20 Mei 2017

Selamat Datang


Bisikan Busuk adalah blog pribadi Bernard Batubara (Bara): penulis penuh-waktu, yang lahir 9 Juli 1989 di Pontianak, Kalimantan Barat; kini tinggal di Yogyakarta. Bara belajar menulis puisi, cerita pendek, dan novel sejak 2007. Buku-bukunya yang telah terbit: Angsa-Angsa Ketapang (2010), Radio Galau FM (2011), Kata Hati (2012), Milana (2013), Cinta. (2013), Surat untuk Ruth (2013), Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri (2014), dan Jika Aku Milikmu (2015). Radio Galau FM dan Kata Hati telah diadaptasi ke layar lebar. Buku terbarunya terbit Agustus 2016, kumpulan cerita Metafora Padma.

24 Agustus 2016

Beli Metafora Padma



Buku terbaru saya, Metafora Padma, sudah terbit sejak 15 Agustus 2016. Saat ini sudah tersebar ke toko-toko buku di 25 kota di Indonesia: Gramedia, Toga Mas, Jendela, dan toko-toko buku lain.

Bagi yang ingin memiliki buku ini, selain dengan mendatangi toko-toko buku tersebut, juga bisa membelinya di toko-toko buku daring. Kelebihan membeli buku di toko buku daring adalah, kamu tidak perlu repot-repot pergi ke toko buku, buku langsung diantar ke alamat, dan biasanya diberi harga diskon. Tentu saja ada ongkos kirim yang mesti ditanggung pembeli.

Berikut adalah daftar toko buku daring yang menyediakan Metafora Padma. 

  • Twitter: @kedaiboekoe (085891444731), @katalisbooks (085793042909), @hematbuku20 (087781853710)
  • Instagram: @demabuku (085881449998), @warnabuku (087882023533), @yukbelibukuori (087853358866), @goarbuku (081288456447), @buku_plus (089628519266)
  • Web: www,bukabuku.com, www.bukubukularis,com

Hingga hari ini, Metafora Padma sudah tersebar hampir merata di seluruh Indonesia, kecuali beberapa kota di Sulawesi dan Indonesia Bagian Timur. Jika ada yang memiliki informasi di kotanya, mohon beri tahu saya, agar pembaca lain dapat terbantu dan bisa menemukan Metafora Padma.

Terima kasih.


The Tunnel, Ernesto Sábato



Semenjak dulu sempat membaca sebuah novel tipis karangan Juan Rulfo, Pedro Páramo, dan sebuah kumpulan cerita sangat pendek antologi penulis Amerika Latin terjemahan bahasa Indonesia oleh Ronny Agustinus, Matinya Burung-Burung (sayang sekali penerbitnya gulung tikar, padahal menurut saya terbitannya bagus-bagus), saya jadi punya ketertarikan khusus terhadap penulis-penulis Amerika Latin. Salah satu yang membuat saya tertarik adalah kebanyakan mereka punya selera humor tinggi (walau barangkali masih kalah sedikit dari Kurt Vonnegut).

Salah satu penulis Amerika Latin yang ada di dalam daftar pencarian saya adalah Ernesto Sábato, bersama Enrique Villa-Matas dan Cesar Aria-dua terakhir belum saya dapatkan bukunya. Buku terakhir dari penulis Amerika Latin yang saya baca, kalau tidak salah ingat, In Praise of the Stepmother, Mario Vargas Llosa. Novel itu juga tipis, mengandung banyak alusi, dan ya, di banyak tempat juga terasa sangat lucu.

Kalau boleh diringkas, bisa dibilang The Tunnel merupakan novel cinta-cintaan. Protagonisnya adalah seorang pelukis (tampaknya sudah mapan dan terkenal) bernama Juan Pablo Castel. Castel jatuh cinta pada seorang gadis bernama Maria Iribarne. Alasannya jatuh cinta? Maria satu-satunya gadis yang berdiri terpaku di hadapan salah satu lukisannya-di sebuah eksibisi-dan menangkap aspek pada lukisan itu yang tidak dilihat oleh orang lain.

Merasa Maria bukan sosok yang biasa, Castel secara impulsif mengejar gadis itu. Ia mencarinya dari satu tempat ke tempat lain, bahkan membuntutinya hingga ke tempat ia bekerja. Ketika akhirnya mereka mendapatkan kesempatan bicara, dan Castel bertanya “Apa yang kau lihat dari lukisan itu?” Maria memberi Castel jawaban yang ia inginkan. “Kesepian,” kata Maria, “aku seperti melihat kesepian pada lukisanmu.” Semenjak itu, makin menjadi-jadilah obsesi Castel pada gadis ini.

