31 Desember 2014

10 Buku Favorit Tahun Ini



Seperti telah saya akui di tulisan sebelumnya tentang daftar buku yang saya baca tahun ini, tahun 2014 saya membaca buku lebih sedikit. Sebagian besar dari buku itu tidak menyisakan apa-apa di kepala saya selain statistik dan perasaan bahwa saya telah menebus dosa dengan mengurangi tumpukan buku yang belum dibaca. Mungkin hal itu terjadi karena saya membaca dengan kurang khidmat, atau mungkin buku-buku tidak menyasar saya sebagai pembacanya. Apapun bisa terjadi.

Yang jelas, dari sejumlah buku yang saya baca tahun ini, ada beberapa yang sangat saya suka. Bukan hanya saya terkagum-kagum pada kemampuan menulis pengarangnya, melainkan juga perasaan yang saya dapatkan saat membaca buku-buku ini. Sensasi menghantam kepala, sekaligus menghentak dada karena isu yang relatable dengan pengalaman hidup saya, juga cara pandang mereka terhadap kehidupan, dan cara mereka menyampaikan cara pandang itu lewat cerita.

Saya belum pernah melakukan ini, tapi saya kira mendaftar buku-buku favorit adalah salah satu cara untuk mengingatkan kepada diri saya sendiri, bahwa buku masih jadi tempat liburan yang menyenangkan, sekaligus gua penuh keajaiban tak habis-habis. Ia dapat mengubah cara saya melihat dunia, hal-hal kecil, juga memandang apa yang ditawarkan dalam hidup ini: kehidupan itu sendiri.

Untuk itu, buku-buku berikut adalah beberapa yang paling membuat saya merasakan sensasi semacam tadi. Jumlahnya lebih, sebetulnya, namun saya menggenapkannya saja menjadi 10 (sepuluh).

Ini adalah sepuluh buku favorit saya, yang saya baca di tahun ini:





The Book Thief – Markus Zusak

Mengambil narator dari sudut pandang Kematian, saya kira adalah hal paling cerdas yang dilakukan Zusak dalam buku ini. Kisah seorang gadis kecil, bersama ibu dan ayahnya yang semuanya Yahudi, bergulir di bawah pemerintahan Adolf Hitler. Aktivitas Nazi dan adegan-adegan kematian yang keras dibungkus oleh narasi lembut dan terkadang indah. Kata-katanya sangat mengalir. Saya nyaris menitikkan airmata di bagian akhir cerita.





The Brief Wondrous Life of Oscar Wao – Junot Díaz

Kalimat pertama yang saya ucapkan seusai membaca buku ini adalah: Shit. Saya mengumpat. Dan, ketika saya mengumpat saat atau seusai membaca buku, saya tahu bahwa saya sangat, sangat menyukainya. Membaca buku-buku Junot Díaz membuat saya bergumam kagum sekaligus mendapat pencerahan: “Ternyata novel bisa ditulis dengan cara seperti ini”. Bahasanya lincah, sembarangan, dan terkadang vulgar. Di buku ini, Díaz bercerita tentang kehidupan sebuah keluarga yang hidup di bawah pemerintahan diktator Rafael Trujillo.

Baca ulasan lengkapnya di sini.




Kafka on the Shore – Haruki Murakami

Favorit kedua saya setelah Dengarlah Nyanyian Angin. Murakami menggunakan teknik yang serupa 1Q84, plot ganda yang berjalan secara paralel, lalu di satu titik bertemu. Kadar sureal dalam buku ini cukup banyak. Masih dengan seksualitas dan hal-hal gaib yang tak terjelaskan oleh nalar, tentu saja. Namun, yang membuat saya menyukai buku ini adalah, betapa lama-kelamaan saya mulai merasa hal-hal gaib dan aneh itu perlahan-lahan menjadi bagian yang dapat dimaklumi, dimengerti, bahkan diterima. Seperti kucing yang berbicara dan segerombolan ikan jatuh dari langit.

Baca ulasan lengkapnya di sini.




