28 Oktober 2015

To Kill A Mockingbird, Harper Lee




Seratus lima puluh halaman pertama novel ini membuat saya bosan. Alur yang lamban dan arah cerita yang tidak jelas mau ke mana, mau tidak mau memancing saya berpikir keras mengapa novel ini menjadi salah satu novel terbaik dunia sepanjang masa. Saya menunggu dan menunggu dan setiap sepuluh halaman, saya menghela napas panjang, mencoba menahan diri untuk tidak menutup buku dan mengembalikannya ke rak di kamar saya. Untungnya, seperti yang sering terjadi, rasa penasaran saya lebih kuat daripada rasa bosan yang telah mendera sejak halaman pertama. Bermodalkan rasa penasaran tersebut, saya melanjutkan membaca buku pertama dan satu-satunya-sebelum lima puluh tahun kemudian prekuelnya terbit-dari penulis Amerika ini, yang sempat diganjar Pulitzer Prize tahun 1961. Novelnya sendiri terbit tahun 1960.

Harper Lee lahir tahun 1926 di Monroeville, Alabama, Amerika Serikat; ia juga bertumbuh besar di sana. Maycomb County, kota imajiner dalam To Kill A Mockingbird yang menjadi sentral seluruh cerita, disepakati oleh banyak orang diciptakan Lee berdasarkan tempat kelahirannya sendiri. Kota itu digambarkan sebagai kota yang penduduknya memiliki ciri khas masing-masing dan ciri khas tersebut lama-lama menjadi stereotipe, bahkan kemudian menjelma tuntutan bagi keturunan termuda untuk bersikap sebagaimana keluarganya dikenal.

Scout Finch, seorang gadis cilik yang menjadi tokoh utama novel, misalnya, di satu bagian diberitahu oleh anggota keluarganya untuk “Berkelakuanlah seperti seorang Finch.” Begitu pula dengan keluarga lain, yang telah mewarisi secara turun-temurun cara bersikap, karakter, termasuk hal-hal buruk yang telah dihapal seisi Maycomb County. Maka, adalah sah bagi seseorang menganggap jika kau seorang bernama belakang Cunningham, maka kau pasti miskin dan tidak mampu membayar makananmu sendiri. Menarik ketika saya tiba-tiba menyadari bahwa bisa saja Harper Lee menggunakan stereotipe pada keluarga-keluarga di Maycomb County sebagai pengantar menuju isu inti yang ia ingin angkat: rasisme.

Maksudnya begini, jika kau Cunningham dan berarti kau miskin, Crawford berarti kau tukang gosip, apakah itu berarti jika kau berkulit hitam maka kau pasti melakukan hal-hal menjijikkan yang dapat dilakukan seorang manusia, seperti misalnya mencari kesempatan memperkosa wanita berkulit putih?

To Kill A Mockingbird berjalan lamban bagi saya, sampai bagian pertama selesai dan bagian kedua dimulai. Atticus Finch, ayah Scout Finch, adalah pengacara. Ia sedang menangani kasus yang menimpa Thomas Robinson, seorang budak kulit hitam. Dari sini tempo cerita meningkat. Konflik barulah terasa, dan ketegangan terbangun. Salah satu bagian paling saya suka di novel ini adalah persidangan Atticus Finch. Semua orang tahu bahwa belum pernah tercatat dalam sejarah seorang budak kulit hitam menang dalam persidangan orang kulit putih. Meski demikian, Atticus Finch memberikan ‘perlawanan’ sengit bagi pihak pelapor, kelarga Ewell, yang salah satu anggota keluarganya, Mayella Ewell, mengaku telah diperkosa oleh Tom Robinson. Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan Atticus kepada saksi-saksi dari pihak lawan. Lantai bawah ruang sidang diisi hanya orang-orang kulit putih dan di balkon berdiri orang-orang kulit hitam, semuanya menyimak jalan persidangan dengan perasaan yang sama seperti saya: tegang.

Saya sudah lupa bahwa novel ini sempat membuat saya bosan di seratus lima puluh halaman pertamanya. Akhirnya, saya dapat membaca hingga selesai.

