30 September 2014

Mengenakan Kacamata





SAYA memiliki mata yang sehat. Begitulah yang saya yakini. Setidaknya hingga saya menginjak usia ke-25 tahun, karena sehari setelah itu, saya mendapati kenyataan yang cukup memukul.

Hari itu diawali dengan sangat normal. Saya sedang pergi ke sebuah mal, berdua dengan seorang perempuan yang saya sebut sebagai kekasih. Namanya G. Saya dan G usai menyantap sate padang di food court, dan kami melangkah ke sebuah toko optik. G bilang ingin melihat-lihat frame kacamata. Saya mengikutinya.

Sangat jarang saya masuk ke toko optik, karena memang tidak punya kepentingan. Mata saya sehat, untuk apa masuk ke toko optik? Hanya orang-orang berkacamata yang rajin main ke toko optik, atau orang-orang yang senang mengenakan kacamata, atau ingin membeli kacamata. Saya tidak termasuk ketiga golongan pengunjung toko optik itu.

Lalu, ketika saya sedang melihat-lihat santai kacamata yang berderet rapi di dalam rak berkaca, G memanggil saya: “Kamu nggak mau coba cek kesehatan mata?” katanya. Saya menoleh dan mengangkat alis. “Untuk apa?” jawab saya. “Mataku sehat-sehat saja, kok.” G bicara dengan santai, seperti biasanya, dia bilang apa salahnya saya mengecek kesehatan mata saya, kalau memang tidak ada apa-apa, ya bagus, dan kalau ada apa-apa, saya bisa mengetahuinya sejak dini. Saya pikir, betul juga, apa ruginya. Toh, untuk mengecek kesehatan mata di toko optik tidak dipungut biaya sepeser pun.

G akhirnya bicara kepada petugas toko dan berkata bahwa saya ingin mengecek kesehatan mata. Petugas mengangguk dan meminta kami untuk menunggu sebentar. Tidak berapa lama, saya dipersilakan masuk ke sebuah ruangan khusus untuk melakukan pengecekan. Saya duduk di kursi yang telah dipersiapkan, dan serangkaian tes pun dilakukan. Seiring saya diberi huruf-huruf dan gambar-gambar untuk diilhat, petugas hanya bertanya “Kelihatan, tidak? Kalau begini, kelihatan atau tidak?” Saya menjawab sesuai dengan apa yang saya rasakan. Setelah selesai, saya dipersilakan keluar dan menunggu hasil tes.

Alangkah terkejutnya saya, ketika petugas menunjukkan kertas hasil tes dan mengatakan bahwa mata saya minus sekaligus silindris. Dalam hati saya berkata: serius? Selama ini saya merasa, dan menganggap, mata saya sehat-sehat saja. Wong saya masih bisa melihat benda-benda dengan jelas, dekat maupun jauh. Jadi, tidak mungkin hasil tesnya minus. Ini pasti kesalahan.

G melihat hasil tes itu, dan menyarankan saya untuk mencoba cek kesehatan mata di toko optik lain, hanya untuk memastikan, karena dia tahu saya tampak terguncang melihat kenyataan tersebut. Mata saya minus.

Beberapa hari setelahnya, saya pergi ke sebuah mal dan melakukan cek kesehatan mata di tiga toko optik berbeda sekaligus. Semua hasil tes itu menyatakan hal yang sama: mata saya minus.

***

DAHULU, saya senang membeli dan mengenakan kacamata, hanya untuk gaya-gayaan. Menurut saya, orang yang mengenakan kacamata tampak pintar dan intelek, maka saya senang mengenakan kacamata. Namun, saya tidak pernah berharap betul-betul memiliki mata minus. Saya ingin mata saya sehat.

Demikianlah perasaan saya menjadi campur aduk, ketika mengetahui dan mencoba menerima kenyataan bahwa mata saya minus sekaligus silindris. Dan, karena mata saya minus dan silindris, maka saya harus mengenakan kacamata. Kali ini, saya mengenakan kacamata bukan untuk gaya-gayaan, namun betul-betul karena saya memerlukannya sebagai alat bantu. Rasanya sulit untuk mempercayai hal ini: saya butuh bantuan alat hanya untuk melihat.

Atas saran G, saya mencari frame kacamata yang murah, walau sebenarnya saya tertarik dengan satu model frame di toko optik yang pertama kali kami datangi. G bilang sebaiknya jangan langsung beli frame mahal. Karena G mengenakan kacamata jauh sebelum saya (ia mulai mengenakan kacamata sejak SMA), maka saya mempercayai sarannya. Saya mencari frame kacamata di lapak pinggir jalan, dan membeli sebuah seharga tiga puluh ribu rupiah.

Saya membawa frame kacamata baru itu ke toko optik, dan memesan lensa dengan ukuran sesuai kebutuhan saya. Setelah tiga hari, saya dikabari oleh toko optik, dan kacamata saya pun telah siap dipakai.

