30 Juni 2014

The Curious Incident of the Dog in the Night-time, Mark Haddon






Judul dan sampul yang menarik. Itu yang saya pikirkan ketika pertama kali melihat buku ini di sebuah toko buku di sudut Jakarta, dan itu pula yang saya pikirkan ketika saya membawanya ke kasir dan membayarnya. The Curious Incident of the Dog in the Night-time karangan Mark Haddon adalah buku yang memenangi Whitbread Award (saya sempat membaca sebuah komentar di Goodreads dari seorang pembaca yang dengan keras mempertanyakan keputusan juri mengangkat buku ini sebagai pemenang Whitbread Award).

Sebelum membaca buku ini, saya mendengar dari beberapa kawan yang juga merekomendasikan buku ini untuk saya baca, bahwa si pengarangnya bertutur dari sudut pandang anak dengan autisme. Menarik sekali, pikir saya. Belakangan saya tahu bahwa yang tepat bukanlah autisme, melainkan sindrom asperger (yang ternyata setelah saya cari tahu, juga merupakan bagian dari autisme/autism). Semakin menarik. Saya pun mulai membaca.

Christopher Boone adalah nama si tokoh utama. Ia menemukan seekor anjing yang tewas di halaman rumah tetangganya, Mrs. Shears, dan dia kaget bukan kepalang. Christopher menghampiri anjing yang tubuhnya tertembus garpu kebun itu dan memeluknya. Mrs. Shears keluar dari rumah dan terkejut melihat anjingnya mati tertembus garpu dan seorang bocah lelaki memeluknya, ia pun berteriak. Ayah Christopher (disebut di dalam buku sebagai “Father”) keluar dari rumah (rumah mereka berada pada sisi jalan yang berbeda namun berhadap-hadapan) dan menarik Christopher pulang, dan memarahinya.

Seperti judulnya, plot cerita di The Curious Incident of the Dog in the Night-time dimulai dari pertanyaan dalam kepala si kecil Christopher: siapa yang membunuh Wellington, si anjing malang itu? Christopher menyusun beberapa kemungkinan, dia menganalisis kejadian aneh dan mengejutkan itu dan mencari cara untuk menemukan jawaban dari pertanyaannya. Siapa yang membunuh Wellington? Christopher menjadi detektif dan mulai melaksanakan penelusurannya.

Namun, Christopher harus merahasiakan penyelidikan karena ayahnya tidak menyukainya. Ayahnya bilang, dengan keras dan sedikit mengancam, jangan ikut campur urusan orang lain. Christopher tidak bisa melakukannya karena dia tidak bisa membayangkan pembunuh Wellington berkeliaran bebas setelah menghilangkan nyawa anjing itu. Diam-diam, Christopher melaksanakan penyelidikannya sendirian. Setelah penyelidikan yang cukup berliku dan sempat menemukan jalan buntu, Christopher mendapatkan hasil yang membuat hidupnya terguncang. Ia akhirnya tahu siapa pelaku pembunuhan itu, dan mengapa si pelaku membunuh anjing itu, dan Christopher seperti kehilangan seluruh dirinya saat mengetahui fakta-fakta tersebut.

Konflik yang diangkat Mark Haddon di The Curious Incident of the Dog in the Night-time adalah permasalahan keluarga. Lebih spesifik lagi adalah tentang bagaimana peran keluarga (orang tua, lebih tepatnya) dalam menangani anak yang mengidap kelainan psikologis.

Dituturkan lewat sudut pandang anak pengidap asperger syndrome, narasi dalam The Curious Incident of the Dog in the Night-time terasa kaku dan patah-patah. Namun begitulah memang seharusnya narasi tersebut, dan bukan merupakan kesalahan atau ketidakmampuan si pengarang menulis narasi yang mengalir. Narasi Mark Haddon menjadi patah-patah karena yang berbicara, sang narator, adalah Christopher Boone yang memiliki sindrom asperger.

Penyusunan bab juga terasa unik karena tidak menggunakan angka yang berurutan, melainkan angka-angka dalam bilangan prima (2, 3, 5, 7, 11, 13, dan seterusnya). Alasannya adalah Christopher Boone menyukai bilangan prima, karena bilangan prima adalah bilangan yang tersisa ketika semuanya telah hilang. Christopher juga banyak berceloteh tentang ketertarikannya terhadap astronomi, cita-citanya menjadi astronot, dan hal-hal lain yang saya pikir sekadar sebagai tambahan wawasan bagi pembaca buku. Hal-hal yang, saya kira, tidak begitu penting dan relevan terhadap plot utama.

