30 Mei 2015

The Sense of an Ending, Julian Barnes





Selain tradisi minum teh dan bangunan-bangunan berarsitektur klasik a la kastil mirip sekolah sihir Hogwarts di novel berseri Harry Potter karangan J. K. Rowling (imajinasi saya akan Inggris terbentuk saat membaca Harry Potter, yah mau tak mau), barangkali yang juga khas dari Inggris (dan dengan demikian orang-orang Inggris) adalah sarkasmenya. Meskipun belum pernah bertemu dan berbincang langsung dengan orang Inggris asli, agaknya saya bisa mengamini dugaan tersebut dari melihat karakter-karakter orang Inggris di beberapa film yang pernah saya tonton dan, tentu saja, di novel-novel yang ditulis oleh orang Inggris.

Saya mencomot novela Julian Barnes, The Sense of an Ending, dari rak buku karena ukurannya yang kecil dan tipis. Setelah membaca novel tebal Haruki Murakami Hard-Boiled Wonderland and the End of the World, seperti biasa, stamina saya terkuras. Maka, seperti biasa pula, buku-buku berikutnya yang saya baca dapat dipastikan adalah novela, atau kumpulan cerita pendek. Pola seperti ini sudah berlangsung cukup lama. Novel tebal, novela atau kumpulan cerita pendek, novel tebal lagi, novela atau kumpulan cerita pendek lagi, begitu terus. Ini saya lakukan sebagai trik untuk mengatur napsu membaca saya agar tidak cepat butek oleh masifnya jumlah teks yang masuk ke kepala.

Sebetulnya, saya belum banyak membaca penulis Inggris (bukan berarti saya sudah banyak membaca penulis selain Inggris juga, sih). Dari catatan saya, saya baru membaca Julian Barnes, George Orwell, Neil Gaiman, dan tentu saja penulis kesukaan saya semasa kecil, Joanne Kathleen Rowling, beserta alter-egonya, Robert Galbraith. Meski demikian, dari yang sedikit itu, setidaknya saya boleh menarik kesimpulan sementara, yakni bahwa orang Inggris punya kemampuan luar biasa dalam melempar sarkasme.

Lihat saja bagaimana dialog-dialog penuh sarkasme bertebaran dalam percakapan-percakapan antar guru Hogwarts School of Witchcraft and Wizardry di ketujuh seri novel Harry Potter. Severus Snape adalah guru yang terkenal dengan sindiran-sindiran pedasnya terhadap murid-murid. Atau, Ronald Weasley, sahabat kental Harry Potter, juga kerap melontarkan sindiran a la keluarga Weasley. Kalau kita membaca novela semi-fabel Animal Farm milik Eric Arthur Blair alias George Orwell, kita akan tahu bahwa novela itu adalah sarkasme besar atas tingkah laku manusia terutama kaitannya dengan tipu-tipu muslihat dunia politik. Neil Gaiman juga kerap menyisipkan sindiran tajamnya terhadap sikap orang dewasa (dan kedewasaan) lewat cerita semi-fantasi semi-sureal di novela The Ocean at the End of the Lane.

Sarkasme yang sama saya temukan di sepanjang cerita The Sense of an Ending, novela Julian Barnes yang mendapat penghargaan kesusastraan Man Booker Prize tahun 2011. Sarkasme itu muncul lewat dialog karakter-karakternya, tapi terutama lewat narasi si tokoh utama. Namun, yang membedakan sarkasme Julian Barnes dengan sarkasme J. K. Rowling, George Orwell, dan Neil Gaiman, adalah bagaimana sarkasme yang muncul di novela Barnes ternyata belakangan mempengaruhi kehidupan tokoh utamanya, sekaligus menjadi titik belok plot utama cerita, dan juga merupakan inti keseluruhan novel tersebut. Sarkasme dalam tulisan Barnes tidak hanya ditujukan kepada publik di luar teks, tetapi juga berdampak pada karakter di dalam teks itu sendiri.

Adalah seorang lelaki berusia 60-an tahun bernama Tony Webster yang, lewat dirinya, Barnes menyampaikan sarkasmenya. Atau, marilah kita anggap yang melontarkan sarkasme adalah Tony Webster, dan dengan demikian sarkasme yang akan kita bicarakan adalah sarkasme milik Tony Webster. The Sense of an Ending ditulis dalam dua bagian, atau dua bab. Bab pertama merupakan ingatan-ingatan Tony Webster, kilas baliknya ke masa-masa remaja. Pada bagian inilah sarkasme Tony Webster hampir selalu terlontar, dan-setidaknya bagi saya-terasa sangat menghibur.

