29 Desember 2013

Proyek Membaca 2014: Kalender Baca



Jujur saja, sejak aktif di Twitter, kemampuan membaca buku saya memburuk. Waktu SMP, saya bisa merampungkan Harry Potter and The Goblet of Fire yang tebalnya lebih dari 1.000 halaman itu dalam waktu tiga hari. Sekarang, jangankan menyelesaikan satu bab novel, membaca satu halaman saja rasanya berat. Lupakan novel 300 halaman ke atas, melihatnya pun sudah membuat kepala saya pusing. Akhirnya buku-buku yang bisa saya selesaikan hanya buku kumpulan puisi atau cerpen. Atau, novel di bawah 200 halaman, itupun butuh waktu berminggu-minggu.

Dalam setengah tahun terakhir, saya menguras isi tabungan cukup banyak untuk melampiaskan sifat impulsif saya terhadap buku. Sejauh yang mampu saya ingat, setidaknya saya membeli hampir seratus buku baru tahun ini. Indonesia dan luar negeri (belakangan saya lebih sering membeli buku-buku luar negeri). Buku-buku tersebut kini menumpuk di dalam kamar, tak terbaca. Tepatnya, belum saya baca. Saya membuat prioritas buku mana yang ingin saya baca segera dan mana yang nanti-nanti saja.

Untuk mengurangi tumpukan buku tersebut, saya membuat sebuah program membaca. Program itulah yang akan saya kemas ulang untuk ‘proyek membaca’ saya tahun depan. Proyek membaca buku ini memang saya buat untuk diri saya sendiri. Namun, teman-teman pencinta buku boleh ikut.

Aturannya begini: Buat semacam ‘kalender membaca’ 2014. Tentukan buku apa yang akan dibaca pada tiap bulannya. Karena saya suka buku-buku fiksi, maka buku-buku yang akan saya masukkan dalam kalender membaca saya adalah novel atau kumpulan cerpen. Teman-teman boleh memasukkan buku nonfiksi dalam kalender membaca masing-masing. Satu bulan satu buku. Ini jumlah minimum. Kau boleh memasukkan lebih dari satu buku kalau merasa cukup optimistis (12 buku dalam 12 bulan tentunya target yang sangat rendah).

Nah, masalahnya kemudian, bagaimana membuktikan bahwa buku-buku tersebut sudah rampung dibaca? Setiap kau selesai membaca sebuah buku, maka kau wajib menulis semacam ulasan. Tidak perlu seformal resensi atau apalah, pokoknya catatan saja. Apa yang kau dapat dari buku itu, sedikit analisis mengenai dialog, karakter, atau adegan-adegan, seperti itulah. Panjang tulisannya berkisar antara 1.000-1.500 kata. Tulisan tersebut diunggah ke blog sebagai arsip membacamu. Sebagai contoh, kau bisa lihat jurnal berikut: A Wild Sheep Chase, Haruki Murakami.

Begitu kira-kira. Di bawah ini adalah kalender membaca saya. Silakan menyusun kalender membaca versimu. Dan yang paling penting adalah: jangan malas. Selamat membaca!




28 Desember 2013

Resolusi



Beberapa saat sebelum menulis catatan ini, saya baru ingat bahwa pada tahun 2013 saya tidak membuat resolusi apapun. Biasanya, saya membuat resolusi. Di tahun 2011, misalnya, saya membuat resolusi ingin lulus kuliah, mendapatkan pekerjaan, dan menerbitkan buku. Tahun 2012, saya ingin lebih rajin olahraga, mendapatkan perut sixpack, dan menyelesaikan beberapa rencana proyek menulis (dua yang pertama gagal). Tahun 2013, saya tidak membuat resolusi apapun. Saya tidak tahu mengapa saya tidak membuat resolusi apapun seperti biasanya. Mungkin saya lupa. Atau mungkin saya terlalu asyik dengan apa yang sedang saya lakukan sehingga tidak sempat menyusun resolusi.