Tetapi, tentu saja kita butuh konflik karena tanpanya maka cerita akan tiada. Castel dibutakan oleh obsesinya pada Maria sehingga sebelum jatuh cinta, ia tak mencari tahu terlebih dahulu apakah gadis itu masih berada dalam situasi bisa dicintai. Sialnya, keadaan di lapangan agak lebih rumit dari yang Castel kira. Maria sudah punya suami.

Hal ini membikin Castel berang, tetapi sekaligus dibuat bingung, terutama oleh sikap Maria yang menurutnya terlalu misterius. Sementara, Castel adalah laki-laki tukang mikir. Tukang mikir banget, malah. Ia seorang pelukis yang gemar memikirkan dalam-dalam suatu hal, bahkan membesar-besarkannya. Seorang overthinker. Ketika orang seperti dia jatuh cinta pada gadis seperti Maria yang menyimpan banyak rahasia, bisa dibayangkan bagaimana kacaunya (bagi Castel)

The Tunnel dituturkan dari kacamata Castel, menggunakan sudut pandang orang pertama. Memang pilihan yang tepat, karena dengan demikian Ernesto Sábato dapat menggali dan memunculkan pikiran-pikiran terdalam tokoh utamanya, termasuk tentu saja lebih leluasa menampilkan kondisi kejiwaannya. Sebagian besar isi The Tunnel adalah narasi Castel tentang segala hal yang berputar dalam kepalanya, dan karena ia seorang overthinker, maka ada banyak sekali yang ia pikirkan. Pada beberapa kesempatan mungkin kita akan merasa Castel kelewat bawel, tapi saya kira memang begitulah karakternya.

Kalau kamu membaca The StrangerAlbert Camus, kamu akan mendapat kesan yang mirip dari The Tunnel. Konfliknya berbeda tentu saja. Karakter Meursault dan Castel cukup berbeda. Meursault tidak banyak omong dan lebih sering menggumam seadanya, sementara Castel luar biasa bawel. Tetapi, konon Camus terinspirasi menulis The Stranger setelah membaca novel Castel ini. Bahkan, ia yang membawa novel tersebut untuk diterjemahkan ke bahasa Prancis. Meskipun, menurut saya, kalau The Stranger dan The Tunnel dihadap-hadapkan, kita akan menemukan cukup banyak perbedaannya. Tetapi, atmosfer narasi dan keseluruhan ceritanya mirip-gelap, depresif, dan berakhir tragis.

Kelar membaca The Tunnel, ternyata kesan yang saya peroleh agak berbeda dari perkiraan. Sebelum membeli bukunya, saya memang sudah sempat baca secuil cuplikannya yang mengindikasikan bahwa ceritanya bernuansa gelap. Tetapi, karena saya mengira semua penulis Amerika Latin punya selera humor yang baik, saya pikir The Tunnel ada lucu-lucunya sedikit. Ternyata, ya, memang lucu sih melihat bawelnya pikiran Castel yang berlebihan dan terlalu mikirin banget hal-hal yang sebenarnya belum kejadian (terus terang saya merasa Castel mirip dengan saya). Namun, lucunya tidak seperti lucu pada novela Pedro Páramo atau cerita-cerita super pendek dalam antologi Matinya Burung-Burung.

Hal paling menarik dari The Tunnel bagi saya adalah tingkat relevansinya yang amat tinggi dengan masa kekinian. Mungkin saja karena ia adalah novel cinta-cintaan, tentang seorang cowok tukang mikir dan seorang cewek misterius, sehingga saya kira jika novel ini dibaca oleh pemuda-pemudi pop masa kini, mereka akan mudah meresapi kisahnya. The Tunnel sudah dikategorikan karya sastra klasik, dan seperti karya-karya sastra klasik lainnya dengan plot utama kisah cinta, ia akan relatif lebih mudah dipahami. Bahkan, para penulis kisah cinta bisa dapat inspirasi atau ide cerita dari novel ini.

Tentu saja yang tak boleh dilupakan dari The Tunnel adalah aspek psikologisnya. Seperti tadi saya bilang, sebagian besar isi novel ini adalah celotehan Castel terhadap dirinya sendiri. Dia sering ngedumel tentang Maria, dan sebelum ia bertemu Maria, ia ngedumel tentang kritikus seni yang tidak memahami karya-karya lukisannya. Saya sangat terhibur saat membaca bagian ini. Melihat seorang seniman ngedumelin kritikus adalah salah satu kenikmatan duniawi yang hanya setingkat di bawah mengunyah martabak telor dan buang hajat di pagi hari.

Sedikit mengobrol soal penulisnya, Ernesto Sabato, ternyata The Tunnel adalah novel pertamanya. Ketimbang menerbitkan karya fiksi, ia lebih banyak menulis esei. Sabato juga dikenal sebagai seorang pelukis. Membuat saya berpikir jangan-jangan Juan Pablo Castel dalam The Tunnel adalah alter ego Sabato, atau bahkan dirinya sendiri. Enak enggak enak memang kalau jadi penulis fiksi, kadang-kadang pengin bikin fiksi yang betul-betul fiksi, tanpa sengaja hal-hal faktual masuk ke dalamnya dan jika terlacak oleh pembaca-seperti saat ini saya melacak riwayat hidup dan biodata Ernesto Sabato-bakalan dituduh curhat.