Bagi saya, hal menarik dari To Kill A Mockingbird bukanlah isu rasisme yang ia usung, melainkan hal-hal lain yang ada di dalamnya. Misalnya soal parenting. Saya suka melihat bagaimana Atticus Finch mendidik anak-anaknya dengan selalu meladeni dan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka-yang seperti anak-anak umumnya, merupakan pertanyaan-pertanyaan ‘dewasa’ melebihi usia mereka-tanpa berbohong. Misal saat Scout bertanya kepada Atticus, apa itu ‘rape’. Atticus juga mendidik anak-anaknya untuk bertanggungjawab dan ia senantiasa bersikap fair kepada Scout dan Jem Finch.

Meski bukan satu-satunya karakter favorit saya, Atticus Finch memang menarik banyak simpati. Ia laki-laki yang, tidak hanya dapat diteladani perilakunya sebagai orangtua, tetapi juga sikapnya sebagai manusia. Atticus berada pada posisi sulit. Ia orang kulit putih yang menjadi kuasa hukum budak kulit hitam. Ia seperti mengerjakan pekerjaan ‘kotor’, begitu orang-orang Maycomb County memandangnya. Ia juga dianggap pengkhianat karena tindakan pembelaaannya itu. Meski demikian, Atticus tidak pernah kehilangan empati dan sikap adilnya terhadap setiap orang yang ia kenal. Ia sama sekali tidak tampak marah atau kesal, apalagi ingin membalas, saat pasca persidangan Thomas Robinson, Mr. Robert Ewell memakinya di dekat kantor pos dan meludahinya. Anak-anaknya tidak menyukai hal tersebut tapi Atticus hanya berkata kepada mereka bahwa Mr. Ewell telah melalui hidup yang sulit dan di persidangan, Atticus telah membuatnya kehilangan harga dirinya di depan banyak orang, sehingga wajar Mr. Ewell melakukan hal itu terhadapnya.

To Kill A Mockingbird adalah novel tentang praduga. Tentang bagaimana manusia kerap membangun sangkaan-sangkaan dalam kepalanya terhadap manusia lain, dan ini seringkali terjadi karena kita tidak pernah benar-benar mengenal orang yang kita ‘dakwa’. Dan, sesering itu pula, dakwaan kita keliru. Harper Lee menunjukkannya lewat karakter-karakter seperti Mrs. Dubose yang kerap menyumpahserapahi Atticus kepada Scout dan Jem karena ayah mereka membela budak kulit hitam, namun ternyata Mrs. Dubose menyiapkan hadiah manis buat Jem setelah ia meninggal dunia. Ada pula Nathan “Boo” Radley, yang semenjak bagian awal novel digambarkan seperti orang gila yang mengurung diri di rumahnya selama puluhan tahun, ternyata adalah orang yang, seperti kata Scout, “…he was real nice.” dan sebagai respons ucapan anaknya tersebut, Atticus Finch berkata, “Most people are, Scout, when you finally see them.

Yang membuat To Kill A Mockingbird bertahan hingga setengah abad adalah, saya kira, pesannya yang sangat universal. Isu rasisme tidak hanya terjadi di Amerika dan dengan demikian novel ini tidak hanya relatable dengan kondisi manusia-manusia di Amerika pada masa dulu hingga sekarang, melainkan seluruh orang. Lebih dari sekadar rasisme, seperti saya sebut sebelumnya, bahwa novel debut Harper Lee ini adalah tentang praduga. Kita tahu sama tahu, praduga tumbuh dan bermukim di balik tengkorak kepala kita. Bukan hanya persoalan kulit hitam dan kulit putih, tapi juga praduga yang melekat pada identitas-identitas lain: etnis, agama. Praduga-praduga terhadap identitas seorang manusia, terutama praduga yang buruk, sering menjadi bibit tumbuhnya konflik. Berapa kali konflik horisontal terjadi akibat penajaman stigma dan tidak dikelolanya praduga dalam tiap-tiap kepala manusia?


Hal terakhir dari novel ini yang menarik perhatian saya: bagaimana penulisnya memilih tokoh utama seorang gadis kecil. Scout Finch, saya kira, menjadi metafor yang digunakan Harper Lee untuk menunjukkan kemurnian dan kejernihan mata seseorang dalam memandang orang lain dan dunia. Anak kecil tidak bermain dalam praduga, mereka berkenalan dan bermain dengan siapa saja yang mereka senangi, siapapun mereka dan beragama apapun mereka. Orang dewasa lah yang merepotkan dirinya sendiri dengan praduga-praduga. ***

24 Oktober 2015

Jika Aku Milikmu: Cetakan ke-2


Hore!