A Tale for the Time Being – Ruth Ozeki

Saya tidak punya ekspektasi besar saat mulai membaca buku ini. Dan itulah hal terbaiknya. Paragraf pembukanya langsung membuat saya tertarik. Ruth Ozeki berkisah tentang dua tokoh utama yang hidup di dua generasi berbeda jauh. Satunya hidup di era modern, satunya lagi hidup di masa lampau. Mereka dihubungkan oleh sebuah buku diary. Bullying, perbandingan budaya tua dan modernitas, adalah beberapa hal yang dibahas. Ozeki mempertemukan kultur Jepang modern dengan budisme zen, dan menuliskannya dalam bahasa yang enak. Kau akan menemukan banyak jargon-jargon Jepang di sini.

Baca ulasan lengkapnya di sini.




Inferno – Dan Brown

Tidak pernah lagi saya menikmati sebuah buku tanpa menganalisisnya, betul-betul tenggelam dalam pembacaan, semenjak menamatkan serial Harry Potter, sepuluh tahun yang lalu. Sampai saya bertemu dengan buku ini. Dan Brown tahu betul bagaimana mengarang sebuah novel yang page turner. A totally page turner, I should say on this one. Saya tidak bisa meneliti elemen-elemen fiksi dan teknik menulis pengarangnya, karena saya terisap habis ke dalam cerita. Jika saya sedang rindu membaca novel yang membuat saya lupa makan dan tak ingin melepaskan novel itu dari tangan saya, maka saya tahu harus membaca novel karangan siapa.

Baca ulasan lengkapnya di sini.




1984 – George Orwell

Orwell meramalkan, dan ramalan itu luar biasa karena ditulis tak kurang dari setengah abad yang lalu namun masih relevan hingga saat ini. Kehidupan manusia di bawah kontrol pemerintah yang eksklusif, tertutup, dan tak tergoncangkan. Sebuah tirani di atas keinginan dan kebebasan. Buku dystopian terbaik yang pernah saya baca, dan akan selalu saya anjurkan bagi siapapun yang ingin membaca buku bagus.

Baca ulasan lengkapnya di sini.




Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas – Eka Kurniawan

Setelah era pengarang perempuan Indonesia yang mengemukakan isu seksualitas beberapa masa lampau, tidak ada lagi pengarang Indonesia yang dapat menggunakan kevulgaran dan seks dengan baik dan tepat. Sebagian besar, saya kira, hanya memasukkan unsur seks demi seks itu sendiri, atau lebih buruk: untuk sensasi. Eka Kurniawan tidak demikian. Di buku terbarunya yang terbilang tipis ini ia dengan sadar menggunakan bahasa vulgar dan memasukkan unsur seksualitas untuk membongkar sesuatu. Mungkin selubung kemunafikan manusia atau kesopanan yang meracuni. Meskipun Eka masih tampak sopan, karena ia menggunakan burung untuk menyebut kelamin, alih-alih istilah lain yang lebih gamblang.

Baca ulasan lengkapnya di sini.





Animal Farm – George Orwell

Saya tidak tahu bahwa fabel bisa dipakai untuk menyampaikan ideologi politik. Barangkali hanya Orwell yang bisa melakukannya dengan menyenangkan. Animal Farm bisa dibaca sebagai fabel, bisa pula dibaca sebagai manifesto sikap kritis terhadap sebuah pemerintahan. Di buku ini segerombolan binatang beragam jenis hidup di bawah otoritas seekor, atau dua ekor, babi. Analogi yang cerdas dan tepat untuk menggambarkan hubungan rakyat dengan negaranya, atau sebaliknya. Seringkali saya kagum bagaimana saya dapat lebih memahami tingkah laku dan sifat-sifat alamiah manusia dari menonton film atau membaca buku tentang binatang.

Baca ulasan lengkapnya di sini.




Sputnik Sweetheart – Haruki Murakami

Kisah cinta yang sederhana sekaligus tidak sederhana. Saya sudah terpikat sejak paragraf awal. Bagaimana seorang gadis mencintai seorang perempuan yang lebih tua. Dengan caranya sendiri, Murakami berhasil membuat saya merasa tidak sedang membaca sekadar cerita tentang dua orang lesbian, melainkan lebih dari itu. Absurditas di buku ini berada pada takaran yang pas, sehingga saya tidak terlalu repot bertanya-tanya, namun tidak juga kelewat merasa kering karena tidak ada hal-hal yang asyik untuk dibayangkan. Saya rasa siapapun yang ingin mengenal karya-karya Murakami, bisa memulainya dengan buku ini.

