20 Mei 2017

Selamat Datang

Photograph by Glo
Bernard Batubara adalah penulis penuh-waktu. Lahir 9 Juli 1989 di Pontianak, Kalimantan Barat; tinggal di Yogyakarta. Belajar menulis puisi, cerita pendek, dan novel sejak medio 2007. Buku-bukunya yang telah terbit: Angsa-Angsa Ketapang (2010), Radio Galau FM (2011), Kata Hati (2012), Milana (2013), Cinta. (2013), Surat untuk Ruth (2013), Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri (2014), dan Jika Aku Milikmu (2015). Radio Galau FM dan Kata Hati telah diadaptasi ke layar lebar. Saat ini sedang mempersiapkan buku terbarunya, sebuah kumpulan cerita.

22 Mei 2016

Persoalan Sementara (Jhumpa Lahiri)

Diterjemahkan dari buku Interpreter of Maladies  (Houghton Mifflin Harcourt, 1999)

-

Surat pemberitahuan bilang ini cuma persoalan sementara: selama lima hari ke depan akan ada pemadaman listrik di tempat mereka, mulai pukul delapan malam dan berlangsung selama satu jam. Satu jalur listrik rusak akibat badai salju terakhir, dan demi memperbaikinya teknisi menggunakan saat-saat malam hari yang cuacanya relatif lebih aman. Pekerjaan perbaikan itu hanya akan berdampak pada rumah-rumah di jalanan yang sunyi dengan barisan pohon di pinggir-pinggir, dekat dengan sederet ruko berdindingkan bata dan tempat troli, yang salah satunya ditinggali oleh Shoba dan Shukumar selama tiga tahun terakhir.
“Baik sekali mereka mau memberitahu kita,” Shoba berucap pasrah usai membaca pengumuman itu keras-keras, lebih ditujukan kepada dirinya sendiri alih-alih terhadap Shukumar. Ia menggeser tali tas kecilnya, yang penuh naskah, hingga terlolos dari pundak, dan membiarkannya tergeletak di lantai dekat pintu masuk rumah seiring ia melangkah ke dapur. Ia mengenakan mantel biru dongker, celana panjang katun abu-abu, dan sepatu kets putih-terlihat selayaknya perempuan 33 tahun yang pada masanya tidak pernah ingin ia jadikan teladan.
Ia baru pulang dari gym. Warna cranberry lipstiknya hanya terlihat pada bibir bagian luar dan bekas eyeliner tertinggal seperti jejak bubuk arang dekat bulu mata bawah. Di waktu-waktu tertentu ia memang jadi seperti ini, pikir Shukumar, kala pagi hari usai pesta atau nongkrong di bar, kala ia terlalu malas membasuh wajahnya dan terlalu ingin cepat-cepat jatuh ke dalam dekapan suaminya. Shoba menjatuhkan setumpuk surat begitu saja di atas meja tanpa menoleh. Matanya masih terpaku pada lembar pengumuman di tangan satunya lagi. “Tapi mestinya mereka ngerjain ini siang-siang.”
“Pas aku lagi di rumah, maksudmu,” kata Shukumar. Ia menggeser penutup kaca di atas panci berisi masakan daging domba, mengaturnya agar sedikit uap yang lolos. Sejak Januari ia bekerja di rumah, berusaha merampungkan bab akhir disertasinya soal pemberontakan agraris di India. “Kapan perbaikannya kelar?”
“Katanya sembilan belas Maret. Hari ini sembilan belas Maret, bukan?” Shoba mendekat ke papan styrofoam pada dinding di sebelah kulkas, yang di sana terdapat kalender bermotif artistik buatan William Morris. Ia menatapnya seakan-akan baru melihat benda itu, menyimak dengan serius motif pada separuh halaman kalender bagian atas, sebelum beralih ke baris dan kolom angka di bawahnya. Seorang teman memberi kalender tersebut sebagai hadiah Natal, kendatipun Shoba dan Shukumar tidak merayakannya.
“Kalau gitu, hari ini dong,” ujar Shoba. “Omong-omong, kamu ada janji sama dokter gigi Jum’at depan.”
Ia meraba giginya menggunakan lidah; pagi itu ia lupa menggosok gigi. Bukan hal baru. Seharian ia tidak keluar rumah, begitupun hari sebelumnya. Semakin lama Shoba berada di luar, semakin banyak pekerjaan yang istrinya lakukan, semakin ia ingin tinggal di rumah saja, tidak pergi bahkan hanya untuk mengecek isi kotak surat ataupun berbelanja buah atau anggur.
Enam bulan lalu, tepatnya September, Shukumar sedang menghadiri konferensi akademis di Baltimore tatkala Shoba berkantor-tiga minggu sebelum tenggat kelahiran bayi mereka. Ia enggan pergi ke konferensi tersebut, tapi istrinya memaksa; perhelatan itu penting baginya dalam membangun jaringan relasi, dan tahun depan ia akan mulai memasuki dunia kerja. Istrinya bilang ia sudah menyimpan nomor telepon hotelnya, dan salinan jadwal kegiatannya, dan nomor penerbangannya, dan ia sudah membuat janji dengan temannya Gillian agar di saat-saat darurat dapat mengantarnya ke rumah sakit. Tatkala pagi itu taksi menjemputnya untuk ke bandara, Shoba berdiri melambai kepadanya, dalam gaun terusan, dengan sebelah tangan ia letakkan santai di atas perut membuncit seolah-olah gundukan tersebut memang bagian tubuh yang sudah ada sejak awal.
Setiap kali ia memikirkan adegan itu, momen kali terakhir ia menyaksikan Shoba hamil, justru taksi yang menjemputnya yang paling ia ingat, sebuah station wagon-sedan panjang, merah dengan huruf-huruf biru. Bagian dalamnya jauh lebih luas dibanding mobil mereka. Kendatipun Shukumar memiliki tubuh setinggi enam kaki, dengan telapak tangan yang terlalu besar bagi saku jinnya, ia tetap merasa seperti kurcaci duduk di kursi belakang. Seiring taksi melaju di Beacon Street, ia membayangkan suatu hari ketika ia dan Shoba mungkin perlu membeli sebuah station wagon, untuk mengantar-jemput buah hati mereka menuju tempat les musik atau pergi ke dokter gigi. Ia membayangkan dirinya memegang setir, kala Shoba memutar badannya ke belakang demi menyodorkan sekotak jus buat anak mereka. Dahulu, bayang-bayang kegiatan mengasuh anak semacam ini mengganggu Shukumar, menambah-nambahkan kecemasan akan statusnya yang masih pelajar dan baru berusia 25 tahun. Tetapi, pada permulaan pagi hari musim gugur itu, tatkala pohon-pohon berat oleh daun-daun yang mulai menua, untuk kali pertama ia menyambut gambaran masa depan itu.
Di tengah-tengah konferensi tersebut, seorang panitia akhirnya berhasil menemukan ia di antara ruang-ruang dalam gedung yang semuanya kelihatan sama, dan kemudian menyerahkan kepadanya secarik memo. Hanya ada angka-angka, tapi Shukumar tahu itu nomor telepon rumah sakit. Saat ia kembali ke Boston, segalanya telah berakhir. Bayi mereka sudah wafat ketika lahir. Shoba tergolek di atas ranjang, tertidur, di dalam ruangan yang begitu kecilnya sampai-sampai tidak ada tempat cukup untuk berdiri di dekat istrinya, di lokasi yang berada pada sisi sayap rumah sakit yang tidak pernah mereka lihat waktu dibawa berkeliling dalam rangka tur persiapan orangtua baru. Ari-ari istrinya melemah dan ia melahirkan secara sesar, kendatipun ternyata tidak cukup cepat ditangani. Dokter menjelaskan bahwa hal seperti ini bisa terjadi. Ia tersenyum seramah yang ia bisa, dengan cara yang paling mungkin ia lakukan kepada orang yang hanya ia kenal secara profesional. Kondisi kesehatan Shoba akan membaik setelah beberapa minggu. Tidak ada indikasi bahwa ia takkan bisa mengandung lagi.
Belakangan, Shoba selalu raib pas Shukumar terbangun. Ia akan membuka mata dan menemukan helai-helai rambut hitam panjang istrinya yang menempel di bantal dan membayangkan istrinya sudah berbusana kerja, menyesap cangkir kopi ketiga, di ruang kantornya di pusat kota, tempat ia melacak kesalahan pengetikan buku-buku teks kemudian menandainya-dengan simbol-simbol yang suatu kali pernah istrinya jelaskan kepadanya-menggunakan sejumlah pensil berwarna. Istrinya berjanji akan melakukan hal sama buat disertasinya kalau ia sudah selesai. Ia merasa iri kepada pekerjaan istrinya yang begitu spesifik, tidak seperti pekerjaannya yang kurang jelas. Ia pelajar biasa yang dapat menyerap hal-hal rinci meski tanpa antusiasme sedikit pun. Hingga bulan September ia menjadi pelajar yang rajin, jika tidak berdedikasi, merangkum bab-bab, merancang kerangka argumentasi di atas lembaran-lembaran kuning. Tetapi, sekarang ia tergolek di kamar tidur mereka sampai bosan, memandangi lemari pakaian yang selalu Shoba biarkan setengah terbuka, memandangi deretan jas dan celana panjang korduroy bergantung di sana, yang tidak perlu ia pilih-pilih kala mengenakannya untuk pergi mengajar. Sepeninggalnya bayi mereka, ia sudah tidak bisa mundur dari tugas mengajar. Tetapi, pembimbingnya telah menyusun jadwal agar ia bisa rehat sepanjang semester musim semi. Saat itu, Shukumar kuliah tahun keenam. “Nah, dengan ini dan musim panas nanti pasti kamu akan semangat lagi,” begitu yang dikatakan pembimbingnya. “Bulan September kamu sudah bisa selesai.”
Tetapi, tidak ada yang membuat Shukumar kembali bersemangat. Alih-alih, ia merenungi bagaimana ia dan istrinya telah begitu ahli saling menghindar di dalam rumah berkamar tiga mereka, menghabiskan waktu sebanyak mungkin berkegiatan di lantai berbeda. Ia memikirkan bagaimana ia tidak lagi menunggu-nunggu akhir pekan, tatkala istrinya duduk berjam-jam di atas sofa dengan pensil berwarna dan naskah kerjaannya, sedemikian rupa sehingga ia khawatir memutar lagu di rumah sendiri merupakan perbuatan terlarang. Ia memikirkan tentang sudah begitu lama sejak kali terakhir istrinya menatap matanya dan tersenyum, atau membisikkan namanya di waktu-waktu yang kini telah langka, ketika mereka masih meraih tubuh satu sama lain sebelum akhirnya tertidur.
Pada mulanya ia percaya bahwa persoalan ini akan berlalu, bahwa ia dan Shoba bagaimanapun akan bisa melewatinya. Istrinya baru berusia 33 tahun. Ia orang yang tegar, dapat kembali berdiri di atas kakinya sendiri. Tetapi, pikiran ini pun tidak menghiburnya. Seringkali sudah hampir jam makan siang ketika Shukumar akhirnya beranjak dari tempat tidur dan turun demi secangkir kopi, menuang sisa dari teko yang Shoba tinggalkan untuknya-bersama sebuah mug kosong-di atas meja.


