13 April 2010

[Cerpen] Hujan Panas dan Hantu Jaring-jaring



“Boi, hujan panas! Cepat pulang sini!” seru ibu. Aku lantas merendahkan tubuh, mencabut selembar ilalang, lalu menyelipkannya di daun telingaku. Aku tak begitu paham apa gunanya, tapi aku melakukannya saja. Sebab, kata orang-orang tua, setiap datang hujan panas, ada hantu yang berkeliaran. Namanya hantu jaring-jaring.



Hantu itu mencari anak-anak yang masih bermain saat hujan panas, menangkap mereka, lalu membawanya ke tempat tinggal hantu tersebut dan anak-anak itu tak pernah kembali lagi. Kenapa namanya hantu jaring-jaring, aku juga tak tahu. Tapi katanya hantu itu menampakkan dirinya sebagai garis-garis bercahaya yang saling-silang, kadang berwarna-warni, kadang pula tidak. Dengan wujudnya yang menyerupai jaring-jaring itulah ia menangkap dan menculik anak-anak. Hantu jaring-jaring tidak menculik raga, melainkan roh sehat anak-anak tersebut. Sehingga anak-anak yang kena tangkap hantu jaring-jaring esoknya akan demam tinggi.

Untuk menangkal hantu itu, digunakanlah lembar ilalang yang kucabut ini. Tak harus ilalang, kadang orang menggunakan tangkai bugenvil, batang asoka, tanaman apa saja yang muat diselipkan di sela daun telinga bagian luar. Maka ketika hujan panas mulai turun, kami- aku dan teman-temanku- berdebu mencari dan mencabuti ilalang atau tanaman yang ada di sekitar. Tapi walaupun sudah memakai ilalang, kami tetap tak diperbolehkan melanjutkan bermain. Sebab ilalang tersebut hanya penangkal sementara. Selama hujan panas belum reda, hantu jaring-jaring masih dapat menangkap dan menculik kami.

“Kau ni, udah hujan panas masih saja main-main di luar!” ibu memarahiku, seperti biasa.

“Baru sebentar saja, bu.”

“Tak ada lah, kau tahu tak bagus main kala hujan panas begini. Mau ditangkap hantu jaring-jaring kau?!”

“Tak lah, bu.”

Aku menunduk dan melangkahkan kaki ke dalam kamar. Kesal betul aku dimarahi seperti itu. Lagipula hujan panas apanya. Mana ada hujan yang panas. Memangnya Tuhan sedang mandi air panas lalu airnya ia tumpahkan ke sini. Tak masuk akal. Hujan dimana-mana dingin. Kalaupun tak dingin, pastilah tak panas. Kalau hujan itu panas, tak ada orang satupun yang keluar dari rumah setiap turun hujan.

Sering aku bertanya kepada guru pelajaran ilmu pengetahuan alam di sekolah, kenapa hujan yang seperti ini disebut orang dengan istilah hujan panas. Guruku cuma menjawab, memang begitu sebutannya. Jawaban macam apa itu. Betul-betul mencerdaskan anak bangsa. Memberikan jawaban yang bagus dan mencerahkan. Hore.

Begitu pun dengan hantu jaring-jaring. Siapa yang pernah benar-benar melihatnya. Aku tak. Setidaknya, belum. Memang, kalau ada temanku yang nekat bermain bola saat hujan panas dan tak mau pulang serta tak meletakkan ilalang di telinganya, esok paginya pasti ia kena demam. Bisa sampai berhari-hari baru sembuh. Tapi apa betul itu karena hantu jaring-jaring. Aku sendiri walau belum pernah bertemu langsung dengan hantu itu, tetap mencabut ilalang dan menaruhnya di telingaku setiap hujan panas datang. Mungkin karena kebiasaan.

