29 Desember 2015

Cerita tentang Seorang Sopir Bus yang Ingin Menjadi Tuhan (Etgar Keret)


Diterjemahkan dari versi bahasa Inggris di buku The Bus Driver Who Wanted to be God (Riverhead Books, 2015).

*

Ini cerita tentang seorang sopir bus yang tidak pernah mau membukakan pintu busnya bagi orang-orang yang terlambat. Tidak bagi siapapun. Tidak bagi seorang murid tertindas di sekolahnya yang berlari bersisian dengan bus sembari menatap bus dengan tatapan memelas, dan apalagi tidak bagi orang-orang yang menggedor keras pintu bus seakan-akan mereka tidak terlambat dan bahwa si sopir bus lah yang tidak tepat waktu, dan bahkan tidak pula bagi nenek bertubuh kecil yang mendekap bungkusan belanja seraya berusaha keras menyetop bus dengan lambaian tangannya yang gemetar. Si sopir bus tidak membukakan pintu bagi mereka semua bukan karena ia jahat, sebab secuil pun ia tidak punya bakat jahat di dalam dirinya. Ini perkara prinsip.

Begini prinsip si sopir bus:

Katakanlah, bus tertunda jadwalnya bila ia membukakan pintu bagi seseorang yang terlambat kurang dari tiga puluh detik, dan bila ia tidak membukakan pintu bus membuat orang tersebut kehilangan lima belas menit dalam hidupnya, itu tetap akan adil, karena tiga puluh detik telah terselamatkan dari hidup seluruh penumpang bus. Nah, jika di bus ada 60 orang tak bersalah yang tiba di halte bus tepat waktu, bila dijumlahkan mereka semua akan kehilangan tiga puluh menit, yang mana itu dua kalinya waktu terbuang milik si orang terlambat tadi.

Inilah satu-satunya alasan si sopir bus tidak akan mau membukakan pintu bagi orang-orang terlambat. Ia tahu, para penumpang tidak akan memahami prinsipnya, begitu pula mereka yang terlambat dan mengejar bus seraya memberinya beragam isyarat agar berhenti-mereka tidak akan mengerti. Ia juga tahu, bahwa orang-orang menganggap ia menyebalkan, dan secara pribadi lebih mudah baginya menerima senyum dan ucapan terima kasih dari mereka sambil membiarkan mereka memandangnya dengan anggapan demikian.

Kecuali bila sebenarnya ia menyadari bahwa ia hanya bisa memilih satu dari dua hal berikut: antara senyum disertai ucapan terima kasih, atau kebaikan publik.

Seseorang yang paling dirugikan oleh prinsip si sopir bus ini adalah Eddie, tapi tidak seperti orang-orang lain dalam cerita ini, Eddie bahkan tidak akan pernah mencoba mengejar bus bila ia terlambat, ya, sebegitu malas dan tersia-siakannya memang orang ini. Nah, Eddie adalah seorang asisten koki di restoran bernama The Steakaway, yang mana nama tersebut merupakan hasil permainan kata terbaik yang bisa dipikirkan oleh pemiliknya (Stick-away!). Makanan di restoran itu tidak istimewa, tapi Eddie sendiri adalah pemuda yang baik-saking baiknya dia, kalau ada masakannya yang tidak begitu enak, ia sendiri yang akan membawa makanan itu ke meja pelanggan dan sekaligus meminta maaf.

Pada salah satu adegan meminta maaf inilah, Eddie bertemu Kebahagiaan, atau setidaknya secicip Kebahagiaan, dalam wujud seorang gadis yang teramat baik hatinya karena ia bahkan mencoba menelan habis daging sapi bakar yang Eddie bawakan untuknya, hanya agar pemuda itu merasa senang. Dan gadis ini tidak mau memberi tahu Eddie namanya ataupun nomor ponselnya, tapi gadis ini cukup manis karena ia bersedia menemui Eddie keesokan harinya pada pukul lima sore, di tempat yang mereka sepakati-Dolphinarium, tepatnya.

Nah, sialnya, Eddie punya satu masalah-sesuatu yang telah membuatnya kelewatan banyak hal sepanjang hidupnya. Tidak, sesuatu ini bukan semacam pembengkakan adenoid atau sejenis itu, tapi tetap saja, hal ini sudah banyak merugikannya. Yakni, ia punya semacam penyakit yang membuatnya selalu tertidur sepuluh menit lebih lama dari seharusnya, dan tidak satu alarm pun pernah berhasil membangunkannya. Itulah kenapa ia kerap terlambat berangkat ke The Steakaway, juga terlambat naik bus yang dikemudikan oleh si sopir bus yang senantiasa lebih memihak kepentingan publik ketimbang urusan pribadi.

