27 Juni 2015

The Book of Laughter and Forgetting, Milan Kundera





Pada awalnya, sedikit sulit bagi saya ketika berusaha memasuki dunia novel Milan Kundera karena belum familier dengan sejarah Republik Ceko, negara asal Kundera, yang ia olah dalam bukunya yang saya baca, The Book of Laughter and Forgetting.

Kundera lahir di Ceko pada tahun 1925. Saat berusia setengah abad, ia terpaksa pergi meninggalkan tempat kelahirannya dan hidup sebagai seorang eksil di Perancis. Entah sebagai bentuk protes atau kekecewaannya terhadap Ceko (atau dalam usahanya melupakan Ceko? Saya cuma menduga-duga dan dugaan saya tidak berlandaskan apapun yang kuat) ia bahkan melakukan penerjemahan ulang atas karya-karyanya, yang pada awalnya ditulis dalam bahasa Ceko, menjadi bahasa Perancis. Pada kata penutup The Book of Laughter and Forgetting (versi bahasa Indonesia: Kitab Lupa dan Gelak Tawa) Kundera berkata bahwa karya-karyanya dalam bahasa Perancis itu lebih mendekati keaslian daripada yang berbahasa Ceko.

The Book of Laughter and Forgetting dibuka dengan sebuah deskripsi atas foto Klement Gottwald dan Vladimír Clementis. Klement Gottwald adalah tokoh komunis Ceko, perdana menteri Ceko pada 1946 – 1948, dan presiden Republik Ceko pada 1948 – 1953. Vladimír Clementis merupakan tokoh berpengaruh Partai Komunis Ceko yang pada foto tersebut digambarkan berdiri di samping  Klement Gottwald. Clementis dihilangkan dari foto terkenal yang diambil pada 1948 tersebut sebagai bagian dari propaganda pemerintah di masa itu.

Saya kesampingkan deskripsi foto Gottwald dan Clementis dan memutuskan untuk terus membaca bagian pertama novel, ‘Lost Letters’. Laki-laki bernama Mirek, yang tampaknya seorang aktivis, dibuntuti oleh beberapa orang saat ia hendak menemui Zdena, perempuan yang ia cintai tapi kemudian dirinya menyesal. Mirek hendak menghancurkan surat-surat cinta yang pernah ia kirim untuk perempuan itu. Namun, di perjalanan, ia ditangkap oleh sekelompok orang yang membuntutinya dan akhirnya ia dijebloskan ke penjara.

The Book of Laughter and Forgetting terdiri dari tujuh bagian yang memiliki premis serupa. Namun, ketujuh bagian tersebut memiliki plot yang tidak sangat berkesinambungan, sehingga sebenarnya The Book of Laughter and Forgetting bisa saja dibaca sebagai sekumpulan novela. Payung besar ketujuh novela tersebut adalah tentang melupakan, forgetting. Alih-alih menganggapnya sebagai karya fiksi, saya lebih memandang novel Kundera ini sebagai karya fiksi-semiotobiografi, karena meskipun membalutnya dengan cerita yang dikarang, si penulis juga menuturkan kisah hidupnya sendiri di beberapa bagian.

Tokoh-tokoh dalam novel Kundera adalah orang-orang yang bertarung dengan memorinya sendiri. ‘Mama’, ibunda mertua dari Marketa, yang merupakan istri laki-laki bernama Karel, hampir saja memergoki aktivitas seksual terlarang Marketa, Karel, Eva-teman dari Marketa dan Karel-ketika ia teringat akan seorang temannya di masa lalu yang memiliki wajah mirip Eva. Memori, pada ‘Mama’, membawa plot cerita ke titik baliknya dan menyeretnya dari klimaks.

Tamina, seorang perempuan yang bekerja di sebuah kafe, diceritakan dalam bagian ‘Lost Letters’ kedua, berjuang untuk mendapatkan kembali buku harian pribadi dan surat-surat cinta yang pernah ia tulis untuk mendiang suaminya. Kalau tidak salah ingat, ketika masih bernyawa, si suami digambarkan hidup sebagai eksil. Dalam usahanya mendapatkan barang-barang pribadinya tersebut yang tersimpan di rumah orangtuanya di Praha (Tamina tidak tinggal di Praha), ia bercinta dengan seorang laki-laki bernama Hugo. Sialnya (atau untungnya?), selama mereka bercinta, Tamina tidak bisa mengenyahkan memori mendiang suaminya. Berkali-kali, pada wajah Hugo, ia melihat wajah suaminya sendiri. Hugo, yang diharapkan Tamina dapat membantunya mengambil barang-barang pribadinya itu, akhirnya mengetahui bahwa Tamina hanya memanfaatkannya untuk agendanya sendiri. Ia marah dan Tamina kesal. Pada Tamina, memori mendiang suaminya membuatnya gagal mendapatkan kembali benda-benda pribadi berharganya.

