20 Mei 2017

Selamat Datang


Beli dan baca novel terbaru Bara. "Elegi Rinaldo" sudah bisa
didapatkan di Gramedia dan toko buku lainnya.

Bisikan Busuk adalah blog pribadi Bernard Batubara (Bara): penulis penuh-waktu, yang lahir 9 Juli 1989 di Pontianak, Kalimantan Barat; kini tinggal di Yogyakarta. Bara belajar menulis puisi, cerita pendek, dan novel sejak 2007. Buku-bukunya yang telah terbit: Angsa-Angsa Ketapang (2010), Radio Galau FM (2011), Kata Hati (2012), Milana (2013), Cinta. (2013), Surat untuk Ruth (2013), Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri (2014), Jika Aku Milikmu (2015), dan Metafora Padma (2016). Radio Galau FM dan Kata Hati telah diadaptasi ke layar lebar. Buku terbarunya terbit Desember 2016, novel Elegi Rinaldo.


16 Januari 2017

What Makes You Put Down a Book?




Belakangan ini saya sedang baca Other Colors: Essays and a Story, kumpulan esei Orhan Pamuk. Kebanyakan esei pendek, beberapa wawancara terpilih, baik tentang dirinya maupun buku-bukunya. Di salah satu eseinya, Pamuk sedikit menyinggung tentang apa yang membuatnya berhenti membaca buku. Meski di situ ia tidak secara khusus membahas hal tersebut, saya kira itu topik yang menarik.

Harus saya katakan bahwa saya tidak mudah berhenti membaca buku di tengah jalan. Saya tidak suka melakukannya. David Mitchell bilang, "A half-read book is a half-finished love affair." Saya tidak suka hal yang setengah selesai. Saya hampir selalu membaca cover to cover (sedikit pengecualian pada War and Peace dan The Satanic Verses). Saya mendapat kepuasan dari menyelesaikan sesuatu. Setiap akan membaca buku, saya terlebih dahulu mengira-ngira apakah saya bisa menyelesaikannya. Jika tidak, maka saya cari buku lain yang saya yakin bisa membacanya hingga selesai.

So, what makes me put down a book? Seperti saya bilang tadi. Jika saya sudah memutuskan membaca sebuah buku, maka 99,9% saya pasti akan menyelesaikannya. Namun, ada sisa 1% yang membuat saya bisa menutup buku sebelum selesai membacanya.

Berikut hal-hal yang bisa bikin saya berhenti membaca buku:


1. Logika cerita yang bolong

Sebetulnya, saya termasuk pembaca yang punya rasa toleransi besar terhadap buku yang sedang saya baca. Jika di tengah-tengah novel saya menemukan logika yang ganjil, saya enggak langsung berhenti membaca. Ingat bahwa setiap memutuskan membaca sebuah buku maka saya akan melakukan apapun demi merampungkannya. Saya akan bersabar dan berasumsi bahwa mungkin logika yang ganjil ini disengaja oleh penulisnya. Jangan lupa bahwa saya penikmat cerita-cerita sureal, fantasi, bahkan absurd, jadi saya sudah akrab dengan novel-novel yang memakai logika yang tidak umum. Namun, kadang-kadang penulisnya memang missed, dan ada logika yang kacau di novelnya. Kalau saya sudah enggak tahan lagi, saya akan menutup buku dan move on ke buku lain.

2. Timeline cerita yang membingungkan

Saya tidak bisa kasih contoh yang lebih baik untuk poin ini daripada The Satanic Verses. Novel Salman Rushdie yang kontroversial itu bikin saya cukup kelelahan membacanya. Bukan karena jelek, tetapi saya tidak mendapatkan kronologi cerita yang jelas. Transisi antarbagian pun sangat samar. Apalagi, Rushdie berpindah-pindah dari semesta realis ke surealis. Novel-novel tipe seperti ini harus sangat memperhatikan transisi antaradegan agar tidak menciptakan kebingungan dan kehilangan perhatian pembacanya; termasuk saya.

3. Bahasa yang kelewat rumit

Ini lebih sering terjadi di novel-novel berbahasa Inggris. Lagi-lagi saya enggak bisa mengelak dari memberi contoh The Satanic Verses. Bahasa Inggris Salman Rusdhie di novel ini rumit sekali. Saya enggak keberatan baca novel sambil buka kamus di ponsel, bahkan saya hampir selalu melakukannya jika memang ada kata-kata yang tidak saya mengerti. Namun, kalau saya harus buka kamus tiap baca satu kalimat, lama-lama capek juga.

4. Gaya bercerita yang sulit dinikmati

Saya percaya bahwa sebagai pembaca kita harus beradaptasi pada perkembangan gaya bercerita penulis. Artinya, jika ada novel yang penulisnya menggunakan gaya yang belum pernah kita lihat, bukan berarti kita harus menyalahkan si penulis atas gaya narasi yang aneh. Namun, apa boleh buat, kita kadang-kadang tidak bisa menghindar dari pengaruh selera. Saya teringat pada novelnya Toni Morrison, Beloved. Saya kesulitan membaca buku itu karena gaya menulis Morrison bagi saya terasa ganjil dan mengganggu. Tentu saja tidak berarti ini salah Morrison.

5. Tidak memberi saya pengetahuan baru

Kalau ini, saya enggak akan sampai menutup buku di tengah jalan. Paling jauh saya baca secara skimming.

-

Hal-hal yang saya jelaskan di atas tentu jadi catatan dan pengingat pribadi juga buat saya. Karena saya penulis, maka sebisa mungkin saya enggak menulis buku yang di dalamnya ada lima hal di atas. Jika kalian membaca buku saya dan menemukan hal-hal di atas, saya mohon maaf ya, he he he. Semoga saya bisa menulis lebih baik lagi di setiap buku yang saya terbitkan nantinya.

Nah, sekarang, bagaimana denganmu? What makes you put down a book?

14 Januari 2017

5 Toko Buku Favorit Bara



Saya mengenal toko buku di usia 12 tahun. Waktu itu saya kelas satu SMP. Sebelumnya, saya enggak pernah tahu ada sebuah tempat yang di dalamnya berisi banyak sekali buku. Meski saya lahir di kota, saya tumbuh besar di desa. Di desa saya, Anjongan, terletak 73 kilometer dari kota Pontianak, Kalimantan Barat, enggak ada yang namanya toko buku. Saya memperoleh buku-buku pertama saya (yang hampir seluruhnya komik) dari pemberian teman-teman kantor ibu saya dan membeli di sebuah toko baju lelong di Siantan (bagaimana toko baju bisa menjual buku hingga sekarang pun saya masih heran dan kagum, mungkin kali lain saya akan bercerita khusus tentang ini). Satu-satunya tempat atau ruang berisi banyak buku yang pernah saya lihat selama di desa adalah mobil perpustakaan keliling milik pemerintah daerah dan, tentu saja, perpustakaan pribadi saya sendiri.

Saat berusia 12 tahun, saya melanjutkan SMP di kota (Pontianak) dan tinggal bersama nenek. Saya termasuk murid yang rajin dan patuh aturan, tapi sebagaimana anak-anak lain, saya pun enggak suci-suci amat dari "dosa". Suatu hari teman saya mengajak belet (bolos dalam bahasa Melayu Pontianak) dari jam pelajaran, dan kami pergi ke mal yang letaknya meski tidak dekat-dekat amat, bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Di mal, teman saya asyik menghabiskan waktu di area permainan semacam Amazon. Namun, saya terhipnotis dengan sebuah ruangan berisi banyak buku. Banyak sekali. Buku-buku di dinding-dinding, di rak di lantai, dan di pilar-pilar. Itu Gramedia di Mal Matahari, toko buku pertama yang saya kunjungi seumur hidup saya (momen ini kemudian memperkuat keinginan lugu saya untuk menjadi penulis).