Akan tetapi, kali ini Eddie mau tidak mau harus mengatasi masalahnya, karena taruhannya adalah Kebahagiaan, dan alih-alih tidur sore seperti biasa, ia memutuskan tetap terjaga sambil menonton televisi. Agar aman, ia tidak hanya memasang satu jam alarm, melainkan tiga. Tapi sial sekali, penyakit ini betul-betul tidak tersembuhkan, dan Eddie tetap tertidur selayaknya bayi, di hadapan televisi yang menayangkan kanal anak-anak. Ia terbangun oleh lengkingan suara jutaan, milyaran, alarm-terlambat sepuluh menit, tergopoh-gopoh keluar rumah tanpa mengganti pakaian, dan berlari menuju halte bus.

Ia tidak ingat lagi caranya berlari, dan kakinya bahkan sesekali terpelecok. Kali terakhir ia berlari adalah sebelum ia menyadari bahwa ia bisa juga membolos dari jam pelajaran olahraga, waktu itu ia kelas enam SD, hanya saja tidak seperti pada jam pelajaran olahraga tersebut, sekarang ia berlari sangat sangat sangat sangat kencang, karena ia tahu bila tidak melakukannya ia akan kehilangan sesuatu, dan segenap rasa sakit di dadanya serta panggilan sayup-sayup dari bungkus Lucky Strike di kantung bajunya tidak dapat mencegahnya dari usahanya Mengejar Kebahagiaan.

Tidak ada yang dapat menghalanginya kecuali si sopir bus kita, yang baru saja menutup pintu bus, dan akan segera beranjak. Si sopir bus melihat Eddie lewat kaca spion, tapi seperti sudah kami jelaskan sebelumnya, ia punya prinsip-prinsip yang teramat masuk akal yang, lebih dari apapun, didasarkan pada sikap menjunjung tinggi keadilan, juga perhitungan aritmatika sederhana. Tapi Eddie tidak peduli dengan perhitungan aritmatika si sopir bus. Untuk kali pertama sepanjang hidupnya, ia benar-benar ingin tiba di suatu tempat pada waktu yang tepat. Dan itulah kenapa ia tetap mengejar bus, meski ia tidak punya peluang sedikit pun.

Tiba-tiba saja, keberuntungan Eddie datang, tapi cuma separuh keberuntungan: kira-kira seratus meter dari halte bus sebelumnya, ada traffic light. Dan, hanya beberapa detik sebelum bus mencapainya, lampu merah menyala. Eddie berhasil menyusul bus dan menggapai pintu masuk sopir bus. Saking kelelahannya, ia tidak mampu lagi mengetuk kaca pintu. Ia hanya menatap si sopir bus dengan mata yang berembun, sembari memegangi lututnya, ngos-ngosan.

Dan, melihat Eddie seperti itu, si sopir bus teringat akan sesuatu-jauh di masa lalunya, dari suatu waktu ketika ia bahkan belum terpikir untuk menjadi seorang sopir bus, dari suatu waktu ketika ia masih ingin menjadi Tuhan.

Itu memori yang agak sedih sebenarnya, karena pada akhirnya ia gagal menjadi Tuhan, tapi juga membahagiakan, karena ia kemudian menjadi sopir bus, yang mana adalah keinginan keduanya setelah menjadi Tuhan. Dan tiba-tiba si sopir bus teringat akan janjinya kepada diri sendiri bahwa bila ia dapat menjadi Tuhan, ia akan menjadi Tuhan yang baik dan pengampun, dan akan mendengarkan doa-doa seluruh makhluk-Nya. Jadi, ketika dari bangku sopirnya ia melihat Eddie berlutut di jalanan aspal, ia tidak lagi bisa mempertahankan prinsipnya, dan meski dengan seluruh pertimbangan kepentingan publik dan perhitungan aritmatikanya itu, ia membukakan pintu, dan Eddie pun naik-tanpa mengucapkan terima kasih, karena ia betul-betul kehabisan napas.

