28 November 2013

What I Talk About When I Talk About Buying Books




Sebelumnya, saya sering bertanya kepada diri sendiri atau kepada teman saya, “Mengapa sih perempuan suka membeli pakaian atau sepatu atau tas padahal mereka sudah punya banyak?” Setiap melihat benda-benda itu, mereka seakan-akan lupa baru saja membeli sepatu atau tas dua hari yang lalu. “Abisnya sayaaang, kan lucu!” Nah, kira-kira begitu alasannya. “Abisnya sayang” dan “…kan lucu!”

Waktu mendengar alasan tersebut saya semakin mengernyitkan dahi. Sesepele itukah? Mengeluarkan uang untuk hal yang sebetulnya belum begitu perlu hanya untuk alasan “kan lucu!”? Tapi, setelah saya melihat ke diri saya sendiri, saya melontarkan pertanyaan yang sama: Mengapa saya membeli buku, padahal saya sudah punya banyak? Lebih parah lagi, mengapa saya terus membeli buku padahal banyak dari buku-buku yang sudah saya beli itu belum saya baca?


27 November 2013

Pedro Páramo, Juan Rulfo





Juan Preciado mendapat amanah oleh ibunya yang sekarat untuk menemui ayahnya di sebuah kota bernama Comala. Permintaan itu bukan sekadar permintaan, melainkan sebuah permintaan terakhir menjelang kematian. Maka sebagai anak yang berbakti, dia pergi ke Comala untuk menemui ayahnya. Nama ayahnya itu: Pedro Páramo.

Sesederhana itulah pembukaan novel tipis Pedro Páramo karangan Juan Rulfo. Juan Rulfo adalah seorang penulis asal Meksiko yang tak banyak menerbitkan buku, namun bukunya telah memberi pengaruh besar terhadap penulis-penulis hebat produksi Amerika Latin. Sebutlah beberapa: Carlos Fuentes, Mario Vargas Llosa, dan Gabriel García Márquez.

Kepolosan Seks Murakami





Tujuan dari catatan ini adalah untuk menyampaikan hal berikut: kalau kau mau belajar menulis adegan seks yang menarik, belajarlah dari Haruki Murakami. Mengapa? Baiklah, saya akan coba jelaskan. Pertama, saya harus beri tahu dulu siapa itu Haruki Murakami. Bagi beberapa orang yang membaca literatur Jepang, Murakami tentunya bukan nama yang asing. Saya sendiri baru mengenal Murakami dari bukunya yang pertama saya beli di Periplus, berjudul Norwegian Wood. Buku tersebut telah diangkat ke layar lebar. Namun, buku pertama Murakami yang saya baca sekaligus membuat saya jatuh cinta dan tertarik dengan cara menulis Murakami bukanlah Norwegian Wood, melainkan Dengarlah Nyanyian Angin (terjemahan Indonesia dari Kaze No Uta O Kike). Novel tipis tersebut adalah buku pertama yang saya beri skor sempurna di Goodreads, 5 dari 5 bintang.

Pada awalnya, seks bukanlah bagian yang menjadi perhatian saya ketika membaca Dengarlah Nyanyian Angin. Seperti pembaca Murakami yang lain, saya mengagumi kemampuannya “melantur dengan tertata” dalam plot yang nyaris tak pernah terbaca. Namun setelah membaca Norwegian Wood dan beberapa cerpen Murakami di kemudian hari dan membaca ulang Dengarlah Nyanyian Angin, barulah saya sadar bahwa seks atau erotisme adalah salah satu poin penting pada cerita-cerita Murakami.

Murakami menampilkan adegan-adegan seks dengan nuansa dan “intonasi” yang datar sehingga membuatnya menjadi lugu, polos, sekaligus menggemaskan. Tak hanya menggemaskan, Murakami juga terkadang menyebalkan. Kebiasaannya melantur tak terkecuali terhadap adegan-adegan seks yang dia tulis. Murakami senang membelokkan ekspektasi. Seperti di salah satu adegan di Norwegian Wood, saat Toru Watanabe berduaan dengan Naoko di pinggir bukit (saya tak ingat persis setting tepatnya) saya mengira mereka akan having sex, eh ternyata Toru Watanabe hanya dibantu masturbasi oleh Naoko.