Namun, saya baru rajin pergi ke toko buku ketika kuliah di Yogyakarta, dan setelah lulus kuliah saya baru mengenal ada yang namanya toko buku impor, yakni toko buku yang menjual buku-buku yang didatangkan dari luar negeri, buku-buku berbahasa Inggris. Dua-tiga tahun belakangan, baru saya mengenal ada istilah toko buku jaringan dan toko buku independen, dan tentu saja toko buku daring (online). Macam-macam toko buku mengisi garis hidup saya, baik sebagai pembaca maupun penulis. Saya bahkan punya impian bisa jalan-jalan ke seluruh dunia hanya untuk pergi ke toko buku-toko buku di sana, dan tentu saja menuliskannya (semoga ada yang membaca tulisan ini dan berbaik hati membiayai saya memenuhi impian mulia ini).

Dari beragam toko buku yang pernah saya kunjungi, berikut lima toko buku favorit saya belakangan ini. Toko buku ini masuk ke dalam daftar saya untuk macam-macam alasan, yang akan saya jelaskan di masing-masing poinnya.


1. POST

Toko buku independen yang terletak di kawasan Pasar Santa, Jakarta, ini menjadi menarik karena dikelola oleh pasangan yang sangat mencintai buku. Mereka Maesy dan Teddy. Kali pertama saya mengetahui keberadaan POST melalui pemberitaan di media sosial tentang kebangkitan kembali Pasar Santa. Ketika hampir semua orang berbondong-bondong ke Pasar Santa karena jajanan-jajanan yang dijual di sana, saya tertarik dengan satu spot yang menjual buku. Tidak sulit untuk jatuh hati pada POST, karena selain mereka menjual buku-buku yang dikurasi secara ketat oleh pemiliknya sendiri, Maesy dan Teddy adalah orang-orang menyenangkan. Saya tidak pernah pergi ke POST tanpa merasa bahwa saya sedang mengunjungi rumah seorang teman. Mereka akan mengajakmu berbincang tentang buku, bertanya buku seperti apa yang kamu suka, dan merekomendasikan buku-buku yang menurut mereka menarik atau yang sesuai dengan selera kamu. Selain itu, POST juga secara rutin mengadakan acara-acara bertema buku, tulis-menulis, dan topik kreasi seni lainnya.

Lokasi: Lantai 2 Pasar Santa, Jakarta (bersebelahan dengan kedai Miechino)
Koleksi buku: Buku-buku Indonesia dari penerbit independen dan buku-buku impor
Nilai plus: Suasana nyaman, guyub. Bisa baca di tempat sambil ngopi dan makan mi ayam. Playlist lagu yang diputar enak. Selain Maesy dan Teddy, Nisa, penjaga POST, juga ramah dan bisa kamu ajak mengobrol tentang buku.





2. Kedai Jual Buku Sastra (JBS)

Terletak di bagian selatan Yogyakarta. Toko buku ini diawaki pasangan suami-istri pencinta buku. Mereka juga penyair. Mutia Sukma dan Indrian Koto punya koleksi banyak sekali buku-buku sastra Indonesia terbitan lama. Jika para pencinta buku di Yogyakarta sudah familier dengan toko buku seperti Social House Agency, maka Kedai JBS ini memiliki koleksi serupa. Kalau kamu berniat mencari buku-buku sastra terbitan Pustaka Jaya, Balai Pustaka, atau penerbit lain yang sudah lawas yang buku-bukunya tidak bisa kamu dapatkan di Gramedia, datanglah ke Kedai JBS. Bagi yang tidak tinggal di Yogyakarta, jangan khawatir, mereka melayani pembelian secara online dan mereka punya katalog: Jual Buku Sastra. Tinggal pilih dan pesan, praktis. Jadi kapan-kapan kalau main ke Jogja, selain beli Gudeg Yu Djum, jangan lupa main-main ke Kedai JBS. Lokasinya berdekatan.

Lokasi: Gang Semangat No. 150, Wijilan, Yogyakarta
Koleksi buku: Buku-buku Indonesia terbitan lama
Nilai plus: Koleksi buku sastra lawasnya lengkap





3. Toko Budi

Toko buku independen ini berkongsi tempat dengan penerbitan independen dan kedai kopi. Kalau belum familier dengan namanya, itu karena Toko Budi memang berusia muda. Anak-anak gaul Yogyakarta yang senang kopi dan buku mungkin lebih familier sama kafe Dongeng Kopi atau penerbit Indie Book Corner; Toko Budi berada di bawah atap yang sama dengan mereka. Buku-buku dari penerbit independen merupakan jualan utama mereka. Karena letaknya satu lokasi dengan kedai kopi, kamu bisa sekalian membaca buku yang baru kamu beli sembari menikmati secangkir kopi tubruk dan semangkuk kentang goreng.

Lokasi: Jalan Wahid Hasyim No. 3, Gorongan, Condong Catur, Yogyakarta
Koleksi buku: Buku-buku Indonesia dari penerbit independen
Nilai plus: Satu rumah dengan kedai kopi dan bersebelahan dengan warung burjo




4. Toga Mas

Mahasiswa di Yogyakarta pasti sudah akrab dengan toko buku yang memberi diskon seumur hidup kepada para pelanggannya ini. Ya, kamu enggak salah baca, Toga Mas memang menjual buku-bukunya dengan harga diskon, dan tidak hanya pada momen-momen tertentu, tetapi selamanya. Buku-buku koleksi pertama saya ketika berkuliah di Yogyakarta saya beli dari toko buku ini. Saya terutama mencari buku-buku puisi Indonesia di sini. Selain menjual buku-buku baru, mereka juga punya koleksi buku-buku sastra lama. Gedungnya berlantai dua, dan di lantai dua ada Djendelo Koffie, kafe yang pernah saya pakai sebagai latar cerita di novel pertama saya, Kata Hati.

Lokasi: Ada beberapa, tapi yang paling sering saya kunjungi di Jalan Gejayan
Koleksi buku: Buku-buku Indonesia baru dan lawas
Nilai plus: Harga bukunya selalu diskon



5. Kinokuniya

Saya enggak bisa memungkiri bahwa dua-tiga tahun belakangan saya lebih banyak membeli buku impor, dan di antara toko buku impor yang ada di Indonesia, saya paling sering belanja di Kinokuniya. Sesekali saya membeli buku di Periplus, Books & Beyond, dan Aksara. Namun, lebih banyak di Kinokuniya. Itu karena mereka punya koleksi yang lebih beragam, mulai dari buku-buku terbitan paling baru hingga novel-novel klasik. Kinokuniya favorit saya ada di Plaza Senayan, Jakarta. Kadang-kadang saya menemukan buku yang saya cari di Kinokuniya Grand Indonesia yang tidak ada di Plaza Senayan. Namun, saya lebih sering belanja di Kinokuniya PS.

Lokasi: Ada beberapa (Plaza Senayan, Grand Indonesia, Pondok Indah Mall)
Koleksi buku: Buku-buku impor
Nilai plus: Koleksi buku impor yang lengkap



-

Apa kalian punya toko buku favorit? Share di kolom komentar di bawah tulisan ini ya. Jangan lupa kasih tahu lokasinya secara rinci dan apa keunggulan toko buku tersebut sehingga jadi toko buku favorit kalian. Kali-kali aja pas saya main-main ke kotamu, saya jadi bisa berkunjung ke toko buku-toko buku yang kalian rekomendasikan. Have a great day!

