31 Januari 2014

Meriam Beranak


Ilustrasi oleh Ida Bagus Gede Wiraga





Meriam Beranak
Cerpen Bernard Batubara
Dimuat di Jurnal Nasional, 26 Januari 2014



Sebelum menjadi sebatang meriam, dahulu ia adalah seorang perempuan. Setiap sore, seperti perempuan-perempuan lain yang tinggal dan hidup di tepian Sungai Kapuas, ia membasuh tubuhnya dengan air sungai terpanjang di negerinya itu. Dengan khusyuk ia bersihkan sudut demi sudut lekuk tubuhnya. Para lelaki yang telah beristri mengintip dari balik pintu dan jendela rumah mereka. Seraya menikmati siraman air dan cahaya senja dari Barat langit, ia mandikan pula anak lelakinya yang sematawayang. Janda beranak pengacau rumah tangga orang, kata para istri lelaki-lelaki yang mengintip dirinya. Kembang harum beranak satu, kata para suami penuh berahi itu.

“Bapak mana, Mak?”

Begitulah anak lelaki sematawayangnya itu bertanya saban langit telah gelap dan dikerubungi bintang-bintang. Maka dadanya pun terasa ada yang menghantam dan jantungnya tak ayal seperti berlubang. Setelah itu ia akan tersenyum dan menidurkan si bocah dengan menyanyikan senandung aek kapuas yang telah dipelankan ketukan nadanya. Ia bernyanyi dalam hati saja:

Eee… sampan laju, sampan laju dari hilir hingge ke hulu
Sungai Kapuas, sungguh panjang dari dolok membelah kote

Ketika telah terlelap si anak, ia akan berjalan keluar dari rumahnya yang teramat sederhana dan bersimpuh di atas papan di pinggir sungai tempat ia biasa mandi dan mencuci. Ia akan menengadahkan tangan kemudian berbicara tanpa suara, dan kepalanya menghadap langit penuh rekata seperti ia sedang berdoa. Dan memang ia sedang berdoa.

Tuhanku penguasa langit, jika suamiku tak kembali dalam tiga kali purnama, maka jadikanlah aku sebatang meriam. Agar aku tak mengusik para perempuan dan lelaki di tempat ini. Agar anakku tak bertanya di mana bapaknya lagi.

Hanya bibirnya yang bergerak namun tak lahir suaranya. Sejak keluar dari rahim ibunya memang ia ditakdirkan untuk bicara lewat tubuh dan mata saja. Perempuan bisu terkutuk, kata para istri. Perempuan bisu bak dewi, kata para suami.

Maka demikian lah perempuan itu terus berdoa dan berdoa agar tubuhnya yang indah dan dipuja-puja menjelma saja menjadi sebatang meriam. Supaya hilang lekuk pinggangnya, supaya raib lengkung pinggulnya, supaya lenyap mulus punggungnya.

Satu purnama telah terlewati. Suami perempuan itu tak pulang juga. Setiap senja jatuh di atas Sungai Kapuas, ia bersihkan tubuhnya dengan air sungai. Ia mandikan pula anak lelaki sematawayangnya yang ia tak tahu mirip siapa wajah anak ini sebetulnya. Tetapi ia rawat dan ia beri makan juga dengan kasih sayang.

Ia, perempuan yang menimbulkan gunjingan itu, tak pernah lupa dan luput merawat tubuh indahnya. Jikalau suaminya pulang pada suatu malam, maka ia telah siap untuk menyambut dan melayani lelaki tersebut. Ia harus selalu molek dan bersolek untuk lelaki terkasihnya. Tapi yang ia dapat setiap hari hanya tatapan para lelaki lain yang tak ia inginkan.

“Bapak mana, Mak?”

“Tak lama lagi bapakmu akan pulang, Nak.”

Eee… tak disangke, tak disangke dolok hutan menjadi kote

Setelah menidurkan bocah lelakinya, perempuan itu keluar dari rumah dan kembali bersimpuh di pinggir sungai. Pada langit yang hitam terhamparlah rekata. Dan ia lihat bulan belum purnama. Baru separuh menjadi tubuhnya yang bercahaya. Ia menengadahkan tangan dan berdoa:

Tuhanku penguasa langit, jika suamiku tak kembali dalam dua kali purnama, maka jadikanlah aku sebatang meriam. Agar aku tak mengusik para perempuan dan lelaki di tempat ini. Agar anakku tak bertanya di mana bapaknya lagi.

Perempuan itu sesungguhnya tak betapa cantik. Hanya saja setiap para lelaki melihat kepadanya, seolah mata perempuan itu yang sayu dan tubuhnya yang ramping bisa berbicara dan merayu kepada mereka. Padahal perempuan itu tak pernah merayu siapa-siapa. Bagaimana ia hendak merayu, bicara pun ia tak bisa. Ah, mungkin, jangan-jangan, kebisuannya lah yang membuat suami-suami itu gemar kepadanya.

Sebab ia tak bisa bicara. Sebab ia tak bisa mengungkapkan hal-hal yang sebenarnya.