Cara bertutur Mark Haddon lewat Christopher Boone yang kaku dan patah-patah adalah sesuatu yang unik dan menarik bagi saya, setidaknya di setengah buku. Namun, dari pertengahan ke belakang, saya mulai merasa bosan. Setelah identitas pembunuh Wellington terungkap (dan adegan dengan emosi yang sangat intens antara Christopher dan si pembunuh, saya sangat menyukai bagian ini) tidak ada lagi perkembangan yang berarti pada plot utama. Christopher kabur dari rumah dan mencari ibunya di London. Dalam pelarian ini, Mark Haddon menggambarkan dengan sangat baik emosi dan perasaan kacau yang dialami Christopher. Ia panik, ketakutan, nekat, dan putus asa. Saya belum pernah melihat dan berhadapan langsung dengan anak pengidap autisme atau asperger, namun saya bisa mengira-ngira dan membayangkan dari gambaran Mark Haddon akan Christopher.

Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, The Curious Incident of the Dog in the Night-time merupakan novel dengan cara bertutur unik, namun kehilangan pesonanya setelah misteri utama terbongkar. Bagi saya, Mark Haddon tidak cukup berhasil mempertahankan perhatian dan ketertarikan pembaca (baca: saya) setelah ia mengungkap rahasia di pertengahan buku. Setelah seratus halaman pertama saya baca dengan seksama, saya terpaksa sedikit memaksakan diri menyelesaikan membaca buku ini dengan melakukan skimming di seratus halaman kedua hingga akhir cerita.

Kalau kamu penasaran ingin membaca novel yang dituturkan lewat sudut pandang anak pengidap sindrom asperger, boleh coba membaca The Curious Incident of the Dog in the Night-time. Namun, kalau kamu punya rekomendasi cerita dari sudut pandang pengidap sindrom asperger yang lebih baik, saya menunggu rekomendasimu. ***

26 Juni 2014

The Da Vinci Code, Dan Brown






Untuk urusan buku, genre misteri, detektif, dan thriller bukanlah favorit saya. Begitu pula dengan horor dan science-fiction. Bagi saya, jenis-jenis cerita dalam golongan tersebut lebih seru kalau diikuti dalam bentuk audio-visual alias film. Maka dari itu, ketika pertama kali The Da Vinci Code, novel Dan Brown, pertama kali heboh sekitar sepuluh tahun lalu, saya sama sekali tidak tertarik untuk membacanya. Karena saya tidak tertarik dengan tema yang ia angkat, itu saja. Semakin banyak orang yang membicarakannya, semakin saya kehilangan minat untuk bahkan sekadar mencoba membaca beberapa halaman di toko buku.

Sampai akhirnya sepuluh tahun kemudian, saya bertemu dengan seorang perempuan. Kami berkenalan di sebuah coffee shop di Yogyakarta, dan bicara banyak tentang macam-macam hal, termasuk buku. Kami saling melemparkan pertanyaan buku apa yang menjadi favorit kami. Saya menjawab, tentu saja, serial Harry Potter karangan Joanne Kathleen Rowling (meski saya menambahkan keterangan bahwa saya tidak begitu menyenangi buku-bukunya yang terbaru). Ketika saya bertanya kepada dia, buku apa yang menjadi favoritnya, dia menjawab The Da Vinci Code.

Saya menahan diri untuk melemparkan celetukan bahwa saya tidak menyukai buku itu, atau lebih tepatnya, saya tidak tertarik dengan buku itu. Saya akhirnya hanya bertanya “Kenapa kamu suka The Da Vinci Code?” dan dengan antusiasmenya yang membakar, ia pun menjelaskan alasan-alasan yang membuatnya menganggap novel Dan Brown yang pernah kontroversial itu adalah salah satu buku paling penting dalam hidupnya. Saya hanya diam dan menyimak dengan serius, mencari-cari alasan yang kira-kira dapat membuat saya juga ingin membaca buku itu, namun saya tidak menemukannya. Saya masih belum tertarik untuk membaca The Da Vinci Code.

Selama beberapa bulan, hubungan saya dan perempuan itu semakin dekat. Pada suatau hari saat kami minum kopi di sebuah coffee shop di sudut Jakarta, kami pun kembali terlibat dalam sebuah percakapan seru dan berapi-api tentang, apalagi kalau bukan buku. Lagi-lagi kami membicarakan buku favorit kami. Saya mencerocos tentang Harry Potter, dan dia berceloteh perihal The Da Vinci Code. Hingga saya berkata kepadanya, bahwa tampaknya saya mulai penasaran untuk membaca buku itu. Saya bilang saya hanya ingin tahu apa sebabnya semua orang menyukai buku itu, dan terutama apa sebabnya dia menyukai buku itu.