Shukumar memunguti kulit bawang putih dan membuangnya ke tempat sampah, di atas tumpukan lemak domba. Ia menyalakan keran air bak cuci, membasuh pisau dan talenan, dan menggosok jarinya dengan potongan lemon demi menghilangkan aroma bawang putih-ia belajar dari Shoba. Jam menunjukkan pukul setengah delapan malam. Melalui jendela, ia melihat langit hitam tetapi agak pudar. Tumpukan salju yang tidak rata masih menutupi sisi-sisi jalan, kendatipun cuaca sudah cukup hangat hingga orang-orang bisa berjalan-jalan tanpa mengenakan topi ataupun sarung tangan. Saat badai terakhir, salju turun nyaris setebal tiga kaki, hingga selama seminggu orang-orang harus berjalan di satu jalur setapak sempit di sisi parit. Selama seminggu, itulah alasan Shukumar tidak keluar rumah. Tetapi, kini parit sudah mulai meluas, dan air mengalir lancar menuju saluran-saluran di bawah trotoar.
“Dombanya belum matang sampai nanti jam delapan,” ujar Shukumar. “Kita mungkin bakal makan sambil gelap-gelapan.”
“Kita bisa pakai lilin,” Shoba menganjurkan. Ia menggerai rambutnya yang seharian dicepol, kemudian mencopot sepatu kets tanpa melepaskan talinya. “Aku mandi dulu, sebelum mati lampu,” katanya, melangkah ke tangga. “Sebentar aja.”
Shukumar memindahkan tas dan sepatu istrinya ke dekat kulkas. Istrinya tidak pernah seperti ini. Ia biasa menggantung mantelnya, meletakkan sepatunya di rak, dan melunasi tagihan sesaat setelah mereka datang. Tetapi, kini istrinya memperlakukan rumah mereka selayaknya hotel. Fakta bahwa ada sofa kuning tabrakan warna dengan karpet Turki biru-marun di ruang tamu rumah mereka tidak lagi mengusiknya. Di teras belakang, sebuah tas putih masih tergeletak di atas kursi rotan panjang, berisi renda yang tadinya ingin ia jahit menjadi gorden.
Sementara Shoba mandi, Shukumar masuk ke kamar mandi di lantai bawah dan menemukan di bawah wastafel sebuah sikat gigi baru. Bulu sikat gigi murah yang kaku itu membuat gusinya berdarah, dan ia meludah ke wastafel. Di dalam keranjang besi di kamar mandi mereka ada banyak sikat gigi cadangan. Shoba membelinya ketika ada obral dalam sebuah acara yang dikunjungi orang-orang secara impulsif.
Istrinya memang begitu. Ia kerap mengantisipasi hal-hal tak terduga, baik maupun buruk. Jikalau ia menemukan rok atau dompet yang ia suka, ia akan membeli masing-masing dua. Istrinya menyimpan bonus gaji di rekening lain atas namanya. Itu tidak mengganggu Shukumar. Ibunya sendiri terpuruk tatkala ayahnya wafat, lantas pergi begitu saja meninggalkan rumah tempat ia tumbuh besar demi kembali pulang ke Calcutta, menyerahkan semua persoalan kepada Shukumar. Ia senang Shoba tidak begitu. Ia takjub melihat kemampuan istrinya berpikir jauh. Tatkala istrinya masih sering berbelanja, dapur mereka senantiasa sedia berbotol-botol minyak zaitun dan minyak jagung-bergantung apakah mereka akan membuat masakan Italia atau India. Ada berkotak-kotak pasta beragam bentuk dan warna, berkarung-karung beras basmati, potongan utuh domba dan kambing beku dari tukang daging muslim di Haymarket, terbungkus dalam jumlah yang mustahil dihitung. Di hari-hari Sabtu lain, mereka menyusuri deretan rak yang kelak Shukumar kenal betul. Ia menyaksikan tak percaya ketika istrinya membeli lebih banyak makanan, sembari ia mengekor sambil mendekap tas-tas karton, seiring istrinya menyeruak melewati kerumunan orang, dan meski masih sangat pagi sudah berdebat dengan para pedagang yang masih terlalu muda tapi sudah ompong, yang mengambil dari dalam tas karton coklat sejumlah sayur artikok, buah plum, kunyit, ketela, dan menimbang mereka, dan menyerahkannya ke Shoba. Istrinya tidak keberatan berdesak-desakan, bahkan saat dia sudah hamil. Istrinya tinggi, berbahu lebar, dan memiliki pinggul dengan bentuk yang dokter kandungannya bilang memang ditakdirkan untuk beranak. Dalam perjalanan pulang, seiring mobil mereka menikung di Charles, mereka akan terkagum-kagum mengetahui banyaknya makanan yang mereka beli.
Semua itu tidak pernah terbuang mubazir. Tatkala teman-teman mampir ke rumah mereka, Shoba akan membuat masakan yang kelihatannya butuh setengah hari mempersiapkannya, menggunakan bahan-bahan yang ia simpan dalam botol dan dibekukan, bukan bahan-bahan masak kalengan murah melainkan paprika yang sudah ia baluri dengan rosmarin, dan saus chatni yang ia masak di hari minggu dengan mengaduk buah prone dan tomat dalam air mendidih. Sejumlah toples beling miliknya yang masing-masing sudah dinamai berjejer rapi di rak-rak di dapur dan tersegel, cukup, mereka bersepakat, untuk kebutuhan anak hingga cucu mereka. Kini, semuanya telah mereka habiskan. Berangsur-angsur, Shukumar telah menggunakan seluruh pasokan, menyiapkan makanan untuk mereka berdua, mengukur centong nasi, memanaskan daging beku hari demi hari. Setiap sore ia menekuri buku resep istrinya, mengikuti instruksi yang sudah istrinya tandai dengan pensil, agar menggunakan dua sendok teh sahang alih-alih satu, atau memakai kacang polong merah alih-alih yang kuning. Setiap resep tersebut sudah diberi tanggal, menunjukkan kapan kali pertama mereka menyantapnya. Tanggal 2 April, sayur kembang kol dengan adas. Tanggal 14 Januari, ayam dengan kacang almond dan anggur hijau. Sesungguhnya ia tidak ingat pernah memakan semua masakan itu, tetapi buktinya semua tercatat rapi oleh tangan istrinya-seorang penata aksara. Kini, Shukumar menikmati memasak. Membuatnya merasa produktif. Kalau bukan karena dirinya, ia yakin, Shoba bakal menyantap semangkuk sereal untuk makan malamnya.
Malam ini, dalam gelap, mereka akan makan bersama. Sebelumnya, berbulan-bulan mereka memasak sendiri-sendiri, dan ia akan membawa piringnya ke ruang kerjanya, membiarkan makanannya menjadi dingin sebelum menyantapnya tanpa jeda, sementara Shoba membawa piringnya ke ruang tengah dan menonton televisi, atau mengerjakan naskah dengan satu set pensil warna di tangan.
Pada waktu-waktu tertentu di malam hari, istrinya akan menghampiri. Tatkala ia mendengar langkah-langkah kaki sang istri, ia akan menyingkirkan novel yang sedang ia baca dan mulai mengetik di komputer. Istrinya akan memegangi bahunya dan bersama dirinya menatap layar biru monitor. “Jangan diforsir kerjanya,” istrinya akan berkata demikian usai hening satu-dua menit, dan setelahnya beranjak tidur. Itu satu-satunya momen dalam seharian istrinya mencari dirinya, tetapi ia malah merasa ganjil. Ia tahu istrinya memaksakan diri. Suatu kali, istrinya akan menghabiskan waktu melihat-lihat dinding kamar yang pada musim panas lalu telah mereka hias dengan bingkai bebek-bebek berbaris dan kelinci-kelinci bermain terompet dan drum. Pada akhir Agustus sudah ada boks bayi berwarna ceri terletak di bawah jendela, sebuah meja untuk mengganti pakaian bayi berwarna putih dengan kenop hijau permen, dan kursi goyang dengan bantal motif kotak-kotak. Shukumar telah membongkar semuanya sebelum menjemput Shoba di rumah sakit, ia mencopot bebek-bebek dan kelinci-kelinci di dinding menggunakan spatula. Untuk beberapa alasan, kamar itu tidak menghantuinya sebagaimana terjadi pada Shoba. Pada Januari, tatkala ia sudah tidak lagi bekerja di kubikelnya di perpustakaan, dengan hati-hati ia memasang meja kerjanya sendiri di dalam kamar itu, sebagian karena kamar itu membuatnya merasa tenang, dan sebagian lagi karena kamar itu tempat yang paling Shoba hindari.