Purnama kedua telah terbentuk sempurna di atas sana. Perempuan janda beranak satu itu tengah bersenandung sendirian di atas papan di pinggir sungai tempat ia biasa mandi. Tentu saja senandungnya hanya terlantun di dalam dada. Menyatu bersama kesunyian gelombang kecil Sungai Kapuas dan kepak sayap burung-burung di udara.

Setelah terdiam barang sejenak, barulah terpikirkan olehnya tentang anak sematawayangnya itu. Apabila kelak telah tembus tiga purnama dan suaminya tak kembali juga, dan ia menjelma menjadi sebatang meriam, apakah yang akan terjadi pada anaknya, buah rahimnya? Siapa yang akan merawat dia? Siapa yang akan memandikannya di sungai? Siapa yang akan menyanyikan lantunan aek kapuas di telinganya setiap malam? Siapa yang menemani dia tidur?

Perempuan itu cemas. Matanya yang memang sayu kian sayu memikirkan nasib anaknya yang hanya satu. Tapi apa lagi yang bisa ia perbuat. Ia tak mampu menunggu kepulangan suaminya lebih lama lagi. Ia ingin segera meninggalkan kehidupan yang penuh derita ini dan, terlebih-lebih, ia ingin bisa bersuara. Bersuara senyaring-nyaringnya, selantang-lantangnya. Sebab itu ia memohon kepada Tuhan agar ia dimatikan saja dan dilahirkan kembali sebagai sebuah meriam.

Sebab ia ingin mengungkapkan semua hal yang selama ini hanya ia pendam.

Pada senjakala tepat sebulan berikutnya, perempuan itu meringkuk di dalam sebuah gubuk. Sekelilingnya gelap seperti langit malam hari tempat ia biasa menengadahkan tangan untuk berdoa. Tubuhnya terasa dingin dan ia terisak. Malam ini akan tiba purnama ketiga. Purnama terakhir yang menjadi penanda bahwa ia takkan lagi menunggu kepulangan suaminya. Ia bangkit dan berusaha untuk berjalan. Namun kakinya lemah dan ia goyah.

Ia terjatuh.

“Ahai, mantap sekali perempuan bisu satu ni.

“Apa kubilang. Tak rugi kau coba, ha!”

“Biar beranak masih sempit liangnya!”

Sambil meringis menahan rasa sakit, perempuan itu berjalan pulang ke rumah dan menemui anak lelakinya tengah tertidur pulas. Sudah bisa tidur pula anak ini tanpa nyanyianku yang hanya dalam hati, batinnya. Ia paksakan senyum sekadar untuk menghindarkan pikirannya dari perih di antara kedua paha. Malam ini purnama ketiga, ia akan bersimpuh di pinggir sungai dan berdoa.

Tetapi kemudian anaknya bergumam seperti mengigau.

“Mak, Bapak mana, Mak?”

Ia hanya melihat anaknya, kemudian berjalan lagi ke pinggir sungai dan duduklah ia di atas papan tempat ia biasa mandi. Di langit, bulan telah penuh dan bintang-bintang bersinar alangkah terang.

Tuhanku penguasa langit, jika memang aku ditakdirkan tak bersuami, maka jadikanlah aku sebatang meriam. Agar aku tak menanggung luka dan kesakitan ini. Agar anakku tak bertanya di mana bapaknya lagi.

Malam berikutnya, perempuan itu telah berubah menjadi sebatang meriam. Meriam paling besar yang pernah ada di seluruh penjuru negeri. Setiap malam, tanpa ada yang menyalakan, meriam itu meledak dengan sendirinya dan menggetarkan dan memecahkan jendela-jendela. Meriam itu terpancang di pinggir Sungai Kapuas, beserta sebuah meriam yang lebih kecil di sisinya.

Dalam setiap ledakannya, meriam itu menyampaikan kata-kata, yang tak pernah didengar para manusia:

“Sesungguhnya, Nak, Anakku, aku tak tahu siapa bapakmu. Bapakmu salah satu dari lelaki-lelaki yang melihatku mandi setiap hari. Bapakmu satu dari jutaan rekata yang telah mati. Dan kau, Anakku, adalah purnama tempat aku menengadah dan bersenandung menyampaikan doa-doa.” ***



24 Januari 2014

1Q84, Haruki Murakami





Saya tak ingin bicara tentang kesepian atau kesendirian Murakami, saya sudah pernah membahasnya di catatan ini. Saya juga tak ingin membahas absurditas dan dialog-dialog Murakami yang cerdas, saya sudah pernah membahasnya pula. Pun, saya tak ingin membahas tentang adegan-adegan seks Murakami, saya sudah pernah menuliskannya di sini. Lalu, apa yang ingin saya bahas pada catatan kali ini? Saya ingin membahas tentang ceritanya saja. Hanya jalan ceritanya. Saya hanya ingin membahas 1Q84 sebagai 1Q84. Tanpa kesepian, kesendirian, absurditas, dan seksualitasnya.

