30 Mei 2015

The Sense of an Ending, Julian Barnes





Selain tradisi minum teh dan bangunan-bangunan berarsitektur klasik a la kastil mirip sekolah sihir Hogwarts di novel berseri Harry Potter karangan J. K. Rowling (imajinasi saya akan Inggris terbentuk saat membaca Harry Potter, yah mau tak mau), barangkali yang juga khas dari Inggris (dan dengan demikian orang-orang Inggris) adalah sarkasmenya. Meskipun belum pernah bertemu dan berbincang langsung dengan orang Inggris asli, agaknya saya bisa mengamini dugaan tersebut dari melihat karakter-karakter orang Inggris di beberapa film yang pernah saya tonton dan, tentu saja, di novel-novel yang ditulis oleh orang Inggris.

Saya mencomot novela Julian Barnes, The Sense of an Ending, dari rak buku karena ukurannya yang kecil dan tipis. Setelah membaca novel tebal Haruki Murakami Hard-Boiled Wonderland and the End of the World, seperti biasa, stamina saya terkuras. Maka, seperti biasa pula, buku-buku berikutnya yang saya baca dapat dipastikan adalah novela, atau kumpulan cerita pendek. Pola seperti ini sudah berlangsung cukup lama. Novel tebal, novela atau kumpulan cerita pendek, novel tebal lagi, novela atau kumpulan cerita pendek lagi, begitu terus. Ini saya lakukan sebagai trik untuk mengatur napsu membaca saya agar tidak cepat butek oleh masifnya jumlah teks yang masuk ke kepala.

Sebetulnya, saya belum banyak membaca penulis Inggris (bukan berarti saya sudah banyak membaca penulis selain Inggris juga, sih). Dari catatan saya, saya baru membaca Julian Barnes, George Orwell, Neil Gaiman, dan tentu saja penulis kesukaan saya semasa kecil, Joanne Kathleen Rowling, beserta alter-egonya, Robert Galbraith. Meski demikian, dari yang sedikit itu, setidaknya saya boleh menarik kesimpulan sementara, yakni bahwa orang Inggris punya kemampuan luar biasa dalam melempar sarkasme.

Lihat saja bagaimana dialog-dialog penuh sarkasme bertebaran dalam percakapan-percakapan antar guru Hogwarts School of Witchcraft and Wizardry di ketujuh seri novel Harry Potter. Severus Snape adalah guru yang terkenal dengan sindiran-sindiran pedasnya terhadap murid-murid. Atau, Ronald Weasley, sahabat kental Harry Potter, juga kerap melontarkan sindiran a la keluarga Weasley. Kalau kita membaca novela semi-fabel Animal Farm milik Eric Arthur Blair alias George Orwell, kita akan tahu bahwa novela itu adalah sarkasme besar atas tingkah laku manusia terutama kaitannya dengan tipu-tipu muslihat dunia politik. Neil Gaiman juga kerap menyisipkan sindiran tajamnya terhadap sikap orang dewasa (dan kedewasaan) lewat cerita semi-fantasi semi-sureal di novela The Ocean at the End of the Lane.

Sarkasme yang sama saya temukan di sepanjang cerita The Sense of an Ending, novela Julian Barnes yang mendapat penghargaan kesusastraan Man Booker Prize tahun 2011. Sarkasme itu muncul lewat dialog karakter-karakternya, tapi terutama lewat narasi si tokoh utama. Namun, yang membedakan sarkasme Julian Barnes dengan sarkasme J. K. Rowling, George Orwell, dan Neil Gaiman, adalah bagaimana sarkasme yang muncul di novela Barnes ternyata belakangan mempengaruhi kehidupan tokoh utamanya, sekaligus menjadi titik belok plot utama cerita, dan juga merupakan inti keseluruhan novel tersebut. Sarkasme dalam tulisan Barnes tidak hanya ditujukan kepada publik di luar teks, tetapi juga berdampak pada karakter di dalam teks itu sendiri.