Mungkin saya perlu meminta maaf karena setelah empat paragraf, catatan ini belum juga mengulas tentang buku dan malah berceracau tentang hal-hal yang lebih personal. Tapi saya merasa perlu untuk menampilkan hal-hal tersebut, karena saya ingin menegaskan bahwa saya tidak menyukai dan tidak tertarik dengan buku ini, pada awalnya. Pada akhirnya? Saya harus mengakui bahwa saya telah menjadi satu dari banyak orang yang menyukai The Da Vinci Code, bahkan mungkin menggemarinya.

Saya ingin katakan bahwa tidak banyak buku yang dapat membuat saya tenggelam. Beberapa buku yang saya baca membuat saya berpikir, merenung, mendapat pengetahuan baru, mengumpat bahagia, tapi tidak banyak yang dapat membuat saya tenggelam. Setelah berkonsentrasi untuk menulis, tujuan saya membaca buku pun bergeser, dari yang tadinya membaca buku untuk kesenangan membaca itu sendiri, menjadi membaca buku untuk mempelajari hal-hal yang bersifat teknis: mengamati cara bertutur penulisnya, memperhatikan cara si penulis menyusun plot, merangkai dialog, menulis narasi, dan seterusnya. Karena hal itu, saya menjadi berjarak dengan buku yang saya baca. Saya membaca, namun juga mengamati dari luar. Saya tidak bergabung dengan cerita dalam buku.

Terakhir kali saya tenggelam dalam buku yang saya baca adalah ketika pertama kali saya membaca Harry Potter, dan tidak pernah lagi setelah itu. Ketika mulai membaca The Da Vinci Code, saya mendapatkan perasaan yang sama seperti saat membaca Harry Potter. Saya tidak bisa melepaskan buku itu dari genggaman. Dari kamar kos, saya membawanya ke toilet, ke kantor, ke coffee shop, bahkan ke resepsi pernikahan seorang teman. Saya tidak bisa meninggalkannya.

Petualangan, perjalanan, misteri, dan intrik-intrik yang dilakoni oleh Robert Langdon, Sophie Neveu, Uskup Aringarosa, Silas, Bezu Fache, Sir Leigh Teabing, Remy, Collet, Vernet, membuat saya tenggelam dan tidak bisa keluar. Halaman demi halaman berlalu begitu saja tanpa saya sadari sudah membaca lebih dari seratus halaman (versi terjemahan Indonesia yang saya baca sepanjang 677 halaman), dan saya terus membacanya. Daniel Brown benar-benar mahir mengungkap dan menyimpan misteri, menebar petunjuk-petunjuk seperlunya, agar kita menduga-duga dan terus penasaran untuk mencari tahu bagaimana kisah selanjutnya, apa yang terjadi berikutnya.

Saya pikir, Daniel Brown adalah satu dari sedikit pengarang yang menemukan formula bagaimana membuat sebuah novel yang page-turner. Ia lihat merangkai plot. Membaca The Da Vinci Code seperti menonton sebuah film. Adegan demi adegan bersaling-silang munculnya, berasal dari dua plot yang berbeda dan berjalan secara paralel, hingga akhirnya bertemu di satu titik. Yang lebih mengagumkan bagi saya adalah kemampuan Dan Brown memasukkan data-data hasil risetnya tentang sejarah ke dalam narasi namun sama sekali tidak mengganggu tempo pembacaan saya dan seluruh data tersebut tetap relevan terhadap plot. Saya tidak tahu bagaimana cara dia melakukannya. Mungkin dengan menebar data itu di beberapa tempat, tidak langsung ditumpah-ruahkan di satu bagian seperti novel-novel fiksi-sejarah lainnya. Apapun itu, Dan Brown berhasil membuat saya mengikuti plot yang ia buat dan menyimak bit demi bit data yang ia sodorkan.

Kalaupun ada hal yang kurang maksimum di The Da Vinci Code adalah perwatakan tokohnya. Saya terkadang masih merasa ada kesamaan suara antara satu tokoh dengan yang lainnya. Walaupun beberapa tokoh tampak mencuat dan mudah dikenali. Bagi saya, tokoh-tokoh yang memiliki imej dan meninggalkan kesan yang kuat dan melekat adalah Silas dan Sir Leigh Teabing dengan gaya bicara dan dialognya yang khas (ia selalu memanggil Sophie Neveu dengan imbuhan “Sayangku…”).