1Q84 adalah buku ketujuh dari Haruki Murakami yang saya baca. Sebelumnya, saya membaca (sesuai urutan): Dengarlah Nyanyian Angin, Norwegian Wood, After Dark, What I Talk About When I Talk About Running, A Wild Sheep Chase, dan Blind Willow Sleeping Woman. Saya menunda membaca 1Q84 sebab buku tersebut terlalu tebal bagi saya yang belum menemukan mood dan stamina untuk membaca buku-buku kelewat tebal. Namun, karena setelah membaca enam buku Murakami dan saya merasa telah menemukan apa yang bisa saya temukan dalam karya-karya Murakami, akhirnya saya memutuskan untuk membaca karya grandeur dari Murakami, 1Q84. Bisa dikatakan, 1Q84 adalah puncak pembacaan saya terhadap Murakami (walaupun tidak menutup kemungkinan setelahnya saya masih akan membaca buku-buku Murakami yang lain).

Nah, mari kita masuk ke dalam 1Q84.

Dibuka dengan adegan yang cukup lambat, saya hampir melakukan skimming bahkan sejak awal novel. Namun, karena saya pikir novel tebal ini adalah buku terakhir Murakami yang akan saya baca, saya sudah bertekad untuk membaca 1Q84 dengan seksama. Maka saya tahan keinginan untuk skimming meski deskripsi adegan yang ditulis Murakami terasa bertele-tele dan dipanjang-panjangkan. Saya berpikir positif saja, mungkin pada adegan yang pelan tersebut terdapat petunjuk penting tentang cerita.

Saat mulai membaca, cukup banyak pertanyaan yang muncul di kepala saya. Pertama: mengapa dan bagaimana sopir taksi yang ditumpangi Aomame (yang taksinya tampak tak biasa itu) bisa mengucapkan kata-kata yang sangat filosofis? Aomame yang terjebak macet, mendapatkan petunjuk dari si sopir taksi diiringi kalimat semacam petuah amat bijak yang entah darimana datangnya: “…And after you do something like that, the everyday look of things might seem to change a little. Things may look different to you than they did before. I’ve had that experience myself. But don’t let appearances fool you. There’s always one reality.” Saya kira, sopir taksi misterius dengan mobil tidak biasa dan kata-kata filosofis itu adalah salah satu karakter sampingan penting yang akan muncul di bab-bab berikutnya, ternyata saya keliru.

Pertanyaan kedua: mengapa, meminjam istilah Murakami sendiri, out of the blue, Aomame teringat dan berpikir tentang Tamaki, sahabatnya? Pertanyaan ketiga: bagaimana Aomame bisa tahu banyak hal tentang senjata api (ia merasakan perubahan pada senjata yang dipakai polisi, bahkan ia menyebut Beretta dan Glock) sementara saat diberi pistol oleh Tamaru ia tampak seperti seorang yang betul-betul awam dan tak tahu-menahu perihal senjata api?

Di dalam 1Q84, Murakami seringkali menambahkan deskripsi atau informasi tambahan yang tidak perlu, sehingga paragraf-paragrafnya tidak efektif dan terkesan dipanjang-panjangkan. Kau hanya perlu membaca kalimat pertama atau terakhir dari paragraf Murakami, sebab di sana lah ide pokok paragraf tersebut. Lalu, kau bisa melakukan skimming pada sisanya dan takkan ketinggalan informasi yang signifikan sebab sisanya hanya deskripsi atau keterangan-keterangan pelengkap yang, kalaupun tidak dituliskan, tidak akan terlalu banyak berpengaruh terhadap ide utama atau tujuan paragraf tersebut. Murakami pun, misalnya, kerap mengulang-ulang informasi tentang gaya bicara Fuka-Eri yang bertanya tanpa membubuhkan tanda tanya. Seolah-olah Murakami tak percaya pembaca bisa menangkap karakter Fuka-Eri sejak pertama gadis unik itu diperkenalkan dalam cerita.

Saya hampir kecewa dan menutup 1Q84 ketika memasuki pertengahan Book 1 (1Q84 dibagi menjadi tiga bagian: Book 1, Book 2, dan Book 3), namun saya mencoba untuk bertahan. Usaha saya tak sia-sia. Ketika masuk ke Book 2, cerita 1Q84 semakin seru dan membuat penasaran. Saya terus membalik halaman demi halaman, ingin terus mengetahui apa yang akan terjadi dengan Tengo, Aomame, dan Fuka-Eri. Alur cerita yang tadinya berjalan dengan sangat lambat menjadi semakin cepat dan nilai dramatiknya meninggi. Ketegangan demi ketegangan dimunculkan dengan rapat. Membuat saya menahan napas di banyak bagian.

Saya kira, bagian terbaik dari 1Q84 adalah: semua elemen yang muncul dalam cerita, sekecil apapun itu, terkoneksi satu sama lain. If a gun appears in a story, it has to be fired at some point, kata Anton Chekhov. Murakami betul-betul melaksanakan nasehat ini. Tidak ada satu elemen cerita yang sia-sia dalam 1Q84 (kecuali tentang deskripsi pelengkap yang saya singgung di paragraf sebelumnya). Meskipun pistol yang diberikan Tamaru ke Aomame tidak jadi digunakan, namun elemen-elemen dalam cerita 1Q84 berdiri di atas kalimat Chekhov tersebut sebagai landasannya.

