31 Desember 2014

novel terbaru saya



REVIEW:

Review oleh Hany Nurulhadi: "Surat untuk Ruth, Bernard Batubara"
Review oleh Anggrek Lestari: "Periodisasi Luka yang Pura-pura Terlupa"
Review oleh Friska Yulianti: "Seuntai Kata untuk yang Terkasih"
Review oleh Herlambang Adhytia: "Surat untuk Ruth"
Review oleh Indah Ayu Sartika: "Review Surat untuk Ruth"
Review oleh Viera Ajeng: "Review Surat untuk Ruth"
Review oleh Ayu Setioardi: "Review Surat untuk Ruth"
Review oleh Neni Safitri: "Review Surat untuk Ruth"
Review oleh Ve Handojo: "Surat untuk Ruth - Bernard Batubara"
Review oleh Amanda Sheila: "Review Anak Muda: Surat untuk Ruth by Bernard Batubara"
Review oleh Atria Sartika: "Surat untuk Ruth"
Review oleh Cahaya Ramadhani: "Review: Surat untuk Ruth"
Review oleh Ni Putu Candra Dewi: "Surat untuk Ruth, Memoar Singkat dan Dekat"
Review oleh Margareta Mentari: "Surat untuk Ruth by Bernard Batubara"
Review oleh Sofi Meloni: "Review Surat untuk Ruth by Bernard Batubara"
Review oleh Dinoy Novita: "Dear Are, Surat untuk Ruth by Bernard Batubara"
Review oleh Irhamna: "Kenangan Itu Jahat dan Mengacaukan Segalanya"
Review oleh Winda Huhul: "Welcome June, Surat untuk Ruth"
Review oleh Ruri Alita: "Surat untuk Ruth, Review"
Review oleh Aziz Amin: "Review Surat untuk Ruth"
Review oleh Azure Sekai: "Surat untuk Ruth by Bernard Batubara"
Review oleh Cholis Hidayat: "Review Surat untuk Ruth"
Review oleh Andi N. A.: "Review Novel Surat untuk Ruth - Bernard Batubara"
Review oleh Intan F.: "Review Surat untuk Ruth"
Review oleh Elisa Fariesta: "Surat untuk Ruth, Bernard Batubara"
Review oleh Charlenne Kayla: "Are, Ini Surat Untukmu"

1 Oktober 2014

Beberapa Hal Penting dari William Faulkner





UNTUK menjadi novelis yang baik, diperlukan 99% bakat, 99% disiplin, dan 99% kerja keras. Penulis yang baik tidak pernah merasa puas dengan apa yang telah ia buat. Ia akan selalu mengincar sesuatu yang lebih tinggi. Jangan cemas dan buru-buru ingin menjadi lebih hebat dari penulis senior, jadilah lebih baik dari dirimu sendiri. Penulis yang baik akan merampok, meminjam, atau mencuri dari siapapun dan semua orang, untuk menyelesaikan apa yang ia tulis.

LINGKUNGAN yang dibutuhkan penulis adalah tempat yang damai, tenang, menyenangkan, dan tidak kelewat : Untuk berkarya, seorang penulis tidak butuh kebebasan finansial. Ia hanya butuh sebatang pensil dan lembaran kertas. Penulis yang baik tidak pernah mengirim proposal pengajuan dana untuk berkarya. Ia terlalu sibuk menulis sesuatu. Jika ia seorang penulis yang baik, ia tidak akan mengeluh tidak punya waktu, atau tidak punya uang cukup untuk menulis. Penulis yang baik tidak punya waktu untuk mencemaskan kesuksesan, atau berharap menjadi kaya. Dan ia hanya bisa dimusnahkan oleh kematian.


TIDAK ada jalan pintas untuk menyelesaikan sebuah tulisan, kecuali belajar dari kesalahan. Jika seseorang hanya ingin mempelajari teknik, suruh ia belajar ilmu bedah atau melapis batu bata. Seorang penulis kelas-satu paham bahwa tak ada nasehat yang cukup bagus bagi dirinya, selain dari kesalahan-kesalahan yang telah ia lakukan sendiri.