Seperti sebuah catatan akhir tahun pada umumnya, saya ingin sedikit mengingat apa yang sudah saya alami dan saya kerjakan di sepanjang tahun ular air ini:

Februari 2013, saya menulis beberapa cerpen yang kemudian terkumpul dalam sebuah buku, Milana. Sebagian dari buku tersebut berisi cerpen-cerpen yang saya tulis tiga tahun sebelumnya. Proses hingga Milana terbit dan edar di pasaran cukup singkat. Revisi berjalan lancar dan bulan April buku itu terbit dan menjadi buku kumpulan cerpen pertama saya. Hingga saat ini, Milana sudah masuk cetakan ketiga.

Mei 2013, saya mulai menyunting novel Cinta. Manuskrip novel tersebut sudah saya serahkan ke penerbit sejak November 2012, waktu itu masih berjudul Love Is Right (saat Cinta. terbit, beberapa pembaca masih bertanya “Love Is Right ke mana?). Revisi Cinta. cukup membuat pusing karena banyak sekali yang harus diutak-atik dan diperbaiki. Tapi akhirnya semua berhasil terlewati dengan baik dan Cinta. terbit pada akhir Agustus 2013.

Juli 2013, saya terbang ke Makassar untuk pertama kalinya dalam rangka menghadiri Makassar International Writers Festival 2013. Saya sempat bicara pada dua sesi di sana, bersama M. Aan Mansyur dan Dewi Lestari. Di sana juga untuk pertama kalinya saya bertemu dengan dua orang penyair yang saya idolakan: Sapardi Djoko Damono dan Joko Pinurbo. Saya bahkan tidur satu kamar dengan Joko Pinurbo (saya histeris waktu menerima surat-e dari panitia acara yang mengatakan bahwa saya akan satu kamar dengan Jokpin). Saya juga sempat mengobrol dengan beberapa orang penulis dan mendapatkan banyak ilmu lewat sesi-sesi diskusi pada acara tersebut. Betul-betul pengalaman yang tidak terlupakan.

Agustus 2013, saya pulang ke kota kelahiran, Pontianak. Saya membuat proyek Kopdar Fiksi, sebuah kelas menulis fiksi gratis yang saya rancang untuk memunculkan penulis-penulis muda di Pontianak. Di kemudian hari, Kopdar Fiksi tidak hanya diselenggarakan di Pontianak. Yogyakarta, Surabaya, Bali, Makassar, sempat menjadi kota-kota yang saya sambangi untuk berbagi perihal menulis fiksi dengan membawa nama Kopdar Fiksi. Di Yogyakarta, Kopdar Fiksi sudah berjalan satu angkatan.

Oktober 2013, saya pergi ke Bali untuk berpartisipasi dalam Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2013. Saya bersama 15 penulis lain, yang kebanyakan masih muda, menjadi penulis terpilih yang diundang ke UWRF lewat jalur seleksi karya. Waktu itu saya mengirim cerpen (tadinya mau mengirim buku puisi, tapi saya baru ingat usia Angsa-Angsa Ketapang sudah terlalu tua untuk saya ikutsertakan). Di sana saya sempat bicara di sebuah sesi, berdampingan dengan penulis dari Amerika, Glen Duncan, dan Ilham Q. Moehiddin.

Tak ada hal lain lagi sepertinya yang bisa saya ingat pada bulan November dan Desember 2013, selain bahwa saya menghabiskan sebagian tabungan saya untuk membeli buku. Saya akan mengagetkan diri saya sendiri kalau menyebutkan nominalnya. Menyadari bahwa tumpukan buku di kamar semakin banyak, maka di tiga bulan terakhir tahun 2013 saya habiskan untuk membaca buku tersebut satu per satu. Menurut catatan di Goodreads, tahun ini saya membaca 125 buku. Di awal tahun, saya menargetkan setidaknya membaca 50 buku tahun ini. Saya senang karena akhirnya saya merasa mendapatkan kembali momentum dan ritme membaca saya. Belakangan saya sedang fokus membaca buku-buku luar negeri dan hanya sesekali membaca buku dari penulis Indonesia.