Adalah seorang lelaki berusia 60-an tahun bernama Tony Webster yang, lewat dirinya, Barnes menyampaikan sarkasmenya. Atau, marilah kita anggap yang melontarkan sarkasme adalah Tony Webster, dan dengan demikian sarkasme yang akan kita bicarakan adalah sarkasme milik Tony Webster. The Sense of an Ending ditulis dalam dua bagian, atau dua bab. Bab pertama merupakan ingatan-ingatan Tony Webster, kilas baliknya ke masa-masa remaja. Pada bagian inilah sarkasme Tony Webster hampir selalu terlontar, dan-setidaknya bagi saya-terasa sangat menghibur.

Bersama tiga orang sahabatnya, Tony Webster menjalani masa-masa remaja yang meskipun tidak membosankan, tidak juga bisa dibilang luar biasa. Satu-satunya hal ‘tidak biasa’ yang terjadi pada periode kehidupan Tony Webster saat itu adalah kabar bunuh diri seorang murid di kelasnya. Hal ‘tidak biasa’ lain yang terjadi di hidup Tony Webster mengambil wujud seorang manusia, yakni satu dari tiga sahabatnya sendiri, seorang bernama Adrian. Tony Webster juga punya pacar bernama Veronica, yang terhadapnyalah, sarkasme kocak Tony Webster kerap ditujukan (selain tentu saja kepada hal-hal lain).

Pada awalnya, sarkasme Tony Webster tidak mengandung hal-hal yang amat serius. Sindiran-sindiran terselubung dalam kalimat-kalimatnya, baik itu berwujud dialog maupun narasi (The Sense of an Ending ditulis dengan sudut pandang orang pertama), hanya berputar pada hubungan Tony Webster dengan teman-teman sekolah, guru, pacarnya, dan keluarga pacarnya. Namun, sarkasme yang tidak amat serius ini, ternyata berpuluh tahun kemudian memberi dampak besar pada kehidupan Tony Webster sendiri. Sindiran-sindiran yang pada suatu hari memuncak dan tersampaikan lewat sepucuk surat yang ia kirimkan kepada Veronica dan Adrian, berbalik kepadanya sebagai realitas yang menyakitkan. Omong-omong, ia mengirim surat tersebut setelah Veronica putus darinya dan berpacaran dengan Adrian, sahabatnya sendiri.

Sarkasme yang berbalik itulah yang ditulis Julian Barnes di bagian kedua novela. Kehidupan-kini Tony Webster, sebagai duda beranak satu, yang ia harapkan menjadi kehidupan penuh ketenangan, terusik oleh kabar yang mengejutkan: Adrian, sahabat kentalnya (dan juga pacar baru mantan pacarnya dulu, Veronica) tewas bunuh diri. Kabar ini menjungkirbalikkan ketenangan hidup Tony Webster. Bukan hanya lantaran karena sahabatnya bunuh diri, melainkan juga karena seumur hidupnya, Tony Webster melihat dan meyakini bahwa Adrian adalah sosok rasional, cerdas, penuh pertimbangan dan perhitungan, yang dengan segala intelektualnya, sangat tidak mungkin melakukan tindakan ‘irasional’ semacam bunuh diri. Setidaknya, demikian yang diyakini oleh Tony Webster. Sampai ia berkontak kembali dengan mantan pacarnya, Veronica, dan dari sana sebuah misteri perlahan-lahan berkelindan di seputar peristiwa kematian Adrian. Buku harian Adrian, yang Tony Webster yakini sebagai warisan untuknya, menjadi penghubung ia dan Veronica.

Sindiran-sindiran kocak pada bagian pertama The Sense of an Ending yang membuat saya terbahak nyaris di setiap halaman, secara perlahan berubah menjadi satu misteri. Yang tadinya tidak amat serius menjadi mulai serius. Lalu, di bagian akhir novela, misteri dan keseriusan itu ditutup dengan hal yang paling sering berhasil membuat kita menyukai sebuah cerita: kejutan. Ternyata yang keluar dari saya sebagai reaksi saat membaca novel Barnes tidak hanya suara tawa karena menyimak sarkasme kocaknya, tetapi juga ekspresi kening berkerut dan umpatan kaget, masing-masing saat mengikuti misteri dan akhirnya bertemu dengan penutup ceritanya.

