13 Juli 2014

Tetralogi Buru Pramoedya dan Karya Fiksi yang Baik






Perkenalan pertama saya dengan Pramoedya Ananta Toer terjadi kira-kira setahun yang lalu, saat saya sedang mencari-cari buku di sebuah toko buku impor bekas di sudut Yogyakarta. Sudah lama mendengar namanya, namun saya belum pernah membaca karya-karyanya, satu pun. Orang-orang selalu membicarakan Pram, Pram, dan Pram, setiap kali muncul pembahasan tentang pengarang terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Saya pun sudah mengetahui bahwa Pram adalah satu-satunya pengarang Indonesia yang pernah dinominasikan untuk memenangi penghargaan Nobel Kesusastraan. Mengapa saya belum pernah membacanya? Karena saya tidak menemukan buku-bukunya. Mungkin karena saya tidak mencari. Atau mungkin karena saya sudah sempat melihat bukunya namun belum berminat membelinya. Ada banyak alasan yang bisa saya cari untuk sebuah buku yang tidak saya beli. Sebaliknya, tidak perlu alasan apa-apa ketika pada akhirnya saya memutuskan untuk membeli sebuah buku.

Sejujurnya, alasan pertama saya pada saat itu belum membaca novel-novel Pram adalah karena bayang-bayang “berat” karya pengarang kelahiran Blora tersebut. Dari yang saya dengar, Pram menulis tentang sejarah. Bayang-bayang lugu saya tentang “sejarah” adalah sesuatu yang berat dan sulit dicerna. Apalagi ketika sempat saya melihat novel-novel Pram kebanyakan tebal-tebal. Sementara pada saat itu saya merasa sedang berada pada fase tidak mampu membaca buku-buku berat dan tebal.

Ternyata, ketakutan saya adalah kesalahpahaman belaka. Saat melihat novel-novel Pram di toko buku impor bekas tadi dan diawali dengan perbincangan bersama beberapa teman di sana yang sudah membaca novel Pram, akhirnya saya berkata pada diri sendiri, oke saya harus membeli novel-novel Pram dan membacanya. “Yang mana yang disebut dengan Tetralogi Buru?” tanya saya, karena saya memang tidak tahu novel-novel Pram mana saja yang termasuk Tetralogi Buru, sebab tidak ada novel Pram berjudul Tetralogi Buru. Setelah diberitahu, saya membungkus empat novel Pram dalam Tetralogi Buru: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca.

Hal pertama yang saya sadari ketika mulai membaca buku pertama Tetralogi Buru, Bumi Manusia, adalah: saya sudah sampai halaman keseratus! Saya tidak sadar tiba-tiba sudah membaca cukup jauh, padahal perasaan baru memulai belum lama. Poin pertama sebuah karya fiksi yang baik: pembaca tidak sadar sudah membaca banyak halaman. Artinya, narasi si penulis sangat mengalir, seperti aliran air di sungai yang jernih. Membacanya tak tersandung oleh batu-batu, hambatan-hambatan atau plot yang membuat dahi mengernyit karena kehilangan fokus atau bagian berlubang yang mengganggu. Cara bertutur Pram sangat mengalir. Saya hampir tidak percaya dengan dakwaan saya sendiri yang sebelumnya menuduh novel-novel Pram berat dan karena itu tidak nyaman dibaca.

Minke, si tokoh utama dalam Tetralogi Buru (kecuali yang terakhir, Rumah Kaca, karena di novel tersebut cerita berpindah ke sudut pandang Jacques Pangemanann sebagai tokoh utama, seorang anak bangsa berpendidikan Eropa yang bekerja pada pemerintah kolonial) adalah seorang pemuda dan pelajar yang terpesona dengan ilmu pengetahuan milik Eropa. Sementara bangsanya sendiri dijajah oleh Eropa. Belakangan Minke sadar, kekagumannya pada Eropa tidak semestinya membuat ia meninggalkan bangsanya, dan ia harus berpihak pada keberlangsungan hidup dan kemakmuran bangsanya sendiri, dan menentang penjajah. Indonesia melawan penjajah. Beberapa orang menyebut Pram tidak menulis tentang Indonesia, melainkan hanya Jawa. Bagaimanapun, Pram telah menuturkan dengan baik sebuah konflik besar pada zaman itu lewat karya fiksi. Ciri lain dari sebuah karya fiksi yang baik: ide yang besar, grandeur. Meskipun ini masih bisa diperdebatkan karena ide “kecil” pun tetap bisa menjadi karya baik jika ditulis dengan baik. Namun, yang ingin saya katakan adalah, sebuah karya fiksi yang baik adalah karya yang merekam dengan baik keadaan zamannya. Pram melakukan itu.