(Catatan: Seluruh foto dari dokumentasi pribadi, kecuali foto-foto Kedai JBS yang saya ambil dari laman Facebooknya)

12 Januari 2017

5 Tips Mereview Buku À la Bara



Baru sekitar empat tahun yang lalu, saya mulai membuat catatan tentang buku-buku yang saya baca. Awalnya terinpirasi dari blog Eka Kurniawan. Sampai hari ini, saya masih menghindari sebutan review atau ulasan untuk menamai catatan-catatan buku yang saya buat di blog ini, termasuk juga resensi. Alasannya, saya merasa apa yang saya tulis tidak tepat memenuhi format resensi buku yang biasanya saya lihat dibikin oleh orang lain.

Namun, demi kemudahan dan supaya relatable, saya pakai istilah review khusus untuk tulisan ini. Saya bikin tips ini demi menjawab pertanyaan beberapa pembaca via instagram maupun e-mail tentang topik mereview buku.

Pertama-tama, perlu dicatat bahwa saya enggak punya metode khusus dalam menulis review buku. Saya juga enggak punya format yang jadi pakem setiap kali membuat review. Isi review saya dari satu buku ke buku lain bisa beda-beda. Di satu buku, misalnya, saya akan memulai dengan menceritakan sedikit kisah dari bukunya, sementara di buku lain saya bisa membuka tulisan dengan membahas sosok penulisnya.

Hal pertama yang saya lakukan ketika bikin review buku adalah mengingat-ingat, apa momen di dalam cerita yang paling berkesan buat saya. 

Meski demikian, saya mencoba mencatat poin-poin yang biasanya saya tulis ketika membuat review buku dan merumuskannya jadi serangkaian pertanyaan. Kamu bisa memakai daftar pertanyaan ini kali berikutnya kamu menulis review untuk buku yang baru saja selesai kamu baca.

Berikut ini lima tips mereview buku à la Bernard Batubara:


  • What's the most memorable moments from the book?
Hal pertama yang saya lakukan ketika bikin review buku adalah mengingat-ingat, apa momen di dalam cerita yang paling berkesan buat saya. Apakah adegan seorang tokoh utama bersembunyi dari kejaran penjahat? Atau percakapan antara sang hero dengan heroine di sebuah tempat yang ganjil? Ketika bikin review buat novel My Name Is Red (Orhan Pamuk) yang kali pertama saya ingat adalah paragraf pembukanya, yaitu mayat yang menceritakan kepada kita bagaimana dia dibunuh. Momen paling berkesan dari cerita di buku akan membawa kita ke hal-hal lain yang ingin kita tulis dalam review.


  • How does the book make you feel?
Karena saya cowok Cancer, apa-apa dibawa ke perasaan, termasuk kalau lagi baca buku. Jadi saat mereview pun saya mengingat-ingat, apa yang saya rasakan saat membaca buku ini? Buku-buku tertentu seperti novel-novelnya Haruki Murakami bikin saya tenggelam dalam melankoli dan detached dari dunia nyata. Novela The Hour of the Star (Clarice Lispector) bikin saya marah sama Tuhan, dan novela Bukan Pasarmalam (Pramoedya Ananta Toer) bikin saya terharu dan merasa kangen sama bapak. Saat membaca buku, kita bisa terbawa dengan emosi yang dituangkan atau dirancang oleh penulis buku tersebut. Bagaimana perasaanmu saat membaca buku itu? Jabarkan dengan rinci...


  • How does the book change the way you see the world?
Buku yang bagus dapat menggoyahkan bahkan mengubah caramu berpikir dan memandang dunia. 

Sebagai manusia, kita punya pemikiran dan konsep-konsep yang kita pegang saat memandang dunia dan kehidupan pada umumnya. Misalnya, kamu memandang bahwa dunia ini indah, sementara temanmu seorang yang selalu sinis sama dunia. Pemikiran ini terbentuk dari pengalaman hidup dan apa yang otak kita serap dari sekitar. Termasuk dari buku. Buku yang bagus dapat menggoyahkan bahkan mengubah caramu berpikir dan memandang dunia. Novela The Stranger (Albert Camus) mengubah cara saya memandang kehidupan dan kematian. Novel The Brothers Karamazov (Fyodor Dostoyevsky) memberi masukan yang sangat kuat terhadap cara saya melihat kebaikan, kejahatan, dan nasib manusia. Apakah buku yang kamu baca mengubah caramu berpikir? Tuliskan dampak semacam apa yang dimunculkan buku tersebut bagi konsep berpikir dan prinsip-prinsipmu.


  • Go outside of the book. Find more about the author.
Kalau buku yang saya baca bagus dan saya menyukainya, saya akan mencari informasi lain di luar buku. Yang pertama saya cari biasanya biodata penulisnya. Kedua, wawancara-wawancara tentang penulisnya. Saya sering dapat banyak hal dari melakukan ini, misalnya saya jadi tahu bagaimana Haruki Murakami menuliskan novel-novelnya dengan visi yang sangat abstrak dan tidak terencana, dan bahwa ternyata Orhan Pamuk orangnya sangat mekanis ketika merancang plot. Hal-hal trivial dari riwayat hidup penulis juga menarik dimasukkan ke review. Ketika baca novel Piramid (Ismail Kadare) dan nyari tahu tentang penulisnya, saya jadi dapat info bahwa buku ini ternyata pernah dilarang, dan naskahnya terpisah-pisah demi menghindari sensor sebelum dapat digabungkan kembali dan terbit jadi buku. Mencari tahu tentang sosok penulis juga bisa memberi kita pemahaman lebih dalam tentang apa yang dia tulis.

Kita menyukai sebuah buku karena kita merasa menemukan bagian dari diri kita sendiri di dalamnya. 

  • How do you relate to the book?
Kita menyukai sebuah buku karena kita merasa menemukan bagian dari diri kita sendiri di dalamnya. Buku-buku favorit kita biasanya mengonfirmasi apa yang sebenarnya sudah pernah atau sedang kita rasakan. Ketika baca novel-novelnya Haruki Murakami, saya merasa tokoh-tokohnya gue banget. Senang menyendiri, soliter, dan kadang-kadang clueless kalau menghadapi perempuan. Saya bisa merasa related sama bukunya karena apa yang tokoh-tokoh di buku itu pikirkan sama seperti apa yang saya pikirkan. Kalau kamu menemukan hal serupa ketika membaca buku, gambarkan apa yang membuatmu merasa buku itu gue banget. Mungkin orang lain juga merasakan hal sama denganmu.


Last but not least: Don't spoil anything!

Meskipun mungkin kadang-kadang saya keceplosan, tapi saya sebisa mungkin menghindar memberikan spoiler. Kecuali buku-buku klasik semacam The Brothers Karamazov, misalnya, saya merasa enggak masalah menyebut satu-dua hal kunci dalam ceritanya karena butuh untuk membahasnya, dan saya menganggap kalaupun saya ngasih spoiler, bukunya tetap layak dibaca dan enggak akan mengganggu pembacaan orang yang baru mau baca. Saya sangat berusaha enggak spoiler terutama buku-buku terbitan baru atau novel-novel tipis.

Membuat catatan tentang buku yang kita baca membantu kita memahami buku tersebut lebih dalam lagi.

