27 Februari 2013

[Cerpen] Senja di Jembrana






Senja di Jembrana


Menunggu adalah perkara melebarkan kesabaran dan berhadap-hadapan dengan risiko ketidakhadiran. Itu yang dikatakan oleh ibu sehari sebelum dia meninggal. Saat itu, saya tidak tahu ia sedang berbicara tentang ayah yang pergi meninggalkan kami dan tidak pernah kembali lagi. Namun sekarang saya paham semuanya. Terutama karena saya mengalami sendiri perasaan yang dulu ibu alami.


Saya rindu perempuan itu. Perempuan ke-dua setelah ibu yang mampu membuat saya rela menjadi seorang penanti, seorang penunggu. Seseorang yang menghabiskan waktunya hanya untuk menunggu. Mendedikasikan setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun untuk menyambut sebuah kedatangan kembali. Untuk mendengar sebuah ‘Halo, ini aku, sudah pulang.’

Tetapi ia tidak pernah datang.

Terakhir saya melihatnya di atas feri yang sedang menambatkan diri di pelabuhan Gilimanuk. Saat itu, di waktu yang bersamaan saya melihat sepasang kekasih yang tampaknya turis domestik, turun dari feri. Mata saya tertumbuk pada mereka karena wajah mereka berdua terlihat sangat bahagia. Seperti pasangan yang akan berbulan madu. Kontras dengan kondisi hati saya yang sedang sangat sendu. Atau mungkin saya hanya terlalu mendramatisir.

Tidak, hati saya memang sedang biru.

Namun tidak sepekat warna biru yang melekat di sekujur permukaan kanvas perempuan itu.

Saya tidak tahu apakah dia memang seorang pelukis atau hanya seseorang yang gemar menggambar. Tetapi lukisannya sangat bagus. Sungguh. Saya bukan orang yang paham bagaimana menilai sebuah karya seni, tetapi mata tidak bisa dibohongi, bukan? Dan mata saya selalu seolah meleleh setiap melihat lukisan yang ia buat. Bola mata saya mendadak dua batang lilin bundar yang tersiram cahaya hangat yang memancar dari gambar di kanvas perempuan itu. Gambar yang selalu berwarna jingga.

Gambar yang selalu senja.

Perempuan itu tidak pernah melukis benda lain selain matahari yang tenggelam. Tidak pernah selain senja. Tidak dua gunung sejajar dan hamparan sawah serta langit dan burung-burung seperti yang diajarkan sejak duduk di bangku TK. Tidak perempuan telanjang seperti yang terpampang di adegan film Titanic. Tidak karikatur berwujud presiden atau pejabat dengan pose dan bentuk aneh seperti setiap hari tercantum di koran-koran lokal maupun nasional. Tidak gambar-gambar abstrak dan surreal seperti lukisan Salvador Dali atau Max Ernst (saya tahu nama-nama itu dari seorang teman yang kuliah di bidang seni). Perempuan itu hanya melukis senja. Selalu senja.


***


“Senja di Jembrana sangat indah.” kata perempuan itu.

“Senja di tempat lain juga.” kata saya.

“Iya. Tapi di sini lebih indah.”

“Apa bedanya?”

Perempuan itu menurunkan tangannya dari kanvas. Menghela napas dan melemparkan pandangan lebih jauh. Saya bisa melihat angin mampir di lehernya yang bersih, berputar-putar mengitarinya seakan ia pusat gravitasi untuk unsur-unsur alam di sekitarnya. Saya rasa saya juga mulai turut berputar di orbitnya.

“Mungkin karena ini adalah senja pertama yang saya lihat di daerah dengan zona waktu yang berbeda.”

“Oh, kau bukan asal sini?”

“Tidakkah itu terlihat?”

Saya mengangkat alis. “Ya, sedikit.”

Ia melanjutkan melukis. Menyapukan kuas kecilnya. Kuasnya bergerak begitu lancar seakan benda itu adalah bagian dari jari-jarinya sendiri.

“Kau sedang menunggu?” saya bertanya lagi.

Perempuan itu menghentikan gerak jarinya. Kemudian menarik napas cukup dalam sehingga bahunya yang kecil tampak terangkat. Ia melumat beberapa menit waktu dalam heningnya, sebelum akhirnya ia menjawab pertanyaan saya.