Politik memori dan amnesia sosial adalah apa yang saya kira coba dikatakan oleh Kundera. Kerap ia bertutur bagaimana warga kota Praha merupakan manusia-manusia yang tidak lagi memiliki kontrol atas ingatannya sendiri. Dari waktu ke waktu, dari satu masa penjajahan ke masa penjajahan lain atas kota tersebut, nama-nama jalan di kota terus-menerus berubah dan berganti, sehingga orang-orang tidak lagi ingat bagaimana nama asli jalan-jalan tersebut. Bahkan, tidak lagi merasa bahwa itu penting untuk diingat. Bukankah ‘pelupaan massal’ ini juga terjadi di tempat-tempat lain, tidak terkecuali di tempat kita tinggal, di negara kita? Atau bahkan, di diri kita sendiri? ‘Pelupaan’ yang dituturkan oleh Kundera bisa menelusup hingga ke berbagai lapisan konteks. Sejarah umum maupun sejarah individu. Dan, memang demikianlah sepertinya yang ia tuliskan di dalam The Book of Laughter and Forgetting. Kundera menuliskan bagaimana manusia-manusia dibuat lupa oleh sejarah kota dan bangsa mereka sendiri, dan tentu saja, ‘pelupaan’ ini bukannya tidak dirancang dan direncanakan. Ingat kembali foto Klement Gottwald dan Vladimír Clementis, yang dimanipulasi setelah kudeta demi kepentingan ‘membentuk’ sejarah dan membuat orang-orang lupa pada elemen-elemen yang sebenarnya dan seharusnya muncul di foto tersebut.

Di samping bahasa yang mudah (saya membaca The Book of Laughter and Forgetting terjemahan bahasa Inggris dari versi Perancis) hal yang kentara dalam tulisan-tulisan Kundera adalah humor. Kundera punya selera humor yang menyenangkan. Pada bab ketiga, ‘The Angels’ yang pertama (karena ada dua kali ‘The Angels’) ia menuliskan semacam ‘sejarah tawa’, tentang bagaimana pada mulanya tawa ‘diciptakan’ oleh setan. Tawa setan adalah tawa yang asli, yang lepas, yang tulus. Sementara itu, kelompok malaikat yang tidak menyenangi tawa setan dan khawatir tawa tersebut semakin meluas, melakukan perlawanan dengan tawa versi malaikat, tawa yang digambarkan sebagai tawa beragenda. Saya membayangkan tawa malaikat seperti tawa karakter-karakter aristokrat atau orang super kaya di cerita-cerita komik atau anime. Kundera menuliskan bahwa, oleh malaikat, tawa setan dipandang sebagai ‘ancaman’ atas kebaikan, karena tawa tersebut membuat seseorang lupa. Lupa daratan, istilah yang kita pakai. Saya jadi teringat di dalam Islam pun dikatakan bahwa seseorang tidak boleh tertawa terlalu lebar, ngakak, karena pada momen itu setan dapat masuk ke dalam dirinya. Saya tertawa berkali-kali membaca bagian ini.

Selain humor, yang menyenangkan dari cerita-cerita Kundera adalah kenyataan bahwa cerita-cerita tersebut tetap dapat dinikmati walau kita tidak mengetahui konteks atau peristiwa aktual atau wacana yang melandasi cerita tersebut. Walau kita tidak tahu tentang sejarah pendudukan Rusia atas Ceko dan tahu hanya sedikit tentang perang dunia dan wacana komunisme, kita tetap dapat menikmati cerita-cerita Kundera, setidaknya sebagai sebuah cerita. Saya kira, salah satu ciri cerita yang baik adalah cerita yang tetap dapat dinikmati meskipun si pembaca tidak memiliki wawasan kontekstual atas cerita tersebut. Tentu saja, cerita yang baik juga adalah cerita yang jikalau si pembaca memiliki wawasan kontekstual atas cerita tersebut, ia akan mendapatkan pembacaan yang lebih lengkap, luas, dan dalam. ***


21 Juni 2015

Seekor Burung Kecil Biru di Naha, Linda Christanty





PADA masa ketika hidup sudah sedemikian sulit dan setiap orang bersusah-payah mencari cara untuk menghibur diri sendiri, apa pentingnya menulis tentang konflik, kerusuhan, dan pembantaian manusia?