Dalam sebuah tetralogi, tentu saja akan ada banyak tokoh. Selain Minke, ada Jean Marais, Robert Surhoff, Robert Mellema, Herman Mellema, Darsam, Nyai Ontosoroh, Annelies, dan Jacques Pangemanann. Ketika Minke berbicara, saya melihat pikiran-pikiran dan mendengar suara Minke yang penasaran dan penuh rasa ingin tahu. Saat Nyai Ontosoroh muncul dalam sebuah adegan, saya melihat Nyai Ontosoroh dan mendengar suaranya yang terselubung aura magis dan kebijaksanaan, namun terselip perlawanan. Begitu Annelies muncul, saya melihat gerak-gerik manja dan sosok yang rapuh pada dirinya. Melihat Darsam, saya menyaksikan kegarangan dan kepatuhan seorang abdi. Berdiri di samping Pangemanann, saya melihat kebimbangan seseorang yang lama-lama melihat dirinya sendiri sebagai seorang pengkhianat bangsa. Pram? Pram lenyap dalam cerita, hanya terdengar suaranya sebagai narator, itu pun cuma samar-samar. Karya fiksi yang baik adalah karya fiksi yang suara penulisnya hilang, meninggalkan suara-suara tokoh di dalam cerita. Tentu kita sering membaca novel yang memiliki banyak tokoh, namun suara si pengarang kentara sekali terdengar dan terasa di semua tokoh tersebut. Ia tidak bisa melepaskan diri dari tokoh, dan tidak bisa membiarkan cerita berjalan “dengan sendirinya”. Ketika Nyai Ontosoroh muncul, ia adalah Nyai Ontosoroh, bukan Pram. Ketika Annelies muncul, gadis itu adalah Annelies, bukan Pram.

Sebuah roman sejarah, tentu saja menuntut data yang cukup. Bukan hal yang sulit bagi Pram karena ia hidup pada zaman tersebut. Namun, memiliki data yang mumpuni bukan satu-satunya solusi untuk menulis sebuah karya fiksi yang baik. Seorang pengarang tidak bisa begitu saja menjejalkan data-data itu ke dalam cerita, dan membuat pembaca jengah bahkan mual membacanya. Alih-alih sebuah karya fiksi, membaca cerita yang ditumpah-ruahi data justru seperti membaca buku teks pelajaran, dan bukan itu yang dicari oleh seorang pembaca karya fiksi. Hal ini tidak terjadi pada Tetralogi Buru. Keterangan-keterangan tentang VOC, pemerintah dan hukum kolonial, peristiwa-peristiwa bersejarah lengkap dengan tempat dan tahun terjadinya, disajikan oleh Pram dengan cara yang enak, hingga data-data tersebut menyatu dengan plot cerita. Saya sama sekali tidak jengah dan mual. Karya fiksi yang baik adalah karya fiksi yang tidak terbebani oleh hasil riset, melainkan hasil riset tersebut tetap digunakan dalam koridor yang sudah terpasang pada plot cerita. Ini artinya, seorang pengarang tidak diizinkan mempertunjukkan kepintaran dan memamerkan keluasan wawasannya dalam novel yang ia tulis. Setidaknya ini menurut saya.

Saya sering ditanya oleh beberapa orang teman: “Novel yang baik itu yang seperti apa sih?” Ketika mendapatkan pertanyaan seperti atau sejenis itu, saya tidak memerlukan waktu banyak untuk menyebut satu contoh, sebab hanya satu yang terlintas dalam kepala saya: Tetralogi Buru. Kenapa? Karena Tetralogi Buru memiliki semua syarat yang harus dipenuhi oleh sebuah karya fiksi yang baik. ***

14 komentar:

Lajeng Padmaratri mengatakan...

Nice post, Kak Bara :D
Aku mau cerita sedikit nih. Di dinding kelasku waktu kelas 11 dulu, ada pigura berisi gambar Pram dengan karya-karyanya. Aku sudah tau Pram sebelum baca pigura itu. Tapi aku belum baca karyanya. Aku nggak tau juga Tetralogi Buru itu apa. Eh, secara kebetulan Kak Bara pernah nge-tweet hal-hal yang ada di Tetralogi Buru. Yang kuingat sih cuma 'Nyai Ontosoroh'. Rasanya pernah denger, tapi lupa.. Akhirnya aku cari Tetralogi Buru di perpus sekolah dan menemukan Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa. Kedua seri terakhir belum kubaca ._.
Ah, panjang lebar banget nih komentarnya.. Intinya, aku baca Tetralogi Buru gara-gara tau dari Kak Bara. Dan aku setuju sama tulisan Kakak di atas :D Terima kasih, Kak :D

Agita Violy mengatakan...

"Saya sama sekali tidak jengah dan mual." yes, saya setuju! begitu pula kalimat-kalimat Nyai Ontosoroh yang kadang menyentil, ngena banget!

