Langsung ke konten utama

Telah Terbit "Angsa-Angsa Ketapang"

Buku puisi Bernard Batubara, Angsa-Angsa Ketapang, telah terbit.

Silakan pre-order di (klik tautan): Indie Book Corner  atau via akun Twitter @indiebookcorner. Harga Rp. 50.000 (belum ongkos kirim) | Pre-order dibuka tanggal 7-15 November. Angsa-Angsa Ketapang tidak tersedia di toko buku, Hanya bisa dipesan dan dibeli online. Selamat berburu, karena tidak dicetak banyak, sangat terbatas. :)






aku tak bisa membayangkan diriku, adik perempuanku, dan adik lelakiku sebagai tiga ekor angsa yang hidup di rumah kami, karena kami tak membagi dada kami untuk dijadikan sebaskom kecil nasi sisa dan kami lahap bersama, kami tak berjalan subuh hari menembus pagar rumah yang rusak, mencari sekawanan embun berkilau yang beterbangan setiap sehelai daun ketapang jatuh dari rantingnya, kami tak pernah melompat menceburkan diri ke kolam ikan dan berseru kegirangan, mengibas-ngibaskan sayap di dalam air berwarna kuning, berharap sekawanan ikan kecil berenang mendekat, kami bukan tiga ekor angsa yang tahu kapan harus pulang kembali ke kandang, kandang kecil tempat seharusnya kami tidur bersama, dan aku tak bisa membayangkan diriku sebagai angsa tertua yang melebarkan sayapnya, memeluk dua ekor angsa lain, meski seluruh daun di pohon ketapang yang lahir di rumah kami berguguran dan tak akan pernah tumbuh lagi.

tapi angsa paling bungsu sudah terlanjur tidur pulas sekali, ia tersenyum, sayapku tak ada di sana. 

—Sajak "Angsa-Angsa Ketapang"


* * *


“Musik, mitos, mimpi, dan memori. Pernahkah Anda membayangkan seorang fotografer memotret hal- hal itu? Itulah yang dilakukan Bernard Batubara. Dia menunjukkan kepada kita bahwa puisi-puisinya yang kuat dalam ‘Angsa-Angsa Ketapang’ adalah foto- foto yang dia dapatkan dari memotret keempat hal tersebut.”

M. Aan Mansyur, Penyair—Makassar.

“Menyaksikan pertumbuhan penyair Bernard Batubara di medium internet membuat saya bertanya mengapa di antara ribuan penulis blog yang menulis sajak setiap hari hanya ada sedikit saja yang bersungguh- sungguh menggelutinya sebagai sebuah penempuhan laku pendewasaan batin. Penyair Bernard Batubara menunjukkan kesungguhannya sebagai seorang penempuh. Ia belajar dari banyak sumber, minum dari banyak sumur, guna mencari tubuh dan jiwa sajak-sajaknya sendiri. Sebuah pencarian yang takkan singkat, tetapi tampaknya Bernard telah menetapkan niatnya lewat album Angsa-angsa Ketapang ini.“

TS Pinang, Penyair—Yogyakarta. 


Komentar

Anonim mengatakan…
Malem gini liat new post blog nya bara jadi pingin di bacain puisi... Aaaakkk

Postingan populer dari blog ini

[Cerpen] Senja di Jembrana

Senja di Jembrana Menunggu adalah perkara melebarkan kesabaran dan berhadap-hadapan dengan risiko ketidakhadiran. Itu yang dikatakan oleh ibu sehari sebelum dia meninggal. Saat itu, saya tidak tahu ia sedang berbicara tentang ayah yang pergi meninggalkan kami dan tidak pernah kembali lagi. Namun sekarang saya paham semuanya. Terutama karena saya mengalami sendiri perasaan yang dulu ibu alami.

[ manuskrip ] sarif & nur

Nyaris setahun yang lalu, editor saya di penerbit Bukune (sekarang ia sudah pindah ke penerbit GagasMedia, masih satu kelompok penerbit), Widyawati Oktavia mengirimi saya surel yang isinya tentang ajakan untuk sebuah proyek novel. Nama proyek tersebut adalah “Love Cycle”. Konsepnya sederhana: Enam penulis membuat novel yang jika disusun maka akan menjadi urut-urutan konflik yang biasanya dialami dalam sebuah relationship. Saya mendapat urutan di tengah, yang artinya saya diminta menulis novel tentang konflik pada saat relationship itu sedang dibangun alias masa-masa pacaran. Dalam hati saya protes. Pasalnya, pada saat itu saya sedang single . Proyek ini sebetulnya adalah proyek kedua yang ditawarkan Iwied (panggilan akrab Widyawati Oktavia) kepada saya. Dengan berbagai alasan, proyek pertama gagal saya kerjakan. Di proyek “Love Cycle” ini, saya bertekad untuk tidak mengulangi hal serupa. Maka, saya mulai menulis. Tahap pertama adalah melaksanakan riset. Saya sempat mela

surat untuk ruth

                                            Ubud,  6 Oktober 2012 Ruth, Satu hal yang ingin kutanyakan kepadamu sejak lama, bagaimana mungkin kita saling jatuh cinta, namun ditakdirkan untuk tidak bersama? Aku dan kamu tidak bisa memaksa agar kebahagiaan berlangsung selama yang kita inginkan. Jika waktunya telah usai dan perpisahan ini harus terjadi, apa yang bisa kita lakukan? Masihkah ada waktu untuk kita bersama, Ruth? JIka memang kamu harus pergi, berilah aku waktu sedikit lebih panjang untuk menikmati saat-saat terakhir bersamamu. Meski tidak lama, hanya sebentar, seperti senja yang senantiasa kamu lukis, atau seperti ciuman pertama kita yang ragu-ragu. Berilah aku waktu sedikit lebih panjang untuk memelukmu, karena aku belum mengungkapkan seluruhnya yang ingin kukatakan kepadamu. Ironis, Ruth. Kamu berkata “Aku sayang kamu” tepat pada saat kamu harus meninggalkanku.