Sebetulnya ada dua hal lagi yang saya dapatkan di penghujung tahun 2013. Dua hal ini adalah cahaya baru, jalan baru yang akan mulai saya lakoni dan tempuh di tahun mendatang. Dua hal ini menjadi semacam pembuka babak baru dalam hidup saya. Seperti sebuah buku bagus yang memiliki paragraf pembuka yang menarik, saya optimistis dengan babak baru ini karena mereka juga memiliki opening yang membuat saya penasaran untuk mengikuti paragraf-paragraf berikutnya. Dua hal ini masih akan saya rahasiakan hingga tahun depan.

Seperti telah dengan tidak sengaja saya lakukan di 2013, pada tahun 2014 saya tidak akan membuat resolusi. Saya juga tidak akan banyak bercerita tentang apa saja yang akan saya kerjakan atau proyek menulis yang akan saya garap. Saya hanya bisa berkata bahwa tahun depan saya akan melakoni dunia yang baru. Apakah dunia baru ini akan menyenangkan atau tidak? Saya sendiri baru bisa menjawabnya setelah menjalaninya nanti. Meskipun demikian, setidaknya ada dua hal yang masih akan saya lakukan di tahun depan: membaca dan menulis.

Mengingat bahwa saya tidak membuat resolusi apapun untuk tahun 2013 dan ternyata saya mengerjakan dan mendapatkan banyak hal, membuat saya berpikir bahwa sepertinya membuat resolusi bukanlah hal yang betul-betul berguna. Tentu saja kita perlu untuk berencana, namun yang paling penting adalah mengerjakan. Sebesar apapun rencana, kalau tidak dikerjakan sama saja seperti katak dalam tempurung (maaf, perbendaharaan peribahasa saya buruk sekali)

Jika ada satu kalimat yang akan saya katakan kepada diri saya sendiri di akhir tahun 2013 ini untuk menyambut datangnya tahun 2014 maka kalimat itu adalah: Stop planning, Bara, and start doing.


***

Kesepian dan Kesendirian Murakami





Menjadi seorang ambivert (setidaknya saya merasa diri saya seorang ambivert), membuat saya “hidup di dua alam”. Alam yang pertama adalah alam publik, dunia yang ditempati oleh orang-orang lain, penuh keriuhan dan lalu-lintas tindakan dan pikiran orang-orang selain saya; dunia luar. Alam yang kedua adalah alam pribadi, dunia di dalam diri saya, atau dunia kecil yang hanya ditempati oleh diri saya sendiri. Tidak ada siapa-siapa selain saya di alam pribadi ini. Hanya saya. Sendiri. Sehari-harinya saya berdiri di kedua alam tersebut secara bergantian. Beberapa jam pada satu hari saya hidup sendiri, menikmati me time dengan membaca buku, menonton film di bioskop, atau duduk di kafe minum kopi sambil merenung dan memperhatikan orang-orang. Beberapa jam yang lain saya berkumpul dengan teman-teman, berbincang dan bertemu dengan kenalan baru, hadir di sebuah seminar atau talk show, dan berinteraksi dengan pihak-pihak lain.

Membaca Blind Willow, Sleeping Woman kumpulan cerpen Haruki Murakami, memberikan kesan kepada saya bahwa tokoh-tokoh di dalam cerpen-cerpen tersebut sepertinya hanya hidup di satu alam. Mereka hanya hidup di alam pribadi, dunia di dalam diri mereka sendiri, atau dunia kecil dimana hanya ada diri mereka sendiri tanpa orang lain.

Terdapat 24 cerpen di dalam Blind Willlow, Sleeping Woman. “Blind Willow, Sleeping Woman” sendiri adalah cerpen pembuka. Bercerita tentang seorang pemuda yang mengantar sepupunya ke rumah sakit dan di perjalanan ia teringat akan dua orang temannya, seorang lelaki dan seorang perempuan yang adalah pacar lelaki tersebut. Saya tak begitu paham apa yang hendak disampaikan Murakami, tetapi ketika saya mengingat kembali kata kunci tulisan Murakami, kesendirian, barulah saya merasa bahwa kesendirian pulalah yang sedang dibicarakan Murakami dalam cerpen “Blind Willow, Sleeping Woman”. Bukan hanya kesendirian, bahkan, melainkan suasana yang suram dan, jika bisa saya katakan, suasana yang “sakit”.