Nyaris tidak ada bolong dalam plot dan subplot The Da Vinci Code yang dirangkai dengan sangat apik oleh Dan Brown. Memang ada beberapa pertanyaan yang masih menggantung di dalam kepala saya, seusai membaca buku tersebut, namun saya kira itulah keindahan sebuah buku, terutama ketika yang sedang dibaca adalah buku bergenre misteri-thriller. Mengingat apa yang dibahas oleh Dan Brown dalam The Da Vinci Code adalah topik-topik sejarah dan keagamaan, saya tidak heran kalau setelah kelar membaca, saya masih bertanya-tanya akan beberapa hal.

Akhirnya, yang ingin saya katakan sebagai penutup catatan ini adalah, jika Anda rindu masa-masa dimana Anda tenggelam dalam buku yang Anda baca, dan tidak bisa melepaskan buku itu dari genggaman sampai benar-benar selesai membacanya, membawanya ke ruang makan, kamar mandi, mal, sekolah, tempat nongkrong, dan lain-lain, mungkin Anda ingin mencoba membaca The Da Vinci Code. Atau, bagi Anda yang sudah pernah membaca ini, saya hanya ingin bilang, kini saya adalah bagian dari Anda.  ***


(PS: Saya tidak tahu apakah ia membaca catatan ini atau tidak-tapi saya ingin mengucapkan terima kasih kepada perempuan itu.)

24 Juni 2014

Such, Such Were the Joys, George Orwell






Apa yang bisa kamu ingat dari masa kecilmu? Permainan kelereng dengan teman-teman satu kompleks? Suara ibu yang nyaring memanggil dari dapur? Bentakan ayah saat memarahimu karena pulang terlalu larut? Atau sekumpulan anak yang tidak menerimamu masuk ke dalam geng mereka? George Orwell mengingat hanya sedikit hal dari masa kecilnya, seperti yang ia tulis, namun hal-hal itu merupakan sedikit yang terpenting yang perlu ia ingat dan renungkan. Dan, ia bagi lewat orang-orang yang membaca bukunya. Such, Such Were the Joys, adalah pintu menuju masa kecil Orwell, pada tahun 1916, ketika ia masih bersekolah dasar.

Dibuka dengan narasi tentang mengompol (ya, mengompol), Orwell memulai perenungannya tentang hal-hal yang dahulu tidak ia pikirkan, tentu saja karena ia masih kecil. Ia memikirkan tentang mengompol yang menjadi sesuatu yang sangat identik dengan anak-anak. Anak-anak mana yang tidak mengompol? Dan apakah yang terjadi ketika kita sudah tumbuh semakin besasr dan masih mengompol? Kita akan dihukum. Beberapa orangtua memberikan hukuman yang bijak dan mendidik, seperti misalnya disuruh mencuci seprei sendiri atau tidak diberi jatah uang jajan, sementara beberapa yang lain memberikan hukuman yang bersifat fisik. Orwell, pada masa kecilnya, mengalami yang terakhir disebut.

Orwell bersekolah di St. Cyprian’s dan tinggal di dalam asrama. Oleh guru dan kepala sekolahnya yang ambisius, oportunis, dan diskriminatif, Orwell sering mendapat perlakuan tidak adil. Adalah Flip yang sering menyebutnya sebagai anak nakal karena masih mengompol, dan Sambo yang memukul pantatnya di depan kelas sebagai hukuman. Semasa kecil, Orwell begitu membenci Flip dan Sambo, pasangan yang menjalankan aktivitas belajar-mengajar di St. Cyprian’s yang hanya bersikap baik kepada murid-murid bergelar kesatria, atau anak-anak keluarga bangsawan dan kaya-raya. Flip dan Sambo kerap mematahkan semangat Orwell kecil dengan mengatakan kepadanya bahwa ia takkan pernah jadi orang yang sukses, ia hanya akan menjadi orang-yang-bergaji-40-poundsterling-setahun. Oleh Flip dan Sambo, Orwell dibuat berpikir bahwa jika dirinya sempat tumbuh besar dan masih hidup pun, ia sudah sangat bersyukur.

Lewat renungan tentang mengompol, Orwell bercerita perihal hukuman dan rasa bersalah. Bagaimana seorang anak dipandang bersalah dan harus dihukum atas hal-hal yang tidak bisa ia kendalikan. Mengompol adalah sesuatu yang tidak bisa dikendalikan oleh anak kecil. Ia terpaksa tidak mengompol lagi karena ia dihukum, ditakut-takuti, atau bahkan dipukul secara kejam, dan kemudian di dalam kepalanya tertanam pernyataan bahwa mengompol itu sendiri adalah sebuah kesalahan besar yang hanya bisa ditebus lewat penghukuman yang mutlak dilakukan.

Bercerita tentang Flip dan Sambo, Orwell juga berceloteh perihal diskriminasi. Sambo adalah kepala sekolah yang oportunis dan memiliki bakat sebagai penjilat ulung. Ia sangat ingin sekolahnya didatangi oleh murid-murid yang berasal dari keluarga kaya-raya atau bangsawan. Hingga akhirnya, datanglah murid-murid itu. Dua orang albino yang bergelar kesatria. Dalam setiap kesempatan yang memungkinkan, Sambo selalu memanggil murid-murid itu lengkap dengan gelarnya, “Lord X…”, dan melakukannya dengan sengaja agar orang lain bisa mendengarkannya dan mengetahui di sekolahnya ada anak bangsawan. Saat di meja makan, dan mereka sedang membahas kenakalan yang dilakukan anak-anak murid, mereka selalu bilang “Ah, namanya juga anak cowok…” kepada si dua murid bangsawan jika mereka bertindak onar, dan menyergah Orwell dengan “Dasar anak kotor, bandel, tak tahu diuntung!” jika Orwell mengompol.

Selain itu, Orwell juga berkisah tentang tekanan pertemanan di lingkungan sekolahnya. Seorang teman sekelas yang berbadan besar kerap menyombongkan kekayaan harta orangtuanya kepada Orwell. “How much do your father got in a year?” tanyanya. Dan sebelum Orwell sempat menjawab, ia pun sudah menyebutkan berapa banyak gaji ayahnya dan benda-benda lain yang ayahnya miliki. Lewat narasinya yang mudah dipahami, Orwell mengajak kita masuk ke dalam ingatan-ingatan masa kecilnya yang cukup dihiasi dengan tekanan-tekanan, baik dari guru, teman-teman, sekolah, dan masa kecil itu sendiri.

Meski aura yang saya rasakan sangat berbeda ketika membaca karya fiksi Orwell (ini adalah buku nonfiksi Orwell pertama yang saya baca), saya tetap menikmati memoir atau esei yang ditulis Orwell dalam buku tipis sepanjang 56 halaman ini. Terutama dikarenakan oleh bahasa Orwell yang tidak meliuk-liuk dan meski terdapat beberapa kata yang asing di telinga, tetaplah sederhana dan tidak bikin mengernyitkan dahi. Orwell adalah contoh baik dan nyata tentang kepiawaian seorang pengarang atau penulis, bahwa semakin lihai seorang penulis, maka ia akan langsung menunjukkan adegan-adegan kepada pembaca, bukan terjebak dalam usaha mempertontonkan keindahan dan geliat cantik kata-kata aneh atau sengaja dianeh-anehkan. Ia akan menyodorkan ide dan gagasan, karena itulah yang terpenting yang perlu dilihat dan diserap oleh pembaca.

Such, Such Were the Joys membuat saya mengingat masa-masa ketika saya belum mengkhawatirkan banyak hal, dan hari-hari saya sepertinya begitu sederhana dan menyenangkan. Pergi sekolah setiap pukul enam dengan mengantongi uang jajan dua ratus perak dan pulang masih dengan seratus perak di tangan (selama empat tahun saya hanya jajan cemilan tic tac yang satu bungkusnya berharga dua puluh lima rupiah, saya membeli empat), saya bahkan pernah berjalan kaki dari sekolah ke rumah yang jaraknya kurang lebih empat kilometer hanya karena bosan naik sepeda. Saya ingat tentang permainan tangkap kera atau bermain polisi-penjahat. Saya ingat di sekolah hanya ada satu guru untuk setiap tiga sampai empat mata pelajaran (Pak Kimpa mengajar ilmu pengetahuan alam dan juga olahraga, Bu Nur mengajar PPKN dan muatan lokal). Saya ingat perkelahian di depan pintu kelas antara dua orang teman laki-laki yang gemar unjuk kekuatan (mereka bertengkar menggunakan kawat yang dipotong dari pagar sekolah, ketika saya mengingatnya sekarang agenda itu terasa sangat mengerikan). Saya ingat ketika saya diancam akan dipukul kalau tidak memberikan contekan dan jawaban pe-er. Saya ingat sebuah surat cinta dari seorang murid perempuan di sekolah sebelah (ada dua sekolah dasar yang berbeda berada dalam satu areal).