Bersama tiga orang sahabatnya, Tony Webster menjalani masa-masa remaja yang meskipun tidak membosankan, tidak juga bisa dibilang luar biasa. Satu-satunya hal ‘tidak biasa’ yang terjadi pada periode kehidupan Tony Webster saat itu adalah kabar bunuh diri seorang murid di kelasnya. Hal ‘tidak biasa’ lain yang terjadi di hidup Tony Webster mengambil wujud seorang manusia, yakni satu dari tiga sahabatnya sendiri, seorang bernama Adrian. Tony Webster juga punya pacar bernama Veronica, yang terhadapnyalah, sarkasme kocak Tony Webster kerap ditujukan (selain tentu saja kepada hal-hal lain).

Pada awalnya, sarkasme Tony Webster tidak mengandung hal-hal yang amat serius. Sindiran-sindiran terselubung dalam kalimat-kalimatnya, baik itu berwujud dialog maupun narasi (The Sense of an Ending ditulis dengan sudut pandang orang pertama), hanya berputar pada hubungan Tony Webster dengan teman-teman sekolah, guru, pacarnya, dan keluarga pacarnya. Namun, sarkasme yang tidak amat serius ini, ternyata berpuluh tahun kemudian memberi dampak besar pada kehidupan Tony Webster sendiri. Sindiran-sindiran yang pada suatu hari memuncak dan tersampaikan lewat sepucuk surat yang ia kirimkan kepada Veronica dan Adrian, berbalik kepadanya sebagai realitas yang menyakitkan. Omong-omong, ia mengirim surat tersebut setelah Veronica putus darinya dan berpacaran dengan Adrian, sahabatnya sendiri.

Sarkasme yang berbalik itulah yang ditulis Julian Barnes di bagian kedua novela. Kehidupan-kini Tony Webster, sebagai duda beranak satu, yang ia harapkan menjadi kehidupan penuh ketenangan, terusik oleh kabar yang mengejutkan: Adrian, sahabat kentalnya (dan juga pacar baru mantan pacarnya dulu, Veronica) tewas bunuh diri. Kabar ini menjungkirbalikkan ketenangan hidup Tony Webster. Bukan hanya lantaran karena sahabatnya bunuh diri, melainkan juga karena seumur hidupnya, Tony Webster melihat dan meyakini bahwa Adrian adalah sosok rasional, cerdas, penuh pertimbangan dan perhitungan, yang dengan segala intelektualnya, sangat tidak mungkin melakukan tindakan ‘irasional’ semacam bunuh diri. Setidaknya, demikian yang diyakini oleh Tony Webster. Sampai ia berkontak kembali dengan mantan pacarnya, Veronica, dan dari sana sebuah misteri perlahan-lahan berkelindan di seputar peristiwa kematian Adrian. Buku harian Adrian, yang Tony Webster yakini sebagai warisan untuknya, menjadi penghubung ia dan Veronica.

Sindiran-sindiran kocak pada bagian pertama The Sense of an Ending yang membuat saya terbahak nyaris di setiap halaman, secara perlahan berubah menjadi satu misteri. Yang tadinya tidak amat serius menjadi mulai serius. Lalu, di bagian akhir novela, misteri dan keseriusan itu ditutup dengan hal yang paling sering berhasil membuat kita menyukai sebuah cerita: kejutan. Ternyata yang keluar dari saya sebagai reaksi saat membaca novel Barnes tidak hanya suara tawa karena menyimak sarkasme kocaknya, tetapi juga ekspresi kening berkerut dan umpatan kaget, masing-masing saat mengikuti misteri dan akhirnya bertemu dengan penutup ceritanya.

Begitulah. Buku yang bagus selalu memuat lebih dari satu hal. Bahkan, seringnya, banyak hal. Hal-hal itu bisa kita temukan dalam sekali baca, bisa juga setelah membacanya ulang. Jelasnya, seperti seorang manusia yang menarik karena memiliki banyak sisi, buku yang menarik juga senantiasa menawarkan banyak nuansa dan emosi. Selalu jamak dan kompleks. Tidak pernah satu, tidak pernah tunggal. Sehingga kita tahu, itulah yang membuat buku menyenangkan untuk dibaca. ***

Tidak ada komentar: