21 Juni 2015

Seekor Burung Kecil Biru di Naha, Linda Christanty





PADA masa ketika hidup sudah sedemikian sulit dan setiap orang bersusah-payah mencari cara untuk menghibur diri sendiri, apa pentingnya menulis tentang konflik, kerusuhan, dan pembantaian manusia?

Tiga belas tulisan tentang konflik, tragedi, dan rekonsiliasi dalam kumpulan feature Linda Christanty, Seekor Burung Kecil Biru di Naha, membantu saya untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Saya membaca “Berdamai dari Bawah”, sambil membayangkan suasana di halaman Rumoh Geudong di desa Billie Aron, Teupin Raya, Aceh, yang seperti disebut di dalam tulisan, terkenal sebagai tempat penyekapan dan penyiksaan di masa Aceh berstatus Daerah Operasi Militer atau DOM. Dialog-dialog dengan Khatijah binti Amin, seorang perempuan Aceh yang ditangkap tentara karena suaminya anggota pasukan Hasan Tiro, pencetus Gerakan Aceh Merdeka (GAM), dengan sendirinya membangun visual yang mencekam di kepala, menampakkan kekejaman dan kepedihan. Juga percakapan-percakapan dengan Nurhaida, Sanusi, Saliza, Zubaidah, Beniati, Marhamah, Dwi-semuanya warga Aceh-tentang peristiwa pembakaran, penembakan, yang terbungkus isu-isu konflik etnis dan agama.

Kisah yang agak komikal tentang kepongahan Panglima Amir, seorang laki-laki Bangka mantan pejabat kolonial Belanda pada tahun 1830, dituturkan lewat tulisan “Panglima Amir dan Ayamnya”. Perseteruan Panglima Amir dengan seorang lanun yang dipicu oleh kekesalan dan rasa iri pada seekor ayam jantan raksasa, kemudian berkembang menjadi adegan penghancuran dan perbudakan orang-orang Bangka oleh Panglima Raman, seorang anak dari saudagar Bugis-Wajo, bersama Punggawa Sengkang, seorang pedagang budak dari Makassar.  “Kakek Saya, Opa Manusama, dan Opa Willem” mengungkap kisah perjuangan orang-orang pascaproklamasi di Pulau Bangka, yakni perlawanan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terhadap tentara Nederlandsch IndiĆ« Civil Administratie (NICA) dan Tentara Tionghoa Indonesia (TTI).

Berjalan ke bagian Timur dari Indonesia, kekerasan hinggap di Maluku, dan diceritakan dalam tulisan “Percik Api di Timur”. Ini feature terpanjang dalam buku Seekor Burung Kecil Biru di Naha. Isinya tentang bagaimana persoalan perselisihan batas-batas wilayah tinggal antara orang-orang Makian dan Kao di Halmahera Utara berkembang menjadi konflik antaragama.

Tidak hanya konflik di dalam negeri, Linda Christanty juga menuturkan konflik serupa yang terjadi di luar negeri.

Seperti kisah seorang perempuan India bernama Irom Sharmila. Dalam “Mendengar Bisikan Sungai Brahmaputra”, Linda, lewat mulut orang-orang yang ia temui di sebuah festival sastra di Guwahati, Assam, India, menceritakan bagaimana Sharmila melawan hukum darurat militer dan melayangkan protes terhadap pembunuhan orang-orang tak bersalah oleh aparat bersenjata di Manipur. Dalam “Karbala”, Linda menuturkan secuplik peristiwa yang barangkali menjadi awal mula perseteruan dua mazhab di agama Islam, Sunni dan Syi’ah.

“Seekor Burung Kecil Biru di Naha” menampilkan sebuah percakapan dengan Akiko, seorang warga Jepang, tentang pendudukan Jepang atas negara-negara Asia, termasuk bagaimana ratusan ribu perempuan Indonesia dijadikan budak seks atau jugun ianfu. Kehancuran Partai Komunis Thailand (PKT) meluncur dari bibir seorang perempuan berusia setengah abad bernama Punne Suangsatapananon, ditulis Linda dalam “Kenangan Punne”, yang dibumbui sedikit kisah cinta, karena pacar Punne adalah anggota PKT yang ditangkap dan dibunuh oleh tentara pemerintah.