Di buku memoirnya What I Talk About When I Talk About Running, Murakami berkata bahwa maraton adalah olahraga lari yang paling cocok untuk dirinya. Dia tidak cocok dengan lari sprint, karena dia jenis orang yang “lama panasnya”, namun saat sudah panas ia bisa berlari sangat jauh. Kurang-lebih, kesan yang saya tangkap dari 1Q84 sama seperti pribadi Murakami saat ia berlari. Lama panasnya, namun semakin lama semakin baik. Coba untuk bertahan dengan lambatnya alur di bagian pertama, dan nikmati ketegangan demi ketegangan yang mulai bermunculan secara di intens di bagian kedua.

Pada Book 3, Murakami memunculkan penuturan dari sudut pandang tokoh lain. Ushikawa, seorang detektif partikelir yang disewa personel Sakigake untuk mencari Aomame, Tengo, dan hubungan antara keduanya. Sayangnya, lagi-lagi, saya harus menguap cukup lebar di bagian terakhir ini. Murakami tampak sudah ngos-ngosan dan berusaha keras untuk mencapai garis finish dengan target halaman yang telah ditentukan. Ia kembali memanjang-manjangkan cerita dan menuangkan begitu banyak detail yang sebetulnya tak penting-penting amat. Akibatnya, alur cerita jadi lamban dan membosankan. Seperti mi instan yang terlalu lama direbus.

Meski Murakami adalah seorang pelari maraton, namun untuk urusan fiksi saya merasa ia lebih tepat menjadi seorang sprinter. Cerpen-cerpennya menyenangkan, cerdas, padat, dan efektif. Ketika ia menulis novel yang sangat tebal, “Jepang”-nya mulai keluar dan bagi saya itu bukan hal yang membahagiakan. Saya dapat menyelesaikan 1Q84 hanya karena saya penggemar Murakami dan penasaran untuk menantang diri saya sendiri menyelesaikan 1Q84. Kalau kau bukan penggemar Murakami dan tak merasa tertantang untuk menyelesaikan sebuah novel setebal 1.157 halaman, saya bertaruh kau bahkan takkan sampai di seperlima bagian 1Q84. ***


21 Januari 2014

How To Write Book Synopsis



Diambil dari blog Gagasmedia

Banyak penulis yang bingung membedakan antara blurbs dan sinopsis buku. Blurbs adalah penjelasan singkat tentang isi di back cover buku yang telah terbit. Tujuannya jelas untuk menarik minat baca (dan keputusan membeli) pembaca, jadi dibuat semenarik dan semenggelitik mungkin. Sedangkan sinopsis adalah ringkasan cerita—rata-rata 1-2 halaman—yang disertakan bersama naskah untuk dikirimkan ke penerbit. Berbeda tujuannya dengan blurbs, yang membaca sinopsis ini adalah tim redaksi, jadi pastikan kamu menjelaskannya dengan ringkas tapi tetap detail.
Dan sekarang, kamu pun bertanya-tanya: bagaimana sih caranya meringkas cerita dari novel beratus-ratus halaman menjadi sinopsis?

•    Pikirkan ide dasar novelmu  jelaskan perkembangannya di setiap bab.
Pertama-tama, sederhanakan ide cerita kamu jadi satu kalimat saja (ini disebut: PREMIS). Hindari deskripsi berbunga-bunga hanya supaya terdengar cool dan ‘dalam’. Daripada menulis ‘sebuah novel remaja tentang perihnya sebuah kehilangan itu’ akan lebih baik jika kamu menyebut ide dasar naskah kamu adalah tentang ‘seorang remaja cewek yang berusaha move on dari kesedihannya ditinggal mati pacar tiga tahunnya’.
Setelah itu, yang harus kamu jelaskan adalah kronologis cerita per babnya. Fokus deskripsi per bab nggak harus membahas semua kejadian, hanya yang penting-penting saja. Ceritakan saja scene atau situasi yang berhubungan langsung dengan plot utama cerita—dan sub plot penting yang juga terjadi di bab yang sama.
Kamu bisa memilih dua cara:
1) Satu paragraf untuk setiap penjelasan satu bab, atau
2) Sebutkan babnya dalam plot kamu.
•    Cek kembali sinopsis yang kamu buat.
Seperti yang tadi sudah dijelaskan, sinopsis idealnya 1-2 halaman.
 Sah-sah saja kalau kamu menginginkan sinopsismu sedetail dan sejelas mungkin, tapi harap pertimbangkan siapa yang akan membacanya: editor. Dan yang dia inginkan adalah penjelasan ringkas dan poin-poin penting terkait dengan isi cerita. Kalau si editor butuh tahu lebih detail dan lebih jelas lagi, dia akan membaca naskah kamu sampai habis.
•    Ingat-ingat prinsip sebab-akibat.
 Meskipun ringkas, bukan berarti sinopsismu jadi sulit dimengerti. Perhatikan alur penjelasan kamu dengan baik dan pastikan mengikuti logika.
•    Tetap harus menarik.
 Pastikan baik-baik cara kamu menulis sinopsis. Sekali lagi ingat: yang membaca sinopsismu adalah editor. Dan tujuan sinopsismu adalah memastikan si editor tertarik membaca naskahmu lebih lanjut. Bisa dibilang, sinopsis adalah cara kamu mempresentasikan naskah. Meskipun ringkas, bukan berarti jadi tidak menarik untuk dibaca.
•    Bongkar semuanya—tak boleh ada rahasia di dalam sinopsis.
 Hindari prinsip membuat blurbs dan malah membuat pertanyaan-pertanyaan tidak penting macam: “Bisakah A dan B bertemu kembali?” Atau: “Apakah A akhirnya mengetahui siapa yang menculik adik bungsunya?” Jangan. 
Jelaskan semuanya.


