17 Juli 2013

Mistis dan Kutukan di Kumpulan Cerpen Milana




Oleh Mudin Em


Saya mengenal Bernard Batubara sebagai penulis puisi. Sekitar tahun 2010, saya membaca blognya dan menyukai puisipuisinya yang meresap ketika dibaca, tanpa harus memahami kata atau struktur kalimat yang rumit. Sebagai penyair muda, Bara punya kepercayaan diri yang kuat dalam katakata yang dipilihnya. Hal ini membuat puisipuisi Bara menjadi enak dibaca tanpa perlu bumbu yang berlebihan pada kalimatnya.

Sedikit kaget, tahun 2011, saya mendengar Bara menulis novel yaitu Radio Galau FM: Frekuensi Patah Hati dan Cinta yang Kandas. Namun, saya baru sempat membaca tulisan panjang Bara yang terbit tahun 2012 yaitu Kata Hati.

Di novel Kata Hati, saya melihat Bernard Batubara yang lain. Konflik percintaan remaja dengan plotplot yang tidak terlalu mengesankan, membuat saya berpikir bahwa Bara menurunkan levelnya dalam penulisan ini. Kata Hati tentu saja bukan bacaan yang buruk. Sebagai bacaan remaja dia layak untuk dibaca. Beberapa percakapan di novel tersebut cukup menarik. Satu yang menjadi concern saya buat Bara, justru pada kegenitannya menyusun kata yang layak kutip sepanjang novel.

Tahun ini, Bara kembali meramaikan dunia perbukuan dengan menerbitkan kumpulan cerpen yang berjudul Milana. Ini bukan hal mengejutkan mengingat saya tahu Bara juga menulis cerpen di blognya. Saya suka dengan cerpen Kemenangan Apuk yang Bara tulis untuk kumpulan cerpen Singgah. Karenanya, sejak dikabarkan Bara bahwa dia sedang membuat kumpulan cerpen ini, saya menunggu Milana keluar.

Kumpulan cerpen Milana dikemas dengan cukup apik. Ilustrasi dan warna covernya menarik, klasik namun tidak ketinggalan zaman. Mengingat dua kali saya dikecewakan secara fisik oleh kumpulan cerpen terbitan Gramedia (Perempuan yang Melukis Hujan dan Kukila), Milana nampak dibuat dengan konsep yang lebih matang. Pemilihan hurufnya lebih bijaksana, tidak kelihatan dibuat dengan ukuran besar untuk memenuhi halaman seperti dua kumpulan cerpen yang sebelumnya saya sebutkan.

Dengan 15 cerpen di Milana, Bernard Batubara cukup mengejutkan saya. Tujuh cerpen yang ditulisnya mengangkat tema yang agak berbeda dari tulisantulisan Bara biasanya. Entah saya baru melihat sisi lain Bara atau memang dia sedang mencoba mengeksplor tema baru, 7 cerpen yang saya akan bahas ini mengangkat halhal gaib, mistis atau berbau kutukan. Bara nampak tertarik mencipta mitos masyarakat pada ceritaceritanya.

Cerita Milana yang diletakan di akhir kumpulan cerpen adalah yang paling menarik buat saya. Usai membaca cerpen ini, saya cukup terhenyak mengingat Jembrana bukanlah lokasi yang fiksi. Bara membuat mitos terhadap Jembrana. Kutukan kematian berantai untuk lakilaki dan perempuan yang berkenalan kala menatap senja di Jembrana. Sayang, plot mengenai lelaki perekam senja yang mengawali kutukan ini terlalu kasar. Buat saya judul Senja di Jembrana juga lebih menarik dan representatif untuk cerpen ini ketimbang Milana yang sebenarnya tidak perlu menjadi tokoh sentral dalam menciptakan mitos di cerita ini.

Cerpen Cermin adalah cerita tentang kutukan yang lain. Sebuah cermin yang menghisap jiwa orang yang bercermin di sana. Bagaimana kegilaan terhadap fisik yang sempurna membuat Wono dan Maila terkena kutukan buruk rupa dari cermin tersebut. Tapi kutukan cermin ini bukan hal baru, Bara pun mengemasnya dalam setting lama, sehingga mitos yang ingin dilahirkan di cerita ini kurang mengesankan.