30 September 2014

Mengenakan Kacamata





SAYA memiliki mata yang sehat. Begitulah yang saya yakini. Setidaknya hingga saya menginjak usia ke-25 tahun, karena sehari setelah itu, saya mendapati kenyataan yang cukup memukul.

Hari itu diawali dengan sangat normal. Saya sedang pergi ke sebuah mal, berdua dengan seorang perempuan yang saya sebut sebagai kekasih. Namanya G. Saya dan G usai menyantap sate padang di food court, dan kami melangkah ke sebuah toko optik. G bilang ingin melihat-lihat frame kacamata. Saya mengikutinya.

Sangat jarang saya masuk ke toko optik, karena memang tidak punya kepentingan. Mata saya sehat, untuk apa masuk ke toko optik? Hanya orang-orang berkacamata yang rajin main ke toko optik, atau orang-orang yang senang mengenakan kacamata, atau ingin membeli kacamata. Saya tidak termasuk ketiga golongan pengunjung toko optik itu.

Lalu, ketika saya sedang melihat-lihat santai kacamata yang berderet rapi di dalam rak berkaca, G memanggil saya: “Kamu nggak mau coba cek kesehatan mata?” katanya. Saya menoleh dan mengangkat alis. “Untuk apa?” jawab saya. “Mataku sehat-sehat saja, kok.” G bicara dengan santai, seperti biasanya, dia bilang apa salahnya saya mengecek kesehatan mata saya, kalau memang tidak ada apa-apa, ya bagus, dan kalau ada apa-apa, saya bisa mengetahuinya sejak dini. Saya pikir, betul juga, apa ruginya. Toh, untuk mengecek kesehatan mata di toko optik tidak dipungut biaya sepeser pun.

G akhirnya bicara kepada petugas toko dan berkata bahwa saya ingin mengecek kesehatan mata. Petugas mengangguk dan meminta kami untuk menunggu sebentar. Tidak berapa lama, saya dipersilakan masuk ke sebuah ruangan khusus untuk melakukan pengecekan. Saya duduk di kursi yang telah dipersiapkan, dan serangkaian tes pun dilakukan. Seiring saya diberi huruf-huruf dan gambar-gambar untuk diilhat, petugas hanya bertanya “Kelihatan, tidak? Kalau begini, kelihatan atau tidak?” Saya menjawab sesuai dengan apa yang saya rasakan. Setelah selesai, saya dipersilakan keluar dan menunggu hasil tes.

Alangkah terkejutnya saya, ketika petugas menunjukkan kertas hasil tes dan mengatakan bahwa mata saya minus sekaligus silindris. Dalam hati saya berkata: serius? Selama ini saya merasa, dan menganggap, mata saya sehat-sehat saja. Wong saya masih bisa melihat benda-benda dengan jelas, dekat maupun jauh. Jadi, tidak mungkin hasil tesnya minus. Ini pasti kesalahan.

G melihat hasil tes itu, dan menyarankan saya untuk mencoba cek kesehatan mata di toko optik lain, hanya untuk memastikan, karena dia tahu saya tampak terguncang melihat kenyataan tersebut. Mata saya minus.

Beberapa hari setelahnya, saya pergi ke sebuah mal dan melakukan cek kesehatan mata di tiga toko optik berbeda sekaligus. Semua hasil tes itu menyatakan hal yang sama: mata saya minus.

***

DAHULU, saya senang membeli dan mengenakan kacamata, hanya untuk gaya-gayaan. Menurut saya, orang yang mengenakan kacamata tampak pintar dan intelek, maka saya senang mengenakan kacamata. Namun, saya tidak pernah berharap betul-betul memiliki mata minus. Saya ingin mata saya sehat.

Demikianlah perasaan saya menjadi campur aduk, ketika mengetahui dan mencoba menerima kenyataan bahwa mata saya minus sekaligus silindris. Dan, karena mata saya minus dan silindris, maka saya harus mengenakan kacamata. Kali ini, saya mengenakan kacamata bukan untuk gaya-gayaan, namun betul-betul karena saya memerlukannya sebagai alat bantu. Rasanya sulit untuk mempercayai hal ini: saya butuh bantuan alat hanya untuk melihat.

