Langsung ke konten utama

Antologi Cerpen Singgah





Sekitar beberapa bulan yang lalu, saya lupa kapan tepatnya, yang jelas paruh ke-dua 2012, saya membaca tweet Jia Effendi, seorang editor dan juga teman penulis, tentang sebuah proyek menulis yang sedang digarapnya. Saya langsung tertarik untuk ikut karena tema yang ia angkat buat saya cukup menarik: tentang tempat-tempat yang menjadi tempat ‘Singgah’; bandara, terminal, pelabuhan/dermaga, dan stasiun.
Dan ternyata, Jia juga bermaksud untuk mengajak saya. Ia juga mengajak beberapa teman penulis lain untuk bergabung. Ia pun mengadakan sayembara untuk menjaring cerpen-cerpen yang oke. Termasuk ia sendiri, total 11 orang yang akhirnya bergabung dalam antologi cerpen ini. Satu orang dari hasil seleksi sayembara.
Singgah mestinya sudah terbit pada September atau Oktober 2012 tahun lalu. Namun karena satu dan lain hal Singgah harus berpindah penerbit, dan akhirnya dirilis lewat penerbit Gramedia Pustaka Utama (GPU).
Di antologi cerpen ini, saya menulis satu cerpen yang menceritakan tentang seorang anak Pontianak dan konflik batin yang terjadi di dalam dirinya. Cerpen tersebut berjudul ‘Kemenangan Apuk’. Bagaimana kisahnya? Baca bukunya ya. ;)
Saat ini, Singgah sudah bisa dipesan (pre-order) di toko buku online Gramedia dan Inibuku. Berikut link-nya (tinggal klik) :
Gramedia   
Inibuku            
Kabar terakhir dari penerbit, Singgah akan tersedia di toko-boko buku di kota kamu sekitar 31 Januari 2013. Nanti juga akan ada acara peluncuran Singgah di Jakarta pada awal Februari 2013. Tentang acara peluncuran ini akan saya kabarkan lagi setelah dapat kepastian dari penerbit.
Singgah juga dilengkapi dengan ilustrasi seperti ini di tiap cerpennya, lho. Keren ya?

Komentar

borescope mengatakan…
keren banget ya antologinya, mantappp
timbangan mengatakan…
bagus ya novelnya, mau baca deh
Jujur, Saye lagi berburu Genre Petualangan. Singgah tak sekedar duduk terdiam di bangku kosong panjang terminal dengan menatap kosong tumpukan sarat beban yang di angkut para Porter yang sigap berlarian ke sana ke mari.

Thank God, I know Beben and always shock me with his Greatest ArtWork. I ENJOY and See you on TOP....

Postingan populer dari blog ini

[Cerpen] Senja di Jembrana

Senja di Jembrana Menunggu adalah perkara melebarkan kesabaran dan berhadap-hadapan dengan risiko ketidakhadiran. Itu yang dikatakan oleh ibu sehari sebelum dia meninggal. Saat itu, saya tidak tahu ia sedang berbicara tentang ayah yang pergi meninggalkan kami dan tidak pernah kembali lagi. Namun sekarang saya paham semuanya. Terutama karena saya mengalami sendiri perasaan yang dulu ibu alami.

[ manuskrip ] sarif & nur

Nyaris setahun yang lalu, editor saya di penerbit Bukune (sekarang ia sudah pindah ke penerbit GagasMedia, masih satu kelompok penerbit), Widyawati Oktavia mengirimi saya surel yang isinya tentang ajakan untuk sebuah proyek novel. Nama proyek tersebut adalah “Love Cycle”. Konsepnya sederhana: Enam penulis membuat novel yang jika disusun maka akan menjadi urut-urutan konflik yang biasanya dialami dalam sebuah relationship. Saya mendapat urutan di tengah, yang artinya saya diminta menulis novel tentang konflik pada saat relationship itu sedang dibangun alias masa-masa pacaran. Dalam hati saya protes. Pasalnya, pada saat itu saya sedang single . Proyek ini sebetulnya adalah proyek kedua yang ditawarkan Iwied (panggilan akrab Widyawati Oktavia) kepada saya. Dengan berbagai alasan, proyek pertama gagal saya kerjakan. Di proyek “Love Cycle” ini, saya bertekad untuk tidak mengulangi hal serupa. Maka, saya mulai menulis. Tahap pertama adalah melaksanakan riset. Saya sempat mela

surat untuk ruth

                                            Ubud,  6 Oktober 2012 Ruth, Satu hal yang ingin kutanyakan kepadamu sejak lama, bagaimana mungkin kita saling jatuh cinta, namun ditakdirkan untuk tidak bersama? Aku dan kamu tidak bisa memaksa agar kebahagiaan berlangsung selama yang kita inginkan. Jika waktunya telah usai dan perpisahan ini harus terjadi, apa yang bisa kita lakukan? Masihkah ada waktu untuk kita bersama, Ruth? JIka memang kamu harus pergi, berilah aku waktu sedikit lebih panjang untuk menikmati saat-saat terakhir bersamamu. Meski tidak lama, hanya sebentar, seperti senja yang senantiasa kamu lukis, atau seperti ciuman pertama kita yang ragu-ragu. Berilah aku waktu sedikit lebih panjang untuk memelukmu, karena aku belum mengungkapkan seluruhnya yang ingin kukatakan kepadamu. Ironis, Ruth. Kamu berkata “Aku sayang kamu” tepat pada saat kamu harus meninggalkanku.