Begitulah. Buku yang bagus selalu memuat lebih dari satu hal. Bahkan, seringnya, banyak hal. Hal-hal itu bisa kita temukan dalam sekali baca, bisa juga setelah membacanya ulang. Jelasnya, seperti seorang manusia yang menarik karena memiliki banyak sisi, buku yang menarik juga senantiasa menawarkan banyak nuansa dan emosi. Selalu jamak dan kompleks. Tidak pernah satu, tidak pernah tunggal. Sehingga kita tahu, itulah yang membuat buku menyenangkan untuk dibaca. ***

20 Mei 2015

Haruki Murakami yang Tak Terkategorisasi





Saya sudah membaca separuh lebih dari jumlah total buku yang ditulis Haruki Murakami. Sangat jarang saya membaca nyaris seluruh buku yang pernah ditulis seseorang. Hal tersebut hanya bisa terjadi jika saya benar-benar menyukai tulisan orang itu. Jadi, bisalah kalau dikatakan bahwa saya sangat menyukai Murakami. Ya, saya tidak sembunyi-sembunyi untuk mengakuinya: saya tergila-gila dengan tulisan Murakami.

Buku terakhir yang saya baca sebelum menulis catatan ini adalah Hard-Boiled Wonderland and the End of the World. Seperti yang biasa saya lakukan setiap sedang membaca buku, saya menceritakan progres membaca saya atas buku ini kepada partner saya, G. Dengan semangat seorang anak kecil, saya menceritakan ulang beberapa bab pertama Hard-Boiled Wonderland and the End of the World ke G, dan dia bertanya: “Itu novel science-fiction?” Saya, dengan tersenyum jail, hanya menggeleng dan menjawab: “Bukan, ini bukan novel science-fiction, bukan pula novel sastra. Ini hanya novel Murakami.”

Saya merespons pertanyaan G dengan jawaban seperti itu karena saya selalu merasa bahwa novel-novel  (berikut cerita-cerita pendek) Murakami tidak amat cocok jika dimasukkan ke dalam kategori ‘sastra’, baik itu ‘sastra serius’ maupun ‘sastra populer’.

(Kita akan berdiskusi panjang tentang apa itu ‘sastra’, ‘sastra serius’, dan ‘sastra populer’. Tapi bolehkah kita bersepakat dengan pengertian sederhana yang saya tawarkan: ‘sastra serius’ adalah novel yang ditulis dengan bahasa ‘rumit’ dan kandungan politik yang kental dan eksplisit, lalu ‘sastra populer’ adalah novel yang ditulis dengan bahasa pop dan persoalan-persoalan ‘ringan’ sebagai konflik cerita? Saya menawarkan pengertian macam begini sekadar untuk menjadi landasan argumen saya yang mengatakan bahwa novel-novel Murakami tidak bisa dikategorikan ke novel sastra atau novel fantasi atau novel science-fiction.)

(Tenang saja, saya sendiri tidak sepenuhnya bersepakat dengan tawaran itu)

Jadi begini, mengapa, misalnya saja, Hard-Boiled Wonderland and the End of the World tidak bisa dimasukkan ke dalam kategori science-fiction, seperti yang diduga oleh G? Padahal, seperti yang saya ceritakan dengan menggebu-gebu ke G, salah satu tokoh di dalam novel tersebut adalah seorang tenaga IT (saya bersemangat karena saya pun mantan mahasiswa IT, walau saya sudah melupakan nyaris seluruh hal yang pernah saya pelajari). Pekerjaan tokoh di novel itu berkaitan dengan pengolahan, penyimpanan, dan rekayasa data. Atau, mengapa novel Kafka on the Shore tidak bisa dimasukkan ke kategori novel fantasi, padahal di dalamnya ada adegan di mana tiba-tiba sekumpulan ikan sarden jatuh dari langit (atau yang paling ikonik dari Murakami: kucing yang mendadak bisa berbicara)?

