14 Januari 2015

Mereka yang Telah Jatuh Cinta



Sudah sebulan sejak buku terbaru saya terbit: Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri. Kumpulan berisi lima belas cerita pendek tersebut, sejauh ini, ternyata mendapat sambutan yang bisa saya bilang cukup baik.

Terus terang saja, pada awalnya saya merasa khawatir. Dapat dikatakan sebagian besar pembaca saya adalah mereka yang menyenangi kisah cinta. Terutama, kisah cinta yang berakhir manis, seperti yang saya tulis di beberapa novel remaja saya sebelumnya (Kata Hati, Cinta dengan Titik). Maka dari itu, ketika saya memutuskan untuk menulis cerita-cerita pendek yang bernuansa gelap, ada sedikit kekhawatiran, cerita-cerita tersebut kurang disambut baik. Meski kebanyakan cerita yang saya tulis itu masih bertema cinta, namun saya sadar bahwa Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri memiliki cukup banyak perbedaan dari buku-buku saya, terutama novel-novel remaja saya.

Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri, jika saya telisik, mungkin memiliki kesamaan nuansa dengan kumpulan cerita saya sebelumnya, Milana. Cara menulis, ambience, tema, gaya bahasa, keduanya memiliki kemiripan. Meski, pastinya, di buku terbaru saya ada beberapa perkembangan di sana-sini (setidaknya menurut ukuran saya sendiri).

Setiap hari saya dirundung harapan sekaligus kecemasan melihat bagaimana buku ketujuh saya ini direspons. Saya membuka-tutup-buka-tutup halaman buku itu di Goodreads, ingin tahu apa yang dikatakan para pembaca. Seperti biasa, ada komentar yang menyampaikan kepuasan, ada juga yang mengutarakan ketidakpuasan. Ini hal biasa, seharusnya. Namun, entah mengapa kali ini komentar sekecil apapun memberi dampak hebat bagi saya.

Bagaimanapun, karya saya telah dilepas dan kini giliran pembaca yang mengambil peran dalam perjalanan karya tersebut. Di bawah ini adalah foto-foto yang saya kumpulkan hasil kiriman pembaca di Twitter. Saya senang mengumpulkan dan menyimpan foto-foto tersebut, sekadar untuk mengingatkan saya kembali bahwa masih ada yang membaca karya saya, juga memberikan saya semangat untuk terus menulis lagi.

Bagi teman-teman yang belum mendapatkan bukunya dan ingin membeli Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri, buku tersebut sudah tersedia di hampir seluruh kota besar di Indonesia, seperti: Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Bandung, Tasikmalaya, Jogja, Magelang, Solo, Purwokerto, Jember, Semarang, Surabaya, Malang, Aceh, Medan, Pekanbaru, Jambi, Palembang, Lampung, Pontianak, Balikpapan, dan Lombok. Pulau Sulawesi belum tersentuh.

Jika kamu menemukan buku saya di toko buku di tempat kamu tinggal, jangan ragu untuk mengabari saya ya. Saya bisa diraih via Twitter (@benzbara_), Facebook (Bernard Batubara), maupun Instagram (@benzbara_).

Terima kasih untuk dukungannya, para pembaca dan teman-teman sekalian.



Bara



5 komentar:

Anonim mengatakan...

tahukah kamu kemana tuan hah pergi?

Aziz Amin mengatakan...

Emang keren bang bukunya, aku udah baca. Tapi banyak kata-kata yang ambigunya. Tapi aku seneng :D

Andrean Perdana mengatakan...

.
Keren bro..
.

Obat Herbal Varises mengatakan...

mantaapp
nice blog
Obat Herbal Varises

Cynthia Novelia mengatakan...

Halo, Kak. Salam kenal. Saya Cynthia.

Selamat untuk 'lahirnya' kedunia buku ketujuh kakak. Membuat jatuh cinta memang bukanlah hal yang mudah, namun jika sudah jatuh cinta pada sesuatu hal, termasuk sebuah seni, kita pasti akan selalu berusaha dan tidak akan pernah berhnti untuk menciptakan karya - karya yang baru lagi.

Yang saya suka dari postingan blog ini adalah walaupun Kak Bara mengatakan bahwa Kak Bara cemas terhadap hasil karya kakak, tetapi kakak tetap berkarya dan berusaha untuk membuat kami jatuh cinta pada karya sastra menulis.

Karena, yang paling penting itu adalah kita berkarya.

Terima kasih, Kak :)