Shukumar kembali ke dapur dan membuka laci satu demi satu. Ia mencari-cari sebatang lilin di antara gunting, pemecah dan pengocok telur, dan ulekan yang istrinya beli di sebuah pasar di Calcutta, yang ia gunakan untuk menumbuk bawang putih dan kapulaga, dahulu tatkala ia masih sering memasak. Akhirnya, ia menemukan senter, tapi tanpa baterai, serta sekotak lilin ulang tahun yang tinggal setengah terisi. Bulan Mei lalu Shoba memberinya kejutan pesta ulang tahun. Seratus dua puluh orang menyesaki rumah mereka-seluruhnya adalah teman-temannya sendiri, juga teman-temannya teman-teman mereka, yang kini perlahan-lahan mereka hindari. Sebotol anggur vinho verde berdiri santai dalam tumpukan es batu di sisi bathtub. Tatkala itu, Shoba sedang hamil lima bulan, dan ia meneguk jahe dari gelas koktail. Sebelumnya, ia membuat kue krim vanili dengan saus custard dan gula spun. Sepanjang malam, ia menggenggam jemari Shukumar yang panjang-panjang, dan melangkah di antara para tamu pesta.
            Setelah September, satu-satunya tamu mereka hanya ibunya Shoba. Ia datang dari Arizona dan menginap di rumah mereka selama dua bulan sejak Shoba pulang dari rumah sakit. Setiap malam ia memasak, menyetir sendiri ke supermarket, mencuci pakaian mereka, dan merapikannya. Ia perempuan yang religius. Ia membuat tempat bersembahyang yang sederhana-sebuah pigura foto dewi berwajah ungu, piring berisi kelopak-kelopak bunga marigold-di atas meja nakas kamar tamu, dan berdoa dua kali sehari demi kesehatan bakal cucunya. Ia bersikap sopan terhadap Shukumar, kendatipun tidak begitu ramah. Ia melipat pakaian menantunya dengan keahlian seorang penjaga toko swalayan. Ia menjahit kancing baru untuk mantelnya dan membuatkannya skarf krem kecoklatan, yang setelah selesai ia berikan kepada menantunya tanpa ekspresi apapun, seakan-akan pemilik skarf itu baru saja menjatuhkan benda tersebut dan tidak menyadarinya. Ia tidak pernah berbincang dengan menantunya mengenai Shoba; sekali waktu, tatkala menantunya menyinggung soal wafatnya bayi mereka, ia mendongak sejenak dari kegiatan menyulamnya, lantas berkata, “Tapi kamu bahkan tidak ada di sana.”
            Aneh sekali tidak ada satu pun lilin betulan di rumah ini, pikirnya. Aneh rasanya mengetahui Shoba tidak mempersiapkan apapun untuk situasi darurat yang lazim semacam ini. Sekarang ia mencari-cari sesuatu yang bisa dijadikan alas lilin ulang tahun itu, dan memutuskan memakai pot tanaman ivy yang biasanya diletakkan di jendela dekat wastafel dapur. Kendatipun tumbuhan dalam pot itu sudah setinggi beberapa inci, tanahnya begitu kering sehingga ia harus membasahinya terlebih dahulu demi menancapkan batang lilin-lilin ulang tahun di atasnya agar dapat berdiri tegak. Ia menyingkirkan semua benda di atas meja makan di dapur: tumpukan surat dan buku-buku dari perpustakaan yang belum dibaca. Ia teringat momen perdana mereka makan bersama di meja itu, tatkala mereka begitu antusias membayangkan akan menikah dan pada akhirnya dapat tinggal bersama di bawah satu atap-lebih tidak sabaran ingin bercinta daripada mengisi perut. Ia menyusun dua alas piring tenunan, kado pernikahan dari seorang paman di Lucknow, dan meletakkan piring serta gelas anggur yang biasanya mereka siapkan untuk tamu. Ia meletakkan pot tanaman ivy di tengah-tengah, berhiaskan sepuluh batang lilin ulang tahun. Ia menyetel radio pada frekuensi yang menyiarkan musik jazz.
            “Apa ini?” ujar Shoba tatkala ia turun. Kepalanya terbungkus handuk tebal putih. Ia melepas handuk itu dan menggantungnya di atas kursi, membiarkan rambutnya yang hitam dan masih basah terkulai di punggungnya. Terbengong-bengong, ia melangkah ke arah kompor seraya meraih rambutnya yang kusut. Ia mengenakan celana panjang katun, kaus, dan mantel usang berbahan flanel. Perutnya kini rata, pinggangnya ramping menyambung dengan pinggulnya yang montok, dan sabuk mantelnya terikat dalam simpul pita.
            Hampir pukul delapan malam. Shukumar meletakkan wadah berisi nasi di atas meja dan memasukkan kacang polong sisa kemarin ke microwave, kemudian memencet-mencet angka pada penunjuk waktu.
            “Kamu masak rogan josh,” Shoba mengamati wadah kaca berisi rebusan paprika.
            Shukumar mengambil sepotong daging domba matang, menyuwirnya cepat-cepat agar jarinya tidak melepuh. Ia mendorong bagian daging yang lebih besar menggunakan sendok demi melepaskan seluruhnya dari tulang. “Sudah siap,” ia berujar.
            Microwave berbunyi tepat sesaat sebelum listrik padam, dan suara musik pun lenyap.
            “Pas banget,” kata Shoba.
            “Aku cuma nemu lilin ulang tahun ini.” Ia menyalakan pot ivy itu, lantas menyimpan sisa lilin serta korek di dekat piringnya sendiri.
            “Nggak apa-apa,” kata istrinya, menyusuri pegangan gelas anggur dengan jemarinya. “Terasa romantis.”
            Dalam suasana remang, ia tahu bagaimana istrinya duduk: agak condong ke depan, menyilangkan kaki, dan menyandarkan sikut sebelah kiri di atas meja. Tadi waktu ia mencari lilin, Shukumar menemukan sebotol anggur dalam kotak kayu yang ia kira kosong. Ia menjepit botol anggur di antara pahanya sembari menancapkan lalu memutar sumbat botol. Ia khawatir anggurnya tumpah, sebab itu selagi menuangnya ia memegang gelas begitu dekat ke pangkuan. Mereka berdua mengambil makanan sendiri-sendiri, mengaduk nasi memakai garpu masing-masing, memicing waktu menyingkirkan daun salam dari rebusan. Setiap beberapa menit Shukumar menyalakan lilin baru dan menancapkannya di atas pot tanaman.
            “Rasanya kayak di India,” ujar Shoba, menyimak sang suami yang sedang berkutat dengan candelabra buatannya. “Kadang-kadang listrik padam sampai berjam-jam. Aku pernah datang ke annaprashana gelap-gelapan. Si bayi nangis nggak berhenti. Dia pasti kepanasan.”
            Bayi mereka tidak pernah menangis, renung Shukumar. Bayi mereka tidak akan pernah dapat annaprashana-perayaan bagi bayi kala memakan nasi pertamanya-kendatipun Shoba telah membuat daftar tamu, dan sudah memutuskan siapa dari tiga abangnya yang akan ia minta untuk menyuapi bayi mereka; kelak setelah ia berusia enam bulan jika laki-laki, tujuh bulan jika perempuan.
            “Kamu kepanasan?” ia bertanya kepada istrinya. Ia menggeser pot dengan lilin-lilin menyala menjauh ke sisi meja yang lain, ke arah tumpukan buku dan surat, membuat semakin sulit bagi mereka untuk saling melihat. Tiba-tiba ia merasa kesal tidak bisa naik ke ruangannya dan duduk di depan komputer saja.
            “Nggak, kok. Ini enak,” kata istrinya, mengetuk piring dengan garpu. “Beneran enak.”
            Ia menuang anggur untuk istrinya, yang membalas dengan ucapan terima kasih.
            Dulu, mereka tidak pernah seperti ini. Sekarang ia harus berusaha keras menemukan topik yang menarik bagi istrinya untuk dibahas, topik yang dapat membuat istrinya mendongak dari piring atau naskah kerjaannya. Tetapi pada akhirnya ia berhenti mencoba. Ia belajar menerima kesunyian di antara mereka.
            “Aku ingat dulu di rumah nenek, kalau sedang mati lampu kami harus mengatakan sesuatu,” lanjut Shoba. Ia hanya samar-samar menangkap wajah istrinya, tetapi dari nada bicaranya ia tahu istrinya sedang memicing, seolah-olah pandangannya berfokus pada satu benda yang jauh. Itu kebiasaan istrinya.
            “Misalnya?”
            “Terserah aja. Puisi, guyonan, atau informasi apa lah. Kalau kerabatku sering minta aku ngucapin nama teman-teman di Amerika. Aku nggak tahu kenapa hal itu menarik. Terakhir ketemu bibi, ia bertanya tentang empat gadis yang jadi teman sekolahku di Tucson. Aku bahkan sudah nggak ingat lagi.”
            Shukumar tidak pernah tinggal lama di India sebagaimana Shoba. Orangtuanya, yang bermukim di New Hampshire, sering ke sana tanpa dirinya. Kali pertama ia berkunjung waktu masih bayi, ia hampir meninggal terkena disentri. Ayahnya orang yang mudah panik, takut membawanya kembali ke sana kalau terjadi sesuatu lagi, lantas menitipkannya dengan bibi dan pamannya di Concord. Tatkala beranjak remaja, setiap musim panas ia lebih memilih ikut pagelaran kemah mendayung atau mengudap es krim, ketimbang liburan ke Calcutta. Sepeninggal ayahnya bersamaan ia memasuki tahun-tahun akhir kuliah, barulah negara itu menarik perhatiannya, dan ia mempelajari sejarahnya dari buku-buku panduan selayaknya materi perkuliahan. Kini ia berharap bisa punya kisah masa kecil sendiri di India.
            “Yuk,” ujar istrinya tiba-tiba.
            “Yuk apa?”
            “Ucapkan sesuatu.”
            “Ucapkan apa? Aku nggak bisa melawak.”
            “Nggak, bukan lawakan.” Istrinya berpikir sejenak. “Gimana kalau kita saling mengucapkan hal yang nggak pernah kita kasih tahu sebelumnya.”
            “Dulu waktu SMA aku sering main beginian,” Shukumar mengingat-ingat. “Waktu kami lagi mabuk.”
            “Maksudmu truth or dare. Nggak, ini beda. Oke, aku yang mulai.” Istrinya menyesap anggur. “Waktu pertama kali ke apartemenmu, aku mengintip buku alamatmu buat ngeliat ada namaku nggak di situ. Kalau nggak salah kita sudah kenal sekitar dua minggu.”
            “Aku lagi di mana, ya?”
            “Kamu lagi ngobrol di telepon sama ibumu, di ruangan lain. Aku pikir pasti kalian ngobrolnya lama. Aku penasaran apa kamu ngebahas aku.”
            “Aku ngebahas kamu nggak?”
            “Nggak. Tapi aku nggak menyerah. Nah, sekarang giliran kamu.”
            Ia tidak bisa memikirkan apapun, tetapi Shoba menunggu ia mengatakan sesuatu. Bulan-bulan terakhir istrinya tidak pernah terlihat seniat ini. Apa lagi yang belum ia utarakan kepada istrinya? Ia mengingat-ingat saat mereka kali pertama bertemu, empat tahun lampau di dalam ruang kelas di Cambridge, tatkala sekelompok penyair Bengali tengah membacakan sajak-sajak. Mereka duduk bersisian di bangku kayu. Shukumar segera bosan; ia tidak paham kata-kata dalam sajak-sajak itu, dan tidak bisa ikut seperti hadirin yang lain ketika mereka mengangguk khidmat atau menarik napas panjang pada kalimat-kalimat tertentu. Alih-alih, ia mengintip koran di pangkuannya, dan mencari tahu ketinggian derajat suhu di kota-kota sepenjuru dunia. Kemarin tiga puluh dua derajat selsius di Singapura, sepuluh derajat di Stockholm. Tatkala ia menoleh ke kiri, ia melihat perempuan di sebelahnya sedang menulis daftar belanja di bagian belakang selembar map, lantas ia terkesima menyadari betapa menawannya perempuan itu.
            “Oke,” katanya, sembari mengingat. “Waktu pertama kali kita pergi dinner, di restoran Portugis, aku lupa kasih tip buat waiter. Besoknya pagi-pagi aku balik ke sana, nyari tahu namanya, terus nitip uang ke manajer tempat itu.”
            “Kamu jauh-jauh balik ke Somerville cuma buat ngasih tip?”
            “Pakai taksi, kok.”
            “Kenapa kamu lupa kasih tip?”
            Lilin ulang tahun di meja padam, tetapi ia merekam wajah istrinya begitu jelas dalam kegelapan: sepasang bola mata besar yang mengerling, bibir tebal berona anggur, dan bekas luka jatuh dari kursi tinggi waktu kecil masih tampak berbentuk seperti tanda koma di dagunya. Hari demi hari, Shukumar menyadari, kecantikan istrinya yang dahulu membuatnya terkesima telah perlahan pudar. Kini istrinya butuh berdandan lebih tebal, bukan demi mempercantik dirinya melainkan, dengan suatu cara, justru menunjukkan karakter aslinya.
            “Malam itu, pas kita udah mau selesai makan, perasaanku campur aduk dan kepikiran ingin menikahi kamu,” katanya, untuk kali pertama mengakui hal tersebut, terhadap dirinya sendiri juga istrinya. “Mungkin itu bikin aku nggak fokus.”


