7 November 2013

Telah Terbit "Angsa-Angsa Ketapang"

Buku puisi Bernard Batubara, Angsa-Angsa Ketapang, telah terbit.

Silakan pre-order di (klik tautan): Indie Book Corner  atau via akun Twitter @indiebookcorner. Harga Rp. 50.000 (belum ongkos kirim) | Pre-order dibuka tanggal 7-15 November. Angsa-Angsa Ketapang tidak tersedia di toko buku, Hanya bisa dipesan dan dibeli online. Selamat berburu, karena tidak dicetak banyak, sangat terbatas. :)






aku tak bisa membayangkan diriku, adik perempuanku, dan adik lelakiku sebagai tiga ekor angsa yang hidup di rumah kami, karena kami tak membagi dada kami untuk dijadikan sebaskom kecil nasi sisa dan kami lahap bersama, kami tak berjalan subuh hari menembus pagar rumah yang rusak, mencari sekawanan embun berkilau yang beterbangan setiap sehelai daun ketapang jatuh dari rantingnya, kami tak pernah melompat menceburkan diri ke kolam ikan dan berseru kegirangan, mengibas-ngibaskan sayap di dalam air berwarna kuning, berharap sekawanan ikan kecil berenang mendekat, kami bukan tiga ekor angsa yang tahu kapan harus pulang kembali ke kandang, kandang kecil tempat seharusnya kami tidur bersama, dan aku tak bisa membayangkan diriku sebagai angsa tertua yang melebarkan sayapnya, memeluk dua ekor angsa lain, meski seluruh daun di pohon ketapang yang lahir di rumah kami berguguran dan tak akan pernah tumbuh lagi.

tapi angsa paling bungsu sudah terlanjur tidur pulas sekali, ia tersenyum, sayapku tak ada di sana. 

—Sajak "Angsa-Angsa Ketapang"


* * *


“Musik, mitos, mimpi, dan memori. Pernahkah Anda membayangkan seorang fotografer memotret hal- hal itu? Itulah yang dilakukan Bernard Batubara. Dia menunjukkan kepada kita bahwa puisi-puisinya yang kuat dalam ‘Angsa-Angsa Ketapang’ adalah foto- foto yang dia dapatkan dari memotret keempat hal tersebut.”

M. Aan Mansyur, Penyair—Makassar.

“Menyaksikan pertumbuhan penyair Bernard Batubara di medium internet membuat saya bertanya mengapa di antara ribuan penulis blog yang menulis sajak setiap hari hanya ada sedikit saja yang bersungguh- sungguh menggelutinya sebagai sebuah penempuhan laku pendewasaan batin. Penyair Bernard Batubara menunjukkan kesungguhannya sebagai seorang penempuh. Ia belajar dari banyak sumber, minum dari banyak sumur, guna mencari tubuh dan jiwa sajak-sajaknya sendiri. Sebuah pencarian yang takkan singkat, tetapi tampaknya Bernard telah menetapkan niatnya lewat album Angsa-angsa Ketapang ini.“

TS Pinang, Penyair—Yogyakarta. 


1 komentar:

Anonim mengatakan...

Malem gini liat new post blog nya bara jadi pingin di bacain puisi... Aaaakkk