25 November 2013

Personal Branding dan Social Media? Apa Itu?



Berbagi Pengalaman Bersama Duta IM3
dalam “Kelas Gratis Duta IM3"


Saya katakan kepadamu, seperti yang mungkin sudah kamu tahu, bahwa ini adalah era digital. Zaman internet. Masa di mana semua orang terkoneksi lewat jaringan di dunia maya. Dan untuk menjadi manusia yang baik, maka kamu harus mampu melihat manfaat dari segala sesuatu, termasuk fase seperti saat ini, saat social media telah merambah ke dalam sudut kehidupan seseorang hingga yang paling pribadi.

Di era social media, menjual barang dan jasa sudah tak lagi menjadi tren. Sekarang adalah masanya menjual diri. Saya katakan menjual diri bukan berarti menjual tubuh, melainkan menjual imej. Pencitraan, bahasa mudahnya. Beberapa orang menganggap pencitraan adalah hal yang buruk. Tidak termasuk saya. Saya adalah orang yang mengira pencitraan merupakan salah satu hal yang penting dilakukan jika ingin sukses di zaman internet ini.

Pencitraan seperti apakah yang saya maksud? Para pakar komunikasi menyebutnya dengan istilah personal branding. Apa itu personal branding? Saya mengartikannya sebagai berikut: yakni sebagai apa kamu ingin dilihat oleh orang lain.

Kamu mungkin memiliki banyak bakat: menyanyi, bermain gitar, menulis, berjualan, dan lain sebagainya. Tapi sebagai apakah kamu ingin dikenal oleh orang lain? Bagaimana kamu ingin orang lain mengingat kamu? Inilah yang disebut dengan personal branding.

Saya mendapatkan kesempatan untuk berbagi pengalaman seputar aktivitas di social media dan membangun personal branding lewat social media bersama teman-teman Duta IM3 dalam sebuah acara bertajuk “Kelas Gratis Duta IM3”. Oleh IM3, saya diajak jalan-jalan ke empat kota untuk bicara tentang hal tersebut: Tanggal 3 November di Lampung, 10 November di Balikpapan, 17 November di Pekanbaru, dan terakhir 24 November di Makassar.




-- Lampung 

Pengalaman yang menyenangkan ketika saya berhadapan dengan sekelompok anak muda yang cerdas dan aktif. Di Lampung, saya bicara di depan setidaknya 50 pemuda dan pemudi yang berasal dari beberapa daerah di Sumatera Selatan. Saya menangkap semangat mereka yang bagus sebab meski acara baru dimulai pukul 9 pagi, mereka sudah berada di sana satu jam sebelumnya.

Acara di Lampung dimeriahkan dengan penampilan dari kelompok fans JKT48. Katanya, nama penampilan mereka adalah dance cover. Saya terhibur dengan satu grup gadis lucu menari dengan gerakan-gerakan yang juga lucu.



-- Balikpapan

Kota kedua yang saya kunjungi untuk bicara soal personal branding lewat social media adalah Balikpapan. Ini kali pertama saya ke Balikpapan. Meski saya lahir di sebuah kota yang juga berada di dalam pulau Kalimantan, yakni Pontianak, namun saya belum pernah menyambangi kota-kota lain di Kalimantan seperti Balikpapan, Palangkaraya, Banjarmasin, ataupun Samarinda.

Saya takjub melihat betapa tertata dan bersihnya kota Balikpapan. Jalan-jalan utama yang ukurannya relatif tidak lebar dan sebetulnya ditelusuri oleh cukup banyak kendaraan, motor maupun mobil, tidak membuatnya menjadi macet. Trotoar-trotoar betul-betul digunakan untuk pejalan kaki, bukan motor yang menyeleweng. Sejauh mata memandang, tak ada saya lihat pedagang kaki lima yang membuka lapak di trotoar yang bersih. Pohon-pohon tumbuh di sepanjang jalan raya, pada pembatas dua ruas jalan dan di sisi kanan dan kiri jalan, membuatnya terasa asri dan nyaman. Belakangan, saya baru tahu bahwa Balikpapan adalah kota yang beberapa kali mendapatkan anugerah Adipura dari pemerintah. Pantas saja.

Satu hal yang membuat saya lebih bahagia lagi menginjakkan kaki di Balikpapan adalah, saya dapat melihat laut dari tengah kota. Waw. Pantai terletak tak jauh dari kota. Hanya sepuluh sampai lima belas menit naik taksi, maka sampailah saya di sebuah pantai yang posisinya sangat pas untuk melihat pemandangan matahari terbenam.

