Skip to main content

[Issue] Perempuan Victorinox






Perempuan Victorinox.

Begitu saya namai project buku saya yang baru ini. Awalnya, buku ini saya niatkan sebagai kumpulan cerita saja. Tapi pada suatu hari saat saya tengah menikmati guyuran air di kamar mandi, tiba-tiba terlintaslah ilham untuk menjadikan Perempuan Victorinox (PV) lebih panjang dan membuatnya menjadi satu cerita yang utuh. Mungkin novel, atau novela, kalau saya tidak memiliki stamina yang cukup untuk menjadikannya novel.

Project PV ini terinspirasi dari perjalanan liburan saya ke Bali awal Januari lalu. Saya berlibur ke kota yang memiliki pantai-pantai indah tersebut dengan seseorang. Kami berdua menghabiskan kurang lebih seminggu di Bali, menyusuri satu pantai indah ke pantai indah yang lain. Dan sejak pertama kali melangkahkan kaki di tanah Bali, entah mengapa berbagai ide cerita berkelebatan di kepala saya. Sejak itu saya bertekad, sepulang dari Bali, saya harus menulis sebuah cerita.

Saat ini, PV sedang saya garap. Pada saat saya post catatan ini, saya baru saja menyelesaikan BAB kedua, dari total rencana sepuluh atau lima belas BAB yang ingin saya tulis. PV akan berlatarkan tempat-tempat di Bali. Tapi, saya tidak akan terlalu banyak mengangkat adat budaya Bali. Saya hanya memandang Bali dari kacamata turis lokal.

Bagi yang sudah membaca buku terakhir saya, kumpulan cerita MILANA, ada sedikit info: PV adalah perluasan dari cerita pendek "Milana" dalam buku tersebut. PV akan berisi tentang kisah cinta Milana dan Are. Hehehe.

Demikianlah, sekilas tentang project yang sedang saya garap saat ini. Semoga bisa segera selesai dan bisa lekas dinikmati. HURRAH!

(PS: Foto di awal postingan ini adalah foto yang saya ambil di Balangan, Bali. Sebuah pantai dengan bukit dan pemandangan matahari tenggelam yang sangat indah! Perempuan di dalam gambar tersebut? Ya, partner liburan saya selama di Bali. Hehe.)


Salam,



Bara

Comments

cool kakbar! lanjutkan! :3
Idda Iddul said…
Di tunggu bang Bar novelnya. :) | *engga sabar pgn baca*

Popular posts from this blog

[ manuskrip ] sarif & nur

Nyaris setahun yang lalu, editor saya di penerbit Bukune (sekarang ia sudah pindah ke penerbit GagasMedia, masih satu kelompok penerbit), Widyawati Oktavia mengirimi saya surel yang isinya tentang ajakan untuk sebuah proyek novel. Nama proyek tersebut adalah “Love Cycle”. Konsepnya sederhana: Enam penulis membuat novel yang jika disusun maka akan menjadi urut-urutan konflik yang biasanya dialami dalam sebuah relationship. Saya mendapat urutan di tengah, yang artinya saya diminta menulis novel tentang konflik pada saat relationship itu sedang dibangun alias masa-masa pacaran. Dalam hati saya protes. Pasalnya, pada saat itu saya sedang single . Proyek ini sebetulnya adalah proyek kedua yang ditawarkan Iwied (panggilan akrab Widyawati Oktavia) kepada saya. Dengan berbagai alasan, proyek pertama gagal saya kerjakan. Di proyek “Love Cycle” ini, saya bertekad untuk tidak mengulangi hal serupa. Maka, saya mulai menulis. Tahap pertama adalah melaksanakan riset. Saya sempat mela

surat untuk ruth

                                            Ubud,  6 Oktober 2012 Ruth, Satu hal yang ingin kutanyakan kepadamu sejak lama, bagaimana mungkin kita saling jatuh cinta, namun ditakdirkan untuk tidak bersama? Aku dan kamu tidak bisa memaksa agar kebahagiaan berlangsung selama yang kita inginkan. Jika waktunya telah usai dan perpisahan ini harus terjadi, apa yang bisa kita lakukan? Masihkah ada waktu untuk kita bersama, Ruth? JIka memang kamu harus pergi, berilah aku waktu sedikit lebih panjang untuk menikmati saat-saat terakhir bersamamu. Meski tidak lama, hanya sebentar, seperti senja yang senantiasa kamu lukis, atau seperti ciuman pertama kita yang ragu-ragu. Berilah aku waktu sedikit lebih panjang untuk memelukmu, karena aku belum mengungkapkan seluruhnya yang ingin kukatakan kepadamu. Ironis, Ruth. Kamu berkata “Aku sayang kamu” tepat pada saat kamu harus meninggalkanku.                                                             

[Cerpen] Senja di Jembrana

Senja di Jembrana Menunggu adalah perkara melebarkan kesabaran dan berhadap-hadapan dengan risiko ketidakhadiran. Itu yang dikatakan oleh ibu sehari sebelum dia meninggal. Saat itu, saya tidak tahu ia sedang berbicara tentang ayah yang pergi meninggalkan kami dan tidak pernah kembali lagi. Namun sekarang saya paham semuanya. Terutama karena saya mengalami sendiri perasaan yang dulu ibu alami.