Masa kecil, bagi saya, adalah sesuatu yang teramat krusial. Ia bisa menentukan bagaimana cara seseorang memandang dirinya dan kehidupan seumur hidupnya ketika ia tumbuh dewasa. Seorang anak, seperti kata pepatah populer, ibarat kertas kosong. Ia akan menjadi apa yang dicoretkan atau dituliskan kepadanya. Apakah itu pengalaman traumatik, pesan-pesan baik dan optimistis, atau hal-hal lain. Kalau ia tidak mendapatkan itu dari orangtuanya, maka ia akan mendapatkannya dari lingkungan. Jika kau ingin tahu mengapa seseorang menjadi dirinya sekarang, kau bisa bertanya atau mencari tahu bagaimana masa kecilnya. Mengingat masa kecil diri sendiri juga bisa menjadi sebuah usaha dan jalan untuk mendapatkan pemahaman diri, mengapa kita begini dan mengapa kita begitu. Dan mungkin, jika saya adalah Orwell dan menulis sebuah memoir tentang masa kecil, saya akan menulis di akhir buku itu sebuah kalimat yang saya gunakan sebagai pembuka catatan ini:

Apa yang bisa kamu ingat dari masa kecilmu? ***

9 Juni 2014

1984, George Orwell





Di tengah-tengah hiruk-pikuk percakapan dan bukan percakapan tentang politik, dalam rangka menjelang pemilihan presiden Indonesia yang baru, saya melewatkannya dengan membaca buku yang sudah sejak lama ingin saya baca namun baru sempat membacanya beberapa hari yang lalu. Dan, ketika membacanya, hanya satu kata yang secara spontan meluncur dari mulut saya: ngeri.

1984 adalah sebuah novel distopia yang ditulis oleh George Orwell, pengarang berkebangsaan Inggris yang juga peraih Nobel Kesusastraan. 1984 terbit pertama kali pada tahun 1949. Lewat 1984, Orwell menulis semacam ramalan akan kondisi Inggris kurang-lebih empat puluh tahun mendatang. Pernah dengar istilah “The Big Brother”? Kalau pernah, maka kamu perlu tahu bahwa istilah tersebut diciptakan oleh Orwell di dalam novelnya, 1984.

Tokoh utama dalam 1984 adalah seorang pria berusia tiga puluhan tahun, mendekati empat puluh, bernama Winston Smith. Ia bekerja di “Ministry of Truth”, di dalam Departemen Rekaman atau Records Department. Tugasnya? To alter the truth, to erase the past, and to create the new present. Sehari-harinya, Winston mengubah isi pidato, pernyataan-pernyataan pemerintah, isi majalah, dan arsip-arsip lain sesuai dengan instruksi dari Party (Partai). Untuk tujuan apa? Ini yang mengerikan. Yakni, agar rakyat tidak mengetahui bagaimana kehidupan mereka sebelum Revolusi, dan kehilangan petunjuk tentang mana yang benar dan mana yang salah, mana yang bohong dan mana yang nyata. Oleh Partai, kenyataan terus-menerus diubah dan dibentuk, sehingga kenyataan yang diterima oleh rakyat adalah kenyataan versi Partai, bukan kenyataan yang sebenarnya.

Oleh Partai, sejarah diubah, secara terus-menerus, setiap hari.

Winston mengetahui hal tersebut dengan persis, sebab dia lah yang melakukannya, mengubah seluruh rekaman, catatan, dan sejarah. Dia merasa cemas sebab lama-kelamaan dia merasa apa yang dilakukannya adalah tidak benar dan pikirannya selalu terusik oleh pertanyaan-pertanyaan tentang bagaimana sebetulnya kehidupan mereka sebelum Revolusi? Winston tidak bisa mengingat kehidupan mereka sebelum Revolusi, sebab masa lalu telah diubah dan diganti dengan masa lalu yang baru.

Pemerintah di bawah pimpinan The Big Brother, dilaksanakan oleh Partai Outer Party (Partai Luar) dan Inner Party (Partai Dalam). Partai Luar berisikan orang-orang dari rakyat biasa yang direkrut karena memiliki kualifikasi untuk melaksanakan tugas pemerintahan, sementara Partai Dalam adalah orang-orang pemerintahan inti yang langsung “berhubungan” dengan instruksi dari The Big Brother. Rakyat di luar partai disebut dengan nama The Proles, singkatan dari proletarians.

Rakyat telah kehilangan jejak atas sejarah karena pekerjaan yang dilakukan oleh Winston dan karyawan lain di dalam pemerintahan. Kehidupan diatur, diawasi, dan diarahkan sepenuhnya oleh negara. Lewat kehadiran The Thought Police (Polisi Pikiran) dan mesin bernama telescreen (saya membayangkannya semacam kamera cctv, namun yang ini bisa mendeteksi ekspresi dan gestur Anda), gerak-gerik setiap orang diperhatikan. Anda tidak boleh melakukan hal-hal sekecil apapun yang dipandang mencurigakan, jika tidak Anda langsung ditangkap oleh Thought Police dan dihilangkan. Di dalam 1984, istilahnya adalah vaporized.