Anehnya, meski adegan-adegan seks Murakami ditulis dengan begitu polos dan datar, saat membacanya saya tetap terasa terstimulan, bahkan lebih terangsang dibandingkan saat saya membaca buletin-buletin stensilan atau cerita-cerita dewasa di internet.

Tokoh-tokoh dalam fiksi Murakami yang terlibat adegan seks, meski sebetulnya mungkin adalah orang-orang yang berpengalaman dalam seks, mereka tetap muncul sebagai karakter yang tampak kagok, gugup. Tokoh laki-laki nyaris selalu bersikap seolah-olah mereka tak pernah mengenal seks, sementara tokoh perempuan menjadi sosok yang lebih berpengalama, agresif, dan “liar”. Naoko bermain imajinasi bersama Reiko menjadi sepasang lesbian. Midori meminta Toru Watanabe untuk masturbasi sambil membayangkan dirinya. Juga perempuan tukang kunci di cerpen Samsa In Love yang memiliki pengetahuan lebih banyak tentang organ genital ketimbang pihak laki-laki yang lebih pasif, polos, dan menunggu dengan segala keluguannya, terlihat lebih submissive, manutan. Toru Watanabe di Norwegian Wood, beberapa kali hanya memberikan reaksi terhadap “pancingan-pancingan” Midori dan bukan sebagai pihak yang memulai. Tokoh “Aku” dalam Dengarlah Nyanyian Angin masih tampak malu-malu dan mudah tersipu saat berdekatan dengan gadis penjual piringan hitam, padahal sebelumnya dia telah tidur dengan tiga orang perempuan yang berbeda. Gregor Samsa pada cerpen Samsa In Love tak memahami mengapa dia bisa mengalami ereksi.

Dunia fiksi Murakami dibangun dari hal-hal yg kecil dan sederhana. Perihal sehari-hari yang dialami oleh setiap orang, namun kerap tak diperhatikan atau tak dianggap cukup istimewa untuk diperhatikan. Namun, dalam "kesepelean" hal-hal yang diangkat Murakami yang dibungkus dengan humor dan adegan yang komikal atau erotisme yang muncul dalam cerita-ceritanya, sebetulnya ada sesuatu yang teramat dalam. Semisal pandangan atau filosofi hidup. Seperti tampak pada cerpen Samsa In Love (The New Yorker, 28 Oktober 2013) berikut ini:

“It’s strange, isn’t it?” the woman said in a pensive voice. “Everyting is blowing up around us, but there are still those who care about a broken lock, and others are dutiful enough to try to fix it. But maybe that’s the way it should be. Maybe working on the little things as dutifully and honestly as we can is how we stay sane when the world is falling apart.”

Ketika kau membaca cerita-cerita Murakami, kau akan memandang seks dari perspektif yang berbeda. Perspektif milik Murakami. Cara Murakami mendeskripsikan adegan-adegan erotis dalam fiksinya membuat kau berpikir dan memahami bahwa ada kemungkinan dan peluang untuk menjelaskan sesuatu yang lebih dalam dan berarti lewat seks. Seks dalam fiksi Murakami bukanlah adegan seks yang terjadi dengan heboh, ah uh ah uh oh yeah begitu. Melainkan "seks yang lugu". Seks, hanyalah medium yang digunakan Murakami untuk menyampaikan sebuah gagasan atau filosofi yang lebih dalam.” Sehingga, pada fiksi Murakami terjadi hal sebagaimana demikian: Sex is not the answer. Sex is only a way to look for an answer. Seks tidak menjadi inti dan maksud dari cerita-cerita Murakami, dan bukan menjadi poin penting. Keluguan dalam seksnya itulah yang musti diperhatikan (dan tentunya dinikmati). Cara Murakami mendeskripsikan adegan seks atau erotisme lah yang membuatnya istimewa dan terkadang lucu dan menghibur. Mari lihat lagi penggalan cerpen Samsa In Love dimana tokoh utamanya, Gregor Samsa, mengalami ereksi saat melihat perempuan tukang kunci yang sedang memperbaiki grendel pintu kamarnya:

Samsa decided to take the bull by the horns. “Would it be possible to meet again?” he said.

