19 November 2015

The Museum of Innocence, Orhan Pamuk




Seberapa lama seseorang dapat mempertahankan rasa cintanya, terutama ketika cinta tersebut tidak berakhir manis? Jawabannya adalah: sembilan tahun. Ya, selama itulah seorang laki-laki bernama Kemal, menjaga dan merawat cintanya terhadap seorang gadis bernama Füsun. Setidaknya, selama sembilan tahun itu Kemal mengalami masa-masa terberatnya dalam mencintai. Saya mendadak teringat pada sebaris puisi oleh salah seorang penyair favorit saya: Jatuh cinta dan mencintai adalah dua penderitaan yang berbeda. Saya ingat membaca larik tersebut dengan tersenyum, meski saya tidak paham apa arti senyuman saya sendiri.

Buku pertama Orhan Pamuk yang saya baca adalah My Name Is Red, dan saya sangat menyukainya. Novel itu bercerita tentang misteri pembunuhan seorang seniman, berlatarkan Turki abad keenambelas. Plotnya rumit, dengan sudut pandang penceritaan yang berpindah-pindah. Pamuk terlihat lincah sekali di novel tersebut. Sebaliknya, di The Museum of Innocence, novel pertama yang ia tulis setelah meraih penghargaan Nobel Kesusastraan 2006, ia tampak lebih santai, sederhana, dan tidak ambisius. Dapat dilihat dari minimnya akrobat sudut pandang, permainan diksi, atau pun muatan konflik sosial-politik seperti yang ia tulis dalam My Name Is Red (walaupun di akhir novel terdapat permainan sudut pandang dan di sepanjang cerita Pamuk sesekali menggambarkan suasana konflik politik di Istanbul, namun ini sedikit sekali porsinya dan tidak memberi dampak kentara terhadap plot utama cerita).

Seperti My Name Is Red (Turki: Benim Adım Kırmızı, terjemahan bahasa Inggris oleh Erdağ Göknar) saya juga membaca The Museum of Innocence dalam versi terjemahan bahasa Inggris-judul aslinya Masumiyet Müzesi. Sang penerjemah, Maureen Freely, juga mengalihbahasakan beberapa buku Orhan Pamuk yang lain: The Black Book, Snow, Other Colors: Essays and a Story, dan Istanbul: Memories and the City-yang terakhir merupakan memoar sang penulis, yang ia tulis pada masa-masa terberat dalam hidupnya, di antaranya karena perceraian dan kematian ayahnya. Membandingkan hasil terjemahan Erdağ Göknar untuk My Name Is Red dan Maureen Freely untuk The Museum of Innocence barangkali bukan tindakan yang tepat, karena muatan kedua novel tersebut berbeda, bahkan cukup kentara, baik dari sisi genre, isu, teknik, maupun tendensi sang pengarang. Namun, yang bisa saya katakan setelah membaca kedua novel itu adalah, terjemahan Maureen Freely jauh lebih mudah dipahami. Tentu saja sangat mungkin ini karena cerita The Museum of Innocence lebih sederhana jika dibandingkan My Name Is Red.

The Museum of Innocence, dalam bentuk maupun jiwanya adalah suatu novel roman. Ia mengisahkan cerita cinta pria berusia tigapuluhan yang datang dari keluarga kelas atas di Istanbul dengan seorang gadis dari keluarga sederhana, yang belakangan diketahui memiliki hubungan darah (walau hanya sepupu jauh) dengan si pria. Perbedaan kelas sosial dan ekonomi antara dua tokoh sentral novel ini memang akan dibahas, tapi ternyata tidak menjadi masalah yang amat penting. Konflik tetap berakar pada obsesi dan penderitaan si narator yang juga tokoh utama, Kemal. Rasa cintanya terhadap si gadis, Füsun, membuatnya mengalami masa-masa terberat dalam hidupnya.