Hal terbaik yang bisa kamu lakukan adalah berhenti membaca cerita ini di sini, karena meski Eddie akhirnya tiba di Dolphinarium tepat pada waktunya, Kebahagiaan tidak datang, karena Kebahagiaan sudah memiliki seorang kekasih. Hanya karena gadis itu terlalu baik ia tidak dapat mengatakan hal tersebut kepada Eddie, jadi ia memilih membiarkan pemuda itu melakukan apa yang ingin ia lakukan.

Eddie menanti dan menanti, di bangku yang mereka berdua sepakati, nyaris selama dua jam penuh. Sepanjang penantiannya, ia terus memikirkan hal-hal depresif mengenai kehidupan, dan sembari berpikir, ia memandangi senja yang lumayan indah, dan mengira bila menunggu lebih lama lagi bisa-bisa ia akan jadi penjaga malam.


Dalam perjalanan pulang, saat ia sangat putus asa, ia melihat bus di kejauhan berhenti di halte dan menurunkan penumpang, dan pada saat itu ia tahu bahwa meskipun ia punya tenaga untuk berlari, ia toh tidak akan sanggup menyusul bus itu. Jadi ia tetap berjalan pelan, dan pada tiap langkahnya ia merasa-rasai jutaan sel otot yang kelelahan, dan ketika ia sedikit lagi tiba di halte, bus masih di situ, menunggunya. Dan meskipun para penumpang di dalam berteriak-teriak dan mengomel agar bus segera berangkat, si sopir bus menunggu Eddie, dan ia tidak sedikit pun menginjak pedal gas hingga Eddie duduk di dalam bus. Ketika akhirnya bus berangkat, si sopir bus melihat ke arah Eddie melalui kaca spion dalamnya, dan mengerling simpati kepadanya, dan itu membuat segalanya jadi terasa dapat tertanggungkan. ***

24 Desember 2015

20 Buku Favorit di 2015




Tahun ini, saya tidak banyak membaca. Bahkan, jauh lebih sedikit ketimbang dua tahun sebelumnya, di mana rata-rata saya membaca setidaknya seratus buku sepanjang satu tahun. Tahun ini, menurut catatan resmi Goodreads (saya sering menggunakan media sosial tersebut untuk merekam perjalanan membaca saya) saya hanya membaca 57 buku, terdiri dari novel, buku puisi, buku cerita pendek, dan nonfiksi. Jika ditambah dengan beberapa buku yang tidak terdapat datanya di Goodreads sehingga saya tidak bisa mencatatkannya di sana, kira-kira saya hanya membaca 60 buku lebih sedikit.

Jumlah yang amat sedikit bila dibandingkan dengan dua tahun sebelumnya. Namun, saya justru merasa gembira, karena dari yang sedikit itu, tahun ini saya lebih sering menemukan buku bagus. Oleh karena itu, jika tahun sebelumnya saya hanya memilih sepuluh buku dalam daftar buku favorit yang saya baca, maka tahun ini saya menambahnya menjadi dua puluh. Semata-mata karena saya tidak bisa memangkasnya menjadi hanya sepuluh buku karena saya menyukai seluruh dua puluh buku ini.

Daftar dua puluh buku favorit yang saya baca di 2015 ini bisa juga dibaca sebagai rekomendasi dari saya jika ada yang sedang mencari bacaan baru. Perlu dicatat bahwa tidak semua dari daftar ini adalah buku yang terbit pada tahun 2015, bahkan kebanyakan terbit sudah lama. Tetapi buku-buku tersebut baru saya baca di tahun 2015. Demikianlah saya susun daftar ini semata untuk mengingat kembali apa saja yang sudah saya baca dan berbagi informasi bacaan favorit karena, ya, bukankah itu menyenangkan, saling berbagai bacaan kesukaan?


Misteri pembunuhan seorang seniman ilustrasi di Turki abad ke-16. Novel yang padat informasi, narasi dengan intensitas tinggi, cara bertutur yang unik, dan dipenuhi cerita-cerita berbingkai. Penuturan dari berbagai sudut pandang orang pertama membuat teka-teki dan misteri di dalamnya kian kentara terasa. Salah satu novel yang menurut saya wajib dibaca oleh semua orang, setidaknya sekali seumur hidupnya.