Contoh sinopsis buku:

JUDUL        :     YOU ARE MY FUTURE (BUT WHY ARE YOU MY PAST TOO?)
PENULIS    :     Crystal
TEBAL        :     80 halaman (32.123 kata) – kalau belum mulai ditulis naskahnya, berarti ini tidak ada
IDE DASAR (Premis)    : Tentang cowok yang jatuh cinta dengan orang yang pernah mempermalukannya waktu SMU dulu.

SINOPSIS

Dua belas tahun lalu (2000—bab 1), Rizal (cowok pemalu dan kutu buku) jatuh cinta pada pandangan pertama dengan cewek dancer di sekolahnya yang bernama Nina. Sebenarnya, Nina juga merasakan hal yang sama, tapi cewek itu terlalu gengsi dengan reputasinya dan kemudian merancang adegan memalukan saat jam istirahat: menolak Rizal mentah-mentah. Cowok itu ditertawakan habis-habisan dan bahkan setelah berbulan-bulan sejak itu pun dia selalu merasa mual karena trauma setiap pagi—saat sadar harus siap-siap berangkat sekolah.
Cut to: kejadian kini (2012—bab 2), Rizal yang semasa remajanya dikenal berpenampilan cupu dan agak nerdy tumbuh jadi sosok menawan dan atletis. Bukan itu saja, setelah lulus kuliah, cowok itu berhasil mendapat pekerjaan mapan di sebuah perusahaan asing. Seperti ingin balas dendam pada masa lalunya yang pahit, Rizal senang gonta-ganti pacar dan sangat alergi pada komitmen. Tapi semuanya berubah sejak bertemu dengan Nina (Rizal mengenalnya dengan nama lengkapnya, Arina), staf baru di kantornya. Cewek itu juga berubah banyak secara fisik maupun penampilan hingga Rizal pun tidak mengenali cewek itu adalah teman sekelasnya yang dulu.
Keduanya seperti cepat menemukan kecocokan satu sama lain. Rizal mulai mempertimbangkan untuk mencoba relationship serius dan Nina merasa cowok itu adalah sosok pacar yang dia idam-diamkan selama ini. Setelah berkencan beberapa kali (bab 4, bab 5), keduanya saling jatuh cinta. Meskipun beberapa kali sempat ada penghalang (Nina diganggu mantannya yang ternyata belum bisa menerima kenyataan bahwa hubungan mereka sudah berakhir—bab 6, tante Rizal yang sempat bermaksud menjodohkan keponakannya dengan putri teman arisannya—bab 8), hubungan keduanya malah semakin erat.
Rizal semakin mantap dengan keputusannya. Merasa Nina berhasil membuat dia ‘insyaf’ jadi playboy, dia pun kemudian berencana untuk melamar cewek itu saat reuni kecil-kecilan (hanya teman-teman klub KIR saja—bab 10). Alasannya, karena dia ingin sekalian juga ‘tutup buku’ buat pengalaman pahit waktu dia dipermalukan saat SMU dulu. Namun yang terjadi justru di luar dugaan Rizal. Setengah jam sebelum rencana melamar Nina di hadapan teman-temannya, Nina bercerita tentang bagaimana shallow-nya dia waktu SMU dulu (cerita deh tentang gimana dia menolak cowok yang naksir dia—which is maksudnya adalah Rizal). Rizal langsung pucat dan buru-buru menghambur keluar dari venue acara. Dan malam itu juga, saat Nina menelepon Rizal (bertanya kenapa cowok itu tiba-tiba menghilang dari acara—bab 11), cowok itu malah ends up memutuskan hubungan.
Nina yang sedih karena nggak mengerti kenapa tiba-tiba diputus sepihak begitu dan bingung harus bersikap seperti apa dengan kenyataan pahit ini, curhat ke teman baiknya, Karin. Karin, yang sejak bab pertama dijelaskan mengambil peranan sebagai ibu beruang yang sangat protektif ke Nina, jelas nggak terima teman baiknya diperlakukan seperti itu. Cewek itu langsung mencari tahu ke teman-teman Rizal. Akhirnya terbongkarlah bahwa masa lalu Rizal dan Nina bersinggungan di pengalaman pahit waktu SMU itu.
Nina kini marah dan memutuskan untuk konfrontasi langsung ke Rizal (bab 14). “Jawab, apa yang kamu cintai selama ini aku yang sekarang saja atau aku yang seutuhnya? Yang ternyata punya masa lalu buruk dan ada hubungannya dengan kamu?” Cowok itu tetap bersikeras dengan perasaannya. Dia bilang, masih belum bisa melupakan apa yang terjadi dua belas tahun lalu.
Nina kecewa dan dengan suara gemetar bilang, “Dan here I am thinking, you are the man I want to spend my life with....” Rizal berujar pelan, “I’m sorry.” Nina menggeleng, “No. Actually, I’m the one who should say sorry. Maaf karena aku salah menilai kamu selama ini.”
Meskipun mantap putus dengan Nina, Rizal tetap terlihat nggak bahagia. Cowok itu cerita ke sepupunya (dari tante yang menjodohkan dia dulu itu), dan dia malah dinasihati begini: “Waktu lo memutuskan buat melamar Arina—euh, Nina dulu, lo sendiri kan yang bilang mau tutup buku dari masa lalu penolakan memalukan waktu SMU itu. Lo bilang, masa lalu itu menghalangi kebahagiaan lo di masa depan.” “Lha, memang iya kan?” “Kalau begitu, lihat diri lo sekarang, nelangsa begini. Lo lagi berlari di tempat, Zal. Masa lalu lo jelas-jelas masih jadi batu sandungan buat masa depan lo.” Rizal terdiam (bab 15).
Setelah berpikir semalam suntuk (bab 16), cowok itu kemudian memutuskan untuk minta maaf ke Nina. Cewek itu tetap menolak, tapi Rizal nggak putus asa. Dia mengulangi proses nembak waktu dia SMU dulu. “Kita berdiri dengan posisi serupa seperti dua belas tahun lalu. Dan sekali lagi, di tangan kamulah keputusan untuk menentukan apa sejarah kita dulu akan berulang lagi malam ini....” Mata Nina merah, seperti mau menangis. “Aku nggak suka diintimidasi begini!” Rizal menggeleng. “Kamu salah. Yang aku lakukan sekarang simply hanya bermaksud untuk memperjuangkan cintaku ke kamu, Na.” Hati Nina melunak dan menerima permintaan maaf (plus lamaran) Rizal.
Cerita ditutup dengan adegan pernikahan Nina dan Rizal (bab 17)