Esok paginya, saya berangkat ke kantor Indosat Balikpapan. Di sana sudah duduk dengan rapi dan manis para Duta IM3 dari Balikpapan dan Samarinda. Acara dibuka dengan pemutaran video tentang social media. Sekitar tiga puluh menit setelahnya, barulah giliran saya untuk bicara.

Para Duta IM3 di Balikpapan tampak menyimak apa yang saya tuturkan. Mereka pun tampak antusias dan responsif menjawab ketika pada waktu-waktu tertentu saya melemparkan pertanyaan-pertanyaan ringan terkait social media. Beberapa dari mereka sempat tertawa dan mesam-mesem ketika saya berkata bahwa banyak yang menggunakan Twitter untuk stalking mantan atau gebetannya.



Usai acara, kami beranjak dari kantor Indosat dan makan siang di sebuah rumah makan yang katanya cukup tenar di Balikpapan, namanya “Dandito”. Kata seorang teman yang bergabung bersama kami pada siang itu, belum sah datang ke Balikpapan kalau belum menyantap menu kepiting. Wah, kebetulan sudah lama sekali saya tidak makan kepiting. Akhirnya kami memesan dua jenis menu kepiting: ‘kepiting betina lada hitam’ dan ‘kepiting raja saos a la Dandito’. Jangan tanyakan rasanya. Muaknyus!


-- Pekanbaru

Setelah bertandang ke Lampung dan Balikpapan untuk bicara soal personal branding through social media, saya dan tim IM3 berkunjung ke Pekanbaru. Kota yang panasnya hampir seperti Pontianak ini (walaupun masih lebih panas Pontianak) membuat saya kagum dengan pemandangannya dari atas, saat saya masih berada di dalam pesawat. Sejauh mata memandang yang saya temukan adalah lanskap perkebunan. Kebanyakan kebun sawit.

Beberapa teman memberi saran kepada saya untuk makan durian saat saya di Pekanbaru. Sayangnya, saya tidak terlalu gemar durian. Saya makan durian, namun hanya sedikit.

Bermalam minggu di Pekanbaru, saya diajak oleh seorang sahabat yang kebetulan tinggal di sana berjalan-jalan menyusuri badan kota. “Wisata di sini adalah wisata jalan raya,” kata sahabat saya itu. Saya baru mengerti maksud dari perkataannya ketika di beberapa titik saya melihat pedagang kaki lama berjejeran di sisi jalan raya. “Di sini lah tempat muda-mudi Pekanbaru menghabiskan waktunya di malam Minggu”, lanjutnya.

Keesokan paginya, saya bicara di depan para Duta IM3 Pekanbaru. Seperti yang saya duga, kebanyakan dari mereka masih menggunakan social media sebagai sarana untuk curhat atau hal-hal lain yang kurang penting. Pada kesempatan inilah saya harus memberi mereka pencerahan, bahwa Twitter, Facebook, blog, Instagram, dan social media channel lain dapat digunakan untuk memperoleh hal-hal yang lebih besar.





-- Makassar

Kota terakhir #KelasGratisDutaIM3 yang saya kunjungi adalah Makassar. Ini kedua kalinya saya bertandang ke kota yang salah satu makanan khasnya adalah konro bakar karebosi ini. Pada bulan Juli lalu, saya ke Makassar untuk mengikuti Makassar International Writers Festival 2013. Tak banyak yang berubah sejak terakhir kali saya main-main ke Makassar. Masih tetap panas. Masih tetap memberikan rasa rindu pada pallu basa.

Satu hal yang berbeda dari kota-kota sebelumnya adalah para peserta #KelasGratisDutaIM3 di Makassar tampak lebih serius. Setelah saya menyampaikan materi tentang membangun personal branding lewat social media, sesi tanya-jawab dibuka dan pertanyaan-pertanyaan pun meluncur dengan deras.




Demikianlah pengalaman saya selama satu bulan penuh berkunjung ke empat kota di Indonesia untuk berbagi seputar aktivitas social media, dengan harapan pemuda dan pemudi yang sehari-harinya tak lagi bisa dipisahkan dari internet dapat menggunakan social media sebagai sarana yang memberikan manfaat bagi diri mereka sendiri.

Terima kasih IM3 dan para Duta IM3. Happy tweeting!







***

Tidak ada komentar: