27 November 2013

Kepolosan Seks Murakami





Tujuan dari catatan ini adalah untuk menyampaikan hal berikut: kalau kau mau belajar menulis adegan seks yang menarik, belajarlah dari Haruki Murakami. Mengapa? Baiklah, saya akan coba jelaskan. Pertama, saya harus beri tahu dulu siapa itu Haruki Murakami. Bagi beberapa orang yang membaca literatur Jepang, Murakami tentunya bukan nama yang asing. Saya sendiri baru mengenal Murakami dari bukunya yang pertama saya beli di Periplus, berjudul Norwegian Wood. Buku tersebut telah diangkat ke layar lebar. Namun, buku pertama Murakami yang saya baca sekaligus membuat saya jatuh cinta dan tertarik dengan cara menulis Murakami bukanlah Norwegian Wood, melainkan Dengarlah Nyanyian Angin (terjemahan Indonesia dari Kaze No Uta O Kike). Novel tipis tersebut adalah buku pertama yang saya beri skor sempurna di Goodreads, 5 dari 5 bintang.

Pada awalnya, seks bukanlah bagian yang menjadi perhatian saya ketika membaca Dengarlah Nyanyian Angin. Seperti pembaca Murakami yang lain, saya mengagumi kemampuannya “melantur dengan tertata” dalam plot yang nyaris tak pernah terbaca. Namun setelah membaca Norwegian Wood dan beberapa cerpen Murakami di kemudian hari dan membaca ulang Dengarlah Nyanyian Angin, barulah saya sadar bahwa seks atau erotisme adalah salah satu poin penting pada cerita-cerita Murakami.

Murakami menampilkan adegan-adegan seks dengan nuansa dan “intonasi” yang datar sehingga membuatnya menjadi lugu, polos, sekaligus menggemaskan. Tak hanya menggemaskan, Murakami juga terkadang menyebalkan. Kebiasaannya melantur tak terkecuali terhadap adegan-adegan seks yang dia tulis. Murakami senang membelokkan ekspektasi. Seperti di salah satu adegan di Norwegian Wood, saat Toru Watanabe berduaan dengan Naoko di pinggir bukit (saya tak ingat persis setting tepatnya) saya mengira mereka akan having sex, eh ternyata Toru Watanabe hanya dibantu masturbasi oleh Naoko.

Anehnya, meski adegan-adegan seks Murakami ditulis dengan begitu polos dan datar, saat membacanya saya tetap terasa terstimulan, bahkan lebih terangsang dibandingkan saat saya membaca buletin-buletin stensilan atau cerita-cerita dewasa di internet.

Tokoh-tokoh dalam fiksi Murakami yang terlibat adegan seks, meski sebetulnya mungkin adalah orang-orang yang berpengalaman dalam seks, mereka tetap muncul sebagai karakter yang tampak kagok, gugup. Tokoh laki-laki nyaris selalu bersikap seolah-olah mereka tak pernah mengenal seks, sementara tokoh perempuan menjadi sosok yang lebih berpengalama, agresif, dan “liar”. Naoko bermain imajinasi bersama Reiko menjadi sepasang lesbian. Midori meminta Toru Watanabe untuk masturbasi sambil membayangkan dirinya. Juga perempuan tukang kunci di cerpen Samsa In Love yang memiliki pengetahuan lebih banyak tentang organ genital ketimbang pihak laki-laki yang lebih pasif, polos, dan menunggu dengan segala keluguannya, terlihat lebih submissive, manutan. Toru Watanabe di Norwegian Wood, beberapa kali hanya memberikan reaksi terhadap “pancingan-pancingan” Midori dan bukan sebagai pihak yang memulai. Tokoh “Aku” dalam Dengarlah Nyanyian Angin masih tampak malu-malu dan mudah tersipu saat berdekatan dengan gadis penjual piringan hitam, padahal sebelumnya dia telah tidur dengan tiga orang perempuan yang berbeda. Gregor Samsa pada cerpen Samsa In Love tak memahami mengapa dia bisa mengalami ereksi.