11 Januari 2014

Hamidah Tak Boleh Keluar Rumah


Ilustrasi oleh Della Yulia Paramita





Hamidah Tak Boleh Keluar Rumah
Cerpen Bernard Batubara
Dimuat di Pontianak Post, 9 Februari 2014



“Tinggallah di rumah saja, Hamidah, bintang-bintang di langit dan rembulan purnama tak menginginkanmu keluar rumah, mereka cemburu dengan parasmu yang eloknya mengalahkan kesempurnaan pesona dewi-dewi nirwana. Jika kau keluar juga, kau akan meletakkan hidupmu dalam bahaya.”

Begitu bunyi pesan suami Hamidah kepada istrinya yang kudengar dari cerita seorang lelaki tua pada suatu malam di warung kopiku. Lelaki itu datang dan dengan serta-merta berkata kepadaku, “Maukah kau dengar sebuah kisah, tentang seorang perempuan yang kecantikannya begitu berbahaya hingga bisa mengacaukan seisi alam raya dan memporak-porandakan semesta?”

Karena kukira lelaki tua itu berlebih-lebihan dan aku yakin tak ada perempuan semacam itu, maka aku pun tak menghiraukannya. Aku terus saja melayani pelanggan yang lain dan mengerjakan hal-hal yang harus kukerjakan. Sekali lagi lelaki asing itu berkata kepadaku, “Kuberi tahu kau tentang kisah ini, agar kau tak menjadi lelaki berikutnya yang menjadi korban kecantikan perempuan itu.”

Aku merasa lelaki itu takkan berhenti mengganggu pekerjaanku sebelum aku menuruti kemauannya. Maka, setelah aku selesai membuat kopi untuk beberapa pelanggan, aku persilahkan ia bercerita tentang kisahnya. Pada saat itu pukul sebelas di malam hari. Warung kopiku tutup pukul duabelas. Dan selama satu jam, aku mendengar sebuah kisah yang membuatku tak berani pulang ke rumah, bahkan tak berani untuk bertemu lagi dengan istriku.

Beginilah kisah tentang Hamidah yang diceritakan oleh lelaki itu:

Pada suatu malam, tampaklah cahaya kunang-kunang mengambang di udara di halaman rumah Hamidah yang sederhana. Anak perawan seorang haji itu senang melihat kunang-kunang. Padahal, seperti yang telah diketahui orang banyak, kunang-kunang adalah jelmaan potongan kuku para manusia yang telah mati. Tetapi, tampaknya Hamidah sama sekali tidak takut dengan hal ini.

“Ayah, banyak sekali kunang-kunangnya.”

“Masuklah, Hamidah! Ini sudah larut.” Suara seorang lelaki terdengar dari dalam rumah.