Alangkah kagetnya saya ketika pertama kali mengenakan kacamata. Tiba-tiba saja, benda-benda yang saya lihat menjadi tampak lebih tajam, warna-warna terlihat lebih jelas dan kontras, huruf-huruf di lampu neon lebih terbaca, dan cahaya-cahaya tidak lagi terlalu menyilaukan seperti sebelumnya. Saat pertama kali mengenakan kacamata, tiba-tiba saja semuanya jadi lebih benderang. Saya bahkan merasa seperti sedang berada di dunia yang lain. Dunia yang lebih cerah.

Dunia yang lebih berwarna.

***

SEMPAT terbawa beberapa saat oleh sensasi yang menakjubkan, saya mencoba meredam perasaan itu. Saya berpikir, jika dengan mengenakan kacamata, ternyata penglihatan saya menjadi lebih tajam dan jelas, berarti sebelumnya saya melihat hal yang “keliru”? Benda-benda yang saya yakini bentuknya, warnanya, ukurannya, jangan-jangan sebenarnya tidak demikian? Jangan-jangan, selama ini, saya hanya meyakini bahwa apa yang saya lihat adalah memang demikian adanya, padahal yang terjadi tidak demikian? Jangan-jangan, hanya karena tidak mau mengenakan kacamata dan merasa mata saya sehat-sehat saja, selama ini saya meyakini hal yang salah?

***

MEMBACA, dan menulis, juga tak pernah lepas dari perihal keyakinan. Seseorang yang memiliki banyak koleksi buku dan membaca buku buku “berat” yakin bahwa bacaannya lebih banyak, bagus, dan bermutu ketimbang orang lain. Seorang penulis yang menerbitkan novel-novel sastra dan hanya menulis puisi dan cerpen untuk dimuat di koran minggu yakin bahwa apa yang ia tulis lebih “tinggi”, “adiluhung”,  dan “berbobot” ketimbang penulis novel-novel roman populer dan novel-novel cinta remaja.

Sayangnya, hampir dari mereka semua (mungkin) tidak pernah mencoba melakukan sesuatu dari sisi yang lain, sisi yang mereka anggap lebih rendah hanya karena tidak sama dengan mereka. Penulis cerpen-cerpen dan novel sastra tidak mencoba menulis novel teenlit, pembaca novel-novel pemenang Nobel Sastra tidak mencoba membaca novel-novel metropop atau personal literature komedi. Beberapa mungkin mencoba dan tidak berhasil. Beberapa mencoba dan berhasil. Beberapa dengan cepat merespons: apa gunanya?

Mengenakan kacamata adalah suatu bentuk usaha untuk melihat sesuatu dengan lebih jelas. Saya menduga, dan tentu saja dugaan ini bisa sangat ceroboh dan tidak valid, bahwa orang-orang yang saya sebut di paragraf sebelumnya merasa memiliki mata yang sehat, sehingga tidak perlu mengenakan kacamata.

Paradigma yang tertanam dalam kepala, “sastra” adalah agung, sementara teenlit adalah sesuatu yang tak layak ditulis, terus-menerus tumbuh dan mengakar sehingga menjadi prinsip, lalu menjelma keyakinan. Untuk apa mengenakan kacamata penulis teenlit? Penglihatan saya sudah bagus, tajam, dan benar. Inilah keyakinan saya dan keyakinan saya adalah mutlak.

***


SAMPAI hari ini, saya terus mengenakan kacamata dan panik kalau lupa membawanya saat bepergian. Saya butuh kacamata, saya butuh alat bantu untuk melihat hal-hal, terutama keyakinan-keyakinan yang selama ini saya anggap benar. Sebab, bisa jadi, di antara mereka yang saya sebutkan di atas, ternyata saya melihat diri saya sendiri.

Ah, lagipula ini hanya perkara mengenakan kacamata. ***

6 komentar:

Renggo Starr mengatakan...

Ternyata sedalam dan sepenting itu memilih dan menggunakan 'kacamata' yang tepat.

Wahid Sabillah mengatakan...

Saya juga baru sebulan ini memakai kacamata bang. Awalnya saya merasa kalau mata saya sehat, ternyata yang kiri sakit lumayan parah.

Yang tentang membaca buku berat, dan bilang "apa gunanya?" untuk membaca novel cinta remaja seperti mengingatkan saya bang.

kharis alimoerdhoni arief mengatakan...

Paradigma yang salah, mungkin akbiat sudut pandang kita yang terbalik dari kenyataan. Jadi, harus ganti lensa yang benar.

Beben, kamu tahu kenapa kelinci gak pakai kacamata?

suka banget berkunjung di bisikan busuk, mencerdaskan.

Ismie Nurbarina mengatakan...

itu si G yang menjadi misteri di instagram itu kan, Bang?

Pijar Rizky Adhitya mengatakan...

Dengan kacamata segala yang kita lihat akan tersaring melalui lensa. Bisa benar, bisa semu. Tergantung kita, apakah memakai lensa yang pas.

Reni aryanti mengatakan...

sederhana tapi sarat makna, pada sebuah kacamata saja kita bisa banyak belajar . . . . .