The young woman craned her head at Samsa. “Are you saying you want to see me again?”

“Yes. I want to see you one more time.”

“With your thing sticking like that?”

Samsa looked down again at the bulge. “I don’t know how to explain it, but that has nothing to do with my feelings. It must be some kind of heart problem.”

“Kepolosan seks" Murakami yang seringnya dituturkan secara komikal seringkali membuat saya cekikikan. Meski demikian, adegan-adegan erotisnya tetap membuat saya gelisah dan berimajinasi dan tentunya tak ayal ikut membayangkan visual pergerakan setiap tokoh-tokoh yang terlibat. Dan yang membuat saya semakin menyukai Murakami adalah, setelah membuka “bungkus” erotisme yang ringan dan lucu dan menghibur itu, saya menemukan sesuatu yang lebih dalam dan membuat saya merenung lama bahkan setelah saya selesai membaca ceritanya.

***

26 November 2013

The Thief and The Dogs, Naguib Mahfouz





Apa yang akan kau rasakan, seandainya kau berada pada satu titik terendah dalam hidupmu setelah berbuat kesalahan, dan ketika kau membutuhkan secercah harapan untuk kembali menjalani hidup dengan baik, kau justru dikhianati oleh orang-orang yang sebelumnya sangat kau percaya: sahabatmu, panutanmu, gurumu, bahkan istrimu sendiri? Apa yang akan kau lakukan terhadap mereka, orang-orang terkasih yang telah mengkhianatimu?

Saya akan bertanya kepada Said Mahran, tokoh utama dalam novella The Thief and The Dogs karangan Naguib Mahfouz, penulis asal Mesir yang meraih Nobel Sastra tahun 1988. Said Mahran adalah seorang residivis. Dia baru saja bebas dari penjara. Perbuatannya: mencuri. The Thief and The Dogs dibuka dengan adegan kebebasan Said Mahran sekaligus penggambaran kemarahannya yang begitu intens. Itulah yang akan terasa sejak awal hingga akhir novel: kemarahan. Apa saja yang membuat Said Mahran marah? Mari kita urai satu per satu.

Nabawiyya Sulayman, istri Said Mahran yang meninggalkannya saat ia mendekam dalam penjara selama empat tahun, dan kemudian menikah dengan sahabat Said Mahran sendiri, Ilish Sidra. Ilish Sidra adalah partner terbaik Said semasa mereka masih mencuri.

Nabawiyya. Ilish. Your two names merge in my mind. For years you will have been thinking about this day, never imagining, all the while, that the gates would ever actually open. You’ll be watching now, but I won’t fall into the trap. At the right moment, instead, I’ll strike like Fate.

Sejak awal, Mahfouz telah menampilkan isi pikiran Said Mahran. Bahkan pada narasi di paragraf sebelumnya: “No one smiled or seemed happy. But who of these people could have suffered more than he had, with four years lost, taken from him by betrayal? And the hour was coming when he would confront them, when his rage would explode and burn, when those who had betrayed him would despair unto death, when treachery would pay for what it had done.” Konflik telah dibuka sejak permulaan: Said ingin balas dendam terhadap orang-orang yang telah mengkhianatinya dan membuatnya mendekam dalam penjara. Dua orang pertama yang muncul dalam pikirannya adalah sahabatnya, Ilish Sidra, dan mantan istrinya sendiri, Nabawiyya.

Sejak awal, saya telah dibawa ke dalam mood yang penuh amarah dan kebencian. Dan ini akan berlangsung sepanjang cerita. Saya bersiap untuk ketegangan berikutnya.

Maka Said pergi ke rumahnya, yang kini telah ditempati oleh pasangan suami-istri lain: Ilish dan Nabawiyya. Sesuatu selain kebencian dan hasrat ingin balas dendam telah menyeret langkahnya ke rumah itu: Said ingin bertemu dengan Sana, anak perempuan sematawayangnya. Sana adalah penawar rasa benci yang bertumpuk-tumpuk di dadanya. Namun, apa yang terjadi? Ketika ia sampai di rumah, Sana menolaknya. Sana tak ingin menyalami tangan Said. Setelah dikhianati oleh sahabat dan istrinya sendiri, kini anaknya menolak kehadirannya.

