15 Oktober 2015

6 Hal Penting Tentang Menulis


Teju Cole


Materi ini saya sampaikan kali pertama di kelas menulis fiksi di Comic Cafe, Tebet, Jakarta, hari Sabtu yang lalu (10/10). Hal-hal di bawah ini saya sarikan dari '8 letters to a young writer', Teju Cole. Saya belum pernah membaca buku Teju Cole, tapi saya membaca tulisannya tersebut tentang penulisan, dan banyak poin yang saya sendiri sepakati karena sesuai dengan pengalaman dan visi saya dalam menulis.

Berikut adalah hal-hal penting yang dibutuhkan seorang penulis untuk membuat tulisannya kuat dan berkesan:


1. Simplicity (simplisitas berbahasa)

Kalau kita bisa mengungkapkan sesuatu dengan kata-kata yang sederhana, tidak perlu menggunakan kata-kata rumit. 'Never use big words where small ones will do,' kata George Orwell, ketika ia dikritik William Faulkner atas kesederhanaan kosakata pada tulisannya. Orwell bukan tidak bisa merancang metafora rumit atau menggunakan pilihan kata canggih, tapi ia memilih kata-kata yang ampuh, dan yang ampuh bagi Orwell adalah kata-kata yang sederhana.

Kata-kata yang sederhana membuka ruang untuk mempertajam gagasan. Dan, itulah yang harus dilakukan penulis: pertajam gagasan ceritanya. Tentu saja metafora tidak dilarang, bahkan itu menunjukkan kejeniusan si penulis. Akan tetapi, kata-kata yang canggih tidak semestinya dipakai hanya untuk menutupi ketidakmampuan penulis mengungkap dan mempertajam gagasannya dengan bahasa yang jernih.

Kikis segala macam distorsi dan 'noise' yang tidak perlu. Sampaikan gagasan yang tajam dengan bahasa yang jernih. Ketika menulis, be clean and direct.


2. Freedom (kebebasan cara menulis)

Dengarkan tips menulis dari saya, lalu lupakan. Seperti yang pernah saya singgung sebelumnya, pada akhirnya setiap penulis mesti menemukan jalan heningnya sendiri, menemukan gaya dan visinya masing-masing, mengenakan 'pakaian' yang pas dan cocok dengannya.

Menulis adalah mempelajari dasar-dasar penulisan, berlatih terus-menerus, kemudian 'bend the rules'. Ubah aturannya, berontaklah, berinovasi, dan bereksperimen.


3. Voice (membangun karakter khas pada narator)

Simplitas bahasa dan gagasan yang kuat kadang-kadang tidak cukup untuk membuat seorang pembaca menyukai tulisan kita. Yang membuat satu penulis dengan penulis lain berbeda adalah 'karakter' tulisan.

Tidak cukup memiliki teknik bernyanyi yang mumpuni, seorang penyanyi menjadi mencolok di antara penyanyi lainnya karena dia punya 'timbre', warna suara. 'Voice' yang dimaksud di sini adalah 'timbre' tersebut. 'Warna suara' pada narasi yang membuat narasi seorang penulis berkarakter dan mudah diingat.

Apakah narator dalam tulisan kita seorang pengamat, penggerutu, tukang bercanda, orang yang cuek, atau bahkan terlalu peduli? 'Karakter' narator akan mengeluarkan voice itu, dan karakter adalah yang kita butuhkan untuk membuat pembaca mengenal dan mengingat gaya menulis kita.


4. Inwardness (memasuki inner-self karakter)

Seorang penulis menulis buku berdasarkan pengalamannya sendiri. Tetapi, mengapa kita bisa merasa seakan-akan teks tersebut ditujukan untuk kita, personally, atau bahkan ditulis berdasarkan cerita hidup kita sendiri? Ini yang disebut dengan universalitas karakter.

'Relatable', atau perasaan keterkaitan pada satu tokoh atau satu cerita adalah yang membuat kita menyukai buku, bukan begitu? Perasaan keterkaitan itulah pula yang perlu kita munculkan dalam cerita yang kita tulis.

Untuk melakukannya, kita perlu masuk sangat dalam ke alam pikiran karakter, dan menghindari 'archetype' atau membuat karakter-karakter 'template'. Manusia memang memiliki sifat-sifat yang kadangkala mirip, tetapi perlu diingat pula bahwa manusia juga sekaligus unik, punya pikirannya sendiri dan jalan hidup yang tidak bisa disamakan dengan yang lain.

Buatlah karakter yang tidak terlampau 'jamak' sehingga semua orang bisa dengan mudah mengenalnya, tetapi juga tidak terlalu 'unik' sehingga semua orang merasa asing dengannya.


5. Artistry (menyerap pelajaran dari seni lain)

Seperti manusia tidak dapat bertahan hidup hanya dengan mengonsumsi satu macam makanan, penulis juga tidak bisa berkembang hanya dengan membaca buku. Cabang seni lain akan memberi kontribusi yang beragam dan sangat bermanfaat untuk kemampuan menulis.

Dari film, kita bisa belajar bagaimana menulis cerita yang tidak bertele-tele, penyuntingan yang ketat, dan dengan demikian merancang alur cerita yang efektif. Dari musik, kita bisa belajar menulis menggunakan pola: intro, verse, bridge, refrain, verse, bridge, refrain, outro, coda; ini berguna untuk merancang ketegangan-relaksasi alur cerita.


6. Observation (melihat hal sehari-hari lebih dekat)

Salah satu kerja besar seorang penulis adalah menangkap apa yang dilewatkan oleh orang lain. Dalam adegan sehari-hari, sesungguhnya banyak hal yang menarik jika saja kita ingin berhenti sejenak melakukan kesibukan kita sendiri, lalu melemparkan pandangan ke satu sudut dan mengamatinya dengan lebih dekat.

Di kota/desa mana kita tinggal? Apa yang kita ketahui tentang tempat tinggal kita sendiri? Jika kita ingin memikirkannya, kita akan takjub betapa kita tidak begitu mengenal tempat tinggal kita sendiri. saat duduk di sudut kafe, layangkan pandangan ke para barista yang sedang sibuk, atau seorang lelaki tua membaca koran sendirian; apa yang sedang mereka pikirkan? Apa masalah yang tengah mereka hadapi? Bagaimana kehidupan percintaan mereka?

Masuk ke dalam keseharian, ambil jarak dan amati hal-hal di luar diri kita. Tangkap apa yang terlewat. Look closer.


Semoga berguna.


Terima kasih.

~ Bara

Tidak ada komentar: