12 Desember 2013

The Cuckoo’s Calling, Robert Galbraith





Berita kematian supermodel rising star Lula Landry pada suatu tengah malam di musim salju hinggap secara tak disangka-sangka di kantor lusuh seorang detektif partikelir bernama Cormoran Strike. Kakak tiri si supermodel sendiri, John Bristow, yang menghampiri veteran berkaki satu itu dan memberinya pekerjaan tersebut-John tidak percaya bahwa Lula bunuh diri, seperti yang telah dikatakan oleh polisi, dan berharap agar Strike menyelidiki kasus kematian Lula Landry.

Cormoran Strike, yang juga mengikuti perkembangan kasus kematian Lula Landry, memiliki pemikiran yang tak jauh berbeda dengan polisi. Cormoran menganggap Lula meninggal karena bunuh diri. Namun John Bristow mendesak dan berkata bahwa dia yakin Lula tidak bunuh diri, melainkan dibunuh. Dengan anggapan bahwa John sebagai kakak yang masih terguncang atas kematian adiknya hanya melakukan penyangkalan diri atas kepergian Lula, Strike bermaksud untuk menolak permintaan John menangani kasus yang sudah jelas penyelesaiannya itu. Namun, melihat John memberikan penawaran yang sangat menggiurkan, dan menyadari kondisi keuangan dan kehidupannya yang buruk dan terlunta-lunta, Strike akhirnya menerima pekerjaan itu dan memulai penyelidikannya.

The Cuckoo’s Calling adalah novel kriminal pertama yang ditulis oleh Joanne Kathleen Rowling, sosok asli di balik pseudonim “Robert Galbraith” yang tertera pada sampul buku. Sebelumnya, ibu satu anak tersebut menerbitkan sebuah novel politik berjudul The Casual Vacancy. Dan sebelumnya lagi, seperti yang mungkin sudah diketahui oleh orang banyak, dia sukses dengan serial fantasinya yang membuatnya menjadi salah satu pengarang terkaya di dunia-Harry Potter.

Setelah mengetahui bahwa penulis The Cuckoo’s Calling, Robert Galbraith, adalah J. K. Rowling, sulit bagi saya untuk tidak membaca novel ini sambil mengingat atau membanding-bandingkannya dengan pendahulunya yang sangat sukses, serial Harry Potter. Dari halaman ke halaman, saya menyigi jejak-jejak Harry Potter yang mungkin terselip di antara adegan dan narasi penyelidikan Cormoran Strike. Poin pertama yang tertangkap adalah nama-nama tokoh di dalam The Cuckoo’s Calling. Seperti misalnya, secara otomatis dan tak dapat dicegah, saya teringat akan Luna Lovegood saat membaca nama Lula Landry. Saya teringat akan si raksasa Hagrid saat membaca deskripsi Galbraith atas si detektif partikelir Cormoran Strike (tubuhnya besar, kulitnya tebal, berbulu...) dan seterusnya.

Selama membaca The Cuckoo’s Calling, saya terus membayangkan bahwa yang menulis cerita kriminal ini adalah perempuan bernama J. K. Rowling, bukan lelaki bernama Robert Galbraith. Namun, pada beberapa bagian, barulah saya sadar bahwa Rowling dan Galbraith sepertinya memang dua sosok yang berbeda. Maka, saya mulai menikmati The Cuckoo’s Calling sebagai karya Robert Galbraith, bukan J. K. Rowling.

Ditemani sekretaris temporernya, Robin Ellacott (saya menyukai nama ini!), Cormoran Strike mengumpulkan petunjuk lewat wawancara demi wawancara terhadap orang-orang yang memiliki hubungan dengan Lula Landry. Hal itulah yang akan banyak kau temukan di dalam The Cuckoo’s Calling: percakapan-percakapan. Dialog-dialog bertebaran di sepanjang cerita. Tapi jangan khawatir, dialog-dialog yang digunakan Galbraith (mari tetap berasumsi bahwa yang menulis buku ini adalah Galbraith, bukan Rowling) adalah dialog-dialog yang memang dibutuhkan. Dialog-dialog yang berhamburan itu memang seharusnya ada di sana, sebagai salah satu elemen penting dalam sebuah cerita kriminal-detektif untuk mendukung suasana penyelidikan si tokoh utama.

