Langsung ke konten utama

Kata Hati the Movie!

AAAAAAAND.. here we go! The official movie poster of "Kata Hati"
in theaters February 14th 2013. VALENTINE!






Jadi, ini adalah satu lagi impian saya yang terwujud, yang sebenarnya tidak pernah saya impikan. Beyond the dreams! Mimpi saya hanya ingin menulis sebuah novel dan novel itu terpajang di toko buku. Namun Tuhan Yang Maha Baik memberikan lebih untuk saya. Dia letakkan nama saya di poster film!

Setelah buku saya yang sebelumnya, "Radio Galau FM" diangkat ke layar lebar oleh Rapi Films, novel saya "Kata Hati" juga diadaptasi ke film. Masih dengan PH, sutradara, dan penulis skrip yang sama yang membuat film Radio Galau FM; Iqbal Rais (sutradara) dan Haqi Achmad (penulis skrip). Kali ini menampilkan pemain: Boy Hamzah (sebagai Randi), Joanna Alexandra (sebagai Fila), Kimberly Rider (sebagai Dera) dan beberapa aktor & aktris lain yang tentunya akan menghibur para penonton. Film ini, seperti novelnya, bergenre romance, dan sengaja dirilis tepat pada peringatan hari kasih sayang, Valentine, tanggal 14 Februari 2013. Sebagaimana film lainnya yang diadaptasi dari novel, tentunya ada perubahan dan penambahan di sana-sini, untuk kepentingan audio-visual. Namun tentu saja adegan-adegan kunci dan pesan penting dari novelnya sendiri tetap dipegang teguh dan disampaikan lewat filmnya, agar tidak lepas dari garis merah yang terdapat dalam cerita di bukunya.

Jadiiiii, siapkan partner untuk nonton ya. Nggak lucu kan, nonton film romance, di hari Valentine, tapi sendirian aja. :p *brb cari partner!*

YAK. Terima kasih. Selamat menunggu tanggal mainnya film "Kata Hati" di bioskop-bioskop kesayangan kamu, 14 FEBRUARI 2013!


- Bara

Komentar

Unknown mengatakan…
Waaaahhh mau cepet cepet ntn, blh nih ntn bareng gebetan ahaha :) di tunggu ka bara :)
Zaaiddd mengatakan…
*brb cari partner* *kemudian hening*
SKN mengatakan…
waaaah selamat ya ka baraaaa ^^ pasti nonton deh. btw, ini filmnya lumayan jadi inceran diantara temen-temen gue lho kak.
Unknown mengatakan…
sukses trus ya....
lea mengatakan…
can't wait!!! *udah punya partner* :p
Unknown mengatakan…
Udah punya partner.... Aaa mau nonton secepatnyaaa
shofwah ulil aidi mengatakan…
bang da tiket gratis tuk nonton :D

Postingan populer dari blog ini

[Cerpen] Senja di Jembrana

Senja di Jembrana Menunggu adalah perkara melebarkan kesabaran dan berhadap-hadapan dengan risiko ketidakhadiran. Itu yang dikatakan oleh ibu sehari sebelum dia meninggal. Saat itu, saya tidak tahu ia sedang berbicara tentang ayah yang pergi meninggalkan kami dan tidak pernah kembali lagi. Namun sekarang saya paham semuanya. Terutama karena saya mengalami sendiri perasaan yang dulu ibu alami.

[ manuskrip ] sarif & nur

Nyaris setahun yang lalu, editor saya di penerbit Bukune (sekarang ia sudah pindah ke penerbit GagasMedia, masih satu kelompok penerbit), Widyawati Oktavia mengirimi saya surel yang isinya tentang ajakan untuk sebuah proyek novel. Nama proyek tersebut adalah “Love Cycle”. Konsepnya sederhana: Enam penulis membuat novel yang jika disusun maka akan menjadi urut-urutan konflik yang biasanya dialami dalam sebuah relationship. Saya mendapat urutan di tengah, yang artinya saya diminta menulis novel tentang konflik pada saat relationship itu sedang dibangun alias masa-masa pacaran. Dalam hati saya protes. Pasalnya, pada saat itu saya sedang single . Proyek ini sebetulnya adalah proyek kedua yang ditawarkan Iwied (panggilan akrab Widyawati Oktavia) kepada saya. Dengan berbagai alasan, proyek pertama gagal saya kerjakan. Di proyek “Love Cycle” ini, saya bertekad untuk tidak mengulangi hal serupa. Maka, saya mulai menulis. Tahap pertama adalah melaksanakan riset. Saya sempat mela

surat untuk ruth

                                            Ubud,  6 Oktober 2012 Ruth, Satu hal yang ingin kutanyakan kepadamu sejak lama, bagaimana mungkin kita saling jatuh cinta, namun ditakdirkan untuk tidak bersama? Aku dan kamu tidak bisa memaksa agar kebahagiaan berlangsung selama yang kita inginkan. Jika waktunya telah usai dan perpisahan ini harus terjadi, apa yang bisa kita lakukan? Masihkah ada waktu untuk kita bersama, Ruth? JIka memang kamu harus pergi, berilah aku waktu sedikit lebih panjang untuk menikmati saat-saat terakhir bersamamu. Meski tidak lama, hanya sebentar, seperti senja yang senantiasa kamu lukis, atau seperti ciuman pertama kita yang ragu-ragu. Berilah aku waktu sedikit lebih panjang untuk memelukmu, karena aku belum mengungkapkan seluruhnya yang ingin kukatakan kepadamu. Ironis, Ruth. Kamu berkata “Aku sayang kamu” tepat pada saat kamu harus meninggalkanku.