24 Oktober 2013

Semakin Banyak Pilihan, Semakin Baik


Semakin Banyak Pilihan, Semakin Baik


Sebut saja Wahyu, seorang teman saya, seharusnya satu jam yang lalu tiba di tempat saya duduk saat ini di sebuah kafe dan membicarakan soal rencana proyek buku yang akan kami kerjakan bersama. Namun, hingga saat ini batang hidungnya belum juga muncul. Entah sedang di mana dia sekarang. Saya sudah memesan gelas kopi kedua dan Wahyu, teman saya itu, tak juga datang-datang.

Saya mengirim pesan lewat messenger ponsel kepada Wahyu, tapi tak mendapatkan balasan. Pesan terakhir Wahyu kepada saya adalah: “Otewe.” Yang ia maksud adalah, on the way, alias sedang dalam perjalanan. Entah dia sedang dalam perjalanan menuju ke mana, apakah ke tempat saya berada saat ini atau ke tempat lain. Wahyu sudah membuat saya menunggu terlalu lama.

22 Oktober 2013

Bagaimana Caranya Menjadi Penulis




Bagaimana Caranya Menjadi Penulis?


Saya selalu bingung menjawab pertanyaan itu. Pertanyaan, yang, entah mengapa masih juga sering saya terima. "Bagaimana caranya menjadi penulis?" Untuk pertanyaan itu, saya lagi dan lagi, dan selalu menjawab: "Ya, menulis lah." Saya katakan dengan tegas kepadamu, tak ada cara lain untuk menjadi penulis, selain: menulis.

Ada dua “K” yang penting dalam menulis, yaitu komitmen dan konsisten. Mau menjadikan menulis kegiatan yang (terasa) mudah? Jadikanlah kebiasaan. Menulislah dengan rutin. Kamu bertanya, mengapa sih terasa susah mewujudkan ide di kepala menjadi tulisan? Itu karena tidak membiasakan diri menghubungkan kepala dengan jari tangan. Menulis, sama halnya seperti orang bermain gitar. Apa yang ingin dimainkan, kunci-kunci dan nada-nada di kepala, harus terhubung dengan jari-jari tangan. Bagaimana caranya? Ya, biasakan dan rutin berlatih. Rutinitas akan membuat kegiatan yang kita lakukan terasa mudah, karena kita sudah terbiasa. Begitu pula dengan menulis.

18 Oktober 2013

[Short story] Goa Maria




Goa Maria

A short story by Bernard Batubara
Translated by Toni Pollard



It was unthinkable to Suhana that she’d have to wait such a seemingly endless long time. She was forced to remain patient. One of her good friends told her, “To be patient is a test from God and it goes on forever.” Forever? Yes, forever. Suhana felt she’d have to remain patient for far longer than that. Even though she could barely breathe or stem the flow of tears.

Wanto was the boy’s name. And he’d promised Suhana that he’d meet her. At the usual time and at the usual place, the Goa Maria swimming pool. But the meeting never took place. There was not even a glimpse of a hair on his head. No, even though the row of acacia trees had shed the last of their leaves and the seasons had rolled around. Still Suhana waited.

3 Oktober 2013

[CERPEN] Nyctophilia


Dimuat di Koran Tempo, Minggu 3 November 2013



Nyctophilia
Cerpen Bernard Batubara


Aku kira Levin Limark tak lagi bertemu dengan Jos├ęphine, perempuan bermata kucing itu, ketika pada satu malam beberapa bulan yang lalu aku melihat mata malaikatnya menembus mataku di kedalaman dan menyentuh kalbuku. Sudah begitu lama aku tak lagi merasakan cinta, dan lelaki itu mengembalikan perasaan beruntung saat ia memelukku dan menciumiku dan kami bercampur dalam kegelapan seperti malam-malam sebelumnya.