Sesungguhnya, saya tidak benar-benar tahu jawabannya. Mohon maaf. Saya hanya merasa kurang cocok aja novel-novel Murakami, meski dia mengandung unsur science (atau fantasi) diletakkan di bawah kategori science-fiction atau fantasi. Cukup banyaknya jargon atau deskripsi yang ditulis Murakami yang memberikan nuansa science-fiction di Hard-Boiled Wonderland and the End of the World tidak membuat saya bersepakat untuk meletakkannya di kategori science-fiction.

Yang ingin saya katakan: dengan absurditas dan surealismenya yang ia kemas sedemikian rupa, Murakami sudah membuat saya merasa bahwa buku-bukunya layak dikumpulkan ke dalam satu kategori baru: Novel Murakami. Bukan sastra, fantasi, science-fiction, atau apapun, hanya Novel Murakami.

Merangkai teks dalam format dan konten yang membuat ia menjadi lintas genre tentu bukan perkara mudah. Barangkali Haruki Murakami sendiri tidak berniat untuk melakukannya. Ia hanya menulis menggunakan bahan-bahan yang ia ciduk dari dalam sumur: sangat mungkin ia sendiri pun tidak pernah mengira dan merencanakan bahan-bahan yang akan ia pakai menulis.

Jika kita menulis novel, ada keuntungan lebih dari mengetahui genre novel yang akan kita tulis. Jika kita telah memantapkan hati untuk menulis novel roman, misalnya saja, tentu saja plot utama harus merupakan masalah percintaan, menggunakan konflik cinta platonik sebagai pusat pergerakan cerita. Jika kita ingin membuat novel horor atau kriminal, tentu saja unsur-unsur tertentu semacam teror, misteri, harus dimasukkan. Namun, ternyata ada yang lebih penting dari mengetahui genre, atau bahkan lebih penting dari semua hal yang menyangkut elemen-elemen penuilsan, yakni membuat tulisan yang bagus, terlepas apapun genrenya.

Maksud saya, tentu ada saat-saat ketika kita ingin menulis tapi tidak betul-betul tahu, tulisan kita akan cocok masuk ke genre mana. Kita hanya berangkat dengan sebuah ide kecil dan sederhana. Bahkan, kita tidak tahu akan bergerak atau berkembang ke arah mana ide tersebut. Kita belum menentukan dan tidak dapat memastikan cerita yang kita tulis akan menjadi cerita roman, misteri, science-fiction, horor, atau mungkin bisa jadi cerita kita akan memuat semuanya. Saya ingin mengatakan bahwa hal itu tidak perlu dicemaskan. Dari pengalaman membaca saya yang masih sangat singkat, novel bagus biasanya memuat banyak ‘genre’ di dalamnya.

Saya menulis catatan ini sedikit banyak karena teringat pada pernyataan, yang saat itu saya terjemahkan sebagai keluhan, yang berbunyi kira-kira begini: Aku lagi nulis, tapi nggak tahu ini masuk ke genre apa, sejarah atau romance. Ia berkata bahwa ia menulis tentang kerusuhan yang terjadi puluhan tahun lalu di tempat ia tinggal, tapi ia tidak yakin apakah itu membuat novelnya jadi novel sejarah, karena konflik cinta pun sangat kental di dalamnya. Saya ingat menjawab keluhannya dengan sesuatu yang barangkali tidak amat solutif. Tulis saja, kata saya, tulis sampai selesai.

Saya tidak bilang bahwa menulis cerita dengan menentukan genre terlebih dahulu adalah hal yang keliru. Tentu saja tidak. Menentukan genre dapat membuat kita lebih fokus karena sudah tahu cerita tersebut akan diserahkan ke segmen pembaca yang mana. Namun, ketika kecemasan-kecemasan dan kegelisahan-kegelisahan yang ingin kita tuang dalam tulisan tidak langsung menemukan bentuk atau genrenya, apakah mereka layak ditunda pengerjaannya? Saya akan menggeleng. Pastinya tidak. Lebih utama adalah mewujudkan gagasan, dan tidak jarang gagasan muncul tanpa label genre menempel di tubuhnya.