Baca ulasan lengkapnya di sini.





1Q84 – Haruki Murakami

Saya tak melihat buku ini sebagai apapun selain proyek ambisius Murakami. Saya bahkan takjub saat menyadari bahwa saya membacanya hingga kelar. Meski demikian, saya sangat menyukai beberapa adegan di dalamnya, dan sebagian besar adegan itu terkait dengan, lagi-lagi, hal-hal di luar nalar dan tak terjelaskan. Jika ada yang sudah membaca 1984 Orwell, saya katakan bahwa buku ini bukan epigon. Murakami memberi respons kebalikan dari 1984. Jika di 1984 ada Big Brother, maka di 1Q84 Murakami punya Little People. Jika di 1984 Orwell memberikan pemerintah totaliter dan otoriter, lewat 1Q84 Murakami menyodorkan sedikit komunisme. Sebagai informasi, buku ini tebalnya 1.400 halaman lebih.


Baca ulasan lengkapnya di sini.

Yang Dibaca di 2014




Tahun, ini saya membaca lebih banyak sekaligus lebih sedikit. Secara jumlah buku yang dibaca, tahun ini lebih sedikit dibanding sebelumnya. Namun, secara ilmu, informasi, saya merasa mendapat lebih banyak.

Menurut statistik Goodreads, tahun lalu saya membaca 125 buku, 23.370 halaman. Tahun ini, hanya 75 buku, atau 17.327 halaman. Sebanyak 50 buku dari 75 yang saya baca tahun ini adalah buku-buku pengarang Indonesia, 25 buku karangan penulis luar negeri. Sebagian besar buku yang saya baca masih fiksi. Novel, kumpulan cerita, dan puisi. Paruh tahun kedua sebetulnya saya berniat untuk belajar membaca nonfiksi, karena tiba-tiba saja merasa sedikit jenuh dengan fiksi. Meski sudah membeli beberapa, sayangnya saya belum berhasil menyelesaikan satu buku nonfiksi pun.

Seperti yang sebelumnya, catatan ini juga saya buat untuk menjawab beberapa pertanyaan teman-teman tentang buku-buku yang saya baca, atau mereka yang meminta rekomendasi bacaan. Saya tidak yakin daftar baca saya menarik buatmu, tapi setidaknya kamu bisa mencoba beberapa buku di daftar ini sebagai alternatif, jika memang sedang mencari bacaan baru.

Saya membeli buku-buku dalam daftar baca di bawah ini di beberapa toko buku lokal dan impor: Gramedia, Periplus, Aksara, Kinokuniya. Tahun ini saya lebih banyak membeli buku di Kinokuniya. Yang paling sering saya sambangi Kinokuniya Plaza Senayan dan Kinokuniya Pondok Indah Mall. Keduanya di Jakarta.

Ini buku-buku yang saya baca di 2014. Semoga di antaranya bisa menjadi favoritmu.


Bara



Diurut dari yang paling terakhir dibaca:




Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh – Dewi Lestari
The Strange Library – Haruki Murakami
Kedai Bianglala – Anggun Prameswari
Aksara Amananunna – Rio Johan
The Book Thief – Markus Zusak (favorite!)
To Rise Again at a Decent Hour – Joshua Ferris
The Art of War – Sun Tzu
The Brief Wondrous Life of Oscar Wao – Junot Diaz (favorite!)
The Little Prince – Antoine de Saint-Exupéry
Kafka on the Shore – Haruki Murakami (favorite!)
Gadis Pantai – Pramoedya Ananta Toer
Lelaki Harimau – Eka Kurniawan
Dari Kirara untuk Seekor Gagak – Erni Aladjai
Babakan – Beni Setia
Bulu Matamu Padang Ilalang – Joko Pinurbo
Surat Kopi – Joko Pinurbo
Balada Para Nabi – Asep Sambodja
Kusampirkan Cinta di Jemuran – Asep Sambodja
Mata Badik Mata Puisi – D. Zawawi Imron
Ayahmu Bulan, Engkau Matahari – Lily Yulianti Farid
A Tale for the Time Being – Ruth Ozeki (favorite!)
Pagi dan Hal-Hal yang Dipungut Kembali – Goenawan Mohamad
Don Quixote – Goenawan Mohamad
Kumpulan Sajak 1980-2005 – Sitor Situmorang