“Dari mana kau tahu?” ia balik bertanya.

“Hanya menebak.” jawab saya.

Ia kembali menyapukan kuasnya di atas kanvas. Kepalanya bergerak miring seakan mengikuti alur garis halus yang sedang ia bentuk. Dari samping, saya melihat bibir tipisnya menyunggingkan senyum. Senyumnya itu, seakan melontarkan berjuta rahasia yang mengundang untuk diungkap. Saya terpaku sejenak. Mata perempuan itu kecil, terbungkus kelopak mata tanpa lipatan seperti mata khas penduduk daerah asia timur. Mungkin dia seorang cina. Mungkin campuran bugis atau manado, karena kulitnya sangat putih. Lukisan yang ia buat menjadi sangat kontras dengan warna tubuhnya.

Ada yang unik dari senja di tanah Jembrana. Senja di sini hampir selalu datang bersama formasi awan cumolonimbus dan fibratus cirrus. Kadang hanya salah satu di antaranya, kadang pula keduanya. Semburat jingga dari matahari yang merambat turun bercampur dengan serat-serat putih awan fibratus cirrus dan menjadi pemandangan yang luar biasa. Seperti lukisan alam di hamparan langit biru tua. Setiap ke Jembrana, selalu disambut dengan senja yang serupa. Dan senja itulah yang dilukis oleh perempuan dengan kuas itu.

Perempuan yang melukis senja. Dia membereskan alat lukisnya dan melangkah pergi meninggalkan saya yang masih berdiri diam. Saya tidak bisa memanggil dia. Seakan-akan suara saya seketika hilang dan hanya bisa menatap punggung rampingnya menjauh.

Saya belum sempat menanyakan namanya.


***


Aku menunggu lelaki itu. Lelaki asing yang selalu memotret senja.

Sebelum ini, aku tidak pernah menunggu. Aku benci menunggu. Menunggu adalah perbuatan yang sia-sia. Menunggu adalah tindakan pasif dan melelahkan. Bagiku, menunggu adalah pertanda kelemahan. Bahwa tidak ada hal lain lagi yang bisa dilakukan selain duduk, diam, dan berharap segala yang diinginkan akan datang. Sungguh non sense.

Aku lebih suka mengejar. Mengejar adalah tindakan aktif dan tidak membosankan. Dengan mengejar, aku beberapa langkah lebih dekat kepada apa yang aku inginkan. Aku memotong waktu, memangkas jarak. Aku bisa menentukan kapan aku akan sampai di tujuan. Aku bisa memperkirakan seberapa jauh atau seberapa dekat lagi diriku dari apa yang aku ingin raih. Waktuku terpakai dengan tidak sia-sia.

Namun kali ini, aku tidak bisa mengejar dia.

Aku tidak mampu mengejar dia. Dan pertemuan-pertemuan bersamanya, masih terekam dengan jelas di dalam kepalaku.

“Hai.” lelaki dengan kamera itu menyapaku. “Kita bertemu lagi.”

Aku menundukkan kepala, mataku menatapnya. “Eng, iya..”

“Kau sering ke sini?”

“Tidak. Baru belakangan ini saja.”

“Dari Surabaya juga?”

“Iya. Kamu juga?”

Lelaki itu menganggukkan kepalanya. Ia tersenyum. Rahangnya yang tegas bertumpu pada batang lehernya yang besar dan kokoh. Bibirnya tipis dan senyumnya membentuk sudut yang tajam di kedua pipinya yang tirus dan dihiasi rambut-rambut halus. Ia membungkus tubuhnya dengan kaus putih dan bagian atas kakinya dengan celana kargo selutut berwarna coklat tua. Rambutnya tampak berantakan tertiup angin laut, namun aku masih bisa melihat matanya yang menyipit. Di sepasang matanya, senja terpantul.

“Apa yang kamu potret?”

Lelaki itu memalingkan wajahnya ke laut. “Tidakkah jelas terlihat?”

“Senja?” aku menaikkan alis.

Ia mengangkat kameranya sejajar mata dan mulai membidik. Aku merasakan ada debar yang aneh di dadaku saat melihat lelaki itu tampak asyik dengan dunianya sendiri, menjebak pemandangan senja lewat lensa kameranya.


***


Itu pertemuan ke-dua saya dengan perempuan pelukis senja.