Sefiksi-fiksinya cerita yang dikarang penulis fiksi, jangan-jangan memang tidak akan pernah bisa menjadi sepenuhnya fiksi. Cerita pendek dan novel yang kita baca selama ini, jangan-jangan seluruhnya adalah hasil curhatan penulisnya sendiri, tentang kisah hidupnya sendiri, masalahnya sendiri, dan persoalan cinta dan patah hatinya sendiri. Tidak percaya? Boleh coba baca ulang buku-buku kesukaanmu, kemudian cari tahu riwayat hidup penulisnya. Lebih baik lagi kalau penulisnya belum mati, kamu bisa langsung bertanya kalau suatu saat bertemu dengannya: “Mas, buku Mas ini terinspirasi dari kisah pribadi atau bukan?”


Taruhan, sedikit yang akan dengan berani dan tanpa ragu-ragu menjawab: “Iya, ini buku sebenernya curhatan saya aja, sih. Hehehe.” ***

8 Agustus 2016

The Vegetarian, Han Kang




Hal lucu dari membaca novel yang memiliki cerita bernuansa gelap adalah kita justru kerap mendapat pencerahan dari sana. Tentu, dengan catatan novelnya bagus. Pencerahan macam apa yang didapat dari membaca novel bernuansa gelap? Bisa pencerahan tentang kehidupan, kematian, manusia, dunia, dan hal-hal yang berada di antaranya. Salah satu novel bagus bernuansa gelap yang baru saja selesai saya baca adalah The Vegetarian.

Novel The Vegetarian ditulis Han Kang, seorang penulis perempuan asal Korea berusia 45 tahun yang juga mengajar penulisan kreatif di Seoul Institute of the Arts. Kang lahir di keluarga penulis. Setidaknya, ayah dan abangnya juga penulis. Sebelum meraih Man Booker International Prize lewat novel pertamanya yang diterjemahkan ke Bahasa Inggris, The Vegetarian, sebenarnya Kang sudah sering mendapat penghargaan kesusastraan di negara asalnya. Salah satunya kompetisi sastra Seoul Shinmun, yang ia menangi lewat karya cerita pendeknya, The Scarlet Anchor.

The Vegetarian bercerita tentang seorang perempuan-menikah (tidak disebut jelas berapa usianya, tetapi ia berada dalam sebuah rumah tangga) yang suatu hari karena terbangun dari mimpi buruk dan tiba-tiba berubah menjadi seorang vegetarian. Perubahan ini mengagetkan tidak hanya bagi suaminya, yang kelak akan sering protes atas kondisi baru tersebut, tetapi juga keluarga si perempuan, terutama ayahnya yang seorang veteran penikmat daging.

Saya kurang fasih mengenal budaya kuliner Korea, tapi dari satu-dua drama dan reality show Korea yang pernah saya tonton, tampaknya mereka punya banyak sekali ragam menu olahan daging. Kita anggap saja daging merupakan makanan wajib orang-orang Korea. Sehingga, keputusan Yeong-hye-protagonis The Vegetarian-menjadi seorang vegan adalah hal yang mengguncang dan tidak dapat dipercaya.

Mimpi buruk yang membuat Yeong-hye berubah dari pemakan daging menjadi seorang vegan diberikan sepotong demi sepotong dalam sejumlah halaman pertama novel, menjadikannya fragmen-fragmen yang ditulis dengan cara agak berbeda dari narasi utama. Potongan-potongan mimpi Yeong-hye lebih terasa seperti sebuah puisi panjang yang dipenggal-penggal. Isi mimpinya kebanyakan deskripsi mengenai sesuatu horor dan mencekam: sosok seseorang (mungkin itu Yeong-hye sendiri) dengan mulut, tubuh, dan sekujur pakaian yang berlumurkan darah.

Mimpi buruk tersebut berlanjut malam ke malam dan berjalan seiring dengan tindak-tanduk baru Yeong-hye (yang dianggap ganjil oleh suaminya) kini sebagai seorang vegan: membuang daging dan telur dari kulkas dan memasak hanya sup bening yang hambar untuk makan siang. Si suami berang karena menganggap sikap Yeong-hye tidak masuk akal. Ia melaporkan perubahan drastis istrinya itu kepada mertua dan iparnya. Puncaknya: mereka makan bersama di rumah orang tua Yeong-hye, ayah Yeong-hye menjejalkan sepotong daging ke mulut Yeong-hye, Yeong-hye memberontak, melepehkan daging itu, lalu menyayat tangannya sendiri.