Selamat membaca dan mencatat buku-buku yang kamu baca ya. Cheers!

11 Januari 2017

5 Kafe Favorit di Jogja Buat Nulis



Setiap penulis punya situasi idealnya masing-masing untuk menulis. Ada yang hanya bisa menulis di dalam kamarnya sendiri, ada juga yang butuh menulis di tengah-tengah alam yang sepi, seperti pantai. Saya hampir selalu menulis di luar. Di kafe, lebih tepatnya. Saya tidak bisa menulis di kamar indekos karena ketika berada di kamar pikiran saya tidak terjaga dan bawaannya pengin tidur-tiduran. Saya juga tidak yakin bisa menulis di pantai, karena kalau sedang di pantai tentu saja saya lebih pengin menikmati suasana pantai dan meresapi bunyi debur ombak dan pemandangan hamparan lautan luas di depan mata saya. Dalam situasi semacam itu, saya tidak butuh menulis, saya tidak ingin menulis.

Situasi ideal untuk menulis bagi saya adalah berada di tengah-tengah orang-orang, tetapi tidak di tengah-tengah keriuhan. Saya juga tidak bisa menulis dalam situasi yang hening. Saya butuh suara-suara yang riuh rendah. Saya membutuhkan suara-suara latar yang mengisi ruang dalam kepala saya sehingga membuat saya terjaga dan tidak mengantuk, tetapi juga tidak terlalu berisik sehingga membuat saya tidak bisa berpikir. Kafe adalah tempat yang pas buat saya. Suara-suara orang-orang berbincang-bincang atau mengetik di laptop mereka sendiri, bunyi-bunyian mesin espresso, derit pintu yang membuka dan menutup, musik instrumental yang mengalun dari pelantang di sudut langit-langit ruang kafe, semuanya menjadi kombinasi pas sebagai "suara latar" yang saya butuhkan untuk membangun mood menulis.

Saya bukan pejalan atau food blogger yang mendedikasikan sebagian hidupnya untuk mencari tempat-tempat bagus, tetapi sebagai penulis yang membutuhkan kafe buat bekerja, saya punya beberapa rekomendasi kafe yang pernah saya pakai menulis. Berikut lima kafe di Jogja yang menurut saya nyaman untuk kebutuhan menulis ataupun sekadar duduk-duduk merenung dan membaca buku:


1. Kolase Coffee




Kafe yang terletak di dekat kampus UPN Veteran ini berukuran kecil dengan dua lantai. Cahaya kekuningan yang mengisi ruangnya dan meja berbahan kayu jadi kombinasi serasi yang nyaman di mata. Di lantai bawah hanya ada dua meja, tapi jangan khawatir, naik tangga ke lantai dua dan kamu akan menemukan lebih banyak kursi. Kafe ini jarang ramai, jadi sangat ideal buat menulis. Koneksi wi-fi kencang dan stabil. Stok colokan pun aman.

Menu rekomendasi: Kopi tubruk Punik Sumbawa + French fries
Detail lokasi: Dekat perempatan lampu merah Ringroad Utara dengan UPN Veteran.
Waktu kunjung ideal: Pukul 13:00 - 18:00 WIB. Lebih mantap kalau sedang hujan.
Nilai plus: Baristanya ramah dan murah senyum.
Pelayanan: Oke punya.
Spot favorit: Lantai bawah, kursi dekat pintu masuk.



2. Coffeetime



Saya nandatanganin Elegi Rinaldo di Coffeetime, lho. Hehe.


Tidak jauh dari Kolase Coffee, Coffeetime terletak menempel dengan minimarket yang berada di pertigaan belakang kampus UPN Veteran. Kafenya juga kecil saja. Terdapat area bebas asap rokok dan juga area khusus merokok. Ruangannya hanya terdiri dari satu lantai, tapi jangan khawatir kehabisan tempat, karena kafe ini juga jarang penuh. Ambience tempatnya cukup nyaman. Karena bersebelahan dengan minimarket, kalau sedang kelaparan atau pengin beli cemilan lain, tinggal lompat ke sebelah (tapi jangan dibawa ke kafe ya, mari hargai barista kafenya). Selain dekat minimarket, Coffeetime juga berada di dekat orang jualan martabak. Koneksi wi-fi kencang dan stabil. Stok colokan aman.

Menu rekomendasi: Kopi tubruk Jawa Barat (lupa nama desanya) + donat mini + croissant
Detail lokasi: Pertigaan belakang UPN Veteran dengan Seturan (dari utara sebelah kiri jalan)
Waktu kunjung ideal: Pukul 10:00 - 16:00 WIB.
Nilai plus: Baristanya ramah dan humoris.
Pelayanan: Oke punya.
Spot favorit: Area bebas asap rokok, kursi dekat jendela.



3. Le Travail



Kafe yang memakai nama Prancis ini berada tepat di bagian selatan atau belakangnya kampus UPN Veteran. Kafe yang jadi salah satu tempat favorit para mahasiswa dan mahasiswi di sekitar kawasan Seturan. Le Travail buka 24 jam non-stop. Mungkin itu yang membuatnya jadi pilihan mahasiswa. Pencahayaan di kafe relatif lebih gelap dibanding dua kafe sebelumnya. Kalau ingin ke kafe ini untuk menulis atau baca buku, saya sarankan datang sejak pagi sekali hingga siang jelang sore. Karena kalau malam hari, Le Travail mulai ramai, dan area bebas asap rokok akan berubah fungsi jadi area merokok. Malam hari lebih nyaman untuk mengobrol santai daripada menulis. Satu hal lagi, agak sulit mencari tempat parkir di sini. Kalau bawa motor harus parkir di pinggir jalan. Kalau bisa jangan bawa mobil karena sulit parkirnya. Wi-fi kencang dan stabil dan colokannya banyak, tenang.

Menu rekomendasi: Kopi tubruk Papua Wamena
Detail lokasi: Pintu belakang UPN Veteran (dari timur sisi kiri jalan)
Waktu kunjung ideal: Pukul 7:00 - 15:00 WIB. Suasana paginya nyaman banget di sini.
Nilai plus: Buka 24 jam (meski dipenuhi kafe, tidak banyak kafe yang buka 24 jam di Jogja)
Pelayanan: Oke punya.
Spot favorit: Kursi dekat pintu masuk yang menempel di dinding (sisi kanan dari pintu masuk)


4. Mooi Kitchen



Berlokasi di kawasan Terban, kafe ini termasuk yang pertama-tama jadi favorit saya. Salah satu alasannya karena ada banyak rak berisi penuh buku-buku di kafe ini. Enggak heran, karena pemilik kafe ini sepasang suami-istri yang sama-sama senang membaca. Itu sebabnya di Mooi Kitchen juga sering menyelenggarakan kegiatan yang berkaitan dengan buku. Hampir setiap sekali sebulan, komunitas bernama Klub Buku Jogja bikin acara di sini. Ambience tempatnya pun nyaman. Wi-fi kencang dan stabil, jangan khawatir dengan colokan. Tapi kamu enggak begitu butuh colokan di sini karena ada banyak buku bagus yang bisa menemanimu mengisi waktu. Kafe ini dua lantai, dan buku-buku banyak berada di lantai atas. Spot paling oke: kursi dekat jendela.

