13 Oktober 2014

Lelaki Harimau, Eka Kurniawan




Membaca novel-novel Eka Kurniawan adalah membaca karya-karya pengarang dunia di dalam satu buku, kata seseorang yang saya tidak ingat namanya. Karena saya baru membaca sedikit, maka yang saya tangkap juga tidak banyak. Saat membaca kalimat pembuka Lelaki Harimau, saya hanya teringat pada satu nama: Gabriel García Márquez.

Senja ketika Margio membunuh Anwar Sadat, Kyai Jahro tengah masyuk dengan ikan-ikan di kolamnya,…

Foreshadowing atau ‘peramalan’ adalah teknik Eka Kurniawan yang paling sering saya temukan, setidaknya pada dua novelnya yang belum lama ini saya baca, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas dan Lelaki Harimau ini. Menurut sumber, teknik foreshadowing seperti yang dipakai pada bagian pembuka Lelaki Harimau itu pertama kali dipopulerkan, atau mungkin sering digunakan, oleh Gabriel García Márquez. Contoh yang sangat bagus adalah novela Chronicle of a Death Foretold (Kronik Kematian yang Telah Diramalkan), berkisah tentang pembunuhan seseorang yang diketahui seisi kota namun tak ada satu pun orang mencegah. Dalam Chronicle of a Death Foretold, cerita juga dimulai lewat cara seperti pembuka Lelaki Harimau (buku tersebut sudah saya kirim ke kampung halaman, jadi maaf saya tidak bisa memberi contohnya di sini).

Hal yang segera muncul ketika seorang pengarang menggunakan teknik foreshadowing sebetulnya adalah sesuatu yang paling dihindari oleh penulis cerita, yakni spoiler. Dalam pengertian yang ceroboh, menurut saya foreshadowing adalah ‘jurus ampuh’ untuk membocorkan spoiler kepada pembaca, yang mana justru sangat dihindari, bahkan dibenci. Ketika seseorang menggunakan teknik foreshadowing, maka dia memampangkan jelas-jelas inti cerita, klimaks, bahkan bisa jadi ending-nya. Dalam hal ini, Eka Kurniawan melakukan yang terakhir. Ya, kalimat pembuka Lelaki Harimau adalah juga merupakan ending novel tersebut.

Lalu, kalau sudah tahu ending ceritanya, bagaimana dong? Untuk apa dibaca lagi, kan sudah tahu akhirnya seperti apa? Di sini lah letak tantangan foreshadowing. Saya memandang foreshadowing lebih memberikan tantangan kepada penulisnya ketimbang pembaca. Apa tantangan itu? Jelas sekali, karena si pengarang sudah membocorkan klimaks dan ending ceritanya, maka misi besar saat menuliskan novelnya menjadi: bagaimana cara membuat pembaca tetap membaca dari awal hingga selesai, paragraf demi paragraf, halaman demi halaman, meski mereka telah mengetahui apa yang terjadi di akhir cerita?

Itulah, saudara-saudara, kekuatan Eka Kurniawan. Setidaknya dalam Lelaki Harimau dan Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (saya belum membaca Cantik Itu Luka, dan lupa sebagian besar cerpennya di buku-buku yang lain; hanya ingat Gerimis yang Sederhana) Eka menunjukkan kelihaiannya bermain-main dengan teknik andalan maestro realisme magis Gabriel García Márquez ini. Adegan pembuka yang mengandung spoiler (tidak tanggung-tanggung, Eka memberikan ending-nya!) dibelokkan ke adegan lain, yakni Kyai Jahro yang sedang masyuk dengan ikan-ikan di kolamnya. Untuk menyamarkan dan mengalihkan perhatian pembaca, seakan-akan tepat pada saat ia telah menunjukkan ending ceritanya secara gamblang di hadapan wajah kita ia lantas ingin membuat kita lupa, Eka melanjutkan adegan dengan kegiatan Kyai Jahro dan ia menuliskannya dengan kalimat-kalimat panjang, membawa dan menggiring perhatian pembaca ke hal lain.

 Senja ketika Margio membunuh Anwar Sadat, Kyai Jahro tengah masyuk dengan ikan-ikan di kolamnya, ditemani aroma asin yang terbang di antara batang kelapa, dan bunyi falseto laut, dan badai jinak merangkak di antara ganggang, dadap, dan semak lantana. Kolamnya menggenang di tengah perkebunan coklat, yang meranggas kurang rawat, hanya berguna bagi pabrik tempe yang merampok daunnya setiap petang… (dan seterusnya)

Eka mencoba mengalihkan perhatian dari ending cerita yang telah ia bocorkan di kalimat pertama, dengan menggunakan kalimat-kalimat majemuk yang panjang dan terus terangkai, dan memang saya sempat teralihkan sejenak. Saya lupa bahwa di kalimat pertama, ada informasi bahwa seseorang telah membunuh seseorang. Siapa Margio itu? Siapa Anwar Sadat? Kenapa Margio membunuh Anwar Sadat, apa masalahnya? Tapi, seolah-olah tidak peduli dan melakukan saja apa yang ingin ia lakukan, Eka malah memperlihatkan adegan tokoh yang lain lagi. Bukan Margio dan bukan Anwar Sadat.

