17 Desember 2013

After Dark, Haruki Murakami





Ketika kebanyakan manusia menjalankan kesibukannya di siang hari, ada sebagian yang terjaga pada tengah malam ketika semestinya waktu tersebut menjadi waktu untuk beristirahat, tidur. Apakah kau termasuk dari yang sebagian itu? Selalu terjaga pada tengah malam hari? Yang jelas, Mari Asai dan Takahashi menghabiskan tengah malamnya dengan terjaga. Mari membaca buku di sebuah restoran keluarga dan Takahashi latihan band. Sementara itu Eri Asai, kakak kandung Mari, memilih untuk tidur. Dan tampaknya Eri sangat lelah dengan aktivitasnya. Sangat lelah. Teramat lelah. Begitu lelahnya hingga dia, menurut pengakuan Mari adiknya, telah tertidur selama dua bulan.

After Dark dibuka dengan teknik narasi yang cukup unik. Murakami menggunakan narator dan jenis narasi seperti dalam skenario film. Si narator melibatkan dan menarik pembaca menjadi bagian dari “pengawas” di dalam cerita. Saya mengatakannya unik, sebab sejauh ini saya baru sekali membaca novel yang ditulis dengan menggunakan bentuk narasi seperti skenario film. Seperti ditunjukkan oleh bagian dari paragraf pembuka berikut ini:

Through the eyes of a high-flying night bird, we take in the scene from midair. In our broad sweep, the city looks like a single gigantic creature.

Murakami sebagai narator yang berperan seperti spectator dalam cerita, membawa “kamera imajiner”nya ke dalam sebuah restoran keluarga bernama Denny’s. Di sana, duduklah seorang gadis berusia 19 tahun bernama Mari. Mari hanya sendiri di hadapan mejanya dan sedang membaca buku yang tebal. Waktu menunjukkan pukul 11:56 PM. Mari tampak serius dengan bukunya. Tak berapa lama, pintu elektrik restoran terbuka dan masuklah seorang pemuda dengan rambut yang berantakan dan sekonyong-konyong dia mengambil tempat duduk di meja Mari. Ternyata, pemuda tersebut adalah teman dari Eri Asai. Dia bernama Takahashi Tetsuya, seorang pemain trombon. Percakapan pun terjadi antara Mari dan Takahashi.

Dialog-dialog dalam After Dark serupa sungai. Mengalir dengan begitu lancar dan alami dari adegan ke adegan, halaman ke halaman. Murakami tahu betul bagaimana cara membuat pembacanya terus membaca apa yang dia tulis. Dari dialog-dialog yang sangat mengalir itu, watak setiap tokoh menjadi terlihat. Salah satu fungsi dialog telah terpenuhi dengan baik. Takahashi yang talkative, Mari yang serius, Kaoru yang agak preman, dan Komugi dan Korogi yang senang menceletuk, semuanya langsung muncul dan tampak pada dialog-dialog mereka. Sedikit berbeda dibanding beberapa tulisannya yang lain, meski dialog-dialog After Dark mengalir dengan baik, namun tampaknya Murakami menyimpan “kenyelenehannya” yang khas. Dialog-dialog di After Dark terasa lebih serius dan “lurus”, tidak seperti misalnya, dialog-dialog di Hear The Wind Sings dan Norwegian Wood yang sering belok ke sana-sini.

Cerita dalam After Dark berlangsung selama kurang lebih tujuh jam. Dari pukul 11:56 PM hingga 6:52 AM keesokan harinya. Konflik demi konflik diatur munculnya dengan begitu rapi oleh Murakami. Misteri demi misteri diletakkan secara bertahap. Mulai dari keberadaan Mari di sebuah restoran pada tengah malam, kedatangan Kaoru yang memintanya membantu bicara kepada seorang gadis pelacur asal Cina yang tak bisa berbahasa Jepang, hingga konflik utama: Eri Asai, kakak Mari, yang telah tertidur selama dua bulan.

After Dark adalah buku pertama Murakami yang bernuansa horor yang saya baca. Membaca After Dark terasa seperti sedang menonton film horor khas Jepang. Ketegangan dibangun secara perlahan lewat deskripsi Murakami yang sangat visual. Suasana kamar tidur Eri Asai yang gelap dan hening, televisi yang tiba-tiba menyala padahal kabelnya tidak sedang terpasang ke kontak listrik, hingga sosok lelaki misterius dari dalam kotak televisi yang memandang terpaku ke arah kamar Eri.

The TV image comes and goes, but its stability slowly increases. On screen is the interior of a room. A fairly big room. It could be a space in an office building, or some kind of classroom. It has a large plate-glass window; banks of fluorescent lights line the ceiling. No, on closer inspection there is exactly one chair set in the middle of the room. An old wooden chair, it has a back but no arms. It is a practical chair, and very plain. Someone is sitting in it.

