16 Mei 2014

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, Eka Kurniawan






Saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya vakum menerbitkan buku hingga sepuluh tahun lamanya. Beberapa orang teman dan pembaca sempat mengeluhkan buku-buku saya terbit dalam jarak yang terlalu dekat. Saya menyadari itu. Tapi apa boleh buat, mungkin saya tidak memiliki kemampuan untuk menahan diri dari menulis dan menerbitkan tulisan saya. Sungguh, saya sangat ingin bisa menahan diri untuk menerbitkan tulisan saya, sehingga (saya berharap) ketika pada akhirnya ia harus lahir, tulisan tersebut telah matang dan layak untuk dilempar ke khalayak pembaca. Namun, catatan ini bukan tentang saya. Ini tentang sebuah novel berjudul seperti yang saya tulis sebagai tajuk catatan ini. Ini tentang sebuah novel pertama yang ditulis oleh si pengarang setelah sepuluh tahun sejak novel terakhir si pengarang itu terbit.

Novel terakhir si pengarang itu berjudul Cantik itu Luka. Sebenarnya, tidak tepat sepuluh tahun jaraknya dengan penulisan novelnya yang baru. Pada halaman terakhir Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, si pengarang mencantumkan tahun penulisannya, ‘2011-2014’. Artinya, sebetulnya jaraknya hanya tujuh tahun dengan novel sebelumnya. Tapi kalau dihitung waktu terbit, maka tepat sepuluh tahun.

Saya tidak tahu mengapa saya memulai catatan ini dengan membicarakan tentang jarak. Tepatnya adalah jarak karya si pengarang. Mungkin, untuk alasan yang sampaikan di pembuka catatan ini: saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya vakum menerbitkan buku hingga sepuluh tahun. Para pembaca yang budiman pasti tahu bagaimana Cantik itu Luka sukses menjadi salah satu buku penting di dunia kesusastraan Indonesia. Novel tersebut kini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang dengan judul Bi Wa Kizu dan Malaysia dengan judul Cantik itu Luka. Saya tidak tahu mana yang lebih akhir dirilis, apakah Cantik itu Luka atau Lelaki Harimau, tapi mana pun itu saya kira sama saja, jaraknya kurang-lebih sepuluh tahun dengan Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas.

Dalam rekam jejak kepengarangan si pengarang sendiri, saya mengira Cantik itu Luka adalah buku yang menjadi salah satu puncak karirnya sebagai pengarang atau novelis (walau saya mengira dia pasti menjawab bahwa buku-bukunya yang lain juga penting, atau buku-bukunya yang lain juga tidak penting sama seperti Cantik itu Luka, saya tidak tahu). Maka, poin saya adalah, jarak sepuluh tahun antara Cantik itu Luka atau Lelaki Harimau dengan Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas itu menunjukkan bahwa si pengarang terbebani dengan kesuksesan Cantik itu Luka. Setidaknya, saya mengira demikian. Apa lagi yang membuat seorang pengarang mengambil jeda atau berhenti sangat lama menelurkan buku kalau bukan beban untuk menghasilkan buku yang lebih bagus dari sebelumnya? Atau mungkin saja, sih, ada alasan-alasan lain yang hanya diketahui oleh si pengarang. Tapi saya akan memulai catatan ini dengan alasan tersebut. Terbebani.

Namun, ternyata saya keliru. Setelah selesai membaca Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (saya menyelesaikannya dalam dua hari, sebetulnya ingin satu hari namun pada hari pertama saya baru mulai membaca pada tengah malam dan sudah sangat mengantuk) saya merasa bahwa si pengarang ternyata sama sekali tidak terbebani. Atau, mungkin saja, memang pada awalnya dia terbebani, namun ia berhasil keluar dari kungkungan beban itu. Ia keluar dengan sangat berhasil dan menampilkan gerakan yang cemerlang.

Bagaimana saya bisa berkata demikian? Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas seolah ditulis dengan bermain-main. Meski sebetulnya perihal yang diangkat adalah perihal yang sangat serius. Saya membayangkan si pengarang membuang jauh-jauh bayang-bayang kesuksesan novelnya yang sebelumnya dan memulai menulis naskah terbarunya dengan semangat seorang anak kecil: semangat bermain-main. Dan memang hasilnya adalah sebuah novel yang seperti bermain-main, ingin bercanda, tidak menganggap terlalu serius hal-hal yang dikatakannya, namun dengan demikian justru ia menjadi novel yang sangat serius. Bermain-main tapi serius. Serius tapi bermain-main.