Tiga belas tulisan tentang konflik, tragedi, dan rekonsiliasi dalam kumpulan feature Linda Christanty, Seekor Burung Kecil Biru di Naha, membantu saya untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Saya membaca “Berdamai dari Bawah”, sambil membayangkan suasana di halaman Rumoh Geudong di desa Billie Aron, Teupin Raya, Aceh, yang seperti disebut di dalam tulisan, terkenal sebagai tempat penyekapan dan penyiksaan di masa Aceh berstatus Daerah Operasi Militer atau DOM. Dialog-dialog dengan Khatijah binti Amin, seorang perempuan Aceh yang ditangkap tentara karena suaminya anggota pasukan Hasan Tiro, pencetus Gerakan Aceh Merdeka (GAM), dengan sendirinya membangun visual yang mencekam di kepala, menampakkan kekejaman dan kepedihan. Juga percakapan-percakapan dengan Nurhaida, Sanusi, Saliza, Zubaidah, Beniati, Marhamah, Dwi-semuanya warga Aceh-tentang peristiwa pembakaran, penembakan, yang terbungkus isu-isu konflik etnis dan agama.

Kisah yang agak komikal tentang kepongahan Panglima Amir, seorang laki-laki Bangka mantan pejabat kolonial Belanda pada tahun 1830, dituturkan lewat tulisan “Panglima Amir dan Ayamnya”. Perseteruan Panglima Amir dengan seorang lanun yang dipicu oleh kekesalan dan rasa iri pada seekor ayam jantan raksasa, kemudian berkembang menjadi adegan penghancuran dan perbudakan orang-orang Bangka oleh Panglima Raman, seorang anak dari saudagar Bugis-Wajo, bersama Punggawa Sengkang, seorang pedagang budak dari Makassar.  “Kakek Saya, Opa Manusama, dan Opa Willem” mengungkap kisah perjuangan orang-orang pascaproklamasi di Pulau Bangka, yakni perlawanan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terhadap tentara Nederlandsch Indië Civil Administratie (NICA) dan Tentara Tionghoa Indonesia (TTI).

Berjalan ke bagian Timur dari Indonesia, kekerasan hinggap di Maluku, dan diceritakan dalam tulisan “Percik Api di Timur”. Ini feature terpanjang dalam buku Seekor Burung Kecil Biru di Naha. Isinya tentang bagaimana persoalan perselisihan batas-batas wilayah tinggal antara orang-orang Makian dan Kao di Halmahera Utara berkembang menjadi konflik antaragama.

Tidak hanya konflik di dalam negeri, Linda Christanty juga menuturkan konflik serupa yang terjadi di luar negeri.

Seperti kisah seorang perempuan India bernama Irom Sharmila. Dalam “Mendengar Bisikan Sungai Brahmaputra”, Linda, lewat mulut orang-orang yang ia temui di sebuah festival sastra di Guwahati, Assam, India, menceritakan bagaimana Sharmila melawan hukum darurat militer dan melayangkan protes terhadap pembunuhan orang-orang tak bersalah oleh aparat bersenjata di Manipur. Dalam “Karbala”, Linda menuturkan secuplik peristiwa yang barangkali menjadi awal mula perseteruan dua mazhab di agama Islam, Sunni dan Syi’ah.

“Seekor Burung Kecil Biru di Naha” menampilkan sebuah percakapan dengan Akiko, seorang warga Jepang, tentang pendudukan Jepang atas negara-negara Asia, termasuk bagaimana ratusan ribu perempuan Indonesia dijadikan budak seks atau jugun ianfu. Kehancuran Partai Komunis Thailand (PKT) meluncur dari bibir seorang perempuan berusia setengah abad bernama Punne Suangsatapananon, ditulis Linda dalam “Kenangan Punne”, yang dibumbui sedikit kisah cinta, karena pacar Punne adalah anggota PKT yang ditangkap dan dibunuh oleh tentara pemerintah.

