2 Desember 2013

Botchan, Natsume Sōseki





Apa yang akan kau lakukan, saat kau melihat seorang guru kerap membohongi dan menipu rekan kerjanya sendiri, memanfaatkan mereka demi kepentingan pribadi, padahal mereka sering mengajarkan kepada murid-muridnya dan menyuruh mereka untuk selalu bertindak jujur? Jika demikian yang terjadi, apakah lagi gunanya di sekolah ada pendidikan tentang moral dan etika?



Itulah kiranya permasalahan yang diangkat dalam Botchan, sebuah novel tipis bagus karangan Natsume Sōseki (1867-1916). Botchan sendiri adalah nama tokoh utamanya. Botchan, dalam bahasa Indonesia kurang-lebih artinya semacam “tuan muda”. Menurut cerita, sebutan ini disematkan oleh seorang pembantu rumah tangga yang sangat setia mengasuh Botchan, bernama Kiyo. Botchan adalah seorang bocah yang badungnya minta ampun. Ibu dan ayahnya meninggal ketika dia masih kecil. Dengan uang yang masih tersisa, dia mampu meneruskan sekolah dan kuliah, lalu pada akhirnya menjadi seorang guru di sebuah kota kecil yang berada cukup jauh dari Tokyo, tempat tinggalnya.

Nah, bagaimana kau membayangkan seorang bocah yang dahulu begitu badung, menjadi seorang guru? Tak ayal, ternyata Botchan menjadi bulan-bulanan muridnya. Hampir di setiap kesempatan, murid-murid menjadikan Botchan sebuah lelucon. Puncaknya, mereka menaruh sekawanan belalang di tempat tidur Botchan saat dia jaga malam di asrama sekolah. Botchan berang.

Namun, persoalan sebenarnya bukan pada murid-murid nakal itu, melainkan pada rekan-rekan Botchan di sekolah, para guru yang lain. Digambarkan sebagai sosok yang sering mengamati dan menilai, Botchan memberi mereka julukan berdasarkan hal yang paling mencolok di diri mereka. Kepala sekolah, alias “The Badger”; wakil kepala sekolah, Akashatsu, alias “Red-shirt”; Nodaiko, alias “The Clown”; Uranari, alias “The Green Squash”; dan Yamaarashi, alias “Mr. Porcupine”. Menghabiskan hari demi hari mengajar di sekolah di sebuah kota yang masih tradisional, Matsuyama, Botchan perlahan mengetahui bahwa ada seseorang yang secara sengaja berbuat tidak menyenangkan terhadapnya. Pada awalnya dia memang marah kepada murid-murid badung yang kerap mengerjainya, namun belakangan dia tahu bahwa ada dalang di balik semua masalah yang menimpa dirinya. Dalang itu adalah rekan kerjanya sendiri, sang wakil kepsek, Red-shirt.

Red-shirt, bersikap sebagai seorang guru yang memiliki sopan santun dan tutur kata manis, ternyata telah menipu Botchan mentah-mentah. Dia adalah seorang yang berwajah dua. Botchan begitu polos dan terkadang naif. Lebih tepatnya: Botchan adalah sosok yang lurus dan menaruh rasa hormat pada siapapun yang berbuat baik kepadanya. Kehormatan dan sikap jujur adalah segala hal yang menjadi panduan hidupnya. Dengan demikian, dia menuntut orang lain bersikap sama, jujur dan lugas. Botchan pikir, seharusnya sekolah adalah tempat yang mengajarkan hal-hal tersebut. Ketegasan untuk menindak yang salah dan memberi hukuman yang setimpal pada setiap perbuatan tidak menyenangkan. Namun, Red-shirt berkata lain: “Contrary to your expectations, school is, so to speak, a storehouse of complicated circumstances, where one’s straightforwardness will hardly do.” Sambil seolah menasihati Botchan, Red-shirt melanjutkan petuahnya: “To be doing right is, of course, good as you say, but that alone will never save you from the snares people set at you, if you fail to know how bad they are. You must know there are persons who look very cheerful and open hearted, who will so kindly see to your board and longing, and yet you will have to be watchful.”

