Skip to main content

Review "Kata Hati" by @AmaliaGhzn

Dari: memoriesondecember.blogspot.com 

-

Kemarin sore, gue ke Gramedie MetMall Bekasi, dan TOLONG! GUE KALAP! Awalnya, tujuan gue itu mau beli 3 novel. Kata Hati, Analogi Cinta Sendiri, sama The Not-So Amazing Life of @aMrazing (atau kita singkat aja jadi TNSALOA biar nggak kepanjangan :p). Tapi, ngeliat KalaKali, jadi ikut ngambil tuh novel deh haha. Terus, gue juga masih betah berdiri di antara rak-rak buku yang menyebarkan bau-bau buku baru yang sangat amat gue suka :3 Akhirnya, nemu juga satu buku judulnya 'Kepingan Cinta Lalu', karangan Helga Rif. Cuma karena baca blurb di bagian belakang, gue jadi tertarik buat beli dan baca.


Tapi yang kali ini mau gue bahas itu adalah salah satu buku yang memang udah gue incer dari awal Bara promosiin itu buku lewat twitternya dia (@benzbara_).  



And, here we go. Kata Hati-sebutlah itu cinta-. Sebuah novel fiksi romance hasil karya Bernard Batubara atau yang biasa dikenal dengan panggilan Bara. 

Sebelum gue baca novel ini, gue udah mantep buat baca pas tengah malem dan diiringi dengan lagu 'Fix You' dari Coldplay. Karena sebelumnya, banyak orang yang bilang lagu yang pas buat baca novel ini ya cuma Fix You. Akhirnya, pas gue buka cover buku ini, gue mulai dengerin lagu Fix You. 

By the way, nggak apa-apa yah spoiler dikit :p Buat yang belum beli sama belum baca, gue sarankan untuk tidak membaca review dari blog gue karena akan menghilangkan rasa penasaran anda-anda semua.

Dimulai dari satu kisah tentang seorang laki-laki bernama Randi, yang masih belum bisa move on dari mantan terakhirnya, Dera. Menceritakan perjuangan Randi yang dengan susah payah berjalan maju namun masih dibayang-bayangi dengan senyum ceria Dera. Hubungan Randi dan Dera yang sudah berjalan selama 5 tahun dan berakhir dengan sebuah (bahkan lebih) pengkhianatan, membuat Randi susah melepaskan diri. Sampai akhirnya, Randi bertemu dengan Fila. Seorang gadis yang mencintai fotografi. Membuat Randi pelan-pelan menghapus bayangan Dera dan menggantinya dengan kehadiran Fila. Keadaan semakin runyam saat Dera tiba-tiba datang dan menginginkan kembali dengan Randi, disaat Fila yakin bahwa ia jatuh cinta pada Randi dan bisa menerima kepergian Adrian-lelaki yang Fila cintai namun hanya dianggap sebagai teman biasa. Sementara Randi, bingung. Tidak ingin kembali pada masa lalu, namun tidak ingin memebuat Fila kerepotan mengurusi luka yang masih terasa pada Randi. Dan akhirnya, berakhir dengan kecupan manis Randi dan Fila saat memutuskan untuk bersama. 

Ini novel yang pas buat lo yang susah move on dan kena friendzone, said Bara. Dan jujur, gue pun beli karena gue memang dalam keadaan super susah move on. Gue udah ber-ekspetasi bahwa novel ini bakal menguras air mata gue habis-habisan. But, ternyata enggak. Dari awal gue liat novelnya, gue bilang "yah tipis banget, pasti gue bacanya sebentar". Dan ternyata bener, gue cuma butuh waktu satu jam buat baca Kata Hati ini. Bagi gue, novel ini kurang klimaks. Justru ketegangan dan rasa penasaran gue muncul pas di bab 2, saat Fila ngomong "Kasih gula dikit ya, nggak usah terlalu pahit". Menurut gue, itu bikin DHEG. Tapi gue salut sama Bara. Bisa banget bikin karakter Dera hidup. I mean, pas gue baca novel ini gue pun ikut membenci Dera hahaha. Dan saat Dera kirim email (bab 10: Masa Depan), baru disini gue merasa sedih dan sedikit mengeluarkan air mata. Padahal Dera bukan tokoh utama, tapi bang Bara sukses menghidupkan tokoh ini! *acungin jempol seluruh pembaca Kata Hati* Dan satu lagi, gue suka Bara juga dengan sukses membuat atmosfir kota Jogja dan segala tempat-tempatnya terasa jelas pas kita baca novel ini. Contohnya, Djendela Koffie, dideskripsikan dengan jelas oleh Bara. Dari mulai lantai, lampu, meja, kursi dan yang lainnya. Ada juga Pantai Sadranan, Malioboro, dan Benteng Vredeburg.

