11 Januari 2014

Hamidah Tak Boleh Keluar Rumah


Ilustrasi oleh Della Yulia Paramita





Hamidah Tak Boleh Keluar Rumah
Cerpen Bernard Batubara
Dimuat di Pontianak Post, 9 Februari 2014



“Tinggallah di rumah saja, Hamidah, bintang-bintang di langit dan rembulan purnama tak menginginkanmu keluar rumah, mereka cemburu dengan parasmu yang eloknya mengalahkan kesempurnaan pesona dewi-dewi nirwana. Jika kau keluar juga, kau akan meletakkan hidupmu dalam bahaya.”

Begitu bunyi pesan suami Hamidah kepada istrinya yang kudengar dari cerita seorang lelaki tua pada suatu malam di warung kopiku. Lelaki itu datang dan dengan serta-merta berkata kepadaku, “Maukah kau dengar sebuah kisah, tentang seorang perempuan yang kecantikannya begitu berbahaya hingga bisa mengacaukan seisi alam raya dan memporak-porandakan semesta?”

Karena kukira lelaki tua itu berlebih-lebihan dan aku yakin tak ada perempuan semacam itu, maka aku pun tak menghiraukannya. Aku terus saja melayani pelanggan yang lain dan mengerjakan hal-hal yang harus kukerjakan. Sekali lagi lelaki asing itu berkata kepadaku, “Kuberi tahu kau tentang kisah ini, agar kau tak menjadi lelaki berikutnya yang menjadi korban kecantikan perempuan itu.”

Aku merasa lelaki itu takkan berhenti mengganggu pekerjaanku sebelum aku menuruti kemauannya. Maka, setelah aku selesai membuat kopi untuk beberapa pelanggan, aku persilahkan ia bercerita tentang kisahnya. Pada saat itu pukul sebelas di malam hari. Warung kopiku tutup pukul duabelas. Dan selama satu jam, aku mendengar sebuah kisah yang membuatku tak berani pulang ke rumah, bahkan tak berani untuk bertemu lagi dengan istriku.

Beginilah kisah tentang Hamidah yang diceritakan oleh lelaki itu:

Pada suatu malam, tampaklah cahaya kunang-kunang mengambang di udara di halaman rumah Hamidah yang sederhana. Anak perawan seorang haji itu senang melihat kunang-kunang. Padahal, seperti yang telah diketahui orang banyak, kunang-kunang adalah jelmaan potongan kuku para manusia yang telah mati. Tetapi, tampaknya Hamidah sama sekali tidak takut dengan hal ini.

“Ayah, banyak sekali kunang-kunangnya.”

“Masuklah, Hamidah! Ini sudah larut.” Suara seorang lelaki terdengar dari dalam rumah.

“Iya, sebentar Ayah. Midah ingin lihat kunang-kunang dulu. Mungkin saja Midah akan bertemu dengan ibu.”

Ayah si perawan keluar dari rumah dan menatap anaknya dengan pandangan seseorang yang begitu khawatir. Istrinya telah meninggal saat melahirkan Hamidah. Tampaknya perempuan itu sedang dilanda rindu kepada sang ibu.

“Masuk, Hamidah. Angin malam tak bagus untuk kesehatanmu.”

“Ayah.”

“Ya.”

“Aku selalu mengira-ngira. Bagaimanakah rupa ibu?”

“Ibumu cantik, Hamidah.”

“Ah, ya…” Si anak perawan menundukkan kepalanya. Lemas. “Pastilah ibu cantik sekali. Tak sepertiku. Buruk rupa. Aku kasihan kepadamu, Ayah, harus memelihara dan membesarkan gadis buruk rupa dan menyusahkan sepertiku ini.”

Sang Ayah mendekati anaknya dan merengkuhnya dengan penuh kasih. Dia pun tidak tahu apakah mungkin ada pantangan yang telah dilanggar oleh istrinya atau dirinya sendiri, sehingga Hamidah lahir dengan wajah yang tak sempurna. Sebelah mata Hamidah bengkak seperti usai dihantam kayu hingga membuat kelopaknya membiru dan cembung sekali, bibirnya miring, keningnya terlalu menonjol, alisnya tak tumbuh, dan kakinya yang kiri lebih besar dari yang lain.

“Mengapa aku terlahir buruk rupa, Ayah?”

“Tak perlu cantik untuk hidup dengan baik, Hamidah.”

“Tetapi ibu cantik, kan?”

“Tak ada yang mengalahkan pesonanya.”

“Aku ingin jadi seperti ibu.”

“Kau sudah memiliki pesona seperti ibu, Hamidah, meski apapun yang terjadi padamu.”

Hamidah memeluk ayahnya dengan sedih. Di dalam kegelapan malam, kunang-kunang terbang mengitari mereka. Ayah Hamidah melepaskan pelukannya, tersenyum kepada anaknya, kemudian melangkah masuk ke dalam rumah. Hamidah membalikkan badan dan menatap ke langit. Berharap untuk sekelebatan saja bisa menyaksikan kecantikan ibunya. “Ibu, ibu… Maafkan aku, anakmu yang buruk rupa ini. Kau harus menyambut kematian untuk memberiku kehidupan.”