Tentu kita tidak asing dengan istilah tersebut: dihilangkan. Bagaimana pada suatu masa, Indonesia pun pernah mengalami peristiwa-meminjam istilah Winston-vaporizing. “Penguapan” orang. Kebebasan berpendapat dipasung oleh kehadiran Thought Police dan telescreen. Jika ada suara-suara miring terhadap pemerintah, orang yang memiliki suara-suara miring tersebut bisa dipastikan tidak akan berumur panjang. Bukan hanya Oceania dalam 1984, tapi Indonesia juga pernah mengalami itu. Negara adem ayem bukan karena penduduknya memang adem ayem, namun karena mulut mereka dibungkam dan jika mereka sedikit saja membuka mulut, mereka akan diuapkan, dilenyapkan.

Sungguh ngeri melihat dunia yang digambarkan oleh Orwell dalam 1984. Dengan apik, Orwell telah membuat cerita yang bikin bergidik. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana hidup di dunia yang seluruhnya diatur oleh negara. Tidak boleh ada penyelewengan”. Oleh negara, rakyat dipaksa untuk lahir, hidup, tumbuh, bekerja, menua, dan mati. Tidak ada perjuangan, perlawanan, dan hal-hal lain di luar jalur yang sudah dituliskan oleh negara.

Untuk apa negara (atau dalam hal ini, Partai) melakukan itu? Tentu saja, kata O’ Brien, untuk melanggenggkan kekuasaan. Winston bertemu O’ Brien pada saat menyanyikan lagu kebencian yang ditujukan kepada Goldstein, pemimpin pergerakan oposisi pemerintah. Secara instingtif, Winston merasa O’ Brien memikirkan apa yang ia pikirkan. O’ Brien sadar dan tahu bahwa kondisi mereka tidak seharusnya seperti ini. Winston merasa, O’ Brien memiliki pikiran seperti dirinya: bahwa Partai harus dilawan dan diruntuhkan.

Namun, malangnya nasib Winston ketika mengetahui ternyata O’ Brien yang ia pikir adalah seorang rekan, ternyata merupakan anggota inti Partai yang sudah lama mengawasi gerak-gerik Winston (menurut O’ Brien, selama tujuh tahun ia sudah memperhatikan Winston dan bibit-bibit perlawanan dan penyelewengan yang mulai tumbuh di dalam dirinya). Winston dan pacarnya, Julia (Julia bekerja di Departemen Fiksi, tugasnya adalah mengubah isi novel agar novel-novel yang dibaca oleh rakyat adalah novel-novel yang membawa pesan-pesan The Big Brother atau Partai) ditangkap oleh Mr. Carrington yang pada awalnya memberi mereka tempat untuk bertemu dan bercinta, namun ternyata ia adalah seorang anggota Polisi Pikiran. Winston dan Julia ditangkap dan dipisahkan. Di penjara, Winston bertemu O’ Brien. Julia, tidak jelas bagaimana nasibnya.

Di penjara, Winston mengalami penyiksaan yang berlangsung selama berhari-hari, berminggu-berminggu, bahkan berbulan-bulan. Seperti yang dirasakan oleh Winston, mustahil untuk mengetahui berapa lama waktu telah berlalu. Ia bahkan tidak tahu apakah hari sedang malam atau sedang siang. Yang dia tahu tubuhnya ditendang, dipukul, disetrum, dan begitu berulang-ulang, setiap hari, setiap saat. Winston diminta untuk mengakui kejahatan-kejahatan yang dituduhkan kepadanya: pencurian, perampokan, pemerkosaan, dan lain sebagainya. Winston, mengetahui bahwa tidak ada hal lain yang dapat dia lakukan, mengakui semua tuduhan itu. Asalkan baginya di dalam pikiran ia tetap tidak mengakuinya. O’ Brien, yang melihat kebohongan dalam pengakuan Winston, terus menyiksa Winston hingga akhirnya Winston menerima dengan sepenuh hati dan pikiran doktrin-doktrin Partai yang disuntikkan oleh O’ Brien.

Tidakkah penculikan, penghilangan, dan penyiksaan ini terasa familier di telinga kita? Apakah yang terlintas di kepala Anda ketika mendengar kata-kata tersebut? Saya ulang sekali lagi: penculikan, penghilangan, penyiksaan.

Penculikan.

Penghilangan.

Penyiksaan.

Adakah sesuatu yang teringat oleh Anda?

