28 November 2013

What I Talk About When I Talk About Buying Books




Sebelumnya, saya sering bertanya kepada diri sendiri atau kepada teman saya, “Mengapa sih perempuan suka membeli pakaian atau sepatu atau tas padahal mereka sudah punya banyak?” Setiap melihat benda-benda itu, mereka seakan-akan lupa baru saja membeli sepatu atau tas dua hari yang lalu. “Abisnya sayaaang, kan lucu!” Nah, kira-kira begitu alasannya. “Abisnya sayang” dan “…kan lucu!”

Waktu mendengar alasan tersebut saya semakin mengernyitkan dahi. Sesepele itukah? Mengeluarkan uang untuk hal yang sebetulnya belum begitu perlu hanya untuk alasan “kan lucu!”? Tapi, setelah saya melihat ke diri saya sendiri, saya melontarkan pertanyaan yang sama: Mengapa saya membeli buku, padahal saya sudah punya banyak? Lebih parah lagi, mengapa saya terus membeli buku padahal banyak dari buku-buku yang sudah saya beli itu belum saya baca?



Saya katakan kepadamu, bahwa saya adalah orang yang impulsif untuk dua hal: membeli buku dan menonton film di bioskop. Waktu masih kuliah dan menggantungkan hidup pada suntikan dana dari orang tua, saya tak bisa begitu leluasa untuk menyalurkan sifat impulsif saya itu. Namun sekarang, alhamdulillah ketika sudah bisa punya uang sendiri, penyakit impulsif saya untuk dua hal itu seakan tak bisa lagi dibendung. Setiap ada film baru di bioskop saya hampir pasti langsung menonton (tidak semua film sih, hanya yang terlihat menarik saja). Setiap melihat buku yang menarik, saya langsung membungkusnya tanpa pikir panjang. Semacam balas dendam atas kesulitan saya membeli buku di masa lalu. Pernah saya ke toko buku dan mengambil 25 buku sekaligus tanpa saya tahu kapan saya akan membaca buku-buku tersebut. Terakhir saya beli 39 buku dari sebuah toko buku impor bekas dan menghabiskan tak kurang dari 2 juta rupiah untuk itu.

Tapi pada catatan ini saya tidak akan membahas sifat impulsif saya tersebut dan menjawab pertanyaan atas sifat impulsif itu (kita akan bahas ini pada kesempatan yang lain). Saya ingin bercerita tentang alasan-alasan saya membeli buku. Lebih tepatnya, hal-hal apa saja yang membuat saya memutuskan untuk membeli sebuah buku. Beberapa orang membeli buku karena sudah mengenal kualitas pengarangnya, beberapa yang lain karena mutu penerbitnya. Ada juga yang membeli buku karena rekomendasi teman, dan ada pula yang membeli buku karena sampulnya menarik.

Alasan-alasan saya pun tak jauh dari sana. Untuk lebih rinci, silakan dilihat di bawah ini. “Karena-karena” apa saja saya membeli sebuah buku:

1.     Karena Rekomendasi

Saya menduga bahwa kau sering mendengar saran-saran seperti ini: “Eh, coba deh baca buku ini, bagus lho!” Dengan atau tanpa penjelasan lebih lengkap tentang mengapa buku tersebut dianggap bagus menurut si pemberi rekomendasi. Saya pun sering mendapat saran seperti itu. Beberapa memberikan penjelasan yang cukup bisa diterima. Sisanya hanya bilang: “Udah, beli aja. Bagus kok!” Untuk alasan karena rekomendasi ini, biasanya saya hanya percaya pada rekomendasi orang-orang yang saya percayai “mutu bacaannya”. Di antara mereka adalah editor saya sendiri (atau editor lain, saya percaya mereka karena mereka punya pengalaman membaca buku yang panjang, maksudnya bacaannya banyak) dan pengarang kesukaan saya. Untuk rekomendasi dari selain dua orang itu, saya menuruti feeling saja. Kalau feeling mengatakan tak ada salahnya mencoba rekomendasi mereka, saya akan beli. Kalau feeling saya mengatakan tidak, ya tidak (maklum, saya Cancer).


2.     Karena Sering Disebut

Ini agak terkait dengan alasan yang pertama. Saya sering berkunjung ke blog para pengarang kesukaan saya (terima kasih teknologi dan terima kasih kepada pengarang-pengarang favorit saya yang memiliki blog dan aktif di sana) untuk “mencuri” sumber pengetahuan mereka, alias mencari tahu apa saja buku-buku yang mereka baca. Beberapa pengarang dengan senang hati menyebutnya, sengaja atau tidak. Ketika mereka membahas sebuah topik di blognya (biasanya pada tulisan-tulisan berbentuk jurnal) para pengarang tersebut menyebutkan beberapa judul buku. Saya mencatat judul-judul buku itu untuk kemudian saya cari di toko-toko buku yang bisa saya raih. Kadang, ketika ada kesempatan bertemu langsung dengan mereka, saya bertanya langsung, apa saja buku-buku favorit mereka. Dan tentunya, saya catat. Dari bermain-main ke blog pengarang kesukaan atau percakapan-percakapan offline dan diskusi-diskusi tentang buku, saya merekam beberapa buku yang sering disebut. Biasanya buku-buku yang sering disebut itu adalah buku-buku pemenang penghargaan (tentunya harapan saya bahwa buku tersebut memang bagus akan jadi semakin besar, karena mereka menang penghargaan). Beberapa tidak menang penghargaan, namun banyak didiskusikan. Buku-buku itulah yang saya masukkan ke dalam catatan saya, dan ketika saya menemukan mereka di sebuah toko buku atau bazar, biasanya akan langsung saya beli tanpa pikir-pikir lagi.