Begitu sedihnya Hamidah dengan keadaan dirinya dan rasa rindu yang teramat besar kepada sang ibu, ia pun menitikkan airmata. Seketika, seekor kunang-kunang terbang perlahan mendekatinya. Seekor saja, dari banyak yang sedang mengambang di udara. Kunang-kunang itu melayang-layang di depan wajah Hamidah.

Hamidah, Anakku…

“Ibu?”

Aneh sekali, seekor kunang-kunang yang nyalanya lebih terang dari yang lain itu bersuara dan berbicara kepadanya seperti manusia. Hamidah mengerjap-ngerjapkan mata, tak termasuk sebelah yang bengkak seperti mata hantu itu. Setelah yakin ia tidak sedang bermimpi, maka ia diam dan menunggu sang kunang-kunang bicara lagi.

Hamidah, Anakku. Maafkan aku yang telah lalai hingga kau lahir seperti ini.

“Ibu. Tak apa-apa, Ibu. Kata Ayah, tak perlu cantik untuk hidup baik.”

Ya, Hamidah. Tapi kau akan kesulitan mendapatkan lelaki.

“Ayah cukup untukku, Ibu. Ayah lelaki yang baik.”

Hamidah berbohong kepada dirinya sendiri. Sebetulnya, ia menyimpan hati kepada seorang lelaki. Namun Hamidah tak bisa berharap banyak, sebab dengan rupa seperti itu, manalah ada lelaki yang mau menyukainya. Jangankan menyukai, hanya melihat dirinya pun orang-orang langsung membalikkan badan.

Aku telah menunggu saat-saat ini, untuk bicara kepadamu Hamidah. Maafkan bahwa aku terlalu lama. Aku perlu menunggu dua puluh tahun lamanya sampai akhirnya aku bisa memiliki wujud kunang-kunang. Butuh usaha keras untuk menjadi kunang-kunang setelah aku mati, Hamidah. Lebih mudah menjadi kecoak atau lipan, tapi kau pasti tak mau bicara dengan kecoak atau lipan.

“Apa yang ingin Ibu bicarakan kepadaku? Ah, Ibu, aku rindu kepadamu. Aku ingin melihatmu. Tak bisakah kau menjadi dirimu saja, Ibu?”

Tak bisa, Hamidah, anakku. Tapi tenanglah. Sebentar lagi kau tak perlu menderita. Kau akan mendapatkan lelaki yang kau cinta dan kau akan hidup dengan lebih baik dan bahagia.

Aku memotong cerita lelaki asing itu: “Kutebak, Hamidah menjadi cantik seperti ibunya?”

“Ya.” Lelaki tua itu menjawab. “Tetapi ceritanya bukan tentang hal tersebut. Sungguh bukan. Masalah sebenarnya baru muncul setelah malam pertemuan perempuan itu dengan kunang-kunang yang bicara kepadanya.”

Aku membuatkannya segelas kopi lagi. Jam dinding menunjukkan pukul setengah dua belas malam. “Apa yang terjadi selanjutnya?”

“Setelah malam itu, Hamidah terbangun dengan perasaan yang bercampur. Ia melihat wajahnya pada cermin di dalam kamarnya dan menemukan dirinya tak seperti dirinya lagi. Sebelah matanya yang bengkak telah menyusut menjadi biasa, selaras dengan matanya yang normal, bahkan warna matanya menjadi coklat terang dan berbinar seolah sanggup melesatkan sihir. Bibirnya tampak ranum dan merona seperti jambu air. Keningnya licin dan berkilau. Alisnya tebal dan anggun. Kakinya jenjang seolah batang bambu muda. Ayahnya pun terkejut saat melihat sang anak menjadi cantik sekali serupa dengan istrinya yang telah meninggal.”

Sekarang aku membayangkan bagaimana seandainya istriku menjadi seperti Hamidah. Walaupun istriku memang sudah cantik. Ah, istriku…

“Dalam semalam, Hamidah yang buruk rupa telah menjadi seorang dewi. Banyak lelaki datang ke rumah ayahnya untuk meminang perempuan berparas elok dan bercahaya itu. Hingga pada suatu hari, datanglah seorang lelaki yang menjadi dambaan Hamidah. Mereka pun menikah.”

“Sudah? Cerita berakhir dengan bahagia? Ah, seperti roman-roman pasaran.”

“Belum.”

Lelaki tua itu tampak semakin serius dengan ceritanya. Aku mendengarkan lagi.

Setelah mereka menikah, lanjutnya, Hamidah dilarang oleh suaminya untuk keluar rumah. Hamidah mengadu kepada ayahnya, namun menurut sang ayah ia harus patuh kepada perintah suami. Kata sang suami: “Tinggallah di rumah saja, Hamidah, bintang-bintang di langit dan rembulan purnama tak menginginkanmu keluar rumah, mereka cemburu dengan parasmu yang eloknya mengalahkan kesempurnaan pesona dewi-dewi nirwana.*) Jika kau keluar juga, kau akan meletakkan hidupmu dalam bahaya!”