Alhamdulillah, belum sampai dua minggu sejak rilis, Jika Aku Milikmu masuk cetakan ke-2.

Dalam cetakan kedua, ada beberapa bagian yang mengalami perbaikan. Tentu tidak mengubah jalan cerita, hanya sedikit koreksi di satu-dua titik, agar lebih baik dari cetakan sebelumnya.

Bagi teman-teman yang belum dan ingin memilikinya, hingga hari ini (24 Oktober 2015) Jika Aku Milikmu sudah tersedia di toko buku Gramedia di daerah Medan, Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Bandung, Jogja, Solo, Semarang, Purwokerto, dan Surabaya. Semoga teman-teman masih bisa mendapatkan cetakan pertamanya. Kalau tidak, terutama di kota-kota selain yang sudah saya sebutkan, teman-teman akan bertemu dengan Jika Aku Milikmu cetakan kedua.

Jika Aku Milikmu juga bisa langsung dipesan di beberapa toko buku online, di antaranya: Bukabuku, Bukubukularis, Demabuku, dan Kutukutubuku. Kamu akan mendapatkan buku bertandatangan dan bonus stiker berilustrasi kalau membeli Jika Aku Milikmu di toko buku online tersebut.

Jangan lupa kirim fotomu bersama Jika Aku Milikmu ke twitter saya, @benzbara_.

Terima kasih!

~ Bara

17 Oktober 2015

Jika Aku Milikmu: Kegagalan dan Penebusan



Di Balik Penulisan “Jika Aku Milikmu”


*

Semuanya bermula dari ajakan Widyawati Oktavia, editor Penerbit GagasMedia. Kepada saya, Iwied, begitu kami akrab memanggilnya, ia mengundang untuk menulis satu novel dalam proyek seri dari GagasMedia bertajuk "Indonesiana". Saat itu, kalau saya tidak keliru mengingat, adalah penghujung tahun 2012. Ajakan itu saya iyakan, akan tetapi saya gagal memenuhi tenggat yang diberikan Iwied dan GagasMedia.

Waktu itu, saya sudah menulis sebagian dari novel tersebut: sebuah cerita cinta berlatarkan kota kelahiran saya, pontianak. tokohnya: Sarif dan Nur. Dalam seri novel tersebut, ada kira-kira enam penulis yang bergabung. Ketika itu, Tampaknya saat itu manuskrip dari penulis lain sudah terkumpul, sementara saya belum menyerahkan apapun ke Iwied. Karena merasa tidak dapat merampungkan naskah dalam waktu dekat, dan lagipula tenggat waktu sudah saya terabas hingga jauh, akhirnya saya memutuskan untuk mundur dari proyek “Indonesiana”.

Berselang kurang-lebih satu tahun dari itu, Iwied mengirimi saya surel. Isinya, sebuah ajakan lain. GagasMedia sedang akan menggarap proyek seri novel baru, kali ini bertajuk “Love Cycle”, konsep besarnya adalah enam orang penulis menulis masing-masing satu novel cinta, yang jika konflik utama novelnya dirangkai, akan membentuk suatu siklus relationship. Selain karena tertarik dengan konsepnya, saya merasa ingin menebus kegagalan saya di proyek sebelumnya. Tanpa berpikir dua kali, saya menyanggupi undangan Iwied untuk menulis satu novel di seri “Love Cycle”.

Tentu saja saya meneruskan manuskrip sebelumnya yang belum rampung dan pada awalnya ditulis untuk masuk ke dalam seri “Indonesiana”. Saat itu manuskrip tersebut berjudulkan nama dua tokoh utamanya: Sarif, dan Nur. Karena konsep seri novelnya berubah, maka nuansa kontennya pun bergeser. Dari yang tadinya saya berniat untuk mengisi cerita “Sarif & Nur” dengan banyak aspek budaya Melayu Pontianak (lokalitas), berubah jadi berfokus pada konflik relationship tokoh-tokohnya, romance-nya, meski cerita tetap berlatarkan Kota Pontianak.

