Skip to main content

Review "Kata Hati" by @tamarasw




Kata Hati, Sebutlah itu Cinta. Novel fiksi romance karya salah seorang selebtweet yang cukup sering lalu-lalang di hilir-mudiknya lini masa bernama Bernard Batubara, atau lebih dikenal penduduk warga negara dengan bendera burung biru dengan @benzbara_
Kata Hati berkisah tentang satu kata yang hits di kalangan remaja edisi 2012, yaitu move on, dengan tiga tokoh besar, Randi, Dera dan Fila. Meskipun ide pokoknya simpel, Bara tetap berhasil mengembangkannya menjadi sebuah novel setebal 196 halaman yang sarat dengan kata kata puitis hasil kepiawaiannya menguntai aksara. Ditambah dengan pendeskripsian tokoh serta suasana yang sangat jelas, Bara mampu mengaduk-aduk emosi dan imajinasi para pembacanya. Yang sedikit disayangkan dari novel ini adalah konflik yang terkesan selesai terlalu terburu-buru, tapi overall, novel ini jelas adalah sebuah novel yang manis dan layak untuk dibaca. Selamat untuk akan diangkatnya novel ini ke layar lebar, btw. :> 

Kata Hati, Sebutlah itu Cinta. Novel fiksi romance karya salah seorang selebtweet yang cukup sering lalu-lalang di hilir-mudiknya lini masa bernama Bernard Batubara, atau lebih dikenal penduduk warga negara dengan bendera burung biru dengan@benzbara_

Kata Hati berkisah tentang satu kata yang hits di kalangan remaja edisi 2012, yaitu move on, dengan tiga tokoh besar, Randi, Dera dan Fila. Meskipun ide pokoknya simpel, Bara tetap berhasil mengembangkannya menjadi sebuah novel setebal 196 halaman yang sarat dengan kata kata puitis hasil kepiawaiannya menguntai aksara. Ditambah dengan pendeskripsian tokoh serta suasana yang sangat jelas, Bara mampu mengaduk-aduk emosi dan imajinasi para pembacanya. Yang sedikit disayangkan dari novel ini adalah konflik yang terkesan selesai terlalu terburu-buru, tapi overall, novel ini jelas adalah sebuah novel yang manis dan layak untuk dibaca.

Selamat untuk akan diangkatnya novel ini ke layar lebar, btw. :>

Comments

Popular posts from this blog

[ manuskrip ] sarif & nur

Nyaris setahun yang lalu, editor saya di penerbit Bukune (sekarang ia sudah pindah ke penerbit GagasMedia, masih satu kelompok penerbit), Widyawati Oktavia mengirimi saya surel yang isinya tentang ajakan untuk sebuah proyek novel. Nama proyek tersebut adalah “Love Cycle”. Konsepnya sederhana: Enam penulis membuat novel yang jika disusun maka akan menjadi urut-urutan konflik yang biasanya dialami dalam sebuah relationship. Saya mendapat urutan di tengah, yang artinya saya diminta menulis novel tentang konflik pada saat relationship itu sedang dibangun alias masa-masa pacaran. Dalam hati saya protes. Pasalnya, pada saat itu saya sedang single . Proyek ini sebetulnya adalah proyek kedua yang ditawarkan Iwied (panggilan akrab Widyawati Oktavia) kepada saya. Dengan berbagai alasan, proyek pertama gagal saya kerjakan. Di proyek “Love Cycle” ini, saya bertekad untuk tidak mengulangi hal serupa. Maka, saya mulai menulis. Tahap pertama adalah melaksanakan riset. Saya sempat mela

surat untuk ruth

                                            Ubud,  6 Oktober 2012 Ruth, Satu hal yang ingin kutanyakan kepadamu sejak lama, bagaimana mungkin kita saling jatuh cinta, namun ditakdirkan untuk tidak bersama? Aku dan kamu tidak bisa memaksa agar kebahagiaan berlangsung selama yang kita inginkan. Jika waktunya telah usai dan perpisahan ini harus terjadi, apa yang bisa kita lakukan? Masihkah ada waktu untuk kita bersama, Ruth? JIka memang kamu harus pergi, berilah aku waktu sedikit lebih panjang untuk menikmati saat-saat terakhir bersamamu. Meski tidak lama, hanya sebentar, seperti senja yang senantiasa kamu lukis, atau seperti ciuman pertama kita yang ragu-ragu. Berilah aku waktu sedikit lebih panjang untuk memelukmu, karena aku belum mengungkapkan seluruhnya yang ingin kukatakan kepadamu. Ironis, Ruth. Kamu berkata “Aku sayang kamu” tepat pada saat kamu harus meninggalkanku.                                                             

[Cerpen] Senja di Jembrana

Senja di Jembrana Menunggu adalah perkara melebarkan kesabaran dan berhadap-hadapan dengan risiko ketidakhadiran. Itu yang dikatakan oleh ibu sehari sebelum dia meninggal. Saat itu, saya tidak tahu ia sedang berbicara tentang ayah yang pergi meninggalkan kami dan tidak pernah kembali lagi. Namun sekarang saya paham semuanya. Terutama karena saya mengalami sendiri perasaan yang dulu ibu alami.