Atas saran G, saya mencari frame kacamata yang murah, walau sebenarnya saya tertarik dengan satu model frame di toko optik yang pertama kali kami datangi. G bilang sebaiknya jangan langsung beli frame mahal. Karena G mengenakan kacamata jauh sebelum saya (ia mulai mengenakan kacamata sejak SMA), maka saya mempercayai sarannya. Saya mencari frame kacamata di lapak pinggir jalan, dan membeli sebuah seharga tiga puluh ribu rupiah.

Saya membawa frame kacamata baru itu ke toko optik, dan memesan lensa dengan ukuran sesuai kebutuhan saya. Setelah tiga hari, saya dikabari oleh toko optik, dan kacamata saya pun telah siap dipakai.

Alangkah kagetnya saya ketika pertama kali mengenakan kacamata. Tiba-tiba saja, benda-benda yang saya lihat menjadi tampak lebih tajam, warna-warna terlihat lebih jelas dan kontras, huruf-huruf di lampu neon lebih terbaca, dan cahaya-cahaya tidak lagi terlalu menyilaukan seperti sebelumnya. Saat pertama kali mengenakan kacamata, tiba-tiba saja semuanya jadi lebih benderang. Saya bahkan merasa seperti sedang berada di dunia yang lain. Dunia yang lebih cerah.

Dunia yang lebih berwarna.

***

SEMPAT terbawa beberapa saat oleh sensasi yang menakjubkan, saya mencoba meredam perasaan itu. Saya berpikir, jika dengan mengenakan kacamata, ternyata penglihatan saya menjadi lebih tajam dan jelas, berarti sebelumnya saya melihat hal yang “keliru”? Benda-benda yang saya yakini bentuknya, warnanya, ukurannya, jangan-jangan sebenarnya tidak demikian? Jangan-jangan, selama ini, saya hanya meyakini bahwa apa yang saya lihat adalah memang demikian adanya, padahal yang terjadi tidak demikian? Jangan-jangan, hanya karena tidak mau mengenakan kacamata dan merasa mata saya sehat-sehat saja, selama ini saya meyakini hal yang salah?

***

MEMBACA, dan menulis, juga tak pernah lepas dari perihal keyakinan. Seseorang yang memiliki banyak koleksi buku dan membaca buku buku “berat” yakin bahwa bacaannya lebih banyak, bagus, dan bermutu ketimbang orang lain. Seorang penulis yang menerbitkan novel-novel sastra dan hanya menulis puisi dan cerpen untuk dimuat di koran minggu yakin bahwa apa yang ia tulis lebih “tinggi”, “adiluhung”,  dan “berbobot” ketimbang penulis novel-novel roman populer dan novel-novel cinta remaja.

Sayangnya, hampir dari mereka semua (mungkin) tidak pernah mencoba melakukan sesuatu dari sisi yang lain, sisi yang mereka anggap lebih rendah hanya karena tidak sama dengan mereka. Penulis cerpen-cerpen dan novel sastra tidak mencoba menulis novel teenlit, pembaca novel-novel pemenang Nobel Sastra tidak mencoba membaca novel-novel metropop atau personal literature komedi. Beberapa mungkin mencoba dan tidak berhasil. Beberapa mencoba dan berhasil. Beberapa dengan cepat merespons: apa gunanya?

Mengenakan kacamata adalah suatu bentuk usaha untuk melihat sesuatu dengan lebih jelas. Saya menduga, dan tentu saja dugaan ini bisa sangat ceroboh dan tidak valid, bahwa orang-orang yang saya sebut di paragraf sebelumnya merasa memiliki mata yang sehat, sehingga tidak perlu mengenakan kacamata.

Paradigma yang tertanam dalam kepala, “sastra” adalah agung, sementara teenlit adalah sesuatu yang tak layak ditulis, terus-menerus tumbuh dan mengakar sehingga menjadi prinsip, lalu menjelma keyakinan. Untuk apa mengenakan kacamata penulis teenlit? Penglihatan saya sudah bagus, tajam, dan benar. Inilah keyakinan saya dan keyakinan saya adalah mutlak.