Kali ini saya sudah tahu namanya. Milana. Ia bercerita mengapa ia melukis senja. Dan mengapa ia selalu melakukannya di atas feri yang menyeberang Selat Bali, dari Banyuwangi ke Jembrana. Ia sedang menunggu kekasihnya. Ia yakin suatu saat kekasihnya akan datang di tempat ia menunggu sekarang. Ia tidak tahu kapan. Tetapi ia berkata kepada saya, bahwa ia bukan saja yakin, tetapi ia tahu, bahwa kekasihnya itu akan datang.

“Pada pertemuan ke-dua, aku membawa alat lukisku, dan menemani ia memotret senja.” Milana tersenyum. “Sejak itu, kami berjanji untuk selalu bertemu di atas feri ini dan sama-sama merekam senja. Dengan cara kami masing-masing. Dia memotret. Aku melukis.”

Namun entah mengapa, di balik senyumnya yang tersungging dan tampak bahagia ketika ia mengingat-ingat kekasihnya, saya melihat ada yang kosong di matanya. Seperti sebuah ruang yang telah ditinggalkan oleh penghuninya begitu lama. Seperti sebongkah kenangan yang kehilangan intisarinya. Mata Milana terlihat kehilangan nyawa, tak bercahaya, tak secerah senja yang setiap hari dilukisnya.

Saya merasakan ada yang tidak benar dengan dirinya.

“Lalu?” saya meminta Milana untuk bercerita lebih panjang lagi.

“Lalu? Lalu, tentu saja kami jadi sering bertemu. Dia memotret. Aku melukis. Terus seperti itu. Dia bahagia. Aku bahagia. Terus seperti itu.”

“Lalu sekarang dia di mana?”

Tangan Milana berhenti. Mengambang di udara. Ujung kuasnya mengawang tiga senti dari permukaan kanvas. Saya menunggu penjelasan darinya. Ia masih diam. Bibirnya terbuka, tetapi tidak ada satupun kata yang keluar. Jemarinya yang panjang dan kurus gemetar. Sangat jelas terlihat. Saya mulai khawatir.

“Maaf. Kalau kamu tidak mau cerita juga tidak apa-apa.”

Milana menarik napas. Ia menundukkan kepalanya seraya menurunkan kuas dan meletakkan tangannya di atas paha. Saya masih menunggu respons darinya.

“Aku tidak tahu dia di mana.” akhirnya perempuan pelukis senja itu kembali bicara. “Tapi aku tahu, dia pasti datang.”

“Tapi, bagaimana kamu bisa-“

“Aku tahu dia pasti datang!” Milana menekankan kuasnya ke kanvas dengan keras sehingga membuat coretan panjang di lukisannya. “Dia. Pasti. Datang.”

Setelah itu, Milana membereskan alat lukisnya dan bergegas meninggalkan saya. Lagi-lagi, sebuah pertemuan yang tidak usai. Terasa jelas ada kegusaran di nada bicara Milana ketika saya mempertanyakan keyakinannya tadi. Saya tidak tahu ada sesuatu apa yang terjadi di antara ia dan kekasihnya. Tetapi saya tahu, itu sangat mengganggu pikiran Milana.


***


Saya sedang membuka halaman demi halaman majalah travel langganan sebelum akhirnya mata saya berhenti pada sebuah halaman. Rubrik yang sedang saya baca membahas topik khusus tentang travel photographer dan menulis daftar Most Famous Travel Photographer di Indonesia. Di halaman yang sedang saya lihat, terpampang foto seorang lelaki dengan kamera yang menggantung di leher. Lelaki itu mengenakan kaus putih dan celana kargo selutut berwarna coklat tua. Ia tersenyum dengan tangannya dimasukkan ke dalam saku celana.

Areno Adamar: Lelaki Perekam Senja, begitu tajuk artikel yang menyertai foto tersebut. Are, begitu nama panggilannya seperti yang ditulis, dikenal sebagai travel photographer muda yang sangat gemar memotret senja di berbagai tempat yang ia datangi, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Are adalah a rising star di kalangan travel photographer. Foto-foto senjanya adalah foto-foto senja terindah yang pernah orang lihat. Ada semacam kekuatan magis yang menyedot siapapun yang melihat foto-fotonya. Foto-foto senja Are sangat sederhana, tetapi di setiap sudut gambarnya menyimpan atmosfer yang aneh yang membuat orang-orang betah berlama-lama hanya memperhatikan gambar yang ia buat.