“Iya, sebentar Ayah. Midah ingin lihat kunang-kunang dulu. Mungkin saja Midah akan bertemu dengan ibu.”

Ayah si perawan keluar dari rumah dan menatap anaknya dengan pandangan seseorang yang begitu khawatir. Istrinya telah meninggal saat melahirkan Hamidah. Tampaknya perempuan itu sedang dilanda rindu kepada sang ibu.

“Masuk, Hamidah. Angin malam tak bagus untuk kesehatanmu.”

“Ayah.”

“Ya.”

“Aku selalu mengira-ngira. Bagaimanakah rupa ibu?”

“Ibumu cantik, Hamidah.”

“Ah, ya…” Si anak perawan menundukkan kepalanya. Lemas. “Pastilah ibu cantik sekali. Tak sepertiku. Buruk rupa. Aku kasihan kepadamu, Ayah, harus memelihara dan membesarkan gadis buruk rupa dan menyusahkan sepertiku ini.”

Sang Ayah mendekati anaknya dan merengkuhnya dengan penuh kasih. Dia pun tidak tahu apakah mungkin ada pantangan yang telah dilanggar oleh istrinya atau dirinya sendiri, sehingga Hamidah lahir dengan wajah yang tak sempurna. Sebelah mata Hamidah bengkak seperti usai dihantam kayu hingga membuat kelopaknya membiru dan cembung sekali, bibirnya miring, keningnya terlalu menonjol, alisnya tak tumbuh, dan kakinya yang kiri lebih besar dari yang lain.

“Mengapa aku terlahir buruk rupa, Ayah?”

“Tak perlu cantik untuk hidup dengan baik, Hamidah.”

“Tetapi ibu cantik, kan?”

“Tak ada yang mengalahkan pesonanya.”

“Aku ingin jadi seperti ibu.”

“Kau sudah memiliki pesona seperti ibu, Hamidah, meski apapun yang terjadi padamu.”

Hamidah memeluk ayahnya dengan sedih. Di dalam kegelapan malam, kunang-kunang terbang mengitari mereka. Ayah Hamidah melepaskan pelukannya, tersenyum kepada anaknya, kemudian melangkah masuk ke dalam rumah. Hamidah membalikkan badan dan menatap ke langit. Berharap untuk sekelebatan saja bisa menyaksikan kecantikan ibunya. “Ibu, ibu… Maafkan aku, anakmu yang buruk rupa ini. Kau harus menyambut kematian untuk memberiku kehidupan.”

Begitu sedihnya Hamidah dengan keadaan dirinya dan rasa rindu yang teramat besar kepada sang ibu, ia pun menitikkan airmata. Seketika, seekor kunang-kunang terbang perlahan mendekatinya. Seekor saja, dari banyak yang sedang mengambang di udara. Kunang-kunang itu melayang-layang di depan wajah Hamidah.

Hamidah, Anakku…

“Ibu?”

Aneh sekali, seekor kunang-kunang yang nyalanya lebih terang dari yang lain itu bersuara dan berbicara kepadanya seperti manusia. Hamidah mengerjap-ngerjapkan mata, tak termasuk sebelah yang bengkak seperti mata hantu itu. Setelah yakin ia tidak sedang bermimpi, maka ia diam dan menunggu sang kunang-kunang bicara lagi.

Hamidah, Anakku. Maafkan aku yang telah lalai hingga kau lahir seperti ini.

“Ibu. Tak apa-apa, Ibu. Kata Ayah, tak perlu cantik untuk hidup baik.”

Ya, Hamidah. Tapi kau akan kesulitan mendapatkan lelaki.

“Ayah cukup untukku, Ibu. Ayah lelaki yang baik.”

Hamidah berbohong kepada dirinya sendiri. Sebetulnya, ia menyimpan hati kepada seorang lelaki. Namun Hamidah tak bisa berharap banyak, sebab dengan rupa seperti itu, manalah ada lelaki yang mau menyukainya. Jangankan menyukai, hanya melihat dirinya pun orang-orang langsung membalikkan badan.

Aku telah menunggu saat-saat ini, untuk bicara kepadamu Hamidah. Maafkan bahwa aku terlalu lama. Aku perlu menunggu dua puluh tahun lamanya sampai akhirnya aku bisa memiliki wujud kunang-kunang. Butuh usaha keras untuk menjadi kunang-kunang setelah aku mati, Hamidah. Lebih mudah menjadi kecoak atau lipan, tapi kau pasti tak mau bicara dengan kecoak atau lipan.

“Apa yang ingin Ibu bicarakan kepadaku? Ah, Ibu, aku rindu kepadamu. Aku ingin melihatmu. Tak bisakah kau menjadi dirimu saja, Ibu?”

Tak bisa, Hamidah, anakku. Tapi tenanglah. Sebentar lagi kau tak perlu menderita. Kau akan mendapatkan lelaki yang kau cinta dan kau akan hidup dengan lebih baik dan bahagia.

Aku memotong cerita lelaki asing itu: “Kutebak, Hamidah menjadi cantik seperti ibunya?”