Saya memulai pengerjaan “Sarif & Nur” pada Januari 2014. Ketika itu, saya berstatus sebagai karyawan. Ini kali pertama saya menjadi karyawan, memiliki jam kantor, dan mau tidak mau membuat pola kerja saya dalam menulis jadi berubah. Tadinya saya bisa menulis kapanpun, biasanya siang hingga sore hari (walau sesekali saya menulis pada malam hari). Namun, saat menggarap “Sarif & Nur”, saya hanya bisa memanfaatkan waktu selepas berkantor, yakni di atas pukul enam petang.

Selama enam bulan, saya mendisiplinkan diri, menulis satu halaman demi satu halaman. Dimulai pada bulan pertama 2014, berakhir pada penghujung Mei 2014. Draf pertama masih saya utak-atik sendiri karena, seperti biasanya, amat berantakan. Draf kedua selesai beberapa minggu setelahnya, dan barulah draf tersebut berani saya serahkan ke Iwied. Manuskrip utuh “Sarif & Nur” (Jika Aku Milikmu) pun resmi berada di tangan penerbit.

Yang saya kerjakan berikutnya adalah: menunggu.

Saya menunggu sambil bekerja sebagai editor di Penerbit GagasMedia, tempat yang juga akan menerbitkan manuskrip novel terbaru saya ini. Dalam tahap menunggu, saya sempat menerbitkan satu buku di GagasMedia, kumpulan cerita Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri (cerita tentang proses terjadinya buku ini dapat dibaca di sini). Barulah ketika tiba pertengahan tahun 2015, ketika saya tidak lagi bekerja di GagasMedia, saya mendapat kabar terbaru tentang manuskrip “Sarif & Nur”. Kabar dari Iwied: novel tersebut segera terbit.

*

Tidak ada hambatan yang begitu berarti dalam pengerjaan novel terbaru saya ini, kecuali beberapa pertimbangan seputar muatan ceritanya: apakah akan banyak mengangkat budaya Melayu Pontianak, seperti yang tadinya saya niatkan, atau mengesampingkan soal lokalitas dan berfokus pada konflik cinta tokoh-tokoh utamanya. Saya memutuskan untuk melakukan yang terakhir. Yah, sebenarnya bisa-bisa saja menggarap keduanya. Namun, ada sedikit persoalan yang membuat saya tidak memilih memperbanyak muatan ‘lokalitas’ di novel terbaru saya tersebut. Tentang ini, barangkali kita akan membicarakannya lebih panjang di kesempatan lain.

Pendek kata, Jika Aku Milikmu siap terbit. Awalnya, buku kedelapan saya ini akan berjudul “I Fall For You”, mengikuti dua buku sebelumnya dalam seri “Love Cycle” GagasMedia. Namun, di detik-detik terakhir, penerbit memutuskan sedikit mengubah konsep buku, dengan: 1. Mengubah judulnya menjadi berbahasa Indonesia, dan 2. Mengubah konsep sampulnya. Jadilah akhirnya buku saya masuk ke dalam “Love Cycle: Season 2” bersama satu buku dari penulis lain. Versi akhir dan final buku terbaru saya menjadi berjudul, Jika Aku Milikmu.

Ini penting untuk disampaikan juga: Saya menyukai perubahan tersebut di atas.

*

Tentang apa itu isi Jika Aku Milikmu, kamu bisa membacanya di sini. Satu-satunya yang penting saat ini yang ingin saya kabarkan adalah: Buku ini dicetak hanya 2.500 eksemplar, untuk cetakan pertamanya. Ini terus terang jauh lebih sedikit dari buku-buku saya sebelumnya. Sebagian dari jumlah tersebut sudah didistribusikan, dan kini tersedia dan dapat dibeli di sejumlah toko-toko buku online, seperti dalam daftar di sini. Sisanya, barulah disebar ke toko-toko buku jaringan di seluruh Indonesia (Gramedia, dan kawan-kawan).

Apa informasi penting yang perlu teman-teman ketahui tentang jumlah eksemplar cetakan pertama tersebut? Yaitu bahwa stok buku yang akan tersedia di toko buku Gramedia dan teman-temannya akan sangat sedikit, setidaknya lebih sedikit dari yang sebelum-sebelumnya. Jadi, saran saya, bersiaplah untuk menyambangi toko buku terdekat, sesaat setelah mendapat informasi bahwa Jika Aku Milikmu sudah tersedia di sana. Jangan sampai kehabisan.

