22 Oktober 2013

Bagaimana Caranya Menjadi Penulis




Bagaimana Caranya Menjadi Penulis?


Saya selalu bingung menjawab pertanyaan itu. Pertanyaan, yang, entah mengapa masih juga sering saya terima. "Bagaimana caranya menjadi penulis?" Untuk pertanyaan itu, saya lagi dan lagi, dan selalu menjawab: "Ya, menulis lah." Saya katakan dengan tegas kepadamu, tak ada cara lain untuk menjadi penulis, selain: menulis.

Ada dua “K” yang penting dalam menulis, yaitu komitmen dan konsisten. Mau menjadikan menulis kegiatan yang (terasa) mudah? Jadikanlah kebiasaan. Menulislah dengan rutin. Kamu bertanya, mengapa sih terasa susah mewujudkan ide di kepala menjadi tulisan? Itu karena tidak membiasakan diri menghubungkan kepala dengan jari tangan. Menulis, sama halnya seperti orang bermain gitar. Apa yang ingin dimainkan, kunci-kunci dan nada-nada di kepala, harus terhubung dengan jari-jari tangan. Bagaimana caranya? Ya, biasakan dan rutin berlatih. Rutinitas akan membuat kegiatan yang kita lakukan terasa mudah, karena kita sudah terbiasa. Begitu pula dengan menulis.


Menulis adalah keterampilan. Dan, seperti halnya keterampilan lain, kamu hanya akan terampil jika rajin berlatih. Tak ada orang yang tadinya tak bisa menulis kemudian tiba-tiba menjadi penulis besar dalam semalam. Ada proses yang harus dilewati. Proses inilah yang tak semua orang tahan menekuninya. Ada yang tumbang sejak awal. Ada yang menyerah di pertengahan. Kamu akan mendapatkan hasil yang setara dengan proses yang telah kamu jalani. Malas berproses? Kamu takkan jadi apa-apa.

Banyak juga yang bertanya, bagaimana saya bisa terlihat begitu cepat menyelesaikan naskah buku-buku saya? Baiklah, akan saya jawab.

Satu metode yang selalu saya pegang dan terapkan setiap menulis adalah: "Menulis cepat. Menulis buruk.". Menulislah dengan cepat. Menulislah dengan buruk. Baru kemudian naskah yang buruk tersebut diperbaiki dengan menyunting. Kamu tak bisa menyunting naskah yang tak ada. Menulislah dengan cepat dan buruk. Jangan dulu khawatirkan bagusnya. Jangan bebankan kepalamu dengan keharusan menulis bagus pada tahap pertama. Menulislah dengan cepat dan bebas, meskipun hasilnya (sudah pasti) buruk.

Kebanyakan penulis pemula (saya juga) kesulitan menyelesaikan tulisannya karena mereka menulis sambil menyunting/mengedit.  saya katakan kepadamu, jangan menulis sambil menyensor. Tulislah apapun yang kamu pikirkan. Tak masalah kalaupun jelek. Itulah yang saya lakukan pada naskah-naskah cerpen maupun novel saya. Saya menulis cepat, dan saya menulis buruk sekali. Berikutnya yang saya lakukan adalah menyunting naskah buruk tersebut, menjadi naskah yang baik. Ingat, "writing is rewriting". Naskah, draf pertama adalah sampah. Tak mungkin kau menghasilkan naskah yang sempurna pada tahap pertama. You need to rewrite your draft.

Jadi:

1. Menulislah buruk, menulislah cepat.
2. Jangan menulis sambil menyensor.
3. Write first, edit later.

Lalu, pertanyaan berikutnya yang sering datang kepada saya adalah, "Ide tulisan sudah nyangkut di otak, tapi pas mau nulis malah hilang. Bagaimana?" Ya, saat nyangkut di otak, langsung catat, tuliskan. Beres.  "Kapan waktu yang tepat untuk menulis?" Waktu yang tepat adalah waktu kamu merasa ingin menulis. Dan jika kamu betul-betul cinta menuils, kamu akan selalu merasa ingin menulis. Satu hal yang perlu juga diperhatikan adalah, temukan waktu yang paling enak untuk kamu menulis. Beberapa penulis lebih enak menulis saat pagi hari setelah bangun tidur. Beberapa yang lain pada tengah malam sebelum tidur. Terserah. Yang penting kamu selalu menyediakan waktumu untuk hal yang kamu cinta. Untuk menulis.