Membaca setiap halaman Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas mengingatkan saya pada buku-buku stensilan tipis yang dijual di kios-kios majalah yang saya baca semasa SMP (ya, saya membaca buku-buku stensilan, saya belajar menulis deskripsi dari cerita-cerita stensilan). Hanya saja, kali ini dalam format novel. Saya belum pernah membaca novel stensilan. Mungkin pada saat saya SMP buku seperti itu ada juga dijual di kios majalah tapi saya tidak kepikiran untuk mencarinya. Novel terbaru si pengarang ini membuat saya terlempar ke masa lalu, ke masa-masa saat saya masih SMP dan membaca cerita-cerita stensilan dari buletin tipis berjudul Romansa. Si pengarang, kali ini, memilih untuk bermain-main di area tulisan seperti itu. Kata-katanya alangkah vulgar dan mungkin dapat membuat risih orang-orang yang tidak terbiasa dengan kevulgaran dan kejujuran (saya ingin menggunakan kata kejujuran karena sebetulnya sesuatu yang vulgar adalah sesuatu yang jujur, dan hanya orang yang tidak terbiasa dengan kejujuran yang tidak bisa menerima kevulgaran).

Saya membayangkan novel terbaru si pengarang ini dibaca oleh para perempuan sambil menjerit risih dan dibaca oleh para lelaki dengan tertawa-tawa. Namun, mereka berdua merasakan hal yang sama: mereka penasaran dan tidak bisa berhenti membaca. Seperti hal-hal vulgar dan jujur lainnya, mereka seolah-olah menolak dan menertawai, tidak ingin terseret oleh kevulgaran tersebut karena bagi mereka itu dapat menurunkan harkat derajat dan martabat mereka, namun dalam hati mereka, mereka tidak bisa melawan daya pikat kevulgaran dan kejujuran tersebut. Kevulgaran dan kejujuran yang disuguhkan oleh si pengarang. Sebab sesungguhnya baik si lelaki dan si perempuan, memang diciptakan dari sesuatu yang vulgar, sesuatu yang jujur.

Kevulgaran dan kejujuran inilah yang menarik saya untuk terus membaca Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Kevulgaran dan kejujuran yang ditawarkan oleh si pengarang lewat sebuah cerita dengan plot yang terkesan acak namun sesungguhnya diperhitungkan dengan sangat matang dan disusun begitu rapi. Kevulgaran dan kejujuran yang dituturkan lewat sebuah konflik yang bermula dari pengalaman traumatik tokoh utamanya: seorang bocah lelaki tukang intip yang tak bisa lagi membangunkan burungnya setelah ia melihat seorang perempuan gila diperkosa tanpa bisa melawan di depan matanya sendiri. ***

4 Mei 2014

The Hen Who Dreamed She Could Fly, Sun-mi Hwang







Setelah membaca Animal Farm George Orwell, saya kemudian mencari-cari buku lain tentang binatang. Lalu ketemulah buku ini. Saya tahu judul buku ini dari sebuah tulisan di blog Eka Kurniawan. Saya senang mencari tahu buku-buku apa saja yang dibaca oleh pengarang favorit saya. Dan saya senang melihat pengarang yang tak pelit berbagi sumber bacaannya.

Maka saya menemukan buku ini di Aksara Citos, Jakarta. Judulnya The Hen Who Dreamed She Could Fly, ditulis oleh seorang pengarang perempuan berkebangsaan Korea bernama Sun-mi Hwang. Ceritanya terbilang sederhana. Tentang seekor ayam betina petelur bernama Sprout yang juga memiliki cita-cita sederhana. Ia ingin menetaskan telur. Hanya itu keinginannya dalam hidup yang serba singkat dan fana ini. Menetaskan telur.

Sprout si ayam petelur sedih melihat dirinya yang tak pernah bisa menetaskan telur seperti ayam-ayam betina lain. Setiap ia bertelur, telurnya langsung jatuh ke saluran pipa dan diambil oleh peternak untuk dijual atau dimakan. Bagaimana bisa mengeram dan menetaskan telur, Sprout bahkan tidak mendapatkan kesempatan untuk melihat dan menyentuh telur-telurnya sendiri.

Maka, Sprout melakukan perlawanan. “I refuse to lay another egg!” katanya. Karena dia tidak sudi lagi melihat telur-telurnya hanya menjadi santapan atau komoditas manusia, sementara ia semakin hari semakin kehilangan jati dirinya sebagai seekor ayam betina. Lebih-lebih lagi, sebagai seorang ibu. Ia sadar takkan memiliki kesempatan untuk memiliki seekor anak, karena telur-telurnya pun steril (entah apakah Sprout mengetahui hal ini atau tidak, tidak digambarkan).

