28 Desember 2013

Kesepian dan Kesendirian Murakami





Menjadi seorang ambivert (setidaknya saya merasa diri saya seorang ambivert), membuat saya “hidup di dua alam”. Alam yang pertama adalah alam publik, dunia yang ditempati oleh orang-orang lain, penuh keriuhan dan lalu-lintas tindakan dan pikiran orang-orang selain saya; dunia luar. Alam yang kedua adalah alam pribadi, dunia di dalam diri saya, atau dunia kecil yang hanya ditempati oleh diri saya sendiri. Tidak ada siapa-siapa selain saya di alam pribadi ini. Hanya saya. Sendiri. Sehari-harinya saya berdiri di kedua alam tersebut secara bergantian. Beberapa jam pada satu hari saya hidup sendiri, menikmati me time dengan membaca buku, menonton film di bioskop, atau duduk di kafe minum kopi sambil merenung dan memperhatikan orang-orang. Beberapa jam yang lain saya berkumpul dengan teman-teman, berbincang dan bertemu dengan kenalan baru, hadir di sebuah seminar atau talk show, dan berinteraksi dengan pihak-pihak lain.

Membaca Blind Willow, Sleeping Woman kumpulan cerpen Haruki Murakami, memberikan kesan kepada saya bahwa tokoh-tokoh di dalam cerpen-cerpen tersebut sepertinya hanya hidup di satu alam. Mereka hanya hidup di alam pribadi, dunia di dalam diri mereka sendiri, atau dunia kecil dimana hanya ada diri mereka sendiri tanpa orang lain.

Terdapat 24 cerpen di dalam Blind Willlow, Sleeping Woman. “Blind Willow, Sleeping Woman” sendiri adalah cerpen pembuka. Bercerita tentang seorang pemuda yang mengantar sepupunya ke rumah sakit dan di perjalanan ia teringat akan dua orang temannya, seorang lelaki dan seorang perempuan yang adalah pacar lelaki tersebut. Saya tak begitu paham apa yang hendak disampaikan Murakami, tetapi ketika saya mengingat kembali kata kunci tulisan Murakami, kesendirian, barulah saya merasa bahwa kesendirian pulalah yang sedang dibicarakan Murakami dalam cerpen “Blind Willow, Sleeping Woman”. Bukan hanya kesendirian, bahkan, melainkan suasana yang suram dan, jika bisa saya katakan, suasana yang “sakit”.

Secara implisit, lewat cerita-ceritanya Murakami membangun sebuah logika untuk menyatakan kepada dunia, atau kepada pembacanya, bahwa menjadi sendiri dan merasa sepi itu tidak apa-apa. It’s okay to be alone and lonely. It’s okay to live within yourself and you don’t need anybody to help you with your problems. In fact, you don’t need anybody at all. Kira-kira begitulah yang saya tangkap dari cerita-cerita Murakami. Saat membaca cerpen Samsa In Love dan Town of Cats di New Yorker, saya belum merasakan kesepian dan kesendirian ini. Yang saya tangkap dari cerita-cerita Murakami adalah sesuatu yang jenaka, disampaikan dengan cara yang ringan dan cerdas terkadang lewat logika yang absurd namun menghibur. Namun, ketika saya terus membaca buku-bukunya yang lain, novel maupun cerpen-cerpennya dalam Blind Willow, Sleeping Woman ini, saya semakin menyadari kesepian dan kesendirian itu.

Cerpen “Aeroplane: Or, How He Talked to Himself As if Reciting Poetry” bercerita tentang seorang laki-laki yang memiliki affair dengan istri orang lain. Pada suatu bagian, terdapat dialog seperti ini:

“Even now,” she said, “if I feel I’m about to say something, I just swallow my words. It’s like a reflex. Because I got yelled at so much when I was little. But, I don’t know, what’s so bad about talking to yourself? It’s natural. It’s just words soming out of your mouth. If my mother were still alive, I almost think I’d ask her, ‘What’s so bad about talking to yourself?’”