Untuk menenangkan diri, Said beranjak ke rumah Sheikh Ali Al-Junaydi, guru spiritual mendiang ayahnya yang telah membesarkannya sejak kecil dan memberikan pengetahuan agama. Harapannya untuk mendapatkan kata-kata penghiburan pun pupus, setelah Sheikh tampak sama sekali tak berpihak kepadanya dan tak berminat untuk menyemangatinya. Sheikh seolah tak menghendaki kedatangan Said ke rumahnya. Said telah ditolak, lagi. Dia kehilangan tempat mengadu dan berlindung.

I am alone with my freedom, or rather I’m in the company of the Sheikh, who is lost in heaven, repeating words that cannot be understood by someone approaching hell. What other refuge have I?

Merasa harus mendapatkan pekerjaan yang baik dan ingin menemui harapan terakhirnya, Said mendatangi Rauf Ilwan, pelajar sekolah hukum yang “kiri”, yang menjadi mentor dan mendidik Said menjadi pencuri profesional, mencuri harta kaum kaya raya. Said kecil yang yatim-piatu dibina oleh Rauf Ilwan menjadi Robin Hood. Menemui mentornya, Said terpana. Kini Rauf telah sangat berubah. Dia bukan lagi pencuri. Dia kini seorang pemilik koran bernama Al-Zahra dan dia sukses, kaya raya, hidup mewah. Rauf Ilwan telah meninggalkan masa lalunya yang gelap dan kini menjadi bagian dari masyarakat yang dahulu mereka rampok kekayaannya. “Things must be now change completely. Have you thought about your future?” kata Rauf kepada Said. Said menjawab, “My past hasn’t yet allowed me to consider the future.” Dendam kesumat masih menggelegak di dalam dada Said Mahran, dan kebencian yang menjadi api dendam kesumat itu semakin membara ketika dia melihat Rauf Ilwan, mentornya sendiri, idolanya, panutannya, tampak tak begitu bersahabat dengannya dan tak mendukung rencana-rencananya dan tak berada di pihaknya lagi, seperti dahulu kala. Kekecewaan menusuk-nusuk dada Said dan merobek kepercayaannya kepada Rauf.

You made me and now you reject me: Your ideas create their embodiment in my person and then you simply change them, leaving me lost-rootless, worhtless, without hope-a betrayal so vile that if the whole Muqattam hill toppled over and buried it, I still would not be satisfied.

Berlandaskan perasaan benci itu, Said berencana untuk merampok rumah Rauf yang penuh harta benda. Sayangnya, kecerobohan Said membuatnya masuk ke dalam perangkap. Rauf telah bersiap dan menanti kedatangannya. Said tertangkap basah hendak merampok rumah Rauf. Rauf mengusir Said dengan keras, tak mengindahkan permohonan maaf Said, dan pada saat itulah hubungan murid dan mentor menjadi sebuah permusuhan yang abadi.

Merasa sedih, kecewa, dan depresi, Said beruntung masih punya tempat bersandar terakhir. Dia datang ke sebuah kafe di sudut gurun, terpencil dari kota, milik seseorang bernama Tarzan. Tarzan dan kroni-kroninya masih membuka tangan lebar-lebar untuk kepulangan Said. Mereka adalah komplotan pencuri dimana Said (dan Ilish, dan Rauf dahulu) bekerja secara terorganisir. Di sana, Said bertemu dengan Nur, seorang perempuan yang sejak dahulu menaruh hati pada Said. Namun, “What love he’d had been the exclusively property of that other, unfaithful woman. He’d been made of stone. There’s nothing more heartbreaking than loving someone like that.” Said tak bisa mencintai Nur sebab hatinya masih dipenuhi kebencian terhadap mantan istrinya, dan dia tak punya waktu untuk cinta yang baru, cinta yang lain.

