24 September 2013

20 Pertanyaan dari Aan Mansyur


Diambil dari blog Aan Mansyur

20 Pertanyaan untuk Bernard Batubara






DIA baru saja menerbitkan buku kelimanya, Cinta. (baca:cinta dengan titik). Sebagaimana buku-bukunya sebelum ini, saya dapat jatah gratis. Penebitnya yang mengirimkan kepada saya. Buku terakhirnya ini bukan karyanya yang saya suka. Jika diminta memilih dua bukunya yang saya suka, saya akan menyebut Angsa-angsa Ketapang dan Milana, buku kumpulan puisi dan cerita pendeknya.



Namanya Bernard Batubara. Sejak bertahun-tahun lalu, penulis yang tampaknya terobsesi dengan zodiak ini lebih senang saya panggil Benz. Saya mengagumi produktivitasnya dalam menulis, sekaligus saya mengkhawatirkan hal itu akan membuat kualitas karya-karyanya tidak menjadi lebih baik. Saya kira, dia perlu belajar sedikit menahan diri.

Dari novelnya yang terakhir ini, saya menyukai keberanian Benz memasukkan dan memperkenalkan sejumlah puisi Pablo Neruda kepada para pembacanya yang umumnya masih remaja. Saya kira, itu tidak terlalu mengherankan sebab dia memang sering juga menulis puisi. Selain itu, saya suka caranya memunculkan beberapa tempat yang mungkin menarik dikunjungi ketika berada di Jogja. Selebihnya, bukan selera saya. Atau barangkali usia saya sudah terlalu tua untuk kisah-kisah semacam itu.

Melalui surat elektronik, saya mengirim 20 pertanyaan―yang baru saya pikirkan ketika menulis surat itu―kepada penulis yang senang mengunyah permen karet ini. Secara mengagumkan, dia menjawab pertanyaan-pertanyaan saya hanya dalam tempo beberapa menit. Barangkali dia memang senang terburu-buru. Tapi, tunggu dulu, tulisannya rapih. Maksud saya, bersih dari kesalahan ketik.
Berikut ‘obrolan’ saya dengan Benz beberapa hari lalu itu.




Ceritakan tiga hal dari masa kecilmu.

Aku membangunkan Papa setiap pagi dengan kecupan di pipi. Semua anak-anak Papa membangunkan Papa dengan kecupan di pipi. Sekarang, tak satu pun dari kami yang melakukannya lagi.

Aku disegani oleh teman-teman sepermainan gundu, atau kelereng. Kami menyebutnya guli. Aku cukup mahir bermain guli.

Papa membelikanku banyak sekali mainan. Sementara Mama sempat menyangka aku perempuan dan pernah membelikanku gaun. 


Kenapa kamu memilih tinggal dan menulis di Jogjakarta?

Sudah kucoba untuk menulis di Jakarta, tak bisa. Kucoba pula menulis di Pontianak, tempat kelahiranku. Tak bisa. Kurasakan atmosfer berkarya yang begitu hangat di Jogja. Juga lingkungan dan suasana yang mendukung untuk menulis. Di Pontianak terlalu tenang dan “kosong”, aku jadi mengantuk dan ingin tiduran terus di rumah. Di Jakarta terlalu riuh dan penuh, aku tak bisa punya ruang cukup nyaman untuk menulis.

Sejauh ini, Jogja adalah tempat yang pas. Aku ingin mencoba menulis di Inggris, tapi belum punya uang cukup untuk ke sana.


Ceritakan ritual pagimu.

Minum air putih. Setelah membuka mata dan menyadari bahwa aku sudah bangun dari tidur, aku langsung duduk dan mencari botol air mineral yang kuletakkan di sebelah kasur, bahkan sebelum menyalakan lampu kamar. Aku minum air putih cukup banyak. Aku pencinta air putih. Lalu, aku mengambil ponsel dan membuka akun Twitter. Meletakkannya lagi. Berbaring di kasur menunda mandi. Kemudian menyalakan televisi namun tidak kutonton. Begitu setiap pagi.


Apa kebiasaan buruk yang ingin sekali kamu singkirkan?

Menelantarkan benda-benda yang sebelumnya kubeli dengan sangat antusias. Aku punya sebuah gitar akustik, sepasang dumbell sebagai pengganti jadwal fitness, dan buku-buku. Kubeli mereka dengan sangat antusias, namun kutelantarkan mereka setelah beberapa saat.


Tiga pertanyaan paling tidak kamu harapkan dari orang lain? Kenapa?

Sejak kapan menulis? Dapat inspirasi menulis dari mana? Bagaimana cara menulis tapi sedang tidak mood?

Aku bosan ditanya dengan ketiga hal itu.


Menurutmu, apa yang harus terjadi di halaman pertama dan terakhir sebuah novel untuk membuatnya berhasil?

Harus terjadi sesuatu yang mencengangkan pada halaman awal sebuah novel, dan harus terjadi sesuatu yang menyimpulkan-namun-membuka-kemungkinan-baru pada halaman akhirnya.


Kegiatan apa saja yang bisa membuatmu berhenti menulis? 

Berhenti menulis sesaat? Tentunya hal-hal lain yang menyenangkan selain menulis: berbincang dengan seseorang yang menyenangkan, berkumpul bersama kawan-kawan, menonton film di bioskop, dan, oh, berpacaran. Hahaha.