Pintu yang Tak Terkunci cukup membuat merinding pada beberapa deskripsinya. Awalnya saya mengira cerpen ini tentang rumah berhantu. Namun di bagian akhir cerita, saya melihat Bara menuliskan cerita ini sebagai metafor atas kegaiban hidup dan mati. Pengetuk pintu adalah dia yang hendak mengambil jiwamu.

Di cerpen Jung, Bara mengangkat mitos tentang anak laki dan perempuan yang lahir kembar. Entah ini mitos di mana, yang jelas memang bisa menjadi konflik yang menarik sekali untuk sebuah cerita. Sayangnya, Bara nampak terburuburu menulis cerpen ini. Kisah yang lebih panjang mungkin akan membuat mitos mengerikan ini menjadi lebih utuh dan mengejutkan.

Lain lagi di cerpen Tikungan. Di cerpen ini Bara menuliskan tentang dunia gaib yang memainkan peranan atas rentetan kecelakaan di sebuah Tikungan. Kejadian demi kejadian membuat tikungan di cerita ini menjadi keramat. Meski tidak terlalu suka dengan cara Bara menutup, namun mitos yang hendak dihidupkan di cerpen ini cukup berhasil. Tikungan menjadi cerpen kedua yang saya suka di kumpulan cerpen ini setelah Milana.

Cerpen Gua Maria dikemas dengan gaya cerita horor lama. Di cerpen ini Bara menjadikan kolam renang Gua Maria menjadi tempat yang mistis oleh kasus bunuh diri. Sebenarnya ceritanya mirip seperti asal mula hantu semacam kuntilanak atau si manis jembatan Ancol, namun fokus cerita pada kisah Suhanah dan Wanto membuat kengerian dari mitos kolam renang Gua Maria tidak terlalu hidup di bagian akhir.


Yang terakhir, Lelaki Berpayung dan Gadis yang Mencintai Hujan tidak terlalu mistis. Pertemuan seorang lelaki dengan gadis tak dikenal yang senang bermain hujan. Entah kenapa tibatiba gadis itu mengidap leukimia, yang jelas pertemuan dengan gadis kecil berikutnya yang mengajak lelaki itu menari menimbulkan korelasi yang gaib dengan gadis tak dikenal sebelumnya. Saya kurang terlalu menangkap arah fokus cerita ini.

Delapan cerpen lainnya tentu saja bertema cinta. Yang paling saya suka adalah Beberapa Adegan Yang Tersembunyi di pagi hari. Di cerpen ini Bara lebih mirip berpuisi daripada menulis cerpen. Selebihnya Lukisan Kali dan Pohon Tua, Malaikat, Surat untuk Fa, Semalam Bersama Diana Krall,  Semangkuk Bubur Cikini dan Sepiring Red Velvet cukup menyenangkan untuk dibaca namun kurang mengesankan buat saya.

-

dari blog: Mudin Em - "Mistis dan Kutukan di Kumpulan Cerpen Milana" http://omemdisini.com/mistis-dan-kutukan-di-kumpulan-cerpen-milana/

Penulis adalah pustakawan dan peminat literasi media & sastra anak. 

3 Juli 2013

Tempias

sebelumnya aku pernah begitu mendamba ricikMu
kota-kota ini, tuan, adalah kota yang berasal dari senja

di dalam lembar-lembar kosong kitab suciMu
hangat, sebentar, melelehkan, dan melelahkan

tapi kematian terlahir sebagai harakat yang panjang
ia harus panjang pula diucapkan, ia terlampau jauh

namun menyala
demikian dekat
demikian terang

kota-kota ini tumbuh dari kealpaan, aku adalah napasMu
napasMu telah larut dalam hampa udara dalam doa-doa

sebelumnya aku pernah begitu mendamba ricikMu
sebelum engkau menjelma tempias yang hanya halus

namun amat basah

demikian lekat
demikian erat

2013



Sajak ini dimuat di Kompas, Minggu 1 September 2013.