Dalam perjalanan, Botchan semakin yakin akan wajah asli para rekan gurunya di sekolah. Red-shirt yang penuh kata-kata manis dan sopan ternyata seorang penipu dan gemar menjebaknya dalam kondisi yang menyusahkan. Porcupine, yang semula dianggap Botchan berada pada kubu berlawanan, malah menjadi satu-satunya partner in crime yang bisa dia andalkan. Botchan begitu polos, untuk tak menyebutnya naif, sehingga dia begitu terkejut dan heran melihat orang-orang di sekolah yang ternyata berbeda dari kesan yang dia tangkap pertama kali. “These things made me think nothing on earth was reliable,” begitu dia mengeluhkan hal tersebut.

Semula saya pikir kenakalan Botchan yang digambarkan pada bab pertama novel ini akan menjadi satu hal penting saat dia tumbuh besar, ternyata tidak. Setelah berusia 24 tahun dan menjadi guru, ternyata Botchan adalah sosok yang jujur, lurus, bahkan memiliki cara berpikir yang sangat dewasa, dalam, sesekali filosofis, dan berprinsip kuat. Begini Botchan berkata saat dia kesal setelah dikerjai oleh murid-muridnya: “No crime could be canceled before a man apologized, confessing what he had done was wrong. His conscience would tell him he had done wrong. A right-minded man would go to bed and repent there from the bottom of his heart and come to ask forgiveness.”

Berkali-kali saya tertawa kecil membaca narasi yang sarkas dan terkadang kocak. Seperti misalnya saat Botchan menanggapi sangat serius tindakan tidak menyenangkan yang dilakukan oleh murid-muridnya: “My ancestors were bodyguards to the Shōgun; they all belonged to a very ancient stock of the Minamoto, a direct line of the Emperor Seiwa, that is to say, I am a descendent of the proud knight, Tada Mitsunaka. I am of noble birth-incomparably higher than those poor lowly peasant lads.”

Cerita Botchan memang bergerak dengan Botchan sebagai porosnya. Setiap halaman membuka selapis demi selapis kepribadian Botchan yang (alih-alih berasal dari anak yang badung dan tak layak dijadikan contoh) patut dikagumi. Botchan menganggap serius perbuatan baik, meski hanya kecil, seperti saat Porcupine membelikannya segelas air es. Botchan menganggap hal tersebut adalah hutang, dan dia tak ingin membayar hutangnya. Bukan karena tak mampu, melainkan menurutnya membayar hutang akan membatalkan rasa hormat yang dia sematkan pada orang tersebut dan membuat urusan traktir itu semata-mata perihal uang, sementara bagi dia, urusan seperti itu bukanlah semata-mata perihal uang, melainkan rasa hormat dan menghargai. “If an independent man bows down his head, it would be a more precious gift than one million yen.” Sikap Botchan yang mengingat dan menghargai kebaikan orang lain kepadanya (Kiyo dan Mr. Porcupine) meski hanya kecil membuat saya teringat pada sebuah ayat di Al-Qur’an. Tepatnya Al-Zalzalah ayat 7 dan 8. Bagaimana bunyi ayat tersebut, silakan lihat di Al-Qur’an atau gunakan mesin pencari google.