Dengan bantuan Tarzan dan Nur, Said Mahran menyusun rencana balas dendamnya. Dia memperoleh sebuah revolver dari Tarzan, yang hendak dia gunakan untuk membunuh Ilish Sidra, Nabawiyya, dan Rauf Ilwan. Meski demikian, sesekali tetap terlintas di kepala Said akan keselamatan dan keberlangsungan hidup anak sematawayangnya, Sana. Namun tampaknya perasaan sentimentil itu tak bertahan lama, sebab Said segera kembali kepada agenda balas dendamnya. Target pertama: Ilish Sidra dan Nabawiyya.

Kebencian yang berkobar-kobar dan dendam kesumat yang teramat panas telah membuat Said Mahran bertindak impulsif tanpa rencana yang matang dan kehati-hatian, sehingga dia menjadi ceroboh. Tembakan yang dia kira menghantam Ilish Sidra, ternyata memakan korban lain, yakni Shaban Husayn. Seseorang yang menempati rumah Ilish dan Nabawiyya yang ternyata telah pindah rumah setelah kedatangan Said pertama kali. Peluru Said Mahran telah salah sasaran.

Peristiwa pembunuhan tersebut segera saja tersebar setelah beritanya dimuat di koran dan Rauf Ilwan menulis artikel khusus tentang para perampok di hariannya Al-Zahra. Said tahu, Rauf sengaja menulis artikel itu untuk mempersempit pergerakannya dan memojokkannya. Benar saja, setelah artikel tersebut naik, bahkan kafe milik Tarzan tak lagi menjadi tempat yang aman bagi Said Mahran.

Satu-satunya harapan Said kini adalah Nur. Said menginap di apartemen Nur yang terletak di sudut kota. Di halaman belakang apartemen tersebut terdapat lahan pemakaman. Di sana, Said merenung dan mengingat kembali masa lalu, tentang Nabawiyya yang mencuri perhatiannya, Ilish Sidra yang berbahagia atas pernikahan mereka, Rauf Ilwan yang masih menjadi mentornya, dan Sana yang baru saja lahir. Untuk sejenak, Said tenggelam dalam suasana melankoli dan perasaan sentimentil. “How did you spent your time?” Nur, yang memiliki nama asli Shalabiyya, bertanya kepada orang yang dia cintai dengan tulus sejak dahulu kala. Dan Said Mahran pun menjawab pertanyaan itu dengan jawaban yang memancing imajinasi dan interpretasi yang luas: “Between the shadows and the graves.”

Di situ lah salah satu letak kekuatan Naguib Mahfouz dalam The Thief and The Dogs. Dialog-dialog yang dalam. Pada satu bagian terdapat dialog seperti ini: “What does a man need in this country, Said?” and without waiting for an answer he said, “He needs a gun and a book: the gun will take care of the past, the book is for the future. Therefore you must train and read.” Selain dialog-dialog yang kuat, deskripsi suasana yang ditulis Mahfouz juga terasa puitis: The crescent moon had gone down early, leaving stars to glitter in a sky profoundly black, and a soft breeze blew, distilled from the breath of the night after a day of stunning, searing summer.

Membaca The Thief and The Dogs, kau harus bersiap-siap untuk berhadapan dengan tempo cerita yang cepat dan amarah yang berapi-api. Siap-siap pula untuk rasa depresi dan muram. Tak ada kebahagiaan di sini. Tak ada adegan-adegan manis nan romantis. Tak ada penghiburan yang ditawarkan oleh penulisnya sama sekali. Tak ada happy ending. Kau melulu akan diseret ke dalam kebencian dan rasa dendam kesumat dari satu adegan ke adegan berikutnya. Dari awal hingga akhir.

Pencuri (“The Thief”) dalam cerita bergenre thriller karangan Mahfouz ini adalah simbol kritik dan perlawanan terhadap kemapanan. Dimana Rauf Ilwan dan Said Mahran secara profesional mencuri hanya dari kaum kaya-raya yang hidup berjarak dari kemiskinan di lingkungan mereka. Mereka menjadi Robin Hood versi Mesir. Sementara itu, anjing (“The Dogs”) menjadi simbol pengkhianatan. Sering Said Mahran mengumpat orang-orang terdekatnya yang telah berkhianat kepadanya sebagai anjing. Anjing juga menjadi lambang whistle blower, yang “menyalak” dan merusak seluruh rencananya, dan kemudian menyudutkan Said Mahran hingga dia menemui ajalnya.

Dendam kesumat digambarkan Mahfouz sebagai sesuatu yang sepertinya sama sekali tak berguna. Lihatlah agenda balas dendam Said Mahran, tak ada satu pun yang terwujud. Percobaan pertama membunuh Ilish Sidra dan Nabawiyya ternyata gagal. Tembakan Said salah sasaran. Percobaan berikutnya membunuh Rauf Ilwan pun gagal. Lagi-lagi, untuk kedua kalinya, peluru Said menelan nyawa yang tak seharusnya, dia malah menembak pembantu Rauf Ilwan. Dua tembakan salah sasaran tersebut membuat Said semakin panik dan depresi. Nur, satu-satunya orang yang masih meletakkan harapan baik kepada Said pun akhirnya meninggalkan Said. Nur kecewa, kasih sayangnya yang tulus dan usahanya untuk menarik Said ke kehidupan yang lebih baik ternyata tak begitu dianggap oleh Said, sebab Said terlalu sibuk mencari cara untuk membunuh orang-orang yang ingin dia lenyapkan. Sepanjang cerita, kita diperlihatkan pada kegigihan sekaligus keras kepalanya Said yang merasa bahwa tujuan hidupnya hanyalah satu: membunuh Ilish, Nabawiyya, dan Rauf Ilwan. Dia tidak peduli apa yang akan terjadi setelahnya. “Ilish Sidra,” he said aloud, heard only by the trees as they drank in the breeze, “and then Rauf Ilwan. Both in one night. After that, let come what may.”

Sayangnya, saya kira, ada satu hal mendasar yang luput ditulis oleh Mahfouz. Tak digambarkan betul bagaimana akhirnya Said Mahran bisa ditangkap dan masuk ke dalam penjara? Pada pencurian yang mana dan bagaimana dia ditangkap? Apakah pencurian tersebut melibatkan pula Ilish Sidra dan Rauf Ilwan (semestinya iya) dan mengapa Ilish Sidra dan Rauf Ilwan tidak ditangkap? Proses apa yang dijalani Rauf Ilwan sehingga dia tahu-tahu menjelma dari seorang pencuri profesional yang membenci orang kaya menjadi seorang pengusaha dan hidup mewah? Bagian-bagian ini tak saya temukan dan membuat saya cukup bertanya-tanya.

Satu hal menarik yang baru saya temukan setelah saya membaca ulang The Thief and The Dogs, adalah bagaimana ternyata Mahfouz menggunakan peristiwa percobaan pembunuhan oleh Said Mahran sebagai sebuah metafor. Pembunuhan “gagal” yang dilakukan Said Mahran adalah sindiran dan kecaman Mahfouz terhadap peristiwa Revolusi Mesir pada tahun 1919. Dimana saat itu dia masih kecil, dan dari jendela rumahnya dia kerap melihat tentara Inggris menembaki para demonstran. Lelaki dan perempuan.

“I did not kill the servant of Rauf Ilwan. How could I kill a man I did not know and who didn’t know me? Rauf Ilwan’s servant was killed because, quite simply, he was the servant of Rauf Ilwan. Yesterday his spirit visited me and I jumped to hide in shame, but he pointed out to me that millions people are killed by mistake and without due cause.

The Thief and The Dogs bukan semata-mata kisah thriller yang dibangun dengan baik lewat ketegangan-ketegangan yang sangat intens, melainkan juga sebagai bentuk kritik Mahfouz terhadap peperangan. Lewat peristiwa yang dialami Said Mahran, dapat dilihat bahwa dendam kesumat seseorang (atas hasil peperangan atau yang lain) tak akan pernah membawanya kepada keberhasilan, bahkan jikalau dia memang berhasil menyalurkan hasrat dendam kesumatnya itu.