***


SAMPAI hari ini, saya terus mengenakan kacamata dan panik kalau lupa membawanya saat bepergian. Saya butuh kacamata, saya butuh alat bantu untuk melihat hal-hal, terutama keyakinan-keyakinan yang selama ini saya anggap benar. Sebab, bisa jadi, di antara mereka yang saya sebutkan di atas, ternyata saya melihat diri saya sendiri.

Ah, lagipula ini hanya perkara mengenakan kacamata. ***

29 September 2014

Penulis Muda Berbakat Ini Datang Dari Kota yang Bahkan Tidak Punya Toko Buku - Wawancara dengan Hipwee.com



Jarang saya bertemu dengan media yang memberikan pertanyaan-pertanyaan menarik. Seringnya pertanyaan yang saya terima selalu itu dan itu saja. Bukan kenapa-kenapa, saya juga manusia dan punya rasa bosan. Pertanyaan-pertanyaan berulang membuat saya bosan. Hipwee.com mengajak saya bertemu dan untunglah, mereka bertanya kepada saya hal-hal yang belum pernah ditanyakan oleh orang lain. Dalam artikel ini, mereka merangkum dengan baik apa yang saya ceritakan dalam wawancara tersebut.

Silakan baca: "Bernard Batubara: Mengikuti Passion Bukan Berarti Kamu Nggak Bisa Sukses!"

12 September 2014

Negeri Angin



                            Ilustrasi oleh Ida Bagus Gede Wiraga



Negeri Angin
Cerpen Bernard Batubara


Alkisah, di Negeri Angin, segalanya dikuasai oleh angin. Mulai dari masalah dapur dan rumahtangga hingga intrik-intrik di gedung dewan rakyat, semua dipengaruhi oleh angin. Mulai perkara anak sekolahan hingga masalah sengketa tanah dan warisan, semua bergantung pada angin. Begitu berkuasanya angin sampai-sampai semua warga penghuni Negeri Angin melayangkan doanya kepada angin.

Di Negeri Angin, tak ada yang namanya polisi. Setidaknya, semakin hari polisi semakin berkurang perannya dan lama-kelamaan tak ada lagi pemuda dan pemudi berminat untuk menjadi polisi. Sebabnya tak lain adalah setiap perkara kriminal yang dibawa ke kantor polisi, segera saja terbawa pergi oleh angin.

Begitu pula perihal yang paling marak dan disoroti di Negeri Angin, yakni perihal korupsi. Para aktivis anti korupsi semakin lama semakin surut semangatnya menyelidiki kasus-kasus korupsi sebab setiap perkara yang mereka bawa ke Komisi Pemberantasan Korupsi, beberapa hari kemudian langsung lenyap, melayang terbawa angin.

Sama pula dengan para aktivis kemanusiaan. Setelah bertahun-tahun berjuang melawan lupa, mereka pada akhirnya lesu juga, sebab tuduhan demi tuduhan dan tuntutan demi tuntutan atas kasus pelanggaran hak-hak kemanusiaan yang mereka koar-koarkan tak butuh waktu lama untuk kemudian terbawa hilang oleh hembusan angin.

Di Negeri Angin, hanya angin lah yang paling berkuasa. Angin yang mengatur ada atau tidaknya sebuah kabar. Datang atau perginya sebuah kasus. Muncul atau lenyapnya sebuah perkara.

***

“Kau tahu desas-desus itu?” Seorang pejabat kementerian berbisik kepada koleganya di dalam sebuah restoran mewah. Melantun musik slow jazz dan suara rendah Diana Krall yang syahdu. Terdengar pula denting garpu dan pisau juga suara riuh rendah obrolan pengunjung lain. Pramusaji berputar ke sana ke sini membawakan pesanan.

“Desas-desus apa, Pak?”

“Telah muncul sosok misterius.”

“Maksud Bapak?”

