Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2013

Mistis dan Kutukan di Kumpulan Cerpen Milana

Gambar
Oleh Mudin Em

Saya mengenal Bernard Batubara sebagai penulis puisi. Sekitar tahun 2010, saya membaca blognya dan menyukai puisipuisinya yang meresap ketika dibaca, tanpa harus memahami kata atau struktur kalimat yang rumit. Sebagai penyair muda, Bara punya kepercayaan diri yang kuat dalam katakata yang dipilihnya. Hal ini membuat puisipuisi Bara menjadi enak dibaca tanpa perlu bumbu yang berlebihan pada kalimatnya.
Sedikit kaget, tahun 2011, saya mendengar Bara menulis novel yaitu Radio Galau FM: Frekuensi Patah Hati dan Cinta yang Kandas. Namun, saya baru sempat membaca tulisan panjang Bara yang terbit tahun 2012 yaitu Kata Hati.
Di novel Kata Hati, saya melihat Bernard Batubara yang lain. Konflik percintaan remaja dengan plotplot yang tidak terlalu mengesankan, membuat saya berpikir bahwa Bara menurunkan levelnya dalam penulisan ini. Kata Hati tentu saja bukan bacaan yang buruk. Sebagai bacaan remaja dia layak untuk dibaca. Beberapa percakapan di novel tersebut cukup menarik. Satu yang…

Tempias

sebelumnya aku pernah begitu mendamba ricikMu
kota-kota ini, tuan, adalah kota yang berasal dari senja
di dalam lembar-lembar kosong kitab suciMu hangat, sebentar, melelehkan, dan melelahkan
tapi kematian terlahir sebagai harakat yang panjang ia harus panjang pula diucapkan, ia terlampau jauh
namun menyala demikian dekat demikian terang
kota-kota ini tumbuh dari kealpaan, aku adalah napasMu napasMu telah larut dalam hampa udara dalam doa-doa
sebelumnya aku pernah begitu mendamba ricikMu sebelum engkau menjelma tempias yang hanya halus
namun amat basah
demikian lekat demikian erat
2013



Sajak ini dimuat di Kompas, Minggu 1 September 2013.