Rhatu Bulkiez mengatakan...

Saya juga sering mendengar nama Pram. Sejak lama saya penasaran dengannya. Bahkan kerap mengutip beberapa kata-kata dalam tetralogi barunya (Bumi Manusia), padahal saya sendiri belum pernah membacanya. hehee.. Alasannya hampir serupa dengan kak' Benz, "berat". Saya pernah lihat bukunya, ketebalan yang membuat dahi saya mengernyit. Belum lagi mengenai genrenya yang saya rasa akan sangat sulit mencernanya. Setelah baca ini, rasa penasaran saya kok jadi semakin menggebu ingin mengenal Pram. Ah, Kak' Benz tanggung jawab! hahaa -_-

benz mengatakan...

Lajeng: Dari keempat novel Tetralogi Buru, aku pribadi lebih suka Bumi Manusia. Tiga yang terakhir aku nggak begitu suka, karena sudah terlalu banyak data sejarah dan kurang romansanya (dasar penulis roman!) hahaha. Tapi keempatnya tetap layak dan musti dibaca. Jejak Langkah memperlihatkan bagaimana Minke mulai menunjukkan keberpihakannya pada bangsanya sendiri dan merancang perlawanan pada pemerintah kolonial lewat tulisan-tulisannya. Rumah Kaca sudah berubah sudut pandang, dari Jacques Pangemanann yang berdiri di dua kaki.

benz mengatakan...

Agita: Nyai Ontosoroh karakter favorit saya dalam serial Tetralogi Buru. :D

benz mengatakan...

Rhatu: Ayo baca. Nggak susah kok bahasanya Pram, justru sangat enak. Perkiraanku salah waktu ngebayangin Pram nulisnya dengan bahasa yang berat, ternyata nggak sama sekali. Memang ada beberapa kata yang mungkin akan terdengar asing, tapi nggak mengganggu kok. :D

Amelia Rahman mengatakan...

Dulu di perpus SMA nemu tetralogi ini, tapi belum sempet dibaca semua.
Aku mau tanya ka,itu toko buku yg di Jogja itu apa namanya ya?

benz mengatakan...

Amelia: Toko buku AND/OR di Jalan Selokan Mataram/Gejayan.

Mochammad Ambari mengatakan...

Saya suka quotes nya Pram :
"Semua harus ditulis. Apa pun. Jangan takut tidak dibaca atau tidak diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, dan tulis. Suatu saat pasti berguna." #SalahFokus
kak, kalo mau beli bukunya Pram via online dimana ya?

benz mengatakan...

ambari: saya tidak tahu kalau beli online.

Darmawan Sdr mengatakan...

kalau nyari di jakarta di mana ya?

Atifa mengatakan...

Kira2 kalau langsung melanjutkan ke Rumah Kaca setelah Anak Semua Bangsa tanpa Jejak Langkah akan masih ngerti cerita di Rumah Kaca gak ya?
Soalnya saya nyari gak ada di perpus sekolah -_-
He he nggak sengaja nemu postingan ini Mas Bara :D

Muthiasari Atifa R mengatakan...

kebetulan saya juga sedang proses menyelesaikan Tetralogi Buru nih, Bang. benar sekali tentang pendapat bang Bara tentang kelenyapan Pram dalam tokoh-tokoh yang ia tulis. ketika saya membacanyapun saya mampu menggambarkannya dengan baik dalam ingatan. satu seri ke seri yang lain ingatan tentang tokoh itu tetap terjaga berkat pendeskrepsian (yang kebanyakan) di Bumi Manusia. ketika di Jejak Langkah (yang sedang saya baca) kebanyakan sejarah dan saya enjoy bacanya karena memang bukan menggurui seperti di buku pelajaran. Bang Bara mengulas Tetralogi Burunya dengan bagus banget nih, mewakili apa yang pengen saya ulas tentang 3 seri yang baru saya baca dari Tetralogi Buru, apalagi yang paragraf terakhir. jadi semangat buat nyelesaiin Tetralogi Buru hehehe. :)
kalau saya suka tokoh Minke,(terlepas dari sifatnya yang pecinta wanita :p)dia berani dalam bertindak, Minke berhasil membuktikan bahwa ia bisa lebih sukses dengan pilihannya dan perjuangannya itu lho, jempolan. kalau bang Bara? Nyai Ontosoroh? eh iya bukan? -_-v
oh btw, bukankah di #JatuhCinta juga ada cerita tentang lukisan Nyai Ontosoroh? suka!

Dewanty Asmaningrum mengatakan...

Setujuu, kirain berat ternyata gak seberat itu. wkwk. Di akhir waktu Minke meninggal nangis gak kak? Apa cuma aku yg menangis -,-