Dunia fiksi Murakami dibangun dari hal-hal yg kecil dan sederhana. Perihal sehari-hari yang dialami oleh setiap orang, namun kerap tak diperhatikan atau tak dianggap cukup istimewa untuk diperhatikan. Namun, dalam "kesepelean" hal-hal yang diangkat Murakami yang dibungkus dengan humor dan adegan yang komikal atau erotisme yang muncul dalam cerita-ceritanya, sebetulnya ada sesuatu yang teramat dalam. Semisal pandangan atau filosofi hidup. Seperti tampak pada cerpen Samsa In Love (The New Yorker, 28 Oktober 2013) berikut ini:

“It’s strange, isn’t it?” the woman said in a pensive voice. “Everyting is blowing up around us, but there are still those who care about a broken lock, and others are dutiful enough to try to fix it. But maybe that’s the way it should be. Maybe working on the little things as dutifully and honestly as we can is how we stay sane when the world is falling apart.”

Ketika kau membaca cerita-cerita Murakami, kau akan memandang seks dari perspektif yang berbeda. Perspektif milik Murakami. Cara Murakami mendeskripsikan adegan-adegan erotis dalam fiksinya membuat kau berpikir dan memahami bahwa ada kemungkinan dan peluang untuk menjelaskan sesuatu yang lebih dalam dan berarti lewat seks. Seks dalam fiksi Murakami bukanlah adegan seks yang terjadi dengan heboh, ah uh ah uh oh yeah begitu. Melainkan "seks yang lugu". Seks, hanyalah medium yang digunakan Murakami untuk menyampaikan sebuah gagasan atau filosofi yang lebih dalam.” Sehingga, pada fiksi Murakami terjadi hal sebagaimana demikian: Sex is not the answer. Sex is only a way to look for an answer. Seks tidak menjadi inti dan maksud dari cerita-cerita Murakami, dan bukan menjadi poin penting. Keluguan dalam seksnya itulah yang musti diperhatikan (dan tentunya dinikmati). Cara Murakami mendeskripsikan adegan seks atau erotisme lah yang membuatnya istimewa dan terkadang lucu dan menghibur. Mari lihat lagi penggalan cerpen Samsa In Love dimana tokoh utamanya, Gregor Samsa, mengalami ereksi saat melihat perempuan tukang kunci yang sedang memperbaiki grendel pintu kamarnya:

Samsa decided to take the bull by the horns. “Would it be possible to meet again?” he said.

The young woman craned her head at Samsa. “Are you saying you want to see me again?”

“Yes. I want to see you one more time.”

“With your thing sticking like that?”

Samsa looked down again at the bulge. “I don’t know how to explain it, but that has nothing to do with my feelings. It must be some kind of heart problem.”

“Kepolosan seks" Murakami yang seringnya dituturkan secara komikal seringkali membuat saya cekikikan. Meski demikian, adegan-adegan erotisnya tetap membuat saya gelisah dan berimajinasi dan tentunya tak ayal ikut membayangkan visual pergerakan setiap tokoh-tokoh yang terlibat. Dan yang membuat saya semakin menyukai Murakami adalah, setelah membuka “bungkus” erotisme yang ringan dan lucu dan menghibur itu, saya menemukan sesuatu yang lebih dalam dan membuat saya merenung lama bahkan setelah saya selesai membaca ceritanya.

***

4 komentar:

arievrahman mengatakan...

Pengin baca Murakami tapi masih banyak buku yang belum selesai dibaca. Duh.

benz mengatakan...

Ariev: Ayo baca ayo. Pasti ketagihan kalau udah ngelarin baca satu cerita Murakami. : ))

meinisa primacitra mengatakan...

ada terjemahan indonesianya ga ya?

amira mengatakan...

Ada kok yg norwegian wood sm 1Q84 di gramedia :)