“Ya. Kabarnya, ada seseorang yang mampu menangkap angin. Dan dia telah menangkap angin dari berbagai penjuru Negeri Angin ini.”

“Begitu? Berbahaya sekali.”

“Ya. Ya. Berbahaya sekali. Tidak baik untuk bisnis kita. Dan kondisi pada umumnya, kau mengerti?

“Mengerti, Pak.”

Kedua pria bertubuh tambun dan berkemeja rapi itu sama-sama terlihat gelisah. Dua gelas anggur merah di atas meja bertaplak sutra masih utuh tak sempat terminum. Dua piring steak pun hanya tercuil sedikit. Lagu kini berganti ke sebuah lantunan bernada bossanova.

“Kabarnya, dia, sosok misterius itu, keluar menangkap angin setiap malam Jum’at kliwon. Kasus-kasus yang sudah terbang terbawa angin satu demi satu telah ditangkapnya. Kau tahu kasus suap yang melibatkan Tuan B dan Tuan C? Itu sudah ditangkap anginnya. Kasus proyek M? Itu pun. Semua sudah kembali ke kantor polisi dan penyelidikannya dimulai kembali.” Ia mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya yang gemuk dan pendek ke meja. “Kalau betul apa yang didesas-desuskan itu, hanya tinggal menunggu waktu hingga angin kasus kita ditangkapnya.”

“Gawat ini, Pak. Gawat ini.” Kolega pejabat tersebut tampak cemas. “Sosok misterius itu, adakah namanya Pak?”

“Orang-orang menyebutnya, Sang Penangkap Angin.”

***

Sang Penangkap Angin berdiri tegap di puncak sebuah gedung pencakar langit. Ia memicingkan mata, melempar pandangannya ke sudut-sudut kota di Negeri Angin. Di tempat itu, pada senjakala yang sama seperti beberapa tahun lalu, ia bertemu dengan kekasihnya. Seorang perempuan yang kelak menjelma menjadi udara.

“Duhai, udaraku, kekasihku. Lihatlah aku, berkelana dari satu kota ke kota lain di Negeri Angin ini. Menangkap angin demi angin untuk menemukan engkau dan rinduku yang telah terbang terbawa olehmu. Tapi tak kutemukan jua. Ke mana kah engkau, kekasihku, Udara?”

Tak ada jawaban dari angin di sekeliling Sang Penangkap Angin. Hanya terdengar olehnya siulan burung-burung dan dirasakan pada tengkuknya semilir angin kecil seolah merayu dirinya.

“Sebab tak kutemukan juga engkau dan rinduku yang lenyap diterbangkan angin beberapa tahun lalu, maka aku menangkap angin yang lain. Angin yang kutangkap itu, kekasihku, Udaraku, angin yang alangkah kotornya. Penuh suara-suara dan perkara-perkara busuk. Penuh hal-hal yang tak terselesaikan atau sengaja tak diselesaikan oleh para manusia. Aku menangkap angin demi angin itu, kekasihku, hanyalah untuk mengembalikan kepada mereka agar mereka menuntaskan apa yang sudah mereka mulai. Tentunya engkau setuju pada tujuanku, kekasihku, Udaraku?”

Setelah menarik napas yang panjang dan memejamkan mata sejenak, Sang Penangkap Angin melompat dari pinggir gedung pencakar langit itu. Ia merentangkan tangan dan ia tak terjatuh ke tanah, melainkan terbang. Ia terbang dan terus terbang, menuju cahaya termerah dari senjakala.

***

“Gawat, Pak. Gawat! Angin kasus kita sudah ditangkap. Angin kita itu!”

“Sialan! Sang Penangkap Angin kurang ajar. Kita harus beri dia pelajaran. Tidak bisa dibiarkan seperti ini, kau tahu? Tidak bisa!”

“Beri dia pelajaran, Pak? Bagaimana caranya, Pak?”

“Sewa mata-mata. Sewa pembunuh bayaran. Kumpulkan aparat yang bisa dibayar dan suruh mereka mencari dan menyingkirkan Sang Penangkap Angin. Jangan biarkan makhluk itu terus menangkap angin! Berbahaya, kau tahu? Berbahaya!”