Rudolf Hess, petinggi Nazi dan wakil Hitler, tidak luput dari catatan Linda, dan kisah di penjara Spandau dan pembantaian yang ia lakukan direkam dalam tulisan “Tentang Dua Tragedi: Masa Nazi di Jerman dan 1965”-tulisan ini juga mengungkap bagaimana Suharto, setelah kejahatan kemanusiaan yang ia lakukan semasa hidup, mati tanpa pernah diadili, bahkan dikenang sebagai ‘Bapak Pembangunan Nasional’. Sebagai penutup, “Continental Club” ditulis untuk menggambarkan sejarah dan konflik di kota-kota selatan di Amerika Serikat, termasuk di dalamnya terdapat peristiwa pembunuhan John F. Kennedy, juga tentang Benteng Alamo di Texas, sebuah bangunan yang dibangun pada 1718 untuk melindungi para misionaris dari serangan orang-orang Indian.

Nuansa agak berbeda dari tulisan-tulisan Linda mengenai konflik antaretnis, antaragama, maupun antarbangsa (yang di dalamnya terdapat peran militer, wacana politik, dan kawan-kawannya) terdapat pada tulisan berjudul “Rumah Bagi Mereka yang Tua”. Kali ini, yang lebih terasa adalah suasana sentimentil yang amat personal. Meski ceritanya bersifat pribadi, tapi siapapun anak rantau yang membacanya, saya yakin akan merasakan melankoli serupa: rindu pada kampung halaman, rindu kembali kepada orangtua. Begitu pula pada “Nama Saya Wanda”, tidak terdapat adegan-adegan pembantaian atau konflik antaragama maupun antaretnis di dalamnya, melainkan konflik di dalam diri seorang transgender dan keluarga tempat ia lahir, yang tidak kalah rumit dan pelik dari konflik perang antarbangsa maupun dunia.

Tulisan-tulisan Linda Christanty amat jernih, teratur, dan mudah dibaca. Sesekali ia membuka narasinya dengan deskripsi, yang membuat kita membayangkan sebuah tempat, di mana tempat tersebut ternyata memiliki sejarah kekerasan. Di waktu lain, Linda mengantarkan kita ke dalam premis-premisnya menggunakan pernyataan-pernyataan, yang meski dituturkan tanpa berapi-api, lembut, nyaris terasa datar, tetap membawa ketegasan yang kuat, yang menjelaskan posisinya dalam setiap peristiwa-peristiwa yang ia catat dan kabarkan.

Ibarat api, kekerasan-dalam wujudnya yang samar dan kerap menyaru ke dalam identitas sehingga membuat manusia membunuh sesamanya hanya karena perbedaan suku bangsa, ras, atau agama-tidak pernah puas hanya berkobar di satu tempat. Konflik telah pecah sejak berabad-abad yang lalu, dan dalam rentang masa yang teramat panjang itu, kekerasan telah melompat dari satu bagian dunia ke bagian dunia yang lain, menghantam satu bangsa ke bangsa yang lain. Namun, jika kita ingin menatap dengan mata yang jernih, seringkali akar kekerasan yang sesungguhnya bukanlah perbedaan identitas. Masalah sebenarnya dari setiap konflik bukanlah persoalan etnis, agama, atau bangsa, melainkan seringkali terjadi karena provokasi dan hasutan oknum-oknum yang punya kepentingan pribadi-agenda-agenda politik. Konflik di banyak tempat di Indonesia ditunggangi dan diatur oleh kelompok-kelompok yang memiliki kekuasaan dan kekuatan untuk memecah-belah komunitas-komunitas di masyarakat yang tadinya hidup berdampingan dengan damai sentosa.

Membaca Seekor Burung Kecil Biru di Naha membuat saya menemukan sedikit jawaban tentang mengapa seseorang perlu mencatat, menelisik, mempelajari, dan mengabarkan peristiwa-peristiwa konflik dan kekerasan yang terjadi di mana saja, lebih-lebih di tempat tinggalnya sendiri. Pentingnya terus-menerus mengabarkan konflik lewat tulisan bukanlah untuk mengobarkan amarah terpendam di masa lalu, apalagi menyulut kembali api sentimen negatif antarkelompok yang pernah bertikai, melainkan untuk senantiasa mengingatkan kepada setiap dari kita bahwa kekerasan tidak pernah menyenangkan. Bahwa ada yang menghendaki kita saling membunuh. Bahwa selama kita masih berpikir kekerasan merupakan solusi atas masalah-masalah pelik, maka kedamaian akan selamanya menjadi utopia. ***

7 Juni 2015

Metafora Padma: Koran Tempo, 7 Juni 2015




Cerita pendek terbaru saya, “Metafora Padma” dimuat di Koran Tempo, Minggu 7 Juni 2015. Jika teman-teman ingin membaca, silakan cari korannya.

Selamat hari Minggu.

- BB