Itu bagian pertama The Vegetarian, dituturkan menggunakan sudut pandang orang ketiga dari perspektif suami Yeong-hye, Mr. Cheong. The Vegetarian terdiri atas tiga bagian. Bagian kedua dituturkan dari sudut pandang abang ipar Yeong-hye, seorang seniman visual yang punya imajinasi eksentrik (bagian favorit saya dari The Vegetarian ada di bab kedua ini, “The Mongolian Mark”), dan bagian ketiga atau terakhir novel dituturkan dari sudut pandang In-hye, kakak kandung Yeong-hye. Ironisnya, Yeong-hye sebagai protagonis justru tidak memiliki suara sendiri. Karakternya diungkap melalui dialog-dialog dan perilakunya yang dilihat oleh tokoh lain.

Suasana gelap yang tadi saya bicarakan adalah bagian ketika Yeong-hye tidak hanya menjadi seorang vegan, tetapi juga membawa vegetarianisme ke titik yang ekstrem: akhirnya ia tidak makan apapun sama sekali. Tubuhnya menipis hingga seperti papan, barangkali tersisa kulit dan tulang dan sangat sedikit daging atau lemak. Ia masuk rumah sakit dan menderita gastritis. Makanan apapun yang coba masuk ke tubuhnya, ia muntahkan kembali dan kerap muntahnya disertai darah. Kondisi Yeong-hye kian lama kian mengenaskan. Tidak hanya kesehatan tubuhnya, tetapi juga mentalnya, serta relasinya dengan orang-orang terdekat (rumah tangganya pecah-belah pasca ia menjadi vegan).

Perubahan drastis Yeong-hye menjadi seorang vegan ternyata tak hanya tampak ganjil dan mengerikan, tetapi kadang-kadang juga terlihat puitis, terutama ketika di satu titik ia merasa dirinya bukan lagi seorang manusia, melainkan sebatang pohon atau mungkin tanaman. Pada pagi hari di rumah sakit, ia akan mencopot pakaian dan berjemur menghadap matahari seakan-akan dirinya sekuntum bunga atau pohon yang sedang berfotosintesis. Pada tahap berikutnya, ia selalu berdiri terbalik karena merasa kedua tangannya adalah akar yang menancap ke tanah dan tubuhnya batang tanaman. Ia juga senang membayangkan (dan ingin itu terjadi) sekuntum bunga tumbuh dari liang kemaluannya.

Metamorfosa Yeong-hye adalah bentuk putus asa usahanya menekan kekerasan yang barangkali inheren pada diri manusia. Hewan yang dibunuh untuk dimakan adalah simbol bahwa manusia hidup dengan mencabut nyawa makhluk lain. Hal ini yang ditolak Yeong-hye menggunakan cara yang eksentrik. Han Kang sendiri dalam sebuah wawancara mengaku pernah menjadi vegan selama beberapa tahun, hingga akhirnya kembali mengonsumsi daging untuk alasan kesehatan (meski ia bilang ia tetap merasa bersalah setiap kali makan daging).

The Vegetarian ditulis dengan narasi yang rileks, tidak meletup-letup, cenderung pelan dan santai, tetapi tanpa mengurangi intensitas yang ia bawa. Deskripsi Han Kang pada tiap situasi cerita, terutama kondisi psikologis karakter-karakternya, merupakan sesuatu yang patut dipuji. Kita dibawa masuk ke alam pikiran dan perasaan karakter-karakternya dengan tujuan menelisik keganjilan-keganjilan yang mereka simpan dan sembunyikan dari satu sama lain.

Omong-omong tentang Korea, saya lama-lama makin kagum sama negara ini. Karena mereka tidak hanya bisa mengekspor pasukan industri hiburan macam girlband-boysband K-Pop, drama, atau budaya kulinernya (di Indonesia sekarang semakin banyak restoran Korea, termasuk yang menjual makanan pencuci mulut khas Korea), tetapi ternyata mereka juga bisa mengekspor penulis keren. Tentu saja ini tidak luput dari andil proses penerjemahan karya sastra. Terima kasih untuk Deborah Smith, cewek kelahiran 1987 (hanya setahun lebih tua dari saya tapi prestasinya ampun, Man Booker International Prize!) yang belajar bahasa Korea otodidak dan menerjemahkan The Vegetarian.

Meskipun saya belum membaca buku-buku lain yang dinominasikan di Man Booker International Prize 2016, tetapi setelah membaca The Vegetarian, rasa-rasanya tidak heran novel tipis ini bisa menyingkirkan Eka Kurniawan, Orhan Pamuk, bahkan Kenzaburo Oe dalam penghargaan bergengsi itu. Setelah Mo Yan, senang melihat ada orang Asia menang penghargaan sastra dunia, dikenal luas oleh orang-orang benua lain. Sebelum Haruki Murakami yang amat populer, Jepang juga sudah punya banyak pemenang Nobel Kesusastraan. Cina pun sudah menyumbang satu nama.