Simpan sendiri, dalam hati dan dalam pikiran. Terutama di dalam hati. Sebab bisa jadi saat ini Anda sedang diawasi oleh Polisi Pikiran dan di sudut-sudut kamar Anda tersembunyi telescreen yang mengamati gerak-gerik Anda. Bisa jadi, jika Anda tidak hati-hati, keesokan paginya Anda sudah terbangun di sebuah tempat antah-berantah dengan badan memar-memar dan wajah dan kepala yang mengucurkan darah. Bisa jadi.

Dan bisa jadi pula, apa yang ditulis oleh George Orwell di 1984 yang bukunya sudah hampir 70 tahun ini kembali terulang dan terjadi di Indonesia, jika Anda tidak memilih pemerintahan yang benar pada pemilu yang akan dilangsungkan sebentar lagi.

Bisa jadi. ***

2 Juni 2014

[ manuskrip ] sarif & nur





Nyaris setahun yang lalu, editor saya di penerbit Bukune (sekarang ia sudah pindah ke penerbit GagasMedia, masih satu kelompok penerbit), Widyawati Oktavia mengirimi saya surel yang isinya tentang ajakan untuk sebuah proyek novel. Nama proyek tersebut adalah “Love Cycle”. Konsepnya sederhana: Enam penulis membuat novel yang jika disusun maka akan menjadi urut-urutan konflik yang biasanya dialami dalam sebuah relationship. Saya mendapat urutan di tengah, yang artinya saya diminta menulis novel tentang konflik pada saat relationship itu sedang dibangun alias masa-masa pacaran. Dalam hati saya protes. Pasalnya, pada saat itu saya sedang single.

Proyek ini sebetulnya adalah proyek kedua yang ditawarkan Iwied (panggilan akrab Widyawati Oktavia) kepada saya. Dengan berbagai alasan, proyek pertama gagal saya kerjakan. Di proyek “Love Cycle” ini, saya bertekad untuk tidak mengulangi hal serupa. Maka, saya mulai menulis.

Tahap pertama adalah melaksanakan riset. Saya sempat melakukan beberapa survey kecil baik offline maupun online, untuk mengetahui konflik apa saja yang dialami oleh orang yang sedang in a relationship atau berpacaran. Meskipun saya sendiri juga mengalami, tapi saya tetap butuh pandangan dan pendapat dari orang lain. Lebih banyak lebih baik. Saya mengumpulkan hasil survey dan memilih kira-kira konflik apa yang paling kuat untuk dituliskan dalam sebuah cerita.

Hasilnya adalah: keraguan.

Ya, keraguan. Saya memilih keyword itu sebagai konflik yang paling menarik dan kuat untuk diangkat ke novel yang akan saya tulis. Menurut saya, ketika dua orang saling jatuh cinta dan memulai sebuah hubungan, maka mereka akan dilanda keraguan. Lebih-lebih jika hubungannya baru seumur jagung, keraguan akan mengguncang hati masing-masing, dan jika tidak ditangani dengan baik keraguan (baik satu pihak maupun keduanya) dapat menghancurkan hubungan tersebut.

Berikutnya adalah menentukan latar tempat atau setting. Saya memilih Pontianak, kota kelahiran saya sendiri. Di buku-buku sebelumnya, saya sudah mengangkat setting Yogyakarta (sering sekali) dan Bali. Saya pernah menulis menggunakan setting Pontianak namun sebatas cerita-cerita pendek. Saya ingin menulis novel yang berlatarkan Pontianak. Dan saya kira ini adalah kesempatan baik.

Selain cinta, konflik lain yang saya masukkan adalah tentang keluarga dan impian. Ada banyak intrik anak-ayah dan anak-ibu di naskah baru ini. Ada pula masalah-masalah endemik Pontianak yang saya sisipkan semata untuk memberikan informasi lebih kepada para pembaca.

Saya mulai menulis bab pertama bulan Januari 2014. Diselingi pekerjaan ini dan itu (tahun ini saya memiliki status karyawan), naskah ini baru bisa saya rampungkan 31 Mei 2014. Karena belum menemukan judul yang tepat, maka saya mencomot nama tokoh-tokoh utama sebagai judul sementara. Sarif & Nur, saya menamakan naskah novel baru ini. Panjangnya 36.000 kata. Biasanya, setelah melewati proses penyuntingan jumlahnya akan bertambah. Saat ini, Sarif & Nur masih saya endapkan. Seminggu atau dua minggu kemudian baru saya akan mulai melakukan self-editing, dan setelah itu mengirimkannya ke editor.

Sarif & Nur dijadwalkan terbit bulan Agustus 2014. Jika tidak ada aral melintang dan proses penyuntingan berjalan lancar, maka bakal novel ini akan terbit tepat pada waktu yang telah direncanakan. Semoga saja. J


Bara