Skip to main content

review-review surat untuk ruth



*  * *

Review "Surat untuk Ruth":

Review oleh Hany Nurulhadi: "Surat untuk Ruth, Bernard Batubara" / Anggrek Lestari: "Periodisasi Luka yang Pura-pura Terlupa" / Friska Yulianti: "Seuntai Kata untuk yang Terkasih" / Herlambang Adhytia: "Surat untuk Ruth" / Indah Ayu Sartika: "Review Surat untuk Ruth" / Viera Ajeng: "Review Surat untuk Ruth" / Ayu Setioardi: "Review Surat untuk Ruth" / Neni Safitri: "Review Surat untuk Ruth" / Ve Handojo: "Surat untuk Ruth - Bernard Batubara" / Amanda Sheila: "Review Anak Muda: Surat untuk Ruth by Bernard Batubara" / Atria Sartika: "Surat untuk Ruth" / Cahaya Ramadhani: "Review: Surat untuk Ruth" / Ni Putu Candra Dewi: "Surat untuk Ruth, Memoar Singkat dan Dekat" / Margareta Mentari: "Surat untuk Ruth by Bernard Batubara" / Sofi Meloni: "Review Surat untuk Ruth by Bernard Batubara" / Dinoy Novita: "Dear Are, Surat untuk Ruth by Bernard Batubara" / Irhamna: "Kenangan Itu Jahat dan Mengacaukan Segalanya" / Winda Huhul: "Welcome June, Surat untuk Ruth" / Ruri Alita: "Surat untuk Ruth, Review" / Aziz Amin: "Review Surat untuk Ruth" / Azure Sekai: "Surat untuk Ruth by Bernard Batubara" / Cholis Hidayat: "Review Surat untuk Ruth" / Andi N. A.: "Review Novel Surat untuk Ruth - Bernard Batubara" / Intan F.: "Review Surat untuk Ruth" / Elisa Fariesta: "Surat untuk Ruth, Bernard Batubara" / Charlenne Kayla: "Are, Ini Surat Untukmu"

Comments

Unknown said…
Hmmm, pasti kereen novelnya yaa, sayang belum punya
Unknown said…
Finished reading in a day. Great story! ����
Muhlis: Silakan, masih ada di toko-toko buku. :D
Nabila: Terima kasih, Nabila! :)
Anonymous said…
Bara, saya juga bikin reviewnya, lho! :))
charlenne: ah, iya. sudah diperbaharui. terima kasih. :)
Anonymous said…
novel surat untuk ruth ini beneran atau cuman fiksi?
Unknown said…
Pengin banget jumpa abang bernard
yhana wideaa said…
Sidoarjo gak ada kak :' padahal pengen banget beli :'(

Popular posts from this blog

[ manuskrip ] sarif & nur

Nyaris setahun yang lalu, editor saya di penerbit Bukune (sekarang ia sudah pindah ke penerbit GagasMedia, masih satu kelompok penerbit), Widyawati Oktavia mengirimi saya surel yang isinya tentang ajakan untuk sebuah proyek novel. Nama proyek tersebut adalah “Love Cycle”. Konsepnya sederhana: Enam penulis membuat novel yang jika disusun maka akan menjadi urut-urutan konflik yang biasanya dialami dalam sebuah relationship. Saya mendapat urutan di tengah, yang artinya saya diminta menulis novel tentang konflik pada saat relationship itu sedang dibangun alias masa-masa pacaran. Dalam hati saya protes. Pasalnya, pada saat itu saya sedang single . Proyek ini sebetulnya adalah proyek kedua yang ditawarkan Iwied (panggilan akrab Widyawati Oktavia) kepada saya. Dengan berbagai alasan, proyek pertama gagal saya kerjakan. Di proyek “Love Cycle” ini, saya bertekad untuk tidak mengulangi hal serupa. Maka, saya mulai menulis. Tahap pertama adalah melaksanakan riset. Saya sempat mela

surat untuk ruth

                                            Ubud,  6 Oktober 2012 Ruth, Satu hal yang ingin kutanyakan kepadamu sejak lama, bagaimana mungkin kita saling jatuh cinta, namun ditakdirkan untuk tidak bersama? Aku dan kamu tidak bisa memaksa agar kebahagiaan berlangsung selama yang kita inginkan. Jika waktunya telah usai dan perpisahan ini harus terjadi, apa yang bisa kita lakukan? Masihkah ada waktu untuk kita bersama, Ruth? JIka memang kamu harus pergi, berilah aku waktu sedikit lebih panjang untuk menikmati saat-saat terakhir bersamamu. Meski tidak lama, hanya sebentar, seperti senja yang senantiasa kamu lukis, atau seperti ciuman pertama kita yang ragu-ragu. Berilah aku waktu sedikit lebih panjang untuk memelukmu, karena aku belum mengungkapkan seluruhnya yang ingin kukatakan kepadamu. Ironis, Ruth. Kamu berkata “Aku sayang kamu” tepat pada saat kamu harus meninggalkanku.                                                             

[Cerpen] Senja di Jembrana

Senja di Jembrana Menunggu adalah perkara melebarkan kesabaran dan berhadap-hadapan dengan risiko ketidakhadiran. Itu yang dikatakan oleh ibu sehari sebelum dia meninggal. Saat itu, saya tidak tahu ia sedang berbicara tentang ayah yang pergi meninggalkan kami dan tidak pernah kembali lagi. Namun sekarang saya paham semuanya. Terutama karena saya mengalami sendiri perasaan yang dulu ibu alami.