Secara implisit, lewat cerita-ceritanya Murakami membangun sebuah logika untuk menyatakan kepada dunia, atau kepada pembacanya, bahwa menjadi sendiri dan merasa sepi itu tidak apa-apa. It’s okay to be alone and lonely. It’s okay to live within yourself and you don’t need anybody to help you with your problems. In fact, you don’t need anybody at all. Kira-kira begitulah yang saya tangkap dari cerita-cerita Murakami. Saat membaca cerpen Samsa In Love dan Town of Cats di New Yorker, saya belum merasakan kesepian dan kesendirian ini. Yang saya tangkap dari cerita-cerita Murakami adalah sesuatu yang jenaka, disampaikan dengan cara yang ringan dan cerdas terkadang lewat logika yang absurd namun menghibur. Namun, ketika saya terus membaca buku-bukunya yang lain, novel maupun cerpen-cerpennya dalam Blind Willow, Sleeping Woman ini, saya semakin menyadari kesepian dan kesendirian itu.

Cerpen “Aeroplane: Or, How He Talked to Himself As if Reciting Poetry” bercerita tentang seorang laki-laki yang memiliki affair dengan istri orang lain. Pada suatu bagian, terdapat dialog seperti ini:

“Even now,” she said, “if I feel I’m about to say something, I just swallow my words. It’s like a reflex. Because I got yelled at so much when I was little. But, I don’t know, what’s so bad about talking to yourself? It’s natural. It’s just words soming out of your mouth. If my mother were still alive, I almost think I’d ask her, ‘What’s so bad about talking to yourself?’”

Pada cerpen “The Mirror”, Murakami tampak sedikit bereksperimen dengan tema horor. Seorang laki-laki bekerja sebagai penjaga malam di sebuah sekolah dan melihat sebuah cermin yang aneh. Cermin tersebut memantulkan bayangannya namun bergerak seperti bukan bayangannya. What I saw wasn’t a ghost. It was simply myself. I can never forget how terrified I was that night, and whenever I remember it, this thought always springs to mind: that the most frightening thing in the world is our own self. Di cerpen “Hunting Knife” terdapat tokoh yang cacat dan harus menghabiskan hidupnya di atas kursi roda bersama ibunya yang juga sudah tua dan sakit. Setiap malam, lelaki cacat yang merasa bahwa kecacatannya adalah sebuah kewajiban sebagai peran dirinya dalam keluarga itu duduk di bar dan menghabiskan waktunya sendirian sambil memandang bulan. Cerpen “Man-Eating Cats” menceritakan seorang lelaki yang membayangkan dirinya mati di dalam sebuah apartemen dan beberapa ekor kucing memakan dagingnya, menggigiti jantungnya, dan mengisap darahnya. “A ‘Poor Aunt’ Story” mengingatkan saya akan sebuah adegan di film horor Thailand berjudul Shutter, dimana tokoh utama duduk di pinggir tempat tidur rumah sakit dan bayangan seorang perempuan muncul di kaca pintu; ternyata selama ini seorang hantu menempel di punggungnya. Hantu tersebut adalah ‘poor aunt’ di cerpen Murakami, membuat si tokoh utama dipandang aneh oleh orang-orang yang melihatnya dan perlahan membuatnya terisolasi dari lingkungan.

“The Year of Spaghetti” adalah cerpen yang memunculkan kesendirian dan kesepian hampir secara eksplisit. Paragraf pembukanya membuat saya nyaris tertipu sebab saya merasa pada akhirnya ada tokoh fiksi Murakami yang memiliki passion dan berhasrat akan sesuatu (kebanyakan tokoh-tokoh fiksi Murakami seperti tak punya tujuan hidup dan larut dalam kesendiriannya), namun pada beberapa paragraf berikutnya barulah terlihat, oh, lagi-lagi kesendirian dan kesepian itu muncul. Bahkan lebih eksplisit lagi kali ini.

