islam tradisional.

Di The Museum of Innocence, kesederhaan cerita menjadi sesuatu yang menarik karena dibalut narasi yang lembut, mengalir syahdu, dan di satu titik sampai menghanyutkan. Sampai-sampai tebalnya pun jadi tak terasa karena begitu menikmati tuturan Orhan Pamuk mengisahkan obsesi Kemal pada sepupu perempuannya.

The Red-Haired Woman, sayangnya, tidak begitu tertolong. Saya membaca begitu cepat karena dari paragraf satu ke paragraf berikutnya tidak menyajikan sesuatu yang mesti saya perhatikan dengan seksama. Bagian demi bagian informasi telah sangat jelas dan membuat saya dapat menebak apa yang akan terjadi, yang memang sesuai dugaan.

Barangkali saya luput menemukan hal yang menarik dari novel ini dan menyampaikan keluhan yang prematur. Harap jangan salah sangka, saya penggemar berat Orhan Pamuk walaupun belum membaca semua bukunya. Mungkin karena saya terlalu menyukai My Name Is Red dan The Museum of Innocence, saya menggunakan memori atas kedua novel tersebut untuk menilai novel Orhan Pamuk yang terbaru ini. Namun, saya cukup yakin, bahkan tanpa pernah membaca keduanya pun, saya akan menganggap The Red-Haired Woman sebagai karya yang biasa-biasa saja dari seorang pemenang Nobel Sastra.

Separah itukah The Red-Haired Woman? Yah, enggak juga, sih. Ada hal yang menarik seperti bagaimana Orhan Pamuk menggunakan kisah Oedipus mitologi Yunani dan tragedi Sohrab & Rostam dari sajak epik Persia abad ke-10 sebagai alusi bagi plot utama novel. Ramalan mengenai patricide (pembunuhan ayah oleh anak) dan filicide (pembunuhan anak oleh ayah) dari kedua alusi tersebut, diiringi kisah cinta oedipus complex menjadi balutan yang memberi lapisan-lapisan tafsir baru.

Namun, alusi-alusi tersebut tidak cukup untuk membuat The Red-Haired Woman jadi novel yang wah. Lagi-lagi, saya curiga semua ini gara-gara cara bercerita Orhan Pamuk yang, mungkin ya, kurang cocok. Pamuk seperti biasanya punya bahan yang menarik. Hanya saja kali ini saya tidak bisa tidak merasa Pamuk memilih cara yang keliru untuk menyampaikan bahannya.

Meski demikian, bagi penggemar Orhan Pamuk seperti saya, buku ini tetap layak dibeli buat koleksi. Sekali lagi sangat mungkin saya membaca dengan kurang teliti dan pembacaan saya tidak menyeluruh. Untuk itu saya menunggu pembacaan lain dari teman-teman yang sudah membaca buku ini (terjemahan bahasa Indonesia-nya sudah terbit) barangkali ada tuduhan-tuduhan saya yang keliru dan perlu ditelisik ulang.

Buku ini bukan karya yang buruk, hanya tidak seperti buku Orhan Pamuk yang saya harapkan. Yah, begitulah pembaca, kalau sudah retak ekspektasinya, sulit membuatnya mengapresiasi bagian lain yang penulis sajikan di dalam cerita. Ekspektasimu, harimaumu. ***