Skip to main content

MILANA - Buku Keempat





Alhamdulillah. Kata pertama yang saya ucapkan setelah mendapat e-mail dari Siska Yuanita, editor saya di Gramedia. E-mail tersebut berisi lampiran file naskah buku terbaru saya yang sudah siap untuk naik cetak.

Buku keempat ini, berjudul MILANA: Perempuan yang Menunggu Senja. Milana: Perempuan yang Menunggu Senja adalah kumpulan cerita pendek. Di dalamnya terdapat lima belas cerita pendek yang saya tulis dalam rentang waktu tahun 2010 - 2013. Sebagian cerita di dalamnya pernah dimuat di koran, buku antologi bersama, dan di website ini. Sebagian lagi adalah cerita-cerita baru yang belum pernah saya publikasikan di mana pun.

Milana sendiri adalah judul salah satu cerpen di dalam buku ini. Saya ambil untuk judul karena, entahlah, saya punya perasaan tersendiri dengan nama tersebut. Milana. Seorang perempuan yang menunggu senja. Tidakkah banyak perempuan menghabiskan waktunya hanya untuk menunggu? Entah itu sesuatu yang pasti maupun tidak. Ah, cerita tentang menunggu memang tidak pernah ada habisnya.

Bagaimana kisah Milana: Perempuan yang Menunggu Senja? Apakah sama dengan cerita penantianmu? Baca ceritanya, bersama cerita-cerita lain di dalam buku ini.

Milana: Perempuan yang Menunggu Senja akan terbit bulan depan lewat penerbit Gramedia. Nantikan Milana di toko-toko buku kesayangan kamu.


Salam,



Bara







Comments

Ibnu Fadhillah said…
Can't wait, bang! =D
Suka Duka Nuka said…
sampulnya..... gitu doang bang?
Dongeng Denu said…
wahh ditunggu nih bang peluncuran bukunya.. :)
lea said…
tentang senja, tak pernah habis bercerita. aku, kamu, dia, mereka, kita semua menyukai senja. ahhh, andaikan nama kita terangkum dalam 1 cover buku Bar :)
Unknown said…
wuih keren bang! gasabar nunggu bukunya!:DI
Ibnu: Terima kasih.

Nuka: Itu bukan sampulnya, itu cuma halaman depan.

Denu: Tunggu ya. :D

Lea: Aaamiin. :)

Esa: Terima kasih. :D

Adha: Yap!
Penulis muda yang produktif. Salut deh :') ga sabar nunggu bukunya! :)
adhanifatwa said…
Buku ini akan jadi salah satu penghuni di rak buku saya :)
Penasaran sangatt..
sukses selalu Bang..
Kevin Anggara said…
gak sabar nunggunya bar..

apalagi versi TTD nya :D
aku udh bayangin bakal galau maksimal trus kesambet bahasa melow nya bang bara ToT
Anonymous said…
bang bagus banget loh bang bukunya! saya pake buat tugas sekolah untuk meresensi haha

Popular posts from this blog

[ manuskrip ] sarif & nur

Nyaris setahun yang lalu, editor saya di penerbit Bukune (sekarang ia sudah pindah ke penerbit GagasMedia, masih satu kelompok penerbit), Widyawati Oktavia mengirimi saya surel yang isinya tentang ajakan untuk sebuah proyek novel. Nama proyek tersebut adalah “Love Cycle”. Konsepnya sederhana: Enam penulis membuat novel yang jika disusun maka akan menjadi urut-urutan konflik yang biasanya dialami dalam sebuah relationship. Saya mendapat urutan di tengah, yang artinya saya diminta menulis novel tentang konflik pada saat relationship itu sedang dibangun alias masa-masa pacaran. Dalam hati saya protes. Pasalnya, pada saat itu saya sedang single . Proyek ini sebetulnya adalah proyek kedua yang ditawarkan Iwied (panggilan akrab Widyawati Oktavia) kepada saya. Dengan berbagai alasan, proyek pertama gagal saya kerjakan. Di proyek “Love Cycle” ini, saya bertekad untuk tidak mengulangi hal serupa. Maka, saya mulai menulis. Tahap pertama adalah melaksanakan riset. Saya sempat mela

surat untuk ruth

                                            Ubud,  6 Oktober 2012 Ruth, Satu hal yang ingin kutanyakan kepadamu sejak lama, bagaimana mungkin kita saling jatuh cinta, namun ditakdirkan untuk tidak bersama? Aku dan kamu tidak bisa memaksa agar kebahagiaan berlangsung selama yang kita inginkan. Jika waktunya telah usai dan perpisahan ini harus terjadi, apa yang bisa kita lakukan? Masihkah ada waktu untuk kita bersama, Ruth? JIka memang kamu harus pergi, berilah aku waktu sedikit lebih panjang untuk menikmati saat-saat terakhir bersamamu. Meski tidak lama, hanya sebentar, seperti senja yang senantiasa kamu lukis, atau seperti ciuman pertama kita yang ragu-ragu. Berilah aku waktu sedikit lebih panjang untuk memelukmu, karena aku belum mengungkapkan seluruhnya yang ingin kukatakan kepadamu. Ironis, Ruth. Kamu berkata “Aku sayang kamu” tepat pada saat kamu harus meninggalkanku.                                                             

[Cerpen] Senja di Jembrana

Senja di Jembrana Menunggu adalah perkara melebarkan kesabaran dan berhadap-hadapan dengan risiko ketidakhadiran. Itu yang dikatakan oleh ibu sehari sebelum dia meninggal. Saat itu, saya tidak tahu ia sedang berbicara tentang ayah yang pergi meninggalkan kami dan tidak pernah kembali lagi. Namun sekarang saya paham semuanya. Terutama karena saya mengalami sendiri perasaan yang dulu ibu alami.