Saya melanjutkan membaca. Dan kemudian menemukan sesuatu yang cukup membuat terhenyak.

Sayangnya, sekarang penikmat pemandangan matahari tenggelam di nusantara tidak bisa lagi melihat karya-karya potret senja Are yang fenomenal. Kecelakaan feri dua tahun lalu merenggut beberapa nyawa, termasuk sang lelaki perekam senja yang memiliki senyum manis ini. Are meninggal dalam kecelakaan feri yang menyeberang dari pelabuhan Padang Bai Bali ke pelabuhan Lembar, Lombok. Perjalanan yang seharusnya menjadi bagian akhir dari rangkaian tur LANSKAP, komunitas travel photography yang dirintis oleh Are, berubah menjadi tragedi yang memilukan. Are ditemukan tidak bernyawa lagi, dengan kamera masih tergantung di lehernya.

Sampai di sana, saya berhenti membaca dan menahan napas. Saya teringat Milana. Mungkinkah lelaki perekam senja yang ia ceritakan adalah Are? Mungkinkah lelaki yang ia tunggu setiap hari di atas feri Banyuwangi – Jembrana sambil melukis senja adalah lelaki yang fotonya terpampang dalam artikel ini? Mungkinkah Milana menunggu kedatangan orang yang sudah mati?

Saya menutup majalah itu. Di luar, langit sedang sangat jingga. Saya ingin segera bertemu Milana.


***


“Kamu menunggu lelaki ini?”

Pria itu menyodorkan sebuah majalah ke hadapanku. Di halaman yang ia buka, aku melihat foto dia. Dia, lelaki yang merekam senja, lelaki yang aku tunggu. Areno, lelaki yang aku sayang dan lelaki yang berjanji untuk menemuiku sepulangnya ia dari rangkaian tur panjang bersama teman-temannya. Lelaki yang tidak pernah ingkar janji. Lelaki yang tidak pernah terlambat satu menit pun saat menemuiku di atas feri ini.

“Dia sudah meninggal. Kamu tahu itu?” pria itu kembali berbicara.

Aku tidak suka nada bicaranya.

Pria itu melangkah mendekatiku. “Lelaki yang kamu tunggu, sudah meninggal, Milana. Apa yang kamu lakukan?”

“Menunggu.”

“Dia tidak akan kembali. Kamu tidak mengerti? Dia sudah tidak ada lagi.”

“Dia ada. Dia sudah berjanji. Are tidak pernah ingkar janji!”

***

Saya tidak bisa melihat perempuan itu seperti ini terus. Milana harus sadar dan menerima kenyataan bahwa apa yang ia tunggu selama ini tidak akan pernah datang kembali. Namun, ia menolak dan mementahkan semua kata-kata saya. Ia tidak bisa menerima bahwa jelas-jelas Areno, lelaki perekam senja, sudah meninggal dalam kecelakaan feri dua tahun lalu.

Milana bersikeras bahwa Areno tidak meninggal. Dia hanya pamit pergi dan berjanji akan menemuinya lagi di atas feri dari Banyuwangi ke Jembrana, seperti biasanya.

“Lelaki itu tak akan kembali, Milana!” saya merampas kanvas perempuan itu dan membantingnya, menginjaknya hingga rusak. “Dia tidak seperti senja yang kamu lukis ini. Dia tidak akan datang lagi.”

“Kau.. Apa yang kau lakukan?!”

Milana berlutut dan menyambar kanvasnya. Sontak airmatanya keluar dan membuat saya semakin merasa bersalah. Namun, saya harus melakukan sesuatu. Tidak ada cara lain untuk menyadarkan Milana, selain merusak ritual yang membuat ia terjebak dalam bayangan janji kehadiran Areno kembali.

Lalu, seperti yang sudah-sudah, Milana pergi meninggalkan saya dengan membawa kanvasnya yang sudah saya rusak.

Kali ini, ia pergi dengan berlari cepat dan airmata yang berderai.


***


Saya rindu perempuan itu. Perempuan ke-dua setelah ibu yang mampu membuat saya rela menjadi seorang penanti, seorang penunggu. Seseorang yang menghabiskan waktunya hanya untuk menunggu. Mendedikasikan setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun untuk menyambut sebuah kedatangan kembali. Untuk mendengar sebuah ‘Halo, ini aku, sudah pulang.’