Kira-kira, Indonesia kapan ya? ***

6 Agustus 2016

Peluncuran "Metafora Padma"

Hari Minggu, 31 Juli 2016, buku kesembilan saya, kumpulan cerita Metafora Padma resmi diluncurkan. Bertempat di Gramedia Central Park, Jakarta, buku tersebut untuk kali pertama dijual. Terima kasih untuk Egha Latoya dan Eka Kurniawan, yang juga turut hadir dan bicara pada acara tersebut, masing-masing sebagai ilustrator isi dan perancang sampul bukunya.

Metafora Padma akan tersebar merata di toko-toko buku pada tanggal 15 Agustus 2016.








15 Juli 2016

Dua Buku, Sampul Baru





Kabar gembira dari penerbit.

Dua buku saya, kumpulan cerita Milana dan novel Surat untuk Ruth sedang dicetak ulang oleh Gramedia Pustaka Utama. Edisi cetak ulang ini menggunakan wajah baru, sampul hasil rancangan Muhammad Taufiq alias eMTe. Saya sangat suka dengan sampul yang baru ini, terasa lebih suram dan misterius, seperti kisah-kisah yang terdapat di dalamnya.

Bagi yang belum sempat memiliki kedua buku ini, sekarang kesempatan baik untuk memilikinya. Namun, jika sudah punya, tetap boleh beli untuk koleksi.

Keduanya akan terbit tanggal 15 agustus 2016, bersamaan dengan Metafora Padma.

14 Juli 2016

Metafora Padma: Ilustrasi




Berikut adalah tiga dari empat belas ilustrasi yang akan ada di dalam buku terbaru saya, kumpulan cerita Metafora Padma. Dibuat oleh Egha Latoya, salah satu personel duo penyanyi "The Fatima" yang berada di bawah arahan Manajemen Republik Cinta Ahmad Dhani.

Banyak yang mengenal Egha, atau El, sebagai entertainer-- penyanyi dan model-- tetapi belum banyak yang tahu bahwa ia juga menggambar dengan sangat bagus. Itulah yang membuat saya mengajaknya berkolaborasi membuat ilustrasi pendamping cerpen-cerpen di buku terbaru saya. Karya-karya Egha atau El bisa dilihat di galeri instagram: [at]artfromel.

Buku Metafora Padma akan terbit lewat Gramedia Pustaka Utama tanggal 15 Agustus 2016.

13 Juli 2016

Metafora Padma



Desain cover oleh Eka Kurniawan. Buku kesembilan saya, kumpulan cerita Metafora Padma, terbit 15 Agustus 2016.

28 Juni 2016

Two Years Eight Months and Twenty-Eight Nights, Salman Rushdie



Persis setahun yang lalu, saya membaca The Satanic Verses. Sebelumnya, saya membeli beberapa buku Salman Rushdie sekaligus. Hanya dua, sebenarnya. The Satanic Verses dan Midnight Children. Saya memilih untuk terlebih dahulu membaca yang pertama. Agaknya pilihan saya keliru. Buat saya, The Satanic Verses sangat melelahkan. Ketika saya curhat ke seorang teman pembaca, dia bilang The Satanic Verses memang tidak begitu bagus, novel itu hanya ramai karena kontroversinya, dan menurutnya Midnight Children jauh lebih baik. Sayang sekali saya sudah keburu lelah untuk membaca karya Salman Rushdie lagi. Saya sempat membaca The Satanic Verses hingga halaman 250-separuh novel-dan belum melanjutkannya hingga sekarang.

Tetapi, saya masih punya rasa penasaran yang besar dan butuh dituntaskan. Tidak mungkin, saya pikir, Salman Rushdie bisa begitu terkenal dan dielu-elukan dunia sastra internasional kalau semua bukunya melelahkan seperti The Satanic Verses. Maka, ketika saya tahu Rushdie merilis buku baru, saya segera tertarik membacanya. Walaupun sempat jiper gara-gara harga bukunya mahal sekali (edisi hard cover di Aksara hampir menyentuh angka lima ratus ribu!), akhirnya saya bisa mendapatkan buku itu dengan diskon separuh harga. Saya mencoba menuntaskan rasa penasaran terhadap Salman Rushdie dengan membaca novel terbarunya: Two Years Eight Months and Twenty-Eight Nights.