Mana tahu, dengan menulis novel yang tak terkategorisasi, justru akan membuat novel tersebut mencapai beragam segmen pembaca. Ya, ya, dugaan ini terdengar sangat ambisius dan ceroboh. Lagi-lagi saya tidak bermaksud demikian. Ah, pokoknya kamu paham lah maksud saya. Semoga.

Oh ya, saya ketikkan lagi kutipan dialog saya dengan G di sebuah kedai kopi di Jakarta, saat dengan semangatnya saya menceritakan Hard-Boiled Wonderland and the End of the World. Saya menyukai dialog tersebut karena untuk kali pertama, sepertinya, saya sangat menyukai sebuah novel sampai-sampai tidak tahu novel itu harus digolongkan ke kategori yang mana.

Hard-Boiled Wonderland and the End of the World itu apa? Science-fiction? Fantasi?” tanya G.

No,” kata saya sembari tersenyum. “It’s just a Murakami novel.” ***

13 Mei 2015

The Search Warrant, Patrick Modiano





Patrick Modiano adalah novelis berkebangsaan Prancis yang pada usianya ke-69 tahun menjadi peraih Nobel Kesusastraan. "For the art of memory with which he has evoked the most ungraspable human destinies and uncovered the life-world of the occupation,” kata panitia penghargaan Nobel untuk karya-karya Modiano, yang saya baru tahu ternyata ada tak kurang dari 30 novel. Angka yang menurut saya cukup fantastis dan menunjukkan produktivitas Modiano sebagai penulis.

Pernyataan panitia Nobel tadi, terutama penggalan ‘for the art of memory’ adalah kunci untuk memasuki dunia dalam novel Modiano. Memory, bisa kita terjemahkan sebagai kenangan atau ingatan (saya selalu merasa kedua hal tersebut berbeda) menjadi bahan penting yang menggerakkan informasi dalam cerita yang ditulis Modiano. Saya tidak menyebut ‘menggerakkan plot’, karena di The Search Warrant, plot atau alur adalah sesuatu yang samar dan tidak berjejak.

Cerita dibuka dengan keterangan bahwa si narator-yang ternyata adalah penulisnya sendiri, Modiano-suatu ketika di tahun 1988, secara tidak sengaja melihat iklan orang hilang pada sebuah edisi koran Paris Soir tahun 1941. Iklan tersebut menyebutkan bahwa telah hilang seorang gadis bernama Dora Bruder, lengkap dengan ciri-ciri dan pakaian terakhir yang dikenakan sebelum gadis itu hilang. Yang memasang iklan itu di koran adalah orangtua si gadis sendiri.

Iklan tersebut mendorong si narator untuk melakukan pencarian, bukan terhadap keberadaan si gadis tentu saja (karena sudah 47 tahun berlalu sejak edisi koran yang memuat iklan orang hilang itu), melainkan terhadap alasan mengapa gadis itu menghilang. Si narator mendapatkan informasi bahwa gadis itu kabur dari asrama sekolah katolik tempat ia tinggal. Di kemudian hari, si narator menemukan nama gadis tersebut, Dora Bruder, pada sebuah catatan resmi berisi daftar orang-orang Yahudi yang dideportasi dari Paris ke Auschwitz tahun 1942.

Menjadi penulis sekaligus narator dalam kisah yang ia tulis, membuat Modiano tampak seperti sedang tidak menulis novel. Setidaknya demikian yang saya lihat. The Search Warrant (atau dalam versi sebelumnya, Dora Bruder) menjadi semacam memoar nonfiksi tentang pencarian penulisnya terhadap sesosok manusia yang mengalami tragedi besar dalam hidup, sekaligus si penulis menceritakan bagian dari kehidupannya sendiri. Kelak, kita akan mengetahui bahwa novel yang ditulis Modiano berdiri di batas antara realitas dan fiksi, antara memoar dan karangan.