Kisah cinta yang berujung tragis, antara seorang laki-laki kelas atas dengan seorang gadis kelas bawah di Istanbul pada tahun 1975, berbalut obsesi dan intrik-intrik. Melankoli kota dan individu-individu sangat terasa lewat narasi yang jernih dan rinci, pula penuh deskripsi tempat, adegan, dan suasana. Roman yang menunjukkan dengan baik bagaimana seorang manusia kadang tidak dapat membedakan antara perasaan cinta dan obsesi.


Memutarbalikkan paradigma manusia akan arti kematian dan kehidupan. Novel tipis yang menghentak kepala, jika tidak meruntuhkan gagasan yang selama ini telah terbangun di diri kita, dalam hal memandang dua topik tersebut: mati dan hidup.

4.    Sejarah Tuhan, Karen Armstrong

Buku nonfiksi terbaik yang saya baca tahun ini. Memuat informasi pengantar yang cukup komperehensif tentang sejarah agama-agama di dunia. Tidak hanya agama samawi, tetapi bahkan yang lebih tua lagi, mulai dari cerita tentang keberadaan dan penyembahan dewa-dewa, hingga munculnya kepercayaan ateis dengan ragam sub-lininya. Ditulis dengan jernih dan mudah dipahami. Sangat saya rekomendasikan bagi yang tertarik mengetahui bagaimana hubungan manusia dengan agama, tuhan, dan ketuhanan.

5.    Sejarah Islam, Karen Armstrong

Buku yang memuat secara ringkas namun cukup lengkap tentang perjalanan agama Islam, salah satu agama dengan penganut terbanyak di dunia, semenjak kelahirannya seribu empat ratus tahun yang lalu, hingga perkembangannya dari masa ke masa, sampai sekarang. Ditulis dengan objektif dan menyeluruh. Salah satu referensi penting bagi yang ingin mengenal sejarah Islam.


Bertahanlah hingga separuh buku, maka akan terasa betapa serunya novel ini. Jangan kalah dengan rasa bosan yang mungkin mendera sejak halaman pertama hingga seratus lima puluhan. Begitu memasuki paruh kedua buku, plot akan semakin menarik dan ketegangan semakin intens. Dialog-dialog yang mengalir di meja persidangan menciptakan keseruan yang teramat. Buku terbaik tentang bagaimana manusia gemar menghakimi manusia lain yang tidak ia kenal apalagi pahami.


Novel tentang politik memori dan amnesia massal. Ditulis dengan keseriusan yang tersamar di balik selera humor yang menyenangkan dari penulisnya. Kocak, sekaligus bikin merenung. Salah satu dari sekian karya Milan Kundera yang penting dibaca.


Kisah hubungan cinta (relationship) seorang laki-laki dan seorang perempuan yang disisipi pemikiran-pemikiran mendalam Kundera soal psikologi manusia, persahabatan, ambisi, dan identitas individu. Pertanyaan-pertanyaan tentang apakah yang dapat dilihat sebagai identitas sebenarnya dari seorang individu mewarnai adegan demi adegan yang dirangkai lewat plot yang menarik.

Salah satu karya Milan Kundera yang paling ringan, sekaligus tidak ringan. Membicarakan dan mengulik hal-hal paling tidak signifikan dari manusia: pusar, rasa ingin kencing, dan ketidakberadaan. Kocak dan penuh anekdot-anekdot yang bikin ngakak sekaligus mikir.


Buku terbaik dari Murakami. Tebal, panjang, dan intens. Seperti biasa, ditulis dengan gaya realis sekaligus surealis. Memasukkan di dalamnya adegan-adegan yang membuat pilu dan bergidik dari perang Vietnam, tanpa kehilangan elemen sureal yang menjadi ciri khas dari setiap narasinya. Sesekali pula kompleks dan mengecoh.


Semacam fiksi-sains yang tidak sains-sains amat, tapi sebagaimana buku-buku Murakami yang lain, tetap enak dibaca dan sangat page turner. Tentang seorang karyawan IT yang ternyata dijebak dalam sebuah proyek ambisius milik profesor yang mempekerjakannya, yang membuatnya, melalui serangkaian adegan aneh dan ganjil dengan nuansa petualangan, menemui ‘akhir dunia’nya. Penutup cerita buku ini amat memukau dan membuat saya melemparkannya ke dinding saking kesalnya.