Deskripsi Murakami begitu pelan dan teratur seperti sedang berbisik. Perasaan ngeri terbangun dengan begitu perlahan namun pasti. Saya membaca After Dark tepat menjelang tengah malam. Setelah membaca bagian tentang kamar Eri Asai dan televisi yang mendadak menyala, spontan saya melihat ke televisi di kamar saya sendiri dan mematikannya. Namun, ternyata, televisi tersebut tampak lebih mengerikan setelah saya matikan. Akhirnya saya menyalakannya kembali dan mencari stasiun yang sedang menyiarkan acara dangdut.

Dengan plot ganda, After Dark seolah dibangun atas fragmen-fragmen adegan. Secara berurutan, adegan berpindah-pindah dari Mari Asai ke Eri Asai dan sebaliknya. Fragmen tokoh-tokoh lain juga dimunculkan. Ada keterangan penunjuk waktu pada setiap awalan bab untuk memperlihatkan kapan adegan tersebut terjadi (sekaligus memberikan kejelasan terhadap plot). Mendekati akhir cerita, adegan berpindah-pindah dengan lebih cepat dan lekas. Misteri kian runcing dan menuju klimaks, hingga akhirnya selesai dengan tetap meninggalkan misteri.

Ya. Tidak ada jawaban yang sangat jelas atas konflik utama dalam After Dark (jika konflik utama itu adalah misteri dalam kamar Eri Asai dan tidurnya Eri Asai yang selama dua bulan berturut-turut, bahkan jika konflik utamanya adalah hubungan kakak-adik Mari dan Eri Asai pun tak ada resolusi yang “kelar”). Siapa lelaki misterius di dalam televisi yang menyala sendiri pada tengah malam di kamar Eri Asai? Apakah Shirakawa, lelaki yang menghajar gadis pelacur Cina di hotel jam-jaman milik Kaoru, sebab Eri Asai menemukan pensil bertuliskan nama kantor Shirakawa saat, dengan tiba-tiba, dia masuk ke dunia di dalam kotak televisi? Bagaimana Eri Asai bisa masuk ke dalam kotak televisi? Bagaimana televisi dalam kamar Eri Asai bisa menyala sendiri padahal stop kontaknya tidak terpasang? Hantu yang menyalakan? Mengapa muncul hantu? Apakah hantu memang muncul setiap hari di kamar Eri Asai? Mengapa? Mengapa fragmen-fragmen adegan Shirakawa dimunculkan sementara menjelang akhir tidak dikaitkan lagi terhadap konflik yang dia alami (pemukulan terhadap gadis pelacur Cina dan bayangan yang mirip dirinya yang seperti hantu di dalam kotak televisi di kamar Eri Asai) dan seterusnya.

After Dark menyisakan banyak pertanyaan di benak saya. Selain bertanya-tanya, saya hanya bisa menduga, mungkin Murakami memang tidak bermasuk memberi konflik dan menyodorkan penyelesaiannya. Mungkin dia memang hanya menyuguhkan fragmen-fragmen peristiwa yang terjadi pada setelah tengah malam, After Dark, dan menjadikannya bungkus atas permasalahan yang lebih subtil yang dia angkat, yakni hubungan kakak-adik Mari dan Eri.

Bagaimanapun, After Dark bukan karya Murakami yang sangat istimewa namun menjadi salah satu favorit saya. Dialog-dialog yang mengalir, deskripsi yang perlahan dan mencekam, narasi yang rapi, membuat saya tak bisa meletakkan After Dark sebelum saya menyelesaikan membacanya.

Pesan terakhir saya tujukan untuk yang ingin membaca After Dark: jangan baca di kamar sendirian, apalagi pada tengah malam. Kalau ada sepotong tangan keluar dari dalam televisi, jangan hiraukan, teruslah membaca.

***

6 komentar:

bagoezone mengatakan...

kok bisa ya ada novel dengan setting waktu sesingkat itu?

chantika rahmi mengatakan...

Pengen baca jugak!!
You really know how to influence me with your description about books you like, tanggung jawab ya!!!

benz mengatakan...

bagoezone: hahaha iya saya juga baru lihat.

benz mengatakan...

chantika: ayo cari bukunya dan baca. :)

ananda anwar mengatakan...

Sejauh ini, After Dark dan Sputnik Sweetheart adalah dua karya Murakami favorit saya.
Oiya btw saya suka reviewnya. :)

benz mengatakan...

terima kasih sudah mampir dan membaca, nanda. saya belum sempat baca sputnik, huh, saya belum sempat baca yang lain puuun.