As a rule I cooked spaghetti, and ate it, alone. I was convinced that spaghetti was a dish best enjoyed alone. I can’t really explain why, but there it is.

Murakami terus membangun logika kesepian dan kesendiriannya di cerpen “Tony Takitani”. Shozaburo Takitani kehilangan orangtuanya dalam perang di Jepang pada tahun 1945. Saudara satu-satunya telah hilang entah ke mana. Dia sebatangkara di dunia. Namun: This was no great shock to him, however, nor did it make him feel particularly sad or miserable. He did, of course, experience some sense of absence, but he felt that, eventually, life had to turn out more or less like this. Everyone ended up alone sooner or later. Dan sikap seperti ini, menerima dan menganggap bahwa sendiri itu tidak apa-apa, ternyata menurun kepada anaknya, Tony Takitani, karena: He cooked for himself, locked up at night and slept alone. Not that he ever felt lonely: he was simply more comfortable this way than with someone fussing over him all the time.

Seorang perempuan jatuh cinta kepada seorang laki-laki yang dingin, cuek, menyendiri, dan bahkan terkesan mengisolasi dirinya dari sekelilingnya. “The Ice Man” menjadi cerpen berikutnya yang digunakan Murakami untuk membangun logika-logika “pembenaran kesendirian”. Lewat cerpen tersebut, seolah-olah Murakami hendak mengatakan begini: Isolasilah dirimu dari dunia, menyendirilah, kucilkanlah dirimu sendiri, jangan masuk ke dunia luar, dan tunggulah beberapa waktu kemudian, seorang wanita akan menghampirimu dan jatuh cinta padamu dan menikah denganmu. “Hanalei Bay” bercerita tentang seorang ibu yang kehilangan anaknya yang tewas karena tenggelam di laut dan dimakan hiu. Si ibu, secara rutin selama sepuluh tahun mengunjungi laut di mana anaknya meninggal. Dia akan duduk di kursi plastik di pinggir pantai dan melihat para peselancar. Di suatu bagian digambarkan pula hubungannya dengan anaknya yang tidak begitu baik.

Saat selesai membaca Blind Willow, Sleeping Woman tiba-tiba benak saya memunculkan sebuah kata: solitude. Saya sering mendengar kata itu namun belum pernah mengetahui apa persisnya pengertian solitude. Lalu saya mencari di wikipedia dan inilah yang saya dapatkan: 

Solitude is a state of seclution or isolation, i.e., lack of contact with people. It may stem from bad relationships, loss of loved ones, deliberate choice, infectious disease, mental infectious disease, mental disorders, neurological disorders, or circumstances of employment or situation. Short-term solitude is often valued as a time when one may work, think or rest without being disturbed. It may be desired for the sake of privacy. A distinction has been made between solitude and loneliness. In this sense, these two words refer, respectively, to the joy and the pain of being alone.

Dan, saya rasa kata tersebut, solitude, adalah kata yang paling tepat untuk dijadikan gerbang memasuki dunia fiksi Murakami. Membaca cerita-cerita Murakami kau harus siap untuk disedot ke dalam lubang kesendirian dan kesepian yang begitu pekat. Murakami akan melakukannya secara perlahan. Kau tak akan merasa sedang disedot. Kau akan merasa baik-baik saja. Sampai akhirnya kau tiba-tiba tersadar bahwa kau sudah berada jauh sekali dari keramaian dan berada di sudut dunia yang sepi, tanpa siapa-siapa, sendiri.

***

23 Desember 2013

A Wild Sheep Chase, Haruki Murakami






Dua hal yang selalu saya temukan saat membaca cerita yang ditulis oleh Haruki Murakami: simplisitas dan absurditas. Cerita-cerita Murakami hampir selalu dibangun di atas hal-hal sederhana, setidaknya sederhana dalam ukuran saya sebagai pembaca. Hal-hal itu seperti misalnya angin musim panas, seekor kucing, selembar foto, kaleng minuman kosong, dan lain-lain. Sesuatu yang sehari-harinya kita lihat dan temukan, namun kita tidak sempat membayangkan sebuah cerita bisa lahir dari sana sebagaimana Murakami menulis cerita dari hal-hal tersebut.