Pada cerpen “The Mirror”, Murakami tampak sedikit bereksperimen dengan tema horor. Seorang laki-laki bekerja sebagai penjaga malam di sebuah sekolah dan melihat sebuah cermin yang aneh. Cermin tersebut memantulkan bayangannya namun bergerak seperti bukan bayangannya. What I saw wasn’t a ghost. It was simply myself. I can never forget how terrified I was that night, and whenever I remember it, this thought always springs to mind: that the most frightening thing in the world is our own self. Di cerpen “Hunting Knife” terdapat tokoh yang cacat dan harus menghabiskan hidupnya di atas kursi roda bersama ibunya yang juga sudah tua dan sakit. Setiap malam, lelaki cacat yang merasa bahwa kecacatannya adalah sebuah kewajiban sebagai peran dirinya dalam keluarga itu duduk di bar dan menghabiskan waktunya sendirian sambil memandang bulan. Cerpen “Man-Eating Cats” menceritakan seorang lelaki yang membayangkan dirinya mati di dalam sebuah apartemen dan beberapa ekor kucing memakan dagingnya, menggigiti jantungnya, dan mengisap darahnya. “A ‘Poor Aunt’ Story” mengingatkan saya akan sebuah adegan di film horor Thailand berjudul Shutter, dimana tokoh utama duduk di pinggir tempat tidur rumah sakit dan bayangan seorang perempuan muncul di kaca pintu; ternyata selama ini seorang hantu menempel di punggungnya. Hantu tersebut adalah ‘poor aunt’ di cerpen Murakami, membuat si tokoh utama dipandang aneh oleh orang-orang yang melihatnya dan perlahan membuatnya terisolasi dari lingkungan.

“The Year of Spaghetti” adalah cerpen yang memunculkan kesendirian dan kesepian hampir secara eksplisit. Paragraf pembukanya membuat saya nyaris tertipu sebab saya merasa pada akhirnya ada tokoh fiksi Murakami yang memiliki passion dan berhasrat akan sesuatu (kebanyakan tokoh-tokoh fiksi Murakami seperti tak punya tujuan hidup dan larut dalam kesendiriannya), namun pada beberapa paragraf berikutnya barulah terlihat, oh, lagi-lagi kesendirian dan kesepian itu muncul. Bahkan lebih eksplisit lagi kali ini.

As a rule I cooked spaghetti, and ate it, alone. I was convinced that spaghetti was a dish best enjoyed alone. I can’t really explain why, but there it is.

Murakami terus membangun logika kesepian dan kesendiriannya di cerpen “Tony Takitani”. Shozaburo Takitani kehilangan orangtuanya dalam perang di Jepang pada tahun 1945. Saudara satu-satunya telah hilang entah ke mana. Dia sebatangkara di dunia. Namun: This was no great shock to him, however, nor did it make him feel particularly sad or miserable. He did, of course, experience some sense of absence, but he felt that, eventually, life had to turn out more or less like this. Everyone ended up alone sooner or later. Dan sikap seperti ini, menerima dan menganggap bahwa sendiri itu tidak apa-apa, ternyata menurun kepada anaknya, Tony Takitani, karena: He cooked for himself, locked up at night and slept alone. Not that he ever felt lonely: he was simply more comfortable this way than with someone fussing over him all the time.

Seorang perempuan jatuh cinta kepada seorang laki-laki yang dingin, cuek, menyendiri, dan bahkan terkesan mengisolasi dirinya dari sekelilingnya. “The Ice Man” menjadi cerpen berikutnya yang digunakan Murakami untuk membangun logika-logika “pembenaran kesendirian”. Lewat cerpen tersebut, seolah-olah Murakami hendak mengatakan begini: Isolasilah dirimu dari dunia, menyendirilah, kucilkanlah dirimu sendiri, jangan masuk ke dunia luar, dan tunggulah beberapa waktu kemudian, seorang wanita akan menghampirimu dan jatuh cinta padamu dan menikah denganmu. “Hanalei Bay” bercerita tentang seorang ibu yang kehilangan anaknya yang tewas karena tenggelam di laut dan dimakan hiu. Si ibu, secara rutin selama sepuluh tahun mengunjungi laut di mana anaknya meninggal. Dia akan duduk di kursi plastik di pinggir pantai dan melihat para peselancar. Di suatu bagian digambarkan pula hubungannya dengan anaknya yang tidak begitu baik.

Saat selesai membaca Blind Willow, Sleeping Woman tiba-tiba benak saya memunculkan sebuah kata: solitude. Saya sering mendengar kata itu namun belum pernah mengetahui apa persisnya pengertian solitude. Lalu saya mencari di wikipedia dan inilah yang saya dapatkan: 

Solitude is a state of seclution or isolation, i.e., lack of contact with people. It may stem from bad relationships, loss of loved ones, deliberate choice, infectious disease, mental infectious disease, mental disorders, neurological disorders, or circumstances of employment or situation. Short-term solitude is often valued as a time when one may work, think or rest without being disturbed. It may be desired for the sake of privacy. A distinction has been made between solitude and loneliness. In this sense, these two words refer, respectively, to the joy and the pain of being alone.

