Langsung ke konten utama

CINTA. (baca: cinta dengan titik)





"Mengapa cinta membuatku mencintaimu,
ketika pada saat yang sama
kau mencintai orang yang bukan aku?

Ketika telah membuka hati,
aku pun harus bersiap untuk kehilangan lagi.
Apakah setelah cinta memang harus selalu ada
air mata dan luka hati?

Kalau begitu,
bagaimana jika kita bicarakan satu hal saja.
Cinta.
Tanpa ada yang lain setelahnya.
Kita lihat ke mana arahnya bermuara."



Menghampiri akhir bulan Agustus, hendak memasuki September yang ceria, saya persembahkan buku kelima saya.

"Cinta." (baca: cinta dengan titik) adalah sebuah kisah tentang sepasang hati atau lebih, dan kisahnya tak semanis yang dibayangkan. Mungkin pahit, mungkin sakit, atau lebih dari itu.

Namun, pada akhirnya, cinta akan berhenti di satu titik. Tidak lagi memikirkan beribu koma yang telah berlalu. Cinta akan berhenti pada satu titik. Berhenti pada perhentian akhir, perhentian yang tepat.

Maka, terimalah persembahanku, "Cinta." [baca: cinta dengan titik] (Bukune, 2013). Akan hadir membawa kisah yang pilu ke hadapanmu, ke hatimu, bulan depan.

Selamat menanti perhentian cinta terakhirmu. Selamat menyambut titik itu.



- Bara


Komentar

Kevin Anggara mengatakan…
Pertama kali mata gue tertuju sama covernya, langsung suka banget. Wajib di PO ini, penasaran sama isinya.. :))
Giar mengatakan…
Baca Blurb-nya aja udah menarik, apalagi isinya ya.. Kayaknya bakal banyak airmata setelah baca buku ini :/
Anonim mengatakan…
looks great.
Semoga bisa ikutan PO.
Unknown mengatakan…
diksina indah bang:D jadi kapan ada di toko buku terdekat itu buku bang?
Kutukutubuku mengatakan…
Hari terakhir buat Pre Order nih!
Buat kamu yg ngaku pecinta karya @benzbara_ Yuk, segera lakukan PO #cintadengantitik di link ini ~> http://kkb.co/39228
Atau pesan via email, dengan format :
Nama + Alamat + No.telp + Jumlah Buku
ke kutubuku.id@gmail.com :)
Unknown mengatakan…
Ada pdfnya gak ? Pngin baca pdfnya nih
Eko Marwanto mengatakan…
Wah, ini seperti apa yang ane sampein ke cewe yang insya allah menjadi tepian muara terakhir... haha

Postingan populer dari blog ini

[Cerpen] Senja di Jembrana

Senja di Jembrana Menunggu adalah perkara melebarkan kesabaran dan berhadap-hadapan dengan risiko ketidakhadiran. Itu yang dikatakan oleh ibu sehari sebelum dia meninggal. Saat itu, saya tidak tahu ia sedang berbicara tentang ayah yang pergi meninggalkan kami dan tidak pernah kembali lagi. Namun sekarang saya paham semuanya. Terutama karena saya mengalami sendiri perasaan yang dulu ibu alami.

[ manuskrip ] sarif & nur

Nyaris setahun yang lalu, editor saya di penerbit Bukune (sekarang ia sudah pindah ke penerbit GagasMedia, masih satu kelompok penerbit), Widyawati Oktavia mengirimi saya surel yang isinya tentang ajakan untuk sebuah proyek novel. Nama proyek tersebut adalah “Love Cycle”. Konsepnya sederhana: Enam penulis membuat novel yang jika disusun maka akan menjadi urut-urutan konflik yang biasanya dialami dalam sebuah relationship. Saya mendapat urutan di tengah, yang artinya saya diminta menulis novel tentang konflik pada saat relationship itu sedang dibangun alias masa-masa pacaran. Dalam hati saya protes. Pasalnya, pada saat itu saya sedang single . Proyek ini sebetulnya adalah proyek kedua yang ditawarkan Iwied (panggilan akrab Widyawati Oktavia) kepada saya. Dengan berbagai alasan, proyek pertama gagal saya kerjakan. Di proyek “Love Cycle” ini, saya bertekad untuk tidak mengulangi hal serupa. Maka, saya mulai menulis. Tahap pertama adalah melaksanakan riset. Saya sempat mela

surat untuk ruth

                                            Ubud,  6 Oktober 2012 Ruth, Satu hal yang ingin kutanyakan kepadamu sejak lama, bagaimana mungkin kita saling jatuh cinta, namun ditakdirkan untuk tidak bersama? Aku dan kamu tidak bisa memaksa agar kebahagiaan berlangsung selama yang kita inginkan. Jika waktunya telah usai dan perpisahan ini harus terjadi, apa yang bisa kita lakukan? Masihkah ada waktu untuk kita bersama, Ruth? JIka memang kamu harus pergi, berilah aku waktu sedikit lebih panjang untuk menikmati saat-saat terakhir bersamamu. Meski tidak lama, hanya sebentar, seperti senja yang senantiasa kamu lukis, atau seperti ciuman pertama kita yang ragu-ragu. Berilah aku waktu sedikit lebih panjang untuk memelukmu, karena aku belum mengungkapkan seluruhnya yang ingin kukatakan kepadamu. Ironis, Ruth. Kamu berkata “Aku sayang kamu” tepat pada saat kamu harus meninggalkanku.