Bagaimana dengan absurditas? Dalam hal ini absurditas yang saya maksud adalah lagi-lagi absurditas menurut ukuran dan pemahaman saya sendiri. Pada dialog dan narasi di setiap cerita Murakami, saya melihat absurditas itu. Bagaimana setiap karakter di fiksi Murakami memiliki pemahaman yang sepertinya tidak lazim dan jalan pikiran yang rada aneh. Agak sulit memang menjelaskan dan memberi contoh absurditas ini, namun kalau kau membaca cerita-cerita Murakami, niscaya kau akan dengan mudah menemukannya.

Dua hal itu, simplisitas dan absurditas, saya temukan kembali ketika membaca A Wild Sheep Chase. Sebuah novel yang bisa saya sebut sebagai novel semi detektif. Jangan membayangkan cerita seperti Sherlock Holmes. Ini adalah cerita detektif a la Haruki Murakami. Saya cukup senang ketika mengetahui Murakami membawa unsur misteri dan detektif dalam novelnya karena sejauh ini saya belum pernah membaca cerita Murakami yang demikian (unsur misteri sangat terasa di After Dark, tetapi tidak ada unsur detektifnya).

Seperti kebanyakan cerita-cerita yang ditulis Murakami, A Wild Sheep Chase adalah sebuah cerita yang ringan. Setidaknya, saya menganggapnya ringan. Kesan detektif sebetulnya sudah ditunjukkan oleh judul novel, yang kalau saya terjemahkan bebas ke dalam bahasa Indonesia menjadi: Pengejaran Domba Liar (jadi seperti subtitle berita kriminal di televisi ya). Kisahnya, persis seperti judulnya, tentang pengejaran seekor domba. Domba seperti apa yang dikejar? Mengapa domba itu dikejar? Apa pentingnya si domba sehingga kisah pengejarannya dituliskan dalam sebuah novel setebal 299 halaman? Hanya Murakami dan semesta di kepalanya lah yang tahu.

Itulah salah satu contoh absurditas yang saya maksud. Saya tidak pernah membayangkan seekor domba bisa menjadi sebuah misteri yang ditangani sangat serius dan membuat seorang penulis mengarang kisahnya menjadi sebuah novel dan memberinya judul yang terdengar serius pula: pengejaran domba liar, eh maksud saya A Wild Sheep Chase. Kalau kambing, saya lebih bisa terima. Karena saya tahu kambing adalah simbol setan dan sering muncul dalam topik-topik seputar ilmu hitam dan semacamnya. Karenanya lebih wajar jika kambing dibahas secara sangat serius. Tapi domba? Di kepala saya, domba adalah binatang yang harmless, lugu, pendiam, cuek, dan tidak berminat cari gara-gara.

Berkali-kali saya geleng-geleng kepala sambil cengar-cengir saat membaca bagian di mana si tokoh utama terlibat percakapan tentang domba dengan seorang tangan kanan bos besar perusahaan dan jaringan periklanan Jepang. Bagaimana seekor domba tidak hanya menjadi masalah bagi seseorang, tetapi juga menjadi masalah bagi sebuah bangsa dan negara. Ya, seserius itulah pembahasan domba oleh Murakami dalam A Wild Sheep Chase. Bagaimana Murakami mengolah seekor domba menjadi sesuatu yang serius dan harus ditanggapi dengan serius?

Out of the blue, si tokoh utama yang bekerja di sebuah perusahaan periklanan yang ia bangun sendiri bersama rekan sekaligus sahabatnya, diminta oleh seseorang yang asing untuk mencari seekor domba aneh dalam sebuah foto yang dipakai si tokoh utama untuk iklan pada buletin salah satu klien kantornya. Foto tersebut berlatarkan alam dan terdapat 32 ekor domba di sana. Salah satu dari 32 ekor domba itu adalah domba yang aneh karena memiliki semacam tanda berbentuk bintang di punggungnya.