Rudolf Hess, petinggi Nazi dan wakil Hitler, tidak luput dari catatan Linda, dan kisah di penjara Spandau dan pembantaian yang ia lakukan direkam dalam tulisan “Tentang Dua Tragedi: Masa Nazi di Jerman dan 1965”-tulisan ini juga mengungkap bagaimana Suharto, setelah kejahatan kemanusiaan yang ia lakukan semasa hidup, mati tanpa pernah diadili, bahkan dikenang sebagai ‘Bapak Pembangunan Nasional’. Sebagai penutup, “Continental Club” ditulis untuk menggambarkan sejarah dan konflik di kota-kota selatan di Amerika Serikat, termasuk di dalamnya terdapat peristiwa pembunuhan John F. Kennedy, juga tentang Benteng Alamo di Texas, sebuah bangunan yang dibangun pada 1718 untuk melindungi para misionaris dari serangan orang-orang Indian.

Nuansa agak berbeda dari tulisan-tulisan Linda mengenai konflik antaretnis, antaragama, maupun antarbangsa (yang di dalamnya terdapat peran militer, wacana politik, dan kawan-kawannya) terdapat pada tulisan berjudul “Rumah Bagi Mereka yang Tua”. Kali ini, yang lebih terasa adalah suasana sentimentil yang amat personal. Meski ceritanya bersifat pribadi, tapi siapapun anak rantau yang membacanya, saya yakin akan merasakan melankoli serupa: rindu pada kampung halaman, rindu kembali kepada orangtua. Begitu pula pada “Nama Saya Wanda”, tidak terdapat adegan-adegan pembantaian atau konflik antaragama maupun antaretnis di dalamnya, melainkan konflik di dalam diri seorang transgender dan keluarga tempat ia lahir, yang tidak kalah rumit dan pelik dari konflik perang antarbangsa maupun dunia.

Tulisan-tulisan Linda Christanty amat jernih, teratur, dan mudah dibaca. Sesekali ia membuka narasinya dengan deskripsi, yang membuat kita membayangkan sebuah tempat, di mana tempat tersebut ternyata memiliki sejarah kekerasan. Di waktu lain, Linda mengantarkan kita ke dalam premis-premisnya menggunakan pernyataan-pernyataan, yang meski dituturkan tanpa berapi-api, lembut, nyaris terasa datar, tetap membawa ketegasan yang kuat, yang menjelaskan posisinya dalam setiap peristiwa-peristiwa yang ia catat dan kabarkan.

Ibarat api, kekerasan-dalam wujudnya yang samar dan kerap menyaru ke dalam identitas sehingga membuat manusia membunuh sesamanya hanya karena perbedaan suku bangsa, ras, atau agama-tidak pernah puas hanya berkobar di satu tempat. Konflik telah pecah sejak berabad-abad yang lalu, dan dalam rentang masa yang teramat panjang itu, kekerasan telah melompat dari satu bagian dunia ke bagian dunia yang lain, menghantam satu bangsa ke bangsa yang lain. Namun, jika kita ingin menatap dengan mata yang jernih, seringkali akar kekerasan yang sesungguhnya bukanlah perbedaan identitas. Masalah sebenarnya dari setiap konflik bukanlah persoalan etnis, agama, atau bangsa, melainkan seringkali terjadi karena provokasi dan hasutan oknum-oknum yang punya kepentingan pribadi-agenda-agenda politik. Konflik di banyak tempat di Indonesia ditunggangi dan diatur oleh kelompok-kelompok yang memiliki kekuasaan dan kekuatan untuk memecah-belah komunitas-komunitas di masyarakat yang tadinya hidup berdampingan dengan damai sentosa.

Membaca Seekor Burung Kecil Biru di Naha membuat saya menemukan sedikit jawaban tentang mengapa seseorang perlu mencatat, menelisik, mempelajari, dan mengabarkan peristiwa-peristiwa konflik dan kekerasan yang terjadi di mana saja, lebih-lebih di tempat tinggalnya sendiri. Pentingnya terus-menerus mengabarkan konflik lewat tulisan bukanlah untuk mengobarkan amarah terpendam di masa lalu, apalagi menyulut kembali api sentimen negatif antarkelompok yang pernah bertikai, melainkan untuk senantiasa mengingatkan kepada setiap dari kita bahwa kekerasan tidak pernah menyenangkan. Bahwa ada yang menghendaki kita saling membunuh. Bahwa selama kita masih berpikir kekerasan merupakan solusi atas masalah-masalah pelik, maka kedamaian akan selamanya menjadi utopia. ***