Kumpulan Sajak 1948-1979 – Sitor Situmorang
Roman Semesta – Fitrawan Umar
Selected Poems – Czesław Miłosz
Rusa Berbulu Merah – Ahda Imran
Api Bawah Tanah – Raudal Tanjung Banua
Bunga di atas Batu – Aesna
Inferno – Dan Brown (favorite!)
The Curious Incident of the Dog in the Night Time – Mark Haddon
Kite Runner (Graphic Novel) – Khaled Hosseini
The Da Vinci Code – Dan Brown
Frankenstein – Mary Shelley
Such, Such Were the Joys – George Orwell
Love & Misadventure – Lang Leav
Hap! – Andi Gunawan
1984 – George Orwell (favorite!)
Interlude – Windry Ramadhina
Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas – Eka Kurniawan (favorite!)
Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu – Norman Erikson Pasaribu
The Hen Who Dreamed She Could Fly – Sun-mi Hwang
Animal Farm – George Orwell (favorite!)
Sputnik Sweetheart – Haruki Murakami (favorite!)
Selamat Datang, Cinta – Odet Rahmawati
After Rain – Anggun Prameswari
Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin – Tere-Liye




Corat-Coret di Toilet – Eka Kurniawan
Istri Konsul – Nh. Dini
Galila – Jessica Huwae
Rumah Kopi Singa Tertawa – Yusi Avianto Pareanom
Mata yang Enak Dipandang – Ahmad Tohari
Pinball, 1973 – Haruki Murakami
Sajak Sepatu Tua – W. S. Rendra
Penembak Misterius – Seno Gumira Ajidarma
Munajat Buaya Darat – Mashuri
Pindah – Lika Wangke, dkk.
Perempuan Lolipop – Bamby Cahyadi
Nyanyian Akar Rumput – Wiji Thukul
Lalu Aku – Radhar Panca Dahana
Tiga Menguak Takdir – Chairil Anwar, dkk.
Kopi, Kretek, Cinta – Agus R. Sarjono
Kaidah Terbang Lebah – Hasan Aspahani
Ai – Winna Efendi
Heaven on Earth – Kaka Hy
The Truth About Forever – Orizuka
Tears In Heaven – Angelia Caroline
Fortunately, The Milk – Neil Gaiman
Mahna Hauri – Hasan Aspahani
Jakarta 24 Jam – Faizal Reza, dkk.
Saia – Djenar Maesa Ayu




Gandari – Goenawan Mohamad
The Wedding – Nicholas Sparks

1Q84 – Haruki Murakami (favorite!)

30 Desember 2014

Yang Paling Relatif adalah Waktu



Catatan Akhir Tahun 2014



Tak ada yang lebih relatif di dunia ini selain waktu. Atau Waktu. Saya suka membayangkan kata Waktu dengan huruf besar. Bukan karena apa-apa, melainkan karena saya merasa Waktu adalah zat paling ajaib yang pernah diciptakan. Ia tidak bisa dihitung, dipotong, dilihat, dimusnahkan. Mungkin bisa dijebak dengan tulisan, kamera, atau rekaman video, namun tetap saja Waktu adalah Waktu yang tidak bisa dipegang, dirasakan, ataupun diukur.

Berapa lama waktu yang telah saya lalui sejak awal tahun 2014 hingga akhir tahun 2014? Jika menggunakan perhitungan manusia, tentu saja jawabannya adalah: satu tahun. Tapi kenapa saya merasa 1 Januari 2014 seperti baru kemarin? Saya merasa saya tidak sedang atau telah melewati satu tahun, melainkan hanya satu hari. Saya merasa waktu telah berlari. Teramat kencang. Perasaan baru kemarin saya mengucapkan Selamat tahun baru! kepada diri sendiri, eh tahu-tahu sekarang sudah bersiap-siap mengucapkan kalimat yang sama lagi. Waktu berlari, melesat, sampai-sampai saya lupa, apa saja yang telah saya alami sepanjang tahun ini.

Saya ingin mengingat:


Januari 2014.



Di bulan pertama 2014, saya telah mengambil keputusan besar. Dua keputusan besar sekaligus. Menjadi karyawan dan pindah ke Jakarta. Orang-orang yang mengenal saya tahu bahwa saya bukan tipe yang senang jadi karyawan, bekerja di bawah perintah orang lain, masuk ke dalam struktur, diikat oleh kontrak dan aturan-aturan, juga punya jam kantor. Memang ayah dan ibu saya sempat menginginkan saya untuk jadi polisi dan pegawai negeri, tapi toh itu tidak terjadi dan pada saat yang sama saya menyadari bahwa saya lebih senang hidup bebas, punya pemasukan tanpa harus bekerja secara rutin pukul sembilan hingga lima sore. Namun, akhirnya saya memutuskan untuk keluar dari zona nyaman saya, didorong rasa penasaran, ketertarikan terhadap pekerjaan yang ditawarkan, dan dukungan dari orang terdekat.

Saya memutuskan untuk menjadi karyawan. Menjadi editor di sebuah perusahaan penerbitan. Di Jakarta. Kota yang paling saya hindari. Kota terakhir yang akan saya pilih sebagai tempat tinggal jika saya tidak bisa bermukim di luar negeri. Seorang penulis, teman mengobrol, juga editor berinisial W yang menawari saya kesempatan baik itu. Dia menghubungi saya setelah mungkin dulu sempat mendengar celetukan saya bahwa saya ingin jadi editor. Saya menerima ajakan W karena dijanjikan untuk bekerja di Jogja, tempat saya tinggal sekarang. Jadi, cukup merasa aman karena tidak perlu tinggal seterusnya di Jakarta. Tapi toh tetap saja, saya musti magang selama kurang-lebih tiga bulan di kantor pusat di Jakarta, dan itu artinya saya harus tinggal di kota yang kata Dewi Lestari ‘penuh dualisme’ itu.


Februari 2014.

Bulan kedua saya memperoleh pengalaman pertama jalan-jalan ke luar negeri. Jangan tertawai saya, ya, karena saya akan terlihat norak di bagian ini. Tidak jauh-jauh perjalanan itu sebetulnya, cuma ke Singapura. Tapi saya tetap merasa girang karena saya belum pernah naik penerbangan internasional sebelumnya. He, he, he. Kami berempat waktu itu. Saya dan tiga orang yang memang pejalan. Saya sendiri bukan. Kami mendapat sponsor dari sebuah agency yang bekerjasama dengan badan pariwisata Singapura. Kami diongkosi untuk jalan-jalan ke tempat-tempat hiburan di sana. Tugas kami hanya mengunggah tweet, agar teman-teman di dunia maya mengetahui tentang tempat-tempat itu. Kapan pariwisata Indonesia bikin seperti yang beginian, ya?


Maret 2014.

Saya memasuki proses final penggarapan buku keenam, sebuah novel berjudul Surat untuk Ruth, yang manuskripnya sudah saya selesaikan Juni 2013. Novel yang mengambil latar Bali, Malang, dan Surabaya ini adalah novel paling tipis yang pernah saya tulis. Bercerita tentang cinta dan kehilangan, tema yang memang kerap saya garap, karena kemampuannya untuk menyentuh banyak orang. Di bulan Maret kami menyelesaikan semua yang harus diselesaikan: penyuntingan akhir, desain sampul, tata letak, dan rencana terbit. Pada bulan ini juga, saya selesai magang di Jakarta dan memulai profesi baru sebagai editor yang bekerja di Jogja.


April 2014.