Sebelum membaca Two Years Eight Months and Twenty-Eight Nights, saya sudah membaca penggalannya di The Newyorker. Salman Rushdie merilisnya sebagai cerita pendek berjudul The Duniazát, yang adalah cuplikan dari bab pembuka novelnya. Cerpen itu sendiri menarik. Ceritanya tentang seorang filsuf yang tidak bisa mendakwahkan filosofinya, orang-orang yahudi yang tidak bisa menyebut dirinya yahudi, dan seorang gadis cantik yang ternyata perwujudan jin-diberi nama oleh si filsuf “dunia”. Si filsuf kawin dengan jin perempuan dan melahirkan banyak anak, banyak sekali hingga garis keturunannya hampir menjadi sebuah bangsa sendiri. Keturunan jin perempuan itu dinamai duniazát.

Secara singkat, novel terbaru Salman Rushdie ini adalah kisah tentang perang jin. Tidak murni perang antarjin, karena juga melibatkan manusia. Kisah dituturkan oleh narator omnipotent, yang menyebut dirinya secara tidak begitu jelas dengan petunjuk-petunjuk tertentu bahwa mereka (we, jamak) adalah manusia di zaman yang baru (aktual). Kisah perang antarjin yang melibatkan manusia telah terjadi ribuan tahun lampau, dan inilah yang diceritakan di dalam novel.

Seperti cerita pendek The Duniazát, novelnya juga dibuka dengan kisah serupa. Penggambaran si filsuf dan kehidupannya bersama Dunia, si jin perempuan. Dunia senang mendengarkan cerita-cerita yang dituturkan si filsuf dan si filsuf, selayaknya Syahrazad, menjadi pendongeng yang baik bagi pasangannya. Tentu saja dongeng itu bukan sekadar dongeng, tetapi dongeng yang ia karang sembari menyelundupkan gagasan-gagasan rasionalistisnya, termasuk pandangannya tentang eksistensi Tuhan dan fungsi agama. Sebagai makhluk dari dunia gaib, Dunia sering tidak sependapat dengan si filsuf, tetapi tidak lantas membuatnya membantah apa yang diceritakan pasangannya itu.

Lantas, bagaimana perang dimulai? Semua bermula dari aktivitas di dunia lain, yakni dunia jin. Syahdan, dunia jin dan dunia manusia berada bersisian tetapi terpisah. Namun, suatu hari terdapat “sobekan di langit” yang membuat kedua dunia tersebut menjadi terhubung. Jin dari berbagai golongan pun turun ke bumi dan melakukan apa yang ingin mereka lakukan terhadap umat manusia. Rushdie, pada bagian pembuka novel, melalui kami-narator memberikan pemaparan yang cukup panjang mengenai asal-usul dan jenis-jenis jin. Pemaparan itu mengerucut pada klasifikasi jin: jin jahat dan jin baik. Jin jahat mempengaruhi manusia untuk menguasai mereka sekaligus menghancurkannya, sementara jin baik mencegah hal tersebut terjadi. Kira-kira begitulah.

Dunia, jin perempuan yang menjadi “istri” si filsuf, memiliki seorang ayah, yang tentu saja adalah seorang jin. Raja jin, begitu. Sang ayah tewas karena-ini salah satu bagian menarik-cerita. Ia meninggal karena diperlihatkan sebuah kotak berisi cerita-cerita yang merupakan alegori dari ketakutan-ketakutan dan ketidakpuasannya sendiri terhadap anak sematawayangnya, Dunia. Ketika tahu tentang ini, Dunia berang dan mulai memburu para pembunuh ayahnya, empat sekawan jin jahat, para ifrits. Dunia mengumpulkan keturunannya, duniazat, dan memberitahu mereka bahwa mereka adalah keturunan separuh jin, lantas Dunia memberi mereka tugas untuk menumpas para ifrits, yang saat ini melancarkan serangannya demi penghancuran umat manusia.

Sama seperti The Satanic Verses, novel terbaru Salman Rushdie ini juga ditulis dengan narasi yang padat. Seringkali muncul kata-kata dalam bahasa Inggris yang belum pernah saya temui, dan akhirnya membuat saya terpaksa sesekali membuka google translate atau kamus ponsel Merriam-Webster. Tetapi, berbeda dengan The Satanic Verses yang bikin pusing karena alur waktu, latar tempat, dan kronologinya tidak jelas, Two Years Eight Monts and Twenty-Eight Nights jauh lebih tertata dan jelas apa siapa di mana mengapa bagaimananya. Sehingga, walaupun banyak kata-kata sulit, membaca ceritanya sendiri tidak begitu sulit, malah relatif mudah.