Saya tidak banyak membaca novel kriminal-detektif. Saya tidak begitu suka buku dengan genre itu. Saya suka cerita-cerita demikian jika dalam bentuk visual, film. Saya senang menonton film dan film-film action kriminal adalah salah satu favorit saya. Menurut saya sebagai penikmat film-film bergenre kriminal-detektif, sedikitnya ada beberapa hal yang harus ada dan muncul dalam cerita dengan genre tersebut. Pertama, misteri. Kedua, aksi. Ketiga, ketegangan. Keempat, intrik. Kelima, latar belakang konflik. Keenam, ruang menebak-nebak. Ketujuh, penyelesaian yang memuaskan.

Ketika membuka bagian prolog The Cuckoo’s Calling, saya langsung mendapatkan poin pertama: misteri. Novel dibuka dengan adegan tempat kejadian perkara kematian Lula Landry yang dipenuhi oleh polisi dan paparazzi. Dikatakan bahwa kejadian tersebut adalah peristiwa bunuh diri. Tetapi benarkah bunuh diri? Atau ada peristiwa pembunuhan di sini? Jika Lula Landry bunuh diri, apa yang membuat dia sampai melakukan hal tersebut? Jika dia dibunuh, siapa yang membunuhnya dan mengapa? Misteri. Saat Cormoran Strike memulai penyelidikannya, maka muncullah intrik-intrik antartokoh dan latar belakang konflik pun terkuak. Kekacauan dalam keluarga John Bristow dan Lula Landry perlahan terbuka, masa lalu Cormoran Strike pun terkupas, dan seterusnya. Tiga poin telah terpenuhi. Mendekati terungkapnya pembunuh Lula Landry, intensitas ketegangan meningkat. Petunjuk-petunjuk telah terkumpul dan kesimpulan semakin mengerucut. Cormoran Strike harus bertindak cepat dan mencari barang bukti sebelum si pembunuh melakukan kejahatannya lagi. Saya sebagai pembaca ikut menebak-nebak, siapa sesungguhnya pelaku pembunuhan Lula Landry di antara tokoh-tokoh yang muncul. Keterangan-keterangan yang muncul dari wawancara Cormoran Strike membuat saya merasa saya pun menjadi detektif, mencoba menghubung-hubungkan keterangan tersebut dan ikut mencari siapakah pelakunya. Hingga akhirnya di penghujung cerita, identitas pelaku pun terkuak, berikut motifnya. Saya pun menutup The Cuckoo’s Calling dengan rasa puas. Semua poin yang saya harapkan dalam sebuah cerita kriminal-detektif, telah muncul dengan baik.

Satu hal yang layak diberi aplaus adalah terjemahan The Cuckoo’s Calling. Saya sempat merasa hendak putus asa ketika mengetahui penerjemah serial Harry Potter versi Indonesia, Listiana Srisanti, meninggal dunia. Saya tidak tahu apakah akan ada penerjemah yang sangat baik seperti dirinya, khususnya untuk buku-buku yang ditulis oleh J. K. Rowling (oh, sudahkah saya katakan bahwa saya penggemar berat Rowling?). Tetapi Siska Yuanita melakukan tugasnya dengan bagus. Saya tak mengalami hambatan sama sekali membaca The Cuckoo’s Calling versi Indonesia. Terjemahannya sangat enak dan tak kehilangan sentuhan Rowling, maksud saya, Galbraith-nya. Siska Yuanita, dengan cerdas, menerjemahkan judul The Cuckoo’s Calling menjadi “Dekut Burung Kukuk” (dari mana dia mendapatkan kata itu, dekut?). Selama beberapa hari judul terjemahan itu terngiang-ngiang di kepala saya. Dekut burung kukuk. Dekut burung kukuk. Seakan belum cukup terpuaskan oleh terjemahan yang enak, saya dikejutkan oleh fakta bahwa dua puisi dalam Dekut Burung Kukuk diterjemahkan oleh seorang penyair favorit saya, M. Aan Mansyur. Lagi-lagi, pekerjaan yang bagus dilakukan oleh M. Aan Mansyur untuk dua puisi di awal dan akhir buku. Membaca The Cuckoo’s Calling versi terjemahan Indonesia membuat saya ingin berkata kepada Siska, sebagai fans berat J. K. Rowling, saya akan mempercayakan naskah-naskah J. K. Rowling berikutnya di tangan dia.