Tetapi ia tidak pernah datang.

Milana tidak pernah datang.

“Halo.”

Sayup-sayup suara perempuan terdengar dari balik punggung saya.

“Sedang menunggu sesuatu?” perempuan ini bertanya.

Saya menghentikan jemari di atas buku kecil tempat saya mencatat macam-macam hal. Kemudian menarik napas cukup dalam dan melumat beberapa menit waktu dalam hening, sebelum akhirnya saya menjawab pertanyaan perempuan asing ini.

“Dari mana kau tahu?” saya balik bertanya.

“Hanya menebak.” jawab dia.


***

34 komentar:

dwimarufalvansuri mengatakan...

1 cerita dua kisah. asik pembawaannya.

hujan dan teduh mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
dinar pratiwi mengatakan...

kata2 yang dipake begitu puitis, menambah nyawa pada cerita. itu yang buat aku selalu suka baca karya mas bara, lanjutkan mas :)

Remah roti mengatakan...

ending yang menuntut daya imajinasi .
Yang pasti ini bukan elegy .

Selamat bang ben . Bisa mencipta karya yg memukau seperti ini .

Anonim mengatakan...

love u

Dongeng Denu mengatakan...

pilihan diksiny bagus, dan endingny wah, good jobbb

Anonim mengatakan...

(1/2)
Kak Bara :)
Sebelumnya saya mau minta maaf, soalnya di komentar saya yang (kayaknya bakal) panjang ini, mungkin bakal ada beberapa omongan yang kurang enak buat Kak Bara, eventhough i am not a profesional writer like you. Anyway, we never talked before but i'm the one of your fans :)

Kesan pertama saya buat fiksi ini: happy end. Dimana plot yang diambil begitu teratur dan terstruktur, dengan bagian awal yang kata-katanya sama dengan bagian akhir. Seolah, dari awal sudah terlihat spoiler bagaimana cerita ini, yaitu penantian. Menanti, menunggu. Definisi 'menunggu' yang dibuat (dari POV 'saya') juga keren banget, salah satu kalimat yang berkesan buat saya.

Dari definisi 'menunggu' yang ditulis: 'melebarkan kesabaran dan berhadapan dengan risiko ketidakhadiran', saya bisa melihat sosok ibu tokoh 'saya' sebagai sosok yang mengajarkan kepada putranya untuk selalu berharap sesuatu yang positif, pun bersiap apabila sesuatu itu menjadi negatif. Saya bisa melihat aura kedewasaan dari tokoh ibu 'saya', walaupun tokoh itu ga diceritakan secara eksplisit. Kecil sih, tapi berarti buat saya, karena setiap karakter memang seperti didesain khusus.

Penggunaan POVnya juga saya suka. Di sini hanya menggunakan 1st POV, tapi kata 'saya' dan 'aku' membuat semuanya berbeda. Kalo kata orang, 1st POV itu bagaimana untuk menggali perasaan lebih dalem, dan di sini keliatan. Perasaan 'saya' terlukis banget, pun perasaan Milana. Karena mungkin di sini kalo pake 3rd POV serbatahu pun masih sangat kurang untuk menggali perasaan mereka berdua, ya? Lagipula ada flashback perjalanan Milana, ketika Milana berkenalan dengan Areno itu yang dituliskan dengan POV 'aku', di situ juga memperkuat alasan kenapa cocok pakai 1st POV sih, in my opinion :)

Terus deskripsinya, ini deskripsinya keren banget, keliatan banget saat nulis juga turut membayangkan apa yang terjadi ya? Soalnya penggambaran visualisasinya itu jelas banget, dari bagaimana figur 'saya' dan Milana, bagaimana senja itu, bagaimana cara Milana menggores kuasnya, sampe bagaimana yang dipakai Areno di artikel pun ada. Jelas banget. Suka! Jadi bisa mengembangkan imajinasi sendiri. Tapi, ada sedikit yang mengganjal buat saya. Menurut saya sih, keempat panca indera di sini kayak kurang terdeskripsi. Mungkin akan lebih asyik lagi seandainya ada semacam pendeskripsian dari panca indera lain; misalnya bau khas laut atau debur ombak, atau telapak kaki yang menapak butir-butir pasir (asumsi saya ini di pantai), ketika adegan Milana kedua kali bertemu Areno yang flashback itu. Lebih 'dapet' pasti! :)