Tetapi apapun itu, mimpi adalah mimpi dan perlawanan adalah perlawanan. Karena Sprout menolak untuk makan dan minum, maka semakin hari telurnya semakin kecil dan berkualitas buruk. Peternak mengamati itu dan memutuskan Sprout tidak bermutu lagi dan layak dimusnahkan. Sprout, bersama ayam-ayam lain yang sakit, dibuang ke Lubang Kematian, dan diumpankan kepada seekor weasel, makhluk semacam tupai yang memakan unggas kecil. Seluruh ayam tewas, kecuali Sprout. Ia selamat karena saat ia pingsan tertindih ayam-ayam, ia mendengar sayup-sayup suara memanggilnya untuk keluar dari lubang, dan ia menuruti suara itu.

Suara itu berasal dari seekor bebek jantan bernama Straggler. Di kemudian hari, Straggler menjadi sahabat Sprout. Sprout mengikuti Straggler ke kandang, namun kehadiran Sprout ditolak seisi kandang. Di kandang itu ada anjing penjaga yang sudah tua, seekor ayam jantan (tadinya Sprout begitu mengagumi ayam jantan ini, namun karena melihat sikapnya, dia jadi ilfil) dan istrinya ayam jantan, si ayam betina yang teramat cantik namun judes.

Ketika Sprout pada akhirnya terpaksa pergi dari kandang dan dia tak ingin kembali ke tempatnya, ia melanglangbuana sehingga tiba di sebuah tempat dan melihat sesuatu yang membuatnya terpana. Sebutir telur tak bertuan. Ia celingak-celinguk melihat sekeliling dan tak menemukan ibu si telur. Dengan ragu-ragu dan dada berdebar kencang, dia melangkah mendekati telur dan duduk di atas telur itu, mengeraminya.

Cara bercerita Sun-mi Hwang sangat sederhana, sama sederhananya seperti keinginan Sprout. The Hen Who Dreamed She Could Fly adalah buku pertama dari pengarang Korea yang saya baca. Belakangan ini saya sedang tertarik membaca buku-buku pengarang Asia. Jepang, Cina, Korea, dan India. Terakhir saya membeli tiga buku pengarang klasik Jepang. Dari Cina saya baru membaca Mo Yan. Bukan bukunya yang diunggulkan seperti Red Shorgum atau Republic of Wine, melainkan saya membaca Di Bawah Kibaran Bendera Merah, sebuah novel tipis semi-otobiografi versi terjemahan Indonesia. Dari India saya menyimpan beberapa buku Jhumpa Lahiri, tapi karena kemalasan saya, buku-buku itu juga belum saya baca.

Salah satu keunggulan fabel (yang baik) adalah ia bercerita tanpa menggurui atau mendikte. Dalam kasus Sun-mi Hwang, saya betul-betul menikmati membaca The Hen Who Dreamed She Could Fly seolah saya sedang didongengi oleh ibu atau nenek saya (meskipun sebetulnya ibu dan nenek saya tidak pernah mendongengi saya). Ketika membaca buku ini, tiba-tiba saja saya merasa memiliki seorang nenek yang senang mendongeng. Saya membayangkan Sun-mi Hwang sendiri yang membacakan cerita tentang Sprout si ayam petelur kepada saya, saat saya sedang berada di ambang antara melek dan tidur.

Namun, di dalam plot yang saya kira sederhana, ternyata Sun-mi Hwang menyimpan adegan-adegan yang mengejutkan. Hingga mendekati akhir cerita, saya masih belum bisa menemukan ada hubungan apa antara judul buku dan isinya. The Hen Who Dreamed She Could Fly? Sejak awal sudah ditunjukkan kepada pembaca bahwa impian terbesar Sprout adalah menetaskan telur. Lalu ada apa dengan keinginan untuk terbang? Sprout bahkan tidak pernah menyebut-nyebut bahwa ia ingin terbang. Hingga akhirnya saya sampai di penghujung cerita dan barulah saya menemukan jawaban dari pertanyaan itu. Kenapa Sprout ingin bisa terbang.

The Hen Who Dreamed She Could Fly bukan fabel biasa. Pengarangnya bertutur dengan sederhana, dengan suara yang pelan dan teratur, plot dan tokoh-tokoh yang sederhana, membuat saya menyangka cerita akan berakhir sederhana pula, lalu tiba-tiba saya dikagetkan dengan satu adegan yang tak pernah saya kira datangnya.