Pada kulit luarnya, Two Years Eight Months and Twenty-Eight Nights (omong-omong, ini adalah “pelesetan” dari seribu satu malam; kalau enggak percaya bisa coba hitung sendiri) adalah cerita seru tentang pertempuran antarjin yang juga melibatkan manusia. Tetapi, tentu saja secara keseluruhan, novel ini tidak hanya punya kulit luar. Di balik kulitnya, pada lapisan yang lebih dalam, novel Rushdie yang meskipun tetap mengandung cukup banyak kata-kata sulit namun tetap enak dibaca ini adalah sebuah paparan tentang pertentangan gagasan: gaib dan rasional, eksistensi Tuhan dan fungsi agama, keberadaan sesuatu yang liyan, juga tidak luput sindiran-sindiran terhadap persoalan sosial dan politik, termasuk di dalamnya tindak korupsi dalam birokrasi (ada tokoh seorang bayi keturunan jin yang punya kemampuan istimewa: siapapun koruptor yang berada di dekatnya akan mengalami keanehan penyakit kulit pada wajahnya, sehingga ia menjadi semacam detektor koruptor).

Membaca novel-novel Salman Rushdie membuat saya setengah teringat pada novel favorit saya semasa kecil, serial Harry Potter. Saya suka membaca novel genre fantasi, karena di dalamnya terdapat dunia antah-berantah dan makhluk-makhluk mitikal, sihir dan mantra-mantra, juga keajaiban-keajaiban yang tidak bisa saya temukan di bacaan-bacaan lain. Namun, kegemaran membaca novel fantasi tidak terbawa ketika saya beranjak dewasa, untuk alasan yang hingga hari ini tidak saya pahami. Saya tidak tertarik membaca novel fantasi selain Harry Potter (Lord of the Rings, Nicholas Flamel, Eragon? Tidak, maaf.)

Syukurlah, saya bertemu Neil Gaiman dan Salman Rushdie. Bagi jiwa pencinta kisah-kisah dunia antah-berantah dan makhluk-makhluk mitikal di dalam diri saya, buku-buku mereka seperti novel-novel fantasi untuk orang dewasa. Meski, tentu saja di balik balutan kisah fantasi itu terdapat gagasan-gagasan lain yang menjadi permenungan, kritik terhadap dunia dan manusia, serta pengetahuan lebih mendalam tentang suatu topik.


Buat pencinta novel fantasi, bacalah novel-novelnya Salman Rushdie. ***

25 Juni 2016

The White Tiger, Aravind Adiga



Buku dari penulis asal India yang kali pertama saya baca adalah kumpulan cerita Jhumpa Lahiri, Interpreter of Maladies. Saya menyukai buku itu.Tetapi, seperti yang sudah-sudah, bukan berarti setelahnya saya langsung membaca buku dari penulis India lagi. Biasanya, buku berikut yang saya baca terambil secara acak dari rak. Namun, kali ini ada sedikit kebetulan. Saya tetap mengambil buku dari rak perpustakaan pribadi secara acak, tetapi yang tercomot ternyata buku dari penulis India: The White Tiger, Aravind Adiga. Setelah beres membaca The White Tiger pun lagi-lagi secara kebetulan saya mengambil buku penulis India, sehingga berturut-turut saya membaca tiga buku dari tiga penulis asal India-- tetapi ini akan saya ceritakan di tulisan lain. Dalam tulisan ini saya mau bercerita pengalaman membaca The White Tiger, novel Aravind Adiga yang menjadi peraih penghargaan Man Booker tahun 2008.

Suatu hari di tahun 2015 saya bertandang ke Jakarta dan bertemu dua orang teman penulis. Saat itu sore hari, kami bertiga mengobrol santai di dalam sebuah ruangan gedung di areal Taman Ismail Marzuki di kawasan Cikini. Kami membicarakan buku. Saya bertanya apa saja buku favorit mereka, dandi antara judul-judul buku dan nama penulis yang mereka sebutkan, muncul The White Tiger. Saya familier dengan judul dan nama penulisnya, Aravind Adiga, tetapi belum pernah membaca. Buku-buku lain yang mereka sebutkan pun tidak satu pun yang sudah saya baca. Tetapi saya percaya tidak ada kata terlambat untuk membaca buku bagus, maka baru setelah delapan tahun sejak pertama rilis, akhirnya secara kebetulan saya membaca The White Tiger.

Hasilnya: saya sangat, sangat, sangat, menyukai novel ini.

Pernah baca The Brief Wondrous Life of Oscar Wao, Junot Díaz? Novel Aravind Adiga The White Tiger punya rasa yang mirip-mirip. Saya kira itu karena tokoh utama sekaligus naratornya, Balram Halwai, punya cara bicara mirip Yunior. Ceplas-ceplos, blak-blakan, gemar mengumpat, dan senantiasa membuat lelucon dan berkelakar. Saya sudah ngakak sejak halaman-halaman pertama The White Tiger, sama seperti saya tertawa membaca penggambaran Yunior atas hero novel Junot Díaz, si remaja gemuk pecandu gim Oscar di pembukaan novelnya. Itulah hal pertama yang membuat saya serta-merta menggumam: “Saya akan menyukai buku ini.” Buku bagus, sama seperti hal-hal lain yang bagus, sudah ketahuan sejak persentuhan pertama.