“Ya.” Lelaki tua itu menjawab. “Tetapi ceritanya bukan tentang hal tersebut. Sungguh bukan. Masalah sebenarnya baru muncul setelah malam pertemuan perempuan itu dengan kunang-kunang yang bicara kepadanya.”

Aku membuatkannya segelas kopi lagi. Jam dinding menunjukkan pukul setengah dua belas malam. “Apa yang terjadi selanjutnya?”

“Setelah malam itu, Hamidah terbangun dengan perasaan yang bercampur. Ia melihat wajahnya pada cermin di dalam kamarnya dan menemukan dirinya tak seperti dirinya lagi. Sebelah matanya yang bengkak telah menyusut menjadi biasa, selaras dengan matanya yang normal, bahkan warna matanya menjadi coklat terang dan berbinar seolah sanggup melesatkan sihir. Bibirnya tampak ranum dan merona seperti jambu air. Keningnya licin dan berkilau. Alisnya tebal dan anggun. Kakinya jenjang seolah batang bambu muda. Ayahnya pun terkejut saat melihat sang anak menjadi cantik sekali serupa dengan istrinya yang telah meninggal.”

Sekarang aku membayangkan bagaimana seandainya istriku menjadi seperti Hamidah. Walaupun istriku memang sudah cantik. Ah, istriku…

“Dalam semalam, Hamidah yang buruk rupa telah menjadi seorang dewi. Banyak lelaki datang ke rumah ayahnya untuk meminang perempuan berparas elok dan bercahaya itu. Hingga pada suatu hari, datanglah seorang lelaki yang menjadi dambaan Hamidah. Mereka pun menikah.”

“Sudah? Cerita berakhir dengan bahagia? Ah, seperti roman-roman pasaran.”

“Belum.”

Lelaki tua itu tampak semakin serius dengan ceritanya. Aku mendengarkan lagi.

Setelah mereka menikah, lanjutnya, Hamidah dilarang oleh suaminya untuk keluar rumah. Hamidah mengadu kepada ayahnya, namun menurut sang ayah ia harus patuh kepada perintah suami. Kata sang suami: “Tinggallah di rumah saja, Hamidah, bintang-bintang di langit dan rembulan purnama tak menginginkanmu keluar rumah, mereka cemburu dengan parasmu yang eloknya mengalahkan kesempurnaan pesona dewi-dewi nirwana.*) Jika kau keluar juga, kau akan meletakkan hidupmu dalam bahaya!”

Bukan bintang-bintang di langit dan rembulan purnama yang cemburu kepada kecantikan tiada tara milik Hamidah, tetapi suaminya sendiri lah yang enggan jikalau paras dan lekuk menggiurkan tubuh istrinya itu dinikmati oleh lelaki selain dirinya. Maka ia mengurung Hamidah di dalam rumah. Dan atas nasehat sang ayah, dengan berat hati Hamidah mematuhi suaminya.

Namun, ketika Hamidah semakin bersedih sebab ia tak bisa keluar rumah dan merasa sangat kesepian, ia merasa rindu ingin bertemu sang ibu. Maka, pada suatu malam ketika sang suami tengah terlelap dalam tidurnya, Hamidah berjingkat-jingkat keluar rumah dan berdiri terpaku di halaman, menunggu kedatangan seekor kunang-kunang yang sinarnya paling terang.

Mengapa tampak bersedih dirimu, Hamidah, anakku?

“Aku tak ingin menjadi cantik, Ibu.”

Setelah bercakap-cakap satu jam lamanya dalam hening dan kegelapan, kunang-kunang itu melayang pergi. Hamidah masuk ke dalam rumah dan tidur di sebelah suaminya. Lalu, keesokan paginya…

***

Pukul satu dini hari. Aku lelah namun tak juga bisa tertidur. Kepalaku berputar memikirkan cerita lelaki asing itu. Istriku berbaring di sebelahku.

“Suaminya telah mati. Hamidah membunuhnya setelah berhari-hari lelaki yang sempat ia cintai itu selalu pulang membawa perempuan lain sebab istrinya telah kehilangan kecantikannya. Sebelum anakku pergi, ia menceritakan semuanya kepadaku. Aku menceritakan ini kepadamu agar kau berhati-hati menjaga istrimu. Istrimu cantik? Dari keterburu-buruanmu menyelesaikan pekerjaan dan pulang tepat waktu, aku yakin istrimu cantik. Jangan biarkan ia keluar rumah. Seperti apa wajah istrimu? Apakah seperti ini? Ini foto anakku, Hamidah, dan semenjak ia membunuh suaminya ia tak pernah kembali ke rumah.”

Pada saat itu aku terkejut mengetahui betapa miripnya wajah perempuan dalam gambar yang diserahkan lelaki asing itu dengan istriku, istriku sendiri.

Aku memiringkan badan, memunggungi istriku. Tak berapa lama, kudengar derit kasur dan langkah-langkah pelan dan pintu yang membuka…

Jangan, sayang, jangan keluar rumah… ***




*) terinspirasi oleh tweet M Aan Mansyur di akunnya @hurufkecil (04/11/2013): “please stay at home. don't go anywhere. the sky, even after the rain, is so much jealous with your eyes.”