Langsung ke konten utama

Mengenal Bara: Sebuah Wawancara dengan Bukune


Mengenal Bara, Penulis yang Produktif
Menghasilkan Karya
Sebuah Wawancara dengan Bukune




Hal itu pun dapat kamu lihat dari karya terbaru Bara berjudul Cinta. (Bukune, 2013). Novel yang bercerita tentang kisah perselingkuhan ini memang cukup mempermainkan perasaan saat membacanya. Lantas, apa sih alasan Bara membuat karya bertema cinta?
Berdasarkan obrolan santai Bukune via e-mail, menurut cowok kelahiran Pontianak, 24 tahun silam ini, cerita bertema cinta relatif lebih mudah untuk ditulis ketimbang genre lainnya. Tidak hanya itu, menurutnya, cerita bertema cinta memiliki pembaca dari berbagai segmen dan cinta selalu menarik untuk dibicarakan.
Cinta. (baca: cinta dengan titik)
Seperti ditulis sebelumnya, Cinta. mengisahkan tentang perselingkuhan dengan tokoh utamanya adalah seorang perempuan yang terjebak dalam hubungan orang lain dan ia menjadi pihak ketiga.
Ide menulis Cinta. itu sendiri diakui Bara didapat dari curhatan teman perempuannya. Dari penuturan temannya itulah, Bara kemudian tertarik untuk menuliskan kisahnya.
“Di sini, aku mencoba untuk memberi gambaran yang lebih lengkap dan luas tentang sebuah kisah perselingkuhan. Aku menceritakan perselingkuhan dari berbagai sudut: si pelaku perselingkuhan, pihak yang diselingkuhi, dan si selingkuhan itu sendiri. Tujuannya adalah untuk membuat orang-orang tidak buru-buru menghakimi orang lain, melainkan introspeksi dulu dan menyadari kesalahan diri sendiri,” kata cowok kelahiran 9 Juli 1989 ini.
Tantangan menulis Cinta.
Meski merupakan buku kelimanya, saat menulis Cinta. Bara mengaku senang karena telah berhasil menjawab tantangannya sendiri.
“Tantangannya menulis novel yang lebih tebal dari sebelumnya, dan menulis dengan menggunakan tokoh utama seorang perempuan. Keduanya belum pernah kulakukan. Dan telah kulakukan di buku Cinta. ini. Namun, tentu saja masih banyak kekurangan di sana sini, yang akan kuperbaiki dengan menulis karya berikutnya,” ungkapnya.


Proses kreatif penulisan Cinta. & segala kesulitannya
“Tak ada yang istimewa dari proses penulisan Cinta.,” kata Bara. Namun, untuk mendapatkan hasil yang maksimal mengenai perselingkuhan, Bara melakukan wawancara terhadap teman-teman sekitarnya yang pernah mengalami perselingkuhan.
“Sesekali juga, aku melempar pertanyaan ke Twitter lewat akunku: @benzbara_. Setelah bahan terkumpul, aku memulai menulis outline, lalu menulis draf pertama. Kira-kira tiga minggu, draf pertamaku selesai. Kemudian aku kirim ke penerbit, lalu masuklah proses penyuntingan,” ungkapnya.
Tidak hanya itu, selama menulis Cinta. Bara mengaku tidak menemukan kesulitan yang sangat berarti. Menurutnya, kalaupun ada hanya sebatas pada bagaimana ia berpikir layaknya perempuan dan mencari tahu bagaimana perempuan bereaksi terhadap masalah perselingkuhan.
Penulis yang produktif menghasilkan karya
Bara merupakan salah satu penulis yang produktif menghasilkan karya. Terbukti, sudah belasan karya yang ia bukukan selama rentang waktu 2007—2013, tiga di antaranya di Bukune, yaitu Kata Hati, antalogi Cerita Hati, dan Cinta.. Kira-kira, apa ya yang membuat Bara produktif menghasilkan karya?
“Aku percaya bahwa kuantitas akan membawa kepada kualitas. Menulis adalah sebuah keterampilan, dan untuk menjadi terampil kamu harus rajin berlatih. Aku berusaha untuk produktif adalah usahaku untuk mengasah kemampuanku menulis dan membuatku lebih terampil dalam menulis,” katanya.
“Di samping itu, aku merasa di kepalaku banyak sekali hal yang ingin aku tulis. Dan mereka telah menunggu, mengantre, untuk aku tuliskan. Aku juga memiliki target pribadi. Sebelum aku meninggal, aku ingin menulis paling sedikit 40 novel,” ungkapnya menambahkan.
Bara & writer’s block
Sudah sewajarnya jika penulis pernah mengalami writer’s block. Hal itu pun bisa terjadi pada Bara, khususnya saat ia sedang dalam keadaan lelah—baik secara fisik ataupun psikologis.
Jika sudah begitu, apa yang akan Bara lakukan untuk membuat mood-nya dalam menulis tetap terjaga?
“Yang aku lakukan jika mengalami kedua hal itu adalah beristirahat atau mencari hiburan lain selain menulis. Kalau kehabisan ide untuk menulis, biasanya aku membaca buku-buku. Setelah itu, aku akan mendapat ide lagi untuk menulis. Dan aku akan melanjutkan tulisanku,” katanya.

