30 April 2014

Animal Farm, George Orwell





Rasanya sudah lama saya tidak membaca fabel. Sejauh yang bisa saya ingat, terakhir kali saya membaca cerita yang tokoh-tokohnya binatang adalah waktu saya SD. Setelah itu, saya hanya membaca cerita-cerita yang diperankan oleh manusia. Meskipun kadang-kadang, antara sadar dan tidak sadar, saya melihat manusia-manusia yang saya baca dalam cerita itu bertingkah laku seperti binatang dan mengingatkan saya akan fabel-fabel yang pernah saya baca sewaktu kecil.

Agaknya itulah yang saya rasakan ketika membaca Animal Farm karangan salah seorang pengarang berkelas dunia, George Orwell. Saya dibawa kembali ke masa kecil, masa-masa di mana saya melihat seekor gajah yang bicara pada seekor semut, kancil yang mengelabui anjing dan ditipu oleh kura-kura, dan seterusnya.

Adalah Old Major, babi tua yang meniupkan angin pemberontakan di antara para binatang. Ia menyadari bahwa tidak seharusnya hidup mereka seperti hidup mereka sekarang: diatur dan dikendalikan manusia, diperah, dijajah oleh manusia. Hidup mereka harus berubah. Revolusi harus dilakukan. Para binatang bisa memiliki kesempatan untuk hidup lebih baik.

Sayangnya, karena masa hidupnya telah usai, Old Major mati. Pemberontakan dilanjutkan oleh dua ekor babi yang di kemudian hari menjadi rival: Snowball dan Napoleon. Snowball dengan kemampuannya berpidato (dia adalah seekor babi yang smooth talker) dan Napoleon yang diktator dan didampingi oleh Squealer si penasehat dan juru bicara Napoleon. Di bawah arahan Snowball dan Napoleon, binatang-binatang ternak Manor Farm (nama tempat tinggal mereka sebelum kelak berubah menjadi Animal Farm, dan kembali menjadi Manor Farm di akhir cerita) berhasil mengusir majikan mereka. Manor Farm diambil alih para binatang dan diubah namanya menjadi Animal Farm. Seiring dengan kesuksesan pengusiran manusia itu, dibuatlah serangkaian aturan yang harus dipatuhi oleh seluruh binatang. Di antaranya adalah Seven Commandments, yang berbunyi:

1.     Whatever goes upon to legs is an enemy
2.     Whatever goes upon four legs, or has wings is a friend
3.     No animal shall wear clothes
4.     No animal shall sleep in a bed
5.     No animal shall drink alcohol
6.     No animal shall kill any other animal
7.     All animals are equal


Membaca Animal Farm, bagi saya, adalah membaca manusia. Lucunya, saya lebih memahami tentang karakter setiap manusia, justru ketika mereka dikisahkan dalam wujud binatang. Ada Snowball yang pintar, senang membaca buku, mahir menyusun strategi, dan penuh perhitungan. Ada Napoleon yang licik dan culas. Ada Squealer yang pandai bersilat lidah. Ada Benjamin yang tak peduli apapun. Ada Mollie yang, bahkan ketika revolusi tengah berlangsung, masih peduli dengan kecantikannya sendiri. Ada Boxer yang loyal dan pekerja keras. Ada domba-domba yang mudah disetir bagai kerbau dicucuk idung (lucu sekali rasanya menggunakan peribahasa yang mengandung binatang untuk binatang, tapi tujuannya membahas manusia).

Tak banyak yang bisa katakan, sebenarnya, selain bahwa saya hendak memuji kejeniusan George Orwell dalam menciptakan simbol-simbol dan kemampuannya memunculkan ironi-ironi. Belum lagi kelihaiannya merangkai plot yang membuat saya tak dapat melepaskan Animal Farm dari tangan saya. Saya terus membacanya, halaman demi halaman, dan tertawa di banyak bagian, juga merenung terdiam di banyak bagian.

Saya tertawa melihat bagaimana sekumpulan binatang berusaha untuk merebut tanahnya sendiri dan mendirikan negara di atasnya. Mereka bahkan menggerek taplak meja berwarna hijau dan menjadikannya bendera: di atas kain bendera itu digambarlah sebuah tanduk dan tapal kuda (mengingatkan saya pada palu dan arit). Saya juga merenung lama ketika menyaksikan kehidupan hewan-hewan di Animal Farm yang lama-kelamaan ternyata kian memburuk, sepeninggal Jones majikan mereka. Terlebih ketika Napoleon melakukan kudeta terhadap Snowball, tepat pada saat Snowball melakukan pidato pembangunan kincir angin, yang ditujukan untuk meningkatkan kemakmuran para binatang. Napoleon, si babi hitam, dengan anjing-anjingnya yang berjumlah sembilan ekor, menyerang Snowball dan mengusirnya dari Animal Farm. Kini, para binatang berada di bawah komando Napoleon.

Di bawah rezim kepemimpinan Napoleon, kehidupan para binatang memburuk. Tapi Squealer, sang juru bicara, selalu saja bisa melontarkan pernyataan-pernyataan yang membuat para binatang berpikir ulang tentang keluhan-keluhan mereka. Waktu kerja yang dua kali lipat lebih lama, jatah makanan berkurang, kata Squealer, adalah demi ketahanan Animal Farm agar Jones dan para manusia tidak kembali menjajah mereka. Tentu saja para binatang tidak mau kembali dijajah manusia. Namun, yang tidak segera mereka sadari, mereka justru dijajah oleh jenis mereka sendiri.

Ketika para binatang mengendap-endap ke balik kaca jendela rumah Jones, menyaksikan negosiasi dan perbincangan antara Napoleon si babi dan Mr. Pilkington si manusia, mereka kebingungan melihat wajah Napoleon dan Mr. Pilkington yang lambat laun menjadi mirip. Saya membayangkan di akhir cerita Jones hidup lagi sebagai arwah dan berdiri di atas podium, di depan hewan-hewan itu, lalu berkata dengan senyum yang khas:

Piye? Isih penak zamanku, tho?

22 April 2014

Sputnik Sweetheart, Haruki Murakami






Satu bulan yang lalu, setelah terseok-seok menyelesaikan 1Q84, saya sudah mendeklarasikan bahwa saya tidak ingin membaca lebih banyak lagi karya-karya Murakami. Setelah 1Q84, saya merasa cukup. Saya sudah mengerti apa yang ingin Murakami tuturkan lewat cerita-ceritanya. Saya sudah menangkap, sedikit banyak, bagaimana teknik menulisnya. Saya merasa tidak ada lagi hal baru yang akan saya temukan jika saya melanjutkan membaca buku-buku Murakami yang lain.

Namun, tepat pada saat saya mendeklarasikan hal tersebut di Twitter, seorang teman berkata kepada saya: “Jika kamu memutuskan untuk berhenti membaca Murakami tetapi kamu belum membaca Kafka on the Shore dan Sputnik Sweetheart, aku sarankan kamu berpikir ulang atas keputusanmu itu karena sudah pasti kamu telah melewatkan sesuatu.” Teman saya itu memiliki daftar bacaan yang bagus di halaman Goodreads-nya, dan saya percaya rekomendasi buku yang ia berikan.

Maka, hanya berselang satu menit sejak peluncuraan deklarasi berhenti membaca Murakami, saya melanjutkan pembacaan saya terhadap pengarang Jepang penggemar jazz itu. Demi memenuhi rasa penasaran atas pernyataan teman saya tadi, saya mulai membaca Sputnik Sweetheart.

Butuh kurang lebih dua minggu untuk menyelesaikan Sputnik Sweetheart. Saya bisa katakan bahwa saya sudah terjerat oleh buku tersebut sejak paragraf pertama. Tidak. Bahkan, sejak kalimat pertama.

In the spring of her twenty-second year, Sumire fell in love for the first time in her life.

Dua hari sebelum saya tiba di halaman terakhir Sputnik Sweetheart, saya membaca sebuah artikel di internet tentang Stephen King. Judul tulisan tersebut, jika saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, berbunyi: “Mengapa Stephen King Menghabiskan Waktu Berbulan-bulan untuk Menulis Kalimat Pertama?”

Bagi saya, artikel tersebut menarik. Mengapa ia membutuhkan waktu selama itu untuk menulis kalimat pertama novelnya? Tentu saja, karena kalimat pertama itu penting. Seorang penulis harus memiliki kemampuan menjerat perhatian pembacanya sejak kalimat pertama. Kalau tidak, kemungkinan besar ia akan ditinggalkan. Meskipun pada bagian pertengahan novelnya ia memiliki sesuatu yang luar biasa bagus dan sangat penting untuk dibaca. Namun, jika ia tidak menarik sejak awal, pembaca takkan bermurah hati untuk menyediakan waktunya bersabar membaca hingga pertengahan atau akhir. Mungkin beberapa pembaca dapat bersabar, tapi saya punya firasat bahwa tidak banyak pembaca seperti itu.