Malam berikutnya Shoba pulang kerja lebih awal. Di dapur masih ada daging domba sisa semalam, dan Shukumar memanaskannya agar mereka sudah bisa makan malam pukul tujuh. Hari itu ia keluar rumah, berjalan di atas salju yang mulai mencair, demi membeli dari toko di sudut jalan sekotak lilin betulan dan baterai senter. Ia sudah memacakkan lilin tersebut di meja dapur di atas wadah berbentuk seperti kelopak teratai, tetapi mereka bersantap di bawah naungan sinar lampu berkap tembaga yang menggelantung di langit-langit di atas meja.
            Tatkala mereka selesai, Shukumar terkejut demi menyaksikan istrinya menumpuk piring bekas makan mereka dan membawanya ke wastafel. Ia mengira setelah itu istrinya akan langsung beranjak ke ruang tamu mengoreksi naskah.
            “Biarin saja piring kotornya,” ia berkata, seraya mengambil piring-piring itu dari tangan istrinya.
            “Nggak, lah,” balas istrinya, lantas menuang setetes sabun cuci cair ke spons. “Sudah hampir jam delapan.”
            Debaran di dadanya jadi lebih kencang. Sepanjang hari Shukumar telah menanti listrik padam. Ia memikirkan yang Shoba katakan semalam, tentang mengintip ke buku alamatnya. Rasanya menyenangkan mengingat-ingat sosok istrinya pada masa-masa itu, betapa pemberani sekaligus kikuk dirinya, dan betapa penuh harap. Mereka berdiri bersisian di hadapan wastafel, bayangan mereka memantul pada kaca jendela. Ia merasa malu, sebagaimana kali pertama ia berdiri bersisian dengan istrinya di depan kaca. Ia lupa kapan kali terakhir mereka berfoto. Mereka sudah tidak pernah lagi menghadiri pesta, tidak pernah lagi pergi ke manapun berdua. Foto-foto dalam kamera miliknya masih terdapat gambar-gambar Shoba, berada di halaman depan rumah, masih mengandung.
            Selesai mencuci piring, mereka bersandar di meja wastafel, mengeringkan tangan dengan handuk kecil-ujung ini di tangan Shukumar, ujung satunya di tangan Shoba. Tepat pukul delapan, listrik pun padam. Shukumar menyalakan sumbu lilin, terpukau dengan apinya yang panjang nan tenang.
            “Duduk di luar, yuk,” ujar Shoba. “Jam segini kayaknya masih hangat.”
            Mereka masing-masing memegang sebatang lilin dan pergi duduk di atas anak tangga di beranda. Rasanya aneh duduk di luar rumah di waktu salju masih berjatuhan. Tetapi malam ini semua orang keluar rumah, udara yang segar membuat orang-orang terjaga. Pintu-pintu rumah membuka dan menutup. Kelompok kecil warga melintas dengan senter di tangan.
            “Kami mau ke toko buku,” seru seorang pria berambut perak. Ia berjalan bersama istrinya, seorang perempuan kurus berjaket parasut yang membawa seekor anjing dengan tali kekang. Mereka keluarga Bradford, suatu kali pernah memasukkan ke kotak surat di rumah Shoba dan Shukumar sebuah kartu ucapan belasungkawa. “Katanya mereka punya genset.”
            “Harusnya,” balas Shukumar. “Kalau nggak, kalian bakal cari buku gelap-gelapan.”
            Istri tetangganya itu tertawa, lantas menggamit lengan suaminya. “Kalian ikut?”
            “Nggak, makasih,” Shoba dan Shukumar menjawab serempak. Shukumar kaget dengan hal tersebut.
            Ia menebak-nebak apa yang akan Shoba sampaikan kepadanya. Ia sudah memikirkan kemungkinan terburuk. Bahwa istrinya berselingkuh. Bahwa istrinya tidak suka ia sudah 35 tahun tetapi masih berstatus pelajar. Bahwa istrinya menyalahkannya karena ia dan ibunya berada jauh di Baltimore waktu istrinya melahirkan. Namun, ia tahu semua itu tidak benar. Istrinya setia, sebagaimana dirinya. Istrinya percaya kepadanya. Istrinya lah yang memaksanya pergi ke Baltimore. Apa lagi yang belum mereka tahu mengenai satu sama lain? Ia tahu istrinya mengepalkan tangan jikalau tidur, dan sedikit lasak jikalau bermimpi buruk. Ia tahu istrinya lebih suka semangka ketimbang melon. Ia tahu tatkala mereka pulang dari rumah sakit, hal pertama yang istrinya lakukan ketika masuk rumah adalah mengambili benda-benda dan melemparkannya ke lorong menjadi tumpukan: buku-buku dari rak, pot-pot tanaman dari jendela dapur, lukisan-lukisan dari dinding, foto-foto dari pigura, serta panci dan wajan dari gantungan dekat kompor. Shukumar tidak mencegahnya. Tatkala ia telah puas, istrinya berdiri memandangi tumpukan benda-benda itu, lantas bibirnya mengerucut seperti mau meludah. Kemudian, ia menangis.
            Ia mulai menggigil duduk di anak tangga beranda. Ia merasa harus bicara lebih dulu, menganggap ini gilirannya.
“Waktu ibumu ke rumah,” akhirnya istrinya yang bicara. “Pas aku bilang terpaksa kerja lembur, sebenarnya aku pergi bareng Gillian dan minum martini.”
            Ia mengamati paras istrinya, batang hidung ramping dan rahangnya kaku seperti pria. Ia ingat betul malam itu: ia makan dengan ibunya, lelah usai mengajar dua kelas berturut-turut, berharap Shoba ada bersama mereka agar istrinya bisa mengatakan sesuatu yang baik, karena dirinya senantiasa salah bicara. Sudah dua belas tahun sejak ayahnya wafat, dan ibunya berkunjung ke rumah mereka demi menemaninya berkabung. Setiap malam ibunya memasak makanan kesukaan ayahnya, lantas merasa begitu sedih dan kecewa mengetahui hanya ia sendiri yang menyantap makanan itu, dan airmatanya berlinang seiring Shoba mengusap-usap punggung tangannya. “Aku jadi ikut sedih,” kala itu Shoba berkata kepadanya. Kini, ia membayangkan Shoba bersama Gillian duduk di atas sofa beludru di bar-tempat yang biasa ia dan Shoba datangi usai menonton di bioskop-dan istrinya memastikan ekstra buah olive pesanannya ada di gelasnya, lantas mengambil sebatang rokok dari Gillian. Ia membayangkan istrinya curhat, dan Gillian bersimpati kepadanya atas kedatangan mertuanya. Gillian yang mengantar Shoba ke rumah sakit.
            “Giliranmu,” sang istri membuyarkan lamunannya.
            Di ujung jalan, Shukumar mendengar suara bor dan teriakan si teknisi. Ia memandangi fasad rumah-rumah berjejer di seberang jalan. Terlihat nyala lilin di jendela salah satunya. Terlepas cuaca yang sebenarnya sudah agak hangat, tampak asap membubung dari cerobong rumah itu.
            “Aku nyontek pas ujian mata kuliah Peradaban Asia,” ujarnya. “Waktu semester akhir, ujian terakhirku. Ayah meninggal beberapa bulan sebelumnya. Aku bisa lihat kertas ujian orang di sebelah. Cowok Amerika, maniak. Dia tahu bahasa Urdu dan Sanskrit. Aku nggak ingat contoh puisi di soal itu ghazal atau bukan. Aku nyontek jawaban dia.”
            Ia melakukan hal tersebut lebih dari lima belas tahun silam. Kini ia merasa lega telah mengungkap hal itu kepada istrinya.
            Istrinya menoleh, tidak kepadanya melainkan sepatunya-mokasin lawas yang ia injak saja seperti memakai sandal, bagian tumitnya tergencet rata dengan alas sepatu. Ia menduga apakah istrinya tidak senang atas ceritanya barusan? Istrinya meraih tangannya dan menggenggamnya. “Kamu nggak perlu kasih tahu alasan kamu nyontek,” ujarnya, seraya bergeser mendekat.
            Mereka duduk berdua hingga pukul sembilan, dan listrik pun kembali menyala. Mereka mendengar orang-orang bertepuk tangan dari beranda rumah masing-masing, dan televisi di rumah-rumah dihidupkan lagi. Keluarga Bradford berjalan melintas dan sembari menjilati es krim, mereka melambai. Shoba dan Shukumar membalas lambaian mereka. Kemudian, mereka berdua bangkit-masih bergenggaman tangan-dan masuk ke rumah.