Lepas dari keraguanku akan keberadaan hantu jaring-jaring, aku mengakui kagum dengan adanya hujan panas. Bagaimana bisa air hujan turun dari langit yang terang benderang. Bukankah hujan turun saat awan suntuk dengan uap air lantas ia menggumpal dan berubah warna menjadi gelap. Lalu ketika tubuhnya sudah penuh, barulah ia menumpahkannya ke bumi. Dan ketika itu tentulah tak ada matahari. Bola besar bercahaya itu pasti terhalau oleh awan tebal. Karena itu, sahabatku yang bernama Lina, pernah berkata kepadaku, “Matahari itu lambang keceriaan dan kebahagiaan, sedang hujan itu lambang kesedihan dan kekalahan, tak pernah datangnya bersamaan, selalu silih berganti.”

Maka aku sungguh heran dengan kejadian hujan panas ini. Hujan dan matahari hadir dalam waktu yang sama. Momen yang sama. Bisakah kekalahan datang bersama keceriaan? Bisakah kesedihan hadir membawa kebahagiaan? Ini seperti melihat ke dua arah yang berbeda dalam satu waktu.

Apa jadinya kalau dua hal yang bertentangan itu bertemu satu sama lain. Menjadi satu? Aku menebak pertanyaanku sendiri, hasilnya adalah: hantu jaring-jaring. Aku tertawa-tawa. Ya, mungkin saja hantu jaring-jaring itulah yang menjadi hasil perkawinan dari hujan dan matahari. Kesedihan dan kegembiraan. Dan kami disuruh menghindari itu. Sebab itu berbahaya. Bila hujan dan matahari datang pada waktu yang sama, yang muncul adalah hantu. Hantu jaring-jaring yang membuat kami sakit demam hingga berhari-hari.

Begitulah, sebagian dari filosofi hujan panas yang aku dengar dari seorang lelaki tua bernama Slamet. Slamet sering berjualan mainan di kampung kami. Aku sering pula membeli mainan dengannya. Lebih tepatnya, selalu. Ia juga orang yang enak diajak bicara. Tak seperti ayahku yang susah sekali diajak bercanda dan diajak berbincang perihal kehidupan remaja. Padahal kepada siapa lagi aku bisa bertanya dan mencurahkan pengalaman serta isi hati kalau bukan kepada orang tua sendiri.

“Boi, ada mainan baru ini!” Slamet berseru. Wajahnya terlihat gembira. Selalu begitu, sebenarnya.

Setiap ia melewati kampung kami, selalu saja ada mainan baru. Itu yang kusenangi darinya. Tidak seperti penjual-penjual mainan lain yang kadang juga berkeliling di sini tapi seperti tak niat berjualan. Pasang wajah letih, cemberut, masam. Barang yang dibawa pun selalu itu-itu saja. Kami yang masih anak-anak ini kan cepat merasa bosan. Moody, istilah kerennya, yang sering kudengar dari acara-acara gosip artis di televisi setiap siang atau sore. Ibuku juga suka menontonnya. Ayah tidak.

“Pak Met,” aku memanggilnya, “aku mau tanya soal hujan panas.”

“Kenapa rupanya boi?” ia menjawabku sambil merapikan barang dagangannya.

“Bisakah kesedihan dan kebahagiaan hadir bersamaan?” tanyaku.

“Apa hubungannya dengan hujan panas, boi?”

“Kata Lina, hujan itu perlambang kesedihan, matahari perlambang kebahagiaan. Selalu silih berganti datangnya, tak pernah bersamaan.”

Pak Slamet tersenyum.

“Kau pintar, boi. Lina juga pintar. Tapi tentu saja kesedihan dan kebahagiaan bisa datang bersama-sama.”

“Bagaimana caranya?”

“Ya hujan panas ini.”

“Tapi itu buruk, bukan?”

“Buruk? Siapa bilang?” kulihat Pak Slamet mengerutkan keningnya yang memang sudah berkerut.

“Buktinya, kami disuruh pulang ke rumah dan tak boleh bermain tiap hujan panas datang.”

“Karena hantu jaring-jaring?”