Ketika membaca paragraf pertama Sputnik Sweetheart, saya teringat paragraf pertama legendaris milik Franz Kafka, di bukunya Metamorphosis. Seperti yang mungkin telah diketahui orang banyak (atau setidaknya para penggemar Haruki Murakami seperti saya) Murakami sangat terinspirasi oleh Kafka. Di antara bukti-buktinya adalah, ia menulis buku berjudul Kafka on the Shore dan sebuah cerita pendek yang dipublikasikan di majalah The New Yorker berjudul Samsa in Love.

Paragraf pembuka di Metamorphosis menjadi legendaris, saya kira, karena ia memiliki kemampuan menjerat pembacanya. Bagaimana kamu membayangkan seseorang bangun dari tidurnya dan mendapati dirinya menjadi seekor serangga besar. Seketika, imajinasi langsung terpancing, dan membuat pembaca bertanya-tanya. Apa yang terjadi dengan si tokoh utama? Bagaimana dia bisa menjelma seekor serangga? Pertanyaan-pertanyaan tersebut memunculkan rasa penasaran sehingga pembaca melanjutkan membaca paragraf-paragraf dan halaman-halaman berikutnya.

Efek jerat inilah yang saya rasakan ketika saya membaca paragraf pembuka Sputnik Sweetheart. Dengan kalimat pertama yang cukup umum, Murakami membentuk paragraf pembuka memakai kalimat-kalimat lanjutan yang membuat masalah langsung terlihat dan meruncing, dan mengagetkan.

In the spring of her twenty-second year, Sumire fell in love for the first time in her life. An intense love, a veritable tornado sweeping across the plains-flattening everything on its path, tossing things up in the air, ripping them to shreds, crushing them to bits. The tornado’s intensity doesn’t abate for a second as it blasts across the ocean, laying waste to Angkor Wat, incinerating an Indian jungle, tigers and all, transforming itself into a Persian desert sandstorm, burying an exotic fortress city under a sea of sand. In short, a love of truly monumental proportions. The person she fell in love with happened to be seventeen years older than Sumire. And was married. And, I should add, was a woman. This is where it all began, and where it all wound up. Almost.

Perhatikan bagaimana Murakami melemparkan jerat pada paragraf pembukanya. Sumire jatuh cinta untuk yang pertama kali dalam hidupnya, dan ternyata yang ia cintai adalah perempuan berusia tujuh belas tahun lebih tua dan telah menikah. Semua kalimat itu mengandung masalah, dan cara terbaik untuk menjerat pembaca adalah menawarkan masalah sejak permulaan. Itulah yang dilakukan Murakami sehingga saya tertarik untuk membaca halaman-halaman berikutnya dari Sputnik Sweetheart.

Murakami hampir selalu meninggalkan jejak-jejak buku yang ia baca di dalam buku-bukunya sendiri. Menurut saya, penting bagi seorang pembaca (atau penulis) mengetahui sumber bacaan pengarang favoritnya. Tidak sulit untuk mengetahui sumber bacaan Murakami karena ia kerap mencantumkan nama-nama seperti Fyodor Dostoevsky, Joseph Conrad, Charles Dickens, dan lain-lain.

Yang saya belum tahu adalah, apakah Murakami juga menggemari Hemingway? Saya bertanya demikian karena saat membaca Sputnik Sweetheart saya menemukan Hemingway dalam dialog-dialog yang ditulis Murakami. Hemingway terkenal dengan dialog-dialognya yang kuat, begitu pula Murakami. Cara murakami menulis dialog-dialog dalam novelnya terlihat oleh saya sebagai suatu usaha mengawinkan Hemingway dan Kafka, sesuatu yang unik dan absurditas yang mencengangkan. Dan itu adalah jerat lain yang dipasang Murakami untuk para pembacanya.

18 April 2014

gabriel garcía márquez dan seratus tahun kesunyian






Dia seorang pisces, dan di balik wajahnya yang tampak tenang dan selalu tersenyum, cerita-cerita yang ia tulis kerap berbicara tentang prostitusi. Si gadis Eréndira yang dijual neneknya sendiri sebagai pemuas hasrat seks para lelaki. Seorang kakek berusia 90 tahun yang ingin menghadiahi dirinya sebuah percintaan liar dengan perawan. Pemuda patah hati yang melampiaskan kekesalannya dengan bercinta bersama banyak perempuan. Dan seterusnya.