Terus, fiksi-fiksi Kak Bara itu...yang saya suka, hampir selalu ngajarin untuk melihat hati lebih dalam. Tokoh 'saya' di sini digambarkan seorang lelaki yang in the end, 'saya' juga akan mengikuti kata hatinya sendiri. Walaupun nggak ada tulisan eksplisit di sini bahwa 'saya' mengikuti hatinya, tapi terlihat dari selogis-logisnya 'saya' berpikir, bahkan sampai menyadarkan Milana bahwa Areno sudah tiada, tetap saja pada akhirnya 'saya' juga menunggu Milana. Tetap saja 'saya' mengikuti kata hati 'saya', walau 'saya' tidak tahu apakah penantian 'saya' akan berakhir bahagia atau sedih. Dan untungnya bahagia!

Anonim mengatakan...

Milana sendiri...saya nggapernah tau rasanya gimana ditinggal seseorang yang dicintai (which means, pacar atau gebetan :|) ke Surga. Tapi saya rasa respon Milana ngga out of logic kok. Setau saya, penyangkalan ada lima fase (dan saya lupa apa aja), dan salah satu dari lima fase tersebut adalah 'denial'. Mungkin Milana masih denial, masih berharap kabar itu engga bener, sehingga Milana masih menanti. Dan pada suatu hari, tokoh 'saya' ini hadir dan menamparnya dengan kata-kata dan tindakan, memberikan Milana sebuah realita. Di situ, Milana sempat hilang dan mungkin masuk ke fase belajar menerima, dan ketika Milana kembali menemui 'saya' dan senja, saya rasa Milana udah bisa move on dari kematian Areno. Move on, bukan melupakan--karena move on dan melupakan adalah dua hal yang sangat berbeda :)

Dengan karakteristik dua tokoh utama seperti itu, fiksi ini ceritanya mengalir banget! Adegan demi adegan dikemas dengan rapi, sehingga pembaca bisa menangkap apa yang terjadi secara jelas dan pasti. Porsi adegannya juga ngga berlebih dan ngga kurang. Eh ada satu yang kurang. Mungkin, kegalauan 'saya' saat menunggu Milana engga terlalu terlihat, setelah adegan banting kanvas itu langsung tiba-tiba timeskip dan Milana kembali. Mungkin kalau kegalauannya ditambah, permainan emosinya juga akan lebih lagi! Ah, itu cuma pendapat pribadi aja kok :)

Terus dilatarbelakangi senja, feelnya juga semakin dapet. Entah kenapa senja itu emang cocok buat yang romantis-romantis galau gitu menurut saya. Tapi yang pasti, dijelaskan latar tempat dan waktu di sini membuat pembaca ngga bertanya-tanya seperti apa situasi di sana saat membaca. Sekali lagi, visualisasinya sangat jelas.

Beberapa kritik kecil, ada satu paragraf di paragraf agak awal yang bikin saya mengernyitkan dahi: 'Bola mata saya mendadak dua batang lilin...' mungkin ada kata yang miss diantara kata 'mendadak' dan 'dua'? Lalu juga tanda elipsis, nggatau kenapa saya liat (..) kok jadi aneh, soalnya elipsisi kan titiknya ada tiga (...). Terus soal kutipan, instead of ["Your sentence here." katanya] bukannya setau saya harusnya ["Your sentence here," katanya]? Sebelum tanda petik setau saya itu tanda koma, bukan titik. Kecil sih, tapi kalau cukup banyak agak sedikit gatel juga :)

Selebihnya udah tercakup di atas. All in all, saya suka. Saya suka bagaimana penggambaran penantian di sini, temanya memang bener-bener penantian ya (Milana nunggu Areno, 'saya' nunggu Milana, juga diselipi dengan ibu yang menunggu sang ayah dan Milana yang menunggu batinnya untuk menerima keadaan ini, mungkin?). Oh, ada satu yang mengganjal, sesungguhnya saya penasaran siapa nama tokoh 'saya' yang nggak diungkapkan di fiksi ini. Cuma penasaran dari hati saya aja sih sebagai pembaca, walaupun kalau nggak dikasih tau tetep aja nggak mengubah fiksi ini secara esensial :p

Terima kasih karena cerpen ini udah mengisi kekosongan saya saat saya terbangun di tengah malam tadi! Saya juga belajar banyak dari sini, banyak vocabulary baru yang saya pelajari yang bisa saya gunakan di tulisan-tulisan pribadi saya selanjutnya. Maaf kalau ada yang menyinggung atau kepanjangan, thank you so much for writing this! :D

Warm regards,
me.