Berikut-berikutnya, tanpa ada yang mengatur, situasi di antara mereka senantiasa berubah jadi arena mengumbar pengakuan-mengenai hal-hal sepele yang mereka lakukan demi mengecewakan satu sama lain, bahkan diri mereka sendiri. Keesokan hari Shukumar bimbang, antara harus mengaku soal ia menyobek foto seorang wanita di majalah langganannya dan menyelipkannya di buku yang ia bawa selama berminggu-minggu, atau mengaku bahwa ia sudah berbohong tatkala dulu berkata ia menghilangkan rompi rajutan yang istrinya berikan sebagai kado peringatan hari pernikahan mereka, dan bahwa ia menjual benda tersebut di Filene’s dan kemudian pergi minum-minum sendirian siang bolong di bar hotel. Pada hari itu, istrinya sudah memasak beragam hidangan untuk makan malam mereka. Rompi rajut itu membuatnya frustrasi. “Istriku kasih rompi rajut buat ngerayain nikahan kami,” ia curhat ke bartender, sedang kepalanya sudah goyang akibat cognag. “Lha, mestinya gimana?” balas si bartender. “Bung, kan, memang sudah nikah.”
            Mengenai foto wanita di majalah, ia tidak paham kenapa ia menyobeknya. Bukannya wanita itu lebih cantik dari Shoba. Wanita itu mengenakan gaun payet, mukanya cemberut dan kakinya kurus seperti kaki pria. Kedua lengan wanita itu terangkat, tangannya mengepal di dekat wajah, dan berpose seperti hendak meninju dirinya sendiri. Gambar tersebut iklan produk stoking. Tatkala itu Shoba sedang mengandung, perutnya ujug-ujug membuncit, begitu buncit sampai Shukumar enggan menyentuhnya. Pertama ia melihat foto wanita itu ia sedang tiduran di samping istrinya, yang tengah membaca buku. Begitu ia melihat majalah tersebut di tempat sampah, ia menemukan foto wanita itu dan menyobeknya dengan sangat berhati-hati. Setiap hari selama seminggu, ia mengintip foto itu. Libidonya naik, tetapi setelahnya ia merasa jijik dengan dirinya sendiri. Itu satu-satunya aksi berselingkuh yang pernah ia lakukan.
            Pada malam ketiga pemadaman listrik ia mengutarakan kepada istrinya tentang rompi rajut, dan pada malam keempat tentang foto wanita itu. Istrinya diam saja waktu ia bicara, tidak protes ataupun mencela. Istrinya mendengar saja, lalu meraih tangannya dan menggenggamnya seperti kemarin-kemarin. Pada malam ketiga pemadaman, istrinya bilang bahwa dulu suatu kali tatkala mereka pulang kuliah, saat ia mengobrol dengan seorang dosen, istrinya tidak memberitahu kalau ada remah-remah roti di dagunya. Kala itu istrinya sedang kesal kepadanya karena suatu hal, lantas membiarkan dirinya terus mengobrol dengan dosen mengenai beasiswa perkuliahan semester depan, tanpa memberi isyarat kepadanya bahwa dagunya kotor. Pada malam keempat pemadaman, ia mengaku bahwa sebenarnya ia tidak suka puisi yang pernah ia tulis, satu-satunya puisi yang ia tulis dan dimuat di suatu majalah sastra di Utah. Ia menulis puisi itu usai pertemuannya dengan Shoba. Istrinya bilang, puisinya kelewat sentimentil.
            Hal baru telah terjadi semenjak pemadaman: mereka kembali mengobrol. Pada malam yang ketiga, seusai makan, mereka duduk di sofa, dan begitu listrik padam ia mengecup pipi dan kening istrinya dengan agak kikuk, dan kendatipun sudah gelap, ia tetap memejam, dan tahu istrinya melakukan hal yang sama. Pada malam keempat, mereka melangkah canggung menaiki tangga menuju kamar tidur, sama-sama diam sejenak ketika menjejak di lantai atas, kemudian bercinta dengan keputusasaan yang telah terlupa. Istrinya menangis tanpa suara, membisikkan namanya, dan dalam kegelapan menyusuri alisnya menggunakan jemari. Dalam percintaan mereka, ia memikirkan apa lagi yang harus ia ceritakan besok malam, apa lagi yang istrinya ceritakan-dan semua ini membuatnya bergairah. “Peluk aku,” ia berkata, “dekap aku.” Begitu listrik kembali menyala, mereka telah tertidur pulas.


Pagi pada hari terakhir pemadaman, Shukumar mendapat surat pemberitahuan dari perusahaan listrik: jalur listrik sudah kembali normal, lebih awal dari jadwal semula. Ia kecewa. Ia sudah berencana memasak udang malaikari buat Shoba, tetapi tatkala ia tiba di swalayan ia sudah tidak selera lagi. Suasananya bakal berbeda, ia pikir, kalau listrik tidak padam. Dalam pandangannya, udang-udang itu terlihat kurus dan tidak menarik. Kotak-kotak santan siap saji itu berdebu dan kemahalan. Kendati demikian, ia tetap membeli semua, beserta sebatang lilin aromaterapi dan dua botol anggur.
            Istrinya pulang pukul setengah delapan malam. “Kayaknya permainan kita sampai di sini ya,” ujar Shukumar tatkala melihat istrinya membaca surat pemberitahuan.
            Istrinya menoleh. “Kamu masih bisa nyalain lilin kalau mau.” Malam ini istrinya tidak berangkat ke gym. Ia mengenakan kemeja di balik mantelnya. Ia sudah memulas riasannya lagi.
            Tatkala istrinya ke lantai atas untuk bersalin, Shukumar menuang anggur buat dirinya sendiri dan memutar lagu: album Thelonius Monk, favorit istrinya.
            Setelah istrinya kembali, mereka bersantap bersama. Istrinya tidak bilang terima kasih atau memujinya. Mereka makan saja dalam cahaya remang-remang, diterangi pendar lilin aromaterapi. Mereka telah melewati masa-masa krisis. Mereka melahap habis udang di meja. Mereka meneguk tandas botol anggur pertama dan langsung membuka yang kedua. Mereka duduk di situ sampai lilin hampir habis. Istrinya menggeser posisi, dan sesaat Shukumar mengira ia akan mengatakan sesuatu. Alih-alih, istrinya meniup lilin hingga padam, beranjak dari kursinya, menyalakan lampu, kemudian duduk lagi.
            “Nggak dibiarin gelap aja?” tanya Shukumar.
            Istrinya menyingkirkan piring di hadapan dan memasang gestur serius. “Aku mau kamu lihat aku saat aku mengatakan ini…,” ujarnya tenang.
            Jantungnya berdentam keras. Hari ketika istrinya memberitahu bahwa dirinya mengandung, ia bicara persis seperti ini, persis dengan ketenangan yang sama, seusai mematikan televisi saat ia sedang menonton pertandingan basket. Kala itu ia tidak siap. Sekarang sudah.
            Hanya saja ia enggan mendengar jikalau istrinya mengandung lagi. Ia tidak mau berpura-pura senang.
            “Aku sempat cari-cari apartemen, dan sudah dapat,” ujar istrinya seraya memicing, pandangannya terarah ke bahu kirinya. Bukan salah siapa-siapa, istrinya melanjutkan. Mereka sudah sama-sama lelah. Ia butuh menyendiri. Ia punya tabungan. Apartemen baru itu terletak di Beacon Hill, jadi ia bisa jalan kaki ke kantor. Ia sudah meneken kontrak sewanya tadi sebelum pulang.
            Istrinya enggan menatap matanya, tapi Shukumar memandanginya lekat-lekat. Jelas sekali istrinya sudah melatih ucapannya. Selama ini ia menghabiskan waktunya mencari apartemen, mengecek tekanan air, bertanya ke agen properti apakah ada fasilitas air panas di sana. Semua ini membuat Shukumar pening-mengetahui istrinya melewati malam-malam belakangan mempersiapkan hidup baru tanpa dirinya. Ternyata inilah inti permainannya.
            Kini, giliran ia bicara. Ada satu hal yang ia sudah bersumpah tidak akan memberitahu istrinya, dan selama setengah tahun terakhir ia berusaha tidak memikirkannya. Sebelum USG, istrinya meminta dokter merahasiakan jenis kelamin bayi mereka, dan Shukumar setuju. Istrinya ingin kejutan.
            Kelak, tatkala mereka sempat beberapa kali membahasnya, istrinya bilang setidaknya mereka telah berbagi rahasia. Istrinya seperti bangga dengan keputusannya itu, sebab dengan demikian ia dapat mencari perlindungan di dalam ketidaktahuan. Shukumar tahu, istrinya mengira hal tersebut juga menjadi misteri baginya. Setahu istrinya ia terlambat kembali dari Baltimore-tatkala segalanya telah berakhir dan istrinya tergolek lemah di ranjang rumah sakit. Padahal tidak. Ia tiba cukup awal demi melihat bayi mereka, dan pula sempat mendekapnya sebelum upacara kremasi dilakukan. Awalnya ia tersentak dengan saran mendekap jenazah bayinya, tetapi dokter berkata mungkin hal itu dapat membantunya melalui proses berduka. Shoba sudah terlelap. Sang bayi sudah dimandikan, matanya terpejam untuk selamanya.
            “Anak kita laki-laki,” ia berkata. “Kulitnya lebih kemerahan ketimbang coklat. Rambutnya hitam. Beratnya dua kilo. Tangannya mengepal terus, persis seperti kamu kalau lagi tidur.”
            Kini Shoba menoleh, tampak begitu nestapa. Suaminya menyontek saat ujian kuliah dan menyobek foto wanita dari majalah. Suaminya menghilangkan sweter pemberiannya dan pergi mabuk-mabukan. Ini semua yang suaminya katakan kepadanya. Suaminya mendekap bayi mereka, yang hanya mengetahui kehidupan di dalam rahim dirinya, di dalam ruangan remang di kamar terkucil di rumah sakit. Suaminya mendekap bayi mereka hingga perawat mengetuk pintu dan memboyong bayi itu pergi, dan ia berjanji tidak akan memberitahu Shoba, sebab ia masih mencintainya, dan rahasia itu satu-satunya kejutan yang ingin ia peroleh dalam hidupnya.

            Shukumar bangkit dan membereskan piring makan. Ia membawa piring-piring itu ke wastafel, tetapi alih-alih mencucinya ia justru memandang ke luar jendela. Di luar, malam masih hangat, dan keluarga Bradford terlihat berjalan bergandeng tangan. Saat ia masih memperhatikan mereka, mendadak lampu padam, lantas ia berbalik. Shoba yang mematikannya, kemudian kembali ke meja makan dan duduk lagi, dan beberapa saat kemudian Shukumar juga. Bersama mereka menangis, demi hal-hal yang kini telah mereka ketahui. ***

Interpreter of Maladies, Jhumpa Lahiri




Sebetulnya saya nggak pernah memikirkan hal ini, tetapi gara-gara membaca tulisan wawancara yang dilakukan seorang penulis terhadap seorang penulis lain (saya mengenal dan menyukai karya kedua penulis tersebut) saya jadi turut memikirkan salah satu bahasan dalam wawancara itu, yakni soal berapa banyak buku penulis perempuan yang dibaca oleh si narasumber. Saya bertanya sendiri, berapa banyak ya buku penulis perempuan yang saya baca? Nggak butuh waktu lama buat mengingat, saya langsung tahu bahwa selama ini buku yang saya baca lebih banyak ditulis oleh laki-laki ketimbang perempuan.

Lantas, memangnya kenapa? Ya, nggak kenapa-kenapa. Saya yang tadinya nggak kepikiran jadi penasaran saja, tapi rasa penasaran itu pun nggak tahu diarahkan ke mana. Respons saya atas pertanyaan tersebut sederhana: mengambil dari rak perpustakaan pribadi di kamar, sebuah buku yang ditulis perempuan. Ada cukup banyak sebenarnya novel maupun buku nonfiksi oleh penulis perempuan dalam rak saya, tetapi karena sedang nggak selera baca novel, puisi, maupun nonfiksi, akhirnya saya memutuskan mengambil sebuah kumpulan cerita: Interpreter of Maladies, karya Jhumpa Lahiri.