Ia adalah yang karya-karyanya paling banyak saya baca ketika saya mulai belajar membaca karya-karya pemenang Nobel Kesusastraan. Bukunya yang pertama saya baca adalah Innocent Eréndira and other stories, lalu berturut-turut saya membaca Memories of My Melancholy Whore, Chronicle of a Death Foretold, dan The General in His Labyrinth. Bukunya yang paling populer, Love In the Time of Cholera justru menjadi buku paling belakangan yang saya baca. Dan hingga saat ini saya belum membaca One Hundred Years of Solitude.

Cara bertuturnya yang mendayu-dayu dan terkadang puitis, nuansa magis yang sesekali ia selipkan dalam beberapa adegan, membuat saya begitu mudah tenggelam dalam kisah-kisah yang ia tulis. Tak jarang saya dibuat takjub dengan absurditas kecil yang tiba-tiba saja muncul dalam dunia nyata yang ia reka dalam buku-bukunya. Nenek dari Eréndira yang perutnya ditusuk pisau dan memuncratkan darah berwarna hijau, seorang lelaki yang datang dari laut membawa wangi mawar dan bertumpuk-tumpuk uang, hanyalah salah dua dari banyak keanehan yang menarik dalam cerita-cerita ciptaannya. Tak heran jika ia disebut sebagai penulis pertama yang menciptakan genre baru dalam dunia kesusastraan, mereka menyebut tulisan-tulisannya beraliran realisme magis.

Saya tidak tahu apakah di Colombia memang isu prostitusi menjadi permasalahan besar dan menonjol, sebab di banyak cerita yang ia tulis selalu saja ada tokoh pelacur. Namun, pelacur-pelacur yang muncul adalah pelacur-pelacur yang, bagaimana menyebutnya ya-memiliki karakter. Ya, mungkin itu agak bisa mewakili apa yang saya maksud. Dan selalu ada tokoh laki-laki yang kesepian. Korban pembunuhan yang dibiarkan oleh seisi kota pada Chronicle of a Death Foretold, laki-laki kaya raya yang datang dari dunia antah berantah di dalam sebuah cerpennya, pemuda yang kemudian dimanfaatkan untuk membunuh seorang nenek dalam kisah Eréndira, seorang jendral dalam perjalanannya, dan seorang pemuda patah hati dalam Love in The Time of Cholera.

Semua tokoh laki-laki itu membuat saya mengira, apakah sebetulnya mereka adalah bagian dari diri ia sendiri? Apakah memang hidupnya seperti kisah-kisah yang ia tulis?

Karena pertanyaan tersebut, saya mulai sedikit mencari tentang dirinya, si penulis. Lalu saya menemukan sebuah kepingan kisah yang menceritakan tentang kehidupan keluarga ayahnya. Ayahnya adalah seorang laki-laki pencinta yang kemudian jatuh hati pada seorang perempuan. Perempuan tersebut nanti akan menjadi ibunya dan melahirkan dirinya. Namun, kisah cinta ayah dan ibunya tidak semulus cara ia bertutur dalam tulisan-tulisannya. Ayahnya ditentang habis-habisan oleh orang tua ibunya (seorang kolonel) sebab ayahnya memiliki reputasi sebagai seorang penjahat kelamin. Kisah cinta penuh kendala dari ayah-ibunya ini yang kemudian ia tulis dalam Love in The Time of Cholera.

Dari buku-bukunya yang saya baca, saya merasa ia ingin berkata bahwa manusia yang kesepian adalah manusia yang tak memiliki cinta. Betapapun hidupmu dipenuhi kegembiraan hal-hal lain, namun jika hatimu tak memiliki yang satu itu, kamu akan menjemput akhir hidupmu dengan perasaan nelangsa. Itulah, barangkali, kesunyian yang saya tangkap dari dirinya.

Mungkin, di alam sana, ia akan mendapatkan seratus tahun kesunyian yang benar-benar ia inginkan. Seratus tahun kesunyian bersama cinta.

Selamat jalan, Gabriel García Márquez.

Selamat tersenyum di tempat yang lebih indah.






16 April 2014

ilustrasi ruth


Beberapa waktu lalu, saya iseng mengadakan lomba menggambar ilustrasi RUTH. Ruth, atau yang bernama lengkap Ruthefia Milana, adalah seorang perempuan yang hidup di dalam cerita yang saya tulis. Ia adalah karakter fiktif, namun beberapa orang keren yang membuat ilustrasi di bawah ini telah menjadikan Ruth menjadi sosok yang sangat hidup. Berikut saya tampilkan beberapa ilustrasi Ruth favorit saya.




karya: @keymicky

karya: @ramadepp

karya: @aaamaradipta

karya: @langkartrisa

karya: @danzenyaw

karya: @ziskekamil

karya: @_falra