Buku keenam saya terbit. Surat untuk Ruth. Kami meluncurkannya di Jakarta pada sebuah acara bazar dan festival buku. Yang datang cukup ramai. Saya senang sekaligus cemas pada saat itu, karena untuk pertama kalinya saya menulis dan menerbitkan novel yang memiliki nuansa berbeda dengan novel-novel roman populer saya sebelumnya, Cinta dengan Titik dan Kata Hati. Novel Surat untuk Ruth memiliki ambience yang lebih gloomy, pelan, dan isu yang juga meningkat usianya, yakni menjelang pernikahan. Saya sempat tidak yakin saat itu apakah buku tersebut bakal diterima dengan baik. Namun, alhamdulillah, ternyata Surat untuk Ruth tetap mendapat sambutan hangat oleh teman-teman pembaca.


Mei 2014.


Tur Surat untuk Ruth. Saya dan tim penerbit mendatangi beberapa kota di Indonesia. Di antaranya Jakarta, Depok, Bekasi, dan Surabaya. Saya menemui pembaca di kota-kota itu untuk memperkenalkan Surat untuk Ruth. Bertemu langsung dengan pembaca adalah pengalaman yang selalu menyenangkan, dan tidak pernah gagal membuat saya tersenyum dan bersyukur. Memang, saya lebih sering menulis untuk kepuasan diri sendiri, namun antusiasme dan komentar pembaca lah yang acapkali memberi energi tersendiri bagi saya, yang membuat saya terus menulis dengan semangat ingin berkembang lebih baik lagi.


Juni 2014.

Saya menyelesaikan naskah novel baru, sebuah roman berlatarkan kota kelahiran saya, Pontianak. Manuskrip tersebut berjudul nama tokoh-tokoh utamanya, Sarif & Nur. Manuskrip novel itu saya tulis setelah mendapat ajakan dari editor saya untuk bergabung dalam sebuah proyek novel konseptual bersama lima penulis lain. Tema proyek novel itu adalah ‘siklus hubungan cinta’, mulai dari pertemuan dengan orang asing, keragu-raguan akan cinta, berpacaran, putus, move on, hingga mendapatkan pasangan menikah. Saya kebagian di tahap berpacaran. Sarif & Nur berkisah tentang pemuda dan gadis Pontianak yang memiliki impiannya masing-masing, saling jatuh cinta karena alasan masing-masing, dan tergoncang pula hubungan mereka oleh alasan masing-masing. Saya menyisipkan satu-dua isu politik dan lingkungan dalam manuskrip ini, tentu saja dengan porsi yang terbilang kecil, karena saya tidak sedang bertendensi ingin menulis novel politik atau lingkungan. Manuskrip Sarif & Nur hingga saat ini masih dipelajari oleh editor. Rencananya akan diterbitkan pada bulan-bulan awal tahun depan, 2015.


Juli 2014.

Setiap tahun, bulan Juli adalah bulan istirahat. Saya mengingat hari lahir pada bulan ini. Sekaligus mengingat apa saja yang sudah saya lakukan sepanjang hidup saya. Melakukan refleksi dan evaluasi. Saya mengingat-ingat lagi, apa yang saya inginkan? Apa yang hendak saya capai? Apa yang sudah saya lakukan untuk hal itu? Apa yang saya tuju? Apa yang tidak pernah saya sentuh, kurang banyak saya lakukan, atau yang terlewat oleh penghilatan saya? Juli adalah waktu untuk memutar balik, melihat ke belakang, demi memberi perhatian lebih pada masa kini, dan merancang rencana yang lebih baik untuk diri sendiri di masa depan. Saya mendapat hadiah dari seorang yang spesial di hari ulang tahun saya. Kian spesial karena saya juga mendapat presiden baru. Dua peristiwa besar sekaligus terjadi di bulan ini: Piala Dunia dan Pemilihan Presiden. Sayangnya, tim sepakbola jagoan saya tidak menang, dan saya tidak ikut mencoblos presiden.


Agustus 2014.