Cerita dimulai dengan adegan percintaan Kemal dan Füsun di sebuah apartemen, yang kelak akan menjadi tempat Kemal menyimpan barang-barang yang ia ‘curi’ dari Füsun (juga, nantinya, dari rumah keluarga gadis itu). Adegan tersebut berlangsung pada pertengahan 1975-latar waktu ini nanti akan digunakan pula untuk, salah satunya, menggambarkan kondisi politik pada masa itu-dan dideskripsikan dengan sangat rinci. Saya bahkan bisa membayangkan suasana musim semi dan cuaca dingin di dalam ruangan tempat Kemal dan Füsun sedang bercinta, juga melihat sebelah anting-anting yang terlepas dan melayang di udara, jatuh dari telinga Füsun. Bab pertama novel diberi judul The Happiest Moment of My Life, dan kontradiktif terhadap paragraf terakhir bab tersebut, yang mana Orhan Pamuk segera memberitahu masalah yang dialami oleh tokoh utama novelnya, yakni bahwa ternyata Kemal, yang baru saja usai bercinta dengan Füsun, telah memiliki tunangan gadis lain. Bab demi bab berikutnya adalah tentang bagaimana Kemal menjalani hubungan terlarangnya dengan Füsun.

Meski di sepanjang cerita kita akan melihat kenestapaan Kemal karena cintanya terhadap Füsun merupakan hal yang terlarang, tidak lazim, dan terjadi pada waktu yang tidak tepat, pria tersebut terus-menerus berusaha menunjukkan kepada pembaca bahwa ia berbahagia dengan keadaan tersebut. Ia berbahagia dengan apa yang ia rasakan, cinta yang ia miliki terhadap Füsun, di samping rencana masa depan yang terpampang di hadapannya bersama tunangannya, Sibel. Orhan Pamuk memperlihatkannya melalui narasi sudut pandang pertama yang amat intim dan personal. Kemal menceritakan apapun yang ia pikirkan dan rasakan dengan amat rinci, sehingga meski ia menceritakan tuturannya kepada pembaca umum, saya merasa seperti sedang berhadap-hadapan dengan seorang kawan lama dan mendengarkannya berkisah tentang pahit-manis cinta yang ia alami.

The Museum of Innocence yang menjadi judul novel, adalah nama museum yang didirikan oleh Kemal. Alih-alih menghimpun benda-benda bersejarah, museum tersebut menyimpan barang-barang pribadi atau benda apapun yang memiliki keterkaitan dengan gadis yang ia cintai hingga akhir hayatnya, Füsun. Tentu saja, benda-benda pribadi itu juga bisa dianggap bersejarah, setidaknya bagi Kemal. Menariknya, seakan ingin bermain-main dan mengaburkan batas antara fiksi dan realitas, Orhan Pamuk juga mendirikan museum dengan nama yang sama. The Museum of Innocence adalah satu museum di Çukurcuma, Beyoğlu, salah satu distrik di Istanbul, Turki. Isinya juga sama seperti yang dibangun oleh Kemal dalam novel The Museum of Innocence, benda-benda milik atau yang memiliki hubungan dengan Füsun, sehingga membuat kita boleh bertanya apakah Füsun dan tokoh-tokoh lain di novel yang ditulis Pamuk adalah pseudonim dari orang-orang yang memang ada di dunia nyata. Tapi, tentu saja, ini tidak begitu penting.


Membaca The Museum of Innocence, pada beberapa bagian, mengingatkan saya dengan The Great Gatsby milik Fitzgerald. Kedua tokoh utama di novel tersebut, Kemal dan Jay Gatsby, sama-sama seorang pria kaya-raya yang mengalami kisah hidup tragis karena jatuh cinta. Hanya saja, jika Jay Gatsby pada awalnya berasal dari keluarga miskin, tidak demikian dengan Kemal. Kemal memang datang dari keluarga yang telah kaya, persis seperti Orhan Pamuk. Sekadar informasi, Pamuk sempat dikritik atas status sosial dan ekonominya. Ia dianggap tidak benar-benar memahami kehidupan rakyat Istanbul karena ia tidak pernah hidup susah, dan oleh sebab itu ia tidak berhak menulis apapun atau (sok) bersimpati terhadap rakyat Istanbul. Namun, Orhan Pamuk berkata di suatu wawancara, bahwa jikapun ada ‘tugas moral’ yang diemban oleh seorang penulis, itu adalah berempati pada orang-orang yang memiliki kondisi berbeda dengan dirinya. ***