Menu rekomendasi: Kopi tubruk + tiramisu + spagetti + klappertaart
Detail lokasi: Kawasan ruko Terban (belakang KFC Sudirman)
Waktu kunjung ideal: Pukul 16:00 - 20:00 WIB. Suasana jelang malam hari lebih oke di sini.
Nilai plus: Banyak buku-buku yang bisa dibaca di tempat. Koleksi bukunya bagus-bagus!
Pelayanan: Oke punya. Kadang-kadang pemiliknya juga standby di kafe dan mereka sangat ramah.
Spot favorit: Lantai atas, sofa dekat rak buku, atau kursi dekat jendela.


5. Dixie Easy Dining

Kalau kamu gampang merasa lapar dan butuh ngetik ditemani makanan berat, tempat ini sangat cocok buatmu. Tidak hanya kafe, Dixie juga semacam restoran. Namun, jangan bayangkan restoran yang "restoran banget", karena di tempat ini suasana kafe lebih kentara, terutama area lantai dua. Jangan khawatir kehabisan tempat duduk karena Dixie sangat luas. Ada dua lantai yang bisa kamu pilih sesuai selera. Kalau pengin di area yang agak terbuka, lantai satu cocok. Kalau ingin ngetik-ngetik di ruangan berpendingin yang tertutup, naiklah ke lantai dua. Kalau pengin menikmati suasana balkon dengan angin sepoi-sepoi, di lantai dua juga menyediakan area merokok yang berlokasi di balkon. Ada beragam makanan di sini, mulai kudapan sampai makanan berat seperti nasi atau pasta. Minumannya pun bermacam-macam. Area parkir luas, baik buat motor maupun mobil.

Menu rekomendasi: Mac 'n cheese + es teh leci
Detail lokasi: Jalan Affandi/Gejayan (dari utara sebelah kiri jalan)
Waktu kunjung ideal: Pukul 16:00 - 21:00 WIB. Malam hari lebih nyaman.
Nilai plus: Menu makanannya banyak dan enak-enak.
Pelayanan: Oke punya. Pramusajinya banyak dan responsif. Pesanan pun relatif cepat disajikan.
Spot favorit: Lantai atas, meja dengan empat kursi di dekat jendela/area balkon.


10 Januari 2017

Brave New World, Aldous Huxley




Saya selalu senang dengan cerita-cerita berjenis dystopian. Baik itu dalam format novel maupun film. Buat yang belum tahu apa itu dystopian, ingat-ingat aja arti dari “utopia”. Nah, dystopian atau distopia itu kebalikannya (sebelum menulis ini saya sempat ngecek di KBBI, ternyata meskipun kata “utopia” sudah terdaftar, “distopia” belum) Jika cerita-cerita utopia menggambarkan dunia dalam bentuk paling ideal dengan nilai-nilai sosial yang baik dan sempurna (yang mana tidak akan terjadi, makanya disebut utopia), cerita-cerita dystopian merupakan sisi koin sebaliknya, menggambarkan dunia yang mengerikan dan umumnya punya ciri terjadinya dehumanisasi, kestabilan sosial yang semu, dan pemerintah yang totaliter.

Ingat film The Hunger Games, The Giver, atau Divergent? Itu film-film dystopian (demikian pula dengan novelnya). Saya sendiri belum pernah membaca novel-novel utopia, tapi saya punya beberapa novel dystopian favorit. Yang pertama Nineteen Eighty-Four, George Orwell, dan yang kedua, novel yang pengin saya bahas dalam tulisan ini: Brave New World, Aldous Huxley.

Tiga tahun setelah membaca Nineteen Eighty-Four, saya membaca Brave New World. Tahukah kalian saudara-saudara sekalian? Novel si “senior” ini jauh lebih gila dari juniornya.

Aldous Huxley lahir pada akhir abad ke-18, tepatnya 1894. Hampir satu dekade sebelum bapak “Big Brother”, George Orwell, lahir. Huxley penulis yang sangat produktif. Selama hidupnya (ia meninggal pada usia 69 tahun), Huxley menulis tidak kurang dari 70 buku, dan tidak hanya novel. Ia juga menulis artikel, buku kumpulan cerita, naskah drama, bahkan buku puisi dan buku cerita anak. Untuk novel sendiri, Huxley menerbitkan sebelas. Namun, kayaknya novel Brave New World yang membuatnya namanya populer di kalangan dunia sastra. Novel ini bahkan jadi rujukan untuk pembelajaran di sekolah-sekolah di Inggris, semacam jadi karya sastra wajib baca yang kemudian dianalisa oleh murid-murid bersama gurunya. Seperti cerita Robohnya Surau Kami A. A. Navis, atau puisi-puisi Sapardi Djoko Damono kalau di Indonesia.

Novel Brave New World sering dibanding-bandingkan dengan karya “juniornya”, Nineteen Eighty-Four atau 1984. Meski novel Aldous Huxley terbit tujuhbelas tahun lebih awal daripada punya George Orwell, saya lebih dulu membaca karya si junior, dan saya sangat menyukainya. Tiga tahun setelah membaca Nineteen Eighty-Four, saya membaca Brave New World. Tahukah kalian saudara-saudara sekalian? Novel si “senior” ini jauh lebih gila dari juniornya.

Brave New World dibuka dengan adegan deskripsi singkat sebuah gedung yang berlokasi di London, tertulis dalam kapital: CENTRAL LONDON HATCHERY AND CONDITIONING CENTRE-pusat penetasan dan pengondisian. Apa pula yang ditetaskan dan dikondisikan? Telur ayam? Bukan, melainkan manusia. Kalimat berikutnya masih pada paragraf pertama, menggambarkan semacam plang yang bertuliskan sebuah slogan atau moto, juga ditulis dengan kapital: COMMUNITY, IDENTITY, STABILITY. Paragraf pembuka yang hanya terdiri dari dua kalimat ini sangat efektif dalam menggambarkan situasi keseluruhan dunia di dalam novel, dunia yang disebut penulisnya Brave New World.

Paragraf berikutnya menggambarkan aktivitas seorang petugas dengan jabatan tinggi sedang membimbing sekumpulan anak sekolahan melihat-lihat gedung itu. Semacam study tour atau orientasi. Anak-anak ini diperlihatkan bagian-bagian gedung tersebut oleh sang Director of Hatcheries and Conditioning. Sang Direktur tanpa nama ini menjelaskan kepada serombongan murid sekolah tentang proses inkubasi manusia, dan bagaimana tiap manusia dikondisikan untuk menempati pos-pos hidupnya kelak.

"Tall and rather thin but upright, the Director advanced into the room. He had long chin and big… Old, young? … It was hard to say. And anyhow the question didn’t arise; in this year of stability, A. F. 632, it didn’t occur to you to ask it."

Hal pertama yang perlu disadari ketika membaca Brave New World adalah latar waktunya. Seperti novel dystopian lain, novel ini berlatar jauh di masa depan. Di Brave New World, cerita dimulai pada tahun A. F. 632-A. F. adalah After Ford (ingat penanggalan Julian/Gregorian: B. C. untuk Before Christ, A. D. untuk Anno Domini atau masehi) Catatan di Internet yang saya temukan menyebut A. F. 632 di Brave New World adalah tahun 2540 masehi. Sehingga, dunia di novel adalah kurang-lebih enam abad di masa depan.

Meski tidak mutlak, keterangan waktu ini penting untuk memasuki dunia dalam novel dystopian. Itu sebabnya Aldous Huxley meletakkan keterangan A. F. 632 di bab pertama novel (Tall and rather thin but upright, the Director advanced into the room. He had long chin and big… Old, young? … It was hard to say. And anyhow the question didn’t arise; in this year of stability, A. F. 632, it didn’t occur to you to ask it). Sejak awal, Aldous Huxley sudah menjelaskan periode dunia seperti apa yang akan kita hadapi di dalam novelnya.