Saya lebih banyak belanja buku di bulan ini. Ingin sekali saya bilang ‘Saya lebih banyak membaca’, namun kenyataannya tidak demikian. Kegilaan saya membeli buku mulai kumat lagi, untungnya tidak separah dahulu. Jauh lebih terkontrol. Tapi tetap saja, saya membeli lebih banyak dari yang bisa saya baca. Tumpukan buku di rak buku dan lemari pakaian semakin tinggi, sementara kemampuan dan fokus membaca saya tidak juga membaik. Yah, tidak apa-apa, saya toh tidak mendeklarasikan diri sebagai pembaca, melainkan penumpuk buku, book hoarder. He, he, he.


September 2014.





Bersentuhan lagi dengan puisi, meski tidak sangat intens. Hanya percikan gairah yang muncul kembali setelah sekian lama mati suri. Saya sedang dan masih tertarik untuk membaca dan menulis cerita pendek atau novel, ketimbang puisi. Persentuhan dengan puisi itu terjadi setelah pada suatu hari saya dihubungi oleh seorang penyair asal Jogja yang saya kagumi berinisial GM. Ia mengajak saya untuk berpartisipasi di sebuah festival pembacaan puisi. Saya diminta untuk mengirim beberapa puisi, dan jika dianggap layak, maka saya akan diundang untuk membaca puisi di acara tersebut. Saya membaca puisi di acara tersebut bersama kalau tidak salah sepuluh penyair muda lain (atau lebih, saya agak-agak lupa). Puisi-puisi terbaru yang saya bacakan itu diterbitkan dalam sebuah kumpulan puisi bersama dengan judul Puisi-Puisi di Jantung Tamansari. Buku puisi tersebut dicetak sangat terbatas dan hanya disebar di acara festival itu.


Oktober 2014.

Saya mulai menulis naskah novel baru. Judul sementaranya: Eros. Hingga saat ini, saya baru menyelesaikan bab pertama. Tampaknya perjalanan manuskrip ini akan perlahan. Saya tidak ingin tergesa-gesa. Namun, saya tetap memasang target. Terlebih karena editor saya sudah bertanya apa yang ingin saya kerjakan tahun depan. Saya menceritakan sedikit tentang Eros. Dari sana saya mendapat dorongan untuk memasang target. Saya ingin manuskrip Eros kelar tahun depan. Terbitnya? Saya belum tahu. Dari gelagatnya, editor saya ingin Eros terbit tahun depan bersama Sarif & Nur. Saya sendiri masih belum pasti dan yakin dengan rencana itu. Semoga saja kapanpun manuskrip-manuskrip tersebut terbit, mereka terbit dengan kondisi terbaik.

Di bulan ini pula, saya menjual hak adaptasi novel Surat untuk Ruth ke sebuah production house. Screenplay Production, nama production house itu. Seorang penulis skenario berinisial VH yang juga menjadi perwakilan Screenplay Production, menghubungi saya dan menyampaikan minatnya untuk mengadaptasi Surat untuk Ruth ke layar lebar. Kami bertemu di Jogja dan berbincang-bincang tentang konsep kreatif yang kami inginkan untuk film Surat untuk Ruth. Saya menemukan kesamaan visi dengan VH, dan itulah yang akhirnya membuat saya setuju menjual hak adaptasi Surat untuk Ruth. Saat ini, prosesnya masih berlangsung di VH dan Screenplay Productions. Mungkin sinopsis sedang ditulis atau novel masih dibaca ulang dan dipelajari, saya tidak tahu dan belum bertanya. Kapan tayangnya? Pula, saya belum tahu dan tidak bisa memastikan. Mungkin tahun 2015, bisa jadi juga tahun 2016. Semoga saja proses lebih lanjut segera berjalan dan kelak filmnya akan tayang dengan mutu yang baik.


November 2014.