Seperti kebanyakan karya sastra Jepang (kecuali Murakami), Botchan memiliki alur yang cukup lambat. Untungnya, tidak terlalu lambat. Saya berani taruhan, kau akan segera tertidur saat menginjak halaman 50 dari novel Snow Country – Yasunari Kawabata. Tapi tidak dengan Botchan. Narasi yang sarkas dan lucu membuat saya terhibur dan betah membaca halaman demi halaman Botchan hingga selesai. Satu hal yang saya temukan cukup aneh adalah, tidak terdapat deskripsi yang indah-indah nan syahdu (biasanya suasana alam) khas Jepang di Botchan. Membuat Botchan menjadi terasa, di satu sisi, “tidak terlalu Jepang”. Meskipun di bagian yang lain tetap terasa adat budaya Jepang muncul pada adegan-adegan Botchan. Hanya ada sedikit deskripsi “khas Jepang” itu, seperti pada contoh berikut:

I continued to read patiently, when a wind of early fall sprang up; shook the broad leaves of banana plants in the garden.

Mungkin karena ditulis pada tahun 1906, bahasa Natsume Sōseki dalam Botchan menggunakan sejenis bahasa yang “jadul”. Struktur kalimatnya seperti jika kau membaca naskah-naskah drama Shakespeare. Saya tak bisa membayangkan bagaimana naskah Botchan dalam bahasa aslinya, Jepang. Membaca versi bahasa Inggris saja (terjemahan Umeji Sasaki) saya dapat melihat betapa “tua”nya bahasa yang digunakan Natsume Sōseki. Meski demikian, saya bisa katakan bahwa cerita Botchan tetap bisa dimengerti, dengan memahami konteks setiap adegan dan tidak terlalu memusingkan pengertian kata per kata.

Berlawanan dengan penggambaran dirinya pada bab pertama, Botchan adalah sosok yang memiliki prinsip dan kepribadian kuat yang layak ditiru. Dia jujur, lugas, tanpa topeng, dan mengucapkan apa yang dia pikirkan, serta melakukan apa yang dia ucapkan. Meski Botchan, di dalam batinnya, sering melakukan penilaian terhadap orang lain dan dengan demikian dia tak bisa menerapkan petuah Pram “Adil sejak dalam pikiran”, dia tetaplah karakter yang menjadi panutan. Jujur, lugas, tanpa topeng.

Pertanyaannya kemudian, bisakah di dunia ini kita hidup seperti Botchan: jujur, lugas, dan tanpa topeng? Seperti Red-shirt dan sikap antagonis keseluruhan sistem yang dilawan oleh Botchan sejak awal hingga akhir cerita, dengan tegas saya akan menjawab: saya meragukannya.

***

6 komentar:

Ulfah Mey Lida mengatakan...

Saya belum membaca novel ini, tapi dari uraian yang anda jelaskan, timbul spekulasi bahwa Natsume Soseki ini kurang menaruh perhatian pada hubungan ide pokoknya. Hal ini terbukti dari kebadungan Botchan yang tidak dikorelasikan dengan pertumbuhan kedewasaannya. Bukan begitu?

MoulizaOktariani mengatakan...

novel ini cuma diterjemahin ke inggris atau ke bahasa indonesia juga ya?keknya menarik nih

benz mengatakan...

Ulfah: Ya, pada bagian itu memang kurang terasa kaitan sebab-akibatnya. Mungkin kenakalan Botchan di masa kecil digambarkan sebagai petunjuk bahwa, meskipun nakal, Botchan adalah sosok yang memiliki prinsip-prinsip baik.

benz mengatakan...

Mouliza: Saya kurang tahu apakah ada terjemahan Indonesianya atau nggak. :D

Anonim mengatakan...

sudah ada yang bahasa indonesianya,saya sudah baca,novel yang menarik.

rosyrose mengatakan...

Natsume Soseki seperti Murakami lebih terpengaruh dari western literature sehingga terkadang bukunya tidak terlihat "Jepang" sekali. Era Meiji adalah saat-saat dimana Jepang memasuki pengaruh-pengaruh Barat dan banyak orang Jepang di masa itu merasakan perselisihan di dalam jiwa mereka antara budaya Jepang dan Barat. Seperti buku "Kokoro" yang ditulis oleh Natsume Soseki juga menunjukkan kehidupan orang jepang di era Meiji tersebut.