Kalo gue pribadi, gue itu persis kaya Randi (tapi gue versi cewek). Sama-sama kangen masa lalu, tapi nggak mau balik ke masa lalu. Tapi sayangnya, gue belum nemu Fila yang versi cowoknya. 

Over all, novel ini memang bener pas buat lo yang susah move on. Kita akan "disentil" dengan kalimat-kalimat yang bisa nyadarin lo kalo memang masa lalu ya nggak usah diharapin lagi. 

Dan sekarang gue denger, dalam waktu kurang dari sebulan setelah Kata Hati ada di toko buku, Kata Hati akan dicetak ulang! WOOOOOW! Gue nggak kebayang betapa bangganya Bara dengan novelnya. Udah gitu, katanya Kata Hati bakal dibuat ke bentuk layar lebar a.k.a FILM! AMAZIIIING! Semoga prosesnya lancar sampai nanti filmnya diputar di bioskop-bioskop yah bang Baraaa :D dan semoga semakin banyak pembaca Kata Hati baik di Indonesia, maupun yang diluar Indonesia! :) Oh iya bang Bara, ditunggu juga novelnya yang ke 2, ke 3, ke 4, dan seterusnya :) 


(4/5)

Comments

Popular posts from this blog

[ manuskrip ] sarif & nur

Nyaris setahun yang lalu, editor saya di penerbit Bukune (sekarang ia sudah pindah ke penerbit GagasMedia, masih satu kelompok penerbit), Widyawati Oktavia mengirimi saya surel yang isinya tentang ajakan untuk sebuah proyek novel. Nama proyek tersebut adalah “Love Cycle”. Konsepnya sederhana: Enam penulis membuat novel yang jika disusun maka akan menjadi urut-urutan konflik yang biasanya dialami dalam sebuah relationship. Saya mendapat urutan di tengah, yang artinya saya diminta menulis novel tentang konflik pada saat relationship itu sedang dibangun alias masa-masa pacaran. Dalam hati saya protes. Pasalnya, pada saat itu saya sedang single . Proyek ini sebetulnya adalah proyek kedua yang ditawarkan Iwied (panggilan akrab Widyawati Oktavia) kepada saya. Dengan berbagai alasan, proyek pertama gagal saya kerjakan. Di proyek “Love Cycle” ini, saya bertekad untuk tidak mengulangi hal serupa. Maka, saya mulai menulis. Tahap pertama adalah melaksanakan riset. Saya sempat mela

surat untuk ruth

                                            Ubud,  6 Oktober 2012 Ruth, Satu hal yang ingin kutanyakan kepadamu sejak lama, bagaimana mungkin kita saling jatuh cinta, namun ditakdirkan untuk tidak bersama? Aku dan kamu tidak bisa memaksa agar kebahagiaan berlangsung selama yang kita inginkan. Jika waktunya telah usai dan perpisahan ini harus terjadi, apa yang bisa kita lakukan? Masihkah ada waktu untuk kita bersama, Ruth? JIka memang kamu harus pergi, berilah aku waktu sedikit lebih panjang untuk menikmati saat-saat terakhir bersamamu. Meski tidak lama, hanya sebentar, seperti senja yang senantiasa kamu lukis, atau seperti ciuman pertama kita yang ragu-ragu. Berilah aku waktu sedikit lebih panjang untuk memelukmu, karena aku belum mengungkapkan seluruhnya yang ingin kukatakan kepadamu. Ironis, Ruth. Kamu berkata “Aku sayang kamu” tepat pada saat kamu harus meninggalkanku.                                                             

[Cerpen] Senja di Jembrana

Senja di Jembrana Menunggu adalah perkara melebarkan kesabaran dan berhadap-hadapan dengan risiko ketidakhadiran. Itu yang dikatakan oleh ibu sehari sebelum dia meninggal. Saat itu, saya tidak tahu ia sedang berbicara tentang ayah yang pergi meninggalkan kami dan tidak pernah kembali lagi. Namun sekarang saya paham semuanya. Terutama karena saya mengalami sendiri perasaan yang dulu ibu alami.