Saran saya, kamu memesan di toko-toko buku online, untuk menghindari kehabisan stok di Gramedia. Bagi yang memesan secara online, akan mendapatkan Jika Aku Milikmu edisi bertandatangan resmi, plus selembar stiker dengan ilustrasi manis bertuliskan penggalan kalimat dari bukunya. Sekali lagi, kamu dapat memesannya di toko-toko buku online di daftar ini.

*

Akhirnya, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada kamu yang telah membeli dan membaca Jika Aku Milikmu. Bagi yang belum, jangan sampai kehabisan bukunya ya. Saya menunggu komentarmu tentang buku tersebut di halaman Goodreads Jika Aku Milikmu. Bagi yang sudah memilikinya, mention saya di Twitter, unggah foto kamu dengan bukunya, dan saya akan memasang fotomu jadi profile picture Twitter saya: @benzbara_.

Selamat berburu, dan selamat membaca Jika Aku Milikmu!



~ Bara

15 Oktober 2015

6 Hal Penting Tentang Menulis


Teju Cole


Materi ini saya sampaikan kali pertama di kelas menulis fiksi di Comic Cafe, Tebet, Jakarta, hari Sabtu yang lalu (10/10). Hal-hal di bawah ini saya sarikan dari '8 letters to a young writer', Teju Cole. Saya belum pernah membaca buku Teju Cole, tapi saya membaca tulisannya tersebut tentang penulisan, dan banyak poin yang saya sendiri sepakati karena sesuai dengan pengalaman dan visi saya dalam menulis.

Berikut adalah hal-hal penting yang dibutuhkan seorang penulis untuk membuat tulisannya kuat dan berkesan:


1. Simplicity (simplisitas berbahasa)

Kalau kita bisa mengungkapkan sesuatu dengan kata-kata yang sederhana, tidak perlu menggunakan kata-kata rumit. 'Never use big words where small ones will do,' kata George Orwell, ketika ia dikritik William Faulkner atas kesederhanaan kosakata pada tulisannya. Orwell bukan tidak bisa merancang metafora rumit atau menggunakan pilihan kata canggih, tapi ia memilih kata-kata yang ampuh, dan yang ampuh bagi Orwell adalah kata-kata yang sederhana.

Kata-kata yang sederhana membuka ruang untuk mempertajam gagasan. Dan, itulah yang harus dilakukan penulis: pertajam gagasan ceritanya. Tentu saja metafora tidak dilarang, bahkan itu menunjukkan kejeniusan si penulis. Akan tetapi, kata-kata yang canggih tidak semestinya dipakai hanya untuk menutupi ketidakmampuan penulis mengungkap dan mempertajam gagasannya dengan bahasa yang jernih.

Kikis segala macam distorsi dan 'noise' yang tidak perlu. Sampaikan gagasan yang tajam dengan bahasa yang jernih. Ketika menulis, be clean and direct.


2. Freedom (kebebasan cara menulis)

Dengarkan tips menulis dari saya, lalu lupakan. Seperti yang pernah saya singgung sebelumnya, pada akhirnya setiap penulis mesti menemukan jalan heningnya sendiri, menemukan gaya dan visinya masing-masing, mengenakan 'pakaian' yang pas dan cocok dengannya.

Menulis adalah mempelajari dasar-dasar penulisan, berlatih terus-menerus, kemudian 'bend the rules'. Ubah aturannya, berontaklah, berinovasi, dan bereksperimen.


3. Voice (membangun karakter khas pada narator)

Simplitas bahasa dan gagasan yang kuat kadang-kadang tidak cukup untuk membuat seorang pembaca menyukai tulisan kita. Yang membuat satu penulis dengan penulis lain berbeda adalah 'karakter' tulisan.

Tidak cukup memiliki teknik bernyanyi yang mumpuni, seorang penyanyi menjadi mencolok di antara penyanyi lainnya karena dia punya 'timbre', warna suara. 'Voice' yang dimaksud di sini adalah 'timbre' tersebut. 'Warna suara' pada narasi yang membuat narasi seorang penulis berkarakter dan mudah diingat.

Apakah narator dalam tulisan kita seorang pengamat, penggerutu, tukang bercanda, orang yang cuek, atau bahkan terlalu peduli? 'Karakter' narator akan mengeluarkan voice itu, dan karakter adalah yang kita butuhkan untuk membuat pembaca mengenal dan mengingat gaya menulis kita.