Saat membaca setiap tulisan Eka Kurniawan, cerpen-cerpen dan novel-novelnya, saya selalu mendapatkan sensasi seperti sedang menonton sebuah film. Bukan hanya deskripsi yang cukup visual, melainkan permainan plot, yang layaknya sebuah plot film Hollywood nomor wahid. Dalam Lelaki Harimau, Eka menggunakan sudut pandang orang ketiga, dengan berbagai filter. Jika dibentangkan secara lurus, alur cerita Lelaki Harimau sebetulnya sangat pendek, namun permainan plot yang maju-mundur, dan pergantian sudut pandang (berpindah-pindah antara Kyai Jahro, Mayor Sadrah, Margio, Anwar Sadar, dan tokoh-tokoh lain) membuat Lelaki Harimau tampak seolah-olah panjang.

Dengan teknik demikian lah, Eka mengungkap misteri demi misteri dalam ceritanya. Bagaimana Margio membunuh Anwar Sadat, kehidupan Margio dan peristiwa-peristiwa yang ia alami sebelum ia melakukan pembunuhan itu, mengapa ia melakukannya. Eka juga melengkapi pengetahuan pembaca dengan informasi profil dan kehidupan tokoh-tokoh lain, juga lewat teknik yang sama, plot maju-mundur, dan berpindah-pindah kamera. Kalau penjelasan saya tentang plot dan teknik maju-mundur berpindah-pindah perspektif ini membingungkan dan sulit dibayangkan, tontonlah film Vantage Point. Anda akan paham dengan apa yang saya maksud.

Pada lapisan kulit yang lebih dalam, lewat Lelaki Harimau Eka memaparkan bermacam-macam isu. Mulai dari kekerasan, dendam, birahi, sampai cinta. Namun, semua lapisan kulit itu rupanya hanya menjadi pembungkus dari intisari yang menjadi penyebab nyaris seluruh konflik. Kekerasan, dendam, birahi, dan cinta, semuanya bermula dan bersumber dari satu titik kecil dan menyakitkan: kemiskinan. Setidaknya, saya melihatnya demikian.

Tentu saja di dunia ini tidak ada yang sempurna, Lelaki Harimau pun memiliki bagian yang sempat membuat saya menguap lebar dan melakukan skimming di banyak halaman. Hal ini terjadi pada bagian pertengahan, ketika Eka mengisahkan kehidupan Margio dan keluarganya sebelum ia menemukan ‘harimau’ yang kemudian merasuk dalam dirinya. Sebabnya saya menguap dan melakukan skimming tak lain daripada Eka mulai tampak malas menggunakan kelihaiannya, plot dengan perspektif berpindah-pindah itu berhenti di sana, dan seterusnya adalah alur yang linear dan teramat mudah ditebak. Betul-betul membosankan, mengingat di bagian awal novel ini menarik perhatian dengan sangat efektif dan jitu. Mungkin Eka berpikir bagian tersebut harus dituliskan menggunakan alur linear, karena fokusnya kali ini terletak pada informasi dan latar belakang, alih-alih bermain-main dengan plot. Tapi, tetap saja, apapun itu saya telah menguap di bagian pertengahan hingga nyaris akhir (meskipun, hal ini seketika termaafkan ketika saya sampai pada kalimat terakhir Lelaki Harimau).

Eka Kurniawan adalah pengarang yang matang teknik. Ia paham bahwa menulis adalah perkara menyampaikan apa dengan cara bagaimana. Ia tahu, untuk menyampaikan gagasan yang ia inginkan, ia harus mencari cara yang tepat pula. Bukan hanya tepat, tetapi yang paling tepat. Ia mengerti, ia mesti menemukan cara terbaik untuk mengucapkan apa yang ingin ia ucapkan. Hanya ada satu kalimat “Aku cinta kamu” di dunia ini, namun ada berapa ribu cara mengucapkannya?

Dan, Lelaki Harimau adalah gagasan yang ingin Eka sampaikan, dengan cara terbaik yang bisa ia dapatkan. ***

2 komentar:

Narablog mengatakan...

paragraf kedua dan ketiga dari bawah kok paradoks sekali?

Putri mengatakan...

berasa bertambah ilmu. :D Terimakasih, :D