Dan, saya rasa kata tersebut, solitude, adalah kata yang paling tepat untuk dijadikan gerbang memasuki dunia fiksi Murakami. Membaca cerita-cerita Murakami kau harus siap untuk disedot ke dalam lubang kesendirian dan kesepian yang begitu pekat. Murakami akan melakukannya secara perlahan. Kau tak akan merasa sedang disedot. Kau akan merasa baik-baik saja. Sampai akhirnya kau tiba-tiba tersadar bahwa kau sudah berada jauh sekali dari keramaian dan berada di sudut dunia yang sepi, tanpa siapa-siapa, sendiri.

***

11 komentar:

Neat Atin mengatakan...

Pada postingan sebelum-sebelumnya tentang Murakami, Kak Bara sudah secara tidak langsung mensugesti saya supaya membaca karya-karya Murakami. Meskipun sudah berusaha mencari bukunya (saya hanya menemukan sekitar dua atau tiga judul), saya masih belum menyempatkan diri untuk membacanya. Tapi justru setelah membaca postingan ini, rasa penasaran saya menjadi lebih dari sebelumnya. Hehee, jadi malah pengen langsung baca. :D

benz mengatakan...

Neat Atin: Sudah ketemu judul apa saja? :D Di Periplus ada Norwegian Wood dan 1Q84. Kedua buku tersebut juga sudah ada terjemahan Indonesia, penerbit KPG. Sisanya bisa kamu temukan di Kinokuniya atau Aksara di Jakarta. Books & Beyond juga ada. :)

Tomi Azami mengatakan...

kak bara tulisan postingannya kecil banget. maaf baru berani komentar, padahal sering mampir kesini

benz mengatakan...

Tomi: Saya suka teks yang kecil. Maaf ya kalau kurang nyaman bagimu, hehehe.

Dauz Rahmat mengatakan...

ceritanya keren2, gue yakin banget novel murakami pasti bahasa inggris:|

benz mengatakan...

Dauz: Bahasa Jepang. Hahahaha...

Neat Atin mengatakan...

Baru nemu 1Q84 sama Underground. Makasih sarannya. :) Bisa dicoba Norwegian Wood, insyaAllah setelah yang d
ua ini selesai. Jakarta ya? Aduh! :/

monica mengatakan...

Seide mas! Saya jg baca Murakami pertama2 yg cerpen2nya dl, krn murakami tulisannya malah seringan deskripsi gayanya, kadang2 bikin bosen. Nah kalo cerpennya kan lumayan ga njlimet banget.

Saya sepikiran sama mas, iya emang murakami banyak bercerita tentang kesendirian di cerpennya, it's like: close the door for others, not because of arrogance, but because you need inner peace and it won't kill you anyway.
Tapi dr cerpen2nya saya melihat juga bagaimana sensualitas menurut orang2 yg hobinya menutup diri dari dunia luar dan bertindak sbg observer (contohnya cerita yg judulnya "nausea..something" itu.

benz mengatakan...

monica: saya juga baru menemukan bahwa murakami seringkali memanjang-manjangkan deskripsinya sehingga tampak dia menambah-nambahkan informasi pelengkap yang sebetulnya tidak penting-penting amat dan tidak terlalu berpengaruh terhadap cerita.

tentang sensualitas, saya ada membuat catatan tersendiri yang terdapat pada blog ini berjudul "kepolosan seks murakami" silakan dicari.

Agung Setiawan mengatakan...

Tanpa sengaja, kemarin, saat main ke rumah kos teman saya menemukan novel Murakami yang berjudul "Kafka on The Shore". Saya baca di tempat 1 bab langsung "klik". Saya pinjamlah itu novel. Sampai sekarang sudah selesai 7-8 bab dan saya berani mengatakan kalau saya ngefans dengan Murakami :)

Mungkin, mungkin ya. Kecocokan membaca "Kafka on The Shore" karena 2 tokohnya, Kafka dan Nakata tipe-tipe orang penyendiri seperti halnya saya.

hanifah3100 mengatakan...

viagra asli
obat kuat viagra
jual viagra