Buku kumpulan cerita pendek yang ditulis Murakami yang terinspirasi oleh peristiwa gempa di Kobe tahun 1995. Berisi enam cerita pendek yang terhitung agak panjang jika memakai ukuran cerita pendek di surat kabar Indonesia. Favorit saya adalah Super-Frog Saves Tokyo, bercerita tentang seorang laki-laki yang pulang ke apartemen dan menemukan seekor katak raksasa telah menunggunya dan meminta bantuannya untuk bertarung melawan seekor cacing raksasa di saluran bawah tanah kota untuk menyelamatkan Jepang.


Proyek ‘istirahat’ Murakami setelah berlelah-lelah menulis 1Q84. Minim unsur surealis dan dalam banyak hal mirip Norwegian Wood. Tentang empat sekawan dengan karakternya masing-masing, yang terpecah karena satu hal, dan membuat sang tokoh utama, Tsukuru Tazaki, yang paling merasa tidak memiliki apa-apa dibanding tiga temannya, hidup dalam penyendirian dan keterasingan terhadap banyak hal dalam hidupnya. Depresif, seperti semua buku Murakami.


Novel perang yang puitis, disebabkan oleh efek deskripsinya yang teramat detail. Penulisnya seperti menggunakan kaca pembesar dalam setiap adegan, untuk melihat objek-objek di adegan tersebut dengan sangat dekat hingga terlihat kerinciannya. Tentang pendudukan tentara Nazi Jerman di Saint-Malo, salah satu kota dekat Paris, Prancis. Rasa saat membaca novel ini seperti The Book Thief, Markus Zusak.


Pelan namun tidak melankolis. Tokoh utama novel ini, terdorong oleh secarik surat kabar yang berisi pengumuman hilangnya seorang gadis, melakukan suatu pencarian yang kemudian membuat ia teringat akan memorinya sendiri di masa lalu tentang ayahnya. Cerita bergulir dalam konteks pendudukan Nazi Jerman di Paris, Prancis.


Buku kumpulan cerita pendek yang super-pendek. Panjang tiap cerita hanya satu hingga dua halaman, khas cerita-cerita penulis Amerika Latin, hanya saja kali ini yang membuat adalah penulis asal Israel. Penuh humor gelap dan satir. Kocak. Bahasanya sederhana dan sesekali dihiasi nada slang dan dialek orang Israel. Dalam hal humor dan gaya bahasa, membacanya membuat teringat pada cerita-cerita pendek maupun novel Junot Díaz (This Is How You Lose Her, The Brief Wondrous Life of Oscar Wao).

17. Cantik Itu Luka, Eka Kurniawan

Setidaknya bagi saya sendiri, pernyataan berikut tidak terlampau berlebihan: ini adalah novel terbaik yang pernah ditulis orang Indonesia setelah Bumi Manusia milik Pramoedya Ananta Toer. Sangat lucu dengan adegan-adegan yang intens dan seringkali dialog yang menghibur. Penuh metafora yang hiperbolik dan juga dihiasi unsur-unsur surealis. Nuansa lawas yang melekat dalam ceritanya bikin saya teringat pada film-film kolosal di Indosiar, dalam pengertian yang baik. Frontal, vulgar, dan menyenangkan!


Seperti To Kill A Mockingbird, membosankan di awal hingga pertengahan, namun menghentak pada paruh kedua. Tentang misteri peristiwa bunuh diri seseorang yang kemudian motifnya coba diungkap tokoh utamanya dengan memanggil bagian-bagian memori masa lalunya, membuatnya memikirkan ulang apa yang ia pikirkan di masa lalu, dan bila perlu mengubah seluruh hal yang pernah ia katakan dan lakukan di waktu itu. Semacam cerita tentang penyesalan dan penemuan ulang arti hidup yang sebenarnya.


Kisah cinta, hasrat, dan obsesi terlarang seorang bocah laki-laki terhadap ibu tirinya. Terlihat dan terasa ganjil, dan memang demikian adanya. Dipenuhi alusi-alusi menggunakan lukisan mitikal klasik, dan dituturkan dengan kelucuan tiada tara, khas selera humor dan kegilaan penulis Amerika Latin. Tipis, namun padat dan intens.


Salah satu kumpulan cerita terbaik dari penulis Indonesia yang pernah saya baca sejauh ini. Menawarkan perspektif lain dalam memandang kolonialisme. Cerita-cerita di dalamnya berlatarkan penjajahan Belanda atas Indonesia, namun kali ini dituturkan dari sudut pandang para penjajah itu sendiri. Buku yang menarik.