Interpreter of Maladies adalah karya debut Jhumpa Lahiri yang terbit pada tahun 1999 dan setahun kemudian langsung diganjar penghargaan Pulitzer. Buku ini berisi sembilan cerita pendek yang hampir seluruhnya sempat dimuat di media semacam The New Yorker dan The Louisville Review. Novel pertama Lahiri, The Namesake, juga melejitkan kepopulerannya seiring alihwahana novel tersebut ke film berjudul sama yang disutradarai Mira Nair, perempuan India seperti Lahiri. Tidak cuma itu, karya lainnya pun memenangi penghargaan: kumpulan cerita Unaccustomed Earth untuk Frank O’ Connor International Short Story Award dan The Lowland dinominasikan untuk Man Booker. Hampir tidak ada karya Lahiri yang tidak menyentuh penghargaan.

Dengan catatan gemilang semacam itu, saya bertanya-tanya lagi ke diri sendiri, kenapa saya belum membacanya ya? Ya, sudahlah. Mungkin belum tergerak saja, sebagaimana puluhan buku lain dalam rak perpustakaan pribadi saya yang juga belum dibaca. Intinya saya sudah akan mulai membaca Jhumpa Lahiri, penulis India-Amerika berzodiak Cancer-seperti saya-yang pada usianya ke-48 tahun sudah mendulang banyak penghargaan. Mari kita lihat bagaimana isi buku debutnya ini.

Saya terbiasa membaca kumpulan cerita secara urut, itu artinya membaca dari yang pertama, kedua, hingga terakhir. Cerita pendeknya panjang-panjang, sama seperti cerita-cerita yang umumnya dimuat di The New Yorker (kecuali semacam Etgar Keret) sekira lima belas halaman kalau diketik ulang di Word. Kendatipun demikian, saya membaca seluruh ceritanya dengan mengalir, santai saja. Setiap hari saya membaca satu cerita, menepis waktu yang sebenarnya masih tersedia untuk membaca cerita berikutnya, demi meresapi yang baru selesai saya baca.

Cerita pertama, A Temporary Matter, adalah kisah dengan konflik rumahtangga. Dua tokoh utamanya, pasangan muda Shoba dan Shukumar, menghabiskan hari-hari mereka saling menghindari. Usut punya usut, ternyata masalahnya berakar pada peristiwa meninggalnya bayi mereka. Semenjak tragedi tersebut, mereka jarang bicara lagi, suasana di rumah mulai berubah nggak nyaman, dan begitu terus sampai suatu hari datang surat pemberitahuan dari perusahaan listrik yang mengatakan bahwa di kompleks mereka akan kena pemadaman sementara akibat jalur listrik rusak terkena badai salju, dan semenjak itu mereka mulai bisa mengobrol baik sampai akhirnya terungkap bahwa sang istri ingin berpisah.

When Mr. Pirzada Came to Dine bercerita tentang hubungan satu keluarga India di Amerika dengan seorang warga India bernama Mr. Pirzada, yang terpisah dari istri dan anak-anaknya karena konflik politik di India. Cerita ini ditulis dengan latar pemisahan kerajaan Inggris-India tahun 1947 atau disebut Partition; memisahkan kerajaan itu menjadi kerajaan Pakistan-yang kelak terpisah lagi menjadi Pakistan dan Bangladesh-dan menyebabkan pembentukan negara Republik India. Dituturkan dari kacamata seorang anak perempuan yang tidak tahu menahu tentang konflik politik tersebut.

Cerita yang judulnya diambil menjadi judul buku, Interpreter of Maladies, berkisah tentang seorang sopir cum pemandu perjalanan yang mengantar satu keluarga keturunan India tetapi lahir di Amerika (pasutri itu mengutarakan info ini dengan rasa bangga) berkeliling di India. Melalui adegan demi adegan, kita tahu bahwa si sopir, Mr. Kapasi, ternyata punya pekerjaan sampingan yaitu sebagai penerjemah yang bekerja pada seorang dokter. Ia membantu para pasien yang orang India menyampaikan keluhan mereka kepada dokter yang hanya bisa berbahasa Inggris. “Penerjemah luka”, kalau saya boleh mengartikannya asal. Di tengah cerita Mr. Kapasi mulai naksir Mrs. Das, kliennya sendiri, yang ternyata menyimpan masalah serius mengenai rumahtangganya.

Menggunakan narasi yang sederhana dan sangat mengalir, Lahiri menunjukkan ketegangan-ketegangan subtil di dalam diri manusia maupun hubungan antar dua orang manusia atau lebih, yang lahir karena pertentangan budaya, dalam hal ini India dengan Amerika. Tokoh-tokohnya kebanyakan bersentuhan dengan konflik yang muncul karena pertentangan semacam itu. Kadang-kadang hadir potret sebentuk culture shock seperti di bagian-bagian tertentu dalam cerita saat keterangan simpel keluar dari celetukan narator tentang, misalnya, setir mobil di India yang terletak sebelah kanan (sementara di Amerika orang mengemudi di kiri). Atau, di momen-momen lain, Lahiri seolah menampilkan budaya India sebagai sesuatu yang menjadi terasing di tempat baru, kebiasaan-kebiasaan atau tradisi yang tergerus karena modernitas negara maju. Semua ini keluar dengan cara yang begitu halus, tidak ambisius, dalam deskripsi situasi yang sangat rinci.

Kembali ke persoalan penulis perempuan. Saya tidak tahu apakah karena Lahiri seorang perempuan sebab itu narasi miliknya terasa halus jika tidak lembut. Kita membaca Harper Lee dan tidak menemukan cara bertutur serupa. J. K. Rowling pun tidak. Jadi, ya, baiklah ini bukan tentang perempuan atau laki-laki. Ini soal pilihan cara bertutur dan teknik menulis yang pas. Lagipula saya sendiri nggak tahu kenapa awalnya saya mulai membaca dan menilai buku dari segi gender penulisnya. Oh iya, tadi ceritanya saya baru sadar kalau begitu sedikit membaca buku-buku dari penulis perempuan. Tetapi sebenarnya menarik juga kalau kita mencoba membaca lebih teliti dan membuat semacam perbandingan antara cara menulis penulis perempuan dan penulis laki-laki. Kapan-kapan deh ya.


Apapun itu, saya suka dengan kumpulan cerita Jhumpa Lahiri ini. Cerita-cerita Lahiri sangat enak dibaca, nggak bikin penat, tetapi meski terlihat sederhana sama sekali nggak sederhana. Kalau mau cari yang menulis dengan cara agak mirip, coba baca cerita-ceritanya Raymond Carver. Nah, Lahiri menulis kira-kira dengan pendekatan yang sama, walaupun jauh lebih rinci dan utuh daripada Carver. Selesai membaca Interpreter of Maladies, saya menemukan di dalam rak perpustakaan pribadi saya dua buku lain Lahiri, The Namesake dan Lowland, yang sepertinya akan jadi buku-buku berikutnya dalam daftar baca saya. ***

12 Mei 2016

Wawancara Saya dengan Eka Kurniawan

Saya mewawancarai Eka Kurniawan tentang beberapa hal, termasuk novelnya yang terbaru, O. Hasil wawancara selama kurang lebih dua jam itu dapat dibaca di sini.


1 Mei 2016

Menertawai Impian Manusia Ala John Steinbeck




Cerita-cerita yang ditulis dengan tujuan membuat orang lain menangis, biasanya dibuka justru oleh kisah lucu. Tragicomedy, adalah istilah yang mengacu pada genre kesusastraan yang membaurkan aspek-aspek komikal dan tragis; cerita memuat situasi-situasi yang ringan dan mengangkat mood, kemudian berakhir dengan sesuatu yang menghancurkan hati.

Persahabatan sederhana tapi rumit antara George Milton dengan Lennie Small di novela Of Mice and Men tampil di beberapa halaman pertama sebagai pemantik gelak tawa. Mengacu kalimat pembuka tulisan ini, tentu saja saya tidak tahu apakah John Ernst Steinbeck meniatkan novelanya untuk membuat pembacanya menangis, tetapi saya yakin siapapun yang membaca novela ini, akan tertawa lepas hanya untuk menyambut datangnya airmata ketika tiba di bagian akhir.

Of Mice and Men adalah novela yang plotnya digerakkan oleh karakter. Dua karakter utamanya, sepasang sahabat, George Milton dan Lennie Small, adalah pekerja kasar di suatu peternakan. Mereka berpindah dari satu peternakan ke peternakan lain demi mendapat uang dan menghidupi diri mereka. Sejak muncul di beberapa halaman pertama, kita sudah bisa segera mengetahui orang seperti apa George dan Lennie. Dengan sangat efektif, Steinbeck mengungkap watak mereka hanya melalui dialog.

Dialog adalah elemen penulisan yang berperan kuat dalam Of Mice and Men. Kita tahu George seorang penggerutu, berakal sehat, intuitif, gemar menilai orang, semuanya dari ucapan-ucapan yang ia lontarkan. Begitu pula Lennie, kita tahu ia agak lamban berpikir, lugu, tulus, juga dari kata-katanya dalam tiap percakapan. Tidak hanya memperlihatkan sifat-sifat karakter, dialog di Of Mice and Men juga digunakan Steinbeck untuk mengungkap apa yang terjadi di masa lalu (back story), sehingga latar belakang mengapa tokoh-tokohnya melakukan apa yang mereka lakukan dapat dimengerti tanpa harus menuliskan semacam kilas balik.

Saat menyimak dialog antara George si laki-laki penggerutu yang bertubuh kecil dengan Lennie si laki-laki berbadan besar dan berotak lemah, saya teringat pada hubungan Sungu Lembu dan Raden Mandasia dalam novel Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi, Yusi Avianto Pareanom. Kejengkelan Sungu Lembu pada tingkah laku Raden Mandasia mirip-mirip kedongkolan George pada Lennie yang sering membuatnya terpaksa mengeluarkan Lennie dari masalah-masalah yang ia sebabkan karena keluguan dan kelemahan otaknya itu.

Tidak hanya George dan Lennie, karakter-karakter lain pun tampil begitu kuat dan mudah dibedakan antara satu dengan yang lain. Slim yang bijak, Curley yang arogan, Candy si tua, Crooks si negro, dan seterusnya. Lagi-lagi, watak mereka kelihatan jelas hanya lewat dialog-dialog mereka. Cara bicara menunjukkan sifat masing-masing karakter. Kurt Vonnegut bilang sebuah dialog mesti melakukan setidaknya satu dari dua hal berikut: mengungkap karakter atau mempertajam plot. Steinbeck melakukan keduanya sekaligus dalam Of Mice and Men.

