Skip to main content

[ manuskrip ] ariyani



Hasrat saya menulis novel tidak mencegah apalagi mengurangi kesukaan saya terhadap cerita pendek. Di sela-sela membaca novel, saya masih suka membaca cerita-cerita pendek. Sesekali saya menulis cerita pendek, terutama untuk menangani kilatan-kilatan ide yang banyak namun tidak bisa segera saya jadikan novel.

Sembari menunggu kabar tentang manuskrip novel terbaru saya dari editor, saya mengumpulkan beberapa cerita pendek yang pernah saya tulis dari tahun 2010-2013. Dengan agak nekat (karena saya tahu kumpulan cerita pendek lebih sulit lolos seleksi ketimbang novel) saya kirimkan kumpulan itu ke editor saya. Saya tidak berharap banyak. Kalaupun naskah tersebut tidak bisa diterbitkan, tidak masalah. Setidaknya, rasa penasaran saya sudah tersampaikan.

Di luar dugaan, editor saya memberi kabar baik. Penerbit tertarik dengan manuskrip kumpulan cerita yang saya kirim, dan ingin menerbitkannya. Tentu saja dengan beberapa catatan. Di antaranya adalah menyingkirkan beberapa cerita yang kurang kuat, dan menambah beberapa cerita baru.

Merespons catatan tersebut, saya menulis tiga cerita baru. Total cerita dalam manuskrip versi akhir yang saya kirim ke editor adalah 16 cerita. Karena cerita-cerita pendek tersebut berasal dari rentang waktu yang cukup panjang (empat tahun), maka mungkin nanti teman-teman pembaca akan melihat perubahan gaya menulis dan tema dari cerita satu ke cerita lain.

Meski gambar di atas menampilkan judul sementara yang panjang, saya beri nama manuskrip ini: Ariyani. Diambil dari nama tokoh di salah satu dari tiga cerita yang baru saya tulis khusus untuk melengkapi buku ini. Judul panjang di gambar di atas itu juga cerita baru, teman-teman akan menemukannya pula di dalam buku ini nanti.

Manuskrip Ariyani masih mengambil tema besar: cinta. Sayangnya, mungkin teman-teman tidak akan menemukan cerita cinta dengan akhir bahagia di sini. Entah kenapa saya mengalami kesulitan untuk menulis cerita pendek tema cinta dengan ending yang bahagia. Tapi, semoga kelak saat membacanya teman-teman tetap terhibur dan puas.

Saat ini, Ariyani sudah dipegang oleh editor, dan sedang dibaca ulang. Proses revisi rencananya akan berlangsung bulan ini, karena Ariyani direncanakan untuk segera terbit. Semoga saja semuanya berlangsung lancar. Termasuk manuskrip novel Sarif & Nur yang sekarang juga masih proses editing oleh editor. Total ada 2 manuskrip saya-novel dan kumpulan cerita pendek-yang sedang diproses di penerbit.

Saya harap teman-teman mau ikut berdoa, agar kedua manuskrip tersebut, Sarif & Nur dan Ariyani, dapat segera lahir dengan baik, dan menemui teman-teman pembaca setia semuanya.



Bara

Comments

Archieta said…
Senang melihat mas Bara produktif menulis. Judulnya eye catching. Sekali baca langsung terprogram di otak. Semoga cepat beredar ya.
Yaumil Akbar said…
Sukses selalu, semoga dapet novel gratis dari mas Bara, hihihi
si Mamba Hitam said…
Amin, semoga sukses manuskripnya bang Bara...
daeng faiz said…
Penasaran, bang bara
Archieta: Terima kasih. Saya pun suka dengan judulnya. Doakan agar prosesnya lancar ya.

Yaumil: Hahaha. Kalau sudah terbit nanti pasti akan ada kuis. Tunggu aja! :D

Si Mamba: Terima kasih!

Faiz: Silakan nantikan.
Saya ikut mendoakan. semoga lekas terbit keduanya :D
Pijar: Terima kasih, saya sangat berharap novel Sarif & Nur juga segera terbit.
sukses ya semoga novel sarifnya cepat terbit,amin
selalu jatuh cinta sama tulisannya bang bara, kalo main ke Padang kabar-kabarin ya bang.

Aryani sama Sarif & Nur nya jangan kembaran lahirnya, nanti kantong jebol :D
Frisca: Sepertinya kedua buku tersebut tidak akan berdekatan terbitnya. "Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri" direncanakan terbit bulan depan, sementara Sarif & Nur belum masuk ke dalam jadwal. Saya juga berdoa semoga mereka sedikit berjauhan. He he he.

Popular posts from this blog

[ manuskrip ] sarif & nur

Nyaris setahun yang lalu, editor saya di penerbit Bukune (sekarang ia sudah pindah ke penerbit GagasMedia, masih satu kelompok penerbit), Widyawati Oktavia mengirimi saya surel yang isinya tentang ajakan untuk sebuah proyek novel. Nama proyek tersebut adalah “Love Cycle”. Konsepnya sederhana: Enam penulis membuat novel yang jika disusun maka akan menjadi urut-urutan konflik yang biasanya dialami dalam sebuah relationship. Saya mendapat urutan di tengah, yang artinya saya diminta menulis novel tentang konflik pada saat relationship itu sedang dibangun alias masa-masa pacaran. Dalam hati saya protes. Pasalnya, pada saat itu saya sedang single . Proyek ini sebetulnya adalah proyek kedua yang ditawarkan Iwied (panggilan akrab Widyawati Oktavia) kepada saya. Dengan berbagai alasan, proyek pertama gagal saya kerjakan. Di proyek “Love Cycle” ini, saya bertekad untuk tidak mengulangi hal serupa. Maka, saya mulai menulis. Tahap pertama adalah melaksanakan riset. Saya sempat mela

surat untuk ruth

                                            Ubud,  6 Oktober 2012 Ruth, Satu hal yang ingin kutanyakan kepadamu sejak lama, bagaimana mungkin kita saling jatuh cinta, namun ditakdirkan untuk tidak bersama? Aku dan kamu tidak bisa memaksa agar kebahagiaan berlangsung selama yang kita inginkan. Jika waktunya telah usai dan perpisahan ini harus terjadi, apa yang bisa kita lakukan? Masihkah ada waktu untuk kita bersama, Ruth? JIka memang kamu harus pergi, berilah aku waktu sedikit lebih panjang untuk menikmati saat-saat terakhir bersamamu. Meski tidak lama, hanya sebentar, seperti senja yang senantiasa kamu lukis, atau seperti ciuman pertama kita yang ragu-ragu. Berilah aku waktu sedikit lebih panjang untuk memelukmu, karena aku belum mengungkapkan seluruhnya yang ingin kukatakan kepadamu. Ironis, Ruth. Kamu berkata “Aku sayang kamu” tepat pada saat kamu harus meninggalkanku.                                                             

[Cerpen] Senja di Jembrana

Senja di Jembrana Menunggu adalah perkara melebarkan kesabaran dan berhadap-hadapan dengan risiko ketidakhadiran. Itu yang dikatakan oleh ibu sehari sebelum dia meninggal. Saat itu, saya tidak tahu ia sedang berbicara tentang ayah yang pergi meninggalkan kami dan tidak pernah kembali lagi. Namun sekarang saya paham semuanya. Terutama karena saya mengalami sendiri perasaan yang dulu ibu alami.