Demikian daftar buku favorit yang saya baca tahun 2015. Seperti saya katakan sebelumnya, daftar ini bisa juga dibaca sebagai cara saya merekomendasikan bacaan bagi yang sedang ingin mencari bacaan baru. Barangkali apa yang saya suka juka menjadi apa yang teman-teman suka. Barangkali juga tidak. Yang jelas, saya senang berbagi bacaan yang saya sukai, seperti juga saya senang mendengar orang lain memberitahu, membicarakan, dan menjelaskan buku-buku yang ia sukai. Itu seperti pertukaran hal-hal yang kita sukai dan tentu saja hal tersebut sangat menyenangkan.

Jika kamu punya daftarmu sendiri, jangan ragu untuk membaginya dengan saya. Silakan berikan tautan daftarmu pada kolom komentar di bawah tulisan ini.

Terima kasih dan selamat merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW.



~ Bara

20 Desember 2015

Etgar Keret




Sebelum bertemu dengan cerita-cerita pendek Etgar Keret, saya belum pernah sekalipun membaca karya penulis dari Israel. Dari Jepang, saya membaca Haruki Murakami, Natsume Soseki, dan Yasunari Kawabata; dari Jerman saya membaca Hermann Hesse; dari Amerika Latin saya membaca Gabriel Garcia Marquez dan Mario Vargas Llosa; tapi belum pernah saya membaca karya penulis Israel. Fakta bahwa negara tersebut termasuk salah satu negara yang memiliki kisah paling menarik (sejarah maupun konfliknya), membuat saya bertanya-tanya kepada diri sendiri mengapa belum pernah satu kali pun sepanjang sejarah membaca saya, saya membaca karya penulis yang berasal dari sana. Tetapi, syukurlah, setelah suatu hari melihat namanya disebut dalam percakapan singkat di Twitter bersama dua orang teman penulis sebaya, akhirnya saya mencari dan menemui karya-karya Etgar Keret.

Pertemuan pertama saya dengan karya Etgar Keret adalah cerita pendek berjudul “Creative Writing”. Saya membacanya di The New Yorker. Saya sudah agak lupa bagaimana isinya. Lebih-kurangnya, cerita itu mengisahkan sepasang suami-istri yang mengikuti kelas penulisan kreatif pada saat pernikahan mereka sedang bermasalah. Yang jelas, saya ingat cerita itu lucu, agak aneh, dan menyenangkan. Begitulah kesan pertama saya terhadap Etgar Keret: lucu, aneh, dan menyenangkan. Dan itu lebih dari cukup bagi saya untuk mencari karya-karyanya yang lain.

Namun, saya harus menunda rasa bersemangat saya, karena setelah pergi ke beberapa toko buku impor yang biasanya saya datangi, saya tidak dapat menemukan satu pun buku Keret. Syukurlah, seorang teman penulis mengirimi saya e-book tiga karya Keret: Suddenly, A Knock on the Door, The Nimrod Flip Out, dan The Girl on the Fridge. Tapi karena saya belum terbiasa membaca e-book, mereka pun hanya berakhir sebagai file yang tidak pernah saya sentuh. Hanya satu kali saya membaca The Girl on the Fridge versi e-book dan, meski saya menyukainya cerita yang saya baca kala itu, saya tak meneruskan membacanya.

Akhirnya, lewat suatu toko buku daring yang sempat mengumumkan bahwa mereka dapat mencarikan buku-buku yang ingin dicari oleh pelanggannya, saya mencoba peruntungan: saya memesan kepada mereka buku-buku Etgar Keret yang saya tahu. Mereka hanya dapat menemukan The Girl on the Fridge dan buku Keret yang paling baru, The Seven Good Years: A Memoir. Saya memutuskan hanya membeli The Girl on the Fridge. Ketika buku itu telah saya pegang, tidak dapat menahan rasa penasaran, saya langsung membacanya.

Seperti kebanyakan karya Etgar Keret, The Girl on the Fridge merupakan kumpulan cerita pendek. Cerita-cerita yang ia tulis berukuran super-pendek, hanya sepanjang kira-kira 500-700 kata. Dalam buku, itu biasanya berarti tiga sampai empat halaman. Itu pun sudah yang paling panjang. Kebanyakan hanya satu sampai dua halaman. Saya teringat kepada cerita-cerita pendek para penulis Amerika Latin. Beberapa bulan sebelumnya, saya membaca antologi cerita pendek Amerika Latin versi terjemahan bahasa Indonesia oleh Ronny Agustinus, berjudul Matinya Burung-Burung. Buku yang bagus sekali. Membaca cerita-cerita pendek Etgar Keret di The Girl on The Fridge membuat saya teringat kepada buku tersebut.