Tentang ceritanya sendiri, seperti sempat saya singgung sedikit tadi, adalah mengenai dua orang yang bekerja dari satu peternakan ke peternakan lain. Tapi tidak cuma itu, tentu saja. Dua pekerja kasar ini, George dan Lennie, menganggap diri mereka tidak sama dengan pekerja-pekerja lain, yang hanya bekerja dari satu ranch ke ranch berikut, memperoleh sedikit upah, kemudian menghabiskan seluruh uangnya di rumah-rumah pelacuran untuk mabuk dan bercinta. Lantas apa yang membuat George dan Lennie merasa diri mereka berbeda? Karena mereka punya mimpi.

Mimpi mereka kiranya adalah mimpi semua orang: Kehidupan yang lebih baik. Lebih spesifik lagi, George dan Lennie ingin memiliki tanah yang mereka kelola sendiri. Mereka tidak ingin selamanya menjadi pekerja kasar di tanah orang lain, hanya mendapat upah tak seberapa dari kerja yang keras, dari si tuan tanah. Mereka ingin punya tanah sendiri, menanam apa yang mereka ingin tanam dan menuai hasilnya untuk mereka sendiri, memelihara hewan yang mereka ingin dan mendapat hasil dari ternaknya untuk menghidupi diri mereka sendiri, dan tidak lagi perlu bekerja buat orang lain.

Sebuah mimpi yang utopis, lebih-lebih bagi mereka, tetapi tak ayal mimpi utopis inilah yang membuat mereka bersemangat dan optimis untuk terus hidup. Efek mimpi itu lebih kentara berdampak pada Lennie yang berotak lamban. Ia ingin memelihara kelinci di tanahnya sendiri, karena di tanahnya sendiri tidak akan ada orang yang melarangnya memelihara kelinci seperti yang ia alami saat ini. Di saat-saat tertentu, ketika mereka sedang merasa lesu, Lennie kerap meminta George mengucapkan ulang rencana-rencana dan impian mereka, dan dengan kesal tetapi patuh George mengucapkannya, dan pada saat itulah mereka yang merasa hidup begitu sulit tiba-tiba mendapat energi kembali untuk bekerja dan mengumpulkan uang.

Tetapi seperti semua impian utopis, impian George dan Lennie pun ditertawakan oleh rekan-rekannya, termasuk Crooks si negro yang banyak membaca buku dan skeptis. Pernyataan Crooks si negro kutu buku, yang juga bisa dipandang sebagai pernyataan Steinbeck, yang juga bisa dianggap pesan besar dari keseluruhan Of Mice and Men, terangkum dalam satu paragraf dialog berikut:

I seen hunderds of men come by on the road ‘an on the ranches, with their bindles on their back an’ that same damn thing in their heads. Hunderds of them. They come, an’ they quit an’ go on; an’ every damn one of ‘em’s got a little piece of land in his head. An’ never a God damn one of ‘em ever gets it. Just like heaven. Ever’body wants a little piece of lan’. I read plenty of books out there. Nobody never gets to heaven, and nobody never gets no land. It’s just in their head.”

Realisme John Steinbeck dalam novela Of Mice and Men mewakili suara pekerja kelas bawah yang menggantungkan hidupnya pada upah tak seberapa, sehingga impian paling sederhana sekalipun semacam kehendak bekerja di lahan sendiri dan bagi diri sendiri menjadi tampak konyol dan begitu patut ditertawakan. Tak luput pula akhir tragis yang menimpa Lennie, tokoh yang paling tenggelam ke dalam impian utopis itu, semakin menguatkan gambaran akan kehidupan orang-orang yang berada di garis paling bawah tangga ekonomi. Bermimpi dan mati tanpa pernah melihat mimpi kecilnya terwujud.

Tapi mimpi memiliki kehidupan yang lebih baik merupakan mimpi milik semua orang, sehingga tak hanya Lennie si badan besar bernasib malang yang terpuruk dalam takdir tragis, tetapi kita semua juga bisa jatuh di jurang yang sama. Lagipula, pada kondisi yang berbeda-beda, kita semua adalah George dan Lennie. Kita semua adalah buruh. Kita semua bekerja di bawah kepentingan seseorang atau sesuatu, memiliki mimpi-mimpi yang utopis, dan tidak cukup berani untuk menertawai sendiri mimpi-mimpi itu. Padahal tahu, Tuhan terlalu sibuk untuk mengabulkan semua mimpi. ***


26 April 2016

Apalah yang Kita Tahu Soal Cinta?





“What do any of us really know about love?”  

Saya selalu tertarik untuk mengetahui apa yang dikatakan para penulis tentang satu kata misterius ini: “cinta”. Orhan Pamuk, dalam The Museum of Innocence, memperlihatkan cinta sebagai sesuatu yang bisa terlarang namun kekal, atau setidaknya berusia panjang, serta memantik sejenis kegilaan bagi manusia yang mengalaminya. Mario Vargas Llosa, dalam In Praise of the Stepmother, menunjukkan cinta yang penuh hasrat. Sedangkan Haruki Murakami, menggambarkan cinta sebagai sesuatu yang terlihat ganjil, absurd, tampak sederhana namun sekaligus rumit. Lantas, bagaimana cinta menurut Raymond Carver?

Carver mengatakan apa yang ia katakan saat ia mengatakan tentang cinta lewat 17 cerita pendek dalam kumpulan What We Talk About When We Talk About Love. Omong-omong soal judulnya yang catchy, saya mendadak teringat pada buku berjudul mirip: What I Talk About When I Talk About Running, memoar yang bagus dari Haruki Murakami tentang berlari maraton dan menulis novel. Saya tahu Murakami juga membaca Carver, dan yakin dari buku inilah ia mendapatkan judul untuk memoarnya itu. Saya juga teringat pernah melihat sebuah film Indonesia dengan judul What We Don’t Talk About When We Talk About Love. Dan kalau meramban di mesin pencarian, siapapun akan melihat ada banyak kalimat yang merupakan hasil modifikasi judul buku Carver ini.

Mari kita tinggalkan pembicaraan mengenai judul dan masuk ke cerita-ceritanya.

Di permukaan, cerita-cerita Carver terlihat sederhana, dan sepertinya memang demikian. Namun, ketika kita membacanya dengan perlahan dan menyimak hal-hal kecil di dalamnya, kita akan tahu bahwa ada pergolakan yang tak sederhana di diri masing-masing karakter. Carver tidak mengatakan hal ini, tentu saja. Alih-alih, ia melakukan hal terbaik yang bisa dilakukan penulis kala ingin mengatakan sesuatu: Ia menunjukkannya.

Dalam cerita “Why Don’t You Dance”, seorang lelaki menjual hampir seluruh perabotan rumahnya. Ia meletakkan begitu saja tempat tidur, sofa, televisi, dan barang-barang lain di pekarangan rumahnya, selayaknya sebuah garage sale. Tak ada yang mengatakan apapun tentang apa yang laki-laki itu alami dan mengapa ia melakukan apa yang ia lakukan. Namun, pada satu bagian di pembukaan cerita itu, Carver menulis bagaimana laki-laki tersebut memandangi tempat tidur di halaman dari balik jendela dapurnya, dan ia melihat dua sisi tempat tidur itu: Sisi miliknya, dan sisi miliknya-- seorang perempuan.

Seorang lelaki memandangi dari balik jendela seorang pria tua dengan kamera mengambil gambar rumahnya, kemudian menjual gambar itu kepadanya. Laki-laki pemilik rumah pun, didorong rasa tak nyaman, menerima pria tua itu di rumahnya sebagai tamu lantas mereka berbincang-bincang. Cerita itu berjudul “Viewfinder”, dan Carver memperlihatkan kesepian yang dialami si laki-laki tanpa menjelaskan apa yang sebetulnya ia alami dan masalah cinta macam apa yang telah menimpanya.

Cerita-cerita Carver kebanyakan ditulis seperti ini. Ambigu, dan hampir selalu berakhir dengan menggantung tanpa kesimpulan yang jelas apalagi alur yang bulat. Tetapi justru karena itu saya menyukainya. Tidak ada yang selesai, sama dengan tidak ada yang dimulai dalam cerita-ceritanya. Alih-alih sebuah cerita pendek yang utuh dengan pembuka, konflik, dan penutup-- yang membentuk satu cerita bulat-cerita-cerita Carver lebih berupa sketsa-sketsa, atau lebih tepat mungkin kita sebut saja fragmen-fragmen. Fragmen-fragmen itu berasal dari suatu kisah yang lebih panjang lagi, yang hanya bisa kita bayangkan sendiri, dan mungkin di situ juga lah terletak kenikmatan lain dari membaca cerita-cerita Carver. Kita diberi sketsa-sketsa atau fragmen-fragmen yang muncul dan pergi begitu saja dan kita diizinkan untuk membayangkan sendiri bagaimana bentuk utuh dari mereka.

Kendati demikian, ada satu hal yang terjadi pada kumpulan cerita Carver, yang seingat saya jarang terjadi pada kumpulan cerita penulis lain: Meski cerita-ceritanya terlepas satu sama lain, dan hadir dalam wujud sketsa patah alih-alih satu cerita bulat utuh, kita bisa memandangi dari jauh ketujuhbelas cerita dalam kumpulan ini dan membayangkan mereka menjadi satu kesatuan kisah yang panjang.

Tentang apa cinta itu menurut Carver, ia menjelaskannya melalui cerita yang judulnya menjadi judul buku ini: What We Talk About When We Talk About Love. Cerita itu isinya empat orang sekawan yang sedang mengobrol dan tanpa ada yang sadar mereka masuk ke topik tentang apa itu cinta. Dari sana muncul satu-dua konflik kecil tetapi bukan yang sedang terjadi, melainkan kilas balik dari kisah tokoh-tokohnya. Cinta itu lebih kepada sesuatu yang spiritual, kata seorang laki-laki, tetapi disambut cerita istrinya yang mengisahkan masa lalu bersama pacar lamanya yang mencintainya dengan cara yang agak sinting dan penuh kekerasan. Itu bukan cinta, kata sang suami, tetapi sang istri bersikeras itu juga cinta. Ia menyakitiku, kata sang istri, tetapi begitulah cara dia menunjukkan cintanya. Sampai akhirnya sang suami sendiri, yang tadinya paling berminat memberi definisi atas cinta, berkata: “…it ought to make us feel ashamed when we talk like we know what we’re talking about when we talk about love.”