“Ya.”

Pak Slamet menarik napas pelan. Mengambil jeda.

“Boi, kau tahu, hantu jaring-jaring itu adalah anak dari hujan dan matahari. Ia sedang bahagia sebab hanya saat hujan panas turun ia bisa melihat kedua orangtuanya itu rukun. Dan ia ingin mencari teman bermain untuk membagi kebahagiaannya itu. Tapi orang-orang malah menghindarinya seakan ia wabah penyakit yang berbahaya bagi anak-anak mereka. Oleh karena itu hantu jaring-jaring menjadi jahat.”

“Jadi sebenarnya hantu jaring-jaring itu tidak jahat?”

“Sesungguhnya dia sangat baik dan suka berteman, boi.”

“Jadi aku boleh bermain-main dengannya, di kala hujan panas?”

“Tentu saja, boi.” Pak Slamet memberikan senyumnya lagi kepadaku.


***


Badanku terasa hangat. Bukan hangat yang nyaman, hangat karena sakit. Demam. Kemarin seharian aku bermain bola. Padahal sedang hujan panas. Ibu tengah pergi pengajian dan ayah pergi tugas. Aku sebenarnya ingin bertemu dengan hantu jaring-jaring dan bermain dengannya. Tapi aku tak melihatnya. Aku menunggu sampai petang tapi ia tak jua muncul.

“Pak, anakmu panas kali ini badannya.” Ibuku mengelap peluh di dahi dan leherku. Diletakkannya telapak tangannya di wajahku, merasakan suhu tubuhku yang sepertinya kian naik.

“Itulah kau, tak becus ngurus anak. Menjauhinya dari hujan panas saja tak bisa.”

“Apa kau bilang? Bisa kau bicara begitu sedang kau tak pernah di rumah.” Kudengar nada suara ibuku meninggi.

“Ya aku tugas lah. Cari uang untuk kasih makan kau, dan anakmu yang bengal itu.”

“Eh, jaga dikit lah bicaramu. Ini anakmu juga. Lagipula tugas apa kau di luar sana sampai tak pernah pulang.” ibuku menyahut. “kalau tak kuberitahu kau anak ini hampir sekarat, tak pulang juga kau, ha?!”

“Hei, sopan ya kau jadi perempuan. Aku ini suamimu, tak pantas kau bicara dengan nada begitu!”

“Lalu kau sendiri pantas pergi tak tentu dan pulang membawa marah?!”

Ayahku diam.

“Selalu saja begitu, aku letih menghadapi kau. Baik aku pergi saja dimakan hantu biar kau urus sendiri dirimu itu.”

Sejak beberapa hari yang lalu ibu memang kerap mengeluh kepadaku tentang sifat ayah yang pemarah. Kupikir, kenapa ia mau menikahinya kalau sudah tahu sifatnya seperti itu. Barulah sekarang bersusah-susah. Ia berkata sudah lama ia menahan diri menghadapi ayah. Ayah terlalu keras kepala dan gampang sekali emosi. Belakangan penyakitnya itu sering kumat sebab mengurusi kasus yang menimpa temannya. Perihal kayu gelap. Ayah ikut terseret sebab konon ia terlibat dalam kegiatan ilegal itu. Aku tak tahu.

Suara benda-benda dilempar. Berisik. Sergahan demi sergahan membahana di dalam rumah. Kepalaku pusing sekali. Aku ingin bertemu Pak Slamet. Aku ingin bertemu hantu jaring-jaring. Bertanya kepadanya, bagaimana rasanya melihat orangtua akur dan berpadu menjadi satu. Bagaimana rasanya menemukan hujan dan matahari tak saling bertikai dan menghindari. ***

2 komentar:

Pajarmaning mengatakan...

he he bagus bagus
tumitjempol.blogspot.com

maissy carreta mengatakan...

Bener bener cerprn yg keren. Idenya dr mana nih bang? Empat jempol buat bang bara :D