Ibnu Fadhillah mengatakan...

Jujur, saya nggak terlalu suka sama cerpen yg model begini, terkesan cengeng dan kemayu buat dibaca sama cowok. Tapi nggak tau kenapa alur cerita di cerpen ini membuat saya ingin membacanya lagi dan lagi. DAMN! You make me have to say this, I LOVE THIS STORY!

ondanxlizious mengatakan...

ka bara aku suka cerita ini, aku suka semua cerita ka bara, setiap kalimat yang ka bara tulis selalu bikin aku makin kagum sama ka bara, aku pengin kaya ka bara hehee :)

Anonim mengatakan...

Hebat bisa mainin dua tokoh dengan dua jenis kelaamin berbeda... Keren, Bang Bara.... :)

Benagustian mengatakan...

Sepertinya kisahnya ngak akan berakhir dari menunggu.. menggantung seperti di film-film tapi menarik kok cerita sederhana tapi dibuat berbeda :D

Inten mengatakan...

Setelah Milana, siapa nama tokoh perempuan lainnya? Madridista? :))) Hehehe, tetep keren. Terlihat jelas bahwa kak bara orang yg lembut.

dedeRIRIN mengatakan...

salam kenal :) setelah kata hati, ini cerita kedua yang membuat saya mencintai tulisan ka bara :) alurnya keren, sempat merinding.. kata2nya juga ringan, tapi mengandung makna yang dalam.pokoknya kereeeenn... :)

Anonim mengatakan...

haii bang.. interest sama cerpen nya! haha pernah berfikir buat nulis, tapi sepertinya aku ngga berbakat dalam hal ini..
milana.... are,, 2 pribadi yang beda tapi semua mirip sama aku haha
beda nya are suka senja, aku lebih suka awan biru cerah dengan gradasi awan putih tipis, ah so peacefull!!! sering aku abadikan dengan kamera diponselku, dimanapun aku melihat suasana yang seperti itu..

milana.. ntah kebetulan ntah apa, aku jg suka melukis, eh tepatnya menggambar... tp lebih tepatnya, aku suka menggambar punggung seseorang.. someone that i love.. hehehe :))

dimana dengan melihat punggung seseorang aku merasa kalo i still wait him, i understand him without know what he doing there, dan aku akan selalu melindunginya dari belakang, ntah bang ada kepuasan tersendiri melihat seseorang dari punggungnya..tau ga kemanapun aku pergi, aku selalu bawa scketch book lho :) ehehe

milana, juga ntah kebetulan ntah bukan, aku jg fans berat ac milan "milan angel" dari usiaku 12 tahun sampe aku 21 tahun ini, jadi nama itu terlihat sangat indah buat aku ehehe

pengen deh ngepost salah satu gambar aku yg bisa nge gambarin milana dan are itu, gambar yg beberapa bulan yg lalu aku gambar.. ya ntah kebetulan ntah apa itu, mirip aja sih..hehe
kalo mau liat aja di akun twitterku ada @alinepriesti ga di follow jg gapapa itu jg kalo abang berkenan melihat :))

pokoknya cerpen abang yg 1 ini inspirated banget buat aku, ya walaupun aku ga bisa nulis..tp seenggaknya cerpennya menggambarkan aku bgt! ilove it..
walopun ga jadi penulis yg baik kaya bang bara, aku bakal nerusin hobiku gambar punggung deh eheheehe..
proud of you bang!!!! terus berkarya yeay \m/

amar mengatakan...

brilliant.. jadi pengen nulis2 cerpen juga.. kebetulan saya juga suka suasana senja..

Anonim mengatakan...

Saya suka dg cerpen kak bara. Semangat berkarya terus kak ^^

Risma D'Yaka mengatakan...

Ending-nya bikin senyum2. keren bang!
:D

Ismi Purisa mengatakan...