“Ya, berbahaya Pak. Tapi bagaimana kalau gagal? Kabarnya Sang Penangkap Angin bukan manusia. Dia bisa terbang! Manusia seperti apa bisa terbang, Pak?”

“Ah, kalau perlu bayar dukun. Pendekar. Semuanya! Aku mau kepala Sang Penangkap Angin besok malam ada di meja kantorku. Kepalanya saja!”

***

Sang Penangkap Angin terbang dan terbang dari satu puncak gedung ke puncak gedung yang lain. Ia telah menangkap angin dan mengembalikan berbagai kasus ke kantor polisi dan lembaga-lembaga penyelidik. Kasus korupsi, pelanggaran hak asasi manusia, kekerasan dalam rumah tangga, penculikan, pembunuhan, satu per satu telah dimulai kembali proses peradilannya. Para pelaku terutama mereka yang berada pada kursi pemerintahan mulai cemas dan gelisah. Para korban setiap malam berdoa kepada Sang Penangkap Angin agar angin yang membawa terbang kasus yang menimpa mereka segera tertangkap dan diproses kembali oleh pihak berwenang.

“Kekasihku, Udaraku,” kata Sang Penangkap Angin, bergumam seraya ia terbang melintasi langit, “kadang aku lelah dengan apa yang kulakukan ini. Tak kunjung habisnya angin yang kutangkap. Peristiwa-peristiwa kotor dan tak terselesaikan itu seakan tak berbatas jumlahnya. Sampai kapan aku harus menangkap angin? Berapa banyak lagi kasus-kasus tak terselesaikan yang masih terbang terbawa oleh angin entah ke mana? Lebih-lebih lagi kekasihku, Udaraku, siapakah yang meniupkan angin itu? Siapa yang menciptakan Negeri Angin ini? Kenapa pula diciptakan negeri seperti ini? Negeri di mana permasalahan-permasalahan bangsanya tak pernah terselesaikan dan terbang begitu saja oleh angin? Kekasihku, ingin rasanya aku bertemu pencipta Negeri Angin ini.”

Bersamaan dengan itu, tiba-tiba terdengar suara letusan entah dari mana datangnya. Sang Penangkap Angin merasakan panas, panas sekali pada punggungnya. Ia menoleh ke belakang, tampak oleh matanya yang memicing seorang penembak jitu mengintainya dari puncak gedung di kejauhan. Ah, Kekasihku, ia membatin, rupanya tiba juga waktuku, mereka takkan membiarkanku menangkap angin lagi, sebab kehadiranku mengganggu kehidupan mereka.

Sang Penangkap Angin merasakan pandangannya mulai kabur. Ia mengerjap-ngerjapkan mata. Sekali lagi terdengar letusan keras. Timah panas menembus batok kepalanya dari belakang. Penembak jitu yang lain lagi. Sang Penangkap Angin tak mampu terbang. Tubuhnya seakan tak berbobot, jatuh bebas…

Di Negeri Angin, hanya angin yang paling berkuasa. Angin yang mengatur ada atau tidaknya sebuah kabar. Datang atau perginya sebuah kasus. Muncul atau lenyapnya sebuah perkara. Bahkan Sang Penangkap Angin pun kini telah terbang lagi, ke atas sana, dipanggil oleh Sang Angin.


***

10 September 2014

Membaca Puisi di FKY 26




Beberapa hari yang lalu, saya diberi kesempatan berharga untuk tampil membacakan beberapa puisi di acara "Puisi-Puisi di Jantung Tamansari" dalam rangka pergelaran Festival Kesenian Yogya (FKY) ke-26. Pada kesempatan tersebut, saya membacakan lima puisi baru yang saya tulis tahun ini. Puisi-puisi tersebut dapat dibaca di sini: BisikanBisikan



15 Agustus 2014

Pengumuman: Puisi Pindah Rumah


Demi kenyamanan membaca, saya memindahkan puisi-puisi saya dari blog lama ke rumah yang baru. Jika teman-teman ingin mampir, silakan ke sini: Bisikan-Bisikan