Tip dari Bara tentang penulisan
Di akhir perbincangan Bukune bersama Bara, ia memberikan sedikit tip bagi kamu yang ingin menjadi penulis.
“Pertama, yakinkan dirimu bahwa kamu memang mau berjalan di jalan ini. Menulis. Karena, kukatakan dengan tegas kepadamu, ini jalan yang tidak mudah dan sama sekali bukan sesuatu yang bisa diraih dengan instan. Kamu akan kelelahan. Berdarah-darah. Kehabisan tenaga. Tersandung kerikil di sana sini. Tapi, kalau kamu memang telah yakin, maka kamu akan menjalaninya dengan senang hati dan sungguh-sungguh.”
“Kedua, tekun. Menulis bagus tak bisa dilakukan dalam waktu yang sebentar. Semuanya butuh latihan dan proses. Bersabarlah dan terus belajar. Terakhir, jangan pernah menyerah. Kalau orang lain bilang tulisanmu jelek, jangan menyerah dan teruslah menulis hingga tulisanmu bagus. Kalau kamu mudah menyerah, kusarankan kepadamu lebih baik mengganti hobi dengan memelihara ikan atau burung. Jangan menulis,” katanya sambil menutup perbincangan ini. ***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Cerpen] Senja di Jembrana

Senja di Jembrana Menunggu adalah perkara melebarkan kesabaran dan berhadap-hadapan dengan risiko ketidakhadiran. Itu yang dikatakan oleh ibu sehari sebelum dia meninggal. Saat itu, saya tidak tahu ia sedang berbicara tentang ayah yang pergi meninggalkan kami dan tidak pernah kembali lagi. Namun sekarang saya paham semuanya. Terutama karena saya mengalami sendiri perasaan yang dulu ibu alami.

[ manuskrip ] sarif & nur

Nyaris setahun yang lalu, editor saya di penerbit Bukune (sekarang ia sudah pindah ke penerbit GagasMedia, masih satu kelompok penerbit), Widyawati Oktavia mengirimi saya surel yang isinya tentang ajakan untuk sebuah proyek novel. Nama proyek tersebut adalah “Love Cycle”. Konsepnya sederhana: Enam penulis membuat novel yang jika disusun maka akan menjadi urut-urutan konflik yang biasanya dialami dalam sebuah relationship. Saya mendapat urutan di tengah, yang artinya saya diminta menulis novel tentang konflik pada saat relationship itu sedang dibangun alias masa-masa pacaran. Dalam hati saya protes. Pasalnya, pada saat itu saya sedang single . Proyek ini sebetulnya adalah proyek kedua yang ditawarkan Iwied (panggilan akrab Widyawati Oktavia) kepada saya. Dengan berbagai alasan, proyek pertama gagal saya kerjakan. Di proyek “Love Cycle” ini, saya bertekad untuk tidak mengulangi hal serupa. Maka, saya mulai menulis. Tahap pertama adalah melaksanakan riset. Saya sempat mela

surat untuk ruth

                                            Ubud,  6 Oktober 2012 Ruth, Satu hal yang ingin kutanyakan kepadamu sejak lama, bagaimana mungkin kita saling jatuh cinta, namun ditakdirkan untuk tidak bersama? Aku dan kamu tidak bisa memaksa agar kebahagiaan berlangsung selama yang kita inginkan. Jika waktunya telah usai dan perpisahan ini harus terjadi, apa yang bisa kita lakukan? Masihkah ada waktu untuk kita bersama, Ruth? JIka memang kamu harus pergi, berilah aku waktu sedikit lebih panjang untuk menikmati saat-saat terakhir bersamamu. Meski tidak lama, hanya sebentar, seperti senja yang senantiasa kamu lukis, atau seperti ciuman pertama kita yang ragu-ragu. Berilah aku waktu sedikit lebih panjang untuk memelukmu, karena aku belum mengungkapkan seluruhnya yang ingin kukatakan kepadamu. Ironis, Ruth. Kamu berkata “Aku sayang kamu” tepat pada saat kamu harus meninggalkanku.