Apalah yang kita tahu tentang cinta. Setidak-tidaknya, Carver menjawab hal itu dengan menawarkan cerita-cerita cinta yang di dalamnya berada rasa sepi, sakit, kedukaan yang terlihat tanpa ujung. Dalam cerita-cerita cinta Carver ada banyak perselingkuhan dan sedikit kebahagiaan. Namun, yang paling baik dari semua itu adalah Carver sama sekali tidak terlihat mendramatisir hal-hal tersebut. Ia tidak tertarik melakukan itu. Kebahagiaan dan kedukaan adalah hal yang niscaya ada dalam sebentuk perasaan cinta, mereka bisa datang dan pergi kapanpun mereka mau. Mendramatisir kebahagiaan tak membuat seseorang menjadi lebih bahagia dari yang sebenarnya, dan mendramatisir kedukaan tentu saja tak ada gunanya.

Sketsa-sketsa dalam kumpulan cerita pendek tentang cinta Raymond Carver, sebagaimana cerita-cerita bagus lainnya, tak selalu memberi sensasi menghentak yang heboh, tetapi ia niscaya beresonansi dengan pengalaman batin dan hidup pembacanya. Orang-orang yang pernah jatuh cinta dan tidak puas dengan itu akan menemukan kisah mereka di dalam buku ini, mungkin berwujud lain, tetapi perasaan familier itu akan muncul.

Kesederhanaan narasi dan suasana dalam cerita-cerita Carver akan menyajikan gangguan yang subtil, membuat kita yang tadinya merasa tak ada masalah cinta yang besar dalam cerita-ceritanya, tiba-tiba menyadari bahwa ternyata ada sesuatu yang sangat gawat sedang dialami oleh karakter-karakter dalam cerita-cerita itu. Sesuatu yang mungkin lebih gawat dari sekadar hati yang patah dan cinta yang pergi.

Apa yang kita bicarakan ketika kita membicarakan tentang cinta? Ah, seperti kata salah seorang karakter Carver, apalah yang kita tahu tentang cinta. Manusia hanya merasakan apa yang mereka rasakan dan untuk mempermudah segalanya mereka menyebut itu cinta, tanpa tahu apakah yang mereka rasakan memang benar-benar cinta atau hanya sesuatu yang menyerupainya. ***

25 April 2016

Mengenal Rumah Sendiri Dari Mulut Orang Asing




Richard Lloyd Parry adalah jurnalis asal Inggris yang menjadi koresponden Asia untuk The Times London; sebelumnya ia bekerja di The Independent, harian milik Inggris, dan dalam kurun waktu itu ia menulis reportase dari berbagai negara di kawasan benua Asia. Pada 1998 ia melaporkan kejatuhan Suharto, juga tragedi berdarah yang berlangsung menyusul referendum kemerdekaan Timor Timur. Ia juga menulis tentang kanibalisme dan konflik antar-etnis di Kalimantan Barat.

Hasil reportase itu yang terkumpul dalam buku nonfiksi Zaman Edan: Indonesia Di Ambang Kekacauan (Serambi, 2008)-diterjemahkan dengan sangat enak dari versi bahasa Inggris In the Time of Madness: Indonesia on the Edge of Chaos (Vintage, 2005). Buku ini terdiri atas tiga bab utama, masing-masing mengenai kanibalisme dan konflik Dayak-Madura di Kalimantan Barat pada 1997 dan 1999, demonstrasi mahasiswa dan tragedi Trisakti menyusul jatuhnya Suharto pada 1998, dan kekacauan referendum kemerdekaan Timor Timur pada 1999.

Meskipun ini buku nonfiksi saya sama sekali tidak merasa sedang membaca karya nonfiksi, yang selama ini, setidaknya bagi saya yang belum banyak menghadapi karya nonfiksi, relatif terkesan kering dan membosankan. Zaman Edan ditulis dengan gaya naratif layaknya sebuah karya fiksi, lengkap dengan plot, penokohan, dan deskripsi detail pada hal-hal penting-serta yang paling membuatnya terasa seperti novel, adalah hadirnya perasaan, emosi, dan kadang pandangan personal penulisnya sendiri terhadap apa saja yang ia saksikan.

Tetapi tentu saja, Zaman Edan adalah karya nonfiksi, sebab itu yang ia tunjukkan di dalam narasinya merupakan fakta dan bukan sesuatu yang diimajinasikan. Sekumpulan mayat di tengah hutan dan rumah-rumah terbakar buah konflik antar-etnis di Kalimantan Barat pada 1997 dan 1999 bukanlah peristiwa fiktif yang menjadi fantasi Richard, melainkan benar-benar terjadi, aktual. Begitu pula beberapa mahasiswa yang mati tertembak pada Tragedi Trisakti jelang Suharto turun pada 1998. Begitu pula ketegangan antara kelompok pro-kemerdekaan Timor Timur di bawah pimpinan Xanana Gusmão dengan kelompok-kelompok pro-integrasi yang konon didukung jajaran militer Indonesia. Seluruh peristiwa berdarah yang menelan banyak nyawa manusia itu bukan karya fantasi, tetapi faktual.

Fakta yang dituturkan Richard, alih-alih lahir dari serangkaian riset pustaka, lebih seperti laporan pandangan mata dan pengalaman empiris. Ia menyaksikan langsung kepala-kepala terpenggal diletakkan di atas tong-tong kosong dan daun telinga yang telah disayat diambil dari pemiliknya bergelantungan di pinggang sang pembunuh. Ia juga berhadap-hadapan langsung dengan Xanana beserta pejuang Falintil dan tinggal bersama mereka. Apa yang disampaikan Richard melalui narasinya bisa dibilang merupakan laporan orang pertama yang berada di pusat kejadian peristiwa-peristiwa tragis itu.

*

Saya baru berusia delapan tahun ketika Richard berada di Indonesia dan melihat konflik antar-etnis di Kalimantan Barat. Desa tempat tinggal saya, Anjungan, juga disebut sebanyak dua kali di dalam tulisannya pada bab pertama: “Musibah yang Mendekati Aib”, yang merangkum pengalamannya berkunjung ke Singkawang, Salatiga, dan desa-desa di pedalaman yang merupakan tempat kejadian perkara konflik horisontal antar-etnis ketika itu. Saya sendiri hingga hari ini samar-samar mengingat apa yang terjadi di desa saya semasa kecil, pada tahun yang ditulis Richard: suasana sepi, ketegangan yang tidak saya pahami, dan pengungsi di rumah orangtua saya di sebuah kompleks dinas pertanian.

Konflik Dayak-Madura sendiri sebetulnya telah dimulai jauh sebelum Richard datang ke Indonesia. Tidak kurang dari lima puluh tahun yang lalu, membentang hingga awal tahun 2000, setidaknya ada sebelas kali konflik dengan beragam sebab dan hampir seluruhnya menelan korban jiwa. Siapapun bisa mengetahui tentang ini sekarang hanya dengan meramban di Internet. Tetapi perlu rasa ingin tahu yang lebih untuk menelusuri di mana akar permasalahannya-sesuatu yang hingga kini barangkali masih diperdebatkan jikapun masih dibahas.

Richard datang pada puncak konflik itu, dan merekam serta menuliskannya kembali dengan suatu cara yang membuat saya hampir tak mengenal daerah asal saya sendiri. Benarkah peristwa ini betul-betul terjadi di tempat saya? Mengapa hal semacam ini bisa terjadi? Apa sesungguhnya yang kami hadapi ketika saya berusia delapan tahun, berada di dalam rumah dan dilarang ibu bermain di luar? Tulisan Richard, yang saya baca belasan tahun kemudian, saat ini, membuat saya takjub sekaligus mengetahui lebih banyak tentang tragedi yang kala itu tengah berlangsung tak jauh dari tempat kami berada.

*

Ada semacam perasaan aneh yang saya alami ketika membaca reportase naratif Richard di bukunya Zaman Edan. Perasaan itu bukan muncul dari deskripsi visual yang bikin bergidik atas penggalan-penggalan kepala dan mayat korban pembantaian di dalam hutan, bukan pula gambaran situasi penuh ketegangan dari demonstrasi mahasiswa di Jakarta atau aksi mengancam kelompok pro-integrasi di Timor Timur. Perasaan yang saya alami adalah sensasi ganjil yang datang dari ketakjuban aneh saat mengetahui hal-hal di sekitar saya dituturkan oleh orang asing yang tidak saya kenal sama sekali.

Barangkali terlalu ceroboh mengatakan ini-mengingat bahwa saya tidak banyak membaca karya nonfiksi tentang Indonesia dari penulis Indonesia-tetapi saya kira ada secuil kebenaran dalam pernyataan ini: kadang-kadang kita menjadi lebih mengenal negeri sendiri setelah ada orang asing yang bercerita atau menuliskan tentangnya. Seperti opini Michel Houellebecq dalam Lanzarote perihal kecuekan warga asli terhadap potensi wisata wilayah mereka sendiri dan mengeksploitasinya setelah “disadarkan” oleh turis yang memberitahu mereka tentang tempat tinggal mereka.

Saya mengetahui lebih banyak apa yang terjadi di Kalimantan Barat-tempat saya tinggal dan hidup sejak lahir hingga remaja-melalui tulisan reportase naratif Richard, jurnalis asal Inggris yang menaruh perhatian pada konflik di negara-negara benua Asia, bukan melalui orang-orang yang saya kenal dan tinggal di tempat saya tinggal. Saya mengetahui apa yang terjadi di rumah saya dari orang asing, tamu yang berkunjung. Tentu saya tak bermaksud menambah-nambah pandangan ceroboh yang mengatakan bahwa orang asing selalu lebih peduli pada negeri kita ketimbang kita sebagai penghuninya sendiri, karena faktanya tidak demikian, walaupun dalam beberapa situasi bisa jadi benar.

Tetapi saya beruntung bertemu Zaman Edan. Fakta bahwa saya mengetahui dari mulut orang asing mengenai apa yang terjadi di kampung halaman saya sendiri tidak mengurangi sedikitpun antusiasme saya akan informasi yang ia miliki. Saya menikmati membaca Zaman Edan dan seolah-olah berada di sebelah Richard, menyaksikan langsung apa yang ia saksikan-semuanya sebagai hasil dari narasi yang mengalir enak dan deskripsi detail yang mengerikan, tetapi tidak lebih membuat dengkul lemas dan jantung mencelus ketimbang menyaksikan peristiwa-peristiwa itu secara langsung.

Zaman Edan adalah buku penting, yang menawarkan informasi mengejutkan dan pengalaman membaca yang menyenangkan-sesuatu yang kelak terasa ganjil diucapkan mengingat muatan buku itu penuh dengan peristiwa tragis dalam sejarah manusia, terutama manusia Indonesia. Setelah Sejarah Tuhan – Karen Armstrong, ini adalah buku nonfiksi terbaik yang pernah saya baca. Barangkali akan jadi yang terbaik sepanjang tahun ini. ***