Si tokoh utama, seperti juga saya sebagai pembaca, tentu saja heran dan bertanya-tanya, apa pentingnya seekor domba? Oke, domba itu memiliki motif yang berbeda dengan domba-domba lain dan memiliki tanda bintang di punggungnya, lalu kenapa? Mengapa si tokoh utama harus, bahkan diharuskan, mencari dan menemukan domba itu? Si orang asing tangan kanan “Boss” pun menjelaskan tentang sejarah domba dan Jepang kepada si tokoh utama, yang membuatnya, juga saya sebagai pembaca, ternganga-nganga sebab ternyata domba adalah sesuatu yang sangat serius dan memiliki sejarah istimewa terkait Jepang. Saya tidak tahu apakah Murakami mengarang ini atau memang ada cerita demikian. Terus terang saya tertarik untuk mencari tahu.

Mendapat ancaman dari orang asing tangan kanan “Boss”, si tokoh utama pun mau tidak mau melakukan perintah tersebut: menemukan domba aneh dalam foto. Masalah berikutnya muncul: bagaimana menemukan seekor domba di antara domba-domba lain di sepenjuru Jepang? Ada berapa ekor total domba yang ada di Jepang? Ini ibarat mencari jarum dalam tumpukan jerami. Bedanya adalah, tumpukan jerami tersebut adalah tumpukan jerami kering dan sebatang jarum itu adalah sehelai jerami basah. Jerami di antara jerami. Domba di antara domba. Hal yang nyaris mustahil dan percobaan pencarian yang konyol, pikir si tokoh utama. Tetapi dia harus melakukannya.

Ditemani pacarnya, seorang gadis yang membuat si tokoh utama jatuh cinta pada pandangan pertama pada telinganya (ini contoh absurditas lain), si tokoh utama pun memulai pencarian domba aneh. Mencoba mencari dan mengumpulkan petunjuk demi petunjuk, si tokoh utama memulai kekonyolannya sendiri. Bahkan saat ia telah dalam pencarian, ia masih berpikir jangan-jangan semua cerita tentang domba itu adalah karangan si orang asing belaka dan ia sedang dibodoh-bodohi. Persis seperti apa yang saya pikirkan.

Tetapi, okelah akan kulakukan saja pekerjaan bodoh ini, pikir si tokoh utama yang karakternya seperti kebanyakan karakter tokoh lelaki dalam fiksi Murakami: manutan, cuek, dan seperti daun kering di atas aliran arus sungai, ngikut aja seolah tak punya tujuan hidup. Apa yang terjadi kemudian? Keanehan demi keanehan mulai muncul. Domba aneh yang dicari ternyata memang bukan domba biasa. Domba apakah itu? Misteri inilah yang dibangun dan dijadikan cerita semi detektif oleh Murakami.

Banyak dialog absurd, aneh, namun witty dan lucu khas Murakami di A Wild Sheep Chase. Seperti pada sebuah bagian dimana terjadi percakapan di dalam mobil antara sopir si “Boss”,  si tokoh utama, dan pacar si tokoh utama tentang kaitan antara mobil dan Tuhan.

Setelah selesai membaca A Wild Sheep Chase, saya baru tahu ternyata A Wild Sheep Chase adalah bagian dari serial Trilogy of the Rat. Didahului oleh Hear the Wind Sings (sudah ada versi Indonesia terbitan KPG dengan judul Dengarlah Nyanyian Angin, buku yang saya beri skor sempurna di Goodreads) dan Pinball, 1973. Pantas saja ketika membaca A Wild Sheep Chase, saya menemukan tokoh-tokoh dan tempat-tempat yang sepertinya pernah muncul di Dengarlah Nyanyian Angin, seperti J’s Bar.

Pendek kata, bagi para penggemar Murakami, A Wild Sheep Chase adalah novel yang wajib dikoleksi dan dibaca. Tentu saja dalam rangka menikmati simplisitas dan absurditasnya.

***