Dan, seperti cerita-cerita super-pendek para penulis Amerika Latin pula, cerita-cerita Etgar Keret kocak dan satir. Ia tidak hanya menulis hal-hal yang terjadi di Israel, tapi juga kadang-kadang menulis tentang cinta dan rumah tangga. Salah satu favorit saya adalah cerita pendeknya berjudul Crazy Glue dan Nothing. Yang pertama tentang seorang istri yang merekatkan telapak kakinya ke langit-langit rumah menggunakan lem dan yang terakhir tentang seorang perempuan yang memiliki kekasih seorang ‘nothing’. Selain kocak dan satir, beberapa cerita pendek Etgar Keret juga bernuansa sureal. Hal lain lagi yang menyenangkan.

Saya kerap iri pada penulis-penulis yang memiliki selera humor bagus. Mereka dapat menulis sesuatu yang penting dan membuat pembacanya berpikir sembari tidak lupa membuat kita tertawa. Saya kira itu hal yang amat sulit dilakukan: membuat orang lain berpikir sekaligus tertawa, atau tertawa sekaligus berpikir. Ketika menyebut soal humor, saya teringat pada Milan Kundera. Humor adalah satu hal yang tidak bisa dilepaskan dari penulis Ceko yang kini tinggal di Prancis itu. Kini, setelah membaca The Girl on the Fridge, ada nama lain yang mendekam dalam kepala saya ketika saya membicarakan rasa iri terhadap penulis-penulis yang memiliki selera humor bagus: Etgar Keret.

Pilihan bentuk super-pendek dan kadang-kadang nyaris seperti flash-fiction yang diambil Etgar Keret pada banyak karyanya tidak lantas memunculkan rasa tidak puas saat membaca cerita-cerita pendeknya, melainkan sebaliknya. Ruang yang amat sempit membuat Keret menyampaikan gagasannya dengan amat efektif. Ia dapat menyampaikan satu hal hanya dalam beberapa paragraf, yang oleh penulis lain sekaliber dirinya bahkan di atasnya, barangkali membutuhkan puluhan hingga ratusan halaman. Keefektifan berucap inilah yang dimiliki Keret, selain karakter-karakter yang juga amat unik dan terkadang, ya, aneh.

Selain melontarkan ingatan saya pada cerita-cerita super-pendek dari para penulis Amerika Latin, cerita-cerita pendek Etgar Keret juga mengingatkan saya pada seorang penulis lain yang juga saya sukai: Junot Díaz. Ia penulis asal Republik Dominika. Favorit saya darinya tentu saja novel The Brief Wondrous Life of Oscar Wao. Walaupun kumpulan cerita pendeknya This Is How You Lose Her juga menarik, tapi tidak cukup mengalahkan kekaguman saya terhadap novelnya yang meraih Pulitzer Prize itu. Yang membuat saya teringat pada Junot Díaz adalah cara berbahasa Etgar Keret dalam cerita-ceritanya: simpel, bergaya slang, dan penuh umpatan. Mereka juga memiliki selera humor dan cara pandang terhadap dunia yang mirip-mirip. Mereka menertawai dan membuat lelucon atas hal-hal serius dalam kehidupan mereka sendiri, atau lingkungan sekitarnya. Saya bahkan merasa bila Junot Díaz terlahir sebagai seorang Yahudi di Israel, maka ia akan menjadi Etgar Keret. Atau sebaliknya.


Perkenalan dengan Etgar Keret adalah perkenalan yang sangat menyenangkan. Saya hanya butuh waktu dua malam untuk selesai membaca The Girl on the Fridge. Caranya bercerita unik dan tidak terasa dirancang-rancang. Seolah-olah keanehan, surealisme, dan kenyelenehan cara pandang dalam narasi, dialog, maupun karakter-karakter pada cerita-ceritanya merupakan hal alamiah yang telah ia miliki sejak bayi. Saya berharap dapat membaca buku-buku Etgar Keret yang lain. Saya juga berharap dapat menemukan lebih banyak lagi penulis seperti Etgar Keret. Penulis yang lucu, aneh, dan menyenangkan. ***