Bukan bintang-bintang di langit dan rembulan purnama yang cemburu kepada kecantikan tiada tara milik Hamidah, tetapi suaminya sendiri lah yang enggan jikalau paras dan lekuk menggiurkan tubuh istrinya itu dinikmati oleh lelaki selain dirinya. Maka ia mengurung Hamidah di dalam rumah. Dan atas nasehat sang ayah, dengan berat hati Hamidah mematuhi suaminya.

Namun, ketika Hamidah semakin bersedih sebab ia tak bisa keluar rumah dan merasa sangat kesepian, ia merasa rindu ingin bertemu sang ibu. Maka, pada suatu malam ketika sang suami tengah terlelap dalam tidurnya, Hamidah berjingkat-jingkat keluar rumah dan berdiri terpaku di halaman, menunggu kedatangan seekor kunang-kunang yang sinarnya paling terang.

Mengapa tampak bersedih dirimu, Hamidah, anakku?

“Aku tak ingin menjadi cantik, Ibu.”

Setelah bercakap-cakap satu jam lamanya dalam hening dan kegelapan, kunang-kunang itu melayang pergi. Hamidah masuk ke dalam rumah dan tidur di sebelah suaminya. Lalu, keesokan paginya…

***

Pukul satu dini hari. Aku lelah namun tak juga bisa tertidur. Kepalaku berputar memikirkan cerita lelaki asing itu. Istriku berbaring di sebelahku.

“Suaminya telah mati. Hamidah membunuhnya setelah berhari-hari lelaki yang sempat ia cintai itu selalu pulang membawa perempuan lain sebab istrinya telah kehilangan kecantikannya. Sebelum anakku pergi, ia menceritakan semuanya kepadaku. Aku menceritakan ini kepadamu agar kau berhati-hati menjaga istrimu. Istrimu cantik? Dari keterburu-buruanmu menyelesaikan pekerjaan dan pulang tepat waktu, aku yakin istrimu cantik. Jangan biarkan ia keluar rumah. Seperti apa wajah istrimu? Apakah seperti ini? Ini foto anakku, Hamidah, dan semenjak ia membunuh suaminya ia tak pernah kembali ke rumah.”

Pada saat itu aku terkejut mengetahui betapa miripnya wajah perempuan dalam gambar yang diserahkan lelaki asing itu dengan istriku, istriku sendiri.

Aku memiringkan badan, memunggungi istriku. Tak berapa lama, kudengar derit kasur dan langkah-langkah pelan dan pintu yang membuka…

Jangan, sayang, jangan keluar rumah… ***




*) terinspirasi oleh tweet M Aan Mansyur di akunnya @hurufkecil (04/11/2013): “please stay at home. don't go anywhere. the sky, even after the rain, is so much jealous with your eyes.”




10 komentar:

Ummu Athyah mengatakan...

bikin penasaran sih di setiap paragraphnya tapi masuh bingung ending ceritanya.

shabrina mengatakan...

ceritanya keren.. kirain endingnya gampang ditebak ternyata nggak.. salut sama kak ben :)

kharis alimoerdhoni arief mengatakan...

Sepertinya era siti nurbaya dapat terulang kembali, saya lebih suka baca full artikel di blog bisikanbusuk bang beben, makasi.

Anonim mengatakan...

Kenapa harus pke donlot sih bikin rempong baraaaaa hehhee

benz mengatakan...

Anonim: Karena di-layout menggunakan PDF supaya tampilannya lebih bagus dan enak dibaca.

benz mengatakan...

terima kasih sudah mampir ya teman-teman.

chintya putri ayu lestari mengatakan...

Kak ben keren ceritanya , aku share boleh ya ::)

Dewi Sri mengatakan...

Bara aku mau tanya dong, boleh yah ? hehe
kenapa cerpen ini terbitnyalebih duluan di blog dari pada di koran pontianak post yang memuatnya ? emang pihak redaksi ga mempermasalahkan yah naskahnya di posting duluan di blog atau dimanapun sebelum naskah itu bener2 sudah terbit di koran ? terimakasih, mohon di jawab aku masih belum paham tentang aturan masalah kepenulisan.

My Life mengatakan...

Bang, ga bosen lho baca ini. Keren :)

novriza nizami mengatakan...

Sejujurnya saya selalu jatuh cinta sama semua tulisan kak bara mau itu cerpen , novel maupun teknik teknik menulis . Jujur kak , sebagai org yang juga hoby nulis , itu semua sangat membantu saya , saya juga jadi banyak belajar dari kakak lewat media sosial gini . Tapi karna harus memilih , saya milih "Hamidah tak boleh keluar rumah" saya terdiam membacanya , saya merasa saya yang mendengar kisah itu langsung dari sibapak itu , saya merasa saya ada diposisi dia , dan pada akhirnya saya merasa ketakutan nggak tau harus berbuat apa . Saya salut sama kak bara yang bisa membuat pembaca bisa merasakan langsung kisah ini .Sukses selalu kak bara! :)