4. Inwardness (memasuki inner-self karakter)

Seorang penulis menulis buku berdasarkan pengalamannya sendiri. Tetapi, mengapa kita bisa merasa seakan-akan teks tersebut ditujukan untuk kita, personally, atau bahkan ditulis berdasarkan cerita hidup kita sendiri? Ini yang disebut dengan universalitas karakter.

'Relatable', atau perasaan keterkaitan pada satu tokoh atau satu cerita adalah yang membuat kita menyukai buku, bukan begitu? Perasaan keterkaitan itulah pula yang perlu kita munculkan dalam cerita yang kita tulis.

Untuk melakukannya, kita perlu masuk sangat dalam ke alam pikiran karakter, dan menghindari 'archetype' atau membuat karakter-karakter 'template'. Manusia memang memiliki sifat-sifat yang kadangkala mirip, tetapi perlu diingat pula bahwa manusia juga sekaligus unik, punya pikirannya sendiri dan jalan hidup yang tidak bisa disamakan dengan yang lain.

Buatlah karakter yang tidak terlampau 'jamak' sehingga semua orang bisa dengan mudah mengenalnya, tetapi juga tidak terlalu 'unik' sehingga semua orang merasa asing dengannya.


5. Artistry (menyerap pelajaran dari seni lain)

Seperti manusia tidak dapat bertahan hidup hanya dengan mengonsumsi satu macam makanan, penulis juga tidak bisa berkembang hanya dengan membaca buku. Cabang seni lain akan memberi kontribusi yang beragam dan sangat bermanfaat untuk kemampuan menulis.

Dari film, kita bisa belajar bagaimana menulis cerita yang tidak bertele-tele, penyuntingan yang ketat, dan dengan demikian merancang alur cerita yang efektif. Dari musik, kita bisa belajar menulis menggunakan pola: intro, verse, bridge, refrain, verse, bridge, refrain, outro, coda; ini berguna untuk merancang ketegangan-relaksasi alur cerita.


6. Observation (melihat hal sehari-hari lebih dekat)

Salah satu kerja besar seorang penulis adalah menangkap apa yang dilewatkan oleh orang lain. Dalam adegan sehari-hari, sesungguhnya banyak hal yang menarik jika saja kita ingin berhenti sejenak melakukan kesibukan kita sendiri, lalu melemparkan pandangan ke satu sudut dan mengamatinya dengan lebih dekat.

Di kota/desa mana kita tinggal? Apa yang kita ketahui tentang tempat tinggal kita sendiri? Jika kita ingin memikirkannya, kita akan takjub betapa kita tidak begitu mengenal tempat tinggal kita sendiri. saat duduk di sudut kafe, layangkan pandangan ke para barista yang sedang sibuk, atau seorang lelaki tua membaca koran sendirian; apa yang sedang mereka pikirkan? Apa masalah yang tengah mereka hadapi? Bagaimana kehidupan percintaan mereka?

Masuk ke dalam keseharian, ambil jarak dan amati hal-hal di luar diri kita. Tangkap apa yang terlewat. Look closer.


Semoga berguna.


Terima kasih.

~ Bara

13 Oktober 2015

How To Keep The Readers Reading




How To Keep The Readers Reading, atau bagaimana membuat pembaca betah membaca cerita yang kita tulis.

Ringkasan materi ini saya sampaikan di kelas menulis tempo hari di Tebet, Jakarta. Seperti sempat saya ocehkan sebelumnya, pada dasarnya kelas menulis adalah ruang untuk memberi alternatif, bukan menjejalkan pakem. Begitu pula apa yang saya sampaikan dalam materi kelas tempo hari (berikut ini), juga adalah alternatif.

Berikut 8 tahap membuat cerita yang menarik:


1. Begin With A "Chaos"

mulailah ceritamu dengan 'kekacauan'. dengan begitu, pembaca langsung tertarik dan perhatian mereka langsung terebut, begitu membaca paragraf pertama.

2. Then, Slow It Down

Setelah adegan pertama yang mengandung konflik, langkah berikutnya, hilangkan chaos-nya. Perlambat tempo cerita. Misal, di bagian ini bisa kita isi dengan flashback, untuk merunut kenapa kekacauan yang muncul di adegan pertama bisa sampai terjadi.