Tentang inspirasi? Inspirasi bisa didapat lewat dua cara: (1) Ditunggu saja (datangnya tiba-tiba), dan (2) dipancing. Jangan manjakan dirimu dengan hanya menunggu. "Bagaimana caranya memancing inspirasi?" Oh, banyak sekali cara yang bisa kamu lakukan untuk memancing datangnya ide tulisan. Observasi, baca buku, bermain lempar kata, dan lain-lain. "Bagaimana kalau kehabisan ide?" Saya katakan, mustahil kita kehabisan ide. Kamu hanya malas berpikir dan tidak peka. Ide selalu bertebaran di sekelilingmu. "Di tengah menulis kehilangan ide. Bagaimana?" Itu bukan kehilangan ide. Dugaan saya, kemungkinan kamu tak pernah membuat kerangka cerita/outline. "Sedang menulis sesuatu, tapi datang ide baru." Catat idemu dulu, lalu kembali fokus pada tulisan yang sedang dikerjakan. Jangan kabur dari naskah yang setengah selesai hanya demi ide baru. Terus berlari kepada ide baru yang tampak lebih menarik dengan meninggalkan naskah separuh jadi hanya menunjukkan ketidakmampuanmu menyelesaikan apa yang sudah kamu mulai.

Biasakan menulis. Kamu tak bisa mengharapkan naskah yang bagus, jika kamu hanya menulis sekali dalam seminggu, atau sekali dalam sebulan. Menulislah yang banyak. Kuantitas menuju kualitas. Seiring kamu semakin banyak menulis, koneksi otak ke jari-jarimu semakin baik. Ketika koneksi otak ke jari-jarimu semakin baik, mengeluarkan kata-kata untuk menjadi sebuah tulisan tak jadi sulit lagi.

Yang terpenting juga dalam menulis, pasang target/deadline. Mustahil kamu menyelesaikan novelmu dengan segera jika kamu tak memasang deadline untuk dirimu sendiri. Tidak memasang deadline membuatmu malas-malasan, dan kamu jadi mengulur-ulur waktu menulismu. Target dan deadline membuatmu bisa mengukur seberapa banyak yang harus kamu tulis setiap harinya. Memberimu tanggungjawab dan "keharusan". Misal: saya ingin menulis novel 100 halaman. saya pasang target 2 bulan (60 hari). Berarti, setiap harinya saya harus menulis minimal 2 halaman.

Bukan hal yang begitu berat, bukan?

Kira-kira begitulah, jawaban yang bisa saya berikan untuk beberapa pertanyaan yang paling sering muncul terkait menulis. Semoga mencerahkan. Dan yang terpenting, segeralah mulai menulis!


- Bara

25 komentar:

Anonim mengatakan...

bang bara..boleh gak kalau di lain waktu abang nunjukin cara bikin outline novel sekalian sama yang pernah abang bikin..trimks

Anonim mengatakan...

bang bara..boleh gak kalau di lain waktu abang nunjukin cara bikin outline novel sekalian sama CONTOH KERANGKA CERITA SAMA yang pernah abang bikin..trimks

Ismie Nurbarina mengatakan...

udah baca postngan yang ini di blognya kevin, bang. Tulis cerpen lagi bang,cerpeeeeen.

benz mengatakan...

Oke, lain kali saya bahas tentang outline ya. Terima kasih sudah mampir dan membaca. =)

benz mengatakan...

Ismie: Iyaa, sabar ya, ini lagi ditulis. XD

aku dan duniaku.. mengatakan...

sangat menginspirasi. terimakasih kak bara :)

Yuni Andriany mengatakan...

Makasih wejangannya baaaaangg =))

Fitriyani Rhey mengatakan...

