Skip to main content

Ilustrasi di Novel Terbaru






Ini adalah salah satu dari beberapa ilustrasi yang akan ada di novel terbaru saya. Dibuat dengan sangat indah oleh ilustrator favorit saya, Ida Bagus Gede​ Wiraga.

Saya sudah bekerjasama dengan Hege (panggilan akrabnya) sejak pengerjaan buku puisi saya edisi revisi, Angsa-Angsa Ketapang. Saya memintanya untuk membuat cover dan ilustrasi isi di buku tersebut. Kerjasama berikutnya saya dengan Hege di Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri. dia membuat beberapa ilustrasi di buku itu, yang salah satu ilustrasinya akhirnya juga dipakai sebagai elemen utama di covernya.

Sekarang, lewat Penerbit Gagasmedia, Hege kembali menorehkan goresan ilustrasinya di novel terbaru saya (sampai hari ini judul pastinya belum ditentukan). Ilustrasi ini dikirim oleh editor saya, Widyawati Oktavia​, lewat Whatsapp tadi malam. Saya takjub dengan hasilnya. Terasa lembut dan puitis, seperti ilustrasi-ilustrasi lain Hege untuk buku-buku saya yang sebelumnya. Saya sangat menyukai ilustrasi ini.

Ini hanya salah satu, yang artinya masih ada beberapa ilustrasi lain lagi dari Hege yang akan muncul di novel terbaru saya.

Novel terbaru saya akan terbit bulan September ini. Tanggalnya masih rahasia. Saat ini, novel tersebut sedang memasuki tahap pracetak: setting isi dan perancangan cover. Semoga berjalan lancar dan teman-teman semua dapat segera menikmati isinya.

Terima kasih!

- Bara

Comments

Agung Aritanto said…
sukses ya bang buat novel terbarunya

Popular posts from this blog

[ manuskrip ] sarif & nur

Nyaris setahun yang lalu, editor saya di penerbit Bukune (sekarang ia sudah pindah ke penerbit GagasMedia, masih satu kelompok penerbit), Widyawati Oktavia mengirimi saya surel yang isinya tentang ajakan untuk sebuah proyek novel. Nama proyek tersebut adalah “Love Cycle”. Konsepnya sederhana: Enam penulis membuat novel yang jika disusun maka akan menjadi urut-urutan konflik yang biasanya dialami dalam sebuah relationship. Saya mendapat urutan di tengah, yang artinya saya diminta menulis novel tentang konflik pada saat relationship itu sedang dibangun alias masa-masa pacaran. Dalam hati saya protes. Pasalnya, pada saat itu saya sedang single . Proyek ini sebetulnya adalah proyek kedua yang ditawarkan Iwied (panggilan akrab Widyawati Oktavia) kepada saya. Dengan berbagai alasan, proyek pertama gagal saya kerjakan. Di proyek “Love Cycle” ini, saya bertekad untuk tidak mengulangi hal serupa. Maka, saya mulai menulis. Tahap pertama adalah melaksanakan riset. Saya sempat mela

surat untuk ruth

                                            Ubud,  6 Oktober 2012 Ruth, Satu hal yang ingin kutanyakan kepadamu sejak lama, bagaimana mungkin kita saling jatuh cinta, namun ditakdirkan untuk tidak bersama? Aku dan kamu tidak bisa memaksa agar kebahagiaan berlangsung selama yang kita inginkan. Jika waktunya telah usai dan perpisahan ini harus terjadi, apa yang bisa kita lakukan? Masihkah ada waktu untuk kita bersama, Ruth? JIka memang kamu harus pergi, berilah aku waktu sedikit lebih panjang untuk menikmati saat-saat terakhir bersamamu. Meski tidak lama, hanya sebentar, seperti senja yang senantiasa kamu lukis, atau seperti ciuman pertama kita yang ragu-ragu. Berilah aku waktu sedikit lebih panjang untuk memelukmu, karena aku belum mengungkapkan seluruhnya yang ingin kukatakan kepadamu. Ironis, Ruth. Kamu berkata “Aku sayang kamu” tepat pada saat kamu harus meninggalkanku.                                                             

[Cerpen] Senja di Jembrana

Senja di Jembrana Menunggu adalah perkara melebarkan kesabaran dan berhadap-hadapan dengan risiko ketidakhadiran. Itu yang dikatakan oleh ibu sehari sebelum dia meninggal. Saat itu, saya tidak tahu ia sedang berbicara tentang ayah yang pergi meninggalkan kami dan tidak pernah kembali lagi. Namun sekarang saya paham semuanya. Terutama karena saya mengalami sendiri perasaan yang dulu ibu alami.