Saya mengirim manuskrip baru ke penerbit, sebuah kumpulan cerita berjudul Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri. Manuskrip ini saya buat dengan mengumpulkan cerita-cerita pendek yang saya tulis dalam rentang tahun 2013-2014, cerita-cerita yang belum pernah terpublikasikan dalam wujud buku. Beberapa di antaranya sudah sempat muncul di media massa dan blog pribadi saya. Sebagian yang lain cerita-cerita baru dan belum pernah muncul di mana pun. Secara mengejutkan, respons penerbit sangat gesit untuk manuskrip ini. Saya sendiri cukup kaget, mengingat agak sulit menembusi penerbit menggunakan naskah kumpulan cerita. Saya tidak tahu pertimbangan penerbit apa, tapi bukankah ini hal yang menggembirakan dan patut saya syukuri? Saya senang akan memiliki kumpulan cerita lagi setelah Milana yang terbit tahun 2013. Kebetulan, pada bulan ini saya juga sedang asyik membaca cerita-cerita pendek dari pengarang-pengarang muda dalam negeri dan pengarang-pengarang kontemporer luar negeri.

Sedikit bocoran yang mungkin tidak perlu-perlu amat diketahui: Buku Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri diminta oleh seorang panitia seleksi karya sastra terbaik versi majalah Tempo untuk dinilai. Saya sudah meminta penerbit mengirim buku itu dan panitia sudah menerima. Tentu saja pergulatan buku itu akan sangat keras, karena saingannya adalah buku-buku lain yang saya yakin, punya kualitas lebih oke dari milik saya. Bukan bersikap inferior atau apa, tapi saya sadar akan mutu tulisan saya yang masih perlu banyak dipoles dan dikembangkan. Namun, saya tetap bersyukur, buku ini diingat, dilihat, dan sempat dibaca oleh tim panitia tersebut, yang saya pikir bukan terdiri dari orang-orang sembarangan.


Desember 2014.






Buku ketujuh saya terbit. Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri. Satu hal paling menggembirakan atas terbitnya buku ini adalah, tidak ada perubahan judul dari penerbit. Usul saya untuk menggunakan judul yang panjang itu ternyata disetujui. Saya juga terlibat langsung menggarap desain sampulnya, bersama tim desainer penerbit. Juga ilustrasi isinya, yang saya pesan kepada seorang teman asal Bali. Saya banyak bersyukur atas terbitnya buku ini. Karena sejauh ini, Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri adalah buku yang paling mendekati keinginan saya. Saya ingin menulis buku kumpulan cerita seperti ini, dan saya sangat gembira buku ini dapat terbit.



Begitulah, hal-hal yang dapat saya ingat yang terjadi sepanjang tahun ini. Di akhir tahun lalu, penghujung 2013, saya telah memutuskan untuk tidak membuat resolusi apa-apa. Berhenti berencana, mulai melakukan, kata saya di akhir catatan penghujung tahun itu. Dan, saya melakukannya. Tahun ini, saya tidak banyak berencana, dan lebih banyak melakukan apa saja yang ingin saya lakukan. Saya ingin membeli buku, maka saya membeli buku. Saya ingin membaca, maka saya membaca. Saya ingin menulis ini-itu, maka saya menulis ini-itu. Setelah dikumpul-kumpulkan sekarang, ternyata tidak membuat rencana apa-apa membantu saya untuk berbuat lebih banyak. Saya tidak terbebani dan cemas karena to-do list yang panjang dan belum juga mendapat ceklis. Saya lebih bebas, dan karenanya saya melakukan lebih banyak.

Maaf jika judul catatan ini tidak memberi pengaruh dan keterkaitan besar terhadap isinya. Saya hanya ingin membuat pembuka yang menarik, tapi tentu saja tidak ada yang bisa saya lakukan jika usaha saya itu gagal. He, he, he. Yang jelas, selama dua belas bulan terakhir, saya betul-betul merasa bahwa, sekali lagi, Waktu adalah relatif. Jika saya memikirkannya, ia terasa lama. Jika saya tidak memikirkannya, ia menjadi sebentar. Bagaimana cara kerja Waktu sebetulnya? Kenapa bagi seseorang ia menjadi sempit sehingga orang itu tak dapat berbuat banyak, sementara bagi seseorang yang lain ia begitu luas dan membuat orang itu mencapai banyak hal?

Ah, Waktu adalah Waktu, mau bagaimanapun saya memikirkannya. Saya lebih memilih untuk mengisi Waktu, dengan melakukan apa saja yang ingin saya lakukan.

Tapi, kenapa saya mengisi Waktu? Bukankah ia tidak kosong?

Ataukah, iya?



Bara