"Seseorang yang menghabiskan waktunya hanya untuk menunggu. Mendedikasikan setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun untuk menyambut sebuah kedatangan kembali. Untuk mendengar sebuah ‘Halo, ini aku, sudah pulang.'

Aku suka sekali bagian itu, bang :)
Kalau aku tidak membaca ini di tengah rapat kampus malam ini, mungkin aku sudah benar-benar menangis.
Barangkali aku bisa merasakan sedikit yang dirasakan milana, karena 3 tahun yang lalu aku juga kehilangan seseorang. Dia pergi sehari setelah kecelakaan tunggal yang dia alami.
Dan senja, adalah salah satu waktu ketika banyak kenangan menyerbu, membawa rindu dari masa lalu, masa kecil, masa yang telah lewat.
Barangkali juga, sampai sekarang aku sedikit seperti Milana, masih menunggu dia.
Namanya "Andhika." :')

Ismi Purisa mengatakan...

Nambah Bang, saya akhirnya nangis beneran :'|
Saya kangen dia, ingin bertemu dia, meski sadar dia sudah nggak ada.

Feni mengatakan...

ouch... seddih amat :|
kenapa dan kenapa,, gw harus keinget ama dia lagi :|
Tapi sumpah keren amat ni ceritanya :'(
Mewekk dah :'(

benz mengatakan...

Terima kasih semuanya yang sudah membaca dan menyempatkan diri untuk meninggalkan komentar di sini. :D

Ulfa Kumilawati mengatakan...

Sampai merinding bacanya :(
Cerpen yang menarik dan bagus :)

contekan hati mengatakan...

"ngena" banget.

Anonim mengatakan...

Keren ini bang.. :)

lulinote mengatakan...

keren kak bara, di tunggu cerpen berikutnya daaannn talkshownya di solo yaa... :)

Anonim mengatakan...

penggunaan dua sudut pandang dalam satu cerpen, memang sudah pernah beberapa kali baca. tapi kali ini ditulis dengan sangat cerdik. so inspiring. good luck Bara

Anonim mengatakan...

Nendang banget feelnyaa..
nyeseknya sampe ke ulu hati... :'3
menunggu sesuatu yang jelas2 tlah tiada.. Sebuah keromantisan yang bodoh..

Anonim mengatakan...

ada yg kebalik karakter ny...bingung

awaw adhaindriaa mengatakan...

saya merinding ketika sampai membaca artikel bahwa are sudah meninggal

vinarizka absri nilam sary mengatakan...

Pernah liat ending 500 days of Summer gak? Kaya gini ya...

Patria Agusta Permadi mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
CurahanJomblo mengatakan...

Jujur melihat dari inti cerita dimana seseorang perempuan yang menunggu orang yang tiada. Kak benzbarra seperti sempurna meng-aplikasikanya cerita ini, serta pada cerita ini menyimpan banyak hal yang patut kita nikmati dari perpaduan kata-katanya yang begitu mengalir lembut ketika dibaca dan gaya bahasanya yang banyak menyertakan kejutan kejutan yang sulit di mengerti tapi sangat kusukai.

Kak benzbarra sebagai penulis tak hanya menceritakan bagaimana "milana" melukis, tetapi kakak sendiri seakan membuat cerita ini seperti pelukis yang menuangkan warna-warnanya di atas kanvas dan membentuk lukisan yang sangat indah dinikmati. Saya kagum dan menikmatinya lukisan cerita kakak benzbarra pada cerpen ini. Sukses ya. Amin

Patria Agusta Permadi mengatakan...

Jujur melihat dari inti cerita dimana seseorang perempuan yang menunggu orang yang tiada. Kak benzbarra seperti sempurna meng-aplikasikanya cerita ini, serta pada cerita ini menyimpan banyak hal yang patut kita nikmati dari perpaduan kata-katanya yang begitu mengalir lembut ketika dibaca dan gaya bahasanya yang banyak menyertakan kejutan kejutan yang sulit di mengerti tapi sangat kusukai.

Kak benzbarra sebagai penulis tak hanya menceritakan bagaimana "milana" melukis, tetapi kakak sendiri seakan membuat cerita ini seperti pelukis yang menuangkan warna-warnanya di atas kanvas dan membentuk lukisan yang sangat indah dinikmati. Saya kagum dan menikmatinya lukisan cerita kakak benzbarra pada cerpen ini. Sukses ya. Amin