3. Give Background

cerita yang baik adalah cerita yang berlapis. berikan latar belakang  (back story) terhadap adegan-adegan dan kepribadian tokoh: ungkap kenapa mereka bisa memiliki sifat seperti itu, atau memutuskan melakukan suatu tindakan. bangun cerita pendukung.

4. Raise the Tension

Setelah tadi tempo cerita relatif santai, sekarang naikkan lagi tensi. Munculkan kembali ketegangan di tengah-tengah cerita. Seni bercerita adalah seni mengatur ketegangan dan berdiri di antara kontraksi dan relaksasi. Pembaca perlu dibuat tegang, juga butuh diberi ruang bernapas. Dinamika ini diciptakan agar pembaca tidak bosan dan tetap penasaran dan terus membaca.

5. Make it Worse

Kurt Vonnegut berkata, 'be a sadist'. Ketika memberi masalah terhadap tokoh kita, jangan langsung diselesaikan. Buat masalahnya jadi semakin buruk, keadaannya jadi tambah sulit, benar-benar terpojok, sampai-sampai tokoh itu putus asa, dan tidak tahu harus melakukan apa untuk menyelesaikan masalahnya. Buat seburuk mungkin, agar karakter/kepribadian asli dia keluar. Jangan tanggung-tanggung.

6. Reveal A Secret

Setiap manusia punya rahasia. Setiap rahasia selalu menarik untuk diungkap. Setelah cerita berjalan dengan cukup, keluarkan satu rahasia terdalam tokoh, yang menjadi motif terbesar mengapa ia melakukan apa yang ia lakukan. Kejutkan pembaca di bagian ini.

7. Bring It To The End, Make It 'Staccato'

Maksudnya staccato adalah, percepat tempo. Tek, tek, tek, tek. Bangun narasi dengan ketegangan yang semakin tinggi. Cepat, cepat, cepat.

8. Finish it, beautifully

Skhiri dengan cantik. Bayangkan seolah-olah seperti kita sedang menutup suatu pertunjukan sulap, kita harus menutupnya dengan megah dan spektakuler. Jika ingin akhir yang sedih, buat sangat sedih. Jika senang, amat bahagia. Jangan tanggung. Jangan ragu untuk mengakhirinya dengan tiba-tiba, karena dapat membuat tulisan meninggalkan kesan yang membekas. Namun, pastikan juga kalau kita berhasil menulisnya dengan bagus, sebelum memutuskan untuk mengakhiri cerita dengan tiba-tiba (kalau ceritanya jelek, menutup tiba-tiba justru bikin pembaca jengkel)

Sekian, semoga berguna.

Terima kasih.

~ Bara

10 Oktober 2015

Jika Aku Milikmu: Edisi Bertandatangan





Akhirnya, novel terbaru saya JIKA AKU MILIKMU sudah mulai dijual.

Di atas adalah daftar toko buku online yang menyediakan buku terbaru saya. Jika kamu membeli di toko-toko buku online tersebut, kamu akan mendapatkan edisi bertandatangan, plus bonus stiker-quote. Perlu diingat bahwa stok untuk buku edisi bertandatangan dan bonusnya ini amat terbatas. Jadi, silakan segera memesan sebelum kehabisan.

JIKA AKU MILIKMU akan tersedia di toko-toko buku jaringan (offline) seperti Gramedia dan kawan-kawannya dalam dua minggu hingga satu bulan ke depan.

Selamat berburu!

~ Bara



2 Oktober 2015

Jika Aku Milikmu Selesai Cetak



Gambar pertama buku terbaru saya, JIKA AKU MILIKMU, langsung dari gudang distributor. Akhirnya, buku ini selesai dicetak. Alhamdulillah.

Menurut penerbit dan distributor, Jika Aku Milikmu siap muncul di toko-toko buku mulai minggu depan. Biasanya, di minggu pertama akan hadir di wilayah jabodetabek. Dalam dua minggu, akan hadir di pulau Jawa. Kemudian, dalam tiga minggu sampai satu bulan, sudah siap dibeli di seluruh toko buku di Indonesia.

Semoga proses distribusinya berjalan lancar. Sampai bertemu dengan buku kedelapan saya!

~ Bara