Maka kita bisa masuk ke bagian berikutnya tentang gambaran lebih detail dunia yang diciptakan Aldous Huxley. Dunia dalam Brave New World adalah dunia yang “stabil”, dengan manusia yang lahir melalui metode yang disebut Bokanovsky’s Process. Manusia tidak lahir dari satu embrio menjadi satu individu, melainkan satu embrio dapat dibelah menjadi delapan hingga sembilan puluh enam embrio sempurna, yang masing-masing menjadi individu. Manusia dibikin dengan cara seperti kita menduplikasi berkas di laptop, tinggal copy-paste sebanyak yang kita mau. Praktis, efisien, dan tentunya menciptakan kondisi masyarakat yang stabil karena tidak terdapat perbedaan antara satu individu dengan individu lain.

Bangunan sosial terdiri dari manusia yang telah dibagi menjadi kasta-kasta, dari yang tertinggi hingga terendah: Alpha, Beta, Gamma, Delta, Epsilon (konsep yang serupa dipakai The Hunger Games untuk pembagian divisi dan Divergent untuk pembagian faksi, meski di kedua cerita tersebut tidak terdapat perbedaan secara hirarkis antardivisi/faksi). Pembagian kasta ini mudah dipahami. Individu kasta tertinggi memiliki postur dan rupa yang sangat baik, serta tugas-tugas yang lebih “mulia” dibanding kasta-kasta di bawahnya (Epsilon digambarkan seperti buruh yang hanya mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kasar).

Mustapha Mond menjelaskan mengapa ia memilih dunia yang sekarang ketimbang dunia dulu, mengapa puisi, seni, cinta, komitmen dalam berhubungan, dan kebebasan adalah sumber ketidakbahagiaan, dan bagaimana hal-hal tersebut harus dihapuskan demi manusia mencapai tujuan hidupnya, yakni kebahagiaan itu sendiri. 

Sisanya adalah cerita mengenai Bernard Marx, seorang Alpha, protagonis novel ini. Bernard memiliki sedikit “cacat” karena meskipun ia Alpha, ia tidak bertubuh tinggi seperti Alpha umumnya, malah cenderung mirip orang-orang Epsilon. Rumor mengatakan ada yang enggak sengaja meneteskan alkohol ke tabungnya saat proses inkubasi. Kecacatan ini membuat Bernard tidak sepenuhnya berpikir layaknya seorang Alpha. Ia tertarik pada manusia dan kehidupan primitif, serta menganggap doktrin-doktrin yang diberikan oleh sistem sangat membosankan. Perilaku menyimpang ini kemudian membawa masalah bagi Bernard. Termasuk juga kepada temannya, Helmholtz, seorang Alpha yang punya ketertarikan lebih pada puisi dan perasaan-perasaan (ingat film The Giver saat sang protagonis menyadari bahwa dulu dunia berwarna dan lebih indah).


Tokoh penting di novel ini adalah John the Savage. Orang primitif yang kemudian hari dibawa Bernard ke “dunia beradab”, dunianya. Percakapan antara John the Savage dengan Mustapha Mond, sang kontrolir, adalah percakapan terbaik yang pernah saya baca sejauh ini. Kedalamannya setara dengan percakapan Alexey dengan Ivan Karamazov. Sementara the Savage atau Sang Liar memandang dunia beradab sebagai dunia yang mengerikan dan tidak seharusnya, Mustapha Mond menjelaskan mengapa ia memilih dunia yang sekarang ketimbang dunia dulu, mengapa puisi, seni, cinta, komitmen dalam berhubungan, dan kebebasan adalah sumber ketidakbahagiaan, dan bagaimana hal-hal tersebut harus dihapuskan demi manusia mencapai tujuan hidupnya, yakni kebahagiaan itu sendiri. ***

3 Januari 2017

Kalender Membaca 2017

Tiga tahun lalu, saya pernah membuat proyek serupa. Awalnya saya bikin proyek membaca ini buat diri sendiri saja. Tujuannya: untuk mengurangi tumpukan buku yang belum terbaca, sekaligus menebus dosa atas buku-buku yang dibeli secara impulsif tapi tak kunjung tersentuh itu. Namun, ketika saya iseng bikin pengumuman di twitter, ternyata banyak teman-teman yang tertarik ikutan bikin proyek serupa buat diri mereka sendiri. Saya senang sekali.

Jadi, tahun ini saya pengin bikin lagi Kalender Membaca 2017. Bagi yang pengin ikutan, ketentuannya masih sama. Tentukan paling sedikit satu buku yang ingin kamu baca setiap bulannya sepanjang setahun ke depan. Sedikitnya akan ada 12 buku yang beres dibaca, bukan? Angka yang kecil, tapi saya yakin kalian enggak akan berhenti jika sudah mencapai angka tersebut pada pertengahan tahun. Tambahkan jika memang ingin. Seperti saya bilang tadi, sedikitnya selesai baca satu buku tiap bulan.

Ketentuan lain, sebagai bukti bahwa kalian sudah membaca buku tersebut, kalian harus menulis catatannya di blog masing-masing. Resensi atau sekadar curhatan pun enggak apa-apa, yang penting bikin catatan. Jangan tanya lagi buat apa gunanya. Kalau sudah bikin catatan, kalian boleh share tautan blognya di kolom komentar tulisan saya ini. Enggak pun enggak apa-apa.

Proyek ini enggak ada hadiahnya. Saya hanya mengajak kalian melakukan hal yang menyenangkan. Merencanakan pengin baca buku apa selama setahun ke depan buat saya hal menyenangkan. Walaupun di tengah jalan bisa saja buku yang saya baca berubah, enggak masalah. Nah, berikut ini adalah buku-buku yang ingin saya baca tahun ini. Ada yang sudah saya mulai baca di tahun lalu tapi belum selesai, ada juga yang benar-benar belum pernah saya baca.




Nah, silakan menyusun kalender membaca 2017 milikmu sendiri. Kalau sudah, share tautan tulisanmu di kolom komentar pada tulisan ini ya. Barangkali saya atau yang lain terinspirasi dengan daftar buku yang ingin kamu baca. Selamat bertualang bersama buku-buku!

31 Desember 2016

20 Buku Terbaik 2016

Dibanding dua hingga tiga tahun sebelumnya, tahun ini saya membaca lebih sedikit. Jauh lebih sedikit. Sepertinya semakin tahun jumlah buku yang saya baca semakin berkurang. Saya enggak tahu apa alasannya. Mungkin karena tahun ini saya lebih banyak menulis, atau menonton film (saya menonton kurang-lebih seratus film). Barangkali saya memang sedang malas saja. Saya juga membeli buku lebih sedikit dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Meski demikian, saya tetap gembira karena hampir semua buku yang saya baca tahun ini adalah buku-buku bagus. Menurut statistik di Goodreads tempat saya mencatat buku-buku yang saya baca, saya membaca 38 buku. Saya nyaris memutuskan tidak lagi membuat daftar buku terbaik tahun ini karena sulit memilih beberapa dari seluruh buku yang saya baca sebagai buku terbaik, karena bagi saya hampir semuanya bagus. Namun, toh saya tetap membuat daftar ini, karena tradisi blog ini saja.