Pertanyaan terakhir, yang mungkin menjadi pertanyaan pertama semua orang ketika mengetahui J. K. Rowling menulis novel kriminal: berhasilkah Rowling keluar dari bayang-bayang Harry Potter? Dengan tegas saya akan menjawab: ya, dia berhasil. Sangat berhasil. The Cuckoo’s Calling adalah cerita dengan sentuhan dan suasana yang sama sekali berbeda dengan Harry Potter. Saya bisa katakan bahwa The Cuckoo’s Calling adalah sebuah debut novel kriminal yang berhasil dari J. K. Rowling alias Robert Galbraith. Rowling, atau Galbraith, telah menciptakan jagoan baru: Cormoran Strike. Begitu kelar membaca The Cuckoo’s Calling, saya merasa penasaran dan tertarik untuk mengikuti kasus-kasus Strike berikutnya. Dan itulah, saya kira, salah satu ukuran kesuksesan sebuah buku. Membuat pembaca penasaran atas sekuelnya.

Nah, setelah bercerita tentang keberhasilan J. K. Rowling keluar dari bayang-bayang Harry Potter dan terjemahan The Cuckoo’s Calling yang nyaman sekali dibaca, saya harus sampaikan kabar gembira ini: The Cuckoo’s Calling terjemahan Indonesia akan terbit pada tanggal ­­­22 Desember 2013 lewat penerbit Gramedia Pustaka Utama. Pada hari yang sama, akan ada acara peluncuran The Cuckoo’s Calling dan bagi-bagi novel tersebut gratis di Gandaria City Jakarta (kamu bisa mengikuti informasi lebih detil tentang acara ini di akun Twitter resmi penerbit The Cuckoo's Calling: @Gramedia).

Bagi kamu terutama para fans Harry Potter, inilah kesempatan untuk menikmati bagaimana seorang penulis novel fantasi yang fenomenal, J. K. Rowling, memulai debut barunya sebagai pengarang novel kriminal. Dan sebagai salah satu dari sekian banyak fans J. K. Rowling, saya akan berkata bahwa JKR telah memulai debutnya itu dengan baik.

Selamat menunggu dengan berdebar-debar.

***

7 komentar:

dweedy ananta mengatakan...

Saya juga penggemar J.K Rowling ^^ dan menurut saya di buku Casual Vacancy pun dia sudah "move on" dari Harry Potter ^^ Meskipun entah mengapa di buku itu saya samar-samar mengenali cara bertutur Dickens :p

Huhuhu saya masih menunggu Cuckoo's Calling yang sudah saya PO sampai di rumah >.<

imajinasigemini mengatakan...

Great review Bar!!! Gak sabar nunggu terjemahannya keluar *agak pening baca yang asli* x)))

Gear KHK mengatakan...

thanks blog

timbangan digital mengatakan...

makasih infonya

Inverter Slanvert mengatakan...

fotonya dimana gan

benz mengatakan...

imajinasigemini: saya punya juga yang bahasa inggris, dan iya, agak susah memang bahasa inggris-nya rowling, hahaha. terjemahan indonesia dari gramedia ini enak banget kok. :D

cara download mp3 mengatakan...

nice info