The White Tiger dibuka dengan narasi yang sekilas saja terlihat seperti sebentuk epistolari. Awalnya saya langsung malas ketika melihat ada surat di bagian awal. Tetapi, ternyata cara bicara Balram Halwai betul-betul menghibur. Ia menulis surat kepada kepala pemerintahan Cina, Wen Jiabao-- Balram menyebutnya “Mr. Premier”-- sesaat setelah Balram mendengar melalui radio India bahwa Jiabao akan berkunjung ke negaranya untuk mengenal seluk-beluk India. Dalam suratnya, Balram menjelaskan bahwa India adalah penghasil wirausahawan yang kece punya, dan ia bermaksud menceritakan kisah seorang pemuda yang berawal dari anak penarik becak di kampung terpencil menjadi seorang pebisnis sukses di pusat kota India.

Tentu saja, “pebisnis sukses” ini tidak seperti yang kita bayangkan. Lagipula, memang bukan itu intinya.

Balram Halwai, narator kita, lahir di sebuah kampung bernama Laxmangarh. Ia punya ayah yang bekerja sebagai penarik becak (rickshaw puller-- ditarik dari depan berjalan kaki, bukan dengan diengkol dari belakang penumpang) dan bibi-bibi yang sangat menyebalkan. Ayahnya membiasakan Balram membaca dan mendorongnya agar rajin bersekolah. Balram memang akhirnya menjadi salah satu murid yang pintar, sampai-sampai ketika ada kunjungan dari orang dinas pendidikan (mungkin semacam itu) ke sekolah mereka, Balram disebut “White Tiger” karena hanya dirinya di antara teman-teman sekelas yang bisa membaca dengan baik, sehingga ia langka, one of a kind. Dari sana lah Balram mendapat julukan The White Tiger, yang kemudian juga menjadi judul novel ini.

Tetapi, sebagai personel keluarga Halwai, hidup Balram sudah digariskan. Takdir yang melekat pada marganya membuat ia terjebak dalam bayang-bayang masa depan menjadi pembuat manisan (atau mungkin gula-gula/permen). Seperti orang dengan marga lain dan takdir yang mengikutinya, marga Halwai berarti takdir hidup menjadi pekerja kelas rendah. Balram Halwai menolak masa depan seperti itu. Ia menginginkan jalur alternatif. Ia menginginkan masa depan yang berbeda. Ia menginginkan kebebasan.

Kebebasan itu diperoleh Balram dengan menjadi sopir seorang keluarga tajir di Delhi. Majikannya, Ashok, adalah anak kandung tuan tanah yang punya pengaruh politik di India. Orang penting. Memiliki insting yang tajam, inisiatif tinggi,dan kemampuan menyerap ilmu dengan cepat, kehidupan berjalan baik-baik saja bagi Balram, hingga musibah menimpa: sedan yang ia tumpangi menabrak mati seorang bocah.Adalah istri majikannya yang menyetir pada saat itu, tetapi di bawah ancaman, Balram dipaksa mengaku oleh sang tuan tanah bahwa dirinya pelaku tabrak lari tersebut. Ketegangan dimulai dari sini. Marabahaya bermula ketika Balram mencari jalan keluar dari perangkap besar yang telah menelan banyak orang bawah India ini. Jika kau bukan orang berpengaruh dan punya uang, hidup di India berarti hidup di dalam kandang ayam, dan The White Tiger adalah cerita bagaimana tokoh kita membebaskan dirinya dari kandang ayam itu.

The White Tiger merupakan cerita semi-thriller (karena di dalamnya ada adegan pembunuhan) yang menampilkan sisi-sisi India dalam metode dikotomis: terang dan gelap. Aravind Adiga mencoba menunjukkan kepada orang-orang bahwa India tidak hanya “surga” eksotis yang indah, tetapi juga memiliki di dalamnya bagian gelap, dan di dalam bagian gelap India inilah cerita Balram Halwai menjadi cerita masyarakat akar rumput di India, negara hasil jajahan Inggris yang memiliki banyak kesamaan dengan Indonesia (paling tidak sama-sama negara bekas jajahan).

Saya sangat terhibur membaca The White Tiger seperti saya terhibur membaca The Brief Wondrous Life of Oscar Wao seperti saya terhibur membaca Two Years Eight Months and Twenty-Eight Nights seperti saya terhibur membaca buku-buku bagus yang tidak hanya kaya dan berlapis secara muatan tetapi juga seru dan page-turner secara cerita. Buku-buku dengan muatan bagus dan mendalam tidak mesti ditulis dengan cara yang membosankan dan buku-buku seru tidak mesti punya muatan yang dangkal. Keduanya, muatan dan cerita, bisa tampil secara baik di tangan seorang penulis bagus; penulis yang membaca buku-buku bagus dan punya visi membuat buku-buku bagus. ***