Mas Bara, saya mau tanya kalo kita nulis novel fiksi yang ceritanya diangkat dari kisah nyata, apakah boleh kita menyebutkan nama-nama tempat dan instansi yang sebenarnya? (misalnya nama kantor/tempat makan/tempat tinggal) Ataukah hanya boleh disebutkan letak dan ciri-ciri dari tempat/instansi tersebut? Trims

benz mengatakan...

Fitriyani: Terserah kamu, Fitri. Yang jelas, tujuan kamu menulis fiksi adalah untuk membuat pembacamu percaya dengan apa yang kau tulis. Pembaca nggak perlu tahu apakah tulisanmu itu sebetulnya nyata atau betul-betul fiksi. Yang penting: kamu menulis fiksi.

joe gurning mengatakan...

Tersinggung saya dengan " jangan cepat kabur dari naskah demi ide baru"
Kejadian seperti ini sering saya lakukan
Hahahaha....
Thanks bara udah 'nampar' saya dengan kata2 itu :)

Fitriyani Rhey mengatakan...

Oh, jadi boleh ya? saya kira ada ketentuan dari pihak penerbit yang tidak membolehkan menggunakan nama-nama tempat/ instansi yang sebenarnya, takutnya ada yang tersinggung. Terima kasih jawabannya mas Bara. Saya juga minta izin memakai kicauan2 mas Bara di twitter untuk ditulis ditulisan saya. Boleh tidak?
Trims

benz mengatakan...

Fitriyani: Nantinya kan kamu akan berhubungan dengan editor pada penerbit, jika naskah kamu sudah tembus. Di sana akan ada komunikasi apakah penyebutan merk-merk tertentu diperkenankan atau tidak (ini terkait periklanan dan lain-lain, tak perlu dirisaukan betul, menulislah saja)

Asylia mengatakan...

Terima kasih kak bara untuk nasihatnya. :0

Fitriyani Rhey mengatakan...

Begitu ya, Terima kasih mas Bara...

Deadline Lomba mengatakan...

Terimakasih tipsnya bang. Salah satu kendala saya memang KURANG KONSISTEN.

muhammad iqbal mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Anonim mengatakan...

nah, bagimana cara membuat cerpen? dan apakah membuat sebuah cerpen berbeda dengan membuat sebuah novel?

Anisa Alif Azaria mengatakan...

Kak bara,saya bisa bikin cerpen,tapi saat menentukan judul,saya selalu nggak bisa bikin judul yang menarik gitu.Padahal kan judul penting banget buat menarik pembaca.Nah ini gimana caranya bikin judul yang menarik?

Terima kasih

Tri Sodik Setiyawan mengatakan...

good post :)

@anisa : kebalikan mah, kalo aku kadang malah gampang nentuin judul yg menarik. Tapi ceritanya yg (kadang) enggak -_- *ehcurcol

Anita Izza Putri'A mengatakan...

Bermanfaat, singkat, padat dan memotivasi. 11 point penting dalam menulis. Patut direalisasikan :)
Trim's bang Bara:)

Retna Wati mengatakan...

kak bara, kalo mau sharing tentang tulisan sama kakak bisa lewat email nggak kak?

Tri Mulyono mengatakan...

Halo, Mas Bara! Setelah baru beberapa bulan kenal tulisan-tulisannya, akhirnya saya milih cara seperti ini. Kenapa nggak dari dulu saja ya saya gunakan cara ini, padahal menulis cepat sudah dilakukan, pun ternyata butuh banyak bacaan juga. Terima kasih sudah membagi tips menulisnya. Semoga kelak nanti saya bisa menyusul. :)

kharis alimoerdhoni arief mengatakan...

Menulis itu prakara kebiasaan dan merubah watak pemalas. Saya baru suka menulis ketika mengenal facebook, hehehehe...

Makasi Bang Beben

orri fitraa mengatakan...

Bermanfaat sekali bang bara tapi sayang nya saya gak konsisten:(

enny luthfiani mengatakan...

sangat membantu. Terimakasih, Bara.