Lewat kupasan demi kupasan ingatan si narator, kita dibawa ke bagian tragedi dari kehidupan manusia, mungkin satu yang tergelap. Tragedi tersebut luput dari catatan sejarah. Terlupakan. Benar bahwa The Search Warrant merupakan salah satu bentuk dan usaha meditasi penulisnya untuk menemukan bagian yang terlupakan itu, mencatatnya, dan mengabarkannya kepada orang-orang yang menurut ia harus tahu. Atau, mungkin saja, ia mencatat ingatan-ingatan tersebut untuk dirinya sendiri.

Hal tersebut bisa dilihat ketika si narator, pada satu titik, menemukan hubungan antara jalan hidup Dora Bruder dan ayahnya sendiri. Ayah si narator (yang berarti adalah ayah Patrick Modiano) juga sempat ditangkap oleh Nazi Jerman dan dijebloskan ke camp. Mungkin, hal ini pula yang sejak awal menyebabkan si narator terdorong untuk mencari jejak dan informasi apapun mengenai Dora Bruder dan kedua orangtuanya. Di banyak bagian dalam cerita, si narator membanding-bandingkan kesulitan-kesulitan yang ia alami semasa kecilnya (kalau saya tidak salah ingat, ia juga pernah nyaris ditangkap Nazi Jerman atas laporan dan tuduhan istri baru ayahnya) dengan Dora Bruder, gadis yang berpuluh tahun kemudian jejaknya ia cari.

Saya sangat beruntung bisa menemukan dan membaca novel Patrick Modiano, karena tampaknya ia adalah penulis peraih Nobel Kesusastraan yang bukunya paling sedikit hadir di rak-rak toko buku, setidaknya yang biasa saya sambangi (Periplus, Kinokuniya, Aksara). Membandingkan dengan Alice Munro, peraih Nobel Kesusastraan sebelumnya, yang mengisi nyaris tiga baris rak sastra Kinokuniya Plaza Senayan. Atau, Gabriel García Márquez, yang sama banyaknya. Saya tidak tahu kenapa bahkan setelah setahun penganugerahaan Nobel Kesusastraan 2014, hanya satu novel Modiano yang muncul di Indonesia. Itu pun bukan ‘karya unggulan’nya (di banyak artikel pasca pengumuman peraih Nobel Kesusastraan 2014, saya lebih sering melihat judul Honeymoon dan The Missing Person).

Saat baru mulai membaca The Search Warrant, saya mengunggah foto buku tersebut di Instagram. Seseorang meninggalkan komentar bahwa dia membaca Honeymoon, namun tidak dapat menyelesaikannya karena bosan. Menurut dia, terjemahannya jelek. Namun, saya menduga, rasa bosan itu bukan muncul karena terjemahan yang jelek (kalau dia membaca versi terjemahan Bahasa Inggris, sih, sepertinya akan baik-baik saja ya. Atau tidak?) melainkan memang gaya tutur Patrick Modiano cenderung membosankan, jika dibaca oleh orang-orang yang menghendaki klimaks dan ketegangan-ketegangan eksplisit.

Dugaan yang sembrono tersebut membawa saya ke pertanyaan lain: Apakah pengarang-pengarang Prancis memang memiliki gaya tutur serupa? Saya baru membaca Antoine de Saint-Exupéry, Albert Camus, dan Patrick Modiano. Pastinya terlalu sedikit untuk menarik kesimpulan. Maka saya hanya menduga-duga. Sebab, saat membaca ‘dongeng’ The Little Prince dan novela The Stranger, saya mendapatkan kesan yang sama seperti saat membaca The Search Warrant: cerita dituturkan dengan landai, tanpa pengaturan ketegangan dan klimaks yang terlihat sangat direncanakan seperti, misalnya saja, novel-novel Dan Brown, atau untuk membandingkannya dengan penulis peraih Nobel Kesusastraan juga, Orhan Pamuk dan Naguib Mahfouz. Cerita-cerita yang ditulis pengarang Prancis (oke, saya lagi-lagi melakukan usaha generalisasi yang ngawur) atau maksud saya, The Search Warrant, terasa seperti sebuah solilokui penulisnya sendiri.