9 November 2015

All the Light We Cannot See, Anthony Doerr




Saya selalu percaya bahwa penulis prosa yang baik adalah penyair yang baik. Atau, barangkali lebih tepat jika saya katakan begini: penyair yang baik memiliki modal untuk menjadi penulis prosa yang baik. Penyair memerlukan metafora, terutama yang segar, dalam usaha menyampaikan gagasan-gagasannya. Bisa dibilang metafora adalah senjata pamungkas seorang penyair. Dengan demikian, penulis prosa yang senang menulis puisi (atau mungkin memang juga seorang penyair) akan mengarang prosa dengan kosakata dan metafora yang segar, sehingga membuat tulisannya tidak hanya memiliki gagasan tajam sebagai kekuatan utama, tetapi juga pembangunan suasana adegan dan penggambaran situasi yang jauh dari kata ‘kering’. Itu adalah hal pertama yang terlintas di kepala saya, saat membaca novel All the Light We Cannot See, Anthony Doerr.

Anthony Doerr adalah pengarang berkebangsaan Amerika berusia 47 tahun dan sudah menerbitkan beberapa buku. Novelnya All the Light We Cannot See meraih penghargaan Pulitzer Prize tahun 2015. Dari beberapa ulasan dan wawancara tentang novel tersebut, saya mengetahui bahwa Doerr membutuhkan waktu tidak kurang dari sepuluh tahun untuk merampungkan novel itu. Sebagian dari waktunya ia gunakan untuk meriset Saint-Malo, kota lepas pantai di Prancis dengan tembok-tembok tinggi sebagai jubahnya, yang menjadi salah satu latar cerita di novel.

All the Light We Cannot See adalah novel multiplot. Beberapa alur berjalan secara paralel, namun plot utama adalah cerita tentang dua orang anak kecil (yang kemudian seiring cerita berjalan menjadi remaja) yang hidup semasa perang dunia kedua. Anak kecil pertama, Marie-Laure, adalah gadis Prancis. Ia buta. Ia tinggal berdua ayahnya, seorang juru kunci di suatu museum di Paris. Anak kecil yang satu lagi, Werner, adalah remaja Jerman. Ia menyukai elektronika dan hal-hal terkait gelombang suara, dan ia sangat menyukai radio. Werner kemudian menjadi anggota Hitler Youth, bersekolah, dan dikirim sebagai pasukan garis depan Jerman melawan Prancis. Cerita tentang Marie-Laure dan Werner berjalan masing-masing, hingga kelak di satu titik, karena perang, jalan hidup mereka bersinggungan.

Mengingat kembali paragraf pembuka tulisan ini, saya tidak tahu apakah Doerr juga seorang penyair, atau mungkin dia senang menulis atau membaca puisi. Yang jelas, All the Light We Cannot See adalah novel yang puitis. Barangkali, novel tentang perang dengan narasi paling puitis yang pernah saya baca sejauh ini. Doerr dapat menggambarkan peluru melesat, ledakan bom granat, bangunan-bangunan runtuh, asap membubung-situasi perang yang amat chaos-dengan cara sedemikian rupa lewat narasi yang terasa lembut dan mengalun karena dibungkus metafora dan pilihan kata yang membuat saya sering lupa bahwa adegan yang sedang saya baca adalah adegan peperangan. Chaos perang yang terdapat di dalam cerita bahkan, akibat cara menulis Doerr dan narasinya itu, seringkali malah terkesan ‘indah’. Untuk bagian ini, saya sempat teringat kepada satu novel dengan tema yang lebih kurang sama: The Book Thief karangan Markus Zusak. Doerr dan Zusak menuliskan suasana perang dengan cara yang mirip, meskipun Doerr terlihat lebih detail dalam menggambarkan objek-objek.

Namun, meski narasi Doerr puitis, ia sama sekali tidak menjadi lambat. Metafora yang ia pakai dan nuansa ‘lembut’ dari adegan-adegan cerita tidak membuat saya terseret-seret saat membaca novelnya. Terasa aneh memang. Biasanya narasi yang puitis membuat tempo pembacaan menjadi menurun, tapi saya berhasil menyelesaikan 530 halaman All the Light We Cannot See dalam waktu kurang dari seminggu. Bagi saya, itu termasuk cepat. Ketika saya mencari penyebabnya, mungkin karena selain puitis, narasi Doerr juga filmis. Deskripsi menjadi salah satu kekuatan novel Doerr. Ia seperti penulis yang senang mengumpulkan objek-objek dan kemudian menuangkan mereka ke dalam satu paragraf. Wawasannya yang komperehensif mengenai kota (Saint-Malo), perangkat radio, sains, dan bahkan burung-burung, ia tumpahkan ke paragraf-paragraf novel, membuat tulisannya penuh dengan benda-benda-tetapi tidak membuatnya sesak.