Sebelumnya saya sudah membuat tulisan Dosa Besar yang Membuat Saya Berkeliling Dunia, semacam usaha merekomendasikan buku-buku favorit saya dengan cara yang agak berbeda. Namun, akhirnya saya merasa ingin memilih buku-buku paling bagus dari daftar favorit saya itu. Maka jadilah tulisan ini. Berikut daftar 20 buku terbaik yang saya baca di tahun 2016, lintas genre mulai dari fiksi, puisi, hingga nonfiksi:





Tahun ini saya menantang diri sendiri untuk membaca karya sastra klasik. Bayang-bayang bahwa karya sastra klasik itu berat dan membosankan ternyata runtuh oleh buku pengarang besar Rusia ini. Saya mulai membacanya setelah terlebih dahulu menonton Karamazovi, film tahun 2008 karya sutradara Ceko, Petr Zelenka. Usai menonton film itu saya langsung tertarik baca novelnya. Ternyata novelnya sangat seru. Ceritanya tentang parricide, pembunuhan yang terjadi di dalam keluarga oleh anggota keluarga sendiri (dalam hal ini keluarga Karamazov). Saya menyukai karakter-karakternya dan percakapan-percakapan di novel ini. Perbincangan mengenai moral, ketuhanan, dan skandal percintaan mendominasi salah satu karya terbaik Fyodor Dostoyevsky ini.



Saya menggemari Orhan Pamuk sejak tahun lalu ketika selesai membaca novelnya My Name Is Red. Semenjak itu saya mencari dan membaca buku-bukunya yang lain. Buku ini salah satu karya nonfiksinya. Berisi kuliah umum yang ia sampaikan di sebuah universitas atas permintaan seorang temannya. Pamuk menceritakan tentang apa yang ia lihat dari sebuah novel ketika menjadi pembaca, dan apa yang ia pikirkan ketika menulis novel. Berangkat dari esei Schiller tentang puisi dan seni, Pamuk membuat teorinya tentang novel menggunakan cara pandang yang sama: naive dan sentimental. Buku ini sangat menarik bagi siapapun yang ingin belajar membaca dan menulis novel memakai kacamata seorang pemenang nobel kesusastraan.

Belum pernah saya merasa sepuas ini membaca novel Indonesia. Raden Mandasia bikin perhatian saya terjerat sejak paragraf pembuka dan saya tidak bisa melepaskan novel ini tanpa memikirkannya. Adegan-adegannya sangat filmis, bikin saya membayangkan sebuah film laga kolosal, dengan humor yang meledak di sana-sini. Petualangan Sungu Lembu dan Raden Mandasia bikin saya memimpikan memiliki perjalanan seru serupa bersama seorang sahabat, tentu saja di tengah-tengahnya saya berharap bertemu seorang Nyai Manggis. Buku ini mengembalikan kesenangan murni membaca cerita yang telah lama hilang dari diri saya. Barangkali salah satu novel Indonesia terbaik yang pernah saya baca seumur hidup. Ini tidak berlebihan.

Terjemahan bahasa Indonesia dari Timequake (1997). Saya muntah empat kali sepanjang membaca buku ini, enggak bohong. Vonnegut bikin saya ngakak dari awal sampai akhir, mulai dengan ejekannya pada karya Ernest Hemingway hingga teka-teki tentang kotoran burung. Ceritanya sendiri bernuansa fiksi sains. Cara menulis Vonnegut yang seperti bermain-main mungkin salah satu hal yang membuat buku ini sangat menghibur. Selera humor Vonnegut ampun-ampunan. Leluconnya gelap. Ia meledek perang dan lain-lainnya, sembari menekankan betapa pentingnya peran sebuah keluarga besar.

Buku lain dari Kurt Vonnegut yang bikin saya ngakak. Kali ini ceritanya rada waras. Masih bernuansa fiksi sains, tentang perburuan komponen kimiawi yang bisa membekukan cairan dan menciptakan kiamat. Tendensi Vonnegut untuk bermain-main dengan topik yang serius dan menggunakan cara pandang yang humoris dalam melihat sesuatu adalah hal yang paling saya sukai dari penulis Amerika satu ini. Selain membahas perang, di Cat's Cradle Vonnegut juga menyinggung tentang agama dan Tuhan.

Terjemahan Indonesia dari In the Time of Madness: Indonesia on the Edge of Chaos (2005), tentang reportase Richard semasa penugasannya di Indonesia dalam kurun 1996-1998. Richard Lloyd Parry adalah koresponden luar negeri untuk The Independent. Dalam buku ini ia melaporkan dengan sangat detail peristiwa konflik di Jakarta, Papua, dan Kalimantan Barat jelang turunnya Soeharto. Saya membaca buku ini ketika melakukan riset literatur untuk Metafora Padma. Membaca buku Richard seperti membaca novel, karena deskripsinya sangat filmis dan cara bertuturnya sangat enak dibaca, meskipun tentu saja peristiwa yang ia laporkan begitu kelam dan menyedihkan. Salah satu bacaan penting tentang 1998.

Kumpulan cerita pendek tentang cinta. Buat saya, Raymond Carver salah satu contoh paling baik penulis yang menulis cerita cinta, karena ia begitu subtil. Carver tidak menjual drama dan menyampaikan konflik di antara tokoh-tokohnya secara eskplisit, melainkan memberi situasi-situasi yang membuat kita mengerti bahwa sedang terjadi masalah. Cerita-ceritanya terkesan sederhana, tetapi di dalamnya terdapat konflik yang kompleks, seperti cinta itu sendiri.

Memoar tentang kota Istanbul dari kacamata penulis yang tinggal di sana selama tidak kurang dari setengah abad. Dalam suatu wawancara, Orhan Pamuk pernah berkata bahwa penulis-penulis lain mendapatkan inspirasinya dari bepergian ke negara-negara lain, sementara Pamuk selama lima puluh tahun tidak pernah keluar Turki. Ia melihat Istanbul sebagai kota yang diselimuti melankoli, kota yang masih menyimpan sisa-sisa keagungan masa lalu, menolak kalah, tetapi tidak dapat menghindar dari keruntuhan dan kesenduan yang membungkusnya. Seperti buku Pamuk yang lain, buku ini bikin saya memasukkan Turki sebagai negara yang sangat ingin saya kunjungi sebelum saya mati.

Penulis yang paling banyak saya baca bukunya tahun ini. Saya membaca lima kumpulan cerita pendek Keret dan satu memoarnya. Buku memoar ini adalah yang terbaik. Keret menggunakan kelihaiannya bercerita untuk menuturkan fragmen-fragmen menarik dalam hidupnya. Tujuh tahun yang dimaksud dalam memoar ini adalah tahun-tahun di antara kelahiran anak pertama Keret dan kematian ayahnya. Periode yang, disebut Keret sebagai "Masa di mana saya merasakan menjadi ayah dari seorang anak dan anak dari seorang ayah". Saya berkali-kali tersentuh oleh cerita-cerita Keret di buku ini. Optimisme dari seorang sinis yang mengharukan dan humor yang menyenangkan adalah dua dari sekian hal yang saya sukai di buku ini.

Terjemahan Indonesia dari La casa de papel (2002), novela penulis Argentina Carlos Maria Domínguez. Buku dari dan untuk para pencinta buku. Sama seperti buku-buku penulis Amerika Latin lainnya, tidak ada satu halaman pun yang membosankan dari buku ini. Misteri dan percakapan-percakapan tentang buku di dalam buku ini bikin saya ketawa dan haru di saat yang sama. Penerjemah Ronny Agustinus bekerja dengan sangat baik, tidak ada kata-kata atau kalimat yang membingungkan sepanjang saya menikmati membaca novela ini. Novela terbaik setelah Pedro Paramo.