Apakah semua tempat-tempat yang kamu sebutkan di novel terbarumu itu pernah kamu datangi?

Ya. Semua tempat di novel terbaruku pernah aku datangi.


Jika ada hal yang harus kamu perbaiki dari keahlianmu menulis, hal-hal apakah itu? 

Sifat tak sabaran dan terburu-buru. Orang lain boleh saja melihatku cepat menyelesaikan sebuah buku. Tapi, aku melihatnya justru dari sisi yang tak begitu baik. Aku menyelesaikan bukuku dengan cepat lebih karena aku tak sabaran dan ingin segera menulis hal yang lain. Akibatnya adalah aku tak begitu betah menulis ulang dan memperhatikan dengan seksama lagi naskah yang sudah kutulis. Aku cepat lupa tentang apa yang sudah selesai kutulis dan aku tak berminat lagi untuk membacanya ulang.


Lima benda yang selalu kamu bawa ke mana-mana?

Ponsel. Dompet. Kunci (motor + kamar). Buku. Dan, permen karet. 


Sebutkan beberapa frase yang paling sering kamu gunakan dan kenapa bisa begitu? 

“Menghela napas dalam dan mengembuskannya pelan”. Ini kurasa yang paling sering kugunakan. Entahlah sebabnya. Mungkin karena aku tertarik dengan filosofi kehidupan yang terdapat pada proses bernapas seseorang. Hembus, lepaskan. Tak ada yang menetap. Semuanya datang dan pergi, hanya titipan. Adegan menghela napas dan mengembuskannya pelan itu visual yang tenang dan enak saja di kepalaku, maka aku sering menggunakannya. 


Satu kisah lucu terkait penulisan novel Cinta. 

Sayangnya tak ada kisah yang lucu selama proses penulisan novel Cinta. Aku mengingat-ingat dan mencoba mencari kisah lucu, namun tak berhasil. Yang ada hanya kisah, hem, bagaimana menyebutnya, mungkin haru. Sebab cerita pada novel Cinta. kutulis dari curhatan seorang teman. Dan curhatannya itu membuatku haru.


Dua hal tentang dirimu yang tidak diketahui umum dan jika kamu katakan mungkin mereka kaget. 

Aku sering mengupil dan kentut. Aku pernah punya obsesi memacari perempuan dari 12 zodiak.
Bagaimana? Semoga kaget ya?


Apa tulisan yang kamu bayangkan ada di nisanmu? 

“Penulis paling produktif di dunia. Ayah yang hebat. Dan suami yang romantis.”  


Bagian yang kamu suka dan tidak dari novel terbarumu?

Bagian yang kusuka dari novel terbaruku: aku berhasil memasukkan beberapa puisi dan haiku. Bagian yang tak kusuka: aku masih menggunakan terlalu banyak lirik lagu untuk menambah panjang halaman. Hehehe.


Lima judul buku yang ketika membacanya kamu berpikir andai saja saya yang menuliskannya. Kenapa?

Bukan Pasarmalam, Pramoedya Ananta Toer; Blakanis, Arswendo Atmowiloto; The Ocean at The End of The Lane, Neil Gaiman; Dengarlah Nyanyian Angin, Haruki Murakami; Serial Harry Potter, J. K. Rowling.

Kenapa? Karena aku ingin berada di posisi orang yang mengarang buku-buku itu dan melihat ekspresiku sendiri yang sedang membaca buku-buku itu.


Seberapa besar arti pacar atau orang dekat bagi proses penulisan novelmu?

Besar, besar sekali. Terutama pacar. Karena biasanya pacar adalah energi, motivasi, pemicu, dan inspirasi terbesarku untuk menulis. Pacar juga menjadi sparring partner, untuk menggodok ide danbrainstorming ide tulisanku. Memberi masukan, bantahan, dan lain-lain banyak sekali yang sangat berguna dan kubutuhkan untuk menulis. (Tiba-tiba menerawang, mana pacarku yaa…)


Lima website yang sering kamu kunjungi untuk mendapatkan inspirasi menulis?

Letters of Note | Ruang Berbagi AS Laksana | Classic Short Stories | Bank Naskah Teater & Sastra |  The Blog of Innocence


Siapa penulis yang kamu bayangkan jadi istrimu? Kenapa? 

Jika kami seumuran, atau ia lebih muda dariku, atau ia hanya satu atau dua tahun lebih tua dariku, kurasa aku ingin menikah dengan J. K. Rowling. Karena isi kepalanya yang aku percaya takkan membuatku bosan dan dengan itu aku ingin terus menyelaminya lebih dalam dan mencintainya lebih jauh dari hari ke hari. Tapi, kurasa kami tidak akan cocok, karena aku Cancer dan dia Leo. 


Bikin satu pertanyaan yang belum pernah kamu tanyakan kepada diri sendiri dan jawab!

“Kapan kamu akan kerja kantoran?” “Nanti. Setelah aku kehilangan minat untuk menulis fiksi.”


*

Untuk mengetahui lebih jauh ihwal penulis yang lahir di Pontianak pada 9 Juli 1989 ini, silakan baca di blognya


2 komentar:

Kevin Anggara mengatakan...

Waw, keren jawabannya Bara :))

bukansiapasiapa mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.