Skip to main content

MILANA Cetakan Kedua!




Saya baru tidur pukul tiga pagi dan terbangun oleh ketukan di pintu kamar pukul enam tiga puluh. Dengan mengucek mata dan bermalas-malasan, saya membuka pintu. Ternyata si pengetuk adalah ibu tetangga kos. Ia menyerahkan paket untuk saya. Saya mengucapkan terima kasih dan mengunci pintu kamar kembali, menyalakan lampu kamar untuk melihat paket tersebut.

Ternyata paket yang datang pagi ini adalah kiriman dari penerbit Gramedia. Isinya adalah buku MILANA cetakan kedua. Saya sudah menerima kabar tentang cetak ulang MILANA tapi kiriman bukunya baru tiba hari ini. Sambil mengucek mata lagi, saya melihat halaman depan MILANA. Tertulis "Cetakan kedua: Mei 2013" yang artinya cetak ulang kedua MILANA hanya berselang sebulan sejak cetakan pertamanya pada bulan April. WHOA! Alhamdulillah.

Terima kasih untuk para penunggu senja, pembaca MILANA, yang memungkinkan MILANA mengalami cetak ulang keduanya dengan begitu segera. Yang belum atau kesulitan menemukan MILANA di toko buku di kotanya, MILANA cetakan kedua akan segera didistribusikan dalam minggu-minggu ini. Selamat berburu lagi.

Terima kasih.

Ciao!



- Bara




Comments

Unknown said…
Bang, Saya boleh kasih saran gak bang di blog abang? Atau harus kirim lewat email?
Fitria Yelni said…
Congrats ya Kak Bara atas pencapaian Milana. Waktu di gramed Jogja hari jumat lalu, ngeliat aku nenteng2 Milana, bapak penjaga yg kartu ID nya bertuliskan 'group of retail bussines', bilang kalo yg lagi laris Milana kan Bara sama Autumn Once More nya Ilana tan dkk. Tapi emang Milana yg lebih unggul. Pagi itu ditaroh 30 buku di rak top10+bestseller udah abis, jadi sore itu di taroh lagi. Keren.

Popular posts from this blog

[ manuskrip ] sarif & nur

Nyaris setahun yang lalu, editor saya di penerbit Bukune (sekarang ia sudah pindah ke penerbit GagasMedia, masih satu kelompok penerbit), Widyawati Oktavia mengirimi saya surel yang isinya tentang ajakan untuk sebuah proyek novel. Nama proyek tersebut adalah “Love Cycle”. Konsepnya sederhana: Enam penulis membuat novel yang jika disusun maka akan menjadi urut-urutan konflik yang biasanya dialami dalam sebuah relationship. Saya mendapat urutan di tengah, yang artinya saya diminta menulis novel tentang konflik pada saat relationship itu sedang dibangun alias masa-masa pacaran. Dalam hati saya protes. Pasalnya, pada saat itu saya sedang single . Proyek ini sebetulnya adalah proyek kedua yang ditawarkan Iwied (panggilan akrab Widyawati Oktavia) kepada saya. Dengan berbagai alasan, proyek pertama gagal saya kerjakan. Di proyek “Love Cycle” ini, saya bertekad untuk tidak mengulangi hal serupa. Maka, saya mulai menulis. Tahap pertama adalah melaksanakan riset. Saya sempat mela

[Cerpen] Senja di Jembrana

Senja di Jembrana Menunggu adalah perkara melebarkan kesabaran dan berhadap-hadapan dengan risiko ketidakhadiran. Itu yang dikatakan oleh ibu sehari sebelum dia meninggal. Saat itu, saya tidak tahu ia sedang berbicara tentang ayah yang pergi meninggalkan kami dan tidak pernah kembali lagi. Namun sekarang saya paham semuanya. Terutama karena saya mengalami sendiri perasaan yang dulu ibu alami.

surat untuk ruth

                                            Ubud,  6 Oktober 2012 Ruth, Satu hal yang ingin kutanyakan kepadamu sejak lama, bagaimana mungkin kita saling jatuh cinta, namun ditakdirkan untuk tidak bersama? Aku dan kamu tidak bisa memaksa agar kebahagiaan berlangsung selama yang kita inginkan. Jika waktunya telah usai dan perpisahan ini harus terjadi, apa yang bisa kita lakukan? Masihkah ada waktu untuk kita bersama, Ruth? JIka memang kamu harus pergi, berilah aku waktu sedikit lebih panjang untuk menikmati saat-saat terakhir bersamamu. Meski tidak lama, hanya sebentar, seperti senja yang senantiasa kamu lukis, atau seperti ciuman pertama kita yang ragu-ragu. Berilah aku waktu sedikit lebih panjang untuk memelukmu, karena aku belum mengungkapkan seluruhnya yang ingin kukatakan kepadamu. Ironis, Ruth. Kamu berkata “Aku sayang kamu” tepat pada saat kamu harus meninggalkanku.