3.     Karena Menyukai Si Pengarang

Saya menyukai J. K. Rowling setelah membaca serial fantasi Harry Potter. Setelah itu, saya membeli semua buku yang ditulis oleh J. K. Rowling, tak peduli apakah bukunya itu bagus atau tidak. Saya sudah terlanjur menyukainya sejak pandangan pertama.


4.     Karena Diterbitkan Oleh Penerbit yang Bagus

Untuk beberapa penerbit yang (setidaknya di mata saya) memiliki reputasi bagus karena mereka kerap menerbitkan buku-buku bagus, saya akan memberikan kepercayaan saya kepada buku-buku berikutnya yang mereka keluarkan. Meskipun saya tidak mengenal nama pengarangnya, sampulnya jelek, judulnya tidak menarik, atau blurb atau sinopsisnya tidak membuat penasaran, saya tetap akan memberikan kesempatan kepadanya. Karena penerbit tersebut jarang mengecewakan saya. Sebaliknya, untuk penerbit yang belum saya kenal buku-buku terbitannya atau reputasinya tidak begitu bagus di mata orang-orang lain yang sering membaca, saya akan cenderung ragu untuk membeli buku-buku mereka. Siapa yang mau membeli kucing dalam karung, bukan?


5.     Karena Sampul

Don’t judge the book by its cover, they said. But then I say, I do judge the book by its cover, especially when it’s still sealed (of course, right? How can I see through someone’s heart when I can’t use knife to open their chest?). Alright, just kidding. I mean, yes I do judge the book by its cover. I’m a visual person. I know that sometimes (or most of the times) appearances can be deceiving, but I don’t really care. I’m a self-proclaimed book hoarder. I don’t just read books, I collect them. And when I take a look at my bookshelves, I want to see good books with nice covers standing there. I like books with nice cover, and that’s that.


6.     Karena Murah

Sebagai penulis, saya ingin buku saya dihargai mahal dan dibeli orang dengan harga yang mahal itu, agar saya mendapat banyak uang dari buku saya (hei, saya hidup dari menulis!). Namun sebagai pembaca, saya ingin mendapatkan buku-buku dengan harga murah. Semakin murah semakin baik. Kalau perlu gratis. Beberapa hari lalu di Periplus saya melihat Lowland, buku terbaru Jhumpa Lahiri. Saya hendak membelinya sebelum saya melihat label harga di punggung buku tersebut. “Oke, sepertinya nanti saja deh.” Harganya mahal (yah, kecuali buku-buku bekas, buku impor mana yang tidak mahal ya?). Meskipun pada akhirnya, seminggu kemudian ketika kembali berada di Periplus, saya membeli juga buku itu (karena alasan nomor 2). Tetapi artinya saya telah menunda hasrat membeli buku ketika melihat buku itu dibandrol dengan harga yang mahal. Meskipun buku itu buku bagus (menurut orang-orang yang sudah membaca), pengarangnya adalah peraih penghargaan internasional, bukunya telah beberapa kali diangkat ke film, telah diterjemahkan ke banyak bahasa, termasuk buku langka, namun kalau harganya selangit tentu saja saya akan pikir beberapa kali sebelum membelinya. Bahkan mungkin takkan pernah membelinya, sampai saya mendapatkan kesempatan untuk memperolehnya dengan dengan harga yang lebih murah.

Sebetulnya ada beberapa lagi alasan mengapa saya membeli sebuah buku. Tetapi juga kadang saya tidak memiliki alasan sama sekali saat membeli sebuah buku tertentu. Saya membelinya saja, mencabutnya dari rak dan membawanya ke kasir. Saya tidak kenal pengarangnya dan tak pernah dengar namanya, judul bukunya tak pernah disebut, tidak pernah ada yang merekomendasikannya kepada saya, sampulnya jelek minta ampun, atau dikeluarkan oleh penerbit dari dunia antah-berantah. Tetapi saya membelinya. Saya memperoleh feeling untuk membelinya. Untuk aksi membeli buku yang seperti ini, saya hanya bisa memberimu sebuah excuse: “Yah, namanya juga Cancer.”

***

11 komentar:

fiepohon mengatakan...

setuju dengan ke-enam alasan diatas :D

laut dalam mengatakan...

sama.... :D

@nuunaRis mengatakan...

Sedikit banyak seperti melihat diri sendiri. banyak membeli buku bbrp diantaranya malah belum dibaca sampai selesai

benz mengatakan...

Ayo baca ayo. :)

Andrea Puspa Melinda mengatakan...

Sama bang.. Tapi aku juga karena sinopsis di bagian belakangnya bagus & menarik..

laili umdatul khoirurosida mengatakan...

sama bang kalo sekarang aku masih belum bisa seenaknya bungkus buku kayak bang benz . belum punya penghasilan sendiri. jadi kudu bener bener milih yang pas di kantong ._.

benz mengatakan...

kalau sudah bisa punya penghasilan sendiri nanti yang sulit bukan membeli buku lagi, tapi menahan diri untuk membeli buku. hahaha.

Dwee mengatakan...

kalau sya biasa beli buku tergantung siapa pengarangnya sama rekomendasi dari temen2 :)

Dwee mengatakan...

dulu gak tau siapa iru ka bara ,pas tiba2 nyasar di akun twitter orang nemu akun ka bara ..mulai dari situ jadi tau karya2 ka bara :) adain event di depok dong kaa :(

Syara S. Julianur mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Syara S. Julianur mengatakan...

iya bener bangett.. namanya juga cancer hehe