Seperti banyak novel bagus yang saya baca, The Search Warrant tampak tidak begitu peduli dengan aturan-aturan penulisan kreatif. Ia tidak terlihat sadar bahwa di dalam ceritanya ia harus membangun karakter (Modiano berperan sebagai Modiano, Dora Bruder adalah Dora Bruder, orangtua Dora Bruder juga tidak mendapat deksripsi watak yang rinci, seperti sebagaimana aturan penulisan kreatif pada umumnya), menerangkan latar tempat secara eksplisit (memang disebutkan tempat-tempat tapi karena present-time cerita tidak terjelaskan, jadi latar lokasi ini hanya berada dalam tuturan ingatan si narator), mengatur ketegangan-ketegangan hingga klimaks, merangkai dialog-dialog bermutu, dan seterusnya. Meski tanpa kepatuhan pada ‘aturan-aturan’ penulisan semacam itu, The Search Warrant tetap menjadi sebuah novel yang bagus.

Membaca The Search Warrant membuat saya, untuk kali kesekian, menyadari bahwa ada banyak cara menulis novel yang bagus. Pada awalnya, menulis memang merupakan keterampilan, yang di dalam kelas-kelas penulisan kreatif telah diformulasikan langkah-langkah dan tahapan-tahapannya. Bahkan, aturan-aturannya. Namun, teknik adalah sesuatu yang dipelajari untuk dilupakan. Pada akhirnya, insting dan intuisi murni si penulis yang akan menentukan bentuk tulisan yang ia pikir paling baik untuk gagasan-gagasannya. Lebih lagi, visi seorang penulis lah yang mesti dijadikan ‘aturan’ penulisan bagi dirinya sendiri. Visi tersebut adalah bagaimana seharusnya sebuah novel (jika ia seorang novelis) ditulis, bahkan dibaca. ***


8 Mei 2015

Love Cycle Online Festival





Novel terbaru saya (yang insyaallah akan rilis bulan JULI tahun ini) adalah sebuah roman remaja berlatarkan kota pontianak.

Novel tersebut akan diterbitkan GagasMedia​ dalam sebuah seri novel yang dinamai 'LOVE CYCLE', karena di dalam seri itu akan ada 6 penulis dengan 6 novel yang jika disusun akan membentuk sebuah siklus hubungan cinta platonik: jatuh cinta - pendekatan - pacaran - patah hati - move on - menikah.

Dalam rangka merayakan rilisnya keenam novel seri LOVE CYCLE, maka diadakan sebuah kompetisi bernama: LOVE CYCLE ONLINE FESTIVAL.

Festival ini merupakan kompetisi berkelompok. Ada 6 kelompok yang masing-masing diketuai oleh 6 penulis. Setiap kelompok akan beranggotakan paling banyak 16 orang. mulai tanggal 18 - 30 Mei 2015, akan ada 6 jenis lomba yang diikuti oleh 6 kelompok ini. macam-macam pertandingannya seru: lomba membuat playlist, lomba menulis, dan lain-lain.

Anggota kelompok pemenang akan mendapatkan dari Gagasmedia paket novel seri LOVE CYCLE (ada enam novel).

Bagaimana cara mengikuti LOVE CYCLE ONLINE FESTIVAL ini? Kamu harus mendaftar (sekaligus memilih ingin bergabung dengan tim mana) terlebih dahulu di sini

FYI, saya menjadi host di Tim Pacaran.

Jadi, siapapun yang ingin bergabung dan berjuang di kompetisi ini bersama saya, silakan buka blog di atas dan join dengan tim saya, Tim Pacaran. Saya jamin kalian tidak akan menyesal bergabung dengan tim saya.

Ha, ha, ha!

Pendaftaran berlangsung mulai hari ini hingga 14 mei, cuma seminggu. Ingat, setiap tim dibatasi maksimum hanya 16 orang. Hingga saat ini sudah ada 3 orang yang bergabung dengan tim saya, Tim Pacaran, jadi jangan sampai terlambat.

Go!