Sedikit menjadi kejutan, setidaknya bagi saya, adalah melihat bagaimana Doerr menggunakan elemen-elemen seperti mitos dan fantasi untuk membuat All the Light We Cannot See tidak berhenti sebagai sekadar novel realis lain tentang perang dunia kedua. Diceritakan sebuah batu permata yang dinamakan Sea of Flames, memiliki mitos kuno bahwa siapapun yang memiliki dan menyimpannya, akan hidup abadi, namun akan kehilangan orang-orang di sekelilingnya yang ia cintai. Seorang komandan pasukan Nazi Jerman yang terobsesi dengan batu permata memburu batu ini, yang disimpan di museum tempat ayah Marie-Laure, si tokoh utama novel, bekerja. Berkali-kali Doerr mengaitkan peristiwa kehilangan yang terjadi sepanjang novel dengan keberadaan batu permata ini (tidak saya ketahui apakah batu permata tersebut benar-benar ada atau tidak). Saya selalu tertarik dengan novel atau cerita-cerita yang memadukan unsur realis dan unsur-unsur ‘tidak realis’ seperti mitos, legenda, atau sejarah mistis. Saya melihat hal itu sebagai usaha penulis untuk mengarang cerita yang menarik dibaca (baca: imajinatif) dan tidak sekadar jadi agregator informasi penting yang sebenarnya kini dapat dicari dengan mudah di wikipedia.

Barangkali yang tidak hadir dalam novel ini adalah perkembangan jiwa dan sikap karakter-karakternya. Meski alur cerita terbentang dalam kurun waktu yang terhitung amat lebar (1934-2014 = 70 tahun!), sama sekali tidak terdapat perubahan pada karakter. Tokoh-tokoh novel tidak berkembang, walau usia mereka terus bertambah, terutama dua tokoh sentral cerita: Marie-Laure dan Werner, yang memulai novel sebagai anak kecil dan telah menjadi remaja saat cerita berakhir. Marie-Laure dan Werner kecil sama saja dengan Marie-Laure dan Werner remaja. Suara, cara bicara, cara berpikir, keinginan-keinginan, sifat, tidak ada yang berubah, dan sebenarnya ini terasa aneh. Namun, mungkin memang hal tersebut tidak menjadi fokus Doerr, dan ia tidak menganggapnya penting. Satu lagi, suara dari setiap karakter novel terdengar sama. Marie-Laure, Werner, ayah Marie-Laure, saudara Werner, dan tokoh-tokoh sisanya kadang-kadang tidak bisa dibedakan satu sama lain. Mereka berbicara dengan cara dan intonasi yang mirip-mirip. Ini, barangkali, lebih mengganggu dari karakter-karakter yang tidak berkembang.


Untungnya, kejanggalan-kejanggalan itu tidak mengganggu pembacaan saya sama sekali. Saya tetap menikmati keseluruhan isi novel, dari awal hingga selesai. Agak aneh karena biasanya saya pasti suntuk saat membaca novel dengan kondisi-kondisi seperti saya sebutkan barusan. Mungkin karena saya ‘memaafkannya’. Saya memaklumi kekurangan-kekurangan yang saya temukan, sebab saya telah menemukan hal lain yang membuat saya terhibur dan menyukai buku itu. Bukankah kita kadang-kadang melakukannya? Kita memaafkan kekurangan suatu buku, film, atau mungkin seorang manusia, karena kita telah menemukan hal lain darinya yang sudah cukup membuat kita bahagia. Seringkali kita tidak menyadari bahwa sesungguhnya kita tidak benar-benar menginginkan sesuatu yang sempurna. Kita hanya butuh sesuatu yang telah membuat kita bahagia, dan hal-hal seterusnya di belakang tidak lagi begitu penting. ***