Buku yang menegaskan tentang kekejaman Tuhan, seenggaknya saya melihatnya demikian. Ini buku pertama yang saya baca dari penulis Brazil. Saya tidak punya banyak penulis perempuan favorit, dan karena novel tipis ini Lispector masuk ke dalam daftar penulis perempuan favorit saya. Ia menulis tentang seorang gadis lugu di perkampungan Brazil bernama Macabéa, dan bagaimana gadis tersebut menemui ajalnya.

Etgar Keret dari versi negara seberang. Hassan Blasim menyajikan cerita-cerita brutal tentang perang di Irak. Kadang-kadang cerita-ceritanya bernuansa sureal, sama seperti cerita-cerita Keret. Saya sering menyarankan kepada beberapa orang teman untuk membaca kumpulan cerita pendek Etgar Keret dan Hassan Blasim berdampingan. Sensasinya unik. Saya membeli buku ini tanpa pikir panjang setelah membaca cerita pembukanya, tentang sekumpulan teroris yang tidak ingin menyebut diri mereka teroris, melainkan pelaku seni, karena mereka membunuh dan memajang mayat-mayat di seantero kota layaknya membuat sebuah pameran. Kumpulan cerita yang brutal dan penuh ironi.

Buku yang mengubah cara pandang saya terhadap agama, Tuhan, dan ketuhanan. Buku yang bagus, tetapi tidak cukup ampuh untuk membuat saya jadi seorang ateis. Richard Dawkins memaparkan dengan teratur (seringkali disertai rujukan pendapat orang-orang lain) beragam alasan mengapa menurutnya Tuhan tidak lebih dari sebentuk delusi di dalam kepala manusia. Salah satu buku yang penting dibaca bagi siapapun yang sedang berada dalam pencarian Tuhan dan kebenaran agama.

Novel Indonesia kedua terbaik setelah Raden Mandasia. Absurd seabsurd-absurdnya, tetapi sangat menyenangkan untuk dibaca. Ditulis dengan cara bertutur orang gila, dalam format buku nonfiksi panduan (how to) dan dilengkapi beragam gambar, tabel, dan grafik yang sama ngawurnya, yang berisi ejekan dan kritik terhadap banyak hal, di antaranya peran pegawai negeri sipil dan gaya hidup manusia modern. Novel yang bikin kamu merasa hidupmu baik-baik saja sebelum membacanya.

Novela tentang cinta dan obsesi. Meskipun isinya serius, tapi saya berkali-kali ngakak bacanya, karena merasa punya kesamaan dengan Juan Pablo Castel, pelukis yang terobsesi sama seorang perempuan dan overthinking abis. Dia enggak berbuat banyak tapi pikirannya luar biasa bawel. Paranoid dan terlalu banyak pertimbangan daripada beraksi. Meskipun buat saya menghibur, tapi sebenarnya novela ini tragis dan depresif.

Saya enggak pernah menyangka bahwa selain punya dunia hiburan yang sangat sukses, Korea juga punya sastra yang keren. Kemenangan Han Kang dalam penganugerahan Man Booker Prize International 2016 (menyingkirkan Orhan Pamuk, Kenzaburo Oe, dan Eka Kurniawan) adalah salah satu buktinya. Meminjam prolog The Metamorphosis Kafka, Kang menuturkan cerita seorang perempuan usia tigapuluhan yang mengalami perubahan signifikan di dirinya, dalam usaha membersihkan bekas-bekas kekerasan yang pernah terjadi di masa lalu. Sedikit informasi kecil: Han Kang sendiri hanya pernah jadi vegan, sekarang ia sudah makan daging demi alasan kesehatan.

  • Sergius Mencari Bacchus, Norman Erikson Pasaribu
Buku puisi Indonesia terbaik yang terbit tahun ini. Norman mengangkat tema-tema LGBT dengan bentuk pengucapan yang belum pernah saya lihat, semacam campuran antara puisi dan prosa, tetapi kian menarik karena ia sering menggunakan kata-kata yang barangkali tidak dianggap cukup puitis untuk dimasukkan ke teks puisi. Gaya bahasanya segar, jauh dari bikin ngantuk. Norman menulis puisi-puisi menggunakan kosakata dari masa kini dan alusi yang jauh ke belakang hingga abad ke-4. Penyair muda yang bikin saya optimistis sama masa depan dunia puisi Indonesia.

Cerita tentang laki-laki India yang ingin membebaskan diri dari jerat kemiskinan. Gaya bertutur Aravind Adiga yang selengean dan bertabur umpatan bikin saya merasa seperti sedang membaca The Wondrous Life of Oscar Wao, Junot Díaz. Novel ini menyenangkan sekali, dan sangat page-turner. Aravind Adiga memperlihatkan sisi kelam India, dan di beberapa tempat saya bahkan merasa seperti sedang membaca cerita tentang Indonesia.

Terjemahan Indonesia dari La Pyramide atau Piramida (1992) karya penulis Albania, tentang pembangunan piramida baru oleh firaun muda yang berubah dari tidak menginginkan simbol kekuasaan apapun, menjadi terobsesi dengannya. Kadaré menekankan topik ironi kekuasaan lewat firaun Cheops dan kesengsaraan serta kebanggaan warga Mesir yang terlibat dalam pembangunan piramid tersebut. Buku yang bikin saya berkali-kali nahan napas membayangkan piramid yang gigantik dan kekacauan berdarah yang berlangsung dalam proses pembuatannya.

Kumpulan cerita terfavorit saya tahun ini. Cerita-cerita Lahiri tentang India sangat sederhana dan universal, sehingga membuat saya sangat mudah merasa related dengan manusia-manusia yang ia kisahkan. Lahiri sangat detail dalam menggambarkan suasana dan saya menyukainya. Konflik dalam cerita-ceritanya hadir begitu subtil, sekaligus intens. Selain cerita yang menjadi judul buku ini, cerita lain yang saya sukai adalah A Temporary Matter, karena bikin saya teringat pada masa kecil ketika seisi kompleks mati lampu dan kami bermain-main di luar rumah. Karena buku ini juga, saya memasukkan Jhumpa Lahiri ke daftar penulis perempuan favorit saya, dan saya berencana membaca buku-bukunya yang lain tahun depan.

- - -

Beberapa waktu lalu, seorang teman yang juga penikmat buku bertanya kepada saya, "Kamu ingin baca apa tahun depan?" Saya sempat berpikir sejenak karena tidak bisa segera menjawab. Saya tidak punya target khusus selain berharap bisa membaca lebih banyak buku bagus. "Mungkin ingin baca karya-karya klasik lagi," jawab saya akhirnya. Semoga saja harapan itu tercapai. Tapi kalian tahu lah saya ini Cancer. Saya senang berencana tapi enggak merasa masalah kalau menyeleweng dari rencana awal untuk memberi ruang bagi hal-hal menarik yang datang. Maksudnya, saya bisa saja membuat daftar membaca tahun 2017, tapi sangat mungkin di tengah-tengah saya membaca buku lain yang tidak pernah masuk daftar tersebut. Intinya, sih, fleksibel saja.

Kalau kalian, bagaimana buku-buku bacaan kalian tahun ini? Apakah kalian membuat daftar seperti ini? Buku-buku apa yang ingin kalian baca tahun depan? Share di kolom komentar ya.

Selamat tahun baru!