4 Maret 2012

Pada Paragraf yang Begitu Singkat

"No Escape" - Fatima Alkaff



Pada Paragraf yang Begitu Singkat

: Lakshmi


pada paragraf yang begitu singkat, kau sempat menulis bekas luka. di sana kau dan aku dahulu dengan tabah menyusun huruf demi huruf sambil belajar membuat narasi yang bahagia. padahal akhir cerita tak bersahabat dengan waktu dan sisa rindu di sela kata terlalu lemah untuk patuh kepada airmatamu. tak ada jeda untuk kau tinggal di sini. biarkan aku membiarkanmu pergi


biarkan aku membiarkanmu pergi


pada paragraf yang begitu singkat ada ingatan yang berkarat. di sana aku dan kau terperangkap dalam kalimat pasif yang tak paham bagaimana cara menunggu. sedangkan cintamu telah luput di titik terdekat dan langkahku telah lumpuh di tanda tanya terjauh. tak ada celah untukku pergi dari sini. biarkan aku membiarkanmu kembali


biarkan aku membiarkanmu kembali




Di Depan Cermin

"Reflection" - Fatima Alkaff



Di Depan Cermin


: Lakshmi




tak ada yang berubah meski kenangan sudah berhasil kau kemas dan luka tak lagi membuatmu cemas. sebab kepergian selalu terasa nyata dan kesepian selalu mencari teman. di depan cermin ada sejarah yang mengulang-ulang dirinya, memanggilmu dari kejauhan. aku bersembunyi di sudut lain membiarkanmu menatap wajah yang selama ini bertarung dengan ragu: benarkah sejauh ini pernah ada kita di situ?


tak ada yang terganti meski ingatan tergulung rapi dan kau sudah menyediakan ruang yang lain lagi. sebab raung yang kau peram selalu memantulkan diri setiap kali kau mulai meraba pipi: di depan cermin kau membayangkan tanganku mengusap lagi wajahmu, menyentuh kembali kenangan itu. ada yang mengalir di pipimu tapi bukan airmata. seperti ingatan yang mencair dan mencari rumah. rindu yang pergi dan pulang ingin sekali rebah.


tak ada rumah yang kau ingat di balik cermin itu. sebab tak pernah ada kau dan aku.





2 Maret 2012

Di Jarimu

"Choice" - Fatima Alkaff


Di Jarimu

: Lakshmi


di permukaan mataku kau menuliskan luka, lalu memaksa bibirku yang sedang kau lumat dengan ucapan perpisahan membacanya kata demi kata. kita begitu fasih menghancurkan pilihan dan tak pernah tahu bagaimana cara mengembalikan.


sementara airmata sibuk mencari jalan pulang, takdir melingkar tenang di jarimu serupa kegagalan yang memaksa untuk diingat. aku tak mampu menulis di tanganmu sebab sebuah genggam tak cukup menahan puluhan rencana kepergian. kita begitu hapal cara saling menemukan tapi tak pernah paham bagaimana cara bertahan.


di dadamu ada tulisan yang tak pernah selesai. tentang rindu yang lumpuh di tengah jalan dan cinta yang mekar di tempat lain. jauh dari yang tak akan kembali. jauh dari yang tak pernah terjadi.