9 November 2015

All the Light We Cannot See, Anthony Doerr




Saya selalu percaya bahwa penulis prosa yang baik adalah penyair yang baik. Atau, barangkali lebih tepat jika saya katakan begini: penyair yang baik memiliki modal untuk menjadi penulis prosa yang baik. Penyair memerlukan metafora, terutama yang segar, dalam usaha menyampaikan gagasan-gagasannya. Bisa dibilang metafora adalah senjata pamungkas seorang penyair. Dengan demikian, penulis prosa yang senang menulis puisi (atau mungkin memang juga seorang penyair) akan mengarang prosa dengan kosakata dan metafora yang segar, sehingga membuat tulisannya tidak hanya memiliki gagasan tajam sebagai kekuatan utama, tetapi juga pembangunan suasana adegan dan penggambaran situasi yang jauh dari kata ‘kering’. Itu adalah hal pertama yang terlintas di kepala saya, saat membaca novel All the Light We Cannot See, Anthony Doerr.

Anthony Doerr adalah pengarang berkebangsaan Amerika berusia 47 tahun dan sudah menerbitkan beberapa buku. Novelnya All the Light We Cannot See meraih penghargaan Pulitzer Prize tahun 2015. Dari beberapa ulasan dan wawancara tentang novel tersebut, saya mengetahui bahwa Doerr membutuhkan waktu tidak kurang dari sepuluh tahun untuk merampungkan novel itu. Sebagian dari waktunya ia gunakan untuk meriset Saint-Malo, kota lepas pantai di Prancis dengan tembok-tembok tinggi sebagai jubahnya, yang menjadi salah satu latar cerita di novel.

All the Light We Cannot See adalah novel multiplot. Beberapa alur berjalan secara paralel, namun plot utama adalah cerita tentang dua orang anak kecil (yang kemudian seiring cerita berjalan menjadi remaja) yang hidup semasa perang dunia kedua. Anak kecil pertama, Marie-Laure, adalah gadis Prancis. Ia buta. Ia tinggal berdua ayahnya, seorang juru kunci di suatu museum di Paris. Anak kecil yang satu lagi, Werner, adalah remaja Jerman. Ia menyukai elektronika dan hal-hal terkait gelombang suara, dan ia sangat menyukai radio. Werner kemudian menjadi anggota Hitler Youth, bersekolah, dan dikirim sebagai pasukan garis depan Jerman melawan Prancis. Cerita tentang Marie-Laure dan Werner berjalan masing-masing, hingga kelak di satu titik, karena perang, jalan hidup mereka bersinggungan.

Mengingat kembali paragraf pembuka tulisan ini, saya tidak tahu apakah Doerr juga seorang penyair, atau mungkin dia senang menulis atau membaca puisi. Yang jelas, All the Light We Cannot See adalah novel yang puitis. Barangkali, novel tentang perang dengan narasi paling puitis yang pernah saya baca sejauh ini. Doerr dapat menggambarkan peluru melesat, ledakan bom granat, bangunan-bangunan runtuh, asap membubung-situasi perang yang amat chaos-dengan cara sedemikian rupa lewat narasi yang terasa lembut dan mengalun karena dibungkus metafora dan pilihan kata yang membuat saya sering lupa bahwa adegan yang sedang saya baca adalah adegan peperangan. Chaos perang yang terdapat di dalam cerita bahkan, akibat cara menulis Doerr dan narasinya itu, seringkali malah terkesan ‘indah’. Untuk bagian ini, saya sempat teringat kepada satu novel dengan tema yang lebih kurang sama: The Book Thief karangan Markus Zusak. Doerr dan Zusak menuliskan suasana perang dengan cara yang mirip, meskipun Doerr terlihat lebih detail dalam menggambarkan objek-objek.

Namun, meski narasi Doerr puitis, ia sama sekali tidak menjadi lambat. Metafora yang ia pakai dan nuansa ‘lembut’ dari adegan-adegan cerita tidak membuat saya terseret-seret saat membaca novelnya. Terasa aneh memang. Biasanya narasi yang puitis membuat tempo pembacaan menjadi menurun, tapi saya berhasil menyelesaikan 530 halaman All the Light We Cannot See dalam waktu kurang dari seminggu. Bagi saya, itu termasuk cepat. Ketika saya mencari penyebabnya, mungkin karena selain puitis, narasi Doerr juga filmis. Deskripsi menjadi salah satu kekuatan novel Doerr. Ia seperti penulis yang senang mengumpulkan objek-objek dan kemudian menuangkan mereka ke dalam satu paragraf. Wawasannya yang komperehensif mengenai kota (Saint-Malo), perangkat radio, sains, dan bahkan burung-burung, ia tumpahkan ke paragraf-paragraf novel, membuat tulisannya penuh dengan benda-benda-tetapi tidak membuatnya sesak.