***

25 November 2013

Perempuan dalam Cerita-Cerita Munro





“Men are always out for what they can get,” ujar Alma, salah seorang tokoh fiksi dalam cerita pendek Alice Munro berjudul Postcard” di bukunya yang saya baca, Dance of the Happy Shades. Alice Munro adalah seorang cerpenis asal Kanada yang meraih penghargaan Nobel Sastra tahun 2013. Dance of the Happy Shades adalah buku pertamanya, terbit pada tahun 1968. Meskipun bukunya yang sedang saya baca ini adalah sebuah kumpulan cerita, yang bisa dibaca secara acak, namun saya terbiasa membaca sebuah buku secara berurut. Maka demikianlah saya mulai membaca Dance of the Happy Shades dari cerita pertamanya, “Walker Brothers Cowboy”.

Saat membaca cerpen pertama, saya masih belum menangkap di mana letak kekuatan cerpen Munro dan gagasan apa yang hendak ia sampaikan. Namun, setelah membaca cerpen-cerpen berikutnya, barulah saya paham bahwa Munro selalu bicara tentang perempuan. Salah satunya tergambar dari dialog di awal tulisan ini. “Men are always out for what they can get.” (“Postcard”) bercerita tentang seorang perempuan yang ditinggal menikah secara tiba-tiba oleh lelaki yang dicintainya. Dialog tersebut menunjukkan bagaimana Munro memunculkan pandangan perempuan terhadap laki-laki. Pada bagian lain, kita akan menemukan seorang gadis remaja yang merasa dirinya tidak menarik karena tidak ada lelaki yang mengajaknya berdansa (“Red Dress-1946”), seorang perempuan pembantu rumah tangga yang merasa hidupnya begitu menyedihkan sebab terasa kontras dengan kemewahan keluarga tempat ia bekerja, namun tiba-tiba ia merasa bersyukur dan bahagia karena seorang laki-laki anggota keluarga tersebut menghampirinya dan mencium bibirnya begitu saja (“Sunday Afternoon”), seorang gadis yang mencoba melupakan mantan kekasihnya dan menyembuhkan dirinya dari rasa sakit hati (“An Ounce of Cure”), dan seterusnya.

Dalam Dance of the Happy Shades, Munro mengangkat masalah-masalah yang dialami oleh perempuan pada berbagai usia. Seorang gadis, perempuan dewasa, bahkan wanita tua. Cerpen “A Trip to the Coast” menampilkan kekhawatiran seorang nenek kepada cucunya dan ketidakpercayaannya terhadap remaja laki-laki. Munro mengulik konflik yang terjadi pada perempuan dalam dua jalur: bagaimana pandangan seorang perempuan terhadap hal-hal di dalam dan di luar dirinya, dan bagaimana pandangan pihak di luar perempuan (publik, laki-laki, atau keluarga sendiri) terhadap seorang perempuan (stigma, nilai, dan hal-hal semacamnya). Hal ini kentara sekali terasa pada cerpen “Boys and Girls”, dimana terdapat paragraf berbunyi seperti berikut:

My grandmother came to stay with us for a few weeks and I heard other things. “Girls don’t slam doors like that.” “Girls keep their knees together when they sit down”. And worse still, when I asked some questions, “That’s none of girls’ business.” I continued to slam the doors and sit as awkwardly as possible, thinking that by such measures I kept myself free.

Lewat tokoh utama dalam cerpen “Boys and Girls”, Munro seolah hendak melawan nilai-nilai yang telah dilekatkan masyarakat kepada perempuan. Pada bagian akhir cerpen tersebut, terdapat sebuah adegan dimana si tokoh utama perempuan membiarkan kuda milik ayahnya lepas pada saat ia seharusnya bisa mencegah kuda itu kabur, dan si ayah berkata: “Never mind. She’s only a girl.” Munro menunjukkan bahwa laki-laki kerap menganggap remeh perempuan dan sangat wajar apabila perempuan melakukan kesalahan-kesalahan seperti itu. “Never mind. She’s only a girl.” Jika di cerpen “Boys and Girls” Munro menampilkan stigma laki-laki terhadap perempuan, maka pada cerpen “Thanks for the Ride”, adalah sebaliknya. Munro menulis adegan yang menggambarkan bagaimana anggapan seorang perempuan terhadap kebiasaan laki-laki. “He just went around with me for the summer. That’s what those guys from up the beach always do. They come down here to the dances and get a girl to go around with. For the summer. They always do.” Tampak bahwa laki-laki sering ‘menggunakan’ perempuan untuk kepentingan (kenikmatan?) yang sementara saja, sebuah selingan.

Perempuan dalam cerita-cerita Munro muncul dalam sosok yang kompleks, sementara laki-laki yang ia gambarkan adalah laki-laki pada umumnya (atau laki-laki di mata Munro?) yakni sebagai makhluk yang oportunis (Clare pada “Postcard”), merasa dirinya superior (Ayah pada “Boys and Girls”), dan tukang main-main dengan perasaan perempuan (Martin Collingwood pada “An Ounce of Cure”). Tak hanya bercerita tentang konflik pandangan antara perempuan dengan laki-laki dan perempuan dengan publik (“The Shining Houses”), Munro juga menampilkan konflik antar perempuan itu sendiri (“The Peace of Utrecht”). Lewat cerita-ceritanya, Munro mempertanyakan, menyindir, bahkan melawan standar-standar atau stigma yang telah dilekatkan publik terhadap perempuan, yang dianggap Munro sebagai kurungan atau pengekang yang sama sekali tidak adil. Selain memunculkan sosok perempuan yang mandiri (seorang istri di “The Office”), penuh pengalaman hidup dan kritis dan penuh kecurigaan (nenek di “A Trip to the Coast”), Munro juga memunculkan sosok perempuan yang lugu dan sederhana (Miss Marsalles di “Dance of the Happy Shades”), dan pada beberapa bagian ia juga seakan tak bisa melawan atau menyetujui bahwa perempuan juga seringkali naif dan mudah terbawa perasaan (dan dipermainkan?) oleh laki-laki (“An Ounce of Cure”, “Sunday Afternoon”, “Red Dress-1946”). Ada bagian dari diri perempuan yang, sekeras apapun berusaha diperkuat dengan keteguhan dan kemandirian, tetap menjadi lemah jika disentuh dan dimasuki oleh laki-laki. Dan, setidaknya tercermin dari beberapa bagian dalam cerita-ceritanya, Munro tidak melawan fakta ini.

Saya merasa kekuatan utama cerita-cerita Alice Munro terletak pada ideologinya, bagaimana sikap politiknya sebagai perempuan memandang dan bereaksi terhadap pandangan-pandangan publik terhadap perempuan (dan karena dirinya adalah perempuan, maka terhadap dirinya sendiri pula). Dari segi teknik, jelas tak ada yang perlu dipertanyakan lagi sebab Munro adalah peraih Nobel Sastra. Munro begitu mahir bermain dengan detil suasana, visual, dan pikiran-pikiran tokoh dalam ceritanya. Narasi yang dibangun Munro terasa kokoh dan padat. Ia kerap menambahkan atribut-atribut singkat sebagai pelengkap terhadap apa yang dilihat atau dirasakan si tokoh akan sesuatu atau seseorang. Caranya bertutur lewat narasi, dialog, dan deskripsi yang kuat amatlah sulit untuk ditiru, saya rasa (saya akan mencobanya nanti, dan kemungkinan besar akan gagal, tidak masalah). Peristiwa demi peristiwa dalam cerita-cerita Munro mengalir dengan begitu alami. Tak ada yang dibuat-buat, apalagi dipaksakan, seakan seperti kehidupan itu sendiri, berjalan apa adanya dan dengan alasan-alasan logis sebagaimana memang mestinya sebuah fiksi yang baik.

Jika kau ingin membaca cerita-cerita bagus tentang perempuan yang ditulis dengan sangat baik oleh seorang perempuan dan terasa sangat perempuan, maka bacalah cerita-cerita Alice Munro. Kau akan dibawa ke dalam dunia pikiran dan perasaan perempuan yang kompleks, yang sepertinya akan membuatmu paham, mengapa perempuan sulit dimengerti. Salah satu jawabannya adalah: sebab perempuan pun sering merasa dirinya begitu rumit sehingga mereka mengalami kesulitan untuk memahami diri mereka sendiri.

***