Sedikit menjadi kejutan, setidaknya bagi saya, adalah melihat bagaimana Doerr menggunakan elemen-elemen seperti mitos dan fantasi untuk membuat All the Light We Cannot See tidak berhenti sebagai sekadar novel realis lain tentang perang dunia kedua. Diceritakan sebuah batu permata yang dinamakan Sea of Flames, memiliki mitos kuno bahwa siapapun yang memiliki dan menyimpannya, akan hidup abadi, namun akan kehilangan orang-orang di sekelilingnya yang ia cintai. Seorang komandan pasukan Nazi Jerman yang terobsesi dengan batu permata memburu batu ini, yang disimpan di museum tempat ayah Marie-Laure, si tokoh utama novel, bekerja. Berkali-kali Doerr mengaitkan peristiwa kehilangan yang terjadi sepanjang novel dengan keberadaan batu permata ini (tidak saya ketahui apakah batu permata tersebut benar-benar ada atau tidak). Saya selalu tertarik dengan novel atau cerita-cerita yang memadukan unsur realis dan unsur-unsur ‘tidak realis’ seperti mitos, legenda, atau sejarah mistis. Saya melihat hal itu sebagai usaha penulis untuk mengarang cerita yang menarik dibaca (baca: imajinatif) dan tidak sekadar jadi agregator informasi penting yang sebenarnya kini dapat dicari dengan mudah di wikipedia.

Barangkali yang tidak hadir dalam novel ini adalah perkembangan jiwa dan sikap karakter-karakternya. Meski alur cerita terbentang dalam kurun waktu yang terhitung amat lebar (1934-2014 = 70 tahun!), sama sekali tidak terdapat perubahan pada karakter. Tokoh-tokoh novel tidak berkembang, walau usia mereka terus bertambah, terutama dua tokoh sentral cerita: Marie-Laure dan Werner, yang memulai novel sebagai anak kecil dan telah menjadi remaja saat cerita berakhir. Marie-Laure dan Werner kecil sama saja dengan Marie-Laure dan Werner remaja. Suara, cara bicara, cara berpikir, keinginan-keinginan, sifat, tidak ada yang berubah, dan sebenarnya ini terasa aneh. Namun, mungkin memang hal tersebut tidak menjadi fokus Doerr, dan ia tidak menganggapnya penting. Satu lagi, suara dari setiap karakter novel terdengar sama. Marie-Laure, Werner, ayah Marie-Laure, saudara Werner, dan tokoh-tokoh sisanya kadang-kadang tidak bisa dibedakan satu sama lain. Mereka berbicara dengan cara dan intonasi yang mirip-mirip. Ini, barangkali, lebih mengganggu dari karakter-karakter yang tidak berkembang.


Untungnya, kejanggalan-kejanggalan itu tidak mengganggu pembacaan saya sama sekali. Saya tetap menikmati keseluruhan isi novel, dari awal hingga selesai. Agak aneh karena biasanya saya pasti suntuk saat membaca novel dengan kondisi-kondisi seperti saya sebutkan barusan. Mungkin karena saya ‘memaafkannya’. Saya memaklumi kekurangan-kekurangan yang saya temukan, sebab saya telah menemukan hal lain yang membuat saya terhibur dan menyukai buku itu. Bukankah kita kadang-kadang melakukannya? Kita memaafkan kekurangan suatu buku, film, atau mungkin seorang manusia, karena kita telah menemukan hal lain darinya yang sudah cukup membuat kita bahagia. Seringkali kita tidak menyadari bahwa sesungguhnya kita tidak benar-benar menginginkan sesuatu yang sempurna. Kita hanya butuh sesuatu yang telah membuat kita bahagia, dan hal-hal seterusnya di belakang tidak lagi begitu penting. ***

2 komentar:

Steven S mengatakan...

Nuwun bang Bara reviewnya.
All the Light bisa jadi rekomendasi bacaan akhir tahun.

Nggak nyoba novelnya Marlon James bang?

benz mengatakan...

Pengin baca "A Brief History of Seven Killings", tapi belum punya bukunya. Nanti kalau main ke toko buku akan cari.